Wings part 3/3

FF

Tittle                   : Wings part 3/3 END

Author                : Irestu

Cast                     : Kim jongin aka kai (exo)

                               Seulgi aka seulgi (sm rookie)

                               Oh sehun aka sehun (exo)

                               Luhan aka luhan (exo)

Genre                  : Romance, Sad, little comedy

Length                 : 3 chapter

Rating                 : 15

Anyoong.. makasih sebelumnya untuk adminnya yang udah mau ngepublishin ff ini. Maaf kalau ada typo atau memang ceritanya aneh bin absurd, namanya juga masih belajar. Mohon juga commentnya yaa HAPPY READING!

Kai langsung menaikkan kepalanya, menatap langsung kearah luhan. Ia tersenyum kecil, senang.. namun ada secercah kesedihan di dalamnya. Cepat-cepat kai kembali melihat artu itu. Kim jongin ya itulah nama aslinya yang tertera di kartu itu

“hyung.. di mana kau menemukan ini?” tanya kai bersemangat

“ah itu, aku menemukannya di jaket…..” luhan menggantungkan perkataannya. Seakan teringat sesuatu. “sehuuun!”

 

“ah itu, aku menemukannya di jaket…..” luhan menggantungkan perkataannya. Seakan teringat sesuatu. “sehuuun!”  seru luhan memanggil dongsaengnya itu

Dengan cepat namja itupun datang. “ye hyung?”

Luhan terlihat berhenti sebentar. Mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan. Sedangkan kai sendiri masih tak mengerti dengan apa yang terjadi di sini, begitupula dengan sehun

“kau.. kenapa kartu itu ada di saku jaketmu?” tanya luhan perlahan dan hati-hati. Tangannya menunjuk kartu yang ada di tangan kai

Kening sehu berkerut bingung. Ia mencuri lihat kearah kartu itu. Dan matanya tiba-tiba saja langsung membulat kaget. “itu…”

“ya itu kan milik kai emmm jongin. Kenapa ada padamu?” tanya luhan. Sehun terdiam, tak bisa membalas apa-apa

“tunggu..” tutur kai mulai mengerti masalahnya “jadi hyung menemukan kartuku di jaket sehun? Dan kau.. kau tidak memberikannya padaku?” tanya kai kini pada sehun. Di tatapnya sehun penuh tanya

“itu…” sehun tetap tak bisa menjawab. Matanya bahkan tak bisa menatap kai ataupun luhan

“jawab aku sehun” tutur kai mulai tak sabar “kenapa kau menyembunyikan kartuku? Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa kau senang melihatku hilang ingatan selamanya?” teriak kai. Amarahnya membludak. Entah sebenarnya memang ia selalu mempunyai amarah sebesar ini atau tidak. Tapi ia benar-benar kesal dengan masalah ini.

Keinginannya, mimpinya hanyalah untuk mengetahui siapa dirinya. Tapi kenapa sahabatnya sendiri yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendirilah yang menghalanginya untuk mencapai hal itu.

Mata sehun menatap mata kai dengan nanar “keurae, aku menemukan kartumu di baju penuh darah milkmu” potongnya “aku menemukannya dan… tadinya aku ingin mengembalikannya padamu”

“lalu kenapa kau tidak memberikannya padaku hah?” sentak kai.

Di saat seperti ini. Luhan bukannya tidak ingin melerai, atau membela adiknya. Ia hanya merasa bahwa ini adalah masalah yang sudah seharusnya di selesaikan mereka berdua. Karena bagaimanapun juga mereka berdua sudah sama-sama dewasa.

“tadinya aku memang berniat mengembaliikannya kepadamu! Tapi setelah apa yang terjadi.. aku hanya takut kau akan pergi meninggalkan rumah ini!” tutur sehun dengan mata yang berkaca-kaca. Nada suaranya penuh tekanan seperti sedang menahan sesuatu yang pedih di hatinya yang terbuka kembali

“apa maksudmu? Kenapa kau begitu egois? Apa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Aku pikir kau adalah temanku! Tapi apa? Kau bahkan berlaku egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri” rutuk kai penuh amarah

“teman? Aku bahkan menganggapmu sebagai saudaraku” pelan sehun suaranya tersendat.

“sehunah” panggil luhan pelan, hatinya ikut sakit melihat dongsaengnya berkaca-kaca. Membendung semua tangisannya di pelupuk matanya yang sipit.

“hyung” sehun berpaling kearah luhan “wae? Apa aku tak pantas mendapat teman? Kenapa mereka pergi? Kenapa semuanya ingin pergi meninggalkanku hyung? Waeyo?” satu linangan sungai kecil mengalir di pipi mulusnya.

Dengan lembut luhan memegang lengan dongsaengnya itu. Namun dengan langsung sehun menghempaskannya. Diliriknya sebentar kai yang masih memandangnya dengan sorotan kesal. Iapun berbalik dan langsung meninggalkan kai dan luhan dalam diam

 

^_^

 

Semuanya kacau. Hari yang cerah kini berubah menjadi kelabu baginya. Entah mengapa tapi amarahnya tak bisa ia bendung. Sebagian sisi hatinya merutuki dirinya sendiri. Atas apa yang tak bisa ia tahan kepada seseorang yang sudah sangat dekat dengannya

“mianhae” tutur luhan perlahan kepada kai setelah sehun benar-benar masuk ke kamar

Kai tetap bergeming

“aku tahu kau kesal.. aku benar-benar meminta maaf atas nama sehun” lanjut luhan “aku juga mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tak akan menyalahkamu karena sudah memarahi sehun. Hanya saja aku mohon pengertianmu ka… jongin ssi” luhan menyebutkan nama asli kai dengan gugup. Mulutnya sangat sulit menyebutkan nama itu. Bahkan membuatnya seperti sedang memanggil orang yang tidak ia kenal sama sekali.

Kai menyadari itu. Tentu saja. Intonasinya.. ekspresi namja yang lebih tua darinya itu berubah. Hatinya ikut mencelos melihat itu. Ia tak mau keadaan menjadi seperti ini. “hyung..” panggil kai

Luhan memandang kai, lalu terseyum “ kau namja yang baik, aku tahu itu. Maka dari itu sehun sangat senang bisa berteman denganmu” potongnya “tapi sesuatu pernah terjadi padanya di masa lalu. Dan ia sepertinya masih terluka akibat hal itu”

Kening kai berkerut “apa maksudmu hyung?”

