FF: The Wolf and not The Beauty (part 13)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Bukankah kalian tau jika klan Theiss dan klan Rouler selamanya akan menjadi musuh dan saling menyerang?”

“Sehun, aku sedikit khawatir tentang kau dan Luhan.”D.O memulai pembicaraannya saat mereka berada dalam perjalanan kembali ke kumpulan.

Sehun menatapnya bingung, “kenapa? Kami baik-baik saja.”

“Sepertinya ayah mulai curiga kita berteman dengan Luhan. Dia juga sudah memberitahu paman Charles dan menanyakannya. Tapi untungnya paman Charles meyakinkan ayah jika hal itu tidak mungkin terjadi.”

Sehun menghentikan langkahnya tiba-tiba, menatap D.O dengan mata melebar, “paman Arthur bertanya pada ayah? Pantas saja kemarin malam dia melarangku untuk keluar. Untung saja tadi pagi Kris menjemput dan meyakinkan ayah jika kita tidak akan melakukan hal-hal aneh. Jadi karena ayah juga mencurigaiku?”

D.O menghela napas panjang, “kau tau kan bagaimana kejamnya klan Theiss? Sejak dulu, klan itu adalah klan yang paling ditakuti. Dan ku dengar, ayah Luhan dan kakak laki-lakinya memang sangat kejam dan kuat.”

“Kau bahkan tidak pernah bertemu dengan mereka, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.”balas Sehun merasa tersinggung.

“Itu pasti kenyataan karena tidak hanya satu orang yang mengatakannya.”ucap D.O tetap bernada hati-hati. “Luhan adalah keturunan terakhir klan Theis, dan bisa dipastikan dia akan menjadi pemimpin di masa depan. Dan kau adalah keturunan terakhir klan Rouler, kau juga mulai dilatih untuk menjadi pemimpin nantinya. Kalian adalah bagian penting dan kalian tidak bisa menjadi sahabat.”

“Jadi kau melarangku berteman dengan Luhan?!” Sehun mulai kesal. “Hey, sudah ku bilang dia—“

“Aku tau. Maaf.”potong D.O cepat, mengerti tentang perasaan Sehun. “Tapi, perbedaan tetaplan perbedaan. Kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti. Luhan juga sahabatku.”

***___***

Sehun duduk diatas batu besar yang ada didepan rumahnya dalam diam. Sambil mendongakkan wajah menatap bulan purnama yang bersinar diatasnya. Luhan dan para werewolf murni yang lain pasti sedang berubah sekarang, pergi ke perdesaan dan mencari mangsa untuk mengisi perut mereka yang lapar. Dulu, saat dia masih menjadi werewolf murni, dia juga akan pergi mencari makan. Tapi sekarang, dia tidak akan berubah seram karena dia hanya akan memakan daging hewan. Hanya gigi taring dan kuku panjang yang akan keluar dari tubuhnya.

Ia mengangkat tangannya, menatapnya lekat dan menunggu jika saja ada bulu yang keluar dari sana. Tidak. Itu tidak mungkin lagi. Bahkan warna matanya sudah berubah menjadi coklat sekarang, bukan merah seperti dulu.

Sumpah tetaplah sumpah. Klan Rouler dan klan Verdun harus menjalankannya seumur hidupnya, menjadi pelindung pastor Solomon dan keturunannya. Mereka juga akan menjadi jarski dan tidak akan meminum darah pastor Solomon. Mereka tidak akan menjadi makhluk abadi.

“Sehun! Sehun! Cepat pergi! Ayo!” Tiba-tiba Kris menghambur kearah Sehun, membuatnya terkejut.

“Hah? Ada apa?”

“Klan Theiss menyerang rumah Pastor Solomon. Ayo pergi! Kita harus melindungi mereka!” Kris menarik lengan Sehun paksa agar dia turun dari atas batu.

“Hah? Tapi aku—“

“Sehun ayo!” Kai melintas, berhenti saat ia melihat Sehun dan Kris belum bergerak. “Ada Luhan. Sekarang dia sedang berubah, kau tidak mau dia meminum darah pastor Solomon, kan? Kita harus mencegahnya.”

