FF : One Chance it’s more than Enough

PicsArt_1387522567490

Judul              : One Chance it’s more than Enough

Author           : Onfanllcouple

Cast               : Xi Luhan

Jung Eun Wo (OC)

Do Kyungsoo

Genre              : fantasy, love, sad=comedy(?)

Rating             : PG 14

Length                        : one shot

Summary       : “hei, apa kau baik-baik saja?”

“ehm..”

“kalau kau merindukannya. Kenapa tidak mengunjungi nya?”

“memang aku bisa ?”

“kau tau dengan sangat jelas, Tuhan selalu punya alasan dibalik setiap perkara. Turunlah, tengok dia. Siapa tau itu bisa mengobati sakit di hati mu.”

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Hi… readers.. Ohh.. I miss you guys.. anybody miss me??

I’m back^^

There is FF special Christmas

Happy reading and comment please^^

Sorry for typho

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

. . . . . . . . .

. . . . .

. . .

Seorang yeoja duduk disebuah bangku taman sendirian. Menjelang sore ini langit berwarna keemasan. Yeoja itu memandangi langit sungguh-sungguh. Ia tersenyum seolah-olah dapat melihat seseorang yang sangat dirindukan nya sampai saat ini. Yeoja itu yakin sekali kalau namja yang dirindukan nya juga melihat nya dari sana.

Disana, diatas langit. Semuanya serba putih, bersih dan sangat lembut. Seakan-akan terbuat dari awan namun tak pecah menjadi air. Disalah satu tingkap langit itu, seorang namja sedang duduk-duduk sambil memandangi para manusia dari tempatnya. Namja itu bermata sipit dan memakai pakaian serba putih dengan pin snowflake besar di dada kiri nya. Namja itu tersenyum lalu mengusap-usap pin nya lembut. Maka salju pertama mulai turun kembali di bumi.

“hai Xiumin!”

Sapa seorang namja yang baru datang menghampiri namja tadi. Namja yang ini berpakaian serba putih juga sama seperti namja yang tadi hanya namja ini pin nya berbentuk telekinetis dan sedikit lebih tinggi.

“oh, Luhan ada apa?”

“ntahlah, aku hanya ingin menemani mu disini.” Luhan mengalihkan pandangannya ke bumi. “aku ingin saja melihat salju kembali turun untuk pertama kalinya di bumi.”

“kebanyakan manusia memiliki memori tersendiri di saat aku menurunkan kembali salju untuk pertama kalinya.”

“apa semua kenangan itu indah?”

“tentu saja tidak! Kau bercanda Luhan, tidak semua nya bisa bahagia bahkan malaikat seperti kita.”

“itulah yang ku pikirkan. Entah kenapa hati ku sakit sekali saat kau menurunkan salju kembali untuk pertama kalinya. Seperti sesuatu pernah terjadi pada ku. Tapi,, tapi aku tidak mengerti apa itu..”

Xiumin memalingkan wajahnya dari Luhan.

“aku terkadang mendengar suara seseorang. Terkadang juga sebuah bayangan wajah muncul begitu saja. Saat aku mencoba mendekatinya, mencoba melihat nya. Dia langsung menghilang dan air mata ku mengalir begitu saja. Aku benar-benar tak mengerti Xiumin. Ada apa dengan ku? Apa yang sudah terjadi? Apa kau mengetahui sesuatu?”

“Luhan kau tau dengan jelas itu bukan sesuatu yang bisa ku jawab. Kau . . kau lebih dekat dengan Nya. Kemampuan mu diatas ku, kau bekerja bersama Nya. Jadi kenapa tak kau tanyakan langsung pada Nya.”

“kalau itu memang sesuatu yang harus ku lupakan. Kenapa Dia menyiksa ku seperti ini, Xiumin. Hiks..”  air mata Luhan mulai turun perlahan. Mata Luhan terus menilisik bumi, berusaha mencari bayangan itu yang selalu membayangi nya.

“aku rasa kau lebih tau Dia daripada aku. Kau yang lebih dekat dengan Nya. Semua nya, setiap perkara selalu ada alasannya. Tuhan tau apa yang terbaik untuk umat Nya.”

“sungguh??”

Luhan menoleh ke arah Xiumin. Namja yang lebih pendek itu menganggukkan kepalanya dan mengelus tengkuk badan chingu nya itu lembut.

——=~.~=—–

 

Luhan baru berbaring di ranjangnya. Tiba-tiba Luhan merasa begitu sakit di kepala. Seperti sebuah film yang berputar di kepalanya. Tapi kali ini semua terlihat jelas dan begitu nyata. Memori yang selama ini di lupakannya sudah kembali ke dalam ingatan nya. Ia menjerit kesakitan dan sebuah suara yang sangat familiar muncul.

“Luhan kau tau, Aku bisa tau semua isi hati mu. Yeoja itu hamba yang baik, setiap hari ia berdoa dan Aku tidak bisa membiarkan nya begitu saja. . . ”

Suara itu mulai terdengar putus-putus di telinga Luhan. Kini namja itu merasa seolah ia kembali ke masa itu. Masa-masa indah yang ia sesali seumur hidup nya. Sepertinya, temannya Tao berbaik hati memutarkan waktu setahun yang lalu untuknya. Namun ia tetap tak bisa berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan.

