FF : Don’t Go part 2

20131225090542

Tittle: Nice Day

Author:  Exowie

Main Cast:  Chanyeol Exo – Baekhyun Exo – Byun Haera – Shin Haesul and others

Genre: Romance drama, Sad, Comedy (little)

Rate:  PG-15

Lenght:  Chapter

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PRANGG… PYANG…. !!

“YA! Haera, kau tak berniat menghancurkan tempat ini kan?”

PYARR…..

Chanyeol menghembuskan nafas beratnya dengan kesal. Belum juga bibirnya kering memberi peringatan sudah terdengar lagi benda jatuh bertabrakan dengan lantai. Chanyeol tutup buku yang tadi ia baca dengan keras lalu membuangnya asal di atas meja. Memutar bola matanya malas ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju sumber suara yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya.

Chanyeol menyandarkan tubuh tingginya di samping pintu dapur. Tangannya ia lipat dan taruh di depan dada melihat si luet tengah tersenyum meringis ke arahnya. Senyuman menjengkelkan yang akhir-akhir ini amat sangat pemuda itu benci. Karena senyuman  itulah yang membuat Chanyeol tak tega untuk mencakar-cakar wajah gadis itu. Meski emosinya sudah berlomba ingin keluar dari ubun-ubun. Seolah senyum itu adalah tameng kuat Haera untuk menangkal kemarahannya.

“Mian hehe…,” Haera seakan sudah biasa melihat tatapan tajam yang hampir tiap hari  ia terima.  Mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya Ia membentuk peace. Melanjutkan kalimatnya tanpa menunggu pemuda itu bertanya lebih dulu. “Kau bilang lapar, jadi aku mau masak. Tapi aku tak pernah memasak sebelumnya. Sepertinya… aku belum bisa hehe.”

“Dasar gadis punya otak tak berguna, masak saja tidak bisa.”

“JANGAN BAWA-BAWA OTAK! Tau apa kau tentang otakku. Kalau kau bisa kenapa tidak memasaknya sendiri sekarang!” Entah tersinggung atau karena hal lain, gadis itu membentak orang yang sudah menghinanya. Senyum yang tadi sempat mampir di bibir kabur begitu saja digantikan sungutan khas Haera.

Bertepatan dengan kejadian itu, Haera merasakan gatal pada matanya. Segera gadis itu menguceknya dengan tangan kiri berhubung tangan kanannya masih Ia gunakan memegang pisau dapur. Melupakan sesuatu yang baru saja Ia pegang sebelumnya. Dan detik berikutnya,

“APPA….!!”

Haera, gadis itu berteriak histeris merasakan matanya terasa perih. Menghentak-hentakkan kakinya ke lantai Ia terus  meronta. Mengucek matanya tanpa henti, Haera berharap bisa menghilangkan rasa pedih itu. Akan tetapi bukannya sembuh justru bertambah parah.

Chanyeol yang masih setia berdiri segera menghampiri Haera. Sedikit berbasa-basi pemuda itu bertanya pada gadis yang menahan perih matanya.

“Apa yang terjadi denganmu, coba aku lihat.”

Chanyeol menelangkupkan tangannya di kedua pipi Haera. Meniupkan udara dari mulutnya ke arah mata gadis itu agar terasa sedikit sejuk. Haera yang tak berhenti melompat-lompat kecil menyebabkan sebuah hal yang tak diinginkan menghampiri mereka.

Cup!

Gadis itu seketika diam tak bergerak. Saat merasakan sesuatu mendarat lembut di kelopak matanya. Rasa perih di mata ketika itu juga hilang entah kemana. Digantikan rasa yang gadis itu sendiri tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.

Tak berbeda jauh dengan Chanyeol. Pemuda itu dengan susah payah menelan ludahnya. Memegang bibirnya yang baru saja ia gunakan mencium mata Haera. Dengan tidak sengaja tentunya.

Haera berlahan membuka mata manik coklatnya. Dapat Ia lihat kini jarak yang tersisa antara wajahnya dan Chanyeol begitu sempit. Gadis itu bisa dengan sangat jelas menatap lekuk wajah tegas yang dimiliki orang dihadapannya. Hingga nafas Chanyeol pun tak luput bisa Haera rasakan menerpa kulit wajahnya.

Chanyeol segara menarik   tangan yang masih menempel di pipi Haera saat Ia tersadar dari kebekuannya. Segera menjauhkan wajahnya Ia berpaling menatap piring yang sebenarnya tidak ada istimewanya dari pada menatap gadis yang tanpa Chanyeol ketahui pipinya bersemu merah kini. Menggaruk kepala yang tak gatal Chanyeol mencoba meredakan gugup yang saat ini menyerangnya.

“Ehm !! Ma, maaf, ” Kalimat pertama yang berhasil Chanyeol keluarkan. “Sini pisaunya, ” Ujarnya lagi dengan wajah tenang seakan tak terjadi apa-apa. Berbanding terbalik dengan isi hatinya yang kini sedang jumpalitan tak karuan. Dan dengan bodohnya Chanyeol berkeinginan meminjam pintu ajaib milik tokoh kartun kesayangannya sekedar untuk menghilang sesaat. Merebut pisau dari  tangan Haera ia berkata dengan nada tinggi, “Apa sebenarnya yang ingin kau masak ha!? Bodoh sekali! ” Salah satu cara pintar pemuda itu untuk menyamarkan suara yang grogi dan mencairkan suasana yang sempat canggung.

“Nasi goreng pedas….” jawab Haera mantap tak ketinggalan Ia menirukan gaya orang kepedasan.

“Ow… pantas saja kamu tuli, kebanyakan makan pedas gak baik tau.”

“Aku gak tuli, cuma kadang gak dengar aja.”

“Itu sama saja bodoh! Minggir, lihat seperti apa orang berkharisma sepertiku memasak.”

Chanyeol mengambil alih tempat dan segera melakukan aksi memasaknya. Membiarkan gadis yang baru ia pukul kepalanya pelan itu melihatnya dari samping dengan bibir maju kedepan.

Langkah pertama yang Chanyeol ambil yaitu mencuci bersih udang yang telah dikupas, setelah itu dengan cekatan Ia meracik bumbu yang kiranya diperlukan untuk memperlezat masakannya. Mememarkan daging dan bahan satu persatu Chanyeol mulai asyik dengan dunianya sekarang.

Merasa persiapan sudah siap, langkah selanjutnya yang Chanyeol lakukan adalah memanasi wajan dengan minyak. Memasukkan daging dan bumbu yang tadi ia buat ke dalamnya. Menyebarkan bau harum yang menerjang masuk ke hidung dan menggelitik perut yang kosong.

Haera dengan seksama memperhatikan pemuda yang memasak dari samping. Kepalanya manggut-manggut seolah mengerti jika saja lain hari dia ingin melakukannya sendiri. Mulutnya tanpa diperintah otak langsung saja mengeluarkan sanjungan kagum.

