S.I.X part 6

Untitled

 

Tittle     : S.I.X

Author   : BPI

Cast         : Kim Jongin-Kai (EXO)

Jung Ririn (OC)

Oh Sehun (EXO)

Xi Luhan (EXO)

Anh Hara (OC)

Kim Jongdae-Chen (EXO)

Shin Yongri (OC)

And other… (temukan sendiri)

 

Genre     :Friendship, School, Romance, Comedy (maybe)

 

Suara lenguhan Jongin yang masih asyik tidur terdengar menyebalkan di telinga Luhan. Pria itu sudah mencoba membangunkan Jongin lebih dari 10 kali semenjak matahari belum terbit, hingga kini matahari sudah tinggi. Jongin mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menatap ke sekeliling ruangan yang menurutnya asing di ingatannya. Saat matanya tertuju pada bingkai foto berukuran besar, ia baru sadar kalau ini bukan kamarnya.

“Luhan?”

Kepala Jongin menyembul ke luar kamar yang memang sudah terbuka, ia menengok ke arah dapur yang memang dekat dengan pintu kamar dan tersenyum ke arah Luhan yang sedang makan di sana.

“Luhan?”

“Hmm”

Luhan hanya mengangguk dalam kunyahan roti panggang yang baru saja ia buat. Ia mendorong piring berisi roti panggang yang sudah di beri selai ke arah Jongin yang duduk di hadapannya.

“Bagaimana aku bisa di sini?” Tanya Jongin, mencium aroma roti lalu melahapnya.

“Kau mabuk. Lalu satpam menyuruhku untuk membawamu kemari. Kau tau kan kita ini masih di bawah umur untuk mengkonsumsi alkohol, untung satpam itu tak melaporkanmu” Ucap Luhan menunjuk nunjuk hidung Jongin yang di balas anggukan oleh pria berkulit tan itu.

“Apa yang terjadi?”

Jongin menghapus selai yang ada di sudut bibirnya. Ia tersenyum getir lalu mengangkat bahu acuh.

“Aku ingin mandi. Sekolah akan di mulai setengah jam lagi bukan”

Luhan hanya menatap punggung Jongin yang menghilang di balik pintu kamar mandi lalu beranjak untuk menyiapkan seragam untuk Jongin.

 

-_-

 

“Anneyong Ririn”

“Ann.. anneyong “ Ririn tersenyum aneh membalas beberapa sapaan manis dari para murid. Untuk pertama kalinya ia di sambut begitu ramah oleh para murid di sekolahnya. Di belakanganya Hara menatap tak suka.

“Ririn.. Jung Ririn”

Semua nya menatap ke belakang pria tampan yang selalu tampil cool kini berlari seperti anak kecil mengejar Ririn yang sepertinya tak mendengar teriakannya. Ia pun tak seperti biasanya mengacuhkan Hara yang ia lewati begitu saja tanpa sapaan, atau senyuman manis seperti biasa.

“Hei Rin”

Ririn berbalik dan langsung mendengus kesal melihat tampang Sehun yang kelelahan berlari di sepanjang koridor mengejarnya.

“Mwo?”

“Dimana Jongin?”

Ririn makin bingung dengan Sehun yang mempertanyakan Jongin padanya. Memang dia siapanya.

“Mana ku tahu. Bukankah kau sahabatnya? Kenapa bertanya padaku?” Jawab Ririn acuh langsung melanjutkan jalannya.

“Hei” Sehun mencekal pundak Ririn, membuat mereka kini langsung berhadapan “ Bila aku tahu tak mungkin aku bertanya padamu. Kau kan teman satu group dengannya. Lagi pula aku sudah ke apartemen nya tapi ia tak ada”

“Hubungi dia! Jaman sudah semakin canggih Oh Sehun” Ririn meninggalkan Sehun yang menghembuskan nafas berat, ia meringis kesal menatap punggung wanita yang hanya tersenyum licik.

“Dia kenapa membenciku?”

Sehun berbalik dan mencoba menelfon Jongin kembali. Tapi langkahnya berhenti saat ia melihat Luhan dan Jongin jalan beriringan ke arahnya. Ia menghela nafas lega lalu mempercepat jalannya menuju mereka berdua.

“yak Jongin aku mencarimu”

“Anneyong Sehun” Sapa Luhan pada Sehun yang hanya meliriknya sekilas.

“Ada apa kau mencariku?” tanya Jongin menatap Sehun yang berbinar seperti anak kecil

“Ada berita baik. Kemari ini rahasia”

Sehun mengajak Jongin kekantin dan meninggalkan Luhan yang hanya diam di tempatnya. Luhan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan jalannya menuju kelas pertamannya.

 

“Anneyong Luhan”

Luhan tersenyum saat Yongri menyapanya dengan eyesmile . Ia meletakkan tas nya di samping gadis berambut sepundak itu.

“Kau masuk kelas menulis lagu?” Tanya Luhan sedikit senang melihat sahabatnya di kelas bersama dengannya.

“Ya. Ini salah satu syarat 10 tersebesar”

Luhan mengangguk dan menatap wajah-wajah baru seperti Chanyeol, Kris , Tao dan beberapa 10 terbesar di kelasnya,

“Kau membaca berita tadi pagi? Mengenai pesta ulang tahun Sment?” Tanya Yongri badannya ia hadapkan ke Luhan yang sedang membuka buku nya.

“Ani. Wae?”

