Finding Happiness (chapter 5)

POSTER FINDING HAPPINESS

Title              : Finding Happiness (chapter 5)

Author           : @leenami0203

Rating           : PG-13

Length          : Chaptered

Genre           : Angst, Hurt, Family

Main Cast      : Lee Nami (OC), Cho Kyuhyun (super junior), Shin Yong Ra (OC)

Support Cast  : Cho Ahra, Lee Hyukjae, Cho Hana, dll

Halo halo semuanya, ini part sebelum terakhir lho. (ga ada yang nanya ya?) #poorauthor

Happy Reading !!

Abeonim, Kyuhyun dan Nami sedang berada di rumah sakit karena penyakit jantung Eomonim kambuh. Mereka bertiga menunggu diluar ruangan.

Setelah pintu didepan dibuka dan menampakkan dokter yang tadi menangani Eomma Kyuhyun, mereka semua berhamburan mendekat.

“Keadaan nyonya Cho sudah lumayan membaik, tapi kita masih menunggu perkembangan selanjutnya. Saya harap pikirannya tidak terlalu dibebani dengan yang berat-berat. Saya permisi dulu.” ucap dokter Choi sambil membungkukkan badannya.

“Terima kasih, dok” ucap Appa Kyuhyun.

Ketika mereka akan masuk, Appa Kyuhyun menahan Nami untuk tetap diluar. Dan sukses membuat Nami kebingungan.

“Pergilah,” ucap Appa Kyuhyun singkat.

“Kyu…,” Nami berniat meminta bantuan Kyuhyun untuk membela dirinya.

Nami berpikir bahwa Kyuhyun mempercayainnya, karena sejak tadi Kyuhyun tidak ikut menuduhnya. Namun harapan Nami tidak terkabul dan malah membuatnya semakin merasa sakit.

“Pergilah, aku tak ingin Eommaku sakit lagi ‘karenamu’ ”, kata-kata Kyuhyun berhasil membuat perasaan Nami semakin terluka bahkan membuat lukanya semakin dalam hanya karena kata-kata ‘karenamu’.

“Pergilah.. Dan jangan pernah kembali lagi di hadapan kami, mengerti? Besok biarkan Kyuhyun yang mengurus surat perceraian kalian!” ucap Appa Kyuhyun tanpa melihat ke arah Nami.

Lagi-lagi Nami berlutut di kaki Abeonim dengan tangisan yang semakin menyayat hati, ”Abeonim, aku berjanji akan pergi tapi kumohon jangan biarkan aku bercerai dengan Kyuhyun”

Appa menghela nafas sejenak, sebenarnya jauh di lubuk hatinya sedikit sakit melihat keadaan Nami sekarang.

“Baik, pergilah!” abeonim melepaskan tangan Nami yang mencengkeram kakinya, lalu langsung masuk ke ruang inap eomonim diikuti Kyuhyun dibelakangnya.

***

Lee Nami POV

Aku berjalan mengunjungi sebuah tempat dimana biasa kukunjungi ketika sedang bersedih. Tempat sepi dimana semua orang tertidur damai. Aku hanya duduk bersimpuh dengan diam menatap kedua gundukan tanah didepanku. Lagi-lagi air mataku keluar.

“Appa, Eomma…mungkin aku sangat mengecewakanmu karena pernikahan ini tidak berakhir dengan baik. Tapi kau lihat cincin ini? Aku masih berstatus sebagai istri Cho Kyuhyun karena aku berusaha mempertahankan orang yang kucintai. Aku sangat egois bukan? Bahkan aku hampir saja membunuh Eommanya yang kusayangi. Awal mulanya aku bahagia karena aku memiliki orang-orang yang menyayangiku, aku merasa hidup kembali karena berada ditengah-tengah keluarga yang hangat..yah emm kecuali Cho Kyuhyun, karena dari awal hanya dia yang tidak setuju dengan pernikahan ini..tapi aku tidak pernah mempermasalahkan karena aku selalu mengingat kata-kata Eomma. Tapi sekarang kau lihat Eomma, aku tidak bisa memenuhi janjimu. Aku sudah putus asa dengan semua penderitaan ini, aku hanya ingin ikut kalian di surga. Hiks..hiks, aku juga telah menangis, aku tidak bisa tegar, aku lelah Appa..Eomma,”

Sudah dua hari aku terus berjalan tanpa arah, aku lapar, aku haus, aku lelah, tapi biarlah, aku hanya ingin menyusul kedua orang tuaku.

