We Are Friend CHAPT 1

Tittle:We Are Friend

Author: BPI

Length: part

Genre: Friendship

Main cast: All member EXO

Note : Annyeong .. hehe saya kembali dengan cerita baru yang gaje ini, kekeke mian belum bisa nerusin FF yang lain soalnya bener-bener buntu. Dan alhasil saya mau publish ni FF yang udah lama lumutan di laptop saya. happy read ye.. thanks eon mija

Raut wajah Jongin berubah saat melihat namanya berada di urutan terbawah di kelas 2C. Kelas barunya di kelas 2. Bukan karena ia tak dapat sekelas lagi dengan si cerewet Byun Baekhyun atau tak bisa satu kelas dengan si jenius Kyungsoo. Ini bahkan menggembirakan hatinya. Berbeda dengan wajah datarnya hatinya bersorak saat satu nama itu ada di 25 nama murid yang lain sekelas dengan nya.

“Oh Sehoon”

Kai mendelik ke belakang dan benar, Oh Sehun datang dengan teman-temannya. Ya itu hanya teman karena Oh sehun hanya memliki satu sahabat dalam hidupnya. Mata mereka bertemu sebentar sebelum pundak Jongin tertabrak dengan pundak Tao yang memandangnya mengejek seperti biasa.

“Hei Jongin. Maaf aku tak melihat mu” Ucap Tao tersenyum manis layaknya anak kucing

Jongin tak menjawab maaf tersebut, ia berlalu begitu saja meninggalkan wajah dingin Sehun yang tak menatapnya lagi.

“Ternyata Kepala Sekolah cukup cerdas. Ia mendengarkan perintah ku” senyum ejekan Yifan di setujui oleh yang lain.

Siapa yang bisa melawan anak dari pemilik yayasan sekolah. Tak ada. Yifan adalah anak pemilik sekolah dan Tao si wajah kucing adalah sepupunya. Lalu siapa Chanyeol, Sehun dan Suho. Mereka hanya teman bahagia Yifan.

“Kau dengan mudah membuat kami sekelas? Hebat” Ejek Chanyeol yang terdengar seperti pujian di telinga Yifan.

“Kenapa wajahmu bersedih Suho? Kau tak suka?”

Kini Mereka menengok ke arah Suho yang berdiri paling pinggir di antara mereka berempat. Tubuhnya yang tak terlalu tinggi terlihat sangat kecil di bandingkan ke empat temannya yang menjulang tinggi.

“Aku senang Yifan” Cicit Suho dengan kepala menunduk.

“Kalau begitu mungkin pekerjaan mu setelah ini akan banyak”

Mereka semua tahu pekerjaan apa yang di maksud Yifan. Menjadi teman yang dapat mengerjakan PR, menjadi teman yang bisa di suruh dan menjadi teman yang bisa kau pukuli bila kau sedang kesal.

Semua murid tahu kalau Suho adalah si jenius yang tak kalah jenius dari seorang Kyungsoo. Ia masuk dalam pertemanan Yifan mungkin karena kejeniusan nya tidak seperti Chanyeol, Sehun dan Tao.

Chanyeol, murid yang terkenal hoby hang out atau pergi ke club ini terlihat yang paling santai dari teman-temannya. Ia hanya akan tertawa setiap Yifan dan Tao memukuli murid lain atau membully murid lain. Walaupun begitu ia adalah orang pertama yang akan membela bila ada murid wanita terkena bullyan mereka.

Sehun, murid bertampang dingin yang sering di puja wanita ini pun masuk dengan mudahnya di pertemanan Yifan.”Karena kau tampan” ya itulah yang di ucapkan Yifan saat tiba-tiba saja datang dan merangkul Sehun yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah ini. Tapi sepertinya beberapa orang tahu bukan karena tampan melainkan Yifan tak ingin kalah saing dengan Sehun.

Dan terakhir Tao. Tao adalah murid yang paling di takuti di sekolah dan siapa yang berani melawan mereka, mungkin akan berakhir di UKS atau bahkan rumah sakit. Lalu sekolah hanya bisa menyembunyikan berita ini dari publik karena semua tahu Tao adalah sepupu pemilik sekolah.

 

=We Are Friends?=

At canteen

 

“Kupingku sakit, aku duduk di sebelah Jongdae dan dia selalu berisik selama jam pelajaran”

Baekhyun menaruh kepalanya di meja kantin membuat Kyungsoo harus menyuruhnya minggir karena beberapa helai rambut hitamnya menutupi buku yang sedang ia baca.

“Hai…”

Mata Jongin, Baekhyun dan Kyungsoo menatap seorang pria dengan bibir tipis tersenyum pada mereka. Pria itu langsung saja duduk di samping Jongin yang membalas senyumannya dengan anggukan.

“Jongdae apa yang kau lakukan?” Tanya Baekhyun, menatap teman sekelasnya yang baru ia bicarakan itu.

“Aku? Tentu saja aku makan”

Jongin tersenyum mendengar jawaban Jongdae. Bukan itu maksud Baekhyun. Baekhyun hanya mendelik kesal ke arah Jongdae yang makan saja tanpa menghiraukan orang orang di sekitar yang melihatnya. Bukankah ia baru saja duduk di tempat orang orang yang tidak makan sama sekali.

Suara riuh para murid seketika hening saat beberapa murid datang mendekati meja Jongin dengan teman-temannya. Yifan dengan kaki panjangnya mendekati Kyungsoo yang masih bergelut dengan buku tebalnya.

Jongdae yang masih asik makan menhentikan kunyahan nya dan membuat mulutnya penuh dengan makanan.

