You Don’t Know Love Part 1

You dont know love

Judul: You Don’t Know Love

Author: Rhara Amalia

Cast: Xi Luhan, Zhang Yixing(Lay) with a Girl

Other Cast: You can find it at the Story

Genre: Romance, Brothership, Family

Rating: PG-15

Length: Chaptered (3.330 words)

~~~

*Stella POV*

Mataku harus ku paksa untuk terbuka ketika bunyi alarm sudah yang ketiga kalinya kembali berdering. Kalau bukan untuk mengantarkan tugas essay, aku memilih untuk melanjutkan tidurku lagi. Tapi aku sudah tiga kali menunda alarmku dan itu artinya sudah 15 menit aku habiskan hanya untuk mengumpul nyawa diatas tempat tidur.

Mataku masih terasa berat ketika kakiku menyentuh lantai. Walau samar tapi dapat kulihat kertas berhamburan dimana-mana. Laptop ku masih ditempat yang sama dan dengan posisi yang sama ketika aku tinggal tidur semalam. Tak ada yang berubah. Suasana kamarku masih sama seperti semalam. Sangat berantakan.

Aku menyeret kakiku dengan malas menuju kamar mandi dan memulai ritual pagi. Sekarang liburan musim panas dan ini terasa aneh ketika aku melakukan ritual yang sama seperti ketika aktif kuliah. Mandi lalu memanggang roti, menyeduh susu dan berangkat. Benar-benar essay itu sudah merebut liburan musim panasku. Mestinya aku berada di Beijing sekarang.Menghabiskan liburan musim panas di Beijing bukanlah hal yang sepele untuk disesalkan.

Aku memutuskan menghabiskan roti panggangku sambil menyetir mobil ketika ku lihat jarum jam menunjukkan angka yang mengisyaratkan aku harus cepat jika tidak ingin mendapati ruang dosen kosong. Karena ini musim panas para dosen tidak ingin menghabiskan waktu lama ditempat itu.Padahal mereka bisa mengambil libur juga tapi kenapa mereka malah menyiksaku dengan mengutus sesuatu yang bernama essay untuk membatalkan liburanku.Mereka bener-benar makhluk yang kejam.

Mobilku baru saja keluar dari pekarangan rumah ketika sebuah panggilan masuk ke ponsel ku. Aku melihat nama sahabat baikku tertera disana. Tanpa menunggu lama aku langsung memakai earphonedan menerima panggilannya.

“Luheeeeeenn” teriakku ketika aku menerima panggilannya.

“oh, Stella. Berhentilah memanggilku seperti itu. Aku sudah bosan mendengarnya dari Baekhyun dan sekarang kau juga ikut memanggilku seperti itu” aku terkekeh geli mendengar protesnya diujung sana.

“baiklah, Xiao Lu. Maafkan aku.Bagaimana liburanmu?Menyenangkan? Ah! Tapi jangan ceritakan padaku bagaimana menyenangkannya liburanmu kalau kau tidak ingin mendengar tangisanku sekarang. Mestinya aku bersamamu sekarang tapi si nyonya taman itu malah memberikan essay seperti ini. Dia menggagalkan semua rencana seru kita” kali ini giliran Luhan yang terkekeh diujung sana. Aku masih merengut padanya dan itu membuat ia semakin tertawa kencang.

“kita bisa pergi lain waktu, Stella” katanya menghiburku. “kita masih punya liburan-liburan musim lain yang bisa kita gunakan untuk liburan bersama. Oh iya, soal essay mu itu, apa itu sudah selesai?”

Aku mengangguk walaupun aku tahu ia tak bisa melihatnya. “aku sedang dijalan ke kampus untuk menyerahkannya”

“bukankahdeadline—nya masih lama?”

“aku sengaja ngebut agar aku masih bisa merasakan sisa-sisa liburan musim panas ini. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja hanya karena sebuah essay” dapat ku dengar Luhan kembali tertawa diujung sana. Begitulah ia, sahabatku itu suka sekali tertawa. Tertawanya yang renyah itu juga bisa mengundang siapa saja yang melihatnya tertawa juga ikut tertawa atau setidaknya tersenyum.

“untuk menghiburmu aku akan memberitahukan satu hal”

“hmm, apa itu?”

