FF: The Wolf and not The Beauty (part 9)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Bagaimana bisa aku melupakannya jika hal itu terjadi didepan mataku?! Bagaimana bisa aku melupakannya jika D.O mati karena ingin melindungiku dan Kai?!”

Sebenarnya Sehun sangat terkejut mendengar pertanyaan Luhan, tapi dia berusaha menganggap itu hanya pertanyaan biasa dan bersikap tenang.

“Kenapa? Kau merasa pukulanku sangat kuat?” Ia tersenyum menyeringai.

Luhan mengabaikan candaan itu. Terus menatap lurus kearah sepasang mata Sehun yang saat ini berwarna coklat. Ia yakin ia melihat kilatan merah dimatanya kemarin. Tapi, kenapa sekarang warna mata itu berubah? Kenapa tidak terlihat lagi?

Sehun tersenyum tipis menatap Luhan lalu menepuk pundaknya pelan, “Semoga cepat sembuh” Lalu berbalik dan bergegas pergi.

“Kenapa matamu berwarna merah?”

Pertanyaan Luhan mendadak menghentikan langkah Sehun. Namun, ia tetap tidak menoleh.

“Kenapa saat itu aku melihat matamu berwarna merah?”ulang Luhan lagi .

Sehun buru-buru menetralkan perasaan dan wajahnya lalu berbalik menatap Luhan dengan senyuman tipis.

“Apa sekarang mataku berwarna merah?” ia justru balik bertanya. Kemudian, ia tertawa renyah menatap Luhan sambil geleng-geleng kepala. “Kau sangat aneh”

Sehun kembali melanjutkan langkahnya dan menuju kelas. Meninggalkan Luhan yang masih berada dalam keyakinannya jika ia melihat warna mata Sehun saat itu.

***___***

Sepulang sekolah, Kai dan teman-temannya kembali berlatih bola basket di gedung olahraga. Sehun dan Suho juga ada disana, duduk dipinggir lapangan sambil memperhatikan tekhnik permainan mereka yang semakin hari terlihat semakin bagus.

“Jadi kapan kau akan mengubah warna rambutmu?”tanya Suho membuat Sehun langsung menoleh.

“Sampai aku menemukan warna pengganti yang cocok”

“Hey, disini hanya boleh warna hitam”

“Benarkah? Padahal aku ingin mengecatnya menjadi blonde”balas Sehun enteng.

Suho mendelik, “Jangan membuat ulah lagi, Kim Sehun!”

Mendengar teriakan Suho yang terdengar sangat menyakiti telinganya, Sehun langsung menjauhkan wajahnya dan memasang ekspresi aneh menatap Suho.

“Suaramu keras sekali. Kau seperti wanita.”

Ucapan Sehun lagi-lagi membuat Suho melotot, “apa katamu?!”

“Hehe sorry”

Jika saja ia tidak mengingat Sehun adalah adik sepupu Kai, mungkin dia akan menendangnya sekarang. Ah tidak, lagipula dia sangat kuat untuk membuat Luhan pingsan hanya dalam satu pukulan. Sebaiknya jangan mencari masalah dengannya. Anak itu, hanya sikapnya yang terkadang terlihat polos, tapi saat dia marah, dia jauh berbeda dari itu.

***___***

“Ku dengar klub sepak bola terancam tidak bisa ikut pertandingan karena pemain mereka banyak yang cedera. Terutama Lay dan Luhan yang terluka cukup parah”seru Tao

Setelah selesai latihan, mereka bergegas menuju rumah sakit untuk menjenguk Kyungsoo.

Chanyeol memasukkan baju latihannya ke dalam tas ransel lalu berjalan meninggalkan ruang ganti, “Lalu? Apa ada yang tau jika itu adalah ulah dua saudara ini?” ia menggerakkan dagunya menunjuk Sehun dan Kai yang bersikap seolah-olah tidak mendengar.

“Tentu saja mereka menyembunyikannya. Kejadian pemukulan saat di lapangan waktu itu sudah cukup membuat mereka malu. Jika seluruh sekolah mengetahui mereka kalah lagi, pasti mereka akan dianggap sebagai pengecut.”sahut Baekhyun tertawa-tawa puas karena akhirnya si sombong Luhan dan teman-temannya mendapat pelajaran.

