Summer

summer

Judul: Summer
Author: Rhara Amalia
Cast: Oh Sehun with a Girl
Genre: Romance
Rating: PG-15
Length: One-shot (2085 words)
~~~


Summer. Aku selalu menyukainya. Musim panas artinya liburan dan pantai. Dan aku pun punya sesuatu keinginan yang harus kupenuhi sendiri pada Summer.

Aku menyeret kakiku dengan cepat sambil sesekali membuang wajahku menatap kesekeliling. Aku mencarinya. Sahabatku yang hari ini memutuskan untuk menemaniku ke pantai tapi nyatanya dia meninggalkanku saat aku pergi membeli minuman untuk kami.

Langkahku masih kupacu untuk mencarinya ketika tiba-tiba aku menyadari ia kinisedang duduk di tepi pantai sambil memandangi ombak, sendiri. Ya, sendiri. Bukankah dia kesini untuk menemaniku? Kenapa kini seperti aku yang menemaninya.

Aku ingin sekali meneriakkan namanya dari sini, dari tempat aku berdiri tapi semakin lama kulihat sepertinya dia terlihat tenang melihat ombak yang saling bekejaran sebelum akhirnya hilang ditepi pantai. Aku mengurungkan niatku dan lebih memilih berjalan pelan kearahnya dan mengambil posisi duduk disampingnya.

Dia tak bergeming sedikitpun begitu aku memposisikan diriku duduk disampingnya. Ia tampak sangat tenang melihat ombak-ombak yang datang mendekat. Hening masih enggan pergi dari kami sampai akhirnya aku benar-benar merasa bosan. Apa ini yang disebut menghabiskan liburan dengan seorang sahabat? Oh summer, aku lebih memilih menghabiskan liburanku di rumah jika memang seperti ini rasanya.

“emmm…..” baru saja aku menggumam dan berpikir untuk memulai sebuah percakapan dengannya tiba-tiba dia menatapku tajam dan memukul bahuku. Demi summer! Apa yang terjadi dengannya? Sahabatku itu, Oh Sehun. Sejak kapan dia menjadi seperti ini? penyuka keheningan? Seorang pria cerewet dan terlebih mengesalkan itu kini lebih memilih menatap laut biru dibanding memulai sebuah obrolan denganku? Hah! Dia berhasil membuatku ingin terjun bebas dan tenggelam dalam laut biru itu.

Aku menoleh padanya dan bermaksud untuk membalas tatapan tajamnya tadi. Tapi matahari sedikit menyilaukan pandanganku ketika melihatnya. Aku tak mau mengalihkan pandanganku darinya. Walaupun silau aku ingin melihat wajahnya disaat dia sama sekali tak ingin menatapku. Ini membuatku dapat menghayati setiap lekuk wajahnya, hidungnya, bibirnya dan semuanya yang seakan terpahat sempurna. Tiba-tiba aku jadi ingin menyentuh wajahnya. Benar-benar ingin menyentuh wajahnya. Merasakan kelembutan kulit diwajahnya. Oh Sehun, walaupun dia pria tapi kulit wajahnya sangat lembut sampai membuat orang yang pernah menyentuhnya menjadi ingin menyentuh lagi dan lagi. Tapi sayangnya Sehun bukan orang yang mau begitu saja orang lain menyentuh wajahnya berulang-ulang kali.

Aku masih saja fokus pada wajahnya sampai akhirnya aku tidak menyadari tanganku terangkat dan menyentuh wajahnya. Bukan hanya menyentuh tapi bahkan mengelus. Aku baru tersadar ketika Sehun menolehkan wajahnya dan menatapku tidak mengerti. Aku langsung menarik tanganku cepat dan tersenyum lebar padanya berharap itu akan mempan. Tapi harapanku musnah karena Sehun masih memandangiku dengan tatapan kenapa-kau-menyentuh-wajahku padaku.

“hanya iseng” jawabku sebelum akhirnya kembali tertawa tanpa dosa.

