FF : Don’t Go part 1

20131225090542

Title  : Pertemuan

Author : Exowie

Main cast : Chanyeol Exo – Baekhyun Exo – Byun Haera – Shin Haesul and others

Genre : Romance Drama, Sad

Rate : PG-15

Length : Chapter

~~~~~~~~~

“Iya.”

“…..”

“Tahu.”

“……….”

“Iya paham. Sekarang Chanyeol lagi di jalan nih, entar kalau sudah sampai aku hubungin balik bye Oema.”

Pemuda itu langsung melempar ponsel ke jok sebelahnya sembari menggelengkan kepala setelah  menerima telpon dari perempuan yang tak lain adalah ibunya. Bukan karena ia tak senang, hanya saja ia bosan mendengar nasehat yang  sama setiap harinya keluar dari  mulut perempuan itu. Setelah kurang lebih satu minggu pemuda itu tinggal sendiri di apartment, ibunya setidaknya tiga kali sehari menelponnya hanya untuk memperingatkan pemuda itu untuk makan dan tidur teratur. Jangan terlalu banyak bermain game atau hal-hal yang tidak penting lainnya.

Pemuda itu tahu bahwa itu semua bentuk dari perhatian dan kasih sayang dari ibunya. Tapi ia tak menyangka juga kalau sampai seperhatian itu. Ia menghela napas dan sejurus kemudian menyunggingkan senyum simpul mengingat kelakuan ibunya.

Tak berapa lama Chanyeol, yang tak lain adalah pemuda yang saat ini sedang menyetir mobil itu menolehkan kepalanya mendengar nada dering ponselnya.

“Oh Tuhan, oema! Aku tahu aku tampan  tapi jangan berlebihan seperti ini.”

Gerutunya sembari mengambil ponsel yang mendapat panggilan masuk yang ia kira dari ibunya. Sorot mata malas yang tadi ia keluarkan berubah dalam hitungan detik melihat nama yang tertera di layar ponsel. Tanpa sadar pemuda itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi diikuti detak jantung yang berdebar tak karuan.

“Hai… kau sudah kembali.”

Sapanya pada seseorang di seberang telpon. Sebisa mungkin ia menghandel suaranya agar tak terdengar kalau sekarang ia sedang gugup. Pemuda itu tidak  mengerti mengapa setiap berbicara dengan orang yang kini sedang menelponnya, perasaan itu selalu menyerangnya. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik untuk menyuruh jantungnya berdetak dengan normal. Padahal dia tahu orang itu hanyalah sahabat  masa kecilnya. Dia sendiri tidak tahu kapan persisnya rasa itu mulai tumbuh.

“Benarkah? Apa kau membawakan oleh-oleh untukku?”

Tit… tit….

Pemuda itu memencet klakson mobilnya saat melihat orang tengah berdiri mematung dari arah depan mobil yang ia kendarai. Seketika itu juga ia kaget dan membelalakkan matanya.

“Lho! Ya Haesul, nanti aku akan menelponmu balik. Aku ada masalah sedikit.”

Chanyeol menghentikan mobilnya dan segara turun. Memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan asal dan cepat. Bergegas menghampiri orang yang tengah tergeletak di jalanan.

“Hey bangun hey. Tidur jangan di sini.”

Pemuda itu menggoyang-goyangkan lengan gadis yang berada di depannya. Karena hanya itu yang bisa ia perbuat di malam hari yang mulai sepi itu. Sampai suara dari belakang mengagetkannya.

“Hey apa yang kau lakukan, cepat tolong dia.”

Chanyeol menolehkan kepala mendengar seseorang bersepeda motor tengah menegurnya.

“Kenapa aku harus menolongnya?”

“Kau mau masuk penjara. Jelas-jelas kau yang menabraknya hingga ia pingsan.” Pengendara motor itu menghampiri Chanyeol yang masih setia berjongkok.

“Aku?” Chanyeol menunjuk hidungnya sendiri dengan telunjuk. Sementara matanya melihat secara bergantian ke arah gadis dan mobilnya yang menyisakan jarak cukup jauh.