“Tapi karena itu sekolah kita terancam tidak bisa mengikuti Olimpiade. Setiap tahunnya, sekolah kita pasti banyak memborong piala. Tidak bisa dipungkiri jika tim Luhan juga sangat kuat. Jika dia tidak bermain, sekolah kita akan kekurangan satu piala”

“Yaah..yaah..calon ketua osis memang selalu menomorsatukan sekolah, padahal sudah jelas jika anak-anak sombong itu sangat menyebalkan.”cibir Baekhyun menyindir Suho yang memang telah masuk menjadi salah satu kandidat ketua osis.

“Dan bukankah tahun ini adalah tahun pertama kita dan mereka maju ke Olimpiade? Kenapa kau begitu yakin mereka akan menang, huh?”sahut Chanyeol ikut memanasi.

“Hey, aku tidak hanya memperhatikan tim basket. Tapi sesekali aku memperhatikan permainan tim sepak bola. Saat latihan, mereka sangat hebat. Aku yakin mereka juga bisa menang.” Suho justru membalas cibiran Baekhyun dan Chanyeol dengan ucapan bijak.

Menatap mereka, Kris dan Tao tertawa geli. Orang-orang yang masih memiliki sifat kekanakan seperti Chanyeol dan Baekhyun, tidak akan menang jika berdebat dengan orang sebijak Suho. Bahkan pikirannya sudah sejajar dengan Profesor Matematika yang sudah berumur 50 tahun. Dia selalu berbicara menggunakan logika dan fakta.

***___***

Sesampainya di rumah sakit, Sehun dan Kris lebih memilih berdiri didepan ruangan dengan alasan ingin mencari angin. Padahal saat ini sedang musim dingin, tapi mereka sudah terbiasa dengan keanehan dua orang itu, jadi mereka hanya membiarkannya.

“Hey, bagaimana keadaanmu?”tanya Kai sambil meletakkan bungkusan plastik berisi buah-buahan keatas meja disamping ranjang Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum, “besok aku sudah boleh pulang.”

“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Kau harus cepat pulang dan kembali ke sekolah. Sebentar lagi adalah Olimpiade, kau harus menontonnya. Oke?”

“Hey, Kkamjong. Bagaimana bisa kau menyuruh orang sakit untuk menonton Olimpiade. Dia harus istirahat.” Tao memukul kepala Jongin pelan lalu menatap kearah Kyungsoo sembari tersenyum. “Kau harus banyak istirahat.”

“Kenapa? Apa dia tidak boleh menonton Olimpiade? Lagipula Olimpiade akan dilaksanakan minggu depan. Aku yakin dia sudah bisa berjalan dengan baik.”

Sedangkan diluar ruangan, Sehun sedikit mengintip dari celah pintu yang sengaja ia buka tanpa suara. Menatap lirih kedalam, kearah Kai dan teman-temannya dengan persahabatan kuat mereka.

Dia, Kai, D.O dan Kris… dulunya juga seperti itu.

Sehun menutup pintu rungan Kyungsoo pelan lalu berbalik menatap Kris. Menyenderkan punggungnya pada dinding bersamaan dengan suara helaan napasnya yang terdengar panjang.

“Jika saja klan Theiss mau menuruti permintaan kami, pasti tidak akan ada peperangan yang terjadi. D.O pasti tidak akan mati dan aku tidak akan merasakan kesedihan karena telah kehilangan saudaraku.”

“Rouler, kematian D.O sudah lewat seratus tahun lalu. Jangan membahasnya lagi.”

“Bagaimana bisa aku melupakannya jika hal itu terjadi didepan mataku?! Bagaimana bisa aku melupakannya jika D.O mati karena ingin melindungiku dan Kai?!” Nada Sehun mulai meninggi. Rahangnya mengatup rapat mengingat kejadian yang teramat menyakiti hatinya. Hampir saja ia memukul dinding yang ia senderi jika Kris tidak buru-buru menahan lengannya.