Saat mendengar nama Luhan disebut, akhirnya Sehun melompat turun. Mengikuti D.O dan yang lain yang sudah bergerak lebih dulu. Sepertinya ayahnya juga sudah pergi bersama Arthur dan Louis Verdun.

Mereka terus berlari menuju perdesaan. Harus datang lebih cepat sebelum pastor Solomon terluka. Sesampainya didepan rumah pastor Solomon, Sehun melihat jika sudah terbentuk dua kubu yang terlihat sudah bersiap untuk berperang.

Ada Arthur yang memimpin klan-nya, dan ada ayah Luhan disebrang sana. Dia juga melihat Luhan berdiri disamping seorang pria tinggi besar yang ditebak Sehun adalah kakak laki-lakinya. Wajahnya memang menyeramkan.

D.O menarik Sehun ke dalam kumpulan, sedikit khawatir dengan perasaan werewolf muda itu. Bagaimanapun baiknya Luhan, dia tidak akan mengingat apapun jika sudah berubah seperti itu. Dia bukan Luhan yang biasanya, sekarang didepan mereka, dia adalah Luhan yang penuh dengan bulu tebal, taring tajam dan cakar yang panjang. Dia berbahaya.

“Dengar, kau tidak perlu berperang. Aku akan melindungimu dan tugasmu adalah menjangkau Luhan. Bawa dia pergi sejauh mungkin.”

Sehun menoleh, keningnya berkerut.

Jarski tidak akan lebih kuat dari werewolf murni. Jika pastor Solomon mati, setidaknya Luhan tidak meminum darahnya.”jelas D.O .”Itu kan yang kau inginkan?”

Mata Sehun melebar, ia tersentuh, “D.O…”

“Sudahlah. Turuti saja kata-kataku. Oke?”

“D.O, dimana pastor Solomon sekarang?”tanya Kai.

“Paman Charles sudah membawanya pergi. Setidaknya dia sudah aman sekarang.”

“Baguslah. Ini saatnya bertarung.”

D.O mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Kai dan menatapnya lurus. “Terus berdiri dibelakangku, aku akan melindungimu.”

Kai menggeleng, “Aku juga akan melindungimu.”

Kai sadar, walaupun klan Verdun sudah bergabung dengan klan Rouler tapi tetap saja mereka adalah jarski. Mereka tidak makan daging manusia, hanya daging hewan yang mereka dapatkan di hutan.

Dan hal itu terjadi pada diri Kai juga, dia tidak terlalu kuat. Bahkan saat latihan adu panco bersama Luhan, dalam tiga kali pertandingan dia tidak pernah menang.

Saat werewolf-werewolf itu mulai berhambur ke depan, bersiap untuk saling menyerang dengan tujuan yang berbeda. Menyerang dan melindungi.

Jantung Kai rasanya ingin merosot turun dari rongga penyanggahnya. Ini adalah pertarungan pertamanya setelah sumpah itu dikeluarkan oleh ayahnya. Dia merasa belum cukup kuat untuk ini, tapi sumpah itu sudah mengikatnya dan mengharuskannya untuk ikut berperang.

Ditengah-tengah pertarungan, Kai hanya berdiri dengan sepasang matanya yang mulai berkabung. Menatapi D.O, Kris, Sehun, ayahnya dan yang lain bertarung melawan klan Theiss. Ia takut. Sangat takut.

Hingga tiba-tiba sebuah tangan menyambar tangannya dan menggenggamnya erat-erat, Kai mendongak.

“Ayo bertarung. Anggap ini adalah uji coba yang selalu kita lakukan, anggap semua ini mudah. Jangan takut, ada aku.” D.O menyadarkannya dari lamunan panjang.

Akhirnya Kai mengangguk, menghusap air matanya dengan lengan baju lalu bergabung bersama yang lain untuk berperang. Ia mengeluarkan cakar tajam dan taringnya, melompat ke salah satu werewolf murni yang mencoba menyerang Kris.

Disisi lain, Sehun mencoba menerobos kerumunan. Luhan berdiri jauh dari jangkauannya, bersisian dengan kakak laki-laki dan ayahnya. Sebenarnya dia takut, tapi dia harus melakukannya untuk sahabatnya. Bukankah keinginan Luhan juga menjadi jarski? Dia tidak boleh meminum darah pastor Solomon.

