FF : The Lords of Legend (Chapter 15)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO


 

San Pedro, Los Angeles, California, AS.

Kris menghampiri Suho yang berdiri diam di depan balkon rumah mereka, menatap hamparan samudera Pasifik yang terbentang tepat didepannya dengan tatapan kosong. Kastil mereka masih sama. Masih kokoh dan berdiri tegak. Hanya saja rumput liar mulai merambati dinding-dinding bata, serta daun pepohonan pinus yang mulai menutupi jalan tangga mereka.

“Suho,”panggil Kris membuat Suho menoleh sekilas. “Kau tidak salah mengambil keputusan, kan? Mengubah seorang manusia menjadi dewi bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi kita berada jauh dari Negeri Langit. Ibu Sehun hanya akan berubah jika dia memakan apel kehidupan.” Kris memperingatkan sahabatnya itu.

“Kau tau ada jalan lain selain itu, Kris.”

“Dan aku tidak akan mengijinkanmu!”balas Kris cepat. Ia menatap Suho lekat-lekat. “Jika kau melakukannya, kau akan musnah!”

Suho tersenyum kecil, “harus ku lakukan agar kita bisa membawa Sehun dan memenangkan Ragnarok.”

Rahang Kris mengatup keras, ia mengulurkan tangan mencekal kedua lengan Suho dan memaksanya untuk menghadapnya.

“Sehun mungkin kita ciptakan dengan kelebihan yang hebat. Tapi, dia bukan jalan satu-satunya. Aku yakin jika kita bersama, kita pasti bisa memenangkannya. Walaupun tanpa Sehun!”

Suho menggeleng pelan, “kau lupa? Dia bukan hanya sekedar Sehun. Dia adalah dewa Ares.”serunya tersenyum lirih. “Dewa yang kekuatannya hampir dapat menyamai dewa Hades, mampu mengendalikan angin dan mempunyai simbol api. Kita menciptakannya sangat tangguh dan kita sengaja mempersiapkannya untuk memimpin perang. Kita membutuhkannya, Kris.”

“Percuma! Walaupun kita memenangkan Ragnarok, kau tetap akan musnah! Aku mohon, Suho. Pikirkan lagi. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau memimpin Negeri Langit seorang diri.” Mohon Kris mengguncang tubuh Suho, mencoba untuk menyadarkannya jika keputusannya adalah kesalahan terbesar yang telah ia ambil.

“Setidaknya aku akan musnah setelah Ragnarok. Setelah berperang melawan Jotun. Aku pikir hal itu tidak buruk.”

“Baiklah jika itu maumu, aku juga akan mengeluarkan mutiara dewaku. Aku akan musnah bersamamu.”

Detik itu juga mata Suho membulat lebar, “kau tidak akan melakukannya!”

“Kau musnah, aku musnah. Aku tidak menyuruhmu untuk memilih.”

“Kris!”

“Lalu bagaimana dengan kami?” Tiba-tiba sebuah suara menyahut, membuat dua pria yang tengah bersitegang itu menoleh bersamaan lalu terkejut. “Jika kalian pergi, bagaimana dengan kami?”ulang Luhan lagi. Ia pasti telah mengetahui semuanya lewat kekuatan pikirannya.

“Luhan, jangan beritahu siapapun tentang ini.”mohon Suho.

“Jika Lay mengetahuinya, mungkin dia juga akan mengorbankan darahnya. Jika Baekhyun mengetahuinya, mungkin dia juga akan mengeluarkan mutiara dewanya. Dan aku? Aku juga akan melakukan hal yang sama. Jika kalian musnah, aku juga akan musnah bersama kalian.”kata Luhan menatap Kris dan Suho tenang.

“Luhan, kau—“

“Kau bukan hanya sekedar pemimpin Negeri Langit, Kris. Kau juga saudaraku. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal seperti itu.”

“Tapi itu adalah jalan satu-satunya.”desah Kris putus asa.

“Apa tidak bisa menyuruhnya untuk menunggu sebentar? Setelah kita menyelesaikan perang itu dan mengembalikan Negeri Langit seperti dulu. Aku berjanji, jika semuanya telah selesai, aku sendiri yang akan turun ke bumi dan menjemput Taeyeon. Aku akan mengantarkan apel kehidupan padanya dan membawanya ke Negeri Langit.” Luhan menatap Kris dan Suho sungguh-sungguh. “Jadi aku mohon, jangan mengorbankan diri kalian untuk semua ini.”