“Wah… kau benar-benar pandai memasak. Aku baru pertama kali melihatnya.”

Chanyeol yang mendengar pujian Haera serasa terbang di atas angin. Menyunggingkan senyum bangga Chanyeol sekali lagi melakukan aksi yang Ia bisa. Mengangkat wajan nasi gorengnya keatas, Chanyeol  mengaduk-ngaduknya dengan cepat layaknya koki handal yang sering Ia lihat.

“Wah… keren-keren! Kau sangat keren.”

Seperti yang diharapkan Chanyeol, Haera begitu girang bukan kepalang melihat aksinya. Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya sembari tepuk tangan dan loncat-loncat kecil karena senangnya. Kalau saja bisa dilihat secara nyata, mungkin kepala Chanyeol lima kali lebih besar dari ukuran normalnya.

Mungkin memakan waktu kurang lebih sekitar lima belas menit,  nasi goreng itu jadi. Chanyeol menaruhnya di atas piring datar dengan hati-hati agar terlihat rapi. Tak lupa Ia menaruh telur mata sapi di atasnya agar terlihat lebih menarik.

“Tara… nasi goreng pedas ala Park Chanyeol. Silahkan dicoba.” Pemuda itu menyerahkan sepiring nasi goreng sembari menundukkan badannya sedikit pada Haera. Tak sadar jika perlakuannya itu terlihat seperti para pemain drama pria yang memberi hadiah untuk kekasihnya.

“Wuah… pasti enak. Gak jadi mati kelaparan deh. Makasih ya.” Ucap Haera senang menerima piring dengan mata berbinar. Menepuk pundak Chanyeol yang masih membungkuk gadis itu berlalu pergi meninggalkan dapur.

Chanyeol menegakkan tubuhnya kembali. Tersenyum Ia memandang punggung gadis yang berjalan menjauhinya. Senyumnya seketika jatuh saat dalam otaknya terlintas sesuatu.

“Tunggu dulu! Kenapa aku jadi yang memasak untuknya. Dia yang pintar atau aku yang bodoh! YA HAERA KURANG AJAR !”

=*+*=

“Aku pergi ke bawah sebentar.”

“Mau lama juga tak apa. Sekalian saja tak usah kembali.”

Haera yang tadinya sudah memegang knop pintu membalikkan badannya kembali. Memonyong-monyongkan bibirnya tanpa suara Ia menirukan kalimat pemuda yang sibuk mengutik kameranya di sofa tak jauh darinya berdiri.

“Nanti lain waktu juga gak bakal kembali !”

BLAM !

Chanyeol melirik setengah tak niat ke arah pintu yang di tutup keras.

“Nanti lain waktu juga gak bakal kembali, ” Chanyeol berseru menirukan kalimat Haera dengan nada yang dibuat-buat. Berkata kembali Ia dengan nada suara jengkel dan sewot. “Iya, nunggu rambutku ubanan sebelum waktunya baru dia pergi.”

Haera, gadis yang sedikit bandel dan keras kepala. Tak menganggap atau sampai Ia ambil hati dengan ucapan dan makian yang selalu mampir ke telinganya. Dengan cuek Ia turun ke lantai satu apartemen yang menjadi tempat tinggal sementaranya saat ini.

Berbekal sifat supel yang gadis itu miliki, Haera dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan dan dengan mudah Ia mempunyai teman meski baru seminggu tinggal. Berawal dari bosan yang menyerangnya, Haera berjalan-jalan keluar gedung tak jauh dari apartemen. Ia melihat pangkalan ramai yang sampai saat ini menjadi pilihan utamanya jika sedang tak ada kerjaan. Tidak hanya karena Ia sudah akrab dengan pemiliknya, Haera selalu datang ke tempat itu juga karena ada urusan.

Sampai di tempat, pintu itu terbuka otomatis ketika Haera ingin masuk.

“Hey !!” Haera membentak pemuda berkulit putih yang duduk di depan komputer. Menyeret kursi kini Haera duduk tepat di depan pemuda yang hanya menatap sekilas ke arahnya. “Muka datar kayak papan penggilasan gitu pantes aja ini warnet sepi ngalahin kuburan.”

“Maaf Haera-ssi, aku tidak tertarik untuk berdebat hari ini.”

Haera yang mengedarkan pandangannya ke setiap bangku kosong yang biasanya di isi oleh orang yang datang untuk belajar atau sekedar bermain, kembali memfokuskan tatapannya ke depan. Ke arah pemuda yang dalam pengelihatan Haera mukanya bertambah sepet seperti pisang belum masak. Meski Haera sendiri belum pernah memakannya hanya pernah mendengarnya.

“Ada apa sih,” Tanya Haera heran. “Aku tak melihat saudaramu di mana dia ?”

“Aku tak punya saudara.”

“Hyung-mu.”

“Dia bukan hyung-ku.”

“Ya Sehun, kerasukan setan apa kau bisa seperti ini ?” Haera memicingkan mata melihat orang yang kini sedang menopang dagunya lesu.

“Jangan salahkan aku jika aku tak menganggapnya sebagai saudaraku. Dia sendiri yang memulai. Bagaimana bisa jika dia benar hyung-ku Ia menyuruhku menjaga warnet ini sementara dia sendiri pergi dengan teman-temannya. Dan kau jangan pernah menyuruhku untuk menutup tempat ini. Karena jika aku melakukannya Luhan hyung akan menceritakan rahasiaku tempo hari pada Appa bahwa akulah yang memecahkan koleksi guji kesayangannya bukan kucing. Huwaa… licik sekali dia !”

Haera hanya mampu menganga lebar mendengar cerita yang sudah menghampiri edisi curhat orang yang Ia panggil dengan nama Sehun. Gadis itu ingin menanyakan keaslian gender orang yang menenggelamkan wajahnya di atas meja sembari menghentak-hentakkan kakinya seperti anak perempuan. Namun Ia buang jauh-jauh pikiran itu jika masih ingin menghirup udara secara normal. Bagaimanapun juga tenaga orang itu jauh lebih kuat dibanding dengan Haera kalau hanya untuk mencekeknya.

“Memang dia pergi kemana, sampai kau terlihat frustasi seperti ini.”

“Ini semua gara-gara selebaran sialan ini. Andai saja aku tak menaruhnya sembarangan, sudah pasti Luhan hyung tidak  akan tahu. Dan ya kau tahu? Aku sudah merencanakan pergi hari ini dari jauh hari. Tapi apa nyatanya. Menyedihkan. Padahal acaranya terakhir malam ini. Menyebalkan… !” Pemuda bernama Sehun itu melempar selebaran yang Ia anggap sudah membuatnya menyesal hari ini. Menenggelamkan lagi wajahnya setelah Ia berbicara cukup panjang dan menggebrak-gebrak mejanya brutal.

