FF: BABY DON’T GO Part 5b

Title                : Baby Don’t Go [Chapter 5B]

Author            : @durrotunna

Cast                  : Byun Baekhyun (EXO K), Park Nara (OC) , Xi Luhan (EXO M)
Other Cast       : Park Chanyeol (EXO K), Kris Wu (EXO M), Jung Han Ni (OC)

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, marriage life , family , sad.

Rating              : PG

Disclaimer      : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan dan sebagainya, saya tidak peduli. Don’t Copas!

Poster              : @WhitePingu95

5B BABY DONT GO(1)

 

 

 

 

 

“ Apakah sudah dipersiapkan semua ? “ tanya Chanyeol kepada lelaki yang sedang membawa tumpukan map itu.

“ Sudah. Semua ini akan diserahkan ke siapa tuan Park ?”

“ Berikan padaku saja. Nanti akan kuberikan pada Baekhyun. “

Lelaki itu memberikan tumpukan map tersebut kepada Chanyeol.

Suasana ruangan ini tampak begitu ramai oleh aktivitas para karyawan. Semua terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.

Chanyeol mengawasi sebentar pekerjaan mereka dan kemudian kembali ke ruangannya sendiri.

Ia duduk di kursinya sambil menghirup napas dalam-dalam.

“ Ini akan menjadi sulit “ keluhnya pelan.

Tangannya mengacak-acak rambut hitamnya yang biasanya rapi itu. Sedikit ia longgarkan dasi yang melekat di kemejanya. Sambil terus membuka dokumen-dokumen yang ia bawa tadi. Seperti mencari sesuatu yang penting.

“ Kenapa tidak ada ? Sial! “

Ia memutar kursinya, menatap pemandangan di luar sana yang mungkin bisa merubah moodnya saat ini. Tangannya memainkan bolpen yang ia gunakan tadi, memutar-mutarnya asal.

Kemudian ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Menghubungi seseorang yang ingin ia temui saat ini.

“ Baekhyun-ah, bisakah kau datang kesini ? “

“ Datanglah, ada masalah penting. “

“ Baiklah, aku tunggu“

Chanyeol meletakkan ponselnya di meja dan kemudian keluar dari ruangannya.

 

***

 

“ Apa kau tidak ingin makan dulu ? “ Tanya Nara yang kini berada di sebelah Baekhyun.

Kali ini Baekhyun sedang membenarkan dasi yang biasanya ia gunakan. Ia akan pergi ke kantor sekarang.

Seharusnya ini hari libur, tapi barusan Chanyeol mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan.

“ Tidak usah, aku bisa makan nanti. “tolak Baekhyun sambil tersenyum kearah Nara.

“ Begitu.. “

Ucapan Nara barusan memang pelan sekali, tetapi Baekhyun tetap mendengarnya.

“ Aku pergi dulu, “

Baekhyun mengecup pelan kening Nara dengan lembut. Dan kemudian keluar dari kamarnya meninggalkan Nara yang masih diam mematung disana.

Tindakan Baekhyun barusan membuatnya bahagia, entah bahagia atau perasaan apa. Yang jelas ia merasa bahagia saat ini. Sikap lembut yang Baekhyun berikan, yang membuatnya kadang salah tingkah. Apakah Baekhyun benar-benar berubah ?

Tak sadar ia menyentuh bibirnya. Ciuman Baekhyun tadi pagi masih ia ingat dengan jelas.

Ia tidak bisa melupakan itu semua. Tatapan mata Baekhyun yang teduh, senyumannya yang menawan, semua terlalu indah untuk dilupakan.

Setelah sadar dari lamunannya , Nara segera keluar dari kamar Baekhyun dan menuju keluar sana. Ada yang ingin dia tanyakan kepada Baekhyun.

“ Baekhyun-ssi.. “

Mendengar itu Baekhyun menoleh kearah Nara yang kini sudah ada didepan pintu rumah mereka.

Baekhyun menutup kembali pintu mobil yang ia buka tadi.

