Passion Fantasy

cghnvhn

Author: Chanminmaa
Title: Passion Fantasy
Main Cast: B.A.P – Kim Himchan, Il Hwayeon (OC)
Genre: Fantasy, Romance, School Life, Angst
Rating : General
Length: >3000 Words [Oneshot]
Summary :
Aku tidak pernah tahu bahwa hal semacam ini akan terjadi padaku. Semua berjalan normal-normal saja sebelumnya, aku menikmati hidupku—dengan caraku sendiri dan aku bahagia, aku melewati hariku bersama Himchan—dengan membolos sekolah dan itu menyenangkan, bahkan aku baru saja akan menulis momen bersejarah ini di buku diary-ku saat sampai di rumah nanti. Tapi, tiba-tiba saja keadaan berubah total.
[Recommended song : Skye Sweetnam – Girl Like Me]
________

Aku mengulas senyum simpul saat hembusan angin sore menerpa pelan kulit wajahku, aku suka menikmati suasana sepi seperti sekarang. Duduk sendirian di bangku tua taman sekolah, sepi karna jam pelajaran sudah lama berakhir. Bukankah sangat menyenangkan saat tak ada seorangpun yang menganggumu? Rasanya tenang sekali.

“Kau harus pulang sekarang, Hwayeon-ah.” Aku menoleh kaget mendengar suara itu. Uh, seperti biasa—dia selalu berhasil membuatku terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

“Kali ini kau tidak bisa memaksaku.” Dengusku pura-pura kesal padanya. Ya, dia suka sekali mencampuri urusan orang lain. Menyeretku pulang seenaknya walau aku meronta atau menolak sekalipun. Seperti kemarin.

Sosok itu, namja dengan balutan seragam yang sama denganku hanya terkekeh pelan, wajahnya terlihat pasrah saat mengambil duduk tepat di sampingku dan merogoh tas hitamnya.

“Kau mau?” Tawarnya, mengulurkan sekaleng soft drink padaku.

Aku tertawa kecil, mengambil soft drink itu cepat dari tangannya. “Apa tasmu itu hanya berisi makanan, huh? Berikan juga aku roti selai kacang, aku lapar.” Ejekku.

“Lain kali aku tidak akan memberimu secara gratis.” Oh, apa dia marah? Lucu saat dia mengerucutkan bibirnya dan menatapku sebal. “Aku marah padamu.” Lanjutnya, kemudian meneguk kembali minumannya.

“Benarkah?” Godaku padanya, berusaha menahan tawa tapi aku gagal. Sekarang aku bahkan tertawa terbahak-bahak hanya dengan melihat ekspresinya. Semudah itukah?

Aku berusaha menghentikan tawaku, mendadak suasana menjadi canggung saat aku menyadari ternyata dia hanya diam. Apa hanya aku yang merasa bahwa ini lucu dan layak untuk ditertawakan?

“Ke-kenapa?” Tanyaku kikuk, tapi dia masih diam saja. “Apa kau serius marah padaku?”

“…..”

“Ya! Jadi benar kau marah padaku??”

“…..”

“Kau! Mana boleh seperti it—” Bukankah aku sudah mengatakannya dari awal? Dia selalu berhasil membuatku terkejut. Bukan hanya dengan kehadirannya yang terkesan tiba-tiba, tapi juga segala perilakunya padaku. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan, apa yang akan dia lakukan sedetik berikutnya sesudah memberiku satu ciuman hangat di bibir dan membuatku terbang ke lapisan langit teratas. Ini bahkan lebih dari sempurna.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Ucapnya dan sontak aku membuka mata. Err…sejak kapan dia melepaskan ciuman kami? Kenapa aku baru menyadarinya?! Bodoh, sekarang aku pasti terlihat bodoh.

Ralat, dia tidak lucu atau menggemaskan.

Tidak, karna sekarang dia terkesan begitu dingin padaku. Beranjak dan menarik paksa lenganku, membawaku pulang tanpa meminta persetujuanku. Menyebalkan, bukan? Harusnya aku tau kalau namja ini tidak mungkin benar-benar bersikap baik padaku. Sifat serta sikapnya itu bisa berubah dengan mudah.

“Baiklah.” Sial, lagi-lagi aku menyerah dan mengiyakan ajakannya.

