LITTLE THING (CHAPTER 4)

 

Author                        : Tob @nadyamalifah

Genre                          : School life

Length                        : Multichapter

Rating                         : –

Main Cast                   : Kim Jong In

Oh Hayoung

Other Cast                  : You will find them

 

Author POV

“Mungkinkah Kau mengingatku Hayoung-a? Kuharap Kau mengingatku.” Lalu terasa getaran dari celanaku karena ulah ponselku.

From: Sulli.

Oppa, aku lupa memberitahumu. Hayoung Eonni yang ada di depan rumah kita katanya mengalami kecelakaan. Apakah kau sudah menjenguknya? Tempatnya berada di Seoul Hospital.

Kenapa Sulli baru mengatakannya sekarang. Tanpa membalas pesannya aku langsung bersiap-siap mengenakan jaket dan pergi ke Rumah Sakit.

Sesampainya disana aku langsung bertanya ke resepsionis ruangan Hayoung.

“365.”

“Gomawo.”

Aku pun langsung pergi ke ruangan tersebut. Sesampainya disana aku kaget karena selain kedua orang tua Hayoung, terlihat seorang namja yang sangat ku kenal.

Belum sempat aku memanggil namanya dia sudah menengok ke arahku dan tersenyum. Dilambaikan tangannya dan menyuruhku duduk di sampingnya. Sebelum duduk aku menyapa Tuan dan Nyonya Oh.

“Kyungsoo?”

“Bukankah kau Kai?”

“Hm.”

“Mengapa kau bisa ada disini?”

“Aku kembali.”

“Oh, begitu. Aku tadi di telpon orang tuanya untuk datang kesini.” Tutur Kyungsoo sebelum aku menanyakan alasannya berada disini.

“Bagaimana keadaan Hayoung? Apakah dia baik-baik saja?”

“kata Dokter kepalanya mengalami benturan yang cukup keras tapi selain itu luka dibadannya hanyalah luka-luka ringan.”

Kepalanya mengalami benturan yang cukup keras? Aku berharap ini hanyalah mimpi. Namun sayang ini bukanlah mimpi. Aku masih belum tahu mengapa Hayoung bias mengalami kecelakaan seperti ini. Aku pun berinisiatif untuk menanyakannya kepada Kyungsoo.

“Kyungsoo, mengapa Hayoung bisa mengalami kecelakaan?”

“Entahlah aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja Nyonya Oh menelponku.”

Tuan dan Nyonya Oh izin pulang dahulu karena mau mengambil barang-barang yang diperlukan untuk menginap. Aku berinisiatif untuk menjaga Hayoung namun sepertinya mereka sudah memberikan amanat kepada Kyungsoo. Jujur aku merasa cemburu. Tapi tetap saja aku akan menunggu Hayoung sampai dia bangun.

 

 

Kyungsoo terus saja duduk di kursi pinggir Hayoung, aku juga ingin melakukannya namun tidak mungkin jika aku harus mengusir Kyungsoo. Itu adalah ide yang sangat buruk. Yang kulakukan hanyalah menghadap jendela dan melihat orang yang berlalu lalang sambil sesekali mengecek keadaan Hayoung. Satu jam lagi jadwal besuk sudah habis, aku masih ingin disini tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya karena Kyungsoo.

Kulihat Hayoung untuk yang entah keberapa kalinya dan tiba-tiba terlihat tangannya bergerak pelan. Kulihat Kyungsoo yang ternyata sama-sama menyadarinya. Aku langsung menghampiri Hayoung sedangkan Kyungsoo pergi keluar memanggil dokter. Tidak lama kemudia dokter pun dating dan mengecek keadaan Hayoung yang sudah cukup sadar.

“Nona Hayoung cukup baik, tapi dia masih perlu dirawat di rumah sakit sekitar 2-3 hari.”

Setelah Dokter itu pergi aku langsung menghampiri Hayoung. Ingin kutanyakan kenapa dia bisa berakhir seperti ini tapi aku akan menjadi jahat jika melemparnya dengar pertanyaan-pertanyaan yang cukup berat.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Kyungsoo.

