FF: BABY DON’T GO Part 10

Untitled

Title                 : Baby Don’t Go [ Chapter 10]

Author            : @durrotunna

Cast                  : Byun Baekhyun (EXO K), Park Nara (OC) , Xi Luhan (EXO M)
Other Cast       : Park Chanyeol (EXO K), Kris Wu (EXO M), Jung Han Ni (OC)

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, marriage life , family , sad.

Rating              : PG

Disclaimer      : Cerita ini hanya fiktif belaka. Hasil imajinasi saya. Jika ada kesamaan dan sebagainya, berarti kita sehati❤ .

 

“ Ayo kembali ke penginapan.”

Baekhyun menarik tangan istrinya, mengintruksikan untuk mengikuti dirinya. Wajah Nara merah padam akan ciuman barusan. Ia tak menyangka jika Baekhyun melakukannya di tempat umum seperti ini. Untung saja suasana di pantai ini tak begitu ramai. Keduanya meninggalkan pantai berpasir putih yang begitu indah ini. Kondisi sekitar sudah mulai gelap. Matahari sudah menghilang sejak keduanya berduaan tadi.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah melesat pergi menjauh dari tempat ini. Jarak penginapan mereka memang cukup jauh dari pantai ini.

Mobil mereka kini sudah memasuki area penginapan yang tak terlalu mewah. Cukup sederhana. Barusan tadi pagi Baekhyun memutuskan untuk pergi berlibur bersama Nara. Setelah sekian lama keduanya tak pernah pergi bersama. Nara sendiri tak menyangka jika setelah menjenguk Chanyeol tadi Baekhyun akan mengajaknya ke sini.

“ Kau mandi duluan saja.” Ucap Baekhyun setelah memasuki kamar. Dilepasnya jaket yang menempel pada tubuh sempurnanya. Kemudian menjatuhkan dirinya diatas sofa yang ada dibelakangnya.

“ B-baiklah.”

Nara merasa canggung bila berdekatan dengan Baekhyun. Entah kenapa hatinya begitu berdebar-debar setiap kali melihat suaminya itu. Kini ia berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya sudah tak sabar untuk diguyur air segar sekarang.

 

“ Baekhyun-ssi!”

Baekhyun tersadar ada seseorang yang memanggilnya. Siapa lagi jika bukan Nara. Tapi kedua matanya masih mencari sosok pemilik suara tersebut.

Kedua matanya membulat ketika melihat kepala Nara yang memandang dirinya saat ini. Baekhyun sedikit heran, mengapa Nara tak keluar dari kamar mandi. Tapi malah seperti mengintipnya saat ini.

“ Ada apa denganmu?”

Nara masih tak keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah menunjukkan bahwa dirinya telah selesai mandi.

“ Bajuku terjatuh dan basah. Aku.. aku tak membawa baju lagi.”

Baekhyun terlihat terkejut mendengar hal itu. Ia sendiri memang tak memberitahu Nara jika akan menginap seperti ini. Jadi wajar saja jika saat ini Nara tak membawa baju ganti satupun.

“ Keluarlah dulu.”

Nara menggeleng, ia tak mungkin keluar dengan kondisi seperti ini. Karena begitu senangnya hari ini sampai dirinya terpeleset seperti tadi. Dan tanpa sengaja menjatuhkan pakaiannya sendiri. Dengan apa ia akan berpakaian nantinya.

“ Apa kau akan di dalam terus? Aku juga ingin mandi Park Nara.”

“ Aku hanya memakai handuk Byun Baekhyun.”

Mendengar hal itu membuat Baekhyun menelan ludahnya pelan. Entah pikiran macam apa yang ada di otaknya saat ini. Dirinya mencoba menarik nafas perlahan. Mencoba menghilangkan pikiran negatif yang menguasai otaknya kali ini.

“ Apa kau punya baju lebih?”

“ Tidak ada. Setelah mandi akan ku carikan baju. Jadi keluarlah dulu.”

Akhirnya Nara membuka pintu kamar mandi dengan hati-hati. Kepalanya sedikit menunduk, tangannya menggenggam erat ujung handuk yang menutupi tubuhnya. Melihat pemandangan yang ada didepannya membuat tubuh Baekhyun terasa panas. Entah rasanya ia seperti sulit bernafas. Berulang kali ia menelan salivanya.

“ Akhh…”

“ Nara!”

Baekhyun menahan tubuh Nara yang hampir terjatuh itu. Istrinya begitu ceroboh sampai bisa tersandung kaki meja. Kini keduanya saling bertatapan satu sama lain. Tangan Baekhyun menyentuh bahu polos milik istrinya itu. Handuk yang menutupi tubuh Nara hanya sebatas dada sampai lutut. Membuat Baekhyun bisa melihat dengan jelas bahu mulus milik istri tercintanya.

“ Maafkan aku,”

Nara tersadar akan lamunannya barusan. Ia tidak bisa berlama-lama menatap kedua bola mata tajam Baekhyun. Nara mencoba menjauh dan melepaskan tangan Baekhyun yang menahan dirinya yang hampir terjatuh tadi. Tapi kini Baekhyun malah mengeratkan tangannya. Tangan Baekhyun menarik pinggang Nara agar semakin mendekat kearahnya.

“ Baekhyun..”

Jemari Baekhyun membelai wajah Nara yang begitu mulus. Kedua bola matanya masih memandang lekat wajah Nara.

“ Kau cantik.”

Nara merasa tidak nyaman dengan seperti ini. Kedua tangannya kini memegangi ujung handuknya. Takut jika terlepas begitu saja. Sedangkan Baekhyun semakin mendekatkan tubuhnya hingga hampir menempel dengan tubuh Baekhyun. Seperti tak ada jarak diantar keduanya. Nafas Baekhyun yang hangat mengenai wajahnya, membuat darahnya berdesir. Detak jantung Nara begitu cepat, ia yakin bila Baekhyun dapat merasakannya.

“ Bukankah k-kau ingin m-mandi..”

Nara begitu gugup mengucapkan hal barusan. Manik mata Baekhyun yang berwarna hitam menatap tajam kearahnya. Tubuh Nara sedikit bergetar karena takut. Tapi disaat seperti ini ia masih bisa mengagumi wajah suaminya yang begitu tampan ini. Dahinya,alisnya, hidungnya,matanya,pipinya, bibirnya, ia menyukai semuanya. Rambutnya yang sedikit berantakan saat ini membuatnya sedikit seksi. Tanpa Nara sadari dirinya malah serius memperhatikan wajah Baekhyun.

