FF : Story (Chap 8)

story 2

Tittle                          : Story

Author                        : Ohmija

Main Cast                   : – Lee Donghae

–      Im Yoona

–      Lee Hyukjae

–      Choi Minho

–      Park Yoochun

–      Seo Joohyun

–      Kwon Yuri

Support Cast             : – Lee Taemin

–      Jung Jessica

–      Kim Jaejoong

–      Choi Siwon

–      Kim Junsu

–      Hwang Tiffany

–      Choi Sooyoung

–      Lee Sunny

–      Jung Yonghwa

Genre                          : Romance, Friendship, a bit Action Comedy

Summary                    : Apa ada yang lebih sakit dari ini? Saat kau membantu orang yang kau cintai, untuk mendapatkan orang yang dicintainya.

Yoona mengikuti arah pandangan Tiffany yang sedang menatap lurus kearah Donghae. Masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, ia tertawa kecil sembari mengembalikan pandangannya pada Tiffany.

“S-siapa yang eonnie maksud?”

“Lee Donghae.”jawab Tiffany pelan. “Dia adalah tunanganku.”

Detik itu juga, wajah Yoona memucat. Ia terperangah hebat mendengar ucapan Tiffany yang terdengar pelan namun sangat jelas di telinganya.

Tunangan? Jadi tunangan Tiffany adalah Donghae? Kekasihnya?

Yoona tergagap, “t-tidak mungkin.”

Keadaan menjadi hening seketika. Seohyun bahkan sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan karena ikut terperangah hebat. Saat sebuah kenyataan akhirnya terbongkar didepan Yoona. Seluruh pasang mata kini terarah pada Donghae, Tiffany dan Yoona yang menjadi titik pusat.

Donghae menahan napas, langsung menoleh kearah kekasihnya saat itu juga. Ia tau Yoona akan terluka setelah mendengar kenyataannya. Ia tau masalah akan dimulai sejak pengakuan Tiffany akhirnya terdengar oleh Yoona. Dan ia tau, hubungannya tidak akan berjalan dengan mulus lagi setelah ini.

“Jadi kau adalah tunangan Donghae oppa?”

Tiffany tersenyum sembari mengangguk mantap, “kau sudah mengetahuinya? Apa dia menceritakannya padamu? Aku senang karena ternyata kalian saling kenal.”

Yoona hanya terdiam di tempatnya. Memandang lirih kearah Tiffany dengan rasa sakit yang perlahan di rasakannya.

“Apa kalian adalah teman baik?”tanya Tiffany lagi,

“Kami… sebenarnya kami… “ Yoona tidak tau apa yang harus ia jawab atas pertanyaan itu.

“Teman? Mereka bukan hanya sekedar teman. Mereka sepasang kekasih!”tegas Jessica mulai kesal dengan sikap Tiffany.

Kini, berganti Tiffany yang tersentak. Matanya melebar tak percaya. “Apa?!”

“Mereka adalah sepasang kekasih, kau dengar?! Jadi jangan coba-coba untuk mengganggu hubungan mereka, kau mengerti?!”

“Sica-yaa…”cegah Eunhyuk sambil menarik lengan Jessica untuk mundur.

“Jadi kau adalah kekasih Donghae? Jadi ternyata kau yang membuatnya menolak bekal yang aku buat tadi pagi? Bahkan membuatnya pergi dari pesta pertunangan sebelum sempat melihat wajahku.”lirih Tiffany namun terdengar dingin. Kemudian, ia mengangkat wajahnya dan menatap Yoona tajam. “Aku menyesal karena aku telah menyelamatkanmu waktu itu.”

“Kau benar-benar menyebalkan!”desis Jessica mendorong kasar pundak Tiffany. Membuat Eunhyuk dan Minho seketika menahannya dan menarik tubuhnya ke belakang.

“Dia adalah tunanganku!”bentak Tiffany ikut kesal.

“Tunangan?! Bahkan kalian belum sempat bertunangan! Aku peringatkan padamu, jangan coba mengganggu hubungan mereka!”

“Sica eonnie… hentikan…” Seohyun ikut menahan tubuh Jessica.

“Kami duluan.” Akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk membawa Jessica pergi sebelum pertengkaran itu menjadi lebih parah. Mereka sedang berada di depan gerbang universitas sekarang. Eunhyuk tidak mau jika pertengkaran itu menjadi tontonan bagi yang lain.

Namun, baru beberapa langkah pergi. Eunhyuk kembali berbalik sembari memberikan peringatan keras pada Donghae.

“Jika kau mematahkan hati adikku, aku juga akan mematahkan lehermu.”desisnya dingin.

