You Don’t Know Love Part 1

You dont know love

Judul: You Don’t Know Love

Author: Rhara Amalia

Cast: Xi Luhan, Zhang Yixing(Lay) with a Girl

Other Cast: You can find it at the Story

Genre: Romance, Brothership, Family

Rating: PG-15

Length: Chaptered (2.180 words)

A.N: disini hanya ada pertemuan Stella dan Lay sehingga mereka memutuskan untuk bersahabat. Maaf terlalu lama postnya soalnya akunya lagi banyak masalah ahaha. Happy Reading

~~~

Alunan musik klasik keluar dengan lembut dari sebuah speaker membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa tenang dan damai. Stella suka musik klasik karena itu selalu dengan ampuhnya membuat pikirannya kembali tenang dengan segala masalah yang dihadapi atau stress yang diakibatkan setumpuk tugas kuliah yang tak pernah berhenti.

Stella mengedarkan pandanganku keseluruh sudut ruang tengah, tempatnya menghabiskan waktu sekarang. Ia mendesah pelan ketika merasakan kekosongan disana. Semua terasa berbeda ketika Luhan kembali ke asrama kampus dan membuatnya harus kembali sendiri dirumah yang besar ini. Keceriaan Luhan, tawa renyahnya dan semua candaannya mampu membuat rumah ini terasa terisi penuh. Mereka bercanda hampir disetiap sudut rumah ini. Yah, Luhan selalu mampu menghiburnya dan melupakan tentang rindunya pada ayahnya dan betapa ia tertekan memikirkan ibunya.

Ia ingin sekali menghubungi Luhan sekarang. Setidaknya untuk mendengar candaannya dan itu bisa menghiburnya walaupun tidak membuat rumahnya terasa ramai kembali. Ia baru ingat ponselnya berada dikamar. Ia segera berdiri dan menuju kamar untuk mengambilnya. Begitu masuk matanya langsung menangkap objek yang dicarinya sudah tergeletak manis diatas tempat tidur. Ia langsung meraihnya dan memutuskan kembali ke ruang tengah untuk kembali menikmati musik klasik yang masih dibiarkan mengalun dengan lembutnya.

Tapi ketika melewati jendela kamarnya, ia ada pemandangan yang terasa lain disitu. Stella menoleh keluar jendela dan mendapati jendela yang berhadapan langsung dengan jendela kamarnya kini terbuka dengan lebar. Dan bukan hanya itu ada beberapa bunga yang tertanam manis dipotnya menghias depan jendela itu. Sepertinya ia sudah melewatkan sesuatu.

Stella berjalan menuju balkon kamarnya. Pandangannya berusaha masuk jauh ke dalam rumah yang terbingkai manis oleh jendelanya. Lama ia menatapnya dengan tatapan menyelidik. Mencoba mencari sesuatu disana dan entah itu apa.

“sejak kapan jendela ini terbuka dengan lebarnya?” tanyanya terlebih untuk dirinya sendiri.

Ia terlonjak begitu mengalihkan pandangannya kembali ke jendela itu. Betapa tidak kini matanya bertemu dengan mata yang sangat lembut dan langsung membuat hatinya bergetar walau hanya menatapnya. Stella baru saja berpikir ingin menikmati kelembutan itu untuk waktu yang lama saat ia sadar bahwa sekarang ia sedang ditatap oleh sang pemilik rumah. Dengan cepat ia memalingkan pandangannya ke bawah. Berpura-pura sedang mencari sesuatu yang jatuh dari balkon kamarnya.

“aduh bagaimana ini? sepertinya aku menjatuhkannya” desahnya pelan. Entah apa yang dipikirkannya ketika ia merasa harus melakukan akting ini. Ia hanya berharap itu dapat meyakinkan sang pemilik mata lembut itu bahwa ia bukanlah seorang gadis yang sedang berusaha memandang jauh kedalam rumahnya melalu jendela kamarnya.