“sebaiknya kau tanya saja pada orangnya langsung” senyum luhan “aku akan ke restoran lebih dulu. Kau menyusulah nanti dengan sehun” ujarnya sambil menepuk bahu kai. Iapun meninggalkan kai yang masih terdiam di tempatnya.

Terluka? Masa lalu? Sebenarnya apa?

Dengan frustasi kai mengacak rambutnya sendiri. Kini ia tahu siapa dirinya. Kapan ia dilahirkan, juga dimana tempat lahirnya yang kemungkinan juga menjadi tempat tinggalnya. Tapi kenapa rasanya malah sangat membingungkan? Bukankah ia harusnya senang?

Di pandanginya satu pintu. Pintu di mana ia biasanya beristirahat bersama namja tinggi super putih itu. Namja yang dalam hatinya ia tak bisa mengelak bahwa ia juga menyayangi namja itu. Perlahan kai mengambil langkah menuju pintu itu. Berdiri di depannya dengan penuh pertimbangan.

“cepat ketuk pintunya” tutur sebuah suara yang muncul tiba-tiba di sampingnya

Kai langsung menoleh kaget. Dan mendapatkan seulgi memandanginya dengan tak sabar

“sebenarnya apa yang kau tunggu? Dia pasti sedang menangis di dalam. Dan semua itu akibatmu” seru seulgi

“ya! kenapa kau malah memarahiku? Kau membelanya?” tanya kai tiba-tiba saja merasa tak senang seulgi membela sehun

“kalau ia kenapa?” tantang seulgi “apa itu penting sekarang? Dia pasti sangat sakit hati karena kau bentak seperti tadi”

Kai berhenti berdebat. Karena ia juga menyadari perbuatannya itu salah. Dia juga benar-benar merasa bersalah karena telah melakukan itu

Tok..tok..tok.. kaipun mulai mengetuk pintu itu

“sehunah.. ini aku kai” seru kai. Ia terdiam sebentar. Menunggu jawaban dari sehun. Namun tak terdengar apapun

“sehunah.. mianhae” ujarnya lagi “aku tahu kau marah. Aku juga tahu aku sudah keterlaluan, mianhae” lagi-lagi tak ada suara sedikitpun dari sehun “bukalah pintunya. Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik”

“pfffffftttttt” tiba-tiba saja terdengar suara tertahan dari samping namja itu.

“ya! kenapa kau tertawa?” tanya kai yang mendapatkan selgi sedang setengah mati menahan tawanya

“ani.. hanya saja kau seperti sedang merayu pacarmu agar mau memaafkanmu” kekehnya.

Kai sudah berniat mengeluarkan komentarnya lagi saat kenop pintu terdengar di tarik dari dalam. Kai langsung kembali menghadap ke depan. Perlahan pintupun terbuka. Menampakkan sosok namja putih tinggi dengan mata yang sembab

“sehunah” senyum kai merasa lega karena sehun mau membuka pintu untuknya

“mian” tutur sehun menatap kai tepat di manik matanya “aku benar-benar tak berniat untuk egois. Aku hanya..”

“sudahlah” ujar kai “aku juga meminta maaf karena membentakmu tadi. Kau menangis?” tanya kai

Sehun mengangguk pelan, malu.

“sehunah, bolehkah aku tau kenapa kau melakukan ini? Luhan hyung berkata kalau kau pernah mengalami sesuatu yang membuatmu terluka sehingga seperti ini” tutur kai hati-hati. Rasa penasarannya belum mau meninggalkannya

Sehun masuk kembali ke dalam kamar diikuti kai. Mereka berduapun duduk di ranjang mereka. “dulu..” potong sehun “saat aku masih kecil aku mempunyai teman. Kami sangat dekat dan kami selalu bermain bersama setiap harinya. Tapi tiba-tiba saja dia menghilang”

Kening kai berkerut “menghilang maksudmu?”

“sebenarnya bukan benar-benar menghilang. Kami satu sekolah, dan aku juga tahu kalau orang tuanya tak suka kalau dia bermain denganku yang hanya anak dari tukang restoran kecil-kecilan. Tapi dia tetap bermain denganku hingga akhirnya ia dipaksa pergi dan pindah dari rumahnya. Dia juga pindah sekolah. Jadi sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya”

“yeoja?” tanya kai, sehun mengangguk. Hatinya benar-benar ikut sakit mendengar itu. Pastilah sangat menyakitkan bagi sehun yang mengalaminya sendiri

“makanya kau tahu sendiri sekarang aku hanya bermain dengan luhan hyung. Karena aku tidak mau lagi ditinggalkan oleh teman yang aku sayangi” potongnya “sepertimu”

Kai memandang sehun. Wajahnya memanas. Dia tak menyangka bahwa keberadaannya di rumah ini sangat berarti bagi sehun. Dia juga tak menyangka bahwa namja tinggi itu memiliki pemikiran seperti ini tentang dirinya

“aku terlanjur dekat denganmu. Aku senang berteman denganmu. Jadi aku hanya takut jika kau menemukan keluargamu kau akan melupakan kami” lanjut sehun

“ya! babo?” tanya kai “aku tak akan melakukan itu. Biarpun keluargaku menyuruhku untuk tidak menemui kalian aku tetap akan datang ke sini. Karena kalian juga sangat berarti bagiku. Appa.. eomma.. luhan hyung dan kau adalah keluargaku sekarang, dan sampai kapanpun akan selalu menjadi keluargaku. Kalian yang menampungku saat aku tak bisa apa-apa. Kalian penyelamat hidupku” jelas kai, dia memandang sehun lekat. Berusaha membuat namja itu percaya dengan perkataannya

Perlahan senyum sehun terbentuk “gomawo.. jonginah”

Kai menggeleng “panggil saja aku kai. Kau kan yang memberikanku nama itu”

“wae? Kau suka dengan nama itu?” tanya sehun

“keunyaang.. nama itu lebih keren daripada nama asliku” kekeh kai

“ya aku akui itu” sehun ikut terkekeh

 

^_^

 

Persegi panjang tipis yang terbuat dari plastik itu bermain di atas tangannya. Diputar-putarnya kartu itu dengan mata yang menatap kosong kearah kartu tersebut. Namanya… alamatnya.. tanggal lahirnya.. photonya semua tertera di sana

“apa yang kau fikirkan?” terdengar suara seorang yeoja di sampingnya. Namja berkulit gelap itu menoleh. Kini ia sudah tidak lagi kaget jika yeoja itu muncul tiba-tiba.

