INCUNABULIS

incunabulis
Nama : Julia elqisty
Judul Cerita : INCUNABULIS
Tokoh : Moon Ga Young(Kim Jihae), Do Kyungsoo

Support cast : Park Channyeol, Sandara Park (2ne1), Kim Soo Hyun
Genre : Sad(maybe),Romance,little comedy
Rating : 15
Length : One-shoot

Annyeong!!, Akhirnya ini postingan kedua yang aku post disini^^, semoga sadnya dapet ya, soalnya aku baru pertama kali nyoba buat bikin sad story, dan semoga suka yaa
Dan juga ini selingan buat nunggu FF born to say goodbye,butuh banyak inspirasi banget buat nulis kelanjutannya soalnya author baru abis ujian nasional nih(curcol) jadi masih rada mumet otak ,doain lulus yaa hihi:3 ,okedeh gabanyak basa basi lagi semoga suka yaa 

**************

Lantunan musik jazz klasik terdengar samar di sebuah ruangan bernuansa biru muda itu, terlihat juga beberapa pajangan sapi lucu yang tersusun di rak kecil disudut ruangan, dan disampingnya terdapat meja belajar dan juga rak buku yang tersusun rapih disampingeja belajar itu. Tidak jauh dari meja belajar, terdapat kasur tipis memenuhi ruangan itu, ya walaupun ruangan itu terlihat sederhana, namun enak dipandang oleh mata.

Di kasur tipis itu tampak seorang yoeja manis menelungkupkan badannya sedang sibuk memainkan laptopnya

“Kyungsoo-ya, anyyeong! bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan? Hari ini aku baru saja masuk kuliah, ternyata kuliah tidak seperti yang ku bayangkan, lebih rumit dibandingkan dengan sekolah, sangat melelahkan:(, baru saja masuk kelas Kim sonsengnim sudah memberikan ku tugas yang sangat banyak, keundae aku tidak boleh malas!! karena oemma berjanji jika aku mendapat peringkat pertama aku bololeh mengunjungi Beijing, jadi aku bisa bertemu denganmu Kyungsoo-ah^^ kau senang kan?? tunggu aku, aku pasti akan menemuimu secepatnya!”

*klik* yoeja itu menekan tombol sent lalu menekan tulisan send yang tertera di sudut atas email-nya, setelah itu dengan mata tidak berkedip yoeja itupun menutup perlahan laptop yang ada di depannya dengan senyuman lirih yang penuh makna di dalamnya

**************

Matahari samar-samar memasuki celah jendela kamar mungil milik yoeja itu, decitan burung-burung merdu pun menghiasi pagi hari itu, namun yoeja itu belum terjaga dibalik selimut yang membaluti dirinya, perlahan matanya berkedip-kedip pelan dengan tangan yang lemas mencari-cari jam wekernya itu , seketika juga yoeja itu langsung terlonjak kaget dari tidurnya

“Mwo! sudah jam 7?? aissh mengapa aku bodoh sekali tidak menyalakan jam weker ini” rutuk yoeja itu sambil menepuk dahinya pelan

Lalu yoeja itu dengan terburu-buru masuk kekamar mandi dan dengan hanya waktu 3menit yoeja itu langsung muncul keluar dari kamar mandinya, ya bisa ditebak yoeja ini tidak mandi melainkan hanya sekedar membasuh mukanya dan menggosok gigi, ia melanjutkan aktivitas persiapan serba ngebut itu dengan menarik asal kardigan berwarna pink muda lalu memakainya dan mengancingkannya secara terburu-buru, dan langsung menyambar tas ransel coklat kecilnya itu secara kasar dan bergegas keluar kamarnya

“oemma, aku pergi dulu, anyyeong!” sahut yoeja itu setengah berteriak sengan kedua telapak tangan mengatup yang sedikit ia dekatkan kearah bibirnya

“Yaak! Jihae-ya , kau bahkan belum sempat membawa bekalmu” jawab nyonya kim sambil mengangkat kotak makan yang sengaja ia siapkan untuk yoeja bernama Jihae itu

“Mianhae oemma, tidak ada waktu lagi” jawab Jihae masih dengan nada sedikit berteriak lalu buru-buru berlari kecil keluar rumahnya dan menyambar sepeda berkeranjangnya

.
.
.

Diperjalanan Jihae sudah tidak memperdulikan sekitar, ia hanya fokus terhadap jalan yang ia telusuri bersama sepeda keranjangnya itu, baginya tidak ada waktu lagi untuk menikmati sekitarnya jika hari ini ada kelas yang diajari oleh Cho songsenim, yaitu dosen tergalak yang tidak segan-segan memakan habis muridnya tanpa melihat status gender lagi, menurut Cho songsenim, peraturan tetaplah peraturan, semua murid yang di ajari oleh Cho songsenim harus disiplin.
Maka itu termasuk salah satu alasan mengapa Jihae sangat panik saat ini

.
.
.
Mobil putih mewah dengan atap terbuka melaju kencang menusuri kota seoul, secepat kilat mobil itu melaju sampai-sampai menimbulkan hembusan angin yang kencang menerbangkan benda-benda kecil yang ringan,

“Yaak, kau inii jangan mengebut seperti ituu! kau tau rambut ku ini jadi berantakan akibatmu” seru seorang yoeja mendorong pundak namja yang sedang menyetir disampingnya

“Chagi, jika kita tidak mengebut kita akan terlambat” jawab namja itu santai sambil tangan kirinya merapihkan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.

Yeoja itu menghentakan kedua kakinya bergantian dengan ujung bibir dimajukan kedepan

“Yaaa! aku Dara bukan chagi”

namja yang sedang menyetir itu menoleh ke arah yoeja disampingnya “aisshh, aigooo noona, apa kau baru 1 hari tinggal dikorea? bahkan kau pun tidak tau apa arti chagi?” tanya namja itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku yoeja chingunya yang lebih tua 2tahun darinya namun kelakuannya seperti anak berumur 8tahun

mendengar jawaban namja itu, yoeja itu baru teringat bahwa chagi adalah panggilan sayang untuknya, lalu yoeja itu menyunggingkan senyuman manis dan terkekeh kecil “hehehe, mianhae channie-ah”

Namja itu tidak menjawab lewat kata-kata, namun tangan kirinya menghusap pelan rambut Dara yang sudah berantakan tidak karuan karena mobilnya melaju sangat kencang

Karena namja itu tidak fokus kedepan, ia tidak menyadari bahwa ada seseorang didepannya

“Channie-ah!! awasss!! didepanmu!!!!” teriak yoeja itu panik

refleks namja itu buru-buru menginjak rem

BRUKK

“akh, appo…”