Haera memungut kertas yang jatuh di sebelah kakinya. Membaca dengan seksama gadis itu lama-kelamaan menyunggingkan senyum di bibir. Sebuah ide yang menurutnya berlian tengah berkeliaran dalam otaknya. Bangkit dan berdiri Haera melangkahkan kakinya keluar yang sebelumnya Ia sempatkan berpamitan pada Sehun dulu.

“Ya Sehun, aku tinggal dulu ya. Ada hal yang lebih menarik sepertinya. Besok aku pastikan kesini lagi. Bye !.” Ucap Haera dan melenggang pergi.

Sehun yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya kaget. Menyesali kebodohan yang baru Ia lakukan lagi. Andai saja pemuda itu tak memperlihatkan selebaran itu pada Haera, sudah pasti kini warnet yang Ia tunggu ada pengunjungnya. Meskipun Sehun sudah hafal kalau akhir-akhirnya gadis itu akan hutang lagi padanya. Setidaknya Ia ada teman untuk ngobrol sekarang.

“Ah … Oh Sehoon… mengapa hari ini kau begitu pintar ha… ?” Keluh Sehun mengacak rambutnya kasar dan meringis kesakitan karena tak sengaja Ia menendang kaki meja dengan keras.

=*+*=

KLEK

Chanyeol tanpa menoleh sudah bisa menebak siapa yang baru saja membuka pintu. Dengan acuh tak acuh Ia terus menyibukkan diri dari kegiatannya sedari tadi. Merasakan Haera duduk tepat di sebelahnya Chanyeol mengangkat pergelangan tangan kirinya berlagak melihat jam.

“Kenapa sudah kembali.” Tanyanya.

“Kan tadi aku bilang sebentar.”

“Masalahnya sebentarmu itu  hanya ucapan belaka tidak bisa di pegang.” Tangkas Chanyeol cepat berdasarkan kenyataan yang Ia alami. Iya, Chanyeol tidak bohong. Pemuda itu hampir setiap pagi dibuat stres hanya untuk menunggu Haera keluar kamar mandi yang katanya sebentar tapi memakan waktu hampir setengah jam lamanya. Tak tahu apa yang dilakukan gadis itu di dalam. Yang jelas karena hal itu Chanyeol hampir saja terlambat ke sekolah setiap hari.

Tidak ada respon atau pembelaan diri yang biasa Haera lakukan, Chanyeol menoleh. Menatap gadis yang  duduk menumpu tangannya di atas lutut dan menggoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan secara bersamaan. Memandang jengah senyum yang terukir di bibir tipis Haera, Chanyeol menghela nafas.

“Perasaanku jadi gak enak. Apa yang kau mau sekarang !?” Tanya Chanyeol langsung tanpa berbelit.

Haera langsung menyerahkan selebaran yang tadi Ia dapat dari Sehun. Chanyeol menerimanya namun tatapannya masih tetap ke arah Haera. Dengan sedikit malas Chanyeol membaca tulisan yang terpampang di sana.

“Bazar… !?” Ucapnya. Melirik curiga Chanyeol berkata kembali, “Jangan bilang kau mau mengajakku ke sana. Waktuku terlalu mahal untuk itu, terima kasih.”

“Ya ! Mengapa kau begitu ?” Haera mengambil selebaran yang Chanyeol lempar ke mukanya. “Ini sangat menyenangkan. Dan pasti acaranya sangat ramai.”

“Aku tidak suka ramai.”

“Bagaimana kalau aku ganti seru.”

“Tidur jauh lebih seru.”

“Asyik !”

“Asyikan juga joget.”

“Oh ayolah, aku ingin sekali datang.” Haera mulai merengek.

“Sekali tidak tetap tidak.” Chanyeol kembali ke posisi semula memulai kegiatannya kembali.

“Aku bilang iya kau juga harus iya !” Haera ngotot.

“Jangan colek-colek ! Pukul ni !”
Haera tak sedikitpun getar akan ancaman yang Chanyeol berikan. Dengan jari telunjuknya, Haera terus menusuk-nusuk lengan Chanyeol. Terus berjuang agar pemuda itu mau memenuhi keinginannya.

Sedangkan Chanyeol, Ia tetap bersi kukuh menolak. Chanyeol tak sedikitpun tertarik dengan acara seperti itu. Apalagi pergi dengan gadis bodoh dan merepotkan seperti panggilan yang sering Ia gunakan untuk Haera. Jangan harap Chanyeol mau meski Haera menangis darah sekalipun.

Lelah sudah Haera membujuk Chanyeol yang tak terpengaruh  sama sekali dengan rengekannya. Mengepalkan kedua tangannya Haera mulai geram. ‘Aku harus melakukannya’. Ucap Haera dalam hati.

“AJHUSI… !!” Haera berteriak. Chanyeol menoleh. “Bbuing-bbuing~~~”

Satu detik….

Dua detik….

Tiga detik….

Krik… krik….

Empat detik berlalu, Chanyeol habiskan hanya untuk mencerna apa yang baru saja Ia lihat di depan kedua matanya. Kamera yang sedari tadi Ia pegang hampir saja merosot ke bawah kalau kesadarannya tak kunjung kembali. Menatap gadis yang Chanyeol sendiri sempat mengakui dalam hati kalau terlihat imut dengan aksinya barusan. Chanyeol ingin sekali memaki Haera  karena tanpa sadar aegyo-nya itu sukses membuatnya ingin menggaruk wajah polos yang gadis itu punya karena gemas.

Sedikit berdehem Chanyeol mengumpulkan akal sehatnya kembali dan bergumam.

“Apa yang kau lakukan ?”

Haera menurunkan kepalan tangannya dari pipi dan menjawab dengan bibir manyun. Benar-benar menguji kesabaran Chanyeol untuk tak mencubit hidung mancungnya.

“Oppa yang mengajariku jika Appa tak mau menuruti kemauanku. Tapi sepertinya itu tak berarti bagimu. ”  Keluh Haera dengan bahu merosot.

“Aku yakin, Oppa-mu adalah orang yang aneh sepertimu.”

=*+*=

“Uhuk ! Huk uhuk !”

“Ya Baekhyun, pelan-pelan makannya.”

Laki-laki paruh baya menyodorkan segelas air putih pada pemuda yang Ia panggil Baekhyun. Dengan cepat pemuda itu meraih dan meminumnya hingga tersisa setengah gelas. Matanya merah karena terus terbatuk-batuk. Mengelus dadanya sendiri pemuda itu berharap menyudahi sedakan yang Ia rasakan.

“Kau tak apa kan?”

“Tidak, sudah sedikit baik kok.” Jawab Baekhyun kembali meminum air putihnya.

“Makanya hati-hati kalau makan. Bisa sampai tersedak kayak gitu.” Tambah lelaki paruh baya itu menasehati.

“Tadi juga sudah hati-hati Appa, mungkin sedang ada yang membicarakanku sekarang.”

“Siapa ? Adikmu ?”

Baekhyun mengedikkan bahu atas jawaban dari pertanyaan lelaki yang tak lain adalah ayahnya. Membuang nafasnya berat Ia menyenderkan bahunya ke belakang.