“Tapi aku tidak….”

“Ada apa ini?”

Suara dari pengendara motor  lain yang kebetulan lewat memotong kalimat pemuda itu. Chanyeol  hanya menghela nafas  pasrah karena akan tahu jadi apa nasibnya setelah ini.

“Aku menyuruhnya menolong tapi dia tak mau, padahal mobilnya yang menabrak gadis yang kini pingsan itu.”

Jawaban dari pengendara motor yang pertama kali menegurnya membuat Chanyeol terbelalak kaget.

“Ya pemuda, kau harus bertanggung jawab. Kau mau aku panggilkan polisi atau segera membawanya ke rumah sakit.”

Lagi lagi Chanyeol hanya bisa memasang tampang kaget dan mulut terbuka lebarnya. Karena merasa percuma berdebat dengan dua orang lelaki di depannya, terpaksa ia mengangkat tubuh gadis itu ke dalam mobil di bantu dua pengendara motor tadi.

=*+*=

“Tuhan aku memang jarang datang ke rumahmu. Tapi janganlah Kau hukum aku seperti ini. Aku janji setelah ini aku pasti akan rajin-rajin datang ke gereja setiap Minggu.”

Pemuda berperawakan tinggi itu masih saja menatap gadis yang masih pingsan di dalam mobilnya.  Mau bicara sampai mulut berbusapun percuma, semua sudah terjadi. Dengan terpaksa dan terkesan malas ia mengarahkan kedua tangannya untuk membopong tubuh mungil itu. Membawanya ke apartement lantai enam miliknya. Tentu saja pemuda bernama Chanyeol itu tak membawanya ke rumah sakit. Karena dia sangat alergi dengan namanya rumah sakit. Jangankan menginjakkan kakinya, mendengar orang menyebut namanya saja ia sudah bergidik ngeri.

Dengan tergopoh-gopoh diiringi umpatan yang terus keluar dari mulutnya, ia menaiki tangga menuju lantai atas. Karena kebetulan atau sial yang menimpanya,  hari itu lifnya rusak. Sesekali  pemuda itu membenahi gendongannya yang selalu merosot ke bawah.

“Ah… akhirnya.” Ucapnya lega.

Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, Chanyeol sampai ke dalam apartemennya dan membaringkan tubuh gadis itu di ranjang kamar tidurnya. Segera ia menuju dapur dan membuka kulkas menghabiskan satu botol air putih sekali teguk.

“Ah gila! Kurus sih kurus. Tapi berat juga tubuhnya.”

Puas minum, ia membuang botolnya sembarang. Kembali ke kamar untuk melihat gadis yang menurutnya sudah membuatnya sial hari ini.

Dipandanginya wajah gadis berambut sedikit ikal panjang dengan kulit putih susunya itu dengan seksama. Tak berapa lama pemuda itu menarik punggungnya dari sandaran kursi karena melihat gadis itu membuka matanya berlahan.

“Kau sudah sadar?” Tanyanya langsung setelah melihat mata itu benar-benar terbuka lebar.

“Aku dimana?” Gadis itu membuka mulutnya dengan pertanyaan dan memandang ke seluruh sudut ruangan bertembok biru muda itu.

“Kau ada di rumahku. Kau tak apa-apakan?”

Gadis itu bangun dan duduk. Menatap langsung manik mata indah milik pemuda di depannya. Sedetik kemudian ia memandang perutnya sendiri dan mengelusnya.

“Aku lapar, kau ada makanan?”

=*+*=

Chanyeol hanya memandang gadis yang sedang makan dengan lahap di depannya sebal. Tidak tahu kenapa ia ingin sekali menendangnya keluar. Terus saja ia menggerutu dalam hati.

“Aku tak mengenalmu. Baru saja kau bertemu denganku tapi sudah sangat merepotkanku. Kau tahu aku juga belum makan malam? Dan itu hanya satu-satunya persediaan makananku di sini. Oh aku sungguh muak.”

“Wah… kau tahu, ini enak sekali. Lelaki sepertimu pandai memasak juga ya.” Gadis itu terus saja melahap dan berceloteh tanpa mengetahui emosi pemuda di depannya sudah mencapai ubun-ubun.

