Miracle in December (3/3)

miracle in december

Author : Ohmija

Tittle :  Miracle in December

Genre : Sad, Brothership

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, other member EXO

Cover by @baltacheakiriwe

“Jongin! Aku akan membantu mencari Kyungsoo! Bertemu disini 15 menit lagi, oke?” Woohyun mengambil alih saat melihat ekspresi panik Jongin yang tidak menemukan Kyungsoo di kursinya

Sedikit merutuki dirinya sendiri karena dia terlalu fokus pada permainan sehingga tidak memperhatikan Kyungsoo dengan baik. Dia lengah dan Kyungsoo pergi…

“Ayo kita cari dia bersama-sama. Aku yakin dia masih berada di sekolah ini” Sehun menyambar lengan Jongin yang hanya berdiri terpaku dengan wajahnya yang semakin lama semakin memucat. Tangannya terasa dingin dan berkeringat. Sehun tau dia sangat khawatir. Jadi dia membantu sahabatnya dengan cara memaksanya untuk berjalan.

Menyusuri lorong-lorong panjang sekolah, Sehun dan Jongin terus melongok ke dalam setiap kelas yang sudah tertutup pintunya. Mungkin Kyungsoo ada didalam.

Tapi mereka tidak mendapatkan hasil. Hingga sampai pada kelas mereka sendiri, mereka juga tidak menemukan Kyungsoo disana. Dia menghilang.

Karena sudah sampai dibatas akhir tenaga mereka, Jongin dan Sehun akhirnya menyerah. Bisa dilihat bagaimana keruhnya wajah Jongin saat dia tidak menemukan Kyungsoo dimanapun.

“Hey, Jongin” Sehun menepuk pundak Jongin, khawatir dengan keadaannya yang terus saja diam. “Dia pasti kita temukan. Jangan khawatir”

Jongin mundur dua langkah dengan gelengan kecil. Punggungnya membentur dinding dan perlahan tubuhnya meluruh ke bawah. Ia berjongkok dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam.

“Harusnya aku menyadari jika dia berbeda. Harusnya aku menjaganya dengan baik…”lirih Jongin menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Dia tidak bicara hari ini. Dia tidak mengatakan apapun. Dan sekarang dia tiba-tiba pergi. Dia tidak akan bisa melakukan apapun tanpa aku…”

Sehun terdiam. Ikut berjongkok didepan Jongin sambil terus menepuk-nepuk pundaknya. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan untuk menghibur sahabatnya itu. Karena hal yang bisa menenangkannya hanyalah menemukan Kyungsoo.

“Jongin…”

Jongin dan Sehun mengalihkan pandangannya bersamaan. Seketika mata mereka melebar.

“Kyungsoo!”

Jongin bahkan tidak sempat mengambil napas saat ia langsung berdiri dan menangkap tubuh Kyungsoo yang perlahan meluruh. Tidak merasakan bagaimana perutnya bergejolak hebat karena ia tiba-tiba berdiri dan berlari. Jika saja dia tidak menahannya, mungkin dia akan muntah.

“Kyungsoo! Kyungsoo!” Jongin memanggil-manggil nama Kyungsoo sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Yang membuatnya terperangah adalah luka lebam di wajahnya serta darah kering di sudut keningnya. “Kyungsoo, apa yang terjadi denganmu?!”

“Jongin…”suara Kyungsoo terdengar serak. Ia ingin tersenyum. Ia ingin mengatakannya. Tapi, Alexithymia terlalu mendominasi dirinya. Menahan semua kata-kata yang ingin keluar.

Perlahan, ia menggerakkan tangannya. Membuka perlahan genggamannya. Jongin melirik, mendapati gumpalan kertas yang tersembunyi di balik genggaman itu.

Membantu, Sehun yang mengambilnya dan memberikan pada Jongin karena ia sedang sibuk menopang tubuh Kyungsoo. Saat kertas itu dilebarkan, genangan air yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya, menetes tak terduga. Mengalir pelan di pipinya dan tepat terjatuh diatas wajah Kyungsoo.

Sebuah gambar tentang keluarga. Ada seorang ibu yang terlihat cantik, seorang anak laki-laki yang berkulit gelap dan seorang anak laki-laki yang bertubuh pendek. Mereka memiliki nama masing-masing yang tertulis diatasnya.

Do Kyungsoo…

Kim Jongin…

Oema…

Detik berikutnya, kedua mata Kyungsoo terpejam. Ia pingsan.

***___***

Sehun dan Jongin meninggalkan nyonya Kim di ruangan. Sehun memang sengaja mengajak sahabatnya itu untuk mencari udara segar. Dia masih terlihat pucat,dan dia masih terlihat keruh.

Untuk beberapa alasan, Sehun semakin menyadari jika rasa kebencian itu perlahan menghilang. Bahkan tidak meninggalkan sisa. Dia masih ingat bagaimana kesalnya Jongin saat Kyungsoo pertama kali datang ke rumahnya. Dia ingat bagaimana Jongin melampiaskan amarahnya pada sepak bola dan hampir merusak jaring gawang karena tendangannya terlalu keras. Juga saat pertama kali Jongin membawa Kyungsoo dan memperkenalkannya.

Dia berbisik, “aku harap aku tidak pernah mengenalnya…”

Setelah hari-hari berlalu. Dan setelah beberapa kali dia mengajak Kyungsoo ke lapangan bola. Perlahan caranya memandang jadi berubah. Mungkin memang benar, saat memasuki dunia SMU, tanpa sadar diri kita akan menuju kedewasaan.

