Don’t Go part 3b

20131225090542
Title : Hurt

Author :Exowie

Main cast: Chanyeol ~ Byun Haera

Minor cast : Baekhyun ~ Jongin ~ Sehun ~ Shin Haesul

Genre : Romance drama, Sad,  Comedy (little)

Rate : PG-15

Lengh : Chapter

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sehun menarik pandangannya dari Jongin yang menenggelamkan wajahnya di atas meja. Mengalihkan tatapan tanpa ekspresi yang selalu ia pasang, kini matanya berganti melihat Haera yang memasuki warnetnya dengan berjalan sedikit pincang. Berbagai pertanyaan dan spekulasi muncul di otaknya saat menatap wajah ceria Haera berubah jadi raut menyedihkan seperti yang tercetak di wajah Jongin saat ini. Bahkan ekspresi Haera jauh lebih memprihatinkan dari pada Jongin yang tadi mengeluh karena guru Matematikanya yang sangat terobsesi membuat pemuda berkulit tan itu menderita. Menghela nafas kini Sehun memperhatikan dua orang yang duduk di depannya dengan posisi kepala sama-sama di tidurkan. Kasihan matanya Sehun pikir jika terus dihadapkan pada pemandangan yang sama sekali tak enak seperti sekarang maka dari itu ia memutuskan tuk angkat suara.

“Aku rasa hari ini patut untuk ditetapkan sebagai hari galau sedunia.” Ucapnya berharap dua orang itu menanggapi omongannya seperti biasa. Tapi gagal. Usahanya yang ingin membuat dua orang agar tak lagi berwajah keruh barusan itu tak membuahkan hasil. Hanya berpengaruh pada Jongin yang kini mau mengangkat kepalanya karena merasa ada yang duduk di sebelahnya. Sehun yang gemas pada situasi yang memenuhi ruangannya saat ini, menggebrak mejanya membuat Haera tersentak dan memegangi telinganya yang penging karena suara yang ditimbulkan. Dan karena tingkahnya barusan, Sehun harus menerima tatapan membunuh yang membuatnya meneguk ludahnya  dari Jongin. Percayalah itu mengerikan.

“Kau tak apa Ra ? Dan apa yang terjadi dengan kakimu ?” Tanya Jongin yang  bisa melihat bekas  jejak air mata yang masih menempel di pipi gadis itu. Sedikit kaget Jongin mendapati kaki Haera yang terbalut kain berbecak darah yang  sudah mengering.

“Tidakkah gila jika kalian merasa nyaman dan bahagia hidup bersama orang yang selalu memarahi dan menyalahkan kalian tanpa ada sebab. Bahkan apapun yang kalian perbuat untuknya tak pernah orang itu menghargainya. Bukankah terlihat menyedihkan  jika kalian hidup seperti itu.”

Jongin dan Sehun saling beradu pandang. Jika bisa tatapan mereka bicara, mungkin kata ‘ada apa dengannya’ sudah terdengar di telinga. Kedua dari mereka tak ada yang mengerti dengan apa yang Haera katakan.

“Siapa yang kau bicarakan. Bukan kau kan ?”

“Sialnya pertanyaanmu itu salah Jongin-ah.  Itu adalah gambaran hidupku sekarang. Kasihan memang. Tapi entah karena akal warasku yang telah hilang, aku justru menikmatinya saat ini.” Haera menanggapi pertanyaan Jongin dengan senyum kecut. Tak bohong jika kini ia merasa sedih dan kecewa kepada Chanyeol. Mendongakkan kepala ke atas, Haera menelusuri langit-langit ruangan bercat coklat muda itu untuk tak membiarkan air yang telah menggenangi kelopak matanya itu menetes.

Dan sekali lagi, pandangan Sehun dan Jongin  bertabrakan. Semakin di buat bingung mereka
melihat keadaan Haera saat ini. Mereka tahu kalau saat ini Haera tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi mereka sama sekali tak tahu penyebab gadis periang itu  berwajah mendung sekarang.

“Kau frustasi karena tunggakanmu padaku Ra ?” Tebak Sehun. “Dengar, kau tak usah bersedih jika hanya karena masalah itu. Lagian kau tak usah khawatir, hutangmu sudah lunas kok. Dan sekedar saran saja, bodoh jika kau bunuh diri hanya karena frustasi terlilit hutang. Lagian kalau berniat bunuh diri tu bukan pergelangan kaki yang diiris tapi tangan. Kata orang itu lebih cepat. Apalagi kalau sampai bisa langsung membuat urat nadinya putus.”

Dan lagi, karena perkataannya barusan, Sehun harus menerima tatapan yang bisa kapan saja mengiris ulu hatinya dari Jongin. Sehun memang terkenal dengan  lidah dan mulut tajamnya. Meskipun semua  yang Sehun ucapkan itu tak serius, tapi alangkah baiknya ia bisa menempatkan kapan waktu bercanda yang tepat. Dan itulah sebab mengapa Jongin selalu memarahinya agar lebih bisa menjaga ucapannya. Karena sifat orang itu berbeda. Takutnya kalau saja Sehun bertemu orang yang tak tepat, berniat bercanda malah dianggap serius. Bukannya yang repot Sehun sendiri ?

Menenggak ludahnya kasar, Sehun merasa bersalah dan berkata lirih.

“Maaf. Aku akan menguncinya sekarang.” Ucapnya sembari menjepit mulutnya dengan tangan.

Melihat Sehun yang sudah diam, Jongin kembali menatap Haera yang saat ini memandang Sehun lekat dengan alis bertaut.

“Sudahlah jangan dengarkan dia Ra. Kayak gak tau Sehun aja. Anggap apa yang keluar dari mulutnya adalah bau busuk yang hilang karena diterpa angin lalu.” Nasehat Jongin yang dianggapnya sendiri sudah bijak. Padahal dalam kenyataan perumpamaannya barusan itu bukanlah perumpamaan yang tepat. Bau busuk jika terkena angin bukannya menghilang justru akan menyebar mengikuti arah angin itu. Tapi biarkanlah ucapan konyol Jongin itu berlalu. Toh Haera hanya mendengarnya tak berniat merespon.

“Apa tadi kau bilang ?” Tanya Haera pada Sehun mengabaikan omongan  Jongin. Matanya mengunci lekat wajah Sehun. Membuat orang yang dilihat dengan mata tak berkedip seperti itu menggaruk tengkuknya grogi.”Hutangku lunas ? Aku kan belum membayarnya. Ini uangnya masih di aku.” Haera berkata polos dan merogoh saku jaketnya dan menaruh lembaran uang kertas itu di atas meja.

Sehun dan Jongin menghembuskan nafas lega. Mereka pikir Haera akan marah dan tersinggung dengan ucapan kalimat kasar dari Sehun tadi. Ternyata salah.

Sehun melirik Jongin seolah minta bantuan. Yang hanya mendapat jawaban berupa anggukkan kepala saja dari Jongin.  Namun itu sudah cukup membuat Sehun mengerti akan isarat yang Jongin berikan. Kalau saja reaksi cepat mengertinya itu ada pada saat guru sekolahannya menerangkan pelajaran. Sudah pasti hidup Sehun akan bahagia karena tak harus dibentaki Luhan karena nilainya yang terus anjlok seperti sekarang.  Menarik nafas, ia mulai angkat suara.

“Ya Haera-ya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Tapi janji dulu kau takkan marah ya.”

“Apa ?”

“Janji dulu.”

Haera membalas dan menautkan jari kelingkingnya pada Sehun agar pemuda itu segera memulai ceritanya.

“Janji. Cepat katakan.”

“Jadi gini, maaf sebelumnya jika tidak memberitahumu dulu. Aku bukannya tak percaya padamu. Tapi karena hukuman appa, aku  harus melakukannya.”

“Tunggu, tunggu. Aku tak bisa menangkap inti ceritamu. Memang aku ada hubungannya dengan appa dan hukumanmu?”

“Maafkan dia. Jadi tadi siang kami mendatangi Chanyeol hyung dan meminta uang darinya untuk membayar hutangmu. Sehun dihukum tak diberi uang saku selama seminggu. Jadi terpaksa kita melakukannya. Maafkan kami.” Jongin yang tak sabar dengan kalimat Sehun yang berbelit, menyerobotnya langsung dan menceritakan pokok masalahnya pada Haera. Jongin tahu, meski saudara sepupunya itu bermulut besar yang sering ceplas-ceplos  dalam nada bicaranya, dia akan kesulitan jika harus bicara serius seperti sekarang. Maka dari itu Jongin membantunya.

“Tidak Jongin-ah, kau tak perlu minta maaf. Ini masalahku. Jadi aku yang harus minta maaf. Dan ya Haera, maafkan aku. Jika kau marah kau boleh memukulku. Asal kau terus datang ke sini ya.”  Pinta Sehun.