——~=.=~—–

 

Flash back,

 

Luhan berpenampilan rapih dengan mantel hangat nya. Ia duduk di bangku taman sendirian sedang menunggu seseorang. Ia tersenyum sendiri sembari menunggu. Beberapa saat kemudian seorang yeoja datang menghampiri nya. Yeoja itu langsung duduk disamping nya dan menjatuhkan kepala nya ke bahu kanan Luhan.

“Oppa, hari natal nanti kita akan pergi bersama ke gereja, kan!?”

“ehm,, tentu saja.”

“lihat!” teriak yeoja itu tiba-tiba, membuat Luhan langsung menoleh ke arah telunjuk yeoja itu.

“lihat oppa hari ini salju pertama mulai turun.”

“ne, Eunwoo-ya. Aku melihat nya.”

“mulai sekarang siang hari akan menjadi dingin.”

“kau kedinginan?”

Luhan menoleh melihat Eunwoo yang sedang menggigil kedinginan. Luhan membuka mantel nya dan memakaikan nya pada Eunwoo. Yeoja itu tersenyum malu membuat Luhan tertawa geli. Lalu Eunwoo mendekati Luhan memakaikan sebelah mantel nya pada Luhan. Mereka merapat satu sama lain agar satu mantel itu cukup untuk menutupi mereka.

“seandainya aku tau kalau salju akan turun, aku pasti akan membawa mantel ku.” Eunwoo menunduk memandangi butiran es yang perlahan mulai menutupi rerumputan. “kenapa sesuatu yang indah tidak pernah benar-benar indah?”

“maksud mu?”

“lihat saja, salju itu indah tapi menyiksa orang. Salju bisa membuat orang mati kedinginan.”

“itu semua sudah Tuhan atur, Eunwoo-ya!” Luhan mencubit hidung yeoja nya itu gemas. “bayangkan kalau semua nya sama, kalau semua orang kaya, semua orang pintar maka dunia ini tidak akan seimbang?” “kalau semua orang hidup tidak ada yang mati. Atau kalau semua orang baik maka tidak akan ada penjara. Bahkan kalau itu terjadi maka ini bukan bumi lagi tapi surga. Mungkin karena itu orang baik lebih cepat dipanggil Tuhan.”

“kalau begitu oppa jangan terlalu baik. Aku tidak mau oppa cepat-cepat meninggalkan ku. Aku ingin aku yang meninggalkan oppa lebih dulu.”

“akan ku pikirkan nanti mengenai masalah ini..” Luhan mengeryitkan dahi nya lalu mengusap rambut Eunwoo lembut sedangkan yeoja itu malah tersenyum lebar.

——~=.=~—–

 

Luhan sedang berjalan menuju apartemen nya. Cuaca hari ini benar-benar sangat dingin, karena cepat-cepat pergi tadi jadi ia lupa membawa sarung tangan. Karena itulah Luhan menyimpan tangannya di dalam ke dua kantung mantelnya. Ia berjalan pelan dan hati-hati karena banyak salju yang belum dirapikan dijalan. Tiba-tiba saja seseorang memeluk nya dari belakang. Luhan tersenyum, ia tau siapa orang itu.

“jjang!!”

Yeoja itu menunjukkan sepasang sarung tangan rajutan ke depan wajah Luhan.

“ini untuk oppa. Apa oppa tidak menyukai nya?”

Yeoja itu menggoyangkan sarung tangan wol yang berwarna ungu muda itu.

“suka.”

Luhan hanya menjawab datar. Lalu yeoja itu mengambil tangan Luhan satu per satu dan memakaikan sarung tangan nya.

“nah, sekarang tidak dingin lagi tangannya.”

“gomaweo.”

Luhan mengucapkan terima kasih nya singkat dan polos. Tidak biasa nya Luhan begitu pada Eunwoo, yeoja yang sangat mencintainya. Biasanya namja itu akan mengucapkan terima kasih jutaan kali, ah bahkan lebih dari itu sampai-sampai Eunwoo harus menutup bibir Luhan dengan sebuah kecupan. Tapi sore itu Luhan terlihat begitu dingin. Mungkin karena ada satu masalah di sedang dihadapi nya saat ini.

“oppa tau, itu aku sendiri yang merajutnya untuk oppa.”

“oh, ya? Kenapa kau tidak membeli saja di toko. Atau tidak perlu repot-repot memberikan ku sarung tangan. Aku punya beberapa di rumah.”

“aku hanya ingin berterima kasih karena oppa sudah membagi mantel oppa siang kemarin.”

“kau tidak perlu membalas nya, Eunwoo-ya.”

Kata Luhan gemas sambil membuka kan pintu. Setidaknya sekarang Eunwoo sudah merasa lebih baik setelah melihat Luhan tersenyum. Ia pikir Luhan sedang marah pada nya tadi. Setelah masuk ke dalam apartemen Luhan, Eunwoo segera berlari menuju dapur sementara Luhan masuk ke kamarnya.