Donghae menarik napas panjang. Sepertinya dia akan menyakiti hati seorang wanita ‘lagi’.

“Tiffany-ssi, aku minta maaf.”desahnya panjang. “Aku sangat mencintai kekasihku. Aku tidak bisa bersamamu.”

“Tapi aku sangat mencintaimu, Lee Donghae! Aku bahkan mencarimu hingga ke Korea!” Tiffany menekankan. Matanya mulai berair.

“Aku tau. Terima kasih. Tapi aku tetap tidak bisa bersamamu.”

Donghae tersenyum tipis. Menatap penuh rasa bersalah kearah mata sedih Tiffany.

“Berhenti berusaha. Karena aku tetap tidak akan bisa meninggalkannya.”

Kemudian, Donghae menarik lengan Yoona dan membawanya pergi dari tempat itu. Ia berusaha untuk tidak menoleh ke belakang. Karena, jika melihat yeoja itu menangis karena dirinya, hatinya tidak akan tenang. Hatinya akan bimbang dan dia takut akan kehilangan Yoona sekali lagi.

“Minho-yaa, ayo pergi!” Junsu menarik paksa lengan Minho karena namja itu tidak juga bergerak dari tempatnya. Justru terus menatap tidak tega kearah Tiffany.

“Dia menangis. Bagaimana ini?”bisik Minho.

“Jangan ikut campur. Ini masalah mereka.”

“Tapi aku tidak bisa jika melihat seorang wanita menangis. Apalagi wanita secantik dia. Aku bisa meminjamkan pundakku.”

Junsu melirik tajam kearah Minho, “kau cari mati?!”

Minho meringis, “hehehe, tentu saja tidak. Ayo pergi. Istriku pasti sudah mengomel karena aku belum juga pulang sesiang ini.” Ia menarik lengan Junsu, melanjutkan langkah mereka dan meninggalkan universitas.

***___***

Donghae tau dia sedang dalam masalah besar saat ini. Saat mulut Yoona tak juga mengeluarkan suara apapun ketika mereka duduk bersama di dalam mobil dalam perjalanan pulang.

Donghae juga merasa bingung, tidak tau apa yang harus dia katakan pada yeojachingunya itu. Dia merasa bersalah walaupun sepenuhnya dia tidak bersalah.

“Yoona.”panggil Donghae akhirnya, mengacaukan keheningan yang menyelimuti mereka. Yoona tidak bereaksi apapun. Donghae mengulurkan tangannya, menggenggam salah satu tangan Yoona sedangkan tangan lainnya masih tetap memegang setir mobil. “Kau percaya padaku, kan?”

Yoona menoleh saat ia rasakan tangan Donghae sedikit mengeratkan pegangannya, ia menatap Donghae lirih.

“Aku justru tidak percaya pada diriku sendiri.”

“Aku menyayangimu.”balas Donghae cepat, “Aku mohon jangan tinggalkan aku.”lanjutnya lagi seperti bisa membaca pikiran Yoona.

“Oppa, kau tau? Aku sudah berjanji pada Tiffany eonnie untuk membantunya mencari tunangannya. Dan ternyata tunangannya adalah dirimu.”

Donghae tersentak. Reflek membuatnya langsung memutar setir sembari menginjak rem dalam-dalam untuk menepikan mobil. Detik itu juga, ia menatap Yoona lurus.

“Apa kau bilang?”

“Maaf, aku tidak tau jika kau adalah tunangannya. Waktu itu dia membantuku jadi aku mengatakan padanya jika aku juga akan membantunya menemukan tunangannya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku merasa bersalah padanya.”

“Jadi kau akan membiarkanku pergi?!”tegas Donghae menggertakan giginya.

Yoona langsung berkilah, mengibaskan kedua telapak tangannya, “bukan begitu. Tapi—“

“Tolong jangan menjadi wanita baik hati lagi.”potong Donghae. Ekspresinya terlihat penuh harap saat ia menatap lurus kearah manik mata Yoona. “Aku sudah berjanji pada kakakmu, sahabatku, jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Sampai akhir, aku akan terus memperjuangkanmu. Tidak perduli jika aku sudah mempunyai tunangan atau tidak. Aku tidak mencintainya dan kau tau Siwon mencintainya. Bisakah kau juga berjuang untukku? Setidaknya untuk mempertahankanku.”

Yoona tergugu, tatapannya seperti terkunci pada dua manik mata Donghae membuatnya tidak bisa berpaling. Kisah cinta mereka memang rumit, sejak dulu. Bahkan membutuhkan banyak pengorbanan dan air mata sebelum akhirnya mereka bisa bersama lagi. Dan kini rintangan lain datang kembali.

