FF: The Wolf and not The Beauty (part 10)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Jangan mengatakan hal-hal yang menggambarkan seperti kita adalah seorang teman.”

Beberapa menit lagi sebelum pertandingan bola basket dan sepak bola dimulai. Sehun belum juga terlihat muncul di kursi penonton. Sejak tadi, hanya Kyungsoo dan Suho yang duduk disana dengan membawa beberapa peralatan untuk mendukung Kai dan teman-temannya.

Berkumpul di pinggir lapangan, Kai dan Kris terus saja menatap gelisah kearah pintu gedung olahraga. Berharap jika Sehun akan muncul dari sana dan bergabung bersama Kyungsoo dan Suho.

Bagi Kai, mungkin ini bukan hal yang pertama. Ia sudah mulai terbiasa dengan sifat Sehun yang suka menghilang tiba-tiba. Saudaranya itu memang sangat susah ditebak. Pikirannya dan hatinya. Dia seperti angin yang selalu berhembus kearah yang ia inginkan. Tidak akan bisa diatur oleh orang lain.

Tapi bagi Kris, ini adalah hal yang baru. Ia sangat khawatir karena tidak ada Sehun di sisinya. Ia tidak akan bisa mengawasi emosi pria itu yang sangat meledak-ledak. Bagaimana jika tiba-tiba ia mengingat kejadian menyedihkan itu? Bagaimana jika dia memperlihatkan semuanya didepan banyak orang? Semua orang akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

“Apa Sehun benar-benar tidak datang?”tanya Baekhyun sembari menghembuskan napas panjang.

“Mungkin dia kesiangan”sahut Tao menepuk pundak Baekhyun.

“Tidak mungkin. Dia pasti akan datang. Aku yakin” Chanyeol mengangguk mantap, juga mencoba menghibur teman-temannya yang terlihat khawatir.

Kris tersenyum tipis, “Kau adalah seorang kapten. Kau harus fokus dengan permainan”

Kai mendongak, menatap Kris. “Apa dia baik-baik saja?”

“Tentu saja”

***___***

Tidak ada yang mengetahui jika pria tinggi yang dicari oleh Kai dan Kris itu sedang melakukan pemanasan di lapangan sepak bola outdoor. Seorang diri, dia merenggangkan otot-ototnya sebelum melakukan pertandingan. Tidak menyadari jika semua pemain lain sedang memandangnya dengan raut wajah aneh. Bahkan sebagian dari mereka terlihat tidak menyukai jika pria itu menjadi salah satu pemain inti.

Melihat beberapa raut kekesalan diantara teman-temannya, Luhan akhirnya berdiri dari duduknya. Meninggalkan Xiumin dan Chen yang seketika mengikuti kemana langkahnya pergi dengan kening berkerut.

Ia menghampiri Sehun yang masih memain-mainkan bolanya.

“Kita akan melakukan formasi menyerang.”seru Luhan membuat Sehun menoleh.”Permainan cepat namun hati-hati. Saat—“

“Terus perhatikan aku.”potong Sehun membuang pandangan kearah lain.

“Apa?”

“Terus perhatikan aku dan bersiap untuk mencetak gol. Aku akan memberikan assist yang bagus untukmu.”

Sehun menunduk, mengambil bolanya lalu pergi meninggalkan Luhan yang ia biarkan terdiam menatap punggungnya.

***___***

Bunyi decitan sepatu terdengar bersautan di gedung olahraga itu. Sesekali gemuruh sorak dari para penggemar juga semakin meramaikan suasana. Kyungsoo dan Suho tak henti-hentinya meneriakkan nama teman-teman mereka sambil mengangkat banner tinggi-tinggi.

Di seumur hidupnya, bagi Kyungsoo ini adalah hal baru. Sifatnya yang sangat pemalu dan tertutup membuat dirinya sejak kecil dikenal sebagai anak yang aneh. Dia selalu menarik diri dari teman-temannya dan enggan bergaul. Terlebih lagi saat banyak orang yang mengetahui jika dia ternyata tinggal di belakang gereja Solomon. Sebuah gereja tua yang tidak terurus dan terkenal angker.