Beberapa menit kemudian Luhan keluar dari kamarnya dan berbaring di sofa depan tv lalu mengambil rubik nya yang ada di atas meja depannya. Disusul Eunwoo yang datang dari dapur membawa sebuah mug bercorak rusa Santa ditambah thermometer suhu yang lucu menempel dalam mug nya. Itu kado natal pemberiannya tahun lalu untuk Luhan. Tapi Luhan cuek dan tetap fokus pada rubiknya.

“oppa, minumlah dulu selagi hangat. Ku buatkan coklat panas untuk mu.”

“hmm??”

Luhan mengganti posisinya menjadi duduk lalu melirik Eunwoo yang menunjuk mug di atas meja.

“ah,, araseo.”

Luhan meminumnya sedikit lalu kembali memainkan rubiknya.

“hmm,, enak coklat nya. Sejak kapan kau bisa membuat coklat panas?”

“aku belajar membuat nya semenjak aku menyukai mu, oppa.”

Eunwoo berharap Luhan akan mengeluarkan beberapa kata manis dan menggodanya dengan gaya nya yang khas. Luhan bahkan seperti orang yang baru pertama kali mencoba coklat panas Eunwoo. Padahal biasanya Luhan yang memohon-mohon agar Eunwoo membuatkannya.

“apa ada masalah oppa?” tanya Eunwoo selembut mungkin

“tidak ada.”

“sungguh??”

“ne. opseo!”

“kalau begitu aku pergi dulu.”

Eunwoo tidak bisa berbuat apa-apa selain meninggalkan Luhan yang bahkan setelah ia pamit tidak lepas dari rubiknya. Seharusnya Luhan mengantarkannya sampai pintu atau merengek agar Eunwoo tinggal lebih lama. Ya, hal itu yang lebih sering ia lakukan. Biasanya.

Eunwoo keluar dengan hati penuh kecewa. ‘Apa salah ku?’ pikirnya.

——~=.=~—–

 

Bulan Desember penuh dengan salju dimana-mana membuat banyak orang takut untuk keluar karena dinginnya. Mereka lebih memilih berdiam diri di rumah sambil menikmati segelas coklat panas atau sekedar menikmati suhu ruangan yang hangat. Namun tak sedikit juga yang memilih untuk berkeliaran di luar. Cuaca yang begitu dingin terkadang menguntungkan untuk beberapa pasangan dapat membuat mereka semakin dekat satu sama lain.

Natal akan tiba dan banyak lampu kelap-kelip dimana-mana menghiasai jalanan yang biasa nya sangat monoton. Jika biasanya orang-orang akan bosan ketika menunggu lampu lalulintas berubah menjadi hijau sekarang tidak lagi. Justru lampu merah menjadi sebuah kesempatan untuk memandangi indahnya rangkaian lampu yang menghiasi jalanan. Tidak sedikit anak-anak yang duduk dibelakang akan membuka jendela dan menunjuk-nunjuk lampu kesukaan mereka. Kalau sudah begini para orangtua akan kerepotan melarang anak-anaknya agar tidak mengeluarkan tangan mereka dari jendela mobil. Karena itu berbahaya!

Lampu yang menghiasi jalanan. Suara terompet mulai terdengar dimana-mana. Tempat-tempat wisata buka lebih malam dari biasanya. Banyak riuh tawa anak-anak. Meskipun hawa nya begitu dingin tapi sangat sayang untuk dilewatkan. Ayolah natal hanya sekali dalam setahun. Itulah mengapa saat ini Eunwoo menarik Luhan untuk masuk ke ring ice skating.

Eunwoo hanya diam memandangi Luhan yang sedang sibuk memasangkan sepatu skate nya. Setelah itu Luhan tidak lupa memakaikan Eunwoo topi dan bando dengan 2 bola berbulu yang lembut untuk menghangatkan telinga yeoja nya itu. Luhan bahkan tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang memperhatikannya. Ia mencium kening Eunwoo begitu saja membuat yeoja itu tersipu malu. Luhan semakin gemas ketika melihat semburan merah dipipi Eunwoo. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam ring es.

“kau ini, sampai kapan akan gagal terus?”

Luhan memang mengomel tapi ia tetap mengiringi Eunwoo mengelilingi ring es. Eunwoo hanya tersenyum malu sambil mengikuti arahan Luhan. Setelah selesai berkeliling beberapa kali mereka berhenti dan menyender pada salah satu bagian tiang penyangga. Eunwoo dapat melihat dengan jelas kalau saat ini, Luhan sedang memperhatikan orang-orang yang sedang berskating ria dengan lincahnya.

“kalau oppa mau berskating, tidak apa-apa tinggalkan saja aku disini.”

“kau yakin?”

Eunwoo menganggukkan kepalanya yakin lalu mengedip-ngedipkan matanya. Eunwoo melihat Luhan pergi meninggalkannya dan bermain skating sendirian. Setelah Luhan selesai bermain skating ia hendak menghampiri Eunwoo. Tapi yeoja itu malah dikerubuni beberapa namja membuat Luhan kesal.

