Don’t Go part 3a

20131225090542

Title : Hurt

Author : Exowie

Main Cast : Chanyeol ~ Baekhyun ~ Jongin ~ Sehun ~ Byun Haera ~ Shin Haesul and others

Genre : Romance Drama, Sad, Comedy (little) dan cari tahu sendiri hehe

Rate : PG-15

Length : Chapter

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bosan mentari itu bersembunyi di balik awan gelap yang beberapa hari ini menghiasi langit kota Seoul. Tak malu lagi sang Surya itu menampakkan diri memberi kehangatan pada udara yang menggigit kulit di pagi hari pada musim gugur sekarang. Sinarnya kini bebas masuk diantara celah jendela yang sedikit terbuka di ruangan Apartment lantai enam itu. Menemani seorang gadis yang diam memaku memandang sarapan yang sama sekali tak di sentuh oleh pemuda yang biasanya akan protes karena rasanya yang sulit di terima lidah.

Jika boleh jujur, Haera, gadis itu juga ingin mendengar kalimat ‘bodoh ! Aku berangkat’ yang selalu keluar dari mulut pemuda tinggi itu setiap kali akan pergi ke sekolah. Namun nihil, hari ini ia tak mendapat kalimat yang memang tak begitu enak di dengar masuk ke telinganya. Bahkan pemuda itu tak membalas sapaannya pagi ini.

Tanpa Haera ketahui, Chanyeol memang sengaja mendiaminya karena apalagi kalau bukan kekecewaan yang Ia rasakan terhadap Haesul kemarin lusa.  Membuat Chanyeol mencari kambing hitam untuk melampiaskan rasa yang masih membekas di hatinya itu.

Chanyeol sampai rela tak keluar kamar hari Minggu kemarin hanya untuk menghindar bertatap muka langsung dengan Haera. Dan untuk pagi ini, Chanyeol menutuskan bangun dan berangkat lebih awal agar tak melihat wajah polos Haera. Tapi sial baginya, Haera ternyata juga bangun lebih pagi tengah bergulat di dapur untuk membuat sarapan. Dan dengan wajah tak bersalah andalan gadis itu, Haera menyapa Chanyeol dimana sebelumnya pemuda itu sudah berjanji takkan membalas celoteh apapun dari gadis itu. Dan yah… dengan ego yang cukup tinggi yang ia miliki, Chanyeol  berhasil menjalani misi itu meski dengan berat.

Melangkah memasuki pintu lift yang terbuka, Chanyeol memencet tombol B1 menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Sebenarnya dia jarang membawa mobil dan lebih memilih naik bus dengan dalih lebih hemat uang bensin. Kecuali, kalau pemuda itu ketinggalan bus karena kesiangan bangun. Atau untuk kasus akhir-akhir ini yang ia alami bukan karena kesiangan yang membuatnya ketinggalan bus. Tak bukan karena menunggu gadis bodoh yang memonopoli kamar mandinya setiap pagi.

Kembali ke Chanyeol yang hari ini mengapa tak naik bus padahal transportasi itu belum lewat meninggalkannya seperti empat hari yang lalu. Itu karena Chanyeol sengaja ingin mengantar Haesul pulang sekalian meluruskan kesalah pahaman yang telah terjadi.  Meski hal itu tak mengobati kekecewaan hatinya, setidaknya Chanyeol ingin Haesul  tahu kalau dia sama sekali tak punya hubungan  apapun dengan Haera.

Dengan mengemudi berkecepatan sedang, Chanyeol sudah memasuki area sekolahan yang sudah tiga tahun ini menjadi tempat belajarnya dalam waktu kurang lebih setengah jam. Terima kasih pemuda itu ucapkan untuk kedua orang tuanya terkasih yang sudi membelikan Apartment yang cukup dekat dengan sekolahannya sekarang. Karena sebelum tinggal di Apartment itu, Chanyeol harus bangun  sebelum matahari terbit untuk sampai ke sekolahannya yang memakan waktu satu setengah jam perjalanan.

Sebenarnya, ada juga sekolahan Swasta maupun Negeri yang berdiri kokoh  berdekatan dengan rumahnya. Tanpa harus membuat pemuda itu tersiksa bangun  di pagi buta setiap hari selama hampir 2,5 tahun terakhir ini.  Kecuali hari libur Sabtu, Minggu tentunya. Lalu mengapa Chanyeol mau melakukan hal itu ? Jawabannya tentu saja karena Haesul. Ya, karena Chanyeol ingin berada satu sekolah dengan teman gadis yang tanpa permisi sudah mencuri hatinya itu. Niat memang, tapi  hal itu wajar kok. Siapa sih yang nggak tahu cinta itu gila ?

“Sejak kapan kantin pindah di sini?” Decak Chanyeol heran melihat banyaknya siswa yang berkerubung tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil. Entah apa yang mereka lakukan yang jelas membuat Chanyeol ingin melihat ada apakah gerangan di  balik kerumunan itu.

Menyambar tas di jok sampingnya, Chanyeol keluar dan berjalan menghampiri gerombolan murid di iringi rasa penasaran yang menggerogotinya.Dengan tinggi di atas rata-ratanya, membuat Chanyeol tak kesusahan melihat meski Ia berada di belakang.

“WOW… gila! Siapa yang membawanya!?”

Seru Chanyeol kagum mendapati sebuah mobil Ferrari Spider merah terparkir indah di  tengah kerumunan itu. Penyebab dan  juga sumber dari kehebohan yang terjadi di sekolahannya pagi ini. Puas melihat atau lebih tepatnya tak mau berdesakan dengan murid yang terus berdatangan, Chanyeol memilih meninggalkan tempat parkir.

Berjalan santai Chanyeol menuju lantai dua di mana letak kelasnya berada. Langkahnya terhenti di tangga saat lagi-lagi matanya melihat hal ganjil yang terjadi untuk kedua kalinya setelah tempat parkir tadi.

“Hari ini ada pembagian sembako ?”

Kata random meluncur begitu saja dari Chanyeol mengomentari banyaknya murid perempuan yang berkumpul di depan ruang guru. Untuk hal ini, Chanyeol tak berminat mencari tahu dan memilih untuk menaiki tangga lagi. Paling tak jauh karena ada murid baru. Pikir Chanyeol dalam hati.

Sampai di depan pintu yang bertuliskan XII.2 Chanyeol tersenyum simpul. Meski bukan kelasnya, sudah menjadi hal biasa baginya keluar masuk ruangan itu. Duduk di atas meja seorang gadis, Chanyeol membuka suara.

“Pagi nona….”

“Chanyeol-ah kau sudah datang ? Hey kau harus lihat ini. Tara….” Gadis itu berdiri mengangkat dan menggoyangkan kaki sebelah kanannya senang.

“Ya Haesul, kau tak ingat berapa umurmu sekarang ? Mengapa kau masih seperti anak kecil ha !?”

“Kenapa kau begitu!” Haesul, gadis yang berbinar bahagia memperlihatkan sepatu barunya pada Chanyeol itu menghentakkan kakinya ke lantai dan duduk kembali. Wajah yang tadi terlihat bersemangat  senang menjadi raut jengkel karena ejekan yang Chanyeol berikan untuknya.

“Hahaha, iya iya. Gitu aja ngambek. Bagus kok. Ntar pulang sekolah aku antar ya.”