“Kau Do Kyungsoo?” Tanya Yifan yang hanya di balas anggukan Kyungsoo tanpa menatap pria yang bertanya

Baekhyun ingin sekali memukul sahabatnya itu. Yah Kyungsoo bukanlah orang yang menghiraukan apapun bila ia sudah bergelut dengan pacarnya.

“Hei kau tak tahu sopan santun”

Tao mendorong pundak Kyungsoo, dan Baekhyun mendorong pundak Tao dengan cepatnya. Kyungsoo menatap bukunya yang terjatuh lalu menatap Tao yang menatap Baekhyun tajam.

“Kau yang tak punya sopan santun” Baekhyun berteriak di wajah Tao.

Kalian harus tau Tao sangat sensitif, ia melayangkan pukulannya dan berhenti di wajah kecil Baekhyun. Bukan Kyungsoo, Jongin ataupun Jongdae yang masih terdiam melihat kejadian itu melainkan Chanyeol yang menahan tangan Tao.

Tao yang geram menghempaskan Chanyeol dan mendelik kesal ke arah pria tinggi itu.

“Membantu Hyung tiri eoh?” Tanya Tao dengan seringaian khasnya.

“Bukankah kita akan berbicara baik-baik?” Suara berat Chanyeol membuat Baekhyun tersenyum mengejek.

“Apa yang kalian inginkan?” Tanya Jongin segera sebelum ada perkelahian di antara mereka.

Semua nya menatap Jongin yang menatap mereka datar, ia berdiri lalu memberikan jarak antara Kyungsoo dan Yifan,mencoba menengahi.

“Aku ingin Kyungsoo mengajari kami” Pinta Yifan memasang wajah biasanya.

Dan hanya suara batuk Jongdae yang memecahkan keheningan. Segera ia mengambil gelas asal dan meminumnya. Tidak, Kyungsoo mungkin akan bernasib seperti Suho yang kini berdiri di samping Sehun yang hanya melipat tangan di dada di samping Yifan, layaknya bodyguard.

“Aku tak mau” Ucap Kyungsoo kembali membuat Tao kesal

“Yak”

Tao lagi-lagi menghempaskan tangan Chanyeol yang menahannya. Ia menatap kesal ke arah Kyungsoo yang kini duduk kembali dan membaca bukunya.

“Ini bukan permintaan kami. Seo Songsaenim yang menyuruh kami”

Jongin mengangkat alisnya saat Chanyeol menjelaskan. Ia tak percaya. Tentu saja. Siapa yang akan percaya dengan sekelompok gengster seperti mereka. Mungkin bila bukan Kyungsoo, sahabatnya, ia tak akan berdiri di tengah-tengah seperti ini.

“Kau tak dengar bahwa ia mengatakan tidak” Ujar Jongin menatap Chanyeol yang sudah memelas.

Chanyeol menghela nafas panjang. Sejujurnya ia pun tak mau melakukan ini, tapi bila ia tak memaksa ini akan membuat mereka semakin sulit.

“Ayolah… hanya 1 jam setelah jam pulang” Chanyeol menghela nafas sebentar “Kalian boleh ikut bila kalian tak percaya”

Baekhyun tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya tidak menyetujui permintaan Chanyeol. Chanyeol hanya melihat hyung tirinya itu dengan wajah memelasnya. Jongin pun hanya mendelik kepada ke empat pria yang menunggu persetujuan Kyungsoo.

“Kajja, sebentar lagi bel masuk bunyi..”

Mereka semua menatap Jongin yang acuh berjalan terlebih dahulu di ikuti Kyungsoo dan Baekhyun di belakangnya. Jongdae yang masih terdiam di tempatnya hanya mematung. Ia masih ingin menghabiskan makan siangnya. Tetapi ia bahkan tak mampu bernafas dengan baik setelah kejadian ini. Apalagi setelah mendengar umpatan Tao dan tawa sinis Yifan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

 

 

=We Are Friends?=

 

 

 

At Class

 

“Sepertinya kita terlalu baik dengannya” Ujar Tao, ia bahkan menaikkan kaki nya di meja yang membuat songsaenim berdehem memperingati. Dengan malas ia menurunkan kakinya lalu menghadap Yifan yang hanya diam melipat tangan di dada.

“Songsaenim, aku bosan. Bolehkah aku keluar?!”

Semuanya menatap Yifan yang berdiri lalu pergi begitu saja tanpa meminta persetujuan terlebuh dahulu di ikuti Tao dan Sehun. Jongin yang duduk di depan hanya menatap mereka dalam diam. Menatap punggung Sehun yang menghilang di balik pintu kelas.

 

At lapangan Basket

 

“Apakah kita harus memakai kekerasan untuk Kyungsoo mengikuti kita?” Tanya Tao, mendribble bolanya dan menatap Kris yang melipat tangan dan duduk di kursi pemain mengangguk sebagai jawaban.

“Bagaimana Sehun?”

“Seterah kalian” jawab Sehun datar seperti biasa

“Kita juga harus membuat Baekhyun dan Jongin pelajaran, anak itu bila kita diamkan makin melunjak”

Sehun hanya mengok sebentar ke arah Tao yang mengambil duduk di sampingnya. Matanya terdiam beberapa saat lalu menatap Chanyeol dan Suho yang datang menuju mereka.

“Cheo Songsaenim datang mencarimu Yifan” Ucap Chanyeol, wajahnya panik menatap Yifan yang juga menatapnya takut. Alisnya berkerut. Secepat kilat ia langsung berdiri dan meninggalkan raut khawatir Chanyeol dan Tao yang menatap punggungnya.