“O ya bagaimana bisa aku ada di sini. Kau menculikku?” Gadis itu kembali mengeluarkan kalimat tanpa menoleh ke arah Chanyeol dengan wajah polosnya. Membuat pemuda itu tidak bisa lagi menahan sabar dan meradang.

“Siapa yang mau menculikmu. Kau tahu kau sangat merepotkan. Sebenarnya siapa kamu? Mengapa bisa-bisanya kau pingsan di jalan yang sialnya ketika aku lewat. Atau… jangan-jangan… ” Chanyeol memotong kalimatnya dan berdiri mendekati gadis itu. Membuat gadis yang tadinya sibuk dengan makanan di depannya langsung menatap pemuda itu takut- takut.

“Kau hanya pura-pura pingsan lalu aku menolongmu dan setelah itu kau merampok isi rumahku. Iya benar begitu kan?” Chanyeol menunjuk dengan jarinya tepat di depan mata gadis itu.

“Tidak-tidak itu tak benar.” Gadis itu menggeleng kuat mendengar tuduhan pemuda yang di ajukan untuknya.

“Kau penjahat kan?”

“Bukan. Namaku Byun Haera. Anak kedua dari dua bersaudara. Kau bisa memanggilku…. aduh! Kenapa kau menarik tanganku.” Gadis itu meringis kesakitan saat tangan besar Chanyeol menyeretnya mengikuti langkah pemuda itu.

“Aku tak mau tahu dan gak mau tahu kamu siapa. Kau harus berterimakasih padaku karena aku sudah berbaik hati menolongmu. Dan aku rasa kau sudah sehat dan segera pergilah dari rumah dan hadapanku.”

BRAK!

“Tidak mudah untuk membohongi seorang Park Chanyeol.” Pemuda itu tersenyum menyeringai setelah sebelumnya mendorong paksa seorang gadis keluar dan membanting pintunya keras.

“Aow… ” Di luar, gadis itu meringis memegangi lutut yang mendarat di lantai karena dorongan yang sebenarnya tak begitu kuat dari Chanyeol. Lalu berdiri dan mengetok pintu itu brutal karena jengkel.

“Hey inikah yang kau lakukan pada seorang gadis. Hey buka pintunya buka…. Dasar pengecut!”

Haera, gadis itu menendang dengan kaki pintu di depannya. Semerepotkan apapun dirinya tak sepantasnya ia memperoleh perlakuan yang baru ia alami. Setidaknya itu yang ada dalam benaknya sekarang. Karena menurutnya itu sama saja dengan orang yang tidak mempunyai hati. Gadis itu bersungut memajukan bibir tipisnya ke depan. Sedetik kemudian ia merasa mual dan sedikit pusing. Lalu mendudukkan tubuhnya  di lantai tangga dan menyenderkan kepalanya di dinding yang berada di sebelahnya.

=*+*=

Keesokan paginya….

“Jadi bertemu di mana?”

“…….”

“Ya udah ini aku juga sudah siap mau keluar, sampai bertemu bye-bye.”

“Yes! Yes! Yes!” Terlihat pemuda begitu senang dan berkali-kali mengepalkan tangannya ke atas. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Berjalan keluar dan membuka pintu dengan semangat.

“Ya ya ya….” Pemuda itu gelagapan menangkap ponsel yang hampir jatuh dari tangannya karena kaget. Membulatkan matanya lebar-lebar melihat seonggok daging manusia tidur di tangga samping kanan pintu apartemennya.

“Kenapa dia masih ada di sini, apakah dia gila?” Pemuda itu bertanya berharap seseorang akan menjawabnya. Meski ia tahu itu mustahil.

“Ya bangun! Kenapa kau tidur di sini?” Pemuda itu menendang kaki orang di hadapannya. Membuat gadis itu terbangun dengan sedikit kaget. Mata merah sehabis bangun tidurnya menatap lekat Chanyeol, pemuda itu.

“Kenapa kau tidak pulang, kau gila tidur di luar seperti ini ha!?” Chanyeol sedikit membentak dengan pertanyaan yang ia ajukan.

