FF : Choffe Shop

Untitled

Tittle      :Choffe Shop

 Author    : BPI

Cast         :I (idol) , you ( you) dan temukan yang lain

Genre      :Romance maybe ^^v

Ini sebenarnya cerpen buat majalah kampus tapi gak menang wkkwkwk

Makasih sama eonnie mija yg mau publish..

Happy reading J

-1-

–2–

—3—

Disini kami sekarang, saling menautkan jemari, menggenggam erat, menumpahkan perasaan cinta satu sama lain. Ku tatap manik matanya yang menatap ku sendu. Aku tahu ini bukanlah keputusan yang ringan di ambilnya. Meninggalkan tanah air, tempat kelahirannya untuk sebuah tugas yang memang sudah dari dulu di idamkannya.

Aku adalah lelaki, lelaki berusia 25 tahun yang sudah dewasa. Tapi bolehkah aku kekanak-kanakan dengan melarang seseorang yang sangat aku cintai untuk tak pergi jauh dari ku. Seperti dengan koleksi miniatur Power Ranger yang ku kumpulkan dari SMA aku tak mau ibuku membuangnya, sama halnya dengan gadis di hadapan ku yang telah lama ku jaga kini, aku tak mau ia pergi.

Jujur saja, mengetahui dirinya di terima di Rumah Sakit internaisonal membuatku sangat bangga. Kekasihku yang baru saja lulus dari D3 Kebidanan dapat mengalahkan beberapa pesaing yang sudah profesional. Tapi kini ia harus rela di pindahkan ke Rumah Sakit yang lebih ternama karena ke profesionalnya yang dapat membuatnya masuk ke dalam Inha Hospital. Rumah sakit ternama di negeri gingseng, Korea.

Dalam diam ia melepaskan genggaman tanganku, tersenyum manis seperti biasa. Ia meyakinkan aku untuk tidak sedih karena peninggalan nya. Aku pun berusaha untuk tak terbawa emosi, meyakinkan dia sekaligus hatiku yang sudah sangat sakit di buatnya.

“Kita dapat bertemu kembali di kedai ini” Ucapnya enteng.

“Ya.. saat itu mungkin aku sudah dengan yang lain” Ujar ku tanpa berani menatap bola mata yang melebar itu.

Aku tahu ini memang menyakitkan. Orang tua ku menuntutku untuk berkeluarga secepatnya. Makin hari usia orang tuaku menambah, tak mungkin aku membiarkan mereka menunggu dan memberikan harapan palsu. Aku pun mengetahui kalau orang tua gadisku ini tak setuju dengan hubungan kami. Dengan statusku sebagai polisi yang memiliki banyak sekali argument mengenai tak setia, membuat orang tuanya memandang ku sebelah mata.

“Selamat.. ku harap kau mendapatkan yang terbaik”

Akhirnya ia mengatakan hal itu, membuat hatiku tertusuk seribu bahkan sejuta jarum yang menikam dadaku sesak. Ia lalu berdiri, dan meninggalkan kopi yang baru saja kami pesan. Aku tahu kini ia menangis, tapi aku tak bisa berbuat sesuatu seperti dulu. Fikiranku menekan perasaan untuk mengejarnya, membawanya ke dalam dekapan ku, dan membujuknya dengan kata-kata manis. Aku tak mau ia mendapatkan sakit lebih dari ini.

(^^)

Aku membuka mataku di sinar mentari pagi, melihat jam di handphone. Aku masih mengenakan pakaian yang ku pakai pada malam kemarin dan bergegas keluar untuk membersihkan diri. Kini tanggal 3-10-2013 dimana 13 tahun silam aku melupakan harga diriku untuk menyatakan perasaan ke wanita yang aku cintai. Sudah 3 tahun berlalu, saat aku dan dia mengakhiri hubungan yang sudah kami jalin selama 10 tahun itu.

