FF EXO : AUTUMN Chapter 13

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

 

 

“Cara pertama, lakukan semua keperluanmu sendiri. Jangan melibatkan orang lain ataupun merepotkan mereka. Lakukan dengan dirimu sendiri” Sehun membaca sebuah catatan yang tertulis di buku pemberian Suho.
Ia bergumam sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. Sepertinya tidak sulit. Hanya melakukan semuanya seorang diri. Mudah.
Sehun meletakkan buku catatan yang diberikan Suho, melebarkan pandangannya ke segala arah, mencari-cari tas ransel sekolahnya. Setelahnya, mengeluarkan buku cetak tebal matematika dan buku tulisnya.
“Aku tidak akan meminta bantuan Jongin hyung atau Luhan hyung lagi. Aku bisa mengerjakannya.”ucap Sehun berubah semangat. Ia berdiri, membawa buku-bukunya ke ruang tengah dan mulai mengerjakannya di meja.
Sehun terlihat benar-benar yakin dengan tekad barunya. Bahkan melupakan perutnya yang mulai mendendangkan bunyi karena lapar. Ia ingin menyelesaikan pekerjaan rumahnya seorang diri sekaligus ingin membuktikan jika dia memang seorang murid yang pintar.

Jongin menutup pintu pagarnya sembari membenarkan tali tas ranselnya yang menurun, kemudian menaiki anak-anak tangga dan berjalan menuju pintu utama rumahnya. Saat ia membuka pintu, ia begitu terkejut melihat Sehun yang sudah terlelap diatas meja dengan menindihi buku tulisnya.
Buru-buru ia melepas sepatunya dan mengganti sandal rumah, menghampiri Sehun dan berjongkok di sisinya. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, ia menarik buku tulis yang ditindihi Sehun.
“Matematika?”
Jongin mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Sehun yang masih terlelap dengan kening berkerut. Tidak seperti kemarin-kemarin. Biasanya dia hanya akan mengerjakan pekerjaan rumah saat Luhan atau Jongin menemaninya. Tapi kenapa sekarang dia mengerjakannya sendiri?
“Appa…”
Tiba-tiba Sehun bergumam dalam tidurnya, membuat Jongin tersentak.
“Appa… aku merindukan appa…”
Ada rasa sakit yang perlahan ia rasakan saat mendengar ucapan Sehun. Semakin lama semakin dalam, bersamaan dengan ingatannya yang mulai mengenang sosok ayahnya. Ia mengerti itu. Bagaimana Sehun akan merindukan sosok Jungsoo yang sudah menghilang cukup lama. Bagaimana Sehun akan menimbun kerinduan yang semakin lama semakin membesar di dalam hatinya. Ia tau cepat atau lambat semua akan terungkap dan Sehun akan mengetahui semuanya. Tapi, ia tetap berharap jika kenyataan tidak akan terungkap sebelum Sehun siap untuk mengetahuinya. Semoga.
Jongin tersenyum kecut, mengulurkan tangannya dan memindahkan kepala Sehun di dadanya, lantas tangan yang lain, ia selipkan disela lutut bagian bawahnya. Tidak baik jika adiknya itu tidur dengan posisi duduk, dan akhirnya, ia menggendong Sehun dan membaringkannya di atas tempat tidur.

