S.I.X part 1

Untitled

Tittle      : S.I.X

Author    : BPI

Cast         : Kim Jongin-Kai  (EXO)

Jung Ririn (OC)

Oh Sehun (EXO)

Xi Luhan (EXO)

Anh Hara (OC)

Kim Jongdae-Chen (EXO)

Shin Yongri (OC)

And other… (temukan sendiri)

 

Genre      :Friendship, School, Romance, Comedy (maybe)

Summary:Mereka hanyalah para siswa biasa beberapa tahun lalu, tapi.. dengan segala tekat yang ada mereka dapat menjadi idola dunia..

 

Catatan author : Annyeong..

Aku datang bawa ff baru /gak ada yang nanya/ hehe.. ini sebenarnya hampir mirip sama drakor dream high kali ya?  ya.. tapi versi otak aku wkwkkw.. mian kalau banyak kemiripan dengan drakor itu dan mian di sini gak bisa OT12 karena aku udah nyeleksi member EXO yang pas.. dan jenjenjenjen..  /backsound ceritanya/ akhirnya ke 4 member ini kepilih… (padahal karena bias)

Ok gak mau lama lama cuap cuap.. happy reading.. and gumawo #bow

1

2

3

 

 

 

 

 

Sepatu mengkilap itu tak henti hentinya mengetuk lantai. Si pemilik tak menghiraukan bila nanti debu akan menempel di sepatu yang baru saja di pakainya 1 jam lalu. Bibirnya mendecak kesal, matanya dengan tajam memandangi jam dinding yang bertengger indah di pojok ruang rias, lalu menatap jam tangan hitam yang melekat di tangannya.

“Tenanglah.. Kai akan datang sebentar lagi..” Ucap Hara, menengok sebentar ke arah Chen yang masih saja mendecak kesal.

Bagaimana ia tak kesal? Kai belum datang, padahal sebentar lagi, atau lebih tepatnya 20 menit lagi mereka harus tampil di sebuah acara.

Bukan acara biasa, ini adalah grammy. Grammy awards di mana musisi papan atas dunia mengakui kehebatan mereka, mengakui bakat mereka sebagai sebuah group besar dari Korea.

“15 menit lagi..” Seorang kru masuk menyembul kan kepalanya ke ruang rias tempat mereka menunggu membuat Chen makin frustasi.

“Aisshh…”

Sehun langsung menutup majalah yang ia baca. Sedikit menyunggingkan senyum khasnya, karena, walaupun mereka telah lama tak aktif di Korea. dirinya, Oh Sehun, masih menjadi idola dengan wajah tertampan.Ia berdiri, menggulung majalah di tangannya, dan memukul kepala wanita yang tertidur tengkurap di sofa panjang yang ada di ruang tunggu.

Gadis itu terperangah, sampai sampai langsung berdiri. Melototi Sehun yang memandangnya tajam.

“Kau membuat make upnya rusak.. ini.. di sini..”

Ririn langsung menepis tangan Sehun yang menunjuk nunjuk ujung bibir nya yang memang basah akibat air liur yang keluar karena posisi tidur yang sangat nyaman baginya. Luhan hanya tertawa, terpingkal pingkal melihat Ririn langsung mengusap ujung bibirnya, dan memandangi kaca. Benar saja ia harus di make up ulang.

“Diamlah maknae, kau akan tahu akibatnya menertawakanku..” Ucap Ririn sarkatis, ia meminta asisten nya memakaikan nya make up ulang.

“Kai belum datang juga?”

Taemin datang dengan wajah datar seperti biasa. Membuat Chen memandangnya kesal. Manajer itu malah asik bercermin, merapihkan rambutnya yang sedikit caka-acakan karena angin malam di luar sana menerpanya.

“Songsaenim.. kenapa kau baru datang? Kau tahu Kai, anak itu belum menampakkan batang hidungnya sejak tadi..” Adu Chen sedikit membentak, kesal dengan sikap tak acuh Taemin yang merupakan manajernya.

“Nanti juga dia datang..”

Dan benar saja, Kai dengan nafas memburu membuka kasar ruang tunggu artis lalu dengan seenaknya duduk di samping Ririn, menyuruh asisten untuk memakaikan nya make up.

Tanpa menghiraukan tatapan tajam Chen yang menuntut alasan kenapa ia telat. Kai menyerocos dengan bibir yang mengerucut. Memarahai manajernya yang masih saja bercermin, kini dengan mengelus dagu runcingnya.

“Songsaenim kau gila.. nanti bila mereka menerkamku, menggerayapi.. atau membawaku ke hotel bagaimana?” Omel Kai,membuat yang lain memandanginya heran.

“Menerkam?”

“Menggerayapi?”

“Membawa ke hotel?”

