Miracle in December (2/3)

miracle in december

Author : Ohmija

Tittle :  Miracle in December

Genre : Sad, Brothership

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, other member EXO

Cover by @baltacheakiriwe

Pagi ini adalah pagi yang sangat tidak diharapkan datang oleh Jongin. Sangat ingin melewati satu hari ini dan tidak pergi ke sekolah seperti niat awalnya. Semalaman, ia sudah berusaha untuk memberanikan dirinya, sudah mempersiapkan jawaban jika teman sekelasnya bertanya padanya, juga sudah memikirkan bagaimana ia harus bersikap didepan Kyungsoo.

Berdiri didepan cermin, Jongin memperlambat gerak tangannya mengaitkan dasi di lehernya. Sengaja mengulur waktu dan berharap jika saja ibunya bisa berubah pikiran. Tapi, rasanya hal itu sangat mustahil mengingat bagaimana semangatnya ibunya kemarin saat melihat Kyungsoo memakai seragam sekolah.

“Hey, Kkamjong! Sampai kapan kau akan berdiri disana dan menatapi wajahmu yang tidak akan berubah menjadi putih?”

Jongin langsung memutar tubuhnya dengan cepat saat telinganya mendengar celetukan paling kejam yang pernah ia dengar. Ia sudah tau siapa pelakunya. Hanya satu orang yang berani mengatakan hal itu padanya.

Ia mendelik, “Kau,!”

“Hehehe…aku menjemputmu. Ayo ke sekolah”balas Sehun menyeringai lebar. Ia berlagak seolah ia adalah pemilik rumah. Menggerakkan dagu dan menyuruh Jongin untuk keluar mengikutinya.

“Nyonya Kim, apa yang kau masak pagi ini?”sapanya dengan sikap yang-ia-anggap-sopan. “Bibimbap?”serunya lagi setelah melihat campuran nasi dan sayur terhidang diatas meja makan.

Nyonya Kim tersenyum lembut, “mau bergabung bersama kami?”

“Tentu saja. Kebetulan aku sedang lapar” Dengan sigap, ia menjatuhkan diri disalah satu kursi dan membalik mangkuk yang terlungkup. Kyungsoo duduk disebrangnya. Ia tersenyum saat melihat pria itu – walaupun Kyungsoo sama sekali tidak melihatnya –

“Hei, Mata Besar!” Ia memajukan tubuhnya hingga menyentuh ujung meja, tangan panjangnya ia lambai-lambaikan didepan wajah Kyungsoo agar pria itu menyadari keberadaannya.

Kyungsoo mengangkat wajahnya, menatap Sehun linglung. “Hei…”balasnya pelan

“Kau akan menjadi seorang murid sebentar lagi. Bagaimana? Kau senang?”tanyanya terlalu bersemangat. Ia terlihat begitu antusias dibandingkan Kyungsoo sendiri.

“Aku senang”

Wajah Sehun langsung cemberut. Apa wajah seseorang yang sedang bahagia seperti itu?

“Jika dia mengatakan senang,artinya dia memang senang” Jongin bergabung, tangannya masih sibuk mengancingkan blazernya dan merapikan kerah bajunya yang terlipat.

“Aku tau. Hanya saja…ekspresinya saat bahagia terlihat sedikit berbeda”

Jongin tertawa geli, bagi anak yang sudah berumur 16 tahun seperti mereka, Sehun terlalu polos untuk semua hal. Ia lebih cocok menjadi anak berumur 10 tahun dibandingkan 16. Wajahnya dan postur tubuhnya yang tinggi memang menunjukkan jika sosoknya adalah sosok yang tangguh, tapi sebenarnya…dia jauh lebih bodoh dari itu.

“Bisakah kau membantu Jongin untuk menjaga Kyungsoo?”tanya nyonya Kim sambil menumpahkan bibimbap ke dalam mangkuk Kyungsoo.

“Menjaganya?” Sehun terlihat berpikir. “Aku tidak yakin karena aku harus latihan sepak bola tapi sebisanya, aku akan menjaganya…”

Jongin mencibir, “Bisakah kau tidak terlalu jujur dan hanya mengatakan ‘iya’ untuk menghibur ibuku, huh?”