“Ririn sangat cantik. Walaupun aku melihatnya secara langsung dengan gaun pink soft itu aku bahkan melihatnya lagi di tv, dan itu membuatnya lebih cantik” Ujar Yongri yang hanya di balas anggukan oleh Luhan.

“Kau mendengarkanku?” Tanya Yongri melihat tanggapan Luhan yang biasa

“Nde”

“Ada lagi. Jongin, dia anak CEO Kim, pemilik SM kau tahu?”

Kini Luhan menengok ke arah Yongri dengan mata lebar. Jongin anak CEO Kim? . ini mustahil melihat dari kondisi dan kabar mengenai trainee gagal dari Jongin, sungguh mustahil kalau ia itu anak seorang CEO.

“Kau tak tahu juga? Semua anak sedang membahasnya. Dan satu lagi” Yongri mendekat ke arah Luhan dan membisikkan sesuatu pada pria yang masih terkejut itu.

“Kau tak bercanda kan?”

“Tentu tidak. setelah penampilan kami semalam, ku lihat hyung Jongdae, yang di kenal sebagai Suho, CEO muda SM itu memberitahu kalau Jongin pergi entah kemana”

“Jadi.. Jongin dan Jongdae itu bersaudara?”

“Tepat nya saudara tiri”

Suara deheman membuat kedua orang yang sedang bergosip itu terdiam. Mereka menatap Jongdae dan Baekhyun yang menatap mereka tak suka. Baekhyun maju beberapa langkah, melipat tanganya di dada.

“Kalian sepertinya punya bakat menjadi host acara gosip korea, kenapa susah-susah sekolah di sini?”

“Yak Byun Baekhyun apa maksudmu?”

Luhan menahan pundak Yongri yang sudah naik turun menahan emosi.

“Maaf, aku tahu kami salah” Ucap Luhan, mencoba tenang.

“Luhan apakah kau yakin bergabung dengan Ririn dan Jongin dengan kondisi seperti ini. keluarlah dari group itu. Aku yakin kau lebih baik bersolo saja dari pada kehilangan kaki mu kembali”

Luhan membeku melihat raut wajah datar Jongdae mengatakan itu semua. Ya. Jongdae tau semua karena mereka pernah tinggal di China bersama. Jongdae atau yang selalu Luhan panggil Chen selalu membantunya dalam bernyanyi. Mereka pun tinggal di rumah Xiumin bersamaan.

“Ada apa ini?”

Young Jin Songsaenim menatap para murid yang menatap ke dua orang yang saling menatap itu. Yongri menatap Luhan menuntut jawaban atas perkataan Jongdae, begitu pula yang lain.

“Kim Jongdae, Xi Luhan dan kau Juga Oh Sehun. Duduk di tempat kalian”

Sehun yang terdiam di pintu kelas berjalan menuju kursinya dan duduk.

 

-_-

 

“Luhan?”

“….”

“Aku tak tahu, aku saja sedang menunggunya di ruang dance. Memang kenapa?”

“….”

“Ah ok! Aku tutup “

Ririn mematikan sambungan telefonya bersama Yongri saat mendengar suara pintu di buka dan memperlihatkan siluet Jongin masuk dengan wajah berantakan.

“Ada apa dengan mu?” Tanya Ririn mendekati Jongin yang jatuh terduduk dengan punggung menyandar pada dinding.

“Kepala ku sakit, sepertinya ini efek minum kemarin” Jawab Jongin sambil memijat pelipis kepalanya.

“Kau minum? Yak kau-“ Ucapan Ririn berhenti saat pintu kembali terbuka dan memperlihatkan Luhan dengan wajah kusut.

“Yak! Xi Luhan kau juga kenapa?”

Bukannya menjawab Luhan malah menjatuhkan dirinya di samping Jongin yang juga menatapnya.

Pria manis itu hanya menunduk dan mengehela nafas berulang kali. Ucapan Jongdae, dan pertanyaan pertanyaan Yongri membuat keberanian nya kemarin turun drastis. Ia pun sudah bertanya kepada Lay Songsaenim, tapi songsaenim datar itu tak membantu malah membuat Luhan tambah pusing.

“Bila dirimu tak percaya, bagaimana orang percaya”Ucap Lay saat Luhan mempertanyakan kembali keberaniannya untuk masuk dalam group Taemin ini.

“Luhan gwenchana?”

“Gwenchana” Jawab Luhan , ia mengangkat wajahnya dan tersenyum membalas wajah kekhawatiran Ririn di sampingnya.

“Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian menjadi lesu seperti ini.. Hei! Sebulan lagi kompetisi. Aku tak mau kalau kita kalah dalam putaran pertama. Kajja!”

Ririn menendang kaki Jongin yang sudah terjun ke alam mimpi di samping Luhan yang malah tersenyum melihat kelakukan sahabatnya itu.

“Yak Xi Luhan kau juga mau ku tendang!”

Luhan berdiri, lalu membantu Ririn membangunkan Jongin yang hanya meringis kesakitan saat kaki dan tubuhnya di tendang.

 

-_-

 

Sebulan lagi kompetisi

Dan ini merupakan putaran pertama yang akan menyeleksi beberapa group yang wajib lolos atau akan mengulang lagi di babak ke 2 nanti.

Para 10 terbesar akan menampilkan sesuatu yang heboh. Bukan seperti acara ulang tahun SM dimana mereka di bagi beberapa bagian. Kini mereka akan tampil dalam satu group.

“Aku sudah meminta Youngjin Ahjusshi untuk membuat lagu, dan lagu itu sungguh menarik. Aku pun sudah membali kalian dalam beberapa posisi”

Semuanya menatap Jessica yang melihat catatan kecilnya.