Janji tetaplah janji. Dan dia tau dia tidak mungkin bisa memungkiri. Tapi, cinta tetaplah cinta. Dia tidak mau kehilangan sekali lagi. Donghae adalah miliknya dan selamanya harus menjadi miliknya.

Yoona menarik napas panjang, dengan gerakan cepat memberikan satu kecupan hangat di bibir Donghae membuatnya mengerjap, terkejut.

“Jangan tinggalkan aku lagi.”seru Yoona juga mengeratkan pegangannya pada tangan Donghae.

Donghae tersenyum lembut, mengacak puncak kepala Yoona lalu mengangguk mantap.

“aku berjanji.”

***___***

Siang itu tidak terlalu terik untuk berjalan-jalan di taman. Banyak orang-orang, terutama para remaja yang masih berseragam hilir mudik bersama teman-teman mereka. Entah hanya untuk sekedar berjalan-jalan, ataupun mencicipi sundae yang terkenal sangat enak di kawasan itu.

Namun, Tiffany sepertinya tidak terlalu berminat dengan lezatnya sundae yang tidak pernah ia cicipi sebelumnya. Ia hanya duduk seorang diri disalah satu bangku dengan kepala yang tertunduk dalam.

Air matanya belum juga habis usai dia menangis di hari pertamanya kuliah tadi. Masih belum puas meratapi kesedihannya akan kehilangan seseorang, lebih tepatnya seseorang yang bahkan belum sempat ia dapatkan.

Ia menangis tanpa suara disana, bayangannya tercetak bergelombang di permukaan danau yang ada didepannya.

“Seorang wanita harusnya tidak menangis seorang diri.” Suara seseorang menyadarkan Tiffany, ia mendongak, buru-buru menghusap air matanya.

“Kau,?”seru Tiffany, masih terdengar suara isakannya membuat orang itu terkekeh geli.

Seseorang yang ternyata Choi Siwon itu tersenyum, lantas menjatuhkan diri disamping Tiffany. Ia merogoh kantung di balik jaketnya dan memberikan sebuah sapu tangan padanya.

“Kau lebih cantik saat kau tidak menangis.”

“Mau apa kau? Kau dan sepupumu itu sama-sama menyebalkan. Aku membenci kalian!”desis Tiffany membalik tubuh, memunggungi Siwon, mengabaikan sapu tangan pemberiannya.

Siwon mendesah panjang, menurunkan sapu tangannya dan menatap lurus kearah danau.

“Maaf…”

“Aku benci kata itu! Berhenti minta maaf jika kalian akan menyakitiku lagi!”

Siwon menelan ludah. Walaupun ia sendiri tidak mengerti apa salahnya hingga Tiffany juga membencinya seperti itu.

“Aku mengerti. Aku minta maaf jika kami telah menyakitimu. Tapi, kau juga tidak bisa memaksa hati seseorang, kan? Donghae sudah mempunyai tujuan hidupnya sendiri jauh sebelum mengenalmu.”jelas Siwon hati-hati.

Perlahan, Tiffany berbalik kembali, menatap Siwon dengan tatapan sedih. “Tapi aku mencintainya…”

“Aku tau. Tapi—“

“Bukankah kau kesini karena aunty menyuruhmu untuk membawa Donghae kembali? Kenapa kau belum juga melakukannya? Kau harus melakukannya. Bawa Donghae kembali ke Amerika.”potong Tiffany menggenggam kedua tangan Siwon.

Siwon terkejut, ia mengigit bibir bawahnya kelu. “tapi Donghae sangat mencintai Yoona.”

“Aku tidak perduli!”seru Tiffany keras kepala. “Aku tidak perduli siapa yang dia cintai. Aku mau dia bersamaku! Dan dia harus jadi milikku! Lagipula wanita itu sudah berjanji jika dia akan membantuku menemukan Donghae! Dia harus menepatinya!”

Mata Siwon melebar, “tidak mungkin. Yoona tidak mungkin melakukannya. Dia juga sangat mencintai Donghae.”

“Sudah ku bilang aku tidak perduli!” Tiffany semakin mempererat pegangannya. “Please help me…”

Siwon menggeleng lemah, “I can’t. I can’t force Donghae.”

“Please.. I wanna cry if you won’t help me”

“No. Don’t cry.” Siwon menggeleng lagi. Kali ini lebih kuat.

“Kalau begitu bantu aku…”

Apa ada yang lebih sakit dari ini? Saat kau membantu orang yang kau cintai, untuk mendapatkan orang yang dicintainya.