***___***

Jongin melakukan aktivitasnya seperti biasa. Memasak untuk Sehun dan Luhan yang belum juga kembali dari latihan. Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang tapi Luhan belum juga terlihat.
“Apa latihannya selama ini?”gumam Jongin, tangannya bergerak mengupas wortel. “Jika setiap hari latihan hingga selama ini, Luhan hyung akan sakit.”
Cukup lama memikirkan kakak sulungnya yang tak kunjung pulang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat Jongin mengerjap. Ia mencuci tangannya sebelum berjalan menuju pintu dan membukanya. Ternyata Taemin.
“Hei, aku ingin mengerjakan tugas bersama-sama.”serunya tersenyum lebar.
“Kenapa tidak sepulang sekolah tadi?”
“Aku harus pulang untuk mengganti baju dan makan. Oema tidak mengijinkanku jika aku langsung kesini dan mengerjakan tugas.”
Jongin akhirnya mengangguk, “baiklah. Ayo masuk.”
Taemin tersenyum lebar, sembari mengikuti langkah Jongin yang bergerak masuk. “Kau sedang apa? Mana Luhan hyung dan Sehunnie?”
“Memasak. Luhan hyung sedang mengikuti latihan di sekolahnya sedangkan Sehun sedang tidur. Dia tertidur saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.” Ia terkekeh. Kemudian mendekati dapurnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya.
Taemin mengerjap kaget, “kau memasak?!”
Jongin mendengus. “Kenapa? Apa aku tidak boleh memasak?”
“Tidak. Hanya saja…”
“Aku bukan seorang Tuan Muda lagi. Jika aku tidak memasak, aku dan saudara-saudaraku tidak akan bisa makan.”potong Jongin tanpa menoleh sedikitpun kearah Taemin yang sudah berdiri disampingnya
Taemin bersandar pada ujung meja dan menatap Jongin lekat. Ada rasa terharu disana saat ia melihat sahabatnya harus mencuci sayuran. Dulu, dia hanya perlu memanggil bibi Kwon dan semuanya akan terhidang didepan mata.
“Jangan menatapku seperti itu.”seru Jongin menoleh, menatap Taemin. “Sekarang aku jauh lebih kuat dari yang kau tau.” Ia tersenyum, mencoba menenangkan.
“Katakan padaku jika kau memerlukan bantuan. Apapun itu.”
“Terima kasih.”
Taemin menegakkan punggungnya, kali ini menyalakan televisi sambil menunggu Jongin selesai membuat masakan. Walaupun kecil, ternyata rumah baru sahabatnya itu lumayan nyaman.
Duduk bersandar pada dinding, Taemin mulai menyalakan televisi. Menggangi-ganti siaran dan mencari acara musik kesukaannya. Seperti kebanyakan remaja lain yang sangat mengidolai seseorang. Taemin sangat menyukai TVXQ. Tidak ada alasan, hanya saja mereka sangat keren.
“Jongin-ah, akhir pekan nanti bagaimana jika kita menunggu di depan gedung SM?”
Jongin berbalik sekilas dengan kening berkerut, “untuk apa?”
“Menunggu TVXQ hyungdeul. Aku ingin mendapatkan tanda tangan Yunho hyung.”
“Cih, aku tidak mempunyai waktu untuk melakukan hal-hal seperti itu. Aku ingin bermain bola.”
“Park Jongin, ayolaaah. Kita harus bersenang-senang saat akhir pekan.”
“Bagaimana jika SNSD? Kenapa kita harus menunggu TVXQ? Mereka adalah grup laki-laki.”
“Karena aku menyukai mereka.”sahut Taemin enteng.
“Aku tidak akan menunggu siapapun kecuali SNSD.”
Taemin mendengus, “Issh, sudahlah. Kau menyebalkan.”
Jongin terkekeh, mengembalikan pandangannya kembali pada masakannya. Taemin terus mengganti channel televise, hingga akhirnya matanya nyaris saja melompat keluar saat tanpa sengaja ia mengganti siaran berita.
“Jong…in…”serunya kehilangan kata-kata. Matanya masih menatap lekat televisi.
“Jika kau hanya akan memberitahuku tentang TVXQ, aku tidak berminat sama sekali.”
“Mereka… mereka mengambil alih perusahaan ayahmu. Shin Donghee…”
Detik itu juga, Jongin langsung berbalik tanpa menyadari jika tanpa sengaja jarinya teriris pisau. Ia melompat, menghampiri Taemin dan menatap lurus kearah televisi.
‘Dikarenakan kasus penggelapan dana yang menimpa tuan Park Jungsoo, direktur Halmington Corp beberapa waktu lalu, akhirnya dewan direksi memutuskan untuk mengganti Direktur mereka menjadi tuan Shin Donghee. Selain dikarenakan beliau adalah pemegang saham terbesar setelah tuan Park Jungsoo, dewan direksi yakin jika beliau mampu memimpin perusahaan dengan baik.’