“Arrgghhh…” Sehun terkempal saat dari arah samping ada yang menyerangnya, merobek lengannya dengan kuku yang tajam.

“Sehun! Kau tidak apa-apa?” Kai menghampirinya dan membantunya untuk bangun.

“Sakit sekali.” Ia meringis, memegangi lengannya yang mulai mengeluarkan darah.

Kai menatap ke segala arah, mencari bantuan secepat mungkin karena kini werewolf yang menyerang tadi sudah berjalan kearahnya dan Sehun.

“Kris! Kris!” Ia berteriak sekuat mungkin. “Bantu aku! Sehun terluka!”

Kris menyelesaikan lawannya dengan cepat, memutar kepalanya dan mencabutnya dari sana. Lalu, menghampiri Kai dan Sehun dan menolong mereka. Melihat lengan Sehun yang benar-benar mengeluarkan darah, Kris merobek bajunya hingga membentuk untaian kain panjang. Ia menutup luka itu sambil menatap lirih jarski muda yang sedang meringis menahan sakit didepannya.

Sedangkan Kai, ia berdiri. Bersiap untuk menghadapi werewolf yang kini semakin dekat dengannya.

“Jadi kau adalah anak dari pengkhianat itu?”desis werewolf itu menatap Kai sinis.

Kai menggeram, “jangan pernah menyebut ayahku pengkhianat!”

Werewolf itu tertawa mendengus, “lalu apa? Ayahmu telah merubah takdir kaum werewolf dengan sumpah konyolnya itu.”

“Tutup mulutmu, brengsek!” Kai melompat tinggi kearah werewolf itu. Menindihnya dan berhasil mencakar dadanya kuat. Namun ternyata werewolf itu tidak selemah yang ia kira, dia mendorong tubuh Kai dan kini posisi berpindah menjadi Kai yang tertindih.

Sekuat tenaga, Kai mendorong werewolf itu sebelum ia sempat terserang. Ia bangun dan kembali terlibat perkelahian. Saling memukul dan saling menyerang. Walaupun hasrat pemburunya sudah menghilang, tapi Kai menyadari jika dia cukup kuat untuk menghadapi werewolf itu.

Dia tidak menghindar, tapi menghadapinya dengan seluruh keberanian. Kai memberikan tendangan di perut werewolf itu, melompat dan menindih dadanya dengan kedua lutut. Mencakarnya dengan membabi buta, dan akan mengakhirinya secepat mungkin.

“Kai, stop!”teriak Sehun. “Jangan menggigitnya! Kau akan berubah menjadi pemburu kembali!” Sehun memperingatkan.

“Patahkan kepalanya, Kai!” Kris juag meneriaki.

“Jangan takut, Kai. Lakukan!” Hingga akhirnya D.O datang, membuat Kai semakin yakin.

Kai mengerang. Ia berdiri, lalu mengangkat salah satu kakinya tinggi-tinggi. Dengan kekuatan penuh menginjak batang lehernya hingga terlepas.

Kai terengah, terduduk disamping tubuh werewolf itu dengan napas yang naik-turun. Dia sudah berhasil menyelesaikannya.

“Ayo! Tidak ada waktu lagi! Kita harus bantu ayah.” D.O menarik lengan Kai dan memaksanya untuk berdiri.

Sehun dan Kris juga ikut bergerak, namun mereka berlari kearah berlawanan. Mereka akan mencari Luhan.

Menemukan Luhan yang sedang terpojok karena dua jarski tengah mengurungnya, Sehun langsung berlari kesana. Tidak.Tidak boleh. Mereka hanya salah paham. Luhan bukanlah werewolf jahat seperti klannya.

“Paman, stop! Jangan!” Sehun menyelinap, merentangkan kedua tangannya didepan tubuh Luhan. “Dia temanku! Jangan melukainya!”

“Sehun, apa yang kau lakukan? Minggir! Kita harus membunuh keturunan terakhir mereka!”

