Millisecond in December

Untitled

Judul :

Millisecond in December

 

Author :

Dilays

 

Main cast :

Kim Joon Myeon (EXO’s Suho)

Lee Ha Yi (Lee Hi)

 

Other cast :

Kim Min Seok (EXO’s Xiumin)

Kim Jong Dae (EXO’s Chen)

Zhang Yi Xing (EXO’s Lay)

 

Genre :

Hurt, sad, and angst

 

Length :

Oneshot

 

Rating :

General

 

Inspired by :

EXO-Miracle in December & Bruno Mars-When I Was Your Man

 

Disclaimer :

Yes, the casts aren’t mine. But the story is officially mine! Do not plagiarism!

 

 

– Happy Reading –

 

Canvas yang semula berwarna putih tak bernoda itu, kini telah dipenuhi coret-coretan berwarna di setiap inchinya. Ujung kuas menari-nari di atasnya. Aroma khas cat air sedari tadi telah menerobos masuk kedalam hidung seorang pria yang tengah berusaha membuat sebuah lukisan.

 

Sinar mentari sore menyerbu masuk lewat celah jendela membuat lukisan itu diterpa oleh warna kejinggaan. Pria itu menambahkan sentuhan terakhir di atas canvas, terkesan lembut.

 

“Selesai.” gumamnya pelan diikuti tarikan kecil di kedua ujung bibirnya.

 

Namun dalam sekejap, matanya yang berkilat-kilat gembira itu berubah menjadi tatapan kosong yang kini terfokus pada benda di hadapannya. Memandanginya cukup lama, seolah sedang meresapi makna tersirat dari lukisan yang dibuatnya itu. Jelas saja, ia benar-benar menumpahkan segala perasaan yang tak dapat ia jelaskan dengan sebuah rentetan kata-kata melalui lukisan itu.

 

Perasaan bersalah dan rasa penyesalan.

 

Itulah yang sedang menghinggapi hatinya saat ini. Sesuatu yang entah mengapa terasa begitu menyesakkan dadanya. Sesuatu yang membuat paru-papunya terasa kosong bagai tak terisi oksigen, membuatnya sulit untuk bernafas.

 

Tapi ia yakin, pilu yang dirasakannya sekarang belum sebanding dengan perasaan hancur yang dirasakan oleh gadis itu. Perasaan hancur yang membuat gadis itu dihadapkan pada pilihan terakhir, yaitu meninggalkannya.

 

Meninggalkan pria itu.

 

Ya Tuhan, kembali mengingat gadis itu dan apa yang telah ia perbuat terhadapnya, membuat dadanya semakin terasa ditusuk-tusuk.

 

Ia memukul dadanya berkali-kali saat tersadar dari lamunannya, kemudian pria itu merogoh saku kanan dan mengambil handphone miliknya. Jemarinya menari dengan cepat di atas touchscreen.

 

Aku hanya ingin mengingatkanmu lagi. Besok, persimpangan jalan, pukul 8. Aku akan menunggumu di sana.

 

“Walau kutahu kau tak akan pernah datang menemuiku.” batin pria itu yang langsung tertunduk dalam.

 

Astaga, apa ini? Kelopak matanya terasa panas, sesuatu seperti mendesak untuk keluar dari matanya. Tubuhnya mulai begetar, seakan tak mampu menahan segala gejolak yang sedang melandanya. Sedetik kemudian, sesuatu itu merembes begitu saja keluar dari matanya. Bibirnya juga ikut bergetar, tetapi cepat-cepat ia menggigitnya.

 

“Maafkan aku. Maafkan aku..”

 

Tubuhnya semakin berguncang hebat. Ia benar-benar menangis seperti anak kecil. Ia tahu, ini terlihat sangat kekanak-kanakkan. Tapi ia tak peduli. Ia hanya ingin gadisnya kembali. Kembali ke dalam pelukannya. Kembali mendengar lagu kesukaan gadis itu di radio bersamanya. Kembali berdansa dengannya. Dan menikmati musim dingin bersamanya seperti yang sudah-sudah.

