LITTLE THING (CHAPTER 2)

Author                        : Tob @nadyamalifah

Genre                          : School life

Length                        : Multichapter

Rating                         : –

Main Cast                   : Kim Jong In

Oh Hayoung

Other Cast                  : You will find them

Jongin POV

Sehun sialan, dia sudah menyiramku dengan air dan sekarang pergi meninggalkanku. Akan kubalas kelakuannya di latihan nanti. Kutancapkan gas di motor sport merahku dan melesat pergi.

Di tengah perjalanan kulihat seorang gadis di dekati  seorang namja berparas buruk seperti preman. Kutepikan motorku di sebuah toko. Belum sempat kudekati gadis itu untuk menolongnya namun ternyata namja tadi sudah habis babak belur oleh gadis itu.

“Bodoh.” Kata gadis itu pelan kepada namja yang baru saja dihajar olehnya.

Tunggu, sepertinya aku mengenal suara itu dan ternyata benar saja ketika gadis itu melihat ke arahku dia langsung menghampiriku dan memberikanku pelukan yang sudah lama sangat kurindukan.

 

Still Jongin POV

“Ya! Sulli-ya! Bogoshipo.” Kataku sambil memeluknya.

“Nado oppa.”

Gadis kecil itu adalah Sulli. Dia memang sudah besar tapi bagiku dia tetap gadis kecil yang menggemaskan.

“Sulli-ya kau semakin cantik.”

“Dan oppa semakin gelap.” Katanya polos.

 

Dongsaengku ini memang semakin cantik. Dia semakin tinggi dan kulitnya benar-benar putih berbeda denganku yang gelap ini. Walaupun kulitku gelap tetap saja aku tidak terima dikatakan gelap oleh dongsaengku sendiri. Ditambah lagi dia sudah sabuk hitam dan satu Tae Kwon Do. Aku lupa, selain cantik dia juga cukup menyebalkan.

 

“Kutarik kata-kataku kembali.”

“OPPA!.”

“Oppa hanya bercanda.” Kataku sambil mengacak-ngacak poninya.

“Oppa, aku benar-benar rindu padamu.”

“Oppa memang pantas dirindukan. Sedang apa kau disini? Apakah kau sedang libur dari pertukaran pelajar?.”

 

Dongsaengku ini selain cantik dia juga cukup pintar. Enam bulan lalu dia masih melakukan pertukaran pelajar ke Jepang. Aku juga mendapatkannya namun kutolak karena aku tidak mau pergi ke Jepang. Awalnya Sulli juga menolak namun kupaksakan dia untuk ikut karena aku tahu pertukaran pelajar inilah yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

“Ani. Aku benar-benar pulang.”

“Jinjja?”

“Bohong.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

“Sulli-ya…”

“Aku benar-benar pulang oppa.” Katanya dengan senyum tulus.

Kulangkahkan kaki menuju motor sport merahku berada. Terdengar Sulli memanggil.

“Oppa, mau kemana?”

“Kajja, ayo kita pulang.”

“Tapi, kau harus membelikanku es krim.”

Aku mengangguk. Kutancapkan gas menuju kedai es krim langganan Sulli. Kuberikan dompetku karena aku tidak mau mengantri serta meninggalkan motor. Untung saja sebagian uang kusimpan di rumah, jika tidak habislah uangku untuk bulan ini karena Sulli pasti akan menggunakan kesempatan untuk menghabiskan uangku.

 

Jeda 10 menit kulihat sekeliling dan kutemukan dongsaengku sedang berbicara dengan seorang gadis yang terlihat familiar olehku.

Hayoung.

Kutinggalkan motorku dan pergi menuju tempat Sulli dan Hayoung berbicara.

 

Sulli POV

Sebenarnya aku tidak perlu memilih es krim lagi namun aku ingin sesuatu yang beda untuk saat ini karena Jongin Oppa memberikan dompetnya. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Dia benar-benar pemalas tidak mau beranjak dari motornya dan memberikan dompetnya. Aku benar-benar beruntung. Namun ketika aku masih bingung memilih es krim, tak sengaja tanganku menyenggol lengan seseorang lalu terdengar suara jatuh. Kualihkan kepalaku menuju sumber suara dan ternyata es krimnya jatuh.

