LITTLE THING (CHAPTER 3)

Author                        : Tob @nadyamalifah

Genre                          : School life

Length                        : Multichapter

Rating                         : –

Main Cast                   : Kim Jong In

Oh Hayoung

Other Cast                  : You will find them

 

Author POV

“Benarkah itu kau Kai? Jongin, mungkinkah kau Kai? Seseorang yang kutunggu-tunggu selama ini? Mungkinkah?”  Beribu pertanyaan berputar di otak Hayoung. Dengan pemikiran yang kurang matang, Hayoung bertanya kepada Jongin.

“Kkamjong-a…”

“Hm?” Alis Jongin mengerut, bingung dengan suara parau yang dikeluarkan oleh mulut Hayoung.

“Apakah kau………”

 

Hayoung POV

Tanpa sadar aku memanggil Jongin.

“Kkamjong-a…”

“Hm?”

“Apakah kau………”

“Apa Hayoung-a?”

“Apakah kau punya permen? Lidahku terasa sedikit pahit.”

Kuruntuki diriku sendiri karena berani-beraninya menanyakan tentang Kai disaat-saat seperti ini. Ditambah Hyeri dan dayang-dayangnya melihatku dengan tatapan tajam. Oke, meminta permen benar-benar alasan yang lumayan bagus. Sepertinya.

“Ah, maaf aku tidak punya.”

“Oh, yasudah tidak apa-apa. Gomawo.”

Aku memang tidak menginginkan permennya. Itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan saja. Untung saja Jongin tidak menyadarinya namun ternyata kebahagiaanku keluar dari masalah tidak berjalan mulus karna tiba-tiba Jongin menarik tanganku.

“Ayo kita ke kantin membeli beberapa permen. Sepertinya aku juga ingin beberapa permen.”

Bodoh, gara-gara sebuah permen aku ditarik oleh Jongin dan tanpa perlu mata super pun aku sudah tahu bahkan sangat tahu jika Hyeri dan dayang-dayangnya menatap dengan tatapan yang lebih tajam.

Sesampainya diluar kelas, kulepaskan tangan Jongin dari pergelangan tanganku.

“Tidak perlu. Lidahku sedikit membaik.”

“Ayolah”

“Ya! Kkamjong-a!” Teriakku.

Secepat mungkin kututup mulut ini dengan tangan bebasku. Namun terlambat, semua orang telah melirik ke arah kami berdua dengan tangan Jongin masih berada di pergelangan tanganku.

“Pabo.” Kataku sambil menarik tangan Jongin ke arah Kantin Sekolah.

 

Jongin POV

Gadis bodoh. Dia meneriakan namaku di depan kelas lalu menarikku ke arah kantin. Bukankah tadi dia sudah baikan? Tapi jujur saja aku masih khawatir dengannya. Kuikuti saja dia.

“Bukankah tadi kau berkata jika lidahmu sudah baikan? Kenapa membawaku ke kantin? Apa kau malu sudah meneriakan namaku di depan kelas?.” Kataku dengan nada menggoda.

“Diam kau Kkamjong. Aku membawamu kesini karna aku mal…Mau membeli permen. Tiba-tiba tenggorokanku menjadi sedikit sakit.” Katanya.

Aku tahu dia berbohong karena ucapannya sedikit terbata-bata. Tapi akan lebih baik jika kuikuti permainannya. Sepertinya akan menjadi seru.

“Benarkah? Yang sebelah mana?”. Kataku sambil memegang tenggorokannya.

Benar saja, dia langsung menyingkirkan tanganku. Namun dengan sigap kupegang tangannya dan kutatap matanya. Kudekati wajahnya. Kulihat matanya. Mata yang sama seperti 2 tahun yang lalu. Tanpa sengaja aku mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kuucapkan.

“Aku merindukanmu Hayoung-a.”

Kulihat wajahnya yang awalnya bergetar menjadi bingung. Kusadari aku mengucapkan kata-kata yang tidak pantas aku ucapkan sekarang. Langsung saja aku mencubit hidungnya dan berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kau mau membeli permen apa?”

 

Hayoung POV

“Kau mau membeli permen apa?”

Sebenarnya aku masih kaget dengan perlakuannya beberapa detik lalu. Tapi aku pura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Aku akan membelinya sendiri.”

“Diam saja kau disini aku akan membelikannya.”

“Tidak perlu.”

“Ya! Hayoung-a.”

Kuacuhkan kata-kata Jongin dan pergi membeli permen mint. Namun ketika akan membayar, aku baru ingat jika dompetku ketinggalan di kelas. Ini semua gara-gara Jongin.

“Ahjussi, mianhae. Sepertinya aku tidak jadi membelinya. Dompetku ketinggalan di kelas.”