“ Kenapa kau memandangku seperti itu?”

Baekhyun bertanya kepada istrinya yang memandangnya sambil melamun itu. Nara kembali tersadar dan berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Baekhyun. Tapi malah membuat Baekhyun semakin mengeratkan dekapannya kepada Nara.

Tangan Baekhyun meraih dagu Nara. Sesaat kemudian bibirnya sudah bertemu dengan bibir istrinya. Sebuah ciuman lembut penuh kasih sayang ia berikan kepada Nara. Istrinya tak menolaknya sama sekali. Tangan Baekhyun yang satunya masih berada pada pinggang Nara. Mengeratkan kembali tubuh keduanya sehingga tak ada jarak sedikitpun. Lumatan-lumatan lembut dari bibir Baekhyun tak mendapat penolakan sedikitpun dari Nara. Dalam hatinya Baekhyun merasa begitu bahagia.

Setelah cukup lama, kini Baekhyun melepaskan ciumannya. Mata teduhnya masih menatap bola mata Nara yang juga menatapnya. Bibir Baekhyun melengkungkan senyuman tipis. Dirinya kembali mendekatkan wajahnya, berusaha mencium Nara kembali. Tapi sepertinya istrinya sedikit menolaknya. Nara memalingkan wajahnya, menghindari wajah Baekhyun yang mendekat kearahnya.

Bukan Baekhyun jika menyerah begitu saja. Dirinya kembali mengeratkan tubuh Nara agar tidak lari darinya. Ciumannya kini sedikit memaksa. Nara kelihatan sedikit memberontak saat ini. Tapi Baekhyun tak mempedulikannya. Langkah kakinya seakan menuntun Nara agar menuju kearah ranjang yang tidak jauh darinya. Tanpa melepaskan ciuman mereka saat ini.

Dengan sekali tarikan Baekhyun membuka handuk yang menutupi tubuh polos istrinya itu. Membuat pemiliknya terkejut bukan main. Baekhyun menjatuhkan Nara di ranjang yang cukup besar ini. Kemudian memposisikan dirinya diatasnya. Dahinya terlihat berkeringat, tubuhnya kembali terasa panas.

“ Baekhyun..”

Wajah Nara terlihat begitu malu. Tangannya bergerak meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya ini. Ia benar-benar malu, tatapan Baekhyun kepadanya seperti singa yang akan menerkam mangsanya.

Tangan Baekhyun menahan tangan Nara kemudian mencium bibir istrinya itu. Nafsu Baekhyun saat ini begitu menggebu. Ciumannya begitu menuntut. Kedua tangannya menahan kedua tangan Nara yang bergerak berusaha menolak itu. Nara tak bisa menahan desahannya ketika bibir Baekhyun sudah menyusuri lehernya. Meninggalkan tanda kepemilikannya disana. Tindakan Baekhyun semakin liar, tanpa sedikit kesusahan ia melepas kaos yang melekat pada tubuhnya. Desahan demi desahan keluar dari bibir keduanya. Dan untuk kedua kalinya, tubuh mereka menyatu. Mereka tampak begitu menikmati kegiatan masing-masing. Hingga mereka tak menyadari bahwa pagi sudah hampir tiba.

 

***

 

Pancaran sinar matahari yang masuk dari sela-sela gorden kamar yang cukup luas ini membuat penghuninya terusik dari tidurnya.Salah satu dari yang sedang terlelap itu mulai menyadari bahwa hari sudah pagi. Baekhyun menggeliat pelan, ia memiringkan tubuhnya. Memandang istrinya yang tertidur disampingnya. Bibir Baekhyun melengkungkan senyuman bahagia. Istrinya yang tertidur berbantal lengannya itu wajahnya terlihat begitu damai. Tangan Baekhyun yang satunya kini bergerak menyibakkan rambut Nara yang menutupi wajah cantiknya.

Nara mulai sadar akan tidurnya. Secara perlahan ia membuka kedua bola matanya. Rasanya seperti mimpi, seseorang yang pertama kali ia lihat adalah orang yang sangat ia cintai. Dan dia sedang tersenyum kearahnya sekarang. Sangat tampan. Benar-benar sangat tampan.

“Kau sudah bangun?”

Mendengar hal tersebut sontak Nara menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun.Wajahnya terlihat memerah karena malu. Baekhyun terkekeh pelan, bibirnya kembali mengulaskan senyuman manis. Tangannya bergerak menarik tubuh Nara kembali agar mendekat kearahnya. Mendekapnya dalam pelukan hangat.

“Aku bahagia, sangat bahagia.” ucap Baekhyun sambil mengecup kening Nara dengan penuh kasih sayang.

“Aku lebih bahagia Baekhyun-ssi.”

Nara mendongakkan kepalanya, menatap wajah Baekhyun yang sangat dekat dengan wajahnya saat ini. Kedua bola matanya berkaca-kaca.

“Kenapa kau menangis?”

Nara menggeleng. Sebenarnya dia begitu bahagia saat ini. Ia tak bisa membayangkan bisa sampai seperti ini. Berada dalam pelukan suami tercintanya. Ia benar-benar bahagia.

Jemari lentik Baekhyun menghapus air mata yang turun membasahi pipi Nara.

“Kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah menangis?” tanya Baekhyun kemudian.Nara hanya tersenyum, inilah caranya mengekspresikan kebahagiannya saat ini.

Baekhyun bangkit dari tidurnya, duduk disamping Nara yang masih terbaring. Nara memalingkan wajahnya saat melihat tubuh bagian atas Baekhyun yang polos. Dirinya baru tersadar dengan kondisinya saat ini.

“Ada apa denganmu?” tanya Baekhyun saat melihat gerak-gerik Nara barusan. Sedangkan Nara malah membelakanginya dan menarik selimut yang menutupi tubuhnya sampai kepalanya.

“Hey Park Nara..”

Baekhyun terkekeh melihat tingkah laku istrinya itu.

“Bangunlah, apa kau ingin mengajakku tidur lagi?”

Lemparan bantal yang ringan itu mengenai wajah Baekhyun. MembuatBaekhyun terkejut bukan main. Tapi sesaat kemudian ia malah tertawa.

