Miracle in December (1/3)

miracle in december

Author : Ohmija

Tittle :  Miracle in December

Genre : Sad, Brothership

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, other member EXO

Cover by @baltacheakiriwe

Dia hanya terdiam ditempatnya sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong. Hanya menatapi kerumunan murid-murid laki-laki yang sedang memenuhi lapangan sambil mengoper bola kaki.

Rutinitasnya selalu begitu. Setiap sore, saat saudara laki-lakinya pulang sekolah, ia selalu menemaninya bermain bola. Dia tidak jenuh, dia tidak pernah mengeluh walaupun terkadang sore hari masih dipanasi oleh sinar matahari. Ataupun angin kencang yang berhembus menggigit tubuh mungilnya. Dia hanya diam, tidak membantah dan selalu menuruti keingingan saudaranya.

Yaah, karena dia…tidak punya perasaan.

Dia.. Do Kyungsoo. Seseorang yang tiba-tiba muncul dikehidupan Kim Jongin. Seseorang yang sudah menderita autisme dan Alexithymia sejak ia lahir. Dan seseorang yang kurang beruntung karena kedua orang tuanya meninggal akibat ulah ayah Kim Jongin sendiri.

Dia… Do Kyungsoo. Dia sahabat Kim Jongin.

“Hey Kyungsoo, kau haus? Mau minum?”tanya Jongin sambil menggoyang-goyangkan botol minuman di depan wajah pria mungil itu.

Kyungsoo hanya diam, sambil terus berjalan bersisian dengan Jongin. Ia menatapi botol itu dengan pandangan bingung.

“Kau lupa? Ini cola…”ujar Jongin lagi tersenyum lebar disisi wajah Kyungsoo

“Tidak…aku…aku tidak haus” Kyungsoo menggeleng pelan

“Benarkah?” Salah satu alis Jongin terangkat, “tapi kemarin kau menyukainya…” Ia hanya mengendikkan kedua bahunya lalu membuka tutup botol dan meneguk minumannya sendiri.

“Jongin…”panggil Kyungsoo. Suaranya nyaris tak terdengar, serta wajahnya yang sama sekali tidak berpaling menatap Jongin. “Semuanya memakai jaket. Aku…juga memakai jaket. Kenapa?” Setelah selesai menelusuri keadaan sekitarnya, barulah Kyungsoo menatap Jongin.

“Karena ini adalah bulan November. Musim salju akan segera datang. Kau tau musim salju?”

Kyungsoo mengangguk pelan, “aku tau. Saat semuanya berubah menjadi warna putih” Ia memalingkan wajahnya ke depan kembali. “Jalanan ini akan berubah menjadi putih, atap rumah kita juga. Dan… botol minuman yang kau pegang itu…”

“Whoa! Kau mengetahuinya? Kau hebat, Kyungsoo!”seru Jongin takjub mendengar kalimat panjang Kyungsoo barusan. Sebenarnya, dia tidak terkesan karena Kyungsoo mengetahui arti dari musim salju tersebut, justru karena pria itu mengatakan kalimat yang lumayan panjang dan cukup lancar. Walaupun sedikit tersendat, tapi dia mampu mengucapkannya dengan baik. “Bagaimana? Kau menyukainya? Bukankah warna putih adalah warna kesukaanmu?”

Kyungsoo tidak menjawab. Ia hanya diam sambil terus menatap ke depan. Entah, tapi ia seperti orang yang tidak mendengar pertanyaan Jongin. Dia diam. Terus diam. Dan Jongin mengerti akan hal itu. Kyungsoo bukan makhluk apatis, sebenarnya dia memiliki perasaan. Hanya saja…dia tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Dan autisme yang dideritanya, semakin tidak menormalkan kejiwaannya. Dikeseharian, dia bahkan lebih sering mengabaikan Jongin daripada menjawab semua pertanyaannya. Dia lebih sering diam saat Jongin tertawa terbahak-bahak karena menonton kartun. Dan akan tertawa keras saat Jongin tidak melakukan apapun.

“Aku menyukai warna putih…” hingga akhirnya, suara lembutnya membuat wajah Jongin seketika berpaling menatap sisi wajahnya. “Aku menyukai warna putih…”ulangnya lagi sedikit tersendat. “Tapi…aku tidak suka musim salju”

“Kenapa?”tanya Jongin hati-hati

“Aku…tidak suka melihat satu warna. Aku suka banyak warna…aku..suka musim semi”

Jongin tersenyum tipis. Entah, tapi ia merasakan ucapan itu tulus walaupun ia sendiri tidak mengerti apa arti dibalik makna ucapannya.

Kyungsoo menoleh kearah Jongin saat keduanya sudah sampai di depan pagar rumah, “Jongin…”serunya menghentikan tangan Jongin yang ingin membuka pagar. Jongin menoleh. “Aku…aku ingin melihat musim semi…”

***___***

Musim semi? Hal itu sangat mustahil terjadi di akhir November seperti ini. Tidak ada bunga-bunga yang bermekaran dan udara sejuk saat angin sedang kencang-kencangnya berhembus. Tidak mungkin.

