FF: DARK chapter 3

IMG-20131114-WA0002

Title: Dark chapter 3

Author: Exowie

Main Cast: Baekhyun & Chanyeol Exo

Support cast: Tuan & nyonya Byun, Sanjeong, Bomi, Gina (support cast semua OC)

Genre: family, friendship, life

Rate : PG-17

Length: Chapter

@@@

Pemuda jangkung terlihat tengah duduk di sofa ruang tamunya. Pandangan matanya sibuk mengamati sebuah objek yang berada di depannya. Sesekali tangannya menggeser mouse yang ia pegang. Tangan kirinya ia gunakan sebagai penyangga dagunya, dan senyuman tipis itu terukir di wajah periangnya.

“Tunggu saja, setelah aku selesei kuliah dan bekerja, kau pasti akan kudapatkan.”

Ujarnya pada sebuah gambar mobil sport merah yang terpampang pada layar laptopnya.  Bibirnya terus saja sibuk membaca informasi yang tertulis disana. Tanpa menyadari seorang lelaki berdiri tepat dibelakangnya dan melihat semua yang tengah ia lakukan.

“Chanyeol-ah, kau menyukai mobil itu?” Sapanya ramah.

Suara lelaki itu terdengar di telinga Chanyeol. Membuat mood yang tadinya bagus seketika itu  juga menjadi berantakan. Chanyeol menutup laptopnya kasar.

“Bukan urusanmu.”

Jawabnya dingin tanpa menoleh ke arah lelaki itu berdiri. Sorot mata yang tadinya berbinar senang menjadi sorot yang tajam, memang tak pantas ia tunjukkan mengingat kesehariannya yang ceria. Namun itulah Chanyeol yang sekarang, dia benar-benar tak suka dengan lelaki itu. Tak pernah ia bersikap ramah ataupun sopan pada teman oemanya. Meskipun berkali-kali oemanya telah memperingatkannya, tak pernah ia mau merubah sikapnya.

“Boleh aku duduk?”

“Jangan harap aku mau duduk dekat denganmu.”

“Chanyeol! Kau tak boleh seperti itu.”

Gina, yang baru masuk mendengar dan melihat sikap Chanyeol barusa sedikit berteriak.  Ia menghampiri dan berdiri tepat di depan Chanyeol. Sungguh tak suka melihat anaknya kurang ajar seperti itu pada orang yang ia cintai.

“Oema harus bilang berapa kali ke kamu. Hargai orang yang lebih tua, kamu tahukan dia jauh lebih tua dari kamu?”

“Harus dihargai berapa?”
Chanyeol berdiri, mensejajarkan pandangannya pada orang di depannya.

Melihat sikap anaknya seperti itu, Gina naik pitam. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menampar Chanyeol karena terbawa emosi . Namun lelaki yang berada di belakang Chanyeol segera menahan tangannya hingga tak sampai mendarat di pipi mulus Chanyeol.

“Sudahlah Gin, kamu jangan main kekerasan seperti ini.” Ucapnya sambil menahan tangan Gina yang brontak.

“Aku tak mengapa jika ditampar. Karena itu jauh lebih baik dari pada aku harus berbaik hati padamu. Dan kau tak usah membelaku.”  Chanyeol berdesis dan memandang tajam ke arah laki-laki di depannya. Tak ada sedikitpun rasa takut dalam dirinya.

“CHANYEOL !!”

Gina berteriak frustasi menghadapi kekeras kepalaan putranya. Ia tak sanggup lagi berbicara, lidahnya kelu untuk berucap, bahkan sepatah katapun tak berhasil keluar dari mulutnya. Chanyeol memandang tepat di tengah manik mata coklat  oemanya. Tak begitu tajam namun masih dengan pandangan tak bersahabat yang ia keluarkan.

“Oema, aku akan menghormati orang yang lebih tua dariku, namun pengecualian untuk dia.” Chanyeol sengaja menekankan kata ‘dia’  lebih keras dan menoleh sekilas ke lelaki yang amat dia benci. Lalu segera bergegas pergi meninggalkan oemanya yang tengah melotot dan berteriak hebat kearahnya.

“Sudahlah, jangan emosi. Kau harus tenang.” Lelaki itu mengelus pelan pundak Gina yang saat ini tengah bergetar karena tangis. Lalu merengkuhnya masuk ke dalam pelukannya.

“Maafkan Chanyeol ya, dia masih belum bisa menerima kehadiranmu.” Ucap Gina disela isaknya.

“Aku tahu. Dan kau tak usah memikirkan hal itu. Karena ada hal yang harus kau pikirkan selain ini kan?”

Gina hanya mengangguk menanggapi ucapan orang yang memeluknya saat ini. Sedikit bersyukur karena ia sama sekali tak marah meskipun sikap yang diberikan Chanyeol padanya tak begitu baik.

@@@

“Gak oppa, punya ku jauh  lebih bagus dari pada usul yang kau berikan.”

“Bagus dari mananya, jelas-jelas usul ku lebih bagus darimu Bomi, sudahlah kau mengalah saja.”

“Tidak mau. Pokoknya aku mau punyaku yang nanti kita pakai.” Jawab Bomi sewot dan memajukan bibirnya.

Di ruang keluarga itu duduk pasangan suami istri. Siapa lagi kalau bukan Sanjeong dan Bomi. Keduanya tengah berdebat dengan pendapat mereka masing-masing. Sama-sama keras kepala, sama-sama tak mau mengalah. Televisi yang tadinya mereka lihat, mereka biarkan menyala. Menonton adu mulut yang sebenarnya disebabkan hal sepele.