“Aku harap Ahjumma tidak memukulinya di depan para murid”

Suho diam-diam tersenyum menatap wajah khawatir Tao yang terlihat sangat imut. Berbeda dengan biasanya. Mereka sebenarnya hanya murid biasa. Suho tahu mengapa Yifan dan Tao sangat gila akan di hormati. Ia tahu mengapa Chanyeol sangat sabar untuk dekat dengan mereka. dan ia pun tahu bagaimana Sehun yang selalu memutar matanya dan mendengus saat Tao berbicara seakan ia akan memukuli seluruh murid yang menentangnya.

 

 

At Park Home

 

Tangan Chanyeol berhenti untuk mengetuk pintu kamar berwarna coklat tua di hadapannya. Terakhir kali ia mengetuk hanya mendapatkan tatapan sinis dan cemoohan yang membuatnya ingin memukul wajah Baekhyun yang menyebalkan. Tapi kini ia harus sabar. Chanyeol harus menyelamatkan Baekhyun dari ancaman besok yang akan di lakukan Tao. Tao bukanlah orang yang suka bermain-main.

“Nugu?”

Chanyeol menggigit bibirnya, dan menghela nafas panjang.

“I..ini aku..”

Baekhyun merengutkan alisnya, tersenyum mengejek lalu membiarkan Chanyeol menunggu jawabannya. seharusnya pria tinggi itu sudah tahu sebelum ia mengetuk.

“Hyung.. ini sangat darurat…”

“Apa semua masalahmu darurat, dasar Park Dobi bodoh” Cemooh Baekhyun. Ia bahkan menggunakan Headphone untuk meredamkan suara berat Chanyeol yang tetap saja mengetuk pintu kamarnya.

“Hyung… besok kau tak boleh sendirian, beritahu juga Kyungsoo dan Jongin. Tao akan-“

Chanyeol menghentikan teriakannya saat mendengar Baekhyun malah bernyanyi sangat kencang. Ia mendengus kesal, apakah Baekhyun tak pernah mempercayainya. Setidaknya ia selalu membela Baekhyun saat Tao menjelek jelekinya sebagai Ahjumma yang cerewet.

“Jangan pergi sendirian!!!!”

Chanyeol menggedor pintunya lalu meninggalkan tendangan yang cukup kencang membuat Baekhyun ingin meninju wajah bodohnya.

 

=We Are Friends?=

Beberapa setelah kejadian itu, Chanyeol tetap berusaha memberitahu Baekhyun untuk berhati-hati. Tapi sayangnya Baekhyun menganggapnya hanya angin lalu saja. Ia bahkan menceritakan kelakukan Chanyeol dengan nada mengejek seperti biasa. Membuat Jongdae, teman sebangkunya memperingati Baekhyun untuk percaya.

Mata bulat Kyungsoo makin membulat saat beberapa orang mendekatinya. Tak ada rasa takut saat beberapa pria itu mendekatinya. Tapi ia langsung berkeringat saat melihat Tao dan Yifan menyembul dari beberapa anak tersebut.

Kyungsoo memang selalu datang pagi untuk membersihkan bangkunya. Tak asing baginya bila ia menemukan begitu banyak sampah ataupun coretan belakangan ini. itu semua karena ia menolak ajakan Yifan untuk mengajarinya.

“Ka.. Kalian mau apa?” Kyungsoo mundur beberapa langkah dan langsung berhenti saat mebentur seseorang yang langsung mendorongnya.

“Bawa dia..”

 

=We Are Friends?=

 

“Aku di jalan.. wae?”

Mata hitam Jongin melebar, ia langsung berlari tanpa menghiraukan beberapa orang mengumpat karena kesal di tabraknya. Ia bahkan menerobos tempat penyebrangan dan membuat keributan dari suara klakson kendaraan yang melintas.

Di belakangnya seseorang dengan wajah teduh memandanginya. Ia tersenyum getir setelah mengetahui kenapa Jongin bisa berbuat gila seperti itu. Ia menatap Handphone nya dan menggenggamnya erat. Lalu mempercepat langkahnya.

Sehun segera melewati para murid yang berkumpul untuk melihat sesuatu. Matanya melebar dan menatap tajam ke beberapa orang yang sudah berdiri di sana berdiri sedangkan ada seorang pria yang tersungkur di tengah tengah mereka.

Langkah kakinya berhenti saat tubuhnya di tabrak oleh Baekhyun yang mendekati orang-orang tersebut dan langsung mendorong mereka. memperlihatkan Jongin yang tersungkur dengan mulut mengeluarkan darah.

“Yak apa yang kalian lakukan?” Baekhyun mendorong mereka semua, ia tak peduli bila akhirnya ia akan bernasib seperti Jongin.

“Jangan bersikap seolah kau pahlawan kesiangan Park Baekhyun” Ucap Tao sinis

Mata tajam Baekhyun menusuk ke arah Tao dan Yifan yang hanya diam duduk menonton. Di tengah-tengah mereka terlihat Kyungsoo juga yang sudah tak berdaya.

Baekhyun mengepal tangannya gemetar lalu berjalan menghampiri Tao dan Yifan sebelum ia melayangkan tangannya ia merasa sesuatu memukul belakang kepalanya dan seketika tersungkur.

“Hyung…”

Chanyeol membuat yang lain memandanginya dan segera berlari mendekati Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri. Sedangkan Jongin mencoba berdiri. Apakah tak ada seseorang yang akan menghentikan ini semua? Semuanya terdiam. Tak ada yang berani menghentikan semua ini. tak ada yang bisa menghentikan apa yang di lakukan Yifan dan Tao selain…

“Kalian sungguh keterlaluan Yifan , Tao..” Ucap seorang pria dengan rambut poni hitam hampir menutupi matanya itu, dengan santainya mendekati ke dua pria yang membulatkan matanya terkejut.