“Ha? Hari ini kau bawa mobil ?  Nggak nggak, nggak usah. Arah jalan pulang kita berlawanan.  Aku tak mau membuatmu repot karena harus bolak-balik menghabiskan waktu di jalanan. ”

“Jangan protes. Ini bentuk permintaan maaf karena sikapku barusan. Gak lebih. Jadi kali ini kau tak boleh menolak. Lagi pula kau lupa aku sudah pindah tempat tinggal ha ?” Kilah Chanyeol dusta. Tentu saja itu hanya sebuah alasan. Bukannya pemuda itu sudah ada niat untuk itu saat berangkat tadi ? Karena Chanyeol tahu, Haesul pasti akan menolak niat baiknya itu.

“Em… tapi kan tetap saja arahnya berbeda. Aku….”

“Kau tak perlu khawatir. Aku takkan merasa capek jika hanya melakukan hal itu.” Potong Chanyeol cepat. Terlihat kini Haesul sedang berpikir sejenak.

“Em…baiklah. Tapi beneran gak ngrepotin lo ya…. ”

“Ngrepotin sih. Tapi yah… mau gi mana lagi. Dari pada ada orang ngambek.” Canda Chanyeol sembari meloncat turun dari meja.

“Ye… siapa yang ngambek.” Seru Haesul jengkel karena rambutnya yang baru diacak orang yang kini pergi ke kelasnya sendiri.

Chanyeol keluar dengan senyum bertengger di bibir. Tangannya Ia kepalkan di depan dada sembari mengeluarkan kata “yes” berkali-kali. Bohong jika Ia tak merasa senang. Pasalnya selama berada satu sekolah dengan Haesul ini adalah kali kedua Chanyeol bisa mengantar gadis itu pulang. Bukannya pemuda itu tak mau, justru Haesul-nya yang merasa tak enak. Karena Haesul sendiri tahu betapa jauh jarak rumah Chanyeol dan sekolahannya ini. Haesul tak mau membebani Chanyeol dengan menerima tawaran antaran pulang itu.  Lagian gadis berlesung pipi itu juga selalu di jemput ibunya yang selalu pulang dari toko rotinya tepat jam pulang sekolah.

Sesampainya di kelasnya XII.5, Chanyeol mendaratkan bokongnya  di bangku pojok kelas. Tempat yang Chanyeol anggap paling aman agar tak ketahuan jika ia tak memperhatikan guru Biologinya yang berambut botak dan sedikit keriput itu menerangkan mata pelajarannya di depan. Chanyeol bersikap seperti itu sama sekali tak bermaksud kurang ajar pada orang yang jauh lebih tua darinya itu. Tapi memang pelajaran itu adalah pelajaran yang teramat sangat pemuda itu benci. Ketidak sukaannya berawal dari dulu saat guru Biologi kelas X-nya menyuruh satu persatu murid melakukan pembedahan pada hewan  yang masih bernyawa. Sekedar mengingatkan, Chanyeol adalah orang yang selalu menghindar sekaligus jijik dengan sesuatu yang berbau medis. Karena peristiwa itu membuatnya tak berselera makan hingga jatuh sakit sampai berhari-hari. Dan mengharuskan benda  yang ia takuti berujung lancip itu menembus kulitnya. Jarum suntik. Ya, memang itulah benda yang sebisa mungkin Chanyeol jauhi dalam hidupnya. Aneh memang, mengingat ayahnya berprofesi sebagai seorang Dokter tapi Chanyeol sendiri menganggap itu semua adalah momok yang menyeramkan.

Tak berselang lama Chanyeol duduk, bel tanda masuk berbunyi. Seluruh siswa yang masih berada di luar masuk di ikuti wali kelas yang merangkap jadi guru pelajaran pertamanya bahasa Inggris itu yang tumben masuk lebih cepat. Karena pada hari biasanya guru muda nan cantik itu baru tiba di kelas sepuluh menit setelah bel masuk. Heran sih. Tapi Chanyeol lebih heran lagi melihat orang yang tidak pernah Ia lihat masuk dan berdiri di depan kelasnya sekarang.

Untuk kedua kalinya setelah kejadian di kereta belum lama ini tentunya , Chanyeol memperhatikan orang yang berjenis kelamin sama dengannya begitu lekat. Bukan karena pemuda di depan sana itu sedang mabuk atau bertingkah aneh. Justru sebaliknya. Dalam pengelihatan Chanyeol, pemuda berkulit putih dengan rambut hitam pekat yang dibiarkan bagian depan menutupi dahinya itu terlihat tampan. Walau hanya memakai seragam yang sama dengan semua murid di sekolahan itu tak membuat  kadar karismanya berkurang. Dengan tinggi sekitar 175 cm-an lumayan perfect-lah untuk pemuda  bertubuh kurus itu. Dan ini merupakan waktu pertama kali bagi Chanyeol memberi pujian terhadap orang yang baru ia lihat. Walau ungkapan itu hanya terucap dalam hati.  Tapi tunggu dan percayalah, bukan hal itu yang menarik perhatian Chanyeol hingga terus menatap pemuda yang tersenyum manis itu tanpa berkedib.

“Pagi semua.”

“Pagi Mrs.” Jawab seluruh murid kompak menyahut sapaan guru mereka.

“Ya langsung saja saya katakan sebelum pelajaran di mulai. Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru. Untuk lebih tahu tentangnya, kita dengar bersama siapa dia. Silahkan.” Mrs. Lee, sapaan akrab guru muda itu memberi seulas senyum dan mempersilahkan pemuda  yang berdiri di sampingnya untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

“Hai semua, senang bertemu dengan kalian. Namaku Byun Baekhyun. Semoga nyaman dengan kehadiranku di sini. Terima kasih.”

“Ya Baekhyun, kita juga senang kedatangan siswa baru sepertimu. Sekarang silahkan duduk di bangku kosong belakang sana untuk memulai pelajaran hari ini.”  Ucap Mrs. Lee mewakili muridnya yang kini grasak-grusuk menyambut kedatangan murid baru bernama Baekhyun itu. Khusus untuk murid perempuan, ada yang menatap Baekhyun tak berkedip barang sekalipun dari pertama masuk kelas hingga pemuda itu berjalan menghampiri bangku di sebelah orang bertubuh jangkung itu. Yang memang kebetulan menjadi tempat satu-satunya yang tersisa karena murid yang dulu menempatinya pindah ke luar negeri sekarang.

“Park Chanyeol ! Bisa kau  geser ke samping untuk memberi  Baekhyun tempat duduk ?”

“Ha ? Oh ye, tentu Mrs.”

Teguran dari Mrs. Lee membuat Chanyeol sadar dari kediaman yang sedari tadi Ia lakukan. Sampai tak sadar orang yang bernama Baekhyun itu kini sudah berdiri di sampingnya.

Deg ! Chanyeol melewatkan satu detakan jantungnya saat matanya beradu tatap dengan Baekhyun. Grogi secara tiba-tiba menyerangnya saat pemuda pemilik bibir tipis itu tersenyum dengan jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Dan memang senyuman  itu hanya ditujukan untuk Chanyeol. Tenang, jangan sampai salah mengartikan sikap Chanyeol itu sebagai rasa yang kini pemuda itu  berikan pada Haesul. Chanyeol tetaplah pemuda normal dan cukup waras jika harus menyukai sesama jenis.

“Hai senang bertemu denganmu em… Chanyeol-ssi. Semoga bisa bersahabat mulai sekarang.” Ucap Baekhyun setelah duduk  sambil mengingat nama yang tadi ia dengar dari gurunya.

“I… iya mari, mari berteman baik hehe.” Jawab Chanyeol yang entah mengapa mulutnya terasa kaku untuk bicara. Membalas jabatan tangan itu, Chanyeol tersenyum paksa karena pikirannya masih dikuasai rasa penasaran yang dari tadi terus terngiang di otaknya.