“Aku mohon, jangan! Jangan lakukan!” Sehun berbalik, mencekal kedua lengan Luhan dan mengguncang tubuhnya kuat. “Sadarlah! Kau adalah Luhan! Kau sahabatku!”

Luhan tidak menyadari apapun. Justru semakin memperlihatkan gigi taring tajamnya pada Sehun, mencoba mengancamnya agar dia mundur. Namun Sehun tidak gentar.

“Luhan, aku mohon! Kau ingin menjadi jarski, kan? Ayo sadarlah. Kita tidak akan saling menyerang, kan?”

“Sehun, minggir!” Dua orang jarski yang ingin membunuh Luhan tadi menarik paksa tubuh Sehun dan menjatuhkannya ke tanah.

“Paman aku mohon! Jangan! Jangan lukai dia!” Sehun berdiri, kembali menahan lengan dua orang jarski itu.

Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam muncul, begitu cepat dan berpindah-pindah. Mengitari mereka semua dalam jangka waktu yang teramat singkat. Saat semuanya kembali seperti semula, mata Sehun mendadak melebar saat melihat dua orang klannya kini sudah tewas tanpa kepala.

“Astaga!”Sehun menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Sehun, mundur!” Kris menarik lengan Sehun agar ia berdiri dibelakangnya, ia merentangkan kedua tangan, berusaha melindungi Sehun dari sosok yang kini sudah berdiri didepan mereka.

Sosok itu menyunggingkan senyum. Tingginya memang tidak lebih tinggi dari Kris, tapi tubuhnya lebih besar dan kekar. Juga wajah dinginnya yang terlihat sangat menakutkan. Sosok itu berdiri didepan Luhan, menatap lurus kearah Kris dan Sehun.

“Jadi ternyata kalian benar-benar bersahabat dengan adikku?”serunya datar. “Bukankah kalian tau jika klan Theiss dan klan Rouler selamanya akan menjadi musuh dan saling menyerang?”

“Luhan tidak mau melakukannya! Luhan sahabatku!”teriak Sehun dari belakang tubuh Kris.

Sosok itu tertawa mendengus, “benarkah? Aku bahkan bisa membuat Luhan membunuhmu sekarang.”

Peperangan itu benar-benar terjadi ditanah lapang yang ada didepan rumah pastor Solomon. Sudah banyak tubuh-tubuh tanpa kepala yang bergeletakan di tanah namun perang belum juga berhenti. Menemani ayah mereka melawan ketua klan Theiss, Kai dan D.O benar-benar fokus pada lawan.

“Kai! Awas!” D.O menarik tubuh Kai ke belakang saat ayah Luhan hendak menerkamnya. Kai termundur, berhasil mengelak lalu maju kembali untuk memberikan serangan.

“Aaarggghhh!” Tiba-tiba, lengkingan teriakan terdengar membuat Kai dan D.O langsung menoleh kebelakang. Detik itu juga, mata mereka membulat lebar melihat sosok yang begitu mereka cintai kini tersungkur di tanah, tidak bergerak dan tanpa kepala.

“AYAAAHH!!!” Kai langsung berlari kesana, memberikan pukulan pada werewolf yang telah berhasil membunuh Arthur. Memukul, menendang, mencakar, dan semua ia lakukan seorang diri.

Ia seperti orang gila. Seperti kesetanan dan kehilangan kesadaran. Sambil menangis, dia terus melawan. Hingga akhirnya dia berhasil mematahkan kepalanya seperti dia mematahkan kepala ayahnya.

Kai lalu berbalik, menatap penuh kebencian kearah seseorang yang sekarang sedang bertarung dengan D.O. Tidak perduli jika dia adalah ayah dari sahabatnya atau tidak, dia harus mati. Semua ini karena dia. Kesedihan yang kini ia rasakan juga karena dia.

Kai menarik napas, namun tidak mengembalikan kesadarannya. Amarahnya memuncak hebat, menghusap air matanya dengan lengan baju. Dia melompat ke depan, membantu D.O untuk membunuh werewolf itu.

“Luhan tidak akan melakukannya! Dia sudah berjanji padaku!”teriak Sehun masih tidak terima, sedangkan Kris, terus saja menahan tubuhnya agar dia tidak maju kesana dan menghajar kakak laki-laki Luhan itu.