“Astaga, Jongin jarimu…”
Jongin benar-benar seperti mati rasa. Dia tidak mampu mendengar dan tidak mampu merasakan sakit dijarinya yang sudah mengeluarkan darah. Ia membeku. Terpaku. Menatap lurus kearah televise lekat-lekat.
Detik berikutnya, Jongin berbalik, berlari secepat mungkin membuat Taemin tersentak kaget. Ia memanggil-manggil nama Jongin namun pria itu tetap tidak memperdulikannya. Taemin gundah. Ia ingin mengejar lari Jongin tapi dia juga tidak mau meninggalkan Sehun yang sedang tertidur sendirian. Ia mengerang kesal, menendang kaki meja karena menyesali perbuatannya yang telah memancing rasa sakit Jongin kembali.
Seperti tanpa kesadaran, kakinya terus melaju tanpa diperintah oleh otaknya. Ia terus berlari. Bersamaan dengan sepasang matanya yang mulai digenangi kabut. Pikirannya kosong. Keinginannya saat itu hanyalah bertemu dengan ayahnya dan memeluknya. Hanya itu.
Jongin mulai merasakan jika kakinya seperti hampir lepas dari lututnya. Mulai merasakan jika paru-parunya seperti ingin meledak. Namun, ia tetap memaksakan dirinya untuk berlari. Sedikit lagi. Bertahan lagi.
Melewati beberapa polisi penjaga yang sudah mengenalnya, Jongin membuka pintu ruangan secara paksa. Detik berikutnya langsung meluruh jatuh ke bawah. Beruntung, dia sempat memegang besi tempat tidur sebelum akhirnya benar-benar jatuh ke lantai.
Jongin menyeret tubuhnya, berjalan dengan lututnya mendekati tubuh ayahnya yang masih terbaring lemah. Tangisnya tumpah. Kesedihannya mendominasi. Ia memeluk tubuh ayahnya erat-erat sambil menangis di dadanya.
Sedih, pilu, dan semua ia rasakan saat ini. Kebahagiaan itu menjauh. Sangat jauh. Ia tidak perduli jika ayahnya bangkrut dan mereka tidak punya uang lagi. Hanya saja, menjadi seorang anak yang ayahnya di cap sebagai seorang koruptor itu adalah sesuatu yang menyedihkan. Ayahnya bukan koruptor dan dia tau benar hal itu.
“Appa, jika kita selamanya harus tinggal di rumah yang kecil, aku tidak perduli. Walaupun aku harus naik bus dan memasak setiap hariya, aku juga akan melakukannya. Aku tidak akan mengeluh. Tapi, aku mohon bangunlah. Appa harus membuktikan pada mereka jika appa tidak bersalah. Aku mohon.”isaknya tersedu-sedu. “Aku berjanji akan menjadi anak yang baik. Aku tidak akan mengganggu Sehun lagi. Dan aku akan lebih mengekspresikan perasaanku dan tidak bersikap dingin lagi. Tapi bisakah appa bangun? Aku membutuhkan appa sekarang. Aku membutuhkan appa…”
“Appa!” Jongin mengguncang tubuh ayahnya. Ia marah. Ia kesal. Memaksa ayahnya yang terus tertidur itu agar bangun dan menjawab semua pertanyaannya. Ingin sekali melampiaskan semua amarahnya, tapi dia sadar tidak ada yang bersalah disini.
Seperti tidak mempunyai kekuatan lagi, akhirnya tubuh Jongin benar-benar meluruh. Ia tergeletak di lantai sambil meringkuk dan menangis sejadi-jadinya. Lututnya tidak mampu menopang tubuhnya lebih lama lagi. Kesedihan ini seperti telah menguras semua tenaganya. Bahkan ia lelah menangis. Hanya menyisakan tangisan tanpa suara yang tidak mampu didengar oleh siapapun.
Ia tidak menyadari jika beningan air mata juga telah merembes dari sepasang mata lain. Dia memang tidak melihat tapi dia mampu mendengar. Dan dia merasakan bagaimana penderitaan ketiga anaknya selama ini. Jika saja bisa, dia ingin bangun dan memeluk tubuh itu. Menghusap air matanya dan memeluknya erat-erat.
Jongin adalah anak yang jarang mengekspresikan perasaannya. Dia jarang menangis. Tapi sekarang, tangisannya benar-benar terdengar menyakitkan. Dia… seperti tidak mampu lagi menjadi seorang anak yang sudah dewasa dan berpura-pura kuat. Biar bagaimanapun, dia hanyalah murid tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama yang harusnya belum menghadapi masalah seperti ini.
Berusaha melawan, jari-jari itu perlahan bergerak.

