S.I.X part 2

Untitled

 

Tittle      : S.I.X

Author    : BPI

Cast         : Kim Jongin-Kai  (EXO)

Jung Ririn (OC)

Oh Sehun (EXO)

Xi Luhan (EXO)

Anh Hara (OC)

Kim Jongdae-Chen (EXO)

Shin Yongri (OC)

And other… (temukan sendiri)

 

Genre      :Friendship, School, Romance, Comedy (maybe)

 

Berulang kali gadis itu menguap di koridor yang hanya di lalui beberapa murid. Ini merupakan pertama kalinya ia datang sekolah di pagi hari. Biasanya ia akan datang jam 8 pagi, karena kelas terpaginya hanyalah ballet.

Dan untuk kesekian kalinya, ia menguap dan berbelok ke arah koridor. Sayangnya karena terlalu sibuk menutup mulut nya yang menguap lebar, ia menabrak seorang murid yang langsung menghardiknya dengan tatapan tajam.

“Mi.. mianhae..” Ucap Ririn, setelah kesadarannya penuh. Ia langsung mengambil kanvas yang jatuh dari tangan wanita yang malah menatapnya dingin itu.

Gadis itu berlalu begitu saja setelah menerima kanvas nya dari Ririn. Ririn mepoutkan bibirnya kesal. Ya dia tahu, bahkan sangat tahu dengan gadis dingin itu. Ia sudah menjadi artis bukan? Anh Hara.. si penari ballet terkenal di Korea. dan satu satunya orang yang tak di sukai Ririn, yah.. semenjak hari kemarin. Karena saat ini ada satu orang lagi yang masuk daftar list yang tak ia sukai.

“Gunakan kaca matamu, atau kau akan menabrak orang lagi setelah ini…”

Ucapan dingin Hara mampu membuat Ririn berbalik dan melotot kesal. Hara berbicara tanpa menengok, dan berjalan kembali setelah mengucapkan kata yang menurutnya adalah saran. Tapi bagi Ririn itu seperti ledekan.

Dengan langkah kesal Ririn melanjutkan langkahnya ke kelas dance modern. Kelas baru yang merupakan kelas paling di takuti di SMA Kirin. Tangannya yang hendak memutar kenop pintu berhenti mendengar suara bising dari arah belawanan, ia melihat siluet Jongin berlari seperti di kejar fans.

Tanpa memperdulikan Ririn yang sudah memegang kenop pintu, Kai mendorong pintu, membuat gadis itu hampir saja terjatuh kalau ia tak cepat cepat menahan tubuhnya.

“Bila kau yakin masuk, masuk saja.. kalau tidak. Keluarlah.. ini belum terlambat” Ejek Jongin dengan seringai yang bertengger indah di bibirnya.

Ririn membulatkan matanya kesal. Hey.. bukankah ia sangat ramah saat menjadi seorang pelayan cafe. Tapi kini menyebalkan.

Kelas ini benar-benar hening. Berbeda dengan beberapa kelas yang pernah Ririn masuki. Hanya ada 12 murid, termasuk dirinya. Dan hanya ada 3 murid perempuan. Kim Hyohyeon dan Luna. Ke 2 gadis yang di juluki queen dance ini menatap Ririn mengejek. Ayolah.. ia tahu Luna mengetahui nya karena mereka dalam kelas balet yang sama.

Ririn menyeret kursi yang ada di pojokan. Duduk di paling ujung kelas yang kursinya di buat setengah lingkaran. Ia duduk tepat berhadapan dengan Kai-Sehun yang sedang asyik bermain dengan pulpennya.

Mereka menyatukan pulpen , lalu menahan pulpen satu sama lain untuk tak jatuh dari adu pulpen yang mereka lakukan. Berulang kali Jongin mendecak kesal karena Sehun selalu saja mengelabuinya.

“Songsaenim datang..” ucap Sehun untuk kesekian kalinya.

“Aku tak percaya, kau pasti membodohiku…”

Ririn yang melihat tingkah laku Jongin hanya menatapnya horor. Mungkin setelah ini Lee songsaenim akan memarahainya.

“Jongin.. lakukan suffle dance sampai kelasku usai..”

Semuanya melongo. Tentu saja. Suffle dance sampai 3 jam ke depan. Sepertinya Jongin tak akan menggunakan kakinya dengan baik setelah ini.

“Ta..tapi songsaenim..” Pembelaan Jongin berhenti saat mata tajam Lee songsaenim menusuknya.

Dengan nafas lemas, Jongin berdiri. Dan berjalan ke ujung kelas. Ia lalu memulai suffle dance hukumannya.

Setelah suasana tak tegang kembali. Lee songsaenim memperkenalkan Ririn sebagai murid baru di kelas dance dan berkata “ Ia adalah murid di kelas ballet..” membuat Ririn mendelik kesal. Kenapa Lee songsaenim membawa ballet di perkenalannya. Membuat yang lain hanya tersenyum mengejeknya.

