FF: Ghost Rider (Part 13)

Ghost Rider

Author : Oh Mi Ja

Genre : Horror. Mystery, Comedy, Friendship

cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : Kim Myungsoo (Infinite), Kim Jongdae

Jongdae langsung berlari ke kelas, masih dengan tangannya yang terus menggenggam ponsel dan mencoba untuk menghubungi Baekhyun. Sekali, dua kali, tiga kali, dan akhirnya ada sebuah pesan singkat yang masuk di ponselnya. Dari Bekhyun.

Aku tidak bisa mengangkat teleponmu. Sedang sibuk. Tapi aku tidak menangis. Jangan khawatir. Tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada appa, kan? Aku akan segera pulang untuk mengikuti pertandingan itu. Dan, bisakah kau menjaga Chanyeol? Aku khawatir dia duduk diatap rumahku seornag diri lagi.
Ah, bodoh, Bagaimana aku bisa menitipkan Chanyeol padamu? Kau bahkan tidak bisa melihatnya. Hanya sedikit khawatir karena tadi aku tidak bertemu dengannya. Aku pergi dulu dan akan kembali secepatnya.

Jongdae memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kembali melanjutkan larinya menuju kelas. Dia tau jika dia tidak bisa melihat Chanyeol, tapi kenapa dia ingin mencari sosok itu? Hanya ingin memberitahu agar dia tidak merasa khawatir seperti Baekhyun.

Sesampainya di kelas, Jongdae langsung menyapu seluruh isi kelas dengan pandangan. Tidak ada keraguan dalam dirinya, bahkan rasa takut sedikitpun. Justru berharap jika dia bisa melihat Chanyeol sekarang.

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak diatas meja Baekhyun. Selembar kertas putih yang ditempel disana bersama dengan pesan Baekhyun sebelum pergi ke bandara.

Jongdae membacanya, membuat ekspresinya berubah seketika. Berbicara tentang persahabatan, dia nyaris tidak mengerti sama sekali tentang persahabatan yang terjalin antara Baekhyun dan Chanyeol. Benar-benar tidak mengerti.

Baekhyun memiliki sahabat yang tidak nyata, tapi mampu berkorban sebegini hebatnya untuk sosok itu. Apa Chanyeol sangat berarti? Apa yang telah dilakukan Chanyeol sampai Baekhyun menentang prinsipnya sendiri?

“Chanyeol! Park Chanyeol!”teriak Jongdae menatap keseluruh ruangan. “Kau sudah membaca pesan Baekhyun? Dia akan segera kembali jadi kau harus menunggunya! Dia akan memenangkan pertandingan untukmu!”

Jongdae terengah. Berteriak membuatnya lelah. Dan dia juga tetap tidak bisa merasakan keberadaan Chanyeol. Chanyeol tetaptidak terlihat. Entah dimana dia berada sekarang, membuat Jongdae hanya bisa menghela napas panjang.

“Chanyeol… aku mohon. Muncul…”

***___***

“Kau sudah menghubungi Baekhyun?! Kyungsoo?! Sudah memberitahu mereka?!” Kris menatap Lay yang sedang berjalan mondar-mandir didepannya. Rautnya khawatir, bersamaan Lay yang hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara apapun.

Didepan ruangan itu, mereka hanya bisa berdoa. Hanya bisa memohon adanya keajaiban untuk keselamatan Chanyeol. Tiba-tiba saja, tubuhnya terangkat dan terhempas kembali di ranjang dengan keras, membuat Lay sontak terkejut dan memanggil dokter.

Kejadian mengagetkan itu terjadi begitu cepat dan menakutkan. Bahkan Lay sendiri tidak mampu mempercayai apa yang sudah dia lihat tadi. Apa mungkin ini berhubungan dengan roh Chanyeol? Apa mungkin dia kembali? Atau terjadi sesuatu yang buruk dengannya? Lay hanya bisa menerka-nerka semuanya dalam pikirannya sendiri.