“Kau bisa menghancurkan dinding itu.”bisiknya meredam amarah Sehun.

Dia baru menyadari, sebaiknya tidak membahas hal sensitif itu di tempat umum. Sehun adalah makhluk yang baru mengetahui siapa dirinya, dia masih belum bisa sepenuhnya menahan amarah dan hasratnya sendiri. Dia masih sangat temperamental.

“Kalian kenapa tidak masuk?”

Chanyeol membuka pintu dan bertanya pada Sehun dan Kris..

Kris buru-buru merubah mimik wajahnya lalu berdiri didepan Sehun untuk menutupi wajahnya yang kini berubah memerah, “K-kami akan masuk sebentar lagi.”

Setelah Chanyeol mengangguk menyetujui dan menutup pintunya kembali. Barulah Kris berbalik menatap Sehun sambil mencekal kedua lengannya.

“Rouler, kendalikan dirimu!”

“Berikan ini pada Kai. Aku harus pulang sekarang.” Sehun memberikan selembar  kertas yang berisikan alamat tempat tinggalnya pada Kris. Ia harus bersiap-siap karena malam ini Kai akan menginap di hotelnya.

***___***

“Kenapa dia tidak memberitahuku dulu jika ingin pulang?”omel Kai karena lagi-lagi Sehun menghilang tiba-tiba.

Kris mengangkat kedua bahunya. “Sepertinya dia sedang tidak enak badan.”elaknya.

“Sudahlah. Bukankah dia memang terlihat tidak sehat akhir-akhir ini?” Syukurlah, ucapan Baekhyun juga membela Sehun.

Chanyeol menepuk sebelah pundak Kai, “kami pulang dulu. Maaf karena kami tidak bisa menemanimu. Sudah sangat larut.”

Hari memang sudah sangat larut saat mereka selesai menjenguk Kyungsoo. Mereka berpisah di depan rumah sakit karena jalan yang akan ditempuh Kai berbeda dengan jalan pulang ke rumah sahabat-sahabatnya.

“Aku juga akan pulang.”seru Kris pelan.

Kai mengangguk, “terima kasih karena kau sudah ikut menjenguk Kyungsoo”

Kris tersenyum tipis, “bukan masalah.”

Keduanya sama-sama berbalik dan mulai melangkah kearah yang mereka tuju. Namun tiba-tiba Kris berbalik lagi dan berseru membuat langkah Kai juga terhenti.

“Hati-hati.”

‘Hati-hati’ yang dimaksud Kris bukanlah hati-hati dari orang jahat karena ini sudah sangat larut. Melainkan, pada saudaranya sendiri jika dia tidak bisa menahan hasratnya dan memperlihatkan wujudnya yang sebenarnya.

Walaupun Kris yakin jika Sehun tidak akan menyakiti saudaranya sendiri, tapi saat ini keadaannya sedikit berbeda. Kai lupa siapa sebenarnya dirinya dan menganggapnya sebagai manusia biasa.

***___***

Sehun meneguk habis cairan yang ada di dalam botol kecil lalu mengerang seperti seseorang yang sedang kesakitan. Perlahan, mata merahnya berubah warna menjadi kecoklatan, serta kuku-kuku panjangnya yang kembali tumpul seperti biasa.

“Sial, aku masih belum bisa menahan hasratku.”rutuknya pada dirinya sendiri. Napasnya terdengar terengah-engah karena menahan sakit.

Tiba-tiba, ia mendengar suara bel hotelnya di tekan. Itu pasti Kai, jadi dia memutuskan untuk menyembunyikan sebuah peti berbentuk kubus di bawah ranjang tidurnya. Memastikan jika ruangannya telah rapi dan ‘normal’, ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Sebelumnya, ia sempat berhenti didepan cermin sesaat untuk mengacak rambutnya sendiri. Ia ingin menciptakan kesan ‘sedang tidur’ pada Kai.

Dugaannya benar. Yang datang adalah Kai.

“Oh, kau sudah datang.”seru Sehun sambil menyipitkan kedua matanya.

“Kau sudah tidur?” Kai justru balik bertanya.