“Ya mari.” Timpal Baekhyun singkat.

Selama duduk di tempat itu pula, senyum Baekhyun tak pernah lepas dari bibirnya di sela kalimat yang keluar untuk Chanyeol. Tetapi hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala saja oleh pemuda tinggi itu. Mrs. Lee yang sudah terdengar memulai kelasnya dari depan, tak membuat Chanyeol tertarik untuk mendengarkan  celotehnya seperti hari biasa. Karena pelajaran bahasa Inggris termasuk dalam kategori yang Chanyeol sukai. Meski sudah membuka buku tugasnya, pemuda itu masih saja bergelut dengan pikiran yang dari tadi terus berkelibat memaksanya tuk berpikir. Melirik ke arah Baekhyun yang sedang serius mendengarkan pelajaran, Chanyeol berguman dalam  hati.

“Sepertinya aku kenal baik dengan senyuman itu. Tapi… aku yakin bukan berasal darinya. Lantas siapa ?”

=*+*=

Seluruh murid berhambur keluar kala berdering nyaring bel istirahat pertama berbunyi. Berduyun menuruni anak tangga yang menghubungkan dengan lantai dasar, secara bergerombol mereka mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengganjal perut yang terus meraung meminta asupan. Memenuhi kantin sekolah yang tak diragukan lagi lezatnya menu yang tersedia.

Tak terkecuali Chanyeol dan Baekhyun. Dua orang yang baru berkenalan beberapa jam lalu itu dengan mudahnya sudah terlihat dekat dan akrab. Karena kedua dari mereka ternyata memiliki sifat yang hampir mirip satu sama lain. Salah satunya yaitu banyak omong. Karena hal itu membuat mereka tak lagi canggung karena obrolan yang tidak ada putusnya sedari tadi.

Setelah nampan mereka terisi dengan makanan yang mereka pesan, Chanyeol mengarahkan Baekhyun untuk duduk di sudut kantin dekat jendela. Tempat yang secara sepihak Chanyeol klaim sebagai miliknya sejak pertama masuk sekolah dulu bersama Haesul. Gadis yang selalu menemaninya makan saat istirahat jika tidak ada rapat Osis seperti hari ini. Toh Meskipun begitu tak ada yang protes akan sikapnya itu. Karena tempat yang tersedia di sana cukup banyak dan tak perlu khawatir jika siswa lain tak kebagian tempat duduk.

“Selamat. Kau hebat Baekhyun-ssi.”

“Selamat ? Untuk apa ?” Tanya Baekhyun setelah menelan gumpalan makanan di mulutnya dengan dahi berkerut bingung.

“Apa aku harus menjelaskannya untukmu ?” Chanyeol melempar pertanyaan sebagai jawaban untuk Baekhyun. Melihat Baekhyun yang semakin mengerutkan dahinya, ia berujar kembali. “Coba lihat di sekitar kita sekarang. Belum lagi tadi pagi kau sukses membuat gempar seisi sekolahan dengan yang kau bawa di tempat parkir itu.”

Baekhyun menuruti perkataan Chanyeol. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang kebanyakan berisikan siswa putri itu. Dia benar-benar tak sadar jika kehadirannya di sana sudah menjadi pusat perhatian. Bukannya Baekhyun percaya diri. Hanya melihat gelagat dan tatapan para siswa di sana saja ia sudah tahu kalau mereka sedang memperhatikan dan membicarakannya sekarang. Bahkan ada juga salah seorang dari mereka yang nekat mengedipkan satu mata ke arahnya untuk mencari perhatian mungkin. Membuat Baekhyun salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Masih belum paham ?” Tanya Chanyeol sekali lagi sembari menaik turunkan alisnya membuat Baekhyun terkikik geli.

“Kau berlebihan Chanyeol-ssi.” Ucap Baekhyun yang belum bisa menghentikan tawanya.

Chanyeol ingin menimpali elakan Baekhyun yang tak mau mengakui kepopulerannya saat masuk sekolah di hari pertamanya ini. Tapi Chanyeol memilih menundanya nanti  saja saat ekor matanya menangkap dua orang dengan tinggi badan yang hampir sama berjalan menghampiri mejanya. Chanyeol menatap wajah dua orang yang dulu tanpa sengaja ia temui saat menghampiri Haera yang sudah larut  malam belum juga balik dari warnet tempat tongkrongan favorit gadis itu. Dan jika tidak salah, pemuda yang berkulit sedikit gelap itu pernah datang ke apartemennya untuk mengantar buku titipan Haera.

“Ada apa ?” Chanyeol langsung bertanya tanpa mau membuang waktunya untuk menerka ada apa gerangan dua orang yang memiliki warna kulit yang kontras berbeda itu menemuinya. Perasaannya mengatakan jika kedatangan mereka berdua ada hubungannya dengan Haera. Dan jika sudah menyangkut gadis bodoh itu pasti ujung-ujungnya merugikan baginya. Karena Chanyeol bisa mencium bau yang tak enak dari dua orang yang tersenyum di buat semanis mungkin itu ke arahnya .

“Selamat siang Chanyeol hyung dan em….”

“Baekhyun.”

“Dari mana kau tau. Kau bapaknya ?”

“Ya kali…,” pemuda berkulit gelap itu memutar bola matanya malas menjawab pertanyaan dari teman sekaligus sepupunya itu.  Tak mau membuang waktu ia berujar kembali.”Mangkanya jangan hanya Hyori saja yang ada dalam otakmu sampai berita terpanas sekolah saja kau tak tau.”

“Hentikan omong kosongmu Kim Jongin.”

“Memang itu kenyataannya Oh Sehun.”

“Aku bungkam mulutmu atau cepat beri tau bagaimana bisa kau mengetahui nama orang itu.” Kesabaran orang berkulit putih bernama Sehun itu mulai habis. Dia paling tidak suka jika ada orang yang mengaitkan nama Hyori dengannya.

Jongin, pemuda berkulit gelap yang melihat aura neraka terpasang di wajah Sehun tak mau ambil resiko dan segera menjawab pertanyaannya dengan berbisik.

“Siapa yang tak tau namanya. Dia adalah siswa pemilik mobil sport mewah yang tadi kita lihat itu.”

“Benarkah ?” Mendengar jawaban Jongin, membuat raut wajah Sehun yang sempat keruh tadi berubah seketika. Masih dengan  berbisik, Sehun bertanya  kembali pada Jongin. “Ya Jong, apa kau tak berminat menjadikannya teman kita. Pasti keren tu kalau kita bisa meminjam mobilnya sebentar hehe. Aduh ! Ya mengapa kau memukulku.” Protes Sehun karena kepalanya yang dijitak lumayan keras.

“Orang yang dari awal berniat tak benar kelak jalannya tak lurus. Lagian kau lupa tujuanmu kesini untuk apa ?”

“Oh iya, kau benar. Ini.” Sehun menyerahkan kertas yang tadi ia genggam ke Jongin.

“Kenapa harus aku ?”

“Karena kau hitam.”

“APA HUBUNGANNYA!!”

“Itu kelebihan yang kau punya hingga membuatmu terlihat tampan saudaraku.”

“Ah… baiklah.” Emosi Jongin yang tadi sudah naik ke atas turun kembali ke bawah manakala Sehun dengan lidah licinnya berhasil mengecoh Jongin dengan pujian. Cara sederhana tapi berdampak besar menangkal kemarahan pemuda itu. Meskipun memang kenyataan lelaki itu memiliki kulit yang lebih gelap dari penduduk di sana, Jongin tak mau diejek hitam. Dia akan lebih bangga jika orang menyebut kulitnya itu eksotis. Entah dari mana Jongin mendapat kata itu.

