falling slowly

Ereq2 (2)

Tittle ` : falling slowly
Author : Chika^^
Cast : Choi YoungMin (OC), Lee Sungmin(Super Junior), Oh Sehun (EXO)
Support cast : Choi YoungMi (OC), Kim JongIn/Kai (EXO), EXO and SJ members.
Rating : PG-15
Genre : angst, drama, family, romance (a little bit)
Length : chaptered
Disclaimer :
FF ini Fiksi, murni dari pikiran absurd author. Choi YoungMin milik Ahya (@ahyaSMl). Choi YoungMi milik author. Sehun, Siwon, Kai, member EXO&SJ milik Tuhan YME. FF ini dibuat untuk kepentingan hiburan
Summary :
Choi YoungMin, seorang gadis yatim piatu yang tinggal bersama 2 sahabatnya. Ia diculik saat berumur 5 tahun dan terpisah dari keluarga kandungnya. Ia dirawat oleh keluarga Choi sampai berumur 19 tahun. Siapa yang tahu kalau ia adalah anggota keluarga dari Jaringan Mafia terbesar di Korea?
A/N : Sehun dimasukkin sebagai Cast itu diluar rencana dan baru keluar di Chapt 5~ tunggu aja yaa buat yang pengen baca Part Sehunnya.
Oh iya, tinggalkan jejak yaa~ Comment itu berguna buat ngembangin FF ini juga~ gamsahamnida…
Happy Reading~