“ani” geleng kai

Seulgi merebut kartu yang ada di tangan kai “waah ini photomu? Aneh sekali” kekeh seulgi

“ya!” seru kai, keningnya merengut kesal. Yeoja ini sudah tiba-tiba datang, langsung mengejek pula

“lihat! Hidungmu terlihat pesek disini” seulgi terus saja terkekeh

“yaaaa” kai merebut kembali kartu tanda pengenalnya. Kekesalan di wajahnya sangat kentara. Dilihatnya seulgi dengan pandangan lasernya

“kau seharusnya belajar berekspresi tampan seperti sehun” tutur seulgi tak mau berhenti

“aish.. kenapa kau sekarang selalu membela sehun?” rutuk kai semakin kesal “kau menyukainya?”

“tentu saja!” seru seulgi langsung “dia tampan. Siapa yang tidak suka dengannya”

“ya!” bentak kai kesal. Benar-benar aneh, tapi dia tak menyukai perasaan saat mendengar seulgi mengatakan itu

Namun yang seulgi lakukan hanyalah tergelak. Belakangan ini dia benar-benar senang mengolok-olok kai. Dia akan berekspresi sangat lucu jika sedang kesal. Tapi dengan mudah pula seulgi membuat namja itu berhenti merajuk, secepat dia membuat kai kesal.

“arraseo.. jongin” senyum seulgi. Bibirnya terasa tersetrum saat mengatakan nama itu. Nada bicaranya juga berbeda daripada saat ia memanggil namja itu dengan nama kai.

Kai memandang seulgi yang tersenyum, senyum yang selalu langsung membuat namja itu juga ikut tersenyum. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung dengan dirinya sendiri.

“kau sudah tau siapa namamu, tempat lahirmu.. menyenangkan sekali” tutur seulgi memperhatikan bulan yang menerangi mereka berdua di atas ayunan ini.

“kau benar, seharusnya aku senang. Tapi kenapa aku malah bingung ya?” ujar kai

“wae?” tanya seulgi

“aku hanya merasa bingung harus berbuat apa sekarang” jawab kai

Seulgi mengalihkan pandangannya ke wajah kai yang termenung. Dia tersenyum menenangkan. Di pegangnya telapak tangan kai “ikuti kata hatimu. Semuanya pasti ada jalannya jonginah. Dan semuanya juga akan baik-baik saja”

Kai menoleh, merasakan kehangatan dari genggaman yeoja itu. Mata mereka bertemu. Saling pandang satu sama lain di manik mata dalam diam. Tak ada ucapan, hanya hati yang berbicara. Di tengah dinginnya malam, mengapa hati mereka terasa hangat?

 

^_^

 

Dirinya bermain di alam mimpi. Kehangatan selimut dan juga empuknya ranjang membuatnya terlarut dalam tidurnya yang nyenyak. Namun suara ketukan di pintu kamarnya langsung menariknya keluar dari itu semua. Dengan keremangan kamarnya, matanya masih menyesuaikan cahaya yang diterimanya.

Perlahan ia menyeret tubuhnya turun dari ranjang. Menuju pintunya dan membukanya perlahan. Di sana sudah berdiri seorang namja. Ia memandangnya sambil tersenyum

“kai? Kau belum tidur?” tanya luhan bingung melihat dongsaengnya datang ke kamarnya

“aniyo hyung” geleng kai

“wae? Kau bertengkar lagi dengan sehun? Mana sehun?” tanya luhan

Lagi-lagi kai menggeleng  “aniyo hyung. Aku dan sehun tidak bertengkar sama sekali” tuturnya “aku hanya takut kalau kami akan bertengkar lagi nanti”

“mwo? Apa maksdumu?” bingung luhan

“hyung, maukah kau membantuku?”

 

^_^

 

Pagi bersinar dengan cerah. Burung-burung terdengar bersenandung riang menyambut akhir-akhir dari musim dingin yang masih meninggalkan serpihan putih di jalanan. Matahari yang hangat memaksa masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah terlihat dua namja tengah berbicara satu sama lain. Dengan wajah yang serius mereka saling menatap dan terkadang tersenyum.

“kau yakin?” tanya namja berwajah imut itu

Kai mengangguk “nde hyung. Bagaimanapun juga aku harus tahu siapa aku sebenarnya”

“hey kenapa kalian malah mengobrol? Ayo cepat kita ke restoran!” tiba-tiba seorang namja tinggi putih keluar dari kamarnya. Dengan pakaian yang sudah rapi ia memandang dua namja di depannya dengan senyum ceria. Nampaknya suasana hatinya sedang baik hari ini. Dan kai sangat takut ia akan menghilangkan senyum itu hari ini.

“sehunah” panggil luhan

Tapi dengan cepat kai memegang lengan luhan. Menahan namja itu untuk mengatakan sesuatu. Kai maju perlahan mendekati sehun. Sedangkan namja tinggi itu hanya bisa melihat kai dengan wajah bingungnya

“sehunah” panggil kai “ada yang mau aku bicarakan”

“andwae” seru sehun “jangan katakan apapun yang ingin kau katakan”

“tapi sehunah..”

“andwae! Benar kan kataku, kau mau meninggalkan kami. Semua yang kau katakan itu bohong” rutuk sehun

“bukan begitu sehun”

“ah sudahlah kau pembohong”

“sehun!” panggil luhan dengan tegas “kau tak boleh egois seperti itu. Dia juga memiliki kehidupannya sendiri. Dia juga punya hak untuk mengetahui siapa dirinya”

Sehun memandang luhan tidak percaya. Bahkan kini kakaknya sendiri juga tidak membelanya. “tapi hyung..”

“mianhae sehunah, aku berjanji aku hanya ingin mengetahui di mana aku tinggal. Siapa keluargaku, dan kembali mengenal siapa aku sebenarnya. Hanya itu, aku pasti akan kembali lagi ke sini” tutur kai

“jangan menjanjikan sesuatu yang tak akan bisa kau lakukan jongin” tekan sehun

“sehunah!” sentak luhan. Ia sudah tak tahan lagi melihat kedua adiknya seperti ini. Walaupun kai bukan adik kandungnya, tapi ia sudah menyayanginya seperti ia menyayangi sehun.