Walaupun mengatakan jika dia sangat membencinya, tapi Jongin selalu menempatkan dirinya disamping Kyungsoo. Selalu berusaha menjelaskan ini dan itu agar Kyungsoo mengerti. Hingga pada akhirnya, hal terakhir yang Sehun dengar tentang Kyungsoo adalah saat Jongin mengatakan padanya, “aku ingin dia mengeluarkan emosinya karena aku…” Dan sejak itu, Sehun mulai menyadari jika kebencian itu telah menghilang.

“Mau makan? Aku akan membelikanmu sesuatu”tawar Sehun menoleh kearah Jongin

“Aku tidak lapar”

“Kau belum makan sejak tadi siang”

Jongin menerawang ke depan, hatinya sedang bergejolak sekarang. Udara sangat dingin dan dia mulai membenci awal desember seperti Kyungsoo. Salju perlahan turun, masih memberikan jeda yang cukup lama sebelum musim semi akhirnya datang.

“Dia bekerja keras untuk belajar menulis. Dia sudah mampu menulis namaku dengan baik” ia memulai pembicaraannya. “Aku tidak tau dia terjatuh atau dipukul oleh seseorang, yang jelas, aku tidak akan memaafkannya jika aku mengetahui siapa orangnya”

“Apa sekarang Kyungsoo adalah orang yang penting bagimu?”

Jongin tidak memberikan jeda sama sekali saat menjawabnya, “Bukan orang yang penting. Tapi yang aku butuhkan”serunya. “Dia bahkan melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi, dia mengetahui jika kedua orang tuanya meninggal, dan dia tau ayahku adalah pembunuh orang tuanya. Tapi, dia tidak pernah membenciku. Dia selalu mengatakan jika dia menyukaiku, bahkan… dia sangat menyayangi ibuku” Ia mengusap matanya dengan lengan baju sebelum air matanya sempat menetes. “Dia memang tidak punya perasaan, tapi dia telah mengajariku bagaimana menghadapi kenyataan. Aku tau di dalam hatinya, dia pasti sangat membenciku, dia pasti sudah memukulku berkali-kali”ujarnya serak. “Ingat saat hari pertama masuk sekolah? Dia telah melindungiku…”

Sehun menatap Jongin lurus, matanya menangkap kesedihan mendalam yang terpancar diwajanya. Walaupun ia menunduk, walaupun ia berusaha untuk menyembunyikannya, semuanya terlihat jelas. Dia menyesal.

“Aku ingin menjaganya… Aku ingin dia hidup dengan baik bersamaku…”

***___***

Jongin dan Sehun kembali ke ruangan. Nyonya Kim masih disana. Dan dia masih duduk disamping Kyungsoo dan menggenggam tangannya. Jongin mengatakan jika Kyungsoo terjatuh dan telah meminta maaf karena tidak bisa menjaganya.

Ibunya tidak menyalahkannya. Hanya diam sambil tersenyum. Tapi, ia tidak bisa berbohong jika ia sedang bersedih. Jika ia sedang menahan air matanya sendiri.

“Bu…”panggil Jongin pelan. Ia menepuk pundak ibunya membuatnya menoleh.

“Ya sayang?” Matanya berair

Jongin menelan ludah. Ingin sekali memeluk ibunya saat ini juga. Ingin sekali menangis dan mengatakan jika dia telah menyesal karena tidak bisa menjaga Kyungsoo. Ia tidak iri. Ia mengerti jika Kyungsoo juga berarti di hidup ibunya. Sekarang… untuknya juga.

“Bu, jangan memaksakan diri lagi…”

Kening nyonya Kim berkerut, “tentang apa?”

“Kita bukan keluarga kaya, bu. 50.000won sangat berharga untuk kita. Kita lebih baik mencari bibi pembantu yang dibayar 200.000won perbulan atau memasukkan Kyungsoo ke dalam sekolah khusus”

“D-darimana kau tau tentang itu?” nyonya Kim tersentak. Tenggorokannya tercekat.

“Bu, aku senang jika Kyungsoo berada di sekolah yang sama denganku karena dengan begitu, dia bisa bersamaku. Tapi, dia adalah anak yang berbeda. Aku bicara seperti ini bukan karena aku tidak menyukainya, aku hanya ingin menginginkan dia tenang dan tidak diganggu oleh teman-temanku…”

“Nyonya Kim, maaf. Aku berjanji padamu untuk membantu Jongin menjaga Kyungsoo, tapi aku tidak melakukannya dengan baik. Maafkan aku”ujar Sehun menunduk. Ia ikut menyesal dengan kejadian ini.

“Bu… aku sudah menganggap Kyungsoo sebagai bagian penting di hidupku. Aku hanya ingin melindunginya. Aku tidak ingin gagal seperti aku tidak bisa melindungi ayah. Aku tidak ingin menyesal lagi, bu…”

Ada kesedihan disepasang mata Jongin yang mulai berair. Hal itu terlihat jelas dari caranya berbicara dan menatap Kyungsoo. Perkataannya terdengar sangat tulus. Dan nyonya Kim yakin jika dia memang tidak berbohong.

Nyonya Kim berdiri, mengulurkan tangannya dan menarik tubuh anak kandungnya itu dalam dekapan. Sudah lama ia ingin melakukannya, memberikan kekuatan untuk anaknya yang terus-menerusia paksa mengalah.

Beribu-ribu ucapan maaf yang tidak tersampaikan ditumpahkan ke dalam bentuk air mata. Ia menangis di pundak Jongin. Terlalu bersyukur karena telah diberikan seorang anak yang selalu berusaha untuk membahagiakan ibunya. Bahkan jika hal itu menyakiti dirinya sendiri.

***___***

Tubuh yang terbaring lemah itu perlahan bergerak. Matanya yang tertutup, perlahan terbuka. Jari-jarinya memberikan tanda. Dan tak lama, ia sadar.

Jongin, nyonya Kim dan Sehun seketika menarik diri mereka lebih dekat. Tersenyum lebar karena akhirnya pria itu membuka matanya setelah 2 jam pingsan.

“Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?”seru Jongin, terselip rasa khawatir di dalam pertanyaannya.

“Kyungsoo, apa yang terjadi denganmu, sayang? Siapa yang membuatmu seperti ini, hm?”sahut nyonya Kim sambil menghusap rambut Kyungsoo

Kyungsoo hanya diam. Menatap bingung kearah Jongin yang duduk disampingnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada nyonya Kim. Akhirnya, ia mengembalikan pandangannya pada Jongin lagi.

“Jongin…”panggilnya pelan. Mata bulatnya semakin terbuka lebar menatap Jongin. “Aku… pergi… ke perpustakaan. Aku ingin belajar… Tapi… mereka…” Dengan sabar Jongin menunggu Kyungsoo menyelesaikan ucapannya. “… mereka… menjatuhkan buku-bukunya tepat dikepalaku… Lemari itu jatuh… Lemari itu menimpaku…”

Sontak, mata Jongin melebar kaget, “siapa yang melakukannya? Kau melihat mereka?”

Kyungsoo menggeleng pelan, “aku tidak… mengingat nama mereka… ketiganya… bertubuh tinggi… mereka… tidak menyukaiku…”

Detik itu juga, Jongin seperti merasakan jika dunianya berhenti berputar. Rahangnya mengatup keras bersamaan dengan amarahnya yang perlahan naik dan ingin meledak. Ia menggertakkan giginya, sudah mengetahui jika mereka adalah pelakunya. Tidak salah lagi. Mereka pelakunya.

“Jongin…”panggil Kyungsoo lagi, suaranya terdengar serak. Jongin menunduk, menatap Kyungsoo. “Kim-Jong-In, Do-Kyung-Soo, oema… aku sudah bisa mengejanya dengan baik, kan? Aku juga… menulis nama kalian…”

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk berlatih dengan keras. Jika kau ingin pergi ke perpustakaan, harusnya kau memintaku untuk menemanimu. Harusnya kau tidak pergi sendirian”

“Aku ingin… memberikan sebuah hadiah. Saat Jongin menang… aku ingin menunjukkannya…”jelas Kyungsoo membuat Jongin harus berusaha menahan air matanya lagi. “Aku… hanya ingin menjadi Kyungsoo… saudara Jongin dan anak ibu… aku… menyukai Jongin dan ibu seperti musim semi… Kim… Kyungsoo…”

Dia bahkan belum sepenuhnya sadar saat ia melakukannya. Dia bahkan tidak tau apa yang sedang ia lakukan saat tangannya bergerak tiba-tiba dan memeluk tubuh itu. Ia membungkuk, menjangkaunya, dan menumpahkan air mata tak tertahannya di pundaknya. Ia menangis keras disana. Sudah sejak lama saat dia ingin memeluk tubuh mungil ini. Dalam ingatannya, ini pertama kali.

Kenapa rasa sayangnya tercipta begitu besar? Kenapa bagi orang yang tidak bisa mengatakan perasaannya, kata-kata itu terdengar sangat tulus? Hingga membuat Kim Jongin yang biasanya tidak menangis menjadi banyak mengeluarkan air mata karenanya.

Ia sendiri tidak mengerti alasan kenapa dia menangis, kenapa dia begitu bersedih. Rasa bersalah itu semakin menumpuk menjadi-jadi. Ia menyesal. Harusnya ia tidak pernah membencinya. Harusnya ia menyayangi seseorang yang bahkan sangat menyayangi keluarganya.

“Jangan menangis… aku… tidak menyukainya…”

Jongin semakin mengetatkan pelukannya. Jika saja ada kehidupan berikutnya, dia tidak akan menyesal jika harus menjadi Kim Jongin lagi. Ia tidak akan menyesal dipertemukan dan disusahkan oleh Do Kyungsoo. Jika mereka terlahir bersama-sama, ia tidak akan mengelak lagi. Ia akan mengatakan semuanya dengan lantang.

Do Kyungsoo… adalah saudara Kim Jongin.

***___***

Jongin berjalan dengan langkah-langkah panjang menuju kelasnya. Wajahnya terlihat geram. Kepalan tangannya juga tergenggam. Saat ia sudah memasuki ruang kelas, ia melewati bangkunya sendiri dan menuju deretan kursi yang terjejer di bagian belakang.

Sehun melihat mata itu… matanya penuh kebencian. Secepat kilat, ia melompat dari kursinya dan menyusul langkah-langkah Jongin. Sebelum… perkelahian besar terjadi…

BUGG

Jongin mengulurkan tangannya, memutar tubuhnya paksa dan memberikan pukulan tepat di wajahnya. Chanyeol seketika termundur, punggungnya menghantam ujung meja dengan keras.

“Hey!”seru Tao terkejut saat Jongin tiba-tiba memukul Chanyeol

“Kalian boleh membenciku sesuka kalian. Tapi, aku tidak akan membiarkan jika kalian menyakiti saudaraku!”desisnya tajam. Ia kembali mengulurkan tangannya, sudah mencengkram kerah baju Chanyeol dan menarik tubuhnya bangun tapi kedua tangan Sehun lebih dulu menangkap tubuhnya dan menariknya ke belakang.

“Jongin! Sadarlah! Kendalikan dirimu!”

“Lepaskan aku, Sehun! Biarkan aku membunuh tiga brengsek ini!”

“Hey, ada apa ini?” Suho yang baru datang langsung melempar tas ranselnya dan menghampiri Chanyeol, membantunya untuk bangun. “Kenapa kalian bertengkar?”

“Mereka melukai Kyungsoo! Karena mereka, Kyungsoo dirawat di rumah sakit sekarang!”