 

 

····

 

 

Untuk kesekian kalinya, Joon Myeon merapatkan pakaian musim dinginnya. Butiran-butiran salju turun menghantam kepala dan tubuhnya seakan menyuruhnya pergi dari tempat itu. Tapi pria itu tak bergeser sesentipun dari duduknya. Ia tetap memandangi ujung jalan, berharap mendapati sosok itu berjalan ke arahnya.

 

Tapi sosok yang diharapkan itu tak ada, membuatnya menarik satu kesimpulan memilukan. Gadis itu benar-benar telah meninggalkan Joon Myeon.

 

“Satu jam lagi.” gumamnya pelan sesaat setelah melirik ke arah jam tangannya. “Aku akan menunggunya. Satu jam lagi..”

 

Keputus-asaan sudah menghampiri dirinya. Tapi ia tak sudi jika harus menyerah sekarang. Ia sudah melakukan banyak kesalahan pada gadis itu. Jadi tak mengapa jika ia harus menebusnya dengan bertahan di tengah salju seperti ini.

 

Asap putih mengepul keluar dari hidung dan mulutnya ketika ia mendengus saat menatap sebuah bingkisan yang teronggok tak berdaya di samping pria itu. Itu adalah lukisan yang dibuatnya kemarin. Lukisan yang tadinya akan diberikan kepada gadis itu.

 

Gadis itu.

 

Memikirkannya membuat Joon Myeon kembali mendengus seraya tersenyum kecut. Ia berdiri dari duduknya. Melemaskan saraf-sarafnya yang tegang akibat duduk tak bergerak dibawah suhu nol derajat selsius selama dua jam.

 

“Kumohon datanglah. Kumohon..” rahangnya mengeras. Mencoba menahan perasaan bersalah dan penyesalan itu muncul kembali.

 

Namun sekuat apapun ia menahannya, sesuatu itu kembali menusuk-nusuk dadanya. Paru-parunya seakan diremas, tak memberi ruang masuk untuk oksigen. Kelopak matanya mulai bereaksi lagi. Sesuatu yang panas dan basah mulai terasa, tapi ia cepat-cepat mendongakkan kepalanya, berusaha untuk memasukkan kembali cairan itu di balik matanya.

 

Pria itu mendesah. Langit malam musim dingin terlihat hampa tanpa bintang dan hanya dihiasi pemandangan berjatuhannya salju putih tak bernoda. Pemandangan yang cukup indah sebenarnya. Tapi tidak untuk Joon Myeonㅡsetidaknya hanya dalam keadaan suasana hatinya seperti sekarang ini.

 

Salju musim dingin tahun ini terlihat begitu menyedihkan. Karena menurutnya, setiap salju yang turun, adalah air mata gadis itu. Lee Ha Yi.

 

 

····

 

 

“Apakah kau malu mengakuiku sebagai kekasihmu di depan publik?”

 

“Tidak. Tidak sama sekali. Hanya sajaㅡ”

 

“Ya, aku mengerti. Demi perusahaan senimu itu, bukan?”

 

“Maafkan aku. Tapi perusahaanku sekarang sedang dalam masa kejayaan. Kau tahu, kan? Publik selalu saja bertindak bodoh. Mereka sangat senang menyebarkan sesuatu yang buruk untuk menjatuhkan seseorang.”

 

“Ya, aku mengerti. Aku mengerti..”

 

.

 

“Joon Myeon-ah, sebetulnya publik tidak seburuk seperti apa yang kau pikirkan.”

 

“Ya, Min Seok benar. Kau terlalu protektif menjaga nama baik perusahaanmu. Apa kau mengerti perasaan Ha Yi?”

 

“Jong Dae-ya, tenang saja. Gadis itu mengerti keadaanku.”

 

“Bodoh! Kau sangat bodoh! Tentu saja ia berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan hatimu. Tapi apa kau tahu? Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa seperti disayat-sayat!”

 

“Semua wanita hanya butuh perhatian, Joon Myeon-ah. Dan pengakuan.”

 

.

 

“Berhentilah mengacuhkanku. Kumohon..”

 

.

 

“Aku tak peduli jika kau enggan mengakuiku di depan publik. Aku hanya butuh perhatian darimu. Perhatian darimu..”

 

.