“Belum ada kabarkah tentang keberadaannya ?”  Tanya Baekhyun.

“Sampai saat ini mereka belum tahu dia ada di mana. Anak itu benar-benar… ” Ayah Baekhyun memenggal kalimatnya karena tidak tahu harus bagaimana meneruskannya. Menggelengkan kepala Ia berkata kembali. “Apa kita perlu melaporkannya ke polisi? Atau kalau tidak kita bisa buat selebaran yang memuat fotonya dengan tulisan di cari anak hilang. Bagaimana menurutmu Baekhyun-ah ?” Lelaki itu bertanya pada Baekhyun dengan menekankan kata ‘di cari anak hilang’ pada kalimatnya.

“Itu bukan ide yang bagus. Appa tahu sifatnya kan ? Dan aku rasa Appa juga harus memikirkan nasib rumah ini jika kita melakukan itu  .”

“Kau benar.” Lelaki paruh baya itu tertunduk lesu. Ia tahu betul sifat anak keduanya. Meski anaknya cenderung bersikap baik, tapi jika sudah merasa malu, jengkel, marah dalam waktu bersamaan sudah beda lagi ceritanya. Perabot rumah tak tanggung-tanggung pasti rata dengan lantai pecah tak beraturan. Belum lagi lelaki itu harus kerepotan membujuk anaknya yang mengurung diri bisa sampai tiga hari lamanya untuk keluar kamar. Anak keras kepala, sedikit manja tapi satu kelebihannya. Membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa nyaman dan selalu ingin melindunginya. “Ini semua juga salahku. Maafkan Appa Baek.” Seru lelaki itu lagi tanpa mengubah posisi menunduknya.

“Appa hanya menjaga perasaannya. Jangan menyalahkan diri sendiri. Jika aku jadi Appa aku juga akan melakukan hal yang sama. Tenanglah, anak buah Appa banyak. Pasti dia akan cepat ditemukan. Aku juga akan ikut mencarinya. Appa tetap yang terbaik.” Baekhyun tersenyum ke arah ayahnya. Menguatkan hati orang yang duduk di depannya dengan lesu. Meski Baekhyun sendiri tak bisa bohong jika  Ia juga merasa kehilangan adiknya. Tapi tak mungkin pemuda itu menunjukkan sikap lemah pada ayahnya yang sudah cukup stres karena masalah ini.

“Pasti dia merasa sakit hati.” Ayah Baekhyun mengangkat kepalanya menatap putranya. “Kau fokuskan saja kepindahan sekolah barumu, biar adikmu Appa yang urus. Aku tak mau melihatmu tak lulus tahun ini.”

“Bagaimana bisa aku tak ikut turun tangan. Appa tenang saja. Aku pastikan tahun ini lulus tanpa harus mengecewakanmu.”

“Meski kini kau di keluarkan dari sekolah favorit itu.” Lelaki itu tersenyum mengejek ke arah Baekhyun.

“Itu tak masalah bukan ?” Jawab Baekhyun enteng seolah tak ada hal yang perlu disesalkan.  Melirik arlojinya Ia berdiri. “Aku harus pergi dulu. Temanku tadi menghubungiku ingin bertemu.”

“Appa juga ada janji. Nanti mungkin Appa akan pulang telat. Kau tak usah menunggu. Hati-hati di jalan.”

“Appa juga. Bye-bye.” Baekhyun tersenyum melambaikan tangan ke ayahnya. Menyambar kunci mobil di samping tangannya, Baekhyun melangkahkan kaki meninggalkan meja makan yang terlihat cukup mewah. Menuju halaman depan dan masuk ke mobil lalu menginjak gasnya dalam setelah Ia menghidupinya. Meninggalkan kepulan asap yang mengenai wajah satpam yang membantunya menutup gerbang rumahnya. Mencoba melupakan sejenak masalah yang kini pemuda itu hadapi.

=*+*=

“Wuah…firasatku memang selalu tepat. Ini pasti akan jadi hari yang seru.”

Chanyeol jengkel setengah hidup. Biar bibirnya tak berkata namun wajahnya tak bisa bohong. Muka Chanyeol terlihat masem sejak keberangkatannya dari apartemen tadi. Ditambah kini Ia harus berdesak-desakan dengan ratusan pengunjung yang datang ke Bazar atau apapun namanya itu Chanyeol tak mau ambil pusing. Acara tahunan yang rutin digelar di taman kota yang luas dengan berbagi hiburan yang disuguhkan.

Chanyeol memandang jengah gadis yang terlihat begitu semangat dan antusias menikmati suasana malam yang sedikit dingin. Memakai tutup kepala jaketnya, Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Berjalan di belakang Haera, pemuda itu terlihat uring-uringan sendiri. Memaki orang yang membuatnya harus menginjakkan kakinya di tempat itu sekarang.

Chanyeol sendiri juga tak habis pikir, bagaimana Ia akhirnya mau mengabulkan keinginan Haera yang menurutnya membuang waktunya untuk hal tak berguna. Karena pemuda itu jauh lebih tertarik duduk di tempat yang tenang seperti kafe dari pada melihat ratusan kepala berlalu lalang di hadapannya.

Mata Chanyeol melotot tatkala melihat Haera akan memasuki sebuah stand. Dengan cepat Chanyeol melangkah menghampiri gadis itu.

Di sisi lain mata Haera bersinar cerah melihat dres warna hitam  selutut  tak jauh dari hadapannya. Meski bukan warna favoritnya, gadis itu merasa tertarik dengan baju itu. Sederhana tapi enak di lihat. Kakinya hampir saja masuk ke stand pakaian kalau saja tak ada orang yang menyeret jaketnya dari belakang.

“Ya, mengapa kau selalu menyiksaku  seperti ini?”

“Tidak ada acara mampir.”

“Tapi aku suka baju itu. Bukankah itu terlihat bagus ?”

“Bagus ! Tapi tak bagus di dompet,” Tanggap Chanyeol sewot. “Lagian kau lupa. Waktu baru datang di rumahku, aku membelikanmu baju dan sampai sekarang kau belum membayarnya.” Tambah Chanyeol mengungkit masa kelamnya. Dimana Ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membelikan baju Haera. Karena Chanyeol tak mungkin meminjami bajunya terus-terusan. Dan jujur saja, sampai sekarang Chanyeol masih belum ikhlas apalagi lupa dengan kejadian itu.

“Aku kan belum ada uang.”

“Maka dari itu matanya di jaga. Gak usah lirak-lirik segala. Jalan !” Bentak Chanyeol.

Walau dengan berat hati Haera tetap menurut. Berjalan Haera terus mengedarkan pandangannya ke seluruh stand yang Ia lewati. Tersenyum geli gadis itu menuju stand sendal. Terpampang apik berbagai merek sendal dari harga selangit hingga yang bersahabat dengan kantong. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Haera. Terlebih pada sendal bulu kuning berbentuk bebek di hadapannya sekarang. Mengambil sendal itu Haera membalikkan badan menghadap Chanyeol.