“Kenapa?!”sengit Chanyeol juga dengan nada tinggi. “Si bodoh itu memang tidak pantas bersekolah disini! Dia hanya mengotori pemandangan kelas dengan wajah bodohnya itu!”

“Apa kau bilang?!”

“Jongin! Stop!”

“Chanyeol memang benar. Dia tidak pantas bersekolah disini. Dia bahkan tidak bisa menulis namanya sendiri dengan baik! Dia bodoh!”

“Tutup mulutmu, Kris! Atau aku akan merobek mulutmu!” Sehun juga ikut kesal.

“Hentikan, oke?! Apa kalian mau aku melaporkannya pada guru?!”bentak Suho yang bertanggung jawab sebagai ketua kelas. Kemudian ia menoleh pada Jongin, “Hari ini adalah pertandinganmu! Harusnya kau tidak membuat masalah!”

Jongin membalas tatapan Suho dengan gigi gemeretak, “mencari masalah katamu?!”sengitnya. “Aku tidak pernah mencari masalah dengan mereka! Mereka yang mengganggu Kyungsoo!”

Tao mendengus, “Kenapa kau perduli?! Si bodoh itu hanyalah anak adopsi yang diangkat oleh ibumu!”

“DIA SAUDARAKU!”bentak Jongin tidak bisa menahan dirinya lagi. Membuat Sehun harus mengencangkan pegangannya agar pria itu tidak berlari kesana dan memukul Tao seperti Chanyeol. “Dia adalah saudaraku, kalian dengar?! Dia adalah anak yang orang tuanya ditabrak oleh ayahku! Dia bukan anak adopsi!”

Dan detik itu juga, tidak hanya Sehun tapi semua orang yang berada di dalam kelas itu begitu tersentak dengan pernyataan Jongin. Anak yang ditabrak? Jadi… dia?

Sehun memejamkan matanya kuat-kuat, seperti tidak ingin mendengar sahabatnya itu membuat pengakuan lebih banyak lagi. Dia takut Jongin akan terluka, dia takut Jongin akan semakin dibenci dan dia takut melihatnya menangis lagi.

“Dia memang berbeda, dia memang tidak bisa menulis namanya sendiri. Tapi dia adalah saudaraku. Sudah sejak lama aku ingin mengatakannya tapi dia justru melindungiku. Dia yang mengajarkanku untuk berani menghadapi kenyataan. Dia… seseorang yang kini menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku sudah brjanji pada diriku sendiri untuk menjaganya dengan baik…” suara Jongin mulai terdengar serak. Ia tertunduk, berusaha memberi kekuatan pada kaki-kakinya untuk bertahan. “Tapi, aku tidak pernah berani menghadapinya, aku tidak pernah berani mengakuinya, aku terus khawatir dengan pandangan orang lain tentangku. Tapi, semua itu justru membuatnya semakin di cemooh oleh orang-orang…”suaranya melirih. “Dia tidak bersalah! Aku lah yang bersalah! Ayahku telah menabrak orang tuanya! Jika waktu itu ayahku tidak mabuk, jika waktu itu hujan tidak turun, semuanya akan baik-baik saja. Dia pasti masih memiliki orang tua! Dia pasti bahagia!”

“Jongin hentikan!” Sehun tidak tahan lagi. Ia mengulurkan tangannya dan memutar tubuh Jongin untuk menghadapnya. Telinganya terasa panas mendengar pengakuan itu. Dia benar-benar membenci saat-saat seperti ini, saat semua pandangan terarah lurus pada sahabatnya. Dia tidak bisa membela lagi. “Hentikan, oke?! Itu sudah lebih dari cukup”

“Bagaimana aku bisa tenang jika alasannya terbaring adalah karena aku? Semua orang jadi membencinya karena dia bersamaku” Kai menatap Sehun dengan pandangan sedih. Ia tersenyum kecut bersamaan dengan air matanya yang terjatuh saat dia mengerjap. “Kyungsoo adalah saudaraku Sehun… dia bukan anak adopsi…”

***___***

Semuanya jadi kacau. Semuanya jadi tidak terkendali saat Jongin memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai kapten di detik-detik terakhir sebelum pertandingan di mulai. Bukan karena kesal, bukan karena malu, tapi dia ingin mengakhiri semua masalah dengan cara memberikan posisi itu pada Chanyeol. Agar Kyungsoo tidak dibenci lagi.

Kyungsoo sudah diperbolehkan pulang. Dia juga sudah terlihat bugar walaupun masih ada bekas-bekas lebam yang masih tertinggal di wajahnya. Sudut keningnya tertempel plester untuk menutupi lukanya yang belum sepenuhnya kering.

Setidaknya, Jongin bisa bernapas lega karena Kyungsoo baik-baik saja…

Jongin menepis selimutnya kasar saat ia mendengar bunyi bel dipencet beberapa kali. Dengan cepat dan tanpa jeda. Membuatnya sangat kesal karena hal itu sudah mengganggu waktu tidurnya di hari libur.

Menyeret langkahnya dengan malas –dia menabrak pintu kamarnya sendiri karena berjalan sambil menutup mata- mulutnya terus saja bersungut kesal. Kyungsoo sudah bangun dan sudah duduk manis didepan televisi seperti biasa.

Tersenyum sesaat, kemudian Jongin melanjutkan langkahnya menuju pintu. Saat ia membuka pintu, desahan napasnya benar-benar terdengar panjang dan berat.

“Mau apa kau datang kesini?”dengusnya kesal yang dibalas Sehun dengan cengiran bodoh

“Tentu saja mengunjungimu. Apa nyonya Kim membuat sarapan enak lagi?”serunya berjalan melewati Jongin, padahal sang tuan rumah belum mempersilakannya masuk.

“Ini adalah hari libur. Ibu tidak memasak apapun. Dan… apa kau tidak tau jika saat ini masih jam 7 pagi? Kau merusak hari liburku!”