“Mianhae, akan kuganti es krimnya.”

“Tidak usah, tadi tinggal sedikit lagi. Sungguh.”

“Ani, aku harus menggantinya.”

“Tidak apa-apa sungguh kau tidak usah menggantinya.” Katanya tersenyum.

Lalu Jongin Oppa datang.

“Sulli-ya ada apa?”

“Tadi, aku menyenggol es krim miliknya lalu jatuh.”

“Hayoung-a ayo kuganti.” Kata Jongin Oppa. Sepertinya mereka saling kenal.

“Tidak perlu, sungguh.” Kata gadis itu tanpa ekspresi.

Wajah gadis ini menjadi datar ketika berbicara dengan Jongin Oppa, padahal tadi ketika berbicara denganku dia tersenyum manis. Kulihat es krim yang jatuh tadi. Rasa strawberry. Aku pun langsung pergi untuk membeli tiga es krim strawberry. Kuacuhkan saja Jongin Oppa dengan gadis yang namanya kalau tidak salah tadi bernama Hayoung.

 

Tak lama kemudian kudapatkan tiga es krim strawberry dan kembali ke tempat Jongin Oppa dan yeoja itu berada. Namun yang kutemukan hanya Jongin Oppa sedang mengusap-usap tangannya.

“Oppa, kemana yeoja tadi?”

“Dia sudah pulang.”

“Kenapa? Padahal tadi aku membeli tiga es krim strawberry untuk menggantinya.”

“Kajja.”

Jongin Oppa terlihat aneh. Kuturuti saja kata-katanya.

Sesampainya di rumah dia langsung pergi ke kamarnya. Kusimpan saja satu buah es krim ke kulkas. Ini memang sudah malam tapi aku sangat menyukai es krim. Kubawa dua buah es krim untuk kuhabiskan di halaman. Satu es krim ini milik yeoja tadi, daripada tidak ada yang memakannya lebih baik kumakan saja di halaman. Namun tak lama kemudian kulihat seorang yeoja turun dari taksi. Dia mirip yeoja yang di kedai tadi.

Itu benar-benar yeoja tadi.

Kuhampiri yeoja itu sambil membawa es krim yang  untungnya belum kuhabiskan. Karna sepertinya dia saling kenal dengan Jongin Oppa kuputuskan secara sepihak untuk memanggilnya Eonni.

“Eonni, ini es krim tadi.” Kataku sambil menyodorkan es krim. Namun wajahnya terlihat bingung.

“Ini untuk kejadian di kedai tadi.” Kataku.

“Ani, tidak usah.”. Jawabnya sambil tersenyum.

“Eonni, ambilah atau aku akan memanggil Jongin Oppa.”

Aku hanya bercanda akan memanggil Jongin Oppa namun kulihat ekspresi di wajahnya langsung berubah.

“Baiklah. Gomawo. Aku akan pergi.”

“Cheonma, annyeong Eonni.” Kataku sambil melambaikan tangan.

Kulihat dia memasuki pekarangan rumah yang ada di depan rumah kami. Ternyata rumahnya dekat.

Lalu terdengar suara Jongin Oppa memanggil dan menyuruhku masuk. Kuhabiskan es krim tadi dan masuk ke dalam rumah. Walau sebenarnya aku masih ingin bersantai di luar.

 

Hayoung POV

Aku masih kaget karena ternyata rumah Jongin berada tepat berada di depan rumahku. Padahal rumah itu sudah tidak dihuni selama dua tahun. Kupikir rumah itu sudah dihuni kembali oleh dia namun ternyata rumah itu dihuni oleh orang lain.

Tadi Sulli memberikanku es krim yang katanya sebagai ganti karena telah menjatuhkan es krimku. Padahal aku tidak apa-apa karena es krimku tadi tinggal sedikit lagi. Namun Sulli memaksa dan jika aku tidak mengambilnya maka dia akan memanggil Jongin jadi lebih baik aku mengambil es krimnya dan pergi.

