Polar Light : Cause I Want

Polar Light : Cause I Want

baekchu1

Author :rinnaaay | Cover by : rinnaaay | Main Cast : EXO’s Baekhyun | Support Cast : EXO’s Chanyeol& D.O | Length : Ficlet | Genre : Friendship, Slice of Life | Rating : G

“Mengapaakuselalumenatapkameranya?”

“Karena… iaakanmemotretkuhanyajikaakumenatapkearahnya.”

 

Byun Baek Hyun suka dipotret.

Setidaknya itulah yang ia tahu, sehingga kini lensa kameranya terus ia arahkan pada sosok bertubuh mungil itu. Hanya berfokus pada Baekhyun, menunggu sampai bocah laki-laki itu menyadari keberadaan—kamera—nya.

Dua menit kemudian, seolah terpanggil, Baekhyun menoleh. Menatapnya—ah, tidak. Yang benar adalah : menatap lensa kameranya sejenak, lalu memberikan seulas senyum dan…

…ia berhasil mengabadikannya dalam satu jepretan mulus. Ia yakin hasilnya akan mengagumkan. Foto-fotonya memang akan selalu mengagumkan karena… objeknya pun mengagumkan.

Byun Baek Hyun.

“Baekhyun-a! Lihat! Ini hadiah ulang tahunku dari Abeoji!”

Baekhyun menoleh. Mendapati gadis yang sejak tadi ia tunggu, melukis senyum lebar di wajah ovalnya yang terlihat agak berkeringat. Sepertinya ia berlari untuk dapat segera sampai di sini. Mata kecil Baekhyun menyipit memerhatikan benda yang tadi ditunjukkan gadis itu sebagai hadiah ulang tahun dari ayahnya. Dan terpana ketika menyadari bahwa yang kini tergantung manis di leher gadis itu adalah sebuah kamera dslr. Baekhyun memang tidak benar-benar mengerti masalah kamera, tapi ia tahu kalau kamera itu sangat bagus. Uhm, sepertinya mahal—ya, tentu saja. Untuk anak sekolah menengah di tingkat pertama seperti mereka, benda itu termasuk mahal. Sesuatu yang mengagumkan untuk memilikinya sendiri di umur mereka sekarang ini.

“Woah, daebak!” komentar Baekhyun.

Gadis di hadapannya tersenyum semakin lebar. Ia mengangkat kamera barunya, mengarahkan lensanya ke wajah Bakhyun. Bergumam pelan di balik kamera, “Ayo, berpose, Baekhyun-a! Kau akan jadi orang kedua yang kufoto dengan kamera ini, setelah Abeoji.”

Tanpa menunggu diperintah dua kali, Baekhyun tersenyum. Memperlihatkan rectangle shape smile—begitu gadis itu menyebut senyuman Baekhyun—andalannya. Membuat matanya terlihat semakin kecil.

Hana… dul… set!

Itu adalah kali pertama gadis itu memotret Baekhyun. Tanpa pernah ia tahu—bahkan ia sangka, bahwa ia akan melakukannya lagi di masa mendatang.

“Kyungsoo-a, Kyungsoo-a! Lihat!” Chanyeol menepuk-nepuk pundak Kyungsoo tidak sabaran.

Bocah laki-laki bermata bulat itu tidak mengacuhkannya. Matanya tetap fokus pada layar laptop di hadapannya yang sedang menampilkan anime yang tempo hari pernah membuatnya menangis—dan jadi bahan ledekan member EXO di EXO Showtime episod spesial Natal.

“Kyungsoo!” Kali ini Chanyeol menepuk pundaknya satu kali, tapi cukup keras. Dan itu cukup membuat Kyungsoo menoleh sebal. Bagaimana tidak, ia sedang bersantai menonton anime di kasurnya, lalu Chanyeol tiba-tiba datang merusuh.

Chanyeol tidak peduli. Ia menunjuk-nunjuk layar laptop yang ia bawa.

Meski enggan, Kyungsoo melirik, lalu mengangkat kedua alisnya. “Mwoya?” katanya malas. Mengalihkan kembali pandangannya ke layar laptop-nya sendiri.

Ya, ya, ya! Lihat dulu!”

“Apa yang salah dari foto seorang Byun Baek Hyun?”

“Tidak ada yang salah sih, selain dia terlihat—uhm, imut. Dan aku tidak suka ia terlihat seperti itu karena ketika aku difoto aku tidak—oke, oke, bukan itu maksudku.” Chanyeol buru-buru meralat perkataannya ketika Kyungsoo menatapnya dengan kedua mata besarnya—yang kata para fans imut, tetapi bagi Chanyeol itu menyeramkan. Karena… uh, lihat saja! Wajahnya tanpa ekspresi!