“Ok.. Jung Ririn.. perlihatkan kehebatan mu di kelas..”

“Mwo?”

“Kau harus memperlihatkan kemampuanmu. Jadi dari itu aku bisa menempatkanmu di kelasku atau.. kelas Hyukjae hyung atau Boa Noona” Ucap Lee songsaenim menatap Ririn yang melotot terkejut.

Bukankah tak ada perjanjian seperti ini. ia bisa skakmat. Bisa bisa ia di tendang dari kelas ini dan di tempati di kelas bawah karena ia memang benar-benar tak bisa menari.

“Ta.. tapi songsaenim.. ini tak ada di perjanjian..” Lee songsaenim hanya tersenyum manis, membuat para murid bergidik ngeri. Jongin yang sedang suffle saja, menggidik kan bahu merinding.

“Sehun, sepertinya kau sudah jago bukan?” Sehun yang sedang mencoret coret buku catatan nya mendongak dan menatap songsaenimnya heran.

“Jago?”

“Nde. Kau sangat jago sampai sampai menantang seorang murid kelas ballad beattle dance… seperti halnya seorang dewasa merebutkan permen dengan anak kecil..”

Gigi Sehun menggeretak karena menahan kesal karena ucapan songsaenimnya itu. Ia masih memandang songsaenim yang memandangnya lurus. Hanya satu kata, ia tak ingin membuat ini berlanjut. Apalagi eommanya tahu.

“Mianhamnida songsaenim…”

Pria yang duduk di depan tengah para muridnya itu malah tersenyum senang mendengar ucapan muridnya. Ia lalu bertepuk tangan, dan menunjuk Sehun.

“Tunjukkan padaku dance sederhana.. dan keluarga baru kita harus bisa dalam sekali demontrasi..”

Semuanya terdiam, bahkan Jongin pun menghentikan hukumannya. Melihat punggung Ririn yang menegang. Gadis itu menggigit bibir bawahnya takut. Ini memang hari awal dan akhirnya di kelas dance modern.

Sehun berdiri, bersiap siap di tengah ruangan. Tanpa aba-aba Lee songsaenim menghidupkan musiknya, membuat Sehun dengan asal membuat gerakan meliuk dan menghentak dengan seksama. Ririn mengutuk dirinya sendiri. Kenapa harus Oh Sehun yang kini memandangnya mengejek yang harus ia ikuti gerakannya.

Yah.. hanya sebentar dan Lee songsaenim mematikan musiknya. Menyuruh Sehun duduk. Dan menyuruh Ririn mengulang.

Ririn tadi memang memperhatikan. Ia ingat bagaimana gerakan gerakan yang di lakukan Sehun, tapi ketakutan yang membuatnya seperti orang bodoh di tengah-tengah kelas.

Musik di play

Ia bergerak… meliuk dan menghentak..

Ia memejamkan matanya. Terlalu takut bila semua menatapnya heran karena dance yang aneh, atau bahkan menertawakannya.

Ia menggigit bibirnya saat merasakan ada kesalahan di gerakan yang ia buat. Dan dengan secepat kilat ia betulkan.

Musik berhenti

Ririn membuka matanya dan melihat semuanya melongo menatapnya. Bahkan Jongin yang berada di pojok ruangan menatapnya lurus. Sehun yang tadi tersenyum mengejek, tersenyum kembali, bukan ejekan.. ini senyuman beda dari yang tadi.

“Hebat”

Komentar Lee songsaenim sebelum menyuruh Ririn duduk dan melanjutkan pelajarannya.

 

-_-

 

“Jongin berhentilah..”

Pria berkulit agak gelap itu langsung melorot ke lantai. Nafasnya menggebu, dan keringat sudah mengalir dari pelipisnya dan membasahi kemeja seragamnya. Ia pun sudah membuka blezzernya entah sejak kapan.

“Cukup untuk hari ini”

Semua murid menghela nafas. Hari ini benar-benar melelahkan. Lee songsaenim benar benar membuat jantung mereka berdegup kencang selama 3 jam pelajarannya. Ia menyuruh semua murid untuk mendemonstrasikan dance bebas. Dan memberi komentar komentar pedas seperti biasa.

“Aku sudah memilih 2 murid yang akan ku bimbing di tugas akhir nanti”

Semua murid terdiam. Walaupun Lee songsaenim terkenal menyeramkan. Tapi hampir semua murid ingin sekali di bimbing songsaenim termuda di SMA Kirin ini. Semuanya menanti, tentu saja salah satu atau beberapa murid yang menanti ini adalah orang yang akan di bimbingnya.

“Kim Jongin dan Jung Ririn.. kalian akan ku bimbing untuk tugas akhir”

Jongin yang sedang menyender ke tembok langsung duduk tegak, menatap Lee songsaenim yang menatapnya. Begitu pula Ririn yang memang sudah pasrah untuk di keluarkan dari kelas dance.

Dia.. Jung Ririn yang baru 1 hari di kelas dance modern bisa membuat Lee songsaenim menjadikannya murid beruntung mendapatkan pembimbing tegas.