Seperti hari-hari sebelumnya, sosok ini akan menggenggam tanganku lembut, menuntunku untuk berjalan beriringan dengannya.

Aku tidak yakin akan mengatakan hal ini. Tapi, biarkan terus seperti ini, tak apa asal aku selalu bersamanya. Karna hariku hanya terasa sempurna jika dia berada di sisiku.

“Emm, kau…,” Gumamku tak jelas, dia menoleh dengan satu alis terangkat. Menatapku heran.

“aku…,” Lanjutku. Hei! Kenapa aku jadi gugup begini?

“Ya?”

Aku pasti gila jika benar mengatakannya. “sebenarnya…,” Tsk, yang benar saja kau Il Hwayeon. “emm…itu, aku sebenarnya…” Gadis tidak tau diri, jangan coba untuk mengatakannya!

“Kau kenapa? Cepat katakan.”

“Tidak jadi.” Kataku pada akhirnya. Aku seperti keledai saat bersamanya, merasa bodoh dan selalu salah tingkah. Ya, secepat inikah untuk jatuh cinta padanya? Memberikan seluruh hatiku padanya adalah sesuatu yang berbeda. Tidak akan ada yang mengerti bagaimana rasanya. Aku tahu ini hanya akan sia-sia.

………

“Kau tahu jam berapa ini?!” Sungguh, aku benci berada dalam situasi seperti ini. Aku masih diam, memilih menunduk dalam ketimbang menjawab pertanyaan dari orang di hadapanku.

“Anak nakal. Berapa kali harus kukatakan kalau kau harus pulang tepat waktu?!”

“Dan berapa kali aku harus memberitahumu kalau aku tidak suka dibentak?!” Oh, aku melakukannya lagi. Jangan tuduh aku sebagai anak kurang ajar karna sejak awal dia yang memulainya.

“Apa?” Wanita itu menatapku tak percaya, satu tangannya beringsut mengelus dadanya berulang kali. Seolah menghadapiku membutuhkan banyak kesabaran. Berlebihan.

Aku memutar bola mataku kesal, berjalan cepat melewatinya, masuk ke kamarku dan membanting pintu dengan keras. Aku bahkan tak menghiraukan seruan eomma yang berusaha memanggilku.

Ya, memang begini kehidupanku. Pertengkaran kecil? Entahlah. Jangan pikir aku seperti tokoh Cinderella di buku dongeng yang memiliki ibu tiri kejam atau kakak tiri yang sama kejamnya, atau lebih parahnya tidak punya ayah. Haha, tentu dia ibu kandungku, ya, ibu kandungku. Aku anak tunggal—itu artinya tidak ada kakak tiri yang kejam. Ayah? Orang itu selalu sibuk bekerja, jadi aku jarang bertemu dengannya.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, dengan seragam yang masih melekat, sepatu, dan segala yang membuatku terlihat semakin berantakan. Aku tidak peduli, aku lelah. Aku sangat lelah dan hanya ada satu nama yang kuharap sekarang bisa ada disini untuk menghiburku.
………

“Kau gila.”

“Ayolah, lagipula aku sudah memohon padamu.” Aku menggigit bibir bawahku cemas, sesekali melihat kesekelilingku. Masih sama, koridor sekolah ini sepi.

“Untuk apa masuk sekolah jika kau sudah membolos di jam pertama?” Huh, aku tidak tahu kenapa mulutnya tidak bisa dengan mudah mengatakan ‘iya’. Padahal aku yakin dia juga bosan berada di tempat ini dan harus belajar setiap hari.

”Aku hanya merasa sesekali kita perlu bersenang-senang. Berkutat dengan buku setiap hari bisa membuatmu lebih cepat tua, Kim Himchan.” Aku menyikut lengannya dan tertawa, kulirik dia hanya diam menatapku. “Kenapa?”

“Barusan, kau…memanggilku apa?” Tanyanya tampak bingung, aku ikut bingung melihat tingkah lakunya.

“Tsk, ini bukan waktunya santai Himchan-ah, kita harus bergerak cepat.” Bisikku sebelum menarik tangannya dan berlari, memaksanya menaiki pagar belakang sekolah sebelum ada orang yang tahu dan aku tidak jadi melakukan aksiku.