“Cih, Benarkah? Bagaimana jika kita membuktikannya?”

“Sehun, kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Luhan sedang berada dibawah kesadarannya.”bisik Kris, berusaha membujuk Sehun.

Namun Sehun seperti tidak mendengar sama sekali, rahangnya mengatup keras, menatap tajam kearah kakak laki-laki Luhan. Bahkan ia sudah melupakan rasa sakit yang ada dilengannya.

Sehun mendorong tubuh Kris kesamping, dia tidak perlu dilindungi lagi. Walaupun dia adalah werewolf muda yang masih rentan, tapi dia juga tidak terima jika diremehkan seperti tadi.

“Wah wah, ternyata keturunan terakhir klan Rouler adalah werewolf yang sangat berani.” Sosok itu bertepuk tangan, bersikap seolah-olah dia sangat bangga dengan tindakan Sehun. “Tapi, jangan menangis jika Luhan mematahkan kepalamu nanti.”

“Sehun, kita kembali! Kita harus minta bantuan!”bisik Kris, sekali lagi berusaha membujuk Sehun.

Sehun menoleh, menatap Kris tenang. “Luhan tidak akan menyerangku, Kris. Dia sudah berjanji.”

“Yang berjanji padamu adalah Luhan. Dan yang sekarang kau hadapi adalah keturunan terakhir klan Theiss. Kau tidak lupa, kan, jika Kai tidak pernah bisa melawannya? Dia sangat kuat! Kita hanyalah jarski, Sehun!”

“Aku mempercayai, Luhan.”

Sehun sudah tidak bisa dibantah lagi. Dia maju beberapa langkah ke depan, meninggalkan Kris dibelakang dengan penuh keyakinan.

Luhan tidak akan menyakitinya.

Luhan sudah berjanji.

Luhan adalah sahabatnya.

Dari arah berlawanan, Luhan juga maju beberapa langkah. Kini, dia dan Sehun berdiri dalam satu garis lurus dengan pandangan berbeda. Sehun tetap dengan mata coklatnya, sedangkan Luhan dengan mata merah menyalanya. Ikatan persahabatan itu akan dibuktikan disini, saat keduanya akhirnya bertemu dengan sesuatu yang sejak lama telah mereka bayangkan akan terjadi.

Para keturunan terakhir bertemu dan akan melakukan pertempuran hebat.

Jika Sehun terbunuh, itu artinya klan Theiss akan mengambil alih klan Rouler dan Verdun. Juga menjadi pemimpin dan mendapatkan darah pastor Solomon. Begitu juga sebaliknya.

Luhan sudah bersiap, dia berlari ke depan akan menyerang Sehun. Sehun terkesiap, dia menghindar.

“Luhan, kita sudah berjanji. Kau lupa? Kau akan menjadI jarski.”ucap Sehun disela-sela usahanya menghindari serangan Luhan. “Luhan, aku adalah Sehun. Tadi pagi aku mengantarmu hingga diperbatasan. Luhan!”

“Percuma, dia tidak akan mendengarmu.”sahut kakak laki-laki Luhan, sedang berdiri santai dengan kedua tangan terlipat didepan dada, memperhatikan adiknya yang kini tengah menyerang Sehun.

“Luhan ayolah. Kendalikan hasratmu. Kau bukan pemburu, kau tidak menyukai daging manusia.”

“Tidak ada gunanya! Dia akan membunuhmu, Sehun!” Kris berteriak keras, dia sangat khawatir. Kedua tangannya mengepal kuat disebelah tubuhnya.

“Kris berhenti! Jangan kesini!” tahan Sehun. Saat ia memalingkan wajahnya kembali, sebuah tinjuan keras sudah mendarat di wajahnya. Ia termundur, terkejut karena Luhan benar-benar akan menyerangnya. Belum lagi saat dia melompat dan menerkamnya dengan kuku-kuku panjangnya yang sudah bisa ditebak mampu mengoyak dagingnya.

“Arrrggghhhh!!” Sehun mengerang kesakitan saat kuku tajam Luhan berhasil mengoyak dadanya. Melihat itu, Kris tidak tinggal diam. Dia menendang tubuh Luhan dan memberikan tinjuan di wajahnya.