“ehm,, Eunwoo-ya!” panggil Luhan

“Oo! Oppa!!”

“hm,, bisa kau perkenalkan namja-namja ini pada ku?”

“oh, ini Zelo dia lebih tinggi dari mu ya. hm, ini Bang Yongguk chingu nya. Ah, ini yang sangat menggoda ku..” Eunwoo menarik lengan seorang namja yang paling sipit matanya diantara para namja yang mengerubuni nya. “ini Byun Baekhyun. Dia manis ya, oppa.”

“Ohh.. baguslah.. kenapa kau tidak bersama nya saja. Aku harus pergi sekarang!”

Luhan pergi meninggalkan Eunwoo bersama namja-namja itu tanpa menghiraukan panggilan Eunwoo.

——~=.=~—–

 

Luhan baru saja masuk ke dalam sebuah toko. Ia mencari barang-barang berwarna ungu. Luhan merasa dirinya sangat bodoh. Setau nya kemarin malam Eunwoo meninggalkannya bersama beberapa namja lain. Tapi sekarang ia malah berbelanja hadiah natal untuk Eunwoo. Tadinya mereka hendak membelinya bersama tapi karena kejadian semalam. Luhan tak berniat untuk menghubungi Eunwoo sama sekali dan berakhir di sebuah toko kecil di dekat perampatan jalan yang memajang sebuah mini dress berwarna ungu muda.

Toko yang lumayan unik menurut Luhan. Selain baju ternyata ada banyak barang-barang lain seperti aksesoris dan produk perawatan tubuh untuk yeoja bahkan ada boneka, sepatu. Mungkin Luhan lupa membaca nama toko tersebut sebelum ia masuk. Diatas pintu toko tersebut terpampang dengan jelas sebuah papan bertuliskan “All about Girls” well . . .

Setelah berpikir bolak-balik dan sibuk memilih barang lain untuk melupakan dress yang mencuri hatinya tadi. Luhan menyerah juga dan ia kembali menanyakan mini dress berwarna ungu itu. Luhan mengikuti sang pelayan ke kasir dan membayar semua belanjaannya.

“apa ini semua untuk yeoja anda tuan?” tanya si petugas kasir iseng

“tidak! Bukan siapa-siapa!!” jawab Luhan ketus sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.

“anda mendapat sebuah kertas kado gratis tuan. Mau yang berwarna ungu? Saya lihat semua barang-barang yang anda beli berwarna ungu. Apa anda perlu bantuan untuk membungkus kado nya sekalian, tuan?”

“tidak perlu.”

“oh iya anda dapat hadiah natal dari kami untuk pembelanjaan diatas 500 ribu.”

Pelayan tersebut tersenyum sambil memberikan sebuah boneka santa berukuran kecil yang masih terbungkus rapih dengan plastik. Luhan menatap boneka itu sejenak sebelum memasukkannya ke dalam shop bag nya. Sepertinya ia sedang mengingat sesuatu. Luhan keluar dari toko itu lalu berjalan menuju rumahnya yang tidak jauh dari situ.

“HOHOO!! Santa Claus is here.. HooHoo!!”

Luhan mengeryitkan dahi nya mendengar suara itu. Sepertinya suara itu tidak asing bagi nya, suara yang sangat dikenalnya. Luhan kembali berjalan mundur beberapa langkah menemukan seorang santa palsu yang dilewatinya tadi.

Sekarang Luhan membulatkan matanya penuh bahkan mulutnya menganga sangat lebar. Bagaimana bisa ada santa berukuran kecil dan bertubuh kurus semua terlihat dengan jelas dari kostum merah nya yang kebesaran. Ditambah kumisnya berwarna hitam. Oh,, tidak Santa kumisnya berwarna abu-abu seperti warna uban. Apa itu?? rambutnya panjang bergelombang dan diikat. Mungkin kah ini istrinya Santa tapi dia pakai kumis?

Tapi,, tapi bukan itu yang membuat Luhan terkejut! Atau bahkan sekarang Luhan tertawa terbahak-bahak sementara Santa itu hanya tersenyum malu-malu. Belum lagi banyak orang memperhatikan mereka.

“Oppa!! hentikan!!”

“Ooo.. Eunwoo-ya.. haha… neo.. neo.. eotteoke??”

“kumis Santa nya habis tadi. Baekhyun lupa membawa topi Santa dan wig nya.”

Luhan berhenti tertawa seketika saat Eunwoo menyebutkan Baekhyun dalam kalimatnya. ‘kenapa harus membahas namja itu sekarang?’ sesal Luhan dalam hatinya.

“sebenarnya apa hubungan mu dengan namja-namja kemarin?”

“oh,, oppa cemburu..”

“tidak..”

“oh,, baiklah kalau begitu. Mereka hanya orang-orang yang mau mengadakan puppet show diacara natal anak-anak. Kebetulan kami bertemu saat di ring es kemarin. Itu saja, tidak ada yang lain. Maka dari itu aku meminjam kostum ini pada Baekhyun.. dia punya banyak kostum.”