“Bagaimana Chanyeol?! Dimana dia?!” tiba-tiba Kyungsoo muncul, menghentikan larinya, dia menatap Lay khawatir,

“Di dalam. Dokter lain sedang memeriksanya.”

“Kenapa kau tidak masuk? Kau juga harus memeriksanya?”

“Apa menurutmu dokter psikologi sepertiku bisa menangani hal seperti itu?” Lay mendesah, kembali mondar-mandir menunggu keputusan dokter. Sedangkan Kyungsoo terduduk lemas di alah satu kursi.

“Dimana Baekhyun? Sudah menghubunginya?”tanya Kris lagi, kini mengarahkan roda kursinya dan menghampiri Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng, “tidak bisa dihubungi. Tapi aku sudah menghubungi Jongdae dan dia akan segera kemari.”

Mereka hanya bisa menunggu sekarang. Tidak bisa berbuat apapun selain berdoa dan menunggu dokter keluar.

“Ini sudah lewat 30 menit, apa yang mereka lakukan di dalam?”rutuk Lay menghembuskan napas keras. Frustasi, dia ingin kejelasan tentang keadaan Chanyeol sekarang.

“Maaf aku terlambat. Aku terjebak macet, dan…. Bagaimana Chanyeol? Dia baik-baik saja?” Jongdae muncul, dengan gumpalan kertas di tangannya.

Lay memutar bola matanya, menatap dengan kening berkerut, “apa itu?”

“Aku tidak tau tapi aku yakin ini adalah pesan Baekhyun untuk Chanyeol.”

Kyungsoo langsung berdiri dari tempatnya, “hey, dimana Baekhyun? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?”

Jongdae menatap Kyungsoo sambil menghela napas panjang, “ayahnya terkena serangan jantung. Dia harus pergi ke Hongkong beberapa saat lalu.”

“Hah?! Serangan jantung?!”

“Yah, dia bahkan tidak menepati janjinya untuk menemaniku makan dan langsung pergi ke bandara. Soal Chanyeol… aku tidak tau. Tapi sepertinya Baekhyun tidak menemukannya saat dia akan pergi. Selain meninggalkan pesan ini, dia juga memintaku untuk menjaga Chanyeol.”

“Menjaga Chanyeol? Bukankah kau—“

“Yeah, aku tau. Mungkin dia sangat khawatir hingga tidak tau apa yang harus dilakukan.”seru Jongdae, lantas memberikan gumpalan kertas yang dibawanya pada Lay.

Lay membaca pesan Baekhyun, kemudian mengangkat kepalanya dan memandang Jongdae kembali. “Baekhyun tidak tau tentang ini?”

“Aku rasa tidak. Jika mengetahuinya, mungkin dia tidak akan pergi semudah itu.” Jongdae menghela napas panjang lagi, mengkhawatirkan keadaan Baekhyun sekarang. “Lalu? Apa yang terjadi dengan Chanyeol? Kyungsoo menelponku tapi aku tidak mengerti. Dia berbicara sangat cepat.”

Lay mengubah posisinya yang semula berdiri menjadi duduk, wajahnya terlihat sedih. “Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang ku lihat. Tiba-tiba tubuhnya terangkat dan terhampas kembali. Seperti sesuatu telah masuk ke dalam tubuhnya dengan keras.”

Mata Jongdae melebar, “apa mungkin itu rohnya? Apa mungkin dia kembali?”

Lay menggeleng, “tidak tau. Tunggu saja apa yang akan dikatakan dokter setelah ini. Aku harap mereka menyampaikan kabar baik.”

***___***

Baekhyun langsung berlari saat pesawatnya sudah mendarat dengan mulus di Bandara International Hongkong. Langsung menerobos diantara kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang dengan tujuan mereka masing-masing.

Beruntung ia sempat memasukkan kamus bahasa Mandarin ke dalam tasnya, sebagai bekal untuk menanyakkan tempat atau mencari alamar. Selain itu, saat SMU, Baekhyun juga pernah mengikuti kelas Mandarin dan dia mampu menguasainya cukup baik daripada bahasa Inggris yang ia anggap lebih rumit.