-Youngmin POV-

“Young ! Jibe Kajja !” pangil Jihyun dan Eunsung. dari pintu ruang ganti pegawai toko tempat kami bekerja part-time.
“ne.. chankanman!” jawabku. Aku segera menutup lokerku dan berjalan menghampiri mereka. lalu kami berjalan pulang sambil mengobrol.
Namaku Choi Youngmin, teman-temanku biasa memanggilku Young atau Youngmin. Temanku yang berjalan bersamaku saat ini adalah teman baikku, Kim Jihyun atau Jihyun, dan Jung Eunsung yang biasa kami panggil Eun atau Eunsung.
Kami bertiga tinggal bersama di apartemen peninggalan orangtua angkatku. Walaupun mereka adalah orang tua angkatku, aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi orangtua kandungku sendiri.
Kata mereka, mereka menemukanku saat aku sedang berteriak-teriak minta tolong di dalam pondok kayu yang terbakar di daerah pinggiran kota seoul. Waktu itu aku berumur sekitar 5 tahun. Sejak itu mereka merawatku seperti anak sendiri karena mereka sendiri tidak punya anak. Kebetulan nama orang tua angkatku juga Choi.
Kata mereka, namaku—Choi YoungMin—terukir di belakang liontin kalung yang kupakai saat itu, yang hingga sekarang masih selalu kupakai. liontin berbentuk bulan. Sepertinya ada pasangannya, karena di kalung itu ada sesuatu yang mirip sambungan. Walaupun dengan kalung ini aku bisa mencari identitas orangtua kandungku, tapi aku tak berniat atau memiliki keinginan untuk mencari mereka sedikitpun.
Yah, meskipun tak dapat kupungkiri, di dalam hatiku yang paling dalam, aku sangat penasaran siapa identitas keluarga kandungku, dan aku sangat ingin bertemu dengan mereka. tapi aku sudah cukup bersyukur dengan apa yang kumiliki sekarang.
Orangtua angkatku sudah meninggal sekitar 1 tahun yang lalu saat aku lulus SMU, jadi sekarang kami bertiga bekerja part time di sebuah toko roti bernama Tours Les Jours, toko ini milik salah satu member Super Junior. Siapa ya.. namanya ? entahlah.. aku tidak ingat. Lagipula aku tidak terlalu peduli.
“aku pulang!” seruku begitu memasuki apartemen yang menyimpan banyak kenanganku dengan orangtua angkatku ini. Sekaligus tempat ternyaman bagiku.
“ne.. jangan teriak-teriak seperti itu ! lama-lama kau mirip Eunsung deh..” kata Jihyun sambil duduk di sofa.
“yakk, aku tidak teriak-teriak seperti itu kok ! Ittekimasu..” kata Eunsung yang memasuki apartemen paling akhir.
“sama saja! Jangan sok bisa bahasa jepang deh..” kata Jihyun. Entah kenapa dua temanku ini sering sekali bertengkar karena masalah kecil, dan tugaskulah melerai mereka.
“yakk.. sudahlah.. jangan bertengkar terus, berisik.” Kataku.
“capek..” keluh Eunsung sambil terenyak di sofa berwarna putih kesukaannya.
“masa’ segitu saja kau sudah lelah ?” kataku padanya.
“ne.. aku kan berbeda denganmu yang punya tenaga sebesar kuda.” Katanya.
“siapa dulu yang mandi nih ?” tanya Jihyun. Aku yang paling dekat dengan papan tulis kecil tempat kami menulis jadwal masak, buang sampah, belanja, dan sebagainya, segera melihatnya untuk mengecek.
“yang piket masak hari ini Eun, belanja Jihyun, dan aku buang sampah.” Kataku.
“aku masak nih ? seseorang bantu aku kalau tidak ingin makanannya hangus.” Kata Eunsung yang paling parah dalam memasak.
“aku belanja? Malas..”
“oke, karena tugasku yang paling ringan, aku akan membantu Eunsung masak.. daripada makanannya hangus kan ..” kataku.
“jadi, yang pertama mandi Eunsung, sementara itu aku membuang sampah dan Jihyun belanja. Begitu Eunsung selesai mandi giliranku, lalu baru Jihyun. Jadi begitu Jihyun selesai mandi, makanan juga sudah selesai.” Kataku mengatur waktunya pada mereka dan mereka hanya mengangguk-angguk mengerti. beginilah keseharian kami, berusaha memanfaatkan waktu sebisanya, dan selalu aku yang kena getahnya.
“ya sudah, sekarang aku mandi ya. Young, hari ini masak apa ?” tanya Eunsung sambil bangkit berdiri.
“omu rice saja biar cepat. Perutku sudah keroncongan.” Jawabku.
“oke.” Katanya sambil masuk ke kamar mandi dengan handuk dan baju gantinya, dan aku menulis daftar belanja untuk Jihyun.
“Eun, waktumu untuk mandi 5 menit ! kalau belum selesai juga kau harus keluar dengan tubuh penuh sabun sekalipun!” kataku pada Eunsung yang kalau mandi bisa setahun.
“ne.. algeseumnida agassi!” jawabnya.
“nah, ini daftar belanjanya, waktumu untuk belanja 20 menit.” Kataku pada Jihyun sambil menyerahkan daftar belanja padanya.
“Mwo ? 20 menit dengan belanjaan sebanyak ini ?” katanya.
“ne. Waktumu mulai dari sekarang. Aku akan pasang wekernya sekarang.” Kataku sambil menyetel jam weker dan Jihyun segera berlari keluar dengan daftar belanjaan ditangannya. Lalu aku pergi ke dapur dan membuang sampah sekaligus mengecek bahan-bahan yang akan aku dan Eunsung gunakan untuk membuat omu rice.
“omona.. telurnya habis. Aku tidak menulis telur di daftar belanjaan itu. Apa Jihyun membawa Handphonenya ?” gumamku pada diri sendiri sambil berjalan ke ruang tengah untuk mencari handphoneku. Setelah itu aku langsung menelepon Hp Jihyun.