Stella berbalik dan berlari keluar kamar. Ia terus berlari menuju ke luar rumah lebih tepatnya di bawah balkon kamarnya. Entah apa yang membuatnya harus berlari ke tempat itu mengingat apa yang ia lakukan tadi hanyalah sebuah akting guna menghindari tuduhan apapun yang bisa saja diluncurkan oleh pria tadi.

Ia masih berdiri sambil memikirkan bagaimana kalau sampai pria tahu ia berbohong. Lagipula disitu tidak ada satupun barangnya yang jatuh. Ia tak punya barang yang dapat mendukung aktingnya tadi.

Masa bodoh ‘lah. Dia hanya tetangga baru kenapa aku sampai harus seperti ini. batin Stella.

“Hey” baru saja Stella berniat untuk berbalik dan kembali ke dalam rumah sebuah suara lembut berhasil membuatnya terkejut sehingga membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya yang sedari tadi ada dalam genggamannya.

Stella berbalik dan menatap sang pemilik suara dengan kikuk.

ada apa denganku? kenapa aku segugup ini?

“he..hey” jawab Stella akhirnya dengan sedikit tergagap sambil berusaha memasang senyum.

“kau sedang mencari sesuatu?” tanya pria itu sambil berjalan ke arah belakang Stella berdiri.

Seperti tersadar sesuatu Stella langsung berbalik melihatnya. Kini dapat dilihatnya pria tersebut sedang memungut sesuatu dan itu adalah ponselnya.

“sepertinya ini barang yang kau jatuhkan ya?” tanyanya sambil menyodorkan ponsel tersebut ke arah Stella.

Stella mengangguk dan tersenyum. “terima kasih”

Demi apapun, kenapa aktingku masih berjalan sampai saat ini. Aku yang tidak sengaja menjatuhkan ponselku membuat semuanya menjadi mulus? Oh yang benar saja!

“aku Lay. Aku baru saja pindah semalam dirumah sebelahmu” kata pria yang mengaku bernama Lay itu sambil mengulurkan tangannya.

Stella menyambut uluran tangannya dan tersenyum. “kau bisa memanggilku Stella. Senang punya tetangga baru” jawabnya tulus.

Lay tersenyum sangat manis. Lesung yang tercetak dipipinya membuat senyuman itu benar-benar terlihat sangat manis dan lembut. Setidaknya itu yang ada dipikiran Stella.

“kau mau ke rumahku? Aku ingin menjamu tetangga baruku. Setidaknya ini sebagai salam perkenalan” ajak Lay sambil menunjuk rumahnya.

Tidak ada salahnya mengunjungi rumahnya yang menjadi rumah bekas sahabat kecilku itu. Jujur aku merindukan rumah itu.

“baiklah” jawab Stella menyetujuinya.

Mereka memasuki halaman rumah milik Lay yang tak jauh beda besarnya dengan milik Stella. Ada banyak bunga disana membuat taman tersebut benar-benar terlihat indah. Bunga-bunga itu tertata dengan rapi dan terlihat sangat segar. Keindahan itu yang membuat Stella sedari tadi mengedarkan pandangannya keseluruh sudut taman tanpa memperhatikan jalan didepannya sehingga hampir saja ia menabrak Lay yang berjalan didepannya.

Lay berbalik dan tersenyum melihat tingkah Stella. “kau menyukainya?”

Stella mengangguk. “ini indah, Lay”

Lay kembali tersenyum mendengar pujian Stella.

“pasanganmu pasti sangat pintar mengatur semua ini” kata Stella lagi.

“pasangan?” Lay tertawa kecil karenanya. “aku belum memilikinya”

Kening Stella berkerut dan matanya memandang Lay tidak percaya. “aku pikir ini semua seperti ada sentuhan seorang wanita. Maaf sebelumnya, ini karena aku belum pernah bertemu pria yang bisa mengatur seindah ini”