“Kau lihat ini? Lalu ini… ah, ini juga!” Chanyeol men-scroll layar laptop-nya, menampilkan foto-foto Baekhyun dari berbagai angle dan Kyungsoo tidak menemukan kesalahan apapun dalam foto itu. Tapi ia memilih untuk menunggu sampai Chanyeol menjelaskannya.

“Kau lihat ‘kan?!” Kali ini mata besar Chanyeol yang menatap Kyungsoo berapi-api—errr, oke, kosakata itu terdengar berlebihan.

Kyungsoo mendengus ketika di akhir Chanyeol hanya mengatakan ‘kau lihat ‘kan?’ dengan wajah bodohnya itu—tanpa menyadari bahwa wajahnya pun terlihat bodoh sekarang.

“Ya, aku lihat. Lalu? Apa yang salah?”

Mata Chanyeol melebar. “Apa yang salah? Kau tanya padaku apa yang salah, Do Kyung Soo?!” ulang Chanyeol berlebihan.

Kyungsoo mengangguk. Chanyeol menghela napas lalu berkata dengan pelan. “Aku juga tidak tahu apa yang salah.”

Krik!

Kyungsoo melengos lalu mendorong Chanyeol menjauh. “Pergi! Kau menggangguku!”

Chanyeol terbahak. Menyenangkan ternyata menggoda bocah satu ini.

“Tunggu, tunggu! Hahaha. Aku serius, aku serius. Yaaa, Do Kyung Soo!” Chanyeol masih tertawa bahkan ketika Kyungsoo mendorongnya sampai ia terjatuh di lantai.

“Kau lihat, di foto-foto ini Baekhyun selalu menatap ke kamera. Uhm, tidak selalu sih, tapi sering. Sangat sering untuk ukuran kamera seorang fans! Ini bukan pemotratan majalah, ini adalah fantaken! Tapi Baekhyun seolah—atau mungkin memang menyadari kamera itu. Aku curiga…” Chanyeol memelankan suaranya di bagian akhir kalimatnya.

Kyungsoo menautkan alis, mempertajam pendengarannya dan tanpa sadar menunduk ke arah Chanyeol yang masih duduk di bawah, demi dapat mendengar kelanjutan kata-kata Chanyeol tadi.

“Aku curiga… apakah Baekhyun menyadari kameranya atau… gadis yang memotretnya?”

“Maksudmu?”

“Mungkin saja, Polar Light ini adalah… kekasih Byun Baek Hyun?”

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena kau adalah kekasihnya yang sesungguhnya,” jawab Kyungsoo tidak acuh.

“Tsk!”

Ya, ya, ya! Kalian sedang membicarakanku, eh?”

Baekhyun, yang merasa namanya di sebut-sebut, tiba-tiba saja datang. Membuat Kyungsoo bersyukur karena Chanyeol akan berhenti merecokinya dan itu artinya ia dapat kembali menonton anime-nya.

“O—oh, Byun Baek Hyun! Kemari kau! Kami akan melakukan sidang padamu!”

“Siapa yang kau sebut ‘kami’? Aku tidak ikutan,” tukas Kyungsoo.

Chanyeol tidak mengacuhkan protes Kyungsoo dan beralih pada Baekhyun yang duduk di depannya. Ia duduk menyandar di ranjang Kyungsoo sambil memainkan rubik yang ia pinjam dari Luhan.

“Jawab aku, Polar Light itu kekasihmu ‘kan?” tembak Chanyeol langsung. Ia menuduh bukan tanpa alasan. Netizen sudah banyak membicarakan ini. Mengenai Polar Light dan Baekhyun. Entah Polar Light yang selalu beruntung atau Baekhyun yang terlalu baik karena terus melakukan eyecontact padanya, tapi… ah, Chanyeol benar-benar penasaran. Kisahnya sama dengan Kris dan Bei Bei. Tapi ia tidak terlalu memikirkan, karena itu Kris—err…. Tapi kali ini Baekhyun! Baekhyun!

Gerakah Baekhyun yang sedang memutar-mutar salah satu kolom rubik, terhenti. Chanyeol melihat dan menyadarinya dengan sangat jelas.

“Kau terkejut? Kau terkejut karena aku mengetahuinya? Nah, nah, nah! Aku benar’ kan? Kyungsoo-a! Benar dugaanku!” teriak Chanyeol.