“Vocal akan di isi Jongdae, Baekhyun, Lami. Dance akan di isi oleh Sehun, Tao, Yongri Hara,Hyohyeon selanjutnya Rapp Chanyeol dan Kris”

Mereka semua mengangguk setuju. Memang itu semua adalah skill yang mereka kuasai selama ini. untuk menekuni yang baru dalam waktu sebentar mungkin akan memberikan waktu lama.

“Dan untuk bulan ini. kalian akan tinggal di rumahku sepenuhnya. Bukan hanya untuk acara TV, ini juga untuk membuat kalian disiplin. Aku akan menunggu kalian besok jam 7 malam di rumahku”

Setelah mengerti mereka pun membungkuk ke arah Jessica yang tersenyum manis. Setelahnya menghela nafas panjang saat handphone nya berbunyi.

“Ye Suho?”

“Ah Noona, bagaimana? Apakah ia mau?” Tanya suara di seberang sana, terdengar sangat antusias.

“Mianhae, aku harus bertanya dulu kepada para Tim untuk memasukkan murid lain ke dalam 10 terbesar ini” Ucap Jessica, menjatuhkan dirinya di kursi empuk.

“Ayolah Noona, bila mereka tahu ini permintaan ku atau appa. Aku yakin mereka akan diam dan setuju”

“Suho. 10 terbesar sudah di kenal oleh masyarakat. Mereka pun mengenal siapa itu Jongin. Bila kita tiba-tiba saja memasukkan nya ke dalam 10 terbesar kau tau apa yang akan di katakan para netizen, kau tak lupa bagaimana dulu Jongin menjadi bahan obrolan netizen di dunia maya. Ia masih sangat muda, jangan membebaninya terlalu dalam”

Suara di sebrang sana terdengar lelah, begitu pula dengan Jessica yang hanya tersenyum getir.

“Aku hanya ingin Jongin merasakan tak di beda bedakan dengan Jongdae, mereka berdua sama sama anak appa dan juga adikku”

“Aku mengerti Suho, tapi ku yakin Jongin akan mengerti suatu saat nanti. Saat ia sudah dewasa”

 

-_-

 

Suara sepatu hak tinggi bergema di lorong yang sudah sepi. Sudah jam 10 malam, tentu saja para murid sudah kembali ke rumahnya masing-masing untuk istirahat. Suara itu tiba-tiba hilang saat mendengar alunan musik terdengar di ruangan dance lantai bawah.

Wanita yang penasaran itu membuka ruangan dan terkejut melihat 3 orang siswa siswi yang juga terkejut menatapnya.

“Annyeong songsaenim” Jongin dan Luhan, di ikuti Ririn membungkuk di hadapan Jessica yang masih terkejut.

“Kalian tahu ini jam berapa?” Ucap Jessica, sedikit membentak karena ini sudah lewat dari jam malam para murid.

“Mianhae songsaenim. Kami terlalu asik berlatih” Ujar Luhan dengan raut wajah menyesal.

“Jangan terlalu memaksakan diri kalian. Pulanglah !“

Mereka terlihat canggung, tak terkecuali Ririn dan Jessica yang duduk di depan. Jongin dan Luhan pun tak berani mengeluarkan suara sedikit pun di dalam mobil yang sedang melaju itu.

“Kalian tinggal dimana?” Tanya Jessica tersenyum manis membuat mereka tersenyum tanpa sadar.

“Di Apartement Seoul no 342 songsaenim” Ucap Luhan dengan wajah polosnya.

“Panggil aku ahjumma bila tidak di sekolah”

“Ahjumma? Kau bahkan terlihat lebih muda dari pada Ririn” Ujar Jongin menatap Jessica dari spion depan

Ririn melotot kesal, begitu pula Jessica yang menggeleng-geleng heran. Usianya sudah masuk kepala 4 tapi tetap saja tak ada yang mau memanggilnya ahjumma.

“Kai aku sudah punya 2 anak, jangan menggodaku”

“Kai?” Luhan dan Ririn saling pandang bingung sedangkan Jongin terdiam di tempatnya.

“Oh Kalian tak tahu? Kai adalah nama lain Jongin. Cukup terkenal di kalangan trainee SM”

Setelah itu Ririn dan Luhan mengerti kenapa Jongin diam selama perjalanan pulangnya.

 

-_-

 

Jongin mengacak rambutnya frustasi, kenapa semua kenangan – kenangan mengenai trainee nya keluar malam ini? . apa karena hari ini ia habis kan dengan tidur jadi ia tak bisa tidur dan memikirkan hal yang tak penting. Ia beranjak dari kasur dan mengambil jaket. Mungkin udara malam akan membuatnya lelah dan tidur.

Langkahnya berhenti setelah menuruni tangga pertama. Ia menatap pintu apartemen milik Luhan. Mungkin Luhan akan menemaninya. tapi tanganya berhenti saat ingin mengetuk pintu. Mungkin Luhan juga lelah, mereka berlatih hingga jam 10 malam tadi. Tapi saat ia berbalik pintu apartemen di belakangnya terbuka dan memperlihatkan Luhan yang berjalan tertatih menutup pintu apartemen nya.

“Luhan? Gwenchana?” Tanya Jongin, ia medekati Luhan yang mundur karenanya

Luhan terkejut, keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhnyaterlebih wajahnya yang sudah sangat pucat. Ia mencoba tersenyum, tapi malah membuat wajahnya terlihat meringis.