Pria berponi bernama Yixing itu mendekati Tao dan Yifan yang hanya menelan ludah susah payah. Ia tahu kedua saudaranya ini hanya berpura-pura ketakutan seperti biasa. Dan Yixing sudah muak dengan semuanya.

“Songsaenim Cheo menunggu kalian… dan Kalian juga..” Lay menatap diam ke arah para murid yang membantu Tao dan Yifan memukuli Kyungsoo, Jongin dan Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri.

“Begitu pula dengan kalian…”

Mata Chanyeol membulat lebar saat Yixing menujuk ke arahnya, lalu Sehun yang memang berdiri tak jauh dari mereka dan Suho yang hanya menunduk di antara para murid yang berkumpul.

 

 

At Cheo Office

 

“Kalian gila? Apakah kalian ingin membunuh mereka? kau tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun? Ia harus di rawat di rumah sakit akibat cidera pada tulang lehernya..”

Chanyeol menunduk dalam, ia menahan seluruh air matanya untuk keluar. Ini salahnya. Seharusnya ia bisa menjaga hyungnya. Apa yang akan eomma dan appanya katakan setelah mengetahui semua ini. mereka pasti akan sangat kecewa.

“Cheo.. sudahlah-“ Bela Yifan

“Cheo songsaenim” Ucap wanita di hadapan Yifan penuh penekanan “ aku tahu kenapa Papa dan Mama menyuruhku untuk kemari mengawasimu Yifan, Kau bukanlah murid kau monster..” Celoteh Cheo menatap wajah Yifan menantang.

Monters. Satu kata itu mampu membuat emosi Yifan menguak. Tangannya gemetar. Suhu tubuhnya memanas, rasanya seluruh pasokan darah yang ada dalam tubuhnya ke atas kepala. Semua nya membelalakan matanya melihat Yifan melempar handphone nya ke arah kaca yang membuat semua murid yang sedang berada di lapangan menatap ke atas, tempat di mana kantor Cheo songsaenim berada.

“Aku bukan monster” Ucap Yifan penuh penekanan, menatap Cheo tajam

“Kau hampir membunuh siswa apalagi sela-“

“AKU BUKAN MONSTER !!!” Teriak Yifan menggema di ruangan yang cukup luas tersebut.

Semuanya terdiam, menatap Yifan takut tapi tidak dengan Cheo yang menatapnya tajam. Ia melipatkan kedua tangannya di dada, mendekati adiknya itu dengan melanggeng santai. Menatapnya penuh tuduhan.

“Apakah kau masih bisa di bilang manusia setelah membuat Gege-“

Yifan segera keluar tak menghiraukan ucapan Cheo yang sangat menusuk jantungnya. Ia melangkah tanpa menghiraukan beberapa sorot mata menatapnya takut. Ia berhenti sebentar, lalu menatap para siswa yang menatapnya takut.

“Kau monster…”

“Yifan .. kau sangat tinggi.. kau monster”

“MONSTER…”

Beberapa suara yang entah dari mana datangnya memenuhi fikiran Yifan. Membuat dirinya semakin emosi. Dadanya sesak, seakan-akan ia harus mengeluarkannya saat ini juga. Tatapan para murid yang takut padanya pun terasa seperti tatapan intimidasi karena perbuatannya dahulu.

Seseorang yang berlari menabrak pundaknya, membuat seorang itu terjatuh lalu membelalakkan mata menatap Yifan yang menatapnya tajam.

“Mi..mi..mian..mianhae..ak..aku..”

Yifan tak menghiraukan ucapan Jongdae yang sudah meringkuk ketakutan. Matanya memandang Jongdae lemah, membuat pria yang ketakutan itu terdiam beberapa saat. Sebelum Jongdae mengeluarkan suara. Yifan berjalan ke arah parkiran dan pergi begitu saja dengan mobil mewahnya.

 

 

 

 

At Hospital

 

Ibu Jongin terus saja menangis, setelah mendapatkan pesan dari sekolah ia langsung pergi ke rumah sakit di mana putra semata wayangnya di rawat. Ternyata bukan hanya dia, seorang ibu dengan mata bulat pun menangisi anaknya yang di rawat di ruangan yang sama.

“Baekhyun sudah melewati masa kritisnya kami sudah melakukan operasi, sepertinya ia harus bed rest untuk 1 bulan ke depan”

Seorang wanita terduduk di sofa di mana anaknya di rawat. Ia tahu Baekhyun bukanlah anak yang nakal. Sejak kecil ia sudah mengajarkan kalau kekerasan itu tidak baik. Tapi kini mengapa anaknya bisa seperti ini. apalagi salah satu pelaku adalah Park Chanyeol. Anak tirinya.

“Apakah Baekhyun sudah sadar?”

Wanita dengan wajah teduhnya menggeleng sebagai jawaban. Ibu jongin menggenggam tangan ibu Baekhyun , mencoba menguatkan.

“Terimakasih Jongin dan Baekhyun melakukan ini untuk melindungi Kyungsoo. Ghamsahamnida”

Ke 3 wanita paruh baya itu menangis di tempat mereka masing-masing menatap anak mereka yang masih saja memejamkan mata.

 

At School

 

Jongdae segera keluar kelas saat bel berbunyi, ia segera meninggalkan beberapa teman sekelasnya yang masih saja heboh membicarakan kejadian tadi pagi dan semenjak itu Jongdae tak dapat fokus dengan belajarnya. Wakaupun baru mengenal mereka kemarin belakangan hari ini, rasanya ia sudah menjalin persahabatan dengan ke 3 orang itu sejak lama.