Tapi, hal itu justru membuat Jongin semakin memutar otaknya. Semakin berpikir dimana ia harus mencari musim semi untuk Kyungsoo. Seingatnya, selama 3 tahun tinggal bersama Kyungsoo, keduanya memang belum pernah mempunyai kenangan tentang musim semi. Musim semi mereka selalu dihabiskan terpisah, dimana Jongin berada di sekolah untuk menyiapkan pertandingan sepak bola dan Kyungsoo yang berada di rumah seorang diri – dia dijaga oleh bibi pembantu –

Tok …tok

Jongin membalik tubuhnya dan menyelidik kearah pintu saat didengarnya seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ternyata ibunya, sepertinya ia baru kembali dari kantor karena ditubuhnya masih terbalut blazer berwarna hitam dan rok selutut berwarna senada. Hati-hati, wanita itu duduk ditepi ranjang Jongin bersamaan dengan ia yang bangkit dari tidurnya.

“Sudah tidur sayang?”tanya ibu Jongin menghusap kepala anaknya lembut

Jongin menggeleng pelan, “hampir saja…”

“Kenapa? Ada yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak. Hanya saja…” Jongin menggantung kalimatnya sejenak. Kemudian memandang ibunya dengan sorot mata sendu. “Bu, kenapa hari ini tidak ada bibi pembantu yang menjaga Kyungsoo? Aku menemukannya pergi ke lapangan sekolah seorang diri. Untung saja dia tidak tersesat. Apa tidak–”

“Jongin…” Nyonya Kim memotong kalimat Jongin sembari menghela napas panjang. “Ini sudah yang kesekian kalinya…”

“Maksud ibu?”

“Kau sangat tau Kyungsoo adalah anak yang berbeda. Saat orang lain bicara dengannya, dia tidak mudah menangkap apa yang kau katakan. Saat orang lain tertawa, terkadang dia hanya diam tanpa bicara. Dia melakukan semuanya sesuka hatinya. Dia menumpahkan satu kotak cereal ke dalam mangkuknya dan menuangkan air keran, dia tiba-tiba berteriak saat menonton film membuat tetangga marah dan mengeluarkan protes. Dan juga…dia selalu memberikan makan siang yang sudah dimasak oleh bibi pembantu untuknya pada anak-anak anjing. Karena itu, bibi pembantu sudah tidak tahan lagi untuk mengurusnya”

Seketika mata Jongin melebar, “apa?! Tapi dia baru bekerja selama 2 bulan, bu! Bagaimana mungkin dia berhenti hanya karena hal-hal itu?!”

“Mungkin…dia tidak bisa menerima keterbelakangan Kyungsoo”lanjut nyonya Kim lagi tetap dengan nada pelan. Pandangannya meluruh kebawah. Ia menunduk. “Ada seseorang yang bisa menerima hal itu dan ada yang tidak, sayang. Kita tidak bisa memaksanya”

“Tapi, jika tidak ada orang yang menjaganya, aku khawatir dia akan melakukan hal-hal aneh. Bu, kita harus mencari bibi pembantu secepatnya”

“Ibu sudah memutuskannya…kau yang akan menjaga Kyungsoo”

Detik itu juga mata Jongin seketika membulat lebar-lebar. Bahkan lebih bulat dari rasa terperangahnya tadi. Ia tersentak tak karuan. Dia? Menjaga Kyungsoo? Bagaimana bisa?

“Bu, aku harus pergi ke sekolah! Aku tidak bisa menjaga Kyungsoo!”tolak Jongin

“Ibu sudah membicarakannya pada kepala sekolahmu. Dia mau menampung Kyungsoo sebagai murid istimewa di kelas. Daripada kita harus mempercayakannya pada bibi pembantu, ibu lebih percaya dirimu untuk menjaganya. Jadi, uang yang seharusnya ibu bayarkan untuk menyewa pembantu, ibu ubah untuk membayar biaya sekolah”

“Bu, tapi aku tidak bisa!”

“Kenapa? Bukankah Kyungsoo bukan anak yang suka mengganggu? Ibu yakin dia tidak akan mengganggumu selama pelajaran. Dia adalah anak yang manis”

“Aku tau itu. Tapi aku tetap tidak bisa!” Jongin tetap bersikeras. “Oke, aku mengakui memang ayah bersalah karena telah menabrak orang tua Kyungsoo hingga tewas. Tapi ayah sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Sekarang ia berada di penjara untuk waktu yang lama. Saat ibu memutuskan untuk merawatnya dan membawanya ke rumah, ku akui aku memang sangat membencinya. Dan butuh waktu yang lama agar aku bisa menerimanya sebagai saudara baruku. Ibu juga memintaku untuk mengajaknya jalan-jalan padahal saat itu ibu tau aku sangat tidak menyukainya…”

“Tapi sekarang kau menyukainya kan? Bahkan kalian berdua terlihat begitu dekat”

“Yah, memang sekarang aku sudah bisa menerima semuanya. Tapi, aku mohon bu. Jangan memintaku untuk menjaganya di sekolah” Jongin mengacak rambutnya kesal lalu menghembuskan napas keras.