Sontak namja dan yoeja itu pun mebisu bersamaan, tidak disangka mereka membuat seseorang tertabrak , buru-buru namja yang mengendarai mobil itu langsung turun dari mobilnya dan segera menghampiri seorang yoeja yang sudah tergeletak lemah

“yaampun, channie-ah oettokhae? , ayo cepat bawa dia kemobil”

namja itu segera menggendong yoeja yang sudah tidak sadar itu dan memasukannya kedalam mobil dibagian belakang lalu bergegas pergi kerumah sakit terdekat

.
.
.
“Dokter bagaimana keadaannya?” tanya namja itu kepada dokter yang baru saja keluar ruangan

“syukurlah hanya luka benturan biasa, hanya tunggu beberapa saat sampai ia terbangun, baiklah kalau begitu saya harus memeriksa pasien yang lain, annyeong” jawab dokter itu ramah

“Terima kasih dokter” jawab namja dan seorang yoeja sambil membungkuk bersamaan kearah dokter itu
Lalu mereka memasuki ruangan yang ditempati oleh seseorang yang tidak sengaja mereka tabrak itu,
di sebrang pintu pasien mereka berdua melihat seorang yoeja yang secara tidak sengaja ditbrak itu menggerakan tangannya pelan

“Channie-ah, aku rasa ia sudah siuman” Bisik Dara disusul oleh anggukan kecil Channyeol

merekapun menghampiri yoeja itu

“hmmm,”

“oe?? kau sudah sadar?” tanya seorang yoeja

“nugu? aku dimana?” tanya yoeja itu bingung sambil melihat keselilingnya, seketika ia kagum saat ini ia melihat sebuah kamar yang besar dan elegan

“ah, kau jangan banyak bergerak dulu, namaku Lee Dara, dan ini namja chinguku Park Channyeol, dia yang sudah menabrakmu, maafkanlah dia, dia memang sedikit bodoh” cibir Dara ke arah Channyeol disusul dengan pukulan kecil oleh Channyeol kearah kepala Dara pelan

“heey, tidak semuanya salahku! kau juga berisik membuatku tidak fokus” elak Channyeol

Yoeja yang ditabrak itu hanya bingung memperhatikan keduanya bertengkar

“ja-di aku tertabrak?” tanyanya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri

“iya, mianhae tapi aku akan menggantikan semuanya , kata dokter kau sekarang sudah boleh pulang, untungnya kau hanya terkena benturan kecil, sebagai permintaan maafku, maukah kau ku traktir? kau boleh memakan apa saja” jawab Channyeol tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya

“hmm, gomawo, tapi aku harus kuliah sekarang”

“kau memangnya kuliah dimana? biar ku telfon sekolahmu agar kau izin karena sakit” jawab Channyeol enteng

“Universitas Seoul, aku baru saja memasuki hari kedua”

dengan bersamaan Dara dan Channyeol terbelalak,”mwoo?!!”

” kami juga kuliah disitu, tenang, appaku yang memegang universitas itu jadi kau tidak perlu khawatir dimarahi oleh songsenim” ujar Dara tersenyum lembut

“hmm, jinja?? gomawo karena telah menolongku”

.
.
.

Ketiga mahsiswa itu sudah berada disebuah komik cafe yang berada di kota Seoul, cafe itu dipenuhi oleh rak-rak buku yang berisi berbagai macam komik,komik itu terdiri dari komik lama sampai komik terkini, mereka memilih duduk di samping rak buku agar bisa membaca-baca komik

“hmm jadi kita belum berkenalan sebelumnya, namau siapa?” tanya Channyeol membuka pembicaraan sambil mengeluarkan laptop dari tas ranselnya

“nama ku Kim Jihae” jawabnya pelan

“sudah tidak perlu malu-malu, mulai sekarang aku dan channie, mm.. maksudku Channyeol akan menjadi temannmu, arra?” ucap Dara menunjukan kelingking kanannya ke arah Jihae

Jihae melihat ketulusan Dara dari sorot matanya, dengan malu-malu jihae menunjukan kelingking tangan kanannya dan menempelkan kelingkingnya dengan kelingking Dara, lalu mereka melipatkan ujung kelingkingnya bersamaan dengan tersenyum

Channyeol yang sedang asyik dengan laptopnya pun melihat kearah kedua yoeja itu, ia menyeringai, ide jahilnya pun muncul

“Kalau begitu mulai sekarang, aku mempunyai 2 yoeja chingu yang cantik-cantik, aigoo” sahut Channyeol tiba-tiba dengan mengedipkan satu matanya

Dara yang sebal mendengar ucapan channyeol itu langsung berdiri dan menjewer telinga Channyeol yang mirip dengan karakter yoeda itu

“akh, appoo chagi, apakau tega nanti kalau namja chingumu tidak keren lagi karena kupingnya seperti kelinci?” gurau channyeol yang sedikit kesakitan akibat dijewer oleh Dara

“aissh, kau ini” dara melepaskan jewerannya, baginya walaupun channyeol menyebalkan dan suka bercanda tapi ia sangat peduli dengannya dan juga sangat tulus

tiba-tiba Jihae tertawa dengan telapak tangan kanannya menutpi mulutnya

“hahahaha, kalian ini tidak menyadari umur kalian? kalian seperti anak 5tahun hahahha” lanjut Jihae dengan tertawanya yang lucu membuat kedua matanya seperti terpejam

Channyeol dan Dara pun saling memandang lalu ikut tertawa lepas bersama Jihae, disela-sela tawanya tiba-tiba Jihae teringat sesuatu setelah ia melihat ke arah laptop yang berada di depan Channyeol

“hmm, Channyeol, bolehkah aku meminjam laptopmu?” tanya Jihae malu-malu

Channyeol menatap Jihae bingung”mwo? untuk apa?”

“hmm.. a-ni, aku ingin mengabarkan seseorang, maafkan merepotkanmu” jawab Jihae merasa bersalah

“hahaha aniyeo, kan sekarang kita ber3 sudah menjadi sahabat, kau tidak perlu sungkan kepadaku” Channyeol tersenyum lalu menyodorkan laptopnya ke jihae

Jihae tersenyum dan menerima laptop yang diberikan oleh Channyeol itu kemudian ia membuka email dan menuliskan sesuatu

“Annyeong Kyungsoo-ah!, maaf baru memberi kabar, aku mengalami kecelakaan saat aku ingin pergi kuliah, tapi tenang saja, kau tidak perlu khawatir karena untungnya ada orang baik yang menolongku, mereka sekarang menjadi teman pertamaku, mereka adalah Channyeol dan Dara kekasihnya, oia apakau sudah makan siang? jaga kesehatanmu Kyungsoo-ah! , kalau tidak aku akan memarahimu hehehe, mianhae karena tidak bisa memberi kabar untukmu setiap harinya tapi aku berjanji tidak akan pernah lupa untuk memberi kabar kepadamu, annyeong^^”

Seperti biasa Jihae menekan tombol sent lalu ia mengembalikan laptop itu ke Channyeol

Dara yang memperhatikan jihae daritadi itu membuka pembicaraan, “hmm Jihae-ah, kau tadi sedang apa?” tanya Dara hati-hati

sontak Jihae menengok ke arah dara yang duduk disamping kirinya,”mengirim pesan”

Dara mengkerutkan dahinya bingung,”pesan?”