“Aku.. aku baik-baik sa..saja Jong,.in” Ucap Luhan, tangannya menempel pada tembok untuk menahan berat tubuhnya

“Kau bohong! Kajja kita kerumah sakit”

Luhan menepis tangan Jongin yang mengalungkan tangannya di pundak Jongin. Jongin tak menyerah ia pun membawa tangan Luhan kembali ke pundaknya dan membawanya ke dalam lift.

“Lepas.. Jong..in.. aku..”

“Diam lah. Kau sedang tak baik-baik saja Luhan”

Luhan tak mampu lagi mengelak, ia benar benar sudah tak bisa mengangkat tubuhnya. Semuanya terasa mati, tak dapat ia rasakan kaki nya berpijak. Atau apapun yang di lakukan Jongin saat ia jatuh tak sadarkan diri.

-_-

Jam menunjukkan pukul tengah malam, tapi Jongin tetap saja duduk di kursi pengunjung di lorong tempat dimana Luhan di rawat. Setelah mendapatkan bantuan dari satpam apartemen akhirnya Jongin dapat membawa Luhan ke rumah sakit terdekat.

Ia mendongak saat dokter dan suster keluar dari ruang perawatan dan memanggil Jongin.

“Kau siapa Luhan?” Tanya dokter kepada Jongin

“Aku? Teman sekelas sekaligus tetangga dan temannya. A.. apa yang terjadi?” suara Jongin terdengar khawatir.

“Kini Luhan baik-baik saja. Hanya saja kondisi nya belum terlalu pulih. Aku sudah memberinya obat tidur dan pereda nyeri. Besok pagi ia sudah siuman” Ucap Dokter menepuk pundak Jongin

Seorang suster datang menghampiri mereka dan memberitahu bahwa wali Luhan akan segera datang. Sebenarnya Jongin pun cukup terkejut saat satpam mengatakan kalau Luhan sudah sering datang ke rumah sakit ini dan di rawat oleh dokter yang kini sedang ada di hadapan Jongin. Seakan akan Luhan memang pasien yang sudah sangat sering kemari.

“Kau pulanglah! Kami akan menjaga Luhan dengan baik”

“Tidak. bolehkah aku di sini?”

Dokter dan ke dua suster itu saling tatap dan seorang suster mengangguk mengiyakan permintaan Jongin. Jongin pun membungkuk mengucapkan terimakasih dan masuk kedalam ruangan Luhan.

Cukup terkejut melihat Luhan dengan beberapa selang di tubuhnya. Terdapat infus dan oksigen yang di beri kepadanya. Adalagi sebuah kain putih yang menyangga paha kiri nya yang membuat Jongin terperangah.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa?” Jongin melangkah maju ingin menyentuh paha Luhan yang hanya berbalut celan pendek dan beberapa perban di sana.

“Jongin? Kai?”

Jongin menoleh dan terkejut melihat tampang pemuda imut itu tersenyum cerah padanya. Minseok tak segan memeluk Jongin yang lebih tinggi dari nya dan memukul mukul pundaknya saking senang nya.

“Kai? Bagaimana bisa kau di sini? Aku tak percaya kau berteman dengan Luhan?” Tanya Minseok masih asik memegang tangan Jongin yang masih terdiam.

“Ahjusshi ini benar kau?”

“Yak kau melupakan ku” Minseok cemeberut memperlihatkan wajah baby face nya yang membuat Jongin tersenyum.

“Ani. Kau tak berubah sama sekali. Padahal kau sudah menjadi ayah” Ujar Jongin mencubit pipi Minseok yang langsung mendapat pukulan keras di bahunya.

“Yak kau sangat tidak sopan. Usiaku sudah 30 tahun jangan membuatku seperti anak kecil”

Jongin hanya tertawa. Lalu ia seketika terdiam saat mengingat sesuatu.

“Ahjusshi? Kau wali Luhan?”

Minseok terdiam. Memandang lirih ke arah Luhan lalu merangkul Jongin mendekat.

“Kau lapar? Ingin aku belikan sesuatu?”

 

-_-

 

Kerikil kerikil tak berdosa menjadi bahan kekesalan Ririn yang entah kenapa ia sangat kesal saat kedua teman groupnya Luhan-Jongin tak mengangkat telefon nya atau sekedar memberi kabar kenapa ia tak dapat masuk hari ini.

Sudah jam istirahat kedua dan Ririn belum menemukan jejak mereka sama sekali. Bahkan Lay songsaenim tak tahu menahu kemana Luhan pergi. Apakah ia benar-benar lepas tangan dengan keadaan Keponakan jauhnya itu.

“Rin?”

Ririn mendongakkan kepalanya dan mendapati Tao, Lami dan Yongri duduk di kursi kantin bersamanya. Mereka menaruh nampan dan memakan makanan mereka.

“Hari ini kau tak ada kelas?” Tanya Yongri menatap Ririn hanya masih memasang wajah kusut.

“Seharusnya hari ini aku, Luhan dan Kai mendapatkan kelas vocal dengan Ryeowook ahjusshi. Karena mereka menghilang aku tak bisa mengikuti kelasnya”

“Wae?” tanya Lami sedikit bingung.

“Kalian tahu kan, sebulan lagi penampilan banyak sekali group yang sudah membooking para songsaenim untuk mengajar. Apalagi group kami hanya terdiri dari 3 orang cukupsulit membooking songsaenim” Ujar Ririn semakin lesu

“Memang Luhan kemana? Dari kemarin aku menghubungi nya tak di angkat” Tanya Yongri sedikit kesal mengingat perilaku Luhan setelah apa yang di katakan Jongdae di kelas menulis lagu kemarin.