“Tidak ada yang bisa ku kerjakan di rumah. Aku bosan”jawab Sehun santai lalu menjatuhkan diri tiba-tiba disamping Kyungsoo membuat pria yang tengah fokus menonton itu langsung menoleh dengan mata terbelalak lebar. “Hai mata besar!”

“Kau bermainlah dengannya, aku akan melanjutkan tidur”

“Hey, tidak bisa!”cegah Sehun menahan lengan Jongin. “Memasaklah untuk kami. Bukankah Kyungsoo juga belum sarapan?”

“Ibu…membuatkanku cereal tadi pagi…”sahut suara kecil Kyungsoo membuat Sehun dan Jongin langsung menoleh.

Jongin tertawa geli. “Lihat? Dia sudah sarapan”

“Aissh, harusnya kau bilang saja iya…”

“Manusia tidak boleh berbohong”

“Pwahahahaa!”

Sehun mendelik, “baiklah! Aku akan memasak sendiri! Aku tidak perduli dengan kalian lagi!”

Bersungut-sungut, Sehun berjalan kedapur Jongin. Menyiapkan sendiri sarapan paginya. Percuma ia melarikan diri dari Luhan pagi-pagi seperti ini, di rumah Jongin juga tidak ada yang bisa dimakan olehnya.

Tiba-tiba, suara bel berbunyi lagi. Langkah Jongin yang sudah bergerak menuju kamarnya, kembali terhenti.

“Sehun, itu pasti Luhan yang mencarimu. Buka pintunya!”seru Jongin setengah berteriak

“Kau saja, bukankah kau yang lebih dekat? Aku sedang sibuk!”tolak Sehun mentah-mentah.

Jongin mendengus. Kelakuannya sama sekali tidak berubah. Tetap seperti anak kecil. Mau tidak mau, Jongin kembali mendekati pintu utama. Sudah bisa menebak jika Luhan akan memarahi Sehun karena dia kabur dari rumah tanpa ijin lagi. Bosan.

Tapi, setelah pintu itu terbuka dan memperlihatkan seseorang yang berdiri dibaliknya. Dugaan Jongin meleset. Bahkan meleset jauh dari perkiraannya. Matanya melebar.

Itu Chanyeol…

“Kau,?”

Chanyeol tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk belakangnya, “hai…”

“Mau apa kau kesini?!”desis Jongin masih kesal. “Jika kau mengganggu Kyungsoo lagi, aku pasti akan memukulmu!”

“Tunggu!”cegah Chanyeol berusaha menenangkan Jongin. “Aku ingin minta maaf”

“Apa?”

“Aku ingin minta maaf padamu dan Kyungsoo”

Jongin mengerjap, “k-kau gila?”

Chanyeol menggeleng yakin, “aku sungguh-sungguh. Aku merasa menyesal. Benar-benar menyesal. Maafkan aku…”

“Apa Luhan yang da…mau apa kau?!”sengit Sehun dari arah belakang Jongin. Ia  berjalan menghampiri pintu dan berdiri disamping Jongin. “Bukankah Jongin sudah memberikan posisi itu padamu, hah? Dan bukankah kau memasukkan Tao ke dalam tim untuk menggantikan posisiku? Masih belum cukup?”

“Sehun…”cegah Jongin menahan lengan Sehun. Ia menggeleng. “Dia ingin minta maaf…”

Mata Sehun terbelalak, “Apa?!”

Hembusan napas Chanyeol terdengar berat, ia sedikit menunduk lalu berseru, “aku memang bersalah dan sangat jahat padamu dan pada Kyungsoo. Maaf. Aku menyesal. Akhir-akhir ini aku berpikir jika aku telah merugikan semua orang”

“Kau memang telah merugikan Kyungsoo dan Jongin!”cibir Sehun sangat kesal. Lagi-lagi, Jongin menahan lengan Sehun.

“Aku ingin menebusnya. Maaf. Dan… terima kasih karena kau telah memberikanku kesempatan untuk menunjukkan kelebihanku memimpin tim sepak bola. Aku ingin kita berteman…”

Jongin menggeleng pelan, “kau merugikan Kyungsoo lebih banyak. Seharusnya kau minta maaf padanya”

“Tapi,aku dan teman-temanku telah mempermalukanmu didepan banyak orang”

“Aku tidak pernah merasa malu” Ia tersenyum tipis. “Aku mengatakan kebenaran. Dan sekarang aku lega karena aku tidak memiliki beban lagi”

***___***

Ini hari terakhir Kyungsoo pergi ke sekolah. Ibunya telah memutuskan agar dia dimasukkan ke dalam sekolah khusus, dan Jongin akan menjemputnya setiap pulang sekolah. Jongin belum memberitahu Kyungsoo, tapi dia telah berjanji akan memberitahunya besok.

Tidak ada lagi rasa malu di diri Jongin saat ia melingkarkan lengannya di pundak Kyungsoo. Bahkan mereka berjalan bersisian sambil tertawa –hanya Jongin yang tertawa-. Semua pandangan itu tidak lagi diperdulikan olehnya. Saat semua kebenaran sudah terungkap, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Yang harus dilakukan hanyalah menjalani hidup dengan lebih baik lagi.

“Hai Byungsoo…”sapa seseorang yang tiba-tiba juga melingkarkan lengan di pundak Kyungsoo

“Namanya adalah Kyungsoo, Chanyeol!”sahut Jongin membenarkan

“Aku membaca tulisannya—“ Kata-kata Chanyeol terhenti begitu melihat pelototan Jongin. Ia menyeringai lebar, “hehehe…baiklah. Aku tidak akan membahasnya lagi. Mana Sehun?”

Jongin mengendikkan bahunya, “mungkin—“

“Aku membencimu Oh Sehun! Aku benar-benar membencimu! Kau brengsek!”