Awalnya aku berpikir bahwa Sulli adalah yeojachingu Jongin. Namun ternyata aku salah, mereka adalah saudara kandung. Sebenarnya aku juga masih bingung apakah Sulli benar-benar dongsaengnya atau bukan. Mereka seperti langit dan bumi. Kulit Sulli benar-benar putih terang sedangkan kulit Jongin kebalikannya. Benar-benar terlihat gelap. Di tengah-tengah pemikiran tentang mereka terdengar suara Eomma memanggil.

“Hayoung-a makan malam sudah siap.”

“Ne. Sebentar lagi.”

Aku pun langsung membereskan buku pelajaran untuk hari esok dan pergi ke ruang makan. Terlihat Eomma dan Appa sudah siap di meja makan.

“Eomma, rumah yang berada di depan sejak kapan dihuni kembali?”

“Kalau tidak salah dua hari lalu. Wae?”

“Ani.”

Kuhabiskan makan malam lalu mengucapkan terima kasih dan pergi ke kamar untuk membaca beberapa materi yang mungkin akan muncul di pelajaran hari esok.

 

Jongin POV

Kulihat Sulli berada di luar pagar. Walau sebenarnya aku bingung kenapa dia tidak menghabiskan es krimnya di kursi yang berada di halaman tapi kuurungkan niatku untuk bertanya kepadanya. Kupanggil dongsaengku ini dan menyuruhnya masuk karena udara di luar saat ini cukup dingin.

Sebelumnya aku tinggal disini namun hanya seminggu dan kembali ke Busan karena pekerjaan Appa dipindahkan ke Busan. Sekarang aku pindah ke sini karena kematian orang tuaku dua tahun yang lalu. Untungnya kami tidak mengalami kekurangan dalam hal finansial karna harta mereka diberikan kepadaku dan Sulli. Tetapi walaupun begitu, uangnya diberikan kepada paman kami dan dia akan mengirimi kami uang setiap bulannya agar kami tidak boros.

Aku pindah kesini dua hari yang lalu. Untung saja Appa dulu tidak menjual rumah ini jadi aku dapat menempatinya. Sebelum Sulli datang aku tinggal sendiri namun sekarang aku akan tinggal berdua dengannya. Keluargaku satu-satunya.

 

Hari ini benar-benar sangat melelahkan. Tadi aku benar-benar terlalu bekerja keras latihan menari. Entah mengapa aku tadi benar-benar ingin melatih gerakanku agar lebih nyaman.

Flashback

Hari ini juga tadi aku bertemu dengan Hayoung di kedai es krim.

Ketika Sulli pergi membelikan es krim, Hayoung menjadi dingin dan memasang wajah innocentnya lalu pergi. Kupegang tangannya agar dia tidak pergi lalu dia langsung memberikan death glarenya. Kutatap matanya.

“Diamlah disini, Sulli sedang membelikan es krim.”

“Lalu? Untuk kejadian tadi sungguh tidak apa-apa.”

“Lepaskan tanganmu, aku tidak mau menjadi tontonan orang.”

“Biarkan mereka berfikir kita adalah kekasih yang sedang bertengkar.”

“Lepaskan.”

“Tidak akan.”

Tidak kulepaskan tanganku dari pergelangan tangannya. Terdengar suara erangan kesakitan dari Hayoung. Sepertinya aku terlalu kencang menarik tangannya. Kulonggarkan tanganku dari pergelangan tangannya namun tidak kulepas.

“Ini sudah malam, aku harus pulang.”

“Kuantarkan kau pulang.”

“Tidak perlu.”

Kulihat sekeliling untuk mencari Sulli namun dia tidak terlihat dimana-mana. Tiba-tiba kurasakan gigitan dari tanganku. Aku langsung berteriak dan melepaskan tanganku dari pergelangan tangannya. Lalu dia pergi.

 

Hari ini aku tidak ingin belajar dulu. Aku ingin menemani Sulli menonton film. Walaupun di tengah-tengah film diputar aku akan tertidur tapi tetap saja aku akan menemaninya. Aku benar-benar sangat merindukannya.

“Sulli-ya. Apakah kau sudah membereskan berkas-berkas untuk kepindahanmu kesini?”