“aku akan kembali besok ke Korea” senyumku langsung merekah seketika. “dan aku harap kau bisa menjemputku besok di bandara” lanjutnya.

“tapi, Lu. Kau baru dua minggu disana.Bukankah itu terlalu cepat untuk ibumu?”

“ibuku mengerti, Stella. Lagipula aku bisa pulang setiap aku dapat libur yang sedikit panjang. Aku ingin menghiburmu”

“baiklah. Aku sangat senang mendengarnya. Tapi kau tak perlu mengorbankan ibumu demi aku”

“ibuku tidak keberatan, Stella. Sungguh”

“baiklah. Aku mengerti.” aku memakirkan mobilku sebelum aku keluar dari mobil dengan ponsel masih menempel ditelingaku. “baiklah, Lu. Aku baru saja sampai di kampus dan akan segera menyerahkan essay ini”

okay. Good luck

“hmm. Terima Kasih. Semoga liburanmu menyenangkan, Lu” kataku sebelum akhirnya menutup teleponnya dan menyimpan ponselku dikantong celana.[]

Rumahku bagaikan kapal pecah. Hanya karena essay dari nyonya taman itu membuat aku bagaikan buta dengan rumahku. Akhirnya beginilah aku sekarang.Dengan sapu dan beberapa peralatan bersih-bersih aku mulai membersihkan rumahku.Inilah yang harus aku terima karena kata mandiri yang ku katakan dahulu pada orangtua ku dulu.

Aku melebarkan mataku begitu melihat jam.Hampir sejam sudah kuhabiskan untuk membersihkan rumahku.Aku merutuk diriku karena memilih tinggal dirumahku dulu daripada mengambil apartemen.Rumah ini terlalu besar untuk ku bersihkan sendiri.Aku benar-benar letih sekarang. Aku akan tidur dan entah terbangun jam berapa nanti dengan keadaan letih seperti ini.

Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.Meluruskan seluruh otot-ototku yang tegang dan membuat tubuhku serileks mungkin.Mataku mulai terpejam secara perlahan saat sebuah telepon masuk ke ponselku.Berbagai macam kata kasar ingin aku teriakan.Aku ingin istirahat bisakah tidak ada telepon masuk untuk saat ini.

Aku ingin membiarkan telepon itu kalau saja aku tidak melihat nama orang yang meneleponku itu. Ia bukan orang yang sering menghubungiku walaupun ia menyayangiku. Aku maklum itu.Ia terlalu sibuk mengurus bisnis yang sudah dibangun dengan tangannya sendiri itu. Jadi sesibuk apapun akan aku sempatkan untuk menerima teleponnya.

“Hey, sister” sapanya diujung sana ketika aku menerima panggilannya. Bahkan ia yang menyapaku duluan.

“Hey, Kris.What’s up brotha?” Kris. Kakakku satu-satunya dan pria yang sangat ku sayangi didunia ini.

“baik! Sangat baik seperti yang kau ketahui”

“selama Olivia bersamamu” godaku sambil tertawa kecil.

“kau benar” ia pun menjawab sambil tertawa kecil diujung sana. Tawanya yang renyah belum berubah.Aku sangat merindukannya. “lalu bagaimana denganmu? Liburanmu?Kau ke Beijing untuk itu ‘kan?”

Aku terdiam sejenak ketika ia menanyakan liburan ke Beijingku yang gagal. Aku sungguh tidak ingin menceritakan rencana yang gagal total itu padanya. “Beijing? Menyenangkan! Benar-benar menyenangkan, Kris. Aku rasa aku tidak akan melupakannya seumur hidupku” sial! Lidahku benar-benar gila sekarang.Ia membuatku membohongi kakakku sekarang. Menggelikan.

“begitu ya. Lalu kau masih di Beijing sekarang?”

“tidak. Aku di Korea sekarang” setidaknya untuk kali ini aku jujur. “lalu bagaimana denganmu? Apa kau mengambil liburan bersama Olivia?”

“ya. Aku mengambil liburanku bersama Olivia.Kami di London sekarang” London.Bibirku terkatup begitu mendengarnya.Bagaimana bisa aku melupakan soal itu.Tentu saja mereka berada disana sekarang.Mestinya aku tidak pernah bertanya tentang liburannya.