“ehm..”

Luhan kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan Eunwoo begitu saja. Luhan berjalan tenang seolah tak terjadi apapun juga. Ia tau kalau Eunwoo hanya mencintainya seorang. Jadi tak ada yang perlu ditakutkan lagi, pikir Luhan.

“oppa!! bukankah ini yang kau inginkan?”

“apa?”

“kau ingin seorang Santa Claus yang cantik.”

“sok tau!”

“bukankah itu yang oppa tulis di wishlist oppa saat natal tahun lalu?”

“ehm..”

“oppa!!”

Luhan tetap tak berbalik dan terus berjalan.

“oppa jangan lupa Natal nanti oppa harus datang!! Kita akan bertukar kado seperti biasa kan!!” teriak Eunwoo yang dianggap angin lalu oleh Luhan.

——~=.=~—–

 

Luhan tak peduli sudah sejauh mana ia berjalan sekarang. Ia hanya berjalan dan terus berjalan. Padahal matahari sudah berubah warna keemasan dan nanti malam ia ada janji dengan Eunwoo di gereja, merayakan malam natal bersama. Tapi Luhan seolah-olah lupa akan semuanya. Matanya kaku, wajahnya pucat, seperti nya otaknya benar-benar kosong saat ini. Ia bahkan tak membawa hp atau dompetnya hanya terus berjalan begitu saja.

Tadi pagi ia mendapat telpon dari rektor Yonsei, universitasnya. Tiba-tiba saja pak Lee memberitaukan kalau beasiswanya dicabut. Tanpa ia ketahui kalau pada saat itu. Do Kyungsoo anak dari salah satu orang terkaya di Dunia, termasuk pemilik saham terbesar universitas Yonsei. Namja bermata bulat itu sedang duduk diatas meja pak Lee. Memaksa namja yang lebih tua dari nya itu untuk menelpon musuh besarnya.

“pak Lee, hmm,, aku punya permintaan untuk mu. Kau tau nanti malam natal, kan!”

“ne. Ada yang bisa ku bantu untuk mu?”

“hmm.. kau tau.” Kyungsoo menggeser posisi tubuhnya agar lebih dekat dengan pak Lee yang masih duduk di kursinya. “aku sangat tidak menyukai si China yang kau selalu kau banggakan itu!!”

“si..siapa maksud mu?”

“siapa lagi kalau bukan Xi.. Lu.. Han!” Kyungsoo mengeja nama itu kata per kata. “aku minta kau mencabut beasiswanya sekarang juga. Aku ingin cepat-cepat menendangnya ke Beijing.”

“tapi apa salah Luhan?”

“salah?!” Kyungsoo membuka mata besarnya lebar-lebar. “oh,, itu bukan urusan mu! Tapi pekerjaan mu saat ini, itu yang menjadi urusan mu. Kau tentu tau, aku selalu mendapat apa yang ku inginkan.” Kyungsoo tersenyum manis sambil mengedipkan matanya beberapa kali lalu tertawa pelan, ia merunduk. “bukankah begitu?” Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap mata pak Lee lekat-lekat. Kyungsoo bahkan mendengarkan langsung percakapan antara pak Lee dan Luhan.

“Oo.. annyeong Lee songsaengnim.”

“Luhan-sshi. Maaf saya menelpon tiba-tiba pagi ini.”

“ada apa Lee songsaengnim?”

“seperti yang kau ketahui. Nilai mu turun belakangan ini dan universitas kita juga sedang butuh dana. Sehingga kami harus mencabut beberapa beasiswa untuk para mahasiswa. Berhubung anda berkewarganegaraan China kami putuskan untuk mendahulukan mahasiswa negara kami. Sekali lagi saya mewakili universitas Yonsei terpaksa mencabut beasiswa anda. Mungkin di semester depan, jika IP anda naik, kami akan pikirkan untuk pemberian beasiswa kembali.”

Ttutt… tuutt…

Telpon nya terputus begitu saja. Kyungsoo tertawa puas setelah pak Lee selesai menelpon Luhan. Kyungsoo bangkit berdiri dari tempatnya, namja itu berbalik arah menuju pintu ruangan tersebut. Sebelum Kyungsoo memegang gagang pintunya. Ia menoleh sejenak ke kanan, melirik pak Lee.

“terimakasih karena sudah mau menyampaikan kado natal ku pada Luhan.”

Kyungsoo kembali melanjutkan langkahnya.

“kado natal seharusnya di buka besok pagi. Tapi aku ingin menghabiskan malam natal ini bersama Eunwoo. Dasar China berengsek..” gumam Kyungsoo sambil berjalan.

. . . . . . . . .