“Kudengar ada festival musim semi di Busan, akan sangat menyenangkan jika kita bisa kesana.” Ujarku antusias begitu berhasil menaiki pagar.

“Ya! Aku sedang bicara denganmu.” Teriakku pada Himchan karna namja itu hanya mendiamkanku.

“Tapi aku sedang marah, jadi tidak mungkin aku mau bicara denganmu.” Tidak, kali ini aku harus menahan tawaku. Lihat? Himchan adalah satu-satunya orang yang terlihat imut saat marah. Aku suka saat dia menggembungkan pipinya.

“Benarkah?” Tanyaku memastikan dan dia mengangguk lugu.

“Kalau begitu aku minta maaf.”

“1 cone ice cream coklat kalau begitu.”
………

Aku memang tidak sedang berada di festival musim semi yang meriah di Busan, tapi dimanapun itu, asalkan bersama Kim Himchan semua akan terasa seribu kali lipat lebih menyenangkan. Melihatnya menghabiskan ice cream, adalah pemandangan yang langkah. Dia…seribu kali lipat lebih tampan dari sisi ini, walau pierching di telinga nya itu sedikit tidak cocok dengan ice cream yang ada di tangannya.

“Kenapa melihatiku terus?” Ujarnya tiba-tiba. Ah, aku melamun. “Apa aku tampan?”

Aku mendengus geli, ya kau sangat tampan Kim Himchan. “Kau terlalu percaya diri.”

“Fix, aku tampan. Itu terlihat jelas tanpa kau mengatakannya sekalipun.” Berhenti mengolokku jika kau sudah tau jawabannya.

“Jangan sok tau, Himchan.” Sergahku cepat. Himchan mencibirku.

“Kau membohongi dirimu sendiri,” Ya kau benar, aku sedang berbohong. Aku malu dan tidak mungkin juga aku harus mengatakannya padamu, kau puas? “ayolah Hwayeon, akui saja kalau aku memang tampan.”

Dia benar-benar tidak menyerah. Menatapku penuh harap seolah memang sudah seharusnya aku mengatakan, “Ya.”

“Yeay!” Soraknya puas. Menyebalkan.

“Kau tahu apa yang lebih manis daripada ice cream coklat?” Tanyaku berusaha megalihkan pembicaraan, dia bisa besar kepala dan akan mebahas ‘ketampanan’nya terus menerus jika aku tidak segera melakukan ini. Dan kurasa ice cream coklat favorit Himchan adalah topik yang bisa membantuku.

“Apa?” Berhasil. Aku tidak langsung menjawabnya, melainkan memutar mp3 lalu memasangkan satu headset di telinganya dan satu yang lain di telingaku.

“Bukankah ini manis?”Aku mengedipkan mataku beberapa kali—hanya mencoba bersikap seperti gadis manis lainnya. Apa ini sudah menggemaskan?

“Hwayeon! Apa ada debu yang masuk di matamu?” Baiklah, sudah cukup. Itu respon yang jauh dari kata ‘manis’.

Aku menghela nafas pelan, memilih bersandar di bahunya daripada menjelaskan tentang—apa yang baru saja kulakukan. Sejenak hening menyelimuti kami.

“Himchan,” Panggilku dengan nada rendah, nyaris berbisik. Himchan menutup kedua matanya dan aku melakukan hal yang sama.

“Hm?”

“Kau adalah pacarku, iya ‘kan?”

“Apa?” Tanyanya, kedengaran seperti—terkejut?

Aku membuka sebelah mataku, melirik namja itu dan benar saja, Himchan sedang menatapku heran. “Ya,” Gumamku memastikan. Aku tahu dia mengerti yang kumaksud.

“Ah, tentu saja.” Himchan mengusap tenguknya lalu kembali bersandar pada kursi taman kota yang tengah kami duduki. Sedangkan aku kembali bersandar di bahunya.

“Aku tidak suka mereka.”

“Siapa?” Himchan menoleh padaku sekali lagi.

“Semuanya, semua orang yang ada di sekitar kita. Tidakkah kau sadar kalau mereka selalu menatap kearah kita? Membuatku merasa tidak nyaman.”