“Iya. Ada apa ? “

Nara berjalan mendekati Baekhyun.

“ Aku ingin pergi ke supermarket, sepertinya banyak yang harus dibeli. Apakah bo- “

“Terserah kau saja. Hati-hati, Aku harus buru-buru sekarang. “

Sebelum Nara menyelesaikan pertanyaannya, Baekhyun sudah menjawabnya. Dan kini ia kembali masuk mobil dan segera melesat pergi.

Nara hanya melihat diam melihat mobil suaminya sudah keluar dari area rumahnya ini.

Setelah menutup pintu gerbang, Nara kembali masuk ke dalam rumah.

“ Padahal aku ingin menanyakan, apakah yang ingin kau makan ? Apa yang kau suka ? “ keluh Nara .

Sebenarnya Nara ingin belanja sesuai yang disukai Baekhyun. Jadi semua masakannya nanti adalah sesuatu yang memang Baekhyun sukai.

“ Haruskah aku bertanya pada Eommanya ? “

Nara menuju ke arah kamarnya, bersiap-siap untuk pergi nanti.

“ Aku sendiri lagi..” ucapnya pelan sambil merebahkan tubuhnya di ranjangnya sendiri.

Mungkin akan bosan jika hidupnya selalu seperti ini. Berada di rumah sendiri, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tangannya mengambil ponsel untuk mengecek sesuatu. Tentunya pesan masuk.

Dugaannya benar, ada pesan masuk. Ia membacanya dengan antusias, tak sadar ia tersenyum-senyum sendiri.

Oppa, kau benar-benar .. “

 

***

Nara sedang berada di supermarket saat ini. Sendiri, pastinya.

“ Sepertinya ini di rumah sudah habis “

Ucapnya sambil mengambil beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Sambil mendorong pelan belanjaannya itu, ia membuka ponselnya untuk memastikan jam.

“ Masih jam segini “

Entah kenapa semua barang yang dibutuhkan di rumah kini sudahada di keranjang belanjaannya.

“Apa yang harus dibeli lagi “ keluhnya sambil melihat-lihat deretan barang-barang yang ada disampingnya kini.

“ Park Nara ? “

Nara menatap heran  seseorang yang  ada didepannya kini.

Oppa ? “

Lelaki itu hanya tersenyum manis,

“ Apa yang Oppa lakukan disini ? “

“ Pertanyaanmu sangat aneh. Yang kulakukan disini ya sepertimu Nara,.. “

Luhan menjawabnya sambil mengacak-acak rambut Nara. Itulah kebiasaan yang memang sulit dihilangkan dari dulu.

“ Tapi tak perlu merusak rambutku seperti ini “

Nara merapikan rambutnya dan membalas senyuman Luhan.

“Sepertinya kita berjodoh, “ ucap Luhan asal.

Nara menatap Luhan dengan tatapan tak setuju.

“Sepertinya kau mengikutiku Oppa.. “

“ Hatiku yang selalu mengikutimu Nara, “

Mungkin saat ini jika diperhatikan jelas, rona-rona merah di wajah Nara akan terlihat jelas.

“ Kau sendirian ? “

“ Bukankah kau juga sendirian “ balas Nara yang disambut tawa Luhan.

“ Kalau begitu akan kutemani “

“ Lebih baik aku sendiri “ ucap Nara sambil sibuk memilih sabun di antara deretan sabun yang berjajar disampingnya itu.

“ Hey, aku masih merindukanmu Park Nara.. “

Ucapan Luhan barusan membuat Nara terdiam sejenak. Entah bagaimana perasaannya kini, dia tidak tahu jelas. Kenapa dia merasa memiliki perasaan yang berbeda dengan Luhan.

“ Tapi sayangnya aku tidak merindukanmu Oppa “ jawab Nara sambil menjulurkan lidahnya kearah Luhan.

“ Benarkah ? Tapi hatimu mengatakan iya “

Nara menatap kearah Luhan sebentar, mencermati ucapan yang ia lontarkan barusan.