 

-_-

 

“Sial… Lee songsaenim membuatku tak bisa mengikuti kelas balet pertamaku…” Omel Jongin, yang hanya memandangi beberapa murid sedang berlatih.

Berbeda dengan kelas dance modern. Kelas balet di hadiri 90 persen wanita. Hanya beberapa murid lelaki dan semuanya..

“Hai Jongin yang memiliki tubuh sexy.. aku tak menyangka kau ikut ballet..”

“Setelah ini kami akan ke salon, lihat kuku ku .. aduh.. kotor sekali..”

“Aku juga ingin mengecat rambutku, aku ingin punya rambut coklat terang seperti Luhan, si pria cantik itu…”

Jongin menatap horor ke 3 pria yang duduk melingkar di sampingnya. Ia menggeser pantatnya sedikit menjauhi ke 3 pria yang sangat berbahaya baginya itu.

Pandangannya teralihkan saat mendengar Yuri songsaenim menasihati seorang murid yang menjadi tontonan murid lain.

“Tak ada kemajuan, tapi kau masuk dalam kelas dance modern. Seharusnya kau fokus dengan balet, bila kau memang serius di bidang ini ..”

Ririn hanya menunduk, berulang kali meminta maaf pada songsaenim sexy di hadapannya. Yuri lalu meminta Hara –murid kesayangannya- untuk mendemonstrasikan gerakan yang tadi di ajarkannya.

Ekor mata Jongin menatap Ririn, yang makin lama, makin menjauhi kerumunan para siswi dengan seragam baletnya. Ririn jalan menjauh dan masuk ke ruang ganti wanita tanpa ada yang mengetahui, atau memang tak ada yang menghiraukan jika ia pergi.

Di dalam ruang ganti. Ririn menendang kesal ke loker loker terbuat dari besi yang ada di hadapannya. Ia meringis sebentar, merasakan denyut di kakinya. Tentu saja, ia hanya memakai sepatu balet, dan menendang besi.

“Aku suka balet… aku suka balet..” Ririn bergumam seperti meyakinkan dirinya sendiri dengan mata berair, mengambil seragamnya. Lalu menggantinya di ruang ganti.

 

-_-

 

Jongin membungkuk hormat ke arah Yuri. Setelah meminta maaf dan menjelaskan kenapa ia tak bisa mengikuti pelajaran balet hari ini . Setelah menerima maaf dari Yuri, Jongin pun melesat ke arah kantin.

Setelah punggung Jongin menghilang, Sehun datang dan masuk begitu saja ke kelas balet. Sepi. Tapi Sehun enggan menggeser pintu balet itu karena matanya menangkap seorang gadis dengan anggunya menari balet.

Ia masuk ke dalam dan bertepuk tangan membuat gadis itu menghentikan tariannya dan menatap Sehun dingin seperti biasa.

“Tarianmu.. selalu hebat..” Puji Sehun, tersenyum manis sekali di hadapan gadis itu.

“Kenapa kau di sini?” Tanpa menghiraukan pujian Sehun, Hara mengambil tas dan blezernya yang tergeletak begitu saja di lantai.

“Sebenarnya aku mencari jongin ta-“

“Jongin sudah pergi, baru saja…” Ujar Hara, ia lalu melewati Sehun yang sudah merubah raut wajahnya menjadi dingin kembali.

Sehun menghela nafas, ia benar-benar sudah habis kesabaran menghadapi gadis di hadapannya. Ia memegang lengan Hara, membuat wanita itu menatapnya datar.

“Kau masih marah padaku? Bukankah seharusnya aku yang marah padamu? Kau berselingkuh dengan nya.. kau berbohong di belakangku.. kau pendusta..” Teriakan Sehun menggema di ruang balet yang hanya di huni olehnya dan Hara yang masih menampakan wajah datarnya.

Hara hendak melepaskan tangan Sehun, tapi Sehun makin mengeratkan pegangannya.

“Sakit” Ucap Hara masih menatap Sehun datar. Bahkan wajahnya tak menampilkan kesakitan yang ia katakan.

“Kalau kau bilang ini sakit? Lalu yang aku rasakan apa?” Tanya Sehun, masih menatap Hara tajam. Sejujurnya ia sangat mencintai gadis ini. hanya dia. Dan akan selalu dia yang dapat membuat Sehun tersenyum manis.

“Se.. sehun..” Mata Hara berubah sendu saat handphone nya bergetar. Sehun membaca nama yang ada di layar handphone berwarna ungu yang terjatuh ke lantai saat ia memgang tangan Hara , membuatnya harus melepaskan pegangannya di tangan Hara.

“Saranghae…”

Hara hanya menatap lantai tempatnya jatuh ter duduk saat tubuh tinggi Sehun menjauhinya. Ia mendongak saat tangan Sehun dengan kuat menggeser pintu ruang balet  dan menutupnya dengan kencang.