“Tolong antarkan aku ke Rumah sakit ST. Paul.”ucapnya pada supir taksi yang diberhentikannya tadi. “Tolong lebih cepat ya.”serunya lagi.

Supir itu mengangguk, lalu bergerak menuju tempat yang diminta oleh Baekhyun.

Ditengah-tengah kegelisahaannya, Baekhyun menghubungi ibunya lebih dulu untuk mengabarkan jika dia telah sampai dengan selamat di Hongkong dan sekarang sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Saat ia ingin menghubungi Jongdae, layar ponselnya tiba-tiba berubah menjadi hitam dan menjadi tidak aktif.

“Sial, bateraiku habis!”umpatnya membanting ponselnya ke sisi kiri kursi yang di dudukinya. Dan lebih sialnya lagi, dia baru menyadari jika dia tidak membawa charger untuk mengisi baterai. Karena begitu terburu-buru, dia hanya membawa beberapa kaus dan 2 potong celana jins, kamus serta 1 jaket yang sedang dipakainya sekarang. Begitu khawatir sampai dia melupakan semuanya.

Baekhyun menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia lelah.

“Hhhh… apa Chanyeol sedang mencariku? Atau dia sedang menungguku? Apa dia sudah membaca pesanku?”serunya bertubi-tubi pada dirinya sendiri. Terselip bayangan rumahnya dan Chanyeol yang sedang menunggunya diatap rumah dalam pikirannya. Dia menyesal, harusnya dia memberitahu Chanyeol saat dia pergi tadi.

Beberapa saat berlalu, tak lama taksi berhenti di depan sebuah bangunan besar yang sempat Baekhyun baca bernama Rumah sakit ST. Paul. Setelah membayar biayanya, Baekhyun langsung melompat turun dan menemukan ibunya sudah berdiri di depan pintu utama.
Baekhyun tersenyum lebar, berlari menyebrangi zebra cross dan langsung memeluk tubuh ibunya erat-erat. “Oema.”

“Adeul, oema merindukanmu.”balas nyonya Byun balas memeluk Baekhyun.

“Aku juga sangat merindukan, oema.” Baekhyun melepaskan pelukannya, sebenarnya masih ingin memeluk ibunya itu lebih lama lagi karena kerinduannya sudah semakin bertumpuk-tumpuk. Tapi, keadaan ayahnya sekarang jauh lebih penting. “Bagaiamana keadaan appa? Apa sudah membaik?”

“Beruntung serangan jantungnya hanya serangan ringan. Dia baik-baik saja dan sedang beristirahat di dalam. Dia juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan.”

“Benarkah? Baguslah. Aku merasa lega.”

Baekhyun dan ibunya berjalan bersama menuju ruang perawatan tuan Byun. Sesampainya, Baekhyun melihat jika ayahnya sedang tidur. Ia tidak memutuskan untuk membangunkannya, juga melarang ibunya yang hendak memberitahunya jika Baekhyun sudah datang.

“Biarkan appa beristirahat, oema.”serunya menggeleng.

Nyonya Byun akhirnya menuruti permintaan Baekhyun. Lalu duduk disamping sofa tunggu yang ada disudut ruangan.

“Oema punya charger ponsel? Baterai ponselku habis, aku ingin mengabari Jongdae.”

“Ah, mianhae adeul. Karena terlalu khawatir, oema tidak membawanya dan belum pulang ke rumah sampai sekarang. Nanti oema akan mengambilkannya untukmu.”

“Dimana rumah oema dan appa? Apa rumah kalian bagus?”

Nyonya Byun menggeleng sambil tersenyum, “bukan rumah. Tapi apartement yang berada tepat di tengah kota. Mau kesana?”

“Yeaah, saat appa sadar nanti. Aku juga ingin melihat-lihat.”

“Lalu bagaimana kabar Byul? Kau menjaganya dengan baik? Dan… apa kau sudah bisa mengendarai mobil dengan baik?”

Baekhyun meringis lebar sambil membuka ikatan tali sepatunya, “aku menitipkan Byul pada adik Jongdae dan aku juga sudah bisa mengendarai mobilku.”