“ibu menanyakanmu, Stella” aku tertawa menanggapinya. Ini benar-benar menggelikan.Sejak kapan ibuku peduli tentangku.

“jangan bercanda, Kris”

“kau bisa tanya Olivia kalau bisa meyakinkanmu. Sudah hampir dua tahun kau tidak pernah mengunjunginya lagi, Stella. Ibu merindukanmu”

Aku hanya terdiam mendengarnya. Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa lagi. Aku mengenal ibuku.Ia yang terlalu sibuk dengan bisnisnya dan karir adalah segalanya. Tak ada sedikitpun waktu untukku. Aku berusaha mengerti dan memahaminya tapi setiap kali aku mencoba mengunjunginya kami hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Aku hanya ingin ia istirahat. Tidak lebih. Tapi ia tak pernah memahami maksudku.

“ia berharap kau bisa mengunjunginya musim dingin nanti.”

“aku tak bisa janji, Kris”

“demi aku? Aku ingin merayakan natal bersamamu dan ibu.Seperti dulu walaupun tanpa ayah. Aku tak ingat kapan terakhir kita merayakannya bersama”

“bagaimana kalau semuanya hanya akan berakhir dengan pertengkaranku dengan ibu?”

“tidak akan. Aku janji.Aku menjaminnya.Kalian wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Dan aku hanya ingin merayakan hari spesial itu dengan kalian”

Aku menghela nafas.Menahan tangis.Saat ini aku teringat Ayah.Pria yang selalu hangat walaupun semua pekerjaannya seakan melilit seluruh badannya.Berbeda dengan ibu yang bahkan seakan menjadi seperti orang asing hanya karena pekerjaannya. Aku hanya ingin ibu seperti ayah tapi ia selalu marah jika aku mengungkit soal ayah.

“tutuplah, Kris. Aku ingin istirahat” kataku parau.Tangisku benar-benar ingin pecah sekarang.

“baiklah. Jaga kesehatan karena aku menyayangimu” aku mengangguk walaupun Kris tak dapat melihatnya.

Tepat setelah Kris menutup teleponnya aku menumpahkan tangisku.Aku memeluk bantalku erat.Menenggelamkan seluruh wajahku disana.Seluruh isi hatiku kutumpahkan disana.Aku benci ketika membahas London dengan Kris. Karena selalu akan berakhir seperti ini. Aku merindukan ayah.Merindukan pelukan hangat dan elusan lembut tangannya dirambutku untuk menghentikan tangisku.

Maafkan aku ayah. Aku benar-benar minta maaf.[]

*Luhan POV*

“kau benar-benar akan kembali besok ke Korea?” suara itu membuatku sedikit terlonjak. Aku tersenyum lembut begitu mengetahui siapa pemilik suara itu. Lay, sahabatku—maksudku adikku kini sudah duduk disampingku sambil menatapku.

“ya. Kenapa?Kau masih merindukanku?”

“oh ayolah, Lu. Kau bahkan baru dua minggu disini. Itu pasti belum cukup untuk ibu”

“ibu sudah setuju, Lay”

Lay memutar matanya begitu mendengar jawabanku. Aku tahu ia masih belum bisa menerima aku kembali secepat ini. Aku mengacak rambutnya dan itu membuat ia merengut. Benar-benar seperti anak kecil.Inilah yang membuat aku merindukan Beijing.Bukan hanya orangtuaku tapi kenyataan bahwa aku mempunyai seorang adik yang bisa berubah menjadi seperti anak 10 tahun membuatku selalu ingin cepat-cepat pulang begitu mendapat libur.Padahal umurnya hanya berbeda satu tahun dariku.

“jangan merengut. Aku tidak punya permen untukmu” Lay menyikut perutku sambil memasang tampang kesal.Aku meringis asal dan kemudian tertawa kencang. Aku yakin itu berhasil membuat ia bertambah kesal sekarang.

“berhenti mengejekku, Luhan. Ini benar-benar tidak lucu”

“baiklah, aku berhenti. Aku takut kau akan melaporkanku pada ibu”

“oh ku mohon, Luhan. Kau benar-benar menyebalkan”

“apa kalian bertengkar lagi?” sebuah suara lembut menengahi pertengkaran kami. Aku hanya tersenyum pada pemilik suara itu.Wanita tercantik didunia ini, ibuku.

