FF: DARK chapter 4

dark

Title : Dark chapter 4

Author : Exowie

Main Cast : Baekhyun Exo – Chanyeol Exo – Sanjeong (OC) -Bomi (OC) – Tuan & Nyonya Byun – Gina and others

Genre : Family, Life

Rate : PG-17

Length : Chapter

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jadi kemarin kau bertemu dengannya lagi?”

“Iya, sewaktu mengantar oema. Dia menghampiriku di tempat parkir.”

“Terus apa yang kalian lakukan?”

Baekhyun menatap malas ke arah pemuda yang sedari tadi terus mencercanya dengan pertanyaan.

“Menurutmu apa yang akan kau lakukan di tempat parkir ketika bertemu dengan orang yang baru kau kenal.” Baekhyun kembali melempar pertanyaan ke pemuda itu.

“Ngobrol lah.” Jawab Chanyeol cepat.

“Nah tu tahu, kenapa masih bertanya.”

“Ya bukan begitu juga, maksudku itu apa saja yang kalian berdua bicarakan.”

“Kepo bener, kayak anak cewek aja. Ya obrolan biasalah. Sedang apa kamu di sini, sama siapa dan lain dan seterusnya dan sebagainya.” Jawab Baekhyun sedikit nyolot.”Tapi kita sempat tukaran nomor HP juga sih.” Imbuh Baekhyun.

“Beneran? Seneng dong.” Tanya Chanyeol antusias.

“Gak juga.”

“Kok nggak, memang kenapa?!”

Ting tong….

Terdengar suara bel pintu dipencet. Dua orang yang sedang tiduran di lantai sembari ngobrol itu menolehkan kepalanya ke arah pintu depan.

“Buka sana gi, cepetan.” Perintah Baekhyun.

“Tapi kau belum  menjawabnya.”

Ting tong….

Dan sekali lagi bel terdengar berbunyi.

“Nanti aku akan menjawabnya. Sekarang buka dulu pintunya. Siapa tahu tamu pembawa berkah.” Ucap Baekhyun sembari menendang pantat Chanyeol.

Chanyeol bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Membuka pintu dan mendapati dua orang lelaki sudah berdiri di depannya dengan senyum mengembang di bibir.

“Selamat siang, maaf mengganggu. Benar ini rumah dari Nyonya Shin Gina dan Tuan Park Chanyeol?” Tanya salah satu dari mereka ramah.

“Ya benar. Tapi oema sedang tidak di rumah.” Jawab Chanyeol sembari mengedarkan pandangannya ke dua lelaki di depannya bergantian.

“Kalau Tuan Park-nya ada? Jika ada bisa kami bertemu dengannya?”

“Saya sendiri orangnya. Ada yang bisa dibantu?”

“Siapa Yeol.”

Chanyeol menoleh ke belakang mendengar suara Baekhyun yang sekarang sudah berdiri tepat di sampingnya.

“Oh kebetulan sekali tuan, kami hanya ingin mengantar barang yang anda beli pada kami. Silahkan mengeceknya sekalian tanda tangan di sebelah sini.” Salah satu dari tamu itu menyerahkan kwitansi dan menunjukkan tempat yang harus dibubuhi tanda tangan Chanyeol.

“Apa yang kau beli Yeol!?” Celetuk Baekhyun dari samping.

“Perasaan aku gak beli atau pesan barang deh.” Chanyeol menjawab diiringi tangannya yang menerima secarik kertas yang disodorkan ke arahnya. Matanya menatap lekat kertas yang ia pegang.

“Maaf kalian mengantar kiriman apa ya?” Baekhyun tak sabar dan langsung bertanya ke arah dua lelaki di depannya. Karena sedari tadi Baekhyun tak melihat orang itu membawa barang ditangannya.

“Oh ya, barangnya bisa anda lihat di sana.” Lelaki itu menunjuk ke depan. Tepatnya di pekarangan rumah Chanyeol.