“Kenapa? Kenapa kau tidak mau?”

“Apa ibu tidak mengerti bagaimana perasaanku?! Aku sudah cukup malu karena masalah ayah. Tapi aku tetap berusaha tegar dan menjaga Kyungsoo dengan baik. Aku berusaha untuk bermuka tebal saat mengajaknya jalan-jalan, saat memperkenalkannya dengan teman-teman timku atau berbelanja di supermarket. Apa itu belum cukup?! Jika dia bersekolah di sekolah yang sama denganku, itu artinya semua teman-temanku akan mengetahuinya sebagai saudaraku!” Jongin sengaja menekan akhir kalimatnya. Sengaja memberitahu ibunya jika dia juga punya perasaan. Sebenarnya, dia bukannya tidak menyukai Kyungsoo. Dia sudah mulai menyukainya dan menerima kenyataan. Tapi, dia belum siap jika semua orang mengetahui jika Kyungsoo adalah anak yang kedua orang tuanya ditabrak oleh ayahnya. Dia belum siap.

“Apa kau tidak mau membantu ibu?”tanya nyonya Kim bergetar. “Jika ibu tidak bekerja, ibu yang akan menjaganya”

Jongin sedikit melirik kearah ibunya saat didengarnya suaranya bergetar. Ia tau sebentar lagi dia akan menangis. Ia juga tau sebenarnya ibunya juga tidak kalah merasakan sakit namun lebih memilih untuk menahannya.Tapi, diusianya yang masih 16 tahun, menghadapi masalah besar seperti ini sangatlah berat.

“Ibu…” Hingga tiba-tiba suara lembut Kyungsoo terdengar. Keduanya sama-sama menoleh kearah pintu dan mendapati Kyungsoo sudah berdiri disana sambil memeluk boneka koala kesayangannya. “Ibu…aku…aku tidak bisa tidur…”serunya menatap nyonya Kim dengan pandangan kosong

Nyonya Kim buru-buru menghusap air matanya lalu mengulurkan tangan pada Kyungsoo. Pria bertubuh mungil itu menyambutnya lalu duduk ditepi ranjang disamping nyonya Kim. “Tidak bisa tidur? Kenapa sayang?”

“Karena kalian sangat berisik”

“Apa kau mendengar obrolan kami?”tanya nyonya Kim sembari menghusap kepala Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk. Yah, dia pasti mendengarnya karena kamar tidurnya terletak tepat disamping kamar Jongin. “Maaf…”

“Kenapa ibu minta maaf?”tanya Kyungsoo tetap dengan wajah datar.

Nyonya Kim hanya tersenyum lembut tanpa suara. Padahal mereka sudah membicarakan tentang hal yang telah menyakitinya. Tapi, kenapa dia masih bertanya?

Dia memang tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya dan dia mungkin tidak cukup pintar untuk menangkap tentang apa yang sebenarnya telah mereka katakan. Tapi di lubuk hati yang paling dalam nyonya Kim, tetap ada rasa bersalah yang begitu mendalam. Ada penyesalan atas kenyataan yang telah terjadi pada diri Kyungsoo.

Dia tidak jelek, dia adalah anak yang tampan. Bermata bulat dan bibirnya berbentuk hati kemerahan. Dia sangat manis. Hanya saja, dia kurang beruntung dibandingkan anak-anak seusianya. Dia berbeda…

“Kyungsoo, besok aku akan menemanimu membeli seragam sekolah”ujar Jongin tersenyum lebar membuat nyonya Kim seketika menoleh kearahnya. “Kau mau bersekolah, kan?”

“Sekolah?” Mata bulat Kyungsoo menatap Jongin lurus. “Aku…tidak pernah pergi ke tempat itu”

“Sekolah adalah tempat dimana kau akan diajarkan cara menulis dan membaca dengan baik”

“Aku…bisa menulis dan…membaca”

“Whoa! Benarkah? Kyungsoo bisa membaca dan menulis?”

“Tsk, bahkan aku tidak bisa membaca tulisannya sama sekali. Dia menulis namaku menjadi ‘Gym Jyong-Iyn’”

Nyonya Kim memukul lengan Jongin pelan, “diamlah” kemudian tersenyum menatap Kyungsoo. “Kau harus terus belajar menulis dan membaca, oke?”

Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya seperti burung pelatuk, membuat poni-poni rambut yang terjulur di dahinya menjadi brgoyang-goyang lucu.