Oh Summer aku benar-benar menyukai pria dihadapanku ini. Setiap yang ada pada dirinya, aku menyukainya dengan sangat. Mungkin karena aku sudah menjalani hampir seluruh hidupku bersamanya mengingat dari kecil kami selalu menghabiskan waktu bersama. Itu pasti alasannya kenapa aku mencintainya hanya saja aku tidak yakin kalau Sehun punya rasa sama seperti ini padaku. Memikirkannya saja aku tidak sanggup.

Tiba-tiba suara burung layang-layang putih mengagetkanku. Mereka terbang mengelilingi langit diatas kami. Seakan summer mengutus mereka untuk memanasiku agar aku mengatakan perasaanku pada Sehun. Oh tidak summer. Belum saatnya aku mengatakannya.

“Cadel…….” Aku kembali mengeluarkan suara untuk mengusik Sehun dan itu berhasil.

“apa kau tidak mengerti dengan pukulanku tadi? Cobalah tenang kali ini”

“ha! Dan sekarang kau yang menyuruhku tenang? Ada apa denganmu tuan Oh? Aku benar-benar tidak mengenalmu yang seperti ini”

“jika kau masih terus bicara aku akan menarik rambutmu” ancam Sehun yang langsung membuat seringaiku muncul.

“dan kalau aku tidak mau?” Sehun langsung menatapku tajam. Mungkin dia ingin membuatku takut dengan tatapannya itu. Tapi itu malah seakan menggelitikku untuk membuat yang lebih lagi.

“sudahlah, Sehun. Jangan pura-pura menjadi pria melankolis begitu. Ini benar-benar bukan seperti dirimu, cadel”

“Kim Rara!” geramnya dan itu hanya membuatku tertawa dengan sangat keras. Sehun benar-benar sudah habis kesabarannya dan kini bergerak untuk menarik rambutku. Sebelum itu terjadi aku sudah berdiri dan melepaskan sepatuku sebelum berlari sekuat tenaga menjauhi Sehun.

Aku masih memacu lariku bahkan disaat aku merasa benar-benar lelah. Tapi tidak untuk berhenti, Sehun sudah sangat dekat denganku. Rambutku! ‘dia’ akan menjadi korban kekesalan Sehun. Walau ia tidak benar-benar akan menariknya. Aku mengingat terakhir kali ia menarik rambutku saat tahun terakhir kami di sekolah dasar. Ia tak pernah lagi menarik rambutku. Semua ancamannya hanya berakhir sebagai ancaman. Dan disaat ia berhasil menyentuh rambutku pasti hanya berakhir dengan tangannya yang akan mengacak-acak rambutku. Dan sayangnya itu dilakukannya sampai rambutku benar-benar berantakan.

Nafasku sudah hampir habis. Aku sudah tidak kuat untuk berlari lagi. Kakiku benar-benar terasa sakit dan lelah. Tapi tidak dengan Sehun. Ekskul basket yang diikutinya membuat ia menjadi pria yang benar-benar tangguh sekarang. Aku sedikit merutuk diriku sendiri yang menyemangatinya mengikuti ekskul itu.

Kakiku yang sudah terasa lemas kini merugikan diriku sendiri. Kaki kananku tersandung di kaki kiriku dan membuatku kehilangan keseimbangan. Hampir saja aku terjatuh kalau tangan Sehun tidak menahanku. Aku langsung terduduk lemas begitu Sehun berhasil menyelamatkanku. Tangannya kini mengacak-acak rambutku tapi kini terasa sedikit lembut. Bukan seperti yang biasa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya. Nafasku masih tidak beraturan dan Sehun tersenyum geli melihat aku kesulitan bernafas.

“jika memang sudah tak sanggup lebih baik menyerah saja” kata Sehun sambil mengelus kepalaku. Apa yang terjadi dengan anak ini? apa ia kerasukan roh Neptunus? Pria dihadapanku ini benar-benar jauh dari seorang Oh Sehun yang ku kenal.