Baekhyun menoleh, mendapati Chanyeol dan Kyungsoo—yang entah sejak kapan melupaan anime-nya dan ikut-ikutan kepo seperti Chanyeol—sedang menatapnya meminta penjelasan. Tiga detik setelahnya, Baekhyun tertawa.

Mwoya? Apa yang kalian bicarakan? Haha.”

“Aktingmu buruk, Byun Baek Hyun,”

“Tsk, kau menghancurkan mimpiku yang ingin berakting, Park Chan Yeol!”

“Jadi benar? Polar Light itu benar kekasihmu?” Kali ini Kyungsoo.

“Bukan,” Baekhyun menjawab singkat, dengan tangan yang kembali aktif memainkan rubik yang baginya sangat sulit itu.

“Lalu kenapa kau selalu menatap ke arah kameranya jika bukan karena kau menyukai si pemotret?”

Baekhyun melupakan rubiknya, beralih pada laptop yang Chanyeol sodorkan padanya. Ia memerhatikannya sejenak. Men-scroll-nya agar melihat lebih banyak lagi. Kemudian ia tersenyum.

“Ia melakukannya dengan sangat baik,” gumamnya.

Nde?

“Mengapa aku selalu menatap kameranya?” Baekhyun membeo pertanyaan Chanyeol yang terakhir.

Chanyeol mengangguk.

“Karena… ia akan memotretku hanya jika aku menatap ke arahnya.”

Yaaa, mengapa fotoku hanya ada satu?” Baekhyun bertanya—ah, lebih tepatnya merajuk pada gadis di depannya. Gadis itu baru saja menyerahkan kumpulan hasil jepretannya ketika pentas seni sekolah mereka minggu lalu.

Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, hendak membantah ketika Baekhyun memperjelas rengekannya.

“Mengapa fotoku yang close up hanya satu?”

Baekhyun melihat gadis itu menutup kembali mulutnya. Merebut sekumpulan foto yang tadi diberikannya pada Baekhyun lalu menjawab. “Itu karena kau hanya satu kali melihat ke kameraku. Jadi jangan salahkan aku kalau fotomu hanya ada satu.”

Mwoya? Alasan macam apa itu? Yang lain bahkan tidak ada yang benar-benar menatap ke kameramu ketika di panggung, tapi kau tetap memotretnya,” protes Baekhyun.

“Karena itu mereka. Bukan kau, Byun Baek Hyun.”

“Ya! Apa maksud—“

“Aku hanya akan memotretmu hanya jika kau melihat ke arah kameraku, mengerti?”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin.”

Mulut Baekhyun sudah terbuka lebar saat itu. Saat mendengar alasan tidak masuk akal itu. Tapi itulah kenyataannya. Gadis itu tidak pernah memotretnya jika ia tidak melihat ke arah kameranya. Menyebalkan.

Di suatu siang selepas Baekhyun latihan bersama band sekolah, ia dan gadis itu menghabiskan waktu makan siang bersama. Masih dengan kamera yang menggantung di leher si gadis seolah ia adalah seorang wartawan sekolah.

“Mengapa kau tidak suka difoto?”

“Karena aku lebih suka memotret,”

“Kenapa? Apa itu cita-citamu?”

“Cita-cita? Tidak juga. Aku masih bercita-cita menjadi pemilik butik cantik dengan para seleb sebagai icon-nya. Memotret hanya sekadar kesukaan.”

“Cih, cita-cita apa itu?” Baekhyun mencibir.

“Memangnya apa cita-citamu, wahai Tuan Byun?”

“Jadi penyanyi, tentu saja!” jawab Baekhyun tanpa berpikir. “Dan sampai saat itu tiba, kau harus tetap memotretku, eum?”

“Hanya jika kau melihat ke arah kameraku, tentu saja.”

Call!

“Oke, call!”

Baekhyun tidak pernah menganggap serius kesepakatan mereka saat itu. Baginya itu hanyalah suatu hal sambil lalu yang mudah dilupakan. Tapi mengapa gadis itu tetap menepatinya?

Chanyeol masih memasang wajah bodohnya ketika Baekhyun menyelesaikan ceritanya. Wajah bodoh disini meliputi mulut terbuka lebar dan mata besar terbelalak seolah terpana melihat Sandara Park ada di depannya. Wajah bodoh yang—menurut Baekhyun adalah bakat alami yang Chanyeol miliki.

“Apa kalian masih berkomunikasi?” tanya Kyungsoo.

Baekhyun tidak langsung menjawab. Memasang tampang seolah berpikir. Beberapa detik kemudian deringan ponsel memecah kesunyian. Baekhyun yang merasa saku celananya bergetar, langsung meraih benda tipis itu. Kemudian tersenyum simpul ketika melihat nama penelepon yang tertera di layar.