***___***

Sejak tadi, Sehun tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Terus menatap lurus kearah perapian bersamaan dengan otaknya yang terus berpikir menemukan cara. Percaya atau tidak, benar atau tidak, sepertinya semua yang telah dikatakan oleh mereka adalah kenyataan. Manusia biasa tidak akan mungkin bisa membuat buku melayang tanpa menyentuhnya, berteleportasi dalam hitungan detik, mengeluarkan api dari tangannya dan menurunkan salju. Semua itu mustahil.

Tapi, dia masih belum bisa mempercayai jika dia benar-benar seorang dewa. Selama ini, dia memang dikenal sangat kuat oleh teman-temannya. Tapi sepertinya hal itu wajar bagi seseorang yang gemar makan.

Tidak memperdulikan dewa-dewa lain yang larut dalam kerinduan mereka akan rumah kastil itu, Sehun justru tenggelam semakin dalam pikirannya sendiri. Dia menemukan jalan buntu. Tidak menemukan solusi apapun. Hingga akhirnya, ia merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Sehun menoleh, ternyata Lay.

“Apa yang kau pikirkan?”tanya Lay tersenyum sambil menjatuhkan diri disamping Sehun.

Sehun hanya tersenyum singkat lalu menggeleng pelan, “aku sendiri tidak tau.”

“Masih tidak mempercayainya?”

“Sedikit… aku bahkan bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah aku sudah gila atau tidak.”

Lay langsung memukul lengan Sehun, “apa maksudmu? Kau berpikir jika kami adalah orang gila?”serunya cemberut.

Sehun terkekeh, “tidak. Bukan begitu maksudku. Karena bagi manusia, hal-hal seperti itu adalah hal-hal yang mustahil. Hanya ada di film.”

“Tapi kau bukan manusia Sehun. Sebenarnya kau juga dewa.”

Sehun menoleh, menatap lurus Lay lalu tersenyum lirih. “Seorang manusia yang tiba-tiba diketahui ternyata adalah dewa juga hal yang tidak bisa di jelaskan oleh logika.”ujarnya pelan. “Aku butuh waktu, Lay.”

Menatap Lay sesaat, akhirnya Sehun beranjak dari duduknya. Meninggalkan perapian, juga Lay yang hanya diam menatap punggungnya. Ia menaiki anak-anak tangga menuju lantai dua, saat menemukan Kai yang tengah asyik bermain Fossball dengan Baekhyun, ia menghampirinya dan berujar tanpa basa-basi.

“Bisakah kau membawaku pulang sekarang?”

Kai tidak menoleh, tetap asik menggerak-gerakkan tongkatnya. “Kenapa? Kau tidak mau jalan-jalan dulu? Sebaiknya kau lihat samudera Pasifik dari sini, sangat indah.”

Sehun langsung menolaknya, “ibuku pasti mencariku sekarang. Aku tidak mau membuatnya khawatir. Lagipula aku harus menjaga kios.”

PLETAK

“Gooool! Wohoooo!”sorak Baekhyun melompat-lompat senang karena dia berhasil menembus pertahanan Kai.

“Aiiiish!” Kai meninju udara kesal, lalu menoleh ke belakang. “Ini semua karena kau. Jika kau tidak cerewet, aku pasti bisa menang!”omelnya.

Sehun bersikap seperti tidak mendengar, melanjutkan ucapannya dengan cuek. “Bisakah kau mengantarku pulang? Aku benar-benar khawatir dengan ibuku.”

“Ibu… ibu… dan ibu. Aku benar-benar muak mendengarmu mengatakannya! Apa tidak ada hal lain yang bisa kau khawatirkan? Karena ibumu, kita jadi tidak bisa kembali ke negeri Langit! Ibumu sangat menyusahkan.”

BUG!

“Astaga, Sehun!”jerit Baekhyun histeris.

Sehun memberikan tinjuan keras di wajah Kai membuatnya termundur ke belakang. Rahangnya sudah mengatup keras, dengan giginya yang gemeretak. Menatap Kai dingin, ia hampir saja memberikan pukulan padanya lagi jika tidak ditahan oleh D.O.

“Jangan pernah mengatakan hal-hal yang buruk tentang ibuku! Lebih dari ini, aku bisa saja membunuhmu jika kau melakukannya lagi!”

