Don’t Go part 4

20131225090542

Title: What Destiny ?

Author: Exowie

Main Cast: ~ Chanyeol ~ Byun Haera  ~ Baekhyun ~ Jongin ~ Sehun ~ Shin Haesul

Genre : Romance Drama, Sad,  Comedy (little)

Rate : PG-15

Length : Chapter

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Demi Tuhan, aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengajarimu, tapi kau masih tidak bisa juga. Sebenarnya kau dulu lahir pada jaman apa sih  sampai hal sepele ini saja tak bisa kau lakukan. Dasar bodoh!” Maki Chanyeol memegangi punggung belakangnya yang pegal dan menatap Haera kesal.

“Aku memang baru sekali memegang benda ini jadi jangan salahkan aku jika aku belum bisa. Dari pada kau terus memarahiku dan membuang tenaga untuk hal yang tidak berguna alangkah baiknya kau memeganginya lagi. Kali ini aku akan lebih berusaha. Janji!”

“Simpan janjimu. Telingaku ingin meledak karena terlalu sering mendengarnya hari ini.”

“Sudahlah ajhusi, kau ingin kulitmu keriput sebelum saatnya karena terus berteriak seperti itu. Ayo cepat pegang lagi.”

“HUFH!!”

Entah untuk keberapa kali desahan keras itu keluar dari mulut Chanyeol.  Udara yang tak begitu dingin disertai matahari yang muncul hari ini membuatnya ingin berkeliling dengan sepeda di taman dekat apartemennya. Apalagi dua hari ini Chanyeol hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar karena demam dan pusingnya yang masih betah tinggal di badannya. Ia tak ingin untuk hari ketiganya tak bersekolah hari ini hanya ia gunakan untuk menemani bantal gulingnya di kamar.  Bosan Chanyeol pikir.

Sekedar pemberitahuan saja, bahwa sebenarnya Chanyeol sudah cukup kuat jika harus bersekolah hari ini. Suhu badannya sudah stabil pusingnya pun sudah tak terasa lagi di kepalanya. Tapi karena ingatan mengingatkannya pada ulangan Kimia yang dilaksanakan tepat hari ini, maka Chanyeol menggunakan belum sembuh untuk jadi alasan yang bagus supaya tak mengikuti ulangan dari pelajaran  yang bisa membuat otaknya berasap itu.

Sebenarnya memang tidak ada gunanya ia menghindar dari soal yang mengharuskannya menghapal puluhan rumus untuk bisa menyeleseikan tugasnya tanpa melihat buku itu. Toh nanti jika dia sudah kembali  bersekolah juga akan mendapatkan ulangan susulan bersama siswa yang nilainya di bawah lima puluh. Tapi Chanyeol pikir ada baiknya ia tak menyiksa kepalanya yang baru sembuh itu dengan tak masuk hari ini. Apalagi ia juga belum sempat belajar. Membolos adalah ide yang berlian. Begitulah pikiran yang bersarang di otak Chanyeol hari ini.

Tapi seharusnya Chanyeol menyadari jika karma itu memang berlaku. Niat awalnya yang ingin mengajak Haera bersepeda keliling itu rusak sudah saat mendapati fakta bahwa gadis itu tak bisa naik sepeda. Tapi Chanyeol tak mau menyerah begitu saja. Selain karena menyerah bukanlah gayanya  pemuda itu juga mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang baik dan peduli terhadap orang lain. Maka sebab itu ia bertekad untuk mengajari Haera sampai bisa.

Kata ‘sabar’ juga sudah ia patok kuat-kuat di kepalanya agar tanduk amarahnya tak keluar saat mengajari gadis itu. Meski omelan tak berhenti berhamburan keluar dari mulutnya, setidaknya Chanyeol masih mau mengajari Haera dengan memegangi sepedanya dari belakang.

“Ya….!!” Jerit Haera.

“Tukan!! Saat kulepas peganganku harusnya kau kayuh sepedanya agar jalan. Supaya sepedanya tak roboh terus seperti ini. Masak kau kalah dengan anak  kecil di sana. Dia saja bisa berkeliling tanpa pegangan siapapun. Malu dong malu!!.”Chanyeol berkacak pinggang menghujat Haera sembari menunjuk anak berumur sekitar lima tahun yang bersepeda dengan pengawasan ibunya tak jauh dari tempatnya berada. Sedikit iri dengan anak kecil itu yang bisa tertawa lepas sedari tadi. Sementara dirinya sendirian, menyedihkan. Jangankan tertawa. Tak menjerumuskan Haera ke dalam selokan saja sudah bersyukur saking jengkelnya.

“Ya jelas saja anak itu bisa tanpa harus dipegang. Apa kau tak lihat roda belakangnya saja tiga. Sementara aku cuma satu. Jadi jangan bandingkan aku dengannya. Ayo mulai lagi.” Haera tak mau kalah. Darahnya mendidih membakar semangatnya yang ingin bisa menaklukkan sepeda itu. Tak peduli dengan kakinya yang mulai nyeri karena terus terjatuh.

Chanyeol lagi-lagi hanya bisa mendesah. Dengan berat ia kembali membungkuk memegang bagian belakang sepeda itu. Bibirnya semakin bertambah maju seiring tenaganya yang mulai habis. Dan mungkin sekarang giliran kesabarannya yang mulai habis. Oh tidak tidak. Bukan lagi ‘mulai’ tapi memang ‘sudah’  habis. Chanyeol yang tadinya mulai senang karena Haera yang sudah bisa mengayuh sepeda tanpa pegangannya kembali bermuka keruh bak air kolam ikan lele.

“Ya ya terus kayuh seperti itu. Kau takkan jatuh jika terus melakukannya.” Chanyeol melompat-lompat ke udara tak ketinggalan bertepuk tangan menyemangati Haera. Bangga dengan usaha kerasnya yang berhasil mengjari gadis bodoh bernama Haera itu sampai kini bisa.

Tapi ternyata itu tak bertahan lama. Bagai gundukan pasir kesenangan itu buyar karena rata tersapu ombak di pantai. Manakala Haera tiba-tiba saja berhenti mengayuh yang langsung merelakan badannya menerima sakit karena berbenturan dengan aspal sangat keras. Dengan senyum yang seketika lenyap dari wajahnya Chanyeol menghampiri Haera yang masih belum berdiri.

“Ya bodoh! Sudah berapa kali aku katakan jangan berhenti mengayuhnya. Tau lah. Sampai kambing bertelurpun aku rasa kau memang takkan bisa. Dan untuk kali ini aku takkan sudi mengajarimu. Aku akan bersepeda sendiri tanpamu. Sayang sekali menyewa sepeda hanya untuk dianggurkan karena berharap keajaiban datang menghampirimu. Sekali bodoh tetaplah bodoh. Harusnya dari awal aku tau itu.   Heh!!” Chanyeol membuang muka. Tak peduli kini ia berbalik arah meninggalkan Haera menuju sepedanya sendiri yang terletak di ujung taman. Mulutnya tak berhenti ngedumal tak jelas dan berjalan dengan menghentakkan kakinya  keras-keras.

Bukan kemauan Haera seperti ini. Gadis itu sendiri juga senang bisa menjalankan sepedanya tanpa bantuan Chanyeol. Tangannya kini mengepal keras. Memukul kakinya bertubi-tubi seolah bisa meredakan kekecewaan dan kemarahannya saat ini. Tak terhitung lagi berapa kali tetes demi tetes air mata itu membanjiri pipinya.

Bukan. Haera bukan menangisi kepergian Chanyeol yang meninggalkan dirinya tanpa membantunya berdiri. Dia menangis karena kecewa. Kecewa dengan takdirnya. Dan salahkah ia jika menuntut Sang pembuat takdir itu untuk mengubah garis hidupnya?

Haera bukanlah anak kurang ajar yang tak tahu terima kasih. Justru kini ia mulai belajar tuk menerima apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Haera menganggapnya sebagai  bentuk kasih sayang Tuhan yang dianugrahkan padanya. Karena dengan pemberian itu membuatnya bisa menjadi manusia yang kuat tak rapuh. Dan Haera merasa terhormat akan hal itu. Tapi alangkah lebih terhormatnya Haera pikir jika Tuhan melimpahkan kasih sayangnya tanpa harus memberinya takdir yang menguras air matanya. Air mata yang belakangan ini hampir kering karena terlalu seringnya keluar. Terlebih saat ia mengetahui fakta bahwa keluarganya  telah lama menyembunyikan itu darinya.

Gadis itu marah. Gadis itu kecewa.

Dalam pesta yang harusnya menjadi hari bahagianya itu,  justru menjadi awal dari air mata yang keluar menggila saat tak sengaja  ia mendengar pembicaraan ayahnya dengan seseorang.

Dunianya seakan runtuh. Kakinya terasa lemas tak sanggup menopang bobot tubuhnya saat itu. Namun dengan sekuat tenaga ia mencoba berlari saat ayahnya melihat keberadaannya dan ingin mendekatinya untuk menjelaskan.

Tetapi Haera kala itu masih terbakar emosi. Ia sama sekali tak menggubris teriakan ayahnya dan terus berlari keluar rumah. Menghentikan taxi untuk pergi dari rumah paling tidak tiga sampai empat hari hingga ia bisa menenangkan hatinya.

Tapi lagi-lagi takdir berkata lain. Haera sesungguhnya sudah bisa menerima dan memaafkan ayahnya. Tapi hingga hari ini, ia masih enggan meninggalkan kehidupan barunya ini untuk kembali ke rumah.

Menyeka air asin itu Haera dengan boros menghirup oksigen dari hidungnya saat pikirannya telah kembali dari mengingat kejadian yang sekelebat terlintas di kepalanya. Seolah udara itu tak bisa lagi ia dapatkan esok pagi.

Cukup lama berdiam diri menenangkan sisa tangis dan emosinya, Haera menggeser bokongnya untuk sampai ke kursi kayu yang tak jauh berada di belakang. Masa bodo dengan celana putih yang saat ini ia pakai akan terkotori dengan aksinya itu. Ia malas tuk beranjak dari jatuhnya atau lebih tepatnya  memang kakinya yang belum bisa tuk berdiri.

0_0

Haesul meminum jus jeruk yang tadi ia pesan dengan tangannya yang sibuk menyalin lembar jawaban yang ia dapat dari buku cetak tebalnya. Sesekali menggerutu gadis itu menyalahkan Chanyeol yang tiga hari ini tidak masuk sekolah tanpa bisa dihubungi. Jika saja Chanyeol masuk tidak akan mungkin Haesul mau mengerjakan tugas rumahnya di kantin seperti sekarang. Karena jika ada pemuda itu waktu istirahatnya pasti akan terisi dengan lawakan-lawakan Chanyeol yang  pasti membuat perutnya terkocok habis karena tertawa. Tidak seperti sekarang. Duduk sendirian dan yakinlah, itu sangat membosankan. Dan karena alasan itulah Haesul menggunakan waktu membosankannya itu untuk hal yang berguna.

Tengah asik berada dalam dunianya saat ini, Haesul iseng-iseng meregangkan ototnya dengan menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Matanya yang tergolong besar kini bertambah besar saat tanpa sengaja bertatapan dengan orang yang tak asing lagi olehnya belakangan ini. Langsung membuang muka Haesul kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya seolah tak melihat apa-apa.

Haesul yang mencium bau-bau tak enak akan segera menghampirinya, memutuskan untuk pergi dari tempat itu saja. Dengan cepat ia membereskan alat dan buku tulis yang berserakan di meja kantin. Namun secepat apapun ia berberes tak bisa mengalahkan kecepatan seorang pemuda berbadan tinggi itu yang kini sudah berkacak pinggang berdiri di depan mejanya.