Dari kejauhan aku melihat sebuh mobil yang hendak melintas, dengan perlahan aku berjalan ke tengah jalan. Samar-samar aku mendengar seseorang berteriak, aku membalikkan badan sekaligus melambaikan tangan dan tersenyum.

“NUNAAAA AWAAAAAAAAAAAAAS!!!!!!!”

BRAKKKK

Itulah yang aku dengar sebelum semuanya menjadi gelap.

***

Cho Kyuhyun POV

Seminggu kemudian…

Semenjak Nami pergi, semuanya terasa hampa bagiku. Aku sudah berusaha mencarinya, tapi tetap tidak menemukannya. Apakah aku telah menyadari bahwa aku membutuhkannya? Mungkin ya mungkin tidak.

“Oppa, aku sudah lama tidak melihat istrimu, kemana dia?” tanya Yong Ra disebelahku.

“Molla..dia sudah pergi dari hidupku” jawabku singkat.

Yong Ra sedikit terkejut dengan perkataanku karena raut wajahnya berubah, “Jinjja? Bagaimana bisa?” tanyanya lagi. Aku menceritakan kronologi kejadian seminggu lalu, bukannya menghibur Yong Ra justru memarahiku.

“Oppa sudak kuperingatkan sejak awal, Nami adalah gadis yang berbahaya tapi kau malah menyepelekan perkataanku dan sekarang lihat akibatnya, dia hampir saja mencelakai Bibi Cho, bla bla bla” aku malas mendengarkan ocehannya yang melebihi burung beo sekalipun.

“Aish chagi, sudahlah jangan membicarakan dia lagi” mulut Yong Ra berhenti mengoceh seketika.

“Baik baik, kita bicarakan hal lain saja..seperti…emmm kapan Oppa akan menikahiku?”

Menikah? aish aku lupa bukannya jika aku sudah berpisah dengan Nami aku akan menikahinya, tapi aku dan Nami belum bercerai. Bagaimana ini? Aku tidak ingin menyakiti Yong Ra.

“Emm begini Yong Ra, Eomma ku baru saja keluar dari rumah sakit dan keadaannya belum benar-benar pulih. Jika aku berkata ingin menikah lagi, aku takut respon Eomma tidak sesuai yang kita harapkan dan mempengaruhi kesehatannya. Mungkin kita harus menunggu sampai keadaan benar-benar baik,” aku mencoba menggunakan nada selembut mungkin di setiap kata-kataku agar tidak menyakiti Yong Ra.

Sebenarnya bukan itu alasan aku menolak menikahi Yong Ra cepat-cepat, tapi ada alasan lain. Aku berniat menyelidiki kasus Nami, aku hanya ingin membuktikan bahwa Nami tidak bersalah. Aku akui aku memang benar-benar bodoh karena tidak membela Nami saat Appa dan Eomma menuduhnya, saat itu yang ku pikirkan hanyalah kesehatan Eomma.

***

Aku memutuskan untuk mengunjungi Nuna, karena hanya padanya lah aku bisa sebebasnya mengeluarkan unek-unek yang menggnjal dalam hatiku dan aku berpikir mungkin dia bisa membantuku.

“Nunaaaaaa..hiks hiks” panggilku dengan suara serak. Aku tidak peduli jika Nuna mengejekku ataupun menertawakanku karena air mata bodoh ini.

“Aigoo, kenapa dengan adikku yang satu ini? Kenapa menangis?” Tanya Ahra Nuna dengan nada khawatir sambil mengusap airmata yang mengalir di pipiku. Aku kembali menceritakan semua yang telah terjadi karena memang selama ini Ahra Nuna tidak mengerti apapun termasuk saat Eomma berada di rumah sakit.

“Nuna mau membantuku mencari keberadaan Nami kan?” tanyaku dengan wajah memelas, karena aku sudah benar-benar frustasi tidak menemukan Nami dimanapun.

“Tentu saja Kyu, Nami kan juga adikku. Sejujurnya aku juga tidak percaya Nami melakukannya” tiba-tiba Nuna berteriak sangat kencang dan sukses membuatku jatuh terjungkal kebelakang.

“NUNA, KAU MENYEBALKAN” jeritku yang hanya dibalasnya dengan tatapan bodohnya itu.