Kai hanya mengangguk semangat, saat Ririn, Luhan dan Hara mempertanyakan perkataannya.

“Songsaenim menurunkanku di lantai dasar, dimana para penggemar menunggu kita. Dia hampir saja membuatku mati di antara lautan penggemar yang seperti mendapatkan santapan lezat..”

“Aku tak peduli apa yang terjadi padamu Jongin, kau telat ..” Omel Chen, menatap Kai yang hanya mengangguk tanpa dosa di hadapan cermin.

Kru menyembulkan kepalanya lagi, membuat yang lain harus bersiap siap. Luhan tersenyum, menatap walpaper hp-nya. Dimana photo mereka sebelum debut. 3 wanita dan 4 pria tersenyum senang di hari terakhir traininya.

“Yongri yah~ kami sudah menepati janjimu kepada orang tuamu…”

Ririn menatap Luhan yang tersenyum dengan bibir bergetar di sofa yang ia duduki. Langkahnya yang hendak mengikuti Sehun-Kai yang berjalan di hadapannya, berhenti, mendekati Luhan yang berdiri dari duduknya.

“Kau siap?” Tanya Ririn tersenyum dengan mata berair di hadapan Luhan.

“Tentu. Kenapa tidak?”

Mereka lalu berjalan bersama, dengan langkah mantap menantang lighting panggung yang sangat silau di hadapan mereka. Ririn-Luhan menahan rasa menggebu di dadanya. Ini adalah janji mereka, janji dengan sahabat yang tak bisa ada di sini raganya. Tapi jiwanya ada di hati  mereka.

Sehun terperangah mendengar suaranya di sebut paling meriah di antara yang lain. Ia gugup. Untuk pertama kalinya seorang Prince Sehun gugup saat semua orang memujanya, meneriaki namanya. Ia mendekati Kai yang sudah memasang wajah coolnya saat tubuh mereka keluar dari tengah tengah panggung.

“Bagaimana rasanya di kejar fans?” Tanya Sehun tiba-tiba membuat Kai merengutkan kening.

“Lebih baik dari pada di kejar para murid SMA Yonsei karena wanitanya di ganggu dirimu”

 

–          STORY BEGAN –

 

Jongin berlari kencang dengan kaki panjangnya menuju SMA Kirin. SMA seni itu adalah satu satu tujuan nya kini sebelum para murid dengan seragam SMA berbeda yang kini mengejarnya mendapatkannya dan memukuli hingga babak belur. Ia sebenarnya tak memiliki urusan dengan mereka. Ini semua karena Sehun-sahabatnya-yang mencari gara gara dengan sekumpulan murid ini. dengan sekali loncatan ia dapat menaiki tangga bata yang ada di samping sekolah. Melambai gembira ke arah para murid yang mengumpat sial, sebelum terjun turun dari tembok itu.

Langkahnya berhenti saat melihat gadis yang duduk tenang di ayunan sekolah yang memang sering di dudukinya. Ada perasaan penasaran dengan gadis cantik itu di dalam hati Jongin, tapi rasa takut terhadap songsaenim lah yang paling dominan. Sebelum Lee songsaenim datang dan menghukumnya ia harus lebih dulu ke kelas.

“Kau dari mana saja?” Tanya Sehun saat sahabatnya duduk di sampingnya dengan nafas memburu.

“Ini semua salahmu bodoh, gara-gara kau menggoda Jihyun murid SMA Yonsei, aku di kejar kejar oleh kekasih dan teman temannya ..”

“Mwo? Aku tak menggodanya.. ia yang menyukaiku” Kilah Sehun, menatap Kai yang menatapnya malas.

“Nde nde aku tahu..”

Kedatangan Lee songsaenim membuat yang lain diam. Lee songsaenim yang mengajarkan dance modern ini di kenal sangat tegas dan menyeramkan. Bila memang kalian tak bisa dance, lebih baik kalian tak mengikuti kelas ini.

“Seperti biasa setelah aku mendemonstrasikan tarian ini, salah satu dari kalian harus dapat mendemonstrasikannya..”

Semua murid menelan ludah, ini lah yang membuat hanya sedikit murid datang ke kelas dance. Hanya murid yang ingin bisa dance.

Setelah meliukkan tubuhnya Lee songsaenim mematikan tape dan melipat tangan di dada.

“Kuncinya hanyalah emosi, emosi kalian saat mendengar musik.. dari suara musik kita dapat mengetahui apakah musik ini sedih atau bahagia setelah itu kalian dapat menumpahkannya melewati gerakan”

Semuanya mengangguk mantap. Setelah itu Lee Songsaenim menunjuk satu murid untuk mendemontrasikan tarian yang tadi ia lakukan.

“Emosimu kurang, tak ada hentakkan yang mantap.. kau harus belajar, besok kau harus mencoba lagi…” Ucapnya membuat murid itu tertunduk malu.