Luhan seorang namja yang tak pernah gagal dalam hidupnya. Ia selalu berhasil mendapat apa yang diinginkannya. Apa lagi mengenai pendidikan. Dari kecil ia selalu mendapat beasiswa. Ia akui kalau nilainya sedikit turun untuk semester ini tapi itu hanya bergeser sedikit sekali. IP nya turun 0.1 dari 4 apa itu sesuatu yang terlalu buruk sampai-sampai beasiswa nya harus dicabut. Lalu apa yang harus dia katakan pada orangtuanya? Luhan belum pernah merasa segagal ini dalam hidupnya.

Ia sadari kalau ia sedikit malas belakangan ini. Apa lagi pikirannya sedikit terganggu dengan sebuah kemampuan aneh yang baru ia dapat. Dia akui dia suka dengan kemampuan itu, sedikit(?) Dia memang tak bisa menggerakkan benda-benda besar atau sesuatu yang benar-benar akan diperhatikan orang lain. Tapi ia bisa mengerakkan benda-benda kecil tanpa melakukannya hanya dari pikiran saja. Seperti saat ia memainkan rubiknya. Tanpa Eunwoo sadari Luhan sama sekali tak menggerakkan tangannya ia hanya menyentuh rubiknya saja. Luhan berpikir untuk menggerakkannya dan rubik itu bergerak dengan sendirinya sesuai dengan keinginannya.

Atau . . bisa juga karena . .

Luhan juga manusia, tidak salah kalau ia punya rasa egois. Mungkin kegagalannya karena yeoja itu. Eunwoo. Selama ini Eunwoo selalu mengejarnya, mendekatinya dan Luhan tak pernah benar-benar memikirkan perasaan Eunwoo. Ia memang tidak menolak yeoja itu tapi bukan berarti ia menerimanya. Ia hanya ingin sekedar menghargai perasaan Eunwoo, itu saja dan nilainya tidak pernah turun. Lalu di akhir semester 3 atau lebih tepatnya sekitar 6 bulan yang lalu. Luhan mulai membuka hatinya untuk Eunwoo dan menjadikan yeoja itu milik nya. Ya, bisa saja itu menjadi alasan utama dari kegagalannya. Mempunyai yeoja saat masih kuliah bukanlah sesuatu yang baik. Kalau dipikir-pikir lagi Eunwoo memang mengurangi waktunya untuk belajar.

Langit sudah semakin gelap dan kini tenaga Luhan sudah benar-benar habis. Rasanya ia sudah kehilangan seluruh tulang penyangga dalam tubuhnya. Luhan menyerah, ia sudah tidak bisa berjalan lagi. Ia melihat kesekitar semua gelap hanya ada rerumputan dan sebuah jalan raya besar membelahnya. Dengan sisa tenaga yang ada Luhan berjalan menuju jalan raya. Dalam pikirannya Luhan ingin mobil besar itu mendekat. Ada cahaya yang begitu menyilaukan matanya dan bunyi klakson yang begitu keras. Sepertinya sang supir tidak bisa mengendalikan mobilnya.

Cciitt…… Drakk………bbum..brrlll..

Luhan terpental begitu saja, darah segar mengalir dari kepalanya. Semua mendadak gelap di mata Luhan. Tiba-tiba ia teringat janji nya dengan Eunwoo malam ini.

“maafkan aku Eunwoo.. aku tidak bisa datang..”

——~=.=~—–

 

Disini sekarang Luhan ada disebuah tempat yang aneh menurutnya. Semuanya putih, seperti berada didalam awan. Hanya saja terasa sangat luas sekali dan sangat terang. Luhan terduduk dan memikirkan sesuatu. Apa yang di pikirkannya menjadi kenyataan. Awan-awan disekitarnya bergerak merapat menjadi bulatan-bulatan padat dan bergerak kesana-kesini mengikuti alunan tangannya. Lalu Luhan mencoba menggerakkan yang lainnya dengan pikirannya. Berhasil, bahkan kini kemampuannya tidak terbatas, tidak seperti saat ia masih di bumi.

Sebuah cahaya yang sangat terang dan sangat berkilauan muncul tiba-tiba dan terdengar sebuah suara..

“Luhan kau bisa memilih sekarang.”

“kau lihat ke sebelah kiri.”

Luhan mengikuti perintah cahaya itu, ia menoleh ke sebelah kiri dan melihat Eunwoo berdiri disana dengan sebuah kado berbungkus ungu.

“dan kalau kau berbelok ke kanan, kau akan tetap memiliki kekuatan itu. Menjadi seorang malaikat.”

Luhan melirik sekali lagi ke arah Eunwoo yang menatapnya. Lalu Luhan kembali mencoba kemampuannya.

“menjadi manusia bukanlah hal yang mudah.”

Luhan berjalan berbelok ke kanan tanpa menoleh sekali lagi pada Eunwoo yang sedang menangisi nya.

Setelah masuk ke kanan. Luhan kembali menemukan cahaya yang sangat terang dan sangat berkilauan itu kembali berbicara padanya.

“sekarang saat nya kau mengingat siapa kau sebenarnya.”