“HA…  !!!” Teriak Chanyeol dan Baekhyun histeris bersamaan. Detik berikutnya mereka saling melempar pandangan dan menganga lebar. Mata mereka berdua seakan ingin keluar karena melotot begitu hebat. Lalu menghampiri seonggok barang terparkir indah di halaman itu.

“Baek tampar aku Baek, tampar aku….”

PLAK

“Aow ! Sakit Con. Kenapa kau menamparku beneran?” Chanyeol meringis memegangi pipinya yang baru ditampar oleh pemuda di sampingnya.

“Kenapa tidak, kau sendiri yang menyuruhku.” Jawab Baekhyun dengan wajah tanpa dosanya.

“Tapi gak sekeras itu juga bisa kan…?” Chanyeol sewot, lalu mengarahkan pandangannya ke obyek di depannya lagi.  “Aku hanya mau memastikan bahwa ini adalah nyata bukan mimpi. Kau tahu Baek…”

“Tidak!”

“Baru kemaren-kemaren aku mimpiin ini mobil dan hampir setiap hari berkhayal untuk memilikinya. Dan sekarang aku bisa melihat di depan kedua mataku bukan dari laptop. Bahkan aku bisa menyentuhnya.” Chanyeol  terlihat menggebu-gebu bercerita pura-pura tuli dengan celetukan Baekhyun yang sedikit menjengkelkan.

“Tapi tadi kau bukannya bilang tidak pernah memesannya? Trus siapa yang membeli ini mobil.” Baekhyun bertanya tanpa menatap Chanyeol. Pandangannya sibuk mengamati mobil sport merah di depannya. Tanpa rasa malu dia bergaya dan menata rambutnya di kaca spion mobil itu.

Belum sempat terjawab akan pertanyaan Baekhyun, mereka berdua melihat mobil memasuki pekarangan berhenti tepat di samping mereka berdiri.

“Selamat siang Nyonya, Tuan. Barang pesanan anda sudah sampai.” Kedua petugas yang mengantar mobil itu sedikit membungkuk menyapa laki-laki dan perempuan yang baru saja turun dari mobil.

“Oema kau membelinya?” Chanyeol menghampiri Oema-nya dan menyerahkan kwitansi yang tadi belum sempat ia tanda tangani.

“Terima kasih, kalian bisa pergi sekarang.” Gina menyerahkan kertas yang sudah ia tanda tangani dan membalas senyum dari dua petugas di depannya. Menatap Chanyeol dan mengelus kepalanya pelan, perempuan itu berkata, “Kau menyukainya sayang ? Itu untukmu.”

“Jadi benar?” Tanya Chanyeol antusias dan tidak bisa dipungkiri kalau saat ini ia begitu senang.

“Bukan oema tapi Appa-mu.”

Senyuman Chanyeol jatuh saat mendengar jawaban wanita di depannya. Menepis tangan yang masih berada di kepalanya kasar. Menatap kemana arah mata oema-nya saat mengatakan kalimat ‘Appa’. Raut muka Chanyeol begitu cepat berubah. Mata yang tadi sempat berbinar kini menatap tajam ke arah laki-laki yang berdiri bersebrangan mobil dengannya. Bergantian kini pemuda itu menatap ke oema-nya dengan pertanyaan.

“Apa yang Oema maksud dengan Appa ?”

Gina melirik lelaki yang  mengangguk dan berjalan menghampirinya. Menghembuskan nafas lelah kembali ia mengelus kepala anaknya pelan.

“Ya Appa. Mulai sekarang, kau akan memanggilnya Appa. Oema akan segera menikah dengannya.”

Dan sekali lagi Chanyeol menepis tangan Gina kasar. Sedikit mundur untuk menjauh dari wanita itu. Ia tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya kuat  seraya berkata.

“Oh… aku mengerti sekarang. Jadi mobil ini sebagai barang sogokan untukku? HAHA… baik-baik,” Chanyeol menggantungkan kalimatnya sembari berjalan mengitari dua orang yang terus menatapnya. “Aku tak suka dan tak ingin mobil ini. Dengan begitu aku tak perlu susah payah memberi pengertian pada kalian kalau…, AKU TAKKAN PERNAH MERESTUI KALIAN APALAGI MEMANGGILNYA APPA!”