“Baiklah, karena ini sudah malam. Kita harus kembali ke kamar dan tidur”seru nyonya Kim lagi sambil beranjak dari duduknya. Sedangkan Kyungsoo, ia justru merosotkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut Jongin.

“Hey, ini bukan kamarmu. Kau tidak boleh tidur disini”protes Jongin memukul-mukul tubuh Kyungsoo pelan. “Hey, Kyungsoo”

“Jongin, jangan berisik. Aku ingin tidur…”

Jongin mendelik, “apa?!”

Memandangi keduanya, nyonya Kim hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Walaupun semuanya terasa sangat berat, tapi Kyungsoo adalah anugerah untuknya.

“Terima kasih, sayang” nyonya Kim tiba-tiba mengulurkan tangannya ke belakang kepala Jongin dan mengecup lembut keningnya. “Terima kasih karena kau tetap mau mengalah”

Jongin tergugu. Berusaha menarik dua sudut bibirnya untuk tersenyum dibalik hatinya yang terasa sangat sakit. Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Dan ia ingin berlari. Namun, sejauh apapun ia melangkahkan kaki, ia tetap akan kembali. Ia tidak bisa pergi.

Saat sosok ibunya telah menghilang di balik pintu, tubuhnya berbalik. Kini menatap lurus pada seseorang yang sudah menghilang ke alam mimpinya. Cara tidurnya lucu, ia mengkerut seperti anak kecil dibalik selimut tebal itu. Wajahnya juga tidak berubah. Tetap lugu.

“Hey, bagaiamana caranya agar kau bisa pergi dari hidupku?”suara serak Jongin bergumam bersamaan dengan senyum kecut yang terlukis dibibrinya. “Aku ingin kau menghilang. Aku ingin hidupku bebas tanpa harus dibayangi oleh kau. Tapi, kenapa semakin lama aku semakin ingin melihat kau tersenyum?”

***___***

Nyonya Kim memutuskan untuk mengambil satu hari libur untuk menemani Kyungsoo di rumah karena Jongin tetap harus pergi ke sekolah hari ini. Ia membuatkan sarapan enak untuk keduanya, terlihat dari cara makan Kyungsoo yang begitu lahap –ia menyendokkan banyak lauk ke dalam mulutnya-

Dan saat nyonya Kim dan Kyungsoo mengantar Jongin hingga sampai didepan pintu pagar, wajah Kyungsoo terlihat tidak begitu bahagia.

Selalu seperti itu.

Saat nyonya Kim ataupun Jongin akan pergi bekerja dan sekolah, Kyungsoo selalu berdiri dalam diam tanpa mengatakan apapun saat keduanya melambaikan tangan dan mengucapkan akan segera pulang. Ia tidak menggubris sama sekali. Mungkin, ia sedih karena Jongin dan nyonya Kim pergi meninggalkannya.

“Aku akan pulang cepat, Kyungsoo. Kau harus menungguku, oke?”

***___***

Jongin hanya duduk diam di pinggir lapangan sepak bola sekolahnya. Saat jam istirahat, dia lebih memilih untuk duduk disana daripada pergi ke kantin untuk mengisi perut. Ada sesuatu yang dipikirkannya, sengaja menyendiri untuk mengumpulkan kekuatan agar dia mampu menahan rasa sakit ini lebih lama lagi.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Jongin menoleh saat mendengar sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya, itu suara Sehun.

“Kenapa kau sendirian?”tanyanya lagi

“Hanya ingin sendiri”jawab Jongin singkat

“Benarkah? Tidak seperti biasanya”balas Sehun sambil menjatuhkan diri disamping Jongin. Ia menoleh, menatap sisi kiri wajah seseorang yang telah dikenalnya sejak duduk dibangku SMP itu. Masih merasa ragu dengan keadaan sahabatnya, Sehun menyenggol pundak Jongin dengan pundaknya sendiri, “hey, kenapa?”

“Sudah ku bilang aku tidak—“

“Kau tidak mungkin sedang baik-baik saja saat ini. Kenapa?” Sehun tetap bersikeras bertanya pada Jongin. Ia harus mendesak karena ia tau sahabatnya itu adalah tipe orang yang tertutup, walaupun dengannya sekalipun.

Jongin tidak langsung menjawab, ia menghela napas panjang sambil melorotkan kedua pundaknya sedikit. Tubuhnya tak lagi menegak seperti diawal.

“Kyungsoo…”desahnya pelan. “…dia akan bersekolah disini…”

Seketika mata Sehun membulat lebar, “apa?! Tapi–”

“Kau pasti tidak akan percaya jika saudaraku yang memiliki keterbelakangan itu bisa bersekolah disini, kan?” suara Jongin lebih cepat terdengar.

“Tidak. Hanya saja—“

“Aku malu…”

Sehun menoleh, “malu?’