“hehehehe mian.. aku punya ide, bagaimana jika meminta bantuan Eunhyuk saja. Mungkin dia bisa melacak dengan sidik jari yang tertempel di kotak tersebut,”

“ahh ide bagus!!, cepat kau hubungi suamimu Nuna. Sementara suamimu menyelidiki kasus ini, kita mencari keberadaan Nami..” aku melompat-lompat dengan girang.

***

“Kau tahu, melacak sidik jari itu bukan pekerjaan yang gampang dan kita tidak bisa asal menuduh sembarang orang,” monyet itu mulai berkoar-koar menjelaskan tentang sidik jari.

“Ayolaah kau kan seorang polisi, jika kau mau melakukannya aku akan memanggilmu Oppa..I promise!!” kata Nuna sambil mengedip-kedipkan matanya dan berpose segenit mungkin.

“Aku juga akan memanggilmu Hyung!” kataku sambil mengeluarkan senyum semanis mungkin dan mengesampingkan gengsiku.

“Arra ara, besok kau bawa kotak itu kemari,” akhirnya ‘Hyungku’ pasrah dan mau menerima permintaanku.

Aku dan Ahra Nuna mulai mencari keberadan Nami, dari tempat awal yaitu makam orang tuanya, sungai Han, rumah lamanya, jalanan, taman kota, kami mencari kemanapun tapi tidak juga menemukan sosok Nami. Aku dan Nuna hampir putus asa.

Tiba-tiba HP Nuna berdering menandakan ada telepon.

“Ne ‘Oppa’, wae?” sangat menggelikan mendengar Ahra Nuna memanggil Eunhyuk Hyung dengan sebutan Oppa, aku hanya menahan tawaku.

“…………”

“MWO? Ara, aku akan segera pulang”

FLIP !

“Kyu, kajja Eunhyuk sudah mendapat data sidik jari.. dia menyuruh kita pulang secepatnya,”

Setelah sampai rumah aku dan Ahra Nuna cepat-cepat menemui Eunhyuk Hyung.

“Bagaimana Hyung?” tanyaku tidak sabaran dengan hasilnya.

“Syukurlah hanya ada sekitar 10 sidik jadi ditemukan, jadi tidak terlalu susah mencari siapa pelakunya, tapi tidak ada satupun sidik jari milik Nami. Ini berarti ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama Nami bukan pelakunya sedangkan kemungkinan kedua jika Nami pelakunya maka dia menggunakan sarung tangan atau semcamnya untuk menyentuh kotak tersebut,” Eunhyuk Hyung menjelaskan.

“Kejadian itu ada dirumah, berarti kemungkinan besar orang yang melakukannya adalah orang terdekat. Oh iya, bukankah hilangnya ketika Appa dan Eomma pergi ke Jeju? Pada saat itu siapa saja yang bertamu kerumah Kyu?”, lanjut Ahra Nuna.

“Tidak ada tamu asing sama sekali Nuna. Hyung bolehkah lihat data sidik jarinya”, aku melihat nama-nama yang tertera di kertas tersebut. Mataku membelalak ketika ada nama ‘SHIN YONG RA’ dalam daftar tersebut.

“i..ini..ke..kenapa Yong Ra ada disini?” nada suara ku tercekat antara percaya dan tidak dengan apa yang kulihat.

“Mwo? Yong Ra?”, Ahra Nuna segera merebut kertas ditanganku dan ekspresinya sama-sama terkejut.

“Kyu, bukankan Yong Ra sempat main ke rumah. Apakah dia melakukan sesuatu yang aneh?”

Aku mencoba mengingat-ingat apa saja yang dilakukan Yong Ra ketika dirumah. Seketika aku teringat saat Yong Ra mengambil game.

“Aahhh iyaa, aku pernah menyuruhnya mengambil game ku di lemari kamar tapi dia tidak kunjung turun hingga 15 menit. Mungkinkah dia yang melakukannya?” saat itu memang Yong Ra keluar kamar dengan wajah pucat. Aku yakin dia yang melakukannya mengingat dia sangat membenci Nami.

“Mmm…bisa jadi Yong Ra yang melakukannya, tapi kita harus memastikan dan tidak boleh asal menuduh. Kita juga harus memiliki bukti… Bagaimana jika kau bertanya padanya Kyu?”, Eunhyuk Hyung mencoba memberikan saran bodohnya.

Pletakk

“Mana ada maling yang mau mengaku bodoh?”

“Aish, kenapa kau memukulku yeobo? Kau ini sadis sekali, rasakan pembalasanku”

Pletakk

“Yak, Oppa kau mau mati?”