“Kau masih memikirkan perkataan Jongdae?” Tanya Tao, menatap Yongri yang mengangguk

“Perkataan apa?” Ririn mencondongkan tubuhnya ke 3 orang yang menatapnya ragu.

Lalu Yongri menceritakan semuanya dari saat mereka membicara Jongin hingga Jongdae mengatakan itu di kelas. Ririn tampak berfikir membuat ke 3 orang itu menatapnya ingin tahu.

“Luhan memang sedikit aneh bila kamu berlatih dance terlalu kuat” Ucap Ririn membuat yang lain menatap nya terkejut.

“Apa benar Luhan memiliki cidera? Apakah cidera itu sungguh parah sampai-sampai ia tak bisa dance kembali”

“Sudahlah kalian jangan memikirkan hal yang tidak tidak” Saran Tao menatap ke 3 wajah gadis yang masih berfikir keras di hadapannya.

 

-_-

 

Minseok memakirkan mobilnya asal di halaman luas rumahnya. Ia tak menghiraukan bila nanti Sohee istrinya memarahinya. Ia menguapberulang kali saat berjalan tanpa mengiraukan Baekhyun yang asyik bermain PS di ruang tengah.

“Annyeong Ahjusshi”

Sapa Baekhyun membuat Xiumin menoleh dan membalas salam nya. Matanya langsung membulat saat Jongdae turun dari tangga dengan tas besar di punggungnya.

“Kau mau kemana? Hiking? Berkemah?”

“Tinggal di dorm tepat ya” Jawab Chen setelah menuruni semua tangga

“Dorm?” tanya Minseok makin membulatkan matanya.

“Nde Ahjusshi, Jessica songsaenim menyurh kita tinggal di sana selama satu bulan ini untuk putaran pertama”

Minseok tertawa kecil lalu duduk di sofa ruang tengah. Mengambil sedikit cemilan yang tadi di makan Baekhyun.

“Mereka tahu bagaimana cara mengambil keuntungan. Kalian bahkan tak di bayar untuk acara TV ini bukan?”

Jongdae dan Baekhyun saling tatap dan mengangguk. Mereka berdua tahu siapa Minseok. Adik dari CEO Kim pemilik SM ini memang sangat Kritikus bila tentang dunia hiburan. Walaupun tak menjadi CEO, Minseok memiliki saham besar di SM.

“Ahjusshi kenapa kau baru pulang? Kau tahu Sohee ahjumma sangat marah padamu karena kau tiba-tiba menghilang tadi pagi”

Jongdae duduk di samping Minseok dan mengambil cemilan yang ada di tangan pamannya itu.

“Luhan masuk kerumah sakit lagi. Dan kau tahu Kai ada di sana saat aku datang”

“Luhan?” Tanya Baekhyun yang duduk di salah satu sofa di sebrang mereka.

“Apakah kabarnya baik-baik saja?” Jongdae tidak menghiraukan pertanyaan Baekhyun. Ia menatap Minseok dengan wajah khawatir.

“Terakhir aku di sana ia sudah siuman. Tapi sepertinya ia harus isturahat, begitu juga diriku” Ujar Minseok meregangkan tubuhnya lalu bangkit dari duduknya.

Jongdae menatap Minseok yang berjalan menaiki tangga dan menghilang.

“Kau bisa jelaskan bagaimana kau bisa dekat dengan Luhan?” Baekhyun menatap Jongdae menuntut.

“Luhan sahabatku saat aku di China, akan ku ceritakan nanti”

Jongdae lalu berjalan keluar di ikuti Baekhyun yang berjalan di sampingnya. Mereka memasuki mobil sedan milik Baekhyun yang sudah sedari tadi terdiam di depan pintu rumah Minseok.

 

-_-

 

“Apakah tak apa-apa?”

Ririn menengok ke arah Yongri yang terlihat sangat ragu-ragu untuk memasuki kamarnya. Kamar bernuansa klasik itu terlihat sangat mewah dengan design eropa tua yang kental. Jam dinding besar, dan kasur king size berwarna coklat soft membawa mata Yongri tak henti hentinya menatap seluruh sisi ruangan tersebut.

“Ayolah Yongri. Bila aku yang bicara pada eomma, aku yakin ia tak akan menegurmu” Ucap Ririn gemas. Ia menarik lengan Yongri untuk memasuki kamarnya lebih dalam.

“Bagaimana dengan Lami?”

Ririn terdiam sebentar, lalu bibirnya tertarik kembali memberikan senyuman manis nya.

“Kita bawa ia kemari juga. Ayolah sudah lama sekali aku ingin merasakan acara menginap. Besok-besok kita bisa tidur di rumah mu atau Lami”

“Errr..”

Ririn menatap Yongri yang terlihat ragu. Ia lalu membawa Yongri ke kasur nya dan merangkul sahabatnya yang terlihat kaku itu.

“Menginap di sini saja dulu. Bukankah 3 minggu itu waktu yang lama”

Yongri mengangguk saja menyetujui permintaan Ririn yang sudah meloncat senang. Ia langsung terdiam saat melihat jam yang menujukan pukul 4 sore. Waktunya untuk berlatih dance dengan Luhan dan Jongin.

“Aishh sepertinya aku telat. Yongri aku harus pergi” Ririn mengambil tas ransel nya dan segera pergi sebelum pundaknya di tarik oleh Yongri yang membulatkan matanya.