Haera yang melihat kejadian itu, kini bisa tersenyum. Bukan senyum sedih seperti tadi, tapi senyum tulus. Benar-benar tulus. Tiba-tiba saja perasaan rindu  untuk kakaknya menyeruak dalam hatinya. Karena apa yang baru ia saksikan barusan membuatnya teringat akan kehidupannya sebelum ia pergi dari rumah. Mereka, Sehun dan Jongin, boleh saja selalu bertengkar, mencela satu sama lain, atau apapun itu yang membuat mereka kesal. Tapi dibalik itu semua, mereka tetaplah saudara yang saling menyayangi.  Saling melindungi. Dan saling membantu jika salah satu dari mereka kesulitan. Persis dengan tingkah kakaknya yang selalu Haera terima. Kakaknya yang selalu cari gara-gara. Kakaknya yang selalu mengganggunya. Kakaknya yang menjailinya. Dan terakhir yang tak bisa Haera lupa, kakaknya yang selalu melindungi dan menjaganya. Sungguh Haera ingin melihat wajah kakaknya sekarang.

“Kalian tak perlu minta maaf. Nanti aku bisa memberikan uang itu padanya bukan ? Jadi jangan merasa bersalah. Justru akulah yang bersalah karena sudah merepotkan kalian. Makasih buat kalian yang sudah menjadi temanku ya,” Haera menunduk. “Tapi… aku tak janji untuk sering datang ke sini.” Wajah Haera berubah menjadi sedih kembali saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

“KENAPA!?” Ujar Sehun dan Jongin bersamaan. Membuat Haera mengangkat wajahnya untuk memperhatikan wajah kaget mereka sekarang.

“Ehm… aku sendiri juga tak tau. Lihat nanti aja ya.” Jawab Haera mengedikkan bahu. Membuat dua orang di depannya itu dilanda penasaran yang berlebih jika  dilihat  dari wajahnya.

=*+*=

Chanyeol yang diselimuti perasaan bersalah, membawa kakinya menuju taman di tepi danau. Dengan berkalungkan benda yang menjadi hobinya dari dulu, ia tengah asyik  menjelajahi dunianya sekarang. Terus mengarahkan mata kameranya ke arah obyek yang menurutnya menarik. Ia bisa melupakan sejenak masalahnya. Tersenyum Chanyeol saat berhasil mengabadikan pemandangan matahari yang hampir redup dari peradaban di ufuk barat sana. Terlihat elok semburat warna merah kekuningannya yang memantul menghias langit sore itu.

Fotografi. Ya, itulah hal yang menurut Chanyeol menarik di dunia ini. Setiap bidikan yang ia dapat adalah kepuasan tersendiri baginya. Dia bisa betah menahan lapar seharian jika sudah bergelut dengan kameranya. Bahkan cita-cita Chanyeol dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Yang adalah menjadi fotografer terkenal. Menentang keras kemauan ayahnya yang menginginkan Chanyeol mengikuti jejak pekerjaan mulianya.

Tak bosan dan terus memaksa matanya mencari obyek, Chanyeol tersenyum menyeringai saat melihat dua ekor burung Merpati tengah bertengger di ranting pohon yang hampir menyentuh air danau. Mengunci lekat burung itu, ia mulai mencari posisi yang bagus untuk  mengabadikannya menjadi  koleksi gambarnya yang pasti akan terlihat menarik. Berjongkok kini Chanyeol mulai mengarahkan kameranya untuk membidik.

“Shit !” Ucap Chanyeol kasar saat tak berhasil mengambil foto. Burung yang menjadi targetnya itu terbang bebas saat bulu putihnya terkena percikan air danau. Mengumpat Chanyeol mencari orang yang menurutnya tak punya kerjaan hingga melempar batu kerikil ke dalam danau menjadi pilihan untuk mengganggunya sekarang.

Menolehkan kepalanya ke samping kanan, Chanyeol mendapati pemuda yang sudah diyakini Chanyeol sebagai pelaku yang ia anggap kurang kerjaan itu. Matanya ia sipitkan untuk memastikan bahwa yang ia lihat itu memang orang yang sudah ia kenal. Kekesalannya berubah menjadi rasa penasaran hingga tanpa ragu Chanyeol melangkahkan kakinya menghampiri pemuda yang duduk di kursi kayu menghadap tepat ke danau itu. Sampai di dekat pemuda itu Chanyeol langsung berseru.

“Baekhyun.”

Baekhyun, pemuda itu tersentak saat namanya disebut tanpa merasakan ada orang yang sudah berdiri di sampingnya. Tangannya yang masih asik melempar kerikil ke danau langsung berhenti. Ia buang batu-batu kecil yang masih tersisa digenggamannya itu ke tanah saat melihat Chanyeol.

“Maaf mengagetkanmu.” Ucap Chanyeol bersalah.

“Tak apa. Duduklah,” Baekhyun tersenyum dan menepuk kursi  di sebelahnya menggesturkan Chanyeol untuk duduk di sana. “Apa yang kau lakukan di sini? Dan apa yang membuatmu berkeliaran tanpa mengganti baju seragammu dulu seperti sekarang. Kau tak takut dimarahi oemma-mu?”

“Ini,” Chanyeol mengangkat kameranya. “Kau bertanya seolah dirimu sudah berpakaian biasa tanpa seragam tuan. Harusnya aku yang tanya apa yang kau lakukan di sini. Aku sering datang ke sini kok.” Cibir Chanyeol.

“Aku baru mengunjungi oemma-ku.”

“Oemma-mu tinggal dekat sini?” Tanya Chanyeol terdengar antusias.

“Ya. Tinggal menyebrang  jalan besar itu kita sudah sampai.”

Senyum yang menghias bibir Chanyeol jatuh saat mendengar jawaban Baekhyun. Bulu kuduknya seketika meremang. Sedikit kaku ia mengucapkan kalimatnya.

“Ah bercanda saja kau. Mana mungkin oemma-mu tinggal di sana. Itu kan tempat pemakaman.” Ujar Chanyeol tanpa mengalihkan tangannya yang memegang tengkuk.

“Aku tak bercanda. Oemma-ku memang ada di sana. Beliau sudah lama meninggal. Mungkin sudah sekitar sepuluh tahun ini.”

“Oh maaf aku tak bermaksud… ”

“Tak usah minta maaf. Tanpa kau ingatkanpun aku selalu mengingatnya. Dia sudah bahagia di Surga sana. Aku juga sudah mengiklaskannya.  Semua manusia itu akan merasakan namanya kehadiran, kehilangan, dan kematian. Jadi untuk apa kau merasa bersalah ?” Baekhyun memotong cepat ucapan Chanyeol. Mata kecilnya ia tarik untuk memandang danau lagi. Menerawang jauh membawanya ke dalam masalah yang harus membuatnya tegar akan sakitnya rasa kehilangan orang yang ia sayangi lagi di hidupnya. Tak tahu kapan. Tapi yang jelas waktu itu pasti datang. Meremukkan hatinya  tanpa belas kasihan.

“Iya aku tahu,” Chanyeol menepuk pundak Baekhyun. Tak ingin berlarut dengan situasi yang sedikit mendung kini, Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan. “Lagian oemma tak mungkin memarahiku karena tak melepas baju seragam dulu sebelum pergi. Aku dan orang tuaku tinggal terpisah sekarang. Aku tinggal sendiri.”

Baekhyun yang tak mau terus larut dalam pikirannya, langsung menoleh ke Chanyeol. Tertarik dengan pembicaraan yang Chanyeol angkat saat ini.

“Tinggal sendiri ? Kenapa ?” Tanyanya.

“Rumah dan Fakultas yang akan aku masuki setelah lulus nanti berjarak cukup jauh. Orang tuaku kasihan jika harus melihatku bolak-balik menghabiskan waktu di jalanan. Sehingga, mereka membelikanku apartemen yang dekat dengan Fakultas yang aku pilih. Agar aku terbiasa hidup mandiri juga, mulai sekitar satu bulan lalu aku sudah tinggal di apartemen itu.” Jelas Chanyeol.

Baekhyun manggut-manggut mendengarnya menandakan ia mengerti. Tertarik kini ia melihat benda yang  menggantung di depan dada Chanyeol dan bertanya.

“Kau suka fotografi ?”

“Em ! Dulu aku hanya sekedar hobi. Tapi sekarang aku sudah terjerumus lebih dalam untuk menggeluti bidang ini.” Jawab Chanyeol mantap. Terlewat antusias ia menunjukkan hasil tangkapan kameranya pada Baekhyun. Tak ketinggalan Chanyeol juga berbagi ilmu yang telah ia dapat pada Baekhyun tentang cara mengambil angel kamera yang baik agar foto yang di dapat terlihat bagus.

“Kau hebat. Kau akan sukses Park Chanyeol.” Puji Baekhyun sungguh-sungguh setelah melihat semua hasil potretan Chanyeol.

“Ah kau bisa saja,” Chanyeol tersipu malu. “O ya kita harus foto bersama sekarang Baek.”