Setelah meminta maaf aku langsung pergi ke kelas dan meninggalkan Jongin.

 

Sesampainya di kelas aku langsung duduk. Lalu, tiba-tiba pasukan Hyeri dan dayang-dayangnya datang.

“Ya! Kau Komik! Jangan berani-berani Kau mendekati Jonginku!”. Teriak Hyeri sambil menggebrakan mejaku.

“Jangan berani-berani.” Ulang dayang-dayangnya.

“Jika aku melihatmu berdekatan dengan Jongin lagi. Krek.” Katanya sambil mendekatkan tangannya yang disepertikan pisau ke dekat tenggorokannya.

“KAU MENGERTI?” Teriak Hyeri.

“MENGERTI?”. Ulang dayang-dayangnya.

“Hm.” Ucapku.

Aku tidak peduli mereka mau membuatku seperti apapun karena aku memang tidak mendekati Jongin. Jadi kuacuhkan saja mereka.

“YA! KOMIK!….”Kata Hyeri namun terputus karena Yixing Seongsaengnim datang diikuti Jongin. Mereka pun langsung pergi ke bangkunya.

“Akan kulanjutkan nanti.” Katanya dengan suara pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Hm.” Jawabku.

Jongin langsung duduk di depan bangkuku. Dan pelajaran Yixing Seongsaengnim pun dimulai.

 

Waktu istirahat pun tiba. Jongin berbalik ke arahku dan memberikan permen mint.

“Ini untukmu.”

“Tidak perlu. Tenggorokanku sudah baikan.”

“Makanlah. Cepat.”

Karena aku tidak mau berurusan lagi dengannya kuambil saja permennya. Namun dia merebutnya kembali dan membukakan bungkus permennya dan mendekatkan tangannya yang memegang permen ke arah mulutku. Untung aku tidak bodoh untuk langsung membuka mulutku. Kuambil permen darinya dan memasukannya ke mulutku.

“Sudah ku katakan agar kau tadi duduk saja dan aku yang akan membelikannya karna aku tahu dompetmu tertinggal di tas. Tapi kau masih saja keras kepala.”

Aku hanya diam mendengarkan penuturannya. Kulihat di depan Hyeri terlihat marah kepada dayang-dayangnya namun aku benar-benar tidak peduli.

“Pergilah, fansmu akan marah jika kau berada di dekatku.”

“Apa? Fans?”

“Hm. Sudahlah lupakan saja dan pergilah.”

Lalu suara yang memalukan terdengar dari perutku.

Lapar, aku tidak sempat makan karna jam weker sialan itu. Kuharap Jongin tidak mendengarnya. Kupegang perutku dan kulihat wajah Jongin. Dia tertawa. Namja sialan. Pasti dia akan mengejekku. Namun ternyata.

“Makanlah, aku akan menemanimu di taman.” Ucapnya sambil menggeledah tasku dan membawa bekal yang disiapkan Eomma. Ditariknya tanganku seperti tadi pagi.

“Ya! Aku akan memakannya sendiri.” Kataku sambil mencoba mengambil bekalku dari tangannya.

Namun terlambat dia sudah pergi sambil membawa bekalku ke taman sekolah dan meninggalkanku. Aku tidak mungkin mengikutinya tapi aku benar-benar sangat lapar. Tapi bodoh sekali pemikirannya jika dengan begitu aku akan mengikutinya. Kuarahkan kakiku untuk pergi ke perpustakaan. Mungkin tidur akan membuat perutku menjadi kenyang.

 

Jongin POV

 

Aku sengaja berlari agar dia mengikutiku namun sesampainya di taman dan kutengok ke belakang ternyata dia tidak mengikutiku. Gadis bodoh. Memangnya aku tidak tahu kebiasaanmu ketika lapar hah?

Kuarahkan kakiku ke tempat yang memungkinkan seseorang untuk tidur. Sebenarnya aku cukup malu melihat tatapan orang-orang karna melihatku seorang Kim Jong In yang keren memegang kotak bekal merah muda. Tapi aku mencoba tidak peduli dan fokus mencari Hayoung.

Akhirnya kutemukan dia di ruang perpustakaan. Kulihat dia sedang tertidur. Kuhampiri dia dan duduk dipinggirnya. Dia tidak sadar. Namun, kudengar dia menggumamkan sesuatu.

“Jongin pabo. Jongin pabo. Jongin pabo. Aku benar-benar lapar. Jongin pabo. Pabo. Pabo.” Katanya.

Sungguh kasihan dia kelaparan, tapi salahnya sendiri tidak mengikutiku ke taman. Kudekatkan mulutku ke telinganya.

“Hayoung pabo.”