Sementara di sisi lain, Chanyeol dengan jengah memandang dua orang itu secara bergantian. Dalam hati mengutuk Haera karena tak habis pikir bagaimana bisa gadis itu berteman dengan orang sejenis mereka. Datang menghampiri orang tapi sesampainya di tempat ribut sendiri membuatnya ingin menendang jauh-jauh keduanya. Tapi Chanyeol pikir sekali lagi, wajar dan cocok juga sih. Karena menurutnya, Haera termasuk dalam spesies yang sama dengan kedua orang yang masih sibuk berbisik terlewat keras untuk di dengarnya sekarang. Hanya satu kata, sama-sama aneh.

“Ehm ! Maaf sudah membuat kalian menunggu. Jadi kedatangan kita ke sini untuk menyerahkan sekaligus meminta pertanggung jawaban ini.” Jongin menyerahkan kertas itu ke Chanyeol.

“Apa ini ?” Chanyeol membaca gulungan kertas yang mirip nota pembayaran itu heran sekaligus tak mengerti. Memandang dua orang yang berdiri itu, ia menatap meminta penjelasan.

“Begini, maaf sebelumnya jika kita melakukan cara ini. Tapi karena saudara hyung bernama Hae….”

“Tak usah berbelit-belit, cepat katakan apa mau kalian. Telingaku sudah panas mendengar omongan tak jelas kalian.” Chanyeol tak sabar dan memotong cepat ucapan Jongin yang belum semuanya keluar. Membuat orang yang bersangkutan menekuk wajahnya empet karena perbuatan tak sopan Chanyeol.

Sehun yang melihat itu, bergegas mengambil alih untuk bicara. Karena bagaimanapun juga ini adalah masalahnya. Jongin hanya sekedar membantu karena merasa terbebani jika harus membagi uang sakunya selama satu minggu ini.

“Kami hanya ingin meminta uang sebagai pengganti saudara hyung yang belum membayar uang sewa internet selama lima hari. Dan sejujurnya, warnet kami tak mengijinkan namanya berhutang. Karena Oemma mengetahuiku memberi pinjaman ke saudara hyung, oemma marah besar dan menyuruhku untuk segera menagihnya.” Jelas Sehun menggigit bibir bawahnya setelah menyeleseikan kalimatnya. Ia merasa tak enak pada Haera sekaligus bersalah pada ibunya. Karena dengan tega ia menjadikan mereka sebagai kambing hitam dalam kasusnya ini. Sebab Haera berjanji akan melunasi hutangnya dalam waktu dekat. Sementara ibunya, Sehun benar-benar ingin berlutut di hadapan wanita itu setelah pulang sekolah sore nanti sebagai penebus kekurang ajarannya. Karena ibunya benar tak tahu menahu masalah yang menimpanya kini apalagi membuat peraturan yang baru Sehun ucapkan barusan.

Memang semua yang diucapkan Sehun itu adalah sebuah kebohongan belaka. Kecuali Haera yang memang sudah menunggak sewa internet selama lima hari itu. Dia melakukan itu tak lain karena ingin mendapatkan uang. Sehun yang ketahuan ayahnya sebagai pelaku pemecahan guci yang sebenarnya waktu itu di hukum dengan tak di beri  uang jajan selama seminggu. Dan itu membuatnya harus berpikir keras untuk keluar dari namanya kelaparan selama istirahat karena tak punya uang. Dan satu-satunya cara hanya ini yang bisa dilakukan. Yang mana karena perbuatannya ini membuat Chanyeol serasa terkena serangan jantung mendadak.

“APA !?” Chanyeol melotot hebat. Ingin rasanya ia berdiri dan berteriak di depan wajah Sehun untuk mengatakan bahwa Haera bukanlah saudaranya. Dia hanyalah seorang gadis yang membuat hidupnya suram tak ketinggalan juga merepotkan. Tapi Chanyeol tak bisa melakukannya  sekarang karena takut dianggap sebagai orang yang temperamental oleh sahabat barunya, Baekhyun. Meskipun kini amarah sudah membakar separuh jiwanya dari dalam, Chanyeol harus tetap menunjukkan sikap kalemnya di luar. Dengan gigi gemertak, ia bertanya dengan nada sehalus dan sesantai mungkin. “Memangnya berapa yang harus aku bayar ?”

“Itu jumlahnya tertera di tulisan paling bawah.”

Dan untuk kali kedua, mata Chanyeol hampir lepas dari tempatnya saat melototi uang yang harus ia keluarkan untuk membayar biaya itu. Yang jika dihitung jumlahnya setara dengan uang jajannya selama tujuh hari penuh bersekolah. Dengan sangat tidak rela Chanyeol mengeluarkan dompet dan membayar sesuai jumlah yang tertulis. Membuat dua orang pemuda disamping Chanyeol itu mengulum senyum senang menerima uangnya.

“Yup cukup sekian dan terima kasih.”

“Untuk salah dan kurangnya kami minta maaf. Permisi.”

Sambungan kalimat Sehun sekaligus penutup kata yang diucapkan Jongin membuat Baekhyun tersenyum melihat tingkah polah keduanya yang kini sudah pergi menjauh. Tapi itu tak berlaku untuk Chanyeol. Hatinya kebat-kebit menahan amarahnya agar tak meledak di tempat itu.

“Kau punya saudara juga ?” Tanya Baekhyun membuat Chanyeol harus membuang tampang sadisnya yang menatap kepergian Jongin dan Sehun untuk kembali bermuka ceria.

“Em… i… itu itu bukan saudara sih. Saudara hanya karena sesama manusia saja hehe. Lupakan saja, ” Jawab Chanyeol tersenyum ketir. Meminum jus jeruk yang tadi ia pesan, Chanyeol balik bertanya. “Kau bilang tadi juga. Maksudnya juga itu apa kau mempunyai saudara ?”

Baekhyun tersenyum dan menyenderkan bahunya ke belakang.

“Ya. Aku punya adik kandung perempuan. Dan aku sangat menyayanginya.”

“Benarkah ? Aku yakin pasti dia adalah orang yang menyenangkan sepertimu hingga kau sangat menyayanginya.” Ujar Chanyeol antusias.

“Kau benar. Dia memang seperti yang kau bilang.”

=*+*=

Haera menyingsingkan lengan bajunya menatap tempat penggorengan berisikan minyak yang baru ia tuang. Di dapur. Ya, di sanalah gadis itu berada sekarang. Dengan kemampuan memasaknya yang masih di bawah garis rata-rata ditemani panduan masak dari majalah, ia bertekad membuatkan Gurami goreng saus tomat untuk  Chanyeol. Haera yang memang merasakan adanya perubahan pada sikap Chanyeol dalam dua hari belakangan ini berusaha untuk merubahnya agar kembali seperti dulu. Ya meskipun memang sikap Chanyeol yang selalu jutek padanya sehari-hari, paling tidak Haera harus membuat pemuda itu mau bicara lagi dengannya.

Memang keuntungan tersendiri memiliki wajah melas seperti Haera. Dia meminta atau lebih tepatnya memaksa seseorang untuk memberinya uang dengan jaminan sebuah gelang hadiah dari kakaknya saat ia berulang tahun lima tahun silam. Membuat orang yang sama sekali tak berminat dengan rengekan itu mau menuruti keinginan Haera. Sebenarnya Luhan, yang adalah korban dari pemaksaan itu menyuruh Haera untuk memakai uangnya tanpa harus memberikan gelang itu untuknya. Tapi karena kekeras kepalaan dan desakan yang gadis itu berikan, membuat pemuda berparas tampan itu mengalah dan menurut.