“Aku malu dengan teman-teman sekelas jika mereka mengetahui aku tinggal bersama dengan anak yang orang tuanya ditabrak oleh ayahku. Aku benar-benar malu…”jelasnya pelan. “Mereka pasti akan semakin memojokkanku. Akan semakin menyalahkan ayahku. Yah, memang benar jika ayahku bersalah karena dia mengemudi saat sedang mabuk, tapi selama ini aku sudah menebusnya dengan merawatnya seperti saudaraku sendiri. Walaupun aku kesal karena dia tidak pernah memperlihatkan ekspresinya padaku, atau berbuat aneh didepan orang banyak, aku tetap merawatnya dengan baik. Bahkan memperkenalkannya dengan kalian. Apa itu masih belum cukup?”

“Kenapa dia tiba-tiba akan bersekolah disini?”

Jongin tersenyum kecut, “ada beberapa orang yang tidak bisa menerima keadaannya. Seperti diriku saat baru pertama kali bertemu dengannya. Aku benar-benar membencinya…” Ia mengangkat wajah, menerawang kedepan masih dengan senyuman kecut yang tersungging di bibirnya. Sebenarnya, ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang dia rasakah sekarang. Tidak mengerti apa dia sudah bisa menerima Kyungsoo di hidupnya atau tidak.

Terkadang, rasa benci itu masih muncul tiba-tiba. Terkadang, hatinya masih berharap jika saja Kyungsoo bisa menghilang. Jika saja, ayahnya bisa bebas secepatnya…

Ia sudah berusaha. Berusaha sekeras mungkin untuk menahan rasa sakit di dadanya. Saat pada awalnya ia harus berpura-pura baik dan menurut jika ibunya meminta untuk menjaga Kyungsoo. Juga saat Kyungsoo hanya memberikan wajah datar-tidak mengerti yang selalu ia tujukan jika Jongin sebenarnya sedang berusaha membuatnya tertawa. Dia sama sekali tidak berekspresi.

“Tapi sekarang kau tidak membencinya lagi, kan?”tanya Sehun menatap lurus kearah Jongin. “Aku yakin kebencian itu sudah menghilang”

Jongin tertawa mendengus, “Cih, Bagaimana kau bisa tau?”

“Karena saat kau bersamanya, kau tidak pernah bersikap dingin dan menunjukkan wajah cool-mu itu”

“Aku? Dingin?”

“Hey, aku sudah mengenalmu cukup lama, kita selalu menjadi teman sebangku dan selalu berada di tim yang sama. Aku cukup mengenalmu luar-dalam”

Mata Jongin seketika membulat, “apa yang kau katakan? Kenapa kata-katamu terdengar aneh?”

“Aneh? Otakmu saja yang berpikiran tidak-tidak”dengus Sehun kesal sambil mencibir. “Hey, tapi sebenarnya ada baiknya juga jika dia bersekolah disini”

“Tsk, apa baiknya? Apa kau senang jika teman-teman mentertawakanku?”

“Apa kami pernah mentertawakanmu saat kau membawanya ke lapangan bola?” Sehun balas bertanya membuat Jongin seketika terdiam. “Kami bahkan menerimanya dengan sangat baik. Yah walaupun sedikit kesal juga saat si mata besar itu tidak bereaksi apapun ketika kami memperkenalkan diri. Tapi setelah itu, kami tidak pernah mempermasalahkannya”

Jongin tergugu. Memang benar jika saat ia memperkenalkan Kyungsoo pada teman-teman se-timnya mereka tidak bereaksi apapun. Tetap bereaksi wajar seperti Jongin sedang memperkenalkan saudaranya. Hanya itu. Bahkan jika Kyungsoo tidak ada, mereka akan mencari pria bertubuh mungil itu.

“Kau pernah bilang jika kau ingin melihatnya mengeluarkan ekspresi karena kau. Aku memang tidak mengetahui tentang penyakit Alexithymia itu, tapi seseorang yang tidak mampu mengekspresikan perasaan sepertinya membutuhkan lingkungan dimana emosinya dapat terpancing. Contohnya di sekolah ini…”

“Kau tidak mengerti Sehun. Dia hanya akan—“

“Aku tau”potong Sehun cepat. “Jika kau mempermasalahkan pandangan teman-teman sekelas, aku rasa hal itu bukan masalah besar. Kau bisa berbagi denganku”

Jongin menatap Sehun sesaat. Sedikit tidak menyangka jika sahabat baiknya yang ia pikir hanya mempunyai IQ setinggi lutut Suho – murid paling pendek dikelas Jongin dan Sehun – bisa berbicara sebegitu tulusnya.

“Hey, walaupun dia menyebalkan tapi sebenarnya dia adalah pria yang manis. Saat kau bermain bola, pandangannya tidak pernah lepas darimu. Dia selalu melihatmu walaupun wajahnya tetap terlihat datar, tapi aku rasa itu adalah bentuk kecil dari pengungkapan perasaannya”jelas Sehun. “Bagi seseorang yang sulit mengungkapkan itu, aku rasa kau adalah orang yang beruntung”

***___***

Jongin buru-buru menepikan sepedanya dan memasuki rumah dengan langkah-langkah lebar. Hari sudah mulai sore dan cuaca juga sedikit mendung. Ia khawatir hujan akan turun sebelum ia sempat menemani Kyungsoo membeli seragam.

