FF: The Wolf and not The Beauty (part 11)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Kenapa kau tidak menolaknya? Aku sudah bilang kan, jangan mendekati saudara sepupuku lagi!”

Sebenarnya, Kris mulai menyadari perubahan yang ada di dalam diri Sehun. Pada sosoknya yang sebenarnya lugu dan menyenangkan, menjadi dingin dan cuek. Tanpa disadarinya, dia juga mulai melakukan hal-hal yang bisa mengaitkannya pada Luhan. Dia khawatir, hasrat pemburunya itu akan semakin mendominasi dan merubahnya perlahan-lahan.

Kris duduk bersandar pada kursi panjang gereja sambil mengangkat kakinya dan meletakkannya diatas kursi yang ada didepan. Matanya terarah lurus pada sebuah meja tinggi yang ada didepan patung Tuhan. Serum itu ada disana.

“Jika saja aku adalah keturunan klan Rouler, aku pasti sudah menghancurkan serum itu.”serunya entah ditujukan pada siapa. “Sayangnya, klan Verdun sama sekali tidak bisa menghancurkannya, bahkan menyentuhnya. Dan yang lebih disayangkan, klan Rouler yang tersisa sama sekali tidak memenuhi syarat untuk menghancurkan serum itu. Sial.”

Ia menghembuskan napas panjang, kemudian matanya beralih pada patung Tuhan.

“Dan jalan satu-satunya, aku harus terus berjaga disini, juga menjaga keturunan terakhir Solomon itu. Sepanjang malam membuang waktu untuk duduk di rumah-Mu yang sudah sangat kotor ini. Jika saja Kau tau, sebenarnya hidungku sedikit alergi dengan debu.”

Kris menurunkan kakinya, menarik punggungnya lalu berdiri sembari membersihkan debu-debu yang menempel di bajunya.

“Sudah hampir pagi, Kau yang menjaganya ya. Aku pulang dulu.”

***___***

Sehun berjalan di koridor kelas dengan sekotak susu di tangannya. Kebiasaannya untuk minum susu setiap pagi tidak pernah hilang sejak dia masih di Polandia ataupun Jerman. Dan seperti biasa, kemeja putihnya ia biarkan berkibar-kibar dengan blazernya yang juga tidak terkancing sama sekali. Walaupun rambut merahnya sudah menghilang, tapi sifat bengalnya tak kunjung pergi.

Saat memasuki ruang kelas, ia tidak berjalan menuju kursinya, justru menghampiri bagian belakang di ujung kanan dan menjatuhkan tas ranselnya di tempat yang masih kosong. Hal itu membuat kening Kyungsoo berkerut, bukankah kemarin dia bersikeras untuk duduk disampingnya? Kenapa hari ini dia justru bersikap seperti tidak melihat apapun?

“Sehun, kenapa duduk disini?”tanya Kyungsoo menghampiri Sehun.

Sehun menoleh sekilas, “aku ingin duduk sendiri.”

“Kenapa?”

“Sudahlah. Jangan urusi urusanku. Kembalilah ke tempat dudukmu.”ucapnya malas meladeni Kyungsoo.

“Apa kau masih marah soal kemarin? Maaf, aku akan mencoba bicara dengan Kai.”

Sehun menghembuskan napas keras lalu beralih menatap Kyungsoo tajam, “Jauhi sepupuku atau kau yang akan aku jadikan sasaran selanjutnya.”desisnya dingin lalu melangkah menuju luar kelas.

Lay menoleh sekilas saat Sehun berjalan melewatinya, lalu menoleh ke belakang dan menatap Kyungsoo yang sedang berdiri bingung menatap punggung Sehun.

“Lay, kau sudah tidak apa-apa?” suara Luhan mengagetkan Lay. Ia mengerjap.

“Aku tidak apa-apa. Sudah baik-baik saja dan sudah bisa ikut dalam pertandingan selanjutnya.”

Luhan tersenyum, “baguslah. Aku senang kau sudah tidak apa-apa.”

Lay hanya diam, masih menatap Luhan saat ia sudah berpaling ke depan. Seperti menyadari sesuatu. Lay mulai mengetahuinya.

***___***

Saat bel istirahat tiba, Sehun langsung menuju kelas Kai. Pertengkaran kemarin membuat Kai sama sekali tidak ada menghubunginya, bahkan tidak menjaab panggilannya berkali-kali.