Lay kembali tertawa karena kata-kata Stella. Ia kemudian membuka pintunya dan mempersilahkan Stella masuk.

“sayangnya aku memang belum memiliki pasangan. Tapi kau benar aku memang bukan pria yang bisa mengatur semuanya seindah ini. Ada sentuhan wanita tentunya”

“aku benar ternyata. Lalu siapa wanita itu?”

“ibuku” jawab Lay sambil tersenyum. Pria ini sering sekali tersenyum sehingga membuat Stella berpikir mungkin hobi Lay adalah tersenyum.

“oh, begitu ya. Apa beliau ada didalam?”

“tidak. Ibuku di Beijing sekarang”

Stella mengangguk-angguk mendengar jawaban Lay sampai akhirnya ia kembali menatap Lay tajam.

“jika ibumu ada di Beijing sekarang lalu bagaimana beliau bisa mengatur semua ini?”

video call? Aku harap kau tidak melupakan sekarang jaman sudah sangat canggih, Stella”

Stella menepuk keningnya pelan sebelum ia tertawa bersama Lay yang kembali merasa lucu dengan tingkah Stella.

“semua dekorasi ini ibumu yang mengaturnya?”

Lay mengangguk untuk menjawab pertanyaan Stella.

“semuanya tampak berbeda sekali”

“berbeda? Sepertinya kau tahu benar rumah ini”

Stella tersenyum kecut. “pemilik awal rumah ini dulunya berteman baik dengan orangtua ku. Dan anaknya berteman baik denganku”

“oh, jadi itu sebabnya taman belakang rumah ini tersambung dengan rumah kamu?”

“iya! Aku baru ingat soal taman itu. Apa kau mengubahnya?”

Lay tersenyum, untuk kesekian kalinya. “lebih baik kau melihatnya sendiri” kata Lay sambil berjalan mendahului Stella menuju taman yang dimaksud. Dan Stella langsung terkejut begitu sampai ditaman itu. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut taman itu.

“apa ada yang berubah?” pertanyaan Lay membuat Stella kembali sadar.

“tidak ada” kata Stella dengan tegas. “ini nyaris sama, Lay” lanjutnya antusias.

“baguslah” sahut Lay sambil tersenyum.

Stella menatap Lay dan tersenyum lembut. “terima kasih, Lay” ucapnya tulus.

Lay mengerutkan keningnya “terima kasih untuk apa?”

“untuk tetap mempertahankan taman ini. Taman ini sangat berarti untukku, Lay”

Bibir Lay kembali mencetak senyuman lembutnya. “aku hanya merasa perlu mempertahankannya. Karena aku merasa taman ini seperti selalu dirawat jadi tidak ada salahnya jika tetap mempertahankannya. Dan aku yakin yang merawatnya itu adalah kamu”

Stella tertawa mendengar kata-kata Lay. “tepat sekali. Apa kau peramal?” canda Stella.

“sayangnya tidak. Walaupun aku sebenarnya menginginkannya” balas Lay yang membuat Stella langsung tertawa dengan lepasnya.

“kau ingin minum teh?” tanya Lay begitu tawa Stella terhenti.

“boleh. Aku bisa meminta sesuai seleraku kan?”

“tentu saja boleh, tuan putri”

“jangan membuat kepalaku besar, Lay” kata Stella sambil mendaratkan sebuah pukulan halus dilengan kanan Lay. “es teh lemon saja, Lay”

as your wish, lady” kata Lay sambil bergaya seperti pelayan istana membuat Stella memutar bola matanya kesal dan hendak mencubit lengan Lay hanya saja pria itu sudah meloloskan diri ke dapur lebih dulu.

Stella masih menikmati taman dibelakang rumah Lay ketika Lay masuk dengan membawa dua gelas minuman yang akan menjadi pelengkap obrolan mereka disore hari itu.

“duduklah, Stella” kata Lay sambil memberi isyarat ke Stella agar duduk di kursi taman yang berada disitu. Stella mengangguk dan mengikuti kata Lay. Ia duduk menghadap ke arah matahari terbenam dan Lay duduk disampingnya.