Baekhyun yang tadinya hendak pergi ke kamar menghentikan langkahnya ketika mendengar suara gaduh. Menghampiri pasangan itu dan duduk di depan mereka. Matanya sibuk memandang ke arah sumber suara secara bergantian. Namun lama-lama lelah juga karena sepertinya mereka tak akan berhenti dengan perdebatan pendapat mereka masing-masing.

“Kim Misan oppa….”

“Kim Sanboom lebih bagus pokoknya titik.”

Baekhyun semakin gemas saja melihat tingkah dua orang di depannya. Pasalnya kini adu mulut itu berkembang menjadi saling mencubit pipi lawan mereka masing-masing. Terlihat seperti anak TK yang bertengkar. Meskipun Baekhyun tahu cubitan itu takkan sakit, karena semua itu hanya cubitan gemas.

“Ya! Kalian ini memalukan sekali. Apa yang kalian lakukan.” Bentak Baekhyun.

“Ah…Baekhyun-ah, untung kau di sini. Kau tahu kan siapa saudara kandungmu yang sebenarnya.” Bomi yang melihat Baekhyun duduk di depannya segera menghampirinya dan duduk disampingnya. Menarik kedua tangannya yang tadi ia gunakan untuk mencubit pipi suaminya.

“Baekhyun-ah meskipun aku bukan saudara kandungmu, kau tahu kan aku adalah hyung yang baik padamu.” Sanjeong ikut-ikutan Bomi bicara dan duduk di samping Baekhyun juga.

Jadilah kini Baekhyun duduk diapit oleh Sanjeong dan Bomi. Sedikit bingung dengan dua orang disampingnya. Baekhyun memutar kepalanya ke kanan dan kiri untuk melihat wajah Bomi dan Sanjeong.

“Kalian kenapa, sakit? Aneh banget.” Seru Baekhyun.

“Karena kamu adalah adik kandung noona, kamu harus setuju kalau nama Kim Misan itu lebih bagus.”

“Jangan dengerin Baek, meskipun kau hanya adik iparku, kau harus dukung hyung kalau nama Kim Sanboom jauh lebih bagus.”

Baekhyun semakin bingung dengan jawaban dari keduanya. Karena tak ada yang menjawab  sesuai pertanyaan yang ia berikan.

“Gak! Baekhyun pasti milih Kim Misan.”

“Siapa bilang, dia pasti milih Kim Sanboom.”

Terjadilah percek-cokan lagi diantara keduanya. Baekhyun ingin sekali menendang dua-duanya agar menjauh dari telinganya. Karena mereka berdebat tepat berada di depan telinganya.

“Ya! Kalian ingin membuatku tuli,” Baekhyun membentak dan berhasil membuat keduanya diam,”sebenarnya kalian meributkan apa?” Tanyanya lagi.

Bomi melirik ke arah Sanjeong yang tak berniat angkat bicara, akhirnya memutuskan untuk menjelaskannya sendiri pada Baekhyun.

“Beberapa hari yang lalu aku memeriksakan kandunganku. Tapi karena aku penasaran dengan jenis kelaminnya, sekalian aja aku USG-in. Dan ternyata anak aku nanti berkelamin laki-laki. Sekarang kita lagi cari nama yang bagus untuknya kelak jika sudah lahir. Tapi oppa tidak setuju dengan usul nama yang aku berikan.”

“Bagaimana mau setuju, orang usulku jauh lebih bagus.” Sanjeong langsung menyerobot ucapan Bomi. Tak mau jika nanti Baekhyun membela usulan nama yang diberikan Bomi.

Sementara Baekhyun hanya manggut-manggut mengerti. Mencoba mencairkan suasana yang kini diisi oleh lirikan sinis antara noona dan hyung-nya yang duduk disebelah kanan dan kirinya.

“Jadi hanya karena itu kalian ribut?” Tanyanya.

“Iya, bagaimanapun juga dia adalah anakku.”

“Tapi aku yang mengandung.” Potong Bomi cepat.

“Sudah, sudah kalian ini seperti anjing dan kambing saja, apa-apa selalu ribut.”

“Kucing kale….  ”

Bomi dan Sanjeong meralat ucapan Baekhyun bersamaan. Sementara Baekhyun hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Iya ya. Terserah apa kata kalian, ” Baekhyun menopang dagu. “bagaimana kalau aku juga mengusulkan nama. Nanti kalian tinggal pilih, mana yang menurut kalian bagus.”

Bomi dan Sanjeong, keduanya kelihatan berpikir sejenak. Mungkin usul dari Baekhyun tidak begitu buruk. Kalau Baekhyun punya usul yang bagus ya dipakai, kalau tidak ya tidak usah memakainya kan beres. Maka dari itu keduanya menganggukkan kepala menyetujui ide Baekhyun.

“Bagaimana dengan Park Junsu.”

“MARGANYA KIM BAEKHYUN-AH BUKAN PARK!”  Teriak Bomi dan Sanjeong bersamaan.

“Benarkah? Oh ya benar, mungkin karena begitu mengidolakannya aku pada orang itu hingga terbawa ke kehidupanku dan lupa deh jadinya hehe…,ya sudah lanjut….”

Baekhyun tak menghiraukan kedua kakaknya yang meradang karena kesalahan ucapan yang baru dikeluarkannya. Langsung melanjutkan kalimat yang tadi sempat terpotong.

