The Lords Of Legend (Chapter 16)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Luhan akhirnya membawa Sehun menuju sebuah café yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Duduk bersama menemani pria yang masih merasa kesal itu, Luhan baru mengetahui jika dia sama sekali tidak menyukai kopi. Dia hanya memesan coklat panas yang daritadi belum juga disentuh olehnya.

“Aku sudah menjauhi wanita itu sesuai permintaanmu.”seru Luhan mengaduk-aduk kopinya. “Aku bahkan tidak bersikap ramah padanya.”

Sehun mengalihkan pandangannya dari luar jendela kaca kearah Luhan. “terima kasih.”serunya pendek. “Tapi itu tidak ada gunanya lagi sekarang.”

“Sepertinya masalahmu dengan Ilhoon adalah masalah yang serius.”

“Aku tidak punya masalah apapun dengannya. Dia sahabatku.”

Luhan mengangguk, sepertinya dia memang harus berhati-hati jika membicarakan Ilhoon didepan Sehun.

“Yang ku tau, Ilhoon bukan orang yang buruk. Hanya dipaksa seperti itu.” Luhan berdehem sesaat, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu menatap Sehun lurus. “Sebaiknya kau ajak bicara Ilhoon lain kali. Aku rasa kalian membutuhkannya.”

“Aku ragu jika dia menyetujuinya.”balas Sehun menghela napas panjang. “Pengaruh Ravi sangat kuat, aku bahkan tidak bisa menjangkaunya. Harusnya tadi, aku tetap bertahan duduk disampingnya, bukan kembali.”

“Lalu bagaimana dengan Minhyuk?”

Sehun menatap Luhan dengan kening berkerut, “kenapa dia? Aku dan Minhyuk mulai kenal karena dia dulu sempat berada di timku. Kami tidak begitu dekat. Menjadi dekat karena dia menjadi teman sebangkuku sekarang.”

Luhan tertawa mendengus, “tsk, kau bilang kau tidak akan meninggalkan sahabatmu tapi kau mengatakan hal itu dengan mudah.”

Mata Sehun melebar, baru tersadar akan sesuatu. “Kau menggunakan kekuatan pikiranmu?”

“Tidak sengaja. Aku hanya mendengar sedikit.” Luhan buru-buru meralat sebelum tertuduh. “Minhyuk tidak pernah meninggalkanmu, kan? Saat kau mengalami situasi yang sulit akhir-akhir ini, dia selalu ada untukmu. Jangan lupakan itu.”

Sekali lagi Sehun menghela napas panjang, kepalanya tertunduk lemas. Luhan benar, Minhyuk juga selalu ada untuknya. Walaupun dalam jangka waktu yang teramat singkat. Dan yang paling penting, Minhyuk mengajarinya tentang keberanian. Keberanian untuk menghadapi kenyataan dan tidak lari lagi.

Saat kepalanya terangkat, ia menatap Luhan dengan pandangan serius. “Beritahu aku letak kotak Pandora itu.”

Tangan Luhan yang terangkat ingin menyeruput kopinya tiba-tiba terhenti setelah mendengar ucapan Sehun barusan. Matanya melebar.

Awal baru telah dimulai.

***___***

Luhan buru-buru menepikan mobilnya saat ia dan Sehun telah memasuki kawasan apartement mewah yang telah disewa oleh para dewa. Senyumnya terus merekah lebar, tidak sabar mengabarkan berita gembira ini pada teman-temannya yang lain.

Luhan menarik lengan Sehun sembari berlari menuju lift, membuat Sehun sedikit terseret akibat cengkraman Luhan yang terlalu kuat memegang lengannya. Namun ia sama sekali tidak menolak, terus mengikuti kemana Luhan pergi tanpa mengeluarkan suara apapun.

Sesampainya di apartementnya, Luhan langsung menerobos masuk. Membuat Chanyeol, Baekhyun, dan Chen yang sedang menonton tv terkejut mendengar suara derap langkah Luhan.

“Hey, ada apa?”seru Baekhyun langsung menoleh ke belakang dan terkejut saat melihatnya datang bersama Sehun.

Mendengar nama Sehun disebut, Lay langsung meninggalkan dapur dan bergabung di ruang tamu. “Sehun? Kau datang?” ia tersenyum lebar.

“Mau apa kau kesini?” namun respon yang berbeda datang dari Kai. Pria berkulit gelap itu keluar dari kamarnya dengan ekspresi tidak menyenangkan.

“Kai, jangan mulai lagi.”ujar Luhan, menatap sengit Kai.

“Yah yah yah, barbie Luhan.”