“ikutlah dengannya” lanjut luhan

Sehun dan kai sama-sama memandangi luhan dengan bingung

“ikutlah dengan kai ke seoul. Aku yakin kau juga ingin pergi ke kota besar itu. Lagipula kai juga pasti membutuhkan bantuan untuk mencari keluarganya” jelas luhan

“hyung..” tutur kai

“hyung, lalu bagaimana denganmu?” tanya sehun kaget

“nan gwenchana, aku tak akan apa-apa jika disini sendirian. Lagipula memang itu yang seharusnya seorang hyung lakukan untuk dongsaengnya kan” ujar luhan sambil tersenyum

Mata sehun berkaca-kaca. Ia tahu luhan menyayanginya, dan dia juga sangat menyayangi hyungnya itu. Tapi ia ia tidak menyangka kalau luhan akan membiarkannya pergi ke seoul bersama kai. Meninggalkannya sendiri di sini yang harus bekerja di restoran membantu kedua orang tuanya.

“bantulah kai mencari keluarganya, agar dia cepat kembali lagi ke sini bersama kita” tutur luhan lagi

“nde hyung.. gomawo” senyum sehun di peluknya erat-erat kakaknya itu

“gomawo hyung” kini kai ikut bergabung dalam pelukan hangat antar saudara itu. Kai sangat bersyukur bahwa dia memiliki keluarga yang sangat baik seperti mereka semua. Di suatu tempat, seulgi tersenyum melihat adegan itu. Hatinya ikut bahagia melihat itu semua.

 

^_^

 

Angin bertiup dengan berbeda, keheningan desa yang biasa dirasakan di gantikan oleh kebisingan kota di telinga mereka. Mata dua namja tak hentinya berjelalatan memandangi indahnya kota seoul. Mungkin bagi kai ini sudah tidak terlalu asing, mengingat kemungkinan besar dia tumbuh besar di kota ini. Namun bagi sehun, ini sangat asingbaginya.

Walaupun busan tidaklah terlalu jauh dari seoul, tapi sehun belum pernah sekalipun datang ke ibu kota negaranya itu. Matanya terlihat berbinar bahagia.

“berhentilah mengeluarkan kepalamu dari jendela” tutur kai yang melihat sehun selalu memanjangkan lehernya keluar dari jendela bus “itu berbahaya” lanjut kai

“keundae.. kota ini benar-benar indah” seru sehun “aku baru pertma kali datang ke sini”

Kai melihat ke sekelilingnya. Gedung-gedung tinggi, jalanan bersih yang terlewati  memang seperti tidak asing di kepalanya. Tapi bagaimanapun juga ia masih belum bisa mengingat apapun.

“kau senang di sini?” tanya kai

“tentu saja” angguk sehun “disini sangat indah. Ya walaupun desaku juga tidak kalah indahnya. Tapi yang ini indah dalam konteks yang berbeda” senyum sehun

Kai menarik nafasnya perlahan “sebaiknya kita secepatnya mencari tahu semuanya. Agar kita bisa mengajak luhan hyung juga ke sini”

 

^_^

 

Sebuah kamar kecil, dengan isi seadanya kini menjadi  tempat istirahat mereka. Karena hanya inilah yang bisa mereka sewa dengan uang yang di berikan oleh luhan. Mereka harus bisa bertahan di sini sampai mereka menemukan keluara kai.

Namja tinggi putih sudah tergeletak tak berdaya, kelelahan selama perjalanan yang cukup panjang. Tidurnya terlihat sangat nyenyak. Walaupun hanya dialaskan oleh kain tipis yg menghalangi tubuhnya dengan lantai tapi sepertinya ia bermimpi indah.

Tak jauh dengan namja berkulit gelap di sampingnya. Ia mulai terlelap perlahan. Matanya perlahan menutup akibat kelelahan pula. Namun sesuatu mengganggunya. Ia merasakan geli di kakinya. Seseorang dengan tega tengah menggelitiki kakinya yang tidak memakai kaus kaki itu.

“ya!” seru kai perlahan sambil terduduk, ia tak mau sampai sehun terbangun dari tidurnya. Di pandanginya seulgi dengan kesal “apa yang kau lakukan?”

Seulgi tersenyum jahil “membangunkanmu”

“ya wae? Aku lelah, aku ingin tidur” ujar kai

Tiba-tiba saja seulgi pindah ke sampingnya. Sambil tersenyum manis ia memandangi kai “ayo kita jalan-jalan”

“mwo?” kening kai berkerut bingung

“ayo kita jalan-jalan di sekitar sini!” ajak seulgi “kota ini indah, pasti masih ada lagi daerah yang lebih indah di sekitar sini”

“tapi kemana? Aku tidak mengingat jalanan di sini” tutur kai

“ayolaaah” seulgi mulai mengeluarkan aegyonya

Kai mengalihkan pandangannya dari seulgi. Ia bisa kalah jika terus memandangi wajah yeoja itu. “tapi bagaimana dengannya?” tanya kai sambil menunjuk sehun yang masih terlelap

“biarkan saja dia di sini. Jangan ganggu dia, past dia sangat lelah sekali” tutur seulgi

“ya! lalu bagaimana denganku? Memangnya aku tidak lelah?”

“sudahlah, kau kan kuat. Jangan ganggu tidurnya, lebih baik dia dibiarkan saja di sini”

“kenapa kau terus saja membelanya? Kau benar-benar suka padanya ya?” tanya kai mulai merasa tak suka

“kalau iya kenapa?” tanya seulgi

“ya! memangnya apa yang ia punya dan aku tidak?”