“Kai,”panggil Sehun sambil berjalan menuju kursi Kai.

Melihat kehadiran Sehun, Baekhyun dan Chanyeol seketika saling pandang bingung. Sesuatu pasti terjadi diantara kedua saudara yang sama-sama temperamental itu.

“Aku ingin bicara.”

Ekspresi Kai sama sekali tidak terlihat baik saat Sehun menghampirinya. Rahangnya masih mengatup, menandakan jika dia masih kesal.

“Kai, sebaiknya kau bicara dengannya.”seru Chanyeol hati-hati.

“Kau tau aku tidak pernah minta maaf sejak kecil, jadi aku tidak akan minta maaf.”tegas Sehun tanpa dosa. “Tapi aku tidak ingin kau mendiamkanku terus-menerus. Aku pindah kesini karena kau, jadi jangan bersikap seolah kau tidak memperdulikanku lagi.”

Kai mendengus, menoleh kearah Sehun dengan ekspresi tidak senang. Masih kesal. “Kau selalu saja egois sejak dulu. Kau tidak pernah mau mengalah.”

Sehun mengangkat kedua bahunya cuek, “tentu saja. Karena aku adalah yang termuda.”

“Oke baiklah. Asalkan ada dua porsi ramyun ukuran jumbo untukku dan dua kaleng soda. Semuanya bisa dimaafkan.”

Sehun mendelik, “aku tidak meminta maaf padamu. Aku bilang aku hanya—“

Kai berdiri sembari merangkul pundak Chanyeol dan Baekhyun, “Ayo ke kantin. Karena Kim Sehun akan membayar semua makanannya.”

“Apa?!”

***___***

Ternyata Kris, Suho dan Tao juga bergabung di meja kantin. Dan mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Mereka benar-benar memesan semua makanan mahal dan dengan porsi lebih besar dari biasa. Bahkan meja panjang itu sudah dipenuhi aneka ragam makanan dan minuman yang siap untuk disantap.

“Hey, apa yang kalian lakukan? Kenapa pesan sebanyak ini?”rutuk Sehun tak berkedip melihat semua makanan yang terhidang disana.

“Kim Sehun terima kasih. Aku akan makan dengan baik.” Tao berseru senang dengan senyumnya yang mengembang lebar. Sehun menggembungkan pipinya kesal, dengan cemberut duduk disamping Kai.

Kai terkekeh geli, lalu merangkul pundak saudara sepupunya itu. “Terima kasih, Rouler.”

“Ah, jangan bicara denganku.”ketus Sehun mulai menyumpitkan daging ke mulutnya.

“Kris, coba ini. Sangat enak.” Suho mendorong piring kimchi kearah Kris.Tanpa memerlukan waktu untuk berpikir, Kris langsung menggeleng.

“Aku tidak makan sayur.”

“Kenapa? Ini enak.”

“Dia makhluk karnivora. Dia hanya makan daging.”sahut Sehun sambil tetap mengunyah dagingnya.

“Kalau begitu, kau saja yang memakannya.” Kini Suho mendorong piring Kimchi kearah Sehun. Sehun juga menggeleng.

“Aku tidak makan sayur.”

“Dia juga makhluk karnivora. Dia hanya makan daging.”

Sehun langsung mendelik. Wajahnya cemberut menatap Kris tanpa menyadari jika dirinya dan Kris adalah makhluk yang sama.

Kai terkekeh, “ternyata kau juga tidak menyukai sayur sepertinya.”

“Aku rasa mereka jadi dekat karena sama-sama tidak menyukai sayur.”sahut Baekhyun lalu tertawa geli.

“Sayur adalah makanan sehat. Harusnya kalian memakannya agar tumbuh dengan baik.”ujar Suho bijak, ia memakan daun selada dan bawang yang ia campur menjadi satu di mangkuknya.

“Tidak perlu memakan sayur untuk menjadi tinggi. Sepertinya justru sayuranlah yang membuatmu tidak tumbuh.”balas Sehun tanpa dosa, membuat Suho langsung tersedak.

Yang lain tertawa terbahak-bahak. Tidak ada hal yang menyenangkan selain membully calon ketua osis yang selalu mencoba berkata bijak itu. Dia bahkan lebih terlihat sebagai seorang kakek-kakek.