“Dan berhenti memanggilku, Barbie!”balas Luhan cepat.

Odin… Zeus… aku punya kabar baik untuk kalian.” Buru-buru ia membenarkan ucapannya. “Ah, tidak. Bukan hanya untuk kalian tapi semuanya.”

“Kenapa? Kenapa kau terlihat begitu senang?”tanya Tao bingung.

“Kita menemukan dewa Ares! Sehun bilang, dia akan bergabung dengan kita. Dia akan pergi ke negeri Langit!”

“APA?!” Baekhyun dan Chen menjerit nyaring. Sedangkan Lay langsung berlari kearah Sehun dan menatapnya dengan mata berbinar.

“Sehun benarkah? Kau akan ikut?”

Sehun mengangguk kikuk, “yeaah, aku sudah memutuskannya.”

“Aaaah aku senang sekali. Benar-benar senang. Terima kasih.”

“Kotak Pandora pada awalnya adalah milik Pandora, seorang manusia yang diciptakan sangat cantik dan mempesona. Saat dia menikah dengan Epimetheus, para dewa dan dewi memberikannya banyak hadiah. Salah satunya kotak itu. Tapi, Pandora sudah diperingatkan untuk tidak membukanya karena kotak itu sangat berbahaya. Tapi, karena rasa penasarannya yang begitu besar, akhirnya dia membukanya dan menyadari jika ulahnya telah menimbulkan kekacauan besar di dunia.”

Kening Sehun berkerut menatap Suho, “kekacauan?”

“Masa tua, keserakahan, kecemburuan, wabah penyakit dan lain-lain. Dia telah membebaskan rasa-rasa itu.”jelas Suho menatap kelangit yang terlihat dari jendela kaca apartement mereka. “Ternyata, masih ada satu rasa yang belum keluar. Dan saat dunia sudah berada diambang kehancuran, Kronos menyuruh seorang dewa untuk membuka kotak itu kembali.”

“Apa itu?”

“Harapan. Harapan keluar dan menyelamatkan dunia.”jawab Suho. Matanya masih menerawang jauh keatas. “Dan saat gumpalan dirimu turun kebumi, kotak itu menghisap salah satu bagian untuk mengisi ruangnya yang kosong. Yaitu kekuatan dan aura dewamu. Kau tidak akan bisa merasakannya sebelum kau menemukan kotak itu.”

Sehun menelan ludah, “lalu dimana kotak itu?”

“Kotak itu telah jadi milikmu sekarang. Tidak akan berada jauh darimu. Hanya saja, kau perlu merasakannya.”

“Jika aku sudah menemukannya, apa aku akan mempunyai kekuatan?”

Suho memalingkan wajahnya, rautnya gelisah menatap Sehun bersamaan dengan helaan napasnya yang terdengar berat.

“Sehun, sebenarnya aku sangat mengkhawatirkanmu.” Suho menatap Sehun sungguh-sungguh membuatnya sebenarnya risih dengan tatapan seperti itu. “Tidak hanya sisi positif tapi sisi negatif juga ada di dalam kotak itu. Aura dewamu terkunci di dalam sana, aku takut jika sisi negatif lebih mendominasi dan mengubahmu menjadi kebalikannya.”jelas Suho. “Aku dan Kris memberikanmu rasa haus darah dan kekeras kepalaan, dan itulah yang ku sesali. Aku mulai melihatnya dalam dirimu sekarang. Aku khawatir kau tidak bisa menguasai dirimu sendiri dan berubah menjadi dewa jahat.”

“Maksudmu? Hahaha.. aku adalah anak yang baik.”

“Kau memang anak yang baik. Tapi kau akan berubah bengis saat seseorang menyakiti orang-orang yang kau sayang. Contohnya kemarin, saat Kai mengatakan sesuatu yang buruk tentang ibumu.”

“Hey, wajar jika aku marah. Aku tidak akan membiarkan siapapun berbicara hal yang buruk tentang ibuku.”sengit Sehun membuat Suho kembali melihat sisi keras kepalanya itu.

“Itulah masalahnya. Jika sisi negatif itu lebih dominan, saat kau telah menemukan kotak Pandora itu, aura dewamu justru bisa mengubah dirimu sendiri.”

“Kenapa sangat rumit? Kalian bilang aku hanya harus menemukannya dan pergi ke Negeri Langit.”

“Berjanjilah padaku untuk belajar menguasai dirimu sendiri. Jangan bertindak gegabah dan temperamental. Kau harus bisa melawan jika aura dewamu benar-benar negatif.” Suho menghela napas panjang. “Tapi walau bagaimanapun, aku tetap berharap hasilnya selalu positif.”