“Mwo? Menitipkan Byul? Kenapa?”

Baekhyun terdiam. Tidak tau apa yang harus ia katakan pada ibunya. Tidak mungkin dia mengatakan jika dirinya terlalu sibuk mengurusi Chanyeol dan mempersiapkan diri untuk balapan uji coba itu. Ibunya pasti sangat marah dan akan menganggapnya aneh.

“Umm… aku sibuk mengurusi jadwal kuliahku yang padat, oema. Lagipula adik Jongdae sangat menyukai binatang, jadi aku menitipkannya sementara di rumahnya. Byul di rawat dengan baik.” Ia menatap ibunya berkedip-kedip, gugup karena dia sedang berbohong sekarang.

“Aigooo… kau pasti sangat lelah, adeul.” Dengan mudah, nyonya Byun mempercayai ucapan Baekhyun. Bahkan ia merasa kasihan dengan anak semata wayangnya itu.

Baekhun tersenyum salah tingkah, “tidak apa-apa. Sekarang aku adalah namja dewasa.”

***___***

Tidak ada kebahagian lain yang dirasakah oleh Kyungsoo, Lay dan Kris saat mereka melihat sepasang mata itu terbuka. Jari-jari itu bergerak dan wajah pucatnya mulai terlihat berseri. Dokter mengatakan jika Chanyeol telah melewati masa-masa kritisnya selama ini, dan mengatakan jika dia akan sehat secepat mungkin.

Kyungsoo bahkan langsung berlari menuju gereja yang terletak disekitar rumah sakit untuk bersyukur pada Tuhan. Entah apa yang harus ia katakan, beribu-ribu ucapan terima kasih juga tidak sepadan dengan kebahagiaan yang telah diberikan oleh Tuhan untuk mereka.

“Sudah lama aku ingin mengatakannya. Maaf, maafkan aku Chanyeol.”seru Kris menangis memeluk Chanyeol erat-erat. “Oh Tuhan, terima kasih karena Kau telah membawa sahabatku kembali. Terima kasih.”

Chanyeol yang masih linglung, hanya diam saat ia menerima pelukan itu. Matanya menyapu sekeliling, mendapati Lay, Kyungsoo dan seseorang yang tidak dikenalnya, Jongdae.

“Aku dimana?”tanyanya bingung.

“Di rumah sakit. Sudah sekian lama kau mengalami koma.”

Saat mendengar ucapan Kris, perlahan sesuatu membawa Chanyeol kembali ke masa lalu. Saat dimana kecelakaan itu terjadi dan menghempaskan tubuhnya menerjang kaca besar mobil dan menggeletakkan tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa melihat saat darah menutupi seluruh wajahnya.

Juga masih bisa mengingat saat Kris berlari dengan langkah-langkah lebar menghampirinya kemudian berjongkok disisinya. Dia masih mampu mengingat bagaimana Kris berteriak memanggil namanya sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.

Beberapa saat ia terpaku dalam pikirannya sendiri, kesadarannya membawanya kembali saat ia melihat Lay dengan hati-hati mendudukkan Kris di kursi rodanya. Dan detik itu juga, dia terperangah hebat.

“Kris… apa yang terjadi padamu? Kau? Kakimu…”

Kris menggeleng, tersenyum lirih menatap Chanyeol sambil menghusap air matanya, “ini adalah hukuman yang harus ku terima karena meninggalkanmu waktu itu. Juga, sebagai balasan untuk waktu yang kau habiskan di tempat ini. Maafkan aku Chanyeol. Aku benar-benar minta–”

“Kau tidak meninggalkanku, Kris! Aku melihatmu berlari kearahku waktu itu.” Ia menggeleng cepat.

“Tidak Chanyeol.”balasnya pelan. “Aku pergi setelah kau pingsan dan meninggalkanmu sendirian disana.”

Mata Chanyeol melebar, “Apa?”