“dia putih” pendek seulgi. Kaipu langsung tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya ia kesal, ya sangat kesal. Tapi entah mengapa ia tidak bisa mendebat yeoja itu

“yaya aku memang hitam, ya itu salahku memang” rajuk kai

“hehe makanya kalau kau mau berjalan-jalan ke luar aku akan bisa melihatmu dengan lebih jelas. Karena cahaya di luar sangat cerah. Jadi ketampananmu tidak tersembunyikan” rayu seulgi. Semangatnya sedang menggebu-gebu sekarang. Di dalam hatinya terus saja menyuruhnya untuk pergi ke suatu tempat. Walaupun sebenarnya dia sendiri tak tahu apakah tempat itu ada atau tidak

“arraseo.. kita berangkat” tutur kai menyetujui

 

^_^

 

Angin berhembus lembut. Menyelusup ke sela-sela tubuh dua pasag remaja yang berjalan bersebelahan. Mungkin bagi yang bisa melihatnya mereka terlihat sangat serasi layaknya sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan. Namun sayang tak ada yang bisa melihat itu semua.

Berjalan dalam diam tapi masing-masing dari mereka memasang senyum bahagia mereka. Melihat suasana yang sangat indah sekaligus terlihat tidak terlalu asing bagi mereka.

“wah indah sekali!” seru seulgi saat melihat sebuah taman kecil yang mereka lewati. Tanpa sadar ia menggenggam lengan atas kai karena bersemangat.

Kai yang kaget langsung melihat lengan seulgi. Namun ia membiarkan tangan itu terus menggelayut di lengannya yang sedang masuk ke dalam saku celananya. Matanya ikut melihat kearah apa yang di lihat yeoja di sebelahnya.

“kau mau ke sana?” tanya kai

“itu sangat indah.. tapi aku ingin ke tempat lain” ujar seulgi

Kening kau berkerut “ke mana?”

“entah kenapa tapi di otakku terus mengatakan kalau aku harus ke suatu tempat yang namanya sungai han. Apa disini ada tempat itu?” tanya seulgi, ia memandang kai dengan sorot penuh tanya

“sungai han? Biar aku tanya dulu pada orang lain” tutur kai. Ia melirik ke kiri dan kanan. Mencari sosok yang mungkin bisa ia tanyakan mengenai perihal ini. Lalu matanyapun menangkap seorang namja paruh baya yang sedang menjaga sebuah kedai kecil.

“permisi” ucap kai setelah mendekati namja itu “maaf mengganggu, tapi bolehkan saya bertanya sesuatu?”

“nde, ada apa?” tanya namja itu

“apa di sekitar sini ada tempat yang namanya sungai han?”

“tentu saja! sungai itu kan sungai yang paling terkenal di seoul. Kau bisa ke sana melalui arah ini” ia menunjuk sebuah jalan

“ghamsahamida” bungkuk kai berterimakasih. Sambil kembali berjalan ia memandang seulgi “kau senang sekarang? kita akan ke tempat yang ingin kau datangi” tuturnya. Seulgi mengangguk semangat

Lagi-lagi mereka terus berjalan tanpa berbicara. Tapi keheningan itu tidak membuat mereka kesepian. Hati mereka terasa hangat, layaknya dengan berjalan berdampingan dapat mengisi kekosongan hati mereka masing-masing. Dengan lengan seulgi yang masig menggantung di lengan kai mereka terus berjalan tanpa henti.

“tunggu” henti kai, kini ia berada di depan sebuah rumah sakit besar yang bertuliskan seoul hospital. Ia melirik seulgi “aku tidak tahu lagi harus kearah mana” tuturnya

“ya! kau ini bagaimana! kalau kita menyasar bagaimana?” tanya seulgi kesal

“ya! kenapa kau memarahiku? ini juga pertama kalinya bagiku untuk datang ke tempat ini kan?” seru kai

Kening seulgi berkerut “kau tanya lagi sana pada orang lain. Aku tunggu di sini” tuturnya

Kai menghembuskan nafasnya. Lagi-lagi ia harus kalah berdebat dengan yeoja ini. Dengan sikap penurutnya kaipun berjalan meninggalkan seulgi untuk menanyakan lagi arah jalan kepada seorang ahjussi di sebrang jalan.

Tak lama berselang, kai kembali menuju seulgi. Senyumannya lebar karena ternyata temoat itu tidak terlalu jauh lagi dari sini. Secepat mungkin ia langsung menghampiri seulgi yang kini sedang berdiam diri sambil memandangi bangunan rumah sakit yang sangat besar.

“seulgi-yah, tempat itu sudah dekat dari sini” tutur kai. Namun seulgi tidak beranjak ataupun bereaksi. Ia hanya terpaku sambil memandangi rumah sakit itu.

“ya! ada apa?” tanya kai, ia membalikkan tubuh seulgi perlahan. Dengan mudah seulgipun kini menghadap kearah kai. Kening kai langsung berkerut ketika melihat wajah seulgi. Wajahnya yang putih kini menjadi sangat pias. Belum lagi warna rambutnya yang hitam membuat warna wajahnya semakin kontras

“kau kenapa?” tanya kai

Seulgi menatap kai perlahan, berkedip beberapa kali dengan berat, lalu tersenyum “tidak apa-apa” gelengnya

“kau berbohong” tutur kai

“ani..” geleng seulgi lagi, ia menggenggam lengan kai erat “ayo kita jalan lagi”

“tapi..”

“sudah.. aku hanya lelah karena daritadi berjalan. Ayo aku sudah tak sabar ingin melihat sungai han” seru seulgi. Kini suaranya lebih keras dari semula. Sekuat mungkin menunjukkan bahwa dirinya tak apa-apa

Tanpa berdebat lagi kai akhirnya menuruti apa yang diinginkan seulgi. Ia berjalan bergandengan tangan dengan yeoja tak terlihat itu. Menuju tempat yang ternyata kini sudah ada di depan mereka

“kita hampir sampai” seru kai bersemangat setelah melihat hamparan biru air sungai yang terlihat sangat sejuk dan juga indah

Angin serasa mengantar langkah mereka menuju sungai han. Menerbangkan helai-helai rabut seulgi yang indah.

“kita sampai” tutur seulgi pelan “indah sekali”

“waah aku tak tahu ada tempat indah seperti ini” kekehnya. Matanya terus saja mengobserfasi seluruh penjuru sungai han

Tuk!

Kai langsung sedikit terlonjak saat menyadari sesuatu menempel di bahunya. Dengan cepat kai langsung menoleh dan langsung mendapatkan seulgi menyandarkan kepalanya di bahu kai.