“Kim Jong In lakukan..”

Sehun menepuk pundak Jongin sebelum sahabatnya itu maju ke tengah-tengah kelas. Bentuk bangku melingkar membuat yang lain dapat melihat tarian Jongin dengan mudah.

Tak di ragukan lagi. Kim Jong in mantan traini di sebuah perusahaan artis ternama ini memang sangat jago dalam menari. Bahkan ia adalah satu-satunya murid yang mendapatkan pujian dari Lee songsaenim.

“Ada sesuatu yang kau fikirkan, kurang konsentrasi..”

Komentar Lee songsaenim membuat yang lain terperangah. Tarian yang di lakukan Jongin bahkan sama persis dengan yang di lakukan Lee songsaenim, tetapi mata jeli Lee songsaenim dapat menemukan kesalahan.

“Saat ini kalian sudah ada di tingkat akhir, tugas akhir adalah persiapan diri kalian sebelum menjadi artis, atau idola.. solo maupun group.. kalian harus siap..”

Setelah Lee songsaenim keluar, para murid menghela nafas panjang menunjukkan kelegaan dalam hati mereka.

“Aishh… mata nya terbuat dari apa sehingga dapat melihat sampai sebegitu jelinya?” Ucap Sehun membereskan catatannya.

“Kau ingin kemana?” Tanya Jongin melihat Sehun terburu-buru.

“Aku masuk kelas akting semester ini, eomma menyuruhku.. ia memintaku untuk bisa akting..” Jawab Sehun lemas

Jongin hanya tertawa melihat wajah sahabatnya yang cool itu berubah seperti anak kecil.

“Yak diamlah.. kau tak menambah pelajaran di akhir semester ini?” Tanya Sehun, menyampirkan ranselnya sebelum berangkat ke kelas berikutnya.

“Ada.. di mulai satu jam lagi”

“Pelajaran apa?”

“Balet”

“Mwo?”

 

-_-

 

“Jadi kau ingin masuk ke kelasku?”

Tanya Lee songsaenim menatap mata di balik kaca mata yang kini menatap nya mantap.

“Nde, songsaenim”

“Wae? Apakah karena kau tak mendapatkan apa-apa di kelas balet?”

Mata Ririn melebar dengan pertanyaan Lee songsaenim. Apakah ia begitu terkenal sehingga seorang songsaenim tahu kalau dia memang tak ada peningkatan di kelas balet yang sudah 2 tahun ini ia geluti.

“Anio. Aku hanya ingin bisa menari dance modern, itu saja” Bela Ririn, terdengar sedikit kesal karena pertanyaan Lee songsaenim.

Di luar Yongri, sahabat Ririn, menunggu keputusan Lee songsaenim. Kupingnya yang ia tempelkan di pintu ruangan Lee songsaenim tiba-tiba terlepas karena melihat Qian songsaenim mendekat ke arahnya.

“Annyeong songsaenim” Sapa Yongri membungkuk di hadapan songsaenimnya.

“Kau sedang apa di sini Yongri?” Tanya Qian songsaenim, ia sangat mengenal Yongri karena Yongri adalah muridnya di kelas dance china tradisional.

“Sedang menunggu Ririn songsaenim”

Qian mengangguk dan menengok nama di pintu.

“Jadi ia akan pergi meninggalkan kelasku?”

“Aniya… aniya.. songsaenim.. kau tahukan Ririn itu sangat menyukai dance modern, dan ini adalah semester akhir kami sebelum kami mengahabiskan semester selanjutnya untuk persiapan ujian akhir” elak Yongri merasa tak enak melihat raut wajah songsaenim yang sangat baik terhadapnya ini.

Qian mengerucutkan bibirnya. Songsaenim yang sebenarnya sudah berkepala 3 ini tetap saja terlihat imut. Ia lalu tersenyum manis, dan mengelus kepala Yongri.

“Nde, aku mengerti.. kalian semangat ne untuk tugas akhir.. aku yakin dengan semangat segala yang kalian lakukan pasti akan ada balasannya.. jjang” Ucap Qian sebelum pergi, ia mengepal tangannya memberi semangat kepada muridnya. Dan melanggeng pergi meninggalkan Yongri yang tersenyun senang.

Yongri langsung menengok saat suara pintu terbuka dan menampilkan wajah lesu Ririn. Ia langsung mendekati Ririn dan mencecarnya dari berbagai pertanyaan.

“Bagaimana? Lee songsaenim mengijinkanmu?”

Ririn hanya mengangguk sebagai jawabannya. Membuat Yongri gemas.

“Yak.. lalu kenapa kau terlihat lesu begini? Kau seharusnya senang..”