“Mau kemana kau?!”

Berpura tuli Haesul tak mengacuhkan pertanyaan pemuda itu. Tanpa ingin membuang waktu ia sedikit mendorong  pemuda yang dulu menabraknya itu untuk memberikannya jalan untuk pergi.

Jongin yang adalah pemuda itu melotot geram karena dianggap kasat mata oleh Haesul. Langsung saja ia menggeret tangan gadis itu sampai Haesul terduduk kembali dan langsung melempar tatapan  yang bisa menusuk ulu hati Jongin saking tajamnya. Sedikit bergidik sebenarnya Jongin mendapat sorot mata itu. Tapi karena Jongin sadar bahwa  ia adalah lelaki tulen tak seharusnya ia memasang tampang takutnya sekarang. Dan dengan diawali deheman kecil dari tenggorokannya ia kembali membuka kalimat.

“Dasar gadis tidak sopan. Aku mengajakmu bicara bukan menyuruhmu pergi.”

Haesul memutar matanya malas. Meletakkan buku yang membebani tangannya di atas meja ia menopang dagu.

Jongin yang lagi-lagi tak dianggap keberadaannya bersungut kesal. Mendaratkan tubuhnya duduk di kursi yang berhadapan dengan Haesul ia menggebrak meja dengan keras. Terlewat keras malah. Hingga membuatnya meringis kesakitan dan meniup-niup tangannya yang memerah dan terasa panas. Sungguh adegan yang tak pernah Jongin bayangkan bisa ia lakukan di depan seorang gadis yang merupakan rivalnya saat ini. Sungguh sangat tidak cool Jongin rasa.

Melupakan adegan yang membuat Haesul tersenyum mengejek itu Jongin kembali bersuara.

“Ya kau gadis ceroboh yang membuat menderita hidup orang….”

“Bukan aku yang ceroboh tapi kau!” Haesul menyerobot ucapan Jongin karena tak terima dirinya dianggap seperti itu.

“Selain ceroboh, tidak sopan, dan galak ternyata kau juga suka mengelak ya. Berani memotong ucapanku lagi.”

“Memang siapa kau hingga membuatku tak berani melakukannya. Lagian aku memang tidak ceroboh. Kau saja yang tidak hati-hati.”

“Aku sudah sangat hati-hati. Tapi karena kau makanan itu tumpah. Dan sekarang aku tidak mau memperpanjang masalah….”

“Baguslah kalau begitu urusannya selesei dan aku ingin kembali ke kelas terima kasih.” Haesul kembali memotong ucapan Jongin dan berdiri. Tapi lagi-lagi lelaki itu tak membiarkannya untuk kabur begitu saja. Menarik tangan Haesul untuk kali kedua Jongin menyuruhnya untuk duduk.

“Aku belum selesei bicara.”

“Sampai kapan aku harus mendengarkanmu.”

“Sampai urusan kita selesei.”

“Urusan yang mana lagi. Bukannya kau bilang urusannya sudah selesei.”

“Aku tak bilang begitu. Aku hanya bilang tak ingin memperpanjang nya. Tapi bukan berati kau bisa lepas tangan begitu saja.”

“Lalu?”

Jongin menarik nafas.

“Kau tau? Karena kau menabrakku tempo hari membuatku harus menerima tambahan hukuman.”

“Tidak.”

“Tapi aku tak mempermasalahkan hukuman itu di sini.”

“Lantas.”

“Karena aku adalah lelaki yang diwarisi sifat baik dan rendah hati yang sudah diakui banyak orang,” Haesul ingin muntah mendengarnya. “Aku tak melibatkanmu dalam hukuman ini. Tapi alangkah baiknya karena aku sudah berbaik hati padamu kau membayar ganti rugi padaku.”

Jongin tersenyum menyeringai yang membuat Haesul ingin melepas sepatunya untuk didaratkan ke wajah menyebalkan itu. Amarahnya meledak saat mendengar Jongin dengan tidak malunya meminta ganti  rugi padanya.

“Ya! Bicara apa kau. Aku ragu jika di dalam kepalamu masih ada otaknya. Dengar ya, sebenarnya aku sudah bosan mengucapkan kalimat bahwa ITU BUKAN SALAHKU berkali-kali dari mulutku. Sampai aku alergi mendengarnya belakangan ini. Tapi kenapa kau tak mengerti dan terus menyalahkanku. Tidak mengertikah kau dengan bahasa manusia ? Dan hey, dari segi apa dan mana kau bisa berkata kau sudah berbaik hati padaku. Lalu apa yang kau maksud dengan ganti rugi?!”

“Tenang tenang duduklah dengan baik dan tak usah menunjukku seperti itu.” Jongin menanggapi luapan emosi Haesul dengan santai dan menyuruh gadis itu untuk kembali duduk.

“Jangan pegang-pegang.” Haesul menampik kasar tangan Jongin yang memegang pundaknya. Dengan kesal ia kembali duduk untuk mendengar ucapan yang sama sekali tak ingin ia dengar.

“Ok ok maaf.” Jongin menarik tangannya dan duduk lagi. Dengan kedua tangannya yang tertumpu di atas meja ia mulai bersuara. “Aku akan menjelaskan apa yang aku maksud dengan ganti rugi. Dan dengarkan baik-baik karena aku takkan mengulanginya lagi.”

Haesul bersumpah jika saja negaranya tak menghukum seorang pembunuh, sudah bisa dipastikan Jongin kini hanya tinggal nama yang tertulis rapi di atas batu nisan. Tak sabar Haesul mendengar penjelasan Jongin yang teramat berbelit saat ini.

“Cepat katakan waktuku tak banyak untuk mendengar ocehanmu!” Gertaknya.

“Sabar kenapa.” Jongin balik berkata dengan nada sewot. “Sebagai siswa di sekolah ini tentunya kau sudah mengenal baik guru matematika bernama Cho Kyuhyun beserta sifat perhitungannya itu kan? Karena saat insiden itu aku dalam masa hukuman yang mengharuskanku melayaninya saat pulang sekolah termasuk membelikannya makanan aku harus tersiksa jiwa raga seperti ini. Dan harus kau tau bahwa seharusnya itu adalah hukuman terkhirku. Akan tetapi karena kau muncul dengan tiba-tiba dan membuat makanan yang tak lain adalah milik Cho Kyuhyun yang terhormat itu tumpah ia kembali memperpanjang hukumanku selama dua minggu. Dan lebih parah dan gilanya  lagi dalam seminggu masa hukumanku itu dia menyuruhku untuk membelikan makanannya dengan uang pribadiku. Hanya karena mangkok dan gelas kesayangannya pecah. Dan aku tak ingin menanggung ini semua sendirian. Aku juga manusia yang butuh asupan makanan tapi malangnya uangku selalu habis karena guru sialan itu tak kira-kira jika memesan makanan. Dan itu membuatku kelaparan selama di sekolah. Maka dari itu kau juga harus mau membantuku untuk membelikannya makanan.”

Penjelasan yang cukup panjang dan jelas dari Jongin tapi tak bisa dimengerti dengan baik oleh Haesul. Atau lebih tepatnya bukan tidak mengerti tapi tidak habis pikir.

Ingin sekali Haesul membelah kepala Jongin dan melihat isi dalam otaknya. Tak paham Haesul dengan cara kerja organ tubuh yang berperan penting sebagai pengendali pikiran Jongin itu sampai bisa-bisanya lelaki di depannya ini melibatkan dirinya pada masalah yang harusnya ia tanggung sendiri. Karena Haesul memang tak merasa terlibat.

“Heh ngomong ni ma tangan. Sampai Kuda berkepala Kerbaupun  aku takkan sudi mengeluarkan sepeserpun uang untuk itu. Memang kau pikir kau anak Jendral hingga aku harus patuh dengan omonganmu. Meskipun kau anak Presiden sekalipun aku takkan mau. Dengar tu!”  Tanggap Haesul yang membuat bola mata Jongin ingin keluar dari tempatnya.

“Apa kau bilang?”

“Aku. Takkan. Mau. Takkan mau! Jelas?!” Haesul memperjelas setiap suku kata yang ia ucapkan. Sudah muak ia dengan suasana yang mengisi jam istirahatnya hari ini. Jam istirahat yang tak pernah ia bayangkan ada dalam hidupnya. Dan ingin segera mungkin ia mengakhirinya detik ini juga.

Jongin tak tinggal diam begitu saja. Tersenyum penuh kemerdekaan ia memberi jempol untuk otaknya yang sudah bekerja dengan baik memberinya ide yang cemerlang.

“Baiklah kita lihat saja nanti. Dan perlu aku beritahu padamu sebelumnya bahwa orang keren sepertiku sangat sulit untuk mencarinya di sekolahan yang luas ini. Kau bisa baca sendiri siapa namaku di sini.” Jongin membusungkan dadanya agar nametage nya bisa terbaca jelas oleh Haesul.”Dan untuk kelas kau bisa menemukanku di kelas 2.5. Aku akan menyerahkannya jika kau mau melakukan apa yang tadi aku katakan padamu. Atau kalau tidak sekarang kau bisa membayarnya lain waktu dengan ini sebagai jaminannya agar kau mau membayarnya. Anyeong… Shin Haesul….”

Haesul yang masih mual lantaran mendengar kalimat Jongin seketika mengerti dimana ujung dari kalimat lelaki itu yang awalnya sama sekali tak ia pahami berakhir. Jongin mengambil paksa buku tugas miliknya dan berlari pergi. Dan yang membuat Haesul meledak bukan itu saja, tapi ekspresi wajah Jongin yang ia buat seperti orang menangis dalam versi menyebalkan untuk mengejeknya. Membuat Haesul tak bisa untuk tak berteriak sekarang.

“YA PENCURI KAU. HEY JANGAN LARI KEMBALIKAN ITU MILIKKU!! BRENGSEK KAU!”

Haesul berdiri dengan amarah yang meletup hebat. Tangannya sudah gatal ingin menguliti Jongin hidup-hidup sesegera mungkin. Tanpa banyak pikir Haesul ingin mengejar lelaki yang menurutnya tak berguna berada di dunia ini. Namun naas, mungkin karena hebatnya amarah yang tengah membakar dirinya, membuat Haesul tak berhati-hati hingga kakinya tersandung kaki meja yang membuatnya jatuh berguling di lantai dan mengaduh kesakitan.

“YA…!! JANGAN PERGI KAU SETAN. SINI KAU.” Haesul kembali berteriak dalam posisi tengkurapnya. Duduk menyandarkan kepalanya di kaki meja ia memegangi lututnya yang terasa ngilu, sakit dan perih.

“Dasar orang pembawa sial,” Haesul kembali dengan sumpah serapahnya dengan memandangi lututnya.”orang tak berguna, jelek, tidak punya hati, tak berotak ah… mengapa di dunia ini harus ada orang semacam dia. Jika saja dia adalah satu-satunya lelaki yang tersisa di dunia ini, aku bersumpah lebih baik tak menikah seumur hidup dari pada harus dengannya.”

“Jangan sampai termakan sumpah sendiri. Ntar nyesel lo.”

Haesul mendongak untuk melihat siapa orang yang berani berkata ‘menyesal’ akan  sumpahnya. Karena itu takkan pernah terjadi dalam catatannya. Wajahnya yang  sedari tadi sudah memerah kini lebih bertambah merah. Hanya bedanya, tadi Haesul berwajah merah karena marah tapi kini karena malu.