“tidak. Kami saling menyayangi, bu. Tidak mungkin kami bertengkar” jawabku sambil menggandeng Lay. Lay menatapku dan menyipitkan matanya walaupun matanya memang sudah sipit. Ia kemudian menatap ibuku yang sekarang sedang duduk dihadapan kami.

“Luhan akan kembali ke Korea secepat ini, bu. Apakah ibu tidak apa-apa?” tanya Lay serius pada ibuku dan membuatnya tersenyum.

“Luhan tak pernah sedikitpun melewatkan liburannya untuk pulang dan mengunjungi kita disini, Lay. Jadi ibu rasa ini tak mengapa” Lay kembali menyipitkan matanya dan kini ia menujukan pada ibu.

“apa dia memberi alasan yang kuat padamu, bu?”

“alasan yang kuat seperti apa maksudmu, Lay?” potongku sebelum ibu mencoba menjawab pertanyaan Lay.

“misalnya seperti dia harus menemani pacarnya disana?”

“pacar?” aku tertawa kencang karenanya.“Bahkan kau sendiri tahu aku sampai saat ini tak punya pacar di Korea. Apa aku selalu melewatkan cerita penting hidupku padamu, Lay?” Lay hanya mengangkat bahunya menanggapi pertanyaanku. Aku meninju lengannya karena itu.

“sudahlah, Lay. Bukankah kau akan menyusulnya ke Korea?”

Aku mengangguk, membenarkan kata ibu.Lalu menatap Lay sedangkan orang yang ku tatap sekarang malah menghela nafasnya.

Lay berdiri dan duduk disisi ibu. Ia melingkarkan tangannya di bahu ibuku dan mengelusnya lembut. “aku seperti ini untuk dirimu, bu. Apalagi aku akan menyusulnya ke Korea. Bukankah kau akan kehilangan kedua anak laki-lakimu?”

Ibu tersenyum lembut. “tak mengapa. Asal kalian tidak melupakan wanita tua ini.Itu saja yang ibu harapkan” aku dan Lay saling bertatapan sebelum akhirnya kami tersenyum.

“wanita tua yang paling cantik di dunia ini” sahutku lembut sambil menghampiri kedua orang yang aku cintai didunia ini. Aku menggenggam tangan ibuku dan tersenyum lembut padanya.

“dan wanita tua yang paling hebat sepanjang masa” tambah Lay sambil menempelkan pipinya di pipi ibuku.[]

Pesawat yang aku tumpangi baru saja mendarat beberapa menit yang lalu di Incheon airport.Aku langsung keluar dan mengambil tasku.Aku melihat Stella sudah menungguku sambil melipat kedua tangannya didada.Ia belum melihatku sehingga aku harus melambaikan tanganku diatas sehingga ia menyadari keberadaanku. Ia tersenyum sebelum akhirnya ia membalas lambaianku.

“Hai, Lu” sapanya sambil tersenyum lemah.

Lemah? Ada apa dengannya? Wajahnya juga terlihat pucat.

“hey. Tak ada ucapan selamat datang?” kataku sambil menatap wajah pucatnya.

Ia tersenyum sebelum akhirnya ia merentangkan tangannya dan memelukku.

welcome back, Xiao Lu” katanya hangat sehangat tubuhnya.

Aku melepaskan pelukannya dan menempelkan dahiku ke dahinya. Benar dugaanku, ia demam.

“kau demam? Kenapa masih memaksa menjemputku di bandara? Aku bisa sendiri ke rumahmu kalau tahu kau sakit, Stella”

“aku sudah janji padamu, Lu. Lagipula aku tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti panasnya turun”

“kita ke dokter sekarang ya” bujukku tulus.

“tidak perlu, Lu” katanya sambil tersenyum. “kita hanya perlu pulang ke rumah secepatnya dan buatkan makanan untukku dan aku akan minum obat. Ayo!” katanya sambi menarikku untuk segera keluar dari bandara secepatnya.[]

“terima kasih makanannya, Luhan” Stella tersenyum lembut padaku.

“kau yakin tidak perlu ke dokter?” tanyaku sambil memberikan obat untuknya.