***___***

Kai terus menggerutu saat Suho dan Kris bersikeras menyuruhnya untuk mengantar Sehun pulang. Sehun juga sudah menolaknya dan mengatakan jika dia akan pulang sendiri tapi Lay dan Baekhyun juga memaksanya agar dia pulang bersama Kai. Tujuan mereka hanya satu, ingin mengakrabkan keduanya.

“Aku tidak akan mengucapkan terima kasih karena aku tidak pernah memintamu untuk mengantarku.”sengit Sehun begitu keduanya telah sampai didepan kios, setelah melewati perjalanan yang terasa panjang dan membosankan karena keduanya tidak bicara satu sama lain.

“Kau pikir aku mau?”balas Kai tidak terima.

“Oe? Kai? Bukankah kau adalah Kai?” sebuah suara terdengar dari samping. Sehun dan Kai melihat Taeyeon muncul dari balik pagar rumah dengan membawa beberapa pot ditangannya. “Kalian pulang bersama? Mana saudaramu yang lain? Kenapa kalian tidak pernah kemari lagi?”

Kai hanya tersenyum tipis, masih tetap duduk di mobilnya.

Oema, ayo masuk. Dia akan segera pulang.” Sehun mendorong punggung Taeyeon dan memaksanya agar masuk ke dalam rumah kembali.

Namun Taeyeon menepis tangan Sehun pelan, ia menghampiri mobil Kai dan membungkuk sejajar dengan kaca mobil. “Kai-yaa, masuklah. Kebetulan aku membuat bulgogi.”

Ekspresinya yang pada awalnya terlihat dingin, langsung menoleh saat mendengar kata ‘bulgogi’. Matanya melebar, berbinar seperti anak kecil yang sedang melihat mainan kesukaannya.

“Bulgogi?”

Taeyeon mengangguk. “Kau menyukainya, kan? Ayo masuk dan makan dulu.”

Tidak memerlukan waktu untuk berpikir, Kai langsung melompat keluar dari mobilnya. Mengikuti langkah Taeyeon yang bergegas memasuki rumah. Setelah melihat ibunya telah menghilang di balik pagar, Sehun langsung menghadang langkah Kai sambil berkacak pinggang.

“Bukankah kau akan segera pulang?”ketusnya, salah satu alisnya terangkat menatap Kai.

“Minggir. Aku mau masuk.”

“Tidak boleh.” Sehun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, melarang Kai masuk ke dalam rumahnya. “Cepat pulang. Jangan masuk ke rumahku.”

“Hey, jangan bercanda. Minggir!”

“Park Sehuuuuun! Apa yang kau lakukan?!” teriakan Taeyeon terdengar dari dalam rumah membuat Sehun seketika menciut. Sedangkan Kai tersenyum penuh kemenangan. Ia mendorong pelan tubuh Sehun, mencibir, lalu masuk ke dalam rumah.

***___***

Sehun melihat kepribadian Kai yang berubah 180° saat ia menghadapi bulgogi dan ayam goreng yang dihidangkan oleh Taeyeon untuknya. Ternyata tidak hanya bulgogi, pria itu juga sangat menyukai ayam goreng. Sehun bahkan harus bergerak cepat untuk mengambil beberapa.

Selain mampu berteleportasi, sepertinya dia juga mempunyai kelebihan untuk melahap dua ayam goreng sekaligus tanpa mengunyah.

“aaah enak sekali. Benar-benar enaak.” Setelah berhasil menghabiskan seluruhnya, Kai menunjukkan ibu jarinya pada Taeyeon sambil tersenyum lebar.

“Benarkah? Aku senang karena kau makan sangat banyak.”balas Taeyeon lembut.

“Apa oema tidak bisa membedakan antara makan banyak dan rakus? Dia sangat rakus!”cibir Sehun, mulai merapikan meja makannya. “Cepat bantu aku. Setelah makan, kau harus cuci piring.”

Kai menatapnya bingung, “Ha? Cuci piring?” buru-buru ia menggeleng. “Aku tidak bisa.”

“Lalu kau akan pergi begitu saja setelah menghabiskan semua ini? Apa itu tidak terlihat seperti kau sedang merampok kami?”

“Oke. Baiklah. Ajari aku bagaimana caranya, aku akan membantumu.” Kai akhirnya berdiri, membantu Sehun mengangkat piring dan mangkuk menuju wastafel, dimana mereka harus mencuci semuanya.