“ Apa kau bisa membaca hati seseorang Oppa ? Apakah ilmu kedokteran mengajarkan hal seperti itu ? “

Luhan tertawa mendengar jawaban Nara barusan.

“ Kau ingin tahu ? “

“ Tidak jadi “ ucap Nara sambil mendorong belanjaannya yang sudah penuh itu.

Luhan hanya mengikutinya dibelakang.

“ Kau tinggal dengan siapa Oppa ? “ tanya Nara tiba-tiba sambil melihat kearah Luhan yang ada dibelakangnya.

“Aku tinggal sendiri. “ Luhan menjawabnya sambil sibuk mengambil beberapa barang belanjaannya.

“ Begitu.. “ Nara hanya mengangguk-angguk pelan.

“ Bagaimana denganmu ? Kau belum memberitahuku kau tinggal dengan siapa disini. “

Nara tidak tahu harus mengatakan apa. Entah kenapa sangat sulit baginya untuk mengatakan bahwa saat ini dia sudah menikah. Dan yang jelas dia tinggal bersama suaminya.

Butuh beberapa menit untuk Nara memikirkan jawaban pertanyaan itu. Karena ia tak tahu akan menjawab apa, buru-buru Nara mengalihkan pembicaraannya itu.

Oppa, sepertinya kau harus membeli ini. “

Kini Nara memberikan shampoo bayi kepada Luhan.

“ Ya! Kau pikir aku bayi Park Nara.. “

Nara tertawa kecil  melihat ekspresi Luhan saat ini.

“ Wajahmu seperti bayi Oppa, “

“ Hentikan ucapanmu, semua orang menatap kita “

Seperti tak mendengarkan Luhan ,Nara melanjutkan ucapannya lagi.

“ Wajahmu tidak cocok untuk jadi dokter Oppa. Mungkin pasiennya nanti akan bertanya, Apakah kau benar-benar dokternya ?”

“ Kau salah, dengan melihat wajahku saja mereka akan sembuh. Jadi tak perlu aku memeriksa mereka. “

“ Percaya diri sekali “

“ Apa yang kau katakan barusan ? “

“ Tak ada “

Mereka berdua kini berjalan ke arah kasir. Keduanya terlihat tampak begitu serasi. Mungkin orang-orang yang melihatnya akan mengira mereka adalah pasangan kekasih.

“Setelah ini kau akan kemana ? “ Tanya Luhan kepada Nara yang kini berjalan keluar dari supermarket.

“ Aku akan pulang Oppa

Nara terlihat seperti keberatan membawa barang belanjaannya itu.

“ Sini biar kubawakan. “ ucap Luhan sambil mengambil alih barang belanjaan Nara itu.

“ Tidak usah Oppa, aku bisa membawanya sendiri “ Nara berusaha untuk membawa kembali barang belanjaannya itu. Tapi sia-sia, Luhan sudah berjalan mendahuluinya.

“Ya! Oppa! Berikan padaku, aku ingin pulang “

Kali ini Nara sedikit berteriak, Luhan menghadap ke arah Nara yang ada dibelakangnya itu.

“ Kita jalan-jalan sebentar. Bagaimana ? “

Nara menggeleng , sebagai respon akan pertanyaan Luhan barusan.

Ia tak ingin kejadian seperti kemarin lagi. Ia takut jika nanti Baekhyun marah. Untung saja kemarin Baekhyun tak membahasnya.

“ Ayolah.. “

Ucap Luhan sambil memohon.

“ Aku tidak mau Oppa, “

“ Kalau begitu tak akan kuberikan, “

Kini Luhan kembali berjalan mendahului Nara yang ada dibelakangnya itu.

“Kembalikan oppa! “

 

***

 

Dua pemuda ini terlihat serius dengan kertas-kertas yang ada ditangan mereka masing-masing.

Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas mereka berdua tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulut mereka. Ruangan itu tampak sepi, hening, hanya suara kertas dari tumpukan map tersebut yang memenuhi ruangan itu.