“Bagaimana aku senang, kalau aku di jadikan tumbal..” Teriak Ririn kesal. Ia tak memperdulikan bila nanti Lee songsaenim mendengarnya.

“Tumbal?”

“Nde, dia memintaku untuk selalu mendemontrasikan tarian yang ia ajarkan nantinya di kelas”

“Mwo?” Mata Yongri membulat, gadis berambut pendek itu menatap Ririn kasihan.

Semua murid sangat mengetahui siapa Lee songsaenim, dan bagaimana cara mengajarnya. Mungkin setelah ini, Ririn akan menjadi bulan-bulanan dari para murid.

-_-

Mata cantik Luhan tersenyum senang saat melihat ke dua sahabatnya memasuki kantin. Ia tak menghiraukan beberapa murid yang menatapnya dengan tatapan berbeda. Para gadis menatapnya dengan kagum, sedangkan pria menatapnya jijik. Luhan memang tak pernah terlihat main dengan pria, melainkan dengan 2 wanita Ririn dan Yongri membuat nya di pandang miring oleh para murid pria.

“Kenapa wajah kalian seperti itu?” Ucap Luhan, ia memang tak terlalu bisa berbahasa Korea karena ia berasal dari China.

“Jangan bertanya, ini menyebalkan” Omel Ririn, menaruh kepalanya lesu di meja kantin.

“Ririn di terima di kelas dance modern” Ucap Yongri bersemangat, membuat Luhan tersenyum cerah.

“Lalu? Mengapa Ririn terlihat lesu?”

“Sudah ku bilang aku tak mau membahasnya”

“Kenapa?”

“Yak!” Teriak Ririn frustasi, Luhan hanya memandangnya heran.

“Kenapa?”

“Sudah.. sudah.. Luhan lebih baik kau tak membangunkan macan yang sedang mengamuk” Ucap Yongri melihat Ririn masih kesal.

“Macan? Dimana macan?” tanya Luhan dengan wajah tanpa dosa

Yongri hanya menepuk dahinya. Ia juga sepertinya akan mendapatkan darah tinggi bila harus berteman dengan Luhan.

Di pojok kantin terlihat Sehun dengan kedua teman barunya asik menghabiskan makanan. Sepertinya ia tak menghiraukan beberapa yeoja yang mengambil photonya layaknya artis. Itu adalah hal biasa baginya. Kepalanya mengadah saat Kai mendekati dan berhenti di depan mejanya.

“Kai.. ini Kris dan Chanyeol teman ku di kelas akting, mereka juga masuk dalam kelas rapper..”

Kai hanya mengangguk dan mengambil bangku di depan Sehun.

“Bagaimana kelas balet mu?”

Chanyeol yang sedang minum hampir saja memuntahkan minumannya. Ia terbatuk batuk, membuat yang lain menatapnya heran. Chanyeol langsung diam, saat mata sinis Jongin menatapnya.

“Mianhae, aku hanya terkejut.. kau ikut kelas balet?”

“Memang ada yang salah?” Tanya Kai, tak kalah bingung melihat teman teman yang kini ada di meja yang sama dengannya menatapnya bingung.

“Kau itu terkenal sekali dengan dance modern salah satu kelas yang paling di takuti di sekolah ini, tapi kau kini masuk ke dalam kelas balet?” Tanya Kris, ia juga bingung dengan fikiran Jongin.

Walaupun dalam kelas rapper yang sama dengan kedua pria jangkung ini. Jongin tak terlalu dekat seperti ini.

“Aku masih di kelas dance modern. Selain balet aku juga masuk ke dalam kelas dance tradisional China Korea, apakah kalian akan bingung juga huh?” Tanya Jongin, kesal. Ia memang tahu kedua orang yang kini menjadi teman barunya adalah murid kelas akting, tapi jangan berlebihan seperti ini juga.

“Sudahlah.. Jongin ini sangat suka menari, ku fikir bila di sekolah ini ada kelas salsa, ia juga akan ikut..”

Candaan Sehun membuat suara mainly Chanyeol dan Kris tertawa keras, begitu pun Jongin yang hanya memukul kepala Sehun kesal.

“Aigo… aku baru melihat ia tertawa..”

Suara Ririn membuat Luhan dan Yongri yang sedang asyik memakan makanannya menengok ke arah Sehun dan kawan kawannya.

“Siapa?” Tanya Luhan penasaran.

“Itu Kris.. pria asal Kanada yang ada di kelas rapper bersamaku, bila di kelas ia sangat dingin” Ucap Ririn masih menatap ke arah meja yang ada di pojok ruangan.

“Ku dengar pria bernama Kim Jongin itu masuk ke dalam kelas balet?” Ucapan Luhan membuat Ririn dan Yongri menatapnya terkejut.