“Tolong hentikan semua ini sekarang. Chanyeol baru saja sadar dan aku tidak mau kita membebaninya dengan cerita ini. Berikan dia waktu.” Kyungsoo menghentikan cerita mereka, berjalan menghampiri Chanyeol.

“Tapi … apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Chanyeol, Kyungsoo benar. Jangan memaksakan otakmu. Istirahatlah dulu selama beberapa hari.” Lay menambahi.

“Aku sangat senang Chanyeol. Aku sangat senang karena akhirnya kau sadar. Akhirnya Tuhan mendengar doaku dan membawamu kembali ke tengah-tengah kami. Aku mohon, jangan seperti ini lagi. Kami semua sangat menderita”

Chanyeol menatap Kyungsoo haru, “terima kasih karena kau sudah menjagaku, Kyungsoo.”

“Aku bahkan tidak pernah meninggalkanmu.”balas Chanyeol cepat.

“Hey, Park Chanyeol. Aku juga senang karena kau akhirnya sadar. Akhirnya aku bisa melihatmu dan bertemu denganmu secara langsung. Aku akan menghubungi Baekhyun secepatnya, dia pasti senang mendengar kabar ini.” Jongdae buru-buru mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Baekhyun kembali namun masih saja tidak aktif.

Chanyeol menatap Jongdae dengan kening berkerut, “Maaf, tapi… siapa kau? Apa aku mengenalmu? Dan… siapa Baekhyun?”

Tidak hanya Jongdae, namun Kris, Lay dan Kyungsoo juga ikut tersentak setelah mereka mendengar pertanyaan Chanyeol barusan. Siapa Baekhyun? Bagaimana dia bisa melupakan nama itu?

Jongdae menelan ludah, “kau… tidak mengenal Baekhyun?”

***___***

Malam hari telah datang saat Baekhyun akhirnya bangun dari tidurnya. Sore tadi dia sangat lelah hingga memutuskan untuk istirahat sebentar. Tidak disangka ternyata dia telah tidur hingga jam 12 malam.

“Adeul, kenapa kau bangun?”

Baekhyun beranjak dari tidurnya, masih menghusap-husap matanya karena pandangannya terlihat kabur.

“Oema mianhae. Aku tidur terlalu lama. Kenapa oema belum tidur?”

“Sebentar lagi. Oema akan tidur sebentar lagi.”

Baekhyun langsung menggeleng, menghampiri oemanya yangduduk di samping ranjang ayahnya.

“Tidak. Sekarang oema tidur. Aku yang akan menjaga appa.”

“Adeul tapi—“

“Aku sudah cukup lama tidur dan aku tidak mengantuk lagi. Aku akan menjaga appa.”tegas Baekhyun sambil mendorong tubuh ibunya menuju sofa. “Mungkin akan kurang nyaman, tapi besok pagi aku akan mengambil beberapa peralatan tidur untuk oema.”

Nyonya Byun tersenyum lembut sembari mengatupkan kedua telapak tangannya di pipi Baekhyun, “Baekhyunnie, gomawo. Kau benar-benar menjadi namja dewasa sekarang. Oema sangat bangga padamu.”
Baekhyun tersenyum lebar, “tentu saja. Aku bisa melakukannya oema.” Ia berbalik, memberikan selimut tebal untuk nyonya Byun. “Aku akan membeli kopi sebentar. Tidak lama. Hanya lima menit.”

Mungkin Baekhyun harus sedikit bersabar untuk menghubungi Jongdae karena di rumah sakit ini pun tidak menyediakan fasilitas telepon untuk keluar Negeri. Mana mungkin pihak rumah sakit mau memberikannya layanan panggilan Internasional secara gratis. Baekhyun bukan siapa-siapa. Dia hanya anak dari seorang pekerja dan bukan anak presiden.

Ia menghela napas panjang disela-sela perjalanannya menuju mesin minuman. Sambil mengacak rambutnya karena otaknya seperti ingin meledak. Apa Chanyeol sedang menunggunya? Apa Chanyeol sedang duduk sendirian diatap rumah? Baekhyun terus saja memikirkan tentang itu.