“Jongdae yah!”

Langkah Jongdae berhenti saat melihat siluet Minseok mendekatinya, ia menelan ludahnya dan merubah wajah khawatirnya menjadi tenang.

“Oi Hyung? Wae?” Teriak Jongdae, melihat Minseok yang berlari ke arahnya.

“Apakah kau akan menjenguk Kyungsoo, Jongin dan Baekhyun?” Selidik Minseok, menatap Jongdae yang hanya terdiam lalu tersenyum.

“Mwo? Un.. untuk apa? Aku tak dekat dengan mereka hyung…” Dusta Jongdae, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Jeongmal?” Tanya Minseok dengan kerlingan mata jahilnya.

“Nde, aku ingin pulang cepat karena… aku ada les vocal nanti sore..”

Minseok menghela nafas panjang dan mengangguk. Ia menepuk pelan pundak Jongdae dan memberikan senyuman manis padanya.

“Kau tahukan apa yang akan terjadi bila Kris tahu kita tak ada di pihaknya, aku tak mau kau akan seperti Luhan nantinya…”

Jongdae terdiam sesaat, mencerna perkataan Minseok yang sebenarnya tak perlu ia fikirkan sampai 2 kali. Kris tak akan membuat hidupnya tenang bila ia tak ada di pihaknya. Tapi setelah kejadian itu, Kris sepertinya tak memandangnya sama sekali seperti saat mereka menjadi sahabat seperti dulu. Ia hanya menghela nafas, meminta maaf, lalu memandang punggung Minseok yang menghilang di lorong.

“Mian…”

 

At Park House

 

Chanyeol berulang kali menghubungin eommanya, tapi hanya operator yang menjawab bahwa panggilannya di tolak. Apakah eomma nya sangat marah padanya. Tentu. Siapa yang tak marah bila anakmu di pukuli seseorang dan hampir mati.

Chanyeol menghempaskan dirinya di sofa dan mengacak rambut frustasi. Bila ia datang cepat sedikit mungkin Baekhyun tak akan seperti ini. Ia menyalahkan dirinya yang hanya bisa menatap Tao tajam setelah keluar dari kelas. Ia sebenarnya ingin memukuli wajah kucing yang hanya terdiam setelah melihat amarah Yifan tadi pagi.

Dengan langkah besar, Ia mengambil mantel dan mengambil kunci mobil. Ia harus ke rumah sakit dan menjelaskan semuanya pada eomma dan Baekhyun.

 

At Hospital

 

Chanyeol menghentikan langkahnya saat melihat siluet Sehun masih menggunakan seragam duduk di bangku taman rumah sakit. Apa yang di lakukan manusia dingin itu di rumah sakit? Bahkan tanpa mantel? . Chanyeol segera mendekati Sehun dan memberikan syal yang tadi membelit lehernya.

“Sehun, apa yang kau lakukan disini?”

Sehun hanya menunduk, ia tak mungkin memperlihatkan wajahnya kini ke Chanyeol yang menatapnya ingin tahu. Chanyeol duduk di sampingnya, masih menatap wajah datar Sehun.

“Sehun ah~ gwenchana?”

“Aku sedang malas di rumah” Jawab Sehun, berbohong.

“Kau mencari angin di rumah sakit?”

Sehun hanya mengangguk. Chanyeol tak percaya, ia lalu memukul lengan Sehun pelan, membuat pria dengan faceplam itu merengut bingung.

“Jangan berbohong, kau pasti menjenguk salah satu dari mereka? Kyungsoo? Jongin?”

“Jangan bercanda” Sehun tersenyum mengejek mendengar ucapan Chanyeol.

“Apakah kau tak memilki rasa bersalah sedikit pun?”

Sehun menoleh ke arah Chanyeol yang menuduk, menatap sepatu nya yang mengkilap terkena sinar bulan.

“Aku.. aku.. “ Chanyeol mengusap air matanya asal dengan lengan. “Eomma pasti sangat marah padaku, aku tak bisa menjaga hyung dengan baik. Aku bahkan salah satu tersangka dari pemukulan itu..aku..”

Chanyeol menangis dalam diam bagaikan bayi yang baru saja lahir. Sehun mengelus punggung Chanyeol mencoba menenangkan, sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama tapi pada orang yang berbeda.

“Baekhyun sudah sadar…”

Chanyeol menatap Suho yang berdiri di hadapan mereka dengan tangan di masukkan ke dalam jaket tebal. Ia tersenyum membalas wajah terkejut Chanyeol

“K..Kau?” Mata Chanyeol membulat melihat Suho di hadapannya

“Ne, aku melihat mereka. Kyungsoo sudah bisa bersandar pada punggung tempat tidur. Jongin sudah bisa tersenyum walaupun akhirnya ia meringis kesakitan dan Baekhyun sudah sadarkan diri walaupun ia hanya bisa berbaring..”

“Suho? Kau?”

“Aku sudah muak Chanyeol, aku tak peduli lagi apa yang akan mereka lakukan… aku bukanlah boneka kalian lagi, aku akan melawan bila kalian akan melawanku”

Chanyeol dan Sehun menatap Suho yang menampilkan wajah tegas. Ya Suho adalah anggota yang selalu diam bila mereka melakukan apapun terhadap para murid. Suho adalah murid yang hanya di jadikan sebagai pekerja PR yang akan memberikan mereka nilai yang hampir sempurna.