“Apakah ini kode bahwa kau menginginkannya lagi Park Nara?” goda Baekhyun sambil mengedipkan matanya.

“BYUN BAEKHYUN!!!!”

 

***

 

3 bulan kemudian..

 

Nara sedang melamun sambil mengeringkan gelas yang ada di tangannya. Sudah hampir 3 bulan ini ia mengurusi restoran yang di tinggal oleh Paman Han. Walaupun hanya membantu beberapa pekerjaan, tidak seluruhnya. Masalah keuangan dan lain-lain masih di tanggung oleh beberapa pegawai disini yang sudah di percaya. Nara hanya tinggal mengikuti, tanda tangan disana disini. Layaknya seorang bos, tapi dia tak mempermasalahkannya. Ia jalani dengan senang hati, lagipula Baekhyun selalu membantunya.

Setiap hari Baekhyunlah yang selalu mengantarnya kesini. Kira-kira jam 7 Nara sudah sampai disini, karena sekalian Baekhyun berangkat ke kantor. Dan Nara harus menunggu sampai jam 9, karena Restoran ini buka pukul 9 pagi. Tapi ia tidak sendirian disini, para pegawai Restoran ini pun mulai membiasakan berangkat pagi. Mengingat istri bos mereka sudah ada disini sejak pagi, tidak mungkin jika mereka tidak mengikutinya. Baekhyun tidak mengijinkan Nara untuk berangkat ataupun pulang sendiri. Ia khawatir jika Nara kenapa-kenapa. Walaupun kadang Nara harus menunggu sampai berjam-jam jika pulang. Ataupun pulang lebih awal sebelum Restoran ini tutup.

Dengan hati-hati ia letakkan gelas yang baru saja ia keringkan. Pandangannya menuju ke seluruh penjuru ruangan ini. Suasana Restoran sudah mulai sepi, jam dinding menunjukan pukul 8. Nara menghembuskan nafasnya perlahan. Di raihnya ponsel yang ada di sakunya. Tak ada panggilan ataupun pesan yang ia nanti. Sudah jam 8 malam, tapi Baekhyun belum juga menjemputnya. Padahal satu jam lagi Restoran akan tutup. Tangannya kembali mengambil gelas yang akan ia keringkan, tapi entah kenapa pandanganya sedikit kabur. Kepalanya terasa sedikit pusing, membuat ia tidak bisa berkonsentrasi. Sehingga pegangannya terlepas, membuat gelas itu jatuh dan pecah di lantai. Beberapa orang yang ada disitu terkejut akibat suara pecahan gelas barusan. Dan kini berjalan mendekati Nara yang sedang berjongkok hendak memunguti pecahan gelas itu.

“ Biar saya saja, “

Ucap seorang pelayan pria yang kini membereskan pecahan tersebut. Nara merasa tidak enak karena telah membuat sedikit kekacauan.

“ Trimakasih. Maafkan aku, “

Laki-laki itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Beberapa pegawai disini memang menghormati Nara. Mengingat Nara adalah istri bos mereka.

Eonnie, kau istirahat saja. Wajahmu tampak pucat. “

Nara menatap pegawai yang baru saja mengajaknya bicara, ia tersenyum sebentar.

“ Aku baik-baik saja. “

Walaupun Nara adalah anggota termuda di Restoran ini. Tapi beberapa pegawai disini biasa memanggilnya Eonnie ataupun Noona. Mereka merasa tidak sopan jika memanggil Nara dengan namanya sendiri.

Akhir-akhir ini Nara memang merasa tubuhnya mudah lelah. Kepalanya kadang sedikit pusing. Nafsu makannya pun juga menurun. Tak jarang ia memuntahkan kembali makanan yang hendak masuk kedalam perutnya.

“ Apakah bos belum datang? “

Nara menggeleng perlahan, ia duduk sambil meminum air putih yang diberikan oleh wanita yang mengajaknya bicara itu.

“ Aku tidak apa-apa, kau bisa kembali bekerja lagi. “

“ Siap. Kalau Eonnie kenapa-kenapa bisa panggil aku saja. “

Pegawai wanita itu berjalan kembali meninggalkan Nara yang sedang duduk. Bibir Nara melengkungkan senyuman tipis, ia merasa sangat bersyukur. Masih ada orang yang perhatian di sekitarnya.

Di Restoran ini, hanya ada beberapa pegawai wanita yang bersikap baik kepadanya. Contohnya wanita tadi, beberapa orang dapurlah yang tidak menyukainya. Mereka selalu dingin kepada Nara. Tak jarang mereka mengabaikan perintah yang diberikan oleh Nara, walaupun itu perintah dari Baekhyun. Mereka hanya menurut jika Baekhyun yang mengatakannya secara langsung. Ingin sekali Nara mengungkapkan keadaan sebenarnya kepada Baekhyun. Tapi ia selalu bersabar. Ia yakin suatu saat nanti mereka akan berubah dengan sendiri.

Tangannya kembali mengeluarkan ponselnya. Ia berniat menelpon Baekhyun sekarang. Menunggu telepon ini tersambung sangat lama sekali.

“ Kenapa ia tak mengangkatnya ? “

Nara menggigit ujung jarinya, inilah kebiasaan barunya sekarang.

Ia kembali mencoba menghubungi suaminya. Tapi tetap saja tak ada respon. Jari-jari tangannya bergerak mengetik pesan yang akan di tujukan kepada Baekhyun.

Satu hari penuh Baekhyun tak memberikan sedikitpun kabar untuknya. Siang tadi, di saat waktu makan siang biasanya Baekhyun menelpon Nara. Tapi tidak untuk hari ini, tak ada satu pun panggilan ataupun pesan yang ada di ponsel Nara.

“ Apakah dia sedang sibuk ? Ataukah suatu hal terjadi kepadanya ? “

Nara mulai berpikir yang tidak-tidak. Takut jika suaminya kenapa-kenapa. Ia meneguk air putih kembali, mencoba menenangankan dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ia menutup mulutnya. Seperti menahan sesuatu yang akan keluar dengan sendirinya.

“ Apa yang terjadi padaku ? “batin Nara.

Ia memutuskan untuk ke toilet sebentar. Rasa mual saat ini membuatnya tidak nyaman. Kini Nara beranjak dari duduknya. Berjalan terburu-buru menuju toilet yang memang tak jauh dari situ.