Meskipun sedikit jengkel dengan Baekhyun, Sanjeong dan Bomi kembali mendengarkan usul dari adiknya. Dan kesabaran mereka untuk tak membungkam mulut Baekhyun dengan sendal sedang diuji dari sekarang.

“Kim !” Baekhyun memulai, ” bagaimana kalau Kim Minseok, kalian tahu, dia itu berumur lebih tua dariku tapi aku tak tahu mengapa wajahnya tak terlihat setua umurnya. Masih  terlihat seperti anak SMP saja dan itu membuatku iri setengah mati. Atau kalau tidak Kim Junmyeon saja. Dia adalah anak yang terkenal pandai di Universitasku. Dia termasuk mahasiswa yang disegani karena kepandaiannya. Eh, tapi jangan deh, takutnya nanti sepupuku jadi kutu buku dan terlihat culun lagi. Kim Jongdae, ya! Mungkin itu lebih bagus. Dia adalah temanku yang menjadi juara satu diperlombaan bernyanyi yang diadakan di Seoul dua bulan lalu. Suaranya benar-benar bagus dan mampu mencapai nada tinggi. Tapi sayang, dia cerewet jangan itu deh. Kalau Kim Jongin menurutku tidak begitu buruk. Bagus malahan, karena dia banyak disukai yeoja karena karisma yang ia miliki ketika nge-dance. Dance-nya benar-benar T.O.P. Aku sebagai teman dan sesama namja saja kagum dengannya. Tapi sayang kulitnya gelap hahaha….”

Baekhyun terus memberikan usul nama yang menurutnya bagus. Namun sepertinya bukan usul, tapi lebih mengarah ke nama teman- teman yang bermarga Kim yang dia punya. Menyebutnya satu-satu dan tak ketinggalan komentar mengenai orang yang ia sebutkan.

Khusus untuk Kim Jongdae, Bomi juga Sanjeong tak habis pikir dengan Baekhyun. Bagaimana bisa dia mencibir orang itu cerewet sedangkan dia sendiri lebih parah dari teman yang ia sebutkan. Meskipun mereka berdua belum mengenalnya. Namun mereka berdua berani bertaruh bahwa tak ada yang bisa mengalahkan seorang Byun Baekhyun jika sudah berbicara panjang lebar seperti sekarang.

Bomi dan Sanjeong terlihat menyesal. Menyesal karena sudah mengiyakan ide yang dibuat Baekhyun. Mereka berdua hanya bisa pasrah mendengar kalimat yang kluar dari mulut Baekhyun yang tidak pernah bertemu tanda titik.

“Harusnya kita tahu ini lebih awal” mungkin itulah arti pandangan mata mereka saat bertemu. Meninggalkan Baekhyun dan duduk di sofa yang sebelumnya mereka tempati.

“Aku sudah tidak punya ide lagi ni. Hyung juga sih, mengapa harus bermarga Kim, coba Lee pasti lebih banyak ide yang aku keluarkan” Baekhyun masih menganggap semua nama yang ia sebutkan itu adalah ide dari otaknya.

“Kalau misalnya Lee ya, kasih nama Lee Donghae aja, biarpun orang mengatainya ikan dan pendek yang penting dia itu tampan dan juga jago nge-dance. Dan aku punya lagi, Lee Soman hahaha…  kalian harus setuju dengan nama itu. Meskipun sekarang dia sudah menyandang julukan Haraboeji. Dan perlu kalian ketahui, dia adalah orang yang cukup kaya raya di antereo Korea ini karena usahanya yang sukses.”

Berani bersumpah, Sanjeong dan Bomi sudah mengepalkan tangannya kuat. Menahan kesabaran mereka untuk tak menonjok Baekhyun yang bicaranya sudah keluar dari jalur. Dan ketika itu juga mereka melihat seseorang masuk ke dalam rumah dengan muka yang lesu tak bersemangat.

“Chanyeol….” Ucap mereka berdua bersamaan.

“Ha…?? Aku tak salah dengar kan. Kasihan sekali sepupuku nanti jika harus mendapat nama itu. Apa bagusnya Chanyeol. Ya sih aku akui dia itu tinggi dan tampan, tapi tampanan juga aku kemana-mana. Dan apa kalian lupa ekspresi wajah bodohnya yang sering ia pasang, membuat orang yang melihatnya ingin tertawa hahahaha….”

Baekhyun terus saja mengolok nama Chanyeol tanpa mengetahui bahaya segera menghampirinya. Sedangkan Sanjeong dan Bomi hanya tersenyum karena mereka tahu penderitaannya akan segera berakhir. Chanyeol yang baru tiba dan tak tahu apa-apa kini sudah berdiri dibelakang Baekhyun dengan berkacak pinggang. Mendengar semua yang Baekhyun katakan mengenai dirinya.

“Pokoknya aku tak setuju, aku rasa otak kalian sudah terbalik jika memilih Chanyeol. Dan juga aow….!!” Baekhyun menghentikan ucapannya dan berbalik ke belakang untuk mengetahui siapa yang sudah memukul kepalanya. Terlihatlah orang yang sedari tadi ia olok-olok tanpa ampun sedang menatapnya tajam dan tangannya ia taruh di depan dada.

“Eh Chanyeol, apa kabar? Sudah lama?” Pertanyaan bodoh muncul dari mulut Baekhyun.

“Sudah cukup lama untuk mendengar semua ucapanmu. Dan mengapa sekarang berhenti, ayo lanjutkan lagi.”

Baekhyun yang mendapat jawaban seperti itu dari Chanyeol hanya bisa nyengir kuda. Dia sudah tahu akan jadi apa nasibnya hari ini.