 

(^^)

 

Sedotan itu masih saja di jadikan mainan oleh Ririn. Ia memutar mutar sedotan di jus yang ia pesan, tanpa mau menyeruputnya. Ia tak menghiraukan beberapa murid yang berbisik bisik sambil mendelik kesal dan kagum. Oh ayolah.. siapa yang mau satu group dengan Kim Jongin, dan di bimbing oleh Lee songsaenim yang menyeramkan itu. Yang sebenarnya ia mau.

“Kau makin terkenal sepertinya..” Goda Yongri, membuat Ririn makin memajukan bibirnya.

“Kau akan masuk kelas ballad siang ini?” Tanya Luhan, yang hanya memperhatikan Ririn memainkan minumannya.

“Nde, aku sudah minta izin ke Yesung songsaenim, aku akan pindah kelas ke kelas Ryeowook songsaenim..”

“Kalau begitu kau akan satu kelas dengan tingkat 2, pasti bertemu akan bertemu Kyungsoo.. pria bermata bulat yang lucu itu…”

Luhan dan Ririn memandangi Yongri yang tersenyum sendiri. Ini bukan pertama kalinya sahabatnya ini menganggumi adik kelas. Hampir semua yang ia sukai lebih muda darinya.

Mata senyum Yongri langsung hilang saat siluet Sehun memasuki kantin. Wajah angkuh Sehun, bahkan lebih menyeramkan dari biasanya. Membuat Jongin merengut heran, apa yang terjadi dengan sahabatnya.

“Apa yang terjadi di kelas akting? Ah… jangan jangan kau sedang berakting..” Tuduh Jongin, tersenyum aneh. Membuat Sehun mendengus kesal.

“Aku sedang tidak berakting Jongin. Aku benar benar sedang kesal.” Ucap sehun, penuh penekakanan.

“Kau kesal? Jangan bilang kalau di kelas akting kau menjadi pria tampan ke 2 karena menurutku, Kris,sahabat barumu itu, lebih tampan darimu…”

Sehun memutar bola matanya malas mendengar argumen argumen tak masuk akal sahabat berkulit gelapnya itu. Kepalanya langsung mengadah melihat Luhan, murid yang kemarin ia ajak beattle, tersenyum ramah kepadanya.

Di tempat duduknya, Yongri dan Ririn mengutuk Luhan habis habisan. Kenapa Luhan bisa sepolos ini. Wajahnya memang manis, dapat di bilang cantik juga. Tapi ia selalu bilang bahwa dirinya adalah seorang gentlemen.

“Aku hanya ingin meminta maaf.. kemarin aku mencarimu, tapi aku tak menemukanmu…” Ucap Luhan bersahabat, membuat Jongin menganga. Sepertinya Luhan tak tahu Sehun tidak dalam mood yang baik.

“Apakah kau memaafkan ku? Tenang… mulai saat ini aku sudah mengenalmu…”

“Kau in-“

“Xi Luhan.. ke ruanganku sekarang..”

Suara speaker yang ada di kantin menggema. Membuat Sehun menghentikan perkataan kasar yang akan ia ucapkan ke hadapan pria yang masih tersenyum manis.

Semua murid tahu suara khas songsaenim paling menyeramkan di Kirin itu. dan semuanya menatap Luhan kasihan. Pasti ini karena kejadian kemarin. Setelah berurusan dengan Lay songsaenim kemarin, kini ia harus berurusan dengan Lee songsaenim.

 

-_-

 

Luhan menyembulkan kepalanya sebelum memasuki ruangan Lee songsaenim. Dengan ragu ia membungkuk dan memberi salam. Matanya tertuju pada televisi yang menjadi tontonan Lee songsaenim yang sepertinya tak tahu bahwa ia telah datang.

Mata Luhan melebar saat tahu video apa yang menjadi tontonan songsaenimnya itu. Itu adalah video saat ia dan Sehun melakukan beattle, dari mana Lee songsaenim mendapatkan nya.

“Kau pasti heran?”

Tanya Lee songsaenim tanpa menghiraukan Luhan yang hanya berdiri di rungannya. Kaki nya yang tadi di taruh di atas meja, turun seketika. Ia berdiri dari duduknya dan menatap Luhan dari atas sampai bawah. Membuat Luhan menatapnya ngeri.

“Xi Luhan. 19 tahun. Asal Beijing-China. Kemampuan : Benyanyi ballad, bermain alat musik , dan menciptakan lagu. Selain itu sepertinya namamu dulu cukup terkenal sebagai penyanyi cilik China bukan?”

Lee songsaenim tertawa melihat wajah Luhan yang menyiratkan ketakutannya. Ia tak tahu, kenapa wajahnya yang tampan selalu membuat para muridnya memandangnya ngeri.

“Kau tahu kan? Para songsaenim yang menjadi pembimbing untuk tugas akhir tahun hari ini sedang gencar-gencar nya mencari murid yang akan di masukkan group. Dan aku tertarik padamu…”

“Tapi songsaenim. mianhamnida…  Aku tak bisa masuk dalam group mu..” Tolak Luhan halus, membuat Lee songsaenim menatapnya tak percaya.