“Aku bilang, aku akan berusaha”

“Tapi kau bersikap seolah-olah kau adalah orang yang sibuk”

Sehun mengerjap, “Aku memang sibuk”

“Hey!”

“Cepat habiskan. Oh Luhan bilang dia akan menjemput kita. Sebentar lagi dia pasti akan sampai”jawab Sehun mengabaikan pelototan Jongin

“Luhan mau menjemput kalian?”tanya nyonya Kim

Sehun mengangguk –dengan mulut yang masih penuh dengan makanan- , “aku pergi diam-diam kesini saat ia masih tidur. Namun, begitu ia bangun dan tidak melihatku, dia langsung menelponku dan mengatakan dia tetap akan mengantar ke sekolah. Aku rasa tidak ada buruknya juga jika kita pergi bersama-sama”

“Kakakmu masih saja seperti itu…”

“Yeaaah, terkadang dia lebih terlihat seperti seorang bodyguard daripada kakakku sendiri. Dan tidak jarang juga dia justru bersikap seperti seorang bibi yang cerewet” jelasnya kesal mengingat tingkah kakak laki-lakinya yang begitu protektif.

“hehehe…”

“Oe?”

Seketika Jongin dan Sehun berhenti mengunyah makanan mereka dan menoleh kearah Kyungsoo dengan mata terbelalak lebar. Tidak salah lagi. Mereka mendengar suara tawa. Suara tawa yang terdengar pelan namun jelas.

Disana…di wajah polos itu terlihat sebuah senyuman manis. Ia menyeringai, lumayan lebar karena deretan gigi-giginya terlihat.

“Kyungsoo…kau…” Jongin bahkan sampai kehilangan kata-katanya. Seluruh deretan kata-kata yang ingin keluar seperti tertahan dipangkal tenggorokan. Selama tiga tahun ini, ini adalah pertama kalinya ia melihat Kyungsoo tertawa. Begitu jelas. Begitu nyata. Heart shape lips-nya tersenyum. Ini sungguh-sungguh!

“Mata Besar! Kau tertawa! Kau tertawa!”jerit Sehun melompat dari kursinya dan menghampiri Kyungsoo. Ia mengulurkan tangan, mencekal kedua bahu Kyungsoo dan memutar tubuhnya untuk menghadap kearahnya. Matanya berbinar. Menjadi sahabat Jongin setelah sekian lama, ia ikut merasakan bagaimana penderitaannya mempunyai saudara yang memiliki keterbelakangan seperti Kyungsoo. Dan saat ini, ia ikut bahagia karena melihat senyuman Kyungsoo yang selalu ditunggu-tunggu.

“Kau tertawa! Kau tertawa!”seru Sehun terlalu bersemangat. “Coba katakan, kenapa kau tertawa?”

Senyuman itu seketika menghilang setelah Sehun mengeluarkan pertanyaan. Kembali berubah menjadi wajah linglung-tidak mengerti seperti biasa. Kyungsoo menunduk, kemudian menggeleng pelan. “Aku tidak tau…”

“Kyungsoo, apa yang kau tertawakan?”sahut Jongin tak kalah penasaran

Kyungsoo mengangkat tangannya, menunjuk hidung Sehun dengan jari telunjuk membuat Sehun terkejut, “Sehun…dia lucu”

“Jadi kau tertawa karena aku?!” Sehun langsung menegakkan punggungnya dan berdiri tegak disamping Kyungsoo. Matanya terbelalak lebar dengan jarinya yang masih menunjuk pada dirinya sendiri. “Astaga! Lihat itu! Lihat! Nyonya Kim! Aku bisa membuatnya tertawa! Dia tertawa karena aku!”

“Tidak mungkin! Kenapa dia tertawa padahal kau tidak melakukan apapun!”protes Jongin tidak terima. Ia bangkit dari kusinya dan menarik lengan Sehun untuk menjauh dari saudaranya itu.