 

“Setidaknya kau harus menjawab teleponku saat jam istirahat.”

 

.

 

“Tolehkan kepalamu sejenak padaku. Tataplah aku seperti kau menatapku dulu. Kumohon. Sekali ini saja.”

 

.

 

“Ini peringatan terakhirku, Kim Joon Myeon. Tataplah aku! Arghh!”

 

.

 

“BERHENTILAH BERSIKAP MEMUAKKAN!”

 

“Ap-apa?”

 

“Hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku harus pergi sekarang.”

 

“Tunggu! Ya, Lee Ha Yi!”

 

.

 

Mata Joon Myun terbuka seketika. Tubuhnya terasa seperti disambar petir. Nafasnya terengah-engah. Ia memandang sekeliling kemudian bernafas lega saat mendapati dirinya masih berada di dalam ruang tengahnya.

 

“Mimpi buruk lagi, hm?”

 

“Sial! Itu bukan mimpi buruk! Suara-suara itu.. begitu nyata..”

 

“Nyata? Oh, ayolah. Itu hanya mimpi!”

 

“Aku bahkan bisa mendengar suara cemprengmu dengan jelas, Kim Jong Dae!”

 

“Hei, hei! Kenapa kau malah mengejekku? Aish, kau ini benar-benar..”

 

“Jadi, apa dia datang menemuimu semalam?” Kim Min Seok, pria dua puluh lima tahun yang terlihat lebih muda dari umurnya, mengalihkan keributan kecil itu.

 

Joon Myeon menarik nafasnya dalam. Ia kembali memejamkan mata dan bersandar di punggung sofa. Sebelah tangan pria itu terlihat memijat-mijat kepalanya pelan.

 

“Jangan tanyakan. Kau pasti sudah tahu jawabannya.”

 

“Baiklah, baiklah. Lalu? Apa rencanamu kedepannya? Kau tak mungkin terus-menerus seperti ini, bukan?”

 

“Ya. Dan.. untuk kedepannya.. entahlah. Yang ingin kulakukan saat ini hanyalah tidur, bermain piano, dan.. melupakan gadis itu.”

 

“Astaga, hidupmu benar-benar sangat membosankan!”

 

“Berhentilah mengejekku, Kim Jong Dae! Kau benar-benar ingin mati?”

 

“Wow, wow, wow! Lihatlah kawanmu ini, Min Seok! Dia benar-benar menjadi pemarah setelah ditinggal oleh seorang gadis!”

 

Min Seok hanya bergeming, terlihat seperti tengah berpikir keras.

 

“Mungkin kau harus kuperkenalkan dengan teman-teman wanitaku. Beberapa dari mereka kurasa adalah tipemu.” ujar Min Seok akhirnya.

 

“Tidak, tidak. Terima kasih. Saat ini aku belum bisa melupakan gadis itu dan aku masih sering dihantui rasa bersalah dan penyesalanku. Aku hanya ingin lepas dari itu semua, dan.. sepertinya aku tak mau lagi terlibat dalam urusan percintaan.”

 

Dua sahabatnya ituㅡMin Seok dan Jong Daeㅡhanya tersenyum miring, “Oh ya?”

 

 

····

 

 

Dentingan suara yang dihasilkan tekanan jari-jari Joon Myeon di atas tuts-tuts piano bergema di seluruh penjuru ruangan. Mata pria itu terpejam, menghayati sederet nada lagu Song Ji Eun, It’s Cold, yang dibawakannya. Ia membiarkan instrumen itu merasuki jiwanya yang sedang terombang-ambing di atas gelombang penyesalan. Entah mengapa perasaan itu selalu menghantui dirinya setiap kali ia menutup mata.

 

Seketika Joon Myeon menekan kasar tuts-tuts piano tersebut tatkala wajah gadis itu melintas di dalam pikirannya dan membuat alunan piano yang indah berubah menjadi nada yang memekakkan telinga.

 

Pria itu mendengus kesal dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar ingin berteriak sekeras mungkin detik ini juga dan membanting apapun yang ada di hadapannya. Tapi yang benar saja. Pria itu masih bisa menahan gejolak tersebut.

 

Ia bangkit dari duduknya sembari menghentakkan kakinya kasar.