Ia tahu banyak sekali murid yang ingin menjadikannya pembimbing. Tapi kini secara terang-terangan seorang murid menolak ajakannya.

“Aku tak bisa menari. Aku tak ingin kau kecewa…”

Alasan Luhan membuat Lee songsaenim tertawa. Tak bisa menari? Lalu yang di lakukan nya dengan Sehun di atas atap apa? Sirkus .

“Jangan merendah Xi Luhan, kau memiliki bakat.. oh.. atau kau ingin menjadi solo?”

Luhan menggeleng cepat, menatap Lee songsaenimnya yang menatapnya lurus. Ia tak mau di anggap egois. Tugas akhir ini adalah menjadi group. Bukan solo.

“Tidak songsaenim, tapi aku benar benar tak bisa masuk dalam group mu. Mianhamnida..” Luhan membungkuk 90 derajat. Dan berbalik.

“Aku akan mengajarimu caranya menari kalau memang kau tak bisa”

Luhan menghentikan langkahnya. Sebenarnya ini adalah keputusan terberatnya. Ia ingin sekali menari. Ingin sekali masuk dalam group menari-menyanyi. Bukan group ballad, atau group band yang memainkan musik. Ia ingin menari sambil menyanyi.

Luhan menatap Lee songsaenim, yang mengetahui bagaimana kalut hati muridnya itu. Ia tahu Luhan pasti menginginkan masuk dalam groupnya. Tapi ada sesuatu hal, yang tak di ketahuinya membuat mata cantik itu menatap mata nya lemah.

“Mianhamnida songsaenim. Aku benar-benar-“

“Cukup Lee Taemin”

Suara datar Lay membuat Luhan berbalik dan menatapnya terperangah. Taemin – Lee songsaenim- menatap Lay tak suka.

“Wae? Kenapa gege mencampuri urusanku?” Dengus Taemin menatap Lay yang menatapnya datar.

“Aku sudah memasukkan Luhan ke dalam Group ku. Group ballad ku”

Senyuman yang terlihat seperti seringaian terpampang jelas di wajah Taemin. Ia mendekati Lay yang berdiri di hadapan Luhan.

“Kau tak masuk dalam list pembimbing Lay ge. Lagi pula kau harus kembali menjadi pengajar tari atau bernyanyi untuk masuk dalam list..”

Lay tetap memasang wajah datarnya. Menggeser tangan Taemin di pundaknya. Dan berbalik menatap Luhan yang memandangi tingkah laku songsaenimnya itu.

“Luhan, ayo pergi…”

“Lay ge, bila kau mau, aku akan memberimu posisiku di tahun depan”

Lay dan Luhan menatap Taemin tak percaya. Sudah 3 tahun menjalani sebagai seorang songsaenim di usia mudanya. Ia rela melepaskan begitu saja.

Lay tak menghiraukan perkataan Taemin. Ia membawa muridnya keluar dan menatapnya tajam.

“Aku tahu kau tergiur. Bila kau masih menyayangi tubuhmu dan mimpimu, kau tahu mana yang terbaik..”

Luhan menghela nafas saat Lay meninggalkannya di koridor masih di depan ruangan Taemin. Ia mengumpat kesal. Kenapa begitu sulit untuk mengambil keputusan yang sebenarnya sudah ada jawabanya dalam dirinya sendiri. ia ingin bergabung, tapi ia tahu Lay benar. Bila ia mengikuti Taemin, ia akan kehilangan kakinya. Karena Taemin akan membuatnya menari berulang-ulang kali dalam satu hari. Tetapi bila tidak. Hanya akan ada penyesalan di dalam hatinya.

“Oy.. Luhan..”

Luhan berbalik saat kepala Taemin menyembul ke luar, tersenyum ramah.

“Kau kenal Jung Ririn?”

Luhan mengangguk.

“Bisa panggilkan dia?”

 

(^^)

 

Langkah kaki Luhan menelusuri jalanan di pinggir toko. Pukul sudah menunjukkan 9 malam. Tapi Luhan belum mau pulang ke apartemennya. Ya.. sebagai seorang pelajar dari China. Ia tinggal di sebuah apartement dekat daerah sekolah. Seluruh keluarganya di China. Dan dia harus rela pindah, hanya untuk mimpinya, cita-citanya sebagai idola.

Dahulu, ia adalah penyanyi cilik China yang sangat di cintai. Tapi, setelah berjalannya waku, hallyu melanda. Membuatnya tergiur untuk pergi ke Korea. dan meneruskan mimpi yang sempat tertunda.

Ia mengencangkang blezernya saat udara dingin menerpa wajahnya. Tangan kanannya menggoyangkan bubble tea yang tinggal sedikit lagi. Matanya mencari-cari tempat sampah, sampai sampai sebuah suara memanggilnya.

“Xi Luhan?.. benarkan kau Luhan?”