“Tsk, kau selalu cemburu dengan segala kelebihanku, Kim Jongin. Lihat saja, saudaramu bahkan mengagumi pesonaku” Ia tersenyum bangga sambil menepuk dadanya. Tapi Kyungsoo tidak tertawa lagi. Ia terdiam. Kembali menjadi Kyungsoo yang tidak bereaksi pada apapun.

Sedangkan Jongin, dia merasa senang karena akhirnya ia bisa melihat pria kaku itu bereaksi. Bahkan tersenyum. Tapi, jauh di lubuk hatinya…sebenarnya ia tidak terlalu bahagia seperti yang terlihat.

Ia ingin menjadi alasan dibalik senyuman itu…

***___***

Ada keributan yang terjadi di sebuah kelas yang terletak diujung koridor itu. Suara-suara para perempuan dan laki-laki yang seperti tidak percaya dengan sesuatu yang telah terjadi benar-benar bisa merobek gendang telinga yang mendengarnya. Mereka begitu heboh.

Saat kaki-kaki mungil itu memasuki kelas, banyak orang yang ingin melihatnya. Bahkan siswa-siswi dari kelas lain rela berdesak-desakkan untuk melihat pria itu. Dia aneh, dia berjalan dengan punggung yang bungkuk dan pandangan yang tidak memiliki fokus. Tas ranselnya terlihat lebih besar dari tubuhnya, juga ditangannya…ada boneka koala yang sedari tadi terus saja dipeluknya. Dia lebih terlihat seperti murid playgroup yang akan mengikuti pelajaran daripada murid SMU.

Sambil menahan-nahan malunya, Jongin berusaha untuk bersikap ia tidak memiliki gendang telinga untuk saat ini. Berusaha menahan dirinya agar ia tidak memukul seseorang jika ada yang mengatakan hal-hal buruk tentang Kyungsoo, terlebih lagi..menyinggung masalah ayahnya.

“Aku akan pindah ke belakang”seru Sehun yang harus menerima jika kini kursi yang telah sekian lama ia duduki memiliki penghuni baru. Ia memilih kursi yang berada tepat dibelakang Jongin, meletakkan tas ranselnya lalu mencari-cari sosok Woohyun, “aku duduk disini. Kau cari kursi lain, oke?”

“Jongin, siapa dia? Kenapa kau bawa orang aneh ke kelas ini?”cemooh Kris dari deretan kursi paling belakang.

“Apa dia tidak pernah minum susu? Kenapa tubuhnya bungkuk?”sahut Tao kemudian tertawa geli.

Jongin memejamkan matanya kuat-kuat. Telinganya mulai panas. Memang benar jika dia tidak terlalu akrab dengan murid-murid bermasalah yang duduk dideretan belakang, tapi ia pikir, ia tidak mempunyai masalah dengan mereka –kecuali dengan Chanyeol karena mereka pernah bersaing untuk mendapatkan posisi kapten sepak bola, yang mana dimenangkan oleh Jongin-

“Diamlah.Sebaiknya kau pergi ke salon untuk merawat kulitmu yang semakin lama semakin menghijau itu”bela Sehun menatap Tao santai.

Tao mendelik, “apa?!”

“Jongin, siapa dia?”tanya Suho, dia adalah ketua kelas di kelas Jongin.

Jongin sudah membuka mulutnya, sudah ingin mengatakan semuanya namun ia tidak menemukan kata-kata yang tepat. Ia ingin berkilah. Ia ingin mengelak. Tapi, walaupun Kyungsoo selalu bersikap jika dia tidak mengerti dengan keadaan disekitarnya, ataupun jika ada seseorang yang menghinanya seperti tadi, Jongin yakin di dalam hatinya ia bisa mengerti.

Ia memang memiliki keterbelakangan. Ia tidak mampu membaca dan menulis dengan baik. Juga, ia hanya mampu mengingat hingga sepuluh angka dan tidak lebih. Dia tidak memiliki perasaan. Dia tidak mempunyai ekspresi. Tapi, biar bagaimanapun dia tidak tuli. Dia masih mempunyai pendengaran yang baik karena ibunya santa rutin membersihkan telinganya.

Ia takut, bagaimana jika suatu saat Kyungsoo tiba-tiba menangis? Suara tawa itu, akan semakin mempunyai jarak yang jauh.