Di luar sana, terlihat seseorang yang baru saja keluar dari taksi. Penampilannya sangat rapi, kemeja putih dengan setelan celana kain hitam panjang membuatnya tampak gagah. Wajahnya sangat manis, tapi juga terlewat tampan. Senyuman menawan mengembang di bibirnya. Dengan santai ia berjalan masuk menuju Restoran. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berkunjung kesini.

Baru saja ia sampai didepan pintu sudah ada seseorang yang menyambutnya.

“ Luhan……. ! “

Teriakan pelayan wanita barusan membuat beberapa pegawai lainnya menatap ke arahnya. Mereka takjub melihat seseorang yang datang barusan. Untung saja pengunjung di Restoran ini tinggal beberapa saja. Jadi tidak terlalu mengganggu aktivitas mereka.

“ Ah.. aku pikir kalian tidak mengingatku. “

Laki-laki yang di panggil itu tersenyum, menampakkan deretan giginya yang bisa dibilang rapi. Membuat beberapa pelayan wanita yang mendekatinya itu terpesona akan ketampanannya.

“ Mana mungkin kami melupakanmu. “

Pelayan wanita itu tersenyum tak jelas sambil menyenggol lengan temannya yang ada disampingnya. Pandangannya tak lepas dari wajah sempurna lelaki yang ada di hadapannya itu.

“ Ada apa kau kemari ? “

Luhan menatap pria yang berjalan mendekatinya itu. Atasannya dulu saat ia masih bekerja disini.

“ Senang bertemu anda kembali. “

Luhan membungkukkan badannya, menghormati seseorang yang ada di hadapannya itu. Senyumannya tak sekalipun lepas dari bibirnya.

Kini Luhan terlihat mencari-cari sosok yang memang ia rindukan. Dari tadi ia belum melihatnya sedikitpun. Wajahnya terlihat kecewa, ia melanjutkan ucapannya lagi.

“ Dimana Paman Han ? Aku benar-benar sangat merindukannya. “

Ucapan Luhan barusan membuat orang-orang yang ada dihadapannya terdiam. Ekspresi wajah mereka berubah seketika. Luhan berusaha mengingat apa yang ia ucapkan barusan. Sepertinya tidak ada yang salah, ia menatap beberapa orang yang terdiam ini.

“ Kenapa kalian diam saja ? Apakah Paman ada di dalam sana ? “

Raut wajah Luhan tampak begitu gembira, mungkin karena ia belum tahu hal yang sebenarnya terjadi. Karena masih tak ada respon, Luhan terlihat kebingungan.

“ Apa yang sebenarnya terjadi ? “ batin Luhan yang kini menyibakkan rambut yang menutupi dahinya.

Nara baru saja keluar dari toilet. Ia terus memegangi perutnya, entah kenapa ia merasa ada yang aneh. Tangannya mengusap bekas air yang membasahi sekitar bibirnya.

“ Kenapa aku mual seperti ini. “ keluhnya pelan.

Ia merasa tubuhnya sangat lemas. Kepalanya begitu pusing, pandangan matanya tak begitu jelas. Ditambah rasa mual yang membuatnya berkali-kali menutup mulutnya. Takut memuntahkan dengan tiba-tiba. Walaupun tak ada yang keluar saat ia muntahkan. Hanya cairan bening yang memang tak ia mengerti.

Pandangannya kini tertuju pada orang-orang yang sedang menggerombol disana.

“ Apa yang mereka lakukan ? “

Dengan langkah lemas, ia berjalan kesana. Ia penasaran, kenapa mereka berkumpul seperti itu. Ia merasa familiar dengan seseorang yang terhalang oleh tubuh salah satu pegawainya. Nara merasa mengenali lelaki yang memakai kemeja putih itu.

“ Bukankah dia…. “

 

***

 

Baekhyun menguap beberapa kali, wajahnya terlihat lelah. Tangannya masih sibuk membolak-balikan beberapa kertas yang ada di hadapannya. Wajah tampannya terlihat begitu serius, tapi juga santai. Rasanya kali ini sangat berbeda, biasanya ada Chanyeol yang selalu membantunya untuk mengurus ini semua. Setelah kecelakaan beberapa bulan yang lalu, Chanyeol belum pernah menampakkan dirinya kesini. Bisa dibilang ia mengundurkan diri dari perusahaan. Baekhyun sendiri tak tahu apa yang di pikirkan sahabatnya tersebut. Sudah beberapa kali ia menyuruh orang untuk membawa Chanyeol kembali tapi tak ada respon. Chanyeol terus saja menolak. Baekhyun pikir Chanyeol sudah memiliki pekerjaan lain, tapi beberapa orang mengatakan bahwa Chanyeol tidak sedang bekerja. Beberapa kali mereka melihat Chanyeol keluar sebentar dari Apartemennya. Ia juga menolak bertemu dengan orang-orang perusahaan saat kebetulan bertemu atau apa. Membuat Baekhyun semakin penasaran akan semua itu.

Suara ketokan pintu yang ada di luar mengagetkan Baekhyun dari lamunannya.

“ Masuk.”

Seorang pria yang baru saja masuk kini berjalan ke arah Baekhyun yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.

“ Dia menolaknya lagi.”

Baekhyun sudah tahu apa yang akan keluar dari mulut bawahannya itu. Chanyeol memang keras kepala.

“ Baiklah, tidak apa-apa. Trimakasih, kau bisa kembali sekarang.”

Baekhyun menghela nafasnya perlahan. Di longgarkannya dasi yang melekat pada lehernya. Punggungnya kembali bersandar pada kursinya itu.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan Park Chanyeol?”

Baekhyun bangkit dari duduknya, berjalan ke arah jendela yang ada di ujung sana. Pemandangan malam di luar sana mampu membuat suasana hatinya saat ini menjadi lebih baik. Tangannya bergerak melepas jas yang melekat pada tubuhnya. Menyisakan kemeja putih yang cukup pas di tubuh sempurnanya.

Baekhyun terlihat melamun. Banyak pikiran yang menyelimuti otaknya saat ini. Ia masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi padanya. Kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkannya. Rasanya itu semua seperti mimpi. Kenapa bisa secepat itu?