Kai membuang ludah, lalu berdiri dan balas menatap Sehun kesal. Baekhyun sengaja menahan tubuhnya agar dia tidak membalas pukulan tadi.

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Ibumu memang penghalang kita ke Negeri Langit! Terima atau tidak, kau tetap dewa Ares! Kau salah satu dari kami!”

“Aku tidak perduli! Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya karena kau tidak punya ibu!”

Kai tidak lagi bisa menahan emosinya saat Sehun mengatakan hal yang paling sensitif. Sesuatu yang paling tidak ingin dia dengar selamanya. Dia memang tidak mempunyai ibu dan dia benci hal itu.

Ia mendorong tubuh Baekhyun kasar, berjalan kearah Sehun dan mencengkram kerah kemejanya kuat.

“Aku bisa membunuhmu dengan mudah sekarang.”desisnya.

“Hentikan, Kai.”Tao datang, menarik mundur tubuh Kai yang sudah bersiap akan memukul Sehun. “Cukup. Tidak perlu membuat keributan.”

“Apa yang sedang terjadi disini? Kenapa kalian bertengkar?” Suho, Luhan dan Kris ikut bergabung. Menatap bingung kearah dua orang pria yang langsung membuang pandangan itu. “Ada apa?”tanyanya lagi.

“Suho, bagaimana jika kita pulang sekarang? Aku rasa sudah cukup bermain-mainnya.” Baekhyun melirik kearah Kai takut-takut, namun tetap berpikir jika ini adalah keputusan yang tepat.

Dalam keterdiamannya, Suho mampu menangkap arti dibalik ucapan Baekhyun. Ia melirik kearah Kai dan Sehun bergantian lalu menghembuskan napas panjang dan mengangguk setuju.

“Kai, antar kami pulang ke Seoul sekarang.”

***___***

Sehun’s house, Gangnam-gu, Seoul, South Korea.

Hari sudah gelap saat Sehun tiba di rumahnya. Seorang wanita yang sedang duduk didepan kios bunga membuat langkahnya tiba-tiba berhenti tak jauh dari sana. Menatap lurus wanita itu, Sehun terpekur dalam keterdiamannya. Memikirkan sesuatu yang tiba-tiba merusak hidup dan perasaannya.

Semuanya memang kenyataan tapi dia butuh waktu untuk mempercayainya. Walaupun Suho sudah mengatakan jika dia bisa merubah Taeyeon menjadi seorang dewi dan ikut bersamanya ke Negeri Langit, hati Sehun masih saja belum bisa tenang. Bagaimana dia akan menjelaskan semuanya pada ibunya? Bagaimana dia akan mengatakan tentang sesuatu yang mustahil ini?

Menarik napas panjang sesaat, akhirnya Sehun melanjutkan langkahnya. Semakin dekat membuat Taeyeon menyadari kehadirannya dan menoleh. Saat ia melihat siapa yang datang, ia langsung berdiri sambil berkacak pinggang.

“Darimana saja kau, anak nakal? Kau tidak bekerja paruh waktu, kan?”omelnya melotot pada Sehun. “Atau kau bermain bola seharian dan lupa waktu?! Sudah oema bilang, kau harus menjaga ki—“

Tiba-tiba Sehun mengulurkan tangannya, memeluk Taeyeon erat membuat ucapannya terpotong. Mengatakan sesuatu yang nyaris membuat Taeyeon melebarkan matanya bulat-bulat saat mendengarnya. “Oema, aku menyayangimu. Benar-benar menyayangimu.”

Nada suara Taeyeon merendah, bingung. “Ada apa?”

Sehun tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Ia menggeleng, “tidak. Hanya ingin memeluk oema.”

Perkataan Sehun barusan semakin membuat Taeyeon ternganga lebar, “hah?”

“Hehehe… Aku lapar. Aku ingin makan.”

“Kau baru saja pulang dan langsung meminta makanan?! Ceoat tutup kiosnya!”

Sehun tidak meringis ataupun menghindar saat Taeyeon memukul kepalanya, justru tersenyum geli dan mengangguk. Kemudian, ia berbalik, merapikan pot-pot bunga yang harusnya dimasukkan ke dalam lalu menutup kios bunga ibunya.

***___***

Yonsei High School, Jongno-gu, Seoul, South Korea

Sehun kembali ke tempat duduknya semula membuat Minhyuk dan Ilhoon yang baru saja datang mengerutkan kening mereka bingung. Sambil berjalan menuju kursinya, Minhyuk menyunggingkan senyum menatap Sehun yang terlihat sedang asik dengan komik Narutonya.