“Dia…” Jongin meneguk air liurnya, masih berada dalam usahanya untuk memberanikan dirinya sendiri.

“Do..Kyungsoo…”

“Ehh?”

Suho, Jongin, dan seluruh murid seketika melirik Kyungsoo saat pria itu mengeluarkan suara.

“Namaku…Do Kyungsoo…aku adalah anak Ibu Kim. Dia baik..dia mengadopsiku saat orang tuaku meninggal. Aku menyukai ibu Kim”jelas Kyungsoo menatap bingung kearah lantai.

Hal itu benar-benar membuat Jongin langsung membulatkan matanya lebar-lebar. Tenggorokannya terasa serak. Paru-parunya terasa sesak seperti tidak ada oksigen yang mengisinya.

Kenapa? Kenapa dia tidak mengatakan jika dia adalah seorang anak yang orang tuanya telah ditabrak oleh ayahnya? Kenapa dia justru membanggakan ibunya? Dan kenapa dia menyembunyikan semuanya yang telah terjadi?

Dia tidak mengerti. Dia yakin Kyungsoo tidak mengerti. Darimana dia mendapatkan kata-kata itu? Darimana dia mampu mengarang sebuah kebohongan yang seharusnya ia tidak bisa melakukannya?

Sehun menyadari perubahan diri sahabatnya itu. Ia tau ia tengah bertarung dengan hatinya sendiri. Ia tau, ia telah mendapat pukulan keras dalam keterdiamannya. Karena itu, dia mengambil alih kendali agar pandangan-pandangan aneh itu tidak terarah pada Kyungsoo lagi.

“Lihat, dia adalah anak yang manis”serunya lantang lalu menyeringai lebar. “Apa masalah jika dia berjalan dengan punggung yang membungkuk? Dan apa salahnya jika dia membawa boneka ke kelas? Pria se-manly Kris pun membawa boneka kesayangannya di dalam tas”

“Hey! Jangan asal bicara!”sungut Kris tidak terima. Wajahnya merah padam menahan malu.

“Jangan mengelak. Aku pernah melihatmu mengeluarkan boneka saat kelas sepi. Mungkin sekarang boneka itu juga ada di dalam tasnya”ujar Sehun enteng

“Tidak! Dia bohong!”elak Kris karena semua pasang mata kini tengah terarah padanya.

“Suho, mungkin dia memang berbeda. Tapi aku rasa dia berhak menerima perlakuan yang sama di kelas ini” ia melirik pada Jongin yang sedang tersenyum berterima kasih padanya. “Dan bagi kalian…perempuan-perempuan genit. Sebaiknya kalian berhenti mengagumi Kris, si kapten basket yang suka dengan boneka itu dan—“

“Jika kau mengatakannya lagi, aku akan menghajarmu!”

“Coba saja” Ia masih saja bersikap santai. Ia melanjutkan ucapan diplomatisnya lagi, “memang banyak pria tampan disini tapi aku rasa Kyungsoo berbeda. Dia memiliki mata bulat dan heart shape lips. Wajah sengsaranya juga terlihat manis…”

“Oh Sehoon hentikan. Terima kasih atas pembelaanmu” Jongin mendengus dengan sikap terlalu jujur Sehun, namun, dalam hati ia mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Lega.

***___***

Dia pikir, mungkin dia telah melewati masa-masa terberatnya. Masa-masa dimana semua pasang mata akan terarah lurus padanya. Tapi, semuanya sudah berlalu. Dan semuanay telah teratasi walaupun masih ada sedikit rasa janggal dihatinya.

Tentang Kyungsoo.

Si aneh yang tiba-tiba menyelamatkannya dari pandangan buruk. Juga menjaga nama baik ibunya.

Ia tidak tau jika Kyungsoo begitu mencintai ibunya sampai ia bisa mengatakan hal itu. Hal yang justru bisa menciptakan tatapan kasihan padanya.

Ia sendiri tidak mengerti, memori apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Kyungsoo. Terkadang, ia menangis karena kesedihan yang telah lama terjadi, bahkan Jongin sudah tidak mengingatnya lagi. Ia hidup dalam dunianya sendiri, yang orang lain tidak dapat memahami.