Himchan tersenyum kecil menanggapiku, apa aku terlalu berlebihan? “Jawabannya ada dalam dirimu sendiri, Hwayeon.”
………

Aku tidak pernah tahu bahwa hal semacam ini akan terjadi padaku. Semua berjalan normal-normal saja sebelumnya, aku menikmati hidupku—dengan caraku sendiri dan aku bahagia, aku melewati hariku bersama Himchan—dengan membolos sekolah dan itu menyenangkan, bahkan aku baru saja akan menulis momen bersejarah ini di buku diary-ku saat sampai di rumah nanti. Tapi, tiba-tiba saja keadaan berubah total.

Pening. lututku terasa lemas, membuatku jatuh terduduk di lantai begitu saja. Teriakan dan tangis itu masih menggema di penjuru rumah. Memekan indera pendengaranku.

“Hwayeon-ah,” Ada apa dengan eomma? Tidak biasanya dia menatapku selembut ini. Aku bingung melihatnya yang tersedu mengusap aliran air mata di pipinya. Dan kenapa dia menangis? “Hanya kali ini, bisakah kau menuruti apa kata eomma?”

Aku tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” Tanyaku langsung, tanpa sopan santun—seperti biasa.

Eomma berlutut di hadapanku, wanita paruh baya itu tersenyum dan mengusap sayang puncak kepalaku. “Sekali ini saja, bisakah kau menuruti apa kata eomma? Kembalilah menjadi Hwayeon yang dulu.”

“Aku benar-benar tidak mengerti.”

Ya, kurasa selama ini aku memang tidak pernah mengerti. Rasanya seperti tertidur panjang, lagi-lagi layaknya putri di negeri dongeng. Terbuai dalam mimpi indah, dan kali ini aku terbangun. Baru menyadari bahwa begitu banyak waktu yang sudah kulewati sia-sia, begitu banyak hal yang sudah terjadi tanpa satupun yang kutahu, begitu banyak perubahan dalam diriku entah sejak kapan.

“Himchan-ah!!!” Teriakku frustasi, berlari dari satu tempat ke tempat lainnya. Sepi, tak ada seorangpun di sini kecuali eomma dan security penjaga sekolah yang mengikutiku kemanapun aku pergi.

Air mataku jatuh. Aku lelah mencari keberadaan namja itu di manapun, sosok yang sangat ingin kulihat sekarang tapi malah menghilang, seolah lenyap dari muka bumi ini. “Aku membutuhkanmu,” Tangisku semakin menjadi.

Benar, aku membutuhkanmu untuk memastikan juga membuktikan pada mereka. Kau nyata di mataku—juga di hadapan semua orang. Jadi, bisakah kau mendengarku? Aku ingin bertemu denganmu Kim Himchan.

Kini tanpa terasa aku telah sampai di taman belakang sekolah, berjalan mendekat kearah sosok yang telah berhasil tertangkap retina mataku sejauh dia duduk dan memainkan gitarnya. Ya, itu dia.

“Aku tidak tau harus mengatakan apa.” Ujarku pelan, tangisku membuncah begitu sampai di hadapannya.

Namja itu terdiam, jemarinya berhenti memetik senar gitar yang sebelumnya melantunkan nada-nada merdu. Matanya beralih menatapku pasti. Aku semakin menelisik sosoknya yang masih mengenakan seragam sekolah, jauh berbeda denganku yang justru memakai piama tidur bergambar teddy bear.

“Lupakan aku, Hwayeon.” Desisnya dingin, tak pernah sedingin ini sebelumnya.

“Jangan bodoh, Himchan! Kita buktikan bahwa aku benar, ikut a—” Semua terjadi begitu cepat saat Himchan menghempaskan tanganku kasar, menolakku yang hendak menariknya bangun. Aku tidak percaya dia bisa memperlakukanku seperti ini.

“Ini sudah berakhir Hwayeon-ah.” Lagi, air mataku semakin tak terbendung. “Aku tidak bisa terus menerus berada di sisimu, menemanimu melalui hari dan selalu menjadi seperti yang kau inginkan. Ini sudah berakhir Hwayeon-ah, jadi…berhentilah untuk menggambar sosokku di dalam anganmu, membangun ilusi tentangku sama halnya dengan menyakiti dirimu sendiri.”

Aku terdiam mematung di tempatku. Sakit, rasanya sakit sekali seperti ada yang menghantam kepalamu dengan sangat keras. Perkataanya berhasil membuatku sadar sepenuhnya.