Haruskah ia menyalahkan Tuhan dalam kasusnya ini? Tak mengerti mengapa Dia senang sekali mempertemukannya dengan lelaki pemilik senyum manis itu selalu dalam kondisi yang tak tepat. Tidak hanya sekali. Tapi dua kali. Ya, dua kali setelah pertemuannya di parkiran belum lama ini.

Selain karena tak siap bertemu dengan kondisi yang berantakan seperti saat ini, Haesul sebenarnya juga tak ingin dicap sebagai perempuan darah tinggi yang kerjaannya selalu ngomel dan  suka marah-marah oleh lelaki itu. Karena disamping itu adalah sifat yang tercela, Haesul juga tak ingin terlihat berimek jelek di mata Baekhyun.

Ya, lelaki itu adalah Byun Baekhyun. Orang yang membuat hatinya berdesir kencang saat pertama kali melihatnya. Yang sukar ia lupakan dalam sadarnya. Dan orang yang ikut andil besar memenuhi pikiran dalam otaknya selain tugas sekolah yang menumpuk. Tapi tentunya memikirkan Baekhyun jauh lebih menarik baginya dari pada  memikirkan tugas yang bisa membuat rambut lurusnya keriting seketika.

Memang terlalu awal untuk mengakui bahwa ia menyukai Baekhyun. Mengingat dirinya baru bertemu lelaki itu dua kali ini. Dalam keadaan memalukan. Semuanya. Tapi Haesul dengan senang hati akan menghapus bagian itu karena jujur ia tak pernah menginginkannya. Yang akan Haesul ingat hanya bagian dimana ia merasakan kupu-kupu beterbangan disekitarnya saat pertemuan itu terjadi. Karena tak ada yang bisa mengatur hati  kapan boleh menyukai seseorang bukan?

“Kau… kau… di sini? Em… sudah lama?”

“Belum sih. Tapi cukup untuk mendengar saat kau bersumpah dari awal sampai akhir barusan. Maaf kalau tak sopan. Karena aku melihatmu terjatuh tadi, jadi aku kesini.”

Jawaban sempurna yang membuat Haesul ingin mengecilkan tubuhnya agar tak terlihat oleh Baekhyun. Dan demi apapun yang ada di bumi,  Haesul bukan hanya ingin menghindar dari Baekhyun karena perasaan malu itu. Tapi karena lebih ingin menjaga jantungnya yang serasa lemah tak kuat melihat senyum lelaki yang berjongkok di depannya ini. Sedikit berlebih memang. Tapi itulah yang Haesul rasakan.

“Masih bisa jalan ? Kalau tidak aku akan membantu menggendongmu ke ruang kesehatan.”

“Ha? Oh tidak perlu. Aku masih bisa kok. Terima kasih.” Haesul yang masih tenggelam menikmati senyum indah itu tersadar saat pemiliknya bertanya. Dengan susah payah ia berdiri hanya untuk terhuyung ke lantai lagi karena tak sengaja menginjak tali sepatunya yang terlepas. Malu?  Tak perlu ditanya. Karena itu pasti.

Tapi rasa malu itu hilang bak daun kering tertiup angin terbang jauh entah kemana. Tergantikan dengan perasaan aneh yang baru pertama kali ini ia rasakan. Badannya terasa panas dingin dari dalam. Entah bagaimana bisa keringat dingin keluar dari pelipisnya pada cuaca sedingin ini. Nafasnya tercekak dan sempat berhenti sesaat. Tapi Haesul yakin, ini bukanlah sebuah penyakit.

Baekhyun menggendongnya. Tak Haesul sangka tubuh kurus itu mampu mengangkat bobot tubuhnya yang tak ringan. Dapat ia rasakan detak jantung Baekhyun kini karena kepalanya yang tepat berada di dada lelaki itu. Detakan yang sangat teratur. Berbanding besar dengan miliknya yang kini berdetak persis orang yang baru mengikuti lari maraton saking gugupnya berada di dekapan Baekhyun.

“Jika memang tak kuat jangan dipaksa.” Ucap Baekhyun di sela berjalannya.

Haesul hanya bisa mengangguk dan lebih menundukkan kepalanya dalam.  Menyembunyikan semburat merah muda di pipinya agar tak terlihat oleh Baekhyun dengan tangannya yang melingkar di leher lelaki itu.

0_0

Haera masih setia duduk menghadap sepedanya yang tergeletak tak berdaya di tanah. Bahunya merosot ke bawah tanda bahwa gadis itu tak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Matanya tak beralih menatap sepatu putih lusuh yang terpakai di kakinya sekarang.

‘Tak  ada yang menarik. Mengapa aku harus menatapnya? Tak berguna.’ Pekiknya dalam hati.

Meski ia sadar apa yang dilakukannya takkan membuahkan hasil, Haera masih saja urung untuk melepas pandangannya ke arah lain. Sampai seseorang menyodorkan sebotol air mineral tepat ke depan wajahnya, barulah ia mendongak.

“Jangan karena sepeda kau sedepresi itu. Menyedihkan.”

“Andai apa yang kau katakan itu adalah alasanku semurung ini. Pastilah aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.”

Tapi karena Chanyeol hanyalah manusia biasa pada umumnya, tidak mungkin telinganya bisa mendengar kata yang diucapkan Haera hanya dalam hati itu. Chanyeol hanya bisa mendengar kalimat “siapa yang depresi” terucap dari mulut Haera seusai meminum air yang ia beri saat ini.

“Kakek-kakek ompong rabun matapun tau kalau saat ini kau sedang tak senang.” Chanyeol duduk di samping Haera sembari meminum air botolnya sendiri.

“Sok tau.”

“Itu kenyataan.” Chanyeol tak mau kalah. Menyenderkan punggungnya ke belakang ia kembali berkata.”Sudahlah. Itu hal wajar kok. Dulu saja aku butuh waktu dua minggu sampai aku bisa menaikinya sendiri.”

“Nah berarti kau lebih bodoh dong. Lalu apa alasanmu memarahiku seperti tadi. Aku saja belajar baru sehari belum genap.” Haera melirik Chanyeol sinis.

“Ya bedalah. Dulu aku baru berumur enam tahun. Sedangkan kau, hitung sendiri berapa kali kau berulang tahun. Jadi kau tetap yang bodoh bukan aku.” Chanyeol menunjuk tak terima ke Haera tak ingin disamakan dengannya. Wajahnya terlihat sekali bersemangat mengejek Haera yang kini bibirnya berbentuk kerucut karena sebal.

“Alasan. Lagian bukannya kau bilang ingin berkeliling. Kenapa kau ada disini.” Tanya Haera masih dalam wajah lesu.

“Anggap malaikat baik sedang mampir.” Jawab Chanyeol santai. Tetap mempertahankan posisi tangan yang berada di belakang kepalanya,  ia kembali berujar.”Dengar ya, setampan-tampannya aku ini, aku juga punya hati. Yang salah satu fungsinya merasa kasihan meninggalkan anak merepotkan sepertimu sendirian. Dan harusnya kau berterima kasih banyak akan kebaikanku selama ini. Aku sendiri juga tak tau mengapa mau melakukannya. Mungkin karena wajahmu yang dirancang khusus untuk membuat orang selalu mengasihanimu meski seberapa menyebalkannya dirimu.”

Tiga, dua, satu. Chanyeol menghitung mundur dalam hati. Biasanya Haera akan meladeni ocehannya tak kalah panjang dari yang ia katakan. Namun nihil. Gadis itu hanya menghela nafas dan berkata ‘terima kasih’ saja kali ini. Itupun dengan suara yang lemah.  Membuat Chanyeol gemas dengan sikapnya ini.

“Ya Haera! Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Suaramu seperti orang tidak makan tiga hari saja.” Gertak Chanyeol yang kini telah menarik punggungnya dari senderan kursi untuk bisa lebih dekat memandang Haera. ‘Tidak makan tiga hari? Lapar?’ Pikir Chanyeol dalam hati. ‘O… sepertinya aku tahu jawabannya.’ Menarik kedua sudut bibirnya kesamping ia tersenyum mengiyakan idenya.

“Sudahlah. Masih ada banyak hari untuk belajar. Tak usah bersedih begitu. Jujur aku enek melihatnya. Meskipun kau tak berwajah seperti itu membuatku enek setiap hari juga sih. Tapi yakinlah, ini jauh lebih membuatku ingin muntah melihatnya kau tahu? Sekarang aku akan mengajakmu kesuatu tempat. Ayo ikut.”

Haera tak menjawab. Hanya menurut saat tangannya di tarik Chanyeol untuk berdiri. Entah mau kemana lelaki itu mengajaknya pergi. Harapan Haera hanyalah satu. Semoga lelaki itu bisa membuatnya melupakan masalah yang ia tanggung untuk kepersekian kalinya selama mereka tinggal bersama. Menikmati betapa bahagianya ia lahir dan hidup di dunia ini. Dan untuk yang ini mungkin akan terdengar jahat, Haera takkan menyesal dengan tingkah yang pasti menambah jumlah uban di rambut ayahnya karena memikirkan putrinya yang sampai detik ini belum juga berniat kembali ke rumah.

Hanya untuk sebuah alasan mencari tawanya yang hilang. Tawa yang dulu sangat mudah ia keluarkan. Apalagi saat kakaknya mulai bertingkah konyol di depannya. Maka tawa itu dengan sendirinya akan keluar. Karena tawa itu sekarang hanya bisa ia dapatkan dari Chanyeol. Ya, hanya dari lelaki itu. Haera merasa nyaman, senang, dan suka berada disampingnya.

Suka? Haera menyukai Chanyeol?

Entahlah.  Sebab Haera sendiri juga belum yakin akan perasaannya itu. Chanyeol bukanlah seorang pemain drama terkenal sekelas Lee Min Hoo. Dia juga bukan lelaki yang romantis seperti tipe ideal perempuan kebanyakan. Chanyeol hanyalah seorang lelaki yang selalu mengatainya bodoh. Tak jarang juga membentak, mengomel, dan memarahinya. Tapi terlepas dari sikapnya itu, yang jelas membuat Haera tak ingin berada jauh dengan lelaki bermarga Park itu.

=*=

“45, 779. Huh….”

Haesul mendudukkan kembali tubuhnya disertai helaan nafas panjang. Bosan gadis itu menunggu di halte kurang lebih setengah jam tapi tak juga  bus bernomor 705 muncul. Dimana hanya itulah  satu-satunya alat transportasi yang bisa mengantarkannya pulang sekolah hari ini. Kecuali taksi tentu saja. Tapi Haesul lebih baik menunggu dari pada membuang uangnya untuk naik mobil berwarna kuning itu.

Ibunya yang mendadak ada urusan di toko roti, menyuruhnya untuk pulang sendiri karena tak bisa menjemput. Mungkin karena tugas piket tadi membuatnya ketinggalan bus sekarang. Dan mau tak mau ia harus menjadi penunggu halte setengah jam lagi. Itupun dengan catatan jika jadwal bus yang tertera di kertas yang tertempel di belakang ia duduk sekarang tepat.

Sejauh matanya memandang hanya disuguhi dengan pemandangan kendaraan yang berlalu lalang meramaikan jalan. Membuatnya menguap bosan berkali-kali. Tapi matanya yang menyipit karena ngantuk itu seketika melebar saat melihat mobil merah yang berhenti tepat di depannya.

Haesul tak perlu berpikir lama untuk mengetahui siapa pemiliknya. Seluruh siswa yang bersekolah sama dengannya pun juga tahu siapa lelaki itu. Orang pembuat gempar saat pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah karena pesonanya yang kuat. Terlebih fakta yang langsung menyebar luas hari itu juga yang mengatakan bahwa dia  adalah anak pertama dari pemilik hotel berbintang yang tak hanya menyebar di penjuru Korea. Tapi juga tersebar di luar negeri khususnya Cina dan Jepang.