“apa kau butuh bantuan pernafasan?” pertanyaan Sehun membuyarkan pikiranku tentangnya. Aku masih belum mencerna pertanyaannya saat kulihat Sehun mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Dengan refleks aku menutup mataku. Apa yang akan dilakukannya? Benarkah ia akan menciumku? Oh tidak! jangan disini. Ini tempat umum. Tapi aku tidak kuasa menolaknya dan bahkan jantungku serasa berhenti berdegub. Oh Summer! Tolong aku.

Aku masih menunggu Sehun menyentuh bibirku ketika aku merasakan tangannya mencubit hidungku. Aku langsung membuka mataku dan langsung mendapati Sehun sedang tertawa didepanku. Bisa dibayangkan bagaimana rasa malu menghinggapiku hingga wajahku sama warnanya dengan buah tomat sekarang. Oh Sehun! Dia mengerjaiku!

“kenapa kau menutup matamu? Kau pikir aku akan menciummu ya?” pertanyaan paling mengesalkan yang pernah ku dengar saat ini. Aku hanya menatap Sehun tajam sambil menggembungkan pipiku. Untuk yang terakhir aku memang selalu refleks melakukannya kalau kesal.

“lucu ya? Bahagia sudah mengerjaiku?” tanyaku sinis sesaat setelah nafasku kembali normal. Sehun berhenti tertawa walaupun senyum geli masih enggan meninggalkan bibirnya.

“baiklah maafkan aku”

“permintaan maaf ditolak!” kataku tegas sambil memalingkan muka. Lama Sehun membiarkanku seperti itu. Membiarkan hanya suara ombak yang terdengar.

“kau tahu kenapa laut berwarna biru?” tanya Sehun tiba-tiba membuka suara. Aku masih diam. Tak mau menjawab pertanyaannya. Bukan hanya karena aku tidak tahu jawabannya tapi karena aku masih gengsi untuk melunak padanya setelah apa yang dilakukannya padaku.

“biru seperti rasa sayang. Neptunus ingin kita, makhluk darat menyayangi satu sama lain” jelas Sehun akhirnya. Ia tahu aku masih enggan membuka suara.

Suara ombak kembali menguasai keadaan. Tidak ada lagi yang membuka percakapan diantara kami. Bahkan sampai matahari akan kembali ke peradabannya kami masih mempertahankan keadaan itu. oh Summer apakah akan berakhir seperti ini? Pada akhirnya aku tak bisa menyatakan perasaanku pada Sehun lagi. Maafkan aku, Summer. Aku masih belum bisa menepati janjiku.

Aku menundukkan kepalaku dalam saat aku merasakan air mataku tanpa seijinku keluar. Summer, rasa sakit ini kenapa semakin bertambah setiap kali aku tidak berhasil menepati janjiku? Ini sangat menyesakkan, Summer. Aku tidak sanggup lagi. Apa aku harus melepaskan perasaanku begitu saja? Membiarkannya meluap seperti air-air dimusim panas? Oh Summer ini benar-benar menyakitkan.

Aku berdiri dari tempatku dengan masih menekuk wajahku dalam. Aku tidak ingin Sehun menyadari air mataku yang seakan tidak berhenti mengalir.

“aku ingin pulang” kataku dengan suara yang sedikit bergetar. Aku sudah berusaha agar suaraku tak bergetar yang dapat dengan jelas memberikan gambaran pada Sehun bahwa sekarang aku sedang menangis. Tapi aku tidak berhasil. Aku hanya mampu berharap semoga Sehun tidak menyadarinya.