Jongin dan Chanyeol sama-sama menoleh begitu mendengar umpatan seseorang. Keduanya melihat ekspresi kesal Tao dibelakang mereka, sedangkan Sehun tertawa terpingkal-pingkal.

“Ada apa?”tanya Jongin bingung

“Dia sengaja memanggilku saat di gerbang, dan saat aku menoleh, dia menunjukkan boneka itu didepanku!”

“Boneka?” Dua pasang mata Jongin dan Chanyeol melirik pada benda yang dipegang oleh Sehun. Boneka Chakki yang wajahnya memang sangat menyeramkan dan terlihat 80% seperti asli. Pantas saja Tao yang memang penakut begitu marah dengannya.

“Jangan mendekatinya, dia tidak akan berhenti mengganggumu” Jongin memperingatkan Tao membuatnya semakin cemberut kesal. Sedangkan Sehun, justru semakin tertawa keras.

***___***

Ada yang berbeda dari teman-teman sekelas Jongin hari itu. Saat Jongin, Kyungsoo, Sehun, Tao dan Chanyeol masuk kelas, mereka disambut dengan senyuman manis dari murid-murid yang sudah datang. Termasuk Kris dan Suho.

Bukan. Bukan senyuman manis. Tapi senyuman menyeramkan seperti di film-film horror saat penjahat mendapatkan ide cemerlang untuk melakukan kejahatannya.

“A-ada apa dengan kalian?”

“Selamat datang Kyungsoooooo~~~! Wohooo~~!” Tiba-tiba semua murid berlari ke depan, menghampiri Kyungsoo, menaburinya dengan potongan kertas kecil warna-warni yang ternyata sengaja mereka persiapkan.

“Kau baik-baik saja, kan? Jangan terluka lagi, oke?”seru Suho masih menghujani Kyungsoo dengan potongan kertas kecil

“Maafkan aku, Kyungsoo. Sekarang kita berteman”sahut Kris ikut melakukan hal yang sama

Kyungsoo mendengar semua ucapan teman-temannya itu. Tapi, ia bersikap seperti tidak mendengar. Perhatiannya terlalu fokus pada benda-benda yang menghujani tubuhnya. Perlahan, telapak tangannya mengadah.

Jongin menoleh, menatap Kyungsoo dengan senyuman tipis di bibirnya. Mata bulatnya terlihat berbinar-binar. Mungkin, ia sangat menyukai hal itu.

“musim semi…”

Mata Jongin sedikit melebar mendengar gumaman Jongin. Jadi, dia menganggapnya sebagai musim semi? Potongan kertas-kertas itu?

“Kenapa kalian melakukan ini? Bukankah kalian membenci Kyungsoo?”cibir Sehun menatap sinis kearah teman-temannya

“Kris yang memberikan ide pada kami. Dan kami rasa, kami ingin menganggap Kyungsoo sebagai murid biasa lainnya”jawab Suho tersenyum lebar

“Tsk, idemu sangat terlambat Kris”

“Hey, walaupun terlambat tapi aku telah berusaha bersikap baik” Kris berkilah

Sehun sudah membuka mulutnya, tapi telapak tangan Jongin lebih dulu membungkam mulutnya dari belakang. Jika tidak dihentikan, pasti akan ada perkelahian lagi. Oh Sehun memang menyebalkan.

“Terima kasih, Kris”

***___***

Jongin menemukannya.

Setelah sekian lama memikirkannya, akhirnya ia menemukan jalan keluar. Musim semi itu bisa diciptakannya sendiri. Dan dia akan melakukannya besok sekaligus memberitahu pada Kyungsoo tentang sekolah barunya nanti.

Jongin berniat membuat sebuah event kecil. Dia sudah mendiskusikannya pada Chanyeol, Tao, Suho, Kris dan Sehun dan mereka mau membantunya.

Ia tidak sabar untuk besok. Ia tidak sabar untuk melihat ekspresi Kyungsoo. Ia ingin melihatnya tersenyum. Dan dia sudah bertekad, besok adalah hari dimana Kyungsoo akan mengeluarkan ekspresi untuknya. Harus.

***___***

“Chanyeol! Jaga Kyungsoo dengan baik. Oke?”seru Jongin saat Kyungsoo dijemput oleh Chanyeol dan teman-temannya. “Kyungsoo, tunggu aku. Aku akan datang dan membawa musim semi untukmu”

Kyungsoo mengangguk. Lalu menurut saat Chanyeol dan Tao mengapit kedua lengannya. Walaupun jarang bicara, tapi Kyungsoo mulai akrab dengan Chanyeol dan yang lain.

“Sudah siap?”tanya Sehun menepuk pundak Jongin

Jongin mengangguk mantap,”tentu saja. Aku akan mengembalikan uangmu secepatnya”

“Hey, jangan terburu-buru. Luhan bilang kau tidak perlu mengembalikannya”

“Tapi aku berhutang padamu. Apapun caranya aku akan mengembalikannya”

Sehun mendengus, “tsk, terserah kau”

Jongin dan Sehun berjalan kaki menuju sebuah toko bunga. Mereka berniat membeli potongan kelopak-kelopak bunga untuk menciptakan musim semi itu. Agar suara tawa itu terdengar sekali lagi.

Kali ini harus karenanya. Bukan karena Sehun.

Saat bibi penjual memberikan satu plastik berisi kelopak-kelopak bunga, barulah mereka menuju sebuah taman yang sudah ditentukan.

“Kali ini harus berhasil, oke?”seru Sehun

“Aku bahkan telah berhutan padamu. Jadi semuanya harus berhasil. Jika dia tersenyum, kau jangan lupa memotretnya, oke? Aku akan memperlihatkannya pada ibu. Ibu pasti sangat senang”

Sehun tersenyum lebar, “Oke”

Gerimis belum menyelesaikan rintikannya saat Jongin dan Sehun hampir sampai. Sedikit kecewa memang karena cuaca sama sekali tidak bersahabat, membuat keduanya harus semakin merapatkan jaket mereka.