Setelah beberapa lama dalam posisi tersebut, Baekhyun kini kembali berjalan mendekati kursinya. Ponselnya yang menyala di atas meja mengalihkan pandangannya saat ini. Dengan santai ia raih ponselnya tersebut. Wajahnya begitu kaget melihat beberapa pesan dan panggilan yang memang tak ia sadari.

“Astaga, Nara..”

 

***

 

Kedua orang yang sedang duduk berhadapan itu tak membuka suara sampai saat ini. Luhan masih tidak mempercayai berita yang baru saja ia dengar tadi. Sudah lam ia tidak kembali kesini, berita buruk sudah menyambutnya. Ia tak menyangka jika Paman Han sudah pergi secepat itu. Mungkin terakhir ia bertemu adalah ketika ia berpamitan mengundurkan diri dulu. Setelah itu belum pernah ia menghubungi Paman Han lagi.

Berbeda dengan Nara, ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan pada Luhan saat ini. Setelah lama tidak bertemu membuatnya sedikit canggung. Apalagi pertemuan mereka terakhir sangatlah tidak mengenakan. Sejak tadi ia masih saja menundukan kepalanya.

“ Bagaimana kabarmu ? “ Luhan memecah keheningan setelah sekian lama tak ada suara di antara keduanya.

“ Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Oppa ? “

Nara begitu gugup saat menjawab pertanyaan dari Luhan. Apalagi Luhan menatapnya seperti itu. Sikap Luhan juga sedikit lebih dingin, tidak seperti dulu.

“ Tidak baik karenamu. “

Jawaban Luhan barusan membuat Nara menelan ludah pelan. Ia tak percaya jika jawaban itu akan keluar dari mulut Luhan. Ia memberanikan menatap Luhan yang berada di hadapannya. Yang masih menatapnya seperti tadi.

“ Aku hanya bercanda. Ya.. seperti yang kau lihat seperti inilah. “ Luhan melanjutkan ucapannya lagi. Bibirnya kini mengembangkan sebuah senyuman manis. Menampakkan dirinya seperti Luhan yang dulu Nara kenal. Nara merasa lega setelah mendengar ucapan Luhan barusan. Bibirnya ikut tersenyum mendengar hal tersebut.

“ Kau belum pulang sampai malam seperti ini ? “

Pertanyaan Luhan barusan membuat Nara kembali mengingat Baekhyun. Bahkan sampai saat ini ia belum menghubungi Nara. Tangannya kini mengeluarkan ponsel dari sakunya, memastikan apakah ada panggilan atau pesan disana. Tapi masih sama seperti tadi, wajah Nara sedikit menampakkan kekecewaan.

“ Mungkin nanti, bagaimana dengan Oppa ? “

Dalam hati Nara ingin sekali jika Luhan segera pergi dari tempat ini. Ia takut jika Baekhyun datang nanti, melihat ada Luhan disini pasti ia sangat marah.

“ Sama sepertimu. Aku ingin berjalan-jalan kesana dulu. “

Luhan meninggalkan Nara yang masih duduk di tempatnya. Luhan memang ingin berlama-lama disini. Tentunya karena ingin melihat Nara. Rasa rindu dalam hatinya begitu menggebu. Sepertinya sudah sekian lama ia tak menghubungi gadis kecilnya ini. Ia juga tak menyangka bahwa Nara memiliki hubungan kekerabatan dengan Paman Han. Ia jadi teringat saat melihat Baekhyun dulu di hari terakhirnya disini. Ternyata dia adalah pemilik restoran ini, tempat dimana Luhan bekerja dulu. Kenapa dunia begitu sempit, itulah yang terlintas di otaknya.

Andai saja keadaan tidak seperti sekarang ini. Mungkin saat ini juga Luhan akan memeluk Nara. Melampiaskan kerinduannya selama ini. Tapi itu tak mungkin ia lakukan, mengingat status Nara yang kini sudah menjadi istri dari orang lain.

Luhan membantu beberapa pegawai disini menutup Restoran. Sesekali melirik kearah Nara yang duduk di ujung sana. Yang terlihat gelisah dan risau itu. Bahkan Luhan menyadari gerak-gerik yang aneh dari gadis kecilnya itu. Tapi mungkin itu hanya pikirannya, ia kembali fokus pada pekerjaannya saat ini.

Nara yang sedang duduk itu kini memegangi kepalanya. Kepalanya terasa sangat pusing. Melihat kedepan saja seperti berputar-putar. Perutnya juga terasa seperti di aduk-aduk. Ia menutup mulutnya, saat merasa akan ada sesuatu yang keluar. Wajahnya kini tampak begitu pucat.

“ Baekhyun… “ ucapnya lirih.

Luhan yang dari tadi memperhatikannya kini berjalan mendekatinya. Memastikan gadis kecilnya itu apakah baik-baik saja.

“ Apa kau sakit ? “

Nara menatap Luhan yang bertanya kepadanya. Tatapan mata Nara begitu lemah.

“ Aku baik-baik saja. “

Luhan menyentuh kening Nara, membuat Nara sontak melepaskan telapak tangan Luhan yang barusan menyentuh keningnya itu.

Luhan sedikit terkejut saat mendapatkan perlakuan seperti ini, begitu pula dengan Nara. Ia tak tahu kenapa bisa reflek seperti itu.

Mianhae..

Nara merasa tidak enak dengan Luhan akibat apa yang ia lakukan tadi.

“ Tidak apa-apa. Lebih baik kau segera beristirahat di rumah. Apakah aku harus mengantarmu ? “

Nara menggeleng lemah, ia mencoba untuk bangkit dari kursinya. Untuk berdiri saja rasanya sangat sulit sekali.

Hampir saja ia terjatuh jika Luhan tidak menahannya seperti saat ini.

“ Kau baik-baik saja ? “ tanya Luhan kepada Nara.

Beberapa pegawai disini pun kini berkumpul mendekati mereka.

Eonnie ? Apakah kau baik-baik saja ? “

Mereka tampak begitu khawatir melihat kondisi Nara saat ini.

“ Sepertinya noona harus segera istirahat di rumah. Keadaannya hari ini memang tak begitu baik sejak tadi pagi. Sudah dari tadi juga ia menunggu bos, tapi belum juga sampai kesini. Tidak seperti biasanya. “ ucap salah satu pelayan pria yang sudah rapi itu. Sepertinya ia juga hendak pulang.

“ Luhan-ssi, apakah kau mau mengantar Eonnie pulang ? “

Luhan terkejut mendengar ucapan barusan. Mengantar Nara pulang ?