“iya pesan untuk seseorang” jawab jihae singkat namun dapat mengubah raut wajahnya

merasa tidak enak melihat raut wajah jihae yang berubah, Dara tidak melanjutkan pertanyaannya, walaupun sebenernya ia ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabat barunya itu
***************

2tahun kemudian

Sebuah rumah adat Korea yang terletak di pinggiran kota Seoul itu nampak terlihat biasa dari luar, hanya dibatasi oleh pintu pagar kayu menjulang tinggi yang di atasnya tergantung papan ukiran bertulisan “Park family” namun, jika sudah memasuki halaman depan rumah itu tentunya sebuah pemandangan indah nan sejuk yang dapat membuat siapapun mata yang melihatnya menjadi teduh dan nyaman,bebatuan besar yang tertanam di tanah itu berjejer lurus satu persatu membuat arah jalan ke pintu utama, disamping kiri dan kanannya terdapat kolam ikan yang ditengahnya terdapat percikan air mancur kecil.

Rumah keluarga Park ini terbilang cukup besar dan luas walaupun rumah ini tidak bertingkat, karena tuan Park masih menjunjung tinggi adat koreanya yang masih kental
tentunnya yang tinggal dirumah ini salah satunya adalah anak semata wayang tuan Park, yaitu Park channyeol, seorang namja tinggi kurus namun memiliki paras yang tampan, ayah Channyeol adalah pemegang toko gingseng terbesar di Korea Selatan, dan ibu Channyeol memiliki sebuah restoran Italia yang cukup bergengsi, terletak di Myeongdong

Sedangkan kekasihnya bernama Lee Dara, ia adalah seorang model muda cantik yang memamang sedang naik daun, walaupun ibunya sudah meninggal tetapi ia masih mempunyai ayahnya yang seorang dosen sekaligus pemilik Universitas Seoul

Dan satu lagi bernama Kim Jihae, mungkin diantara mereka ber3 memang Jihae yang mempunyai kehidupan yang sederhana, ia juga bernasib sama seperti Dara namun sedikit berbeda, ia hanya tinggal bersama ibunya sedangkan ayahnya sudah lama meninggal akibat serangan jantung, ia hanya tinggal disebuah rumah kecil yang ternyata di belakang rumah Park Channyeol,
Kini sudah 2tahun mereka menjalani persahabatan yang dekat, mereka sudah menganggap satu dengan yang lain adalah saudara, kemanapun ada Jihae disitupun ada Channyeol dan Dara

Disudut rumah Channyeol yang model rumahnya adalah rumah panggung, Jihae sedang duduk melamun, kakinya ia celupkan ke kolam ikan yang memang persis dibawah kakinya

Tiba-tiba Dara muncul dan duduk sila disamping Jihae memberikan segelas coklat panas untuk Jihae

“ah, kau disini ternyata” ujar Dara tersenyum

Jihae membalas ucapan dara itu dengan senyuman sembari mengulurkan tangannya mengambil coklat panas itu dan menyeruputnya

“Jihae”

“hmm?”

“apakau sangat menyukai coklat panas?” tanya Dara sambil menyuruput segelas coklat dingin

“noemu noemu chua” jawab Jihae menyunggingkan senyumannya memamerkan gigi putihnya yang membuat matanya sedikit menyipit

“bahkan dicuaca panas seperti ini?” lanjut Dara yang masih sibuk menyeruput minuman coklatnya

“hmm, apa coklat panas ini membuatmu mengingat akan seseorang?” tanya dara lagi menengokan kepalanya melihat Jihae yang matanya tertuju ke arah kolam ikan

Sebuah pertanyaan sederhana yang mampu menyentuh hati Jihae sampai ke akarnya, membuatnya menciut

Dara melihat perubahan yang terlukis jelas di raut muka sahabatnya itu, seketika ia tersenyum kecut ,”jika kau mempunyai masalah, ceritalah kepadaku, apakah pertemanan kita 2 tahun ini masih membuatmu tidak mempercayaiku?”

Lagi-lagi pertanyaan dara mampu membuat jihae bungkam bahkan menjadi merasa bersalah

sekuat apapun, sebesar apapun batu yang menancap kuat ditanah pasti akan rapuh oleh tetesan air
yang terus menetes tiada henti

tidak berbeda dengan Jihae, selama ini ia terus menyimpan rahasianya rapat-rapat, ia hanya takut untung berbagi dengan orang lain, takut untuk lemah dihadapan orang lain, ia tidam mau membebani orang lain atas masalah yang ia hadapi, bertahun-tahun lamanya Jihae memendam perasaan yang ia alami itu yang mencoba memaksakan Jihae untuk rapuh dan bertahun-tahun lamanya juga Jihae berjuang keras untuk melawan hati kecilnya, dan sekaranglah saatnya ia harus berbagi dengan orang lain, yaitu sahabat yang sangat ia percaya

Jiahe menarik nafas dalam dalam, dan menghembuskannya melewati mulutnya, menatap Dara yang sudah siap mendengarkan ceritanya

.
.
.

Januari, 2009

Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah menengah atas, pagi yang cerah itu mendukung semangatku untuk memulai hari baruku di Sekolah menengah atas Seoul, sekolah yang mungkin terbilang elit dan juga merupakan sekolah terbaik di Korea Selatan, aku sangat bersyukur bisa memasuki sekolah itu karena tidak sedikit para remaja seusiaku yang ingin memasuki sekolah itu namun tidak terwujud, alasannya kemungkinan besar ada 2 , yaitu yang pertama karena mereka tidak lumayan pintar untuk menguti tes masuk sekolah menegah atas Seoul itu, atau yang kedua keuangan yang tidak mencukupi, karena perlu biaya yang lumayan besar untuk bisa masuk ke sekolah Seoul itu, kalangan menengah kebawah yang sekolah disana pun pasti rata-rata mendapat beasiswa

Mungkin, aku memang tidak terlahir sebagai anak yang kaya raya, dari kecil aku hanya tinggal di pinggiran Seoul dengan rumah yang sederhana, walaupun kota Seoul termasuk kawasan yang lumayan elit, Ibuku hanya seorang guru privat matematika, setiap harinya banyak remaja-remaja seusiaku ataupun dibawah umur ku kerumahku untuk belajar matematika,

Aku bisa memasuki sekolah menengah atas Seoul itu adalah hasil jerih payahku selama ini yang terus menerus belajar agar aku bisa memasuki sekolah yang sangat aku impikan, ya walaupun biaya seragam yang juga lumayan menguras habis lembaran kertas itu bukan hasil dari jeripayahku melainkan oemmaku yang membelikannya, tetapi aku berjanji akan menggantikannya setelah aku sudab mempunyai cukup uang.

