FF : The Lords of Legend (Chapter 11)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Desclimer : Cerita ini mengandung istilah dari beberapa mitologi kuno. Cerita ini murni fiksi dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Jika masih bingung dengan istilahnya, silakan liat teaser ^^

https://koreadansaya.wordpress.com/2013/05/26/teaser-2/

Noted: Ini FF pertama author yang publish di tahun 2014. Maaf lama menunggu. Karena sibuk sampe ngga punya waktu buat nulis FF lAGI T.T dan maaf kalo komentnya jarang dibales. Kalo ada yang mau ditanyain, silakan follow twitter WP @koreadansaya ^^

Gangnam-gu, Seoul, South Korea.

Sehun tidak mengerti.

Bahkan nyaris ternganga lebar saat menyadari dirinya kini berada di tengah-tengah orang-orang berkepala warna-warni disebuah supermarket. Dalam sekejap, mereka seketika menjadi pusat perhatian banyak pengunjung yang datang. Mungkin bukan mereka, lebih tepatnya semua perhatian tertuju pada dewa tampan Luhan yang mampu membuat seluruh pasang mata seketika hanya menatapnya. Pria ataupun wanita.

Dan hal itu, sama sekali tidak membuat Sehun senang. Terlebih lagi ia tidak bisa menjangkau ibunya sendiri karena sedang dihimpit oleh Lay dan Baekhyun yang menggandeng kedua lengannya di sisi kanan dan kiri. Dan sialnya, dia menjadi orang yang berdiri paling belakang sambil mendorong troli dan hanya bisa menghela napas panjang saat orang-orang Sigismund itu memasukkan semua hal yang mereka inginkan.

Bukannya iri. Tapi, seumur hidupnya ia tidak pernah berbelanja sesuka hatinya. Ia harus berpikir dan menimbang-nimbang berapa harga dan diskonnya, juga sisa uang yang akan ia terima nanti.

Bekerja adalah hal yang sangat sulit dan dia tidak bisa menghambur-hamburkan uang seenaknya. Dan didepan matanya, ia melihat sendiri bagaimana keluarga asing itu tanpa berpikir memasukkan semua barang yang ia mau. Menyebalkan.

Omoni, kau mau penggorengan itu? Aku akan membelikannya untukmu”tanya Kris

Taeyeon tersentak, “oe? A-aku…aku…”

“Jangan belikan apapun untuk ibuku”desis Sehun menyeruak ke depan lalu menarik ibunya dalam rangkulan.

“Kenapa? Kami hanya ingin memberikan sebuah hadiah”balas Kris tidak mengerti

“Bisakah kalian hanya membeli bahan-bahan yang kalian inginkan?”ketus Sehun. “Aku mengijinkan ibuku memasak untuk kalian. Tapi aku sama sekali tidak menginginkan kalian memberikan sebuah hadiah untuk ibuku. Aku bisa membelikannya!”

“Sehun, kau tersinggung? Kami hanya ingin memberikan hadiah. Tidak lebih”

“Tidak Lay. Aku sama sekali tidak tersinggung dengan perbuatan kalian. Aku justru berterima kasih. Tapi sungguh, aku dan ibuku tidak menginginkan imbalan apapun”

Lay akhirnya menyerah, “Baiklah kalau begitu. Asalkan kau masih menginjinkan kami untuk memakan masakan omoni”

***___***

Sehun’s house, Gangnam-gu, Seoul, South Korea.

 

Dan lagi-lagi..

Sehun harus menahan-nahan kesabarannya melihat perbuatan keluarga Sigismund yang memenuhi dapur kecilnya. Mereka berisik, merepotkan, dan menyentuh barang-barang sesuka mereka seperti tidak pernah melihat sebelumnya.

Mungkin rumah Sehun memang tidak sebanding dengan apartement mewah mereka, tapi mereka tidak sebaiknya menyentuh perabotan yang sudah bisa dipastikan harganya sangat murah dan nyaris usang akibat lamanya pemakaian karena Sehun dan Taeyeon tidak pernah menggantinya.