Luhan tersenyum senang. Melihat seorang pria berparas baby di hadapannya. Tak perlu berfikir lama. Kedua pria yang sebenarnya memiliki selisih umur jauh ini berpelukan di tengah tengah pejalan kaki yang menatap mereka.

“Luhan, kenapa kau tak bilang kau di Korea huh?” Pria yang bisa di sebut ahjusshi itu memukul lengan Luhan gemas.

“Mianhae Xiumin songsaenim. Aku tak tahu bagaiman cara menghubungimu? Memiliki no telepon atau email saja tidak ” Bela Luhan dengan senyuman yang mengembang.

“Ceritakan padaku bagaimana bisa kau ke Korea? aku akan menraktirmu..”

Luhan hanya megangguk senang, dan mengikuti Xiumin yang masih merangkulnya itu masuk ke dalam sebuah kedai kopi yang cukup mewah.

Sudah setahun Luhan mencari keberadaan Xiumin di Korea, sebelum ia bertemu Lay, songsaenim di SMA Kirin yang sudah sangat mengenalnya di China. Xiumin lah yang mengajari Luhan bernyanyi, menari dan menciptakan sebuah lagu. Tanpa canggung, Luhan langsung menyecap kopi panas yang di pesan Xiumin.

“Jadi kau kemari untuk menunggu debut?” Tanya Xiumin terperangah.

“Aku sudah menekan kontrak dengan salah satu perusahaan di sini. Tapi aku belum bisa debut karena… kakiku…”

“Aku mendengarnya. Aku turut berduka, maafkan aku tak bisa menjengukmu saat itu…”

Luhan hanya mengangguk tersenyum ramah, menandakan bahwa ia baik-baik saja.

Ia tahu Xiumin sangat menyayanginya. Terlihat jelas bagaimana Xiumin selalu menjaganya saat ia masih traini di China dulu. Sejak SD ia sudah belajar bagaimana caranya menjadi idola. Ia sudah menjadi penyanyi kecil yang cukup trekenal. Terlebih saat SMP ia memberanikan diri dengan dance yang ia pelajari juga. Tapi setelah dirinya masuk SMA. Semuanya berubah. Xiumin kembali ke Korea untuk menikahi gadisnya. Meinggalkan Luhan yang sudah terkenal, dan jatuh begitu cepat.

“Kim Minseok?” Tanya Luhan, Xiumin atau pria bernama asli Kim Minseok itu mengangguk mantap.

“Tunggu.. kau .. pencipta lagu Growl yang terkenal itu…”

“Ereurong.. ereurong.. ereurong nde..”

Luhan terperangah, saat Minseok mempraktekan gerakan lagu Growl yang kini sangat terkenal. Lagu Growl yang menjadi tittle di album baru EXO- idol group – Korea yang sedang naik daun itu pasti sudah tak asing di telinga Luhan. Kebanyakan teman-teman sekolahnya selalu mencoba menyanyikan dan menari dengan lagu itu.

“Aku tak percaya kalau songsaenim sangat terkenal sekarang..”

Minseok tertawa renyah, menampakan gigi rapihnya

“Aniyo. Bukan aku yang terkenal seharusnya, tapi keponakan ku…”

“Keponakan?”

 

-_-

 

Ririn berulang kali membanting boneka besar, sebesar tubuhnya, berulang kali ke lantai. Ia pun tak segan menginjak-injak boneka yang sebenarnya hadiah dari eomma nya itu. Ia sangat kesal, dan benar benar kesal. Taemin –Lee sonsaenim- memberikan tugas yang benar-benar membuatnya kesal. Ia diperintahkan membawa beberapa nama, yang sebenarnya menjadi orang yang paling ia hindari, ke dalam group nya.

Ia masih ingat saat Taemin bilang. “Bila kau bisa membawa si pria, aku yakin si wanita dengan mudahnya masuk juga”

Memang apa hubungannya kedua orang yang sangat di kenal anti-sosial di SMA kirin itu. Hah… Ririn masih saja memukuli boneka yang tak berdosa itu tanpa ampun. Sampai sampai pelayan di rumahnya geleng-geleng kepala melihat kelakukan noonanya.

“Noona ada yang mencarimu”

Kepala Ririn menengok cepat ke seorang pria berkaca mata itu. Pria itu tersenyum manis walaupun wajah noonanya saat melihatnya merengut kesal.

“Bila eomma yang mencariku, bilang aku sibuk..”

“Noona, Ny. Sooyeon bukankah pergi ke London untuk menghadiri festival ballet yang akan menjadi pertunjukkan Ny. Soojung..”

Ririn menghela nafas berat. Ya dia tahu, kakak nya-Jung Soojung- kini sudah menjadi ballerina terkenal. Bahkan sudah sampai Hollywood. Mana mungkin eommanya ingin meninggalkan satu penampilannya.

“Lalu siapa?” Tanya Ririn, masih memukuli bonekanya. Tapi kini dengan pelan.