Luhan dengan mudah masih mampu berdiri, mengaum lalu menatap tajam kearah Kris. Air liurnya sudah berceceran keluar dari mulutnya. Seperti sudah tidak sabar untuk mengoyak dan mencabik daging jarski itu.

Kris menangkis tangan Luhan, berhasil memberikan cakaran di lengannya. Menangkis sekali lagi, dan mencakar lengan yang lain.

“Sadarlah! Sehun benar-benar sedih melihatmu seperti ini!”teriak Kris didepan wajah Luhan yang sedang meringis kesakitan. “Kau pernah menyelamatkannya dan dia pernah mati-matian membelamu didepan kami! Dia sangat mempercayaimu!”

Karena masih belum kembali pada kesadarannya, Kris meninju perut Luhan dua kali. Termasuk ke dalam tindakan melindungi diri karena dia tidak mau terluka seperti Sehun.

“Kris, hentikan. Jangan sakiti Luhan lagi!”

“Dia bukan Luhan! Dia adalah musuh kita, Sehun! Jika kita tidak membunuhnya, dia yang akan membunuh kita!”

Sehun menahan napas, sekujur tubuhnya benar-benar terasa sakit namun dia harus menghentikan dua sahabatnya itu. Kris benar-benar terlihat kuat saat sedang marah, membuat Luhan terluka berkali-kali.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Sehun bangkit. Berlari kesana dan langsung memeluk tubuh Luhan erat-erat saat dia ingin menyerang Kris. Matanya sudah berkabut, bersamaan dengan rasa sakitnya melihat dua sahabatnya saling menyerang seperti tadi.

“Aku mohon hentikan. Kau adalah sahabatku.”tangis Sehun di pundaknya. “Kita tidak akan saling menyerang. Kita sudah berjanji. Jadi aku mohon hentikan.”

Mungkin ketulusan hati Sehun memiliki sihir yang cukup hebat hingga mampu membuat Luhan terdiam. Wujudnya berubah. Tidak ada lagi bulu-bulu ditubuhnya, juga cakar tajam dan taring itu juga menghilang. Dia tergugu, kini tersadar jika dia tengah melihat sahabatnya menangis karena dirinya.

“Sehun…”lirih Luhan terbata. “Maafkan aku…”

Ditempatnya, kakak laki-laki Luhan terperangah melihat perubahan yang terjadi di dalam diri adiknya. Tidak ada klan Theiss yang memiliki hati dan perasaan, tidak ada ikatan persahabatan dan sejenisnya. Hal itu sangat ditentang disana.

“Luhan!”bentak kakak laki-lakinya geram.

Luhan berbalik, matanya juga mulai berkabut. “Dia adalah sahabatku, Leo. Kau tidak bisa menyuruhku untuk melawannya.”

Leo terkejut bukan main, “Apa?!”

“Aku ingin menjadi jarski. Aku tidak mau minum darah pastor Solomon dan aku tidak mau memakan daging manusia lagi. Aku ingin masuk ke dalam klan Rouler!”

“Kau sadar dengan yang kau ucapkan, Luhan Theiss?!” Leo menggertakkan giginya, rahangnya mengatup rapat.

Luhan mengangguk mantap, “aku ingin keluar dari klan Theiss.”

PLAKKK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Luhan tiba-tiba, membuat Sehun dan Kris terlonjak. Ayahnya datang bersama dengan dua orang yang sudah babak belur ditangannya. Saat dia melepaskan cekalannya, tubuh dua orang itu lantas meluruh kebawah dan tersungkur ke tanah.

Sehun sontak memekik, “KAI! D.O!” lalu menghambur kearah keduanya dengan kepanikan hebat. “Kalian tidak apa-apa? Bertahanlah. Aku mohon!”

“Sehun…kau… terluka?”ucap Kai terbata, wajahnya sudah dipenuhi dengan darah membuat matanya hanya bisa terbuka sedikit.

“Kau yang terluka. Kalian terluka!”tangis Sehun semakin deras.