“Hapus aku dan mulai kehidupan yang baru, bagaimana?” Aku tidak tahu sejak kapan dia memelukku dan aku tidak berminat ingin mengetahuinya. Karna sekarang, aku ingin sekali memeluknya dengan erat, menyalurkan segenap perasaanku yang ada padanya.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

“Tapi, aku tidak bisa…” Kataku lirih, nyaris berbisik. Himchan melepaskan pelukannya, menatapku lebih dalam. “kau tahu aku tidak bisa tanpamu.”

“Kau bisa. Kau hanya tidak mau berusaha.”

Terisak kencang, aku menggenggam kuat satu tangannya. “Lebih baik aku mati sa—”

“Belajarlah untuk menghadapi kenyataan, Hwayeon-ah.” Kau benar Himchan, tapi kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya.

Jika melepasmu, aku mungkin akan menyesali keputusanku dikemudian hari. Karena melepasmu sama halnya dengan kehilangan separuh dari diriku, Kim Himchan. Karena melepasmu sama artinya dengan tetap hidup dalam kematian. Karena melepasmu sama saja aku menghancurkan diriku sendiri secara perlahan.

“Senang bisa mengenalmu, Il Hwayeon.” Aku tahu hal terburuk ini pada akhirnya akan terjadi. Saat Himchan melepaskan genggaman tanganku, dan berjalan menjauh…aku tahu saat itu akan menjadi yang terakhir kalinya.

Ambruk. Tubuhku bergetar hebat ketika sosok itu benar-benar menghilang dari pandanganku. Lenyap bersama hembusan dingin angin malam dan pergi jauh ke tempat yang tak lagi bisa kujangkau. Meninggalkanku sendiri tanpa sempat memberiku kesempatan untuk mengatakannya.

Setidaknya dia harus membiarkanku membalas kalimat perpisahannya, bukan?

“Hwayeon-ah ayo kita pulang.” Eomma berlari menghampiriku, membantuku bangun. Aku langsung memeluknya tanpa ragu.

“Eomma, aku minta maaf. Bantu aku memulai semuanya dari awal.”

Inikah yang kau inginkan, Himchan? Ya, aku akan melakukan seperti yang kau katakan. Bertahan hidup tanpamu dan belajar untuk menghadapi kenyataan.
………

1 year later.

Aku mengulas senyum simpul saat hembusan angin malam menerpa pelan kulit wajahku, aku suka menikmati suasana sepi seperti sekarang. Duduk sendirian di dekat jendela kamar, sepi karna hanya ada aku di ruangan ini. Bukankah sangat menyenangkan saat tak ada seorangpun yang menganggumu? Rasanya tenang sekali.

“Hwayeon-ah, makan malam sudah siap~” Teriak eomma dari lantai bawah.

“Baik eomma!” Sahutku cepat. Hendak beranjak saat tanpa sengaja melihat benda itu tergeletak begitu saja di atas meja, buku dengan sampul bergambar langit biru yang halamannya terbuka.

Aku meraih buku itu. Sedikit tersenyum kecil mengingat apa saja yang sudah ku tulis di dalam sana, ya, begitu kekanakan.

Aku sudah berusia 17 tahun. Tidakkah mereka sadar kalau aku sudah tumbuh menjadi gadis dewasa? Mengapa terus mengekangku? Aku benci saat eomma selalu mengambil keputusan sepihak dan mengatur hidupku.

Tertawa saat menemukan tulisan itu berada di tengah halaman buku ini. Ya, sekarang aku mengerti kalau dulu—aku tidak bersikap sedewasa yang kubayangkan. Aku bahkan masih kekanakan untuk menulis semua keluhanku di buku diary.

Rasanya ingin sekali menangis. Lagi-lagi eomma melarangku untuk melakukan hal yang paling kusuka. Apa salahnya dengan menari atau bermain musik? Itu lebih menyenangkan ketimbang menguras otakku untuk memecahkan soal matematika.

Lihat. Halaman selanjutnya masih berisi keluhan, tak habis pikir aku menuangkan segala yang kurasakan pada buku ini. Ya, mungkin karna hanya buku ini satu-satunya yang tidak pernah mengeluh saat aku selalu menulis berbagai keluhanku.