Chanyeol menggeser bokongnya mendekat Baekhyun. Merangkul pundak pemuda yang lebih pendek darinya itu, Chanyeol memerintahkan Baekhyun untuk berkata ‘go’ saat hitungan ketiganya berakhir. Dan Baekhyun-pun hanya menuruti perintah Chanyeol. Maka jadilah foto dari dua orang pemuda yang mulutnya menganga membentuk huruf O besar begitu konyol. Baekhyun dan Chanyeol tertawa bersamaan. Entah karena melihat hasil foto mereka atau terlebih pada kelakuan mereka barusan.

=*+*=

Haera mengangkat kepalanya dari meja. Sakit yang tadi menyerangnya masih menyisakan  sedikit pusing di kepala. Memijit keningnya pelan ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.00.

“Bodoh! Bagaimana bisa aku tidur di ruang makan selama tiga jam. Dasar kepala tak berguna.” Makinya pada diri sendiri.

Meregangkan ototnya yang kaku karena tidur dalam posisi  duduk, Haera mengangkat kedua tangannya ke atas untuk mengulat. Berdiri ia melangkah terpincang ke arah kamar Chanyeol. Dengan hati-hati ia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya ke dalam dari celah yang ada.

“Dia belum pulang, kenapa justru dia yang marah,” Desisnya kecewa. “Baiklah Haera. Kau harus segera pergi dari sini. Kau di didik bukan untuk membuat orang lain terbebani dengan kehadiranmu. Yah, harus pergi.” Ucap Haera lebih seperti memberi nasehat pada dirinya.

Menutup pintu itu kembali, Haera berjalan dengan  posisi menunduk. Melihat jemari kakinya yang melangkah asik di lantai tanpa alas sendal. Mengambil tas yang menjadi barang satu-satunya yang ia punya, Haera berhenti di depan foto Chanyeol yang terletak bersebelahan dengan televisi. Merogoh isi tasnya, Haera meletakkan uang yang tadi akan ia kasih ke Sehun tepat di depan foto itu.

“Selamat tinggal. Terima kasih sudah memberiku tempat tinggal dan… kebahagiaan,” Haera menghirup nafas dalam. “Ajhusi.”

=*+*=

Cuaca memang tak bisa di baca saat ini. Langit sore yang masih terlihat cerah tadi, kini berubah menjadi arakan awan hitam yang menghias pekatnya malam. Angin  yang berhembus kencang seolah tak mau ketinggalan untuk memberitahu bahwa langit sebentar lagi akan menangis.

Tetesan air hujan yang jatuh dalam gerimis itu membangunkan seseorang dari tidur singkatnya setelah di tinggal sahabatnya pulang lebih dulu. Mengerjapkan matanya berkali-kali, Chanyeol dibuat terkejut dengan sekelilingnya yang kini sudah berganti menjadi gelap. Hanya di terangi lampu jalanan yang tak bisa menjangkau semua tempat di taman yang luas itu. Melihat jam di ponselnya ia beranjak dari duduknya.

“Jam delapan. Bodoh sekali.” Umpat Chanyeol.

Memaksa  kesadaran dan kakinya untuk mengambil langkah seribu, Chanyeol mengangkat jaketnya sampai atas kepala untuk melindungi tubuhnya dari rintik hujan yang mulai deras. Mengumpat ia menyalahkan dirinya karena bisa tertidur di taman. Dan entah sejak kapan pintu masuk yang menjadi tempat parkir mobilnya terasa  lebih jauh untuknya sekarang.

Berlari dengan nafasnya yang berderu kencang, Chanyeol kini sudah bisa melihat mobilnya. Hanya tinggal menyebrang jembatan kecil yang bawahnya terdapat kolam ikan itu dia sudah bisa berlindung dari air hujan yang terus mengguyurnya. Tepat saat menapakkan kaki di jembatan kayu itu, Chanyeol merasakan ponsel dalam saku jaketnya bergetar karena panggilan masuk. Menurunkan jaketnya dari kepala ia segera mengambil ponselnya dengan tergesa. Mungkin karena sial atau karmanya hari ini, saat mengambil ponsel Chanyeol merasakan jarinya meraih benda lain di dalam sakunya. Karena gerakan tangannya yang cepat membuatnya tak bisa menggenggam dengan baik benda itu. Jadilah sekarang benda kecil dalam sakunya itu terjun ke dalam kolam.

Chanyeol berhenti sejenak. Tak butuh waktu lama untuk tahu benda apa yang jatuh tadi.

“Kalung.” Ujarnya.

Ya. Benda itu adalah kalung yang ia beli kemarin saat datang ke bazar. Chanyeol belum sempat memberikannya ke Haera karena lupa. Chanyeol bimbang saat ini. Haruskah ia meninggalkan kalung itu. Atau, ia harus masuk ke dalam air untuk mencarinya.

Tapi Chanyeol sama sekali tak berminat untuk melaksanakan pemikiran terakhirnya. Air hujan yang menerpa kulit wajahnya saja sudah cukup membuatnya menggigil. Apalagi harus masuk air yang akan membuat sekujur tubuhnya akan basah kuyup di musim gugur ini. Bodoh Chanyeol pikir jika dia sampai melakukannya.

Selesei bergelut dengan pikirannya, Chanyeol kembali berlari menuju mobil. Menaruh kamera dan tasnya ia langsung menghidupkan mobil. Menginjak gas dan keluar dari taman yang sudah sepi itu.

Tapi Chanyeol tetaplah  Chanyeol. Seorang pemuda yang terlihat acuh tapi perduli. Terlihat kasar tapi lembut. Dan terlihat kuat tapi selalu kalah dengan suruhan hatinya. Berteriak dan mengacak rambutnya yang sedikit basah, ia membanting setir untuk berbalik menuju taman kembali. Merapatkan jaket ia menutup  pintu mobilnya kasar.

“Akh… aku benci dengan diriku yang seperti ini!”

=*+*=

Haera menengadahkan tangannya di bawah atap halte. Membiarkan tetes-tetes air hujan  itu menggelitik telapak tangannya. Kilatan dan gemuruh petir menjadi temannya di malam yang kian larut. Erangan kendaraan yang mulai sepi menjadi irama pengisi kekosongan hatinya kini. Tak ada yang mengerti apa yang tengah ia pikirkan. Bahkan dirinya sekalipun. Dia ingin pergi tapi mengapa terasa berat untuknya melangkah.

Membasuh mukanya dengan air hujan Haera bergidik  geli karena sensasi dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuat bulu kuduknya seketika berdiri. Tapi tak jera gadis itu dan terus mengulangi aksinya berkali-kali. Seolah itu adalah permainan seru yang bisa sedikit menghibur hatinya yang tengah gundah. Seulas senyum terlihat di bibir mungilnya saat Haera menarik tangannya dari air hujan untuk mengakhiri tingkah bodohnya.

“Waktunya pulang Haera-ya.” Ucapnya dan beranjak menghampiri telepon umum yang berada tepat di sebelah halte. Mengobrak-abrik tasnya Haera mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk menggunakan fasilitas umum di depannya berdiri sekarang.

“Terkutuklah siapapun kau yang telah mengambil ponselku tanpa ijin. Jika sampai aku tak menemukan uang dalam tasku sekarang, kupastikan hidupmu takkan bebas. Tunggu saja,” Gerutu Haera kesal.  Lama sudah ia mencari  benda yang sangat dibutuhkannya sekarang. Namun belum juga ia menemukan uang warna perak itu berada dalam tasnya. Tak sabar Haera mengeluarkan semua isi tasnya dengan menjungkalkannya ke bawah. Membuat barang-barangnya berceceran di bangku halte. Tersenyum lega gadis itu saat mendapati apa yang ia cari  menjadi benda yang paling akhir terjatuh. “Akhirnya. Baiklah kau selamat  hai pencopet.”

Dengan uang logam yang baru ia temukan, Haera ingin menelpon seseorang untuk menjemputnya sekarang. Tangannya menari indah menekan sederet angka di telepon umum itu. Sedikit lama ia menunggu panggilan teleponnya di angkat.

“Hallo.” Jawab orang di sebrang.

Haera menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyum. Niat awalnya yang ingin memberendong kecoa yang menjadi serangga paling ditakuti  kakaknya jika tak mengangkat telponnya ia urungkan. Karena kini setelah hampir putus asa menunggu suara itu menyapanya dari telpon. Tak bisa berdalih lagi jika kini Haera senang  bisa mendengar suara yang lama tak masuk gendang telinganya. Bibirnya sudah mengambil ancang-ancang untuk memanggil orang yang ia telpon kini. Tapi belum juga suaranya keluar, Haera merasakan tepukan yang terasa dingin dan basah pada pundaknya. Reflek ia menutup gagang telpon memutus sambungannya karena kaget. Badannya menegang. Pikiran negatif tentang mahluk tak berwujud yang keluar setiap malam tengah menggerayanginya. Ditambah keadaan disekitarnya yang sudah sepi, membuat bulu kuduk Haera meremang. Jantungnya berdetak cepat diiringi mulutnya yang komat-kamit membaca doa. Mengumpulkan seluruh keberaniannya Haera menggeser sedikit demi sedikit kepalanya untuk melihat ke belakang. Menghirup nafas dalam ia berjaga-jaga untuk berteriak kencang jika saja yang ia lihat nanti benar-benar manusia berkepala buntung yang kini ada dalam pikirannya.