“sayangnya aku lupa membeli cemilan” gumam Lay kemudian sambil menatap dua gelas minuman dihadapan mereka.

“aku punya kue kecil dirumah. Aku akan mengambilnya”

“oh tidak Stella, kau tamuku”

“tidak apa-apa, Lay. Lagipula aku punya banyak kue kecil dirumah. Aku sendiri bingung bagaimana caranya menghabiskan kue sebanyak itu. Aku akan sangat senang jika kau mau memakannya. Anggaplah sebagai hadiah selamat datang” tanpa menunggu persetujuan Lay, Stella langsung berlari menuju rumahnya dan secepatnya kembali sambil membawa setoples penuh kue kecil.

Stella meletakannya didepan Lay. Ia membuka penutup toplesnya dan menatap Lay. Sedangkan orang yang ditatapnya kini menatap kue-kue kecil didepannya dengan tatapan tidak percaya. Mungkin karena Stella membawa setoples penuh berisi kue yang hanya bisa didapatkan ketika natal tiba.

“cobalah Lay” bisik Stella sambil kembali duduk dikursi taman yang ditempati tadi.

Lay menatap Stella sejenak sebelum akhirnya ia mengambil satu kue dan digigitnya. Ia mengunyah dan mencoba merasakannya melihat dari ekspresinya saat menggigit kue itu.

“bagaimana?” tanya Stella. Dapat ditangkap kekhawatiran hadir diwajah Stella.

“enak! Ini sangat enak Stella. Aku seperti merasa ini musim dingin dan sebentar lagi natal akan tiba” jawab Lay antusias. Stella tersenyum lega melihat ekspresi Lay dan mendengar komentarnya.

“kau dapat kue seperti ini darimana? Bukankah susah mencari kue seperti ini di musim-musim seperti ini?”

“aku membuatnya” jawab Stella santai sambil menyeruput minumannya.

“kau? Kau sendiri yang membuatnya?” tanya Lay tidak percaya. Sedangkan orang yang ditanyainya hanya menatap Lay dengan kening berkerut.

“kau tidak percaya jika aku yang membuatnya?”

“emm, well. Kau tahu rasa kue ini sangat enak. Jadi aku tidak menyangka saja jika yang membuatnya adalah gadis sepertimu”

“kau terlalu meremehkanku, Lay. Kau tahu dalam waktu senggang yang tentu saja membosankan untukku semuanya aku habiskan untuk membuat kue. Maka dari itu dirumahku sangat banyak kue-kue kecil seperti ini yang membuatku harus memutar otak bagaimana untuk menghabiskannya”

“kau bisa menjualnya”

“kalau aku menjualnya tentu orang akan mengetahui dan mungkin akan ada beberapa orang yang akan mencari kueku. Dan ketika aku tak bisa membuat kue lagi karena tugas kuliah yang menumpuk itu tentu saja akan membuat mereka kecewa dan itu hal yang paling tidak aku inginkan”

Lay tertawa kecil mendengar penjelasan Stella. Setidaknya yang ada dipikiran Lay bahwa Stella adalah perempuan yang terlalu berpikir jauh kedepan walaupun sebenarnya apa yang dikatakannya memang benar.

“pria yang akan menikah denganmu nanti adalah pria yang beruntung” Stella mengerutkan keningnya mendengar perkataan Lay.

“kenapa seperti itu?”

“karena keahlianmu ini”

“kalau yang kau maksud adalah keahlianku membuat kue itu mungkin memang benar tapi bukankah kalian para pria lebih mencari wanita yang pintar memasak dibanding pintar membuat kue?”

Kali ini Lay yang mengerutkan keningnya. “memangnya kau tidak bisa memasak?” tanya Lay yang membuat Stella tertawa tidak jelas sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya.