Aku mulai menyeret kakiku untuk melangkah tanpa perduli apakah Sehun sudah berdiri dan mengikutiku. Aku terlalu menghayati rasa sakit yang kurasakan. Berteriak dan mengeluh pada Summer dalam hati. Aku tak menyadari Sehun sedari tadi memanggil-manggil namaku sampai akhirnya tangannya menarik tanganku dan berhasil membuatku berhenti berjalan. Tapi aku masih tidak sanggup berbalik dan menatapnya. Air mataku masih susah untuk ku kendalikan dan bisa saja malah akan semakin deras ketika aku melihat wajahnya. Sehun, aku mohon jangan membuat ini semakin sulit. Tak bisakah kau membiarkanku dengan kesedihan ini?

Sehun menarikku dan membuatku berbalik dan kini berhadapan dengannya. Aku masih enggan melihat wajahnya dan memilih menatap dadanya. Aku dapat mencium parfum yang biasa dipakai Sehun dengan jarak sedekat ini membuatku ingin memeluknya dan menumpahkan semuanya. Mengatakan padanya betapa sakitnya memendam perasaan ini hampir 6 tahun. Tapi aku masih terlalu takut mendengar kalimat penolakannya nanti. Membayangkannya saja tidak sanggup rasanya.

Sehun mendekapku dan menenggelamkan kepalaku didadanya membuatku sedikit membulatkan mataku karena terkejut. Aku baru saja ingin memeluknya tapi kini ia yang memelukku dan menenggelamkan wajahku didadanya seakan-akan sedang menenangkanku dan tahu masalah apa yang sedang aku tangisi. “sampai kapan kau akan menangis seperti ini?” bisikan lembut Sehun merasuki telingaku. “aku ada disini bersamamu tapi kau tidak mau mengatakannya padaku? Setiap musim panas aku selalu menemanimu ke pantai. Menemanimu bercanda dan menikmati matahari di akhir musim panas atau bahkan membiarkanmu menceritakan semua apa yang kau rasakan pada Summer. Dan menunggu orang bodoh sepertimu mengatakannya padaku”

Mataku membulat setelah mendengar apa yang Sehun katakan. Bagaimana mungkin Sehun bisa mengetahuinya? Tentang Summer? Dan perasaanku padanya? baru saja Sehun berhasil menghentikkan air mataku dengan pelukannya tapi kini ia yang kembali membuatnya jatuh menetes karena kata-katanya.

“apa kau masih tidak mau memelukku setelah aku memelukmu lebih dulu?”

Sialan kau Oh Sehun! Kenapa kau tahu semua apa yang ada dipikiranku? Segitu pekanya kah dirimu? Aku benar-benar ingin memukulmu tapi aku tidak bisa rasa ingin memelukmu lebih kuat dibanding keinginanku ingin memukulmu. Dengan sangat erat kini aku memeluk Sehun. Dan kali ini benar-benar membenamkan wajahku sendiri didadanya. Menumpahkan semua tangisanku disana. Tidak peduli dengan Sehun yang akan semakin tahu perasaanku.

“aku tidak tahu kau mengetahui tentang Summer dari mana. Dia yang mengetahui semuanya. Tentang perasaanku yang selama 6 tahun ku pendam untukmu. Aku menyayangimu Sehun. Bukan sebagai sahabat yang sudah menemaniku dari kecil tapi sebagai seorang pria yang berhasil membuat jantungku berdegub kencang atau berhenti berdegub dengan segala tingkah dan keunikan yang kau punya. Tapi aku terlalu takut mengatakannya. Aku takut jika kau akan menolakku. Aku takut kau hanya akan menganggapku sebagai sahabat selamanya. Dan aku lebih takut jika nanti persahabatan kita rusak hanya karena aku mengatakan perasaanku ini padamu. Aku tidak sanggup jika itu semua terjadi Sehun. Aku benar-benar tidak sanggup walaupun hanya membayangkannya saja.” Aku kembali terisak didada bidang Sehun setelah menjelaskan semuanya.