Terdengar ringtone Hp Jihyun dari arah sofa disamping Tv. Ternyata Jihyun tidak membawa Hpnya.
“ish, jinjja..” gumamku sambil memakai jaket. Tidak ada pilihan lain selain menyusulnya. Aku akan menyusulnya sambil membuang sampah ke bawah. Untung saja minimarket tempat Jihyun belanja ada tepat di seberang apartemen kami.
“Eun, aku buang sampah dulu !” teriakku sambil membuka pintu.
“ne !! jangan lama-lama!” dia balas berteriak dari kamar mandi.
Aku melangkah cepat ke tempat pembuangan sampah terdekat, lalu aku menyebrang dan memasuki minimarket. Kulihat Jihyun sedang membungkuk memilih bumbu omu rice. Aku segera menghampirinya dan menepuk pundaknya keras.
“Hyun-ah ! beli telur juga.” Kataku sambil menepuk pundaknya.
“argh ! yakk, duguya !” katanya sambil berdiri tegak dan memegang bagian pundaknya yang kupukul tadi. Tunggu dulu, kenapa suaranya lebih berat dari biasanya? Lho, kenapa ia lebih tinggi dariku ? punggungnya juga lebar sekali..
“Young ! sedang apa disitu ? bukannya kau sekarang sedang buang sampah ya ?” kata suara seseorang yang kukenal. Suara Jihyun. Aku menoleh dan mendapati Jihyun sedang berjalan dengan keranjang belanjaan penuh kearahku. Jadi ini siapa?
“nuguya ?” kata orang yang kupukul tadi sambil berputar dan menghadapiku. Omona.. ternyata dia namja. Ish, kenapa aku bisa salah mengenali orang sih?
“eh.. Gwiesonghamnida. Saya salah orang” kataku sambil membungkuk dan langsung berjalan menghampiri Jihyun. Ish.. aku malu sekali.. sepertinya wajahku seperti kepiting rebus sekarang.
“beli telur.. telurnya habis.” Kataku pada Jihyun sambil berjalan mengiringinya ke bagian telur.
“arra.. omona.. young, kenapa mukamu merah sekali? Kau demam ? atau malu karena salah orang ?” kata Jihyun meledekku.
“a.. aniya! sudah kajja ppali! Pasti Eun sudah menunggu.” Kataku sambil mendorongnya dari belakang agar cepat.
Setelah membayar semua belanjaan kami, aku dan Jihyun keluar dari Minimarket dan segera pulang dengan terburu-buru. Saat hendak menyeberang, aku tidak sengaja menubruk seseorang sampai belanjaannya berceceran di jalan.
“oh.. mianhamnida..” kataku sambil berjongkok memunguti belanjaan orang itu, yang sekarang juga sedang memunguti barang-barangnya. Ternyata orang itu adalah namja yang kukira Jihyun di minimarket tadi.
“ish, jinjja..” gumamnya.
“oh.. mianhamnida.. aku tidak sengaja.” Kataku sambil membungkuk setelah semua barangnya sudah kami punguti.
“Ehm.. Young.. kau membungkuk pada siapa ?” tanya Jihyun.
“yakk ! kau ini pabo ya ! tentu saja aku membungkuk pada orang yang kutabrak barusan.” Kataku.
“tapi aku ada di sebelah sini.” Kata namja itu dari sebelah kananku.
Aku langsung berdiri tegak dan melihat kemana tadi aku membungkuk. Omona.. ternyata sejak tadi aku membungkuk pada tiang listrik. Wajahku merah seketika.
“puh.. hahaha” Jihyun menertawakannku.
“ya! kau jangan mentertawakanku!” kataku sambil menjitak Jihyun keras. Lalu menghadap pada namja itu.
“Auww, Appo !” kata Jihyun sambil megusap-usap bagian kepalanya yang sedikit benjol karena kupukul tadi.
“Mianhamnida..” kataku sambil membungkuk dan menatap matanya. Rasanya aku pernah melihat wajah namja ini. Entah dimana.. Sejenak kami saling menatap selama beberapa saat sampai Jihyun menyadarkanku.
“Ehm, tadi siapa ya yang memberiku waktu 20 menit untuk belanja?” kata Jihyun. Omona ! aku lupa kalau Eunsung sedang menunggu kami dirumah. Aku langsung menarik tangan Jihyun dan menarik tangannya dan berlari menyebrang. Tapi sebelum itu, aku kembali membungkuk pada namja itu dan mengucapkan permintaan maaf sekali lagi.
Sesampainya di apartemen, aku langsung terduduk di sofa. Aku lelah sekali.
“kami pulang !” kata Jihyun sambil melangkah ke dapur mencari sesuatu. Sepertinya dia mencari Eunsung. “Eung ! ini belanjaanya.”
“Lho.. Young ! Eung kemana ?” tanya Jihyun padaku.
“Mollayo.. kamar mandi sudah kosong. Aku mandi dulu ne.” Kataku sambil mengambil handukku. Dan Jihyun keluar dari dapur. Sepertinya dia bingung harus mencari Eunsung kemana.
“coba lihat kamarnya, siapa tahu ia ada disana !” tambahku sebelum masuk ke kamar mandi.
“hm, nde.” Jawab Jihyun. Lalu aku menutup pintu kamar mandi.
Selesai mandi, aku mendengar suara Jihyun dari dalam kamar Eunsung. Masa’dia belum berhasil membangunkan Eunsung sih ?
“JiHyun-ah..” panggilku sambil memasuki kamar Eunsung. kulihat ia sedang berlutut di ranjang Eunsung sambil menggoyang-goyangkan tubuh Eunsung.
“Eunsung-ah.. kajja ireona.. aku sudah sangat lapar..” kata Jihyun lemas. “Young-ah.. tolong bangunkan dia dong ! aku sudah lapar sekali nih!” pintanya padaku dengan pandangan memelas. Sepertinya dia memang sangat lapar.
“ne.. biar aku yang bangunkan dia, kau mandi dulu saja sana.” Suruhku padanya.
“ne… aku mau berendam yang lama ah..” ucapnya sambil berjalan keluar kamar.
Nah, sekarang permasalahannya adalah, bagaimana cara membangunkan yeoja super kebluk dihadapanku ini.

