Let The Fate Lead Me (chapter 1)

Untitled-1 copy

 

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : exo and gg members

Rating : G

Genre : romance

Disclaimer : all belong to GOD

Summary :

Takdir itu tidak pernah salah

Ketika Tuhan menentukan jalur kehidupan

Maka tidak ada kata menyesal

Aku bersyukur pernah bertemu dengannya

 

HAPPY READING ya J

Dua orang laki-laki menjauhinya, terdengar suara pintu ditutup dari belakangnya. Ia mendongakan kepala, ingin tau siapa yang menjadi ‘wakil’ entah jabatan apa itu. Dan mata mereka bertemu.

“Hai”

“Hai juga.” Jessica melambaikan tangannya ragu bercampur canggung. Laki-laki dihadapannya itu tersenyum lebar sampai gigi-gusinya terlihat. Matanya memantulkan sinar mentari yang terik.

“Kau terlambat ‘kan?” Jessica mengangguk pasti, mau mengelakpun tidak ada gunanya.

“Kalau begitu, pulang saja sekarang. Besok kau datang lagi untuk menjalani MOS hari kedua.” Matanya sukses melebar seperti ingin keluar dari cangkangnya. Apa? pulang? Sekarang? Habislah sudah, pasti eomma akan mencecarnya nanti.

“Oh ya. Aku Baekhyun.” cowo itu –yang namanya Baekhun- beranjak dari kursinya lalu melewati Jessica, ingin keluar dari hawa pengap dalam kelas. Ini musim panas.

“Jangan terlambat besok ya! Nanti kau aku suruh pulang lagi.” Jessica menoleh kebelakang, tak mendapati sosok siapapun dipintu. Baekhyun pasti menghilang entah kemana setelah mengucapkan kalimat tadi.

Ia menghembuskan nafas kasar. Ingin menangis tapi tidak mungkin. Ingin berteriak juga nanti dia malah diteriaki balik orang gila. Ia meraih tas biru tuanya kemudian berjalan gontai.

____,__________

 

Surai keemasannya berantakan, bahkan untuk menyisir rambut ia tidak punya waktu. Lirikan matanya menoleh ke dinding dimana jam bulat warna putih menempel jelas,sambil kedua tangan yang sibuk mengikat tali sepatu.

Semenit sebelumnya lelaki surai emas itu masih meringkuk di kasur empuknya. Dan semenit kemudian dia sudah siap, lengkap dengan seragam dan tas. Walaupun bajunya keluar-keluar dan rambut habis bangun tidur.

Tetap tampan, meski acak-acakan.

Langkah kakinya menuruni dua anak tangga sekaligus. Sembari dentuman bertemunya alas sepatu dan lantai.

“Dari mana saja kamu?” Nyonya Xi meninggikan suaranya. Saat wanita paruh baya itu menangkap sosok suaminya muncul dari balik pintu. “Aku? Tentu saja bekerja!” cowo muda itu menghentikan larinya di tengah tangga.

Menyaksikan lagi drama pertengkaran. Oh! Sekarang masih pagi, apa perlu idera telinganya dimasuki berbagai jenis teriakan lagi? Nyonya Xi membanting majalah wanitanya ke lantai. Matanya menyorotkan amarah, entah sejak kapan perasaannya jadi sentiment akan apapun yang mengangkut sang suami.

“Berita apa lagi kemarin? Kau bohong kan? Bukan bekerja tapi bermalam dirumah wanita jalang itu!”

Bibi Nam meletakan nampan kayunya di atas meja, mengingat sebelum Tuan Xi datang, tadi Nyonya Xi meminta segelas air putih. Cowo muda itu tak lagi berhenti di tangga, ia melanjutkan langkahnya dengan wajah tak peduli. Seakan tidak terjadi apapun. Melewati kedua orang tuanya, tanpa salam.

Nyonya Xi kehabisan rasa sabarnya, geramnya ia sampai tanpa ragu mengambil gelas air putihnya. Sedetik kemudian, gelas itu kosong, airnya sudah bermuara di wajah suaminya. “Ya! Jangan permainkan aku!” teriaknya kasar.

“Tuan muda” laki-laki lebih tua berapa tahun darinya bersuara. Namun tetap tak mengubrisnya. “Tuan muda Luhan!” Luhan melewati namja itu bak tak melihat apapun. Indranya seperti tak bekerja lagi –tepatnya pura-pura-

Luhan melewati pintu yang sudah dibukakan oleh entah siapa dia tak mengenalnya, yang intinya orang-orang itu bekerja pada keluarganya, di rumahnya. Ia terus berjalan, menghiraukan pemberian kunci mobil kesayangannya.

Tetap melangkah, menyusuri halaman rumahnya yang tak terbilang kecil. Butuh waktu bermenit-menit agar sampai di pintu gerbang. Kali ini ia merasa putus asa, seperti tak hidup, hanya raga yang bergerak.

Kasih sayang orang tuanya sudah tak berbekas dihati, bahkan mungkin tak pernah diberikan padanya. Bosan.