Saat memasukkan koin ke dalam celah mesin, kesadarannya juga masih melayang jauh dan belum kembali. Disusul dengan bunyi keluarnya kopi kaleng yang ia beli, tidak juga membuatnya sadar.
Ia membungkuk, mengulurkan tangannya untuk mengambil kopinya. Saat ia berdiri kembali, tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap dan tubuhnya terasa seperti melayang. Baekhyun tau dia akan rubuh sebentar lagi jadi dia buru-buru menjangkau sisi mesih minuman dan bertopang pada mesin itu.

Kepalanya berdenyut-denyut tak karuan, menimbulkan rasa nyeri yang teramat sakit hingga ia sendiri menjatuhkan minuman kaleng yang dipegangnya dan mencengkram kepalanya kuat.
Baekhyun meringis kesakitan, perlahan tubuhnya merosot kelantai dan dia meringkuk dengan keringat yang sudah bercucuran membasahi pelipisnya.

“Arggghhhh….”

Di sisa-sia pertahanannya, ia bisa melihat jika seseorang berbaju putih sedang berlari kearahnya. Mungkin itu suster, membuat Baekhyun sedikit tenang karena ada seseorang yang menemukannya. Dan beberapa saat kemudian, matanya tertutup rapat.

***___***

Keesokan paginya, Jongdae masih belum menemukan informasi apapun tentang keberadaan Baekhyun sekarang. Apa dia sudah sampai? Apa ayahnya baik-baik saja? Dan kapan dia akan pulang?
Belum lagi ia menemukan kenyataan jika Chanyeol sama sekali tidak mengingat siapa Baekhyun dan kehidupannya saat dia menjadi roh. Jongdae sendiri tidak bisa menjelaskan padanya karena hal ini bukanlah hal yang logis. Hanya Baekhyun yang bisa melakukannya. Karena dia adalah satu-satunya orang yang selama ini menghabiskan waktu bersama Chanyeol.

Jongdae tidak ingin memaksa, tidak ingin memberitahu Chanyeol dulu tentang hal ini karena Lay sendiri melarang dirinya untuk menceritakan semuanya. Chanyeol baru pulih dan dia belum siap untuk itu. Biarkan dia tenang agar dia siap saat mendengar kenyataannya. Juga tentang mobil andalannya yang kini telah menjadi milik Baekhyun.

Terduduk seorang diri di taman universitas, Jongdae sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang berjalan kearahnya. Ia menepuk pundak Jongdae lalu menjatuhkan diri disampingnya. Jongdae menoleh.

“Tidak ada mata kuliah? Kenapa duduk disini?”

Jongdae tertawa mendengus, “membolos.”

Seseorang yang ternyata Kyungsoo itu mengerutkan keningnya bingung, “kenapa? Baekhyun bilang kau adalah mahasiswa yang paling anti melakukannya.”

“Dia juga bilang jika aku terus belajar, wajahku akan menjadi keriput dan terlihat lebih tua. Jadi… aku membolos agar aku tidak terlihat tua.” Ia bercanda sedikit lalu keduanya tertawa.

“Bagaimana? Sudah mendapat kabar dari Baekhyun? Semua panggilan dan pesanku tidak dijawab. Ponselnya juga tidak aktif.”

Jongdae menghela napas panjang, tangannya sibuk merobek-robek daun maple yang gugur ditelapak tangannya.

“Sama sepertimu, Kyungsoo. Mungkin dia sedang sibuk. Aku akan ke rumahnya setelah ini.”

“Ha? Bagaimana bisa?”

“Dia memberikan kunci duplikatnya padaku saat dia pertama kali ketakutan karena kedatangan Chanyeol.”

Kyungsoo menggaruk tengkuk belakangnya, “apa sebegitu menakutkan?”

“Haha.. tidak tau. Aku sendiri tidak bisa melihatnya.” Jongdae menggeleng. “Lalu kapan kau akan memberitahu semuanya pada Chanyeol? Mau menunggu hingga kapan?”