“Aku…, ” gadis itu ingin menjawab namun langsung menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku….” Chanyeol mengikuti kalimat jawaban yang masih menggantung dari orang di depannya.

“Aku… ingin ke kamar mandi minggir!” Haera dengan sekuat tenaga mendorong tubuh menjulang tinggi Chanyeol hingga membentur tembok. Langsung berdiri membuka pintu yang belum sempat di kunci dan masuk ke dalam.

Chanyeol sedikit meringis memegang pinggangnya. Matanya melotot ingin keluar melihat Haera masuk ke apartemennya. Sejurus kemudian mengejar gadis yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.

=*+*=

“Jadi siapa kamu sebenarnya.” Suara khas dari pemuda itu terdengar. Matanya mengunci seorang gadis yang duduk  sedikit menunduk sembari memainkan jari-jari panjangnya. Setelah sebelumnya pemuda itu menunggu orang di depannya keluar dari kamar mandi hampir lima belas menit lamanya.

“Kan kemarin sudah aku bilang. Namaku….”

“Aku tak menanyakan namamu. Yang aku tanyakan kenapa kau masih berada di sini, kenapa kau tak pulang, dan apa yang kau mau?”

Chanyeol tak mengindahkan jawaban yang akan Haera katakan. Langsung memotong kalimat yang akan keluar dari mulut gadis itu ditambah pertanyaan yang sedari tadi memenuhi otaknya. Membuat sang gadis menghembuskan nafas keras dan mengangkat kepala untuk memandang pemuda tinggi itu.

“Bagaimana aku mau pulang kalau aku tak mempunyai tempat tinggal. Aku datang….”

“Jangan bohong.”

“Dengar penjelasanku dulu jangan suka memotong ucapan orang yang belum selesei bicara,” Gadis itu jengkel dan membentak Chanyeol yang sudah memotong kalimatnya. “Aku tak bohong. Aku datang ke sini untuk mencari Appa dan keluargaku. Aku kehilangan mereka saat rumah kami kebakaran. Mereka mengira aku menjadi salah satu korban dari peristiwa itu. Hingga mereka pindah rumah meninggalkan aku sendiri. Dari kabar yang aku dengar mereka ada di Kota ini. Namun sampai sekarang aku belum menemukannya.”

Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung. Haruskah ia percaya dengan orang yang baru ia kenal sekarang?

“Lalu, apa maumu sekarang?” Tanyanya dengan nada suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

“Tampung sementara aku di sini.”

“Uhuk !!” Chanyeol langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban gadis itu.

“KAU GILA!?”

“Aku mohon. Aku janji akan jadi anak yang baik dan tidak akan merepotkan. Kau tak perlu khawatir, aku bisa membantumu membersihkan rumahmu ini. Jadi kau takkan kewalahan membagi waktumu yang sibuk itu untuk bersih-bersih. Aku tak tahu harus kemana lagi. Aku mohon ijinkanlah.”

“Eh apa yang kau lakukan, berdiri jangan tarik-tarik celanaku!” Chanyeol memegangi celana yang terus ditarik gadis yang berjongkok di hadapannya memohon.

“Aku takkan berdiri sebelum kau mengijinkanku tinggal di sini!”

“Kau gila!”

“Aku mohon….”

Chanyeol bingung dengan apa yang harus dilakukan pada gadis yang terus berlutut dan memohon padanya. Berpikir keras untuk tak terpengaruh dengan air mata yang saat ini membasahi pipi gadis bernama Haera itu. Namun sepertinya pertahanan pemuda itu mulai runtuh. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu mengacaknya frustasi. Dan entah datang dari mana pikiran itu muncul di otaknya.

“Mungkin ada untungnya juga kalau aku mengijinkannya tinggal di sini. Selain aku tak usah repot membersihkan tempat ini, aku juga tak perlu membayarnya. Kan dia sendiri yang mau, aku tak memaksanya. Ya, itu ide bagus Chanyeol.”

Senyuman penuh arti terukir di bibir pemuda yang menyetujui ide yang ia katakan hanya dalam hatinya. Sedetik kemudian memandang gadis di bawahnya dan berkata.