“Apakah kau menikmati waktu senggangmu, Sehun-ssi?”sapanya sembari menjatuhkan diri disamping Sehun.

Sehun menurunkan komiknya, “Ini adalah kursiku sejak awal. Aku bebas kembali kesini kapan saja.” Ia mengelak seperti bisa membaca pikiran Minhyuk membuatnya terkekeh geli.

Namun, sepertinya ada satu pihak yang tidak menyukai hal itu. Ilhoon menghampiri Sehun dimeja ‘lamanya’, ekspresinya sama sekali tidak terlihat menyenangkan.

“Bukankah kemarin kau sudah memutuskan untuk pindah kesana? Kenapa kau kembali lagi?”

Sehun menggaruk belakang kepalanya kikuk, “maaf. Aku sudah terlanjur menyukai tempat ini. Bisa melihat kearah lapangan bola, sedangkan disana, aku hanya melihat murid-murid yang berlalu lalang di koridor.”

Ilhoon menghembuskan napas panjang, rahangnya mengatup keras namun ia tetap berusaha untuk menahan kesabarannya. “Nanti sore ada latihan sepak bola. Kau tidak lupa, kan?”

Sehun mengangguk, “tentu saja. Aku akan mengingatnya.”

***___***

Sehun melanjutkan aktivitasnya membaca komik Naruto di taman sekolah saat jam istirahat. Perutnya tidak lapar sehingga ia memutuskan untuk bersantai di bawah pohon maple daripada bersesakan di kantin.

“Kau tidak ke kantin?”tanya seseorang membuat Sehun hanya melirik sekilas. Ternyata Minhyuk.

Masih dengan membaca komiknya, Sehun menggeleng, “tidak. Aku tidak lapar.”

“Tapi aku mempunyai dua burger.”

Sehun menurunkan komiknya dan menoleh, “untukku?”

“Tidak. Keduanya untukku.”

Ia langsung cemberut.

“Hahaha. Untukmu.” Minhyuk terkekeh geli sambil memberikan satu burger pada Sehun. “Kau belum juga selesai membacanya? Aku bahkan bisa menyelesaikan 3 komik dalam waktu 15 menit.”

“Selain membaca, kau juga perlu memahami isinya.”balas Sehun cuek, kembali melanjutkan bacaannya sambil memakan burgernya.

“Memahami? Kau bahkan sangat sulit menghapal perkalian 1 hingga 100.”

“Ini berbeda. Yang ini harus aku pahami.” Sehun tetap bersikeras. Beberapa saat kemudian, ia menoleh, menatap Minhyuk dengan ekspresi serius. “Menurutmu, jika tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengatakan bahwa dirimu adalah seorang Pangeran. Apa yang akan kau lakukan?”

Kening Minhyuk berkerut, ia menatap Sehun bingung. “Apa yang sedang kau katakan?”

“Jawab saja.”

“Tergantung bagaimana situasinya. Aku pikir pada awalnya aku akan terkejut.”

“Jadi begini, ada seseorang yang datang dan mengatakan kau adalah seorang Pangeran, Dia memintamu ikut bersamanya untuk memimpin sebuah perang.” Sehun buru-buru melanjutkan ucapannya saat Minhyuk sudah membuka mulut. “Dia juga mengijinkanmu membawa ibumu pergi.”

Mulut Minhyuk terkatup kembali, ia berpikir sejenak. “Selama ada ibuku disampingku, semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja aku akan pergi.”

“Hah? Kenapa semudah itu? Kau tidak mau berpikir dahulu? Itu adalah sebuah perang besar. Bagaimana jika kau mati?”

“Aku pikir aku akan menyetujui jika aku benar-benar adalah seorang Pangeran. Biar bagaimanapun, aku memiliki tanggung jawab untuk rakyatku. Aku bukan pengecut, jadi aku akan menghadapinya.”jelas Minhyuk tersenyum. “Seperti katamu, kita tidak hanya butuh membaca tapi juga memahami. Dan mendengarkan cerita yang sesungguhnya terjadi. Aku pikir, orang-orang yang memilih untuk menolaknya adalah orang-orang yang tidak mau memahami dan mendengarkan. Mereka hanya melihat kenyataan yang ada tanpa berpikir ke belakang. Sebenarnya, dibalik semua yang mereka lihat, ada arti yang jauh lebih dalam dari sekedar kenyataan.”