Dugaannya tepat. Saat memasuki ruang televisi, ia mendapati Kyungsoo sedang duduk bersandar di sofa sambil menonton pororo seorang diri.

“Hey, Kyungsoo. Mana ibu?”

Kyungsoo hanya mengendikkan bahunya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Melangkahkan kaki ke kamar Kyungsoo, Jongin melongok dari balik celah pintu. Ibunya ada disana, sedang melipat pakaian Kyungsoo dan memasukkannya ke dalam lemari.

“Kau sudah pulang?”seru ibunya begitu melihat Jongin

“Kenapa ibu ada disini? Bukankah kemarin ibu baru saja merapikan lemari Kyungsoo?”

“Dia kehilangan bonekanya jadi dia mencarinya disemua tempat”

Kening Jongin berkerut, “ha?”

“Dia lupa meletakkannya. Ternyata ibu mendapati bonekanya ada di kamarmu” nyonya Kim tertawa kecil

“Kalau begitu, aku akan mengganti baju. Aku sudah berjanji akan menemani Kyungsoo membeli seragam. Ibu tidak ikut?”

“Bisakah hanya kalian berdua? Ibu harus merapikan kamarnya”

“Baiklah”

***___***

Jongin menghampiri Kyungsoo setelah ia selesai mengganti bajunya dengan kaus santai. Awan masih terlihat mendung tapi hujan juga tidak kunjung turun. Mungkin itu hanya mendung biasa.

“Kyungsoo, ayo kita membeli seragam. Besok kau sudah mulai masuk sekolah”seru Jongin menarik lengan Kyungsoo yang masih asik menonton televise.

Kyungsoo langsung berdiri tanpa suara, kemudian kepalanya berputar mencari-cari sosok nyonya Kim.

“Bu…ibu…ibu!”serunya nyaris berteriak

“Iya sayang, ada apa?” nyonya Kim buru-buru keluar setelah mendengar suara Kyungsoo

“Ibu…Kyungsoo dan Jongin…kami… mau membeli seragam. Besok…Jongin bilang Kyungsoo akan pergi ke sekolah”

“Apa dia perlu memanggil ibu dengan berteriak seperti itu?”gumam Jongin hanya bisa geleng-geleng kepala.

Nyonya Kim tersenyum geli, “kau harus membeli seragam yang paling bagus, Kyungsoo. Anak ibu harus jadi yang tertampan. Oke?”ujarnya menunjukkan ibu jarinya pada Kyungsoo kemudian tersenyum lebar.

Kyungsoo hanya diam, perlahan mengangkat tangannya dan menunjukkan ibu jarinya juga. Bola matanya menyebar, menatap kesegala arah lalu berbalik menghampiri Jongin yang sudah selesai memakai sepatu.

Menatapi langkah-langkah kaki mungil itu, Jongin memandang Kyungsoo dalam keterdiamannya. Ia berjalan dengan punggung yang bungkuk, juga kepalanya yang mengangguk-angguk. Matanya tidak fokus dan dia terus saja menatap ke lantai yang dipijaknya. Ia baru menyadari hal itu. Dan itulah yang membuatnya terlihat aneh.

“Hey Kyungsoo. Jika kau akan pergi keluar rumah, apa yang harus kau lakukan?”

Kyungsoo mengangkat kepalanya, menatap Jongin bingung. “Membawa payung?”

“Bukan. Itu hal yang dilakukan jika hujan turun”

“Memakai baju”

Jongin menghela napas panjang, “Kau sudah memakainya”

“Aku…tidak tau…Jongin”

Jongin akhirnya menyerah. Ia tau Kyungsoo tidak akan mengingat hal itu dengan mudah. Harus berkali-kali bahkan beribu-ribu kali agar pria itu dapat mengingat hal-hal sederhana yang sebenarnya harus dilakukan olehnya sendiri.

Tiba-tiba ia berjongkok didepan Kyungsoo, meraih sepatu berwarna biru dari tempat sepatu yang ada disampingnya lalu menyodorkannya ke depan kaki Kyungsoo.

“memakai sepatu”ujar Jongin sambil melonggarkan tali-talinya. “Kau harus mengingatnya, oke?”

***___***

“Kenapa turun hujan? Aiiish…” Jongin berdiri didepan toko sambil menghadap keatas, menatapi rintik-rintik hujan yang perlahan-lahan menjadi guyuran. Ia berusaha merapatkan dirinya pada pintu kaca toko, berusaha melindungi diri agar ia tidak basah. Hujan terus turun dan atap plastik berwarna hijau itu hanya mampu melindungi tubuhnya sedikit.