***___***

Hari sudah mulai sore namun Naeun belum juga meninggalkan kelasnya. Ia masih bergulat dengan beberapa soal yang nyaris meledakkan otaknya. Sesekali ia terlihat mengacak rambutnya frustasi dan mengerang kesal.

“Kenapa ada seseorang yang membuat soal serumit ini?!”rutuknya berteriak seorang diri. “Akh, aku harus pergi ke perpustakaan sekarang!”

Naeun menutup bukunya kesal. Dengan kasar memeluknya dan berjalan dengan langkah-langkah lebar menuju perpustakaan.

Melewati koridor yang sudah mulai sepi, hanya tertinggal beberapa orang murid yang masih tinggal disekolah. Sebagian dari mereka biasanya masih mempunyai urusan ataupun hanya iseng bermain sepak bola atau bola basket jika sedang tidak ingin pulang cepat.

Sesampainya di perpustakaan, Naeun juga tidak mendapati siapapun disana. Bagi semua murid, sepertinya perpustakaan adalah tempat yang ‘keramat’ untuk dikunjungi. Tempat itu jauh dari kebahagian dan kebebasan. Hanya menambah beban yang semakin membuat otak ingin meledak.

Ia mulai mencari-cari buku yang bisa membantunya mengerjakan soal. Mengambil dua buku dan memilih salah satu bangku. Saat ia ingin duduk, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu. Ia membatalkan niat awalnya dan meninggalkan buku-bukunya diatas meja. Berjalan ke depan, menuju sebuah tempat yang sebenarnya telah diberi kain pembatas berwarna putih. Kain itu bertuliskan, ‘balkon sedang dalam renovasi. Berbahaya.’

Naeun sadar, jelas-jelas tulisan itu melarangnya untuk pergi kesana. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia menunduk dan melewati kain pembatas itu, berjalan menuju balkon perpustakaan.

“Whooaaa…”

Ia bergumam kagum saat ia berada diluar. Dari sana ia dapat melihat pemandangan sebagian kota Seoul. Perpustakaan memang mempunyai balkon yang indah, terlebih lagi karena tempat itu berada di lantai tiga. Cukup tinggi untuk melihat pemandangan dari sana.

Masih mengagumi tempat itu, tanpa sadar ia terus melangkah ke depan hingga mendekati kayu pembatas. Dan tanpa sadar juga ia berpegangan pada kayu pembatas yang sudah sangat rapuh itu.

SREEEK

Naeun terpeleset karena tiba-tiba kayu pembatas yang ia pegang patah.

“Kyaaa!”

Ia sudah berpikir jika ini adalah akhir dari hidupnya. Hanya bisa memejamkan matanya dan menunggu saat-saat terakhir itu sebelum akhirnya sebuah tangan berhasil menangkap tangannya dan menariknya kembali.

“Bodoh! Apa yang kau lakukan? Jika kau jatuh, kau bisa mati!”

Naeun membuka matanya, baru menyadari jika ia sudah berada dalam pelukan seseorang. Ia perlahan mendongak keatas.

“Apa kau tidak bisa membaca, huh?! Bodoh!”

“Huaaaa…”

Tiba-tiba Naeun menjerit histeris dan kembali menenggelamkan kepalanya di dada Taemin. Ia semakin mengencangkan pelukannya. Menangis sejadi-jadinya disana. Taemin terkejut.

“Aku pikir aku akan jatuh. Aku pikir aku akan mati. Huaaa…”

Taemin seketika terdiam. Melunak saat ia mendengar suara isakan Naeun yang begitu ketakutan. Ia tergugu. Tanpa sadar juga menggerakkan kedua tangannya dan membalas pelukan itu.

***___***

“Minho-yaa, jangan lupa kau harus membalik dagingnya. Jangan menggunakan api yang terlalu besar. Aku takut nanti tidak akan matang sepenuhnya.” seru Yuri menoleh sekilas ke belakang, kemudian mengembalikan pandangannya kembali ke arah sayur-sayur yang sedang dipotongnya.

“Siap bos!”

“Junsu-yaa, beli beberapa minuman di supermarket. Jangan lupa membeli soda kesukaan Donghae dan Eunhyuk.”

“Bisakah nanti saja? Aku sedang menonton.”tolak Junsu malas tetap asik dengan remot tv dan siaran televisinya.

“Ya! Kau tidak dengar? Istriku menyuruhmu membeli minuman.”rutuk Minho tidak berpaling dari dagingnya.