Dilihatnya Nara yang ada di sebelahnya, matanya sedikit terpejam seolah menahan sakit yang ia rasa saat ini. Rasanya tak tega jika melihat gadis yang ia cintai itu seperti ini.

Tangan Luhan masih menahan bahu Nara. Tubuh kecil Nara bisa ambruk saat itu juga jika tidak ia tahan seperti ini.

“ Aku baik-baik saja. Aku bisa pulang sendiri nanti.. “ tolak Nara lirih.

“ Luhan-ssi, tolonglah antar Eonnie pulang. “

Luhan menatap beberapa orang yang berada di hadapannya itu. Mereka seperti mempercayakan Nara kepadanya. Sejujurnya ia merasa tidak enak sekarang. Di sebelahnya kini adalah istri orang. Bagaimana jika nanti ada yang berpikir macam-macam karena ia mengantarkan Nara pulang.

“ Aku tidak apa-apa. Aku akan menunggu Baekhyun disini. Kalian bisa pulang duluan. “

Nara melepaskan tangan Luhan yang menahannya itu, mencoba untuk berjalan. Tapi baru langkah pertama ia hampir saja ambruk lagi.

Eonnie ! “

Noona ! “

“ Nara ! “

Ucap mereka berbarengan, salah satu pelayan wanita disitu membantu Nara untuk berdiri kembali. Dan kemudian membatu memapah Nara sampai di luar sana. Berjalan menuju mobil Luhan, bukan mobil pribadinya tapi mobil yang di pinjamkan oleh Professor kepadanya.

“ Hati-hati di jalan. “

Luhan tersenyum melihat para pegawai Restoran ini. Kemudian mobilnya melaju dengan perlahan. Meninggalkan tempat yang ia singgahi barusan.

Di sampingnya terlihat Nara yang bersandar lemah pada jok kursi mobilnya. Luhan menatapnya dengan iba. Ia kini menghentikan mobilnya sebentar. Tangannya kini meraih jaket miliknya yang ada di belakang. Kemudian memakaikannya kepada Nara yang setengah sadar itu.

“ Ku lihat sepertinya kau kedinginan. “

Nara tak merespon apapun. Tubuhnya kini benar-benar lemah. Ia hanya bisa memejamkan kedua matanya. Nafasnya terlihat begitu tak beraturan.

Luhan kembali melajukan mobilnya dengan hati-hati. Suasana di mobil tampak begitu hening. Seperti jalanan yang kini juga terlihat sudah sepi.

Gomawo Oppa.. “ batin Nara.

 

***

“ Iya. Maafkan saya, tapi saya ingin beristirahat dulu “

Chanyeol menutup ponselnya dan meletakkannya di meja yang berada di dekatnya. Sudah berulang kali pihak Perusahaan menelponnya. Menyuruhnya untuk kembali kesana, tapi ia selalu saja menolaknya. Ia ingin beristirahat dulu, hidup seperti sekarang ini membuatnya sedikit merasa lebih hidup. Bisa bebas setiap hari, tanpa memikirkan laporan yang harus ia buat untuk hari selanjutnya. Berolah raga tiap pagi untuk melatih otot-ototnya yang mulai kaku.

Tangannya kini sibuk mengganti channel televisi yang menurutnya membosankan itu. Tak ada yang sesuai dengan hatinya. Mulutnya menggigit roti bakar yang barusan ia buat. Beginilah kehidupannya selama tiga bulan terakhir ini. Menyibukkan diri di Apartemen miliknya. Kadang keluar sebentar untuk mencari makan,berolahraga ataupun mencari udara segar. Berjalan-jalan melihat pemandangan kota. Itulah kesibukannya saat ini.

Mengundurkan diri dari pekerjaannya bukan hal yang ia sesali. Menurutnya itu sudah benar. Ia tak menyangka bahwa tindakannya bisa sejauh itu. Ia menyesal apa yang telah ia lakukan dulu. Ingin rasanya meminta maaf kepada Baekhyun, sahabatnya. Tapi disisi lain ia juga merasa sudah puas melakukan perbuatannya itu.

 

Flashback

Dua orang yang berperawakan jangkung itu sedang duduk di kursi masing-masing. Keduanya memang tak begitu akrab. Sangat tidak akrab malahan. Beberapa menit yang lalu pembicaraan mereka masih di telepon. Dan sekarang keduanya sudah bertemu secara langsung. Pemuda dengan name tag Park Chanyeol kini mengambil kopi yang ada di hadapannya. Kemudian meminumnya secara perlahan. Wajahnya sangat begitu serius. Sedangkan pria yang di hadapannya itu hanya duduk diam. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Posisinya saat ini seolah menunjukan betapa angkuh dirinya itu. Bibirnya menampakan lengkungan senyum tipis. Wajahnya sangat terlihat santai.

“ Kau ternyata tak seperti yang ku pikirkan Park Chanyeol. “

Chanyeol menatap tajam pria yang tersenyum kearahnya itu. Ia letakan cangkir yang tadi masih berada di tangannya.

“ Aku tidak ingin berbasa-basi. Bagaimana ? “

Pria yang bernama Kris Wu kini memajukan sedikit tubuhnya kearah Chanyeol.

“ Lakukan apa yang ku perintahkan. “

Kedua mata mereka bertemu seolah berkomunikasi. Pembicaraan mereka berlanjut sangat lama sekali. Chanyeol masih tetap saja serius, mendengarkan apa yang Kris bicarakan. Para pengunjung tempat ini yang masuk bersamaan dengan mereka, kini sudah menghilang satu persatu. Berganti dengan pengunjung yang baru. Tapi mereka masih tetap pada kursinya masing-masing. Pembicaraan keduanya tampak begitu serius. Hingga mereka tak menyadari bahwa hari sudah mulai petang.

“ Akan ku tunggu kau besok di Busan. Aku akan menghubungi laki-laki tua itu. Jadi kau tak perlu memberitahunya. Dia mungkin tak akan langsung setuju jika kau yang memberitahunya. “ Ucap Kris mengakhiri perbincangannya saat ini.

“ Baiklah. Aku akan pergi sekarang. “

Chanyeol beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Kris disana. Wajah tampannya masih begitu serius. Langkahnya begitu terburu-buru.