“dulu kau adalah malaikat yang selalu didekat ku. Mengatur kejadian-kejadian yang ada di bumi bersama ku. Seorang malaikat telekinetis. Lalu kau meminta ku untuk merasakan cinta murni seorang manusia. Sudah ku katakan pada mu sebelumnya. Malaikat akan tetap menjadi malaikat. Naluri mu adalah malaikat. One chance it’s more than enough for you, to show it! Pada akhirnya kau tetap memilih kemampuan mu menjadi malaikat telekinetis dari pada cinta seorang manusia. Sekarang kembalilah, jalankan tugas mu seperti sebelumnya. Semua yang kau alami di bumi akan ku hapus dari ingatan mu. Segala yang pahit akan kau rasakan perlahan sebagai akibat dari perilaku buruk mu terhadap yeoja itu.”

“selamat datang kembali malaikat telekinetis ku.”

 

Flash back : off

——~=.=~—–

 

Meskipun dia tidak ingat semuanya. Tapi kini setidak Luhan sudah tau siapa yeoja itu. Sekarang ia ingat suara yang selama ini ingin didengarnya dan wajah seperti apa yang selalu membayanginya. Tuhan benar, ia sudah menyianyiakan kesempatan yang sudah diberikan untuknya. Satu kali memang lebih dari cukup untuk membuktikan perkataan Tuhan.

Dimalam menjelang pergantian natal ini, Luhan menghampiri Xiumin yang sedang menurunkan salju lebat ke bumi.

“hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Xiumin tanpa memalingkan wajahnya pada Luhan.

“ehm..” Luhan mengangguk pelan sambil melihat ke bumi. Mungkin ia dapat melihat wajah yeoja itu lagi.

“kalau kau merindukannya. Kenapa tidak mengunjungi nya?”

“memang aku bisa?”

“bukankah beberapa ingatan mu sudah dipulihkan?”

“ne. Karena itu aku juga bingung. Seingat ku Tuhan bilang akan menghapus semua ingatan ku selama di bumi lalu sekarang kenapa Ia memberikan ku ingatan itu?”

“kau tau dengan sangat jelas, Tuhan selalu punya alasan dibalik setiap perkara. Turunlah, tengok dia. Siapa tau itu bisa mengobati sakit di hati mu.”

Xiumin menoleh pada Luhan, memberikan senyum semangat pada chingu nya itu. Luhan menarik nafasnya panjang, berusaha menahan air mata nya. Ia tidak ingin menangis saat melihat yeoja itu nanti.

Luhan melebarkan sayap putihnya dan turun ke bumi dan dalam sekejap ia sudah berada di sebuah gereja yang sangat familiar untuknya. Dari bangku jemaat yang paling ujung Luhan dapat melihat dengan jelas siapa yeoja yang sedang berdoa didepan altar. Luhan berjalan pelan menghampiri yeoja itu lalu menyentuh bahunya. Yeoja itu menoleh tanpa bisa melihat Luhan yang ada didepannya. Kemudian yeoja itu kembali melanjutkan doa nya.

Luhan membuka sayap nya lebar. Ia memeluk yeoja itu dari belakang, menutupi tubuh yeoja itu dengan sayapnya yang sangat terang dengan cahaya berkilauan. Menjatuhkan lututnya didepan altar. Luhan menjatuhkan kepalanya diatas kepala yeoja itu. Ia memejamkan matanya. Mereka berdoa bersama-sama.

“Bapa.. andaikan aku tau apa yang Kyungsoo lakukan pada Luhan oppa lebih awal..
Maafkan aku yang tak mengerti perasaan nya yang sedang hancur hari itu.. hiks.. hiks..
Seharusnya aku ada disamping, menghiburnya hari itu.. andaikan saja aku tau..
Aku harap dimanapun dia berada saat ini. Luhan ku baik-baik saja.
Tolong jaga dia untuk ku, Bapa. . hiks.. aku mohon..
Jika aku boleh meminta..
buat aku percaya kalau Santa Claus itu ada Bapa. .
aku ingin dia memberikan Luhan oppa untuk jadi kado ku besok pagi..
Bolehkah? ”

“aku datang pada Mu, Bapa . .
aku harap dia punya kehidupan yang lebih baik setelah kepergian ku. .
dia terlihat semakin manis dan bertambah cantik. .
aku harap Kau memberikan kesehatan untuk nya, Bapa. Dia tampak begitu kurus
aku ingin Kau memberikan apa yang dia pinta.
Tapi kalau pun tidak, buat dia agar bisa menerima nya. .
karena tidak semua yang terlihat manis itu manis
dan yang terlihat buruk itu buruk
aku tau rencana Mu yang terbaik, Bapa. .”

Ccrrekkk..

Seseorang membuka pintu. Luhan melepas pelukannya dan berdiri disamping Eunwoo yang masih berdoa. Namja itu berjalan dengan cepat lalu memeluk Eunwoo didepan Luhan. Namja itu sudah tidak tahan lagi dan menangis di bahu Eunwoo.

“maafkan aku.. maafkan aku Eunwoo-ya. Kau boleh memukul ku.. kau boleh menyiksa ku.. tapi kita pulang sekarang. Jangan siksa diri mu sendiri.”