Dia bukan berasal dari keluarga yang kaya. Ayahnya meninggal karena penyakit jantung saat usianya masih menginjak 5 tahun. Selama ini, ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Terus bekerja keras dan akhirnya berhasil membeli sebuah rumah sederhana dibelakang gereja itu. Terpaksa. Karena itu adalah satu-satunya tempat yang murah.

Tapi walaupun semua orang menganggap gereja itu sangat mengerikan, Kyungsoo tidak pernah menganggapnya seperti itu. Ia pergi dan pulang dengan aman dan tidak ada gangguan apapun dari manusia serigala seperti yang diberitakan. Walaupun ia sendiri tidak mengetahui jika setiap harinya seseorang selalu mengikuti langkahnya sampai tiba di rumah.

“Wohoooo!” Kyungsoo berseru nyaring saat melihat Kai memasukkan bola dari jarak jauh.

“Kapten Kai, kau sangat keren!”teriak salah seorang murid perempuan dari arah belakang.

“Kaiiii, kau harus jadi pacarku!”

“Kaiiii,kau sangat seksi!”

Dan masih banyak lagi seruan-seruan murid-murid perempuan yang semakin membuat Kyungsoo yakin jika semua masalah sudah selesai. Semua sudah kembali seperti awal, dimana Kai tetap menjadi bintang diantara murid-murid perempuan. Dan kabar itu, perlahan menghilang dengan sendirinya.

***___***

Disisi lain, tim sepak bola juga mendapat dukungan besar sejak melihat permainan cemerlang dari pemain baru itu. Bersama Luhan, keduanya dengan mudah menjadi komposisi yang cocok. Bermain apik dengan salah satunya memberikan assist dan yang lainnya menciptakan goal spektakuler.

Keduanya bahkan membuat Chen dan Xiumin terlongo-longo melihat kerja sama mereka. Mereka mengalahkan kerja sama yang terjalin antara Luhan dan Lay sebelumnya. Kali ini lebih baik. Saling bisa mengisi kekosongan satu sama lain dan melihat situasi.

Terutama, saat keduanya berhasil menciptkan gol cantik berkali-kali.

***___***

Kyungsoo dan Suho langsung berlari ke depan saat Kai dan timnya berhasil memenangkan pertandingan. Ingin menyambut teman-teman mereka yang berhasil membawa nama baik sekolah dan melaju ke babak selanjutnya.

“Kau hebat, kapten!” Kyungsoo menepuk pundak Kai membuatnya mengerutkan kening bingung.

“Kapten?”

“Semua murid-murid perempuan memanggilmu kapten. Kau tidak mendengarnya?”

Mata Kai melebar, “Benarkah?”

Kyungsoo mengangguk mantap, “kau hebat.”

“Tidak. Aku jauh lebih hebat. Aku juga mencetak poin.”sahut Baekhyun membusungkan dadanya.

“Poin? Jika aku tidak melemparkan bolanya kearahmu, kau tidak akan bisa mencetak angka. Akulah yang sebenarnya paling hebat”seru Chanyeol tidak mau kalah.

“Sepertinya kita harus merayakan kemenangan ini. Bagaimana jika makan ddokbukkie?!” Baekhyun mengusulkan ide.

Yang lain terlihat sangat setuju dengan usul itu, kecuali Kris yang langsung menjadi pucat saat mendengar kata ‘dokkbukkie’. Jajanan beras itu? Tidak mungkin!

“Apa Sehun belum juga datang?”tanya Kai karena tidak melihat saudaranya diantara teman-temannya.

“Oe? Benar. Sehun tidak ada.” Baekhyun mengangguk.

“Mungkin dia—“

“Kai! Kai! Kim Kai!” Tiba-tiba Sungji, salah satu teman sekelas Kai menghampirinya sambil berlari.

“Ada apa?” Kai menatapnya bingung.

“Kim Sehun! Saudaramu… hhh… hhh… “

“Hey, ada apa?”tanya Kai semakin khawatir saat melihat ekspresi wajah Sungji.

“Dia… dia menjadi pemain inti tim sepak bola menggantikan Lay!”

“APA?!”

Tidak hanya Kai, tapi semua orang yang ada disana seketika terperangah hebat setelah mendengar ucapan Sungji.