Berhasil mendapat uang, Haera langsung pergi ke Supermarket membeli ikan Gurami sekaligus bahan yang tertulis di kertas untuk keperluan masaknya kini. Ia juga tak lupa menyisihkan uang  itu untuk membayar hutangnya pada Sehun. Meski Haera akhir-akhir ini sering lupa, untuk urusan yang menyangkut satu itu takkan mungkin ia pikun. Meski terasa aneh juga, gadis itu menggadaikan gelangnya pada Luhan sementara nanti uangnya akan kembali lagi ke adiknya, Sehun. Apa boleh buat. Hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang.

“Haera, menggoreng ikan takkan membuatmu mati. Lakukan sekarang. SEMANGAT… YOSH !!” Ucap gadis itu mengepalkan tangannya ke udara.

Haera meyakinkan dan menyemangati dirinya sendiri agar tak kalah dengan rasa takut yang menghalangi niatnya saat ini. Pasalnya sudah tiga kali ia menyalakan kompor kemudian mematikannya kembali saat minyak goreng itu sudah mulai panas. Selama tujuh belas tahun hidup, baru pertama kali Haera dihadapkan pada situasi yang menurutnya mencekam seperti sekarang. Sebab ini juga waktu pertamanya menggoreng ikan yang kata orang sering menimbulkan percikan saat di masukkan dalam minyak panas. Tapi karena tekadnya sudah bulat, Haera harus menanggalkan dulu rasa takut itu sekarang dengan selogan ‘menggoreng ikan takkan membuatmu mati-‘nya  barusan. Merasa siap, ia menghirup nafas dalam dan mulai berhitung.

“Hana, dul, sik !”

Sreng….

“Huwaa….”

Haera berteriak kencang saat minyak panas itu memberondong tubuhnya. Karena takut tangannya terkena minyak panas, Haera memasukkan ikan  berukuran besar itu dari jarak yang sedikit jauh. Bukannya cara yang ia lakukan itu aman justru sebaliknya. Minyak yang karena mendapat tekanan besar itu muncrat ke segela arah. Haera yang panik menghindari minyak panas itu mundur ke belakang. Karena tak bisa melihat ia tersandung tempat sampah dan malang baginya, berniat meraih pegangan agar tak terjungkal ke belakang, Haera tak sengaja menyenggol pisau dapur ukuran besar hingga membuat benda itu terjatuh. Belum sempat mencerna apa yang ia alami karena  kejadian yang begitu cepat, Haera merasakan perih dan melihat darah segar keluar dari pergelangan kaki kirinya.

“Aow… iss….” Desisnya menahan sakit.

Haera bukanlah anak cengeng meski sedikit manja. Dia termasuk orang yang cukup kuat menahan rasa sakit. Dia juga tak ingin menyia-nyiakan air matanya tumpah karena insiden yang baru ia alami sekarang. Tapi pisau yang mendarat dari tempat yang lumayan tinggi itu mampu membuat otot kakinya serasa lumpuh. Karena yang menimpa kakinya barusan adalah bagian tajam  dari pisau itu, tak heran jika darah yang keluar kini begitu banyak.  Dan dengan kurang ajar tanpa permisi, buliran kristal bening itu menetes dari matanya berkali-kali.

Bangun dari jatuhnya dengan merangkak, Haera masih menyempatkan diri melihat ikan laknat yang ia goreng. Tapi betapa bodohnya gadis itu jika harus marah-marah  dalam situasi seperti sekarang. Haera pikir dari pada mengutuk  ikan yang sudah mati itu lebih baik ia mencari cara menghentikan darah yang terus keluar mengotori lantai berkeramik  warna orange pudar itu. Menyeret langkahnya, Haera mengambil tisu yang berada di atas meja makan tak jauh dari dapur.  Sampai menghabiskan tisu setengah kotak, tetap saja darah tak mau berhenti keluar.  Mengambil inisiatif lain, Haera memutuskan untuk mencuci  saja luka itu. Setelah bersih, ia mengambil kain sembarang yang tergeletak di kamar mandi tempatnya membersihkan luka untuk memperban kakinya. Seperti yang diharapkan, cara itu lumayan efektif untuk menghentikan darah yang keluar. Meskipun tak mengurangi rasa sakit dan ngilunya.

=*+*=

Haesul berlari sembari menggenggam kuat roknya. Ulangan Fisika di jam terakhir mengharuskannya tetap tinggal di kelas untuk menyeleseikan pecahan rumus yang membuat kepalanya berasap. Hasrat isi dalam perut yang meronta ingin dikeluarkan ia acuhkan dulu sampai lembar jawaban itu terisi semua karena waktu yang ia punya tak lama lagi habis. Membuat gadis itu sekarang harus buru-buru pergi dan sampai ke toilet dengan cepat.

Mungkin karena Dewi keberuntungan tengah tak berpihak padanya hari ini, toilet lantai dua kelasnya itu tak ada satu pintupun yang bisa ia buka. Menandakan dari enam kamar mandi yang tersedia berjejer itu sudah ada orangnya di dalam. Tak betah menunggu lama, gadis itu  segera berlari ke lantai satu. Karena ia tak mau ambil resiko jika naik ke lantai tiga, hal sama akan terjadi untuk kedua kalinya. Sebab di jam pulang sekolah seperti ini, hal itu sudah wajar terjadi di sekolahannya. Entah itu karena  siswa yang memang berkepentingan  memenuhi panggilan alam dari perut atau sekedar ganti baju untuk pergi jalan sebelum pulang. Maka dari itu Haesul lebih memilih turun saja. Meskipun di sana tertulis toilet lantai satu  hanya diperuntukkan bagi guru, Haesul tak mengindahkan kalimat peringatan itu. Toh jika ketahuan Haesul pikir ia hanya dapat marah yang tak seberapa besar dari pada ia harus menahan sakit perutnya sekarang.

Tepat menuruni anak tangga terakhir, Haesul berbelok menuju tempat yang saat ini sangat ia butuhkan. Tapi memang harus Haesul akui bahwa hari ini adalah hari tersialnya. Ketika ia ingin melanjutkan larinya, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan seorang pemuda yang membawa nampan dengan kedua tangannya. Karena jarak yang begitu dekat, membuat Haesul tak bisa menghindar dan tubrukanpun tak terelakkan. Dapat Haesul lihat ekspresi terkejut pada wajah pemuda itu melihat makanan sekaligus minuman yang ia bawa tumpah tak beraturan di lantai. Haesul yang tangannya masih berpegangan pada pegangan tangga membuatnya bisa menjaga keseimbangan hingga tak terjatuh seperti pemuda malang di hadapannya sekarang. Keprihatinan yang tadi Haesul beri untuk pemuda itu hilang saat kalimat tak enak masuk ke gendang telinganya. Ditambah kini sepatu baru warna putihnya terkotori oleh tumpahan makanan yang di bawa orang yang terus berteriak heboh itu.