“Ne. Tadi paman langsung menyerahkannya ke sekolah baruku.”

“Oh syukurlah.”

“Oppa, tadi aku bertemu Hayoung Eonni saat sedang memakan es krim di halaman rumah. Ternyata rumahnya tepat berada di depan rumah kita.”

“Lalu?”

“Kuberikan saja es krim tadi dan dia menerimanya.”

“Oh.”

Aku sudah-sangat-tahu jika rumahnya tepat berada di depan rumahku. Tapi aku kaget karena Sulli bertemu dengan Hayoung.

 

Author POV

Ketika film sedang diputar Jongin sudah mulai mengantuk dan benar-benar ingin tidur. Dilihatnya Sulli yang sudah terlelap. Padahal dia yang sangat ingin menonton filmnya tetapi justru dia yang tidur duluan. Dilingkarkan tangan Sulli di lehernya lalu membawanya ke kamar tidur Sulli.

Sebelum meninggalkan Sulli di kamar, dia mengecup dahi Sulli lalu mematikan lampu dan pergi ke kamar tidur.

Di kamarnya dia memandangi poster-poster Michael Jackson yang berada di dinding kamar. Jongin tidak bisa tidur padahal tadi ia benar-benar mengantuk. Dibukanya laci yang berada tepat di sebelah tempat tidur lalu mengambil selembar foto yang berisikan dua orang anak tersenyum sambil memasang tangan dengan pose v.

“Aku menepati janjiku.” Ucapnya.

 

Hayoung POV

Pagi ini aku terlambat bangun gara-gara jam weker sialan itu. Untung saja eomma membangunkanku, jika tidak maka aku harus lari marathon lagi seperti hari kemarin. Dan itu sungguh tidak menyenangkan. Kuselesaikan ikatan sepatuku dan langsung beranjak pergi.

“Eomma! Aku berangkat!”

“Tunggu hayoung-a, sudah eomma siapakan bekal untukmu. Makanlah nanti di sekolah.:

“Ne, Eomma. Gomawo. Annyeong!”

Kulambaikan tanganku, dan bersiap-siap untuk lari. Namun sebelumnya, kupasangkan earphone merah muda ke telinga dan bersiap-siap untuk lari. Namun, baru saja aku mau berlari. Terdengar suara namja yang sangat ku kenal memanggil.

 

Jongin POV

Aku akan terlambat jika tidak berangkat sekarang. Namun, aku ingin menunggu Hayoung agar dapat berangkat bersama. Untung saja Sulli sudah berangkat pagi-pagi sekali jadi aku tidak perlu mengantarkannya. Tak lama kemudian, terlihat sosok yeoja keluar dari rumah di depan rumahku.

 

Itu Hayoung.

 

Kulihat dia memasangkan earphone ke telinga mungilnya dan bersiap-siap akan berlari.

“Hayoung-a!” Kataku, namun tak didengarnya.

Kutancapkan gas dan pergi ke sampingnya.

“Naiklah atau kau akan terlambat.” Terlihat ekspresi ragu di wajahnya.

“Tidak perlu, aku akan berlari.”

“Kau yakin? Percuma kau berlari, ini sudah siang Hayoung-a. Cepatlah naik.”

Dengan ragu-ragu dia naik ke motorku.

“Lingkarkan tanganmu ke pinggangku atau kau akan jatuh.” Kataku sambil tertawa.

“Tidak mau.”

“Kau ingin jatuh hah? Aku serius.” Kataku serius namun dia masih tidak mau melingkarkan tangannya.

“Kau lihat saja Hayoung-a.”

Kutancapkan gas dengan kecepatan sangat tinggi karna jika tidak maka aku akan kesiangan. Lambat laun kurasakan tangan mungilnya melingkar di pinggangku. Aku tersenyum. Kulihat kaca spion untuk melihat ekspresi wajahnya dan ternyata dia ketakutan.

“Tenanglah Hayoung-a.”