“Kau sudah terlalu dewasa untuk memakai sendal itu. Letakkan !”  Chanyeol melenggang pergi setelah berucap. Meninggalkan Haera yang mengerutkan dahi menatap punggungnya menjauh.

“Dia pikir aku ingin membeli ini? Dasar orang curigaan. Kasihan sekali dia, padahal aku kan hanya ingin bilang kalau aku kerap memanggil Oppa-ku dengan sebutan Bebek.” Cibir Haera dan meletakkan kembali sendal itu pada tempatnya.

Berjalan kini Haera yang mengekor di belakang Chanyeol. Tanpa sadar bibir gadis itu menyunggingkan seulas senyum. ‘Punggungnya lebar juga ya’.

“Ha ? Apa yang aku katakan. Tidak-tidak, aku harus segera ke dokter terdekat untuk memeriksakan kejiwaanku.” Haera bergumam lirih sambil memukul kepalanya pelan. Bentuk protes dari ucapan yang Ia keluarkan hanya dalam hatinya barusan.

Mengalihkan pikirannya pada Chanyeol, Haera kembali melirik apa yang ada di sekitarnya. Matanya kembali menemukan benda yang lagi-lagi menarik perhatiannya. Menggeledah tas slempangnya Haera berharap menemukan apa yang Ia inginkan. Dan nampaknya keberuntungan tengah berpihak padanya.

“Aha ternyata aku masih ada.” Ucap Haera senang menggenggam uang receh di tangannya. Gadis itu berlari kecil menjangkau jaket Chanyeol dan menyeretnya ke belakang. Hitung-hitung untuk balas dendam karena tadi Ia sempat diperlakukan seperti itu oleh Chanyeol.

“Mau apa kau ? Jangan tarik-tarik !”

Haera tak menjawab protes yang keluar dari mulut Chanyeol. Berpura tak punya telinga Haera memasukkan uang koinnya ke dalam mesin foto box. Mendorong tubuh tinggi Chanyeol, Ia juga ikut masuk keruangan berkelambu hitam persegi tak begitu luas.

Sampai di dalam mereka berpose dengan gaya yang berbeda setiap kamera selesei mengambil gambar keduanya. Oh sepertinya tidak, terkecuali untuk Chanyeol. Dia sama sekali tak berniat bergaya sedikitpun. Tapi karena Haera yang memaksa dan menginjak sadis kakinya mau tidak mau Chanyeol hanya pasrah mengikuti pose yang di arahkan gadis itu.

“Yah… kok gak bagus sih. Ini semua karenamu. Lihat saja wajahmu kaku semua gini.” Protes Haera kesal setelah mengambil hasil fotonya.

“Siapa suruh mengajakku. Pakek acara kriminal lagi.” Jawab Chanyeol sembari memegang kedua telinganya yang tak luput dari tangan  ganas Haera.

“Ah tapi tak apa deh, aku lihat-lihat lagi malah terlihat lucu kok.” Ucap Haera jujur setelah memperhatikan betul foto yang Ia pegang. Tersenyum geli Haera melihat selembar foto yang memperlihatkan dirinya tengah menganga lebar melirik Chanyeol yang sedang meringis kesakitan.

“Mau sampai kapan kau terus berdiri di sana ?”

Haera memasukkan lembaran foto itu ke dalam tas dan berlari mengejar Chanyeol yang meneriakinya dari depan. Mensejajarkan langkahnya kini mereka berjalan berdampingan. Tenang, nyaman dan damai. Itulah yang saat ini Haera rasakan. Haera sendiri tak tahu apa alasannya. Karena di saat Ia berada di samping pemuda itu, rasa bahagia selalu menyelimutinya. Tak ada lagi sedih, tangis dan air mata jatuh seperti dulu.

“Silahkan, mari silahkan di lihat. Untuk yang anak, dewasa sampai yang tua ada semua. Mari datang kesini. Lihat tak usah bayar, nyuri aku tendang. Silahkan.”

Dari ramai dan banyaknya suara yang Haera dengar, entah mengapa suara orang yang gembor-gembor itu yang paling jelas masuk ketelinganya. Haera mengedarkan pandangannya mencari sumber suara yang mirip ibu-ibu itu kesegala arah. Dan benar saja,  seorang  penjual aksesoris tengah berteriak mempromosikan dagangannya tak jauh dari tempatnya. Tangan Haera langsung menarik pergelangan tangan Chanyeol pelan. Membuat pemuda itu sedikit kaget dan menurut saja mengikuti langkah Haera.

“Mau cari apa ? Silahkan di lihat-lihat dulu. Untuk hari ini, barang yang laris di pilih oleh sepasang kekasih adalah pin hati ini.”

“Tapi kami bukan sepasang kekasih.” Chanyeol, Haera saling melirik canggung.

“Wah… kalian memang sudah ditakdirkan berjodoh. Bukti nyatanya saja ngomong barengan gitu. Udah gak usah malu-malu lagi. Kalau pacaran bilang aja pacaran, Ajhuma gak bakal bilang ke orang lain kok.”  Penjual itu ngotot dengan pemikirannya.

“Kami memang benar tidak pacaran !” Chanyeol dan Haera kembali melirik satu sama lain sedikit jengkel. Karena lagi-lagi mereka berdua berujar bersamaan membuat penjual di depannya mengikik menahan tawa yang ingin meledak keluar.

Tak mau ambil pusing Haera melihat-lihat barang yang berjejer rapi di hadapannya. Lama melihat Ia sama sekali belum tertarik dengan satu barangpun. Tapi saat matanya menangkap sepasang kalung couple, tiba-tiba saja Haera ingin memilikinya.

“Ajhuma ini berapa harganya ?” Tanya Haera.

“Oh… kalung ini ada di sini ? Aku pikir aku sudah kehilangannya,” penjual itu sedikit terkejut. “Sebenarnya ini tak di jual. Tapi jika kau menyukainya kau boleh membelinya. Itu dari almarhum suamiku. Tapi benar tak apa, Ajhuma rela kok. Karena saat melihat kalung itu, Ajhuma jadi ingat mendiangnya.” Penjual wanita yang tadinya masih belum bisa meredam tawanya itu seketika wajahnya berubah jadi raut sedih saat bercerita.

Chanyeol menyenggol bahu Haera memberi isyarat.

“Maaf aku tak bermaksud mengingatkan.” Ucap Haera membungkuk.

“Tak apa, kau tak usah tak enak hati seperti itu. Kau benar ingin membelinya ?” Tanya wanita itu sembari tersenyum untuk menghilangkan rasa bersalah pelanggannya.

“Iya ! Ajhuma jual berapa ?” Jawab Haera senang dan antusias.

“Seratus ribu.”

Haera membuka tas dan mengambil dompetnya. Raut kecewa tercetak jelas di wajah putihnya. Dengan lesu Ia mengambil satu-satunya uang kertas yang tersisa di dalamnya.