“Sungguh. Sejak tadi aku menonton pertandingan tim sepak bola dan mereka memenangkan pertandingan. Sehun dan Luhan bermain sangat bagus sehingga—“

“Kau tidak bercanda denganku, kan?!” Kai mengulurkan tangannya, mencengkram kuat kerah baju Sungji dan menariknya kearahnya. Ia menatap Sungji tajam. “Aku tidak menyukai cara bercandamu”desisnya dingin.

“K-kai, a-aku tidak bercanda…”

“Kai, lepaskan dia. Dia tidak bisa bernapas”cegah Kyungsoo menarik lengan Kai.

Kai melepaskan cengkramannya keras hingga membuat Sungji termundur dan terjerembap ke belakang kemudian berjalan dengan langkah-langkah panjang meninggalkan gedung olahraga.

“Kai, kau mau kemana?!”teriak Chanyeol memanggil-manggil Kai.

“Kemana lagi? Dia pasti ke lapangan sepak bola! Ayo!”

Baekhyun, Tao, Chanyeol, Suho dan Kyungsoo langsung berlari menyusul Kai. Melihat ekspresinya tadi, pasti akan ada perkelahian.

Sedangkan Kris, masih membeku ditempatnya dengan pikirannya sendiri.

“Hasrat pemburunya semakin terasa mendominasi…”

***___***

Sehun seperti hilang kesadaran saat Luhan tiba-tiba menghampirinya sambil mengulurkan tangan. Setelah menghusap keringatnya dengan handuk putih, Sehun mengangkat wajahnya, menatap Luhan dengan kening berkerut. Dia bingung.

Saat ia melihat wajah Luhan, keningnya semakin berkerut saat melihat kedua sisi bibirnya tertarik keatas. Tersenyum.

“Selamat.”seru Luhan masih mempertahankan senyumannya.

“Untuk apa?”

“Karena tim kita sudah menang.”

Sehun tertawa mendengus, mengabaikan uluran tangan Luhan. “Cih, tim kita? Aku tidak pernah masuk ke dalam tim ini. Aku hanya diminta pelatih untuk menggantikan Lay sementara waktu.”

“Tapi saat ini, kau adalah bagian dari tim sepak bola. Dan karena kau juga aku bisa mencetak banyak gol.” Luhan menurunkan tangannya, memutuskan untuk duduk disamping Sehun.

“Jangan mengatakan hal-hal yang menggambarkan seperti kita adalah seorang teman.”balas Sehun dingin, membuang pandangan kearah lain. “Aku membencimu.”

“Aku bahkan lebih membencimu. Tapi untuk saat ini setidaknya kita adalah tim. Dan setidaknya timku menang melawan mereka.”

Sehun mengalihkan wajahnya, menatap Luhan kembali. Ekspresinya benar-benar serius saat memandang Luhan.

“Jika yang kau pikirkan hanyalah kemenangan, selamanya kau tidak akan pernah bisa menjadi kapten yang baik. Jika yang kau lakukan hanyalah memerintah mereka dan memaksakan kehendakmu sendiri, kau akan tetap gagal menjadi seorang kapten.”

Kali ini, berganti kening Luhan yang berkerut bingung. “Apa maksudmu?”

“KIM SEHUN!”

Tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar membuat Sehun dan Luhan sama-sama menoleh kearah sumber suara. Saat melihat siapa yang tengah berdiri 5 meter dari arah mereka, ekspresi Sehun seketika memucat. Ia menegang.

“Kai…”lirih Sehun dengan mata melebar.

Rahang Kai mengatup keras, tangannya mengepal disamping tubuhnya sembari berjalan dengan langkah-langkah geram menghampiri Sehun dan Luhan. Sehun berdiri,  bola matanya berputar-putar, berusaha mencari-cari penjelasan yang tepat untuk saudaranya itu.

“Sedang apa kau disini, Sehun Rouler?!”desisnya dingin. Ia sangat kesal sampai tidak sadar jika dia sudah menyebut nama asli Sehun. “Apa yang kau lakukan disini bersamanya?! Kenapa kau tidak datang di pertandinganku?!”

“Begini Kai, kemarin… sebenarnya pelatih… “

“Jadi kau tidak datang ke pertandingan karena kau menjadi salah satu dari tim sepak bola?!”bentak Kai menatap tajam kearah Sehun. “Kau lupa siapa dia?! Kau lupa bagaimana dia melukai Kyungsoo hingga dia harus dirawat di rumah sakit?! KAU LUPA?!”