“ Kenapa tak ada satupun bukti yang kita punya! “

Kali ini Baekhyun melemparkan kertas-kertas yang ada ditangannya itu. Ia berdiri bersandar disebelah jendela. Seperti butuh udara yang lebih untuk mengisi paru-parunya saat ini.

“ Tenanglah, aku akan membantumu Baekhyun-ah “

Kali ini Chanyeol ikut berdiri dan menghampiri sahabatnya itu.

Appa pasti akan marah besar, “

Mendengar hal itu Chanyeol hanya diam saja. Jika berurusan dengan ayah Baekhyun memang sedikit sulit dan menakutkan. Jujur, Chanyeol sedikit takut dengan Paman Tae Young. Tepatnya benar-benar sangat takut. Ayah Baekhyun memang tegas dan sedikit kejam. Saat ini dia sedang berada di Jepang, mengurusi cabang  perusahaan yang ada disana. Tetapi sebenarnya Paman Tae Young merupakan orang yang baik. Sejak Chanyeol lulus SMA, semua biaya kuliah di biayai olehnya. Bahkan ia mendapatkan pekerjaan saat ini karena Ayah Baekhyun.

Appa mengatakan akan kembali kesini minggu depan, apa yang harus kulakukan Chanyeol-ah “

Chanyeol melihat sahabatnya yang sedang kebingungan itu, walaupun sebenarnya dirinya sendiri sedang bingung.

“ Apa lebih baik kita serahkan saja ? Emm.. ataukah biarkan hukum yang menyelesaikan ?”

“ Apa kau bodoh ? Dua-duanya sama saja membunuh kita semua “

Chanyeol terdiam mendengar ucapan sahabatnya barusan. Ia tahu sekarang mood Baekhyun sedang tidak baik.

“ Arghh.. apa yang harus kulakukan! “ batin Chanyeol sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

“ Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu ? “ Tanya Chanyeol kepada Baekhyun.

Baekhyun kini kembali duduk dikursinya.

“ Aku kurang tahu, yang jelas ia ingin membuat keluargaku menderita. “

Chanyeol sedikit bingung dengan apa yang diucapkan Baekhyun barusan. Dia sendiri tidak tahu sejarah permasalahan keluarga Baekhyun tersebut.

“ Laki-laki itu adalah putra dari sahabat Appa, “

“ Sahabat paman Tae Young ? “

“ Aku memang tidak tahu kebenarannya yang benar-benar jelas. Setahuku ayahnya meninggal, sudah lama sekali. Kira-kira 10 tahun yang lalu, dan usaha yang kini kita jalankan sekarang ini  memang hasil kerja keras ayahnya dan Appa. “

Chanyeol mendengarkan dengan seksama penjelasan Baekhyun barusan. Wajahnya tampak  begitu serius saat ini.

Baekhyun melanjutkan ucapannya lagi.

“ Dan kematiannya memang berhubungan dengan Appa. Tapi aku tidak tahu penyebab kematiannya, Appa tidak memberitahuku. Yang jelas pria itu terlantar semenjak kematian ayahnya, ibunya meninggalkannya entah kemana.Appa tidak tahu itu semua, mungkin jika ia tahu hal itu pria itu akan tinggal bersama kami. Tapi dia menghilang entah kemana, dan sampai saat ini dia masih saja meneror keluargaku. Dan sekarang , dia ingin mengambil semuanya “

“ Jadi karena seperti itu,tetapi Kris Wu memang hebat. Dia bahkan bisa membangun usaha sendiri saat ini “ ujar Chanyeol yang disambut tatapan sinis Baekhyun.

“ Kehebatannya tak terlihat sedikitpun bagiku. Dia hanya menggunakan cara-cara kotor untuk itu semua. “

Chanyeol tak tahu ingin menanggapi apa, yang jelas memang ia sepikiran dengan apa yang barusan Baekhyun ucapkan.

“ Biarkan saja dia dulu, aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya “

Ucapan Baekhyun barusan disambut anggukan dari Chanyeol.