Ia mengangguk pelan sambil mengambil obat yang kuberikan dan meminumnya.

“aku hanya perlu istirahat” katanya seraya berdiri dan pergi menuju kamarnya. “maafkan aku, Lu. Disaat kau ingin menemani liburanku aku justru sakit seperti ini” ia berdiri di pintu kamarnya dan menatapku dengan tatapan bersalah.

Aku tersenyum lembut kepadanya. “jangan pikirkan itu. Kau harus sehat dulu. Beristrahatlah, Stella. Semoga cepat sembuh”

Ia membalas senyumku sebelum akhirnya dirinya hilang dibalik pintu.

Stella sudah tidur lebih dari 6 jam. Tidurnya benar-benar pulas.Mungkin efek dari obat.Tapi demamnya tidak juga reda.Aku ingin membangunkannya untuk makan malam dan minum obat lagi tapi aku tidak tega.Stella tertidur sangat pulas. Bahkan terkadang ia mengigau menyebut nama ayahnya atau Kris, kakaknya. Mungkin ia rindu keluarganya.

Tepat pukul 3 pagi aku dikagetkan oleh suara tangisan Stella.Dengan cepat aku berlari menuju kamarnya. Stella memang menangis tapi ia hanya mengigau. Ia pasti memimpikan ayahnya mengingat ia terus saja menyebutkan nama ayahnya. Aku meletakkan telapak tanganku didahinya.Sangat panas.Dengan cepat aku mengambil air dan batu es untuk mengompres Stella.Aku benar-benar panik. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku ingin menelepon Kris tapi aku rasa itu sia-sia saja.Kris tidak mungkin langsung berada disini mengingat Kanada dan Korea tak sedekat Korea dan Jepang.

Stella masih saja menangis.Aku tidak tega melihatnya seperti ini.Gadis ini yang kucintai lebih dari dua tahun tak mungkin aku tega melihatnya seperti ini.Aku menggenggam tangannya dan mengusap rambutnya.Berusaha menenangkan Stella.Dan benar saja beberapa saat kemudian Stella berhenti menangis dan mengigau.Ia kembali tertidur dengan jejak-jejak airmata dipipinya. Aku mengusapnya dan mengelus pipinya.

“tidurlah, Stella. Dan cepatlah sembuh. Aku merindukan tawamu”.[]

*Stella POV*

Aku bangun dengan mendapatkan sebuah handuk didahiku. Aku mengambilnya dan bangun dari tidurku ketika aku merasakan ada tangan lain menggenggam tangan kananku. Bibirku tertarik melengkungkan sebuah senyuman tanpa sadar begitu menyadari Luhan-lah orang yang mengenggam tanganku.Ia tertidur dalam keadaan duduk dengan kepalanya ditumpukkan dilengannya yang terlipat diatas tempat tidurku.

Aku mencolek-colek pipinya.Hal yang biasa aku lakukan untuk menganggu tidurnya.Itu kulakukan karena gemas melihatnya.Luhan jika tidur seperti anak kecil.Ingin sekali aku mencubit pipinya yang sedikit kemerah-merahan itu.

“Lu, Xiao Lu. Bangunlah” kataku lembut dengan tanganku masih mencolek-colek pipinya.

Beberapa saat kemudian badan Luhan mulai bergerak.Ialangsung duduk tegap dan mengerjap-kerjapkan matanya sampai akhirnya ia bisa melihatku dengan jelas.

“kau sudah bangun?” kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya. Aku mengangguk pelan menanggapinya.

Luhan mengulurkan tangannya dan menyentuh dahiku. “sudah tidak demam. Cepat sekali”

“sudah kubilang kan, aku akan cepat sembuh dan tidak perlu ke dokter. “

“lalu apa yang membuat demammu turun. Karena obat yang kau minum kemarin sama sekali tidak ada efeknya. Badanmu masih saja panas”

“entahlah. Mungkin karena ayahku.Aku merasa tangannya membelaiku semalam.Mengusap kepalaku dan menggenggam tanganku.Hangat sekali” kataku sambil tersenyum mengingat belaian ayahku semalam.“Tapi kenapa kau tidur disini?Dan bukannya di kamar sebelah?”

“semalam kau mengingau dan menangis kencang. Aku khawatir makanya aku disini” aku mengangguk mendengar penjelasan Luhan.