“Seorang pria dengan seragam SMA Kirin. Ia bilang guru dance mu”

Alis Ririn bertaut dan ia ingat sesuatu. Saking kesalnya tadi ia langsung pulang setelah kelas ballad-kelas terakhirnya hari ini dan memilih pulang padahal masih jam 2 siang.

“Aku akan menemuinya…”

Ririn segera melesat keluar, dugaan nya benar. Kim Jongin sedang asyik melihat ornamen ornamen eropa klasik yang memang sangat kental di rumahnya ini.

“Ternyata benar dugaanku. Apakah Jessica sunbaenim ada di rumah?”

Mata Ririn melotot kaget. Bagaimana seorang Jongin tahu ibunya? Ya dia tahu ibunya itu ballerina terkenal seperti eonninya kini. Tapi hanya beberap teman eommanya yang tahu kalau ia ini anak dari seorang Jessica.

“Terkejut? Hahaha… tenanglah aku tak akan menyebarkannya…”

Tubuh menegang Ririn lemas seketika. Ia tahu Jongin bukanlah seorang penggosip. Ia kenal Kim Jongin mantan traini yang hanya belajar menari, makan di kantin dengan sahabatnya Sehun, lalu pulang segera dari sekolah.

“Dari mana kau tahu aku-“

“Hei.. kau lupa aku ini siapa?” Tanya Jongin dengan nada bangga di hadapan Ririn. Ia mendekati gadis yang kini menatapnya aneh.

“Aku Kim Jongin mantan traini SM entertaiment. Dimana ibu mu itu menjadi CEO salah satu artis terkenal Jung Soojung..”

“Krystal bukan artis” Ucap Ririn dingin, ia tak pernah memanggil nama asli eonninya semenjak ia menjadi artis.

“Setidaknya ia terkenal dan selalu menghiasi TV Korea” Larat Jongin, ia lalu berjalan lebih dahulu melewati Ririn yang masih menatapnya.

“Dimana studionya? Ini sudah malam… aku ada kelas pagi besok…”

“Kita menyewa studio di luar, aku ganti baju dulu..”

“Mana mungkin di rumah sebesar ini tak ada studio menari. Apalagi ada 2 orang ballerina terkenal yang tinggal di sini..”

“YAK JANGAN BILANG BALLERINA.. ATAU APAPUN TENTANG ITU..”

Jongin langsung menengok ke arah Ririn yang wajahnya sudah memerah. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, mengepal kedua tangannya kuat-kuat.

“Noona …” Pria yang merupakan pelayan itu mendekati Ririn yang masih saja menatap tajam Jongin.

“Ahjusshi.. bawa dia ke studio tari Krystal. Aku akan ganti baju…”

“Tidak. Kita menyewa saja..” Putus Jongin, ia tersenyum ramah ke arah pelayan yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Ririn lalu pergi ke kamarnya dengan air mata yang mengalir begitu saja di pipinya.

 

-_-

 

Baju mereka basah dengan keringat. Kurang lebih 2 jam mereka habiskan untuk menari, menari, dan menari. Kini mereka berada di cafe tempat studio sewa yang tadi mereka buat untuk berlatih. Tak ada yang bicara selama berlatih. Hanya sedikit ucapan seperti.

“Kau bisa?”

“Bukan begitu. Tapi begini”

“Ah.. hebat..”

Kata-kata singkat yang membuat Jongin kesal di buatnya. Ia sudah berusaha mengawali pembicaraan dengan gadis yang biasanya cerewet ini. tapi malam ini ia tak mengeluarkan suara, hanya deheman yang keluar dari bibir merahnya.

“Mianhae…”

“Maafkan aku, aku tak tahu kalau uhhmm… Ballet.. itu sangat sensitif bagimu…”

Ririn menghentikan kunyahan nya. Mencoba menelan makanan dan menatap Jongin yang menatapnya kasihan.

“Aku benci ballet, tapi aku mau menguasainya. Eomma dan eonnie tak pernah memaksaku menjadi ballerina, tapi aku ingin eomma memandangku sekali saja.. aku ini penyanyi yang baik saat kecil sampai saat ini, aku juga bisa rapping dengan baik. Tapi itu belum membuat eomma bangga”

Jongin menghentikan makannya. Mendengarkan secara seksama keluh kesah gadis di hadapannya.

“Aku ingin eomma menawariku mengikuti traini di SM. Tapi eomma selalu mengajak eonni untuk ke sana. Setiap liputan infotaiment hanya ada wajah eonni bersama eomma, sama halnya dengan pemotretan dan yang lain.. aku seperti bukan anaknya..”

“Aku pernah audisi dan masuk menjadi traini. Tapi dengan kekuasaan eomma aku di keluarkan karena eomma tak mau anaknya menjadi seorang traini. Kau pasti tahu Krystal tak mengikuti trini, dengan mudahnya ia menjadi aktris..”

Jongin tersenyum jengkel. Dia sangat tahu, setelah itu ia lebih memilih keluar dari SM dari pada ia harus menunggu. Ia bukan pengecut, tapi ia tahu diri. Yang berkuasa yang menang. Itulah yang terjadi kini di entertener Korea.