Sehun mengangguk, “aku sangat mengantuk jadi aku pulang lebih dulu. Masuk lah.”

Saat Kai memasuki ruangan Sehun, ia baru menyadari betapa mewahnya ruangan itu. Bahkan lebih terlihat seperti apartement pribadi daripada kamar hotel. Ia memang tau jika paman dan bibinya adalah orang yang kaya tapi kamar hotel ini sedikit keterlaluan.

Bagaimana bisa ada televisi yang besarnya hampir memenuhi luasnya dinding di kamarnya? Dan juga, bagaimana bisa ia memiliki dapur yang sangat luas padahal Sehun sama sekali tidak bisa memasak? Bukankah ini namanya pemborosan?

“Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk… astaga!”

Pertanyaan Kai seketika berubah menjadi jeritan saat mereka memasuki kamar Sehun. Ruangan luas dan lebar. Terdapat satu tempat tidur ukuran besar yang sudah bisa dipastikan sangat empuk jika melompat kesana, dan terdapat televisi lain di bagian dinding. Ukurannya setengah lebih kecil dari televisi pertama yang ia lihat di ruang tamu. Hal itu masih belum terlalu penting, yang paling penting adalah dinding kaca berbentuk cembung yang menyelimuti seluruh bagian kamar Sehun. Dia bisa melihat seluruh pemandangan kota Seoul dari sini!

“Sehun, kau… kau… “ Kai bahkan kehilangan kata-katanya dan tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Ini sudah keterlaluan.

“Jangan menyuruhku untuk pindah ke rumahmu. Aku tidak mau” Sehun seperti bisa membaca pikiran Kai. Ia menolak lebih dulu sebelum Kai menyuruhnya untuk pindah.

“Tapi ini terlalu besar untuk kau tempati seorang diri!”

“Tidak. Ini cukup. Aku bisa bersenang-senang disini.”

Mungkin Kai salah karena dia telah menerapkan kebiasaan hidupnya pada Sehun yang notabene-nya adalah anak dari seorang millionaire. Baginya, hotel eksklusif seperti ini adalah hal biasa. Tapi baginya, hal seperti ini sama saja dengan menghamburkan uang dengan percuma.

Dia bukan hanya satu atau dua hari tinggal di Seoul. Tapi dalam waktu yang sangat lama, hingga dia lulus SMU. Bagaimana bisa selama itu juga dia akan tinggal di tempat yang mahal seperti ini? Berapa lagi uang yang akan dikeluarkan paman dan bibinya hanya untuk memebuhi kebutuhan hidupnya selama tinggal di Seoul? Hal itu akan semakin membuatnya merasa bersalah karena dialah yang meminta Sehun untuk pindah.

Mencoba menormalkan debaran jantungnya, Kai kembali membujuk Sehun. “Sehun dengar, jika kau tidak mau tinggal di rumahku karena rumahku sangat kecil, aku bisa memahaminya. Tapi, sebenarnya kau bisa tinggal di tempat yang sedikit lebih murah. Aku bisa membantumu mencari rumah konrakan disekitar sini”

“Rumah kontrakan tidak memiliki system keamanan yang baik. Bagaimana jika ada seseorang yang mau mencuri mobilku?”

Ah, dia benar juga…

“Kau bisa tidak memakai mobil sebenarnya. Kembalikan mobilmu pada paman dan bibi, dan kita akan naik bus seperti biasa.”

Sehun tertawa mendengus, “bisakah kau tidak bersikap cerewet seperti kepala sekolah, huh? Sudahlah. Aku ingin melanjutkan tidurku. Jangan hanya berdiri disitu, kau juga harus cepat tidur.”

Sehun menyeret langkahnya menuju tempat tidur lalu memeluk gulingnya. Sebenarnya, ia sedikit khawatir jika Kai akan memeriksa setiap sudut ruangannya. Karena itu, walaupun terlihat sedang tidur, sebenarnya Sehun juga mengawasi Kai.

Ditempatnya, Kai menghela napas panjang.  Percuma memang memberitahu saudara keras kepalanya itu. Dia tidak akan pernah mendengar. Ia meletakkan tas ranselnya diatas sofa. Dugaan Sehun benar, dia berjalan-jalan dan memperhatikan setiap sudut kamarnya.