“dan kini kau berhasil mengatakannya”

“karena kau memaksaku”

“aku tidak memaksamu. Aku hanya memelukmu”

Aku melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhnya menjauh dariku. Bahkan disaat seperti ini dia masih saja mempermainkanku. Aku berbalik dan langsung melangkah menjauh darinya sampai akhirnya tangan Sehun kembali menarikku sampai aku berbalik menghadapnya dan dengan menggunakan saat-saat lengahku Sehun mengecup bibirku lembut. Aku kembali membulatkan mataku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Sehun! Kenapa kau selalu saja berhasil menganggkat hatiku?

Aku memeluk leher Sehun erat seakan tidak ingin Sehun pergi dan mengakhiri ciuman yang membuatku gila. Aku tidak ingin Sehun kembali melepaskan hatiku setelah ia berhasil menganggkatnya tinggi. Dan sepertinya demikian dengan Sehun. Tangan kanannya memeluk pinggangku erat seakan ia tidak ingin aku berbalik dan kembali melangkah pergi meninggalkannya sementara tangan kirinya menekan kepalaku lembut dan memperdalam ciuman kami.

Lama kami berciuman hingga kini aku merasa membutuhkan oksigen. Aku mendorong Sehun hingga dengan enggan ia melepaskan ciumannya. Aku langsung menghirup oksigen dan memenuhi paru-paruku. Dapat kulihat Sehun tersenyum dan entah kenapa wajahku kembali semerah tomat karenanya.

“jadi, kini kita bersama?” pertanyaan Sehun membuatku langsung menatapnya tidak percaya. Aku masih berusaha mencerna perkataannya. Apa aku tidak salah mendengar? Aku tidak sedang berhalusinasi kan?

“apa aku harus menciummu lagi agar kau bisa langsung menjawabnya?” kata Sehun lembut sambil mengelus pipiku dengan ibu jarinya.

“Semestinya kau tidak perlu bertanya lagi. Aku sudah menjelaskannya semua padamu” jawabku tanpa menatap matanya. Aku tidak berani menatap matanya saat ini. Itu bisa saja membuat jantungku melompat keluar setelah semua apa yang dilakukkannya.

Aku mendengar Sehun tertawa sebelum akhirnya tangannya meraih daguku dan membuatku menatap padanya. “baiklah. Aku ingin kau tahu. Aku benci melihatmu bersama pria lain selain aku. Mulai saat ini jagalah jarakmu dari Kai” kata Sehun sebelum kembali mengecup bibirku lembut. Aku tersenyum dalam hati. Jadi inilah alasan kenapa Sehun selalu memilih meninggalkanku ketika bersama Kai. Ia tidak ingin tersiksa melihat kedekatanku dengan Kai. Menyadari itu membuatku memeluk Sehun lebih erat dari yang sebelumnya.

Summer……. Aku sudah menepati janjiku—kataku dalam hati. Aku mengedipkan mata ke arah matahari terbenam sebagai tanda perpisahanku pada Summer.

 

9 thoughts on “Summer

  1. Tridha Aristantia berkata:

    “kau tau kenapa lau berwarna biru” entah knapa ini pertanyaan bikin aku cengo..lau biru emang dari sono’a sehun~~ hahaha :p

    wah setelah 6 tahun akhir’a bisa pacaran juga chukkaeee🙂

    ff’a bagus rha, penggunaan & pemilihan kata2 nya udah bagus dan mudah di mengerti..
    ff’a kayak semacam curhatan, bagussss😄

    ditunggu karya berikut’a rhaaaa🙂

    • kirha1909 berkata:

      haha iya Sehun aneh ya masa nanya kaya gitu lagi #plaakk *dicium Sehun* wks😀

      hehe.. makasih unnie.. aku lagi blajar nulis ff dri sudut pandang orng prtama.. dan sepertinya aku lumayan berhasil hehe..

      makasih *lagi* udah mau baca unnie.. siippp.🙂.

  2. phi berkata:

    wowwww sehunnnnn so sweeeetttttttttt……. andaikan cewek itu aku hahahaha *ngarepppp
    hwaiting buat authorr…..arigatou gozaimasu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s