Saat jam istirahat, keduanya duduk bersama di tepi lapangan bola. Sengaja memilih sebuah kursi yang terletak tepat di bawah pohon maple yang daunnya mulai berguruan.

“Whoa! Ibu membawakan spaghetti cream untukmu!” Jongin sengaja berekspresi berlebihan untuk memancing ekspresi Kyungsoo. “Kau suka spaghetti kan? Cepat makan”

“Whoa! Sphagetti!”

Dan disana ada Sehun. Ia melompat dari arah belakang Jongin membuatnya tersentak dan langung berwajah masam.

“Hai mata besar!”sapanya. Ia menggeser kursi lain berhadapan dengan Jongin lalu duduk disana. Seseorang yang berwajah mirip dengannya mengikuti.

Itu Luhan. Kakak kandung Sehun yang terpilih menjadi ‘murid yang paling dicari’ siswa perempuan. Sudah menjadi rahasia umum jika keluarga Sehun adalah keluarga yang kaya dan memiliki gen yang unggul.

Walaupun terlihat konyol, tapi Sehun mempunyai postur tubuh yang tinggi serta wajah tampan. Kulitnya seputih susu dan memiliki eye-smile yang bisa meluluhkan hati semua orang saat ia tersenyum – kebanyakan para murid kelas 2 dan 3 menyukainya –

Berbanding terbalik dengan Luhan, dia memang bertubuh lebih pendek dari Sehun. Tapi, sifatnya benar-benar manly. Pembawaannya tenang dan cenderung dingin. Selain murid yang memiliki wajah paling baby face, dia juga termasuk ke dalam siswa pintar yang sering menjuarai olimpiade matematika dan fisika. Disamping itu, karena telah mendapatkan SIM-nya pada kelas 2, dia diijinkan untuk mengendarai mobil ke sekolah.

“Kau pasti belum pernah melihantnya kan? Kenalkan, dia saudara Jongin”seru Sehun memperkenalkan Kyungsoo

Luhan melirik, menatap Kyungsoo yang tengah asyik menyantap makan siangnya dengan lahap.

“dia hanya dimanfaatkan” suara Luhan terdengar pelan. Bola matanya beralih menatap Jongin yang langsung menatapnya dengan kening berkerut. “Aku bertemu kepala sekolah untuk membicarakan tentang persiapan olimpiade. Karena terdengar ribut-ribut, dia mulai membahas Kyungsoo dan aku bertanya apa dia benar-benar menjadi seorang murid atau tidak” Ia menghentikan ucapannya sejenak. “Kepala sekolah bilang, ibumu memang memintanya untuk mengijinkan Kyungsoo bersekolah, agar ia bisa bersamamu. Sedangkan dia akan mencari cara untuk menemukan bibi pembantu secepat mungkin. Awalnya, kepala sekolah menolaknya karena sekolah bukanlah tempat untuk main-main, tapi ibumu bersikeras dan memohon. Hingga akhirnya, ia mengijinkannya bersekolah dengan syarat harus membayar 50.000won per harinya”

Jongin langsung tersentak, “50.000won?! tapi ibu tidak mengatakan apapun”

“Aku tidak tau” Luhan menggeleng pelan. Mata teduhnya menatap Jongin ikut bersedih. “Aku ikut menyesal. Tapi, aku sarankan jangan memaksakannya lagi. Daripada harus membayar kepala sekolah yang gila harta itu, lebih baik kalian mengurus Kyungsoo di rumah atau sekolah khusus bagi anak-anak sepertinya. Itu jauh lebih menenangkan”

“Kau bisa mencoba untuk bicara pada kepala sekolah, Luhan. Dia pasti akan mendengarkanmu”perintah Sehun mendorong pundak Luhan pelan. “Bilang padanya untuk memberi kompensasi pada Jongin dan Kyungsoo!”