“Aku harus pergi, sepertinya besok aku akan menyusul mereka…”

Chanyeol dan Sehun menatap punggung Suho yang berjalan menjauhi mereka. di dalam hati mereka, mereka bertanya apakah mereka dapat melakukan seperti yang Suho lakukan. Mereka terlalu naif, terlalu takut. Mereka juga memiliki sebuah alasan yang mengharuskan mereka tetap pada pihak Yifan.

 

=We Are Friends?=

 

At Wu House

Yifan memandang langit dengan wajah sendunya. Ucapan Cheo selalu terngiang di kepala nya membuat nya ingin memukul siapapun yang ada di hadapannya. Ia akui ia memiliki pengendalian emosi paling buruk dari pada siapapun. Ia bahkan tak segan-segang melukai siapa saja atau melempar barang apapun untuk melampiaskan emosinya.

“Aku bukan monster..”

Ia selalu berkata seperti itu setiap malam. Seakan-akan meyakinkan dirinya bahwa ia memang bukan seorang monster.

“Aku bukan monster… aku bu-“

“Hentikan Kris” Ucap Tao menghentikan suara Yifan yang berbicara terus

Yifan memutar tubuhnya dan menemukan Yixing dan Tao yang sudah ada di belakangnya. Kris adalah panggilannya saat kecil, saat ia masih tinggal di Canada. Tao memasukkan tangannya ke kantung celana dan mendekati Yifan yang memandang mereka sendu. Wajah blaster tampannya tampak mengkhawatirkan saat ini.

“Hentikan Yifan, lama-lama kau akan gila karenanya”

“Tao aku bukan-“

“Monster? Kau manusia Wu Yifan” Ucap Tao meyakinkan.

“Kau manusia bila kau memang memiliki sifat manusia”

Tao menggertakkan giginya kesal saat Yixing dengan datarnya mengatakan itu. Ya. Mereka adalah saudara yang berbeda pendapat. Yixing adalah kakak sepupunya Tao dan adik sepupu Yifan. Karena terlalu pendiam dan selalu ikut campur mereka malas mendekatinya.

“Hentikan Lay, kau memperburuk keadaan” Tao memperingati Yixing, sebelum ia benar-benar akan membuat wajah mulus Yixing babak belur.

Yixing tersenyum mengejek saat Tao memandanginya dan memanggil nama akrabnya. Itu terdengar familiar beberapa tahun lalu, dan kini saat ia memanggil Lay kembali rasanya penuh kerinduan yang ada di hati Yixing.

“Kalian yang harus berhenti! Berapa orang lagi yang akan kalian kirim ke rumah sakit? Berapa wartawan lagi yang akan meliput sekolah dan keburukan kalian? Berapa kali lagi kau membuat Cheo harus menyuap mereka semua dan membuat seakan tak terjadi apa apa?”

“Apakah Luhan tidak cukup untuk kalian? Xiumin? Chen? Lalu kalian menginginkan Suho? Kyungsoo… sebenarnya apa yang kalian mau?”

Yixing mendekati kedua pria yang hanya menatapnya diam. Tao sudah ingin memukul wajah Yixing bila Yifan tak menahannya.

“Luhan… ia ingin bertemu denganmu Kris, ia merindukanmu…”

Akhir perkataan Yixing membuat Yifan dan Tao yang awalnya sudah ingin memukul Yixing terdiam. Yixing segera saja pergi tanpa membiarkan Yifan sudah membuka mulut untuk bertanya.

 

=We Are Friends?=

At Hospital

 

Langkah tertatih tak membuat seorang Jongin putus asa untuk mencari cara bagaimana caranya menghubungi Sehun. Ia tahu Sehun semalam datang dan ibunya mengusirnya. Eommanya pasti sangat marah pada sahabat kecilnya itu. Bagaimana tidak? Sehun adalah salah satu tersangkanya, eomma nya sangat membenci Sehun, karena Sehun hanya diam saat dirinya di pukuli.

Langkahnya berhenti saat melihat seseorang kesulitan dengan kursi rodanya. Dengan langkah tertatih Jongin mendekati pria itu dan membantu ia mendorong kursi roda yang tersangkut di pintu.

“Ghamsahamnida” Ucap pria manis dengan rambut coklat madu atas kebaikan Jongin

Jongin lalu tersenyum dan membungkuk kembali “ Cheonmanayo, kau mau kemana? Ingin ku bantu?”

“Nde?” Tanya pria itu tersenyum manis menatap Jongin “Bisakah kau membawaku ke resepsionis? Aku ingin menghubungi seseorang” Pintanya sopan, membuat Jongin mengangguk menyetujui.

“Kebetulan sekali aku pun ingin kesana…”

Jongin mendorong kursi roda itu dengan langkah tertatih. Kaki nya masih terasa sakit akibat tendangan seseorang di tulang keringnya. Ia meringis sedikir membuat pria berambut coklat madu itu mendongak.

“gwencahana? Aku bisa membawanya sendiri” Ucapnya, mendorong kursi roda itu dengan kedua tangannya.

“Gwenchana, hanya sedikit sakit..” Kilah Jongin tersenyum meyakinkan pria itu.

“Kau habis di pukuli?”

“Nde”

“Jeongmal? Apakah kau penculik? Pencuri? Atau… gangster?”

Jongin terkekeh geli mana mungkin bila ia orang jahat tak ada yang mengawalnya keluar dari ruang tempat ia di rawat.

“Aku di pukuli gengster”

Pria itu terdiam. Ia menggigit bibirnya kelu. Ucapan pria yang mendorong kursi rodanya membuat ia mengingat sesuatu. Mereka sepertinya memiliki nasib yang sama, hanya saja orang yang tidak duduk di kursi roda lebih beruntung di banding dirinya.