“Kai.. hentikan..” Baekhyun menarik lengan Kai dan menariknya mundur, namun Kai langsung menepis tangan Baekhyun kasar, membuat Baekhyun sampai termundur ke belakang.

Kai tidak juga melepaskan pandangannya dari saudara satu-satunya itu. Masih menatapnya dengan sorot kesal.

“Apa sekarang kau ada di pihak mereka?!”

Sehun hanya diam. Menatap lirih Kai penuh perasaan bersalah.

“JAWAB AKU!”

Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, Suho dan Tao hanya bisa menelan ludah tanpa bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Sehun. Kai terlalu mengerikan untuk didekati. Sorot matanya benar-benar menyeramkan untuk siapapun yang melihatnya.

Bahkan, untuk menyelamatkan mereka dari pandangan orang lain yang seketika berhenti untuk mengetahui yang sedang terjadi di pinggir lapangan bola itu, mereka juga tidak bisa.

“Hey, bisakah kau mendengar penjelasannya terlebih dahulu? Pelatih menyuruhnya untuk menggantikan Lay selama dia cedera.” Luhan menyelip diantara celah yang tercipta antara Sehun dan Kai. Ia berdiri didepan Sehun, menutupi tubuhnya dan menantang mata tajam Kai.

Kai semakin marah dengan perbuatan Luhan, “Kau brengsek!” Hampir saja ia memukul Luhan jika Tao tidak langsung mengunci tubuhnya dari belakang dan menyeretnya mundur. Suho dan Chanyeol juga langsung maju untuk melerai perkelahian yang untungnya tidak terjadi itu.

“Kita masih mempunyai pertandingan!”bisik Tao sedikit membentak Kai.

Beruntung, Tao mampu menyadarkan Kai jika mereka masih mempunyai beberapa pertandingan. Ia melunak namun tetap merasa kesal dengan Sehun. Ia melepaskan diri secara paksa, memberikan tatapan tajamnya pada Tao sejenak lalu pergi meninggalkan tempat itu.

“Kenapa situasinya semakin bertambah rumit?”desah Baekhyun.

“Aku akan menyusulnya.”putus Kyungsoo. Sejak tadi dia tidak melakukan apapun dan dia pikir, inilah saatnya dia melakukan sesuatu untuk sekolahnya. Setidaknya, hanya untuk menenangkan kapten tim basket itu.

Luhan berbalik ke belakang, “Kau tidak apa-apa?”tanyanya pada Sehun.

“Bukan urusanmu!”ketusnya dingin, mengambil tas ranselnya, juga meninggalkan tempat itu.

***___***

“Kai… hey! Kai!”panggil Kyungsoo berlari mengejar langkah Kai.

Kai tetap tidak menoleh. Bersikap seperti tidak mendengar apapun dan terus menerobos kerumunan murid-murid sekolahnya dan sekolah lain yang masih memenuhi sebagian besar lingkungan sekolahnya. Sebagian dari mereka yang mengetahui jika ada pertengkaran di pinggir lapangan bola, terus menatap Kai takut dan langsung membuka jalan saat ia melintas.

“Hey! Kai, tunggu aku!”

Akhirnya Kyungsoo berhasil meraih lengan Kai dan menghentikan langkahnya.

“Kai.. dengar… sepertinya kita… harus bicara”jelas Kyungsoo dengan napas terengah-engah.

“Kau pasti mau mengatakan jika ini hanyalah salah paham, kan?”

Kyungsoo tidak langsung menjawab, masih mencoba untuk menetralkan napasnya sebelum akhirnya ia berdiri tegak dan menatap Kai.

“Kau tidak dengar? Luhan bilang pelatih menyuruh Sehun—“

“Dan kau bahkan mempercayai kata-katanya.”potong Kai geleng-geleng kepala tak percaya. “Sepertinya dia juga sudah mempengaruhimu seperti dia sudah mempengaruhi adikku.” Kai melanjutkan kata-katanya dengan ekspresi tidak senang, setelah itu kembali melanjutkan langkahnya.

“Kai!”cegah Kyungsoo lagi. “Apa kau bisa berhenti dan mendengarkan penjelasan Sehun terlebih dahulu?! Apa kau tidak melihat bagaimana ekspresinya saat ia menatapmu tadi?! Dia sangat sedih!”