“terima kasih, Lu” kataku tulus. Luhan tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.

“tidurlah. Aku tahu tidurmu pasti tidak nyaman dengan posisi seperti itu. Aku yang akan membuatkan sarapan untukmu”

“sarapan? Kau bisa membuatnya?”

Aku berdecak kesal mendengar pertanyaan Luhan.Dia meremehkanku.

“aku memang tidak bisa memasak. Tapi kalau hanya sekedar roti isi untuk sarapan aku bisa, Lu” jawabku sambil bergerak turun dari tempat tidurku.

“kalau begitu aku ingin melihatnya.”

“terserah kau saja”

Mata Luhan tak pernah lepas dari kegiatanku selama membuat roti isi untuk sarapan kami.Apa dia benar-benar meremehkanku. Kalau hanya sekedar roti isi seperti ini kan aku pasti bisa.

“cobalah” kataku sambil memberikan satu roti isi padanya. Ia menggigitnya dan mengunyahnya pelan. Matanya memandang ke langit-langit dan beberapa detik kemudian ia menatapku dan tersenyum.

“enak”

“kau terlalu meremehkanku tadi” kataku. Aku menarik kursi disampingnya dan mendudukinya sebelum akhirnya aku menikmati roti isi buatanku.

“disebelah sepertinya terjadi sesuatu” kata Luhan melirik ke arah rumah disebelah rumahku.

“sudah beberapa hari ini. Mungkin sedang memperbaiki rumah karena akan ada yang menempatinya”

“bukankah itu rumah sahabat kecilmu dulu? Yang kau ceritakan padaku”

Aku mengangguk membenarkan Luhan. “tapi aku tidak yakin dia dan keluarganya yang akan menempati rumah itu lagi” kataku sambil tersenyum miris padanya. Aku tersenyum ketika mendapati Luhan sedang menguap. Benar-benar seperti gaya anak kecil menguap.

“setelah ini tidurlah, Lu. Aku tahu tidurmu pasti terganggu karenaku”

“tidak, Stella. Aku tidak apa-apa”

“kau bahkan menguap,Lu. Lagipula aku tidak mau kalau akhirnya kau yang sakit setelah aku.Tidurlah, walau hanya beberapa jam.”

Luhan menatapku dan menghela nafasnya pendek sebelum akhirnya tersenyum. “baiklah aku akan tidur setelah menghabiskan sarapanku”

“rusa yang pintar” kataku sambil mengacak-acar rambutnya. Luhan yang tidak terima diperlakukan seperti itu membalas dengan menarik pipiku. Kami saling membalas sampai akhirnya aku menyerah untuk mengerjainya.[]

Suara dari sebelah rumahku masih saja terdengar. Biasanya ini akan berhenti saat sore hari. Mungkin mereka akan mengubah seluruh isi rumahnya sesuai dengan keinginan sang pemilik baru. Seluruh isi rumah akan dibuat berbeda. Tapi soal seluruh isi rumah membuatku mengingat sesuatu. Taman! Ya benar taman belakang rumah yang sengaja dibuat menyambung dengan taman dibelakang rumahku. Aku mengingat itu adalah tempat bermainku dengan Lily—sahabat masa kecilku—sehingga orang tua kami berpikir untuk menyatukan taman itu untuk kami dapat lebih leluasa bermain.

Aku segera berjalan cepat menuju taman itu. Taman itu satu-satunya yang bisa ku ingat tentang Lily dan kenangan kami. Aku tidak tahu apa aku masih bisa mengenang Lily jika taman itu sudah diubah total oleh sang pemilik baru.

Aku membuka pintu belakang rumahku dan langsung berlari keluar. Aku sedikit bernafas lega ketika melihat taman itu masih sama seperti yang terakhir kali kulihat. Tidak ada yang berubah, atau mungkin belum.Belum ada yang diubah.

Aku masih mengedarkan pandanganku pada seluruh isi taman. Dan ketika mataku menangkap sosok pria tinggi dengan setelan jas biru aku memutuskan untuk berhenti.Aku memilih untuk mengamati sosok pria ini. Apa ini sang pemilik baru?.Aku sedikit terlonjak ketika menyadari kini mataku dan mata pria itu bertemu.Dengan sedikit kikuk aku tersenyum kearahnya.