“Kalian sangat berisik. Aku sedang menikmati acaraku.”

“Kau pikir kau siapa, huh?” Minho mematikan kompor, berjalan kearah Junsu dan menendang bagian belakang sofa.

“Ya! Aku bilang aku sedang menonton!” Junsu menoleh ke belakang, melotot kearah Minho.

“Menontonlah di rumahmu! Kenapa setiap hari kau selalu pergi ke rumahku, huh? Kenapa kau selalu bermalas-malasan di rumah orang lain? Kau bahkan bukan anakku.” Minho mendengus kesal, melempar bantal kearah Junsu.

Junsu kalah telak, tidak mampu menjawab apapun. Bersungut-sungut ia berdiri, “Arasseo! Aku akan pergi sekarang!”

Ia berjalan dengan langkah-langkah kesal, meninggalkan Yuri dan Minho yang terkekeh geli melihatnya cemberut.

 Junsu mengitari area minuman dan mencari soda kesukaan Eunhyuk dan Donghae, juga beberapa minuman yang harus disiapkan untuk acara makan nanti malam. Entah kenapa, selama hamil Yuri sangat suka memasak dan sangat sering mengundang semua orang untuk mencoba masakannya. Tak jarang juga ia meminta Jessica, Seohyun atau Yoona untuk menemaninya berbelanja dan memasak.

Junsu memasukkan beberapa botol sirup ke dalam troli belanjanya. Juga dua pack soda kesukaan Donghae dan Eunhyuk. Selain itu, ia juga berjalan menuju area makanan ringan. Mengambil beberapa coklat dan snack untuk menonton pertandingan bola nanti malam bersama sahabat-sahabatnya.

“Berapa semuanya?”last Junsu sambil mengeluarkan dompet.

“50.000 won, tuan”

“Cih, hanya membeli ini saja aku sudah menghabiskan 50.000won-ku”gerutu Junsu pelan. “Terima kasih.”serunya mengangguk sopan sambil menerima bungkusan lastic putih besar.

Junsu kembali ke rumah Yuri dan Minho yang letaknya tak terlalu jauh dari supermarket.  Senja sudah mulai datang. Matahari juga sudah mulai tenggelam di peradaban.

BRUKK

Tiba-tiba Junsu menabrak seseorang. Ia hanya termundur satu langkah sedangkan wanita yang ditabraknya terjerembap.

“Astaga. Maafkan aku…” Junsu buru-buru berjongkok, dan membantu membereskan bucket-bucket bunga yang berceceran, “Maaf.. aku benar-benar minta maaf.”serunya lagi.

“Tidak. Harusnya aku yang minta maaf. Aku tidak melihat jalan dan menabrakmu.”

Junsu memasukkan bucket bunga terakhir ke dalam keranjang putih, lalu mendongak untuk meminta maaf sekali lagi. Tapi saat melihat wajah seseorang yang ditabraknya itu, tiba-tiba saja dunianya seperti berhenti berputar. Seperti mengunci tatapannya pada wajah cantik wanita itu. Ia terpaku, kagum. Bahkan nyaris tidak berkedip menatapnya. Dia seperti bidadari. Sangat cantik.

“Terima kasih.”

Junsu tidak menjawab. Masih melongo menatap wanita itu.

“Terima kasih.”seru wanita itu lagi menepuk pundak Junsu membuatnya mengerjap.

“Ahh… emm… yaa.. oke.. sama-sama.” Junsu tergagap tak karuan.

Wanita itu tersenyum lembut, memperlihatkan eyesmile-nya lalu mengangkat keranjang putih yang terjatuh tadi dan membawanya.

“Sekali lagi terima kasih.”ucapnya membungkuk sedikit lalu melanjutkan kembali langkahnya.

“Tunggu!”cegah Junsu membuat wanita itu menoleh. “Kenapa kau membawa bunga sebanyak itu?”

“Ah, ini? Aku bekerja di toko bunga. Saat ini aku bertugas untuk mengantar semuanya ke beberapa café.”

“Benarkah? Tapi kenapa berjalan kaki?”

Wanita itu tersenyum kembali, “ban sepedaku kempes. Terpaksa aku berjalan kaki untuk mengantar semuanya. Aku sudah tidak punya waktu lagi. Aku pergi dulu.”

“Tunggu!”cegah Junsu lagi. Ia berlari kecil, menjajari langkahnya dengan wanita itu. “Aku sudah menabrakmu tadi—“

“Bukan kau, aku yang menabrakmu.”potong wanita itu.

Junsu langsung menggeleng, “tidak. Aku yang menabrakmu.”