“Kau hanya perlu membilasnya, biarkan aku yang menyabuni. Oke?”seru Sehun sambil memberikan sarung tangan plastik pada Kai. Saat ia melihat ekspresi Kai yang terlihat sama sekali tidak mengerti, ia menghela napas panjang. “Putar kerannya, dan lakukan seperti ini.”

Akhirnya Kai mengangguk, “Ah, aku mengerti.” Setelah ia melihat hal yang dicontohkan oleh Sehun.

Keduanya mulai terlihat sibuk. Mulai terlihat bekerja sama untuk membereskan semuanya. Dari belakang, mereka terlihat seperti saudara sekandung dengan postur tubuh yang hampir sama.

Sesekali, terdengar suara Sehun yang mengomeli Kai karena ia mencipratkan air ke wajahnya. Sesekali juga, Kai yang berteriak pada Sehun karena sudah mengolesi sabun di wajahnya.

“Selesaaaai!”seru Kai senang, menatap susunan piring yang sudah ia susun rapi dengan mata berbinar.

Taeyeon menghampiri keduanya, berdiri disamping Kai dan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Kai. “Anak baik. Terima kasih karena kau sudah membantu Sehun merapikan semuanya.”

Kai tersentak, seketika menoleh dengan mata melebar. Untuk sesaat, tubuhnya membeku karena sentuhan tangan Taeyeon yang menghusap-husap kepalanya. Membuatnya tanpa sadar membungkuk, menginginkan tangan itu terus berada di kepalanya.

“Jangan lupa bawa kimchi yang sudah aku bungkus untuk saudara-saudaramu, arasseo?

Taeyeon tersenyum lembut, bergegas berbalik pergi namun tersentak saat tangan Kai tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Kai-yaa, ada apa?”tanya Taeyeon bingung.

Kai masih terdiam, terus menggenggam tangan itu dengan pikirannya sendiri. Ternyata seperti ini sentuhan seorang ibu. Lembut dan hangat. Membuat siapapun bisa merasa nyaman dan ingin terus tinggal.

Dia sangat sadar, bahkan sangat mengerti jika dia memang berbeda. Dia diciptakan oleh Suho dan Kris. Tanpa ayah dan tanpa ibu. Hanya mengetahui tentang arti seorang ibu lewat buku yang pernah dibacanya. Semuanya menyatakan jika ibu adalah sosok yang hebat, membuatnya dalam hati ingin memilikinya juga.

Disampingnya, Sehun menatap Kai dengan senyuman samar. Dia mengerti, sosok keras kepala itu butuh kasih sayang. Walaupun dia tidak mengerti tentang kehidupan di negeri Langit, tapi dia yakin jika seorang dewa sekalipun juga punya perasaan.

Kai buru-buru menghusap matanya dengan lengan baju lalu tertawa kecil memandang Taeyeon. “Bolehkah aku membantu Sehun menutup kios?”

“T-tentu saja boleh.” Taeyeon menatap Kai bingung.

“Baiklah. Aku akan menutupnya sekarang.”

Sehun tersenyum tipis, menatap punggung Kai hingga tidak terlihat lagi. Lalu menepuk salah satu pundak Taeyeon yang masih bingung dengan prilaku Kai.

“Sebaiknya oema istirahat sekarang. Aku akan menutup kios.”

***___***

Sehun dan Kai bersama-sama membereskan kios bunga Taeyeon. Membawa masuk pot-pot yang terjejer diluar dan menyirami bunga-bunga yang terlihat kering.

“Bagaimana ayam goreng buatan ibuku?” Sehun berbasa-basi menyapa Kai yang sedari tadi hanya diam sambil menyirami bunga-bunga mawar.

Kai menoleh sekilas, “Sangat enak.”jawabnya datar.

“Benarkah? Semua masakan ibuku memang sangat enak.” Sehun berucap bangga, tersenyum lebar walaupun Kai masih terus memunggunginya.

“Hey Sehun.” Akhirnya Kai berbalik, menunduk, menatap Sehun yang sedang berjongkok menyirami bunga-bunga yang terjejer di lantai. “Uang atau ibumu, yang mana yang akan kau pilih?”

“Tentu saja ibuku.”

“Kenapa tidak berpikir dulu? Kau yakin? Bukankah kau sangat membutuhkan uang?”

Sehun tertawa kecil, “ibuku lebih berharga daripada uang.”

Kai nyaris terganga mendengar jawaban Sehun yang tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. Benarkah? Apa ibunya seberarti itu? Bahkan kemarin dia berani memukulnya. Apa waktu itu Sehun sama sekali tidak sadar siapa yang sedang dia hadapi? Kai bisa saja membunuhnya saat itu juga jika Baekhyun tidak menahannya.