Hayoung mengangguk.

“Istirahatlah yang cukup, kau pasti akan segera pulang.”

Hayoung tersenyum.

Sepertinya Hayoung tidak menyadari keberadaanku. Kuputuskan untuk pulang tanpa berpamitan terlebih dahulu. Namun gagal, Kyungsoo memanggilku.

“Kau mau kemana?”

Kulihat wajah Hayoung yang kebingungan.

“Aku mau pulang, kau baik-baik saja kan Hayoung-a?”

Wajah Hayoung masih terlihat bingung. “Kau siapa?”

 

 

Aku terkejut, kuhampiri Hayoung dan bertanya kepadanya.

“Hayoung-a kau tak mengingatku? Aku Jongin.”

Terlihat wajah Kyungsoo yang kebingungan. Selama ini Kyungsoo hanya tahu namaku Kai bukan Jongin.

“Aku benar-benar tak mengingatmu. Oppa dia siapa?” tanyanya kepada Kyungsoo.

Umurku dengan Kyungsoo memang beda satu tahun tapi aku enggan memanggilnya hyung, aku lebih menyukai memanggilnya tanpa embel-embel hyung.

“Hayoung-a kau tak mengingatnya?”

Hayoung menggelengkan kepala.

Kyungsoo langsung berinisiatif memanggil dokter.

“Sepertinya, benturan keras yang terjadi dengan kepala Nona Hayoung membuatnya amnesia. Namun amnesia ini akan sembuh dalam kurun waktu 2-3 bulan.” Tutur Dokter.

“Ah, gomawo.”

 

Jadi, sekarag Hayoung amnesia dan tidak mengingatku. Aku cukup sedih, namun tidak mungkin kukeluarkan air mata ini dihadapan Hayoung. Aku hanya tersenyum.

“Kyungsoo, Hayoung. Aku pamit duluan, sepertinya dongsaengku membutuhkanku. Annyeong. Cepat sembuh Hayoung-a.”

Aku berbohong, Sulli tidak mungkin membutuhkanku. Dia sedang berkencan dengan Sehun, mana mungkin bocah itu membutuhkanku. Aku hanya tidak ingin berlama-lama bersama dia dan terus merasakan sakit. Jadi, bukankah lebih baik jika aku berinisiatif untuk pulang duluan?

 

Kyungsoo POV

Kulihat Kai atau Jongin atau siapapun namanya. Dia tersenyum tapi tampak jelas dari matanya jika ia bersedih gara-gara Hayoung tidak mengingatnya.

“Hayoung-a, apa kau benar-benar tidak mengingatnya?”

Hayoung tidak menjawab pertanyaanku, melainkan ia sibuk melamun.

“Hayoung-a”

Dia masih belum bergeming. Kupanggil sekali lagi sambil mengibaskan tanganku dihadapannya.

“Hayoung-a…”

Dia terkejut. Lalu tersenyum.

“Ne, oppa? Waeyo?”

Kuulang pertanyaanku tadi. “Apa kau benar-benar tidak mengingat namja tadi?”

“Hm.”

“Hayoung-a..”

“Iyah oppa, aku tidak mengingatnya.”

Kulihat lagi dia. Wajahnya mirip namja tadi Kai. Dia tersenyum tapi matanya tampak bersedih. Ada apa dengan mereka berdua. Aku benar-benar tidak mengerti.

“Hayoung-a, apa kau lapar?”

“Tidak, oppa. Gomawo.”

“Hm. Baiklah.”

“Oppa…”

“Hm?”