Saat sedang asik tertawa, tiba-tiba Kai melihat sosok Kyungsoo yang sedang mencari tempat duduk sambil membawa nampan yang berisi makanannya.

“Kyungsoo!”panggil Kai sembari melambaikan tangannya. ”Kyungsoo!”

Sehun ikut menoleh, lantas menghela napas panjang saat ia lihat Kyungsoo sedang berjalan kearah mereka.

“Makan bersama kami.”ajak Kai.

Melirik kearah Sehun yang terlihat tidak senang, Kyungsoo langsung menggeleng. “Tidak. Aku akan makan ditempat lain.”

“Kenapa? Masih ada kursi yang kosong disini.”

“Tidak. Aku akan makan—“

“Duduk.”tegas Kai tidak ingin ucapannya dibantah. Kyungsoo tampak ragu, apalagi setelah melihat bagaimana keruhnya wajah Sehun. Dia tidak tau mengapa, tapi hari ini sepertinya Sehun tidak terlihat baik padanya. Dia sangat ketus.

Terpaksa, Kyungsoo duduk di kursi kosong yang ada disamping Kris. Tanpa berani menatap Sehun lagi, ia mulai menyantap makanannya.

“Aku sudah kenyang. Bye.”

Sehun berdiri dan langsung meninggalkan meja makan, membuat semua orang sontak terkejut. Terutama Kyungsoo, yang merasa jika dirinya adalah alasan kenapa Sehun meninggalkan meja makan tiba-tiba.

“Apa yang terjadi dengannya?”tanya Chanyeol bingung.

“Aku lupa jika aku punya janji dengan wali kelas, aku duluan.” Kris menambahi dan ikut meninggalkan meja makan.

“Apa makhluk karnivora seperti mereka sangat cepat merasa kenyang?”ujar Tao asal.

“Jangan pikirkan mereka. Sebaiknya kita habiskan makanan ini dan kembali ke kelas.”

***___***

Sehun duduk seorang diri di kursi taman sekolah. Terus memikirkan apa alasan sebenarnya kenapa dia tiba-tiba begitu membenci Kyungsoo. Sepertinya semua ini bukan hanya karena Kyungsoo telah membangkitkan ingatan Kai tentang masa lalu, tentang sosok D.O dan luka-lukanya. Semuanya jauh lebih dari itu.

Tapi yang jelas, sekeras apapun dia ingin membenci Kyungsoo. Dia tidak akan bisa melakukannya. Karena… dia tidak akan bisa membenci D.O.

“Kim Sehun.”panggil seseorang membuat Sehun menoleh. Itu Luhan. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”serunya menjatuhkan diri disamping Sehun.

Sehun tidak menoleh, “tidak ada yang harus aku bicarakan denganmu.”desisnya dingin.

Walaupun mendapat penolakan, Luhan tetap berujar. “Pelatih bilang, kau memundurkan diri dan tetap bersikeras untuk menjadi pengganti sementara. Kenapa? Padahal pelatih ingin menjadikanmu sebagai pemain inti.”

“Aku tidak berminat di sepak bola.”jawab Sehun singkat.

“Tapi kau bermain bagus kemarin. Harusnya—“

“Aku tidak perduli”

“Apa kau memundurkan diri karena Kai?” Luhan tetap bertanya.

“Bisakah kau berhenti mengurusi masalah orang lain?”balas Sehun cepat. “Dan bisakah kau berhenti bersikap seolah-olah kita saling kenal?”

Sehun menatap Luhan tajam sesaat, sebelum akhirnya mengambil langkah pergi dan meninggalkan pria itu.

Dari tepi koridor, sejak tadi Kris terus memperhatikan Sehun dalam diam. Dan setelah melihat kedatangan Luhan tadi, dia menjadi mengetahui satu hal. Hasrat pemburu itu semakin besar karena… Luhan.

***___***

Kyungsoo juga datang di acara latihan tim basket – dia dipaksa oleh Kai – membuat Sehun langsung gusar melihatnya. Ekspresinya benar-benar tidak senang melihat anak itu terus menempel pada Kai.

“Siapa yang menyuruhmu datang?”desis Sehun menatap tajam kearah Kyungsoo.