“aku tidak bisa Lay” jawab Stella akhirnya dan jawaban Stella berhasil membuat Lay kembali menatapnya tidak percaya.

“kau tidak bisa memasak? Tapi kau justru pintar membuat kue?”

Stella menghela nafasnya pelan. Untuk kesekian kalinya ia mendengar pertanyaan itu lagi. “ya. Aku memang seperti itu” jawabnya pelan.

“ah, maafkan aku, Stella. Aku tidak bermaksud menyinggungmu atau apapun. Sungguh. Aku hanya…”

“aku tahu. Semua orang pasti akan berkata seperti itu jika mereka pertama mengetahuinya” jawab Stella yang kini sudah tertawa kembali.

“Apa kau tinggal dengan seseorang dirumah itu?”

“aku tinggal sendiri dirumah itu, lebih tepatnya di Korea. Ya, aku hidup sendiri di Negara ini”

“lalu selama ini bagaimana kau makan? Kau kan…”

“makanan cepat saji” jawab Stella sebelum akhirnya tertawa kembali sedangkan Lay kembali dibuat menatap Stella tidak percaya.

“jangan menatapku seperti itu, Lay. Itu akan membuat aku akan sangat mengasihani hidupku”

Mendengar perkataan Stella membuat Lay tersadar. Matanya melirik ke tempat lain berusaha menghindari Stella yang duduk dihadapannya. Tapi tiba-tiba ia menatap Stella kembali dengan kedua matanya yang berbinar.

“aku ingin membuat sebuah kesepakatan denganmu” kata Lay antusias. Kali ini kening Stella yang berkerut menatap Lay.

“kesepakatan apa Lay?”

“bagaimana kalau aku yang memasak makanan untukmu dan semua kue yang kau buat diwaktu senggangmu itu adalah untukku” kata Lay masih antusias.

Stella masih menatap Lay kali ini dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Lay punya ide seperti itu. Mereka baru saja berkenalan beberapa jam yang lalu dan sekarang Lay menawarkan kesepakatan yang seakan-akan mereka sudah berkenalan lama.

“kau keberatan?” tanya Lay lagi yang membuat Stella sedikit terperanjat.

“Lay, kau tahu kan jika aku membuat kue hanya pada waktu senganggangku sedangkan kau akan memasak untukku dan itu berarti pagi, siang dan malam kau akan memasakkan makanan hanya untuk aku? Lay, ini sangat….”

“itu tak mengapa kalau kau hanya membuat kue diwaktu-waktu senganggmu saja. Dan soal aku yang akan memasak untukmu bagaimana jika aku ganti dengan temani aku makan? Yah, mengingat kita berdua sama-sama tinggal sendiri”

Stella masih mencoba memikirkan saran Lay untuk yang kedua kalinya. Alasan Lay memang sangat masuk akal untuk Stella dan itu membuat Stella akhirnya menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.

“baiklah jika kau memaksaku” jawab Stella sedikit bercanda.

“terserah kau saja jika menganggapku memaksamu tapi sebenarnya ini untuk kita berdua. Yah, semacam simbiosis mutualisme

Stella tertawa kecil mendengar perkataan Lay. “kau orang yang menyenangkan Lay. Dan aku harap kita bisa terus bersahabat” kata Stella kemudian dan dibalas dengan anggukkan Lay dan tak lupa Lay juga menyunggingkan senyuman lembutnya.

 

2 thoughts on “You Don’t Know Love Part 1

  1. Tridha Aristantia berkata:

    jd tetangga baru stella itu Lay, wah harus’a Luhan tau secara Luhan kan kakak’a Lay tp kayak’a Lay belum ngasih kabar Luhan deh..
    hmm.ini bakal jd konflik..*pasang muka aka detektif*

    Lay~ baru kenal jg ma stella, udah sweet bgt sih :3

    sip ditunggu part 3 nyaaa, jangan lama2 ne hehehe :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s