Yang membuat Sehun kesal adalah saat mendapati wajah mereka dengan kening berkerut-kerut saat melihat perabotannya. Seperti pandangan tidak pernah melihat sebelumnya, tapi terselip juga pandangan meremehkan yang secara tidak langsung menyatakan, “benda apa ini? Aku tidak pernah melihat sebelumnya. Aneh”

Sehun hanya berdiri bersandar pada dinding ruang tamu yang menghadap langsung ke dapur, memperhatikan Lay, Kris, Luhan dan Kai yang tengah menyibukkan diri –walaupun sebenarnya tidak sibuk- berdiri disamping Taeyeon untuk melihat masakannya sudah matang atau belum.

Sedangkan Baekhyun, Chen dan Xiumin…entah…apa yang dipikirkan Taeyeon untuk memberi tugas memotong sayuran pada mereka. Secara tidak langsung, Taeyeon hanya memberikan kesempatan pada mereka untuk menghancurkan dapur.

“Kenapa kau hanya berdiri disitu? Kau tidak membantu ibumu?” Sehun menoleh saat mendengar suara D.O yang berdiri tak jauh darinya. Ia juga bersandar pada dinding, dengan matanya yang tak menoleh kearah Sehun.

“Bagaimana bisa aku membantu ibuku jika saudara-saudaramu memenuhi hampir seluruh rumahku? Bahkan tidak ada lagi ruang yang cukup untuk berdiri di dapur”

“Jadi ini rumahmu?”

Kening Sehun seketika berkerut, “Apa maksudmu dengan menanyakan ini rumahku atau tidak? Apa karena rumahku tidak sebesar rumahmu jadi kau terkejut aku bisa tinggal di rumah sekecil ini?”ketusnya kesal

“Kenapa kau begitu sensitif? Aku hanya bertanya”balas D.O santai seperti biasa

Sehun tidak menjawab apapun lagi. Ia mendengus sambil menarik punggungnya dari dinding.

“Hey, jangan sentuh itu!”seru Sehun langsung merampas jam weker yang di pegang oleh Tao.

“Kenapa? Jam itu sudah rusak. Harusnya kau membeli yang besar agar kau bisa melihat waktu”

“Aku hanya punya dua jam dinding, kepala abu-abu! Dan aku memajangnya di dinding kamarku dan kamar ibuku!”

“Lalu kenapa kau letakkan jam itu disini? Jam itu bahkan tidak berdetak?”tanya Tao lagi dengan wajah polos

“Aiiissh, bisakah kau tidak menyentuh apapun? Jangan mengurusi barang-barangku!”

“Park Sehoon! Kenapa kau memarahi Tao, huh?” lengkingan suara Taeyeon terdengar dari arah dapur. Ia berdiri berkacak pinggang sambil memegang spatula ditangan kanannya.

“Karena dia menyentuh jam wekerku!”balas Sehun tak kalah kesal

“Dia hanya melihatnya bukan merusak, kau mengerti?”

“Apapun itu! Aku tidak suka ada seseorang yang menyentuh jam ini!”kata Sehun bersikeras. “kenapa oema justru membelanya? Apa oema tidak menyadari jika daritadi aku sedang kesal?! Aku merasa muak karena aku tidak bisa bergerak bebas di rumahku sendiri!”

Seketika, keadaan menjadi hening melihat kemarahan Sehun. Mereka baru menyadari jika kehadiran mereka sepertinya tidak membuat namja bertubuh tinggi itu merasa senang.

Sehun masih memeluk jam weker berbentuk bola sepak itu, menatap tajam kearah orang-orang kepala warna-warni lalu pergi keluar, meninggalkan ruang tamunya.

Omoni, apa Sehun marah pada kami?”tanya Lay setengah berbisik

“Tao, karena kau Sehun menjadi marah pada kita!”ketus Chanyeol melimpahkan kesalahan pada Tao

“Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku…”balasnya  menunduk merasa bersalah

Omoni, jika kami telah membuat Sehun merasa tidak nyaman, kami akan pergi sekarang” Suho mewakili dewa lain untuk meminta maaf

“Apa? Tapi Kimchi pedas dan bulgoginya belum matang Suho! Kita tidak bisa pulang sekarang…aakh!”

Luhan langsung menyikut perut Kai yang tidak mengerti jika suasananya telah berbeda. Yang ia pikirkan hanya memakan kimchi pedas dan bulgogi itu.