Santainya ia ditemani angin lembut. Menambah berantakan surainya. Setidaknya walaupun ia namja manly, ada sewaktu-waktu lelah menampilkan sosok humoris dan ramah, lelah menutupi semua keluhannya di depan teman dan guru.

Ia merasa sehari cukup untuk tak mengumbar senyum palsu lagi. Diurungkan niatnya yang sejam lalu diwajibkan. Pergi ke sekolah. Padahal ini hari pertama sehabis liburan musim panas kemarin.

_____,______________

Nyonya Jung terperangah menangkap tubuh mungil gadis cantiknya dari balik pintu. “Kok balik lagi? Bukannya hari ini kamu sekolah?” Jessica mendongakan wajahnya yang sedari tadi menunduk –menutupi wajahnya yang basah akan air mata-

Nyonya Jung kembali dalam kebingungannya, ia mengerutkan kening. Anaknya pulang dengan mata sembab memerah. Ada apa ini?

“Eommaaaa….. aku disuruh pulang sama wakil ketua osis itu” Jessica bertingkah anak sd yang diambil permennya. Berusaha menampilkan mimic memelas, yang intinya agar ia tidak dimarahi Nyonya Jung karena terlambat lalu diusir.

“Mwo?” Jessica memeluk ibunya. “Iya, tadi aku sampai di sekolah kemudian dia menyuruhku pulang” mereka melongggarkan pelukan kemudian muncul tatapan menyelidik dari Nyonya Jung. “Apa yang kau lakukan?” iris coklat hazel Jessica bermain-main, bersihkeras untuk tidak menatap balik eommanya.

“Ti-tidak, aku tidak melakukan apapun sungguh”

“Ya sudah, kembalilah kekamarmu. Besok jangan sampai bangun kesiangan lagi” kali ini dewa-dewi di langit berpihak padanya. Jessica melengos lega, dadanya yang berdegup kencang kembali dinormalkan. Ia menarik sepasang kakinya menuju pintu kamar.

____,_________

Matahari kembali muncul setelah malam yang sebentar –menurut Jessica- ia habiskan. Untuk pertamakalinya ia takut terlambat. Tangannya segera mengambil handuk kemudian menghilang di balik kamar mandi.

Bergegas mengikat tali sepatunya “Eomma, aku pergi ya. Bye bye” saling berlambaian tangan, Jessica menggeser pintu gerbangnya, keluar, lalu menutupnya lagi. Jalannya gembira dengan senyum merekah disana. Kali ini ia benar-benar tidak akan terlambat. Yakin.

Kriiiinnnggg

“Omo!” ia mempercepat jalannya. Ah tidak! Mengencangkan laju larinya lebih tepat. Bisa dirasakannya angin lewat berlawanan arah. Sedikit lagi..

“Ya! Buka gerbangnya! Aku hanya terlambat sepuluh detik! Ya!” Jessica menggedor-gedor gerbang sekolah. Namja tua berperawakan tegap itu tak peduli seolah tuli akan suara.

“Ehem.. bukakan saja pintunya” ujar namja berseragam sepertinya, Jessica menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat, seperti pernah melihat muka itu. Ah! Ya, itu wakil osis ‘tak tau adat’ menurutnya.

“Gomawo” Jessica mendinginkan nadanya, dengan raut datar ia melewati kedua manusia itu. “Pelatihan MOS masih berlangsung, kau tidak memakai perlengkapanmu?” tegur salah seorang. Matanya tiba-tiba membulat lebar. Aduh! Lupa.

Ia menepuk dahinya keras, bodoh! Bodoh! Bodoh!.

“Jessica Jessica, kemarin terlambat sekarang kau tidak memakai perlengkapan” Baekhyun datang sambil berlipat tangan didada. “Ingin kusuruh pulang lagi?” ia hanya bisa menunduk malu dengan kedua tangan ditautkan berdoa.

“Jangan pulang tolong. Apapun selain aku kembali kerumahku” Baekhyun segera meraih tangan mungil itu, menariknya untuk ikut. “Ma-mau kemana?” cowo ‘tak tau adat’ sebutannya itu membawanya ketengah lapangan kosng. Sembari mentari menyemprot mereka.

“Beridirlah disini, sampai aku menyuruhmu berhenti” Jessica bercemberut, sedetik kemudian sudah bertegap badan, sedangkan Baekhyun entah hilang kemana. ‘dia pikir dia siapa? Seenaknya menyuruhku’ namun ia hanya murid baru kan?

Tidak bisa berkutik lagi.

Semenit berlalu dan Baekhyun datang lagi. Ia mengalungkan Jessica selembar buffalo putih. Jessica melongok kebawah, mencoba membaca apa tulisan yang tertera. Dadanya mencelos hebat juga. Tulisan berkapital besar ‘AKU MEMALUKAN SEKOLAH’

____,_________

Luhan akhirnya bangun juga. Jam dinding putihnya menerakan angka Sembilan disana. Ia memalingkan pandangan lagi. Sejenak untuk mengumpulkan nyawa. Bel masuk sekolah bordering sejam yang lalu. Dan ia tidak peduli.