Analisa Haesul semakin kuat dan terbukti saat pemilik mobil sport itu menurunkan kaca dan menyapanya.

“Kau masih di sini belum pulang?” Tanyanya.

“Ah Baekhyun-ssi. Ah ya ini masih menunggu bus belum datang. Kau juga belum pulang?” Jawab Haesul yang berakhir dengan melempar pertanyaan balik. Ia terlampau gugup saat ini karena kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba. Ditambah kini lelaki itu turun dari mobil dan menghampirinya.

“Iya. Tadi aku ada urusan dengan wali kelas. Sepertinya busmu masih lama datang. Mau aku antar?” Baekhyun kembali bertanya dengan sebuah penawaran.

Haesul yang memang sudah ingin meninggalkan tempat itu dari tadi ingin mengiyakan tawaran itu. Ditambah badan khususnya lutut yang terasa remuk karena dua kali jatuh dalam sehari ini ingin cepat dimanjakan di atas kasur. Tapi iya cukup malu untuk mengatakan isi hatinya. Jadilah kini hanya diam dengan menggigit bibir bawahnya. Sampai Baekhyun mengulang pertanyaannya barulah ia tersadar.

“Bagaimana, mau kuantar ?”

“Ha? Oh tidak tidak. Tidak usah. Aku sudah banyak merepotkanmu hari ini terima kasih.” Tolak Haesul dengan menggeleng kuat.

“Kau bicara apa. Kau teman Chanyeol kan? Temannya berati temanku juga. Baiklah, tak baik menolak ajakan. Aku akan mengantarmu.”

Haesul tersentak. Dapat ia rasakan kini sengatan listrik menjalar kesekujur badannya. Tubuhnya menegang kaku tak bergerak diam di tempat. Menatap sumber dari virus yang membuat organ sarafnya tak bisa bekerja dengan baik saat ini. Tangan Baekhyun terpaut menggenggam  tangannya.

Baekhyun yang merasa Haesul tak mengikuti tarikannya berhenti dan memandangnya. Tersenyum ia melihat Haesul yang hanya mematung.

“Tenanglah. Ini gratis kok. Kau hanya cukup membayarnya dengan memberi tahu dimana alamat rumahmu. Jalan.”

Candaan Baekhyun barusan berhasil mengembalikan Haesul ke dunia nyata. Melihat Baekhyun yang tersenyum membuat Haesul ingin membalasnya dengan senyum terbaik yang ia punya. Tapi karena kondisinya yang baru sadar dan gugup sekarang, ia yakin jika senyumnya saat ini sangatlah abstrak. Tidak sesuai dengan yang ia inginkan.

“Terima kasih.” Ucap Haesul pada Baekhyun yang membantunya membuka pintu mobil. Tak sadarkah lelaki itu bahwa perlakuannya barusan membuat Haesul ingin terbang ke langit tujuh. Ia merasa sangat dihargai akan itu. Meski ini adalah bukan kali pertamanya ia mendapat perilaku barusan. Karena ada Chanyeol yang sebelumnya selalu melakukan hal yang sama saat mereka jalan berdua. Tapi Haesul merasa  itu sangatlah  berbeda.

Chanyeol hanyalah teman baiknya sementara Baekhyun adalah orang yang berhasil membuat jantungnya berdetak tak wajar saat didekatnya.

Di dalam perjalanan itu tak ada yang bersuara. Hanya diisi dengan musik yang sengaja Baekhyun pasang di mobilnya. Lelaki itu terlalu fokus dengan jalanan yang memang sudah biasa selalu padat dengan kendaraan.

Sementara Haesul sudah tak usah diceritakan betapa kepayahannya ia sekarang mengatur detak jantungnya. Musik yang mengalun indah itu sama sekali tak membantu mengalihkan pikirannya dari Baekhyun yang terlihat lebih tampan saat mengemudi mobil memakai kaca mata hitamnya. Ia tahu Baekhyun tak berniat gaya. Arah jalan yang tepat menghadap mataharilah yang membuatnya memakai kaca mata itu agar tak silau.

Haesul bingung kini harus bagaimana bersikap saat mobil yang ia tumpangi telah berhenti di depan rumah bercat pagar hijau muda itu. Disatu sisi ia lega bisa segera bebas bernapas secara normal lagi. Tapi di sisi yang lain ia juga merasa kecewa dan sedih karena akan berpisah dengan Baekhyun. Nampak dari wajahnya yang terlihat lesu dengan senyum yang ia paksakan untuk Baekhyun yang lagi-lagi membuat kupu-kupu beterbangan dari perutnya karena membukakan pintu untuknya.

“Terima kasih banyak. Maaf membuatmu harus putar arah untuk pulang. Tak ingin mampir dulu?” Haesul membungkuk berterima kasih dan berbasa-basi bertanya setelah turun dari mobil.

“Tak apa. Sama-sama. Lain kali saja aku mampir. Setelah ini aku masih akan ke rumah Chanyeol. Tadi Mrs. Lee menyuruhku untuk membantu Chanyeol menyalin pelajaran selama ia tidak masuk. Sekalian aku ingin menjenguknya. Haesul kau mau ikut? Oh maaf bisa aku memanggilmu seperti itu saja?” Baekhyun menutup mulutnya. Merasa sok akrab dengan panggilan yang ia berikan barusan. Tanpa sepengetahuan Baekhyun tentu saja, panggilan itu membuat kepala Haesul ingin meledak karena senangnya.

“Tentu. Apa ada alasan untukku melarangmu?” Jawab Haesul cepat. “Kau tahu, sebenarnya aku ingin pergi. Tapi karena hari ini ada acara keluarga, aku tak bisa melakukannya. Aku titip salam saja untuk Chanyeol. Katakan aku akan membunuhnya karena tak memberiku kabar tiga hari ini.” Sesal Haesul.

Dengan seleseinya obrolan pendek itu tak ada alasan untuk mereka berlama-lama di jalan. Baekhyun yang paham dengan jawaban Haesul hanya mengangguk mengerti dan segera berpamitan. Masuk ke dalam mobilnya ia melesat pergi meninggalkan Haesul yang berdiri mematung menatap kepergiannya sampai tikungan jalan memutus pengelihatannya.

=*=

Permintaan Haera terkabul. Gadis itu sudah kembali menjadi Haera yang ceria lagi. Senyumnya tak pernah pudar menghias bibir tipisnya saat ini. Memandangi punggung lelaki yang mengayuh sepeda dengan beban tubuhnya di belakang.

Chanyeol yang memang belum bisa memasukkan Haera dalam kehidupnya mencoba untuk bisa bersikap lebih baik dengan gadis itu. Bagaimanapun sulit bagi Chanyeol untuk menerima Haera yang selalu membuatnya muak dengan tingkah polah yang ia perbuat. Yang tentu membuat darahnya bisa dimanfaatkan untuk merebus telur pastinya.

Dari berebut kamar mandi, makanan sampai remot TV yang berujung pada kekalahan yang harus ia terima. Ia juga sudah kerap memperingatkan Haera agar mengepel lantai tidak menggunakan kain yang terlalu basah. Karena lantainya jadi licin. Yang menyebabkan ia terpeleset dan mengikhlaskan bokongnya mendarat keras ke lantai karena peringatan yang tak pernah masuk telinga gadis yang selalu menyangkalnya dengan kata ‘itu karena kau tak hati-hati ajhusi’ pembelaannya.

Itu masih sebagian kecil yang bisa Chanyeol sebutkan. Karena faktanya masih banyak lagi kejadian lain yang tak kalah membuatnya stres.

Oh dan satu lagi yang tak bisa Chanyeol lupakan begitu saja dengan kejadian yang seolah bisa membuat rambutnya tegak berdiri dengan asap mengepul keluar dari telinganya belum lama ini. Dimana saat pisang yang malamnya baru ia beli paginya sudah tak berada di tempatnya. Perlu diketahui sebelumnya bahwa Chanyeol adalah penggemar berat pisang yang harganya maha dahsyat jika di negaranya itu. Dan ia harus menerima kenyataan pahit jika pisangnya sudah tak tersisa barang satu buahpun karena Haera dengan wajah tanpa dosanya berkata jika ia yang menghabiskan semua pisang itu. Dengan dalih terbangun malam hari karena lapar hanya menemukan pisang yang dapat dimakan.

Selain tak bisa menerima  apapun alasan yang diberikan Haera, Chanyeol juga geram dengan gadis yang memang sudah minta maaf tapi dengan santainya berkata ‘nanti jika aku ada waktu berlibur ke Indonesia aku akan membelikanmu pisang yang banyak. Di sana pisang jauh lebih murah. Tenang saja aku akan menggantinya.’ Sembari menepuk-nepuk punggungnya iba.

Tapi karena beberapa hari ini Haera bertingkah baik, Chanyeol pikir tak ada salahnya  berusaha membuatnya senang. Apalagi gadis itu dalam keadaan yang kurang baik menurutnya tadi.

“Mengapa aku tak melakukan ini sedari tadi, dari pada buang-buang tenaga mengajarinya.” Ucap Chanyeol dalam hati.

Mengayuh sepedanya pelan ia menggeleng tak mengerti mengapa pikiran itu baru datang setelah semua terjadi. Cukup hanya membonceng Haera pasti keinginannya telah sukses tercapai untuk berkeliling taman dengan sepeda.

“Bodoh!” Umpatnya lirih mengatai diri sendiri tapi cukup untuk di dengar Haera hingga membuat gadis itu salah paham.

“Ya! Aku tak melakukan apapun mengapa kau tetap mencelaku.”

Chanyeol yang meringis sakit sekaligus geli pinggangnya di cubit Haera menolehkan kepalanya sebentar ke belakang lalu kembali menghadap ke depan dengan menjawab.

“Siapa yang mencelamu. Mengapa kau berpikir kata itu untukmu?”

“Karena setiap harinya kau selalu memanggilku dengan kata itu.” Protes Haera.

“Itu memang pantas karena kau memang bodoh. Tapi untuk tadi itu bukan untukmu. Sudahlah lupakan. Kau ingin kita berseluncur?” Elak Chanyeol dan mengalihkan pembicaraannya dengan pertanyaan.

“Maksudmu berseluncur?”

Tanpa menjawab dan meminta persetujuan Haera, Chanyeol  tersenyum misterius dan mengayuh sepedanya lebih cepat. Lalu membiarkan sepeda itu meluncur di jalanan yang menurun tanpa berniat mengeremnya. Tertawa senang ia mendengar teriakan histeris Haera dari belakang yang sepertinya ketakutan.

Haera yang memang masih pertama kali naik sepeda itu tak bisa bohong jika kini ia takut. Darahnya berdesir dengan nafas memburu cepat. Menarik kuat baju Chanyeol tak peduli jika nantinya baju itu akan sobek karena tarikannya. Memukul bertubi-tubi punggung Chanyeol agar mau menghentikan sepedanya. Tapi tak juga lelaki itu mau menurutinya.

Nafasnya berangsur-angsur membaik saat sepeda itu kembali berjalan lambat. Haera membuka matanya. Telinganya masih bisa mendengar gelak tawa Chanyeol yang belum bisa berhenti menertawainya. Jalanan menurun sudah terlewati.

Haera mengelus dadanya pelan. Tertawa kini ia baru menyadari bahwa aksi Chanyeol barusan itu membuatnya shock tapi boleh juga untuk dicoba. Itu sangatlah seru.