Taeyeon tersenyum lembut menatap satu-persatu wajah sedih para dewa, “tidak. Dia memang sedikit sensitif jika seseorang menyentuh jam weker miliknya”

“Kenapa? Padahal jam itu sudah rusak dan tidak berdetak”

“Justru karena itu, Tao”seru Taeyeon. “Jam itu berhenti tepat di pukul sebelas lewat lima belas menit. Waktu dimana Sehun bertemu dengan ayahnya untuk yang terakhir kalinya”

Seketika semua dewa tersentak kaget, “benarkah?!”

“Yaah, jam itu adalah pemberian suamiku untuk Sehun saat ia mencetak golnya untuk yang pertama kali. Suamiku sangat bangga karena Sehun mau membantunya untuk mewujudkan impian lamanya yang tak pernah terwujud. Saat serangan jantung yang membuat suamiku meninggal itu menyerangnya, jam itu tiba-tiba saja berhenti berdetak seperti mengerti jika suamiku telah tidak ada. Sejak saat itu, Sehun tidak pernah mengganti baterainya, tidak pernah mengubah arah jarum jam, dan tidak pernah sedikitpun membiarkan seseorang menyentuh jam itu. Bahkan aku. Karena, di dalam jam itu, ada sebuah kenangan yang terus mengikat hidup anakku. Ada sebuah motivasi yang membuat anakku tidak pernah menyerah atas impian ayahnya”

Omoni, maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”

Aniyo”potong Taeyeon kembali tersenyum menenangkan Tao. “Kau tidak salah. Karena sejak kecil dia hanya memiliki seorang ibu, ia menjadi sangat protektif padaku. Mungkin dia cemburu karena ibunya sedang dikelilingi namja-namja tampan”canda Taeyeon mencoba untuk mencairkan suasana

Omoni, mulai sekarang kami berjanji akan selalu bersikap baik pada Sehun”seru Lay tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam

“Benarkah?”

“Tentu saja. Aku sangat menyukai Sehun karena dia telah memperkenalkanku pada bulgogi”

Taeyeong tertawa geli, “kau menyukai Sehun karena bulgogi? Bagaimana jika ternyata bulgoginya tidak enak?”

Tanpa perlu berpikir lagi, Lay menjawabnya tetap dengan ekspresinya yang begitu polos, “aku rasa aku tidak akan berteman dengannya”

***___***

Tidak ada yang menyadari jika D.O telah meninggalkan ruang tamu dan berdiri didepan rumah Sehun. Ia berdiri didepan pintu pagar sambil menatap lurus pada seorang pria yang sedang memasukkan semua pot-pot bunga ke dalam kios.

Mata bulatnya benar-benar teliti, bahkan pada hal-hal yang sangat kecil sekalipun. Ia mampu mengangkat dua pot yang terbuat dari semen yang berat sekaligus. Dan tetap, mata D.O terus tertuju pada handband putih yang terus menutupi pergelanangan tangan kanannya.

SREEEEEK

Lagi-lagi, kedua alis D.O terangkat tinggi-tinggi begitu melihat permukaan aspal yang meninggalkan retakan kecil saat pintu trali yang ditarik Sehun menghantamnya keras.

“Kau?” Sehun terkejut saat ia berbalik dan mendapati D.O tengah berdiri tak jauh darinya. “Sedang apa kau disini?”

“Sepertinya kau sangat kuat”ujar D.O tanpa ingin basa-basi

“Apa maksudmu?”

“Yeah, kau mampu mengangkat pot-pot berat itu sekaligus”

“Aku sudah terbiasa melakukannya”jawab Sehun sambil menepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan debu-debu.

“Diantara teman-temanku, aku adalah yang paling kuat”

Ucapan D.O langsung membuat Sehun tertawa keras, “kau? Pwahahaa…kau bercanda?”

“Mau membuktikannya?”

“Bagaimana caranya?” Sehun masih berada disisa-sisa tawanya

“Kita bisa bermain panco disekolah besok”

“Tidak. Aku tidak tega mengalahkanmu. Bukan bermaksud sombong, tapi aku adalah orang yang kuat sejak kecil”

“Aku tidak bercanda” seru D.O datar namun ekspresinya sedikit berubah, ia tidak kaku dan dingin lagi. “Jika kau kalah, kau harus menuruti keinginanku”

“Pwahahaa…apa yang kau inginkan dariku?”