***___***

Taemin terlonjak kaget saat tiba-tiba ia mendengar tangisan dari dalam kamar. Menunggu Jongin didepan pintu pada awalnya, detik itu juga ia langsung berdiri dan berlari ke kamar.
Menghambur kearah Sehun yang tengah meringkuk didalam selimutnya. Mata Taemin melebar kaget.
“Sehunnie… Sehunnie… gwenchana?”panggilnya panik melihat tubuh Sehun mengeluarkan keringat dingin. “Astaga, tubuhmu panas.”
“Appa… kepalaku sakit. Appa…”
Taemin benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukannya karena dia tidak pernah punya adik. Dan dia sangat bingung saat menghadapi hal-hal seperti ini. Juga merasa takut.
Sangat panik, Taemin langsung membungkus tubuh Sehun dengan selimut tebalnya. Membenarkan letak kepalanya pada bantal , lalu berlari keluar dan menyiapkan air dingin untuk mengompres tubuhnya.
“Sehunnie… Sehunnie… ayo bangun. Sehunnie…” Taemin menepuk-nepuk pipi Sehun, sesekali mengguncang tubuhnya pelan. Kepanikannya membuatnya ingin menangis. Biar bagaimanapun, ia sudah menganggap Sehun sebagai adiknya sendiri. Dan dia akan ikut khawatir jika terjadi sesuatu padanya.
Baru tersadar, Taemin langsung merogoh kantungnya dan meraih ponselnya. Ia menghubungi Luhan tapi tidak ada jawaban. Usahanya tidak berhenti, ia menghubungi Luhan kembali tapi masih tidak ada sahutan apapun. Terus mencoba menghubungi Luhan hingga kelima kali, akhirnya ia menyerah. Kini, ia berganti menghubungi Jonghyun.
“Yeoboseyo…”sebuah sahutan terdengar.
“Hyung! Jonghyun hyung!”
“Wae Taeminie?”
“Bisakah kau kemari sekarang? Aku mohon. Tidak ada siapapun disini. Aku takut.”
“Mwo?! Dimana? Kau ada dimana sekarang?”balas Jonghyun mulai panik.
“Di rumah Jongin. Tubuh Sehun tiba-tiba panas. Dia menggigil. Hyung, aku mohon kemari. Aku sangat takut.”
“Astaga! Baiklah. Aku akan segera kesana sekarang. Tunggu aku.”

Jonghyun langsung menghambur kearah Taemin saat dilihatnya pria mungil itu sedang berdiri didepan pagar rumah Jongin.
“Dimana Sehun? Dia tidak apa-apa?”
“Diatas. Masih menggigil. Hyung, ottokhe? Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.”
Jonghyun melewati Taemin. Berlari menaiki anak-anak tangga dan berlari menuju ke dalam rumah. Ia menghampiri Sehun dan langsung mengecek suhu tubuhnya. Panas. Sepertinya dia sedang demam.
“Taemin! Taemin!”panggil Jonghyun benar-benar panik. “Siapkan jaket untuk Sehun. Kita akan segera ke rumah sakit!”

***___***

Jonghyun terus berdiri dalam diam menatap tubuh Sehun yang sedang diperiksa oleh dokter. Sedangkan Taemin, sangat setia duduk disampingnya dan menggenggam tangannya erat. Keduanya was-was, tidak ada Luhan dan Jongin disamping mereka.
“Adik kalian hanya demam. Mungkin karena cuaca yang buruk akhir-akhir ini membuat daya tahan tubuhnya menjadi menurun.”
Jonghyun mengangguk, tersenyum tipis pada dokter. “Gomapseumnida.” Setelah membungkuk dan mengantar dokter keluar dari ruangan. Jonghyun menghampiri tubuh Sehun kembali. Beruntung dia sudah tidak mengigil seperti tadi. Juga sudah mulai ada rona merah di pipinya. Ia mengulurkan tangan, menghusap kepala Sehun sambil menatapnya lirih. “Kau harus kuat, Sehunnie.”
“Hyung, kenapa Luhan hyung belum kembali? Bukankah harusnya dia bersamamu?”tanya Taemin, masih menggenggam tangan Sehun.
Kening Jonghyun berkerut, “kami berpisah setelah pulang sekolah.”
“Bukankah kalian ada latihan seusai jam sekolah? Jongin bilang setiap harinya kalian harus latihan untuk persiapan pertandingan selanjutnya.”
Mata Jonghyun melebar kaget, “tidak. Memang akan ada pertandingan tapi latihan hanya akan dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu. Kami tidak latihan setiap hari.”
“Tapi, Jongin bilang—“
Jonghyun tergugu. Dia menemukan sesuatu yang tidak beres disini. Dimana Luhan? Dan kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Dan yang paling penting, kenapa dia mengatakan dia akan mengikuti latihan sepak bola? Kenapa dia berbohong?
“Lalu dimana Jongin?”
Taemin mendesah panjang, lalu menunduk merasa bersalah.
“Aku tidak tau, hyung. Tanpa sengaja tadi dia melihat siaran televisi yang mengatakan jika posisi Jungsoo ahjussi telah digantikan oleh orang baru. Lalu dia pergi meninggalkan rumah. Aku sudah memanggilnya tapi dia tidak mendengarkanku.”
Melihat ekspresi sedih Taemin, Jonghyun mengulurkan tangannya dan menghusap kepala anak itu. “Aku juga sudah melihatnya tadi. Semua ini pasti berat baginya. Aku sudah mengirim pesan pada Luhan, setelah dia datang. Kita akan mencari Jongin. Aku rasa dia ada di rumah sakit sekarang.”
Taemin mengangguk membenarkan, “aku hanya takut dia menangis saat aku tidak ada. Tadi, jarinya juga teriris pisau. Aku sudah membeli plester untuknya.”
Jonghyun tersenyum lembut, lalu mengacak rambut Taemin penuh kasih sayang. “Terima kasih karena kau selalu ada. Bahkan untuk Sehun.”
Taemin memandang Sehun lurus, “Aku sudah bersahabat dengan Jongin sejak kami kecil. Jadi Sehun juga sudah aku anggap sebagai adikku sendiri.”