 

***

“ Ini untukmu “

Luhan memberikan kotak kecil yang ia bawa dari tadi kepada Nara. Entah apa isi kotak tersebut, luarnya tampak dibungkus rapi oleh kertas kado berwarna biru.

Nara menerimanya dengan bingung , di jungkir balikan kotak kecil yang ada di tangannya itu.

“ Apa ini ? “

“ Kau bisa membukanya dirumah nanti. Ingat, kau harus membukanya dirumah. Mengerti ? “

Nara hanya mengangguk sambil memasukkan kotak tadi kedalam tasnya.

Mereka berdua kini sedang duduk ditaman kota. Dibawah air mancur yang tak terlalu deras itu. Luhan menatap gadis yang ada disampingnya ini dengan seksama. Bibirnya tersenyum , menampakan senyuman manisnya yang mampu memikat hati para perempuan. Namun Nara tidak mengetahui itu , dia tampak berpikir saat ini. Tak tahu apa yang ia pikirkan, dia hanya memandang kedepan tetapi tak terfokus di suatu titik.

“ Kenapa kau semakin cantik Park Nara ? “ Tanya Luhan kepada Nara.

Nara tak menyadari ucapan Luhan barusan.

“ Park Nara ? “ ucap Luhan sambil mengayunkan tangannya tepat didepan wajah Nara.

“ Ah.. Ne ? Ada apa oppa ? “

“ Tidak jadi. “

Luhan menyandarkan punggungnya di kursi tersebut. Entah kenapa ia enggan untuk mengulangi ucapannya tadi.

Nara menatap Luhan sebentar, kemudian pandangannya kembali kedepan. Menunduk sebentar, sepertinya ia mengeluarkan air mata.

Mianhae oppa

Mianhae.. “

Ucapan Nara barusan membuat Luhan terkejut, Nara menangis ? Ada apa dengannya ?

“ Kenapa kau minta maaf, kau tidak salah apapun. Hapus air matamu sekarang. “

Luhan bingung saat ini, kenapa wanita begitu aneh. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan saat wanita menangis. Apakah ini karena kesalahannya ? Sepertinya dia tak melakukan apapun.

“ Sudahlah, kau jelek jika seperti ini “ ucap Luhan sambil menghapus air mata Nara.

Tatapan mata mereka bertemu, menyadari hal itu Luhan buru-buru memalingkan wajahnya.

Ia tak bisa pada posisi seperti itu. Jantungnya berdetak sangat cepat.Mungkin wajahnya merah saat ini.

Nara menghapus air matanya yang masih keluar itu. Ia sebenarnya ingin mengatakan apa yang terjadi kepadanya saat ini. Tapi entah mengapa itu begitu sulit. Ia juga tak ingin berbohong kepada Luhan.

Oppa.. “

“ Ne ? “

“ Ah.. tidak jadi “

Luhan menatap heran wanita yang ia cintainya itu. Ada apa dengannya saat ini ?

“ Katakanlah apa yang ingin kau katakan. “

“ Tidak ada yang ingin kukatakan. Aku hanya melakukan apa yang oppa lakukan tadi. “

“ Dasar, anak nakal “ ucap Luhan sambil mengacak-acak rambut Nara.

“ Selalu seperti ini, “ Nara menyingkirkan tangan Luhan yang ada dikepalanya saat ini.

Luhan tertawa melihat ekspresi wajah Nara saat ini.

“ Apakah kau berakting barusan ? Kenapa kau begitu hebat mengeluarkan air mata.. “

“ Apakah barusan terlihat seperti akting ? “

Luhan tak menjawab, ia hanya menaikkan kedua pundaknya, dengan maksud seolah tidak tahu.

Oppa, aku ingin pulang sekarang “

Nara berdiri dari duduknya sambil membawa barang belanjaannya itu.

Luhan menahan tangan Nara yang ingin pergi itu.

“ Jangan pergi, “

“ Aku harus segera pulang Oppa, “

Luhan berdiri sejajar dengan Nara sekarang.

“ Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku ? “

Pertanyaan Luhan barusan membuat Nara terkejut. Apakah Luhan curiga dengannya saat ini ?