“Aku tidak apa-apa. Aku masih mampu melawan mereka.”bisik Kai lalu terbatuk dan mengeluarkan darah.

“KAI!!!”

“Kau masih ingin menjadi makhluk lemah seperti mereka, Luhan? Kau mau hidupmu berakhir dengan pisau perak atau tanpa kepala? Kau mau?!”suara ayahnya meninggi diakhir kalimat. “Jika kau mau hidupmu berakhir seperti itu, sebaiknya kau juga aku musnahkan bersama mereka.”

“Aku tidak akan berubah. Aku tetap akan melindungi mereka.”balas Luhan yakin, membuat ayah dan kakak laki-lakinya semakin geram mendengar ucapannya barusan.

Dalam hitungan detik, Leo berubah menjadi bayangan hitam dan muncul tepat di depan Luhan. Sudah mencekik lehernya dan menusukkan kuku panjangnya, hampir memutuskan urat nadinya.

Dengan gerakan cepat, Sehun juga bergerak. Dia meninju wajah Leo tiba-tiba dan mencakar lehernya membuatnya mengerang seketika. Lalu menangkap tubuh Luhan yang terhuyung mundur.

Dalam wujudnya yang sebenarnya, Luhan tidak akan bisa melawan kekuatan Leo.

“Kris! Lindungi Kai!”teriak D.O yang kini bangkit dan langsung berhadapan dengan Frank Theiss.

Peperangan terjadi lagi. Melihat kondisi Kai yang benar-benar lemah, akhirnya Kris membawanya masuk ke dalam hutan dan menyembunyikan tubuhnya di balik semak-semak. Dia juga mencari tumbuhan yang mengandung obat untuk menyembuhkan luka Kai.

Mulanya Sehun mengira jika dia adalah target utama Leo setelah tindakan yang dilakukannya, namun ternyata dia salah. Leo justru mengincar Luhan dan terus berusaha membunuhnya. Dengan sekuat tenaga juga, Sehun terus melindunginya.

Di sisi lain, terjadi peperangan satu lawan satu antara D.O dan Frank Theiss. D.O memang cukup kuat dan tangguh, hal itu diakui oleh Kris yang pernah kalah saat latihan uji coba dulu.

D.O menghindar saat cakaran tajam Frank hampir saja mengenai tubuhnya, melompat ke kanan lalu menyerangnya dengan tendangan. Ini untuk ayahnya, ini untuk semua klan Rouler yang sudah mati, juga untuk sumpahnya atas pastor Solomon.

D.O melompat tinggi, menaiki tubuh Frank dan berusaha untuk memutar kepalanya. Frank berontak hebat, menjatuhkan D.O ke tanah dan langsung menginjaknya dengan satu kaki.

D.O terbatuk hebat, sekali lagi mengeluarkan darah dari mulutnya.

‘sial. Jika begini terus aku bisa mati.’

D.O menoleh ke kiri, menjangkau serpihan kayu yang ada didekatnya lalu menusukkan itu ke kaki Frank hingga berhasil membentuk lubang dan mengeluarkan darah. Lalu, berguling ke samping dan berusaha berdiri lagi.

Saat melihat Luhan sudah terluka cukup parah dan Sehun yang mulai kelelahan, D.O berlari kesana dan menolong mereka. Membantu Sehun untuk melawan Leo yang memang sangat kuat.

Ketika dia ingin menusuknya dengan cakar, ternyata Frank bergerak cepat dengan menendang tubuh belakangnya.

“D.O!”jerit Sehun terkejut.

“Arrrggghhh!”

Sehun menoleh kembali. Dia benar-benar tidak bisa lengah sedikitpun. Sekali lagi Leo menusuk Luhan dengan cakarnya. Dengan amarahnya yang mulai memuncak, Sehun memburu Leo dan menguncinya sebagai titik fokus. Dia menendang kaki Leo membuatnya langsung berlutu ke tanah, tanpa sadar mengigit lehernya dan mengoyak kulit dan dagingnya hingga meninggalkan bekas. Terus melumat dan mengigitnya semakin dalam.

D.O terperangah hebat. Sehun… dia akan berubah sebentar lagi…

TBC

 

 

56 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s