“YA…!! APPA… !”

Teriak Haera keras. Bukan, bukan. Bukan karena pelaku yang memegang pundaknya kini adalah manusia kepala buntung seperti yang ada dalam imajinasinya. Tapi lebih tepatnya Haera menyebutnya sebagai Zombe hidup. Yah itulah  gambaran pertama yang terlintas dibenaknya saat melihat penampilan Chanyeol sekarang. Badan basah, rambut acak, wajah pucat, bibir berwarna kebiruan  karena kedinginan ditambah mata yang sedikit terpejam. Seperti orang yang tak niat lagi untuk hidup.

“A… a… ajhusi. Ka… kau ken…  kenapa?” Tanya Haera terbata karena belum bisa menghilangkan rasa kagetnya.

“Jangan….”

“Ya! Aow….” Haera terkejut dan meringis memegang bokongnya yang mendarat di aspal dengan keras.

Tubuh mungilnya tak mampu menopang bobot tubuh Chanyeol yang sekarang sedang pingsan  menimpa dan menindihnya. Sudah bisa Haera pastikan jika kini bajunya kotor terkena air dan lumpur. Tapi saat ini ia tak ambil pusing apalagi memikirkan hal itu.

Memukul pipi Chanyeol berkali-kali Haera  berharap pemuda itu sadar. Tak nyaman  dan pegal dengan posisinya sekarang Haera berusaha mendorong tubuh menjulang Chanyeol dengan tenaga yang masih tersisa. Berhasil membebaskan tubuhnya dari Chanyeol, Haera langsung menyelonjorkan kakinya untuk duduk memangku kepala Chanyeol di pahanya. Terus memanggil nama pemuda itu berkali-kali Haera didera rasa takut dan panik sekarang. Karena tak sedikitpun Chanyeol membuka mata yang tertutup rapat itu.

.

Di suatu tempat berbeda.

Baekhyun membaringkan tubuh kurusnya dengan posisi bertelungkup di ranjang kamarnya. Di depannya terdapat sebuah laptop yang setia menemani kesendiriannya saat ini. Sunggingan senyum terpampang manis di bibirnya saat membaca balasan chating dari orang yang kini jauh di negeri sebrang. Jari tangannya meliuk indah di atas keyboard mengetik kata yang kini ia ucapkan lirih di bibir.

“Ya crewet, aku bukan anak kecil lagi. OK.” Ditekannya tombol enter. “Yup!” Ucapnya sambil tersenyum mengelus dagu dan menunggu lagi pesan yang akan ia terima.

Melirik ke ponsel yang ia taruh di meja samping ranjangnya, Baekhyun enggan beranjak untuk mengangkat panggilan masuk itu. Sedikit lama ia bangkit dari kasur empuknya untuk menghentikan suara yang mengganggu kesunyian malamnya. Mengangkat ponselnya dari meja Baekhyun menautkan alisnya melihat nomor yang tak di kenal masuk. Ragu ia untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi karena terdorong rasa penasaran akhirnya Baekhyun mengangkat telpon itu. Siapa tahu penting. Pikirnya.

“Hallo,” Sapanya. Tapi Baekhyun bukannya dapat balasan salamnya justru mendengar suara telpon yang di tutup keras. Menjauhkan ponselnya ia memegangi telinganya yang terasa penging karena suara itu. Mencoba sabar ia kembali menyapa orang di sebrang. “Hallo. Ada orangkah. Hallo….”

Tak ada jawaban. Baekhyun memandang ponselnya sebal. Seolah benda itulah yang membuatnya membuang waktu kebersamaannya bersama orang yang selalu berhasil membuat degup jantungnya tak beraturan. Orang yang berhasil membuat otaknya tak bisa lepas memikirkan nya walau hanya semenit. Dan orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum  walau menghadapi masalah sebesar apapun itu. Meski hanya suara yang menyapanya kini bukan pelukan atau genggaman  tangan hangat gadis yang membawa separuh hatinya pergi saat ini seperti dulu saat waktu mereka masih bersama. Tak seperti sekarang dengan kejamnya takdir membuat mereka sementara waktu berpisah dahulu.

“Dasar iseng.” Umpatnya sembari melempar  kasar ponselnya ke atas ranjang ukuran jumbonya dan kembali membaringkan tubuh kurusnya seperti posisi semula di sebelah ponsel yang tergeletak tak bersalah itu.

=*±*=

Salah satu sifat yang perlu diacungi jempol dari seorang Park Chanyeol adalah tekat bajanya. Chanyeol takkan menyerah sebelum apa yang ia inginkan dari awal ia dapatkan diakhir. Berendam di cuaca dingin disertai hujan yang terus mengguyurnya selama satu jam lebih membuat tubuhnya kaku dan mati rasa. Wajahnya lebih tepat di sebut mayat hidup dari pada manusia. Putih pucat seperti tak ada aliran darah di dalamnya.

Kebetulan yang membawa keberuntungan. Saat Haera dalam keadaan panik tak tahu harus melakukan apa pada tubuh Chanyeol yang belum sadar,  dua orang pemuda  yang baru tiba di halte untuk berteduh itu membantu Haera menggotong Chanyeol sampai apartemen. Haera terus membungkuk berkali-kali untuk berterima kasih pada dua orang itu.

“Terima kasih. Terima kasih banyak. Aku tak tahu harus bagaimana mengucapkan rasa terima kasihku. Kalau tak ada kalian pasti aku tak bisa membawanya sampai ke sini. Terima kasih” Ucap Haera.

“Sudah, jangan terus berterima kasih. Sepertinya hujan sudah sedikit reda. Kami harus pamit dulu sudah malam.” Pamit pemuda dengan potongan rambut cepak pendek membalas ucapan Haera.

“Ah baiklah. Sekali lagi terima kasih. Hati-hati di jalan.” Haera melambaikan tangannya ke arah dua pemuda yang sudah masuk lift itu. Menutup pintunya, Haera bergegas menghampiri Chanyeol yang tergolek lemah di ranjang.

Haera bisa mendengar samar rintihan yang keluar dari mulut Chanyeol yang masih dalam  keadaan mata tertutup. Tak terlalu jelas, tapi Haera tahu kalau rintihan itu adalah ungkapan rasa dingin yang kini menjalar di tubuh Chanyeol. Setelah membuka sepatu dan kaos kaki Chanyeol, Haera lama berdiri mematung untuk berpikir.  Menaruh telunjuknya di pelipis, Haera masih urung tuk bergerak. Sampai suara rintihan itu terdengar jelas di telinganya, barulah Haera tersadar dan segera menuju lemari pakaian.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk Haera melepas dan menggantikan kemeja basah itu dengan pakaian tebal musim dingin. Tangannya menarik selimut yang masih menutupi bagian perut ke bawah Chanyeol sampai kini bisa menutupi seluruh anggota badannya.

“Dia demam.” Ucap Haera saat memegang kening Chanyeol yang panas. Menarik tangannya yang masih menempel di kening Chanyeol, Haera ingin beranjak pergi. Namun langkahnya berhenti saat tangannya terasa ada yang menarik dan menggenggamnya.

“Jangan pergi.”

“Ha?” Hanya kata pendek itulah yang bisa Haera keluarkan. Gadis itu takut kalau pendengarannya saat ini sedang terganggu seperti yang sudah-sudah. Sebuah kalimat permintaan singkat yang menyuruhnya untuk tetap tinggal di sana. Menatap pergelangan tangannya yang masih di genggam Chanyeol, Haera memutarnya agar terlepas. Karena Haera pikir Chanyeol hanya mengigau karena suhu badannya yang terlampau panas kini. Tapi genggaman tangan itu tidak melonggar justru makin kuat.

“Jangan pergi,” Ulang Chanyeol sembari membuka matanya pelan. “Duduklah di sini.”

“Ta… tapi tapi, aku ingin….”

“Duduk atau aku akan mencekikmu. Meski aku sakit aku masih punya tenaga untuk melakukan itu.” Gertak Chanyeol lemah.