“Tidak tau.”suara Kyungsoo merendah. “Semalam dia menanyakan tentang pertandingan waktu itu dan bagaimana kehidupan Myungsoo sekarang tapi kami sepakat untuk tidak menjawabnya. Aku takut dia terluka.”

Jongdae mengacak rambutnya frustasi, “Aisssh, kenapa begini rumitnya? Kesal sekali.”

***___***

“Baekhyunnie… adeul…”

Suara lembut itu terasa sangat dikenalnya. Terus terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya melawan untuk bangun. Perlahan, ia membuka mata. Mendapati warna putih yang sedang mengelilinginya dan mendarat pada sebuah wajah yang juga seperti dia kenal dalam ingatannya.

Saat melihat seseorang yang ditunggunya sudah membuka mata, wanita itu langsung bangkit dan memeluk tubuhnya erat-erat sambil menangis.

“Baekhyunnie… syukurlah. Oema pikir terjadi sesuatu denganmu. Kau tidak apa-apa? Kenapa kau tiba-tiba pingsan?”serunya bertubi-tubi.

Namun, seseorang yang dipeluknya justru menerawang bingung. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.

“Adeul, kau tidak merasa sakit, kan? Kau mau makan? Mau oema ambilkan sesuatu?”

Baekhyun menatap nyonya Byun dengan ekspresi aneh namun sarat minta maaf, “Anda adalah ibuku?” Pertanyaannya sontak membuat nyonya Byun terperangah hebat. “Maaf, tapi aku tidak bisa mengingat apapun.” Ia memijat-mijat kepalanya pelan, sambil terus mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Harusnya aku ingat. Tapi kepalaku… ahh… bagaimana ini? Siapa namaku?” Ia menatap nyonya Byun dengan ekspresi ingin tau.

Nyonya Byun termundur sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia membeku. Terkesima. Bagaimana bisa Baekhyun melupakan dirinya?

“Baekhyunnie, kau serius? Kau tidak bercanda, kan? Aku adalah ibumu.”

“Akh, bagaimana ini? Aku tidak bisa mengingat sesuatu. Tolong beritahu aku siapa diriku, aku bingung. Aku tidak bisa mengingat apapun. Akh.”

Baekhyun memukuli kepalanya karena frustasi. Semakin dia mencoba mengingatnya, semakin sakit juga pening yang tercipta di kepalanya. Siapa dia? Apa alasannya sehingga dia bisa berada disini? Dan kenapa dia bisa melupakan ingatannya?

“Nyonya, tolong beritahu aku. Apa yang terjadi? Kenapa aku seperti ini?”

Menangis, nyonya Byun memandang Baekhyun sangat sedih, “Baekhyunnie…”


Nyonya Byun hanya bisa ternganga lebar saat dia mendengar penjelasan dokter yang mengatakan jika Baekhyun mengalami amnesia Anterograde karena terjadi kerusakan pada otaknya.
Nyonya Byun terus meyakinkan dokter jika Baekhyun tidak pernah mengalami kecelakaan yang berat sebelumnya. Bagaimana bisa dokter mengatakan jika kerusakan otak Baekhyun diciptakan karena sebuah benturan keras? Kapan Baekhyun mengalaminya?

“Dokter, Baekhyun tidak mungkin mengalaminya. Dia tidak pernah kecelakaan sebelumnya.” Nyonya Byun tetap ngotot.

“Maaf nyonya, tapi dari hasil pemeriksaan yang kami dapatkan, kerusakan otak Baekhyun membuat hippocampus-nya terganggu dan membuat memorinya tidak bisa mengingat kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Dan semua itu disebabkan oleh benturan dari sesuatu.”

Nyonya Byun merasa jika sesuatu juga sedang menghantam kepalanya dengan keras. Suaminya… anaknya… kenapa semua ini sangat tiba-tiba? Dia yakin Baekhyun baik-baik saja karena selama ini Baekhyun tidak pernah mengatakan hal apapun. Dia juga selalu mengatakan jika dia mengendarai mobilnya dengan baik. Kenapa tiba-tiba penyakit ini datang?