“Jongin? Mantan traini itu masuk kelas balet? Hahahha…” Luhan dan Ririn saling menatap takut saat tawa Yongri membahana di kantin. Sehun yang merasakan temannya di tertawakan langsung berdiri, membuat para murid diam.

“Yak Yongri.. diamlah!” Perintah Ririn menatap Sehun yang makin mendekat, dan Jongin yang menatap ke meja mereka.

“Kau wanita kan?” Tanya Sehun, menatap dingin Yongri yang kini diam.

“Kau bisa mengontrol tawamu dengan baik, wanita korea memiliki sopan santun dalam tertawa..” Lanjut Sehun membuat Yongri makin menundukkan kepala.

“Yak!” teriak Ririn menatap Sehun yang sudah mempermalukan sahabatnya

“Maafkan temanku.. aku Luhan, Xi Luhan..” sapa Luhan, membungkuk di hadapan Sehun

“Aku tahu” Jawab Sehun cepat, menatap Luhan

“Oh kau tahu aku? Tapi aku tak tahu kau? Namamu?”

Demi apapun, Ririn hendak tertawa saat melihat mata Sehun terbelalak menatap Luhan dengan tampang angelnya bertanya pada Sehun. Begitupun yang lain, Jongin malah tertawa terbahak bahak dari tempatnya, ia tak pernah tahu kalau ada murid yang tak kenal dengan Oh Sehun, pria tertampan di SMA Kirin.

Yongri yang sudah menetaskan air mata bahkan menutup mulutnya, ia tak mau bila Sehun memarahinya lagi.

Luhan yang tak tahu apa-apa, malah bertanya bingung ke arah Ririn yang kini tertawa, di ikuti Yongri.

“Ririn ah~ memang dia siapa?”

Sehun yang kesal, menarik kerah seragam Luhan yang langsung terkejut karena wajah mereka sangat dekat. Ia tersenyum sinis karena Luhan tak kalah tinggi darinya.

“Yak Apa yang kau lakukan?” Teriak Yongri, ia takut akan ada perkelahian.

“Oh Sehun lepaskan dia” Kini Kai sudah menghampiri sahabatnya itu.

“Jam 3 sore di atas atap sekolah ku tunggu kau.. Princess..” Ucap Sehun, lalu melepaskan kerah Luhan, membuat Luhan terbatuk batuk.

Kai segera mengejar Sehun yang langsung pergi begitu saja meninggalkan para murid yang takut takut melihatnya. Kai tak pernah melihat Sehun sebegitu marahnya, membuatnya juga sedikit panik tadi.

 

-_-

 

Luhan masih memegang lehernya, rasanya sangat sakit. Ia merasakan bagaimana rasanya susahnya bernafas untuk beberapa detik. Ririn dan Yongri masih menunggunya di UKS. Menatapnya kasihan, pria yang baru saja 1 tahun pindah ke Korea itu memang sangat polos, dan tak tahu apapun. Jadi tak ada salahnya bila ia tak mengenali seorang Oh Sehun.

“Maafkan aku Luhan, ini salahku..” Ucap Yongri menghilangkan keheningan yang terjadi.

“Sudah jam 2 lewat, kau akan menerima tantangannya?” tanya Ririn, masih menatap wajah Luhan yang hanya tersenyum ke arahnya.

“Yak ini salahku, aku tak mengenalnya salahku.. jadi aku harus menerima tantangannya..”

“Tapi Luhan, kau tahu, Oh Sehun itu adalah murid dance yang sangat jago, walaupun tak sejago Jongin, tapi dia cukup di perhitungkan..” Jelas Yongri membuat Luhan makin melebarkan senyumnya.

“Tenanglah..” Luhan turun dari kasurnya, membenarkan seragamnya. “ aku pasti akan menang”

Ririn dan Yongri saling pandang aneh. Mereka sangat mengenal Luhan, karena mereka hanya bertiga semenjak Luhan datang ke Korea. Xi Luhan memang sangat pintar bernyanyi dan bermain musik, belum lagi ia sangat pintar menciptakan lagu. Tapi soal dance, bahkan mereka tak tahu Luhan dapat dance dengan baik.

“Luhan kau serius?”

Luhan mengangguk mantap. Membuka pintu ruang UKS dan pergi menemui Sehun yang telah menunggunya.

 

-_-

 

Bel istirahat kedua berbunyi, membuat para murid yang berada di kelas berhamburan ke atas atap. Mereka tahu, ini adalah battle dance dari kedua orang yang selalu di juluki “Prince” di SMA Kirin. Sehun “Prince” karena ketampanannya, dan Luhan “Prince” karena senyum manisnya.

Luhan melepaskan blezer nya dan memberikannya kepada Ririn yang memandanginya takut takut. Begitu pula Yongri yang masih tetap saja menyuruh Luhan untuk mundur, ia lebih memilih Luhan mundur dari pada di permalukan di depan para murid. Mereka semua, walaupun beattle ini belum di mulai, sudah berfikir kalau Oh Sehun lah yang menang.