“Iya ya kau boleh tinggal di sini, sudah berdirilah. Kau mau melihatku bertelanjang karena celanaku yang terus kau tarik ha!?”

Haera yang mendengar jawaban dari Chanyeol seketika berdiri dengan mata basahnya yang berbinar.

“Ha? Benarkah? Kau baik sekali…. Terima kasih….”

Ucap Haera dan refleks memeluk pemuda tinggi di depannya sembari lompat-lompat kecil. Chanyeol seketika menegang mendapat perlakuan mendadak  seperti itu. Baru kali ini ia dipeluk seorang gadis. Dan ia tak bisa bohong kalau saat ini jantungnya tengah berdegup sedikit kencang.

“Ih apaan sih peluk-peluk. Pergi sana, kau dari kemarin belum mandi bau tahu.” Chanyeol mendorong pelan pundak Haera dan memalingkan wajahnya agar tak terlihat gadis yang sedang bersungut karena ucapannya. Tentu saja itu dilakukan supaya wajahnya yang ia yakini sedikit memerah tak terlihat oleh Haera.

“Benarkah bau?” Haera mengangkat kedua tangannya dan menciumnya secara bergantian.

“He ya! Meskipun aku sudah mengijinkanmu tinggal di sini, bukan berarti aku sudah sepenuhnya percaya padamu. Kau harus memberiku jaminan.”

Ucapan Chanyeol menghentikan aktifitas gadis yang terus mencium bau badannya sendiri itu lalu mengernyitkan dahinya bingung.

“Maksudmu?” Tanyanya.

“Kau harus menyerahkan tanda pengenalmu padaku agar jika ada barang yang hilang aku bisa langsung membawa polisi datang ke rumahmu dan menyeretmu ke penjara. Jika tidak, maaf aku tak bisa membiarkanmu ada di sini.”

“Tapi aku tak membawanya dalam tasku,” Gadis yang tadinya tersenyum senang itu langsung menunduk seketika mendengar ucapan Chanyeol. Tapi pada detik berikutnya ia mengangkat kembali kepalanya seakan punya hal yang menurutnya bagus.”Tapi aku punya ini. Kau bisa membawanya karena benda ini sangat berharga buatku.”

Haera menyerahkan kalung yang baru ia lepas dari lehernya pada Chanyeol. Membuka telapak tangan pemuda itu untuk menerimanya.

“Palsu kan ini?” Tanya  Chanyeol meski ragu akan pertanyaan yang baru ia lontarkan. Meskipun hanya kalung putih perak berliontin bintang yang terlihat cukup sederhana, Chanyeol rasa harganya tak murah. Biarpun Chanyeol sendiri juga tidak  begitu mengerti soal perhiasan. Mungkin ia harus belajar banyak dari ibunya.

“Tak memandang asli atau palsu barang itu, yang terpenting  iklas dan tulusnya sang pemberi. Mahal atau murahnya juga tak penting, seharga berapun barang itu jika dari orang yang kita cintai akan jadi barang yang sangat spesial buat kita. Karena itu dari orang yang aku sayang maka tadi aku menyebutnya sebagai barang berharga.  Jadi itu bisa kau gunakan sebagai jaminan. Bagaimana ?”

Chanyeol menatap lekat iris mata coklat yang terdapat kesungguhan saat gadis itu mengucapkan kalimatnya. Membuatnya hanya bisa menganggukkan kepala pertanda setuju.

=*+*=

Dengan kaki panjangnya pemuda itu berlari dari tempat parkir menuju sebuah kafe yang  sudah dijanjikan. Keringat meluncur dari pelipis saat menaiki tangga tak sabar menunggu pintu lift terbuka. Nafasnya berderu cepat ketika ia sampai di tempat.

Diedarkan pandangannya ke dalam kafe bernuansa klasik itu. Tak juga ia menemukan orang yang di cari duduk di salah satu kursi pengunjung. Semburat kecewa  sangat nampak tercetak jelas di lekuk wajah tampannya. Setidaknya itulah yang selalu ia banggakan dari dirinya, setelah tingginya tentu saja.