Chanyeol berhenti tepat di depan dua orang yang berdiri mematung itu saat berteriak kesetanan dengan penolakannya. Wajahnya memerah menahan marah. Gina yang sudah tahu sebelumnya akan situasi yang terjadi saat ini mencoba sabar menghadapi anaknya dengan berkata selembut mungkin.

“Chanyeol dengerin Oema bicara dulu sayang….”

“Oema yang seharusnya mendengarkanku.”

“Tapi kau tidak mengerti Yeol.”

“Mengerti apa!? Justru Oema yang tidak mengerti. Aku tidak mau Oema menikah dengannya. Aku sungguh tak menyukainya. Aku membencinya oema!”

“Tapi kau harus menerimanya.”

“Karena apa aku harus menerimanya!”

“Karena Oema-mu tengah mengandung anakku.”

Dada Chanyeol sesak serasa terhantam batu besar. Lidahnya kaku tak bisa menimpali kalimat dari lelaki di hadapannya. Menatap perempuan yang kini menunduk  seolah meminta jawaban tentang apa yang baru ia dengar. Mencengkram kedua lengan perempuan itu Chanyeol bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.

“Itu tak benar kan Oema, iya kan? Dia bohong kan ? Oema tidak mungkin hamil kan? Oema, YA !!”

Chanyeol melepas cengkramannya dan berkali-kali menendang ban mobil di sampingnya. Meluapkan semua emosi yang membuncah di kepala. Tak perlu jawaban dari perempuan itu, Chanyeol sudah tahu apa arti dari diam yang kini dilakukan Gina. Berlari menjauh meninggalkan tempat Ia berdiri, Chanyeol terus berteriak kencang.

“Chanyeol tunggu…!”

“Biar aku saja yang mengejarnya. Dia mungkin ingin menenangkan pikirannya.” Terdiam dan memandang pertengkaran di depannya cukup lama, Baekhyun akhirnya angkat suara. Mencegah Gina yang ingin berlari mengejar Chanyeol. Segera menyusul pemuda jangkung yang terus berlari itu menuju taman.

“Ah… brengsek !”

Chanyeol mengacak rambutnya kasar. Benar-benar tak bisa menerima dengan keputusan yang diambil Oema-nya. Ditambah Ia harus menerima kenyataan bahwa perempuan itu tengah hamil anak dari lelaki yang Ia benci tanpa sebab. Seolah belum puas ia kembali menendang tong sampah di dekatnya.

Baekhyun yang mengakui sendiri tak mempunyai lari yang  cukup baik, baru saja sampai di tempat. Nafasnya terengah-engah disertai wajah merahnya karena lelah. Hampir saja menabrak tong sampah yang menggelinding ke arahnya kalau saja tak cepat menghindar.

“Ya, ya….” Teriaknya. Lalu menangkap dan mengembalikan tong sampah itu ke tempat asalnya.

Berjalan menuju orang yang saat ini membelakanginya, Baekhyun mengatur nafasnya yang belum normal. Berdiri tepat di belakang pemuda itu ia menghela nafas panjang. “Kau marah?” Ucapnya.

“Kau tau kan Baek, kebanyakan jika aku punya firasat buruk akan selalu terjadi. Dan entah mengapa kini firasat itu ada pada Oema-ku.”

“Firasat kau akan kehilangan Oema-mu?” Tanya Baekhyun dan melanjutkan kalimatnya. “Yeol, dengarkan aku. Kau takkan kehilangannya, dia hanya jadi milik orang lain tapi masih akan selalu berada di sampingmu.” Jelasnya.

“Bukan itu,” Chanyeol membalik badan berhadapan langsung dengan Baekhyun. “tapi….”