Sehun menatap Minhyuk terkagum-kagum. “Bagaimana kau bisa memahaminya sedalam itu?”

Minhyuk tersenyum, sedikit memutar tubuhnya dan menatap Sehun lurus-lurus. “Jika yang kau ceritakan adalah sebuah kenyataan, mungkin aku tidak akan secepat itu mengambil keputusan. Tapi aku pikir aku tetap akan pergi karena aku mempunyai tanggung jawab dan aku bukanlah seorang pengecut. Menolakpun percuma, karena takdir tidak akan bisa berubah. Jadi, mau tidak mau hadapi saja kenyataannya.”

Sehun hanya diam sambil menghela napas panjang. Namun dalam hati, sepertinya dia mulai menemukan titik terang. Minhyuk benar, takdir tidak akan bisa dirubah. Menolak atau lari juga percuma, karena dia sudah melihat beberapa bukti yang menunjukkan jika dia memang benar-benar seorang dewa. Jalan satu-satunya adalah menghadapi dan berhenti bersembunyi.

Sebuah tepukan tangan di pundaknya membuat Sehun mengerjap sadar, “kenapa? Apa ada yang sedang terjadi padamu?”

“T-tidak. Tidak ada.”

Minhyuk tertawa kecil sembari melingkarkan tangannya di pundak Sehun, “Park Sehun, kau memang tidak berubah.”

“Ha?”

“Kau selalu berpikir menggunakan hatimu, bukan logika.”seru Minhyuk menatap Sehun tulus. “Terima kasih karena kau telah kembali.”

Sehun balas tersenyum, “aku tidak akan pernah meninggalkan temanku.”

***___***

Rasanya seperti sudah lama sekali dia tidak pernah mengikuti latihan sepak bola padahal hanya satu kali dia tidak menghadiri latihan. Setelah mengganti seragamnya dengan kaus oblong dan celana training, Sehun meletakkan tas ranselnya di pinggir lapangan.

Hanya ada beberapa orang, termasuk Luhan yang terlihat sudah hadir disana, sedang bermain-main seorang diri dengan bolanya.

“A-yo kapten, akhirnya kau hadir kembali.”seru Sungjae tersenyum lebar melihat kehadiran Sehun.

Sehun hanya tersenyum tipis sembari mengangguk.

“Latihan minggu lalu sangat terasa sepi karena kau tidak ada.” Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Sehun lantas berbisik, “sebenarnya menyebalkan karena Ravi bertindak seolah-olah dia adalah Kapten pengganti.”

“Benarkah?”

Sungjae mengangguk lemah, “Yeaaah, menyuruh kami melakukan latihan-latihan yang tidak perlu.”serunya menghela napas panjang. “Hey, sebenarnya ada yang ingin aku beritahu padamu.”

Kening Sehun berkerut, sedangkan di tempatnya, Luhan memasang telinganya –sambil bersikap seolah-olah tidak mendengar- untuk mendengarkan percakapan mereka berdua. “Tentang apa?”

Sungjae menarik lengan Sehun untuk menjauh sebelum ia memberitahu, lalu memeriksa apakah keadaan sudah aman atau tidak.

“Ilhoon. Aku khawatir dengan anak itu.”bisiknya terus memperhatikan keadaan sekitar.

“Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?”

“Apa kau tidak menyadari jika sekarang Ilhoon sangat menempel dengan Ravi? Dimanapun dan kapanpun.”

Sehun mengangguk, “lalu?”

“Dan saat latihan minggu lalu, dia begitu menurut saat Ravi menyuruhnya melakukan apapun. Bahkan menjadi pengambil bola saat semua bola yang ditendangnya melenceng jauh. Bukankah itu aneh?”

“Aneh bagaimana? Sekarang mereka adalah sepasang sahabat, kan?” Sehun tersenyum kecut.

“Hey, kau lebih lama mengenal Ilhoon. Apakah seumur hidupmu, kau pernah menyuruhnya melakukan hal-hal seperti itu? Aku pikir hal itu sudah sangat keterlaluan, mengingat Ilhoon sebenarnya bukan pembantunya.”

Sehun terdiam. Mulai merasakan adanya kebenaran dari ucapan Sungjae barusan.

Sungjae melanjutkan kicauannya, “Apa mungkin karena hal itu?”