“Hey, aku pikir aku mulai mengerti kenapa kau bersikeras untuk membawa ibumu pergi.”

Sehun mendongak, menatap Kai dengan kening berkerut.

“Aku mulai menyukai sentuhan itu. Aku suka jika seseorang menghusap kepalaku seperti tadi.” Kai tersenyum kecil – tidak menatap Sehun –

Sehun berdiri, lalu menghampiri Kai dan menepuk salah satu pundaknya. “Jika kau mau, kau juga bisa menjadi anak ibuku.”

Mata Kai membulat, “hah?!”

“Yeaaah, walaupun aku yakin mempunyai saudara seperti kalian pasti terasa menyebalkan. Tapi aku rasa ibuku juga mulai menyukai kalian.”

“Sehun, kau sungguh-sungguh?!” Dia melepaskan botol semprotan air yang dia pegang dan mencekal kedua bahu Sehun. “Aku boleh jadi anak ibumu?! Aku boleh punya ibu?!”

“Hey, apa yang kau lakukan?” Sehun menepis tangan Kai lalu berbalik sambil berucap. “Jangan senang dulu. Aku memperbolehkan kalian bukan berarti kalian bisa seenaknya nanti. Aku hanya—“

Tiba-tiba Kai memutar tubuh Sehun dan memeluknya erat-erat, membuat Sehun sangat tersentak dengan tindakannya. “Terima kasih. Aku sangat berterima kasih. Aku mau punya ibu. Aku akan menjadi anak yang baik. Aku juga akan menjaganya dan menjagamu.”

“Ya ya ya, lepaskan aku. Kenapa kau memelukku? Lepaskan aku!”

Namun Kai seperti tidak mendengar sama sekali, “terima kasih, Sehun. Aku sangat senang.”

Mengintip dari balik tembok kios, Taeyeon menghusap air matanya menatap dua pria dewasa itu. Anaknya bukanlah tipe anak yang mudah bergaul dengan siapa saja. Dia cenderung menutup diri dari orang lain. Selalu merendah karena status sosialnya yang berbeda dari orang lain. Selama ini, sahabatnya hanyalah Ilhoon. Tapi sekarang, dia bersyukur jika Sehun punya banyak sahabat. Walaupun dia sendiri tidak yakin jika dia mampu mengurus 12 pria aneh itu, tapi setidaknya, mereka kini ada di hidup Sehun.

Malam itu, walaupun terlihat sangat risih dengan kehadiran Kai. Tapi Sehun selalu berusaha mengajarkannya banyak hal. Mengajarkannya tentang kehidupan yang sebenarnya. Ada beberapa orang yang kurang beruntung dan sangat sulit untuk mendapatkan kebahagian.

Malam itu, kedua pria itu membereskan kios bunga Taeyeon bersama-sama. Setelah menutup kios, duduk bersama di teras belakang rumah Sehun sambil menikmati susu hangat.

Disisi lain, dewa lain benar-benar resah karena Kai tidak menjawab panggilan mereka sama sekali. Tidak memberitahu dimana keberadaannya dan kapan akan pulang.

Malam itu, Kai tidak pulang ke rumah.

***___***

Minhyuk bertemu kesepuluh dewa di tempat parker saat ia tengah ingin memarkirkan sepedanya. Dengan kening berkerut memandang wajah keseluruhan, mereka tidak terlihat sedang senang.

Minhyuk hanya menghela napas panjang, lalu berlalu sambil bersikap seolah-olah tidak melihat. Yaaah walaupun sebenarnya dia mengenal Luhan, Chen, Chanyeol dan…. Tunggu! Dimana Kai? Kenapa dia tidak melihat pria tinggi itu berada bersama mereka?

Tiba-tiba deru suara mobil terdengar dibelakang Minhyuk, melihat ekspresi para dewa yang langsung membulatkan mata mereka, Minhyuk ikut menoleh dan melihat siapa yang datang.

Dia tidak terkejut seperti yang lain, justru langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat Sehun dan Kai berada dalam mobil yang sama. Dia juga nelihat ekspresi Sehun yang terlihat tidak senang saat duduk disamping Kai. Melihat itu, Minhyuk sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.

Melompat turun dari mobil Kai, Sehun langsung menghampiri Minhyuk yang masih tertawa-tawa, bahkan sampai membungkuk.

“Apa yang kau tertawakan, huh?”sengit Sehun kesal.

