Coffee

 

cappucino

 

Tittle             : Coffee
Author          : erfaa_
Tag (Cast)     : Juni (OC), D.O EXO
Genre           : Friendship
Rating           : G (General)
Length          : Ficlet
A/N              : Mohon bantuannya, masih awam menulis fanfiction. Jika ada kesalahan mohon dimaklumi J Thanks.

Aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan sekarang.

Jadwal harianku sudah selesai, dan sekarang aku memiliki banyak waktu luang. Hanya saja aku tak tahu bagaimana lagi harus mengisinya.

Jadwal hari ini selesai begitu cepat, terlampau cepat malah. Dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota.

Cara terakhirku ini memang sangat ampuh, pemandangan di sekitar taman kota ini membuat penatku menghilang. Kuhirup udara segar ini sebanyak-banyaknya, jarang sekali aku mendapatkan kesempatan seperti ini. Aku berjalan pelan sambil menutup kedua mataku perlahan, menikmati alunan musik yang dimainkan para pemusik jalanan profesional. Aku mulai memasuki dimensiku sendiri. Berimajinasi.

Aku berada di atas gumpalan awan, tidur di atasnya. Gumpalan awas itu sangat lembut, aku mengambil sedikit dari gumpalan itu. Kuucapkan beberapa mantra lalu gumpalan awan itu tiba-tiba saja berubah menjadi permen kapas yang sangat manis. Angin yang sejuk. Aku tidak ingin pergi dari dunia imajinasiku ini. Tunggu kenapa tiba-tiba awan yang aku naiki ini terbentur. Ini tidak masuk dalam skenario imajinasiku. Ada yang salah. Angin yang sebelumnya sejuk berubah menjadi panas, dan awan putihku berubah menjadi coklat. Imajinasiku… ada yang rusak.

Kubuka mataku perlahan. Berniat untuk membenahi imajinasiku, Tapi ternyata… Kedua mataku terbuka lebar, astaga… aku menabrak seseorang.

“K- kau… ti-dak apa-apa ?” aku bertanya gugup, bagaimana jika orang ini memarahiku, atau bahkan menuntutku. Lihat saja, kemeja putihnya basah karena kopi yang tumpah.  Pergelangan tangannyapun memerah, atau mungkin.. melepuh ? Aku semakin bersalah, menabrak, menumpahkan kopi. Oh, mungkin jika ia menuntutku aku akan terkena pasal berganda. Bagaimana jika-

“Aku tidak apa-apa.” Laki-laki itu menjawab sambil tersenyum. Hei… dia malah tersenyum ?

“Emmm… kau tidak akan menuntutku bukan ?” aku masih takut. Sungguh. “Menuntut ? Haha, kau terlalu berpikir yang lebih-lebih.” Dia tertawa renyah. Syukurlah kalau begitu.

“Tapi..” Tapi apa ? Aku terlampau cemas jika sudah melakukan kesalahan seperti ini.

“Kau harus mengganti kopiku, mengobati pergelangan tanganku yang melepuh. Kopi yang kau tumpahkan tadi masih sangat panas.” Dia menawarkan cara mengganti rugi yang lain daripada menuntut. Tidak masalah bagiku.

“Bagaimana dengan kemejamu ?” Kemejanya terlihat sangat mahal, lihat saja jenis kainnya. Tunggu, itu bukan kemeja biasa. Itu seragam… sepertinya aku sering melihat seragam itu di TV. Jika aku berpikir logis, jika seragam itu sering aku lihat di TV, tentu saja harganya tak main-main. Jika aku harus menggantinya, aku harus mencari uang. Lalu-

“Tenang saja, aku punya yang lain di tas. Kau hanya perlu mengganti kopi dan mengobati lukaku ini” Laki-laki itu melirik ke arah pergelangan tangannya, ia berhasil menghentikan pikiranku lagi. Dan sekali lagi aku sangat bersyukur.

“Baiklah, kita ke kafe terdekat saja. Akan kuobati lukamu disana !” Lebih cepat, lebih baik. Menurutku. Sebelum dia berubah pikiran untuk menuntutku.

~

“Tunggu disini, aku saja yang memesan !” Lebih baik jika laki-laki ini yang menunggu. Tangannya semakin memerah, setidaknya ia harus memperkecil aktivitas tangannya.

“Baiklah, pesankan aku Cappucino. Terima kasih.” Cepat-cepat aku memesan, segera kembali membawa 2 cappucino di tanganku.

“Ini, cappucinomu. Tunggu sebentar !” kukeluarkan kotak p3k kecil yang selalu kusimpan di tasku. Kuobati perlahan pergelangan tangan itu. Sebelum itu, luka itu sudah kudinginkan dengan es yang sempat aku minta tadi di kasir. Hebat, laki-laki ini benar-benar menahan sakitnya. Mimik mukanya, ia menggigit kecil bibir bawahnya.

“Maafkan aku…” aku mengucapkan permintaan maafku sembari membalut lukanya dengan perbang.

“Tidak apa-apa…kau sudah bertanggung jawab, dan terima kasih untuk cappucino ini.” Ia tersenyum lagi. Dia… laki-laki yang baik hati.

“Hei.. apakah kau suka berimajinasi ?” laki-laki itu tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang tak kusangka.

“Ba- bagaimana kau tahu ?”

“Lihatlah pernak-pernik tas-mu… jarang sekali orang mau memakai pernak-pernik seperti itu. Aku juga termasuk salah satu diantaranya !” Sungguh ? Apakah dia juga seorang yang suka berimajinasi ? Topik ini menjadi menarik secara tiba-tiba.

“Aku juga punya beberapa barang mirip seperti yang kau punya.” Dia mulai mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Pergelangan tanngannya sudah selesai kubalut rapi dengan perban, menjadikan ia lebih leluasa untuk bergerak karena lukanya sudah aman. Aku takjub melihat barang-barangnya. Salah satu yang langsung menarik perhatianku. Dream Catcher. Seorang laki-laki ? mempunyai barang seperti itu ?

“Bolehkah aku tahu namamu. Sepertinya setelah ini, aku ingin berteman denganmu. Kau pasti tahu, seorang yang berimajinasi jika bertemu dengan seseorang berimajinasi yang lain, mereka bisa memperluas tingkat imajinasinya.” Untuk kali ini, aku kagum dengannya. Perkataannya benar. Aku pernah mengalaiminya dulu saat bersama Rana, teman masa kecilku.

“Tentu saja, namaku Juni, dan kau ?” tanyaku kali ini mantap. Terima kasih Tuhan, walaupun cara ini agak aneh, tapi aku bertemu dengan orang yang sangat aku cari.

“Namaku…Kyungsoo.” Dia tersenyum. Aku tersenyum. Aku mempunyai kawan baru, dari sebuah insiden kopi. Mulai dari sini… aku akan berimajinasi semakin tinggi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s