“Bagaimana? Asyik bukan?” Tanya Chanyeol masih disela tawanya.

“Itu membuatku ingin mati. Tapi tak apa. Kita harus melakukannya lagi. Semangat….!”

“Bilang saja kau suka.” Cibir Chanyeol.

Dengan yel ‘Ajhusi go go go’  dari Haera, membuat energi Chanyeol bertambah. Kakinya berputar cepat mengayuh sepeda saat melihat jalanan menanjak di depan. Sampai di puncak tanjakan itu Chanyeol memberi aba-aba,

“Haera siap-siap. Hana dul set.” Tepat saat hitungan ketiga Chanyeol berakhir, sepeda itu kembali meluncur tanpa harus dikayuh. Chanyeol merentangkan kakinya kesamping dan mengikuti Haera yang sudah berteriak lebih dulu.

“HUWAA….” Hanya itulah yang keluar dari bibir mereka berdua selama sepeda itu terus melesat cepat menuruni jalanan.

0_0

Haera hanya memandang Chanyeol yang sibuk membolak-balik usus babi yang tengah lelaki itu panggang dengan alis bertaut. Bahunya dengan sendirinya terangkat bergidik saat Chanyeol memasukkan makanan yang telah matang ia panggang itu kedalam saus dan memakannya. Chanyeol terlihat menikmati sekali makanan yang lagi-lagi baru Haera lihat pertama kali cara memakannya seperti itu.

Bukannya Haera tak pernah memakan usus babi. Dia cukup sering memakannya. Hanya saja tidak dengan cara seperti itu penyajian dan pengolahannya.

Chanyeol yang melihat mangkok dan sumpit Haera yang masih tak di sentuh menghentikan sejenak makannya. Memandang Haera ia bertanya.

“Mengapa kau hanya melihatku dan tak makan? Kau tau ini sangatlah enak.” Chanyeol kembali melahap dan mengunyah makanannya.

“Tidak. Kau saja yang makan aku tak lapar.” Tolak Haera.

Chanyeol kembali menatap Haera dengan senyum mengejek.

“Baru kali ini aku mendengar kau berkata tidak lapar. Kau akan menyesal jika tidak makan ini.”

“Tidak tidak. Kau makan saja sendiri. Aku tak suka usus babi.” Haera memundurkan kepalanya saat Chanyeol mengarahkan makanan itu ke mulutnya.

“Dasar anak aneh. Aku tak tau apa yang kau makan dari dulu sampai makanan seenak ini kau tak menyukainya. Tentu saja kau bodoh. Orang setiap hari makananmu ramyun.” Ejek Chanyeol.

“Itu karena di apartemen mu hanya ada ramyun.” Bentak Haera jengkel. “Sudahlah aku akan menunggumu di luar.”

Haera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari lestoran. Tak berniat menghina, tapi Haera memang merasa aneh dan em… jijik mungkin dengan yang baru ia lihat barusan. Karena kini ia merasakan perutnya yang mual melihat orang-orang di sekitarnya melahap makanan itu. Dari pada Haera muntah di tempat lebih baik ia cari aman dengan meninggalkan Chanyeol yang tak merespon ucapannya meski hanya  dengan menjawab ‘ya’ karena  mulutnya yang masih penuh dengan makanan saat ini.

Keluar dari lestoran kecil yang begitu ramai pengunjungnya itu Haera melihat sekelilingnya. Chanyeol mengajaknya ke pasar yang cukup terkenal di district di mana apartemennya berada. Pasar 24 jam yang tak pernah mati pengunjung dan penjualnya.

Jika pagi hari hingga siang pasar itu dipenuhi dengan penjual dan pembeli yang mayoritas  berbelanja sayur dan kebutuhan pokok lainnya, berbeda halnya dengan sekarang. Haera yang datang pada jam empat sore itu disuguhi pemandangan para pedagang makanan dan snack jadi yang tengah bersiap-siap menarik pelanggan. Belum begitu ramai. Karena memang biasanya tempat itu mulai padat pengunjung mulai pukul enam ke atas. Dari yang tua sampai yang muda tumpah jadi satu memenuhi jalanan yang memanjang mengikuti bentuk anak sungai itu. Dan Haera nampaknya tahu mengapa Chanyeol yang tak suka berdesakan mau membawanya ke tempat ramai macam itu. Tak lain karena masih sepi.

Haera yang tak tahu ingin melakukan apa hanya mengikuti naluri yang membuatnya berjalan  dan memilih duduk di salah satu bangku semen yang menghadap tepat ke sungai. Semilir angin menyapa wajah dan menerbangkan rambut coklatnya yang terlepas dari ikatan rambut. Menutup mata Haera menghirup udara segar itu dalam-dalam. Seperti meditasi ia melakukan dan menikmati setiap udara yang  keluar masuk di hidungnya kini. Tarikan dan hembusan nafas teratur itu bisa membuat dirinya merasa tenang, damai dan….

“Berisik!” Ucap Haera lirih.

Haera membuka matanya.   Konsentrasinya pecah saat mendengar suara gaduh tiba-tiba mengusik telinganya. Mencari asal suara yang mengganggu ketentramannya menikmati senja sore yang jarang ia lakukan dengan menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tak perlu waktu lama akhirnya ia menemukan sumber pengacau itu.  Seorang lelaki yang diyakini Haera sebagai ayah sekaligus istri dari dua perempuan disampingnya. Haera tahu karena perempuan yang sepertinya berumur sebaya dengannya itu tengah berteriak kencang memanggil kedua dari mereka. Dan tertarik kini ia memandang adegan yang berlangsung tak jauh dari tempatnya duduk.

“APPA, OEMMA HENTIKAN!” Teriak gadis itu lagi dan berdiri di tengah-tengah orang tuanya. Berkacak pinggang gadis itu memandang secara bergantian orang disamping kanan kirinya dengan air mata yang mulai jatuh dan berkata dengan nada tinggi. “APA KALIAN KURANG PUAS MELAKUKANNYA DI RUMAH HA?  DAN SEKARANG KALIAN INGIN MEMBERITAHUKAN KEPADA SEMUA ORANG BETAPA HARMONISNYA KELUARGA KALIAN DENGAN CARA BERTENGKAR DI TEMPAT UMUM SEPERTI INI? DIMANA RASA MALU KALIAN HA!!?”

Lelaki yang sudah mengangkat satu tangannya ke atas hendak menampar istrinya itu menurunkannya dengan kasar. Wajahnya merah menggambarkan betapa hebat emosi yang meluap di diri lelaki itu. Dengan mengumpat kotor ia meninggalkan dua wanita yang mengiringi kepergiannya hanya dengan tatapan mata itu.

Tak berapa lama wanita yang adalah istri lelaki itu juga pergi  berjalan berlawanan arah dengan suaminya. Meninggalkan gadis yang hanya berdiri mematung menatap kepergian orang tuanya sedih dan kian menambah volume suara tangisannya.

Deg!

Jantung Haera serasa terlepas dari tempatnya. Napasnya tercekak saat mata gadis itu menatapnya tajam seolah berkata ‘apa liat-liat! Bosan idup?’ cukup lama.  Membuat Haera merinding dan bergidik.

Meski begitu Haera yang merasa bersalah karena tak seharusnya melihat drama hidup barusan mengangkat satu tangan dan melambai bodoh ke arah gadis yang meresponnya dengan kepalan tangan dan pelototan maha dahsyat ke arahnya.  Kemudian berlalu pergi dengan hentakan keras berjalan menyusul  ayahnya.

Haera yang menatap kepergian gadis tanpa merubah posisi tangannya di atas itu  hanya mengedikkan bahu. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin menempel di telapak tangannya. Menoleh Haera mendapati Chanyeol dan bubble tea yang  ternyata adalah sesuatu yang membuatnya kaget karena rasa dingin  yang menjalar di tangannya barusan.

“Apa yang kau lakukan. Kau terlihat lebih bodoh dari biasanya.” Tanya Chanyeol sembari menjatuhkan dirinya di samping Haera tanpa melihat gadis itu.

“Nggak kok.” Jawab Haera singkat dan menerima Bubble tea yang diberikan Chanyeol.

Setelah percakapan singkat itu tak ada lagi yang membuka suara. Haera terlalu sibuk menikmati minuman beserta mutiara hitam sebagai isinya itu. Bisa dibilang minuman kesukaannya. Karena hampir tiap hari dulu ia merengek pada kakaknya untuk membelikannya minuman itu. Dan untuk sekarang, Chanyeo lah yang menjadi pengganti kakaknya. Hanya perbedaan jauhnya, jika dulu Haera hanya perlu merengek sekali bahkan tak perlu melakukannya pun kakaknya dengan senang hati membelikan minuman itu untuknya, sekarang ia harus merengek yang benar-benar merengek pada Chanyeol agar lelaki itu bersedia membelikannya.

Haera merasa ada yang ganjil dengan sikap Chanyeol. Menghentikan aktifitasnya dari menyedot butiran hitam dalam minumannya itu, Haera memiringkan kepala bertanya pada Chanyeol penuh selidik.

“Perasaan hari ini aku belum memintamu mengasihiku dengan membelikan bubble tea. Tapi… mengapa kau membelikannya. Atau jangan-jangan… kau …meracuniku?” Tuduh Haera langsung pada apa yang ada di otaknya.

Chanyeol melirik malas ke Haera. Tanpa aba-aba langsung saja ia menyerobot minuman dari tangan Haera dan menyedotnya. Setelah minuman yang sebelumnya memenuhi mulutnya itu meluncur ke perut, Chanyeol yang entah sejak kapan urat malunya putus itu menyekik lehernya sendiri. Kaki dan tubuhnya ia kejang-kejangkan dengan mata dibuat seperti orang sekarat dan berteriak ‘tolong-tolong aku keracunan’ berulang kali.

Haera tak tahu mana yang harus ia lakukan terlebih dulu. Tertawa terbahak bersimpuh  di tanah sembari memegang perutnya yang kaku atau menghentikan tingkah Chanyeol yang sangat membuatnya malu karena jadi bahan tontonan  orang di sekitar. Mungkin pilihan yang kedua lebih baik untuk segera ia ambil meski tawanya juga tak bisa ia bendung.

Menepuk lengan Chanyeol  berulang kali Haera memaksanya untuk mengakhiri akting bagus tapi terlihat jelek untuknya itu.

“Ya ya ya. Hentikan. Apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita.”

Chanyeol berhenti dan berkata, “Aku keracunan.” Dengan wajah polos. Tapi detik berikutnya ia kembali mendalami aktingnya bahkan kian menjadi.  “Akh…akh Haera tolong aku. Ada seseorang yang meracuniku. Tolong… tolong…!” Teriaknya lagi dengan penjiwaan wajah orang yang sangat tersiksa.

Merasa lelah dengan aksinya Chanyeol berhenti dan menatap Haera sengit tak lupa mendorong kepalanya dengan telunjuk.

“Jika aku ingin melakukannya sudah dari dulu tanpa harus menunggu hari ini bodoh!.” Ucapnya ketus.

Haera menerima kembali  minumannya yang sempat direbut Chanyeol. Tawanya tak bisa berhenti sampai air matanya keluar. Demi apapun itu adalah tingkah terkonyol Chanyeol yang pernah ia lihat. Haera tak tahu jika Chanyeol memiliki bakat humor selain marah-marah.

Mengaduk-aduk bubble tea-nya terlebih dulu Haera mencoba meredam tawanya. Merasa sudah sedikit baik, ia kemudian kembali meminum minumannya.