“kau kenapa? kau baik-baik saja?” tanya kai

“indahnya.. aku senang disini” jawab seulgi tak memberi jawaban pas dengan pertanyaan kai

“tunggu..” seru kai langsung kaget. Ia merengkuh kedua bahu seulgi dan membalikkan tubuhnya mengahadap kearahnya. Diperhatikannya seulgi dari atas hingga bawah

“apa yang sebenarnya terjadi? ada apa denganmu?” tanyanya. Matanya membulat kaget saat menyadari bahwa kini tubuh seulgi menjadi transparan. Ia tembus cahaya, bahkan kai bisa melihat apa yang ada di belakang yepja itu. “cepat katakan padaku”

Seulgi menaikkan kepalanya yang terlihat berat. Tersenyum manis seperti yang biasanya ia berikan kepada kai “gomawo karena mau menurutku untuk ke sini”

“ya! seulgi-yah.. katakan padaku ada apa denganmu? apa kau sakit? apa yang sakit?” kai mengguncang-guncangkan bahu seulgi pelan

Perlahan seulgi maju mendekati kai. Dia menyandarkan puncak kepalanya di dada kai. “ani.. aku juga tak tahu kenapa. Tapi apa sebenarnya yang aku tahu tentang diriku sendiri” kekehnya pelan dan lemah

“ya! kau ini kenapa?” kepanikan kai semakin menjadi.

“aku hanya kelelahan sepertinya” tutur seulgi “maaf karena aku memaksamu untuk ke sini”

“jangan berkata begitu” seru kai. Wajahnya memerah, matanya memanas. Ia tahu ia tidak boleh menangis. Namun ia tak bisa menahan itu.

“terimakasih kau mau datang ke sini bersamaku”

“Jangan katakan apa-apa lagi” seru kai keras. Tenggorokannya mulai tercekat. Menahan tangis memang benar-benar menyakitkan. Ia tak tahan lagi. Ia tak tahu sebenarnya apa yang akan terjadi pada seulgi. Namun dalam suatu cara ia tahu bahwa ini adalah pertanda buruk.

Kedua tangannya langsung merengkuh tubuh mungil milik yeoja itu kedalam dekapannya. Aliran hangat dari matanya tak bisa ia bendung lagi. Kehangatan memenuhi dirinya dikala memeluk yeoja itu.

“gomawo” rintih seulgi

“hajima… HAJIMA!!” jerit kai

Namun perlahan kehangatan itu hilang. Hingga ia menyadari kini ia sedang memeluk udara.

Tak ada tubuh mungil itu lagi. Tak ada sosok yeoja aneh yang ia temui di restoran lagi. Tak ada lagi yang mengisi hatinya. Pikirannya tiba-tiba menjadi liar. Ia melihat kesekeliling mencari sosok itu.

“SEULGIII!!!!” teriaknya, namun tak membuahkan hasil.

Kakinya kini mulau melangkah, berjalan dengan cepat, dan akhirnya berari. Berlari melawan angin yang tenang untuk mencari sosok yang menghangatkan hatinya itu.

“SEULGI-YAAA… SEULGIIII”

Kini dI otaknya hanya ada sosok itu. Dia tidak memikirkan apa yang difikirkan orang lain jika melihatnya berlari-lari kesetanan seperti ini. Ia tidak perduli. Yang pasti ia tidak akan bisa membiarkan yeoja itu pergi. Ia menyadarinya, bahwa ia menyayangi yeoja itu. Siapapun atau apapun dia. Tapi kai tahu bahwa ia membutuhkan yeoja itu.

Ia terus berlari hingga kakinya lelah dan ia sampai di jalan raya yang ada di depan sungai han. Di langkahkan kakinya itu menginjak jalan raya. Namun kakinya terlalu lelah untuk berjalan lagi. Hingga akhirnya ir berlutut di pinggir jalan itu. Kepalanya tertunduk dengan matanya yang tak henti-hentinya mengalirkan air mata.

Ia tak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Otaknya kini terlalu shock untuk menerima kenyataan apapun. Hingga matanya mendapatkan sesuatu. Bercak merah kecoklatan yang sudah mengering di jalan, tepat di dekat lututnya. Yang langsung membuat kepalanya pening dengan kelebatan-kelebatan adegan yang merasukinya

Flashback on

Salju turun dengan derasnya. Jalanan terlihat sepi kendaraan. Bahkan di beritapun di sarankan untuk tidak keluar rumah jika tidak terlalu penting. Namun ada sebuah mobil sedan putih yang melaju dengan hati-hati di jalanan yang putih tertutup salju itu

“ya! kenapa kau harus pergi di saat seperti ini sih?” tanya namja yang sedang mengendarai mobil “lihat! salju turun dengan sangat deras, dan di luar sangat dingin”

“ah jongin oppaaa.. kenapa kau marah-marah? aku benar-benar ingin datang ke sungai han walaupun hanya sekali” seru yeoja yang duduk di samping namja itu. Tubuh mungilnya yang di balut dress one peace berwarna putih terlihat sangat pas baginya.

“ya tapi seulgi-yah ini sangat berbahaya. Lagipula kita tidak akan bisa melihat dari dekat karena di luar sangat dingin” tutur kai

“oppa, lalu mau kapan lagi? besok kan kita sudah harus kembali lagi ke amerika untuk kuliah. Kita sudah tidak punya waktu lagi. Aku benar-benar ingin ke sungai han bersamamu” rajuk seulgi. Ia memandang kai dengan wajah kesalnya

Sekilas kai melihat wajah seulgi. Ia menghembuskan nafasnya. Ya dia memang selalu kalah jika berdebat dengan kekasihnya itu. Yeoja yang terlihat sangat manis namun galak itu sudah menjadi kekasihnya sejak sma di amerika. Mereka datang ke korea untuk bertemu dengan keluarga mereka yang memang tinggal disini dan besok  mereka akan kembali lagi karena mereka harus masuk ke universitas yang sudah dipilihnya

“arraseo” angguk kai. Ia mengulurkan tangannya dan mengacak lembut puncak kepala seulgi.

Seulgipun terkekeh “oppa, aku dengar sungai han sangatlah indah. Dan setidaknya aku harus pernah melihatnya walaupun sekali seumur hidupku”

“tapi kan kau sebenarnya bisa melihat itu nanti. Sungai han tidak akan pindah ke mana-mana”

“ani… aku ingin melihatnya bersamamu. Jadi jangan banyak protes dan cepat sampailah ke sungai han”

“sudah.. kita sudah hampir sampai” tutur kai, namun tiba-tiba terdengar decitan keras dari luar

“OPPAAAAAA!!!!” pekik seulgi. Ia melihat sebuah truk besar tak terkendali menuju kearah mereka. Secepat yang bisa dilakukan kai langsung memutar setir untuk menghindari truk itu. Namun jalanan sungat licin oleh salju. Dan membuat mobil itu langsung tergelincir menuju truk itu

“OPPAAAAAAA!!”