Seandainya aku memiliki seseorang, benar, satu saja sudah lebih dari cukup—seseorang yang bisa mengerti bagaimana keadaanku. Menemaniku, menghiburku, menjadi seperti yang selalu kuinginkan. Pasti akan bahagia sekali.

Tentu bahagia, tapi aku memilih cara yang salah. Ini adalah awal dari semua kesalahan yang ada pada diriku sendiri.

Bagaimana dengan…sesosok namja tinggi bersama balutan seragam sekolahnya yang sama denganku, kulit putih, mata indah, bibir tipis, dua pierching di telinga kirinya, serta sifat dan sikapnya yang bisa berubah begitu mudah? Menarik, bukan?

Aku masih membuka satu persatu halaman dalam buku ini. Sesak perlahan menyusup di dadaku. Saat itu aku sudah menggambar sosok yang sempurna. Melalui anganku, lalu menorehkannya dengan tinta, dan kemudian membangunnya dalam ilusiku. ‘Sesosok namja tinggi bersama balutan seragam sekolahnya yang sama denganku?’ Ya, itu sebabnya dia tidak pernah mengenakan pakaian selain seragam.

Aku memberinya nama…emm, Kim Himchan? Itu nama yang unik untuk di dengar. ^^

Dan nama terindah yang pernah mengisi hidupku.

Terimakasih untuk segalanya, Kim Himchan. Teman—sahabat—pacar khayalanku, semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti dalam kehidupan nyata.

Setetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. Halaman terakhir dimana aku menulis semua tentang Himchan. Aku sadar aku berhenti menulis keluhanku semenjak ada Himchan. Itu karna sosok Kim Himchan jauh lebih menarik perhatianku, menguasai pikiranku, membuat hari-hariku berjalan baik-baik saja hanya dengan bersamanya. Asal ada Kim Himchan di sisiku, maka hidupku terasa sempurna.

Tapi sekarang semua sudah berbeda, berubah seiring sosoknya yang tak lagi bersamaku. Entahlah, aku tidak pernah melihatnya lagi semenjak hari itu. Hari dimana eomma menemukanku berada di taman kota sendirian, dengan ice cream coklat meleleh di tangan serta satu headset terpasang di telingaku. Membolos sekolah.

Itu adalah hari yang paling menyenangkan dalam hidupku.

Menyenangkan karna aku bersama Kim Himchan seharian—tapi eomma bersikeras mengatakan bahwa aku sendirian. Tak lagi menjadi hari yang menyenangkan saat aku bilang bahwa Himchan satu sekolah denganku—kami pergi kesana untuk membuktikannya dan…dan aku sadar.

Aku sadar akan sesuatu hal terpenting yang sempat kulupakan selama ini.

Kim Himchan…

Hanyalah…

Khayalanku semata…

“Hwayeon,” Aku menoleh kaget mendapati eomma berada di ambang pintu, refleks aku menutup buku itu dan kembali menaruhnya di atas meja.

“Ya?”

“Ayo cepat turun ke bawah, makanannya sudah dingin.”

***

Aku merutuk kesal sepanjang jalan menyusuri koridor Rumah Sakit. Oh, bagaimana tidak? Eomma menyuruhku mengantar buket bunga pada temannya yang sedang sakit TANPA MEMBERITAHUKU nomor ruangannya. Ponselnya bahkan tidak aktif dan terpaksa aku harus membuka satu persatu pintu kamar yang ada di Rumah Sakit ini demi mencari orang yang bernama Nyonya Kim Seowon. Astaga, aku pasti bisa gila sebentar lagi.

Ada ribuan pintu lebih di Rumah Sakit semewah ini, yang benar saja jika aku harus mencarinya dari satu kamar ke kamar lain!

Ini adalah kamar terakhir, terserah karna kali ini aku benar-benar sudah lelah. Aku akan menyerah dan pulang kalau orang yang ada dalam kamar ini bukan Nyonya Kim Seowon.

Kamar 203 dan pintu ke 203 yang sudah ku ketuk.

“Jogiyo~” Aku membuka knop pintunya karna tak ada seorangpun yang menyahutnya. Great, lancang sekali kau Il Hwayeon!

“Maaf apa benar ini kamar Nyonya Kim Seowon?” Aku bertanya dan tak ada siapapun di ruangan ini. Pantas saja.