Entah kejatuhan ilham dari mana tiba-tiba saja otaknya teringat sesuatu. Tanpa melepas sedotan dari bibirnya, percaya atau tidak kini pipi Haera memanas mengeluarkan semburat pink. Ketika menyadari bahwa Chanyeol baru saja meminum minumannya. Yang artinya Chanyeol  juga menggunakan sedotan sama seperti yang ia gunakan. Dengan kesimpulan akhir, mereka baru saja berciuman dengan cara tak langsung.

Chanyeol yang melihat Haera tak bergerak bahkan tuk berkedib pun menautkan alisnya heran. Berdadah-dadah di depan wajah Haera, Chanyeol berhasil membuat gadis itu tersadar.

“Kenapa ? Keracunan ?” Tanyanya yang lebih mirip sindiran.
“Ha? Oh ti tidak kok.” Jawab Haera menggaruk kepalanya salting. “Jam berapa sekarang?” Imbuhnya.

“Aku tak memakai jam tangan.”

“Kan ada ponsel.”

“Ponselku Rusak.”

“Kok bisa.”

“Kenapa harus tak bisa.”

“Penyebabnya?”

“Mau tau banget deh. Ngalahin ibu-ibu penggosip aja cerewetnya.” Jawab Chanyeol jengkel dengan pertanyaan yang menghujaninya dari Haera.

Haera diam. Otaknya lagi-lagi kembali dengan pikiran yang kini membuatnya merogoh saku untuk mengambil benda di dalamnya. Benda yang adalah kalung pemberian Chanyeol tempo hari itu tak pernah sekalipun Haera meninggalkannya. Terlalu sayang ia sampai-sampai tak ingin jauh dari kalung itu.

Memakai kalung itu sendiri, kemudian ia mengalungkan kalung satunya keleher Chanyeol. Tersenyum Haera menanggapi tampang kaget sekaligus heran Chanyeol.

“Mengapa kau memberikannya padaku?” Tanyanya sambil memandang kalung dan wajah Haera bergantian. Tak ada respon Chanyeol kembali berucap. “Bukankah dulu kau bilang kalung ini akan terlihat indah jika tak terpisah. Karena liontinnya akan menjadi hati yang utuh jika kalungnya tetap berdekatan.”

Haera hanya mengangguk. Mendengarkan Chanyeol yang nampaknya masih ingin melanjutkan ucapannya dengan menerawang langit sore.

“Aku pikir jenius juga orang yang membuatnya. Bukankah ini sama artinya jika orang yang saling mencintai jika berdampingan satu sama lain akan terasa jauh lebih indah. Yang tentunya akan membawa kebahagiaan dan ketentraman bagi mereka. Dan sebaliknya, apabila mereka berpisah dan berjauhan maka hanya akan menjadikan hati mereka patah dan buruk. Yang tentunya pasti akan terasa sakit dan memilukan.  Bukankah kau juga beranggapan begitu?”

“Ehem.” Haera mengangguk. “Maka dari itu aku sangat menginginkannya dulu . Karena dibalik benda kecil ini tersimpan makna yang besar.” Tambah Haera jujur.

Chanyeol ikut manggut-manggut menyetujui perkataan Haera. Menjatuhkan pandangannya ke kalung yang melingkari lehernya, wajahnya terlihat seperti orang berpikir.

“Eh tunggu sebentar,” Chanyeol menegakkan punggungnya. “Waktu itu kau pernah bilang tak ingin menjauhkan kalung ini agar liontin hatinya tetap utuh. Jangan bilang sekarang kau memberinya padaku karena  kau tak ingin jauh dariku. Haera! Kau menyukaiku? Oh… Tuhan aku tak menyangka. Demi apa? ” Tanya Chanyeol dengan ekspresi kaget yang sangat kentara dibuat-buat.

Haera yang sebelumnya sudah menduga Chanyeol akan mengeluarkan pertanyaan terakhir itu menyikapinya dengan santai.

“Demikian.” Sahut Haera cepat. “Dengarkan aku ya, aku tak tau mengapa kau berpikiran sampai sejauh itu. Aku memberinya padamu bukan berati aku menyukaimu. Kalung ini diberikan ajhuma itu padamu bukan padaku.  Jadi kau berhak memilikinya satu.”

“YA HAERA! MENGAPA KAU MASIH TAK PERCAYA PADAKU. DIA TAK MEMBERIKAN ITU CUMA-CUMA. AKU MEMBELINYA. DAN APA KAU LUPA SEBAB DEMAMKU KEMARIN. ITU KARENA AKU DENGAN BODOHNYA MAU MENCARI KALUNG ITU DI DALAM KOLAM UNTUK ORANG YANG TAK PUNYA TERIMA KASIH SEPERTIMU.”  Sahut Chanyeol cepat. Ludahnya sampai muncrat keluar karena tak santainya lelaki itu berbicara. Bosan sudah Chanyeol memberitahu Haera bahwa dia membeli kalung itu. Bukan gratisan.

Haera memutar duduknya hingga menghadap Chanyeol. Jangan pernah berpikir gadis itu takut dengan reaksi Chanyeol yang seolah ingin memakannya hidup-hidup sekarang. Justru Haera menanggapi kemarahan Chanyeol itu dengan ucapan santai. Sangat santai.

“Aku adalah orang yang lebih percaya dengan perkataan yang pertama kali terucap. Dulu saat aku bertanya mengapa kau membelinya, bukannya kau sendiri yang bilang ajhuma itu memberikannya padamu. Jadi aku lebih percaya perkataanmu yang itu.”

Chanyeol mati kutu. Keinginan hatinya untuk menceburkan Haera dalam sungai sesegera mungkin itu musnah. Jika dipikir kembali memang salahnya waktu itu yang mengatakan bibi penjual itulah yang memberikan kalung untuknya. Chanyeol merasa malu jika sampai Haera berpikir ia terlalu baik padanya. Entah apa yang membuatnya seperti itu Chanyeol sendiri  juga tak paham. Tapi satu yang bisa Chanyeol petik dari kejadian itu. Jangan pernah merasa malu dengan orang bodoh, menyebalkan,tak berguna macam  Haera.

Pasalnya setelah ia memberikan kalung itu dan  berkata bohong, Haera selalu mengagung-agungkan bibi penjual itu dengan kalimat-kalimat manis pujiannya. Setiap saat, setiap waktu dan setiap berpapasan dengannya. Membuat Chanyeol gerah dan mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi terlambat. Dan harusnya Chanyeol tahu itu dari awal.

Seberapa besar Chanyeol meyakinkan Haera tetap saja gadis itu tetap kukuh dan percaya kebohongannya. Apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Chanyeol hanya bisa menerima tindakan bodohnya dan menjawab celoteh Haera dengan malas.

“Asal kau senang  saja. Terserah. Aku mau pulang.”

Haera tersenyum puas melihat Chanyeol yang kini berdiri dan berjalan menjauhinya. Senang gadis itu berhasil membuat Chanyeol frustasi dengan sikapnya seperti itu. Tapi ketahuilah, bahwa Haera sebenarnya sudah percaya dengan apa yang Chanyeol katakan. Bahkan sebelum Chanyeol berkata yang sebenarnya. Tujuan gadis itu tak lain hanya ingin melihat wajah kesal Chanyeol. Karena itu adalah hiburan menarik. Sangat menarik.

0_0

Chanyeol dan Haera berjalan bersebelahan. Setelah mengembalikan sepeda sewa yang tadi mereka gunakan, keduanya langsung bergegas pulang.

Tak ada yang bersuara. Sejak meninggalkan Taman hingga kini mereka sudah hampir tiba di apartment. Hanya keramaian lalu lintas yang mengisi keheningan itu. Capek mungkin salah satu penyebabnya.

Tepat setelah melewati belokan jalan mata Chanyeol mengernyit saat melihat mobil yang tak asing itu terparkir di depan gedung apartemennya. Dia belum yakin jika mobil yang ia lihat itu milik sahabat barunya. Namun tanpa sadar bibirnya bergumam  menyebut pemilik mobil itu.

“Baekhyun?”

Haera mengangkat kepala yang sebelumnya menunduk melihat jalanan itu. Telinganya mendengar gumaman Chanyeol tapi tak bisa mendengar dengan jelas apa yang lelaki itu katakan.

“Bacon? Daging asap?”

Chanyeol memutar bola matanya malas. Tak hanya sekali dua kali ia mendapati telinga Haera yang tak berfungsi dengan baik. Karena itu Chanyeol sudah terbiasa jika harus mengulangi kalimatnya dua tiga kali sampai Haera bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi tepat saat ia ingin mengulang nama yang tadi ia sebut, terdengar suara yang diyakini Chanyeol pelakunya lebih dari satu berteriak dari belakang bersamaan.

“HAERA!!”

Mau tak mau mereka, Chanyeol dan Haera menoleh. Haera tersenyum lebar mendapati dua orang sahabatnya yang berjalan mendekat ke arahnya. Berbanding terbalik dengan Chanyeol yang langsung memasang wajah masamnya melihat dua orang itu. Jujur, Chanyeol belum bisa melupakan kejadian dimana dua orang itu menagih hutang Haera padanya.

“Kalian baru pulang?” Sapa Haera pada orang yang tak lain adalah Jongin dan Sehun, sahabatnya.

“Ya ni, anak kebanggaan keluarga Oh tadi dengan baik hati menunggu Mr. Kim  yang bandelnya minta ampun  itu tuh,” Sehun menunjuk Jongin mengejek. “menyeleseikan tugas hukumannya di akhir pelajaran.  Kasian dia jika dibiarkan pulang sendiri. Gitu-gitu langka nyarinya.  Jadinya kita pulang telat deh.” Terusnya.

Jongin menatap Sehun datar. Tak ada niat tuk meladeni ‘kesok’ pedulian Sehun yang  dikatakan sedikit sengak. Seolah dia adalah anak baik-baik yang tak pernah keluar masuk ruang BK seperti dirinya.

Tak ambil pusing dengan kebiasaan lidah tak bertulang Sehun, Jongin tersenyum menyeringai melihat orang disamping Haera yang hanya diam bermuka jutek memperhatikan percakapan mereka. Jongin memang terlihat lebih dewasa dalam perkataannya dari pada Sehun. Tapi untuk urusan meledek orang mereka berdua tak ada kata perbedaan. Sama. Tak ada yang dipilih mana yang lebih baik.  Karena mereka adalah raja dari pembuat jengkel orang.

Melambai tangan Jongin menyapa Chanyeol.

“Eh ada Chanyeol hyung, apa kabarnya. Sudah sembuh nih. Tapi tadi kok gak sekolah. Bolos ya….”

Chanyeol tambah menekuk wajahnya sebal mendengar lontaran sapaan Jongin yang terdengar ingin memancing amarahnya keluar. Tapi untuk saat ini Chanyeol tak ingin atau belum ingin meluapkan emosinya. Terlalu berharga tenaganya jika digunakan untuk meladeni manusia-manusia tak berguna di depannya. Maka dari itu Chanyeol memutuskan untuk diam.

Ucapan Jongin seolah membangunkan Jin yang masih tertidur dalam tubuh Sehun. Melihat mangsa empuk di depannya dengan semangat ia ikut andil mengeluarkan suara.

“Wah iya ni baru liat ada orang sebesar ini. Telinganya apa lagi wuih… gede bener. O ya hyung, sekedar pemberitahuan aja, mau jadi apa masa depan negara ini jika anak bangsanya saja sekolah tak becus dan suka bolos. Malu dong. Contoh ni kita-kita. Gak pernah ada dalam kamus kita yang namanya bolos. Ya nggak Jong?”