 

“Aku bisa gila.. AKU BISA GILA!!  ARRGHH!!” geram Joon Myeon seraya menonjok-nonjok udara kosong.

 

“Tak ada gunanya kau seperti ini. Ajak gadis itu bertemu denganmu sekali lagi. Dan pastikan ia tak akan membuatmu menunggu seperti kemarin.” ujar Min Seok datar di ambang pintu. Walaupun wajahnya terlihat tenang, tapi jika ditilik dari air mukanya, sangat kentara bahwa ia mengkhawatirkan sahabatnya itu.

 

“Belikan dia cincin dan bunga. Andai kata ia akan menemuimu dan menerima cincin dan bunga itu, maka berbahagialah. Tapi jika dia tak menerimanya, bahkan tak datang menemuimu lagi, kau benar-benar harus kubawa ke psikiater.” sahut Jong Dae yang juga terlihat antara tak peduli dan cemas terhadap Joon Myeon.

 

Pria yang diajak bicara hanya terduduk lemas. Terdiam. Tatapannya kosong memandang ubin.

 

Jong Dae memasukkan kedua tangannya ke dalam saku kemudian berlalu begitu saja bersama Min Seok. Tapi sebelum pergi, ia melontarkan satu umpatan. “Bodoh..”

 

 

····

 

 

Kumohon datanglah. Hari ini, persimpangan jalan, pukul 7.

 

.

 

Jawab teleponku. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar akan datang.

 

.

 

Baiklah jika kau tak mau menjawab teleponku. Aku mengerti. Tapi, bisakah luangkan waktumu walau hanya 30 menit? Kumohon..

 

.

 

Jika kau tak datang, aku akan tetap menunggumu. Masa bodoh aku akan mati kedinginan di sana. Aku tak peduli, sampai kau benar-benar datang menemuiku.

 

.

 

Joon Myeon membuang handphone-nya begitu saja di atas sofa. Tak mendapat balasan dari Ha Yi hanya semakin membuatnya frustasi. Benar-benar frustasi.

 

Pria itu termangu. Perhatiannya kini tersita pada sebuah benda yang tergeletak manis di atas meja kayu di hadapannya.

 

Kado natal. Untuk gadis itu.

 

Antara yakin dan tak yakin, Joon Myeon mengambil benda berbentuk kotak mungil bercorak merah-hijau itu, hanya sekadar mengecek isinyaㅡsepasang cincin.

 

Pria itu tersenyumㅡhal yang tak pernah dilakukannya semenjak seminggu terakhir saat sosok itu pergi melangkah menjauhi dirinya.

 

Oke, berhenti membahas itu lagi.

 

Senyum Joon Myeon semakin mengembang saat memasangkan dua cincin tersebut di kedua jarinyaㅡjari manis dan tengah, yang berarti satu untuk dirinya dan satu lagi untuk gadis itu. Membayangkan gadis itu memakai cincin tersebut, membuatnya merasakan gejolak aneh yang menggelitik perutnya.

 

Tapi lagi, saat-saat ia tersenyum begitu cepat berganti menjadi senyum pahit. Sangat pahit. Pikiran bahwa gadis itu tak akan menerima kadonya mulai membuatnya cemas.

 

Pria itu segera bangkit dari duduknya untuk mempersiapkan diri, mempersiapkan hatinya, juga mempersiapkan suara dan keberaniannya ketika bertemu dengan gadis itu nanti.

 

Oh! Haruskah ia membuat dialog atau kalimat apa saja yang akan dilontarkannya nanti di hadapan gadis itu dan menghapalkannya? Haruskah?

 

“Sial! Aku tak pandai berkata-kata!” umpat Joon Myeon sembari menarik rambutnya satu kali dan membuat rambutnya yang berantakan terlihat semakin berantakan.

 

 

····

 

 

Joon Myeon terpaku memandang pantulan seorang pria yang sedang memakai jas musim dingin di hadapannya. Pria dengan sejuta brewok tipis yang menghiasi wajah tampannya. Pria dengan kantung mata hitam yang semakin menambah kesan menakutkan. Pria itu adalah dirinya sendiri.