“Tenanglah… aku yakin tak akan membuat kalian malu…”

Ucapan terakhir Luhan sebelum maju ke tengah-tengah kerumunan para siswa dan siswi yang berteriak heboh. Kebanyakan para siswa menganggungkan nama Sehun, dan siswi meneriaki nama Luhan.

Jari telunjuk Kai menghidupkan musik, membuat kedua rival itu meliukkan tubuhnya. Tangan Kai mendadak berhenti saat ingin mengecilkan volumenya melihat dance Luhan.Tubuh Luhan meliuk dengan sempurna, ia bahkan terlihat lebih santai di bandingkan Sehun yang lebih emosional. Para wanita berteriak sampai sampai para pria harus memarahainya. Mereka benar-benar terperangah melihat prince china nya dapat menari dengan baik, bahkan lebik baik dari seorang Oh Sehun.

Kepala Ririn bergerak sesuai irama, kini kekhawatirannya hilang sudah saat melihat Luhan dengan santainya melawan dance dance yang di tunjukkan oleh Sehun. Yongri yang ada di sampingnya tetap saja menggigit bibir bawahnya takut.

“Luhan..”

Luhan berhenti.

Semua yang teriak pun berhenti. Dengan segera Kai mematikan musik di tapenya. Dan memandang Lay songsaenim – songsaenim di kelas lirik lagu- yang memandang lurus ke arah Luhan.

Luhan hanya menunduk, ia seperti ketakutan saat wajah datar Lay hanya terpaku padanya. Para siswa siswi pun terdiam, dan menunduk saat Lay mendekati Luhan. Sedangkan Sehun langsung membungkuk hormat saat Lay menatapnya.

“Ikut ke ruanganku Xi Luhan..”

Luhan hanya mengangguk sebagai jawabannya. ia mengikuti langkah Lay yang membawanya keluar dari lingkaran kerumunan para siswa, ia tersenyum ramah kepada kedua sahabatnya, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Apakah Luhan akan baik-baik saja?” Tanya Yongri, melihat Ririn hanya memeluk blezer Luhan diam.

“Aku tak tahu.. ayo kita ikuti dia..”

 

(^^)

 

“Kau sudah tak ingin memiliki kaki? Kau benar-benar membuatku kecewa..” Teriak Lay marah di ruangannya, Luhan hanya menunduk sebagai balasan maafnya.

“Hanya 3 tahun kau menunggu Luhan, tahan egomu… kau ingin menjadi idola bukan?” Lay masih saja menatap Luhan yang menunduk.

“Jangan melakukan itu lagi, atau kau akan ku kirim ke China …”

“Mianhamnida” Ucap Luhan pelan “Aku hanya melakukan dance biasa, tidak dengan power.. atau hentakan..” Bela Luhan kini ia memandang Lay dengan wajah sendunya.

“Apapun itu aku tak peduli…” Lay terdiam cukup lama, lalu mendekati Luhan yang hanya diam. Ia menampilkan lesung pipinya. Dan menepuk pelan pundak Luhan.

“Bersabarlah… dan kau akan menjadi pemenang setelah ini…”

-_-

Ririn dan Yongri segera berdiri dari duduknya saat Luhan keluar dari ruangan Lay. Mereka mendengar teriakan teriakan Lay, tapi mereka tak mengerti karena Lay menggunakan bahasa China.

“Gwenchana?” Tanya Ririn, memberikan belzer Luhan. Luhan hanya tersenyum sebagai jawabannya.

“Apakah Lay songsaenim memarahimu? Kami mendengar ia berteriak..” Tanya Yongri takut takut, sekali lagi Luhan hanya tersenyum.

Ia memakai blezernya, dan merapikan seragamnya. Berjalan mendahului ke dua gadis yang masih menuntut jawabannya.

“Tidak. Lay songsaenim hanya memberiku peringatan, aku tak boleh dance lagi setelah ini..”

“Mwo? Yak.. bukankah ini salah pria angkuh menyebalkan itu, Luhan kau memiliki bakat, dance mu bahkan lebih baik darinya..” Ucap Ririn, tak peduli semua murid menatapnya kesal.

Ya.. mana ada yang ingin idolanya di jelek-jelekan. Yongri yang tahu situasi langsung menyenggol lengan Ririn, dan memplototinya. Ririn hanya memutar bola matanya malas.

“Ya.. tapi dia baik juga..” Ucap Ririn malas, Luhan hanya tersenyum geli mendengar suara malas Ririn memuji Sehun.

“Sudahlah.. aku akan meminta maaf padanya sekarang..”

“Mwo? Untuk apa?”