Haera duduk di kursi belajar yang ia tarik ke sebelah ranjang Chanyeol sekarang. Bukan karena takut dengan ancaman barusan. Haera sendiri tak mengerti mengapa ia bisa semudah itu menurut. Genggaman dan tatapan Chanyeol yang baru ia terima itu seolah bisa membekukan kinerja otaknya sekarang. Lama Haera memandang wajah pulas Chanyeol yang sekarang sudah tertidur itu. Mengusap berkali-kali rambut Chanyeol yang menjuntai ke depan itu, Haera bangkit dari kursi dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Chanyeol. Lama ia memandang wajah damai Chanyeol itu hingga membuatnya tanpa sadar terus mendekatkan wajahnya hingga menyisakan sedikit lagi bibirnya akan mendarat di bibir pemuda itu. Namun denting jam dua belas malam yang berbunyi dari ruang tamu menyadarkannya dari kebodohan yang baru saja akan ia lakukan.

“Tuhan! Apa yang aku lakukan. Byun Haera kau tolol” Ucap Haera dan langsung menjauhkan wajahnya dari Chanyeol. Memegang pipinya yang memanas Haera duduk kembali untuk menenangkan dirinya yang merasa malu.

=*+*=

Hembusan nafas teratur itu menggelitik leher Chanyeol hingga membuatnya terbangun. Matanya ia kerjapkan berkali-kali untuk mengumpulkan kesadarannya yang belum semuanya kembali. Rasa pusing masih terasa di kepalanya namun tak sesakit kemarin malam. Memijit keningnya pelan, Chanyeol  dapat merasakan benda yang menempel di keningnya  sekarang.

“Handuk ?” Ujarnya.

Menolehkan kepalanya ke samping, kini Chanyeol dapat melihat Haera yang tidur dalam keadaan duduk di kursi dengan posisi kepala berada tepat di sampingnya. Tak pelak jika dari tadi Chanyeol bisa mendengar hembusan nafas yang mengganggu tidurnya.

“Bodoh! Kenapa kau tidur di sini. Apa cara tidurmu seperti itu tak membuat badanmu sakit ha?” Tanya Chanyeol yang dalam kalimatnya memang terdengar emosi. Tapi yakinlah itu bukan emosi kemarahan seperti biasanya. Jika disadari itu adalah bentuk perhatian Chanyeol untuk orang yang sama sekali tak bergeming dari tidurnya kini. Terlalu letih gadis yang masih tertidur beberapa jam itu untuk mendengar ucapan Chanyeol.

Memaksa tubuhnya yang masih terasa lemah Chanyeol bangun dan turun dari ranjang. Mengarahkan tangannya untuk mengangkat dan membaringkan tubuh kurus Haera ke kasurnya. Tersenyum Chanyeol menatap wajah polos Haera dalam tidur pulasnya sekarang. Tak ada wajah menjengkelkan seperti saat gadis itu sadar dan terus mengganggunya setiap hari.

“Tidur yang baik. Terima kasih sudah menungguku.” Chanyeol menarik selimut untuk menutupi tubuh Haera yang dingin itu. Mata Chanyeol membulat sempurna saat tak sengaja melihat perban yang melilit pergelangan kaki Haera. Langsung saja ucapan Haera kemarin berkelibat dan terdengar jelas lagi memenuhi otak Chanyeol sekarang.

“Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan memasaknya  yang ia bilang ?” Chanyeol menatap Haera.”Dasar gadis bodoh. Bagaimana bisa kau terluka seperti ini ha? Apa kau ingin menyiksaku dengan perasaan bersalahku padamu sekarang. Kau pikir kau siapa. Dasar tak berguna,” Omel Chanyeol. Dan detik berikutnya ia terlihat memicingkan matanya dan bergumam dengan sedikit menurunkan oktaf suaranya. “Tapi kenapa aku harus merasa bersalah. Lagian aku tak menyuruhnya melakukan itu. Jadi bukan aku yang salahkan ? Dan kenapa aku harus marah-marah seperti ini. Terlebih lagi mengapa aku berbicara sendiri seperti orang gila. Bodoh bodoh bodoh. Akh…, ” Chanyeol mengacak rambutnya kasar. Tak mengerti mengapa emosinya gampang sekali berubah naik turun seperti anak tangga yang selalu merepotkannya jika lift apartemennya rusak. Namun tak berselang lama ia bergelut dengan pikirannya bibirnya  kembali berucap. Ucapan yang dari kemarin Chanyeol pendam dan sulit untuk ia keluarkan.  “maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu menangis.”

Kini giliran Chanyeol yang duduk di kursi persis seperti yang dilakukan Haera saat menunggunya. Tangannya sibuk meremas ujung baju yang ia kenakan. Matanya menelusuri lekuk wajah mungil di depannya sekarang. Tak berapa lama ia larut dengan aktifitasnya itu, telinganya menangkap  bunyi yang berasal dari ruang tamunya.

“Siapa yang membuka pintuku sepagi buta ini?” Chanyeol sigap berdiri. Berjalan ia keluar dari kamar. Penasaran sudah pasti ada dalam benaknya. Tapi Chanyeol sama sekali tak berfikir jika itu adalah maling. Karena selain apartemennya yang memeliki kamera CCTV dimana-mana, apartemen itu juga dijaga satpam yang berjaga dua puluh empat jam nonstop. Jadi mustahil jika maling bisa masuk. Karena itu Chanyeol tak berniat membawa alat jaga-jaga untuk melindungi dirinya.

Tepat saat ingin berbelok menuju ruang tamu, mata Chanyeol membelalak horor melihat dua orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka di depan televisi itu. Sampai tak sadar dengan kehadiran Chanyeol yang sekarang tengah lari tunggang langgang menuju kamar.

Tidak tidak. Meskipun Chanyeol lemah dalam bela diri, dia takkan lari dengan panik jika yang ia lihat sekarang itu adalah maling yang tengah menjarah dalam rumahnya. Biar bagaimanapun dia adalah seorang lelaki yang takkan merelakan begitu saja barang-barangnya diambil dengan tidak hormat.

Tapi masalahnya kini berbeda. Jika saja tak ada seonggok daging manusia yang tengah tidur di kamarnya, sudah pasti Chanyeol akan menghampiri dan memeluk mereka. Tidak lari seperti menghindari semburan api naga seperti sekarang ini. Dan tanpa malu ataupun ragu Chanyeol akan mencium wanita yang sudah sebulan lebih tak ia lihat wajahnya itu. Tapi untuk sekarang ia tak mungkin bisa melakukannya. Secepat kilat ia harus menyelamatkan hidupnya yang berada di atas tanduk sekarang. Chanyeol takkan pernah siap jika harus dipecat jadi anak karena ketahuan tinggal bersama seorang gadis saat ini.

“Yeobo, bajunya letakkan dulu saja di sana. Masih jam setengah enam pasti Chanyeol masih tidur. Aku akan menaruh makanan ini dalam kulkas sebentar.”

“Ya. Aku akan ke kamarnya sekarang. Waktu kita tak banyak di sini jika tak mau terlambat ke acara itu.” Suara lelaki terdengar menggema di ruangan itu menanggapi omongan istrinya.

Mendengar hal itu Chanyeol yang baru tiba di kamarnya serasa terkena serangan jantung mendadak. Jantungnya berdetak terlampau cepat saat derap langkah itu semakin mendekat. Tak ingin membuang waktunya terlalu lama, Chanyeol segera berlari menuju ranjang dan menenggelamkan badannya ke dalam selimut tebalnya. Menggapit  tubuh Haera layaknya guling dan membungkam mulutnya yang ingin berteriak kaget.

“Tolong untuk kali ini selamatkan hidupku dengan diam jangan bersuara. Orang tuaku datang  ke sini.” Ujar Chanyeol terlebih seperti orang berbisik memohon pengertian.

Bersukur saja pendengaran Haera pagi ini sedang normal hingga bisa mendengar ucapan lirih itu. Walau belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi Haera menuruti saja apa yang dikatakan Chanyeol.

Klek

Pintu terbuka. Chanyeol menenggak ludahnya kasar ketika melihat seorang lelaki yang masih terlihat muda dengan perawakan tinggi sepertinya masuk ke kamar. Lelaki dengan kemeja putih dibalut jas hitam yang tak lain adalah ayahnya itu sedikit terkejut mendapati putra semata wayangnya itu ternyata sudah bangun.

“Chanyeol kau sudah bangun. Appa pikir kau masih tidur.” Sapa ayah Chanyeol dan berjalan mendekat ke ranjang.

“APPA!! Kau… kau datang. YA JANGAN MENDEKAT.” Teriak Chanyeol.

“Kenapa ?” Tanya ayah Chanyeol bingung dan langsung berhenti di tempat.

“I… itu. Em… kemarin itu aku tak mandi. Jadi badanku bau sekarang. Aku takut nanti appa akan muntah karena baunya. Iya aku tak mandi hahaha. Jadi… jadi jangan mendekat.”

“Kenapa kau jorok sekali. Appa sudah bilang berjuta kali ke kamu untuk selalu menjaga kebersihan. Agar kau terhindar dari kuman dan penyakit. Kalau kau sakit pasti….”