D.O tersenyum, “yang jelas, kau pasti akan terkejut dengan hasilnya”

Entah, tapi ada senyuman yang terlukis dibibir namja dingin itu saat berbicara dengan Sehun. Ia terlihat lebih baik. Tidak kaku, dan tidak menatap seseorang dengan tatapan dingin lagi. Ia tersenyum. Walaupun hanya sebuah senyuman tipis di bibir tebalnya, tapi hal itu adalah hal yang sangat langka.

Keduanya terlihat dekat secara alami. Hanya dengan obrolan ringan yang mampu berubah menjadi sebuah candaan. Mereka bahkan saling menepuk pundak satu sama lain saat obrolan itu berlanjut di depan pagar rumah.

Sama sekali, D.O tidak menyadari jika rasa penasarannya menariknya pada sebuah rasa ketertarikan. Ada sesuatu yang membuatnya merasa nyaman sebagai seorang sahabat. Selain Kai, ia menganggap tidak ada dewa yang mau memperlakukannya dengan nyaman seperti seorang sahabat. Kebanyakan dari mereka, mungkin tidak tahan dengan sifatnya yang dingin dan tidak tertarik dengan hal apapun. Tapi malam ini, anggapannya salah. Tidak hanya Kai, tapi dia juga mampu membuka diri untuk Sehun dan bersikap senyaman mungkin.

***___***

Malam itu, para dewa memenuhi hampir seluruh ruang tamu Sehun. Karena ruang makan di rumahnya terlalu kecil untuk menampung banyak orang, sehingga ruang tamu yang sebenarnya juga tak kalah kecil diubah fungsinya menjadi sebuah ruang makan untuk para dewa.

Mereka makan dengan lahap. Seperti lupa diri jika sang pemilik rumah sampai merasa tidak selera untuk ikut berebut makanan sederhana itu.

Sehun hanya melongo ditenpat duduknya sambil memegang sumpit dan menempelkannya dibawah bibir. Tidak ada yang bisa dimakannya, semua makanan dengan cepat hilang dari piring-piring yang tersedia diatas meja. Mereka semua benar-benar terlihat seperti sangat lapar.

“Kau tidak makan, hm?”tegur Taeyeon menghusap punggung Sehun. Sehun menoleh kemudian menggeleng pelan.

“Sepertinya mereka tidak pernah merasakan masakan seorang ibu. Biarkan saja mereka yang menghabiskannya”

“Mau oema bikinkan sesuatu? Telur goreng?”

“Tidak”tolak Sehun lembut. “Oema istirahat saja. Aku sudah menutup kios dan aku akan membersihkan semua ini setelah mereka pulang. Jangan khawatir”

Baru mau akan membuka mulutnya, suara bass Chanyeol lebih dulu terdengar membuat pandangan Sehun dan Taeyeon beralih.

Omoni, kami sudah selesaaaai!”

“Whoaaa, benar-benar enak! Ini pertama kalinya aku makan dengan sangat puas”sahut Chen menyetujui

Omoni, terima kasih”tambah Suho

“Sudah selesai kan? Kalau begitu sebaiknya kalian pulang karena aku akan membersihkan semuanya dan pergi tidur”ketus Sehun yang langsung mendapat pukulan pelan di punggungnya.

Taeyeon tersenyum lembut, “lain kali, jika kalian ingin makan makanan yang enak. Kalian bisa datang kesini. Aku akan memasak untuk kalian”

Sehun seketika menoleh dengan mata melebar, “oema! Jangan menjanjikan hal itu pada mereka! Mereka pasti akan lebih sering datang ke rumah dan menyusahkan kita!”

“Park Sehoon, diamlah”balas Taeyeon tidak perduli. Kemudian tersenyum kembali menatap satu-persatu wajah para dewa.