Aku hanya terkekeh melihat pasangan aneh didepanku yang saling memukul. Tapi mungkin saja saran Eunhyuk Hyung boleh dicoba, siapa tahu membuahkan hasil.

***

Aku sengaja mendatangi rumah keluarga Shin untuk melakukan misi yaitu mengintrogasi sang tersangka utama –Yong Ra–.

Tok tok tok, tak berapa lama wanita paruh baya yang setahuku adalah Eomma Yong Ra membukakan pintu. Sejenak aku memberikan salam lalu menanyakan keberadaan Yong Ra.

“Oh Kyuhyun-ah, tumben main kemari. Yong Ra ada dikamarnya sedang mengerjakan tugas kuliah. Kau langsung kesana saja,” ucap Bibi Shin ramah.

Aku memang sudah biasa jika main ke rumah Yong Ra dan diperbolehkan masuk ke kamarnya, Bibi Shin tahu bahwa kami sahabat dekat jadi sudah tidak ada suasana canggung.

“Chagi, apa kau sedang sibuk?” aku sekedar berbasa-basi menanyakan hal yang tidak penting.

“Ah Oppa tumben kemari, aku sudah selesai mengerjakan tugas. Aaaa…pasti Oppa merindukanku?” tanyanya sambil bergelayut manja dilenganku.

“Tentu saja chagi, beberapa hari ini aku sibuk mengurusi masalah Nami. Eomma memintaku menyelidikinya karena tidak ditemukan sidik jari Nami di sana. Ahh membuatku semakin pusing saja” bohongku. Padahal Eomma sama sekali tidak mengungkit-ungkit masalah Nami lagi. Aku terus menerus memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Yong Ra. Dan benar saja ekspresinya tiba-tiba berubah tegang. Ah senangnya dia sudah masuk ke dalam perangkap.

“M..mwo? si..sidik ja..jari?” dia tergagap mengetahui sidik jari digunakan untuk melacak. Kena kau Yong Ra.

“Iya, dan ada sekitar 10 orang yang sidik jarinya terlacak disana,” oh yeah wajah Yong Ra sudah mulai memucat.

“Chagi, apakah kau pernah ke Le Louvre des Antiquaires ?” tanyaku.

“Dimana itu Oppa? Aku baru mendengarnya,” sekarang ekspresi Yong Ra terlihat kebingungan.

“Jadi kau tidak tahu Le Louvre des Antiquaires? Apa kau pernah ke Paris?”, tanyaku kembali. Le Louvre des Antiquaires adalah salah satu tempat perbelanjaan di Paris yang menjual barang-barang antik termasuk jam tangan Appaku. Tidak sembarang orang bisa membelinya mengingat harganya setara dengan sebuah mobil Mercedes-benz.

“Tidak Oppa, makanya kau harus mengajakku jalan-jalan ke Paris”

“Ara, kapan-kapan jika ada waktu kita kesana. Kau tahu chagi, aku menemukan namamu dalam daftar sidik jari jadi aku pikir kau pernah ke Le Louvre des Antiquaires mengingat hanya barang-barang langka saja yang dijual disana,” aku mencoba memancingnya.

Matanya melebar, Yong Ra gelagapan slah tingkah, “Mu..mungkin Shin Yong Ra yang lain oppa. Bukankah nama Shin Yong Ra banyak sekali di Korea hahahaha…” dia mencoba tertawa tapi yang ada hanyalah sebuah tawa hambar.

“Kau benar chagi, mungkin Shin Yong Ra yang lain hahaha…”, aku mengikutinya tertawa hambar. Baiklah kita lanjutkan sandiwara ini.

“Chagi, aku sudah membicarakan pernikahan kita pada Eomma, Eomma menyerahkan semuanya padaku hanya saja dia berpesan jangan sampai aku salah memilih wanita. Mungkin Eomma masih sedikit trauma dengan kejadian Nami, kau tahu sendiri kan Eomma mempunyai penyakit jantung  yang bisa kambuh kapan saja, dan aku tidak ingin membuat Eomma ku jatuh sakit,” aku menunjukkan raut wajah pura-pura sedih. Tentu saja semua ceritaku adalah sandiwara semata untuk menjebak Yong Ra.

“Kau mau berjanji kan untuk tidak menghianati keluargaku seperti yang dilakukan Nami? aku sangat menyayangi Eomma ku,” lanjutku dengan memasang ekspresi sesedih mungkin. Dia tidak mengatakan apapun, hanya diam menunduk.