“Tapi apa? Kau boleh saja berfirasat, tapi firasat tak semuanya benarkan? Meski kau bilang kebanyakan firasatmu benar, tak menuntut kemungkinan juga kalau firasatmu kali ini salah. Sekarang kau pikirkan baik-baik, Oema-mu sedang hamil. Kau mau orang-orang yang dulu mencibirmu  menghina Oema-mu lagi? Mencaci makinya dengan berkata melahirkan tanpa suami? Wanita murahan dan kata kasar lainnya ? Tidak kan ?”

Chanyeol hanya menggelengkan kepala di setiap pertanyaan yang meluncur dari mulut Baekhyun. Tak bisa menjawab bahkan hanya kata ‘ya’ atau ‘tidak’. Mendudukkan tubuhnya lemas di kursi belakangnya.

“Yakinlah, takkan terjadi apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Baekhyun menepuk pundak Chanyeol dan ikut duduk di sampingnya. Menatap lurus ke depan seperti yang dilakukan sahabatnya. Membiarkan orang itu mencerna ucapan yang baru saja ia berikan. Karena hanya itu yang bisa Baekhyun perbuat saat ini. Mencairkan suasana yang beku menyelimuti, Baekhyun kembali membuka mulut.

“O ya Yeol, kau tak tertarik dengan jawaban dari ceritaku tadi?” Tanyanya.

“Cerita dan lanjutkanlah.” Jawab Chanyeol sedikit lemah.

“Tapi ceritaku mahal untuk orang yang tidak senyum seperti sekarang.”

Chanyeol menoleh menatap Baekhyun.

“Bodoh!” Ucapnya.

Baekhyun menarik seulas senyum menerima makian dan tonjokan yang tak sakit dari Chanyeol. Setidaknya ia bisa membuat pemuda itu tersenyum meski hanya senyum paksa.

=*+*=
Detik berganti menit, menit berlalu begitu saja berganti jam. Begitu seterusnya waktu menjalankan tugasnya menggantikan hari. Hingga tibalah saat dimana acara yang sudah ditunggu datang. Jejeran mobil memenuhi parkiran gereja di pusat Kota itu. Orang berduyun-duyun masuk untuk menjadi saksi dua insan yang mengikat janji di depan altar dan Tuhan mereka Yesus.

Keluar dari parkiran terlihat segerombol keluarga yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Menjadi salah satu keluarga yang turut berbahagia dengan momen yang diadakan hari itu.

“Ya Bomi-ah, bagaimana, apa ada lipstick Oema yang mencoreng muka. Atau baju Oema yang tidak pantas. Bagian mana, ayo cepat katakan.”

“Tidak ada Oema. Tadi sudah berapa kali Bomi bilang tidak ada yang aneh dari Oema. Justru akan terlihat aneh jika Oema terus bertanya dan di dengar orang.”

“Kan Oema takut kalau ada yang aneh, terus nanti ada orang yang membicarakan Oema di belakang bagaimana, kan malu.”

“Halah Oema ngaku aja deh, Oema malu sama Gina Ajhuma yang masih cantik itu kan. Oema juga sih, tiap hari kerjaannya ngomel. Cepet tua kan!”

Baekhyun yang berjalan di belakang dua wanita yang berdebat itu tak ingin ketinggalan. Merangkul Oema-nya dari belakang ia angkat suara untuk membela wanita itu.

“Oema, kalau mau minta pendapat, jangan ke dia. Orang dia sendiri aja kondisinya seperti itu. Oema tetap tercantik dibanding  wanita berperut buncit itu.”

Bomi merasa tersindir dengan ucapan Baekhyun. Ditambah lirikan yang Baekhyun punya tertuju ke arahnya. Dengan tas kecil yang Bomi bawa ia memukul kepala adiknya sedikit keras.

“Adaw… ya! Mengapa kau memukulku. Aku berkata berdasarkan kenyataan.”

“Kau jangan membandingkan denganku disaat aku hamil. Jelas saja aku kalah. Biarpun aku jelek sekarang yang penting Oppa tetap sayang. Ya kan Oppa, Oppa… jawab jangan hanya mengangguk.”