“Appa,” Chanyeol memotong cepat ucapan ayahnya. Chanyeol sudah hapal di luar kepala dengan tabiat ayahnya yang selalu menjunjung tinggi kebersihan. Dan jika sudah berbicara tentang hal itu, Chanyeol tahu ayahnya takkan pernah bertemu tanda titik untuk mengakhiri kalimatnya.”Dengarkan aku dulu. Aku sudah tau pentingnya kebersihan itu. Jadi appa tak perlu repot lagi untuk menjabarkannya. Aku tak mandi kemarin karena aku sedang demam. Jadi kupikir tak mandi saat demam bisa dimaafkan kan ?”

“Benarkah? Coba appa periksa.”

“JANGAN MENDEKAT!!” Sekali lagi Chanyeol berteriak dan sukses menghentikan langkah ayahnya.

“Aku hanya ingin memeriksamu takkan menyuntikmu.”

“Tidak, tidak usah. Percayalah aku sudah baikan sekarang.”

“Kau bohong aku akan tetap memeriksamu.”

“YA APPA TIDAK USAH!!”

“Ada apa sih ini. Baru juga ketemu sudah ribut aja.” Seorang wanita berambut pendek sebahu masuk dan bergabung bersama Chanyeol dan suaminya. Berjalan wanita cantik itu  ingin mendekati Chanyeol.

“OEMMA… JA JANGAN KESINI AKU SEDANG DEMAM NANTI KAU BISA KETULARAN!” Dan seperti yang tadi ia lakukan ke ayahnya. Chanyeol langsung membentak ibunya dengan alasan yang lumayan masuk akal.

“Benarkah. Coba oemma lihat suhu keningmu.”

“Tidak tidak. Tidak usah. Aku sudah baikan. Aku hanya tak ingin wajah cantik oemma pucat jika sampai oemma mendekat lalu tertular penyakitku,” Ucap Chanyeol lagi. Tak ingin terus membahas demam yang membuat orang tuanya khawatir dan ingin memeriksanya Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan.”Kalian mengapa datang kesini tak memberi tahuku dulu.” Tanyanya.

“Siapa bilang. Appa kemarin sudah menelponmu. Entah apa yang kau lakukan sampai kau tak mengangkat telponnya. Appa mencoba menghubungimu lagi tapi ponselmu tak aktif.”

“Ow… itu kemaren ponselku kehabisan batrai.” Tentu saja Chanyeol berbohong pada ayahnya. Ponselnya mati itu karena disebabkan terkena air saat ia masuk ke dalam kolam.  Bukan seperti apa yang ia ucapkan. Batrai habis.

Chanyeol yang berhasil mengalihkan topik pembicaraan sedikit lega karena tahu orang tuanya tak lama lagi akan pergi dari apartemennya. Mereka akan pergi ke luar kota untuk menghadiri pernikahan anak teman ayahnya.  Karena arah jalan yang searah dengan apartemen Chanyeol, orang tuanya sekalian mampir untuk mengantar baju dan melihat keadaan putranya.

“Ya Chanyeol-ah, oemma perhatikan guling kamu sedikit besaran ya.”

Chanyeol yang sudah bisa mengatur nafasnya serasa terkena serangan jantung untuk kedua kalinya saat mendengar kalimat ibunya. Keringat dingin lagi-lagi muncul dari pelipis dan punggungnya. Namun sebisa mungkin Chanyeol harus bersikap biasa agar orang tuanya tak curiga dan akan menggantungnya jika ketahuan itu adalah guling bernyawa. Menggigit bibirnya Chanyeol mulai mengeluarkan bakat aktingnya.

“Ah iya ni oemma tau aja. Tau gak ini guling aku pesan langsung dari tokonya lho. Aku bilang ke mereka karena ini memasuki musim dingin tolong buatkan  aku yang ukuran besar. Jadi itu bisa menghangatkanku saat aku tidur hahaha benar kan yang aku bilang.” Chanyeol tertawa garing.

Mendengar perkataan Chanyeol barusan membuat Haera enek. Sedikit tak terima dirinya dibilang guling yang bisa menghangatkan tubuh Chanyeol. Ditambah kini pantatnya dengan kurang ajar ditepuk keras oleh Chanyeol. Haera yang jengkel tak ingin menyia-nyiakan tangannya yang berada tepat di paha Chanyeol. Dengan tak punya hati ia mencubit dan memuntirnya. Membuat wajah Chanyeol kini persis orang yang sedang menahan  sakit karena berak dan  tragisnya ia tak bisa berteriak akan hal itu.

Badan Haera yang memang tergolong mungil membuat orang tua Chanyeol percaya begitu saja. Merasa waktu mereka yang tak begitu banyak ibu Chanyeol angkat suara untuk pamit.

“Kamu ini ada-ada aja. Pesan kok guling. Ya udah waktunya oemma dan appa pergi sekarang. Tadi oemma beliin makanan dan oemma taruh di kulkas. O ya, tadi waktu oemma ke dapur nggak sengaja liat di tempat sampah kok banyak tisu bekas darah ya. Kamu habis terluka?”

“Darah?” Tanya Chanyeol kaget terlebih ngeri mendengarnya. Chanyeol yakin kalau itu adalah darah Haera. Tapi tak mungkin bukan jika Chanyeol berkata jujur. “OH… ITU…,” Chanyeol berpikir.”itu… itu bukan darah. Itu hanya cat air. Yah cat air. Aku ada tugas kesenian kemarin haha.”

“Kau tak bohong kan?” Selidik ayah Chanyeol mengintrogasi.

“Tentu saja.”

“Jangan karena kau benci alat medis kau menyembunyikan luka itu sampai terkena infeksi dan menyebabkan kau butuh perawatan rumah sak….”

“APPA! JANGAN BEGITU. KAU TAHU AKU TAK BISA MENDENGARNYA KAN!” Bentak Chanyeol memenggal kalimat ayahnya.

“Bagaimana bisa kau jadi lelaki dewasa jika dengan rumah sakit saja kau masih takut.”

“Lelaki dewasa tak mewajibkan orang itu harus berani dengan tempat horor macam itu.”

“Rumah sakit bukan tempat horor Chanyeol. Appa saja bekerja di sana.”

“Tapi bagiku tempat itu lebih seram dari kuburan appa mengertilah.”

“Haduh sudah dong kalian ini,” Lerai ibu Chanyeol. Pusing wanita itu jika mendengar pertengkaran yang dilakukan tak hanya sekali dua kali oleh anak dan suaminya dengan topik sama setiap kalinya. Menatap Chanyeol wanita itu berkata lembut. “Chanyeol jika kau ada apa-apa langsung telpon oemma ya. Jangan buat kami hawatir. Oemma akan pergi sekarang da….” Ujarnya dan melenggang pergi sambil menarik tangan suaminya agar mengikuti langkahnya tuk keluar.

“Pasti. Da oemma,appa hati-hati di jalan,” Chanyeol melambaikan tangan dan tersenyum membalas orang tuanya.” Hufh….”  Hembusan nafas panjang keluar dari mulutnya. Merentangkan kedua tangannya ia bisa bernapas lega sekarang. Tapi tak dipungkiri kalau perasaan bersalah  terhadap orang tuanya lebih mendominasi hatinya saat ini.

Sementara Haera yang masih meringkuk dalam selimut enggan merubah posisinya. Entah jin apa yang memasuki tubuhnya hari ini. Dia merasa senang di atas penderitaan Chanyeol barusan. Baginya, suara grogi Chanyeol, detak jantung cepat Chanyeol dan terlebih pelukan erat Chanyeol adalah hiburan yang bisa membuatnya tersenyum dan senang. Haera tak bermaksud jahat. Dia sendiri juga tak tahu mengapa bisa senyaman itu melakukan kontak fisik dengan Chanyeol yang lumayan lama dalam keadaan sedekat itu.

Haera sama sekali tak merasa takut jika saja orang tua Chanyeol mengetahui keberadaannya di sana. Mungkin karena Haera merasa itu bukan masalah besar baginya. Toh jika saja ketahuan yang di cincang bukan dirinya. Kejam.

Tapi jujur, bukan itulah yang membuatnya tak takut. Namun terlebih pada pikiran yang terus berputar memenuhi otaknya sekarang.

“Sampai kapan kau terus seperti itu.”

“Ya ajhusi!  Kenapa kau mengagetiku! ”

“Aku tak mengagetimu.”

“Tapi wajahmu mengagetiku. Jauh-jauh sana.” Haera marah dengan berlaga cemberut dan  mendorong muka Chanyeol agar menjauh. Bukannya Haera marah beneran, itu hanya pura-pura belaka. Dia hanya tak ingin Chanyeol melihat wajahnya yang memerah sempurna karena tindakan Chanyeol yang tiba-tiba masuk ke dalam selimut dan mendekatkan wajahnya itu dengan wajahnya.