“Hanya seribu.” Ucap Haera lirih. Melirik kesamping Haera mendapati Chanyeol yang melipat tangannya di depan dada dengan dagu terangkat sedikit. Mata Chanyeol melotot seolah ingin mengajak duel satu lawan satu. Tapi bukan itu yang Haera tangkap. Akan tetapi  sorot mata itu mengisaratkan kata ‘aku cekek kau di sini atau cepat jalan’ apabila bibir yang berucap. Dengan kecewa Haera berujar kembali.

“Maaf banget Ajhuma,aku benar-benar menyukainya. Tapi aku tak ada uang.” Haera meletakkan kembali kalung itu dan pergi dengan langkah gontai. Gadis itu benar-benar menginginkan barang itu hingga membuatnya begitu lemas karena tak berhasil mendapatkannya. Sebab Haera menangkap makna di balik benda itu.  Bukan harga, bukan pula rupa. Karena mengingat harganya itu tak seberapa mahal, dan untuk rupa itu hanyalah kalung biasa berwarna Silver yang tak begitu menarik.

Chanyeol memandang punggung Haera yang tak tegak berjalan. Melangkahkan kaki cuek Chanyeol meninggalkan stand aksesoris itu. Namun belum jauh melangkah entah mengapa kaki Chanyeol terasa berat untuk berjalan. Berhenti Ia memejamkan mata dan membuka tutup kepalanya ke belakang secara kasar.

“Sial !” Umpatnya dan berbalik menghampiri penjual tadi. “Bungkuskan kalung itu untukku.”

=*+*=

Kaki Haera terasa lumpuh tak bertenaga. Banyak orang bilang berjalan kaki itu baik untuk kesehatan jantung. Tapi tidak harus dilakukan dengan mengitari Bazar selama dua jam juga. Tanpa istirahat, tanpa duduk.

Tenaga yang tadi jika dipresentasikan berada pada level 100%, kini turun drastis hanya tinggal 30%. Namun semangat gadis itu untuk mengitari seluruh sudut acara terakhir malam itu tak pernah surut. Walau dengan lemah Haera mengangkat kakinya, Ia terus berjalan menjadi salah satu pengunjung yang berada di area permainan anak.

Tempat itu tak banyak terlihat para muda-mudi yang berjalan berpegangan tangan dengan mesra seperti yang Haera lalui sebelumnya. Yang entah mengapa pemandangan itu membuat Haera empet. Entah empet karena ngiri, atau entah empet karena merasa mengasihani dirinya sendiri tak bisa seperti mereka. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Haera sendiri.

Kebanyakan di tempat itu hanya para orang tua yang menjaga anaknya bermain. Tapi jangan anggap tempat itu sepi. Di sana juga ramai para pengunjung yang datang sekedar menikmati suasana ada pula yang sekalian memanfaatkannya untuk bekerja.

Chanyeol memandang dari belakang gadis yang membungkukkan badannya dan terus berucap ‘terima kasih’ pada orang yang memberinya selebaran. Tak hanya sekali, ada mungkin sampai lima belas kali Haera melakukan itu. Chanyeol tahu bukan karena Ia tak ada kerjaan menghitung berapa kali Haera bertingkah seperti itu.  Cukup dengan melihat banyaknya kertas  kecil yang Haera pegang saja Chanyeol sudah paham.

“Sampai kapan kau akan seperti itu ?” Tegur Chanyeol.

“Terima kasih,” Ucap Haera pada lelaki tua di sampingnya, lalu memandang Chanyeol bingung Ia bertanya. “Memang aku kenapa ?”

“Buat apa kau menerima itu semua. Membacanya saja tidak apalagi membeli. Lagian itu kertas sama yang dari tadi kau ambili.”

“Yang kau maksud ini ?” Tanya Haera mengangkat tumpukan kertas di tangannya. “Apa salahnya membuat hati orang sedikit senang.”

“Memangnya kau akan membeli produk itu ?” Chanyeol kembali bertanya sembari menunjuk kertas promosi itu.

“Dengar ya Ajhusi, membuat mereka senang tidak harus membeli barang mereka. Meski itu tak dipungkiri mereka akan sangat senang jika kita melakukannya. Tapi dengan kita menerima kertas yang bagi orang tak berharga ini, mereka sudah cukup merasa senang dan dihargai. Membuat orang lain bahagia itu mudah. Tak harus  kita melakukan  tindakan berlebih. Dengan cara yang simple pun bisa.”  Jawab Haera panjang lebar.

Chanyeol menatap Haera tak percaya. Inikah gadis yang selalu membuatnya repot, jengkel, marah dan emosi setiap hari ? Tanpa sadar Chanyeol menganggukkan kepala setuju. Sedikit menyesal Chanyeol tak mau menerima selembarpun kertas yang dibagikan padanya tadi. Meskipun Chanyeol sudah mengucapkan kata maaf tiap kali menolak.

Jika Chanyeol pikir-pikir lagi apa susahnya, Ia tinggal menerima tak usah bayar. Toh dia mau menyimpan atau membuang setelahnya juga tak masalah. Mungkin malam ini pemuda itu mendapat satu pelajaran hidup baru. Yang sial bagi Chanyeol, pelajaran itu Ia dapat dari orang yang membuat darahnya naik akhir-akhir ini.

“Ada gunanya juga otaknya.” Pekik Chanyeol namun tak sampai terdengar di telinga Haera.

Berjalan lagi Chanyeol mengekor di belakang Haera. Dimana kini gadis itu sudah benar-benar kehabisan tenaga. Secara tiba-tiba saja Haera terduduk di jalan karena kakinya tak lagi sanggup menopang badannya. Membiarkan celana jins-nya tertempel tanah yang sedikit basah. Apa peduli Haera tentang itu. Tidak pingsan  menggelepar di jalana
itu saja Ia sudah bersyukur.

Chanyeol membelalak kaget. Berjongkok di hadapan Haera Ia bertanya kaget.

“Hey ! Jangan seperti anak kecil, apa yang sedang kau lakukan ? Cepat bangun. Kau ingin rata diinjak ratusan kaki di sini ha ?” Suruh Chanyeol menarik tangan Haera tuk berdiri.

“Aku tak bisa, bawa, bawa aku, bawa ke pinggir.” Jawab Haera yang entah mengapa terdengar gagap di kalimat yang diucapkannya. Sedikit terdengar lemah juga iya. Mukanya pucat beriringan keringat meluncur dari pelipisnya.

=*+*=

“Ni minumnya !” Chanyeol menyerahkan sebotol air mineral ke arah Haera dengan sewot. Tanpa Chanyeol pungkiri, pemuda itu takut setengah mati melihat kondisi gadis itu tadi.  Tubuh kaku tak bisa di gerakkan di tambah wajah pucat pasi layaknya mayat hidup. Dengan panik Chanyeol menggendong Haera ke pinggir jalan dan terus meneriakkan namanya. Sampai aksinya itu mengundang pengunjung lain  untuk melihatnya.
Dan karena bantuan dari salah satu pengunjung yang kebetulan adalah Dokter, Haera bisa menggerakkan tubuhnya kembali. Wajahnya berangsur-angsur sedikit pulih tak lagi putih pucat.