“Ya iya cantik…, ya ampun.” Sanjeong bergidik melihat tingkah istrinya yang masih seperti anak kecil mau saja meladeni ejekan Baekhyun. Menggandeng tangan Bomi yang tadi sempat mampir untuk memukul lengannya karena tak menjawab ocehan istrinya.

“Sudah ! Kalian semua ini tidak ada yang bisa di pilih. Tidak di rumah tidak di tempat umum kerjaannya ribut terus. Bisa diam tidak!?” Tuan Byun yang sedari tadi hanya mendengar, tiba-tiba angkat suara dengan sedikit membentak. Mempercepat langkahnya memasuki Gereja meninggalkan anggota keluarganya.

“Oppa, mungkin lelaki jaman sekarang juga mengalami datang bulan deh. Liat aja Appa bisa sewot kayak gitu.” Bomi setengah berbisik ke arah suaminya yang di balas dengan kedikan bahu oleh Sanjeong. Baekhyun yang mendengar itu hanya melirik malas kearah Bomi. Menggelengkan kepala meratapi kebodohan kakaknya.

=*+*=

Diantara puluhan tamu undangan yang hadir, diantara gelak tawa yang terdengar. Mengisi keheningan Gereja yang pada hari biasa begitu sunyi hanya diisi orang yang khusuk berdoa. Tak menyadari ada hati yang begitu sakit dengan kenyataan pahit yang harus ia terima. Merasa sepi diantara ramainya orang yang berlalu lalang di hadapannya. Bukankah itu menyedihkan ?

Mengabaikan tatapan orang yang memandang penuh tanya ke arahnya. Mata sembab yang menghias lekuk wajahnya, seakan memberi tahu orang akan banyaknya air mata yang telah ia tumpahkan tanpa harus bibirnya berucap. Meski mereka tak mengetahui apa sebab air mata itu keluar dengan gila-gilaan.

Wanita yang berdiri di depan Gereja itu meremas undangan di tangannya. Mata sendunya mengunci lekat foto pra-wedding di depannya. Sorot benci, marah dan dendam terpancar keluar dari tatapan itu. Melangkahkan kakinya, Ia pergi menjauh beriringan dengan air mata yang mulai merembas keluar lagi.

=*+*=

“Hai ! Melamun saja. Kesambet loh.”

Baekhyun menepuk pundak Chanyeol yang sudah lebih dulu sampai. Duduk di samping pemuda yang mengambil tempat di baris paling depan itu.

“Kau sudah datang?” Tanya Chanyeol.

“Iya. Kau sakit ? Mukamu terlihat pucat.”

“Tidak, aku hanya kurang tidur saja, ” Chanyeol melepas tangan Baekhyun yang memeriksa dahinya dengan senyum tipis. “Aku akan pergi ke toilet sebentar. Kau duduk saja aku segera kembali.” Ucapnya lagi sembari berdiri untuk keluar Gereja.

Baekhyun mengerti dengan apa yang dimaksud Chanyeol. Menyuruhnya duduk berarti kata lain dari ‘jangan ikuti aku’. Menganggukkan kepalanya ke arah Chanyeol ia hanya bisa memandang punggung pemuda itu menjauh. Membiarkan sahabatnya untuk menyendiri terlebih dulu. Karena Baekhyun tahu, Chanyeol tak pernah rela menyerahkan Oema-nya ke lelaki itu meski mulutnya  telah berkata ‘ya’.

Dengan langkah panjangnya, Chanyeol membawa kakinya berjalan menuju taman belakang Gereja. Duduk di kursi semen ia mulai merenung. Memikirkan hal yang ia sendiri tak tahu hal apa dan mengapa ia harus memikirkannya. Tak ada beban yang harus ia tanggung. Namun terasa berat perasaan yang ada di hatinya.

“Kau sedang patah hati anak muda ?”

Pertanyaan dari wanita membuat Chanyeol menolehkan kepalanya. Mengernyitkan dahi melihat orang yang baru sekali ia lihat.