“Kau tak akan menceritakan pada siapapun kan?” Ririn memandang Jongin.

“Kenapa? Bukankah tak akan ada yang membicarakanmu lagi bila kau ini seorang anak CEO .. ku yakin kau akan banyak teman..” Saran Jongin membuat Ririn tersenyum mengejek

“Aku tak suka orang mendekatiku karena aku siapa. Aku lebih memilih seperti ini..”

Jongin mengangguk. Menaruh sumpit yang ada di tangannya. Lalu berdiri.

“Sebaiknya kau meninggalkan ballet. Bila itu hanya menjadi bebanmu.. kau tahu hidup tanpa beban itu membuatmu menjalani hidup ini dengan bahagia..”

Jongin peri begitu saja tanpa melihat raut wajah Ririn yang berubah termenung. Ya . dia ingin sekali keluar dari kelas neraka itu. Tapi apakah ia bisa. Ia ingin sekali eommanya tahu ia juga bisa ballet. Bukan hanya krystal, ia juga pasti bisa. Tapi kenapa begitu sulit.

Ririn mengacak rambutnya kesal.

“Oh tunggu…”

Ia langsung mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dengan asal. Lalu berlari mencari sosok Jongin yang baru saja pergi. Ia menengok kiri dan kanan. Mencari siluet Jongin yang tadi memakai kaos putih dan di tutupi belzzer.

Senyumnya merekah saat ia lihat Jongin di depan mesin kopi beberapa toko dari cafe tempatnya berada.

“Jongin..!!!”

Jongin yang sedang menunggu kopi, menengok dan merengut herat melihat Ririn berlari ke arahnya.

“Ada apa? Oh.. kau ingin memberiku gaji..” goda Jongin membuat Ririn menggeleng kesal.

“Aisshh… sudah ku bilang nanti ku transfer kan. Ini lebih penting..”

“Hahhaha.. aku bercanda, penting? Mengenai apa?” Tanya Jongin meniup kopinya yang mengepul.

“Bisakah kau membantuku?.. ah.. sebenarnya bukan aku tapi Lee Songsaenim ia memintaku membujuk Kim Jongdae masuk dalam group kita..”

Jongin segera memuntahkan kopinya begitu saja saat mendengar nama Kim Jongdae. Nama yang pernah membuatnya tak nyaman dengan Sehun dan nama yang membuatnya harus keluar dari masa traininya. Ia membanting cup kopinya begitu saja, membuat Ririn kesal.

“Apa yang di fikirkan Lee Taemin bodoh itu huh? Mengapa ia masukkan seorang batu di groupnya.. bila Kim Jongdae masuk” Jongin menghentikan perkataanya membuat Ririn menunggunya “Aku keluar…”

-_-

 

“Jongdae sangat pendiam. Aku tak berani mendekatinya di kelas songsaenim…”

“Padahal kau dalam 3 kelas yang sama. Kenapa takut dengannya?”

Luhan hanya tersenyum seadanya. Ia dan Kim Jongdae dalam 3 kelas yang sama. Ballad, Bahasa, dan lirik lagu. Tapi ia bahkan belum pernah berbicara atau hanya sekedar menyapa seperti orang kebanyakan. Menurut Luhan mendekati Jongdae itu terlalu tinggi. Ia tahu, semua tahu, bahwa Jongdae itu sungguh bersinar di bandingkan dengan murid yang lain. Membuat para murid lebih memilih menjauh di banding kalah dengan sinarnya.

“Jadi ini apartement mu?”

Xiumin menengok ke atas di mana beberapa lampu menghiasi apartement sederhana di hadapannya. Luhan hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Aku punya teman yang tinggal di sini…” Ucap Xiumin menatap Luhan di hadapannya.

“Oh siapa?”

“Kai.. Kim Jongin”

TBC

 

 

7 thoughts on “S.I.X part 2

  1. Lee Mi Young berkata:

    aku suka ceritanya, daebak bgt, tapi kok bisa Xiumin tinggal bareng Kai??? aku penasaran, next chap ditunggu eonn, hwaiting (9^.^)9

  2. emaesa berkata:

    emangnya kaki luhan kenapa sih ?
    nah xiumin temenan sama kai ? o.O
    penasaran sama reaksi kai😀
    kasian juga ririn , mengikuti balet supaya dia bisa dibanggakan sama ibu nya hmmm
    lanjut author

  3. hansica shipper berkata:

    aku suka cerita nya😀 luhan nya cidera pasti kan? #sotoy kok kai marah gtu tahu soal jongdae yak?:/ aku suka karakter ririn nya ^_^ si hara nya dingin amat ngeselin kayak nya -_-
    di tunggu next chap😀

  4. Jungyongsun berkata:

    Terxta semua saling brhubungan yah dan byk skli konflik yg blm dimunculkan. Meski fokus critax bertebaran justru itulah yg ditunggu thor. Daebakk lah pokokx…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s