“Kai, kenapa semalam kau tidak pulang? Kau dimana? Dan kenapa kalian bisa bersama?”tanya Baekhyun menatap Kai dan Sehun bergantian.

“Aku menginap di rumahnya semalam.”

“APA?!!” histeris para dewa, sementara Suho dan D.O hanya tersenyum kecil.

“Kau menginap di rumahnya?! Sungguh?!”sahut Chanyeol tidak percaya,

Kai mengangguk, “kenapa? Aku bahkan membantunya membereskan kios bunga dan menutupnya.”

“Tidak mungkin.” Chen berdiri didepan Kai sambil mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu tubuh Kai. “Apa yang sudah kau makan? Kenapa kau jadi berubah seperti ini?”

Kai menepis, “apa maksudmu?”

“Aku pikir kalian saling membenci. Tidak ku sangka hari ini kalian justru pergi ke sekolah bersama.” Minhyuk berujar, sambil tersenyum.

“Siapa dia? Kau mengenalnya?”tanya Baekhyun heran.

“Dia adalah teman sekelas kami, dan juga sahabat Sehun.”jelas Luhan menoleh dan balas tersenyum menatap Minhyuk.

“Sahabat? Bukankah sahabatnya adalah Ilhoon?”bisik Tao.

“Tidak. Dia juga sahabat Sehun.”

“Kalian tau? Semalam aku juga makan bulgogi dan ayam goreng buatan oema.”

Lagi-lagi, Kai membuat para dewa tersentak hebat, termasuk Suho dan D.O. Bulgogi? Ayam goreng? OEMA?!!!!

“Kau memanggil ibu Sehun dengan sebutan apa?”tanya Xiumin ingin memastikan.

“Oema. Aku memanggilnya oema. Taeyeon oema adalah ibuku sekarang. Hahahaha… aku punya ibu!!!” Kai mengumunkan hal itu dengan ekspresi paling menyebalkan yang ia punya, seperti meremehkan dewa lain yang tidak punya ibu.

“Sehuuuun, aku juga mau punya ibuu.”rengek Chanyeol menghampirinya dan mengguncang-guncang lengannya.

“Sehuuun, aku juga. Aku adalah dewa yang paling baik diantara mereka.”sahut Baekhyun.

“Tapi aku yang paling tampan. Aku juga mau ibu.”tambah Chen.

“Aaaarrggghh, pergiiiiiiiii!!!!”

***___***

SEHUN POV

Dan hidupku benar-benar berubah sejak hari dimana aku memutuskan untuk bergabung. Benar-benar berubah. Tidak ada hari-hariku yang tidak dipenuhi oleh orang-orang berambut warna-warni itu. Mereka selalu ada, setiap saat.

Tak jarang juga satu sampai tiga orang dari mereka menginap di rumahku. Hanya untuk merasakan nikmatnya tidur di atas ubin hangat dengan kasur lipat yang tipis. Sejujurnya, aku benci berbagi kasur kecilku bersama orang lain. Tapi, aku lebih membenci saat mendengar mereka merengek seperti anak anjing. Belum lagi jika rengekan itu keluar dari mulut Chen, Chanyeol dan Baekhyun. Tiga orang itu benar-benar membuatku kesal.

Tapi di sisi lain, mereka juga memberikan keuntungan. Setiap harinya, mereka akan membantuku menjaga kios ibu dan mengantar bunga pesanan pelanggan. Belum lagi jika saat aku berlatih sepak bola, selalu ada yang menggantikanku dan membuatku tenang menjalani latihan.

Dan yang satu ini… aku tidak memungkiri jika teman-teman baruku itu memiliki wajah yang super duper tampan sehingga menarik banyak pelanggan untuk melihat-lihat ke kios ibu. Terutama bagi wanita. Kebanyakan dari pelanggan kios ibu sekarang adalah ‘noona’.

Mereka memang datang untuk membeli bunga tapi aku bisa menebak jika mereka lebih ingin bertemu dengan 11 orang aneh itu daripada membeli bunga. Terutama Luhan. Si rambut ungu yang selalu berhasil memikat hati siapapun yang melihatnya. Bahkan ibuku.

“Mereka lebih menarik daripada bunga-bunga ibumu.”seru Minhyuk ketika kami berdiri tak jauh dari kios bunga, menatapi Suho, Kris dan Luhan yang sedang sibuk melayani pelanggan.

Aku mencibir, “menarik? Mereka aneh.”

“Tapi mereka sahabatmu sekarang.”

“Bukan. Kau sahabatku.”balasku cepat, masih setengah kesal.

Minhyuk tertawa geli, lantas merangkul pundakku. “Mau membeli seragam baru, kan? Ayo ku temani.”