“Rapatkan tubuhmu, jika tidak kau akan basah” Telapak tangan Jongin sengaja terulur diatas perut Kyungsoo untuk mendorong tubuhnya agar ia mundur dan melakukan hal yang sama dengannya – merapatkan diri pada pintu kaca –

Dengan wajahnya yang linglung, Kyungsoo melangkah mundur hingga tidak ada lagi jeda antara punggungnya dan pintu kaca itu. Benar-benar rapat.

“Apa sebaiknya kita masuk ke dalam dan menunggu hujan hingga reda, huh?” Ia melirik sekilas pada Kyungsoo yang tidak bergeming dan terus memandang ke bawah dengan tatapan kosong. “Atau kita berlari hingga halte dan menyetop bus? Uang yang diberikan ibu sudah tidak cukup untuk naik taksi” Ia melanjutkan kicauannya seorang diri. Entah ditujukan pada siapa. Pada Kyungsoo atau dirinya sendiri.

“Aku tidak suka hujan…”

Jongin langsung menoleh saat mendengar suara serak Kyungsoo, “apa?”

“Basah, dingin dan membuatku takut”

“Kenapa kau takut?” Jongin sedikit memajukan wajahnya dan menatap Kyungsoo lurus-lurus.

Hujan terus turun namun terdengar seperti alunan musik yang lembut ditelinga Jongin. Ia menyukai hujan. Hujan mampu menenangkannya dan menyembunyikan tangisannya. Saat ia ingin mengadu, ia akan berlari pada hujan.

Sedangkan pria yang sedang merapatkan diri disampingnya, sama sekali tidak menyukai itu. Dia memang tidak pernah memperlihatkan bagaimana kebahagiaannya saat musim semi datang, tapi ia selalu mengatakan jika ia tidak menyukai hujan setiap kali mereka turun.

“Saat hujan turun…” Kyungsoo menggantung kalimatnya sejenak. Ada asap yang keluar dari mulutnya saat ia berujar. Hidungnya mulai memerah, juga garis-garis dibawah matanya yang mulai berubah warna. Dia kedinginan. “…mobil itu bertabrakan. Banyak orang berteriak dan menangis. Aku sangat takut…”

Dan detik itu juga, hantaman keras itu menghantam dada Jongin telak. Sekali lagi dirasakan menyesakkan jalan pernapasannya. Bahkan ia harus berusaha menenangkan dirinya sendiri dan menormalkan debaran jantungnya.

Saat hujan turun, mobil itu bertabrakan.

Saat hujan turun, ayahnya tidak sengaja menabrak sebuah mobil.

Saat hujan turun, seorang pria yang mengidap autisme melihat semuanya.

Wajahnya mulai memanas. Dan hatinya benar-benar merasakan sakit. Tapi, pria yang berdiri disampingnya dan terus menatap kebawah itu terlihat sangat tenang. Tidak ada kesedihan yang terlihat diwajahnya ketika mengingat itu semua. Ketika mengingat…kedua orang tuanya meninggal dunia.

“Aku suka musim semi…aku suka ibu…dan aku…menyukai Jongin…”

TBC

35 thoughts on “Miracle in December (1/3)

  1. sonelfaffxtionshawol berkata:

    inalillahiiii…aku mau nangis…pertama kali baca aja nyesekin dada bgt…ngebayangin kyungsoo kyk gt n sambil baca ffnya \….astaghfirullah,,,,jabileeeeeeees…ak mau nangis…TTTTTTTTTTTTTOTTTTTTTTTTTT

  2. nina berkata:

    3shoot eon???
    eonnie klo bikin yg pendek2 pasti ujung2 nya menyedihkan wuu
    hahahahaha

    kayaknya jongin bakalan diajari cara belajar iklas disini deh
    ada sehun :3

  3. Dinda Kharisma berkata:

    Mian,, tapi ini FF sedikit mirip ama FF yg sempet Booming bberapa bulan Lalu..
    BABY’S BREATH,, Cast nya BaekYeoL..
    Chanyeol yg jadi Autis n Baekhyun juga pemain sepak bola disini kalo g salah yg jadi rivalnya Baekhyun sii Luhan
    n kasus baekhyun yg terpaksa bawa YeoL k sekolah karna desakan ibu nya juga sama kek di Baby’s Breath…
    sekilas ini mirip m Baby Breath….
    Tapi,, ditunggu aja.. Moga yg ke-2 n 3 g sama alurnya..
    sekedar sharing aja..🙂

  4. liu mei rin berkata:

    eon, part 2 sama 3 nya publish nya barengan ya!!!
    biar nangisnya deres soalnya baca sekaligus klo satu- satu baru mau nangis udah TBC lagi… #modus
    hehe… eon, aku coment buat part 2 nya di part 3 ya!!! biar nangis deres… hehe…
    lanjut eon…

  5. cicil berkata:

    Ini bakal di post secara cepet kayak a song to remember ga eon? Soalnya gatahan nunggu kelanjutannya huaaaaaaa ini part pertama aja udah sedih sedih gitu apalagi yang terakhir tuh.