Pagi itu aku sudah menggendong tas ransel yang sudah tergantung rapih dibelakang pundakku,
“Jihae-ah, ini oemma bawakan bekal untukmu, semoga hari pertamamu sekolah lancar” sahut oemma sambil tangannya mebuka tas ransel ku dan memasukan bungkusan bekal kedalamnya

“gomawo oemma” jawabku tersenyum

Tok-tok-tok tiba2 dari arah luar suara ketukan pintu terdengar, sontak oemma langsung membuka pintu

“annyeonghaseo” Sapa bibi Jung dengan senyuman merekah di bibirnya

“mwo? bibi Jung? nde anyyeong” sapaku ramah mendengar suara bibi jung

bibi Jung adalah kakak kandung oemmaku, hari pertamaku masuk sekolah akan di antar oleh bibi Jung karena kebetulan kantor bibi Jung berdekatan dengan Sekolahku

“apa kau sudah siap untuk memulai hari barumu Jihae?” bisik bibi Jung di telingaku sambil mengelus pelan kepalaku

“saaangat siap bibi Jung” jawabku bersemangat

“kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang” ajak bibi jung menggandeng tanganku

“oemma, aku pergi dulu”
“Seoha, aku pamit dulu”

“nde, hati-hati dijalan” ujar oemma

saat aku dan bibi jung sudah didalam mobil, bibi jung memanggilku pelan

“Jihae-ah?” sahutnya

“nde, ada apa bibi Jung?

“hmm, apakau sudah benar-benar siap memasuki sekolah itu?” tanya bibi Jung memastikanku

“sungguh sangat siap bibi Jung”

bibi Jung sedikit menggigit ujung bibirnya, “keundae, bibi sedikit khawatir denganmu Jihae-ah”

aku pun tersenyum meyakinkan bibi Jung, “sudahlah bibi, jangan mengkhawatirkan ku berlebihan seperti itu, aku bisa menjaga diriku”

“hh, baiklah Jihae-ah, bibi percaya padamu, kita sudah sampai, ayo bibi tuntun masuk kesekolah” bibi Jung mebuka pintu mobil dimana aku sedang duduk lalu menarik lenganku agar aku segera berdiri

saat aku dan bibi Jung memasuki lorong kelas, semua mata tertuju kearah dimana aku dan bibi Jung sedang berjalan, biarpun aku tidak bisa melihat namun aku bisa merasakannya

aku mengalami kebutaan semenjak aku baru memasuki smp, aku mengidap penyakit kanker mata, memang pada awalnya aku masih dapat melihat, namun lama kelamaan penglihatanku memudar dan akhirnya akupun tidak bisa melihat sama sekali

oemma sudah memaksakanku untuk memasuki sekolah khusus, namun aku menolak tawaran oemma itu, ya memang mungkin sangat sulit padaku untuk merasa sama dengan orang normal lainnya, cuma aku yakin aku juga bisa mengikuti pelajaran sama seperti mereka dan tentunya tanpa sekolah khusus

akhirnya akupun sampai di ambang pintu ruangan kepala sekolah dan akhirnya bibi Jung meninggalkanku, dan setelah itu aku diantar dengan kepala sekolah ke tempat dimana kelasku berada

“anak,anak, kita kedatangan murid baru, kalian harus bersikap baik kepadanya dan jangan lupa untuk bimbing dia” ujar kepala sekolah mengingatkan

“annyeong, namaku Kim Jihae, senang bertemu kalian” kataku tersenyum

setelah disuruh duduk aku mengambil alat perekam suara, ya itu salah satu senjata ku untuk belajar, karena aku tidak bisa membaca apa yang sonsengnim katakan, aku bisa merekamnya dan mempelajarinya

tiba-tiba aku mendengar seseorang memberikan isyarat kepadaku
“sst..sst…sst”

ku menoleh kemana sumber suara itu berasal, ternyata di sampingku

“kau ini buta?” tanya seseorang yoeja mengkerutkan dahinya

akupun hanya tersenyum kikuk, antara malu dan juga harus bersikap tegar, ini adalah pilihanku maka aku harus menerima konsekuensinya

“disini bukanlah tempatmu buta, lihat saja berapa lama kau bisa bertahan disekolah ini” jawab yoeja itu lagi dengan nada yang sangat licik

tanpa sadar, seseorang telah memperhatikan jihae

.
.
.

Jam menunjukan bahwa bel sudah berbunyi, aku meraba tasku dan merogoh isi tasku, lalu mengambil bungkusan plastik yang sudah dibawakan oleh oemma, saat aku sedang ingin membuka kotak bekal seseorang menghentikan aktifitasku

“boleh aku duduk disampingmu?” tanya seseorang didepanku, suara seorang namja, suara itu.. sedikit berat namun juga lembut tetapi datar, dan entah mengapa aku langsung tertarik saat namja itu bicara

“hei..!! kau tidak dengar?” sahut namja itu lagi membuyarkan lamunanku

“ehh.. iiyaa.. bboleh” jawabku terbata-bata

namja itupun menarik kursi yang ada disampingku lalu mendudukinya
hening, aku tidak tau harus berkata apa, aku memang cenderung pendiam, susah rasanya untuk mendekatkan diri kepada orang lain
.
.

“terimakasih” ucap namja itu sambil menutup kotak bekal yang ia bawa

“buat apa?” tanyaku

“karena sudah menemaniku makan” jawab namja itulagi datar
aku heran, aku merasa tidak menemaninya bahkan kita tidak berbicara samasekali tetapi ia merasa bahwa aku menemaninya

“namja aneh” gumamku
.
.
.

Setelah bel pulang dibunyikan, aku segera bangkit dari kursiku lalu aku berusaha untuk meraba apapun disekitarku agar aku bisa menemukan pintu keluar

saat tanganku masih sibuk meraba2 meja-meja yang ada di samping kiri dan kananku seseorang mendorongku pundakku pelan, menuntunku agar aku bisa keluar,

“tidak usah repot-repot, aku bisa sendiri” ujarku kepada seseorang yang menolongku

tetapi orang menolongku itu sama sekali tidak menjawab dan tetap menuntunku sampai ujung gerbang sekolah dan akhirnya melepaskan tangannya dari pundakku lalu aku tidak tau apakah ia sudah beranjak pergi atau belum,

“tidak ada yang menjemputmu?” tiba-tibaa suara yang sepertinya ku kenal mengagetkanku

“kkau..”