***___***

AUTHOR POV

“Chanyeol, kembalikan komikku yang kau pinjam kemarin.” Sehun melompat duduk diatas meja Chanyeol sesaat setelah bel istirahat berbunyi.

“Ada pada Baekhyun. Kau tanya saja padanya.”

“Baekhyun? Hey, jangan memindahtangankan komikku seenaknya. Kau yang tanya dia.” Sehun mengomel kesal, lalu melompat turun. Lantas berjalan keluar ruang kelas.

“Sehun, kau mau kemana?”panggil Luhan.

“Ke ruang ganti. Kausku tertinggal. Aku juga ingin merapikan bola, sepulang latihan kemarin, entah siapa yang membuat keranjang bolanya jadi berantakan.”

“Aku ikut.” Luhan menyusul langkah-langkah Sehun yang meninggalkan ruang kelas, diiringi tatapan nanar Ilhoon dan helaan napasnya yang panjang. Jika saja boleh jujur, sebenarnya dia sangat sedih.

Sesampainya di ruang ganti, setelah mengambil kaus latihannya, Sehun dan Luhan mulai mengambil bola-bola yang tercecer di lantai.

“Siapa yang menghamburnya? Dasar, tidak bertanggung jawab sama sekali.”rutuk Sehun kesal.

“Mungkin seseorang yang tidak sengaja menyenggol keranjang hingga tumpah, dan terlalu malas untuk merapikannya.”sahut Luhan, bersikap lebih tenang daripada Sehun.

“Siapa? Apa salah dari satu tim kita?”

Luhan mengangkat bahu, “tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu? Gunakan kekuatan pikiranmu.”

“Aku hanya bisa membaca pikiran seseorang, bukan melihat kejadian di masa lalu.”elak Luhan sambil memasukkan bola terakhir. “Jadi bagaimana? Sudah menemukan kotak Pandora itu? Apa kau tidak merasakannya sama sekali?”

Sehun menghela napas panjang, memutuskan untuk duduk sejenak di kursi panjang yang berada ditengah-tengah jejeran loker.

“Sulit. Aku masih belum mengerti perkataan Suho. Merasakannya? Bagaimana caranya? Bagaimana aku tau jika kotak itu ada disekitarku?”

Luhan menyusulnya dan menjatuhkan diri disampingnya, berdecak lalu geleng-geleng kepala menatap Sehun.

“Aku tau kau tidak bisa berpikir, tapi setidaknya gunakan hatimu. Kau masih memilikinya, kan?”

Sehun langsung tersingung, “apa maksudmu? Tentu saja aku punya.”ketusnya.

“Kalau begitu rasakan. Jika niatmu untuk menemukan kotak itu sangat kuat, aku yakin kau bisa merasakannya.”

“Apa kau tau bagaimana wujudnya? Apa seperti kotak bekal yang sering dibawakan oleh oema atau—“

“Bisa berbentuk apa saja.”potong Luhan. “Yang aku tau, kotak itu sangat pintar menyamarkan diri.”

“Kotak itu juga punya kekuatan?” Sehun terkejut, sampai tidak menyadari jika tubuhnya termundur hingga ke ujung kursi.

“Sisi negatif dan positif itu. Seperti Pandora yang mempunyai daya tarik yang kuat, kotak itu juga begitu.”

“Hasssh, aneh sekali. Tidak masuk akal. Liburan musim panas akan datang sebentar lagi. Bagaimana? Aku harus bekerja.”

Luhan menoleh, menatap Sehun bingung. “Bukankah ibumu tidak mengijinkanmu bekerja lagi?”

“Kau pikir jika bukan aku, siapa lagi yang akan mencari uang? Aku tidak sejahat itu, membiarkan ibuku banting tulang seorang diri.”

Luhan menggeleng cepat, “Tapi… kita harus menemukan kotak itu secepat mungkin.”

“Aku tau. Aku akan memutuskannya nanti. Lagipula masih ada waktu satu minggu sebelum liburan datang. Masih ada waktu.” Ia beranjak dari duduknya, menghela napas panjang sejenak lalu berjalan meninggalkan ruang ganti.

***___***

Sehun hampir saja membanting gitar yang tergeletak disampingnya karena frustasi. Sudah dua jam yang lalu dia duduk diteras belakang rumahnya sambil memaksa hatinya merasakan sesuatu. Tapi, hasilnya tetap nihil.

Dia tidak bisa merasakan apapun. Bahkan getaran-getaran kecil seperti yang Suho bilang. Tanda di tangannya juga masih tetap berwarna hitam, tidak berubah menjadi biru seperti dewa lain.