“Tapi—“

“Aku yang menabrakmu tadi.”tegas Junsu tetap ngotot. “Sebagai permintaan maaf, biarkan aku menemanimu mengantar bunga-bunga itu.”

“Apa?” wanita itu tampak terkejut.

“Wanita tidak boleh membawa barang-barang berat seperti ini. Biarkan aku yang membawanya.” Junsu mengambil alih keranjang putih dari tangannya, tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik terlebih dahulu.

“Apa tidak apa-apa? Kau terlihat sangat keberatan dengan plastik besar itu.”

“Tentu  saja tidak. Aku bisa membawanya. Ayo.”

***___***

“Mana Junsu? Kenapa dia belum juga datang?”rutuk Minho kesal sambil menyusun beberapa piring diatas meja.

“Kemana dia?”tanya Yoochun bingung.

“Tadi Yuri noona menyuruhnya membeli beberapa minuman. Tapi dia belum juga kembali.”

“Mungkin dia ada di rumahnya.”

“Aku sudah ke rumahnya tadi. Ibunya bilang dia ada disini.”sahut Eunhyuk.

“Aiiiish, dasar.”

Donghae menepuk pundak Mingo, “Sudahlah. Aku sudah menelpon Jaejoong hyung dan menyuruhnya untuk membawa beberapa minuman.”

“Tidak ada yang boleh mabuk di rumahku!” Tiba-tiba suara tegas Yuri terdengar dari belakang. Semuanya langsung menoleh. “Jaejoong pasti membawa beberapa beer, kan?”

Mereka tertangkap basah, “ti—dak”

“Jangan berbohong!” Yuri melotot galak kearah Donghae. “Bukankah nanti malam kalian akan menonton pertandingan sepak bola? Kalian pasti akan mabuk!”

“Yeobo…sebenarnya begini…” Minho mencoba menenangkan Yuri. Namun Yuri justru mendorong tubuhnya menjauh. “Jika kau mabuk di dalam rumah, kau tidak boleh lagi tidur di rumah!”

“Apa?!”

“Aku tidak perduli!” Yuri berbalik cuek. Tidak akan ada yang bisa membantah ucapannya lagi.

Sementara Minho, Yoochun, Eunhyuk dan Donghae hanya bisa menghela napas panjang.

“kenapa saat hamil dia justru bertambah galak?”desah Yoochun geleng-geleng kepala.

“Bagaimana jika kita menontonnya di rumahku? Kita bisa minum disana.”tawar Eunhyuk yang langsung mendapat gelengan dari Donghae.

“Dan Yoona akan membunuhku setelahnya.”

“Jangan remehkan dia. Semenjak berteman dengan Yuri, dia juga terlihat sedikit galak.”sahut Yoochun.

Minho mendelik, “Jadi maksudmu Yoona menjadi galak karena istriku?”

“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian tidak merapikan piring-piringnya?”seru Jaejoong muncul dengan beberapa plastik bawaan.

“Hyung, apa yang kau bawa?”tanya Donghae antusias.

“Soda dan sirup.”jawab Jaejoong santai mengangkat plastiknya.

Yang lain mendengus, “Astaga!”

***___***

Naeun hadir dipesta makan malam itu, membuat Taemin benar-benar terkejut melihatnya. Dia bilang, Yuri mengundangnya – lebih tepatnya memaksa – untuk datang dan bergabung bersama mereka.

Mengingat tadi sore mereka melakukan hal yang memalukan untuk diingat, walaupun itu adalah suatu ketidaksengajaan. Bertemu dengannya malam itu, membuat Taemin merasa tidak nyaman.

Taemin menghampiri Naeun yang hanya berdiri diam sambil memegangi gelasnya, “sedang apa kau disini?”tanyanya dingin seperti biasa

“Yuri eonnie dan Jessica eonnie menyuruhku datang.”

“Dan kau mau?”

Naeun menunduk saat ia melihat mata tajam Taemin, “Mereka memaksaku.”

“Harusnya kau menolaknya!”

“Aku tau. Maaf…”serunya semakin menunduk dalam.

“Aiiisshh… mereka menyebalkan sekali.”

Naeun mengangkat wajahnya kembali, menatap Taemin. “Keundae, aku ingin berterima kasih padamu karena kau sudah menyelamatkanku saat di balkon perpustakaan tadi.”

“Menyelamatkanmu?” Taemin tertawa mendengus. “Aku hanya kebetulan berada disana dan melihat tingkah bodohmu. Jika aku tidak menarikmu, polisi pasti akan mencurigaiku sebagai pelakunya.”

“Tapi, aku tetap ingin mengucapkan terima kasih.”