“tidak ada yang menjemputmu?” tanya namja itu mengulangi pertanyaannya, sangat datar tetapi tidak ketus

“hhm, aku dijemput dengan bibiku”

“oh begitu,”

Lagi-lagi setiap bersama namja aneh ini selalu hening, sepertinya ia hanya menjawab ataupun menanyakan hal yang menurutnya penting , tapi entah mengapa sifatnya yang berbeda membuatku tertarik dan entah bagaimana didalam hati kecilku senang apabila aku berada bersama namja ini

Karena aku merasa canggung dengan situasi hening ini akupun memberanikan diri untuk membuka suara

“apakau masih disitu?”

“nde”

“mengapa kau tidak pulang?”

“malas untuk pulang”

dan apapun pertanyaanku ia sama sekali tidak memberiku sebuah pertanyaan untuk memulai sebuah percakapan,

aku sedikit kecewa, karena awalnya aku kira ia ingin berteman denganku , tetapi melihatnya dengan respon seperti itu aku menjadi ragu

tiba-tiba namja itu memegang tanganku menyelipkan sesuatu,

“aku rasa bibimu sudah datang” ujarnya tiba-tiba
lalu aku merasakan ia meninggalkanku dan bibi Jung menghampiriku

apakah ia menungguku sampai bibi Jung menjemputku?akupun menggelengkan kepala berusaha menolak berbagai dugaan yang ada diotakku

.
.
.

Aku duduk sila dikasurku yang tipis sembari memegang sesuatu yang diberikan oleh namja aneh itu, setelah meraba-raba ternyata itu adalah secarik kertas, aku sangat ingin mengetahui isinya, ingin rasanya aku tanyakan kepada oemma untuk membacakan isi kertas itu, tetapi ku urungkan niatku,

Tiba-tiba ada seseorang mengetuk jendela kamarku, sontak aku berdiri lalu berjalan meraba-raba jendelaku lalu membukanya

“mau menemaniku jalan-jalan sore?”

tanya seseorang yang sepertinya sudahku hapal suaranya, sudah tidak asing lagi dia adalah namja aneh teman satu sekolah dan juga satu kelas denganku

aku yang masih bingung mematung di dalam kamarku

“maaf jika aku lancang datang kerumahmu tanpa izin, aku akan menjelaskannya” sahut namja itu lagi dan pertama kalinya jihae mendengar namja itu berbicara sedikit lebih banyak dari biasanya

entah angin darimana aku seperti terhipnotis olehnya dan buru-buru keluar dari kamarku
aku memastika keadaan sekitar, berusaha mempertajam telingaku agar oemma tidak melihatku keluar rumah,

syukurlah terdengan suara percikan air dan hentakan pelan pisau yang sedang memotong sesuatu, aku pun memegang dadaku dan menghela nafas lega, karena aku tau pasti disaat oemma sedang memasak oemma tidak peka akan hal apapun, akupu segera membuka knop pintu utama lalu menutupnya sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara

Aku pun mematung didepan pintu rumahku, bingung untuk mencari sosok namja aneh itu, apadaya aku hanya bisa mendengar bukan melihat
namun nalarku langsung berkerja, tadi namja aneh itu mengetuk jendela rumahku yang terletak persis di samping sudut rumahku, aku segera mengangkat kakiku lalu meraba2 dinding luar rumahku untuk menuju kearah sudut rumah, kulangkahkan terus kaki dan tiba-tiba kakiku menyentuh sesuatu, dan akupun meraba2 sesuatu yang kusentuh itu dan ternyata benar aku menyentuh rambut seseorang yang sedang berjongkok dan akupun buru-buru melepaskan tanganku

“ada apa?” tanyaku

tidak ada jawaban, tetapi aku merasa ia berdiri dan menjauh sedikit dariku,
lalu tiba-tiba menyambar tanganku

“kaja!! naik”

akupun mengerutkan dahiku,tidak mengerti maksud namja itu, melihat responku namja itu menarik lenganku sampai aku melangkah maju lalu menuntunku untuk naik kesepeda yang ia bawa, aku berdiri di belakangnya,memegaang bahunya, wangi harum yang khas membuatku rasanya ingin melingkarkan lenganku di pinggangnya, entah mengapa pertemuan kita yang sangat aneh dengan namja yang tidak bisa ditebak isi hatinya ini membuatku tidak ingin melepaskannya

tiba-tiba ia berhenti mengayuh sepedanya

“sudah sampai” jawabnya pelan namun aku menyadari dibalik perkataannya ia seperti tersenyum
refleks aku turun dari besi dimana aku berpijak lalu ia mendorong pundakku,menuntun aku menyusuri jalan yang dituju,namja ini benar-benar aneh bahkan menuntun orang untuk berjalan saja dengan mendorongnya bukan memegang lengannya tetapi justru itu yang membuatnya berbeda

“ayo duduk,”serunya pelan

akupun menuruti kata-katanya lalu duduk di rerumputan tipis,aku merasakan udara dingin yang menyeruak masuk ketubuhku, aku lupa memakai baju hangatku karena terburu-buru dan lupa bahwa ini adalah musim dingin, akupun memeluk erat tubuhku dengan kedua lenganku

tiba-tiba namja itupun memberiku sebuah sweater bulu tebal

“pabo,cuaca seperti ini kau tidak memakai baju hangat, apakau adalah beruang kutub?” tanyanya, aku tidak tau itu adalah sebuah gurauan atau memang dia mengejekku, tetapi secarik senyum terlukis diwajahku karena… namja aneh itu ternyata tidak seaneh yang ku kira

“tapi, kau tidak memakai baju hangat?” tanyaku ragu

“aku masih memakai sweater rajutku, terserah kalau kau mau membeku seorang diri disini” jawab namja itu datar

akupun memonyongkan bibirku sebal mendengar respon bicaranya itu lalu mengambil sweater yang ia berikan kepadaku lalu memakainya

“apa yang kau lakukan disini?” tanyaku membuka suara

“ingin bermain ice skating di danau”

“danau?” tanyaku bingung

“ya, didepanmu ada danau yang sudah membeku, aku ingin bermain ice skating,hanya saja aku tidak bisa” ada sedikit kekecewaan di akhir kalimatnya membuatku tiba-tiba berusaha membuatnya agar tidak bersedih

“ah sudahlah, banyak yang kau masih bisa lakukan” jawabku tersenyum

“aku kyungsoo” namja itu bersuara lagi tanpa membalas ucapanku

“aku bahkan tidak menanyakan namamu”

“aku tau kau sangat ingin mengetahui namaku” jawabnya lagi dengan suara datarnya

“hhh,kau ini pede sekali”gerutuku

“hahaha” namja itu tertawa, aku tertegun aku mendengarnya, ya aku mendengarnya,terdengar jelas di telinganya, tawanya itu lepas,tidak adabeban dan juga aku merasakan nyaman berada didekatnya
namja itupunmembuyarkan lamunanku