Baekhyun menyembunyikan layar ponselnya ketika Chanyeol berusaha mengintip. Kemudian menoleh ke arah Kyungsoo dan berkata, “Menurutmu?”

Tanpa menunggu ekspresi dari dua makhluk itu, Baekhyun bangkit lalu menerima panggilan.

Kata-kata yang bisa ditangkap oleh Chanyeol maupun Kyungsoo hanyalah sapaan telepon biasa, lalu setelahnya suara Baekhyun teredam dinding karena bocah itu sudah keluar dari ruangan dan menutup pintu rapat-rapat.

Chanyeol dan Kyungsoo bertatapan dengan pandangan bertanya satu sama lain.

“Menurutmu itu telepon dari si Polar Light?”

Dan Kyungsoo hanya mengangkat bahu.

“Cepat beritahu aku jam berapa kau ke bandara?”

Baekhyun berdecak mendengar desakan dari seberang. Ia tidak ingin memberitahunya, sungguh. Ia tidak ingin gadis itu terus menerus mengikutinya. Ah, bukan karena ia merasa risih. Sama sekali tidak. Tapi… ia hanya merasa err… kasihan. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya mengikuti seabrek jadwalnya yang luar biasa. Bukan hanya di dalam negeri, bahkan sampai ke luar negeri. Apa gadis ini gila?

“Byun Baek Hyun! Apa kau lebih suka aku menunggu dari pagi sampai kau datang? Oke, kalau begitu akan kulakukan. Aku akan menunggumu bahkan sebelum matahari terbit dan—“

“Oke, oke. Kami akan tiba sebelum jam makan siang.”[U1]

“Sungguh? Kau tidak berbohong ‘kan?”

Baekhyun menghela napas, memindahkan ponsel dari telinga kiri ke kanan. “Kau tidak percaya pada sahabatmu sendiri?”

“Oke, aku percaya.”

Baekhyun mengangguk sekali, meski ia sadar gadis itu tidak akan melihatnya.

“Katakan padaku, baju warna apa yang akan kaukenakan besok? Agar aku mudah mengenalimu dan bisa melakukan eyecontact dengan pacarmu itu.”

Gadis di seberang sana tertawa. Ia tahu dengan jelas siapa—atau apa yang Baekhyun sebut sebagai pacarnya. Tentu saja kamera yang selalu ia bawa kemanapun ia mengikuti Baekhyun.

“Errr, aku belum memikirkannya. Aku akan memberitahumu nanti, oke?”

Lagi, Baekhyun mengangguk.

“Ah, omong-omong… terima kasih telah memotretku.”

“Kau sudah bilang—“

“Bahkan ketika aku tidak sedang menatap ke kameramu,” potong Baekhyun, “terima kasih.”

“Jangan memakai coat sepanjang itu, Baek! Itu membuatmu terlihat semakin pendek—ups, sorry.”

Gadis itu tergelak di seberang sana, dan Baekhyun merengutmendengar ledekannya.

“Sungguh?” tanyanya.

“Eo. Tapi aku suka kalungmu. Boleh kuminta buatku?”

“Tentu. Kau bisa memilikinya.”

“Tidak, tidak, aku hanya bercan—Maaf, Nona. Bisa matikan ponsel Anda? Pesawat akan segera—ah, oke, sebentar.”

“Kau… kau dimana? Jangan bilang—“

“Ya, aku akan ikut terbang bersamamu, Baekhyun! Aku harus menutup teleponnya sekarang. Annyeong!

“Tunggu, tunggu!”

“Apa lagi? Pramugari itu sudah akan menghampiriku lagi, Baek!”

“Kenapa kau melakukan ini? Mengikutiku kemanapun, memotretku, lalu—“

“Karena aku ingin.”

“Hanya itu?”

“Ya, hanya itu. Sudah, jangan tanya—Maaf, Nona—nde, akan saya matikan. Baekhyun-a, aku tutup teleponnya!”

Klik.

Baekhyun masih dalam posisinya sekalipun ia tahu gadis itu telah menutup sambungan. Ia masih tidak habis pikir. Mengapa gadis itu melakukannya.

“Baekhyun, matikan ponselmu!” seru Suho.

“Apa barusan panggilan dari Polar Light?” tanya Chanyeol di sampingnya.

Baekhyun tidak menjawab, tapi ia menolehkan wajahnya ke arah Chanyeol.

“Chanyeol-a, apa yang bisa kuberikan pada mereka yang berjasa atas apa yang kudapat sekarang ini?”