Karena ikut kesal, Kyungsoo juga sepertinya lupa jika saat ini dia dan Kai sedang berada di halaman sekolah.

“Lalu apa dia juga memikirkan perasaanku?! Dia seperti pengkhianat!”

“Itu karena kau tidak mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Harusnya kau lebih tau bagaimana watak saudaramu. Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan mana perbuatan yang akan menyakiti orang lain atau tidak.”

Kai terdiam. Semua kata-kata yang ingin dikeluarkannya seperti tenggelam saat ia menatap mata Kyungsoo. Dari matanya, ia seperti sedang memberikan sebuah keyakinan padanya.

“Dibalik sikapnya yang seperti tidak perduli, sebenarnya dia selalu ingin melindungi orang lain. Bahkan melindungimu dalam diam. Apa kau tidak pernah menyadarinya? Dia tidak mungkin mengkhianatimu. Dia pasti punya alasan.”jelas Kyungsoo sungguh-sungguh.

Kai benar-benar membeku. Disela-sela tatapannya pada Kyungsoo, ia seperti dibawa ke dunia lain. Seperti sedang memperhatikan seseorang yang pernah dekat dengannya. Bahkan sangat dekat.

Dia merasa sedang mengalami dejavu. Dia merasa dia pernah mengalami situasi seperti ini. Saat ia benar-benar kesal dan hanya ada satu orang yang mampu menenangkannya.

Kyungsoo… dia seperti seseorang dari masa lalunya yang tidak pernah ia ingat. Dia terasa dekat namun asing diingatannya.

“D.O… “ Hingga tanpa sadar Kai bergumam dengan matanya yang masih menerawang.

“Ha?”

Kai termundur sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pening. Ada sesuatu yang ingin keluar namun ditahan oleh sesuatu lain. Semakin memaksa untuk mengingatnya, kepalanya justru semakin terasa sakit.

“Kai, ada apa?”tanya Kyungsoo bingung.

Kai membungkuk, masih tetap memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan.

“Kai!”panggil Kyungsoo lagi.

Debaran jantungnya seperti bekerja lebih cepat dari biasanya. Aliran darahnya ia rasakan tidak lagi mengalir dengan baik. Tidak hanya dikepalanya, rasa sakit itu juga menjalar kemana-mana.

“Arrggghhh…” Kai mengerang pelan, rasa sakit itu kini berpusat di pergelangan tangannya. Sakit. Sangat sakit.

“Kai!”jerit Kyungsoo menghambur kearah Kai yang sudah tersungkur ke tanah.

“Hey, ada apa?!”Tiba-tiba Kris muncul dan membantu mereka.

“Aku tidak tau. Tiba-tiba dia menjerit kesakitan.”

Saat Kris menyentuh tubuh Kai, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari diri pria itu. Tubuhnya panas. Dengan hawa panas yang berbeda.

Mata Kris melebar menyadari sesuatu, buru-buru ia meraih pergelangan tangan Kai dan membaliknya.

“Astaga!”

***___***

“Kau yakin sudah tidak apa-apa?”tanya Kyungsoo ragu saat ia dan Kai sudah sampai di depan gereja Solomon.

Kai menggeleng lalu tersenyum yakin, “tidak apa-apa. Lagipula ada mereka bersamaku.” Ia berbalik ke belakang, menunjuk Chanyeol, Baekhyun, Suho dan Tao yang memilih untuk menjaga jarak dari gereja itu. Masih takut.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Jaga dirimu dengan baik.”

Kai mengangguk, “sampai bertemu di sekolah besok.”

Ia berbalik setelah punggung Kyungsoo menghilang dibalik jalanan kecil yang ada disamping gereja tua itu. Menyusul teman-temannya dan menuju halte bus untuk menuju rumah mereka masing-masing.

Suasana gereja itu masih sepi setelah Kai dan teman-temannya pergi. Masih sunyi dan lengang, membuat seseorang yang sedang duduk bersandar di salah satu menara gereja sedikit bosan.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk turun. Melompat ke tanah dengan satu lompatan tinggi, menciptakan bunyi riak daun yang tertapak oleh kaki. Kini, ia sudah berdiri didepan gereja. Memasukkan kedua tangan didalam saku celana sambil mendongak keatas, menatap keseluruhan bangunan itu.