Perlahan, dia mulai menerima jika dia memang tidak punya otak dan hati. Mungkin punya, tapi kedua-duanya sangat sulit untuk digunakan.

“Aiiisshh, aku kesal sekali. Dimana sebenarnya kotak itu?!”

Baru satu detik berlalu setelah dia menjerit kesal, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang. Menggoyangkan lampu gantung yang berada tepat diatas kepalanya. Suara guntur juga bersaut-sautan di langit, membuat Sehun langsung berdiri karena terkejut.

Musim dingin sudah berlalu, tapi kenapa angin berhembus sekencang ini? Sepertinya akan ada badai.

Saat dia hampir berpaling, matanya menangkap sesuatu aneh yang tergambar samar di langit. Akan turun hujan, namun bintang masih bersinar. Gugusannya membentuk sebuah gambar yang Sehun pikir bentuknya menyerupai kalajengking.

Beberapa saat terpaku, Sehun mengerjap saat sinarnya meredup dan akhirnya menghilang di langit pekat.

Detik berikutnya, lampu gantung yang ada diatasnya bergoyang kuat dan akhirnya lepas. Untung saja dia sempat menghindar sebelum bola lampunya berhasil memecahkan kepalanya.

“Astaga!”

“Sehun! Adeul! Dimana kau?! Ada apa?!”teriak Taeyeon panik.

Sehun langsung berlari ke dalam, menghampiri ibunya untuk menenangkannya. “ Tidak ada, oema. Angin sangat kencang sampai membuat lampu kita rusak. Jangan khawatir. Sebaiknya oema istirahat di dalam. Sepertinya akan ada badai besar.”

“Tapi kau—“

“Aku juga akan tidur.”potong Sehun cepat. “Aku akan membersihkan pecahan lampunya besok pagi. Aku tidak lapar. Tidak perlu memasak.” Ia mendorong tubuh ibunya paksa ke dalam kamar tidur dan mendudukkannya di ranjang. “Selamat malam, oema. Mimpi indah.”

Sebenarnya ada yang Sehun pikirkan saat itu. Bukan tentang kenapa angin dan Guntur tiba-tiba menyerang musim panas. Melainkan tentang simbol kalajengking itu. Dia memang tidak pernah belajar tentang astronomi, tapi kenapa gugusan bintang terlihat begitu mudah dilihat tanpa menggunakan teropong? Apa memang begitu? Dan yang lebih mengganjal hatinya, kenapa ada bintang yang bersinar disaat langit sedang mendung? Kenapa mereka tidak tertutup oleh awan hitam?

Ia bersandar pada lemari pakaiannya dengan pikiran yang kacau. Belum berniat menggelar kasur lipatnya, kantuknya tiba-tiba menghilang entah kemana.

Diiin Diiiin

Sehun langsung berdiri dan berjalan keluar saat mendengar suara klakson mobil. Begitu dia membuka pintu utama rumahnya, ia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Angin sangat kencang, seperti mampu menampar wajahnya.

Setelah ia membuka pagar rumah, lagi-lagi dia terkejut begitu melihat enam mobil sudah berjejer disana. Juga sebelas dewa yang sudah berdiri menyandar pada badan mobil dengan kedua tangan terlipat didepan dada.

Sehun menjadi panik, “ada apa?!”

“Dia datang.” Chen maju satu langkah, menatap Sehun dengan pandangan serius. “Musuh utama scorpion.”

“Siapa?! Siapa yang datang?”

“Orion….”

TBC

 

 

60 thoughts on “The Lords Of Legend (Chapter 16)

  1. roropoo berkata:

    cuman nebak” aja sih
    menurutku kotak pandoranya sehun ada di jam bentuk bola yang dikasih sama ayahnya sehun

    jujur aku pengen ketawa waktu kai bilang aku punya ibu
    kesannya kayak anak kecil bgt haha
    tapi tetep suka hehehehe

  2. emaesa berkata:

    lucu liat mreka merengek sama sehun kkkkk
    wahhh perang bakal dimulai ..
    tpi sehun blum nemu itu kotak pandora ..
    lanjut author ..

  3. Oh Yuugi berkata:

    Mwo?? Apa perang akan segera dimulai? Tapi sehub blum nemuin kotaknya..hhh.. makin greget!!! Btw moment kaihun yg baikan bikin ketawa2 sendiri apalagi saat kai pamer ke dewa yg lain kalo Taeyeon adalah eomanya juga..kkkk
    Childish bgt tapi lucu…hahaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s