Eunwoo berbalik dan menangis didalam dekapan namja itu sedangkan Luhan mencoba tersenyum melihatnya. Meskipun sakit, ia ingin tersenyum untuk kebahagian yeoja yang dicintainya. Mungkin namja itu yang lebih pantas untuk Eunwoo daripada dirinya.

“Kyungsoo-ya, hiks.. hiks.. hmpphh.. aku harus menemukannya! Aku harus menemukan Luhan oppa..”

Luhan ikut menangis dan kembali terbang ke langit meninggalkan yeoja nya bersama namja lain.

“aku akan selalu memperhatikan mu dari atas sana Eunwoo-ya. Merry Christmas nae sarang”

——~=.=~—–

 

Eunwoo pov,

 

Aku bangun terlambat di pagi natal ini, mungkin karena kemarin malam aku menghabiskan waktu terlalu lama di gereja. Aku segera berlari menuju ruang tengah tempat ku letakkan pohon natal ku disana. Apa Tuhan mengabulkan doa ku?

Tidak ada satupun kado dibawah pohon natal ku. Aku hanya sendirian di apartemen ku, sampai hp ku berdering. Entah kenapa aku tiba-tiba takut mengangkat telpon itu. Tapi ku beranikan diri untuk menjawabnya..

No!! No!! No!! It can’t happened!!

Aku tidak peduli meski aku hanya mengenakan piyama saat ini, aku bahkan belum ke kamar mandi. Setidaknya ada mantel yang melindungi ku dari udara yang dingin. Aku berlari secepat mungkin menuju apartemen Luhan oppa. Begitu aku membukanya, disana aku langsung menemukan kedua orang tua oppa yang sedang duduk menunggu ku.

Aku bingung.. ada apa? Kenapa mereka menitikkan air mata.. dan menyodorkan sebuah kado berwarna ungu didepan ku. Mana,, mana Luhan oppa? Apa yang mereka katakan dalam telpon itu bohong kan!

“Eunwoo,, ibu minta maaf. Baru 6 bulan yang lalu kami menerima kabar Luhan meninggal setelah koma 6 bulan akibat kecelakaan. Luhan tertabrak truk sehari sebelum natal tahun lalu. Maafkan ibu sudah melupakan mu. Ibu hanya tidak ingin kau sedih. Ibu pikir lebih kau menganggap Luhan telah meninggalkan mu. Jadi kau akan lebih mudah menemui namja lain yang lebih cocok untuk mu. Hiks.. tapi.. tapi beberapa hari lalu Luhan muncul didalam mimpi ibu. Ia ingin ibu memberikan kado natal nya untuk mu.. hiks..”

“kado ini?”

“sepertinya itu kado natal yang ia siapkan untuk mu tahun lalu..”

Aku membuka kado itu. Oppa bahkan membungkusnya sangat rapih dan cantik, ada pita berwarna ungu muda diatasnya membuat ku tak tega merobeknya. Akhirnya ku buka selotipnya pelan-pelan hingga ku temukan sebuah kotak putih didalamnya. Ku buka kotak itu.

Ada sebuah mini dress berwarna ungu dan beberapa produk kecantikan.

Tunggu,,

Aku ingat dress ini. Kalau tidak salah, dress ini yang dijual di boutiq dekat perampatan. Dress yang pernah ku singgung sedikit saat kami melewati toko itu. Aku pikir oppa tidak mengingatnya.. lalu ku temukan sebuah kartu natal terselip diantara lipatan dress itu.

‘apa kabar?

Merry Merry Christmas^^

Aku harap kau punya kehidupan yang lebih baik

maafkan oppa yang masih tidak menyadari besar nya cinta mu pada ku

cinta mu sangat berharga bagi ku

Wu ai ni Jung Eun Woo’

 

“oppa!! Luhan oppa!!”

Aku menangis sambil terus memanggil namanya..

Tapi dia tak pernah datang. .

 

Just like hope a miracle in Christmas..

My love has gone..

For my eternity love

‘Wu Ai Ni’ too. .

 

End….

 

Hahaha!! OMG end.. fiuh..fiuh.. ohookk.. ohookk..

Author bikin happy ver nya ada yg mw ga??

Kalau iya biar author kirim.. komen ya..

Kurang sad ya.. maaf Cuma ada ini dipikiran author yang lagi sengklek..

Seharusnya penuh air mata ya,, tapi author selalu gagal bikin kalian nangis..

Author janji next time,, I’ll make sure you guys to crying..  o^_^o

 

8 thoughts on “FF : One Chance it’s more than Enough

  1. deasyfang2 berkata:

    Huaaaaaa…!!! Ni ff bikin aku nangis nih… Sampe diliatin sama ortu&oppa&eonni aku…
    Bikin happy endingnya dong, eon.. Pliss
    Lanjutin ya, eonn.. Hwaiting!

  2. Gya~ berkata:

    Wahhh FF nya sedih… Huhuhuhu T.T
    Ini semacam Song Fic gitu kan Thor?? Miracle in December…
    Mau dong Thor kalo ada Happy Ending Ver ;33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s