“terkadang, aku ingin seperti burung yang bisa berterbangan”

“hah?” aku menoleh dan memberikan ekspresi tidak mengertiku

“terbang bebas, tanpa ada halangan apapun ”

“aku masih tidak mengerti maksudmu”

“dan juga burung-burung berterbangan dan akan masuk kesarangnya jika ia lelah,ia rela melakukan apapun untuk orang yang disayanginya”

“heyy Kyungsoo-ah! kau janganmelantur ku sama sekali tidakmengerti

“suatu saat kau akan mengerti Jihae” ini adalah pertama kali ia memanggil namaku

aku berusaha mencerna perkataan namja itu, namun aku tetap tidak mengerti ,ah sudahlah buat apa ku mengerti aku akan pusing sendiri,aku tidak terlalu mengambil pusing ucapannya itu

tiba-tiba Kyungsoo membuka suaranya memecahkan lamunanku

“maaf jika aku lancang kerumahmu”

“bagaimana kau bisa tau rumahku?”

“aku melihat mobil bibimu melaju kearah yang sama dengan rumahku hanya berbeda beberapa gang, dan aku merasa bosan pergi ketempat ini sendiri jadi aku mengajakmu” jawabnya

aku tidak merespon apa yang Kyungsoo katakan, tiba-tiba saja aku menjadi sedih, hawa yang begitu dingin disini seperti memperdalam kesedihanku

“aku sangat ingin melihat keindahan tempat ini” akupun tertunduk, sangat rindu bisa melihat berbagai macam cahaya dan keindahan yang diciptakan tuhan,bosan rasanya hanya melihat warna hitam dan hitam seperti tidak ada keceriaan dibalik warna hitam itu
kyungsoo terdiam, entah apa yang sedang ia lakukan, lalu memberiku segelas termos minum
“itu air hangat, bagus untuk kesehatan dan juga kau akan merasa tenang jika meminumnya”
lalu ku ambil gelas termos itu lalu meneguknya, memang aku merasa lebih enakan dan setidaknya keadaan luar yang menusuk bisa sedikit teratasi
Tiba-tiba namja yang bernama Kyungsoo itu memegang pundakku, yang membuatku sedikit terkejut

“aku pasti bisa membantumu memberikan cahaya itu”

“bagaimana caranya?”

“aku pasti bisa!” jawabnya penuh dengan semangat

entahlah aku harus percaya dengan omongannya atau tidak, namja ini begitu banyak bicara , dan dibalik bicaranya seperti menyimpan makna tersendiri yang membuatku harus mencerna berbagai kata yang penuh dengan pertanyaan untukku

.
.
.

Akhirnya setelah pertemuan singkat aku dengan Kyungsoo si namja aneh itupun berakhir sampai akhirnya ia mengantarku kembali kerumah, untungnya oemma mengira ku masih tidur jadi aku sedikit tenang,
tetapi bukan hanya disini berakhirnya kisah aneh ku dengan Kyungsoo, aku sedikit bingung ini sebuah awal pertemanan ataupun awal sebuah kisah cinta, yang terpenting aku senang bisa terus bersamanya

Sejak pertemuan di danau itu, semuanya jadi sedikit berubah, seperti biasa ia menjadi sering duduk disamping ku dan memakan bekal bersama dalam diam tentunya tidak banyak bicara, dan terkadang aku sering mencicipi makanannya, ternyata ia pandai memasak,

ia juga suka membelaku apabila anak-anak yang lainnya mengejekku si buta ataupun geng wanita-wanita cantik yang salah satu ketuanya duduk disampingku, tanpaku sadari ialah kekuatanku yang membuatku bertahan disekolah itu

Tetapi kebahagiaan yang kualami itu hanya sesaat, Kyungsoo menghilang, ia selalu absen di kelas, tidak pernah hadir dan bodohnya aku tidak pernah tau dimana rumahnya,
ternyata menghilangnya Kyungsoo membuatku menjadi runtuh, aku selalu mejadi pemurung dan juga semakin tidak kuat harus diejek terus menerus oleh kalangan wanita-wanita cantik itu,

Kyungsoo! dimana kau? mengapa sudah 2minggu kau tidak masuk sekolah? aku merindukanmu, noemu bogoshippo

.
.
.

Siang itu aku seperti biasa di antar pulang oleh bibi Jung, aku turun dari mobil dengan gontai dan membuka knop pintu rumah dengan malas

tiba-tiba suara oemma yang menggelegar itu mengagetkanku

“Jihae-ah!!, oemma punya kabar gembira!!” Sahut oemma dari kejauhan tetapi tetap terdengar seperti oemma berbicara dihadapanku sangat nyaring suaranya

Akupun dengan malas menjawab, “ada apa oemma?”

oemma berlari menghampiriku, dan berbicara disela-sela nafasnya yang terputus-putus “hh,hh,hh, tadi oemma hh,hhh, ditelfon oleh dokter Lee, bahwa sudah ada pendonor mata untukmu yang ternyata cocok untukmu, aah oemma sangat senang mendengarnya Jihae” jawab oemma sambil memelukku penuh haru

Seperti sebuah mimpi, akupun sulit untuk mempercayaianya, aku mencubit sedikit lenganku “aaw!” ternyata sakit, waah ini bukan mimpi, ini sungguhan!! Sebentar lagi aku akan kembali bisa melihat sebuah cahaya yang sangat kurindukan bertahun-tahun

Akupun membalas pelukan oemma “oemma!! aku senang sekalii!!” ujarku penuh haru
*****************

1minggu setelah pemulihan akhirnya akupun sudah boleh memasuki ruangan biasa, tanpa alat-alat bantu kedokteran lagi
dan hari ini adalah hari dimana aku sudah boleh membuka mata ku, jantungku berdegup kencang, aku sudah sangat lupa bagaimana indahnya matahari bersinar dan tentunya semuanya pasti sudah sangat berbeda sekarang

akupun membuka kasa yang ada di mataku dan aku membuka perlahan kedua mataku, terasa silau yang luar biasa, wajar memang karena menurut dokter Lee, dokter yang menanganiku itu adalah hal biasa karena aku sudah lama tidak tidak melihat jadi wajar jika di awal hanya kilauan cahaya yang menyilaukan mata yang bisa kulihat, sekitar 1 jam berlalu perlahan cahaya yang sangat mencolok itupun berubah menjadi butiran cahaya yang indah dan samar-samar aku bisa melihat sekitar, aku melihat oemma disampingku, wanita paruh baya yang cantik, memang oemma sudah terlihat menua sekarang tetapi aku mengenalinya, sangat mengenalinya

akupun menoleh ke arah oemma yang duduk disamping ranjang tidurku “oemma?”

oemma melihat kearahku dan terkejut melihatku sudah bisa melihat dirinya “Jihae?, ya tuhan terimakasih! kau mengabulkan doaku”

akupun tersenyum bahagia,dan menutupi sedikit luka rinduku terhadap Kyungsoo

.
.
.
.