“KYA…. HUKUMANKU, OH TIDAK MAKANAN ITU MINUMAN ITU KYA… TIDAK, TIDAK. INI TAK BOLEH TERJADI. DIA AKAN ADA ALASAN UNTUK MENYIKSAKU LEBIH LAMA LAGI. BAGAIMANA INI TIDAK…. OEMMA TOLONG AKU…. BAGAIMANA INI…!?” Pemuda itu tak bisa diam dan terus mengacak rambutnya kasar. Menatap manik mata Haesul tajam ia berdiri. Mensejajarkan tubuhnya dengan gadis yang menatapnya heran.  “DAN HEY ! APA YANG KAU LAKUKAN. KAU TAK BISA MELIHAT ADA ORANG SEBESAR INI SAMPAI KAU MENABRAKNYA. AKU TAK MAU TAU KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB  TITIK!”

Haesul hanya bisa membuka mulutnya tanpa suara. Dia tak tahu harus memulai kalimatnya dari mana. Kata yang tadi siap keluar hilang begitu saja saat telunjuk pemuda berkulit tan itu terarah tepat di depan matanya. Haesul hanya bisa mendengar pemuda yang terus saja mengoceh tanpa memberi jeda untuknya melakukan pembelaan dengan menahan sabar. Membuat isi perut gadis itu semakin tak karuan rasanya. Melirik tag nama di dada kiri pemuda itu, Haesul mengambil nafas dalam untuk  segera memotong ucapan pemuda yang tak tahu sampai kapan bertemu tanda titik itu.

“Dengar ya Kim Jongin-ssi yang terhormat di sini kita sama-sama korban dan juga pelaku jadi jangan hanya main hakim sendiri terus memarahiku  seperti ini waktuku sangat mahal jika harus mendengar ocehan tak berartimu itu permisi !” Haesul berhasil mengucapkan kalimat panjangnya itu hanya dalam sekali nafas. Sengaja menabrakkan bahunya dengan pemuda bernama Jongin itu, Haesul melenggang pergi diiringi amarah yang tertimbun di ubun-ubun.

“YA ! MAU KEMANA KAU. HEY KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB. DASAR GADIS CEROBOH,” Teriak Jongin sakartis dan berniat mengejar Haesul. Tapi langkahnya terhenti saat merasakan adanya tangan yang menjewer telinganya dari belakang.”Adaw… ya pak lepas sakit ini. Aduh aduh, itu itu aku baru jatuh di tabrak gadis itu, sakit ini adaw  lepas !”  Jongin terus meronta berusaha melepaskan tangan guru Matematikanya itu dari telinganya. Tapi bukannya terlepas justru bertambah kencang saja jeweran guru yang tak berumur muda lagi itu.

“Aku tak mau tau. Mana makananku kenapa kau lama sekali Kim Jongin. Dengan ini hukumanmu aku perpanjang.”

=*+*=

“Benarkah semudah itu dia merayu appa-mu? Haha pasti terlihat konyol.”

“Begitulah. Dia memang banyak cara agar keinginannya terpenuhi. Dia juga tak jarang membuatku pusing karena tingkahnya yang tak berhenti mengerjaiku. Justru karena sikapnya itu membuatku merasa kehilangan saat ia jauh saat ini.”

Di tempat parkir yang sudah  mulai sepi itu, Chanyeol dan Baekhyun menghabiskan waktunya bercengkrama sebentar sebelum pulang. Chanyeol terlihat antusias mendengar Baekhyun yang bercerita tentang tingkah udik adik perempuan satu-satunya yang Baekhyun punya. Saat Baekhyun mengucapkan kalimat terakhirnya, Chanyeol terdorong untuk bertanya mengapa pemuda berbibir tipis itu bisa berada jauh dengan adiknya. Tapi belum sempat niatnya terealisasasikan, Chanyeol mendengar derap langkah kaki berpadu dengan lantai mengusik telinganya sekarang. Suara hentakkan kaki yang tadinya terdengar samar menjadi lebih jelas seiring  sang pelaku pembuat suara gaduh itu berjalan mendekat. Dan kini dapat Chanyeol dengar juga makian bertubi-tubi keluar dari mulut gadis itu.

“Dasar ! Dia pikir dia siapa. Anak presiden ? Pemilik Hotel bintang tujuh ? Atau cucu dari Sooman pemegang saham terbesar di industri hiburan Korea ini !”

Chanyeol menatap gadis yang baru tiba itu dengan satu alis terangkat. Tersenyum ia melihat Haesul memajukan bibirnya ke depan dengan wajah merah kesal. Bertambah lebar saja lengkungan yang tercipta dari sudut bibir Chanyeol mendengar kalimat yang dikeluarkan gadis itu dengan emosi menggebu.

“Kau sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja nona.”

“Ya Chanyeol bagaimana bisa aku dalam keadaan baik jika seragamku kotor seperti ini. Dan lebih parahnya lagi kau tau? Sepatu yang baru aku banggakan padamu tadi pagi kini basah dan tak berwarna putih bersih seperti tadi lagi. Dan lebih parah diatas parahnya lagi aku justru dimarahi orang yang seharusnya aku marahi. Bukankah itu menyedihkan ha !” Ucap Haesul berkacak pinggang.

“Sabar… sabar, pelan-pelan bicaranya. Aku belum mengerti apa dan siapa yang kau maksud.”

“Aku tak tau pasti dia siapa. Dari tag nama yang aku baca dia bernama Jong… Jong… Jongkok? Jongki? Atau Jong… ah masa bodo Jong siapa aku tak ingat. Yang jelas karena tak sengaja bertabrakan dengannya aku jadi seperti ini. Dan harus kau tau, selain menabrakku dia juga berani memarahiku habis-habisan. Minta ditendang gak sih tu anak!” Kobaran amarah terus  merambat membakar diri Haesul. Tanpa jeda ia mengisahkan nasib yang baru dialaminya pada Chanyeol. Membuat setan dalam hatinya tertawa senang karena bisa membuat kemarahanya meluap hebat. Namun itu tak bertahan lama. Tepat saat seorang pemuda yang tak ia sadari keberadaannya dari tadi, menyerahkan sapu tangan langsung ke arahnya.  Dalam sayup sedan nyanyian surga penyejuk  hati yang membawa kedamaian dapat Haesul dengar dalam imajinasinya kini. Mengusir jauh gerombolan setan yang tadi menertawainya seru.

“Pakai ini, mungkin ini tak bisa membuat kejengkelanmu hilang. Tapi setidaknya bisa kau pakai untuk membersihkan sedikit noda di pakaian dan sepatumu itu.”

“Apa?” Haesul mengerjapkan matanya berkali-kali. Sekedar meyakinkan dirinya bahwa yang berdiri di hadapannya ini adalah manusia bukan malaikat. Meski orang pemilik senyum manis itu terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai manusia.

“Ini pakai saja.” Karena tak ada respon, Baekhyun meraih tangan Haesul dan menaruh sapu tangannya dalam genggaman gadis itu. Tanpa Baekhyun ketahui, kontak fisik yang baru ia lakukan itu membuat tubuh Haesul menegang seperti tersengat arus listrik.

“Ah tidak tidak usah, tadi aku sudah membersihkannya dengan tisu kok. Terima kasih.” Dengan kesadaran yang sedikit pulih, Haesul mengembalikan sapu tangan itu pada empunya. Tapi sial bagi Haesul, akal warasnya yang berangsur-angsur kembali itu harus hilang lagi saat sepuluh jemari lentik Baekhyun menggenggam tangannya.

“Tak apa ambil saja, em….,” Baekhyun melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. “Sepertinya aku harus pulang. Aku duluan ya,” Baekhyun sedikit membungkuk ke Haesul. Berbalik kini ia menghadap Chanyeol. “Aku pergi dulu sampai besok Chanyeol-ssi.”

“Kau lupa Byun Baekhyun.”

“Oh maksudku Chanyeol aku pulang dulu.”