“Aku lihat kau tidak dalam keadaan baik. Apa seseorang yang kau cintai meninggalkanmu ?”

“Tidak.” Chanyeol menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Matanya terus menatap wanita  yang kini sudah duduk di sebelahnya.

“Aku kira, aku punya teman untuk merasakan hal itu. Ternyata salah. Hanya aku yang mengalami sakitnya itu. Heh….”

Wanita itu tersenyum kecut disela kalimat yang meluncur dari mulutnya. Menghirup nafas panjang dan menghembuskannya keras.  Chanyeol hanya diam  tak menjawab mendengarkan wanita itu melanjutkan kalimatnya.

“Kau tahu anak muda. Karena cinta, kita bisa tertawa, tersenyum, menangis dan masih banyak lagi hal-hal bodoh yang kita lakukan sendiri. Karena cinta itu indah, tapi juga kelam. Tergantung bagaimana orang itu menjalani asam manis di dalamnya. Kenalkan, namaku Choi Jiera. Kau bisa memanggilku Jie Ajhuma.”

“Park Chanyeol, Chanyeol.” Chanyeol menerima jabatan yang tertuju kearahnya. Membalas senyum yang keluar dari bibir wanita itu.

“Chanyeol, kau sudah menemukan orang yang kau cintai ?”  Tanya Jiera, wanita itu.

“Belum.” Jawab Chanyeol menggaruk tengkuknya sedikit malu. Kembali  Ia memandang wanita yang menatap lurus ke depan tanpa berkedib itu lagi. Mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar menembus kendang telinganya.

“Kelak jika kau sudah menemukannya, jagalah ia sebaik mungkin. Jangan pernah menyakitinya. Karena jika ia terluka, dia bisa melakukan apapun untuk membalasmu. Cinta itu buta. Tak takut dengan resiko apa yang ia tanggung sampai ia bisa membalas dendam akan sakit hati yang ia terima. Hari ini kita saling mencintai tapi besok kita tidak tahu, bahwa orang yang kita cintai itu bisa saja jadi musuh terbesar kita. Maka dari itu jagalah cinta.” Ucap wanita itu yang mengakhiri kalimatnya dengan menepuk pelan pundak Chanyeol. Tersenyum ke arah pemuda itu, Ia berdiri dan pergi. Menyisakan Chanyeol yang masih diam di tempat.

=*+*=

Di kediaman keluarga Byun, nampak satu keluarga berkumpul menonton acara TV yang disuguhkan hari itu. Baekhyun yang tiduran di pangkuan oema-nya diam serius menonton sesekali menguping obrolan yang terjadi tanpa berniat ikut andil seperti biasanya. Mulutnya tanpa sadar menganga lebar akibat dari film yang ia tonton penuh penghayatan itu menampilkan adegan begitu tragis.

“Oh ya, besok Appa akan pergi kerja. Ada tugas keluar kota yang diberikan atasan Appa untuk ditangani. Kalian mau titip sesuatu ?” Suara Tuan Byun terdengar bertanya.

“Yah… kok kerja, gak jadi makan di luar bersama deh, padahal aku sudah merencanakannya jauh hari.” Nyonya Byun nampak kecewa dengan kalimatnya yang mendengar ucapan suaminya barusan.

“Mau bagaimana lagi, namanya juga kerjaan.” Timpal Tuan Byun.

Bomi yang duduk di samping Oema-nya terlihat berbinar. Memikirkan sesuatu yang ingin ia ucapkan ke Appa-nya.

“Appa, aku ingin Pineapple Cake. Bisa kau membelikan itu untukku. Wuah… aku sudah lama sekali tidak memakannya bahkan aku sudah lupa pernah memakan kue itu saking lamanya tak pernah membelinya.” Bomi sungguh antusias mengucapkan keinginannya. Menjilat bibirnya seakan apa yang ia inginkan sudah tersedia di hadapannya.

“Orang hamil gak boleh makan makanan yang berbau nanas. Ntar anaknya borokan.”