Dengan hitungan detik dia langsung terjaga.

“YA!” teriaknya.

“sssstttt” kata semua orang yang ada di perpustakaan.

“Mianhae.” Katanya sambil membungkukkan badan.

“Ya! Kim Jongin sedang apa Kau disini?”

“Menunggumu.”

“YA!”

“Sssttt.” Kata semua orang yang ada di perpustakaan.

“Mianhae.” Ucapnya lagi.

“Aku serius Kkamjong-a.”

“Kau tidak lapar?”

“Tidak.”

“Lalu apa yang kudengar tadi ketika kau tidur? Sepertinya kau kelaparan.”

“TENTU SAJA AKU KELAPARAN!”

“SSSSSSSSSSTTTTT”. Kata semua orang lagi.

“Jeongmal mianhae.” Ucapnya untuk ketiga kalinya dan pergi keluar meninggalkanku.

Aku pun keluar dari perpustakaan dan mengejarnya lalu menariknya untuk duduk di sebuah kursi. Kubuka bekalnya dan memberikannya kepada Hayoung.

Kulihat Hayoung masih marah namun terlihat dari wajahnya jika ia kelaparan.

“Makan saja, aku tidak akan meminta.”

“Memangnya aku akan memberimu?”

“Sepertinya tidak.”

“Bagus.”

Kulihat dia memakan bekalnya dengan pelan. Tidak sampai setengah dari bekalnya dihabiskan dia sudah berhenti.

“Kenapa tidak kau habiskan?”

“Aku sudah kenyang.”

“Habiskan.”

“Memangnya kau siapa?”

“Aku Kim Jong In.”

“Lalu?”

“Cepat habiskan. Kau belum makan Hayoung-a.”

“Aku sudah makan, bukankah Kau tadi melihatku makan?”

“Habiskan.”

Namun dia tidak mendengarkanku dan membereskan bekalnya lalu pergi ke kelas.

 

Hayoung POV

 

Memang tidak sopan meninggalkannya. Tapi itu pantas dia dapatkan karena telah membawa bekalku dan mebiarkanku kelaparan. Aku memang jujur tidak menghabiskannya karena kenyang. Namun bukan kenyang biasa, perutku sakit. Sepertinya lambungku kembali bermasalah karena aku benar-benar telat makan. Semoga dia tidak menyadarinya.

Sesampainya di kelas kulihat Hyeri menatapkau dan seperti akan memberikan perhitungan lagi kepadaku namun sepertinya dia tidak beruntung karena semua murid masuk ke kelas diikuti Luhan Seongsaengnim.

 

Bel pulang pun berbunyi. Aku cepat-cepat membereskan buku dan pergi keluar kelas sebelum mendapatkan cuap-cuap dari Hyeri dan dayang-dayangnya. Kudengar Jongin memanggil namun tetap saja kuacuhkan. Aku terus berlari.

Akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Kulangkahkan kaki untuk menyebrang di trotoar karena lampu sudah menandakan hijau untuk pejalan kaki. Namun ketika menyebrang terdengar suara klakson mobil dan ketika kuarahkan kepalaku ke sebelah kanan seketika semua menjadi gelap.

 

Samar-samar ku dengar suara orang-orang.

“Ayo cepat bawa ke rumah sakit.”

 

Jongin POV

Aku sedang membereskan buku-buku dan peralatanku namun tiba-tiba kulihat Hayoung secepat kilat keluar kelas. Dia terlihat terburu-terburu.

“Hayoung-a!” Teriakku.

Namun dia mengacuhkannya. Cepat-cepat ku bereskan barang-barangku namun pasukan Hyeri dan dayang-dayangnya kembali mengacaukan.

“Jongin, bukankah Kau berjanji akan memberitahukanku makanan yang kau suka?”

“Hyeri, bisakah kau tidak bertanya sekarang?”

“Kau sudah berjanji Jongin-a.”

“Aku suka roti. Cukup?”

Aku pun langsung pergi keluar kelas untuk mencari Hayoung. Perasaanku sedikit tidak nyaman. Kulihat di tempat parkir mungkin saja dia menungguku walau sebenarnya itu sangat sangat  tidak mungkin. Tanpa pikir panjang aku langsung mengendarai motorku dan pergi mencari Hayoung.

 

Sesampainya di gerbang sekolah terlihat sisa-sisa sebuah kecelakaan. Namun aku tidak memperdulikannya karena aku fokus mencari Hayoung. Kupikir mungkin saja kami akan bertemu seperti kemarin lagi.

 

Aku mengendarai motor dengan kecepatan cukup sedang karena sambil mencari-cari Hayoung. Namun nihil, aku tidak menemukannya sampai dirumah.