“Park Chanyeol-ssi.”

Chanyeol, pemuda itu meringis memegangi kepalanya saat sesuatu dari belakang mendarat dikepalanya. Ia menoleh.

“Ya Shin Haesul! Kenapa kau dari dulu tak pernah berubah.”

“Mengapa kau membuatku menunggu lama?” Gadis yang dipanggil Haesul oleh Chanyeol tak menjawab justru bertanya balik pada pemuda yang tengah tersenyum bersalah padanya.

“Mian, tadi ada urusan yang begitu mendadak,” Jawab Chanyeol serius.”Baiklah tuan putri tidak usah ngambek begitu, duduklah aku yang akan traktir.” Chanyeol merangkul pundak gadis yang masih bersungut itu dan membawanya ke meja yang masih kosong.

Tak berkedib barang sedetikpun, pemuda itu terus menatap lurus ke arah gadis di depannya. Melihat gadis itu berceloteh panjang lebar. Sesekali tertawa detik berikutnya cemberut dan terus begitu seterusnya. Tak pernah pemuda itu bosan. Ada kebahagiaan tersendiri melihat gadis teman sejak kecilnya berbagi cerita dengannya.

Jantungnya seakan berhenti saat tiba-tiba tangan gadis itu memegang tangannya hanya karena mendramatisir dari cerita yang gadis itu buat. Hanya dua minggu tak berjumpa entah mengapa begitu lama rasanya bagi pemuda yang sedang menenangkan degup jantungnya saat ini. Ingin rasanya memeluk tubuh kurus orang di depannya sebagai obat akan rasa yang sudah menyiksanya selama tak bertemu. Namun apa daya. Rasa hanyalah rasa, yang ia pendam sendiri tanpa ada niat untuk mengungkapkannya. Yang bisa pemuda itu lakukan hanya memandang dari jauh dan melindungi jika ada yang berusaha menyakitinya.

“Jadi kau tinggal di apartemen sendiri Yeol? Pasti menyenangkan bisa hidup mandiri.”

“Awalnya sih iya, tapi karena ada gadis merepotkan itu aku terpaksa harus berbagi dengannya.” Tentu itu tidak keluar dari mulut Chanyeol. Hanya ia katakan dalam hatinya. Apa kata orang jika tahu ia tinggal bersama seorang gadis. Apalagi orang itu Haesul, gadis yang mungkin ia sukai kini. “Ehm… begitulah.” Hanya jawaban itu yang bisa Chanyeol keluarkan.

“Sebenarnya aku ingin, tapi appa melarangku. Oh ya lain kali aku akan datang melihat apartemenmu, boleh kan?”

“Uhuk ! Ha?”

“Hey kenapa kau seperti kaget sampai tersedak minuman begitu!?”

Haesul menghampiri Chanyeol dan menepuk punggungnya pelan berharap sedikit meredakan batuk pemuda di depannya.

“Oh tidak, tidak ya… tidak siapa yang kaget haha… tadi ada nyamuk masuk haha…. Em… duduklah. Em… pasti, pasti kau boleh datang haha….”

Haesul, gadis itu menautkan alisnya melihat pemuda di depannya berkata dengan terbata-bata dan sedikit aneh. Hanya menurut saat tangan pemuda itu menggiring dan mendudukkannya kembali ke kursi.

“Mampus kau!” Bisa ditebak dari siapakah umpatan dalam hati ini berasal. Sejurus kemudian sang pengumpat menyunggingkan senyum pada  gadis yang masih memandangnya penuh tanya.

=*+*=

Chanyeol menaiki tangga apartemennya dengan bersenandung kecil. Tentu senyum juga tak tertinggal menghiasi wajahnya. Kalau saja bukan karena memakai jaket pemberian Haesul, gadis yang sudah berani membuat tidurnya serasa tak nyenyak, tentu pemuda itu sudah entah untuk keberapa kali umpatan keluar dari mulutnya. Menyalahkan petugas yang belum juga memperbaiki fasilitas apartemennya yang rusak.

“Baiklah Chanyeol sudah sampai.”