“Nah kita sudah sampai”Ujar Jongin menghentikan kursi roda tepat di depan recepsionis.

“Aku akan sendiri mulai dari sini”

Pria berambut coklat madu itu mendekati resepsionis yang sibuk dengan telefonnya. Jongin yang melihatnya mendekati pria itu dan memberitahu kalau mereka butuh telefon.

“Apakah kau tak memiliki Handphone?”

Jongin merengut, kenapa hanya dia yang di komentari. Ia menatap pria manis itu tersenyum berterimakasih dan memencet beberapa digit nomor dengan senyuman. Sepertinya pria itu memang sudah lama di rawat di sini. Ia terlihat akrab dengan para suster, dan pekerja yang ada.

Sudah 2 kali dan hanya penolakan dari operator. Jongin tahu kalau Sehun tidak akan mengangkat nomor yang tak ada di kontaknya, apalagi nomornya. Jongin menghela nafas lalu berbalik menuju ruangannya. Langkahnya berhenti saat ia mendengar nama seseorang yang sudah tak asing lagi.

“Tao dan Kris berulah lagi?”

Jongin menengok ke arah pria yang duduk di kursi roda itu ingin tahu.

“Ya.. Lusa operasinya akan di mulai, aku berharap aku bisa berjalan lagi setelahnya…”

“Kau jangan seperti itu Lay, dia adik mu yang baik.. Kris dan Tao akan ku hentikan bila aku sudah sembuh..”

Lay?

Kris?

Tao?

Ia tahu nama asli Lay, pria berwajah datar yang memiliki dimple manis itu bernama asli Zhang Yixing. Begitu pula nama inggris Yifan yaitu Kris . dan Tao. Sepertinya pria ini memiliki hubungan dekat dengan ke 3 orang yang ada di fikiran Jongin saat ini.

Apakah pria itu salah satu dari mereka. memikirkan mereka saja membuat Jongin kesal. Ia terus melangkah kan kaki meninggalkan pria berambut coklat madu yang kini tersenyum di teleponnya.

 

=We Are Friends?=

3month Later

 

Semua murid wanita memandang pria dengan balutan seragam berteriak histeris. Ia terlihat sangat imut. Bahkan mengalahkan Baekhyun dan Kyungsoo yang katanya imut di angkatan mereka. Mereka menatap pria itu berjalan dengan santainya dan sesekali membalas salam yang di lontarkan para murid untuknya. Satu kata kesan positifnya, pria itu sangat manis dan ramah pada siapapun.

“Annyeong Haseyo.. aku Xi Luhan.. aku dari China”

Semuanya berbinar menatap Luhan selain Jongdae yang duduk di barisan kedua pojok kanan. Ia memandang Luhan takut lalu langsung memalingkan wajahnya dari senyuman manis pria itu. Luhan yang melihatnya hanya tersenyum simpul, sebenarnya ia menyayangkan sifat Jongdae yang seperti itu.

“Baekhyun ah~ tunggu aku!” Teriak Jongdae, saat melihat teman sebangkunya tiba-tiba berdiri saat songsaenim langsung keluar.

“Chen”

Semuanya berhenti beraktifitas, bahkan Baekhyun yang hendak melarikan diri dari Jongdae menengok ke arah Jongdae yang berhenti dengan keringat dinginnya. Mereka menatap Luhan yang memanggil seseorang dengan nama china yang entah siapa itu. Chen, Tubuhnya gemetaran, membuat para murid yang lain ingin tahu.

Luhan mendekatinya dan membuat Jongdae berhadapan dengan dirinya. Luhan menyapanya dan tersenyum manis, layaknya seorang sahabat yang belum pernah bertemu sebelumnya.

“Bisakah kita ke kantin bersama?”

Semua wanita di kelas menjerit dalam hati, kenapa harus jongdae? Pria aneh yang sangat cerewet yang di ajak untuk ke kantin.

“Chen?”

“JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU!” Teriak Jongdae histeris

Bukan hanya Baekhyun dan Kyungsoo yang terdiam di tempatnya melihat Jongdae berteriak di hadapan murid baru itu. Jongdae segera melepaskan tangan Luhan dari pundaknya dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Luhan memanggilnya.

 

At Canteen

“Jeongmal?”

Jongin membelalakkan matanya mendengar cerita Baekhyun mengenai Jongdae dan si murid baru yang langsung tenar tersebut.

“Sepertinya mereka sudah kenal lama. Bukankah Jongdae tinggal lama di China?”

“Begitu pula Tao, Yifan, Lay, dan Xiumin”

Mereka bertiga memandang jengah atas kedatangan Suho. Ya setelah kejadian 3 bulan yang lalu Suho selalu masuk dalam pertemanannya. Sebenarnya mereka tak apa-apa, tapi Baekhyun sangat melarang. Ia takut kalau ini semua jebakan. Jebakan yang akan membuat mereka ke masalah baru.

“Pergi dari sini”

Suho menghela nafas, ia tahu akhirnya akan seperti ini. Suho berdiri, memasukkan tangannya ke saku celana dan tersenyum sebelum menghilang dari penglihatan Baekhyun dan yang lainnya.

“Ada apa dengan mereka? apakah mereka sudah tak lagi menjadi dayang-dayang Yifan”

“Mereka?” Tanya Jongin penasaran, bukankah hanya Suho yang terlihat tak lagi bersama gangster itu.