***___***

Luhan langsung bersiap-siap pulang setelah Kris datang. Jam masih menunjukkan pukul 8 kurang tapi dia harus cepat-cepat kembali sebelum adik-adiknya curiga karena dia keluar terlalu lama.
“Aku pulang dulu. Terima kasih.”
Setelah membungkuk pada Kris, Luhan berjalan menjauh, meninggalkan café itu dan menuju rumahnya sendiri. Sembari berjalan, ia merogoh kantung jaketnya dan meraih ponselnya dari sana. Keningnya berkerut saat melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Taemin dan Jonghyun.
“Wae geurrae?”gumamnya seorang diri. Ia memutuskan untuk membuka pesan dari Jonghyun terlebih dahulu sebelum menghubungi Taemin.

Kau dimana? Sehun sedang berada di Seoul Hospital sekarang. Dia demam.

Langkah kaki Luhan terhenti saat itu juga. Matanya melebar. Sekali lagi membaca baik-baik pesan yang dikirimkan Jonghyun untuknya. Tidak salah lagi. Dia mengatakan jika Sehun sedang berada di rumah sakit sekarang.
Luhan segera menghentikkan sebuah taksi yang lewat dan melompat ke dalamnya. Memerintahkan pada sang supir untuk menuju rumah sakit Seoul secepat mungkin.
Sesampainya disana, Luhan melanjutkan larinya. Menuju ruang UGD dan melihat Jonghyun yang sedang berdiri bersandar pada dinding.
“Dimana Sehun? Apa dia baik-baik saja? Dimana dia?” dia menghambur panik, mencekal kedua lengan Jonghyun dan mengguncang tubuhnya.
Jonghyun mengangkat wajahnya, menatap Luhan tajam tanpa bicara. Detik berikutnya menepis kedua tangan Luhan dan mendorong tubuhnya keras, membuat namja itu termundur ke belakang.
“Apa yang kau lakukan hingga kau meninggalkan kedua adikmu?! Apa yang kau lakukan sampai kau harus berbohong?! Apa kau tidak menganggapku?! Apa aku bukan sahabatmu?!”
Luhan mengerjap, bingung. “Jonghyun-ah… aku…”
“Lakukan urusanmu jika kau memang tidak mau memberitahuku. Lakukan semuanya sendiri! Tapi, setidaknya bisakah kau memberitahuku untuk menjaga kedua adikmu? Mereka masih terlalu kecil untuk menghadapi semuanya!”bentak Jonghyun benar-benar kesal. Bahkan Taemin pun tidak berani melerai pertengkaran kedua namja itu. Hanya berdiri dibalik pintu sambil terus mendengarkannya dalam diam. “Kau tau?! Jongin pergi! Dia terluka karena posisi ayahmu kini dihanti oleh orang lain! Dan Sehun? Walaupun dia tidak mengetahui apapun, tapi dia mampu merasakan semuanya hingga dia jatuh sakit. KAU TAU?!!”
Luhan membeku. Hanya membalas tatapan Jonghyun penuh rasa bersalah tanpa berani mengeluarkan suara apapun. Tidak seperti ini. Maksudnya menyembunyikan semuanya bukan karena dia tidak menganggap Jonghyun. Justru karena dia sudah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri dan tidak ingin merepotkannya lagi.
Jonghyun menghembuskan napas keras, “dimana kau hari ini?! Saat kedua adikmu membutuhkanmu, dimana kau?!”bentaknya sekali lagi, kali ini disertai dengan dorongan disalah satu pundak Luhan. “Dengar! Jika kau sudah tidak bisa menjaga mereka lagi, aku yang akan menjaga mereka!”
Jonghyun berbalik, sebelum masuk ke dalam ruangan, ia sempat menendang kaki kursi yang terjejer didepan ruangan lalu masuk ke dalam dan menghampiri Taemin.
“Kita cari Jongin.”perintahnya yang mana membuat Taemin langsung mengangguk tanpa berani menolak. Tatapannya saat itu benar-benar menakutkan.
Taemin membuntuti langkah Jonghyun. Berhenti sesaat saat ia melihat Luhan yang masih berdiri sambil tertunduk dalam. Perlahan, ia memberanikan diri untuk mengatupkan kedua telapak tangannya di pipi Luhan.
“Hyung…”panggilnya. Suaranya terdengar serak. “Kau mau berjanji untuk menjaga Sehun, kan? Aku akan mencari Jongin dan membawanya pulang.”
Luhan mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata Taemin yang mulai berkabut itu.
“Dokter bilang Sehun sudah boleh dibawa pulang besok pagi. Dia hanya demam. Tapi Jongin… aku tidak yakin jika dia baik-baik saja. Dia pasti sedang bersedih sekarang. Aku mau mencarinya.”
“Tolong hubungi aku sesegera mungkin saat kau sudah menemukan Jongin.”
Taemin mengangguk, “dan aku mohon jangan menyembunyikan semuanya lagi. Jika alasanmu karena kau tidak mau menyakiti hati Jongin dan Sehun, setidaknya kau bisa beritahu aku atau Jonghyun hyung. Kami akan membantumu.”
Luhan tersenyum. Sebisa mungkin menahan air matanya yang sangat ingin tumpah. “Gomawo, Taemin-ah.”