-SungMin POV-
Sepertinya hari ini adalah hari tersial untukku. Saat belanja di minimarket tadi, ada seorang yeoja yang memukul bahuku keras sekali. Linunya masih terasa sampai sekarang. Sepertinya dia itu titisan Siwon Hyung yang tenaganya seperti kuda.
Ditambah lagi, tadi yeoja itu juga menabrakku saat aku mau menyebrang jalan. Ia minta maaf padaku, tapi lucunya, ia malah membungkuk pada tiang. Untung saja aku bisa menahan tawaku saat kejadian itu berlangsung.
Dan anehnya, rasanya aku pernah melihat yeoja itu di suatu tempat.. rasanya ia mirip dengan seseorang. Apa benar dia mirip orang itu ?
ah, tapi tidak mungkin. Orang itu sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Ayolah Sungmin-ah, kau harus bisa move on darinya. Ia sendiri yang menyuruhku untuk melupakannya kan? Tapi selama ini bayang-bayangnya selalu muncul di mimpiku seolah berusaha memeritahuku sesuatu.
Ah, sudahlah, memikirkan ini semua membuatku pusing. Lebih baik aku istirahat sekarang, besok jadwalku lumayan padat.

-YoungMin POV-
Akhirnya, aku berhasil membangunkan Eunsung dengan rekaman suara Eommanya yang tersimpan di HP Eunsung. dengan mata yang hanya tinggal tersisa 5 watt, ia memasak omu rice dengan bantuanku.
Saat omu rice kami sudah selesai, JiHyun sudah selesai mandi. kami segera makan bersama.
“yakk, Eun, masukkan makanannya ke mulutmu, bukan hidungmu.” Kata Jihyun saat melihat Eunsung yang makan dengan setengah tertidur.
“nde, Kim agassi.” Jawab Eunsung malas. Lalu ia mempercepat makannya.
“kenapa buru-buru ?” tanyaku.
“aku mau tidur. Kalian lihat kan, mataku tinggal 5 watt ?” Jawabnya diakhiri dengan pertanyaan.
“ne, sudah sana cepat bereskan.” Kataku. “cuci piring masing masing ya.”
“ne..” jawab Eunsung dan Jihyun bersamaan.
15 menit kemudian, kami bertiga sudah selesai makan. Seperti yang kuduga, Eunsung paling duluan selesai dan sekarang sedang berjalan setengah tidur ke kamarnya sambil menabrak-nabrak sofa, meja kecil, dan yang terakhir..
DUAKK ! ia menabrak pintu kamarnya dengan keras.
“Yakk, Jung Eunsung! berhati-hatilah dengan kepalamu.” Teriak Jihyun. Lalu Eunsung masuk ke kamarnya, disertai dengan bunyi buku jatuh, dan benda benda lain yang jatuh. Dan diakhiri dengan bunyi ‘bluk’ yang empuk yang berarti Eunsung sudah sampai di pulau kapuknya.
“sudah selesai. Kajja kita tidur.” Ajakku pada Jihyun, lalu kami berdua masuk ke kamar masing masing.
Tapi di dalam kamar, aku hanya berbaring di ranjangku tanpa bisa memejamkan mataku sedikitpun. Aku sama sekali tak mengantuk. Malah, bayangan namja yang kutabrak tadi muncul di benakku. Dia tampan sekali, tapi juga terlihat aegyo. Di dalam hati, aku berharap bisa bertemu dengannya lagi suatu hari nanti.