Chanyeol menautkan alisnya. Berpikir. “Senyuman, tentu saja.”

“Hanya itu?”

“Dan kerja keras. Buatlah mereka merasa tidak sia-sia telah menyukaimu. Buktikan pada mereka bahwa mereka tidak salah telah memilih untuk mendukungmu.”

“Begitukah?”

Chanyeol mengangguk tanpa ragu. Sedetik kemudian, senyuman Baekhyun melebar. Ia merentangkan tangannya lalu memeluk Chanyeol dengan gaya berlebihan.

“Argh, Park Chan Yeol… terkadang kata-katamu benar juga, yaaa…,” kata Baekhyun sambil mengguncang-guncang pelukannya.

“Ugh, BaekYeol moment!” Sehun mendelik lalu melengos.

Fin

 

Aku sudah banyak menemukan fanfict mengenai Polar Light noona. Eh, nggak banyak juga deng, baru baca dua hehe. Dan aku tergelitik untuk bikin versi aku. Hnggg, thanks banget deh buat si baek karena udah menimbulkan hasrat ingin menulisku kembali setelah sekian lama hasrat itu menghilang entah kemana.

Mereka bilang Polar Light itu noona ya, tapi disini aku bikin dia seolah seumuran sama baek hehe

Yeah, ini aseli fiksi banget lah😀

Dan yang mereka ke bandara itu aku juga kaga tau aslinya mereka berangkat jam berapa nyahahaha

Dan… itu di bandara itu ceritanya tanggal 13 Feb 2014 kemarin

Okay, silahkan komentarnya untuk yg baca

Gamsa!


 [U1]Ini ngasal aseli!

14 thoughts on “Polar Light : Cause I Want

  1. nina berkata:

    bagus cerita na
    gaya bahasa na juga😀
    kyk nyata
    haha tp kan itu gg mgkn
    byunbaek cuma si eagle eyes sm kyk chanyeol klo soal kamera😀
    byk juga kok fansite lain yg sering eyecontact sm baek
    ahh sayang beibei noona vakum

  2. lee hana berkata:

    sukaaaaaa sumpah kirain yg ngeship bacon m mbak polar cuman q doang ternyata ada juga toh yang ngesipin mereka hahaha. ya sih banyak fansite bacon yg bisa eye contact ma dia. tapi gak tau kenapa q kok ya suka ma ni fansite bacon yg polarlight ini. dan tu orang kece abis dimanapun Baekhyun pergi slalu ada aja dia apa gak kering tu uang di kantong. dan karena sukanya q ma tu fansite ni gi getol nabung buat beli 2nd PB-nya yg harganya ajib bener gila!

    • rinnaaay berkata:

      hahaha kalo aku pribadi sih karena banyak dijejelin /?/ berita dan ff polarlight, aku jd pengen ikutan /plak/
      wah, semangat ya nabungnyaaa haha dan makasih uda komentar🙂

  3. Chatty berkata:

    Wuah author-nim aku suka ff nya, ringan dan gaya bahasanya oke banget
    menurutku si Polar Light di cerita ini cinta sama Baekhyun kalo ga, ga mungkin dia ngikutin Baekhyun terus hehehehe

  4. phiwzz berkata:

    Based on true story, thor??
    Woah, belum pernah baca tuh info ttg Polar Light kaya gitu,
    itu pengalaman nya Baek sendiri??
    Polar Light di ff mu ini ceritanya obsesi banget sama Baek?
    Ato cinta diam2 gitu, thor?
    Suka sama jalan ceritanya, cara penulisan nya juga jd easy reading😀

  5. indahtentiana berkata:

    Entah kenapa ringan banget baca ff ini . Bahasanya gak berat jadi gakbperlu terlalu muter otak buat ngerti sama maksudnya . Good job eonni 👍 keep writing ^^

  6. tata berkata:

    Ini dibikin dari bulan februari
    tapi gapapa lah ya ^^
    Disini polar light noona beruntung banget karna bisa sahabatan sama baekhyun
    pasti dia seneng banget deh kalo dia tau ada yang bikin ff tentang dia sama baekhyun😀
    tulisan author apik banget dan bahasanya ga berat (?) Jadi enak dibaca
    Kemaren juga baru tau gr” lagi iseng search di mbah gugel keyword baekhyun, taunya yang keluar polar light noona ini yang banyak keluar
    dia cantik loh hihi iri deh banyak banget hasil jepretan dia yang eye contact sama baek
    dan alhasil hari ini gr” search juga tentang polar light noona jadi nemu blog ini😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s