Kyungsoo tersentak saat menyadari Sehun menghampirinya, “K-kai…”

“Kenapa kau tidak menolaknya? Aku sudah bilang kan, jangan mendekati saudara sepupuku lagi!”

“Dia memaksaku untuk datang.”jawab Kyungsoo pelan. “Kenapa kau begitu membenciku? Aku pikir kita sudah berteman.”

Sehun tertawa mendengus, “hanya karena aku pernah membelamu dan datang menjenguk saat kau sakit, semua itu tidak berarti kita adalah seorang teman. Aku menyuruhmu untuk menjauhi Kai! Dan jika kau melanggarnya, kau akan membuatmu di rawat untuk kedua kalinya.”ancam Sehun tidak main-main.

Kyungsoo semakin menunduk. Kemudian berbalik dan menyeret langkahnya keluar gedung olahraga. Ditempatnya. Sehun hanya menatap punggungnya dalam rasa penyesalan hebat. Hati dan pikirannya seperti tidak sepakat. Benar-benar menyesal saat ia melihat ekspresi sedih Kyungsoo tadi.

“Kyungsoo… maafkan aku. Aku melakukannya untuk melindungi saudaraku.”gumam Sehun lalu menunduk.

“Dimana Kyungsoo? Aku melihatnya datang tadi.”tanya Kai setelah mereka selesai latihan. Ia menghampiri Sehun dan Suho yang hanya menjadi penonton.

“Tidak tau. Aku juga melihatnya tadi, tapi dia tiba-tiba menghilang.”balas Suho.

“Sehun, kau melihat Kyungsoo?” Kini Kai bertanya pada Sehun.

Sehun tidak menoleh, terus menatap lurus ke depan. “Aku menyuruhnya pergi.”

Mata Kai melebar, “kenapa?”

“Aku juga menyuruhnya untuk tidak menemuimu lagi. Aku membencinya.”

“Hey, apa yang kau lakukan?!” Kai menyentak pundak Sehun mulai geram.

“Apa selama ini kau tidak pernah menyadarinya? Selama ini semua masalah yang kita alami adalah karenanya! Kita bertengkar juga karena dia! Semua karena laki-laki bodoh itu!”

Rahang Kai mengatup keras, tangannya terulur dan mencengkram kerah baju Sehun, membuatmya langsung berdiri.

“Kenapa kau menyuruhnya pergi, hah?! Kau tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan! Kau tidak berhak menyuruhnya pergi!”

“Kau yang tidak mengerti!” Sehun mendorong tubuh Kai kasar hingga cengkramannya terlepas.

“Kai, aku mohon hentikan. Kendalikan dirimu.”cegah Tao menahan tubuh Kai.

“Sehun, kau memancing kemarahannya lagi.”bisik Kris.

“Lepaskan aku!”bentak Sehun, kini ia mendorong tubuh Kris. Lantas mengambil tas ranselnya lalu pergi meninggalkan gedung olahraga.

***___***

Sehun berdiri di depan gereja Solomon dalam keterdiaman. Dalam kesedihan yang teramat dalam di hatinya. Pertengkaran itu terjadi lagi, membuat ia kehilangan Kyungsoo juga Kai.

Hanya karena untuk melindungi saudaranya agar tetap menjadi manusia, ia harus mengorbankan hatinya untuk menahan rasa sakit itu. Harus rela jika semua orang menganggapnya jahat atau tidak punya hati. Tapi yang jelas… dia benar-benar menyayangi Kai dan Kyungsoo.

Ia menunduk. Pundaknya berguncang menandakan jika dia sedang menangis. Berada sangat jauh dari orang tuanya, membuat dia harus menyelesaikan semuanya seorang diri. Tidak bisa mengadu ataupun meminta bantuan. Dia sendirian.

Kesedihan itu mendominasi, membuat kepekaannya terhadap sekitar menjadi berkurang. Ia tidak menyadari jika Kai sedang berjalan kearah rumah Kyungsoo dan tersentak saat melihatnya berdiri mematung didepan gereja.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Sehun tersentak, lantas menoleh dan tersentak kembali begitu melihat Kai. Ia menggeleng cepat.

“Jangan kesini!”

“Ha?”