“Karena apa?”

“Aku pernah mendengar dari Sanghyuk, dia lumayan dekat dengan salah satu sahabat Ravi. Dia bilang semua ini terjadi karena hubungan kerja antara ayah Ravi dan juga ayah Ilhoon.”jelasnya tetap dengan suara pelan. “Ayah Ilhoon hampir bangkrut waktu itu. Jika saja ayah Ravi tidak membantu mereka, mungkin Ilhoon sudah jatuh miskin sekarang. Karena itu, sekarang Ilhoon jadi begitu tunduk pada Ravi karena takut ayahnya mencabut sahamnya di kantor ayah Ilhoon.”

Detik itu juga mata Sehun membulat lebar, tangannya terulur, mencekal kedua lengan Sungjae dan mengguncang tubuhnya. “Hah?! Kau sedang bercanda, kan?!”

“Bercanda? Apa menurutmu hal seperti itu pantas dijadikan candaan? Aku serius.”

“Tidak mungkin.”Sehun menggeleng tanpa sadar. “Semua ini tidak mungkin, kan?”

Sungjae melepaskan cekalan Sehun lantas menepuk pundaknya, seperti mengerti apa yang sedang ia rasakan sekarang.

“Aku melihat kalian tidak seperti dulu lagi. Jadi aku sengaja memberitahumu. Sebaiknya kau temui Ilhoon sekarang.”

Rahang Sehun mengatup keras, bersamaan dengan kepalan tangannya yang semakin menguat.

Ditempatnya, Luhan melihat Sehun berlalu dengan ekspresi dingin. Mata elang itu kembali terlihat. Sama seperti saat pertandingan panco waktu itu. Dan dari semua yang sudah didengarnya, ia tau Sehun pasti sangat merasa kesal.

Berjalan dengan langkah-langkah panjang, tiba-tiba Sehun berhenti saat dilihatnya Ilhoon dan Ravi sedang berjalan menuju kearahnya. Siapapun juga bisa menangkap kemana fokus Sehun pergi, siapa yang sedang ia kunci dalam sepasang mata dinginnya. Seperti terus mengiringi langkah-langkah Ravi dan Ilhoon.

“Kenapa? Kenapa kau memandangku seperti itu?”tanya Ravi berhenti dihadapan Sehun. Sedangkan dibelakangnya, Ilhoon mengangkat wajah, sama seperti Ravi yang memandang Sehun dengan ekspresi bingung.

Sehun mendesis, “Apa yang kau lakukan pada Ilhoon?”

“Ha?”

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA ILHOON?!” Sehun berteriak kencang sambil mendorong tubuh Ravi hingga ia terjerembap ke belakang.

Ilhoon tertegun menatapnya, “apa yang terjadi padamu?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang terjadi padamu?! Apa yang membuatmu berubah?! Harusnya kau mengatakan padaku apa masalahmu! Harusnya kau memberitahuku!”

“Hey, apa masalahmu?” Ravi berdiri, membersihkan celananya yang kotor.

Sehun masih menatap Ilhoon, ada rasa bersalah yang begitu dalam di balik arti tatapannya. Ada perasaan menyesal karena telah berpikiran yang tidak-tidak pada Ilhoon.

“Saat aku susah, kau selalu ada, kan? Kau selalu mencariku dan membantuku. Aku juga ingin seperti itu. Saat kau susah, aku juga ingin ada didekatmu. Walaupun aku tidak punya uang, setidaknya aku punya kekuatan untuk membantumu.”

“Aku pernah memintamu untuk membuat mereka pergi. Tapi kau tidak melakukannya.”

“Kau memintaku melakukannya karena dia, kan? Bukan atas kemauanmu. Kau bukan orang yang seperti itu.”

“Jangan menunjuk kearahku!” Ravi menepis tangan Sehun kasar. “Aku tidak melakukan apapun padanya!”

“Kau yang telah merubah sahabatku, brengsek!” Sehun mendorong tubuh Ravi lagi.

“Apa kau bilang?!”

“Hey, stop!” Luhan dan Sungjae menghampiri mereka, menahan tubuh keduanya agar tidak bertengkar.

“Jika kau melakukan sesuatu pada Ilhoon. Aku pasti akan menghajarmu!”

“Park Sehun, stop! Oke?”bentak Luhan membuat Sehun langsung membungkam mulutnya.