“Lupakan saja.”sahut Taemin cuek. Berjalan menjauh meninggalkan Naeun dan bergabung bersama Minho dan Donghae yang sedang membakar daging.

“Maaf aku terlambat. Kalian belum memulai acaranya, kan?” Junsu muncul dari dalam rumah Yuri, berlari menuju taman belakang.

“Kau darimana saja, huh?!”omel Minho kesal.

“Membeli minuman.”jawab Junsu tanpa dosa.

“Aku menyuruhmu 3 jam lalu, apa kau membelinya di Cina?!”

Junsu meringis lebar, “aku bertemu seseorang tadi.”

“Bertemu  seseorang? Siapa?”tanya Donghae dengan kening berkerut.

Junsu meletakkan plastik yang dibawanya diatas meja, memasang ekspresi kagum namun lebih terlihat menjijikan di mata Donghae dan teman-temannya.

“Bidadari”

“MWO?!”

Eunhyuk berkecap. “aku rasa dia sudah gila.”

“Sungguh. Aku bertemu bidadari. Dia bekerja di toko bunga yang tak jauh dari sini. Saat dia ingin mengantar bunga, tanpa sengaja dia menabrakku, kami berkenalan dan aku mengantarnya sebentar.”

“Mengantarnya? Secepat itu? Bukankah kalian baru berkenalan?” Jaejoong melongo dibuatnya.

“Jika kau bergerak lambat, kau tidak akan mendapatkan semuanya.”

Minho langsung menoleh, “Sepertinya itu kata-kataku.”

Junsu seperti tidak mempunyai telinga, ia mengabaikan ucapan Minho. “Aaah.. sepertinya aku sudah jatuh cinta…”

Yuri tersenyum geli, sembari meletakkan sayur-mayur diatas meja, ia bertanya pada Junsu. “Lalu? Siapa nama bidadari itu?”

Junsu tersadar, menepuk dahinya sendiri, “Astaga! Aku lupa menanyakan namanya!”

“Pwahahaa…. Bodoh.!”

***___***

Walaupun yang lain terlihat sangat bahagia, tapi sepertinya Taemin tidak begitu. Terlebih lagi saat melihat kemesraan yang tercipta antara Yoochun dan Seohyun. Keduanya terlihat semakin lengket. Terkadang Yoochun mengacak rambut Seohyun diiringi tatapan penuh kasih sayang padanya.

Taemin membuang pandangan, membanting gelas plastiknya keatas rumput kesal. Perasaannya belum juga hilang. Kemarahannya belum juga mereda.

“Taemin-ssi,”panggil Naeun mengetuk punggung Taemin dengan jarinya. Taemin menoleh, “Yuri eonnie bilang—“

Ucapannya tidak terselesaikan dengan baik saat kedua tangan Taemin tiba-tiba terulur kebelakang kepalanya dan mendorongnya kedepan. Mata Naeun melebar saat dirasakannya sesuatu menyentuh bibirnya. Ia terperangah hebat.

“Astaga Kim Taemin!”jerit Jessica menutup mulutnya dengan telapak tangan melihat kejadian itu, disusul dengan tatapan terperangah yang lainnya.

Taemin tidak perduli. Setelah memberikan kecupan dalam yang membuat Naeun sangat terperangah. Ia melepaskannya pelan, menatap lurus kearah Naeun dan berkata sejelas mungkin.

“Sekarang… kau adalah pacarku!”

TBC

29 thoughts on “FF : Story (Chap 8)

  1. Cicil berkata:

    ecieeee udah jadian nih taemin sama naeun >< akhirnya move on juga maknae kita yeaayyy
    terus itu itu itu aku ga ngerti pas baca summary awalnya, aku pikir itu yoongie ternyata siwon -__- jauh banget melesetnya. terus itu gimanaaa?? gimanaa??? tiffany mau dikemanain ._.

    lanjjjjjuuuuuuttttttt

  2. Rani berkata:

    huaaaaaaaa taemin kenapa tiba2 haduh tapi brati sekarang dia gak jomblo ngenes lagi hehehehe
    makin penasaran sama hubungan tiffany siwon dan yoona donghae
    hemmzzz lanjutkan

  3. MuziDH berkata:

    haduh akhirnya chap 8 fi post juga setelah menunggu lama alah/? banyakin moment yoonhae nya thor please kkk tapi terserah authornya sih apapun itu ditunggu next nta FIGHTING

  4. ziieziie berkata:

    aaaaakk, udh apdet.. nahnah, siwon bkl bantuin pany tu crtnya.. nah loh yoona ngrsa brslh pstnya krn ga tpt janji😦.. tp ttp prthnn haeppa, hhi kyknya junsu ktmu sunny deh..