 

Joon Myeon mendesah pelan. Tangannya bergetar ketika menggenggam sebuket bunga. Bunga mawar putih.

 

Ia mendesah, lagi. Pria itu memejamkan matanya. Membayangkan gadis itu di hadapannya.

 

“Lee Ha Yi, a-aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Seharusnya aku tak seperti itu. Merasa berbangga diri sehingga membuatku menjadi seorang yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Aku sungguh minta maaf. M-maafkan aku. Kembalilah padaku.. Saranghae..”

 

Joon Myeon membuka matanya perlahan, mendapati pantulan seorang pria yang sudah dibalut jas musim dingin.

 

Lagi, pria itu mendengus pelan, “Bodoh sekali, berbicara dengan cermin.”

 

 

····

 

 

Bunyi gesekan ban sepeda dengan aspal hitam yang sudah di penuhi salju samar-samar terdengar. Pria itu, Joon Myeon, mengayuh sepedanya pelan, menembus atmosfir malam yang serasa menusuk tulangnya. Sebelah tangannya menggenggam buket bunga mawar putih. Ditelusurinya setiap senti bunga tersebut dengan hidungnya, masih dengan mengayuh sepeda perlahan-lahan. Ia tersenyum tatkala menghirup aroma bunga itu dengan satu helaan panjang.

 

Aktifitas mengayuhnya terhenti ketika sebuah bangku panjang persimpangan jalan sudah berada di depan matanya. Pria itu memakirkan sepeda tersebut lalu melangkah gontai dan menjatuhkan pantatnya di atas bangku.

 

Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jas musim dinginnya. Sebuah benda mungilㅡkado. Ia kembali tersenyum, kali ini terlihat samar. Berharap gadis itu benar-benar tak akan membuatnya mati di sini dengan keadaan konyol.

 

 

·

 

 

Pukul delapan. Berarti Joon Myeon sudah menunggu selama satu jam.

 

“Tak apa. Aku akan tetap menunggunya.” gumam pria itu serak masih dengan kotak kado dan sebuket bunga di tangannya.

 

Napas Joon Myeon seakan tercekat saat melihat sosok itu muncul dari dalam kegelapan persimpangan dan berjalan menghampiri dirinya. Tapi tunggu. Setiap langkahnya bagaikan tak bernyawa.

 

Ya Tuhan, apa ini? Pertanda buruk mulai merayapi pikiran Joon Myeon. Tubuhnya terpaku. Kakinya serasa tak bisa bergerak. Ia menelan ludahnya susah-payah. Pria itu berani bertaruh, pasti sekarang wajahnya sangatlah pucat.

 

Tapi wajah pucat Joon Myeon bukan dikarenakan tatapan lemah gadis itu. Juga bukan karena efek menunggu terlalu lama di bawah salju. Bukan. Bukan sama sekali.

 

Wajah pucatnya karena..

 

Gadis itu tak sendirian. Ia ditemani seseorang.

 

Seorang pria.

 

Joon Myeon memaksakan senyumnya saat gadis itu dan sang pria sudah berada tepat di hadapannya. Gadis itu masih belum menatap Joon Myeon dan Joon Myeon juga tak mau menatapnya. Bukan karena apa. Ia hanya tak sanggup melihat mata sayu itu. Ia terlalu lemah melihat tatapan gadis itu yang terlihat kosong. Hampa.

 

“A-annyeonghaseyo.”

 

Hening.

 

“L-Lee Ha Yi, bagaimana kabarmu? Sepertinya.. kau punya sahabat baru ya?” Joon Myeon berujar gemetar sambil mendelik ke arah sang pria lalu dengan berat, Joon Myeon menarik dua ujung bibirnya tipis. Sangat tipis.

 

Pria itu tersenyum, menampakkan lesung pipinya. “Perkenalkan. Zhang Yi Xing.” pria itu membungkuk hormat dan kembali tersenyum yang lagi-lagi menampakkan lubang di pipinya itu.

 

“Akuㅡ”

 

“Yi Xing, namanya Kim Joon Myeon. Dan Joon Myeon, Yi Xing bukan teman ataupun sahabatku. Melainkan.. kekasihku.”

 

DEG!