“Maaf selalu merepotkanmu.” Sesal Haera.

“Memang ! Baru nyadar,” Timpal Chanyeol cepat tanpa pikir panjang. “Lagian ya Ra, kalau kamu lapar bilang saja. Gak usah sok bikin aku jantungan segala. Pengen lihat aku mati muda ha !?” Tambah Chanyeol menggebu-gebu memberi penekanan pada setiap kalimatnya.

“Tapi aku tidak lapar.”

“Namanya apa kalau tidak lapar bisa kesambet kayak gitu.” Chanyeol tak mau kalah. Dia benar-benar sedang diuji untuk menelan emosinya bulat-bulat saat ini. Selain karena malu entah mengapa Chanyeol begitu sedih melihat kondisi Haera yang drop seperti barusan.

Haera sama sekali tak bergeming dari posisi duduknya. Memandang ke bawah Ia menggigit kukunya. Tak berniat menjawab perkataan Chanyeol. Pikirannya saat ini memang kosong. Terbang bersamaan angin malam yang menyapu wajahnya. Tak berapa lama, Haera mengangkat wajahnya saat suara seorang gadis terdengar menyapa.

“Hey Park Chanyeol ! Sejak kapan kau mau datang ke tempat ramai seperti ini ? Kau salah minum obat ?”

Chanyeol yang masih memarahi Haera kaget mendengar suara yang tak lagi asing menegurnya.

“Kau di sini juga ?” Tanya Chanyeol dan reflek berdiri berhadapan dengan gadis itu.

“Iya, adik ponakanku yang memaksaku ikut. Tadinya aku kurang yakin jika yang aku lihat itu kau. Eh ternyata mataku memang masih normal. Dan hey kau datang ke sini untuk berkencan ?” Tanya gadis itu berbisik membuat Haera tak bisa mendengarnya.

“Siapa, aku ?”

“Bukan tukang ojek. Ya iyalah siapa lagi,” Gadis itu memukul pelan dada Chanyeol. Lalu melirik Haera yang masih duduk memperhatikan percakapan yang ada. “Kau pintar juga cari pasangan. Dia cantik. Bukankah aku benar ?”

“Ha ? Oh i… iya iya. Dia cantik hehe. Oh em… iya te… terima kasih.”

“Wah… jangan gugup seperti itu. Jelek tau. Tenang, aku tak kan marah. Meski kau jahat tak memberi tahuku sebelumnya. Aku tetap senang. Akhirnya kau tak jadi jomblo seumur hidup. Selamat ya. ”

Hati Chanyeol terasa teriris. Ia sengaja tak menyangkal dengan kata ‘tidak’ hanya untuk mengetahui reaksi apa yang diberikan gadis itu untuknya. Sedih, cemburu, kecewa, kesal ? Tapi tak satupun dari reaksi yang Chanyeol inginkan dilakukan gadis itu. Semakin sesak dadanya saat gadis itu menjabat tangannya memberi ucapan ‘selamat’ dengan wajah yang berseri bahagia. Menatap punggung gadis yang menghampiri Haera, Chanyeol menghela nafas kecewa.

“Hai kenalkan, aku Haesul. Teman Chanyeol sejak kecil. Kita dari SD sempat satu sekolahan. Tapi saat aku kelas lima SD keluargaku pindah dan kita sempat terpisah. Tapi saat kelas tiga SMP sampai sekarang kita satu sekolahan lagi. Jangan sungkan bilang padaku jika dia berbuat nakal padamu. Karena aku akan membantumu memberi pelajaran padanya.”  Gadis bernama Haesul itu menjulurkan tangan dan melirik sinis ke arah Chanyeol saat Ia mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Haera, senang bertemu denganmu.” Haera membalas jabatan tangan Haesul dan tersenyum.

“Iya aku juga,” Haesul  membalasmu senyum Haera namun detik berikutnya senyum itu lenyap di ganti wajah panik. “Oh Tuhan aku harus segara kembali jika tak mau di panggang hidup-hidup oleh Oemma. Ya sudah aku harus menghampiri ponakanku di sana  dulu dan segera pulang. Sampai jumpa lagi Haera-ssi dan ya Chanyeol mengapa kau terlihat bodoh seperti itu ?” Bentak Haesul membuat Chanyeol sadar dari kebengongannya.

“Ha ? Oh ya aku rasa aku juga harus pulang. Hati-hati kau di jalan.”

“Iya. Kau juga. Selamat tinggal semua.” Haesul melambaikan tangan dan berlari kecil hingga tak terlihat dari pandangan Chanyeol dan Haera.

Haera yang masih melambai dan tersenyum itu menatap Chanyeol bingung sedikit takut.

“Mengapa kau melihatku seperti itu ?”

Chanyeol menjawab pertanyaan Haera hanya dengan tatapan tajamnya. Sorot mata yang sama sekali tak bisa Haera baca artinya. Apakah marah ? Jengkel ?Jika memang iya, apa sebabnya ?Haera sama sekali tak mengerti. Keterkejutannya menjadi saat melihat Chanyeol meninggalkannya tanpa berkata barang satu kalimatpun.

“Ya tunggu.” Teriak Haera.

=*+*=

Chanyeol, pemuda itu memang nampaknya harus berusaha membuang salah satu sifat buruknya. Pemalas. Ya, karena sifatnya itu, Chanyeol memutuskan untuk  naik kereta bawah tanah dengan alasan lebih cepat. Tetapi bukan itulah tujuan sebenarnya. Tidak lain dan tak bukan yaitu  karena ‘malas’ menyetir mobil.

Karena penyakitnya itu kini Ia harus berdiri berdesakan dengan penumpang lain. Mungkin karena Chanyeol pulang bertepatan dengan para pengunjung Bazar balik juga. Sehingga  membuat jasa transportasi itu membludak penumpang tak seperti hari biasanya.

Sungguh Chanyeol muak dengan hari yang baru Ia lewati. Belum juga reda rasa kesalnya pada Haera, kini dia juga harus menambah jumlah kejengkelannya pada orang yang terus menginjak kakinya. Tentu makian juga terus berurutan keluar dari dalam hatinya. Karena tak mungkin juga Chanyeol mengeluarkan kata kotornya dari bibir. Kecuali, kalau Ia mau dikeroyok habis-habisan dengan penumpang lain.

Haera yang sebenarnya masih dapat tempat duduk di sebelah cowok berkacamata tadi kini harus rela berdiri. Dikarenakan Ia melihat seorang ibu tengah mengandung berdiri tepat di hadapannya.