“Terima kasih omoni… Sehun… aku benar-benar tidak akan melupakan hari ini. Terima kasih karena mau makan bersama kami dan maaf jika kami sangat merepotkan kalian”ujar Luhan tersenyum lebar

“Aigoo..selain tampan, Luhan juga sangat sopan. Tentu saja tidak apa-apa. Kalian adalah teman-teman Sehun”

“Mereka bukan temanku”gerutu Sehun cemberut

“Baiklah. Ini sudah sangat malam. Kita harus pulang dan membiarkan Sehun dan omoni istirahat”putus Kris akhirnya

Xiumin mengangguk, “Benar. Kita masih harus bersekolah besok”

“Kris, aku akan tinggal sebentar”kata Lay membuat dewa lain menaikkan sebelah alis mereka bingung. “Aku akan membantu Sehun untuk membereskan ini semua”

Seketika Sehun tersentak kaget, “Apa?! Membereskan ini semua?!”

“Aku juga akan membantunya”sahut D.O, kali ini semakin membuat dewa lain mengerutkan kening mereka rapat-rapat.

“D.O…kau juga?” Kai tergagap bingung

D.O mengangguk, “aku akan pulang bersama Lay nanti”

“Tapi…”

“Kalau begitu bagaimana jika kita semua yang membersihkannya?”usul Baekhyun membuat Taeyeon terharu. “Bukankah kita semua yang telah merepotkan omoni?”

Namun ternyata, pemikirannya sangat berbeda dengan pemikiran Sehun. Mendengar usul Baekhyun, ia buru-buru menggelengkan kepalanya dan menolak hal itu.

“Tidak perlu! Biarkan D.O dan Lay saja yang membantuku”

“Kenapa?”

“Dengan adanya kalian bersebelas di dapurku, kalian hanya akan menghancurkannya”

“Tidak. Sungguh. Kami hanya ingin membantu”elak Baekhyun

“Baekhyunie, Sehun benar. Dapur itu tidak cukup jika ada kalian semua didalamnya. Sebaiknya kalian pulang sekarang karena besok kalian harus pergi ke sekolah”nasihat Taeyeon

“Sungguh? Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Sebaiknya kalian cepat pulang” Sehun yang menjawab keraguan Baekhyun. Sebenarnya, ia sudah tidak merasa kesal dengan adanya para dewa itu memenuhi rumahnya. Hanya saja, ia merasa sesak jika ada banyak orang yang memenuhi rumah kecilnya itu. Ia tidak bisa bergerak dengan bebas.

“Baiklah kalau begitu. Kami pulang dulu. Sampai jumpa besok”

***___***

Taeyeon tersenyum lembut.

Berdiri dibelakang ketiga namja yang sedang mencuci tumpukan piring dan mangkuk kotor. Ada rasa bangga di dalam hatinya pada anak kandungnya itu. Mengatakan bahwa ia sedang kesal namun pada kenyataannya ia justru memberikan perhatian pada teman-teman barunya.

Mulutnya memang berkata jika dia kesal tapi hatinya tidak. Dia bahkan mengajarkan D.O dan Lay cara mencuci piring secara manual tanpa menggunakan mesin, bercanda dengan mereka sambil sesekali memercikkan air atau sabun yang ada ditangannya. Dan yang paling penting adalah, Sehun telah memberikan warna baru di hidup para dewa itu. Mengajarkan pada mereka bahwa kebahagiaan dapat dirasakan walaupun dengan cara yang sangat sederhana.

***___***

Sangji Ritzvil Caelum Apartemen, Gangnam-gu, Seoul

D.O mengetuk sebuah kamar yang ditempati oleh Suho, Kris dan Lay tiga kali sebelum akhirnya membuka pintunya tanpa perlu menunggu sang pemilik kamar memberikan ijin.

Saat pintu terbuka, ia mendapati Suho sedang membaca buku di sofa dekat jendela kaca sedangkan Kris dan Lay berada diluar bersama yang lain.

“D.O? ada apa?” Suho menutup bukunya lalu membenarkan posisi duduknya.

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Odin

Kening Suho berkerut, “tentang apa?”

D.O menjatuhkan diri di sofa yang ada dihadapan Suho lalu berseru pelan, “kau bilang dewa Ares tidak akan mempunyai kekuatan karena gumpalan cahaya putihnya belum sempurna…”

Suho mengangguk, “yah, untuk itu kita harus menemukan kotak Pandora yang mengunci kekuatannya”

“Jika kita menemukan kotak itu, apa kekuatannya akan kembali? Dan aura kedewaannya juga akan tumbuh?”