Ujarnya pada diri sendiri dan segera membuka pintu. Pemuda itu sedikit tercengang melihat perubahan pada rumahnya. Botol-botol minum bekas, serta baju yang tergeletak sembarang di kursi dan lantai tak terlihat. Semua bersih. Memang benar ia baru seminggu menempati rumah itu, tapi tidak salah juga jika dalam waktu seminggu tempat tinggal barunya itu sudah seperti kapal pecah.

Melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam lagi, pemuda itu meletakkan makanan yang ia beli di atas meja. Mencari seseorang yang belum ia lihat batang hidungnya. Toilet adalah tempat yang paling akhir ia datangi. Pintu yang tidak tertutup rapat ia gunakan untuk mengintip. Matanya serasa ingin keluar saat melihat tubuh gadis yang ia cari sedang tidur mendengkur di samping kloset duduk.

“Ya Haera… Haera bangun. Mengapa kau tidur di sini. Ya, ya bangun….”

“Uahh….” Haera mengangkat tangannya ke atas dan menguap lebar.”Eh, ngapain aku di sini? Oppa sudah pulang?”

Chanyeol mendelik sinis ke arah gadis yang memasang wajah polos andalannya. Ingin memakan anak orang di tempat itu juga karena bertanya pada orang lain yang tentu tak tahu tentang hal yang dilakukan gadis itu sendiri. Sejurus kemudian memperhatikan baju yang terlihat kebesaran tengah dipakai gadis yang masih terduduk di lantai itu.

“Hey mengapa kau memakai bajuku sembarangan?” Chanyeol menunjuk seakan menghakimi Haera.

“Ya Oppa mengapa….”

“Siapa yang mengijinkanmu memanggilku Oppa.”

“Ya Ajhusi mengapa kau pelit sekali. Aku tak punya baju ganti. Apa kau tega membiarkanku telanjang?”

“Ajhusi? Hey ya kau….”

“Aku pikir panggilan Oppa terlalu muda untukmu jadi kau tak setuju dengan panggilan itu. Ajhusi aku pikir lebih cocok untukmu.”

Haera menyerobot ucapan Chanyeol yang belum semuanya berhasil keluar. Membuat pemuda itu hanya menggelengkan kepala karena jengkel. Emosinya sebisa mungkin ia kunci rapat agar tak keluar dari ubun-ubunnya.

“Asal kau senang sajalah.” Ucap pemuda yang tengah kehabisan kata menghadapi gadis itu. Berdiri dari posisi jongkoknya ia berkata kembali,”Aku membelikanmu makanan bangunlah.”  Lalu berjalan keluar ingin meninggalkan kamar mandi kalau saja tak mendengar ucapan Haera.

“Ya tunggu! Aku pikir kakiku keram karena terlalu lama tertekuk. Aku tak bisa bangun, kau bisa menggendongku? Aku mohon…. ”

“Aku benci wajah itu,” Umpat Chanyeol sembari menghampiri dan menggendong Haera. Ia sendiri tak tahu mengapa mau melakukannya. Ingin menolak tapi kalah dengan hatinya yang merasa kasihan melihat mimik muka yang gadis itu punya. “Merepotkan!”

§TBC§

HAHAHA…….pertama-tama biarkan aku untuk menertawai ff garing ini.

Ya tahu ini ceritanya memang garing pakek banget tapi tetep ngotot buat di publish hehe. Maklumilah ff romance pertama aku ni. Dan entah kenapa kok jadi kepikiran muka tiang listrik buat jadi main castnya. Berbangga hatilah kau Chanyeol dah aku kontrak di sini #plak!

Udah ah gak mau panjang-panjang curcolnya. Dan yang mau aku sampaiin di sini, pertama terima kasih banyak buat author yang udah mau bantu publish #bungkuk, kedua terima kasih buat pembaca yang dah mau baca #ketchup, ketiga buat @Ayu_pungky yang udah mau aku repotin ngebuatin poster #peluk, keempatnya……. kayaknya dah gak ada lagi deh pokoknya intinya Terima kasih aja #apaini-_-

Anyeong yeoreobun…….

2 thoughts on “FF : Don’t Go part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s