Akhirnya setelah dirawat beberapa hari aku sudah boleh pulang kerumah, dan sangat senang bisa melihat keaadan rumahku lagi dan juga kamar tidurku, tidak berubah seperti pertama kali aku lihat, kasur tipisku, lemari pakaianku, lemari belajarku dan juga jendela…

teringat akan jendela kamar kakiku kulangkahkan ke arah jendela dan membukanya, teringat bayang-bayang sosok kyungsoo dulu mengetok jendela ini dan menyuruhku keluar, akupun tidak tau bagaimana sosok Kyungsoo itu, yang ku tahu hanyalah suaranya, suara yang sedikit berat, ucapannya yang datar namun lembut

Bagaimanapun rupa Kyungsoo, sungguh aku menyukainya, lebih dari menyukainya, bahkan bisa dibilang ia cinta pertamaku, aku tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku

Lamunanku buyar setelah aku mengingat dulu kyungsoo pernah memberikanku secarik kertas, sekarang saatnya memberanikan diriku untuk membaca isi dari kertas itu

kubuka laci yang terletak dibawah meja belajarku dan menariknya, ku ambil secarik kertas putih yang terlipat segi empat itu lalu membukanya perlahan, sembari menguatkan diri untuk membacanya

Ternyata tidak ada pesan spesial, ia hanya menuliskan alamat e-mailnya dan juga dia menuliskan bahwa ia akan pindah ke beijing

akupun tertunduk lesu, buru-buru aku membuka laptopku dan mengirim pesan kepadanya,

Annyeong Kyungsoo-ya!, aku sudah bisa melihat cahaya itu kembali, aku sudah tidak melihat cahaya gelap itu lagi aku sangaat senang!!:D, kau dimana? apa kau benar di beijing sekarang? suatu saat aku akan menemuimu di beijing, walaupun aku tidak tahu alamatmu pasti, tetapi ku berjanji akan menemuimu

Aku menekan tombol send, berharap Kyungsoo membalas emailku namun apa daya, sama sekali tidak ada jawaban

Akupun mengisi hari-hariku tanpanya, dan akhirnya akupun bisa lulus di Sekolah menengah atas Seoul dan menjawab semuanya bahwa aku masih bertahan disekolah itu sampai aku lulus

*************************

Beijing, 2014

Jihae menepatinya untuk menemui Kyungsoo setelah ia lulus, Sekarang Jihae sudah berada di Beijing Airport
tempat dimana Kyungsoo berada, ia memilih menginap di hotel terdekat, ia memang nekat, sebenarnyaia tidak tau keberadaan Kyungsoo yang jelas, ia hanya tau bahwa Kyungsoo berada di Beijing, tetapi sedikit harapan bagi Jihae untuk menemuka Kyungsoo di Beijing, kota yang padat itu

Setelah selesai mengisi administrasi hotel, Jihae masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu, memejamkan matanya sesaat,

Jihae membuka matanya kembali saat mengetahui handphonenya berbunyi, ia merogoh saku celana jeansnya dan melihat handphonenya

Temui aku di north street Xicheng, Beijing, hati-hati agar kau tidak nyasar
-kyungsoo-

Jihae pun terperangah hebat melihat nama yang tercantum dibawahnya, tanpa pikir panjang aku segera keluar dan bergegas mencari taksi yang lewat lalu menulikskan tujuannya dan memberikan alamat yang dituju, karena ia tidak bisa sama sekali berbahasa china, ia sudah mencoba menanyakan kepada supir taksi itu dengan bahasa inggris namun tetap tidak mengerti

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Jihae sudah sampai di tempat tujuan

Ia sedikit ragu apa benar ini tujuannya, ia melihat sebuah rumah minimalis yang justru bisa disebut sebagai sebuah kantor tetapi ia tetap menuju kearah rumah minimalis itu dan menemui seorang pekerja yang duduk manis sambil berkutat dengan komputernya

“excusme, can i meet Kyungsoo?” Jihaepun menanyakan kepada yoeja yang sedang asyik dengan komputernya itu, ia ragu apakah Yoeja itu bisa berbahasa korea, jadi ia lebih memilih bahasa internasional dibanding dengan bahasa kelahirannya itu

Yoeja yang ditanya Jihaepun sedikit bingung,tanpa menjawab pertanyaan Jihae ia menekan angka-angka telfon dan menelfon seseorang, lalu berbicara dengan bahasa china yang tidak ku mengerti, lalu menutup telfonnya kembali

“You can go upstairs to meet him” jawab Yoeja itu tanpa senyum

“Oh, okay! thankyou” jawabku sambil menunduk kearahnya

“jutek sekali perempuan itu” gumammnya

Jihae melangkahkan kakinya menuju anak tangga, ia melihat sekitar, berbeda dengan keadaan yang tadi ia lihat seperti suasana kantor sekarang yang ia lihat adalah susana Rumah yang terlihat sangat nyaman, dengan Tv besar seperti layar bioskop, dan juga semua barang yang ia lihat semuanya terlihat mewah

Jihae terkagum-kagum melihat pemandangannya itu lalu teringat kembali dengan yang ia tuju, dimana Kyungsoo?,

Tiba-tiba seseornag lelaki bertubuh atletis keluar dari pintu kamar, Jantung Jihaepun berhenti untuk sesaat, apa ia Kyungsoo?,tetapi apakah tidak sedikit tua dengan umurnya?

Jihaepun memberanikan diri untuk membuka suara

“hmm..apakau Kyungsoo?”

namun lelaki itu menggeleng “aniyo, aku Do Soo Hyun, kakak kandung Kyungsoo” jawab lelaki itu,suaranya tidak se datar Kyungsoo namun tetap terlihat nada bicaranya sama seperti adiknya

“lalu dimana Kyungsoo?”