Masih di tempat tadi, terlihat Kris meneguk kopinya yang sudah dingin itu. Wajahnya tampak begitu bahagia. Kedua matanya menatap tajam ke depan.

“ Kau benar-benar bodoh Park Chanyeol.. “

 

Keesokan harinya Chanyeol berangkat menuju kantor sangat pagi-pagi sekali. Dengan tergesa-gesa ia parkirkan mobilnya secara sembarang. Ia keluar dari mobil dengan hanya membawa dompet dan ponselnya. Ia terlihat menghembuskan nafas perlahan, kemudian kembali berjalan masuk. Tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh.

Kini ia sudah berada di ruangannya. Di bukanya lemari yang tak jauh dari kursinya. Ia berjongkok, dihadapannya kini sudah terlihat sebuah brankas. Mungkin hanya dia yang tahu hal ini. Tangannya menekan beberapa angka yang ia gunakan sebagai password untuk membukanya. Wajahnya nampak begitu serius.

Dalam hitungan detik, brankas itu kini sudah terbuka. Ia ambil semua dokumen yang berada disana. Mengeluarkan dari tempatnya. Masih pada posisinya saat ini, tangannya membolak-balikan tumpukan kertas itu. Seolah mencari apa yang di butuhkannya saat ini.

“ Dimana sebenarnya berkas itu ? “ ucapnya pelan.

Kedua matanya mencermati kertas-kertas yang ada di tangannya. Wajahnya terlihat frustasi karena tidak menemukan apa yang di carinya itu. Ia mencoba menenagkan dirinya, menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.

“ Kau harus tenang Park Chanyeol. “ ia berusaha menghibur dirinya sendiri.

Kertas-kertas itu ia baca satu persatu. Mungkin saja saat mencarinya tadi ada yang terlewat. Keningnya kembali berkerut. Menunjukkan kekecewaan yang ia alami sekarang. Peluhnya kini sudah mulai menetes. AC yang ada di ruangan ini tak berpengaruh padanya saat ini.

“ Arghh… “

Ia lempar kertas-kertas yang ada di tangannya itu. Kedua tangannya kini mengepal erat. Entah ia menyadari atau tidak, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.

“ Kenapa tidak ada ? “ ucapnya lirih.

Ia tak menyangka usahanya saat ini akan berakhir dengan sia-sia. Chanyeol menyerah, ia menyandarkan punggungnya pada lemari. Pandangannya begitu tak bersemangat. Di lihatnya jam tangan yang ada di tangannya. Sepertinya ia benar-benar menyerah saat ini.

Chanyeol masih berada pada posisinya saat ini. Ia terlihat melamun. Tatapannya begitu kosong. Hening. Tak ada suara apapun di ruang ini. Ia coba untuk merenung sejenak. Memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Setelah beberapa lama terdiam dalam posisinya tadi. Chanyeol kembali memunguti kertas-kertas yang ia lempar tadi. Menatanya kembali menjadi satu tumpukan. Ia berniat untuk mengembalikan ke tempat asalnya. Kedua bola matanya membulat ketika melihat masih ada kertas lain di dalam brankas tersebut. Dengan terburu-buru ia ambil kertas tersebut. Bibirnya kini mengembangkan sebuah senyuman. Tampak kepuasan sendiri di dalam dirinya saat melihat apa yang ada di tangannya kini.

“ Byun Baekhyun, Kita memang sahabat. Tapi tidak selamanya aku selalu di bawahmu. “

Di luar sana tampak Hanni sedang memperhatikan seorang pria yang berada di depan mobil Chanyeol. Seperti hendak melakukan sesuatu dengan mobil mantan kekasihnya itu. Ia yakin bahwa pria itu adalah suruhan dari bosnya, Kris. Karena perasaannya tidak enak, di dekatinya pria tersebut.

Suara sepatunya mengagetkan pria yang hendak mengotak-atik mobil yang ada di hadapannya.

“ Apa yang kau lakukan disini ? “ tanya Hanni kemudian.

“ Ah.. nona Jung, saya hanya sedang me- “

“ Kau pergilah, Kris sudah menyerahkan hal ini padaku. “

Hanni memotong ucapan pria yang memakai kemeja biru ini.

“ Baiklah. “

Semua bawahan Kris memang sudah tahu siapa Hanni. Perlakuan Kris terhadap Hanni yang berbeda membuat para bawahan lainnya juga menghormati Hanni. Pria itu membungkuk sebentar, kemudian berjalan meninggalkan Hanni yang masih berdiri.

“ Apa yang di rencanakan Kris saat ini ? “

Kini Hanni membuka mobil Chanyeol yang tak terkunci itu. Entah apakah memang Chanyeol lupa menguncinya atau memang sudah di buka oleh pria tadi. Sebelumnya ia menatap ke sekitar, memastikan tak ada seorangpun yang melihatnya saat ini.

Chanyeol kini sudah berada di ruangan Paman Taeyoung. Pagi ini ia akan berangkat ke Busan untuk menyelesaikan urusan disana. Tentunya bersama Paman Taeyoung juga.

“ Tidak apa-apa kan jika aku mengajakmu ? “ tanya Paman Taeyoung kepada Chanyeol.

Ne “ Chanyeol mengangguk pasti.

“ Aku harap kau bisa merahasiakan ini dari Baekhyun. Aku tidak ingin dia kecewa denganku. “

Chanyeol masih mengangguk. Sorot matanya memiliki arti tersendiri.

“ Oh ya, kau sudah mengambilkan obat yang ku suruh tadi ? “

“ Sudah, ini paman. “ jawab Chanyeol sambil menyerahkan kotak yang berisikan obat milik Ayah Baekhyun itu.

“ Trimakasih. “

Chanyeol menatap Paman Taeyoung dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Entah tatapan benci atau apa. Ia sudah yakin tindakannya kali ini benar. Sebisa mungkin ia membuat rileks dirinya sendiri.

Dilihatnya Paman Taeyoung yang meminum obat pribadinya. Bibirnya kini sedikit melengkungkan senyuman tipis. Sekarang tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ Ayo kita berangkat sekarang. “

Chanyeol mengikuti Paman Taeyoung dari belakang. Sambil membawa bebrapa tumpukan map yang memang sudah di persiapkan itu.

 

Flashback end

 

“ Apakah aku bisa disebut pembunuh ? “ ucap Chanyeol lirih.