 

Oh! Apa ini? Ini tak seperti yang diharapkan Joon Myeon! Bukan ini! Bukan ini yang diharapkannya! Bukan ini yang ingin ia dengar dari perempuan itu! Bukan ini! Sungguh, bukan ini..

 

Pria bernama Yi Xing itu berdeham pelan. “Kalian butuh privasi, aku tahu itu.” ucapnya yang langsung melangkah menjauh dari Joon Myeon dan Ha Yi, menyisakan dua insan itu berdiri kikuk dan suasana canggung pun seketika menyelimuti.

 

“Aku bahagia untukmu.” kata Joon Myeon yang dengan perlahan mulai berani menatap dua manik mata di hadapannya itu.

 

“Jadi? Untuk apa kau menyuruhku datang ke tempat ini?”

 

“Aku.. aku hanya inginㅡ”

 

“Minta maaf?”

 

“Eh?”

 

“Satu buket bunga mawar putih. Bukankah bunga mawar putih itu biasanya digunakan seseorang untuk meminta maaf?”

 

“Y-ya. Kau benar.” Joon Myeon mengumpat dalam hati ketika bunga yang sebelumnya disembunyikan pria itu di balik badannya, dapat ditangkap oleh sepasang mata sayu milik Lee Ha Yi.

 

“Kau tampak mengerikan hari ini. Kantung mata, kumis, dan.. brewok?”

 

“A-ah.. seharusnya aku mencukurnya tadi..” gumam Joon Myeon yang semakin mengumpat-ngumpat dirinya sendiri.

 

“Lalu?”

 

“I-itu.. Ya.. Aku.. Aku ingin.. Minta.. Maaf..”

 

Hening kembali menyelimuti. Hening yang panjang.

 

“Lee Ha Yi, a-aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Seharusnya aku tak seperti itu. Merasa berbangga diri sehingga membuatku menjadi seorang yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Aku sungguh minta maaf. M-maafkan aku. Kembalilah padaku.. Saranghae..”

 

Bisa! Akhirnya Joon Myeon bisa mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan selama ini dan apa yang sudah ia latih selama berjam-jam di depan cermin!

 

Tapi tungu..! Gadis itu.. menangis?

 

MENANGIS?

 

Astaga! Kenapa bisa seperti ini?! Ini benar-benar diluar yang sudah ia rencanakan dan yang ia bayangkan!

 

Joon Myeon mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan pria itu. Rahangnya mengatup. Ingin rasanya jari pria itu menghapus bulir yang sama sekali tak pernah ingin dilihatnya mengalir di atas pipi gadis itu, Lee Ha Yi. Tapi jemarinya seakan menginterupsi, entah mengapa.

 

“Maaf, aku tak bisa.” ujar gadis itu akhirnya dengan suara serak dan tercekat, nyaris tak terdengar.

 

Dan dalam seperseribu detik, Lee Ha Yi dan pria itu berlalu begitu saja hingga akhirnya kembali menghilang di balik kegelapan.

 

Joon Myeon merutukki dirinya sendiri. Ia semakin meratapi nasibnya yang berakhir seperti ini. Menyedihkan. Memilukan. Mengenaskan.

 

Gadis itu bahkan tak mengucapkan ‘selamat tinggal’ untuknya!

 

Pertahanan Joon Myeon hampir saja runtuh saat ia bergumam, “Aku kehilanganmu. Aku kehilangan dirimu. Kehilangan dirimu dalam seperseribu detik. Seperseribu detik di bulan desember.”

 

 

– END –

 

 

Aaaa Alhamdulillah~ Akhirnya selesai jugaa epep nista ini hohoho. Maaf jika alurnya kecepetan, feelnya kurang dapet, dan bahasa yang kurang dimengerti. Tapi jika readerdeul ingin memberi kritik dan saran yang MEMBANGUN, saya sangat berterima kasih! ^^ Mohon komennya ya~~~ SATU KATA dari kalian sangat berharga untukkuh!😥 Dan oh! FF ini sudah pernah dipublish di blog pribadiku http://anordinaryfan.wordpress.com *promote ew ._.v

GAMSAHAMNIDA! ^^

One thought on “Millisecond in December

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s