“Dasar !” Umpat Haera dalam hati. Bukan, Haera mengumpat bukan untuk ibu hamil yang membuatnya harus memberikan tempat duduknya. Tapi untuk pemuda berkacamata yang tadi masih terlihat segar bugar memainkan ponselnya tapi langsung lelap saat ada orang yang lebih membutuhkan kursinya. Dan Haera yakin pemuda itu tidak tidur melainkan hanya berpura-pura belaka. Maka Haera berani mengeluarkan sumpah serapahnya untuk pemuda itu.

Haera berbuat begitu juga bukan karena tak ada alasan. Dia juga masih muda dan sanggup jika hanya berdiri selama setengah jam. Tapi kondisinya kali ini beda. Gadis itu sedang menahan sakit kepala yang kini menyerangnya. Bahkan Haera sampai meremas ujung jaketnya karena sakit itu. Tapi apa boleh buat.

“Silahkan duduk.” Ucap Haera yang di balas ucapan terima kasih dari ibu itu. Dari kejadian itulah Haera baru sadar jika Chanyeol berjarak sedikit jauh darinya berdiri. Menatap pemuda itu, Haera semakin di buat penasaran karena Chanyeol memalingkan wajahnya saat bertatap langsung dengannya. Sejak bertemu Haesul di Bazar tadi entah mengapa Chanyeol jadi bersikap aneh padanya.

“Dia kenapa ya?” Ucap Haera lirih. Namun saat ini Haera tak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi pada Chanyeol meski penasaran telah menggerogoti pikirannya. Yang saat ini harus Haera pikirkan adalah bagaimana Ia tidak jadi bulan-bulanan orang yang kakinya terus Haera injak. Karena kereta berjalan dengan tenangpun gadis itu tetap sempoyongan karena pusing. Menginjak satu, dua kali dimaafkan. Tapi kalau sudah lebih ? Haera bisa menebak apa yang Ia dapat dari ketidak sengajaan yang benar-benar Ia lakukan. Di caci mungkin salah satu yang Haera terima.

Chanyeol berusaha cuek. Sebisa mungkin Ia harus menghindari kontak mata dengan Haera. Kekecewaan yang tadi Chanyeol rasakan Ia rubah jadi kemarahan untuk gadis itu. Karena Chanyeol pikir memang Haera yang jadi akar masalahnya. Coba saja gadis itu tak memaksanya pergi, sudah pasti Ia tak bertemu dengan Haesul sampai gadis yang Chanyeol sukai itu salah paham mengiranya kencan dengan gadis lain.

Masih bergelut dengan pikirannya, Chanyeol tertarik memperhatikan seorang pemuda yang baru masuk. Bukan karena dia terlihat lebih keren. Chanyeol pikir dirinya jauh lebih baik dari pada orang berambut acak bermata merah dengan bahu alkohol melekat di badannya. Chanyeol dapat mencium baunya karena dia berdiri tepat di depan pintu masuk.

Kembali lagi ke Chanyeol mengapa sampai mau memperhatikan orang itu tanpa berkedib. Tak lain karena tingkah laku pemuda itu. Pertamanya Chanyeol pikir pemuda itu tak sengaja menyenggol pantat perempuan karena penuhnya penumpang dan harus berdesakan satu sama lain. Tapi ternyata Chanyeol salah. Chanyeol berani bertaruh kalau pemuda itu sengaja melakukannya. Pertama, tidak sengaja tak mungkin dilakukan berulang kali yang anehnya selalu perempuan yang jadi pilihannya. Kedua, pemuda itu sudah ada tempat kalau hanya untuk berdiri. Tapi Ia tak mau berhenti dan trus  bergeser memanfaatkan desakan orang untuk melakukan aksinya. Dan ketiga, kalau tadi Chanyeol bilang menyenggol itu juga salah. Karena menyenggol tidak sampai harus meremas sampai korbannya mengeluarkan tatapan protes yang hanya ditanggapi tampang masa bodo oleh pemuda itu.

Badan Chanyeol yang sempat membungkuk karena pegal, menegak seketika melihat pemuda itu berangsut mendekat ke arah Haera. Nalurinya mengatakan bahwa Haera adalah korban selanjutnya. Dengan cepat dan sedikit mendorong Chanyeol membelah kumpulan orang yang menghalangi jalannya. Tentu itu dilakukannya dengan susah payah.

Setelah seretetan kata protes Chanyeol peroleh, akhirnya dia bisa berdiri tepat di belakang Haera. Menggagalkan modus pemuda yang sedari tadi tak luput dari pantauannya mendaratkan tangannya di bokong Haera.

Haera yang butuh sandaran karena sakit kepala yang mencapai puncaknya merasa ada tubuh yang menghimpitnya dari belakang. Menolehkan kepala Ia melihat Chanyeol yang tersenyum licik ke arah orang yang diyakini Haera jadi sumber bau alkohol yang menyengat hidungnya. Tanpa  gadis itu tahu sebab dan masalahnya.

Chanyeol yang masih menyunggingkan senyum kemenangan ke arah pemuda yang menurutnya gila itu seketika terkejut. Badannya terasa panas dingin dalam waktu bersamaan. Merasakan pinggangnya di peluk erat oleh gadis yang kini membenamkan kepalanya di dada bidang miliknya.

“Jangan protes, aku pusing mabuk.”

“Ha ? He ? Ehm ! Tidak. Eh maksudnya anu. Ehm… DASAR GADIS BODOH, NAIK KERETA SAJA MABUK !”

Bagus. Chanyeol kini mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Tak habis pikir mengapa  bisa dia segugup dan sebodoh itu menjawab kalimat Haera. Chanyeol juga berjanji tidak akan memaafkan dirinya jika sampai Haera mendengar detak jantungnya persis orang yang baru lari dari kejaran Singa lapar.

Rasa marah, jengkel, dan muak entah pergi kemana untuk gadis itu. Digantikan dengan rasa hangat dan nyaman yang saat ini Chanyeol dapatkan. Jauh lebih hangat dari pelukan pertama yang Chanyeol peroleh dari Haera dulu. Dan tanpa perintah dari otaknya, tangan Chanyeol dengan sendirinya membalas dan mendekap pinggang dan kepala Haera. Menghirup aroma yang melekat pada rambut halus gadis itu.  Juga membiarkan tubuh tingginya itu menyatu dengan gadis yang dapat Chanyeol rasakan deru nafas teraturnya sekarang. Menikmati perasaan unik yang tak bisa bibir pemuda itu ucapkan. ‘Aneh’, itulah kata yang terus berputar di otak Chanyeol.

§TBC$

Halloha…..#tebarkonfetti

Gimana ? Mau protes para pembaca kece yang baik hati dan suka menabung. Gegara ni ff kok ya gak ada sedihnya padahal genrenya ada tulisan SAD.
Haha maklumilah sodara.

Dan itu dah ada kode buat yang nanya Bacon jadi apa di sini. Dah bisa pada nebak bukan ?

Ya udah ya sampai ketemu di Chap selanjutnya. Dan makasih buat dek Dita yang dah bantu ngepos.

Annyeong yeoreobun……..

2 thoughts on “FF : Don’t Go part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s