-keesokan harinya-

Seperti biasa, aku bangun paling pagi dan langsung masuk ke kamar 2 temanku yang super kebluk ini untuk membangunkan mereka. Yang jadi masalah adalah, BAGAIMANA CARA MEMBANGUNKAN MEREKA ? #capslock jebol#
Untuk Eunsung, aku sudah tak perlu khawatir karena semalam aku sudah ‘merampok’ rekaman suara eommanya yang sudah sukses dan pasti berhasil membuatnya bangun seperti semalam. Tapi Jihyun? Sepertinya aku harus pakai cara manual.
“Eunsung-ah, ireona.” Panggilku. Seperti yang sudah kuduga, ia hanya bergumam dan membalikkan tubuhnya membelakangiku. Aku hanya menghela napas panjang dan menyalakan jurus pamungkasku dengan volume full, lalu meletakkanya di samping kepala Eunsung dan berlari keluar. Tepat saat aku menutup pintu, terdengar rekaman itu menyala dengan suara yang sangat kencang.
“ne! Aku sudah bangun Young, aku bangun !” teriak Eunsung dari dalam dengan nada kesal. Aku hanya terkikik geli saat melihatnya keluar dari kamarnya dengan kantung mata bergelayut di bawah matanya dan rambut yang berantakan.
“cepat mandi sana, aku bangunkan Jihyun dulu. Tapi sebelum itu, bereskan dulu kamarmu yang seperti kapal pecah itu!” suruhku padanya. Aku ini seperti mandor saja ya?
“nde, ajumma cerewet.” Gumamnya pelan tapi masih terdengar olehku.
“mworago ?”
“aniya.” Jawabnya pendek. ia berlari ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya dengan keras.
Aku masuk ke kamar JiHyun. Kulihat yeoja itu masih saja bergelung di dalam selimutnya. Aku berpikir. Bagaimana caranya membangunkan yeoja kebluk ini? Sedangkan aku sudah memakai mike saja ia tidak bangun juga.
Akhirnya aku menghampirinya, meneriakkan namanya di telinganya, mengguling-gulingkan tubuhnya, mengancamnya, membuka paksa kedua kelopak matanya, menendangnya.. dan berbagai usaha lain. Tapi hasilnya nihil. Jihyun tetap saja tidur, bahkan ia masih bisa-bisanya berguling memunggungiku.
“yaak! Ireona!” teriakku sambil berusaha menarik selimutnya. Ia tak mau mengalah. Tetap mempertahankan selimutnya hingga kemudian ia mengendurkan pegangannya. Saat itu juga, aku hampir terjatuh ke belakang. Lalu ia kembali menarik selimutnya lagi dan aku terjatuh ke lantai karena peganganku pada selimut itu sudah kukendurkan duluan sebelumnya.
“YAA!! KIM JIHYUN! IREONA!” teriakku kesal.
“Young-ah, kau berisik sekali! Kau mengganggu para tetangga.” Kata Eunsung yang menengok dari pintu dengan rambut yang masih dibalut dengan handuk putih bersih. Tapi ia sudah siap ke kampus dengan kaus putih dan kemeja birunya seperti biasa. Ia juga memakai celana Jeans yang tidak teralu ketat.
“aku menyerah!” seruku sambil mengangkat kedua tanganku. “coba kau bangunkan dia. Biasanya kau punya ide aneh yang cukup berguna.”
Eunsung berpikir sebentar. Lalu ia berkata..“apa perasaan yang selalu membuatmu bangun Young?”
Aku terdiam sebentar. “kaget?” tanyaku.
“bisa jadi..” katanya. “tapi itu tidak akan mempan untuk yeoja ini. Yang lain?”
Aku kembali berpikir “takut?”
“itu berfungsi untukku.” Jawab Eunsung. “apa hal yang selalu membuatmu bangun selelah apapun kau?”
“eh,,” aku kembali berpikir. “dulu aku selalu bangun kalau mencium wangi masakan eomma.” Jawabku.
“exactly! Dan yang kita butuhkan sekarang adalah, hal yang sangat disukai yeoja ini.” Kata Eunsung. aku mengangguk mengerti.
“jadi, apa yang sangat disukai yeoja ini?” tanyaku bingung. Kami kembali terdiam menunduk memikirkan hal yang paling disukai JiHyun.
“ah.. arasseo.” Kata Eunsung menjentikkan jarinya.
“wae wae? Kau sudah dapat?” tanyaku.
“begini. Kau tahu, kenapa dia mengajak kita bekerja partime di TLJ?” tanya Eunsung padaku.
“ne.. kalau tidak salah, ia bilang toko roti itu milik salah salah satu member boyband kan?”
“ne, kau tau itu boyband apa?” tanya eunsung.
aku menggeleng.
“ish, jinjja. Jawabannya ada di rak di belakangmu.” Kata Eunsung padaku. Begitu aku berbalik, kulihat rak yang penuh dengan CD boyband bernama Super junior.
“jadi, kita hanya perlu menyetel kaset-kaset itu dan ia akan bangun?” tanyaku.
“persis.” Kata Eunsung. “tapi.. sepertinya akan lama. Lebih cepat seperti ini.” Kata Eunsung. ia sudah memegang hp JiHyun di tangannya. Ia menyetel lagu Super Junior dengan volume yang cukup keras. Lalu berteriak.
“JiHyun-ah!! Ada Super Junior di TV!! Omonaa.. Kyu Oppa berciuman dengan SeoHyun Eonni!” katanya.
“Mwo?!” Seketika juga, JiHyun terperanjat. Ia langsung turun dari ranjangnya dan berlari ke ruang duduk melewati kami. Aku hanya memandanginya terbelalak. sementara Eunsung hanya tesenyum puas.
“ya! Eodiya? Kalian bahkan tidak menyalakan TV.” Kata JiHyun pada kami. Eunsung buru-buru menutup pintu kamar JiHyun, ia melemparkan handuk pada JiHyun.
“aku bohong. Sana mandi! kami membutuhkan waktu setengah jam untuk membangunkanmu!” kata Eunsung. aku mengangguk setuju.
“geurae, aku mandi.” kata Jihyun kemudian dengan muka yang kusut.
“Eunsung-ah.. charaetda!” kataku pada Eunsung, lalu kami ber-highfive ria.
“cha, sekarang.. masak sarapan yang enak ya Young!” kata Eunsung sambil mendorongku kearah dapur.
“wae? Wae?” tanyaku.
“hari ini giliran kau masak sarapan, Young…” kata Eunsung.
Aku hanya cemberut. Girliran makan, dia ini semangat sekali.