“Aha…ha…ha!” Baekhyun  hanya bisa tertawa kikuk.

“Beraninya ya kau Byun Bacon. Rasakan ini.” Chanyeol mulai mengibarkan bendera perang dan menyerang Baekhyun.

“Ya ampun…  ampun…  ampun Yeol. Gak lagi deh. Suer!”

Baekhyun meronta ingin lepas dari tangan Chanyeol yang mencekik lehernya. Bukan sakit yang ia rasakan, tapi lebih ke geli. Ia tak tahan jika ada orang yang memegang tengkuknya. Dan Chanyeol tahu hal itu. Sengaja ia meniupkan udara dari mulutnya keleher belakang Baekhyun. Dan jadilah sekarang Baekhyun menggelepar ke lantai karena geli.

Sanjeong dan Bomi puas. Bukan menolong justru memberi semangat pada Chanyeol yang terus melakukan aksinya menganiaya Baekhyun tanpa ampun. Meskipun mereka tahu kini Baekhyun sudah mengeluarkan air mata karena terus tertawa geli.

“HANCURKAN BAEKHYUN YEOL….HAHAHA.” Seru Bomi membara.

“JANGAN KASIH AMPUN  BAEKHYUN, AKU AKAN JADI PENDUKUNG SETIAMU.” Sanjeong ikut-ikutan Bomi angkat bicara. Tangannya ia kepal-kepalkan ke udara untuk menambah semangatnya.

Ramailah ruangan itu yang tadinya hanya diisi oleh celoteh Baekhyun yang sama sekali tak berguna. Bagai dua orang suporter terus bertepuk tangan menyemangati idolanya supaya terus maju mengalahkan lawan.

@@@
Mentari telah lelah bersinar. Pancaran sinarnya kini telah diganti oleh terangnya lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut jalan dan perumahan kota. Desiran angin di musim panas sedikit mengurangi pengap dan gerah yang ada.

Seseorang yang tengah berbadan dua mengelus perutnya pelan. Bukan karena buah hati yang ia kandung tengah menendang-nendang perutnya dari dalam, meski saat ini hal itulah yang ia rasakan. Namun terlebih pada sesuatu tengah bergelayut dalam pikirannya.

“Aku kok jadi ingin makan ubi bakar ya.”

Baekhyun melirik sekilas ke arah Bomi yang baru saja duduk disampingnya. Lalu kembali berkutat dengan layar ponsel yang sedari tadi ia mainkan.

“Ya makanlah, gitu aja repot.” Jawab Baekhyun dan ditanggapi Bomi dengan lirikan sewot.

“Memang di rumah ada?”

“Memang di rumah tak ada?”

Baekhyun hanya mengoper pertanyaan yang diajukan Bomi untuknya. Membuat Bomi ingin menelannya hidup-hidup.

“Kalau saja ada pasti aku segera memakannya tanpa harus mengeluh.”

“Bukannya hyung belum pulang?”

“Maksudmu?”

“Telpon saja dia, suruh beli dan sekalian aku nitip.”

Bomi mengangguk mendengar penjelasan Baekhyun yang tumben masuk akal. Namun ujung-ujungnya tetap, minta gratisan.

“Ya sudah mana HP-mu.”

Baekhyun menyerahkan ponsel yang ia pegang pada Bomi. Melihat kakaknya yang tengah mencari nama suaminya di ponsel miliknya. Tak berapa lama Bomi menemukan Sanjeong hyung tertulis di daftar kontak dan menekannya. Bomi mengerutkan dahinya. Sementara Baekhyun hanya menahan tawanya yang ingin keluar dan menunggu reaksi dari kakaknya.

“Ya Baekhyun-ah HP apa ini. Luarnya saja bagus tapi isinya gak banget.” Bomi jengkel mendapati bukan suara suaminya yang ia dapat, namun suara operator yang memintanya untuk segera mengisi ulang pulsa yang sudah habis. Dan dengan seenaknya melempar ponsel itu kepangkuan Baekhyun.

“Apa yang noona lakukan?! Noona tidak tahu betapa menderitanya aku dulu sewaktu  ingin membelinya!” Baekhyun tidak terima dengan perlakuan Bomi, dan mengelus ponselnya sayang.

“Menderita apa?” Tanya Bomi mengerutkan kening.

“Aku harus menabung dari jatah bulanan yang dikirim oema sehingga aku tersiksa karena tidak bisa keluar untuk tidak boros.”

“Cih ! Gak usah sok menderita,” Bomi melihat Baekhyun malas.” Kau kira aku tak tahu kalau jatah bulanan yang dikirim waktu itu dua kali lebih banyak dari bulan sebelumnya.”

“Kok noona tahu, eh… !” Baekhyun menutup mulutnya yang keceplosan dan tertawa garing ke arah kakaknya.

“Ya tahulah, orang oema waktu itu nyuruh aku yang transfer.” Jawab Bomi sewot.

“Ow…. Yaudah pakek ponsel noona saja.” Baekhyun mengalihkan pembicaraan supaya Bomi lupa dengan masalah yang baru mereka bahas. Bukannya membalas, Bomi justru bertanya balik dan tersenyum ke arah Baekhyun.

“Punyaku ? Hehehe… sama…. ”

“Sama apanya?” Baekhyun tak mengerti.

“Gak ada pulsa juga.” Jawab Bomi tanpa rasa malu.