Mata Yongri dan Ririn membulat lebar saat mendengar perkataan Luhan. Dengan cepat mereka menghadang Luhan yang masih santai berjalan menuju kantin.

“Aku yang salah.. karena aku mengenalnya..”

“Tak ada untung ruginya kau mengenal seorang Oh Sehun..” Ucap Ririn penuh penekanan, menatap Luhan galak.

“Ririn ah~” Yongri memperingati sahabatnya itu untuk tak cari gara-gara dengan pria itu lagi.

“Aku akan tetap meminta maaf… aku pergi dulu…”

“Yak Xi Luhan bodoh..!!..” teriak Ririn kesal, menatap punggung Luhan menghilang di unjung koridor.

Yongri hanya geleng-geleng kepala menatap Ririn yang mendecak kesal karena kepolosan Luhan.

 

(^^)

 

Mata tajam Sehun meneduh saat melihat siluet gadis berambut panjang agak ikal memasuki mobil jemputannya. Seketika bibirnya terangkat melukiskan senyuman manis yang jarang sekali ia perlihatkan di muka umum. Hujan yang mulai turun rintik-rintik membuat Jongin segera mengambil barang-barangnya di loker dan pergi mendahului Sehun yang masih terpaku menatap gadis yang di cintainya itu.

“ Yak Jongin..” Teriak Sehun kesal saat Jongin, sahabatnya itu mendahuluinya.

“Yak Jongin tunggu aku…”

Jongin harus berhenti, kedua tangannya ia taruh di atas kepala, melindunginya dari rintik rintik hujan.

“Wae? Aku ada kerja sore ini…”

“Bukankah kau bekerja nanti jam 8 malam?” Tanya Sehun, ia tak menghiraukan rambut coklat gelapnya terkena rintik hujan.

“Aku bekerja di tempat lain…” Ucap Jongin malas, ia tahu setelah ini Sehun akan bilang

“Kau Kim Jongin bodoh, kenapa bekerja di tempat lain? Kenapa tidak di tempatku? Appa akan sangat senang mendapatkan karyawan yang rajin sepertimu dan mungkin kau- “

“Akan menjadi patner main catur yang baik? Kau akan bilang itu kan… ahhh sudahlah aku akan telat, bis akan datang 3 menit lagi.. “

“Yak aku akan mengantarmu.. aishh… Kamjjong…”

Sehun tak memperdulikan para murid yang menatapnya dengan mata berbinar. Ia malah mendengus kesal saat para murid berteriak heboh saat ia mengacak rambutnya karena sudah terlanjur basah. Dengan kaki panjangnya ia menaiki mobil sedan jemputannya yang sudah lama menunggu.

-_-

Air hujan itu jatuh ke bumi, membuat para pejalan kaki harus menunggu atau menerobos hujan yang makin perlahan makin deras. Dengan langkah cepat, kaki mungil wanita dengan seragam sekolah memasuki cafe yang berjarak tak terlalu jauh dari rumahnya. Ia mengumpat kesal, seharusnya kini ia sudah ada di rumahnya, menghidupkan pemanas ruangan dan tidur nyaman di kamarnya. Tapi malah sebaliknya, ia kehujana dan kedinginan, terdampar di cafe yang belum pernah ia singgahi.

Kepalanya menyembul memasuki cafe bergaya eropa klasik ini. ornamen kayu masih mendominan, membuat senyum wanita itu muncul, ia sangat suka semua hal berbau klasik. Ia memilih duduk di tepi jendela, menatap ke luar ke arah para pejalan kaki yang sedang berteduh, atau beberapa yang menerobos.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“KAU?”

Ririn menunjuk pria dengan seragam pelayan itu dengan jari telunjuknya. Suara nya yang melengking membuat beberapa pengunjung menatapnya.

“Kita kenal?”

Gadis berkaca mata itu malah tertawa mendengar pertanyaan Kai. Hei.. dia lupa kejadian tadi siang atau.. memang Ririn tak seterkenal Jongin. Jadi ia tak perlu marah marah seperti Sehun pada Luhan.

“Tidak” Jawab Ririn singkat

Jongin hanya mengangguk, di balik anggukan ia tersenyum geli. Lalu memberikan menu yang ia bawa.

Jemari lentik Ririn menelusuri minuman atau makanan yang ada. Tangannya berhenti di sebuah nama minuman.

“Aku ingin bubble tea hangat..” Ucap Ririn, memandang Jongin yang mencatat.

“Hanya itu?”

Ririn mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu Jongin pun memohon diri dari hadapan Ririn.

Gadis itu masih memikirkan, bagaimana bisa Jongin tak mengenalnya, padahal ia memakai seragam, dan ada name tag yang terpampang jelas di dada kanannya. Tetapi mengapa? Ririn menghela nafas berat. Ayolah… dia bukan siapa-siapa tak patut untuk di kenal.