“Jangan kurang ajar. Aku lebih tua darimu. Lagian bagaimana bisa kau melamun dalam keadaan seperti tadi.” Chanyeol menepis tangan Haera dari wajahnya.

“Aku…,” Haera menggantungkan kalimatnya dan sibuk memainkan bola matanya melirik ke kanan dan kiri. “Aku tidak melamun. Hanya saja sedang berpikir.”

“Otakmu masih bisa buat berpikir. Aow… ya!” Chanyeol meringis memegangi dadanya yang di tonjok Haera keras.

“Jangan mulai. Rasakan itu,” Potong Haera cepat saat Chanyeol ingin mengajukan protes akan pukulannya. Dengan sedikit jengkel Haera kembali berkata tentang apa yang sedari tadi ia pikirkan. “He ya, aku sepertinya sudah mengenal baik appa-mu. Suaranya tak lagi asing di telingaku. Tapi aku ingat-ingat dari tadi kok gak ingat juga ya di mana aku bisa mengenalnya.”

“Bagaimana bisa kau mengingatnya kalau otakmu saja tak bisa bekerja dengan baik dan ben… AOW… YA YA YA LEPASKAN! iya ya ampun ampun gak lagi deh sakit ini lepasin aduh!” Chanyeol mengaduh dan memohon pada Haera untuk melepaskan jeweran telinganya.

Haera yang memang sangat sensitif jika di singgung mengenai otaknya tak begitu saja mau memenuhi permohonan Chanyeol. Dengan sadis ia terus memutar telinga lebar Chanyeol sampai memerah.

“Rasakan itu.” Ucap Haera yang sudah duduk dari tidurnya sembari menatap Chanyeol yang merintih kesakitan.

“Oh Tuhan mengapa kau menciptakan manusia sepertinya. Dengar ya Haera, appa-ku itu seorang Dokter jadi jangan heran jika kau sudah mengenal suaranya siapa tau saja kau salah satu pasien yang pernah berkonsultasi dengannya jadi kau tak usah repot-repot memikirkan di mana kau mengenali suaranya yang menyebabkan otakmu berasap dan aku yang menjadi korbanmu karena kau tak kunjung mengingatnya  juga mengerti!” Chanyeol mengatur deru nafasnya setelah berbicara sepanjang itu hanya dengan sekali ucap.  Memandang sebal ia ke arah Haera yang terlihat berfikir tak menggubris ocehannya.

=*+*=

Haera berdiri di balik jendela kaca di ruang makan apartemen itu. Matanya menyapu pemandangan jalan yang sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan meski hujan masih mengguyur kota itu tanpa menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Tangannya memegang cangkir teh yang yang sedari tadi ikut andil menemani kesendiriannya dalam diam. Dan tak terasa cangkir itu kini telah kosong karena isinya yang sudah pindah ke dalam perut rampingnya. Berbalik badan Haera ingin pergi ke dapur hendak mengisi cangkir itu lagi.

“Apa yang kau perbuat denganku semalam.”

Haera yang baru membalikkan badannya itu hampir menjatuhkan cangkirnya ke lantai. Bohong jika  ia tak terkejut dengan kehadiran Chanyeol yang entah bagaimana sekarang sudah berdiri di hadapannya. Tapi Haera lebih terkejut dengan pertanyaan Chanyeol untuknya barusan.

“Apa maksudmu? Aku tak berbuat apapun padamu semalam.” Jawab Haera polos.

“Benarkah?”

“Benar.”

“Kau yakin?”

“Yakin.”

“Kau tak bohong?”

“Tidak.”

“Kau pasti melihat sesuatu.”

Haera mulai kesal dengan pertanyaan tak berujung Chanyeol. Menghembuskan nafasnya panjang Haera menatap Chanyeol dengan sengit.

“Sebenarnya apa tujuanmu bertanya tak jelas seperti itu. Memangnya kau pikir aku melihat apa semalam. Mengapa kau seperti polisi yang sedang mengintrogasi tahanannya. Kau pikir aku penjahat yang….”

“Kau yang mengganti bajuku. Pasti kau melihatnya semalam.”

Ucapan Chanyeol barusan berhasil memotong dan membekukan mulut Haera. Saat itu juga Haera merasakan wajahnya yang memanas karena malu mengingat kejadian semalam. Tepatnya saat ia  menggantikan baju Chanyeol yang basah itu. Atau lebih saat ia kehilangan akal warasnya ingin mencium Chanyeol kemarin malam. Tak ada yang tahu.

“Bukan. Eh tidak maksudku begini. Aku… AKU TAK TEGA MELIHATMU KEDINGINAN JA… JADI A… APA SALAHNYA AKU MEMBANTUMU MENGGANTI BAJU.”
Entah sejak kapan Haera tertular salah satu sifat Chanyeol yang akan menaikkan oktaf suaranya saat gugup menyerangnya seperti barusan. Membuat pemuda jangkung itu sedikit berjengkit karena suara cempreng yang memekakkan telinganya. Dan siapapun yang melihat gelagat Haera sekarang sudah pastilah tahu jika gadis itu sedang gugup. Tak terkecuali Chanyeol. Namun Chanyeol tak ingin tahu apa yang membuat Haera jadi seperti itu.

“Jadi?” Tanya Chanyeol lagi.

“Jadi apa?”

“Kau melihatnya bukan?”

Haera sudah tidak bisa lagi menerima adanya kata sabar di dunia ini. Dia tak mau terus terpojok dan terlihat bodoh seperti sekarang. Mengumpulkan nafasnya dalam ia ingin cepat mengakhiri percakapan konyol dan tak berguna ini dengan retetan kata yang dengan tiba-tiba sudah berputar di kepalanya.

“Ya dengarkan aku ya. Di sini aku sudah baik menolongmu yang menggigil kedinginan kemarin malam dengan mengganti bajumu hanya bajumu. Dan kau masih bisa melihat jika celana yang kau kenakan itu masih sama dengan celana yang kau pakai saat pergi. Jadi itu artinya aku tak mengganti celanamu juga. Yang intinya aku tak melihat apa-apa selain… em… selain dadamu,” Haera menggaruk kepalanya dan memperkecil volume suaranya saat mengucapkan kata ‘dada’. Tak berselang lama nada suaranya kembali normal dan mulutnya tak berhenti mengeluarkan kalimat-kalimat pembelaannya.”Dan hey… kau ini laki-laki ajhusi. Apa yang kau banggakan dari dadamu. Kau berhak menghakimi ku jika kau adalah perempuan sedangkan aku sebagai orang yang menggantikan bajumu adalah lelaki. Tapi di sini faktanya beda. Jadi kau tak usah merasa dirugikan seperti itu. Memangnya aku senang membantumu mengganti pakaian seperti kemarin. Tidak!”

Chanyeol terbengong dengan mulut terbuka mendengar penuturan Haera. Dia sama sekali tak berpikir jika Haera akan menanggapi pertanyaannya mengarah sampai sejauh itu. Karena yang Chanyeol tanyakan tak lain dan tak bukan adalah benda yang berada di saku bajunya kemarin. Karena Haera yang membantunya melepas baju, Chanyeol pikir gadis itu tahu jika kalung yang dulu ingin ia beli ada di saku baju itu. Tapi di lihat dari ekspresi Haera, sepertinya ia tidak melihatnya. Dan tanpa berpikir lama Chanyeol menggunakan telunjuknya untuk mendorong kepala Haera.

“Tak kusangka kau punya pikiran kotor di balik wajah polosmu.”

“Bicara apa kau. Aku tak seperti itu.”

“Itu kenyataannya. Dimana bajunya sekarang?”

“Heh?”

Tadinya Haera ingin mengelak pernyataan Chanyeol habis-habisan. Akan tetapi hanya kalimat pendek itulah yang berhasil keluar saat  telinganya mendengar pertanyaan Chanyeol di akhir kalimat itu.

“Apanya yang heh, dimana sekarang bajunya.” Tanya Chanyeol tak sabar.

Walau Haera tak mengerti untuk apa Chanyeol menanyakan baju yang masih belum sempat atau lebih tepatnya ia masih malas untuk mencucinya itu, Haera tetap menjawab dengan menunjuk kamar mandi di mana kemarin malam ia menaruhnya.

“Cepat ambil.” Perintah Chanyeol.

Tanpa banyak bicara atau lebih karena ke arah penasaran ingin apa Chanyeol  dengan baju itu, Haera berjalan menuruti perintah dan langsung mengambil baju seragam itu. Mengikuti langkah Chanyeol yang sekarang menuju ke ruang tamunya Haera berdiri sembari menyodorkan baju itu pada Chanyeol yang sudah duduk di sofa empuknya.

“Duduk.”

Dan untuk kedua kalinya dalam sehari ini Haera menuruti ucapan Chanyeol tanpa membuka mulut untuk protes. Matanya terus mengawasi Chanyeol yang kini sedang merogoh saku baju itu diiringi senyum merekah di bibirnya. Senyuman biasa namun terlihat indah di mata Haera.  Senyuman yang takkan pernah  membuat Haera bosan tuk memandangnya. Dan jika boleh jujur, senyuman itulah yang membuat Haera terasa berat untuk kakinya melangkah meninggalkan tempat ini kemarin.