“Tentu saja. Kotak itu adalah salah satu hal yang menjadi kunci kita untuk kembali ke negeri langit”

“Lalu dimana kotak Pandora itu berada?”

Suho tidak langsung menjawab, ia memajukan tubuhnya dan menatap D.O lurus, “saat gumpalan itu jatuh ke bumi, gumpalan itu terbagi-bagi menjadi beberapa bagian karena merasa jika bumi bukanlah tempatnya. Tapi tak lama, bagian-bagian itu akan saling menemukan dan kembali menjadi satu. Hanya saja, ada satu bagian yang menghilang dan terserap ke dalam sebuah kotak”jelasnya pelan. “Kotak itu adalah kotak Pandora. Sebuah kotak yang dulunya menyimpan harapan”

“Harapan?”

“yeah, saat bumi berada diambang kehancuran, Kronos mengutus salah satu dewa untuk membuka kotak itu dan membiarkan harapan yang terkunci keluar. Untuk menyelamatkan bumi”

“Lalu?”

“Karena kotak itu kini kosong, ia menyerap sedikit bagian gumpalan cahaya putih dewa Ares yang belum sempurna ke dalamnya. Dan ternyata, bagian yang ia serap itu adalah kekuatan dan aura kedewaan” Suho menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. “Dengan kata lain, kotak itu menjadi beribu-ribu kali lebih kuat dari biasanya dan akan sulit ditemukan. Tapi ayah pernah memberitahuku jika kotak itu tidak akan berada jauh dari pemiliknya”

Kening D.O seketika berkerut, “Pemiliknya? Maksudmu…”

“Dewa Ares” Suho mampu membaca jelas hal yang ingin dinyatakan oleh D.O. “Kotak itu menyerap bagian gumpalan cahaya putih milik dewa Ares jadi sekarang, kotak itu adalah miliknya dan hanya dia yang mampu menemukan dan membukanya”

“Jika kotak itu memang kuat seperti katamu, apa dia bisa menyamarkan kekuatan dewa Ares?”

“Menyamarkan kekuatan?”tanya Suho bingung

“Seperti meredam getaran saat kita berada di dekat dewa Ares dan mengecoh kita”

Seketika mata Suho melebar, “Tunggu…D.O kau mengetahui sesuatu?”

“Jika kecurigaanku benar, maka aku akan menemukan dewa Ares dalam waktu dekat ini”

TBC

 

61 thoughts on “FF : The Lords of Legend (Chapter 11)

  1. Rhainykanata berkata:

    Annyeong oh mi ja.
    Agk rbet mw komen, soalny aku gk pny akun wp.
    Knp gk dpndah k ffn?!

    Aku salut sm km, ff km keren2. Sehun sm D.O mw duel nih ??? Bnykin hunhan donk … Aku hunhan shiper nih.
    Salam kenal.
    Fans oh mi ja

  2. kim sangri berkata:

    Ayo d.o oppa kau harus berusaha..yayy udah mulai mau nemuin si dewa ares nihh.. Kira2 bakalan lama nggak yah??*ya kalo lama2 nanti aku nyamperin segun oppa aja biar nggak bosen/modus mulai lagi/*
    sehun oppa jangan galak2 napah..kann aku jd takut*lebayyyy

    keren thor*kata2 itu lagi–“

  3. Nunu^^ @Nurul_Hunie berkata:

    Ohh jadi gt pantes pas lay lupa jln pulang trs ikut ke rumah sehun, lay enggak ngerasain apa-apa…

    Next dehh🙂

  4. ida alfi berkata:

    nah itu yang aku bingung…kenapa pas mereka lagi bener2 deket sama sehun tanda mereka ga ada yang bergetrr..
    mungkin duggaan dyo benar

  5. Oh Yuugi berkata:

    Hmmm…. jadi itu toh alasannya.. Disini D.O pinter bgt!! Btw Ilhoon ma Sehun jgn lama2 donk marahannya… aku suka friendship mereka di ff ini…kkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s