“Whooaa, tempat ini benar-benar sangat indah.”decak Kai kagum. Begitu ia berdiri dekat dengan dinding kaca, ia kembali bergumam seorang diri. “Whoooa, pemandangannya benar-benar bagus.”

Beruntungnya, Kai tidak mencurigai apapun. Dia hanya sekedar mengagumi tempat itu  untuk beberapa saat. Tubuhnya juga lelah dan dia ingin tidur. Besok pagi,mereka harus kembali ke sekolah dan latihan basket lagi.

***___***

Kai dan Sehun sama-sama berlari kencang menuju sekolah mereka begitu bus baru saja berhenti. Mereka terlambat. Sebabnya, karena Sehun terlalu lama membangunkan Kai yang terlalu asyik tertidur. Sepertinya, tidurnya benar-benar lelap.

Mendekati pintu gerbang, mereka harus mendapati kenyataan pahit karena gerbang itu ternyata sudah ditutup. Terpaksa, keduanya memutari gedung sekolah dan menuju bagian belakang. Temboknya lebih rendah dibandingkan dengan tembok lain –walaupun tetap cukup tinggi bagi keduanya- tapi setidaknya ada sedikit harapan.

“Kita memanjat!”seru Kai menunjuk bagian atas tembok kokoh itu.

Sehun mengangguk, “oke, kau dulu.”suruhnya

Kai menoleh dengan kening berkerut, “kenapa aku? Kau dulu. Jika kau jatuh, aku akan menangkapmu.”

“Kau pikir aku tidak pandai memanjat? Kau saja, jika kau terjatuh, aku yang akan menangkapmu”decak Sehun setengah kesal.

Kai tetap bersikeras menolak, “tidak… tidak.. kau saja.”

Cih, dia tidak tau sedang berbicara dengan siapa, rutuk Sehun dalam hati.

“Oke baiklah. Aku duluan. Tapi, jika kau tidak bisa naik hingga atas, aku tidak mau menarikmu”

“haha.. oke…”

Sehun mundur beberapa langkah dengan kepala terangkat menatap lurus ujung tembok itu. Dalam hitungan mundur, ia langsung berlari ke depan dan menendang sisi tembok yang rendah untuk dijadikan tumpuan lalu melompat kearah sebuah pohon besar yang tumbuh disekitas situ. Ia bergelantungan pada dahannya, sambil menggoyangkan diri, ia kembali melompat dan menjangkau ujung tembok. Berhasil!

Kai terperangah, “gerakannya cepat sekali.”gumamnya tanpa sadar.

“Kai! Cepat!”

Hingga akhirnya suara Sehun memaksa Kai kembali pada kenyataan. Kai mengerjap.

“Hey, cepat!”

Kai juga ingin melakukan hal yang seperti apa yang dilakukan oleh Sehun. Ia mundur beberapa langkah dan menendang sisi rendah tembok lalu melompat ke kiri dan menjangkau dahan pohon. Saat dia ingin melompat lagi, ternyata sangat sulit untuk melepaskan tangannya pada dahan. Bagaimana jika dia gagal menyentuh ujung tembok? Dia akan jatuh dan tubuhnya akan bertabrakan keras dengan tembok.

“Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku melompat?”serunya panik.

Sehun berdecak sambil geleng-geleng kepala, “bukankah aku sudah memberitahumu?”

“Cepat! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku akan jatuh!”

Sehun melepaskan tas ranselnya, “pegang ujungnya. Aku akan menarikmu.”

“Apa?! Tidak akan bisa! Aku akan tetap jatuh!”

“Tidak. Percayalah. Pegang saja. Aku akan menarikmu.”ucap Sehun lagi meyakinkan Kai.

Walaupun masih ragu, Kai akhirnya mengangguk. Ia melepaskan satu tangannya dari dahan dan mencoba meraih ujung tas ransel Sehun.

“Lepaskan tangan kirimu.”

“Sehun Rouler, kau berjanji akan menarikku, kan?”tanya Kai sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.

“Aku berjanji, Kai. Sekarang lepaskan.”