    Setuju juga sama komen yang diatas, pas baca kebayang bayang ff baby’s breath

    Lanjutttttttt

  6. juliahwang berkata:

    Huwaa baca ini bener” keinget FF Baby’s Breath , tp versi KaiSoo😥
    lanjut eon! Scepat’a ya , udh mewek eh malah TBC😦
    pasti bakal keren banget nih , di tunggu lanjutan’a :’)
    fighting eonni!!! ‘-‘)9

  7. @baltacheakiriwe berkata:

    HORRAY, ADA INDO ANGST FANFIC… BAHAGIA SEKALEH ┏(; ̄▽ ̄)┛
    Karna akoh sudah cukup mumet ngacak-ngacak asianfanfic cuma buat nyari FF Angst (┐¯___,¯)┌

    CASTNYA KAISOO MASA ┏(; ̄▽ ̄)┛
    Jadi inget kemaren sempet bikin Temen yang KaiSoo Hard Shipper ngamuk gegara dikirimin bertubi-tubi Foto KaiStal (ื▿ืʃƪ)

    OH IYA KAK, AKU DOUBLE COMMENT BUAT CHAP 2 DISINI JUGA OKE ┏(; ̄▽ ̄)┛

    CUKUP SEGITU SAJA, SEKIAN TERIMAKASIH DAN JANGAN IDUP, JANGAN NAPAS, JANGAN MATI ┏(; ̄▽ ̄)┛

    *abaikan kalimat terakhir*

    P.S : JEBAL JANGAN BAWA-BAWA MATEMATIKA DAN JUGA FISIKA, AKU BENCI 2 MATA PELAJARAN ITU (┐¯___,¯)┌

    P.S.S : CHAPTER 3’NYA MANAAAH (┐¯___,¯)┌

    P.S.S.S : KAPAN BISA LIAT 12F12K MEJENG DI GRAMEDIA, PLIS KAK ITU FF KECE BUKUIN CEPETAN DAN GUA MAKSA EWH (┐¯___,¯)┌

    P.S.S.S.S : AKOH CIDAX KEUNAL SIAVA YANG BIKIN ITU COVER, TQ (┐¯___,¯)┌

  8. jamonghyun berkata:

    Bneran mirip baby breath mija .. aku tau km ga copas . Dan itu ga mgkn krn km ga prnah baca baby breath .. kjdian nya . Autisnya . Hmpir 60% klo aku tafsirkan … mgkn gtu yaa isinya jiwa” penulis . Isinya pemikiran hebat ky gini . Pemikiran yg sama (y) !!! Aku mendukung smua kryamu .. dan itu bukan plagiat😉

  9. beagle line berkata:

    kereeen author >_< … ff ini kya baby breath tp yg versi kai ama d.o kereen kerenn🙂 keep writing thor… fighthing!!

  10. dhamalashobita berkata:

    “Aku suka musim semi…aku suka ibu…dan aku…menyukai Jongin…” « kalimat ini bikin nyes banget, author-nim.
    Ah, salam kenal. Namaku Mala. Pembaca baru di sini..
    Ini ff pertama yg kubaca di sini dan ini…mengharukan. Bagaimana bisa Jongin sebaik itu sama Kyungsoo.. Aaaa..
    Bahasanya authornim juga kece😀
    Aku mau lanjut dulu ke part 2..

  11. Rieztka Ryu berkata:

    haii author …
    aku pembaca yg baru muncul d blog ini …😀

    pertama aku mau bilang, suka bgt dengan penjabaran cerita dan gaya tulisan kamu ..
    simple tp enak untuk d baca dan d mengerti.

    aku jg suka bgt dengan penggambaran tokoh kyungsoo d sini, yg memiliki keterbelakangan mental
    entah kenapa aku bener2 bisa ngebayangin kalo kyungsoo itu autis.

    author JJANG .. !! ^O^9

  12. dindasalbil berkata:

    nyesek unnnnnn~~~~ udah lama baca sih tapi baru kesampean komen sekarang hehe mianhamnidaa~~ kenapa jongin ku harus koit disaat kyungsu mulai mengeluarkan emosinyaaaaa!! /emosi sendiri/ heung itu kenapa kyungsunya ngenes banget cobaa huhuuu pokoe 1000 jempol deh buat oh ija unni hehe good job unn!! seperti biasa~

  13. mia berkata:

    KAISOO jelek bikin terharu
    karakter dio yang autis pas disini terutama buat bayanginnya gak suasah
    keren FF brothershipp KAISOO COUPLE😀

  14. Ks14327Cy berkata:

    aku baru komen thor…. jwoseonghamnida

    aku lupa😦
    mianhae mianhae
    tapi aku suka thor,gak bisa bayangin kyung yg kya gitu….😥
    terharu thor…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s