“Sebaiknya latihan kali ini kita tunda. Aku rasa semuanya tidak akan berjalan baik jika kalian seperti ini.”

“Kau tidak berhak memutuskan apapun, rambut ungu!”sengit Ravi.

“Dan aku tidak meminta pendapatmu, pengecut.”balas Luhan berbalik menatap Ravi dengan ekspresinya yang terlihat meremehkan. “Kau bukan tandinganku, jadi sebaiknya kau tutup mulutmu.”

“Dasar brengsek!” Sungjae menahan tubuh Ravi yang hampir saja memukul Luhan. Luhan tetap bersikap tenang, lantas menatap Sehun kembali.

“Ikut aku. Kita pergi.” Ia menggandeng lengan Sehun dan menariknya pergi meninggalkan lapangan.

TBC

 

67 thoughts on “FF : The Lords of Legend (Chapter 15)

  1. chocohyera berkata:

    Eonnie!!!! DAEBAKKK!!! Nae udah baca dari chap 1, tai baru comment di chap ini, mianhae ne eon? Btw, nae juga readers baru~ Kim Hye Ra imnida~ lebih muda dari eon pastinya/? *yakali #plakk

    Nae seneng sifatnya D.O di ff ini~~ keren beuud~ makin lopek♥
    Sehunnya keras kepala! Huuhuhuhuhu… geregetan sama sifat buatan Suho buat Sehun, ah, Suho sih, ngasih sifat ke Sehun kok keras kepala mode HIGH gitu. Tapi tetep daebak!
    Itu ravinya nyebelin. Apa-apaan sih dia? Setuju nae sama Luhan! Ravinya pengecut!

    Eon, itu kata TBC nya kok nyangkut gitu? Ganggu orang baca ah :((

    Pokoknya daebak eon! NEXT CHAPTER JANGAN LAMA2!! DITUNGGU DENGAN HATI GA SABARAN/? OLEH HYERA SEBAGAI PENS BARUMU EON#dor

  2. wulanaprian berkata:

    Part ini kurang panjang ya thor >< jd kurang puas bacanya. Nah kan, emg pas tau ilhoon berubah itu psti krn ravi. Awal nebak2 apa si ravi ini jotun yg nyamar di bumi? Sllu itu yg kepikiran.

  3. Jungyongsun berkata:

    Mianhae, 1x komen di part ini pdhal dah baca dr awal. Aq suka ff2 kamu thor. Beberapa dah kubaca n tinggalin jejak jg cuma mgkin gak terlalu diperhatikan. Itu bkn msalah seh, senang aja sm karya2 author. Next moga lbh bxk inspirasi n bwt yg ini jgn lama2 publishx. Oke,pai pai…

  4. Ica Swary berkata:

    aishh jinjja ternyata itu yang terjadi sama ilhoon makanya berubah kayak gitu, ayolah sehun ikut aja ke negeri langit kasian loh mereka kan nanti ibumu bisa tinggal dibumi kalo dia jadi dewi nanti waktu perang dibunuh gimana coba? ditunggu next chapter

  5. yuntil berkata:

    aaa eon pendek bgt… ravinya nyebelin
    itu kai dan sehun kok berantem sih???…
    luhan keren…
    minhyuknya baik bgt ma sehun….
    AAA KEREN BANGET FF MU EON…
    chapter depan jgn lama lama ya eon

  6. desywlndr14 berkata:

    Ddaebak eonnn!!
    Ini hiburan aku semenjak aku selesai un kemaren hehehe..
    Fighting ya thor!! Trus ngpost nya jgn lama2 ya thor hehe ^^

  7. Aleyaa ThuuAquw berkata:

    suho memang angel..
    suho dan kris emng pantes jdi leader krena mereka pengertian dan mau ngorbakn nyawanya untuk orng lain..
    Ravi dia memang pengecut…
    Sehun kpn bsa bner” nerima knyataanya

  8. Oh Yuugi berkata:

    Wowoww,,, makin seru aja nih… sudah kuduga ravi ma ilhoon ada apa2nya… si ravi emang pengecut bisanya main duit doank! Makin kesini Sehun makin keras kepala ngampang marah, apalagi saat berantem ama kai.. waahh bikin dag dig dug juga..kkk
    Btw Suho, kris, dewa dll gak akan ada yg musnah kan cuma demi jadiin taeyeon dewi masa harus ngorbanin dewa sih..huhuu
    Kan sediihh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s