“Pastinya,” Jongin menyambut high five Sehun dan kembali membuat bara tuk membakar emosi Chanyeol.”Hun tau gak hukuman untuk orang yang pura-pura sakit biar gak sekolah atau bahasa kasarnya bolos.” Tanya Jongin kemudian.

“Paling ringan juga suruh sikat kamar mandi dari lantai satu sampai empat.”

“Wah kebetulan banget tu. Tukang bersih-bersih sekolah kan udah seminggu gak masuk. Gimana kalau kita laporin aja ni hyung. Tadi aku ke kamar mandi sumpah kotor banget. Ampek pipis aja gak jadi. Pilih aku tahan.”

“Jongin ide bagus tu,” Tambah Sehun girang sembari menonjok lengan Jongin pelan. “Laporin yuk laporin….”

“Laporin laporin….”

Kepala Chanyeol yang hari ini sudah tak terasa sakit seketika mendadak seperti dipukul palu. Bukan karena ancaman abal yang keluar dari mulut Sehun dan Jongin yang Chanyeol anggap busuk itu. Terlebih pada tingkah kedua manusia yang tak lebih dewasa dari anak sekolah dasar. Dan Chanyeol benci jika ada orang  yang memperlakukannya seperti menakuti anak kecil persis seperti yang Sehun dan Jongin lakukan.

Emosi yang awalnya Chanyeol pendam dalam-dalam kini mulai muncul kepermukaan. Wajahnya memerah. Tangannya mengepal. Mulutnya mengatup rapat dengan giginya yang gemertak. Dan jika saja mata Chanyeol bisa mencabik-cabik orang yang ia tatap, sudahlah pasti Sehun dan Jongin sekarang masuk rumah sakit karena tersayat sorot tajam mata itu.

Sehun dan Jongin yang melihat itu tak merasa takut. Justru semakin gencar membuat bara itu menganga di diri Chanyeol. Dengan kata ‘laporin yuk’ diucapkan entah sudah keberapa kalinya, mereka juga tak tahu diri melirik Chanyeol yang menahan emosinya sudah pada level ‘awas bahaya! Beruang lepas’ itu dengan lirikan menggoda.

Chanyeol menghirup nafas dalam. Tak ada gunanya ia pikir jika tetap berdiri di sana yang berakhir dengan membuat anak orang masuk UGD sekarang. Meski tak dipungkiri jika Chanyeol ingin sekali menyumpal mulut Sehun dan Jongin dengan tonjokan terkuat yang ia punya. Tapi Chanyeol masih bisa berpikir jernih bahwa itu tindakan yang lebih kekanak-kanakan dari yang Sehun dan Jongin lakukan padanya.

Berlandaskan pemikiran itu, Chanyeol meninggalkan mereka tanpa sepatah kata. Dapat ia dengar dari belakang gelak tawa menyebalkan itu menertawai wajah nya yang memerah padam. Sayup-sayup ia mendengar Haera yang membelanya dengan memarahi Sehun dan Jongin dari belakang. Dan karena itu tanpa sadar bibirnya melukis senyum tipis. Sedikit mengurangi amarahnya yang menyembul ke atas.

“Kalian gak boleh gitu dong. Dia memang sakit kok.”

Haera yang sedari tadi diam melihat kejadian di depannya itu kini angkat suara setelah kepergian Chanyeol. Memang tak salah jika gadis itu juga sering mengerjai Chanyeol. Tapi saat melihat Sehun dan Jongin yang melakukannya entah mengapa Haera jadi kasihan melihat Chanyeol yang menahan emosinya barusan. Terlepas dari dialah orang yang membuat Chanyeol sakit, Haera juga merasa tak suka.

“Kalian kok tau dia belum masuk?” Tambah Haera lagi dengan pertanyaan.

Jongin yang lebih dulu bisa meredam tawanya menjawab Haera.

“Sejak tiga hari lalu kau pagi-pagi datang untuk menyuruhku membuat surat ijin untuknya, aku tak pernah melihatnya di sekolah sampai hari ini.”

Haera hanya manggut-manggut mengerti.

“Oh ya Ra, Sabtu malam ini kau ada acara?” Tanya Jongin.

“Em… kayaknya nggak deh. Mang kenapa?” Jawab Haera.

“Gini, kalau kamu nggak ada acara aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahun anak kepala sekolah. Acaranya bebas. Boleh mengajak siapa aja. Dan gak juga harus berpasangan cewek cowok sih. Tapi untuk hari itu aku nggak ingin datang bersamanya.” Jongin mengarahkan dagunya ke Sehun.

Sehun yang dapat tatapan dari Jongin memalingkan wajahnya dari lelaki berkulit tan itu dan meletakkan telapak tangannya di depan muka Jongin.

“Oh maaf Mr.Kim, meskipun kau mengajakku aku juga akan senang hati untuk menolaknya.” Sehun menurunkan tangannya dan kembali menatap Jongin. “Itu bukan acara yang level untuk orang sekeren diriku.”

“Teserah bagaimana mulutmu berucap dengan nyaman.” Sahut Jongin malas. “Jadi gimana Ra, bisa nggak?” Tanya Jongin sekali lagi.

Haera terlihat berpikir namun tak lama setelah itu ia mengangguk. Pertanda setuju.

“Baiklah.”

0_0

“Selesei!! Akhirnya…. Hah… tanganku rasanya keriting.” Chanyeol meletakkan bulpennya dan langsung menghempaskan punggungnya ke belakang menyender di sofa.

Baekhyun tersenyum melihat sahabatnya yang  terlihat capek seperti habis mengangkat balokan kayu berat di depannya. Sedikit berlebih memang, pasalnya Chanyeol hanya menyalin  tulisan dari buku Baekhyun ke buku tulisnya. Itupun tadi Baekhyun juga sempat membantunya menulis.

“Besok kau sudah mulai masuk?” Tanya Baekhyun yang duduk di lantai bersebrangan meja dengan Chanyeol.

“Iya. Besok aku sudah mulai masuk. Eh terima kasih banyak ya sudah mau repot-repot datang karena Mrs. Lee menyuruhmu kesini. Dan terima kasih juga bantuannya. Kalau tak kau bantu tadi besok lusa baru selesei mungkin aku ngerjainnya.” Ucap Chanyeol sungguh-sungguh yang kini sudah dalam posisi duduk tegak.

“Sebenarnya meskipun Mrs. Lee tak menyuruhku datang, kemarin aku juga sudah ingin menjengukmu. Tapi karena Appa mendadak telpon dan bilang  keberangkat ke Cinanya diajukan kemarin aku langsung pulang untuk melihatnya sebelum terbang.”

“Benarkah?” Tanya Chanyeol antusias. Sedikit tersanjung ia mendengar lontaran kalimat Baekhyun yang mau menjenguknya atas kemauan dirinya sendiri.

“Apakah aku terlihat tidak benar-benar dalam mengucapkan kataku barusan?” Baekhyun bertanya balik yang langsung di jawab Chanyeol dengan senyum lebarnya.

“Tidak-tidak, aku percaya kok. Terima kasih. Kau tau? Sulit bagiku tadi mempercayai pengelihatanku  yang melihat kau tertidur di lobi bawah. Apa kau menungguku lama?”

“Tidak. Baru satu jam.”

“Jangan menyindir. Aku tau itu waktu yang lama. Maaf membuatmu menunggu. Tadi aku merasa bosan di kamar terus jadi kuputuskan tuk bersepeda.”

Baekhyun lagi-lagi tersenyum  mendengar perkataan Chanyeol. Melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, ia menjawab diiringi tangannya yang sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Mengapa kau suka sekali tak percaya dengan apa yang ku katakan. Aku tak menyindirmu. Satu jam bukanlah waktu yang lama. Karena sesungguhnya waktu itu sangat cepat berjalan. Sampai cepatnya hingga aku tak sadar telah menjadi remaja dewasa seperti sekarang. Padahal baru kemarin rasanya aku lulus TK. Dimana waktu itu aku masih bebas bermain tanpa harus memikirkan masalah yang ada seperti saat ini.” Baekhyun menghentikan kegiatan beberesnya dan menatap Chanyeol dengan tangannya yang menutup mulut.

“Eh maaf kenapa aku jadi ngelantur begini. Lupakan apa yang barusan aku bilang. Tapi jangan merasa bersalah membuatku menunggu.” Baekhyun kembali memasukkan bukunya setelah berkata. Tak berapa lama ia menyeleseikan kegiatannya, ia kembali bersuara tuk pamit.

“Aku masih ada urusan di luar. Aku harus pergi sekarang.” Katanya sembari berdiri.

Melihat itu Chanyeol juga ikut berdiri dari duduknya mengurungkan niatnya tuk bertanya pada Baekhyun.

“Aku akan mengantarmu sampai lantai bawah.” Ucap Chanyeol.

“Tak usah. Istirahatlah itu lebih membuatku senang karena kau terlihat capek sekarang.”

“Sampai depan lift. Dan aku tak ingin mendengar kau berkata tidak. Kau tau itu takkan membuatku lelah bukan?”

Baekhyun tersenyum mendengus dan menganggukkan kepala.

“Ok jika itu maumu.” Jawab Baekhyun singkat.

Merekapun keluar bersama menuju pintu lift. Chanyeol tak henti-hentinya berterima kasih pada Baekhyun dan menyuruhnya untuk tak sungkan datang lagi jika ada waktu luang.

Menunggu sedikit sabar akhirnya pintu itu terbuka. Baekhyun melambaikan tangan dan masuk ke dalam kotak besi yang akan membawanya ke lantai dasar itu. Senyuman Baekhyun masih bisa Chanyeol lihat sebelum pintu itu menutup menghalangi  pandangannya.

Bertepatan dengan pintu sebelah kanan Chanyeol berdiri itu tertutup, lift sebelahnya terbuka lebar. Memperlihatkan orang yang seketika membuat senyum Chanyeol jatuh berganti menjadi wajah masam.

Haera yang sebenarnya tadi merasa capek tapi tak ada pilihan untuk menolak paksaan Sehun dan Jongin untuk bertanding game, sedikit kaget melihat Chanyeol yang berdiri dengan tangan melambai dan senyum mengembang  berdiri di depan lift. Keluar dari lift itu Haera langsung menyapa Chanyeol dengan senyum jail seperti biasanya, yang  sudah pasti akan membuat Chanyeol enek.

“Ya ajhussi, kau sedang menungguku ? Kau takut aku tak kembali ya…,” Chanyeol melirik sinis Haera yang menepuk pundaknya keras. “Tenang, aku hanya mampir ke warnet yang tak aku datangi selama kau sakit kok. Jadi kau tak usah khawatir jika aku tak kembali sampai rela menungguku seperti ini.” Imbuh Haera yang tak mempedulikan tatapan maut tengah mengarah padanya.

Chanyeol menampik tangan Haera yang masih memegang bahunya. Dengan tangan bersedekap ia menjawab ucapan Haera malas.

“Apa aku orang yang tak berguna sampai harus menunggu orang bodoh sepertimu. Mau kau kembali atau tidak tak berpengaruh padaku.” Chanyeol membalik badan untuk pergi. Tapi dengan cepat ia berbalik lagi dan berkata tepat di depan wajah Haera.

“Meski jujur, kau tak kembali itu membuatku lebih baik. Jauh…  lebih baik! Kau tahu? Aku di sini mengantar sahabatku bodoh!”

Haera mengerjap beberapa kali saat Chanyeol menarik wajah yang terlampau dekat dengannya itu kebelakang. Mengusap kening yang didorong telunjuk Chanyeol saat mengucapkan kata ‘bodoh’ itu dengan cemberut. Kemudian mengikuti Chanyeol yang sudah masuk terlebih dulu ke dalam apartemen dan duduk di sampingnya.