Kai memejamkan kedua matanya kuat-kuat, “Tuhan, jika aku terjatuh. Biarkan aku menendang bokongnya setelah itu.”

Kemudian, ia melepaskan tangan kirinya.

***___***

Sehun baru memasuki kelasnya saat jam istirahat. Ia tidak ingin membuat masalah dengan guru, karena jangka waktu yang diberikan oleh kepala sekolah untuk mengubah warna rambutnya sudah lewat. Jadi, sebaiknya dia tidak membuat guru marah dengan terlambat atau melanggar peraturan lainnya.

Saat ia masuk kelas, ia mendapati Lay yang sudah kembali terlihat di bangkunya. Sepertinya lukanya sangat parah. Dia juga menggunakan penyanggah leher seperti Luhan, dan wajahnya masih dipenuhi dengan luka.

Tidak ada guru yang mengetahui masalah ini. Mereka hanya tau jika Luhan dan Lay dipukuli oleh seseorang yang tidak dikenal saat mereka berjalan-jalan. Dan masalah Kyungsoo, Kai mengatakan jika dia tidak sengaja terjatuh dari tangga sehingga harus dirawat di rumah sakit karena kepalanya terluka.

Saat melihatnya, Sehun sangat tau jika Lay sedang menatap kearahnya dengan penuh kebencian. Walaupun bukan dia yang membuatnya seperti itu, tetap saja dia adalah orang yang memulai semua masalah.

Sehun membuang pandangan. Bersikap cuek dan melanjutkan langkahnya menuju mejanya. Hari itu, Kyungsoo belum juga muncul di kursinya.

***___***

Kai terpaksa membalut kedua telapak tangannya dengan perban saat latihan bola basket. Karena terlalu lama bergelantungan di dahan pohon, telapak tangannya jadi terluka sehingga terasa sakit saat menyentuh bola.

“Kai!”panggil Baekhyun sambil melambai-lambaikan kedua tangannya, member isyarat pada Kai.

Kai mengangguk lalu melompat tinggi dan melempar bolanya pada Baekhyun. Bergerak lincah, Baekhyun melewati beberapa pemain dan saat menemukan moment yang tepat, ia melompat dan melemparkan bolanya.

BANG

“Wohoooo!”jerit Baekhyun senang sambil membuat celebrasi.

Tinggal beberapa hari lagi sebelum olimiade dilaksanakan. Waktunya semakin sempit jadi mereka harus berlatih dengan keras.

“Permainan kalian sangat bagus.”seru Sehun saat mereka semua memutuskan untuk beristirahat. “Aku yakin kalian bisa menang dalam olimpiade nanti”

“Tentu saja! Tim kami akan berdiri diatas podium sambil mengangkat piala kemenangan. Aku yakin itu.”ucap Chanyeol yakin.

Tao mengangguk, “yah, kemenangan sudah ada didepan mata. Dan kita akan membuktikan pada tim sepak bola jika kita memang lebih baik. Hahaha… aku tidak sabar ingin mempermalukan mereka” ia terlihat bersemangat.

“Ku dengar, mereka benar-benar tidak bisa mengikuti olimpiade karena beberapa pemain intinya cedera”ujar Baekhyun sambil memakan choco pie-nya.

“Benarkah?”

Baekhyun mengangguk, “Dua stiker mereka cedera cukup parah. Bahkan Lay masih harus mendapat perawatan intensif. Sedangkan Luhan, walaupun ia sudah lebih baik, dia tetap tidak akan bisa bermain baik tanpa Lay. Yaaah, ku akui jika Lay memang striker hebat”

“Bukankah itu salah mereka sendiri? Mereka yang membuat ulah sehingga mereka terancam tidak bisa mengikuti olimpiade. Itu adalah karma untuk mereka”ujar Tao kesal.

Disisi lain, Kai dan Sehun terlihat sangat terkejut mendengar hal itu. Mereka memang sangat kesal dengan Luhan dan teman-temannya, tapi bukankah mereka juga yang menyebabkan tim sepak bola tidak bisa mengikuti olimpiade?