  5. emaesa berkata:

    tiffany egois gtu sih .. kasian juga sama siwonnya , siwon jangan sampe bawa donghae pergi , duh junsu sking kesemsemnya sama tu cwe sampe lupa nanya namanya wkwkwkw

    ciecie taemin sama naeun :3 walaupun taemin nyiumnya karna ksel liat seo ,, ntar naeun gimana tu reaksinya abis di cium taemin tiba2 bilang jadi pacarnya pula :0 naeun pasti syok dah tuh atau dia bakal nampar taemin lalu pergi #dramaBanged kkkkkk
    hanya author yg tau lanjutannya kayak gimana hihihi
    okelah author ini koment gaje jangan diseriusin ya ㅎㅎㅎㅎㅎ

    intinya sih cuma mau bilang lanjut author ^.~
    kkaepsong ..
    fighting ^^/

  6. inggridAnjani berkata:

    Kyaaaa suka bgt sama adegan YH di mobil, haeppa keliatan keren asli!!! Kalini aku seneng sama sikap nya jesica yg dia kesel sm fany, yoonsic moment kekek. Siwon kasian huhuhu, perjuangan berat itu loh. Next part ditunggu selalu😀

  7. LoveLy_pyRos berkata:

    akhr’y taemin jdian jg…!? apa yg akn d Lkukn tiffany untk mrbut donghae dr yoona…!? smga siwon bza cpet2 ngmbiL hti’y tiffany biar dia ga ganggu hub yoonhae…!? dtnggu part sLnjut’y

  8. im pizza berkata:

    mwoo?! waahh…naeun d jdiin pelarian apa gimna,ksihan bnget ><
    aa.. yoona jd serba slah,fany jadi egois.. ckck tp kan yoona cuma berjnji untk mnemukan "tnanganny" dan ktemu,dy gx berjnj apa2 lagi selain itu

  9. wulandariiyang berkata:

    kekeke apa apaan tuh taemin,udah main nyosor aja,ga cukup,eh main konfirm Naeun jadi pacar ny,haduh..
    Buat hub YoonHae..ga bisa koment apa2 deh..cuman bisa berharap JANGAN PUTUS yaaah..aduh ga pengin deh Yoona ngalah2 lg ke fani..please Yoong..Fighting! Eh Author Fighting juga..

  10. Yoonri berkata:

    Mwoya??? Yak tetem nakal aissh -_-
    Siwon usaha dong buat ngerebut hati fany, jangan sampek fany ngerusak hubungan yoonhae . Itu yang ketemu sama junsu taeyeon bukan yaa? Hahaa~ ini cuma asal nebak😀
    next part jangan lama* ne postnya, hwaiting authornim🙂

  11. Ghean berkata:

    yang tabrakan sama Junsu itu Sunny ya? Yeay, kalo junsu sama sunny gaada yg jones lagi #ea .-.
    Aku makin suka nih ceritanya, alurnya ngga ngebosenin. Suka pake banget banget banget sama cerita persahabatannya :3

    Ohya, masalah yoonhaenya jangan berat2 ya thor😦 fany sama siwon aja []
    Nice FF, keep writing.
    Next chapternya ditunggu, jangan lama-lama ya🙂

  12. yoonhae01 berkata:

    sial tiffany knpa jahat banget sih !
    semoga aja donghae oppa tetep milih yoona eonni
    lanjut thir jangan lama2 ne🙂

  13. Ariesta berkata:

    Yoonhae fighting! Tetap saling dukung dan cinta jgn terpengaruh ma tifany, smga siwon bisa ngerebut hatix fany. Dan taemin moga ja dia bs move on sama naeu kasian dia nx.

  14. seo yeon hee berkata:

    junsu bodoh bgt masa lupa nanyain namanya..kkk
    cieee taemin maksa bgt jadiin naeun pacarnya gara” liat yoochun ama seo lengket…
    terus gimana nasib yoonhae semoga yoona ga ngelepasin donghae..

  15. elyyoonaddictpyro85 berkata:

    Hahaaaaaa…taemin dah dewasa sekarang yah…..mudah2an aja yoona tetap mau berjuang mempertahankan cintanya pada donghae meskipun sebelumnya dia sudah berjanji pada fany untuk membantunya tapi takutnya ini malah siwon yang rela mmbantu fany meskipun dia sakit melakukan itu ya ampun fany mudah2an aja mau sadar kalau hae memang bukan jodohnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s