Bomi melirik kepala orang di samping bawahnya yang baru saja mengeluarkan suara.

“Perasaan suasananya tadi damai deh, kenapa jadi ada yang nyolot gini.”

“Kalau gak percaya tanya saja sama Oema.” Jawab Baekhyun santai dengan mata yang masih fokus ke layar TV.

“Oema, dulu kau makan apa bisa melahirkan anak yang masa pertumbuhannya berhenti lebih cepat sepertinya.”

“Jangan bawa-bawa tinggi. Noona tak bisa lihat kalau orang tua kita sendiri tidak begitu tinggi. Kalau tinggiku tak setara dengan mereka, statusku perlu di pertanyakan.”

“Maksudnya ?” Tanya Bomi menanggapi.

Baekhyun menarik kepalanya untuk duduk. Menatap kakaknya lekat.

“Aku tak menyangka mempunyai Noona yang otaknya di bawah garis kemiskinan. Tentu saja tentang statusku anak kandung mereka atau bukan. Kalau aku punya tinggi semisal tinggi Chanyeol, orang-orang akan sangat repot bertanya kenapa kamu sangat tinggi, jangan-jangan kamu bukan anak asli mereka. Dengan tinggiku yang segini orang-orang tak perlu repot bertanya bukan ?”  Urai Baekhyun panjang lebar.

“Sudah-sudah kalian ini, selalu saja ribut.” Nyonya Byun yang berada diantara mereka mencoba menengahi.

Baekhyun yang tak berniat membalas ejekan Bomi yang menjulurkan lidahnya kembali tiduran di pangkuan Oema-nya.

“Eh iya Baek, tadi waktu acara pengucapan janji, Oema tidak melihat Chanyeol. Kemana dia ?”

“Dia pergi ke kamar mandi.” Baekhyun masih saja terdengar santai menjawab pertanyaan untuknya.

“Aku lihat dia tidak begitu suka dengan Appa barunya.” Tambah Nyonya Byun.

“Kau ini sudah tua bukannya mengajari anaknya hal yang baik, malah bertanya yang bukan urusanmu. Urus urusanmu sendiri ! ”  Tanpa di duga Tuan Byun yang menjawab pertanyaan istrinya sedikit sewot. Meminum tehnya Ia berdiri meninggalkan ruangan.

“Kenapa Appa-mu ? Ada yang salah dari ucapanku ?”

Nyonya Byun bertanya entah ditujukan pada siapa. Yang hanya diberi jawaban berupa kedikan bahu oleh tiga orang yang ada di sana. Bingung menatap punggung suaminya yang hilang terhalang tembok, Ia hanya menggeleng.

Perginya Tuan Byun tak berselang lama digantikan dengan datangnya pemuda tinggi memasuki ruangan itu. Menyelonjorkan kaki jenjangnya ia duduk di lantai bawah di depan Sanjeong duduk.

“Eh Chanyeol, kau akan tidur di sini malam ini ?” Sanjeong berbasa-basi menepuk pundak orang di depannya dan bertanya. Sanjeong sepertinya tahu dari raut wajah Chanyeol yang menandakan hatinya tidak dalam keadaan baik.

“Iya Hyung, di rumah panas.” Jawab Chanyeol sekenanya.

Baekhyun melihat sekilas ke arah Chanyeol. Dengan kaki telanjangnya ia menyenggol lengan sahabatnya.

“Tidurlah lebih awal. Kau mau berlomba mengalahkan mata panda ?” Ujarnya sedikit memberi lelucon pada kalimatnya, meski itu tak membuat Chanyeol tersenyum.

Chanyeol hanya merespon ucapan Baekhyun dengan mengangguk. Berdiri ia mulai berjalan dengan langkah gontai ke arah kamar Baekhyun.

“Kenapa Chanyeol jadi gak semangat gitu ya. Biasanya dia kan tingkahnya gak kalah gila dari kamu Baek.”

“Gila-gila yang penting ganteng. Dasar perut buncit.”