Langkah-langkah lunglai nyonya Byun membawanya pergi menuju ruangan Baekhyun kembali. Mungkin dia sudah sadar sekarang setelah satu suntikan obat penenang menusuk lengannya tadi.

Sejak melupakan siapa dirinya, dia terus saja berteriak karena tidak bisa mengingat sesuatu. Juga merasa ketakutan karena dia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang berada disekitarnya.

Saat nyonya Byun membuka pintu, dia mendapati Baekhyun sudah sadar. Ia berbaring di ranjangnya sambil menatap keluar jendela dalam diam.

Mendengar suara pintu terbuka, Baekhyun menggerakkan tubuhnya dan berbalik. Wajahnya terlihat keruh, juga sepasang matanya yang sembab.

“Adeul, ada apa? Kau menangis, hm?” nyonya Byun mendekati Baekhyun sambil menghusap kepalanya lembut.

Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang nyonya Byun, kembali menangis. “Nyonya, bisakah aku percaya padamu?”





TBC

65 thoughts on “FF: Ghost Rider (Part 13)

  1. intanawalur0712 berkata:

    tadinya pas Chanyeol sadar aku udah senyum sumringah.Terus pas dia gak inget apa-apa aku jadi panik sendiri.Takutnya dia jadi benci Kris atau apa gitu setelah tau kebenarannya gimana.Tapi tetep tenang soalnya kan masih ada Baekhyun yang bakal ngejelasin nantinya.

    Pas Baekhyun pingsan juga aku kira dia cuma capek aja,tapiiii…

    andweeeeeyooooo!

    kalo Baekhyun-nya ilang ingatan juga gimana ini???!!! pasti ini gara-gara Kyungsoo yang mukul Baekhyun waktu itu.

    aahh pokoknya penasaran sama kelanjutannya.Lanjutkan kakak author! ^^

  2. tiaraselfira berkata:

    kapan lanjut nya thor ?
    Aduuh, chanyoel yg sadar malah baekhyun yg lupa .
    Cepet lnjut thor ya😉
    penasaran nii

  3. amalia berkata:

    maaf baru baca jadi baru bs komen ..terharu baca ne ff keren author buatnya friendship banget
    aduhhh baekhyun jadi amnesia jg ce …chanyeol jg …oh god ! mungkin lebih baik gt dari pada baekhyun inget tapi chanyeol lupa kn kacian baekhyun nya…
    d lanjut next chapter y ..
    hwaiting

  4. lovelyrose98 berkata:

    Chanyeol ga inget jongdae dan baekhyun trs sekarang baekhyun yg ga ingat siapaun bahkan dirinya sendiri,,,,,
    Huwaaaahh,,,,,,gimana nih,trs gmn cara ngadepin myungsoo nanti,trs klo baekhyun balik ke seoul trs ketemu myungsoo gmn dong

  5. MEF berkata:

    sumpah kereeen bgt tp ksian liat baekkiee yg kyk gtu & kira2 part ke-14 kpn dpostnya ?? jgn lma2 yaa thor,,,,,🙂

  6. Nana Wu berkata:

    ahh klimaks banget! chanyeol sadar tapi ga tau baekhyun siapa dan baekhyun amnesia. great! kak mi ja emang jjang!
    lanjut lanjut lanjut~~~~~~

  7. Fitri MY berkata:

    Wuaaahhhhhh aku baca ngebut………
    makin ke sini ff nya makin seruuu
    Haduh ge tahan banget pingin lanjutannya
    Ditunggu banget

  8. prima berkata:

    author oh mi ja sukses bikin aq senyum2 srndiri, nie klo aq bacanya g di rumah n g ada tetangga yg bakal gedor2 bawa linggis (?) pasti aq dah tereak teteak CHANYEEEEOOOOLLLLL !!!! BAEKHYUUUUUNNN PADAMUUU !!! #AbaikanYangBarusan #PlisssssAbaikan
    terus semangat yy author oh mi ja #FlyingKiss to oh mi ja Emmmuuaacchhh :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s