Bersebrangan, Jongin dan Sehun melihat Kyungsoo, Chanyeol dan teman-temannya sedang berdiri dibawah sebuah pohon. Chanyeol terlihat sedang menceritakan sesuatu dan tertawa sendirian. Entah. Tidak ada yang tau apa yang sedang ia ceritakan hingga ia sendiri tertawa begitu keras –suaranya terdengar hingga ke sebrang-

“Kyungsoo! Kyungsoo!”  Jongin sedikit melompat dan melambai-lambaikan tangannya pada Kyungsoo, mencoba menarik perhatian pria itu agar ia melihatnya. Ditempatnya, Kyungsoo menoleh.

“Jongin, tunggu. Tali sepatuku terlepas…”

Jongin tidak mendengar ucapan Sehun dan meninggalkannya menuju zebra cross saat ia membungkuk dan mengikat talinya.

“Jongin! Hey!”

Senyumnya terus mengembang menatap ke depan. Benar-benar tidak sabar ingin memperlihatkan pada ibunya jika dia bisa membuat Kyungsoo tersenyum.

Namun, kebahagiaan itu membuat kewaspadaannya terhadap sekitar menjadi berkurang. Pengemudi truk yang sedang mengantuk itu juga tidak melihat jika ada seseorang yang ingin menyebrang didepannya.

Sebuah bunyi keras terjadi di tempat itu. Saat logam bertabrakan dengan daging.

Tubuh itu seketika tergeletak di jalan aspal. Plastik yang dipegangnya terlepas dan menghujani tubuhnya dengan kelopak-kelopak bunga, juga rintik-rintik hujan yang terus turun.

Terpaku. Sehun menatap kejadian itu seperti sedang menikmati sebuah film yang bergerak pelan. Ia melihatnya dengan jelas. Dari awal hingga akhir.

Bahkan saat teriakan-teriakan itu terdengar, saat Tao berlari dan mengguncang tubuhnya, ia tak juga tersadar.

Baru beberapa saat yang lalu mereka saling merangkul pundak. Baru beberapa saat yang lalu mereka saling memberi semangat.

Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul saat kakinya bergerak kesana. Tidak lagi terpaku, kini ia berteriak seperti orang yang kesetanan. Seperti kehilangan akal dan pikirannya.

Ia mengguncang tubuh Jongin kuat-kuat.  Memukul pipinya agar seseorang yang selalu ia panggil sebagai sahabat itu membuka matanya.

Tidak ada sahutan. Tidak ada reaksi. Saat kelopak mata yang menutup itu tertutup oleh kelopak-kelopak mawar putih.

Sedangkan ditempatnya, Kyungsoo masih berdiri disebrang. Sama seperti keadaan Sehun, dia seperti tidak mendengar apapun. Bahkan saat Chanyeol mengguncang tubuhnya kuat.

Saat Chanyeol menggandeng tangannya dan memaksanya untuk berjalan, barulah dia bergerak.

Ia melihatnya. Ia melihat Sehun sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Jongin.

Kyungsoo membungkukkan tubuhnya perlahan, berjongkok didepan Sehun, disamping tubuh Jongin. Tangannya terulur, membersihkan kelopak-kelopak bunga yang terjatuh diatas wajah Sehun lalu mengatupkan kedua telapak tangannya di pipinya.

Untuk sesaat, ia memandangnya dalam diam. Untuk sesaat, ia mencoba memahami jika Jongin bukan sedang tertidur. Ia tertidur untuk selamanya.

“Sehun, sudahlah. Aku mohon jangan menangis lagi. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Ayo” Tao mencoba melepaskan tangan Sehun yang masih memeluk Jongin kuat-kuat. Ia juga menangis

Ada sebuah emosi yang perlahan terbentuk dihati Kyungsoo, sedikit demi sedikit bergerak keatas dan ingin meledak. Wajahnya memanas, ada genangan air yang terjadi di pelupuk matanya.

Tubuh Jongin dingin seperti hujan yang dibencinya. Ia tidak bergerak dan tidak tersenyum seperti biasanya.

“Jong…in…”seraknya perlahan menundukkan kepalanya, ia memeluk tubuh Jongin kuat-kuat. Perlahan, ada suara isakan terdengar. Kyungsoo… dia menangis.

“Jongin… jangan tinggalkan aku…”tangisnya tersendat. “Aku sudah menghapal apa yang harus aku lakukan saat pergi keluar rumah. Aku…aku tidak akan tidur di kamarmu lagi. Jongin…ayo…bangun. Jongin…”

Jongin menginginkan Kyungsoo mengeluarkan emosi karenanya. Ia ingin membuktikan jika saudaranya itu bukan makhluk apatis.

Dan inilah emosi pertamanya. Tangisan.

Saat hujan membuat tubuhnya dingin. Saat hujan menutup kedua matanya. Dan saat hujan membawanya pergi.

Itulah emosi pertamanya.

Saat tidak ada lagi seseorang yang selalu menjaganya. Saat tidak ada lagi seseorang yang akan mencoba membuatnya tersenyum walaupun dia tidak akan mendapat respon apapun.

Sekarang… Jongin telah pergi.

***___***

Musim dingin pergi. Tapi sepertinya dia lupa membawa pergi anginnya bersamanya. Angin masih berhembus kencang saat bunga-bunga mulai bermekaran. Saat matahari mulai bersinar terang.

Seorang pria bertubuh mungil sedang berdiri dalam kesendiriannya. Menatap datar kearah anak-anak yang sedang bermain bola di sebuah lapangan.