“Ya! Kalau punyamu juga tidak ada pulsa kenapa harus mencibir punya orang lain.” Baekhyun serasa di atas angin untuk bersikap kurang ajar mendapati kakak yang mengoloknya bernasib sama dengannya. Mengeluarkan tatapan maut yang ia punya ke arah Bomi.

“Ah… sudahlah, yang harus kita pikirkan sekarang tu bagaimana bisa menelpon oppa.” Bukan Bomi namanya kalau tak bisa mengatasi suasana yang memojokkannya sekarang. Membuat Baekhyun hanya bisa mendengus kesal dengan kakaknya yang bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.

“Ngiler-ngiler deh itu anak nanti.” Ujar Baekhyun santai.

“Jahat banget sih, memangnya kamu mau punya keponakan yang suka berliur terus gitu?”

Baekhyun diam tak menjawab. Mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan itu.

“Pakai itu saja.” Baekhyun menunjuk dengan dagu yang ia arahkan ke depan. Bomi sekilas melihat Baekhyun dan tatapannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di depan televisi tak jauh dari mereka duduk.

“Benar juga.”

Bomi bangkit dan bersemangat mengambil ponsel itu. Diraihnya dan langsung mengetik sederet angka di sana. Menempelkan ponsel itu ketelinganya dan menunggu suara disebrang menjawab panggilannya. Namun belum sempat ia berbicara seseorang merampas ponsel itu dengan kasar dan membuat rambutnya sedikit tertarik.

“JANGAN MEMAKAI BARANG YANG BUKAN MILIKMU, ITU TIDAK SOPAN NAMANYA.” Tuan Byun melotot ke arah Bomi dan meninggikan suaranya. Lalu pergi meninggalkan Bomi yang masih mematung di tempatnya dengan langkah kaki panjangnya.

Tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan, Baekhyun langsung berdiri dan menghampiri Bomi. Menatap kakaknya dan bertanya sedikit khawatir.

“Noona tidak apa-apa kan?”

Bomi membalas tatapan Baekhyun dan tersenyum. Mengangguk seolah memberi jawaban kalau dia baik-baik saja. Meskipun terlihat dari raut mukanya yang masih kaget dan terkejut.

“Aku mau ke belakang saja.” Ucap Bomi dan berlalu meninggalkan Baekhyun sendiri.

@@@

Baekhyun membaringkan  badan di atas ranjangnya, mencoba memejamkan mata. Membalikkan badan ke kanan dan kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Namun seberapa keras ia mencoba larut ke alam bawah sadarnya, tetap saja ia tak bisa. Pikiran-pikiran itu tetap ada. Menggerayangi sel-sel dalam otaknya.

Yang ada dalam pikirannya hanya satu, tentang kejadian yang baru ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Baekhyun tak habis pikir dengan appa-nya yang membentak Bomi hanya karena memakai ponselnya. Baekhyun tahu betul kalau appa-nya sangat menyayangi Bomi. Bahkan dibandingkan dengannya appa-nya lebih menyayangi kakaknya. Dulu dia sempat cemburu dengan kasih sayang yang Bomi dapatkan dari appa-nya. Tapi seiring waktu berjalan ia bisa menerima itu. Toh Baekhyun juga punya oema yang sangat menyayangi dan memanjakannya.

Bangkit dan mengacak rambutnya gusar, ia berjalan mondar mandir dalam kamarnya. Menjatuhkan diri duduk di kursi belajarnya.

“Aku butuh seseorang.” Ujarnya. Lalu meraih ponsel di atas meja depannya. Mencoba mencari nama Chanyeol di sana. Mungkin dia lupa kalau ponselnya saat ini tidak ada pulsanya.

“Sial !!” Umpatnya. Lalu membanting ponselnya ke kasur dan berdiri lagi. Kali ini ia menatap foto keluarga yang terpajang di dinding kamar. Foto yang diambil sewaktu ia lulus SMA dulu. Terlihat appa dan eoma-nya yang berdiri mengapitnya di tengah-tengah.

“Appa! Jahatkah aku jika aku mempunyai pikiran yang tidak-tidak tentangmu.”

Baekhyun mengusap foto itu dan menatapnya sedikit lama. Tak mau terus tersiksa dengan pikirannya, Baekhyun memutuskan keluar kamar dan berjalan keluar rumah.

Langkah-langkah panjangnya membawa ia sampai ke rumah Chanyeol. Saat ini ia butuh teman untuk berbagi. Teman untuk menghilangkan semua pikiran yang bersarang di otaknya.

Karena malam sudah menunjukkan pukul sepuluh, pintu rumah itu sudah di kunci. Baekhyun tanpa pikir panjang mengetuk pintu itu. Karena dia yakin orang di dalamnya belum tidur terdengar dari suara televisi yang masih menyala. Tak berapa lama pun pintu terbuka. Memperlihatkan sesosok lelaki yang cukup tinggi berdiri membukakan pintu.

“Mau mencari Chanyeol?” Sapanya.

“Iya.” Jawab Baekhyun sembari sedikit membungkuk sopan dan tersenyum.

“Dia ada di kamar masuklah.”

“Oh iya trima kasih.” Baekhyun sekali lagi tersenyum dan di balas oleh lelaki itu dengan ramah.

Baekhyun tak habis pikir mengapa Chanyeol membenci lelaki itu. Bukannya dia adalah laki-laki yang terlihat cukup baik dan ramah? Baekhyun memang tak begitu mengenalnya. Karena selama ia di rumah, ia jarang bertemu dengan lelaki itu sewaktu bermain ke rumah Chanyeol. Karena lelaki itu tak selalu ada di sana.