“Aku akan membunuhmu jika besok kau masih lupa.”

“Kau tak bisa melakukannya. Karena itu takkan terjadi.”

“Ya sudah pulang sana. Hati-hati.”

Baekhyun hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban dari peringatan Chanyeol. Heran memang. Belum juga genap 24 jam mereka bersama, tapi sudah seperti setahun mereka berteman. Atas kesepakatan mereka berdua, tak ada lagi embel-embel ‘ssi’ di setiap akhir panggilan nama mereka. Karena mereka pikir, bukankah dengan cara itu akan terlebih nyaman diantara keduanya ?

“Jadi dia orang yang membuat gempar sekolah hari ini?” Tanya Haesul saat di depannya melintas sebuah mobil Sport mewah membunyikan klakson sebagai ucapan selamat tinggal.

Chanyeol yang masih melambaikan tangan menatap Haesul lekat.

“Kenapa? Apa… kau menyukainya ?” Tanya Chanyeol terdengar lirih di akhir kalimatnya. Menahan nafas dan was-was ia menunggu jawaban Haesul.

“Ya Chanyeol kau ngomong apa sih. Memang orang jatuh cinta semudah itu?”

“Aku kan bilang suka bukan cinta.”

“Itu bagiku sama saja.”

“Jadi?”

“Apanya yang jadi.”

“Ya pertanyaanku tadi. Kau menyukainya?”  Wajah Chanyeol tegang.

“Tidak Park Chanyeol. Jangan lagi kau tanya aku dengan pertanyaan bodoh macam itu. Mengerti ? Jika sudah mari kita pulang sekarang.”

Chanyeol menghembuskan nafas lega. Ingin teriak senang rasanya mendengar jawaban Haesul yang penuh keyakinan barusan.  Mengelus lengan yang baru di pukul Haesul pelan, Chanyeol tersenyum dan menyusul gadis yang sudah dulu masuk ke dalam mobilnya itu.

Dalam perjalanan, Chanyeol hanya bisa mencuri pandang kearah Haesul yang masih bersemangat bercerita tentang rapat Osis yang tadi gadis itu hadiri. Suara, senyum, keluh dan kesah Haesul adalah sumber kekuatan baginya. Takkan pernah ia bosan jika harus selalu berada disamping gadis itu. Salahnya sendiri memang tak berani mengatakan perasaan yang sebenarnya. Hingga terlihat bodoh Chanyeol hanya bisa mengagumi gadis itu dari dekat.  Dan entah untuk yang keberapa kali, Chanyeol mengutuk waktu yang berjalan begitu cepat saat ia bersama Haesul. Tak tahukah waktu akan perasaan Chanyeol yang ingin berlama-lama dengan Haesul ? Sampai perjalanan setengah jam itu terasa hanya sepuluh detik untuk Chanyeol. Dan kini ia harus rela berpisah dengan gadis yang akan membuka pintu mobilnya untuk turun.

“Kau tak mampir dulu Yeol ?”

“Lain kali saja. Aku harus mengerjakan tugas dari pelajaran terkutuk itu.”

“Sebenci itukah kau pada Biologi ?”  Tanya Haesul meski sudah tahu jawabnya. Tak mau membahas lebih dalam, ia tersenyum mengalihkan topik. “O ya, kau harus mengajak Haera ke acara itu Yeol.”

Chanyeol yang masih dalam posisi diam memandang Haesul mendadak tersedak ludahnya sendiri. Jengkel dan beruntung juga sebenarnya. Jengkel karena Haesul masih saja mengingat Haera, beruntung karena Chanyeol ingat dengan tujuan awalnya. Dan dengan cepat ia meraih tangan Haesul yang sudah hampir keluar dari mobil.

“Tunggu !”

Haesul memandang pergelangan tangannya yang digenggam Chanyeol lembut. Ingin tertawa gadis itu melihat ekspresi serius yang jarang Chanyeol keluarkan saat bersamanya. Tapi ia urungkan niatnya saat mendengar kalimat yang meluncur dari mulut sahabat baiknya itu.

“Aku ingin bicara denganmu,” Chanyeol menghentikan kalimatnya sejenak.”Sebenarnya, aku benar-benar tak ada hubungan dengan Haera. Em… dia waktu itu yang memaksaku pergi. Dia adalah gadis yang merepotkan. Bagaimana bisa aku berkencan dengannya. Melihat wajahnya saja aku sudah muak. Percayalah, kita hanya sebatas teman dan err… tetangga. Yah tetangga apartemenku tak lebih. Dan… aku ingin… datang ke acara itu bersamamu. Kau mau kan ?” Berhasil. Meski kalimat yang sedikit ada unsur kebohongan di dalamnya diucapkan dengan sendat sana dan sini, setidaknya kata itu berhasil Chanyeol luncurkan dari bibirnya. Ada perasaan lega  sekaligus senang saat kalimat sederhana itu mampu mengangkat beban dari hatinya.  Kedua pipi Chanyeol terasa panas saat mengajukan dan menunggu jawaban akan pertanyaan yang ia berikan pada Haesul.

“Hahahaha, Chan Chanyeol haha kau hahaha sebentar maafkan aku hahahaha.”

Chanyeol terbengong melihat reaksi yang diberikan Haesul. Jika saja gadis di depannya sekarang  ini adalah Haera, Chanyeol sudah tak ada alasan lagi untuk tak menendangnya agar berhenti dari tawa serunya. Apa yang lucu dari kalimat yang susah payah ia rangkai dan ucapkan barusan itu. Sampai membuat Haesul tak henti juga dari tawanya sampai sekarang.

“Ya ! Kau gila. Mengapa kau tertawa bukannya menjawab !” Gertak Chanyeol gemas. Membuat Haesul mati-matian menahan tawa yang belum bisa terkontrol itu.

“Haha maaf maaf. Habisnya wajahmu tadi minta banget di cengin. Aku sudah terlalu sering melihatmu memasang tampang seperti itu. Tapi yakin, baru pertama kali ini aku melihat wajah bodoh dan tegangmu itu kau tunjukkan dalam waktu bersamaan hehe maaf. Jangan marah ya.”

Chanyeol menghirup nafas  dan menghembuskannya panjang. Sedikit kesal juga melihat Haesul yang tertawa di atas penderitaannya. Setidaknya menunggu jawaban Haesul akan ajakannya adalah derita batin untuk Chanyeol. Tapi karena Haesul adalah gadis yang ia sukai, mana mungkin Chanyeol bisa marah lama-lama.

“Karena kau menertawaiku seperti itu, tak ada alasan untuk menolak datang bersamaku nanti, mengerti nona ?”

“Memaksa ni.”

“Tidak. Anggap itu sebagai denda yang harus kau bayar  untukku Haesul-ssi.” Ucap Chanyeol dengan senyum yang ia buat selicik mungkin.

“Baiklah, itu tak jadi masalah Mr.Park. Asal kau tak membuatku menunggu terlalu lama.”

“Kupastikan aku kan tepat waktu untuk menjemputmu nanti. Takkan ada kata telat. Jika itu terjadi kau boleh memenggal kepalaku.”

“Bagaimana kalau kau telat semenit. Apa ucapanmu akan tetap berlaku?”

“Bahkan sedetikpun aku sanggup dan takkan mengulur kataku kembali.”

“Kau memang selalu bisa Park Chanyeol. Sudahlah pulang sana. Hati-hati di jalan da….”

Blam!