Aku ingat saat dimana dengan bodohnya aku menembaknya di tengah tengah lapangan SMP yang sangat ramai setelah upacara sekolah. Itu adalah tantangan dari para sahabatku, tantangan yang membawaku ke cinta sejatiku.

Sendiri, aku bersenandung mengikuti lagu yang biasa aku dengarkan sehari-hari. Sendiri, aku melewati gedung-gedung yang aku lewati. Sendiri, aku duduk di kedai kopi yang selama 3 tahun ini merupakan tempat ku menumpahkan rasa rindu yang selalu membuat dadaku sesak karenanya.

Sudah 3 tahun… dan semenjak itu hidupku bagai tak tau arah. Cinta pertama memang sangat sulit di lupakan, dan aku sangat mempercayainya. Aku tak mau membuat hatiku lebih sakit dengan menikah dengan wanita yang di pilih oleh kedua orang tua ku. Dan aku pun tak ingin menjadi anak durhaka yang menentang kedua orang tuaku. Lalu apa yang aku lakukan.

Aku menatap sendu undangan berwarna merah marun dengan pita merah menyala melambangkan keberanian. Aku memang berani, berani mengambil keputusan yang akan membuat hatiku dan calonku sakit dan menekan keras kepalaku untuk tak menikah dengan siapapun selain gadis yang mungkin kini sudah berumah tangga dengan yang lain, atau ia masih menungguku. Harapan palsu yang selalu membuatku berangan-angan sebelum tidur agar mendapatkan mimpi yang indah. Kebahagiaan yang ku dapatkan dari mimpi, yang mampu membuatku tersenyum di pagi hari meyapa sinar mentari.

Aku melihatnya, siluet indah yang mampu mendebarkan jantungku hingga dapat melompat dari rongganya. Dengan menggandeng seorang anak kecil manis bermata sipit yang terlihat sangat bercahaya karena kulit putihnya terkena sinar matahari. ‘Apakah gadisku sudah menikah?’ ‘Dan dia punya anak?’ ku tekan tekan dada ku, nafasku memburu karena emosi meluap. Menormalkan emosiku, mungkin kini tekanan darahku meninggi karena jantungku berdebar sangat cepat.

Ia memasuki cafe ini, tersenyum manis ke pelayan dan memesan beberapa minuman. Aku hanya mampu memperhatikannya dari tempatku yang memang lumayan jauh darinya. Menekan perasaan ku untuk berjalan dan mendekatinya lalu berbasa basi seperti ‘halo’ ‘hai’ atau menanyakan kapan ia kembali ke Indonesia.

Tapi keinginan itu hancur seketika setelah ku melihat seorang pria menghampirinya, dan duduk di hadapannya. Pria itu mengelus pucuk kepala anak kecil di sampingnya sayang. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, bahkan aku harus mempercayai kalau mereka tampak seperti sepasang suami istri.

Mimpiku hancur berkeping-keping, bagaikan tembok yang di pukul palu. Tak terlihat rusak, tapi menyakitkan. Ku remas undangan yang berupa sampel undangan pernikahan ku 3 bulan mendatang. Mungkin aku bodoh saat ini, menangis dalam diam melihat nya tertawa dalam bahagia.

(^^)

Manik mata indah itu melotot menatapku, aku berusaha untuk tetap seperti biasa. Tersenyum malu, menggambarkan sebagai calon pengantin yang akan menikah. Ia lalu berdehem menghilangkan ke terkejutannya dengan undangan yang kini ada di hadapannya.

Setelah melihatnya dengan yang lain, dengan tekat bulat, aku membuat keputusan besar untuk masa depan ku. Orang tua ku sangat bahagia dengan keputusan ku adalah satu-satunya yang membuat diri ini yakin kalau keputusan ku adalah yang terbaik.