“Bodoh! Kenapa aku jadi mikirin hal lain.” Umpat Baekhyun dalam hati sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Sampai di depan pintu kamar Chanyeol, Baekhyun tidak mengetuk pintu. Langsung saja memutar knopnya dan masuk ke dalam. Tak menggubris kalau saja nanti sang pemilik protes akan sikapnya. Peduli apa Baekhyun tentang hal itu. Bukannya Chanyeol sendiri  sering melakukan itu padanya.

“Aku sudah bilang kan tadi, aku ingin tidur oema… besok saja lagi bicaranya.”

Baekhyun mengerutkan keningnya. Lalu berjalan menghampiri Chanyeol yang tidur dengan posisi mengkurap. Menghempaskan badan kecilnya di samping namja tinggi itu.

Chanyeol yang tak mendapat respon dari perkataannya, merasakan ada seseorang yang tengah berbaring disampingnya. Segera ia menoleh dan mendapati Baekhyun di sana.

“Baekhyun?”

Baekhyun tak menjawab. Hanya memandang ke atas langit-langit kamar berwarna putih polos itu.

“Jangan memasang wajah serius di muka lawak yang kau miliki, karena itu tak pantas. Kau tahu itu kan?”

Baekhyun tak bergeming dari posisinya ataupun menjawab candaan Chanyeol.

“Kau kenapa sih!!” Bentak Chanyeol karena sedikit jengkel tak mendapat jawaban dari pertanyaannya.

“Jahatkah aku sebagai anak jika harus mencurigai appa-ku sendiri.”

Chanyeol mengernyit mendengar jawaban Baekhyun.

“Maksudmu?”

Merasa harus menjelaskan panjang lebar pada orang disampingnya, Baekhyun merubah posisinya menghadap Chanyeol. Hingga menyisakan jarak wajah yang begitu dekat antara mereka.

“Aiyo… jangan dekat-dekat dengan wajahku. Nanti kadar ketampanannya bisa berkurang.” Chanyeol mendorong pundak Baekhyun pelan dan menarik tubuh tingginya untuk duduk.

“Dari tadi protes saja yang keluar dari mulutmu. Memang apa yang kau banggakan dari dirimu. Telinga saja seperti telinga gajah masih saja dibanggakan. Mau aku cerita atau tidak?” Baekhyun mengeluarkan kata kejamnya dan menatap Chanyeol dengan sinis.

“Gini-gini banyak kali yang mau.”

“Iya tante-tante girang di luar sana.”

“Mau cerita atau berantem ni!” Chanyeol mengepalkan tangannya ke depan.

Akhirnya Baekhyun tersadar kembali akan niatnya datang untuk menceritakan kegelisahan yang tengah ia rasakan. Kembali ia memasang wajah serius dan menceritakan semua kejadian yang membuatnya tak tenang. Dari ponsel appa-nya yang terus mendapat panggilan dari orang yang berinisial C, pesan masuk yang menurutnya bukan masalah pekerjaan, sampai pada Bomi yang dibentak hanya karena menggunakan ponsel appa-nya.

“Kau menuduh appa-mu selingkuh?”

“Aku tak tahu.” Jawab Baekhyun lesu.

“Kau mencatat nomer telpon orang itu Baek?”

“Ya, ada di HP-ku.”

“Bisa aku lihat.”

“Aku tak membawanya ke sini.”

Chanyeol menghela nafasnya. Sebenarnya juga ikut khawatir dengan sikap appa Baekhyun yang baru ia dengar. Namun ia tak mau menambahi beban pikiran sahabatnya. Sebisa mungkin ia harus menenangkan hati orang yang tengah berbaring di depannya itu.

“Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Mungkin appa-mu hanya terlalu banyak pekerjaan hingga membuatnya stres. Dan siapa tahu yang menghubunginya adalah teman kerjanya.”

“Aku juga mencoba berpikir seperti itu Yeol. Tapi perasaanku tak mau menerimanya.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Besok aku akan mengikutinya seharian. Kemana dia pergi aku harus tahu.”

“Kau gila Baek, appa-mu akan marah jika ia tahu.”

“Ya jangan sampai dia tahu. Kau mau menemaniku kan?”

Chanyeol sedikit berpikir. Sebenarnya tak enak harus melakukannya. Dia sedikit sungkan dengan tuan Byun. Karena dia sudah menganggap beliau seperti appa-nya sendiri. Dia baik dan tutur kata yang ia punya sangat halus dan bersahaja. Namun jika ia menuruti permintaan Baekhyun bukannya sama saja ia menuduh tuan Byun berselingkuh?

“Kau tak usah banyak berpikir, biar aku sendiri saja besok jika kau tak bisa.” Putus Baekhyun yang mendapati Chanyeol hanya diam.

“Oh NO! NO! NO! NO! Aku akan menemanimu besok.” Jawab Chanyeol cepat.

@@@

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Baekhyun dan Chanyeol kini sudah berada di depan kantor di mana appa Baekhyun bekerja. Keduanya terus menatap pintu parkiran seolah tak mau kehilangan incarannya.

“Gila, kenapa aku jadi dek-dekkan gini.” Celetuk Baekhyun dari bangku pengemudi.

“Sama! Kayak sewaktu dulu aku mau nembak Dara. Ni jantung berdetaknya gak nyantai banget.” Jawab Chanyeol dengan mengenang masa lalunya.

“Hahaha, jadi inget dulu gimana patah hatimu sewaktu tahu Dara sudah punya cowok ya Yeol. Seminggu mukamu seperti baju yang belum disetrika, kusut bener.”