“Haruskah? Tapi, aku punya pikiran lain. Walaupun dia tidak mengganggu Jongin selama jam pelajaran, tapi aku yakin dia telah mengurangi fokusnya pada pelajaran. Jongin tidak akan bisa belajar dengan tenang”

“Tapi—“

“Sudahlah Sehun”potong Jongin. “Terima kasih kau selalu membelaku”

Bukankah seharusnya dia senang? Bukankah seharusnya dia merasa bahagia karna tidak perlu mencemaskan jika teman-temannya mengetahui semuanya? Bukankah seharusnya dia tersenyum sekarang? Tapi, kenapa hal yang satu itu sangat sulit dilakukannya? Kyungsoo memang tidak pernah menunjukkan ekspresi bahagia saat dia memulai hari pertamanya. Dia tetap seperti dulu. Tapi, kenapa Jongin justru ingin melihatnya lebih lama lagi disini? Setidaknya, ia ingin saudaranya itu mengeluarkan emosi.

***___***

“Hai Kyungsoo”sapa Woohyun, salah satu teman satu tim Jongin. Ini hari keduanya. Dan dia terlihat begitu asyik menyoreti buku gambarnya dengan crayon warna-warni. Kepalanya ia tundukkan hingga hanya berjarak beberapa centi dari buku, wajahnya terlihat serius sampai ia tidak mendengar panggilan Woohyun.

Woohyun tersenyum geli, terus berjalan melewati kursi Sehun dan menjatuhkan diri di kursi yang ada dibelakangnya. Itu kursi barunya.

“Dia benar-benar lucu”ujarnya terkekeh menunjuk Kyungsoo sekilas

“Yeah. Aku sendiri tidak menyangka kenapa Jongin mengkhawatirkannya. Dia sangat lucu”angguk Sehun menyetujui

“Karena tidak semua orang yang bisa menerimanya. Bersyukur sekali kita memiliki tim yang mau menerima satu lain”

“Yeah, dan aku harap teman sekelas juga”

“Lalu dimana Jongin?”

“Pergi ke toilet”

“Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia sedang menggambar? Oh, ayolaaah… ini bukan playgroup” Chanyeol dan Tao yang baru saja memasuki kelas dan mendapati Kyungsoo sedang menggambar langsung memulai ejekannya. Keduanya terkekeh.

“Selain bodoh, dia juga tuli”sahut Kris berdiri dibelakang keduanya karena Kyungsoo tidak menjawab apapun.

“Orang bodoh sepertimu tidak boleh bersekolah disini, mengerti?!”

Chanyeol menghambur kotak crayon yang ada didepan Kyungsoo kasar, membuatnya langsung mendongakkan wajah. Ia menatap Chanyeol linglung.

“Du Byungsho…pwahaha…dia bahkan tidak bisa menulis namanya sendiri”ejeknya lagi melihat tulisan nama yang ada diatas sebuah gambar anak laki-laki.

“Kau…menghamburnya…”seru Kyungsoo terbata.

“Jika kau mau, kau saja yang merapikannya”

“Jangan mengganggunya!” Sehun mendorong tubuh Chanyeol lalu menghela napas panjang. Ia benar-benar kesal. Ini masih pagi dan dia sudah mencari masalah. “Sebenarnya apa masalahmu dengannya? Kenapa kau suka sekali mengganggunya?”

“Cih, apa urusanmu? Kau mau bersikap sok pahlawan disini, anak kecil?”sungut Chanyeol melipat kedua tangannya didepan dada.

“Sepertinya kau suka mencari masalah dengan kami. Tidak hanya Chanyeol, tapi kau juga mempunyai masalah denganku!”sahut Kris masih dendam tentang hal kemarin

“Aku membela sahabatku!”tegas Sehun menatap ketiganya.

Rahang Chanyeol mengatup, ia mengulurkan tangannya mencengkram kerah kemeja Sehun kesal. “Kau menantang kami?!”

“Lepaskan tanganmu!”desis seseorang menepis lengan Chanyeol kasar. Itu Jongin. “Jangan pernah menyakiti sahabatku, mengerti?!”

“Mengancamku?!”

“Aku mengancammu!”

***___***

Seusai pertengkaran sengit di kelas tadi pagi, Jongin benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik. Ia terus saja mengkhawatirkan Kyungsoo yang sepertinya tidak disukai oleh Chanyeol dan teman-temannya.