Ia duduk dalam diam setelah seorang pelayan menyuguhkan kami secangkir teh yang mengepulkan asap. Kami diam beberapa detik setelah pertemuan pertama sejak kepergiannya. Sebenarnya ini pertemuan kedua bagiku, setelah melihat keluarga kecil barunya.

“Dimana suami mu?”

Pertanyaan ku mampu membuat kepalanya yang tadi menunduk mendongak seketika, menatapku heran.

“Suami?”

Ia malah menatapku heran, yang membuat alisku bertaut di buatnya.

“Ya… orang korea yang kulihat bersamamu di kedai kopi ini satu bulan silam”

Ia lalu tersenyum manis, membuat aku harus mengepal tangan ku untuk menahan emosi.

“Oh… dia adalah Kim Jong Dae… salah satu dokter yang membawaku kembali ke Indonesia”

Aku hanya mengangguk, mencoba mengalihkan emosiku dengan menatap halaman indah depan kedai di hadapanku.

“Berkatnya aku dapat kembali ke Indonesia lebih cepat dari kontrakku… dia memiliki seorang anak bernama Kim Jong In yang memiliki retardasi mental, yaitukemampuan mental yang tidakmencukupi”

“Benarkah?” Tanya ku tak percaya, mengingat anak yang dulu bersamanya sama saja seperti anak yang lain.

Ia mengangguk menyesap teh yang masih mengepulkan asap panas. Lalu menaruh cangkirnya ke tempat semula.

“Jadi Jongdae seorang duda?”

Ia lalu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan ku, ia menatapku geli membuat wajahku terlihat bodoh di depannya.

“Tidak.. dia memiliki istri, istrinya adalah sahabat ku di Korea”

Bagaikan ada badai tsunami mengahantam tubuhku, menghempaskannya ke dalam gurun sahara. Hatiku sesak, jadi gadisku belum menikah, dan aku…

“ Jadi kau belum menikah?”

Ia diam seketika, membetulkan tempat duduknya.

“Sebenarnya aku menunggumu… “ ucapnya menatap ku intens. Aku diam membeku.

“Tapi ya sudahlah… mungkin bukan kau jodohku, aku mungkin dapat mendapatkan yang lebih darimu” Ia lalu tersenyum manis, meyakinkan diriku kalau ia tak apa- apa.

Hati wanita bagaikan lautan, kami pria tak tahu apa yang kini ia rasakan. Perasaan wanita tak dapat di reka-reka, aku tak tahu apakah ia bahagia, atau sakit seperti halnya aku. Aku masih saja diam tepaku saat ia menuangkan teh nya dan menegurku untuk meminum teh yang sudah dingin tak ku sentuh.

“Selamat… semoga kau bahagia dengan yang orang yang kau pilih”

Setelah pertemuan ini aku berjanji tak akan menghubunginya, aku tahu ini memang menyakitkan. Lebih menyakitkan untuknya. Wajahnya masih saja meninggalkan senyuman manis yang membuatku tak bisa melupakan wajah teduh yang selalu menghantui fikiranku.

Satu tekad ku adalah aku akan selalu mencintainya, walaupun aku tak bisa memilikinya. Aku yakin ia akan mendapatkan yang lebih dariku seperti katanya. Pada saat itu aku pasti akan tersenyum dan mengatakan selamat.

 

END

One thought on “FF : Choffe Shop

  1. jae sin berkata:

    q heran knapa ff sbagus ini ngga mnang..?? ini bagus sumpah deh… fell.x dapet banget.. ampe nyesek.ni dada..
    hah.. klau di bwt happy ending kan bgus.. tpi knapa harus dibwt sad gne.. kan aku yg baca jdi nyesek… jujur.. ini sblas duablas sama keadaan aku skarang…
    tpi aku masih bingung bwt nentuin apa yg harus aku buat… n pas baca ini.. aku tambah galaaaauuuu..
    intinya ini bagus^^.. klau aku yg jadi jurinya ini psti menang hehehe^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s