“Sudahlah. Sebaiknya sekarang kita fokus dengan permainan kita. Jangan membicarakan hal-hal yang tidak perlu.”sahut Kris menengahi.

***___***

Pria itu memain-mainkan bola di kakinya seorang diri. Sesekali menggiring bolanya namun tidak juga menendangnya ke gawang. Ia terlihat sangat frustasi. Ia sangat mencintai sepak bola namun timnya justru menjadi berantakan karena ulahnya sendiri.

Berdiri di tengah lapangan luas itu seorang diri, punggungnya terlihat sedikit membungkuk. Mungkin, itu karena dia sedang membawa sebuah beban berat.

Berdiri di atap sekolah, pria itu memandang Luhan lurus. Ada rasa bersalah di hatinya karena tim sepak bola terancam tidak bisa mengikuti pertandingan.

Kris benar. Sebenarnya Luhan tidak mengetahui apapun. Tidak seharusnya dia membencinya. Bahkan dia sendiri tidak mengetahui jika dia adalah keturunan terakhir klan Theiss.

***___***

5 days later…

“Kyungsoo! Kau datang?!”jerit Chanyeol senang saat Kyungsoo menghampiri tim bola basket di ruang ganti.

Kyungsoo tersenyum lebar, “aku sudah berjanji akan datang. Bagaimana? Kalian sudah siap?”

“Tentu saja. Kami sangat siap.”angguk Chanyeol yakin.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”tanya Kai menepuk sebelah pundak Kyungsoo.

“Semuanya jauh lebih baik sekarang. Jangan khawatir.”

“Kau harus mendukung kami, oke? Jangan lupa meneriakkan namaku.”suruh Baekhyun.

“Tidak. Aku adalah pemain terbaik. Kau dukung aku saja.” Tao mendorong Baekhyun lalu menunjuk dirinya sendiri.

“Enak saja. Aku adalah seorang playmaker”

“Tapi aku adalah penghalang musuh jika mereka menuju ke wilayah kita” Tao tidak mau kalah.

Kyungsoo terkekeh, “aku akan meneriakkan nama kalian semua. Jangan khawatir.”

“Ngomong-ngomong, dimana Sehun?Dia belum datang?”tanya Kris tidak melihat Sehun.

Kai baru menyadari hal itu. “Benar. Kenapa dia belum datang? Bukankah dia bilang dia akan menonton?”

***___***

Di tempat lain, tim sepak bola juga tengah bersiap di ruang ganti mereka. Namun, tidak seperti tim basket yang terlihat sangat yakin, tim sepak bola justru merasa pesimis karena Lay tidak ikut serta dan keadaan Luhan yang belum sepenuhnya sembuh.

“Bagaimana? Kau yakin mengganti posisi Lay dengan Youngjo? Kau bisa bekerja sama dengannya?”tanya Xiumin terlihat ragu dengan keputusan Luhan.

“Aku sudah membicarakannya dengan pelatih jadi—“

“Anak-anak, semianya bersiap” Tiba-tiba suara pelatih mengacaukan obrolan Luhan dan Xiumin. Keduanya sama-sama menoleh dan langsung berdiri saat pelatih mereka datang. “Kita akan menghadapi musuh yang sangat sulit kali ini. Aku harap kalian bisa menang dan membawa nama baik sekolah. Selain itu, aku sudah memutuskan sesuatu hal. Mungkin memang terdengar mendadak, tapi aku yakin ini adalah yang paling baik” Pelatih diam sejenak membuat seluruh pemain mengerutkan kening mereka bingung.

“Aku membawa anggota baru sebagai pengganti Lay sementara”ujarnya. Kemudian, ia menoleh ke belakang. “Masuklah.”

Tak lama seorang murid laki-laki memasuki ruang ganti. Dan detik itu juga, Luhan dan teman-temannya seketika tererangah hebat melihat sosoknya. Sosok tinggi berkulit putih. Rambutnya tidak lagi berwarna merah seperti dulu, kini ia mengecatnya dengan warna hitam seperti seharusnya.

“Hai, aku Kim Sehoon. Aku adalah pengganti Lay untuk sementara waktu.”

TBC

53 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s