“Chanyeol, aku tak tahu apa yang ia lakukan pada eommaku, tapi eomma berubah sangat baik dan membuatku sangat kesal”

Kyungsoo dan Jongin saling bertatapan sebelum mendengar suara desah nafas berat Baekhyun.

 

At Music Room

 

Jongdae menekan not not itu asal, ia tahu bahwa itu musik yang buruk bagi orang periang untuknya. Tapi lebih buruk lagi saat ia melihat Yixing menggeliat dari kursi piano besar di hadapannya.

“Kau membangunkan ku Chen.. hoammm”

Yixing menggeliat dan mendekati Jongdae yang masih menatapnya takut. Ia menuduk dan meremas-remas tangannya ketakutan.

Yixing duduk di sampingnya dan menghentikan kaki Jongdae yang gemetar.

“Wae?”

“Lay… dia datang.. Luhan..”

Mata Yixing terbelalak, ia tahu ada murid baru yang langsung mencuri seluruh perhatian para gadis lainnya. Tapi ia bukan tipe yang ingin cari tahu.

“Luhan?”

“Nde, dia sudah bisa berjalan sekarang.. dia … dia sehat ge…”

Yixing segera membawa Jongdae yang sudah ingin menangis ke pelukannya. Dari mereka semua. Jongdaelah yang paling tertekan. Ia harus beberapa kali ke psikiater dan di berikan terapi mengenai mentalnya.

“Tenanglah Chen… kita semua akan baik-baik saja”

 

TBC

 

 

Iklan

22 thoughts on “We Are Friend CHAPT 1

  1. Tiikaa berkata:

    huaaaaa…..
    Sadiss tuh tao ama kris…

    Tpi heran thor,, knapa sehun diem aja ya. Pdhal jlas2 yg lagi dipukulin itu sahabatnya sendiri…
    Knpa sehun gak coba ngeberontak kyak suho..
    Trus luhan itu siapa dan knapa? Kok chen smpe takut begitu..

    Oke deh next saya tunggu yaa 🙂

  2. Ava berkata:

    hua, keren.. keren.. daebak!!
    sebenarnya siapa luhan, kenapa chen takut banget sama luhan..
    ditunggu kelanjutannya.. ^^
    keep writing…

  3. R ^^ berkata:

    Daebak, bikin penasaran thor
    tapi Tao sama Kris sadis bgt, aku greget bgt bacanya
    next chap kalo bisa jangan lama” yaaa thor, aku udah penasaran bgt sama lanjutannya, Hwaiting (9^.^)9

  4. Dinda Kharisma berkata:

    Mungkin ini ff yg bakalan Keren…. Chapter pertama sukses buat aku mutar otak .. Bingung banget tapi sedikit paham alur nya… cepetan di Publish yg chapter ke-2 yee?? Tulisannya Rapii 🙂

  5. adezenianggraeni berkata:

    FF BARUUUUU YEAY ! DAEBAKK !
    Ceritanya keren thor, menyentuh hati tentang friendship.

    Thor sepertinya Yifan punya trauma yaa, wah chapter pertama bikin penasaran.
    Lanjut ya thor, SEMANGAT 😀

  6. s wanda putri berkata:

    yaa ampun taoris jahat bener!!
    trs apa yg terjadi ama jongdae????? knp takut sm luhan???
    trs knp waktu itu luhan gak bisa jalan???
    apa hubungan kristaolaychenluhanxiumin waktu di china???
    knp chen harus ke pskiater????

    ada apa sebenernya??? misterius!!!!!
    knp cheo saem ngatain kris monster?? trs dia bilang gege,apa maksudnya???
    apa chen sm xiumin masih berteman sama kris tao????

    penasar thor,,,,buruan lanjut ne,,,please!!!!!
    banyak teka teki…..

  7. s wanda putri berkata:

    trs knp sehun sama kai bisa gk bareng” lagi,pdhl mereka sahabat kecil
    trs ada apa sm hubungan saudara tiri BaekYeol??ada masalah apa/????
    trs apa maksud omongan hati suho di lapangan waktu itu

    sebenernya ada apa???? penasaran!!!

  8. Little Cheonsa berkata:

    Huaaa…. Daebak thor! Cepetan lanjut ya!
    Aku suka alur ceritanya, watak para tokohnya, keren deh!
    Oh iya, Kenapa Chen kayak gitu, ya? Emang Luhan siapa sih?

  9. Syfnad berkata:

    Aigooo kenapa Chenchen takut sama suami gue? #digamparfansluhan=.=
    TaoRis kelewat sadis pan kasian Kkamjjong, Baekkie, sama Dio..
    Next cepet publish yaa

  10. phiwzz berkata:

    o.O emmmm…. masih bingung sih sama hub antar-cast, penasaran sangat!! apalagi muncul nya luhan di akhir2 chap ini, apa dia sama dgn kris? atau dia korban kris juga?
    tapi… ini ff bakal keren kayanya, suka aja sama alur nya yg sengaja dibikin mengundang curiosity, aaaaaaaa penasaran sungguh!!! >,<
    next chap buruan update ya thor!! yg cepet!!!! hehehe 😀

  11. 7765677 berkata:

    Tadi lihat luhan nelpon, gwe sangka itu nelpon ama yixing. Tp di akhir2 sptx bkn deh….
    itu chen (mungkinn) dulu pengikut kris sewaktu di china & nyelakain luhan gra2 luhan g ada di pihak kris…. (spt kata xiumin)
    itu sehun… knp ya??????ko’ gitu????

  12. Mrs. Yehet berkata:

    kok rumit banget ceritanya.. emang apa kejadian di masa lalu smpe jongdae se trauma gitu..
    izin baca ya author nim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s