“Oppa, jika aku melakukan kesalahan apakah kau akan membenciku? Apa kau akan memaafkanku?” tanyanya dengan raut sedih. Oh, sekarang apa yang dimaksudkan dengan ‘kesalahan’ ? mungkinkah dia benar-benar yang melakukannya?

“Tentu saja kumaafkan chagi, kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun untuk apa aku membencimu. Tapi lain halnya jika sudah menyangkut perasaan Eomma, jangan harap aku bisa memaafkanmu seperti yang kulakukan pada Nami…hahahaha”, Yong Ra sudah terlalu tegang sepertinya, jadi aku putuskan untuk mengakhiri kalimatku dengan sebuah tawa. Tapi tak ada reaksi sama sekali, dia hanya bengong dengan muka pucat pasi.

“Chagi, Chagi, kau tidak apa-apa?” tanyaku sambil menggerakkan tangan di depan mukanya.

“Kau sakit?”

“Ani Oppa, mungkin aku butuh istirahat. Oppa pulang saja” OMG, dia mengusirku sekarang.

Tetap sabar Cho Kyuhyun, walaupun bibirnya tidak mengakui, setidaknya mata dan ekspresi wajahnya sudah menunjukkan bahwa dia adalah tersangka utama.

“Baiklah, aku pulang dulu chagi..Annyeong”

***

Shin Yong Ra POV

Aku benar-benar takut sekarang, nasibku ada diujung tanduk.

Kau bodoh Shin Yong Ra benar-benar bodoh. Bagaimana bisa melupakan sidik jari. Aku terus memukul otakku yang bodoh ini. Untung Kyuhyun Oppa percaya dengan ‘Shin Yong Ra lainnya’, jika dia tahu aku pelaku sebenarnya matilah aku.

Aish, aku harus bagaimana sekrang? Kyuhyun Oppa sudah membicarakan pernikahan pada Eommanya dan jika suatu saat aku ketahuan aku pasti ditendang keluar dari rumahnya dan lebih parah lagi Kyuhyun Oppa akan membenciku.

Apa aku bilang saja tidak jadi menikah? Tapi percuma aku membuat Lee Nami pergi jika pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan Kyuhyun Oppa.

Jika tetap melakukan pernikahan, aku tidak bisa menjamin hidupku tenang. Haaahh, Shin Yong Ra, kenapa kau harus melakukan tindakan ini jika pada akhirnya kau yang rugi. Seharusnya dari awal aku tidak melakukannya.

“BODOH BODOH BODOH,”aku terus merutuki diriku sendiri sambil terus memukuli kepala.

“Yong Ra, kau kenapa memukul kemalamu?” Eomma yang sudah di depan pintu kamar mengagetkanku.

“Eomaaaa, apakah Eomma dan Appa ada rencana untuk pindah keluar negeri?” mendadak bibirku meluncurkan kata-kata yang mengejutkan diriku sendiri. Mungkin dengan pindah keluar negeri aku bisa bebas dengan masalah ini.

“Mwo? Apa yang kau bicarakan? Untuk apa keluar negeri, menghabiskan uang saja!” seharusnya aku tahu, mana mungkin Eomma mau keluar negeri mengingat dia begitu mencintai uang.

Bagaimana ini???? Aaarrrgghhh rasannya benar-benar memuakkan. Apa lebih baik aku mengaku saja? Haish, apa yang aku bicarakan sih. Jika mengaku, bagaimana nasib keluargaku menahan malu.

Aku terus berguling-guling di kasur sambil memikirkan cara untuk menghindari masalah ini hingga aku tak sadar sudah terlelap.

***

Author POV

Setelah meninggalkan Yong Ra, Kyuhyun memutuskan untuk kembali mencari Nami. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.

“Nuna, waeyo?”

“…………”

“Aku sedang di jalan. Ne, aku segera kesana” Kyuhyun segera memutar balik arah menuju rumahnya. Nunanya menelepon ingin memperlihatkan sesuatu penting kepadanya.

Setelah sampai rumah, Kyuhyun buru-buru memarkirkan mobilnya dan langsung berlari masuk.

“Wae ?” tanyanya cepat saat melihat Ahra menunggu didepan pintu dengan gelisah.

TBC

Nantikan part terakhir yuhuuuuu~ . Lagi-lagi makasih yee buat para readers, muuuach #ciumKyu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s