“ Apa maksud Oppa ? “

“ Katakanlah yang ingin kau katakan padaku “

Nara menelan ludahnya, apakah seseorang yang ada dihadapannya kini dapat membaca pikirannya ?

“ Aku hanya ingin pulang, hanya itu.. “ ucap Nara sambil mencoba melepaskan tangan Luhan yang menahannya itu.

“ Kalau begitu ayo, “

Luhan menarik tangan Nara yang kini berjalan mengikutinya itu.

“ Bukankah kita searah ? “

“ Apakah benar ? “ Tanya Nara memastikan,

“ Tenang saja, aku hafal jalan rumahmu itu. Kau tidak lupa kan ?  “

“ Aku sudah ingat dengan jelas, bahkan jumlah pohon yang ada di situ aku mengingatnya semua. “

“ Aku tidak percaya “

“ Ya! Aku tidak berbohong Oppa.. “

“ Sebaiknya kita mampir minum kopi dulu, “ ucap Luhan dengan semangat.

Oppa, kita pulang saja.. “

 

***

Chanyeol sedang fokus menyetir saat ini. Baekhyun yang ada disebelahnya kini sedang sibuk dengan ponselnya. Pesan masuk dengan nama pengirim Kris Wu itu masih ia cermati dengan seksama.

“ Dimana dia ingin bertemu ? “ Tanya Chanyeol kepada Baekhyun.

“ Lurus saja, di Kafe yang biasa kita kunjungi itu “ ucap Baekhyun santai.

Dia mengecek semua berkas yang ia bawa saat ini. Seperti memastikan tak ada yang tertinggal satupun.

“ Apakah dengan melakukan kerjasama ini akan menyelesaikan semua masalah saat ini ? “

Tanya Chanyeol.

“ Kuharap seperti itu, aku tak ingin dia berbuat nekat “

Chanyeol mengangguk pelan atas ucapan Baekhyun barusan.

“ Tapi kau harus tetap berhati-hati Baekhyun-ah, bukan berarti dia benar-benar ingin bekerjasama.”

“ Apakah aku terlihat bodoh bagimu, aku juga sudah memikirkan itu semua. “

Chanyeol hanya diam saja, ia tak ingin memperparah suasana saat ini.

“ Dia mengatakan sudah sampai disana “ Baekhyun membaca pesan masuk yang ada di ponselnya itu.

“ Benarkah ? Apakah dia sudah berada disana dari tadi ? “

“ Mana kutahu, “

Chanyeol semakin mempercepat laju mobilnya.

“ Belok kiri, berhenti disana “ ucap Baekhyun kepada Chanyeol.

Saat memarkirkan mobil mereka tak sengaja Chanyeol melihat Nara. Tapi dia tak terlalu yakin bahwa itu Nara, makanya dia tak terlalu memikirkannya. Lagian tidak mungkin Nara bersama dengan seorang pria.

Mereka berdua turun dari mobil dan segera menuju ke dalam Kafe tersebut.

“ Apakah kau ingat wajahnya ? “ Tanya Baekhyun sambil menatap kearah Chanyeol.

“ Apakah kau lupa Baekhyun-ah ? “ balas Chanyeol sedikit tertawa.

Setelah memastikan bahwa orang yang ditemuinya itu benar. Mereka menuju meja yang ada di pojokan sana. Terlihat seorang pria dan wanita, wanita yang sangat familiar bagi seorang Park Chanyeol.

Ekspresi wajahnya berubah saat itu juga. Baekhyun yang menyadari itu hanya bingung melihat sahabatnya tersebut.

“ Maaf kami terlambat, “ ucap Baekhyun sambil duduk di kursi yang ada didepan mereka.

Begitu pula dengan Chanyeol, matanya tak menatap wanita yang tepat dihadapannya saat ini.

“ Kenapa posisinya seperti ini “ batin Chanyeol.

“ Kau tidak terlambat Byun Baekhyun, kalian bisa minum dulu “ ucap pria berambut blonde yang bernama Kris itu.