Aku baru akan pergi saat sebuah suara mengagetkanku, “Sedang apa kau di kamarku?”

“Ma-maaf tapi aku hany—” Aku berbalik dan…tidak tahu harus berbuat apa.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

Aku masih terpaku menatap sosok di hadapanku saat ini, mataku yang mengerjap beradu dengan tatapan bingungnya. Jantungku berdetak sejuta kali lebih cepat dari biasanya, ada rasa sakit yang luar biasa di setiap detaknya.

Sakit melihat perban yang melilit di kepalanya, sakit melihat ia yang terduduk di kursi roda, dan masih banyak rasa sakit lainnya yang tak bisa kujelaskan ketika melihat namja itu.

“A-aku pasti salah ruangan.” Ujarku lirih, berjalan melewatinya.

Ya, aku tahu kalau ini adalah proses panjang yang tidak mudah. Melupakannya membutuhkan waktu yang tak bisa kutentukan, karna melupakannya…tak semudah menciptakan sosoknya dalam khayalanku.

Aku menunduk sopan saat berpapasan dengan wanita paruh baya yang memasuki ruangan ini. “Kim Himchan-ssi waktunya anda untuk minum obat.”

Deg!

Langkahku terhenti di ambang pintu, tidak, bukan hanya langkahku karna kurasa sekarang seluruh saraf tubuhku seolah berhenti bekerja begitu mendengar nama itu. Pelafalan sempurna yang membuat indera pendengaranku merekamnya berulang kali—mengiang tak percaya.

‘Kim Himchan’ katanya?

“Ne.”
Aku bisa menyalahkan indera penglihatanku yang mungkin saja salah menangkap parasnya. Tapi, haruskah aku menyalahkan indera pendengaranku? Nama familiar itu jelas miliknya, bukan?

“Nona apa ada yang bisa kubantu?” Tanya perawat itu menghampiriku, aku menggeleng kecil dan dia melenggang pergi.

Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan.

“Kau yang di sana…ya, kau yang memakai baju merah dan berdiri di ambang pintu.”

Apa dia memanggilku?

Aku berbalik, mendapati namja itu kini setengah terbaring di atas tempat tidurnya—menatapku tajam. “Masuklah, kau menghalangi jalan.”

Uh? Benarkah? Mendadak lidahku kelu untuk sekedar membalas ucapannya.

Aku berjalan pelan kearahnya, sangat pelan dan sekarang aku merasa seperti siput kecil saking lambatnya. Namja itu memutar bola matanya kesal, terlihat tak sabaran. “Cepatlah sedikit!” Tsk, dia berani membentakku??

“A-aku…”
“Mendekatlah.” Satu tarikan kuat darinya dan kurasa sekarang aku justru terlalu dekat dengan—sosok asing yang tak habis pikir berani menarikku dalam pelukannya. Apa dia gila?
Aku berusaha mendorongnya. “M-maaf tu-an, tapi apa yang—”

“Kau terlambat.”

“Eh?”

Namja itu menghela nafas panjang, melepaskan pelukannya dan kembali menatapku tajam. “Pacar macam apa yang baru datang disaat kekasihnya sudah terbangun dari koma sejak 1 bulan yang lalu?!” Dia mencibirku, “Aku sangat marah padamu, karna membuatku menunggu terlalu lama.”

Detik ini juga aku merasa jadi makhuk paling bodoh di dunia. Konyol karna perkataanya terdengar tidak masuk akal bagiku—aku tidak tahu harus berbuat apa. Benar. Orang ini pasti tidak waras.

“Apa hanya itu reaksi yang kau tunjukkan?” Namja itu mendecak kesal.

“…..”

“Katakan sesuatu!”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Orang lain akan mengira aku gila karna bicara sendirian.” Apa ada yang lucu? Hei! Kenapa dia malah menertawakanku?

“Kali ini memang nyata.” Lagi, dia melakukan sesuatu yang tidak terduga. Satu gerakan cepat yang ia lakukan dan membuat kedua mataku membulat sempurna. Menyeringai puas saat berhasil mencuri satu ciuman dariku.

“Senang bisa bertemu lagi denganmu, Il Hwayeon. Aku mencintaimu.”

Bisakah waktu berhenti berputar? Aku harap ini adalah kenyataan yang sebenarnya—tidak peduli seberapa sulit aku mempercayainya, asalkan dia Kim Himchan, tak apa, aku tidak akan meminta penjelasan pada siapapun atas hal tidak logis ini.