“Sebenarnya…”

 

Jongin POV

 

Setelah pergi ke rumah sakit aku tidak langsung menuju ke rumah, melainkan ke taman. Bodoh sekali disaat yang seperti ini pergi ke taman. Di taman, kulihat orang yang sedang berpacaran. Walaupun tidak semuanya berpacaran tapi orang yang berpacaran lebih dominan terlihat di mataku. Namun yang membuatku terlihat bodoh, bukanlah karena dikelilingi orang yang berpacaran melainkan anak-anak kecil yang sedang bermain. Mereka mengingatkanku kepada Hayoung ketika kami pertama bertemu. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Terlebih ketika mengingatnya jika dia lupa padaku benar-benar sakit.

 

“Jongin!”

Terdengar suara seseorang memanggilku. Kutengokkan kepalaku ke arah sumber suara. Lalu, terlihat Hyeri dan dayang-dayangnya muncul.

“Annyeong, Jongin.”

“Hm”

“Apa yang kau lakukan disini sendirian?”

“Hanya bersantai saja, kau?”. Sebenarnya aku malas bertanya kepadanya, namun aku harus menjaga tata karma.

“Mencarimu.”

“Oh.” Aku cukup kaget dengan jawabannya. Apa maksudnya mencariku? Tapi aku tidak mau bertanya dan memperpanjang percakapan.

“Jongin, ayo kita jalan-jalan.”

“Hm, maaf. Sepertinya aku harus segera pulang. Annyeong Hyeri. Annyeong semuanya.”

Tanpa menunggu jawabannya aku langsung pergi bergegas mendekati motor sport merah kesayanganku dan pergi dari hadapan Hyeri serta dayang-dayangnya.

 

Still Jongin POV

Aku berhasil kabur dari hadapan Hyeri dan dayang-dayangnya. Sekarang aku sudah berada di depan toko bunga. Kuparkirkan motorku di depan toko tersebut dan mulai memasuki toko tersebut.

 

Di dalam toko, terdapat banyak sekali pilihan bunga. Aku bingung mau membeli yang mana, sampai kuputuskan untuk membeli benih dan seikat mawar merah.

Flashback on

“Ya! Kai!”

“Wae?”

“Kau boleh mengambil barang-barangku asal jangan mawar merah itu!”

“Kenapa? Apa istimewanya bunga mawar ini? Ini hanyalah setangkai mawar!”

“Kau…”

Hayoung kecil mulai menangis ketika Kai kecil membuang mawar merah itu secara sembarangan. Kai kecil kebingungan, dia pun menghampiri Hayoung dan meminta penjelasan.

“Hayoung-a..waeyo?”

“Kau jahat!”

“Aku benci kau!”

Hayoung pun berlari ke rumahnya sambil menangis. Kai kecil yang tidak tahu apa-apa kebingungan dan merasa bersalah. Tanpa piker panjang, dia langsung pergi menyusul Hayoung dan meminta penjelasan.

“Hayoung-a….”

“Pergi! Aku tidak mau berbicara denganmu!”

“Hayoung-a, maafkan aku…”

“Pergi!”

“Aku tidak tahu salahku apa, tapi aku menyesal. Tolong maafkan aku.”

Hujan mulai turun tapi Kai kecil tidak beranjak dan terus berdiam diri di depan halaman rumah Hayoung. Hayoung awalnya tidak perduli, namun lama-kelamaan dia kasihan juga dengan Kai. Tak lama kemudian, Hayoung mengambil sehelai handuk dan memberikannya pada Jongin.

“Pakailah, lalu segera kembali ke rumah. Aku memaafkanmu dan akan menjelaskannya besok.”

“Shiro, aku ingin mendengarnya sekarang.”

“Kau basah kuyup Kai.”

“Jelaskanlah sekarang Hayoung-a..”

“Hm, baiklah. Ayo masuk ke rumahku.”

Kai mengikuti Hayoung masuk ke rumahnya.

“Keringkanlah badanmu, dan pakai saja ini pakaian Appaku. Itu lebih baik dibandingkan kau kedinginan. Kau bisa mengembalikannya kapan saja.”

“Ne.”

Kai bergegas ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Sedanngkan Hayoung sibuk membuat coklat panas.