“Aku tidak ingin mati Kkamjong-a”

 

Hayoung POV

Namja sialan ini memang sudah menyelamatkanku dari kesiangan tapi dia juga secara tidak lagsung seperti melemparkanku ke jurang kematian. Kecepatannya membawa motor benar-benar sangat menakutkan. Karna aku tidak mau mati, kupaksakan tanganku untuk melingkar di pinggangnya karna aku juga masih waras. Aku tidak peduli bagaimana ekspresi wajahku saat ini namun tiba-tiba terdengar suara namja sialan itu.

 

“Tenanglah Hayoung-a”

“Aku tidak ingin mati Kkamjong.” Aku kelepasan memanggilnya Kkamjong. Kulihat wajahnya dan yang terjadi dia tersenyum.

“Tenanglah, jika kau mati pun kau mati bersamaku.”

“Ya! Aku serius.” Kataku serius.

“Tenanglah.” Katanya sambil mengusap-ngusap tanganku. Aku ingin menyangkal tangannya namun jika aku melepaskan tanganku dari pinggangnya sangat berbahaya. Jadi kudiamkan saja.

 

Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai. Benar saja, kami tidak telat. Untung aku berangkat bersamanya, jika tidak mungkin aku akan dipulangkan karna kesiangan.

Aku langsung pergi setelah turun dari motornya dan mengucapkan terima kasih. Aku tidak mau Hyeri dan dayang-dayangnya bertingkah aneh lagi dan malah menginterogasi. Sepertinya keputusanku tepat.

 

Dan akhirnya aku sampai di kelas dengan tenang dan duduk di bangku yang kemarin. Aku sudah merasa tenang sampai suara menjengkelkan itu datang lagi.

“Hayoung-a sepertinya besok kita harus berangkat bersama lagi.”

Kudiamkan saja dia dan mencoba bersantai dengan mendengarkan lagu dari iPodku. Namun namja itu malah mengusir orang di depan mejaku dan duduk santai disana. Kutatap wajahnya tanpa ekspresi namun dia malah tertawa.

“Aku suka memandangimu” Katanya.

Tunggu, kata-kata itu memang biasa saja tetapi terasa familiar. Seseorang yang sangat kurindukan pernah mengatakannya. Seseorang yang sudah pergi nan jauh disana. Namun, tidak mungkin jika namja sialan ini orangnya. Itu tidak mungkin.

 

Author POV

Flashback on

“Ya! Kai berhenti memandangiku. Aku benar-benar merasa risih”

“Memangnya kenapa? Aku suka memandangimu”

Untung saja Hayoung membawa iPod merah muda pemberian Eommanya. Langsung saja ia memasangkan earphone merah muda ke telinganya. Namun dalam hitungan detik sebelah earphonenya sudah berpindah posisi ke telinga Kai.

“Kau ini…”

“Kenapa? Sudahlah dengarkan saja lagunya dan aku akan memandangimu”

Pipi Hayoung bersemu merah karna malu sekaligus senang. Namun, sayangnya kebahagiaan itu tidak terjalin lama karna Kai mengatakan sesuatu yang tidak diduganya.

“Aku harus pergi”

“Kemana? Kau akan meninggalkanku?”

Kai tidak menjawab, hatinya terasa sakit jika menjawab pertanyaan Hayoung. Lalu, Kai pun pergi dengan mengucapkan sebuah kalimat.

“Tunggu aku.”

Hayoung terdiam. Dia masih belum bias mencerna kata-kata Kai-sahabatnya yang baru dia kenala beberapa hari ini. Tanpa terasa air mata bergulir di pipinya dan dengan suara sekuat tenaga serta suara bergetar dia menggumamkan sebuah kalimat.

“Aku akan menunggumu sampai kapan pun.”

Flashback off

 

“Benarkah itu kau Kai? Jongin, mungkinkah kau Kai? Seseorang yang kutunggu-tunggu selama ini? Mungkinkah?”  Beribu pertanyaan berputar di otak Hayoung. Dengan pemikiran yang kurang matang, Hayoung bertanya kepada Jongin.

“Kkamjong-a…”

“Hm?” Alis Jongin mengerut, bingung dengan suara parau yang dikeluarkan oleh mulut Hayoung.

“Apakah kau………”

 

To be Continued.

 

2 thoughts on “LITTLE THING (CHAPTER 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s