“Apakah…ini benar-benar kau?” Isakku, memeluknya erat.

“Tentu saja.”Dia terkekeh pelan.

Kau tahu?

Seperti tertidur kembali, ini terasa seperti mimpi. Ya, mimpi terindah karna aku bertemu dengan sosok itu lagi. Dan aku tidak akan pernah ingin terbangun untuk kedua kalinya.

“Aku juga mencintaimu, aku sangat sangat mencintaimu Kim Himchan. Lebih dari apapun.”

Tidak peduli seberapa keras aku mencoba berpikir, aku percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Saat Tuhan berkata lain dan memutuskan untuk mengubah alur kisah hidupku, maka saat itu juga tak ada yang sanggup menghentikannya. Terdengar tidak masuk akal, tapi siapa yang tahu bahwa ternyata sosok khayalan bisa saja benar-benar ada di dalam kehidupan nyata?

Mereka mungkin saja hanya sedang terjebak di antara fantasi gilamu, tersesat akibat ilusi bodohmu yang nyaris sempurna ketika mengambarkan sosoknya, bahkan tidak menutup kemungkinan kalau mereka adalah jiwa yang terlepas dari tubuhnya untuk sementara waktu.

Karna jika itu Kim Himchan, maka tak ada lagi yang perlu kutanyakan.

**FIN**
Holaaa~ Author Chanminmaa is here #tebar uang. Ah mollamollamollaaaa! (╯҂ ‵□′)╯KENAPA AKU BERANI SEKALI POST INI??!! Di tengah tugas yang membludak, try out tinggal menghitung hari, dan unas. Unas? (!!˚☐˚) kekeke, entahlah. Yang pasti saya tidak boleh menyia-nyiakan anugerah berupa ide yang Tuhan berikan—oke skip. [Author aneh]
Thankyou so much to my new husband bias, Kim Himchan from your great inspiration. You’re really gives me many of spirit. And Thanks a lot Skye Sweetnam, your amazing feel in –Girl Like Me- however helped me to writing this story. [Walaupun lagu itu SANGAT kontras dengan cerita ini]. Hahaha
Your comment are very needed. Big thanks to my good reader or silent reader because willing to read this story. Bow (ɔ ˘⌣˘)~♡

7 thoughts on “Passion Fantasy

  1. Helena A. berkata:

    Aku harus komen apaaa????
    Aku merasa dipermainkan oleg author. Huhuhu.. T.T
    Ini ff yang menguras emosi. Aku pikir hwayonnya emang tukang ngayal. Berharap punya pacar dengan visual sempurna kaya’ himchan. Begitu ngeh ternyata himchannya emang ada. Aku merasa dipermainkan
    *lebay *bercanda thor.
    Ini ff keren banget. Diluar prediksi karena ga ketebak ujungnya. Dua jempol buat author. Ditunggue karya lainnya ya.. Fighting..

  2. BlingDIno berkata:

    Bener kata Halena. A, merasa dipermainkan. Jadi ini tuh kisahnya tentang khayalan jadi kenyataan kan thor. Bukan kenyataan tapi dia seperti lupa sesaat gitu? Iyakan thor? Terus himchannya cuma bercanfda tentang koma 1 bulan itu?
    Ah iya Annyeong, aku readers baru disini. Joneun Choi Ha Byul imnida. Baru inget saking keasikan baca + penasaran + komen jadi lupa sendiri^^v
    Pokoknya aku seneng banget sama ff ini. Seneng juga sama khayalan-khayalannya. Keren!
    Ditunggu karya selanjutnya thor. Fighting!^^99

    • chanminmaa berkata:

      Halo salam kenal yaa Choi Ha Byul ^^ terimakasih sudah mau baca+komen🙂
      Eumm, iya Himchan emg khayalan kok tp sebenernya di kehidupan nyata dia ada cuma lagi koma aja.😄
      Syukur kalo kamu suka ^^ terimakasih buat komennya~

  3. Wahyuni berkata:

    Aha! Cerita yg bagus🙂 jd keinget novel yg prnah ane bc di perpus thor.. Haha
    jangankan 2 jmpol 100 jmpol ane kasi buat author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s