Melihat lawan bicaranya hanya diam saja, buru-buru ia menambahi.

“ Apakah aku perlu meminumnya dulu ? Tenang saja, aku tidak memberikan setetes racun apapun “ ucapnya sambil tertwa kecil.

“Bisakah kita mulai saja ? Aku tidak punya waktu lebih saat ini. “ ucap Baekhyun santai.

“ Wow.. hebat sekali.Direktur Byun Baekhyun memang tak punya waktu lebih hanya utnuk bertemu dengan seseorang yang memang kurang penting sepertiku. Oh ya, sepertinya kau harus berkenalan dengan rekanku ini. Dia yang akan menangani kerjasama kita, silahkan nona Jung  “

“ Jung Han Ni, senang bertemu denganmu Baekhyun-ssi. “

Ucap wanita yang ada disebelah Kris itu.

“ Sama-sama nona Jung, ini Park Chanyeol. Dia yang akan menjadi rekan kerjamu nanti. “

Hanni menatap Chanyeol yang kini menatapnya dengan tajam. Seolah tak ingin mereka tahu akan kecanggungannya dengan Chanyeol, ia berusaha untuk lebih rileks.

“ Senang bertemu denganmu Chanyeol-ssi, kuharap kita bisa saling membantu. “ ucap Hanni sopan.

“ Ne, aku juga berpikir demikian “ jawab Chanyeol yang sedari tadi diam saja.

Dia masih saja menatap gadis yang ada dihadapannya ini.

“ Ini, kau hanya perlu tanda tangan disini “ ucap Kris sambil memberikan kertas dan bolpen yang memang sudah ia siapkan.

“ Untuk lebih lanjut, kau bisa tanyakan kepada Nona Jung. Mulai besok dia akan bekerja di kantormu. “ tambahnya lagi.

Baekhyun menatap kearah Chanyeol seperti menyurhnya sesuatu. Mengerti akan apa yang sahabatnya inginkan dia mengeluarkan map dari tas yang ia bawa tadi.

“ Ini dari kami, kalian bisa mengeceknya sekarang. “ ucap Chanyeol sambil memberikan map tersebut kepada Hanni.

Baekhyun sedang membaca isi kertas yang diberikan Kris tadi.

“ Sebenarnya aku sudah memberitahu tentang kerjasama ini dengan istrimu.. “

Baekhyun menatap pria yang ada dihapannya itu , mencermati ucapannya barusan.

“ Bukan memberitahu, .. aku ingat, aku sudah memberikan surat tandatangan kontrak seperti ini kepada istrimu. Apakah dia tidak memberikannya kepadamu ? “ Tanya Kris

Baekhyun dan Chanyeol seperti tak percaya akan ucapan Kris barusan. Kapan dia bertemu dengan Nara.

“ Apakah yang kau maksud, Nara ? “ Tanya Baekhyun memastikan.

“ Ya, kami bertemu dengannya di Pesta kemarin. Apakah dia tidak memberikan surat itu kepadamu Baekhyun-ssi ? “ ucap Hanni yang masih sibuk dengan map yang ada dihadapannya itu.

Baekhyun berpikir sejenak, kenapa laki-laki ini melibatkan Nara dalam hal ini. Apakah benar yang mereka katakan barusan.

“ Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula sekarang suratnya sudah ada ditanganmu Baekhyun, isinya sama persis. “

Kris meminum kopi yang sudah mulai dingin itu. Sambil terus menatap Baekhyun yang ada didepannya itu. Bibir tipisnya tersenyum, seolah ada hal yang memang menyenangkan baginya saat ini.

“ Kenapa kau menitipkan kepada Nara ? Kau bisa memberikan kepadaku langsung “

Ucap Baekhyun setelah menandatangani kertas tersebut. Ia menyerahkan kertas tersebut kepada Hanni.

“ Kami tidak bertemu denganmu, saat bertemu dengan istrimu kukira lebih baik menitipkan itu padanya. Tak kusangka ia lupa memberikan kepada suaminya yang tercinta ini. “ jawab kris sedikit menyindir.