Terlebih lagi, pertandingan sepak bola akan dilaksanakan besok dan dia khawatir dia tidak bisa menjaga Kyungsoo dengan baik.

Seandainya saja, Kyungsoo bisa mengurus dirinya sendiri. Setidaknya melawan jika dia disakiti, dia tidak akan sekhawatir ini.

Saat jam istirahat, walaupun pertengkaran sudah berakhir karena bel masuk berhasil membubarkan mereka untuk sementara, Chanyeol masih menatap tajam padanya dan pada Kyungsoo. Memang benar jika pria tinggi itu tidak pernah menyukai Jongin sejak dulu. Yah, hanya karena dia kalah dalam babak penyisihan dan dia menyimpan dendam pada Jongin.

“Terima kasih sudah membelaku” Sehun menjatuhkan diri didepan Jongin lalu tersenyum lebar.

“Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih. Kau bahkan sudah berkali-kali melindungiku dan Kyungsoo. Terima kasih…”

“ Hehe… kau tau aku bisa diandalkan, kan?”

Jongin tersenyum, “jangan lupa datang latihan nanti sore. Hari ini adalah latihan terakhir kita sebelum pertandingan besok. Kita tidak boleh kalah”

“Oke kapten!”

***___***

Ada keanehan di diri Kyungsoo sore itu. Dia tidak bicara sama sekali padahal Jongin sudah berbicara panjang lebar dan membuat lelucon kecil. Dia seperti tidak mendengar padahal biasanya dia akan membalas ucapannya walaupun hanya sedikit. Tapi, tidak sore itu.

Menyuruhnya untuk duduk di kursi yang ada ditepi lapangan, Jongin bergabung bersama teman-temannya setelah mengikat tali sepatunya. Ia harus berlatih. Bersama Sehun dan teman-temannya.

Ditempatnya, Kyungsoo masih diam. Perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kearah Jongin yang berlari-lari kecil berusaha merebut bola. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi wajahnya mengatakan jika dia ingin menyampaikan sesuatu. Ingin bicara tapi ia tidak bisa mengungkapkannya.

Alexithymia juga punya perasaan. Dan dia… berlari meninggalkan kursinya ke suatu tempat.

TBC

14 thoughts on “Miracle in December (2/3)

  1. nina berkata:

    ‘wajah sengsaranya juga terlihat manis’
    sehun -_____-

    chan kris tao jadi org jahat iia disini eon, huh
    dasar kepala sekolah korup, ck! bisa2 nya disaat kyk gini
    hmm jongin mulai cemburu nihh
    soalnya yg bisa bikin kyungsoo ketawa malah sehun
    yaaa itu kyungsoo mau kemana???
    andwaaeee. nnt malah ketemu chan kris tao trs dijahatin😦

  2. dhamalashobita berkata:

    Banyak orang jahat di part ini..😦
    Sebenarnya aku penasaran kenapa sehun terlihat antusias ngurusin Kyungsoo..hehehe.
    Jongin sayang sama Kyungsoo walapun gitu, dan author menggambarkannya dengan baik. Great writing, authornim🙂

  3. Rieztka Ryu berkata:

    wah .. geng chanyeol, tao ama kris jd orang yg jahat ya …
    tukang bully kyungsoo.

    tp itu waktu si chanyeol ngebullly kyungso, kenapa aku malah bayangin
    reaksi muka kyungsoo yg (O__O) polos dengan mata bulatnya,
    jd malah gemes bukannya kasian .. kekekeee

  4. rani berkata:

    sehun kamu lucu bgt disini heheheeh sedikit terhibur dngan tokoh sehun disini melupakan betapa nyeseknya perasaan si jongin

    lanjutkan

  5. s wanda putri berkata:

    chantakris disini jahat,,,,,,,,sama kayak di blog sebelah…
    kyungsoo walaupun punya penyakit tp dia punya perasaan,,kasihan kyung…
    dasar kepala sekolah mata duitan masa’ 50.000 won itu banyak bgt….aishhhh..

    jongin yg tegar ne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s