***___***

Jonghyun dan Taemin menuju rumah sakit dimana Park Jungsoo di rawat. Sebelumnya harus melakukan wajib-lapor pada beberapa polisi yang berjaga disana. Setelahnya, barulah mereka diperbolehkan masuk ke dalam ruangan.
Dugaan Jonghyun benar. Jongin ada disana, sedang tertidur diatas ambal tebal yang menutupi lantai ubin yang dingin. Dia tidur dengan posisi meringkuk. Tanpa selimut.
“Jongin… Jongin…”panggil Taemin langsung berhambur kearah sahabatnya itu. Tangisnya pecah, tidak lagi tertahan saat ia melihat keadaan Jongin. “Jongin, kau tidak apa-apa, kan?”
Jongin membuka matanya perlahan, dan bangkit untuk duduk saat ia melihat Taemin sudah berjongkok disampingnya.
“Taemin.”
Tiba-tiba, Taemin memeluk Jongin erat membuat Jongin terkejut. Dia juga menangis.
“Harusnya kau tidak lari. Harusnya kau menceritakannya semua padaku. Kau pasti menangis, kan? Kau pasti merasa sangat sedih. Harusnya kau tidak menangis seorang diri!”isaknya. “Maafkan aku. Maaf jika aku tidak bisa menemanimu. Aku harus menjaga Sehun dan membiarkanmu pergi seorang diri. Maaf.”
Jongin tidak membalas ucapan bertubi-tubi Taemin. Hanya semakin menenggelamkan wajahnya pada pundak Taemin dan menangis disana tanpa suara. Air matanya kembali tumpah tapi rasanyakali ini sedikit lebih lega karena ada Taemin disampingnya. Karena ada pundak yang bisa menopang air matanya.
Jonghyun berjongkok disisi Taemin dan Jongin, tersenyum lirih pada dua orang anak laki-laki yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Ia mengulurkan tangan, mengacak rambut Jongin, seperti ingin memberikan kekuatan padanya.
Selemah apapun seseorang, sesedih apapun dia. Semuanya akan sedikit terobati saat ada seseorang disampingnya. Itu sudah cukup.

***___***

Luhan menatap kosong tubuh yang tengah tergeletak lemas diatas ranjang tidur itu. Terduduk tiba-tiba saat ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Merasa bersalah itu sudah pasti. Dan menyesal karena telah meninggalkan kedua adiknya di rumah.
Menggenggam tangan Sehun yang dingin, Luhan menangis sejadi-jadinya di ruangan itu.
“Maaf.”isaknya tersendat. “Sehunnie, maaf…”





TBC

50 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 13

  1. @baltacheakiriwe berkata:

    “…dimana kau hari ini?! Saat kedua adikmu membutuhkanmu, dimana kau?!”

    ^Bagian paling nyesek ;A;

    /terjun bebas/

    Kamija~~~ lama sekali aku tidak mampir kesini, miss all of your fanfic so much ( •_ •) Keep waiting for Autumn next chap ( •_ •)

  2. nina berkata:

    aaaa eonnie ㅠㅠㅠㅠㅠ
    malam2 kau membuat kuu bersedih😥
    kpn iia mereka bisa cari jalan keluar??
    shin donghee itu kah yg jahat?