“Aku harus memusnahkannya sebelum keturunan Theiss mendapatkannya”gumanya seorang diri. “Serum itu pasti ada didalam.”

Ia menghampiri pintu gereja, menatap lurus kearah rantai-rantai dan gembok besar yang mengunci pintunya. Ia mendesah.

“Aiish, di kunci… jika aku menghancurkannya, orang-orang pasti akan mengetahuinya.”

Ia kembali mundur, mendongakkan wajahnya kembali untuk mencari jalan keluar. Dapat. Ada sebuah menara yang bisa menghubungkannya langsung  ke dalam. Orang itu melompat tinggi, merayap cepat di dinding bata gereja hingga mencapai menara. Sebuah menara yang menempatkan lonceng besar disana.

Dia menunduk, merayap di bawah lonceng dan menemukan tangga yang menempel pada dinding. Segera mungkin turun ke bawah tanpa membuat keributan sedikitpun. Ia tidak mau lonceng itu tiba-tiba berbunyi dan mengagetkan semua orang.

Setelah sampai di bawah, ia berjalan menuju pintu dan menemukan sebuah ruangan besar dan luas.

“Jesus…”gumamnya melihat sebuah patung besar yang tergantung disana.

Ini saatnya. Kaum itu harus menghilang. Kaum itu tidak boleh bangkit agar peperangan tidak ada lagi. Keturunan terakhir Solomon masih hidup dan dia harus dilindungi. Itu sumpahnya.

Ia menghampiri sebuah meja kayu yang mulai rapuh di bawah patung Jesus. Ia yakin sesuatu yang sedang ia cari pasti ada disini. Disimpan dan dikunci oleh pastor Solomon.

“Jangan sentuh apapun, Rouler!”suara seseorang mengagetkan Sehun, membuatnya langsung berbalik. Kris sudah berdiri dibelakangnya, menariknya mundur dengan gerakan cepat.

“Kenapa?! Aku harus memusnahkan serum itu!”

“Kau gila?! Kau akan berubah menjadi klan Theiss jika kau menyentuhnya!”

“Aku bisa mengendalikan diriku sendiri, Verdun! Aku tidak mungkin berubah!”

Kris mencekal kedua lengan Sehun dan menatapnya serius, “kau belum berubah seutuhnya! Hasrat pemburu masih mengalir dalam dirimu! Jika kau menyentuhnya, hasrat itu akan mendominasi dan merubahmu!”tegas Kris. “Dan jika itu terjadi, itu artinya posisi keturunan terakhir akan berpindah pada Kai dan kau menjadi keturunan terakhir Theiss! Kau akan saling perang dengan saudaramu sendiri!”

Sehun menepis cekalan Kris kasar,  “selama dia tidak mengingat siapa dirinya. Dia tidak akan tau jika dia adalah klan Rouler.”elak Sehun keras kepala. “Jangan menghentikanku! Aku hanya ingin membalaskan dendam D.O! Aku ingin klan Theiss musnah!”

“Kau tidak bisa, Rouler!”

“Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa?!”

“KARENA TANDA DI TANGAN KAI SUDAH MUNCUL!” Kris tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Ia kesal. Sangat kesal.

Sehun terperangah, “apa?!”

“Yaah.. tanda itu sudah mulai muncul. Dia sudah mulai mengingat semuanya.” Kris terengah. Ia menatap Sehun frustasi dibalik sikapnya yang tenang.

“Tidak mungkin! Bagaimana dia bisa mengingatnya? Ayahku sudah membiusnya dan mematikan serum itu di tubuhnya. Dia tidak akan bisa mengingat apapun!” Sehun mengacak rambutnya frustasi.

“Ingatan itu tidak akan selamanya terkubur jika ada seseorang yang selalu memancing ingatannya! Kyungsoo telah membangkitkan ingatan Kai tentang D.O!”

Mata Sehun melebar. Ia baru tersadar sekarang. Ucapan Kris benar, semua ini karena Kyungsoo. Ia telah mengingatkannya dan Kai tentang sosok D.O. Sebuah sosok yang harusnya tenggelam jauh dalam ingatan mereka.

Rahang Sehun mengatup, sembari mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh, “kalau begitu, kita harus menjauhkan Kai dari Kyungsoo…”

TBC

55 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s