Dari bawah lantainya teriakan Nyonya Xi sudah tertengar, membuatnya malas beranjak. Yang pasti tebakannya adalah keduanya bertengkar diruang tamu. Lagi. Lagi. Lagi.

Diatas kepalanya sesorot mentari warna jingga kekuningan menyapa. Jam beker penguin pemberian eomma bertahun-tahun yang lalu masih bertengger di samping tempat tidurnya. Tapi tidak berhasil juga membangunkannya tepat waktu.

Dengan malasnya Luhan bersiap ke sekolah. Musim panas tahun ini sangat memperbanyak keringatnya. Merugikannya dan sebagainya.

Punggungnya ditegapkan sambil menyusuri tangga turun. Diruang tamunya, dengan hal yang sama –seperti biasanya—sepasang insan yang dipersatukan cinta tengah beradu mulut.

Luhan menghiraukan keduanya, serasa tak peduli lagi. Bibi Nam menyerahkan seuntai kunci mobil padanya yang dengan sigap langsung diraih Luhan. pria yang lagi-lagi tak sempat merapikan rambutnya itu membuka pintu mobil.

Sedetik kemudian kendaraan tak beratap itu mencelos kejalan raya.

 

—-,———-

 

Tidak tau apa yang dirasakannya, tapi musim panas serasa membakar separuh kulitnya yang tak terlindungi kain pakaian. Ditambah tawaan macam ejekan para murid, Jessica menundukan kepalanya, sepijak aspal hijau kusam dengan garis kuning menjadi tatapannya sekarang.

Matanya berkaca-kaca, tanpa sadar jatuh. Ini memalukan! Tak adakah yang tau? Seharusnya bukan menertawakan tapi memberi rasa simpati perhatian. Setidaknya mereka menyemangati.

Sedetik kemudian, suaranya hilang. Yang ada hanya kumpulan nada gesekan sepatu dengan lantai. Apa mereka bubar? Apa Jessica sudah selesai menjadi bahan pertunjukan sekolah? Ia menghela nafas kasar. Mendongakan kepalanya dan.

Jessica membuat alisnya menyatu karena otaknya kebingungan. Sisa seorang namja rambut kekuningan disana. Entah peraturan sekolah membolehkannya mewarnai rambut, ia tak peduli. Yang intinya, si cowo itu memperhatikannya. Tampang sulit diartikan.

Si pria berdecak tawa sesaat, sehabis pikirannya memunculkan argumen-argumen gila. “Hei! Siapa yang menyuruhmu berdiri disitu?” Teriaknya dari seberang. “Aku? Ehmmm… Baek-baekhyun yang menyuruhku. Ah! Bukan Baekhyun maaf, tapi wakil ketua osis itu” tidak sopan ‘kan kalau Jessica memanggilnya ‘Baekhyun’ tanpa embel-embel.

“Sudahlah” Pria itu menyuruh Jessica mendekatinya, kearahnya, tempat diteduhi atap. Awalnya ia bergeming, maju selangkah namun kembali lagi keasal berdirinya. Bagaimana kalau Baekhyun mengusirnya pulang lagi? Ia kapok, ia tak ingin itu terulang lagi.

Irisnya teduh, terkesan tidak sabaran. Mungkin lelah menyuruh Jessica berjalan mendekatinya. “Terserah! Kalau kau masih ingin berpanas disana. Bakar kulitmu sampai hitam kalau perlu!” Teriakan kesal bercampur amarah.

Jessica bingung memilih pilihannya, mengikuti pria tak dikenalnya –yang seenak jidat menyuruhnya berhenti—atau Baekhyun, si wakil ketua osis yang sok berkuasa –menurut Jessica—

Tentu saja semua manusia sama, yang lebih menguntungkan adalah yang engkau pilih bukan? Jessica tidak berbeda, ia bukan seorang ‘pergerakan berani bertingkah laku beda’ di bumi ini. Ia memutuskan yang lebih baik.

Setelah menimang-nimang sepuluh menit bahkan lebih, setelah sosok pria tak dikenalnya tadi itu lenyap.

Keputusan yang tepat, ujarnya dalam hati. Nyamannya duduk dibangku dekat madding sekolah, disaat sepinya lorong, ia berdiam ria. Bagai masuk ke dalam kulkas es besar, sejuk.

Jessica menyenderkan ubun-ubunnya ke tembok belakang, ketika suara decaknya orang berjalan terdengar. Ia menoleh ke kanan.

Dengan berhasilnya Baekhyun membuat matanya terbelalak lebih lebar lagi. Ia segera menegapkan punggung. “Kenapa kau disini?”

“Ehmm itu ehmm tadi ada siswa yang menyuruhku berhenti”

“Siapa dia?”

tbc

 

 

 

One thought on “Let The Fate Lead Me (chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s