“Bubble tea hangat..” Jongin menaruh pesanan Ririn di meja

“Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya Jongin sopan, membuat Ririn sedikit terperangah. Pria yang di hadapannya ini bukankah terkenal dingin, sama halnya dengan sahabatnya Oh Sehun.

“Ah tidak terimakasih..”

Jongin mengangguk, lalu berbalik.

“Tunggu!” Jongin menghentikan langkahnya dan menatap Ririn yang menatapnya takut takut.

“Kau benar benar tak tahu aku?” Tanya Ririn, kini menunjuk pada dirinya sendiri

“Tidak noona” Jawab Jongin ramah, ia bahkan tersenyum membuat Ririn diam sebentar.

“Aku mengenalmu, kau.. Kim Jongin. Aku tak ingin berbasa basi. Aku ingin kau mengajari ku dance modern..”

Senyum mengejek keluar dari bibir tebal Jongin. Dan aha… itu adalah asli seorang Kim Jongin. Jongin mendekati Ririn yang masih menatapnya.

“Lee songsaenim menerimaku di kelasnya, tapi dengan satu syarat. Aku yakin kau bisa membantuku.. jadilah guruku dan aku akan membayarmu beberapa kali lipat dari pekerjaan paruh waktu ini..”

Alis Jongin terangkat, ia melipat tangan di dadanya, dan mengangguk mengerti. Gadis di sampingnya bukanlah orang sembarang. Jung Ririn, salah satu anak CEO ternama di Korea. selain itu ia pun sangat terkenal sebagai rapper wanita di kelas rappernya. Tapi Jongin terlalu malas mengakui kalau ia kenal dengan gadis yang kini masih menatapnya menuntut jawabannya.

“Kau tak bisa dance dengan kaca mata itu… lepaskan besok di sekolah dan aku akan mempertimbangkan tawaranmu nona Jung..”

Ririn tersenyum senang saat mendengar jawaban Jongin. Tapi senyumnya langsung pudar, bukan karena ia harus melepas kaca mata yang selalu bertengger indah di wajahnya setahun belakangan ini, tapi ia tahu marganya, dan ia pasti tahu nama aslinya. Ishh… Ririn merengut kesal mengingat tadi ia seperti orang bodoh karena Jongin tak mengenalnya.

(^^)

Melodi piano mengiasi ruangan musik yang penuh dengan alat musik lengkap. Dengan begitu santai, kepala itu bergeleng ke kiri ke kanan mengikuti melodi yang ia ciptakan sendiri tanpa melihat buku lagu yang hanya menjadi pajangan di hadapannya.Kaki nya mengetuk ngetuk pelan lantai yang ia pijak sesuai permainan pianonya.  Permainannya berhenti saat seorang pria berwajah imut masuk dan tersenyum cerah.

“Lagumu bagus… EXO menyukainya..” Ucap pria berjas bertampang imut itu.

Jangan salah, pria bertampang imut itu kini sudah berkepala 3 tapi wajahnya tetap saja seperti murid SMA.

“Yang mana? baby dont cry? My lady? Atau…”

“Semuanya.. kau akan terkenal..” Teriak Minseok senang di hadapan keponakannya itu.

“Ahjusshi.. bukankah sudah ku bilang jangan membawa namaku di lagu itu” Ucap Jongdae tak suka. Ia berdiri, menyamai tingginya dengan pria berjas yang malah tersenyum mendapati wajah dingin nya mendekat.

“Ini saatnya Jongdae, kau harus melihat dunia, dunia harus melihatmu… kau ini musisi muda berbakat” Ucap Minseok, layaknya sedang berorasi.

Jongdae menurunkan tangan Minseok yang merangkul pundaknya.

“Sudah ku bilang aku tak mau ahjusshi… bilang kepada mereka jangan membawa namaku, atau akan ku ambil kembali lagu itu…”

Minseok hanya menghela nafas panjang saat Jongdae melewatinya dan keluar dari ruangan musik. Ia bingung dengan jalan fikiran keponakannya itu. Sejak SMP keponakannya itu telah menciptakan berbagai lagu untuk idola idola besar Korea, ia memang mau menjualnya tapi untuk nama nya, ia tak mau namanya tertera di lagu ciptaannya. Jadi selama ini, Kim Minseok lah yang selalu terkenal, yang selalu mendapat awards, bukan Kim Jongdae. Seorang anak SMA yang kini telah duduk di tahun akhir ajaran.

Jongdae melihat layar hp nya dan tersenyum saat melihat pesan masuk. Ia membaca nya lalu menjawab dengan singkat.

“Nado… saranghae ”

 

 

TBC

8 thoughts on “S.I.X part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s