“ Sepertinya kami harus pergi sekarang. Nona Jung, kau bisa dating ke kantor kami besok. “

“ Keluarga Byun memang benar-benar orang yang sibuk. Silahkan, semoga kerjasama dengan perusahaan kami yang tak seberapa ini membuahkan hasil yang .. ya begitulah. “

Baekhyun tak tahan dengan pria yang ada dihadapannya kini. Ia sudah muak mendengar ucapannya dari tadi. Sepertinya dia memang harus segera pergi dari sini.

 

***

 

 

“ Satu jam lagi kita pulang. “ ucap Luhan sambil meminum kopi yang ia pesan tadi.

Nara yang ada didepannya hanya menatap kosong pemandangan diluar sana.

“ Hey.. apa kau tidak bahagia bersamaku ? “

“ Ne “ ucap Nara asal, sebenarnya dia benar-benar memang ingin pulang saat ini.

Luhan menjadi tak bersemangat saat ini. Apa yang harus dilakukannya sekarang.

“ Kalau begitu kau harus membuka kotak yang kuberikan tadi. “

Nara menatap Luhan sejenak, kemudian mengambil benda yang dimaksud Luhan tadi.

Jujur saja dia memang penasaran akanisi kotak tadi.

“ Benarkah? Aku sangat penasaran Oppa, “

Luhan hanya tersenyum melihat wanita yang ia cintai itu sedang membuka kotak tersebut.

Oppa ? “ Nara menatap isi kotak tersebut tak percaya.

“ Walaupun cincin itu sudah pernah kau pakai, tapi aku ingin kau memakainya lagi. “

Cincin itu adalah cincin couple mereka saat di China.Nara mengatakan bahwa saat ia menikah nanti ia menggunakan cincin ini. Yang pasti Luhan yang akan menjadi pasangannya. Itulah yang diucapkan Nara saat itu. Dulu punya Nara hilang, bahkan sampai ia menangis-nangis saat mencarinya. Tapi tidak pernah ketemu. Dan sekarang cincin itu sudah ada dihadapannya.

“ Apakah kau tidak menyadari bahwa aku selalu memakainya “ ucap Luhan sambil memperlihatkan cincin yang ada di jari manisnya itu.

“Tapi sekarang aku tidak ingin seperti dulu lagi Nara. Aku tidak hanya ingin menjadi kakakmu… “

Ucapan Luhan terhenti, dia mengambil cincin yang ada di tangan Nara itu.

“ Dulu aku hanya asal bicara Oppa, bagaimana mungkin kau mempercayai ucapan itu. “

“ Aku mencintaimu Park Nara, lebih dari seorang kakak kepada adiknya. “

Ucapan Luhan barusan membuatnya terkejut. Benarkah saat ini Luhan sedang menyatakan perasaannya kepadanya.

Andai takdirnya tidak seperti ini mungkin saat ini dia akan merasa bahagia sekali.

Tetapi, keadaannya berbeda sekarang.

Oppa, aku.. “

“ Kau tahu, betapa khawatirnya aku saat kau pergi. Ayah dan Ibu tidak menjelaskan detail, aku takut kau kenapa-kenapa. Dan kemarin aku bertemu denganmu, kau tahu ? Aku sangat bahagia Park Nara, aku benar-benar merindukanmu “

Oppa..”

Nara bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Mereka terdiam beberapa saat, keduanya tak mengucapkan sepatah katapun.

“ Nara ? Apa yang kau lakukan disini ? “

Suara yang familiar itu mengejutkan Nara, ia menatap tak percaya pria yang ada dihapannya kini.

“Chanyeol-ah kenapa kau meninggalkan–”

Seseorang yang datang lagi itu membuat Nara tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun.

Apa yang harus kulakukan sekarang. Nara, habislah kau saat ini.

“ Nara ? “ ucap Baekhyun tak percaya.

———————————————————————————————————————

 

 

 

 

-tbc-

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “FF: BABY DON’T GO Part 5b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s