Dan semuapun gelap, dengan suara decitan deruan dan juga pekikan yang memenuhi telinganya

Flashback End

 

Ia kembali ke kenyataannya. Ia masuk ke kehidupannya kembali. Ia bisa mengingat semuanya. Dan semua itu..

Dengan cepat kai berdiri dari tempatnya berlutut. Kaki panjangnya langsung melangkah menuju sebuah kedai kecil yang berada tepat di samping jalan raya itu.

“ahjumma apa disini pernah ada sebuah kecelakaan?” tanyanya langsung. Membuat ahjumma itu langsung kebingungan dengan pertanyaan mendadak itu

“nde?”

“apa yang terjadi pada mereka?” tanya kai lagi tak sabar

“ye memang ada kecelakaan yang cukup besar di jalan ini beberapa minggu yang lalu. Tapi.. ada apa ya?”

“bagaimana dengan pengemudinya? apa yang terjadi dengan korbannya?” tanya kai bertubi-tubi

“setahuku pengendara truk baik-baik saja. Hanya saja pengemudi mobil sedanlah yang paling parah, karena mobil itu tergencet oleh truk besar itu”

Mendengar itu jantung kai langsung terasa copot. Ia ingin mengatakan sesuatu namun tak menemukan kata apapun di otaknya. “seulgi..” hanya nama itu yang terucap

“ah apa itu nama yeoja yang ada di mobil sedan itu?” tanya ahjumma itu “wah aku sangat prihatin ada yeoja itu. Sepertinya ia terluka sangat parah. Tubuhnya terjepit didalam mobil itu. Aku harap dia baik-baik saja”

“ahjumma” tiba-tiba kai memegang lengan ahjumma itu “apa kau tahu bagaimana dia sekarang?”

“oh kalau itu aku tidak terlalu tahu. Aku dengar juga di mobil itu ada seorang namja yang mengemudi. Namun sepertinya namja itu terpental terlalu jaih sehingga dia tidak ditemukan. Tapu yeoja itu langsung di efakuasi dan langsung dilarikan ke rumah sakit seoul”

Tanpa banyak berkata, kai langsung berlari. Ia tak ingat lagi lelah yang ada di kakinya. Kini ia berlari dengan sangat cepat, menuju rumah sakit yang tadi ia lewati bersama… seulgi

“tidak.. ini tidak boleh terlambat”

 

^_^

 

“jonginah…” kaget seorang yeoja. Ia langsung berdiri dari duduknya setelah melihat namja yang berlari dan membuat keributan di rumah sakit itu.

Nafas kai memburu. Tubuhnya lelah namun ia tak menyadari itu semua. Otaknya terlalu berbelit untuk meyadari keadaannya sekarang. Dengan keringat yang bercucuran, pakaian dan juga rambut yang berantakan

“neo… kau benar jongin?” yeoja itu maju perlahan dan langsung memeluk kai dengan erat. Kai mematung di tempatnya. Ya ia mengenal yeoja itu. Ia sudah bagaikan ibu kedua baginya. Yeoja baik dan lembut yang telah melahirkan kekasihnya itu kini menangis tersedu sambil memeluknya

“jonginie.. aku tahu kau pasti selamat” tuturnya lagi di tengah sedunya

“seulgi…” lirih kai “dimana dia?”

Karena sesuatu hal yeoja itu menangis lebih menjadi. Tubuhnya bergetar karena tangisnya.

“apa yang terjadi padanya? dia baik-baik saja kan?” seru kai penuh penekana. Di pegangnya keuda bahu yeoja itu. Matanya menatap tepat kearah mata menangis itu mencari jawaban yang ingin ia dengar dari mulutnya “benarkan?”

“tolong, tolong bantulah seulgi” tangisnya “bantulah dia” lirihnya

“apa maksud eommonie?” tanya kai. Di dalam hatinya ia tak siap untuk mendengar apapun jawaban yang sebenarnya sudah ada di otaknya. Ia tak mau menganggap jika semua itu adalah kenyataannya.

Yeoja itu berusaha mengendalikan dirinya. Ia mengelap air matanya dan menghentikan tangisnya. Di tatapnya kai dengan teduh “jonginie.. eomminie yakin dia bertahan selama ini adalah karena menunggumu” tuturnya “aku tak taha melihat semua selang dan juga jarum yang menusuki tubuhnya. Semua itu membuatnya sakit, tapi ia bertahan. Dan aku yakin dia menunggumu”

Kai tak tahu apa yang dia dengar. Matanya tak tahu harus menujukan pandangannya kearah mana. Semuanya terjadi terlalu cepat. Semua memorinya serasa berjejal-jejal kembali masuk ke otaknya.

“keundae..” lirih kai

Yeoja itu menggenggam lengan kai “jebal.. eommonie tidak tega melihatnya seperti ini. masuklah”

Kai melihat pintu yang ada di depannya. Pintu yang bisa membawanya langsung menemui seulgi.. seulgi yang asli. Tapi ia langsung menarik kembal niatnya untuk masuk. Dia takut.. ketakutannya sangatlah besar. Jika seulgi menunggunya selama ini. Maka jika kai masuk dan menemuinya…

“aniyo” geleng kai “aku tidak bisa”

“jonginah, eommonie mohon padamu. Hanya untuk kali ini saja. Eommonie tahu kau selalu menjaga seulgi dan membuatmu repot selama ini. Tapi untuk kali ini saja eommonie meminta sesuatu padamu. Relakan dia”

Kata-kata terakhir yang amsuk ke telinganya membuatnya berdengit. Ia sungguh mempunyai perang mental sekarang. Di satu sisi ia sangta khawatir dan ingin melihat yeoja yang sangat ia cintai itu, tapi ia masih belum bisa menerima akhir jika penantian seulgi akan berakhir ketika ia masuk ke ruangan itu.