-skip time-

“ah, jinjja! Aku telat!!”Ssipal! Ini gara-gara aku lupa kalau sebelum kuliah hari ini aku ada test jam 8, untung saja JiHyun mengingatkanku. Ditambah lagi bis yang kunaiki tadi jalannya lambat sekali seperti siput!
Aku berlari kencang ke arah gerbang kampus. Aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku.
7.45
Kenapa ruang kelasku harus jauh sekali dari gerbang? Aku mempercepat lariku dan..
Duakk!
Aku menabrak seseorang sampai aku sendiri terpental ke belakang. Ish, ada apa lagi ini?
“gwesonghamnida.” Kataku sambil membungkuk padanya. Begitu kembali tegak, aku terperanjat kaget. Ini kan orang yang kemarin kutabrak.
“oh, kau lagi.” Kata namja itu sedikit geli.
“oh, jeongmal mianhae.. aku sudah terlambat. Aku duluan.” Kataku sambil kembali berlari.
“oh, chankanmanyo! Siapa namamu?” tanya namja itu sambil menahan tanganku.
“Choi YoungMin imnida! Tolong lepaskan tanganku! aku ada test!” kataku padanya.
“oke.” Katanya, ia melepaskan tanganku.
“gamsahamnida!” kataku sambil berlari menuju ruang kelasku.
Di dalam, teman-temanku sudah duduk di tempat masing masing dan siap untuk test. Aku selamat, ternyata dosenku belum datang.
Aku menghela napas lega sambil menuju ke tempat dudukku.

-SungMin POV-
Untuk ke-3 kalinya dalam 24 jam terakhir, aku bertemu dengan yeoja itu. apa ini kebetulan? Ia kelihatan sangat terburu-buru.
“oh, jeongmal mianhae.. aku sudah terlambat. Aku duluan.” Katanya sambil hendak kembali berlari.
“oh, chankanmanyo! Siapa namamu?” tanyaku itu sambil menahan tangannya.
“Choi YoungMin imnida! Tolong lepaskan tanganku! aku ada test jam 8!” katanya panik.
“oke.” Kataku sambil melepaskan tangannya.
“gamsahamnida!” katanya sambil berlari menjauh.
“Choi YoungMin..” gumamku pelan. “kenapa ia sangat mirip denganmu Young?”
Aku berjalan lurus ke arah gedung A, aku harus ke ruang dosen. Aku akan jadi asisten dosen hari ini.
-SungMin POV end-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s