“Sahabat? Kau punya sahabat? Bahkan aku tak percaya lelaki kasar sepertimu punya sahabat.” Ledek Haera.

“Jangan sembarangan. Kau tau siapa tadi yang datang?”

Haera menggeleng. Senyum bangga langsung terukir di bibir Chanyeol saat memulai ceritanya.

“Dengarkan baik-baik ya, tadi itu  yang datang adalah sahabat baruku. Dia adalah anak baru di sekolahanku. Tapi langsung masuk deretan murid terkenal karena parasnya yang tampan. Tak hanya wajahnya yang dikagumi banyak murid, tapi juga karena sifatnya yang baik dan ramah senyum. Dan ada lagi fakta yang menambah nilai plus yang membuat dia terlihat sempurna. Dia adalah anak dari pengusaha kaya raya di Korea ini. Hebatkan aku?” Chanyeol mengakhiri cerita yang diceritakan penuh semangat itu dengan menepuk dadanya bangga.

“Mengapa kau yang merasa hebat!?” Heran Haera.

“Karena aku bisa jadi sahabat orang kaya.” Chanyeol menyenderkan punggung ke belakang. “Heh… pasti aku akan jadi orang paling bahagia di dunia ini jika dilahirkan dari keluarga kaya raya sepertinya.”

“Apa kau merasa miskin dengan hidupmu sekarang ?”

“Ha ?” Chanyeol menoleh ke Haera.

“Apa kau merasa tak cukup makan sehari-harinya,  memeras keringat hanya untuk nasi sesuap, kedinginan karena tidur hanya beralaskan kardus, bertempat tinggal di daerah kumuh atau lebih parahnya di bawah kolong jembatan ?”

“Ya Haera mengapa kau….”

“Jangan hanya melihat ke atas, karena itu hanya akan membuatmu tak bersyukur dengan apa yang kau miliki saat ini. Tapi cobalah lihat ke bawah juga. Karena dengan begitu, kau akan merasa menjadi manusia yang beruntung dengan pemberian yang Tuhan limpahkan padamu sekarang.”

“Sejak kapan kau jadi motifator begini!?”

“Ketahuilah, orang kaya tak menjamin orang itu bahagia. Meski tak dipungkiri jadi orang kaya adalah impian setiap orang untuk bahagia. Namun sesungguhnya kebahagiaan utama itu bukanlah kekayaan yang melimpah. Tapi adalah jika kita sehat. Karena dengan sehat kita bisa menikmati indahnya hidup meski hanya makan seadanya.” Haera menghembuskan nafas dan menarik pandangan lurus kedepannya untuk menatap Chanyeol.  Kau paham maksudku?” Tanyanya.

Haera tersenyum dan berdiri. Menepuk pundak Chanyeol yang terlihat mengerutkan dahi bingung itu ia kembali berkata,

“Kau sudah beruntung ajhussi, Tuhan sudah berbaik hati padamu.”

Lalu pergi. Hanya menyisakan Chanyeol yang diam menatap punggung yang berjalan menjauh itu sedikit aneh  tak seperti biasanya dan… terlihat rapuh. Tak seperti Haera biasanya.

0__0

Haera menguap lebar setelah sebelumnya mengulat melemaskan otot-ototnya sehabis bangun tidur. Terduduk dengan selimut yang masih melekat di badannya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu. Sepi. Hanya denting jarum jam berjalan yang mengisi gendang telinganya saat ini.

Pukul 10.00 pagi mendekati siang. Chanyeol sudah pasti berada di sekolah sekarang. Pikir Haera.

Kembali menguap Haera teringat dengan pesan Chanyeol tadi pagi sebelum lelaki itu berangkat sekolah. Melirik meja di sampingnya Haera melihat lembaran uang yang ditinggalkan Chanyeol untuk menyuruhnya belanja. Dengan malas ia melipat kasur dan selimut yang ia gunakan tidur di lantai ruang tamu itu lalu meletakkannya di lemari.

Bukannya apartemen itu hanya memiliki satu kamar. Ada tiga kamar yang tersedia di sana. Tapi dua kamar lainnya terisi  penuh dengan barang-barang Chanyeol yang belum sempat ditata. Jadi lebih mirip gudang dari pada di sebut kamar. Sehingga selama tinggal di sana Haera tidur di lantai beralaskan kasur yang untungnya sedikit tebal hingga tak membuatnya kedinginan.

Mengucek matanya Haera ngomel tak jelas tentang bagaimana bisa ia bangun kesiangan hari ini. Mungkin karena tadi malam gadis itu tak bisa tidur dikarenakan  kepalanya yang terasa ditusuk-tusuk jarum dari dalam adalah penyebab utamanya.

Kini Haera buru-buru pergi ke kamar mandi saat merasakan perutnya yang mual. Sampai di dalam Haera menatap lekat pantulan wajahnya di cermin yang memerah sehabis mengeluarkan isi dalam perutnya yang meronta ingin di keluarkan dari mulut itu. Hanya berupa cairan berlendir. Dan Haera sudah terbiasa dengan hal itu.

Membasuh wajah dan berkumur, Haera tersenyum menatap cermin itu. Senyuman lebar tanpa ekspresi yang lama kelamaan memudar menjadi seringaian yang tak pernah ia tunjukkan di wajah ceria tanpa cacatnya. Tapi yakinlah, seringaian itu timbul bukan karena dalam otaknya merencanakan sesuatu yang jahat. Seringaian itu hanya bentuk ungkapan Haera yang sangat mengasihani dirinya sendiri sekarang. Karena seringaian itu kini berubah menjadi isakan kecil  yang tak ada satu orangpun yang bisa mendengarnya.

.

Haera yang sebenarnya malas beranjak dari sofa ketika sedang menonton acara TV itu mau tak mau harus berdiri untuk pergi  berbelanja saat merasakan perutnya yang meraung minta asupan namun tak ada barang yang bisa ia makan dalam kulkas. Meraih jaket dan uang yang ditinggalkan Chanyeol itu ia berjalan keluar dari apartemen.

Sekitar lima belas menit berada dalam bus, Haera kini sudah turun dari transportasi itu. Matanya menerawang ke atas melihat langit yang sedikit berawan menyembunyikan sinar mentari siang hari itu. Terus berjalan kini ia berhenti dan berdiri di tepi jalan  menunggu lampu merah itu berubah warna.

Haera bersiap menyebrang saat lampu hijau itu menyala. Kalau saja sebuah mobil yang baru melaju itu tak melewati kubangan air yang menggenang di dekatnya berdiri hingga muncrat kearahnya dan membuatnya basah kuyup sekarang.

Menganga lebar Haera tak percaya dengan apa yang barusan menimpanya. Langsung saja ia   melotot ganas ke arah mobil yang kini berhenti tak jauh di depannya. Menggulung lengan jaket dan bajunya ke atas seolah ingin bertarung, Haera berjalan menghampiri mobil itu dengan berkacak pinggang.

Sampai di depan mobil itu Haera mengetuk pintu kacanya brutal. Masa bodo dengan tatapan orang yang melihatnya seperti Kuda lepas dari kandangnya. Bahkan Haera lupa sekarang jika kodratnya dilahirkan di dunia ini sebagai perempuan. Tak pantas jika bersikap seperti anak lelaki yang ingin duel.

Peduli amat. Pikir Haera. Yang ingin Haera lakukan hanyalah memberitahu pengemudi yang menurutnya ugal-ugalan itu agar lebih hati-hati membawa mobilnya.

“Ya kau keluar kau. Lihat apa yang kau lakukan. Kau harusnya lebih bisa memilih jalan agar tak merugikan pejalan kaki.  Mentang-mentang membawa mobil mahal kau bisa seenaknya. Kau pikir aku tak kedinginan dengan baju yang….”

Tanpa menunggu lama Haera langsung memberondong pengemudi itu dengan kalimat tanpa ampun. Mulutnya terus mengeluarkan kata protes tanpa menunggu pemilik mobil itu turun lebih dahulu.

Namun tiba-tiba Haera tak bisa melanjutkan kalimatnya. Mulutnya serasa tercekak tak bisa berkata saat sang pemilik mobil itu menurunkan kacanya hingga Haera dapat melihat wajahnya. Bahkan Haera sempat mundur ke belakang karena kaget saat pengemudi lelaki itu melepas kaca mata hitam yang tadi menutupi mata kecilnya.
Dengan nada suara yang terkejut, Haera memanggil lelaki itu,

“OPPA!”

0__0

=TBC=

Jreng jreng…….
Gak lama kan lanjutannya…. iya kan….

Hehe sebenarnya sih ni cerita udah ngendap di draf seminggu dan udah jadi. Tinggal baca ulang. Tapi karena ada seseorang yang ngalihin dunia author jadinya gak sempet baca ulang dan jadilah molor ngirimnya.

Udahlah ya gak usah banyak bacot. Dan gak lupa juga mau ngucapin makasih buat authornya yg bantu ngepos. Buat teman aku Pungky ya buatin poster unyu munyu ngegemesin itu. Dan gak lupa juga buat pembaca yang mau baca ff abal ini. Malah jadi pidato kan-__-, ya udah lupain aja.

Ngomong2 ada yang bisa nebak siapa kira-kira lelaki yang Haera panggil oppa?

7 thoughts on “Don’t Go part 4

  1. Taera berkata:

    Waaah..
    Seru thor seru.. Lanjut thor jangan lama-lama..

    Kata siapa gk lama nungguin ni epep? Lama thor lama..

    Keep writing🙂

  2. Suharnila berkata:

    Keren thor…
    Lucu bnget scane na jongin vs sehun,,sumpah ngakak abis deh..,pa lgi pas godain si yeoli.
    Btw da pa sma haera,,kyak na dia skit ae,,huhuhu kasihan…

  3. Suharnila berkata:

    Aduh kpotong commen aku,, Keren thor…
    Lucu bnget scane na jongin vs sehun,,sumpah ngakak abis deh..,pa lgi pas godain si yeoli.
    Btw da pa sma haera,,kyak na dia skit ae,,huhuhu kasihan…,,pi skit pa,prah ga??#kokjdikepo#
    Akhirnya ktemu uga sma baeki,,kirain msih lma ktemu na..

  4. Fafa sasazaki berkata:

    NEXT CHAP YANG CEPET THOR…

    Baca’a pke acara tegang sgla tau,, tegang kalo2 haera ktmu baeki,

    seru y kl pnya tmen macam sehun ma jongin

    eh,haesul ending’a jd nebak2 nie, sm baek pa jongin??

  5. ParkJudit berkata:

    Thor! Ini kpn next nya! Gua penasaran pkek B.G.T ! Cepet ya thor nexy nya! Gua pan ank manusia yg kgak bisa sabar!😀

  6. ParkJudit berkata:

    Thor! Ini kpn next nya! Gua penasaran pkek B.G.T ! Cepet ya thor nexy nya! Gua pan ank manusia yg kgak bisa sabar!😀
    Author tau bgt kesukaan gua. :v😀
    FF yg ada Chanyeol nya trus comedy2 gitu .
    Ahhh~ Author pengertian dech. :v😀

  7. Ngok berkata:

    Aduh gembel , ya Allah thor aku bacanya sampe deg deg ! Ya ampun thor kapan kissing scene yang sebenarnya terjadi ! Greget dehh , itu yang di panggil ‘oppa’ sama haera itu baekhyun ya ??!! Ya kann !! Tetep lanjut thor ! Fightingg !!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s