  3. aufa pasuma berkata:

    huaaaaaaa
    nyesek pas bagian luhan dibentak jonghyuun
    persahabatannya erat bgt
    kereeeeeen
    ayo lanjutannya ditunggu ya thoooor

  4. Jungie jun berkata:

    mija eonni… kau benar2 author terbaik sepanjang dunia per’fanfiction. air mata ku ampe gak bisa di tahan klo baca Autumn ini.. cepetan eon di lanjut.. aku mau nangis dulu…

  5. Nadia Berliana berkata:

    I miss this ff very much.next chap cepetin ya kak.i’ll waiting for next chap. nyesek banget liat jongin nangis smp begitu:'(

  6. Sania berkata:

    Annyeong aku reader baru disini, dan baru nemu ff ini tadi malam dan udah baca dari part awal, jujur ceritanya sedih banget apalagi, pas jongin nangis di kamar rawat appanya, aku sampai nangis bacanya ;-(

  7. Rani berkata:

    sumpah pasti nyesek baca ff ini
    dalam bgt rasanya kaya ikutan ada di dalamnya
    oh mija kau bener2 daebak kau selalu berhasil membuatku menangis
    terima kasih atas ff mu yang membangun dan selalu punya unsur persahabatan yg TOP BGT

  8. Jyeehyun berkata:

    Authornim efefnya bagus banget hiks. Cinta banget sama efef ohmija:’)
    Untuk kesekian kalinya, pasti selalu nangis baca ff ohmijaaaaa. Authornim mah jahat ah bikin orang nangis mulu–
    Salut sama ff mu authornim…ch selanjutnya jan lama lamaaaaaaaa
    Salam perjuangan:***

  9. kiszluhanznx berkata:

    gue terhura haru /?😥 .
    sumpah, demi Luhan . brothership friendship’ny bikin minder :’) .
    feel nyesek’ny kerasa banget . berasa pengen juga berada disamping mereka . #nangis massal T.T -_- .
    Fighting Mija eon )9

  10. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Hun ffa demam?tmbh dbk jha nih,ax zlalu nunggu ff’y nni…fzt bingung th jd han ffa..dbk lah themangat to next nni^^

  11. poororo berkata:

    nyesek baca jonghyun ngebentak luhan
    teru taemin yang bener” sahabat buat jongin dan kakak buat sehun
    feel keluarga sama persahabatannya kena banget
    :’)

  12. Lee Jee Hwa berkata:

    kamijaaaa~ (boleh aku panggil begitu? ㅋㅋㅋ) jangan dibikin makin nyesek lah kaa😦 buat ayahnya sadar, kasian sehunkai kangen ayahnya apalagi luhan yg mesti kerjakeras skrng. endingnya masih lama tah? happyending yaa kak, happy se happy happynya;3 ditunggu next chapter loh kak…keep writing;)

  13. amelia berkata:

    ya ampun authornya keren banget sumpah feelnya dapet banget.. pemilihan bahasanya juga pas.. uuuu.. aku jadi kebawa suasana.. u,u
    next chapter ditunggu thor.. ^^

  14. adezenianggraeni berkata:

    Oh Mi Ja eonni, kenapa lama sekali publish ff ini. Eonni jebal jangan lama-lama yaa😉

    Eonni hueeeee aku sampe menitikan air mata T_T
    bener-bener sedih eonni.
    Eonni cepet publishnya ya jebal jangan lama-lama.

    Eonni hwaiting !!!

  15. Anis Andruyani berkata:

    Annyeong aku reader baru🙂 , salam kenal…:D
    ommoooo………..
    sehunie sakit, aigooo kasian sekali dengan keluargaa park😦
    kesel waktu jonghyun ngebentak luhan……
    author lanjut nde ku tunggu ff mu ini……:)
    #HWAITING

  16. Tiikaa berkata:

    Aigooo,, itu kpan tuan park sadarnya.. Tpi itu kyaknya udh ada tnda2 tuan park bkalan sadar deh.. Tngannya udh bergerak2 gitu soalnya..

    Ksian jongin , luhan sma sehunnya…
    Kyak apa nnti mereka klau ktmu tman2 mrka nnti eon.
    Eh,, jngan2 itu ayahnya dongho ya yg gntiin tuan park. Wah,, ada udang dibalik bakwan nih.. Pntesan aja dongho jhat ma sehun. Jngan2 ayahnya juga tuh yg jhatin dn fitnah tuan park..
    Klanjutannya aku tnggu yaa

  17. lusyelf berkata:

    dari mulai awal…udah bikin nangis, sehun bener2 dongsaeng yg hebat gk mau ngerepoti hyungdeulnya😥

    untung aja luhan oppa n jongin punya sahabat yg luar biasa baik kyak mreka jadi penderitaannya lumayan tertolong.

    oh ya shindong oppa itu gurunya luhan oppa kan?? skarang mimpin perusahaannya leeteuk oppa😦

    thor leeteuk oppa kapan sadarnya?? tadi tangannya udah gerak gitu!! jadi chapt 14 bakalan sadar ya??🙂

    keep writing thor🙂

  18. choi jang mi berkata:

    tho….chingu-ya sorry q bru komen tp q udah bc ini ff dah 5x tp q msh aja nangis n’ kasian ma itu anak2 imut.
    kenp chingu buat serumit itu sih hidupx kacian thor….q bcx kaxak itu terjd di kehdpn xata aja, begitu ngena bewut feelx. author memang DAEBAKKKKK POLLLLLL DECH…….thor lanjutanx seperti biasa jgn lama2 OK.