Tak lama kemudian Kai dating dengan menggunakan pakaia kelonggaran. Hayoung tertawa, namun dalam sekejap tertawanya lenyap ketika melihat wajah masam dari Kai.

“Baiklah, sekarang jelaskan padaku kenapa kau tadi marah padaku.”

“Hm, jadi begini. Aku marah karena kau membuang begitu saja bunga mawar merahku.”

“Memangnya kenapa, apa istimewanya bunga mawar itu?”

“Kau…”

Hayoung sudah mulai menangis tapi dia mencoba menahannya.

“Aku menanam bunga ini sendiri dan akan memberikannya kepada teman dekatku suatu saat nanti jika bunga ini tumbuh indah. Namun ada seorang namja yang mengambilnya lalu membuangnya begitu saja.” Tutur Hayoung diakhiri senyuman.

Kai merasa bersalah.

“Maafkan aku Hayoung-a.”

“Tidak apa-apa, aku tahu kau tidak sengaja. Tak usah dipikirkan.”

“Aku benar-benar minta maaf.”

“Hm. Lebih baik kita minum coklat panas ini.”

“Baiklah.”

Flashback off.

 

Still Jongin POV

Sesampainya dirumah, aku langsung pergi ke kamar dan menanam benih bunga mawar yang baru saja kubeli. Kutanam dengan sepenuh hati karena mawar ini kelak akan kuberikan kepada orang yang kucintai. Kuharap kaulah orangnya Hayoung-a.

Baru saja kuselesaikan kegiatan menanamku, datanglah dongsaengku dengan tidak sopan.

 

Sulli POV

“Oppa!!!”. Teriakku.

“Ya! Bukankah lebih baik jika kau mengetuk pintu terlebih dahulu.”

“Aku sudah mengetuknya beberapa kali tapi oppa tidak menjawabnya jadi kuputuskan secara sepihak untuk membukanya. Memangnya apa yang sedang oppa kerjakan? Sepertinya serius sekali.”

“Hm, bukan apa-apa.”

Terlihat sekali jika Jongin Oppa sedang berbohong. “Oppa…”

“Hm, baiklah. Aku sedang menanam benih bunga mawar. Puas?”

“Ani, aku belum puas. Memangnya untuk apa kau menanam benih itu?”

“Entahlah, mungkin aku akan memberikannya kepada seseorang. Kelak.”

Dari kata-katanya, terlihat sekali bahwa dia sedang senang karena akan memberikan bunga kelak kepada seseorang, tapi matanya mengatakan sebaliknya. Dia tampak sedang bersedih.

“Oppa…kuharap kau akan segera menemukan seseorang itu.”

“Gomawo Sulli-ya. Sepertinya aku sudah menemukannya, tapi seseorang itu belum menemukanku.”

Aku bingung dengan perkataan Oppaku ini. Karena aku tidak mengerti arah pembicaraan ini maka kuputuskan untuk bertanya tentang Hayoung Eonni.

“Oppa…apakah Kau sudah menjenguk Hayoung Eonni?”

“Sudah.”

“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?”

Ups. Sepertinya aku salah mengucapkan sesuatu, karena setelah aku bertanya tentang keadaan Hayoung Eonni Oppa langsung menghembuskan nafasnya.

“Waeyo Oppa?”

“Aniyo. Hayoung Eonni baik-baik saja. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Dia mengalami amnesia.”

 

Setelah aku mengetahui kabar jika Hayoung Eonni amnesia aku cukup kaget. Terlihat juga dari cara Oppa mengatakannya jika dia mengalami kesedihan yang mendalam. Walaupun Oppa tidak mengatakannya, aku dapat mengetahui jika Jongin Oppa menyukai Hayoung Eonni. Ani, bahkan mungkin mencintainya.

Tanpa basa-basi aku langsung pergi ke Seoul Hospital diantar oleh Sehun Oppa. Aku tidak mau mengganggu Jongin Oppa dan mengantarkanku. Sepertinya diantarkan Sehun Oppa akan lebih baik.