“Ya Haera-ya kemana saja kau selama ini. Sudah menjadi rahasia umum jika aku ini tampan. Tapi mengapa kau baru menyadarinya sekarang. Jangan terus melihatku seperti itu.”

Haera langsung membuang muka mendengar perkataan Chanyeol barusan. Wajahnya sudah pasti memerah karena malu kepergok Chanyeol.

“Siapa yang melihatmu. Aku sedang melihat cicak.” Alasan bodoh. Haera merutuki dirinya yang sangat tak bisa diandalkan dalam mencari alasan.

Jika saja sisi baik Chanyeol hari ini tak berhasil mengurung sisi jahatnya, sudah pasti Haera yang terus menunduk saat ini sudah menjadi sasaran empuk Chanyeol untuk menjadi bahan ledekannya. Menertawai keras-keras alasan tak masuk akal Haera yang sudah jelas-jelas kepergok basah menatapnya tapi malah berdalih menatap Cicak. Yang jika di pikir secara logis mana mungkin Cicak bisa berada di wajahnya dalam keadaan sadar seperti sekarang. Yang pasti jika memang itu terjadi Chanyeol akan menepis dan menginjaknya secara sadis tanpa perlu waktu lama sang Cicak malang itu sudah kehilangan nyawanya karena berani menyentuh wajah kebanggaannya.

Mari melupakan Cicak bualan konyol Haera itu dan beralih pada Chanyeol yang entah mengapa justru memilih tersenyum geli dari pada mengoloknya. Itu semua tak lain karena Chanyeol justru menikmati wajah malu Haera yang terlihat menggemaskan meski hanya terlihat dari samping seperti ini. Tanpa perintah otaknya tangan panjang Chanyeol mengelus puncak kepala gadis itu.

Haera yang masih terus menatap lantai seolah tak ada lagi benda yang bisa ia tatap saat itu juga membelalakkan matanya. Dapat ia rasakan kini darahnya berdesir saat merasakan kepalanya dielus pelan oleh pemuda di sampingnya. Bukan kemauannya menatap mata yang seolah bisa menghipnotisnya itu. Tapi  entah dorongan dari mana gadis itu dengan berani menatap mata itu. Hingga terjadilah kontak mata diantara dua insan itu cukup lama.  Diam tak bergeming menikmati perasaan masing-masing. Perasaan apa dan yang mana? Sepertinya mereka sendiripun tak tahu jawabannya.

Chanyeol yang lebih dulu bisa mengembalikan kinerja otaknya langsung menarik tangannya dari kepala Haera. Membuat dua dari mereka saling memalingkan wajah. Sedikit berdehem Chanyeol untuk mencairkan suasana yang entah mengapa menjadi canggung seperti saat ini.  Matanya yang tanpa sengaja melihat benda yang ia genggam sekarang kembali mengingatkannya pada tujuan awalnya.

“Haera.”

“Hem….”

“Aku ingin bicara.”

Haera melirik sekilas ke arah Chanyeol yang nampak aneh dengan kata-katanya barusan. Bukannya sedari tadi pemuda itu sudah bicara terlewat panjang. Lantas kenapa dia harus mengatakan ia ingin bicaranya  baru sekarang. Bukankah itu sudah terlambat? Pikir Haera.

Meskipun begitu Haera tak mempermasalahkannya. Toh sekarang ia juga menanggapinya.

“Apa?”

“Untuk… untuk… kemarin,” Chanyeol berhenti sejenak dan nampak memejamkan matanya.”Untuk kemarin aku minta maaf bukan maksudku untuk membuatmu menangis dan kau jangan mengambil hati dengan sikapku beberapa hari ini. Dan setelah ini jangan lagi berbuat bodoh dengan membuatkanku makanan tapi berujung pada menyelakai dirimu sendiri. Kau pikir kau sudah hebat ha? Lihat sekarang apa yang terjadi. Berjalan saja kau seperti nenek-nenek rapuh yang jika disentil saja sudah terjungkal. Pikirkanlah dirimu sendiri sebelum memikirkan orang lain. Mengerti tidak ha!?”

“Ya! Kau ingin minta maaf atau memarahiku?” Haera sedikit terkejut mendapati Chanyeol yang awalnya kesulitan berbicara tapi detik berikutnya bisa berbicara lepas sembari menunjuk-nunjuknya menghakimi.

Chanyeol yang seperti kesetanan tadi langsung sadar saat melihat wajah heran sekaligus takut Haera. Emosi yang menyulut membuatnya tanpa sadar berdiri menghadap Haera dengan telunjuk yang masih mengarah pada gadis itu. Seakan siap menerkamnya jika saja Haera tak mendengarkan kata-katanya.

“Eh! Maaf bu… bukan maksutku untuk….”

“Sudahlah, aku sudah melupakannya. Aku yang harusnya minta maaf karena selalu merepotkanmu,” Haera ikut berdiri. Menepuk pundak Chanyeol ia ingin beranjak dari tempat itu.”Maaf dan terima kasih. Aku tadi membuatkanmu bubur. Aku ambilkan sebentar ya.” Pamit Haera.

Langkahnya mungkin sudah terhitung  sebanyak tiga kali jika saja Haera tak berhenti karena merasakan tangannya yang di tarik Chanyeol.

“Tunggu. Ini untukmu.”

Haera menoleh. Matanya berbinar terharu saat menangkap benda yang menggantung dari tangan Chanyeol. Benda yang dulu sangat ia inginkan tapi tak berhasil ia dapatkan. Dan sekarang saat ia sudah lupa akan benda itu, justru benda itu berada di hadapannya.

“Kalung, bukankah itu kalung….” Haera tak lagi meneruskan kalimatnya.

Gadis itu senang. Terlewat senang malah. Tanpa pikir panjang ia meraih kalung itu dan langsung memeluk tubuh Chanyeol.

“Terima kasih op… oh tidak kau adalah ajhusi. Terima kasih ajhusi.”

“Byun Haera tak bisakah kau bersikap manis sehari saja.” Gertak Chanyeol malas.

Bukannya mendengar jawaban yang selalu Haera katakan untuk membela diri, Chanyeol justru merasakan pelukan gadis itu semakin erat. Tersenyum ia tanpa sepengetahuan siapapun. Dan untuk kedua kalinya salahkah jika Chanyeol  membalas pelukan itu? Yang pemuda itu artikan sebagai   tanda permintaan maafnya pada gadis itu.

=*+*=

=TBC=

Hola hola hola *lambai cantik*

Ada yang masih ingat ma ff gak mutu ini?
Jawaban : TIDAK

Author langsung mojok.

Jadi gini….selain karena sibuk sebenarnya juga authornya lagi jengkel. Kenapa jengkel ?
Jawabannya….
GIMANA GAK JENGKEL MESKIPUN AUTHOR SIBUK AUTHOR SEMPAT-SEMPATIN NGETIK MESKI UJUNG-UJUNGNYA NYANGKUT DI DRAFT KARENA BELUM KELAR TAPI SAAT SUDAH SIAP TINGGAL PRIKSA JADINYA AUTHOR CARI DI DRAFT GAK ADA COBA SIAPA YANG GAK JENGKEL HA SIAPA. DAN TERNYATA OH TERNYATA TULISAN ITU GAK SENGAJA TERHAPUS BARENGAN AMA DRAFT2 GAK PENTING LAINNYA #BANTINGPIRING

*tarik nafas dan keluarkan* hufh…. jadi itulah alasannya kenapa molor publisnya. Tapi karena dimarahin suami author (Baekhyun) hehe author gak boleh patah semangat jadinya author berusaha ngetik dengan hati amburadul deh. Untuk itu maaf juga jika jadinya sama amburadulnya dengan hati author. Dan tidak lupa typonya juga bertebaran seperti ketombe author.

Ya udah sampai jumpa pembaca yang apes karena baca ff g mutu ini….

3 thoughts on “Don’t Go part 3b

  1. Aprodith berkata:

    Lanjut ! Thor ! Bagus Banget FF Nya ! Karakter Chanyeol yang makin lama makin halus , aku Jadi Suka ! Oya thor ! Di chapter selanjutnya apa ada adegan kiss nya ?? Mudah mudahan aja ada , sekalian ada adegan YadongaNya ! Makasih thor dah Buat FF ini , aku jadi terhibur oleh FF ini ! Fighting ! ^^

    • leehanaa berkata:

      Halo aprodith….mian telat balas. Makasih kalau udah ngerasa terhibur baca ff abal ini. Untuk pertanyaan kamu tentang adegan Kiss pastinya ada ya, tapi kalau yadong hehe authornya kurang bisa buat yg begituan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s