“Hey mata besar! Ayo pulang, sepertinya hujan akan turun lagi”seseorang memperingatkannya. Seorang pria dengan tubuh putih dan kulit seputih susu.

“Se..hun..”

“Ayo!” Sehun menarik tangan Kyungsoo dan mengajaknya kembali ke rumah. Nyonya Kim sudah menunggunya.

Namun saat hendak menuju rumah, ternyata hujan lebih dulu turun membasahi bumi. Sehun menggeret Kyungsoo dan buru-buru menepi.

“Bagaimana kita bisa pulang jika hujan sederas ini?”gumam Sehun menatap ke langit

Kyungsoo hanya diam sambil terus melihat kebawah.

“Mata besar, kita tunggu disini hingga hujan reda. Oke?”

“Aku benci hujan…”

Sehun menoleh, “Ehh?”

“Hujan telah membawa Jongin pergi…”serunya pelan bersamaan dengan air mata yang mulai terlihat di pelupuk matanya. “Jongin menyukai hujan, tapi… aku tidak. Aku membenci hujan, tapi aku… tidak… membenci Jongin…”

Sehun tersenyum haru menatap sisi wajah Kyungsoo. Kembali mengingat Jongin, akan membuatnya kembali menangis. Karena, saat rasa rindunya sudah mencapai titik yang paling puncak, dia tetap tidak bisa melihat wajah itu lagi.

Walaupun ia menangis, walaupun ia berteriak, Jongin tetap tidak akan kembali. Tidak ada lagi seseorang yang akan diganggungnya saat dia bosan. Tidak ada lagi seseorang yang akan menampung keluhannya tentang Luhan, dan tidak ada lagi seseorang yang akan dia percayai untuk melakukan sesuatu bersama.

Dan bagi Kyungsoo, Jongin adalah emosinya. Tidak. Dia bukan tertawa karena Sehun. Dia tertawa karena mengingat kejadian lucu tentang Jongin. Baginya, hanya dia yang mampu membuatnya tertawa walaupun saat itu dia tidak tau apa alasannya. Dan Jongin, juga bisa membuatnya menangis. Saat ia pergi meninggalkannya.

Jongin adalah emosinya. Yang telah pergi dan tidak akan kembali. Ia tidak pernah lagi tertawa, ia tidak pernah lagi menangis. Karena ia sudah tidak mempunyai emosi.

Tapi, Tuhan sangat menyayangi Kyungsoo. Dia memang mengambil Jongin dari sisinya, tapi Jongin tidak meninggalkannya sendirian. Dia meninggalkannya bersama teman-teman baru yang akan selalu menjaganya.

Sehun, Chanyeol, Kris, Tao dan Suho.

Dan akhir desember itu menjadi saksi jika Alexithymia juga punya perasaan. Walaupun hanya satu kali, tapi Kyungsoo pernah mengeluarkan emosinya. Dan akan kembali memperlihatkannya saat ia mengenang Jongin.

Karena Jongin, adalah emosinya…

END

73 thoughts on “Miracle in December (3/3)

  1. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Ga ktbak kl end’y kya gnee.zukses dh bwt crta yg bner” mellow ini.all johae ,walau nangs ga brhnt” daebakk thor^^

  2. Little Maknae berkata:

    Aku baru baca ff ini. Liat tokoh Kyungsoo disini jadi keinget Chanyeol di Baby’s Breath T-T
    Suka banget sama Sehun disini. Dia care bgt sama temennya. Tapi endingnya kenapa Jongin harus mati? TToTT

  3. Elf berkata:

    Huwwwaaa….
    Udah berkali” baca , tp kna terus feel nya ….. Lagi” nangis , lgi” hidung mampet …. Daebakk dah buat author mija

  4. mia berkata:

    endingnya bikin nagis chingu
    kirain mau happy ending tapi malah ending’a jongin meninggal
    yg bikin qw salut juga sama sehun aklhhhhhhhh si makane nakal T_T

  5. nudia berkata:

    jinja, ini adalah salah satu ff yang bikin aku nangis, padahal aku orangnya gak gampang nangis, ini ff yang bikin aku tersentuh dah kena feel nya jinja daebak.

  6. exo hun hunnie berkata:

    Ahhh eonnie aku nangis sesegukan😥 aku baru nemu ff yg bisa buat aku nangis sesegukan😥 gomawo eonnie :’)

  7. Liddy-Park berkata:

    yah klau jongin mati itu namanya bukn miracle in december thor,
    heheee
    knpa sad ending?
    aaaaaaaaaa
    knpa sad ending?
    knpa?

    critanya bgus thor, bnyak psan moral,

  8. BeBaek_Muth berkata:

    Buat authorx salam kenal…
    Hikss…
    Mungkin sy bcax telat…
    Tapi,, nhe cerita bener2….
    HuwaAaaa…
    Hikzz.. Hikzz..
    Author hrus tggung jwb nhe,, sy bwaanx pgen nangis mulu…
    ;(
    semangat trus yg bkin ffnya..

  9. HR berkata:

    hua……!!!!! knp sad ending sih,,???
    pas awal part ini aja aq sneng krn aq kira bklan happy ending. eh ternyta malah sad ending…..

    author daebak…….!!!!!!!

  10. Gaze berkata:

    Annyeong^^ maaf ya baru comment di chapter terakhir.__.
    Thor, sumpah…. Dari sekian banyak FF yang gua baca, cuma FF ini yg bikin hati gua “goyang” sebagai seorang namja.
    Daebbak lah authornya!^^

  11. Indah Kwon berkata:

    Hiks! Aku nangis bacanya😥 sedih sekali dan sangat menyentuh😥 daebak!!!! Mata ku sembab bgt karena nangis … FF keren bgt! Aku terbawa emosi (y) daebak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s