Senyumannya, kata-katanya, bahkan kegalakan yeoja itu masih sangat membekas di ingatan kai. Satu-satunya yeoja yang ia cintai selain orang tuanya. Menghabiskan waktu selama toga tahun bukanlah waktu yang sedikit dan mudah untuk di relakan. Egonya tak membirkan kakinya untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu

 

^_^

 

Sakit.. Jika ada yang mengatakan melihat orang yang dicintai senang maka kau akan senang, dan jika melihat orang yang dicintaimu sakit maka kau juga akan sakit. Mungkin itulah yang kini ia rasakan.

Melihat seulgi terbaring di atas kasur dengan mata terpejam dan sebegitu banyaknya selang yang menusuki tubuh rampingnya membuat kai tak tahan. Hatinya bagaikan di tusuk oleh jarum tak kasat mata yang langsung menohok di hatinya.

Ruangan itu gelap, sepi hanya terdengar suara mesin yang mendeteksi detak jantung seulgi yang lemah. Dengan ragu kai melangkahkan kakinya mendekati ranjang dimana seulgi terbaring tak bergerak

Dan seketika itu juga air matanya mengalir. Ia tak percaya keadaannya bisa separah ini. Visi seulgi yang selalu ada di sampingnya dan juga bercanda dengannya sangatlah berbeda dengan kenyataan yang ada.

Bahkan kai tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kepalanya terbalut perban dan hampir setengah wajahnya tertutup oksigen yang membantunya bernafas.

Tangan kai terangkat, di gengggamnya lengan seulgi. “seulgi-yah” lirihnya “seulgiyah mianhae”

Tiba-tiba saja kai merasakan lengannya digenggam balik oleh seulgi. Dengan cepat kai langsung memfokuskan pandangannya kewajah seulgi. “seulgi-yah”

Perlahan mata indah itu terbuka untuk yang pertama kali selama koma.

“seulgi kau bangun” senyum kai bahagia. Ia beranjak untuk memanggil dokter namun lengannya digenggam sangat erat oleh seulgi.

Seulgi memandang kai sayu. Namun ada binar di matanya. Kai mendekat kembali kearah seulgi. Salah satu tangan seulgi merayap perlahan keatas dan berusaha membuka oksigennya.

“andwae” geleng kai menghentikan gerakan seulgi. Namun seulgi tetap melepaskannya. Dan kai baru menyadari bahwa yeoja itu tersenyum.

“aku bersyukur kau tak apa-apa” tutur seulgi membuka mulutnya. Suaranya masih terdengar serak setelah sekian lama koma. “mianhae karena aku tak bisa mengenalimu di saat pertama kali kita bertemu di restoran”  ujarnya lagi.

Dada kai terasa sesak. Ia menundukkan kepalanya untuk menahan kembali tangisnya “mian”

“kau tak salah apa-apa” ucap seulgi. Kai langsung mendongak dan memandang dengan lembut yeoja itu. Ia tak bisa mengatakan seberapa besar rasa kasihnya pada seulgi. Melihatnya seperti ini dan berbicara seperti ini malah membuat hatinya sangat sakit.

Kini air mata kai kembali mengalir. “minhae karena aku tak bisa mengigatmu lebih cepat. Kalau saja aku bisa mengingatmu lebih cepat, kau pasti..”

“ani” potong seulgi “aku yang meminta maaf karena tak bisa masuk ke universitas bersamamu seperti janji kita”

“jangan berbicara seperti itu” seru kai

“aku senang karena keinginanku untuk melihat sungai han bersamamu terkabul. Gomawo karena telah mau menuruti permintaanku walaupun kau sedang lelah”

Tangan kai terangkat. Di elusnya puncak kepala seulgi dengan perlahan “gomawo karena bahkan saat kau sedang koma kau selalu ada di sampingku”

“bahkan saat aku koma kau tetap selalu menjagaku, nan.. jongmal saranghae”

Apa yang di katakannya, apa yang di dengarnya semuanya layaknya mimpi. Namun rasa sakitnya begitu nyata.

“uljima.. kalau kau menangis seperti karenaku itu membuatku seperti orang jahat” ujar seulgi “ya mungkin aku memang orang yang jahat, bahkan aku selalu menghantuimu”

“ani, kau bukan hantu. Hantu tak mempunyai sayap sepertimu”

“tapi aku sudah tak mempunyai sayap sekarang”

“bagiku tidaklah berubah”

“gomawo untuk semuanya”seulgi menatap kai dengan senyuman di wajahnya

“hajima.. jangan katakan hal-hal seperti itu”

“aku bahagia karena bisa mencintaimu hingga akhir”

Dalam gerakan cepat, dalam satu rengkuhan saja kai langsung memasukkan tubuh seulgi kedalam dekapannya. Mendekapnya erat layaknya enggan untuk kehilangan yeoja itu. Perlahan dan juga lembut dikecupnya kening seulgi.

“tolong janagan tinggalkan aku” rintih kai

“aku tak akan meninggalkanmu. Seperti apa yang aku katakan waktu itu kepadamu. Aku selalu ada di sampingmu walaupun kau tak bisa melihatku” ujar seulgi

Entah sudah yang keberapa kalinya ia menangis hari ini. Tapi air matanya tetap saja tak mau berhenti. Harapannya hanya satu, semua ini adalah mimpi. Tapi semuanya tetap terlalu nyata untuk dianggap sebuah mimpi

“saranghae” tutur kai sambil masih medekap tubuh seulgi

“nado.. gomawo oppa”

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT……

 

^_^

 

Semuanya bagaikan kilat yang menyambar. Cepat dan juga berbekas dalam. Semuanya sudah meninggalkan tempat itu kecuali dirinya. Dia melangkahkan kakinya mendekati sebuah ukiran nama seseorang yang sampai kapanpun selalu ada di hatinya.

Di elusnya nama itu. Matanya lirih sambil mengingat semua yang telah mereka lakukan bersama selama tiga tahun. Semua memori yang ia ingat terasa percuma jika tak bisa kembali ia rasakan bersamanya. Tapi..

“ani.. aku tak akan menangis atau sedih lagi” tutur kai “aku tahu dan yakin kau pasti ada di sini. Dan aku tak mau kau merasa menjadi orang jahat lagi karena aku menangis”

“gomawo karena kau selalu ada di sisiku” senyum kai

 

END

4 thoughts on “Wings part 3/3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s