“Kau pergi? Lalu aku bagaimana? Bisa-bisa-“

“sstt.. aku akan bicara pada eommaku nanti. Tenanglah, dari pada kau ikut denganku, aku akan pulang jam 9 nantinya”

Ririn lalu melambaikan tangannya di hadapan wajah lesu Yongri. Yongri menengok ke belakang ke kamar Ririn yang sangat besar. Mengambil ransel besar yang tergeletak di lantai dan membukanya. Memperlihatkan beberapa pakaian yang sudah ia siapkan.

“Kamarmu bahkan sebesar ruang tamuku Rin. Apakah kau akan betah bila nanti acara menginap”

 

-_-

 

Mata rusa Luhan sudah jengah menatap Jongin yang masih asik bermain game di PSP . Ini sudah gelap dan Jongin belum kembali ke apartement nya dari kemarin. Bahkan untuk makan dan membersihkan diri ia menumpang di rumah sakit. Sudah berulang kali Luhan menyuruh sahabatnya itu kembali kerumah. Setidaknya untuk mengganti pakaian yang sudah ia gunakan sejak kemarin itu.

“Jongin pulanglah, baju mu sangat bau”

Jongin tak mengiraukan omelan Luhan yang hanya bisa terduduk di kasurnya dengan paha yang di sangga dengan bantal.

“Bila nanti kau ingin ke kamar mandi atau ingin sesuatu siapa yang akan membantu” Jawab Jongin di balik PSP yang menutupi wajahnya.

“Masih ada suster. Kau lihat bila aku memencet bel ini suster akan datang 3 menit setelahnya” Luhan menunjuk bel merah di atas kasurnya. Jongin melirik sebentar lalu mempause game nya.

“Lalu suster mesum itu akan datang dan membantumu ke kamar mandi, hahahha”

Luhan memutar bola matanya. Ya suster mesum, atau siapalah itu yang tadi pagi Luhan panggil untuk membantunya ke kamar mandi saat Jongin dan Minseok sedang membeli sarapan ke kantin. Luhan tak menyangka suster tersebut akan membantunya buang air kecil hingga masuk ke toilet.

“Itu pekerjaan mereka Jongin” Jelas Luhan dengan wajah memerah.

Jongin tetap saja tertawa, ia bahkan memukul mukul sofa saat Luhan membuang wajah merahnya ke arah lain. Tawanya berhenti saat pintu kamar rawat inap terbuka dan membuat Jongin terdiam seketika.

“Untuk apa kau kemari?” Tanya Jongin dingin menatap Jongdae dan Baekhyun yang baru saja masuk dengan buah dan sedikit makanan kecil.

“Pulanglah Kai. Aku akan menjaganya 1 jam “ Suruh Jongdae menatap wajah kusut Jongin dengan celana seragam yang kemarin ia gunakan.

“Sebelum kami ke rumah Jessica sunbaenim” Lanjut Baekhyun yang langsung membuat Jongin memutarkan bola matanya.

“Ya Tuhan.. Jongin.. Ririn pasti menunggu kita” Ucap Luhan membuat Jongin terkejut pula. Ia tak membawa handphone begitu pula Luhan untuk menghubungi gadis yang kini mungkin sedang menendang apapun di hadapannya.

 

-_-

 

Alunan musik tak hentinya terdengar sejak 2 jam lalu. Tak seperti biasanya akan ada suara bising dari gesekan sepatu dan lantai. Melainkan suara siul atau hembusan nafas berat yang terdengar. Ririn dengan lesunya duduk bersila dengan tangan menopang dagu dan berwajah lesu menatap dirinya di balik kaca luas di ruangan praktek.

Ia sebenarnya tak sayang mengeluarkan banyak uang untuk menyewa studio dance ini. melainkan aktivitas menunggu ini membuatnya kesal. Belum lagi ke dua teman satu groupnya ini tak bisa di hubungi.

Dengan menatap jam dinding di ruangan Ririn berjanji akan pergi bila pukul sudah jam 6 malam. Dan benar saja hitungan ke sepuluh ia bangkit dan mengambil tas ranselnya. Dalam hati ia merutuki ke dua teman groupnya itu.

“Awas saja kau Jongin dan Luhan, tak ada maaf membuat gadis menunggu”

Terlalu asik dengan fikirannya. Ririn tanpa sengaja menabrak seseorang bertubuh tinggi, memakai kaca mata hitam dan kemeja merah yang cukup cerah di langit yang cukup gelap. Minuman yang di bawa pria itu tumpah ke pakaian Ririn tanpa di sengaja.

“Yak!” Teriak Ririn tak terima.

“Hei kenapa kau yang berteriak padaku. Kau yang menabrakku, Lihat sepatuku basah karenamu”

Ririn diam sebentar lalu ia tersenyum sinis sangat tahu siapa pemilik suara ini. Oh Sehun menyebalkan. Apa yang dia lakukan di jalanan Seoul malam malam begini.

“Ternyata kau, sudahlah aku malas bermasalahan denganmu” Ririn mengibaskan tangannya di wajah Sehun yang menganga tak percaya. Ia membuka kaca matanya dan menahan lengan Ririn yang berlalu begitu saja.

“Kau membuat sepatuku basah nona Jung” Ucap Sehun penuh tekanan

“Lalu?”

Mereka tak menghiraukan beberapa mata yang memperhatikan mereka. jarak mereka sangat dekat. Ririn mulai gelisah dengan detak jantungnya yang makin berdetak kencang. Dengan sigap ia mendorong tubuh Sehun menjauh dan melipat tangan di dada.