“Baekhyun… !!”

Bomi melempar bantal sofa yang tadi digunakan Baekhyun memukul wajahnya. Semakin sebal saat lemparannya tidak mengenai Baekhyun yang sudah terlebih dahulu lari dan mengejeknya dengan menggoyang-goyangkan pantat kearahnya.

“Dasar udik !” Umpat Bomi kesal.

Baekhyun tertawa disela larinya meninggalkan ruangan itu. Puas dengan caranya menjahili kakaknya barusan. Memutar knop pintu kamarnya ia masuk dan berbaring di samping tubuh tinggi itu.

“Cinta itu buta. Jagalah cinta kelak jika kau sudah menemukannya. Jangan buat dia sakit jika kau tak mau merasa sakit.”

Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung.

“Cepat sekali dia tidur sampai ngigau kayak gitu.” Ujar Baekhyun.

“Aku tidak ngigau.”

Kembali Baekhyun menatap Chanyeol yang masih memejamkan matanya.

“Tadi ada orang yang mengatakan itu padaku. Sampai sekarang masih teringat aja,” Chanyeol membuka matanya, menoleh dan bertanya, “Bukankah itu benar ?”

=*+*=

Jauh dari hingar bingar kota, jauh dari keramaian lalu lintas yang memadati jalan utama malam itu. Sebuah mobil berhenti tepat di depan satu-satunya rumah yang berdiri di tengah luasnya sawah yang membentang.

Menatap rumah yang sedikit tua dimakan usia, orang itu keluar dari mobil. Cahaya yang hanya dari lampu bolam kuning temaram, membuat rumah itu sedikit mengerikan di tambah pohon-pohon besar yang tumbuh disekitarnya.

Berjalan lurus orang itu memasuki pekarangan rumah ditemani kicauan burung hantu di setiap langkahnya. Seakan itu adalah bentuk sambutan untuk  seorang wanita yang sudah bertamu karena tujuan dan maksud tertentu.

Tok tok tok….

Sampai di depan pintu kayu jati yang berdiri kokoh dihadapannya, ia mengetuk pintu itu tanpa merasa takut dengan hawa dingin yang menjalar keseluruh tubuhnya.

“Masuklah.”

Terdengar suara serak menjawab dari dalam. Wanita itu mendorong pintu masuk dan duduk tepat di hadapan lelaki yang sudah tak lagi berumur muda.

“Ada masalah apa kamu nak….” Tanya lelaki tua itu dengan suara kalem yang Ia miliki.

“Aku ingin dia menderita dan merasakan sakit yang luar biasa sebelum ajal menjemputnya.” Jawab wanita itu menyerahkan sebuah foto. Bibirnya menyunggingkan senyum yang lama-kelamaan berubah jadi senyum sadis dan menyeringai.

“Kau hanya tinggal melihat dan menunggu.” Ucap lelaki tua yang menaruh sebuah foto ke atas meja yang sebelumnya sudah ia lihat lebih dulu.

=TBC=

Apa ini sok misterius segala hahaha.
Ya maklumilah sodara-sodara pikiran lagi suntuk jadi berimajinasi liar kayak gini. Di part ini ada bagian yang sangat boring, semua bagian sih hehe sekali lagi hanya bisa bilang maklumilah.

Udah pada tahu kan siapa wanita yang menutup part empat ini?

Ya udah aku cuma mau ngucapin Happy New Year aja buat semua yang baca dan makasih^^

Anyeong Yeoreobun…

3 thoughts on “FF: DARK chapter 4

  1. krishun ^^ berkata:

    pasti wanita yang di akhir itu,yang ketemu chanyeol itu ya?*so tahu,tapi lama lama penasaran juga…,next deh,baek sama bomi brantem mele,tapi kocak ><,chanyeol kasian…,pas chanyeol bilang br*engs*k itu aku merinding thor….,adeh jadi curhat,poknya next chap jgn lama….,aku mohon….yayaya….,XOXO author :*{}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s