Lelaki berbadan atletis itu telihat diam sejenak seperti memikirkan sesuatu

“ikut aku” ujar lelaki itu mengisyaratkan ku untuk masuk kedalam sebuah pintu kamar

betapa terkejut Jihae, tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia melihat kamar itu yang diubah sama persis seperti keadaan kamar rumah sakit namun sedikit berbeda suasananya
ia melihat disebrang sana seorang lelaki putih sebersih susu sedang tidur lemas dibalut oleh selimut biru muda

perlahan Jihae melangkahkan kakinya untuk maju dan melihat seseorang yang sangat ia rindukan itu, ia memiliki rambut tebal berwarna hitam, dan poni yang menutupi keningnya tampak membuatnya lucu seperti anak kecil, bibirnya yang sedikit terlihat seperti hati itu namak pucat dan kering

Jihae membisu, tidak tahu apa yang haru ia lakukan, yang ia tahu hanyalah Kyungsoo aneh yang susah ditebak perasaannya, Kyungsoo aneh yang justru membuatnya terpikat dengannya, tetapi ia tidak tahu bahwa Kyungsoo seperti ini tertidur lemas dengan berbagai peralatan medis disekujur tubuhnya

“Poliomielitis, sudah lama ia terkena penyakit itu, penyakit yang membuat organ tubuhnya lama kelamaan lumpuh” tiba-tiba Jihae dikagetkan oleh suara kakak Kyungsoo

“Ppolio..” jawab Jihae terbata-bata dengan mata yang sudah dibanjiri oleh cairan bening yang sudah tidak bisa tertahankan

“ya, Poliomielitis, dulu dia adalah seseornag namja yang ceria, namun setelah ia terserang sebuah penyakit, keceriannya punah seperti tersimpan di suatu tempat yang sangat jauh, namun saat ia bertemu dengan kau, aku tidak tahu sedikit ada dorongan untuknya untuk sembuh, tetapi Poliomielitis tidak bisa disembuhkan, setelah ia mengetahui bahwa penyakit itu tidak bisa disembukan, ia memaksaku untuk ikut aku ke Beijing, aku pikir ia lebih tenang saat berada disini, tak tahunya ia semakin sering melamun dan juga tidak ingin makan”

jadi selama ini…..

Lalu Do Soo Hyun memberikan sebuah surat berwarna pink dengan pita tertera dibagian depan

“Terakhir, ia memberikan ini kepadaku dan menyruhnya agar aku memberikannya untukmu”

Jihae menerima surat itu dengan bergetar dan membukanya perlahan

Jihae-ah, maafkan aku jika aku tidak sempat menemuimu, maafkan aku tidak bisa melindungimu dari orang-orang yang berniat jahat kepadamu, sungguh aku sangat ingin terus melindungimu, tetapi aku tidak bisa…
Kau adalah sumber kekuatanku Jihae, senyumanmu, kepolosanmu semuanya sangat berarti untuku
Oh iya, kau ingat? bahwa aku berjanji akan membantumu memberikan sinar yang sudah lama tidak kau dapatkan? Aku sudah menepatinya, mungkin sekarang aku yang tidak bisa melihat keindahan itu lagi, tetapi aku lebih senang jika keindahan itu kuberikan kepadamu, agar kau terus bisa melihat keindahan itu setidaknya walaupun tanpaku, aku akan selalu melindungimu jauh disana agar kau tetap aman

Jihae-ah, sejujurnya aku ingin mengatakan ini disaat kita berada di danau itu, tetapi menurutku terlalu cepat jika aku mengatakan ini dipertemuan kita yang pertama kali, dan maaf mungkin jika ini terlambat

noemu saranghaeyo Jihae-ah

Tangan Jihae semakin bergetar membaca surat yang ditulis oleh Kyungsoo, ia sangat tidak menyangka jika dialah orang yang memberikan keindahan itu untuknya

Jihaepun mendekati Kyungsoo dan mengguncang-guncangkan tubuhnya

“Jika seperti ini aku tidak mau Kyungsoo-ah!, Mengapa kau memberikannya kepadaku! aku rela tidak bisa melihat keindahan itu asalkan denganmu, irona Kyungsoo-ah irona!!!”

Jihae terus mengguncang-guncangkan tubuh kyungsoo, ia sangat terpukul dengan apa yang sedan ia alami

“Yak!! irona!!! Irona” Jihae terus saja berteriak histeris tidak bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya

Seumur hdupnya ia baru pernah merasakan jatuh cinta dan ia tidak tidak pernah melihat orang yang ia cintai dan sangat ingin bertemu dengannya, namun saat kondisinya seperti ini Jihae lebih memilih tidak mengetahuinya daripada harus terpukul seperti ini

Tiba-tiba Kyungsoo memegang lengan Jihae dan membuat Jihae terperangah

“Kyungsoo…..”

Namun sayang tiba-tiba berbunyi suara nyaring pertanda nafasnya berhenti

“Kyungsoo! andwae!!!!” Jihae menjerit kencang sambil terus memegangi tangan Kyungsoo yang masih memegang tangan Jihae namun perlahan pegangannya melonggar

“Dokter!!” sahut Do Soo Hyun keluar kamar lalu masuk beberapa dokter yang merawatnya, namun ia sudah tidak bisa terselamatkan

***********

terkadang, aku ingin seperti burung yang bisa berterbangan
terbang bebas, tanpa ada halangan apapun

dan juga burung-burung berterbangan dan akan masuk kesarangnya jika ia lelah,iarela melakukan apapun untuk orang yang disayanginya

Sebenarnya disaat Kyungsoo dan Jihae membisu karena Jihae sudah tidak tau harus berbicara apa
Kyungsoo selalu melihat kearah Jihae dan tersenyum, walaupun senyuman manis dari bibirnya itu pucat, tetapi tampak raut bahagia yang iaberikan kepada Jihae

Ia selalu tersenyum disaat Jihae sedang duduk di kelas, walaupun ia terlihat datar kepada Jihae tetapi hatinya tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat sayang kepadanya, tanpa alasan apapun, ya cinta memang dapat membutakan siapa saja

aku mengerti sekarang apa yang dimaksud oleh Kyungsoo
Ia ingin selalu menjagaku, namun penyakit yang ia derita mengahalanginya untuk terus menjagaku, maka dia memberikanku sebuah keindahan yang sangat aku inginkan agar terus bisa menjalani hidupku, walaupun memang nyawanya sudah tidak disini tetapi aku selalu menyadari bahwa ia selalu menjagaku dimanapun ia berada

Kyungsoo, noemu bogoshippo…

seperti itulah cinta, ingin selalu saling melindungi, namun kita hanyalah manusia yang diatur hidupnya oleh sang pencipta, ia yang lebih tahu alur cerita dari semuanya

namun tuhan begitu adil, ia munkin memang mengambil Kyungsoo, namun tidak sepenuhnya
aku masih bisa melihat melalui mata kyungsoo dan juga tuhan memberikanku sahabat yang sangat sayang denganku

setidaknya walaupun kehilangan aku masih mempunyai kekuatan untuk terus menjalani kehidupan ini

Kehidupan yang sangat sulit untuk ditebak alurnya, sama seperti kau yang sulit untuk ku tebak alur hatimu..

-The end-

9 thoughts on “INCUNABULIS

  1. idokaisoo berkata:

    Author jeongmal gomawo loh udah bikin banjir ;_; keren keren, tiap castnya kyungsoo pasti angstnya dapet bgt :’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s