Hati Chanyeol berbunga terlampau senang. Membalas lambaian tangan Haesul ia mulai menginjak pedal gasnya. Kupu-kupu serasa beterbangan menggelitik perutnya. Membuat gigi kebanggaannya itu terekspos  secara sempurna. Tak pelak jika orang lain yang melihat Chanyeol saat ini berpikir bahwa pemuda itu sudah gila karena senyuman yang tak pernah luntur dan terus melebar dari bibirnya. Bersenandung kecil, ia bergumam.

“Cinta indah ya.”

=*±=*

Klek !

“HUWAA….”

Chanyeol berteriak kaget saat membuka pintu mendapati Haera yang sudah berdiri tegak di baliknya. Dompet yang tadi ia pegang mendarat bebas ke lantai karena keterkejutannya itu. Memutar bola mata malas Chanyeol meninggalkan Haera yang tengah tersenyum ke arahnya. Berpura tak merasa kalau saat ini gadis itu tengah mengekor di belakangnya dan terus melanjutkan langkahnya ke kamar.

Haera yang tak sabar ingin menunjukkan hasil karya yang menguras keringat dan tenaganya, berbasa-basi terlebih dahulu sebelum memperlihatkannya pada Chanyeol. Mengikuti langkah pemuda itu ia terus bertanya.

“Hey mengapa hari ini kau pulang telat. Apa ada pelajaran tambahan ? Kau sudah makan? Oh ya aku ingin menunjukkan sesuatu untukmu. Tapi ini kau terima dulu dompetmu.” Haera yang tadi menyempatkan diri mengambil  dompet Chanyeol, menyodorkan kembali barang itu kepemiliknya. Berjalan gadis itu menuju dapur. Meninggalkan Chanyeol yang menatap intens dompet hitam yang tadi ia serahkan.

Chanyeol yang sebenarnya sudah tak ada alasan untuk mendiami Haera karena permasalahan yang sudah ia luruskan tadi, ingin menjawab celoteh gadis itu seperti biasa. Tapi saat teringat isi dompetnya yang berkurang karena gadis itu, Chanyeol membuang jauh-jauh niat itu. Paling tidak, ia mau memberi pelajaran pada Haera dengan mendiaminya sampai nanti malam.

Masih membeku dengan posisi menatap dompetnya, Chanyeol  kembali memandang Haera yang  sudah masuk kamarnya lagi dengan membawa piring lonjong ukuran besar.

“Yeah… tara… coba lihat apa yang aku bawa. Kau harus memakannya. Aku sendiri loh yang buat, hebat kan. Tapi… karena ada kecelakaan sedikit, ikannya gosong deh. Tapi dijamin ini enak kok. Kau harus coba a….” Haera berbicara terlewat semangat. Bangga dengan apa yang ia kerjakan seharian ini.  Mengambil daging ikan itu dengan sumpit, Haera memposisikan tangannya menyuapi Chanyeol.

“Aku tak lapar. Keluarlah. Aku ingin ganti baju.” Ujar Chanyeol dingin membalikkan badannya membelakangi Haera.

Haera yang tak mendapat respon positif dari Chanyeol tak ingin menyerah begitu saja. Kembali ia melangkahkan kakinya untuk berdiri di depan Chanyeol yang sedang berkacak pinggang kini.

“Kau harus coba sedikit dulu. Percaya denganku ini tak beracun.” Haera tetap ngotot dan menyodorkan sumpitnya di depan mulut Chanyeol. Tapi tetap. Chanyeol selalu menolaknya.

“Aku tak lapar.” Chanyeol menepis tangan Haera.

“Sedikit a….”

“Nggak.”

“Harus mau.”

“Nggak mau!”

“Sesumpit ini… aja.”

“AKU BILANG NGGAK YA NGGAK !”

PYARR….

Haera tersentak kaget tak percaya. Piring yang ia pegang lolos dari tangannya terjatuh ke lantai  karena tepisan Chanyeol. Melotot menatap Chanyeol bibirnya kini mulai bergetar. Terduduk Haera menghampiri ikan yang tergeletak bersama pecahan beling kecil dari piring yang sudah tak terbentuk  lagi itu di lantai.

Chanyeol memandang bahu yang bergetar membelakanginya itu lekat. Tanpa perlu melihat, dia sudah tahu kalau saat ini Haera sedang menahan tangisnya. Reflek Chanyeol mengepalkan dan memukulkan tangannya ke paha. Merutuki ketidak sengajaan yang baru dia lakukan barusan. Jika bisa, Chanyeol ingin memutar waktu untuk berbalik kembali. Menerima suapan yang Haera berikan untuknya. Sehingga kejadian ini tak perlu terjadi.

Membuka mulutnya, Chanyeol ingin bicara. Namun payah. Bibirnya hanya bisa terangkat tanpa ada suara yang keluar. Ingin ia merengkuh pundak itu agar berhenti naik turun karena isakan. Tapi lagi-lagi egonya datang mengusai dirinya hingga ia enggan untuk melakukan hal itu. Hatinya terasa terhantam bongkahan batu besar saat mendengar Haera berucap dengan suara paraunya.

“Tak bisakah sedikit kau menghargaiku? Aku tau ini hanya masakan sederhana bagimu. Tapi kau tak tau betapa susahnya aku membuatnya untukmu. Aku minta maaf jika kau marah karena harus menggendongku pulang dari Bazar kemaren lusa. Aku juga minta maaf karena selalu merepotkanmu. Dan jika memang aku adalah bebanmu, maka aku akan pergi untuk meringankannya.”

Chanyeol ingin sekali menyangkal kalau ia marah bukan karena masalah itu. Tapi entah mengapa pita suaranya tak bekerja dengan baik saat ini. Pemuda itu takkan mengelak jika orang mengatakan dirinya kini tak lebih baik dari seorang pecundang. Yang menjunjung tinggi sebuah kata maaf yang sebenarnya sangat mudah diucapkan. Tak ingin berlama tersiksa dengan situasinya sekarang, Chanyeol menyambar jaket dan pergi keluar untuk menenangkan hatinya yang begajulan tak karuan.

Brak.

Untuk kedua kalinya Haera  harus mengutuk air mata yang sudah berani menetes tanpa ampun hari ini. Bahkan aliran yang membentuk sungai kecil di pipinya itu mengalir lebih deras dari tangisnya saat pisau tak berhati itu melukainya siang tadi. Entah mengapa Haera merasakan perih luka kakinya itu sekarang pindah di hatinya. Lebih sakit dan jauh lebih sakit. Tak terlihat memang, tapi Haera yakin luka itu menganga lebar di hatinya sampai membuatnya susah bernafas. Melirik pintu yang ditutup pemilik kamar itu, bahunya semakin keras bergetar dilatari  suara isak yang semakin keras ia keluarkan.

 

=TBC=

TOK ! TOK ! TOK ! #Ketukpalu #pinjamsooman

Dengan ini author nyatakan chapter 3 akan saya bagi jadi dua part hehe #smirkcantik
Itu disebabkan karena sebagian inti cerita tidak bisa masuk karena kata yang sama sekali tak penting bermunculan dimana-mana. Dari pada kepanjangan lebih baik dipotong saja kan huhuhu.

O ya maaf kalau main castnya bertambah seiring diperlukannya dalam ff tak bermutu ini. Sampai jumpa semua annyeong……

2 thoughts on “Don’t Go part 3a

  1. Aprodith berkata:

    Lanjut Thor ! Aku Suka Banget FF Ini ! Jangan Lama Lama ! Aku Suka Sifat Chanyeol Di Sini Jarang Jarang Ada FF Yang Sifat Chanyeolnya Jutek Gitu ! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s