“selamat siang” sapaku tulus.

“selamat siang” jawabnya sambil tersenyum.

“sepertinya sesuatu telah terjadi ya?” tanyaku hati-hati sambil menunjuk ke arah rumahnya.

“oh, maafkan aku atas ketidaknyamanan ini. Kami hanya sedang sedikit merenofasi rumah ini”

“tidak apa-apa. Aku tidak merasa terganggu. Lagipula ini tidak setiap saat.” Kataku tersenyum tulus. “maaf, apa anda pemilik rumah ini?”

“bukan. Saya pegawainya”

Aku menatap pria ini dari atas sampai kebawah. Pria ini cukup dewasa mungkin umurnya sekitar 30-an dan sepertinya sudah bekeluarga. Kalau pria seperti ini saja mengatakan rumah itu milik bosnya dapat aku tebak bosnya seperti apa nanti. Mungkin seorang pria dengan umur 50-an dengan seorang istri yang cantik dan beberapa anak yang sedang sekolah diluar negeri. Aku yakin akan hal itu.

“oh ya. Soal merenofasi rumah. Apa kau juga akan merenofasi taman ini?” kataku ketika aku kembali teringat soal ketidakrelaanku akan taman ini sampai diubah nanti.

“saya masih tidak tahu. Ini masih ditanyakan pada bos saya apakah ia ingin taman ini diubah atau tidak.”

“begitu ya” jawabku sambil mengangguk pelan.

“taman ini sangat terawat jika mengingat sudah ditinggalkan oleh pemilik lama rumah ini. Seperti masih ada yang merawatnya sampai saat ini”

Aku tersenyum mendengarnya.Baru saja aku ingin menjawabnya sebuah suara memanggil namaku.Dan aku yakin itu suara Luhan.

“Stella, kau dimana?” teriakan Luhan kembali terdengar. Aku tak sampai hati membuat ia terus berteriak mencariku.

“aku disini, Luhan. Di halaman belakang rumah” kataku sedikit berteriak untuk memperjelas suaraku sampai ketelinganya. Dan benar saja tidak berapa lama Luhan sudah menyusulku ke taman.

“sedang apa kau disini?” tanyanya begitu bergabung denganku di taman.

Aku baru saja ingin menjawabnya saat aku teringat saat ini aku sedang berbicara dengan pemilik rumah sebelah atau lebih tepatnya pegawainya. Tapi begitu aku menoleh ke tempat pria tadi berdiri ia sudah tidak ada. Cepat sekali perginya dan bahkan tidak mengatakan apapun padaku.Atau mungkin aku yang tidak mendengarnya?

“Stella?” suara Luhan menyadarkanku.

“aku tadi sedang bicara dengan pemilik rumah sebelah, pegawainya lebih tepatnya. Tapi ia sudah tidak disini padahal baru beberapa saat kami mengobrol”

“benarkah? Lalu?”

Aku menatap Luhan berusaha mencari apa arti dari pertanyaan Luhan. Dan aku tersenyum kecut ketika aku mengerti apa arti pertanyaan itu.

“orang yang beda, Lu. Karena jika orang yang sama ia tidak mungkin mengubah seluruh isi rumahnya mengingat nyonya pemilik rumah itu sangat menyukai dekorasinya”

Luhan melingkarkan lengannya dibahuku dan mengelusnya lembut. “kalau Tuhan mengijinkan kau pasti bisa bertemu dengannya lagi” aku mengangguk sambil tersenyum lembut ke arahnya.

“masuklah. Akan kubuatkan makan siang” katanya lagi sambil membawaku masuk ke dalam rumah.[]

2 thoughts on “You Don’t Know Love Part 1

  1. Tridha Aristantia berkata:

    Luhan itu bener2 sosok kakak, sahabat & kekasih yg baik..
    suka liat LayHan brothership :*
    aku penasaran sama orang yg bakal tinggal di sebelah rumah stella itu, hmm..apakah ada hubungan’a ma stella atau sama LayHan??
    Lay ayoo cepet susul luhan ke korea hehe..

    keep writing rhaaa, semangat ya nerusin ff’a..ditunggu lanjutannyaaaa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s