  19. Ijah Elf berkata:

    Kyaaaaa …. #nyesek .. Jungsoo ajusshi sadar ya …..????? Aduhhh , jonghyun sama luhan keren banget persahabtannya …. Aku aja ngk pernah ky gtu …#aduhh

  20. eun yoo berkata:

    huaaaa always nangis baca ini ,,, ga brani baca ff ini di tempat kerja tadi takut nangis hahahaha xD *curhat
    Dan memang nangiss hahaha
    Bener bagian luhan di marahin jonghyun itu bagian paling nyesekkk ,, huaaaa T.T

    Always keren kau eonn,, saya suka saya sukaaa ^^

  21. Nuli Pandari berkata:

    Tap.. tap.. tap…*ninggalin jejak*
    Kasusnya cepet di selsain dong.. cepet ketauan siapa yg mitnah Appanya lulu.. karena kasus tu bukan cma bkin Jongin sma lulu kepikiran.. tapi juga bkin Gue sbgy Rder Frustasi gemes greget kpikiran juga.. rasanya pengen masuk ke handphone trus nyari tau siapa pelakunya..

    Ok.. lanjutkan…

  22. Nuli Tao Pandari berkata:

    1 lagi Ceritanya jangan terlalu di bikin susah jangan terlalu menyiksa ke3 nya.. KARENAAAA…. takutnya pemirsa jadi gak tega ngeliat mereka bertiga masalahnya ada lagi ada lagi yg tu blum klar muncul lg mslah baru.. gara2 gk tega terus jadi gak pada baca FF nya…

    *pmikiran sendiri*

  23. suci kurniasih berkata:

    Ini ff bgus bgt C?????
    Bhkan saat nontn titanic aj aq gx nangis…..knpa part yg ini aq jd nangis yea?????
    aq sdih bgt…..
    Aq pngen bgt disayangi n dicintai seorang kakak seperti mreka….
    Wuuaaahhaaaaaaaaa….T_T
    #aqjadicurcol
    wajib lanjutin secepat nya yea thor…

  24. Dini berkata:

    Nangis nih nagissss😥 unnie berhasil lagi dapetin fell akuuu😦 aaaaa Sehun Kai Luhannnnnnn …. Pengen meluk kalian rasanyaaaa😦 Salah paham terjadi lagi kan ? uri Luhan bukan lari dr tanggung jawab, justru dia kerja part time demi ade2nya😦 Sehun cepet sembuh okeh ?😦
    curiga deh orang yg berkuasa di perusahaannya itu pasti ada sangkut pautnya sama masalah appa nya Luhan. atau jangan2 yg ngejebaknya lagi? huh awas aja kalo sampe bener😛
    Sukses nih bikin aku ga jadi tidur nih unnie u,u
    huaaa next chapppppppp deh😉

  25. Nunu^^ @Nurul_Hunie berkata:

    Aaahhh nyesekk ;( ampe nangiss :I
    ka next chap jgn lma2 atuh…aku penasaran bgt sma puncak konfliknya, aku juga udah enggak tahan ngerasain penderitaan mereka feelnya dpet bgt bener2 bikin nyesek dan akhirnya bikin netes juga dah … ;(

    OK segitu aja, tetep semangat buat nulis ya ka…!!!

  26. hansica shipper berkata:

    miris bgt pas jongin nya nangis:'( keepstrongJongin! Luhan jga nyesel bgt kyak nya ninggalin sehun ma jongin. kyaaaaaa Jungsoo udh mulai sadar ya? tangan nya mulai bergerak>..<

  27. Indah Putrianti berkata:

    FF nya keren thor.. sampe nangis aku bacanya..
    paling suka bagian jonghyun marah sama luhan.. g nyangka ternyata persahabatan mereka sampe kyk gt…
    ditunggu next chapternya thor..
    FIGHTING!!

  28. farokha berkata:

    thor kamu hampir membuat aku menangis semalaman saat aku membaca di bagian “Aku berjanji akan menjadi anak yang baik. Aku tidak akan mengganggu Sehun lagi. Dan aku akan lebih
    mengekspresikan perasaanku dan tidak
    bersikap dingin lagi. Tapi bisakah appa
    bangun? Aku membutuhkan appa
    sekarang. Aku membutuhkan appa…” . SUMPAH thor tadi aku membacanya sambil menangis …

    # I like this FF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s