“Pergi Kai! Seka….arggghh…”

“Sehun, kau kenapa?!” Kai berlari menghampiri Sehun yang tiba-tiba terduduk diatas tanah sambil memegangi dadanya itu. “Hey, ada apa?” Ia menyentuh pipi Sehun dan langsung tersentak saat dirasakannya kulitnya sangat panas.

“Aku mohon. Pergi sekarang, Kai.”seru Sehun sambil mengerang.

“Tidak. Aku tidak akan pergi. Kau kenapa? Kau sakit? Tubuhmu sangat panas.”

Sehun masih kejang, kedua tangannya mengepal didepan dada dengan matanya yang terpejam kuat-kuat. Kepalanya bergetar menahan sakit, memperlihatkan urat-uratnya yang menonjol keluar.

“Sehun…”panggil Kai sambil menepuk-nepuk pipi Sehun. Sehun membuka matanya, detik itu juga nyaris membuat Kai berteriak ketakutan. Kai terperangah hebat, tanpa sadar mundur beberapa langkah. “Astaga…”

“Minggir Kai!”

Tiba-tiba Kris muncul dan menarik tubuh Kai agar ia menjauh. Melompat ke depan tubuh Sehun dan menutupinya. Matanya berubah merah. Juga kuku-kuku tajamnya yang mulai keluar.

“Kendalikan dirimu, Rouler. Kendalikan dirimu!”seru Kris membuat Kai lagi-lagi tersentak.

Bagaimana bisa dia mengetahui nama aslinya padahal dia dan Sehun sudah berjanji untuk menyembunyikannya? Dan… apa yang terjadi dengan Sehun sebenarnya? Kenapa matanya berubah merah?

Kris mengangkat tubuh Sehun dan langsung melompat tinggi. Ia membawanya pergi tanpa memperdulikan jika Kai sudah mengetahui semuanya. Ia tidak perduli karena yang terpenting adalah meredam hasrat pemburu yang semakin lama semakin mendominasi diri Sehun.

Kai hanya bisa menatap Kris yang sedang melompat tinggi didepannya dengan rasa keterperangahan hebat. Tanpa bisa berkata apapun. Bahkan ia tidak bisa merasakan debaran jantungnya yang berdetak begitu cepat.

Ia berada dalam rasa terperangah yang hebat dan logikanya tidak mampu mencerna kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya. Tentang makhluk seperti apa Kris dan Sehun sebenarnya dan apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua. Semuanya begitu mustahil, begitu jauh dari kenyataan.

Tapi yang jelas, sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi pada Sehun. Dia bukan hanya sekedar demam dan bagaimanapun dia adalah adiknya. Walaupun kesadarannya belum terkumpul sempurna, Kau memaksa tubuhnya untuk berdiri. Memaksa kakinya untuk bertahan menopang tubuhnya dan berlari mencari Sehun.

Ia membatalkan niat awalnya yang ingin menghampiri Kyungsoo. Kini, dipikirannya hanyalah tentang bagaimana keadaan Sehun.

Kai terus berlari. Hingga melupakan jika ada transportasi umum yang bisa dia gunakan untuk mencapai hotel, tempat dimana Sehun menginap. Otaknya seperti tertutup oleh kekhawatirannya. Hanya kakinya yang ia paksa berlari sampai terasa ingin putus.

Terus berlari dan melewati lobby hotel, Kai langsung memasuki lift dan menekan tombol lantai. Ia seperti mati rasa. Seperti tidak bisa merasakan rasa letih dan degupan jantungnya yang hampir meledak.

Saat pintu lift terbuka, secepat kilat ia menuju kamar Sehun. Tidak perduli jika dia sudah menabrak seorang pelayan yang sedang mendorong troli makanan. Ia hanya mengucapkan kata ‘maaf’ lalu melanjutkan larinya lagi.

Sesampainya di kamar Sehun, tanpa mengetuk terlebih dahulu, Kai mendobrak pintunya yang ternyata tidak terkunci. Langsung memasuki ruang kamar dan mendapati Kris yang sedang berdiri disamping tubuh Sehun yang tergeletak lemas diatas ranjang tidur.

Napasnya terengah, bercampur rasa kekhawatiran yang hebat. Ia menatap Kris lekat. “Apa yang terjadi dengan Sehun? Dan siapa kalian sebenarnya?”

TBC

56 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s