“Aku akan menggantinya” Ucap Ririn terlihat salah tingkah membuat Sehun tersenyum iblis.

“Kau fikir sepatu ini ada dua di dunia? Ibuku khusu mendesain nya untukku” Kata Sehun dengan nada lebih tinggi

“Ibuku akan meminta ibumu untuk membuatnya lagi. Aku yakin ia tak akan menolak”

“Ia akan menolak bila aku yang meminta”

“KAU!”

“APA?”

Ririn menghentakkan kakinya kasar di tangan dan mengacak rambut frustasi yang membuat Sehun tertawa. Ia bahkan tak menghiraukan beberapa orang melihatnya takut.

“Apa yang kalian lakukan?”

Sehun menengok ke arah suara dan melihat ke 4 teman groupnya Hara, Hyeohyon, Kris dan Chanyeol berjalan ke arah mereka dengan tas ransel masing-masing. Sehun seketika berubah dengan kembali memakai kaca mata hitamnya kembali. Sepertinya ingin terlihat cool di hadapan wanita yang ia sukai.

“Kalian bertengkar di sisi jalan? Kekanakkan sekali” Komentar Hyeohyon menatap Sehun dan Ririn sinis.

“Tidak ini keren. Seperti di drama drama, dan akhirnya si pria akan melakukan hal romantis untuk mendapatkan maaf dari si wanita” Ucap Chanyeol bersemangat membuat Sehun mual dan Ririn memerah.

“Annyeong Rin ah”

Ririn mendelik sekilas ke arah Hara yang tersenyum manis. Ririn yakin memang dia seperti malaikat, cantik dan manis. Tapi sayang ia masuk ke dalam daftar orang yang tak ia sukai.

“Annyeong, kalian bukanya ingin ke rumahku? Eomma akan datang sebentar lagi. Eommaku tak suka orang yang tak disiplin “ Ujar Ririn memperlihatkan jam di tangannya.

Chanyeol pun mengangguk dan menyuruh teman-temannnya untuk melanjutkan perjalanannya. Melewati Ririn yang masih saja terdiam. Dia melihat betapa terlihatnya Sehun yang berusaha dekat dengan Hara, kenapa itu membuatnya sesak? Dan ia tak suka saat Sehun menggantikan posisi Hyeohyon berjalan di samping Hara yang diam saja saat Sehun menoel pundaknya.

 

-_-

 

FLASH BACK

 

Jongdae kecil menghentikan memainkan piano saat mendengar suara vas bunga jatuh dan hancur. Suara itu makin membuatnya takut saat mendengar suara teriakan seseorang minta tolong. Bukannya lari ke sumber suara, Jongdae malah bersembunyi di bawah piano dengan kaki gemetar. Ia tahu apa yang terjadi, dan ia tak mau tahu kalau ini kenyataan. Akhirnya saat ini tiba. Dimana wanita yang ia cintai tiada. Eommanya memang sudah tak bisa bergerak saat ia kecil. Struk yang diderita membuat Jongdae harus menerima istri kedua atau lebih tepat nya istri simpanan appanya datang ke rumah untuk membereskan segala sesuatu mengenai nyonya rumah.

“Hyung!!!”

Jongdae menutup telinganya rapat-rapat mendengar suara memanggilnya. Suara itu menggema di seluruh rumah mewah keluarga Kim. Dan makin dekat saat pintu kamarnya terbuka”

“Hyung… eomma… eomma.. eomma..hiks.. hiks..”

Suara pria kecil yang hanya berbeda beberapa bulan darinya menangis tersedu mendekat ke arah kasur putih di ruangan itu. Jongdae melihat langkah Jongin mendekat dan duduk di kasurnya dengan isakan. Ia mengambil gambar eomma tirinya itu dan mendekapnya kuat. Jongin tahu ia siapa, tapi ia sudah menganggap Nyonya Kim adalah eommanya juga. Itulah yang eommanya ajarkan padanya. Jongdae adalah Hyungnya begitu pula Jeomyon yang saat ini sedang sekolah di luar negeri.

Mata dan hati Jongdae memanas. Ia kesal menatap Jongin menangis dengan mendekap poto eommanya. Itu eommanya. Bukan eomma Jongin. Sejak dulu ia tak suka Jongin memanggil eommanya dengan sebutan eomma dan appanya dengan sebutan appa.

“Pergi!”

Jongin terkejut menatap Jongdae yang mendekat dan merebut poto itu dengan paksa.

“Pergi!”

“Hyung.. hiks.. eom.. eom-“

“Dia bukan eommamu!!! Dia eommaku !!! jangan sebut dia eomma !! karena ia tidak melahirkan mu!!”

Jongin terdiam. Ia tak tahu apa yang merasuki Jongdae sampai ia seperti ini. Jongdae memang pendiam, tapi ia selalu menerima Jongin dimana Jongin selalu mengajaknya bermain atau hanya sekedar belajar bersama.

Jongdae memang terlihat dingin, tapi ia memilki hati yang hangat. Jongdae lah yang membantu Jongin untuk dapat memasuki ballet dan terbebas dari ejekan para temannya. Jongdaelah yang membuat Jongin suka menari, irama piano yang Jongdae mainkan semuanya membuat Jongin menari. Dan Jongin suka itu.