Setelah berpamitan dan berbohong jika aku harus mengantar Sehun Oppa membelikan barang aku pun pergi bersama Sehun Oppa.

 

“Chagiya, kenapa kau berbohong kepada Oppamu?”

“Aku tidak mau Jongin Oppa tahu jika aku mengunjungi Hayoung Eonni.”

“Waeyo?”

“Kata Jongin Oppa, Hayoung Eonni mengalami amnesia dan sepertinya dia lupa terhadap Jongin Oppa. Maka bisa ditebak jika Jongin Oppa tidak bisa menerima ini semua.”

“Benarkan?”

“Hm.” Aku mengangguk.

“Selama ini aku baru tahu jika Jongin dapat dikalahkan oleh seorang wanita.”

“YA! OPPA!”

“tenanglah chagiya, aku hanya bercanda.”

 

Tak lama kemudian, kami sampai di Seoul Hospital. Kami langsung menuju ruangan 365 setelah bertanya langsung ke resepsionis. Sebelumnya kami sudah membeli buah-buahan dan makanan yang biasa dibawa orang untuk menjenguk pasien yang sakit.

“Oppa, apa yang harus kukatakan nanti? Jika Hayoung Eonni tidak mengingat Jongin Oppa bagaimana ia bisa mengingatku?”

“Aish, kau yang mengajakku kesini. Aku juga tidak tahu harus berkata apa.”

“Oppa, kau tak bisa diandalkan.” Lalu Sehun Oppa mendengus kesal.

 

Sesampainya di depan pintu ruangan 365 aku dan Sehun Oppa mengetuk lalu menggeser pintu ruangan tersebut. Terlihat Hayoung Eonni, seorang namja, serta Tuan dan Nyonya Oh.

“Annyeong haseyo. Sulli imnida dan ini Sehun Oppa.”

“Annyeong.” Jawab semua orang yang ada di ruangan.

“Oh, kau Sulli adiknya Jongin?” Tanya seorang namja bermata bulat yang berada di kursi dekat kasur Hayoung Eonni.

“Ne. Annyeong.” Jawabku sambil tersenyum.

“Kemarilah.”

“Ne, gomawo.”

Sehun Oppa duduk disamping namja bermata bulat tadi, sedangkan aku menghampiri Tuan dan Nyonya Oh serta Hayoung Eonni.

“Annyeong, Sulli.” Sapa Hayoung Eonni.

“Annyeong, apakah Eonni mengingatku?”

“Maafkan aku…” Jawab Hayoung Eonni tertunduk.

Aku merasa bersalah karena langsung bertanya seperti itu.

“Eh, tidak apa-apa Eon. Kita bisa memulai berkenalan dari awal lagi. Lagian rumahku dan rumah Eonni cukup berdekatan.”

Hayoung Eonni hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Ya, Eonni.” Jawabku tersenyum.

 

Setelah bercakap-cakap cukup lama, aku pun berpamitan kepada keluarga Oh dan namja bermata bulat yang ternyata bernama Kyungsoo. Kyungsoo Oppa.

“Terima kasih untuk hari ini, Sulli-ya.” Kata Hayoung Eonni.

“Kembali kasih, Eonni. Annyeong.”

Aku dan Sehun Oppa pun pamit sambil membungkukkan badan.

 

Di perjalanan pulang aku terpikirkan sesuatu. Kutanyalah hal yang janggal di kepalaku kepada Sehun Oppa.

“Oppa, mungkinkah…..”

 

To be continued.

Annyeong! Mian, post chapter ini lama banget. Banyak keperluan mendadak yang membuat chapter ini lama sekali di post-nya. Sekali lagi maaf banget. Tapi semoga saja kalian suka dengan chapter ini, setelah ini chapternya bakal end dan aka nada sesuatu yang terungkap. Sepertinya kalian sudah tahu hal yang menyakitkan yang akan terungkap itu(?) Selamat menunggu^^ Terima kasih juga buat kalian yang sudah ngasih komentar-komentar. Benar-benar membangun banget. Gomawo❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s