Bibirnya tersenyum kecut, ia tak tahu apa yang harus di lakukan saat ini. Haruskah ia mengatakan hal yang sebenarnya pada Baekhyun ?

Kecelakaan itu memang benar terjadi karena ketidaksengajaan. Tapi sebenarnya Paman Taeyoung sudah meninggal sebelum kecelakaan itu terjadi. Penyakit jantungnya itu kambuh dan bertambah parah setelah meminum obat yang telah di berikan Chanyeol sebelumnya.

Sebenarnya Kris juga tidak menunggu di Busan. Ia masih berada di Seoul saat kecelakaan terjadi. Kedatangan Paman Taeyoung ke Busan antara lain adalah untuk memnuhi beberapa persyaratan yang diberikan oleh Kris. Seperti mengenai saham di perusahaannya dan lainnnya. Karena beberapa hari sebelumnya Kris telah mengancam Paman Taeyoung mengenai kematian Ayahnya dulu. Kematian Ayah Kris memang ada hubungannya dengan Paman Taeyoung. Tapi kasus tersebut memang di tutup rapat-rapat oleh Ayah Baekhyun ini. Karena tak ingin rahasianya nanti terungkap di depan umum. Ia mengikuti perintah Kris yang memberikannya beberapa persyaratan itu. Tapi Kris bukanlah orang yang mudah, ia telah memiliki rencana yang lain. Untung saja Chanyeol mau berkompromi dengannya. Ternyata bukan dia saja yang mengharapkan Paman Taeyoung lenyap dari dunia ini. Chanyeol juga berpikir demikian. Ia juga telah mengetahui kebenaran yang telah di sembunyikan oleh Paman Taeyoung selama ini. Dan selama ini juga, ia selalu berpura-pura tidak tahu jika di depan Baekhyun.

“ Setelah apa yang kulakukan sampai sejauh ini, aku masih tak bisa memiliki semuanya. “

Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya menatap kosong ke arah layar televisi yang menyala di hadapannya itu.

Mianhae.. Mianhae Baekhyun-ah.. “ ucapnya lirih.

 

***

 

Mobil Luhan kini sudah sampai di depan Rumah Nara. Ia keluar duluan, kemudian membukakan pintu mobilnya. Nara yang sudah sedikit baikan itu tersenyum menerima perlakuan dari Luhan.

Gomawo Oppa, maaf telah merepotkanmu. “ ucap Nara setelah keluar dari mobil Luhan.

Ia berjalan lemas menuju gerbang rumahnya. Setidaknya tubuhnya sudah sedikit lebih baik. Pusingnya juga sudah sedikit menghilang.

“ Maafkan aku atas kejadian dulu. “

Nara yang membelakangi Luhan itu terdiam. Ia tahu apa yang di maksud oleh Luhan barusan. Kejadian yang memang tidak pernah ia lupakan itu.

“ Aku benar-benar tak terkendalikan saat itu. Maafkan aku telah mencium mu tanpa ijin. “ lanjut Luhan lagi.

Nara berbalik menatap Luhan, bibirnya mengulas sebuah senyuman.

“ Tidak perlu membahas tentang hal itu. Aku sudah melupakannya, Oppa tidak perlu meminta maaf. “

Luhan membalas senyuman Nara barusan. Ia merasa lega karena gadis kecilnya itu tidak marah.

Tiba-tiba saja rasa mual itu kembali menyerang pada tubuh Nara. Ia tak kuasa menahan rasa mualnya itu. Luhan yang menyadari hal itu, membelalakan kedua matanya. Sepertinya ia memang tahu apa yang terjadi pada Nara saat ini.

“ Kau tidak apa-apa ? “

Nara tak membuka suara, ia kini malah menutup mulutnya. Perutnya benar-benar terasa seperti di aduk-aduk. Karena tak tahan, ia mencoba memutahkannya. Luhan yang ada di hadapannya kini mendekat ke arahnya. Memijat lehernya perlahan.

“ Kau tidak apa-apa ? “

“ Aku tidak apa-apa, Oppa pulang saja. “

Kini Luhan membantu Nara untuk berdiri. Tubuh gadis kecilnya itu begitu lemas. Ia dapat merasakannya.

Sorot lampu mobil yang baru saja datang membuat Luhan dan Nara berbalik menatap sumber cahaya tersebut. Dengan mata yang menyipit karena silau, Nara dapat mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. Jantungnya berdetak begitu kencang manakala pemilik mobil tersebut keluar.Tubuhnya yang lemas itu bergetar ketakutan.

Seseorang yang barusan datang itu berjalan mendekati keduanya dengan begitu cepat.

“Siapa yang menginjinkanmu untuk menyentuh istriku!”

Satu pukulan yang cukup keras mengenai wajah Luhan.

“Baekhyun!”

 

-Tbc-

 

Ini versi lain dari sebelumnya Oke!😀 , Jadi endingnya antar juga beda

Keep waiting my lovely readers😀

13 thoughts on “FF: BABY DON’T GO Part 10

  1. liakyu berkata:

    Hahahaa..dek,,kirain cm satu chapter ini doank yg berubah,,ternyata TBC lagi…ini mau same chapter brp pula versi lainnya??

  2. liakyu berkata:

    Hahahaa..dek,,kirain cm satu chapter ini doank yg berubah,,ternyata TBC lagi…ini mau same chapter brp pula versi lainnya?? Next chapternya jgn lm2 yaa😀

  3. amelia berkata:

    wih keren jadi mulai dari chapter 10 ada ver. 2 nya😀 wah..
    keren thor.. aduh si baek ngapain mukul luhan u,u harusnya dia kan berterimakasih gitu.. u,u
    sebenernya chanyeol ini kenapa?? pengen hartanya keluarga baek atau gmana thor??
    sedikit kereksi juga itu ada huruf yang kurang thor.. hihi cuman satu hahah.. next chapternya di tunggu yah thor.. ^^

  4. lovelyrose98 berkata:

    Haah?chanyeol ternyata yg ngelakuin itu semua dan kerja sama bareng kris,jahat bgt sih cuma krn pengen berada di posisi atas chanyeol sampe tega nusuk baekhyun dari belakang.
    Dan apa chanyeol jg pnya dendam??
    Kasian baekhyun yg dikelilingi penghianat,,,,dan lagi2 ada kesalah pahaman…..kena deh luhan ditonjok lagi,,hadeehh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s