 

Saat mereka lulus sekolah dasar tanpa melakukan photo bersama teman-temannya Jongin berlari ke arah ruang musik di mana Jongdae berada. Ia tak tahu kalau Jongdae telah melakukan tes untuk sekolah di luar negeri. Jongdae memilih sekolah di Beijing dan meninggalkan Jongin sendiri. di rumah besar yang bahkan selalu sepi ada atau tanpa adanya Jongdae dan Jongin.

Jongin segera mendekati Jongdae yang sedang asik dengan buku not lagunya. Ia menaruh lengannya di pinggang tanda ia sedang kesal.

“:Chen, kenapa kau tak bilang akan sekolah di Beijing?”

Chen. Panggilan Jongdae sejak kecil. Nyonya Kim sangat menyukai nama panggilan anak anaknya yang ia buat sendiri. Suho untuk Jeomyeon dan Chen untuk Jongdae. Sedangkan Kai untuk Jongin di buat langsung oleh Suho saat Kai kecil meminta nama panggilan untuknya.

“Untuk apa? Kau pasti akan mengikutiku” Jawab Jongin masih asik memandangi buku not lagunya.

“Wae? Kau ingin menjauhiku? Lalu kau akan meninggalkanku di sini? Sendiri? atau kau tak ingin bersamaku lagi?”

Jongdae terdiam di balik bukunya. Ia menatap wajah sedih Jongin yang selalu di tampilkannya bila ingin meminta sesuatu.

“Aku akan belajar musik di Beijing dengan Minseok ahjusshi, kau di sini menemani appa”

“Shirreo!”

Jongdae menatap Jongin yang sudah memerah menahan kesal.

“Kenapa harus aku? Kenapa bukan kau? Aku ini hanya anak wanita simpanan appa aku tak berhak atas semua ini? kau ingin menjauhiku kan? Pergi saja… akupun akan pergi”

Jongin meninggalkan Jongdae yang terdiam. Bukan itu masalahnya, tapi memang terdengar mirip. Jongdae memang membenci Jongin. Tapi ia juga menyayanginya sebagai saudara. Ia membenci appanya yang membuat keputusan untuk masa depan anaknya. Keluarga Kim memang terkenal dengan rumah produksi artis terkenal sejak tahun 90 an. Dan hanya antara Jongdae dan Jongin lah yang merupakah anak kandung tuan Kim yang akan melariskannya. Sayangnya kedua anaknya tak ingin menjadi pebisnis seperti dirinya.

Sekolah khusus pria, inilah yang Jongin pilih. Dengan giat ia belajar untuk masuk sekolah menengah pertama tersebut. Dengan perjanjian tak akan ada bodyguard selama ia sekolah disana, sekolah itu memiliki asrama di mana Jongin dapat tinggal di sana selama sekolah berlangsung.

Tapi tak tahu jalan fikiran Jongin. Pria nakal itu ternyata memiliki rencana lain di balik ia masuk sekolah tersebut. Ternyata dengan mudahnya ia mengikuti audisi SM tanpa ada yang mengetahui ia siapa, dan masuk ke dalam trainee. Tapi kehendak berkata lain saat ia sudah memasuki tahun ke 3 trainee dimana ia akan debut, tuan Kim sendiri yang memutuskan mengeluarkan Kim Jongin, trainee terkenal itu dari SM sendiri.

Lain hal nya dengan Jongdae di Beijing. Dengan mudahnya belajar music sekaligus sekolah bisnis yang hanya menjadi alasannya sekolah di luar negeri. Ia berteman baik dengan Luhan, yang merupakan mantan artis cilik yang kini di rekrut oleh Minseok sebagai artis solo bila ia sudah lulus SMA nanti.

Luhan dan Jongdae memiliki banyak kesamaan. Suara mereka sama sama bagus, walaupun tak di pungkiri Jongdae dapat sampai ke nada tinggi melebihi Luhan. Mereka pun nyambung dalam hal musik. Luhan dulu adalah penyanyi cilik, ia memiliki pengetahuan musik seperti penyanyi dewasa. Perbedaan mereka adalah di dalam hal menari. Jongdae tak bisa menari, dan Luhan tak di perbolehkan menari. Dan Jongdae tahu tentang itu

Tapi masa kebahagiaan Jongdae berhenti saat appanya meminta Jongdae beserta Minseok untuk kembali ke Korea. ketahuannya Jongin menjadi trainee membuat tuan Kim benar-benar tak mempercayai kedua anaknya itu. Tapi dengat tekat kuat, Jongin tak ingin kembali ke rumah, dan masuk sekolah musik Kirin begitu pula dengan Jongdae yang lebih memilih tinggal bersama Minseok yang sudag berkeluarga untuk meneknuni musiknya.

 

Flash Back and

 

=TBC=

11 thoughts on “S.I.X part 6

  1. tisyaaa berkata:

    yeayyy akhirnya keluar jg part 6 nyaa!! sebenernya agak kecewa karena di part ini moment sehun – ririn nya sedikit😦 next part banyakin ya eon momentnya trus jg jangan lama lama ngepostnya hehe :9 hwaitinggg

  2. nnnss berkata:

    Maaf thor baru ngomen hehe
    Ff nya keren sumpah jangan lama-lama thor update nya soalnya lagi seru nih keep writing thor !!!

  3. Laksita berkata:

    Kai kasian banget😦 trs itu si sehun masih aja ngejer2 hara😐 kasian ririn kan tp ak lebih suka ririn sma jongin kekeke ceritanya bagus eon lanjut teruss yaaa semangat hwaiting (^▼^)ง jangan lama2 lanjutnyaaa yaaa ntar lupa alurnya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s