 

Sesampainya di rumah, kulihat kedua orang tua Hayoung masuk ke mobil dengan tergesa-gesa. Mungkin mereka dimakan waktu. Tapi anehnya mereka berangkat tanpa Hayoung.  Kumasuki rumahku dan kudapatkan Sulli sedang mengerjakan tugasnya di depan TV. Itu memang kebiasaannya.

“Sulli, mengapa kau mengerjakan tugas dengan menyalakan televisi lagi? Bukankah sudah Oppa katakan itu tidak bagus.”

“Memang, tapi aku menikmatinya. Aku tidak menyukai keheningan. Kau sendiri juga sama sepertiku.”

“Ah, lupakan.”

Aku lupa bahwa kebiasaan kami sama. Jadi jika aku mengejeknya, sama saja aku mengejek diriku sendiri.

“Oppa sudah makan? Aku lapar, maukah kau memasakan ramen untukku?” Rengeknya dengan aegyo.

“Kau ini perempuan, kenapa bukan Kau yang memasakan untuk Oppamu ini?” Kataku sambil mengacak-ngacak rambutnya.

“Ya! Oppa!”.

“Ne, Oppa akan memasakanmu ramen. Oppa juga belum makan.”

“Yeay!”. Katanya sambil memukul perutku.

“Ya! Kau tidak kasihan kepada Oppamu ini?”

“Hehehe, aku sayang Oppa.” Katanya sambil memelukku.

“Nado Sulli-ya. Tunggu sebentar, Oppa akan memasakan ramen.”

Aku pun pergi ke kamar mengganti bajuku serta bersiap-siap untuk menyiapkan makanan.

 

Setelah kami berdua kenyang. Sulli mengatakan sesuatu yang mengagetkanku.

“Oppa, aku sudah mempunyai pacar.”

“Ya! Siapa? Kau harus mendapatkan izin dariku jika mau berpacaran.” Kataku dengan sikap yang pura-pura tegas.

“Oppa!”

“Oppa serius. Oppa hanya ingin Kau bersama orang yang tepat.”

“Kau mengenalnya.”

“Nuguya?”

Suara bel rumah pun berbunyi. Aku pun pergi ke arah pintu dan mebukanya.

“Sehun?”

“Annyeong, Jongin. Annyeong, Chagi-ya”

“Chagi-ya?”

“Annyeong Oppa”. Jawab Sulli malu-malu.

“Tunggu, jangan-jangan……”

“Hehehe, Jongin bolehkah aku membawa Sulli jalan-jalan?”

Kupukul pundaknya pelan. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Kami baru saja jadian Oppa.” Jawab Sulli.

“Aku tidak bertanya padamu Sulli. Yasudah, jagalah dongsaeng nakalku ini ya Sehun.”

“Ya! Oppa!”. Kata Sulli sambil memukul perutku.

“Tentu saja, aku akan menjaganya.” Jawab Sehun.

“Annyeong Oppa. Kami berangkat.”

“Ya! Kau sudah membereskan makanmu?”

“Belum, karena aku tahu pasti Oppa akan mebereskannya. Dah Oppa.”

 

Dongsaengku ini benar-benar. Dia perempuan tapi benar-benar menyebalkan. Kubereskan peralatan makanku dan Sulli lalu langsung membersihkannya. Setelah semuanya beres aku langsung pergi ke kamar dan berbaring di tempat tidur.

Sebenarnya aku masih tidak percaya ternyata mereka berdua pacaran. Dongsaeng dan sahabatku berpacaran. Sudahlah, Sehun anak yang baik aku mengenalnya melebihi dia mengenal dirinya sendiri. Kubuka laci dipinggir tempat tidur dan mengambil selembar foto.

“Mungkinkah Kau mengingatku Hayoung-a? Kuharap Kau mengingatku.” Lalu terasa getaran dari celanaku karena ulah ponselku.

From: Sulli.

Oppa, aku lupa memberitahumu. Hayoung Eonni yang ada di depan rumah kita katanya mengalami kecelakaan. Apakah kau sudah menjenguknya? Tempatnya berada di Seoul Hospital.

Kenapa Sulli baru mengatakannya sekarang. Tanpa membalas pesannya aku langsung bersiap-siap mengenakan jaket dan pergi ke Rumah Sakit.

Sesampainya disana aku langsung bertanya ke resepsionis ruangan Hayoung.

“365.”

“Gomawo.”

Aku pun langsung pergi ke ruangan tersebut. Sesampainya disana aku kaget karena selain kedua orang tua Hayoung, terlihat seorang namja yang sangat ku kenal.

 

To be continued.

Iklan

3 thoughts on “LITTLE THING (CHAPTER 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s