“Yah, kamu gak ngrasain sih. Sakit banget tau. Dan lagian tu ya Dara mau-maunya ama tu cowok jelas-jelas kerenan juga aku ke mana-mana.” Ungkap Chanyeol percaya diri.

“Iya. Kalau yang lihat tu orang rabun.” Baekhyun menimpali dengan cepat.

“Ye… orang tu jangan lihat dari tampangnya doang. Sekarang lihat kan, si Dara di duain. Dan akhirnya remuk deh tu hati. Coba dulu dia sama aku saja, pasti dia gak akan rasain namanya sakit hati.”

Entah mengapa mendengar kalimat Chanyeol barusan, bahu Baekhyun merosot ke bawah. Kepalanya sedikit menunduk. Chanyeol yang melihat perubahan sahabatnya itu sedikit tak enak hati. Karena dia tak sengaja sudah menyinggung perasaan Baekhyun.

“Baekhyun-ah maaf.”

“Buat apa?” Tanya Baekhyun menatap Chanyeol.

“Aku sudah menyinggungmu.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita belum tahu kebenarannya kan.”

“Iya juga ya. Dan aku yakin appa-mu tidak seperti itu.” Ucap Chanyeol dan menepuk pundak Baekhyun dengan tersenyum.

“Semoga! Tapi mana appa, kenapa dia belum keluar juga. Biasanya jam segini dia sudah pulang kantor deh.” Baekhyun melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“Apa dia sudah pulang sebelum kita datang?”

“Itu tidak mungkin. Appa pulang kerja pukul enam sore, sedangkan kita sampai sini masih pukul lima. Kita dah nungguin selama satu jam lebih, tapi tak melihat mobilnya keluar dari tempat parkir. Eh, ngomong-ngomong ni mobil gak bakal di pakai kan?” Tanya Baekhyun.

“Tenang saja, oema tidak kerja hari ini. Dan tadi aku sudah ijin pulang malam.”

Baekhyun hanya merespon jawaban Chanyeol dengan anggukkan. Kembali ia melihat ke depan untuk menunggu mobil appanya keluar. Satu setengah jam sudah mereka berdua menunggu, tapi tak juga tuan Byun keluar.Baekhyun sudah mulai bosan dan sesekali menguap. Matanya hampir terpejam kalau saja tak mendengar suara bash dari samping memanggilnya.

“CON KELUAR TU CON!” Chanyeol berteriak-teriak heboh dan menggoncang lengan Baekhyun brutal.

“Aduh… gak usah teriak gitu bisa gak sih?” Baekhyun sedikit dongkol karena namanya disebut seenaknya sendiri.

Akhirnya penantian panjang mereka usai sudah. Baekhyun menyetir mobil mengikuti sedan hitam di depannya. Pandangannya tak pernah lepas dari itu. Sedikit menjaga jarak dari mobil appa-nya. Takut kalau saja appa-nya mengenali mobil oema Chanyeol. Sementara Chanyeol hanya diam tak bertingkah seperti biasa. Mungkin dia tahu cara menempatkan posisi kapan dia bercanda dan kapan serius.

Mobil itu terus saja melaju, membelah jalan yang sudah mulai gelap. Tak lama, tuan Byun berhenti di sebuah tempat penjualan berbagai macam jajanan seperti pasar. Namun hanya ada di malam hari. Karena siangnya tempat itu hanyalah jalan yang bebas dilalui kendaraan hilir mudik. Tempat itu ramai dengan pedagang dan pengunjung mengisi malam yang terang.

“Apa yang mau dilakukan oppa-mu ?”

“Mungkin dia mau makan.”

“Apa kita perlu turun?”

“Tidak usah. Kita masih bisa melihatnya. Nanti saja kalau dia tidak terlihat kita turun dan membuntutinya.” Jawab Baekhyun.

Tak perlu menunggu lama, terlihat tuan Byun sudah kembali ke mobilnya dan membawa buntalan plastik besar ditangannya. Kembali Baekhyun menginjak gas mobil mengikuti appa-nya yang mulai bergerak menyetir mobil meninggalkan tempat itu.

Setengah jam mengikuti tuan Byun, mereka berdua tak menemui tanda-tanda mencurigakan. Mobilnya terus melaju ke arah jalan pulang. Tetapi ketika berada di pertigaan jalan, tuan Byun berbelok kiri berlawanan dengan jalur pulang.

“Bukannya jalan pulang belok kanan?”

Chanyeol tak mendapat jawaban akan pertanyaannya. Karena kini  perasaan Baekhyun jadi tak karuan. Takut-takut kalau hal yang ditakutinya terjadi. Hingga hanya diam yang bisa ia lakukan saat ini. Tatapannya terus terarah ke depan. Konsentrasinya sedikit pecah.

Tak sadar dari arah depan, terlihat anak perempuan kecil yang sedang mengejar anjing yang lari ke tengah jalan. Tak melihat sekelilingnya karena hanya ingin menangkap anjingnya kembali.

“BAEKHYUN !!!”

“OEMA… ”

Baekhyun menginjak remnya dalam. Membuat mobil itu terhenti dan tubuh mereka maju kedepan akibat dari rem mendadak. Jantung keduanya berpacu lebih cepat. Bahkan mereka tak berani membuka mata untuk melihat pemandangan di depannya.

Setelah cukup siap, Baekhyun berlahan membuka mata kecilnya pelan-pelan. Di dapatinya gadis kecil itu berdiri di depan mobil yang nyaris menabraknya. Baekhyun menghela nafas lega dan segera turun diikuti Chanyeol.

“Kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Baekhyun pada gadis kecil yang mukanya kini pucat pasi. Mungkin karena kaget dengan kejadian yang baru ia alami.

Gadis kecil itu tetap diam. Nampak bibir mungilnya sedikit bergetar. Chanyeol yang melihat itu ikut berjongkok seperti yang dilakukan Baekhyun di depan gadis itu.

“Maaf, oppa tidak tahu kamu akan tiba-tiba lari ke tengah jalan seperti tadi. Lain kali kau tak boleh seperti itu. Itu berbahaya.”

Kini gadis itu melihat ke arah Chanyeol yang baru saja berbicara padanya. Chanyeol yang ditatap gadis kecil itu langsung tersenyum dengan senyum andalannya. Tak berapa lama gadis kecil itu merespon senyumannya dengan hal yang tak di inginkan.

“HUWAAA….  ”

“Loh loh kok nangis, gi mana ini.”

Chanyeol bingung menghadapi anak yang terus menangis di depannya. Suara yang anak itu keluarkan semakin lama semakin keras. Baekhyun yang ada disampingnya berinisiatif menggendong gadis kecil yang kira-kira berumur lima tahunan itu supaya tenang.

“Jian… ”

Chanyeol dan Baekhyun menoleh kesumber suara dari belakang. Perempuan yang kira-kira tiga tahun lebih muda dari mereka menghampirinya.

“Oeni… !” Teriak gadis kecil yang bernama Jian itu dari gendongan Baekhyun.

@@@
“Ke mana kita sekarang Baek?!”
“Tidak tahu, kita kehilangan jejak appa.”

Setelah meminta maaf pada kakak Jian, Namjoo mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan.  Namun karena berhenti lumayan lama mereka kehilangan mobil tuan Byun. Mereka hanya mengikuti jalan lurus yang kebetulan tak ada persimpangan itu.

Dari jok penumpang, Baekhyun hanya menyenderkan kepalanya ke belakang. Setelah insiden tadi, Chanyeol tak membiarkan Baekhyun untuk membunuhnya dengan cara menyetir mobil lagi. Matanya membulat kala melihat ke depan.

“Seperti mobil appa.”

“Mana?” Chanyeol mengedarkan pandangannya ke depan.

“Itu, sekarang masuk ke tempat parkir bawah tanah.”

“Trus apa yang kita lakukan sekarang.”

“Coba kau hentikan mobilnya di depan sana sedikit.”

Chanyeol mengikuti perintah Baekhyun dan berhenti di depan gedung tempat tuan Byun terlihat memarkirkan mobilnya ke dalam.

“Kita akan masuk.”

“Kau yakin?” Tanya Chanyeol ragu.

“Ya! Parkirkan saja mobilnya di pinggir jalan sana, jika masuk ke bawah tanah aku takut appa akan melihat karena dilihat dari bangunan gedung ini parkirannya tak luas. Lantainya saja hanya bertingkat dua dan sempit.”

Chanyeol hanya mengangguk dan segera mencari tempat parkir yang kosong. Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju tempat semula. Sebenarnya sedikit ragu, tapi rasa penasaran jauh lebih besar mengalahkan keraguan itu.

Pintu itu terbuka secara otomatis ketika mereka berdua sampai di depannya. Sebelumnya mereka berpapasan dengan satpam penjaga tempat itu yang tersenyum ramah pada mereka. Setelah masuk, sepi, tak ada satu orangpun di dalam. Di ruangan yang besarnya kurang lebih sebesar kamar tidur itu hanya ada sofa panjang dan bunga hias besar terletak di sudut samping pintu. Di sebelah kanan terdapat pintu elevator.

Terus berjalan lurus mereka membuka pintu kedua untuk masuk lebih dalam ke gedung itu. Chanyeol mendorong kuat pintu itu karena sedikit berat. Sampai di dalam mereka sedikit tercengang dengan pemandangan yang ada di depannya. Sungguh berbeda dengan suasana di luar yang sepi.

“Apa-apaan ini. Baekhyun-ah tutup matamu. Kau masih di bawah umur untuk melihatnya.”

“Yang harusnya ngomong begitu aku kali…, tuaan juga aku meskipun aku terlihat lebih imut.”

Keduanya berbicara tanpa saling bertatap. Mata mereka terperangah melihat apa yang ada di depannya. Begitu banyak laki-laki dan wanita di sana. Rata-rata dari wanita itu hanya memakai baju tak berlengan tak sampai menutup perutnya di padu dengan celana atau rok pendek. Di bawah lampu yang berkedib-kedib itu banyak yang berjoged. Menggelengkan kepala ke kanan dan kiri dengan masing-masing pasangan. Ditambah musik energik yang terdengar diruangan itu seakan menambah semangat mereka untuk meliuk-liukkan tubuhnya.

Tak sedikit juga yang duduk sambil minum yang sepertinya adalah minuman beralkohol. Karena bau alkohol diruangan itu begitu menyengat. Baekhyun dan Chanyeol sedikit jijik ketika mata mereka menangkap adegan sepasang wanita dan lelaki yang berciuman begitu panas seakan di sekitar mereka sepi tak ada orang lain.

“Tetap lanjutkah?”

“Aku tak kan pulang sebelum memastikan apa yang dilakukan appa di sini.” Baekhyun sedikit emosi dengan nada bicaranya. Sedikit marah dengan appa-nya yang sudah mau datang ke tempat seperti itu.

Berniat ingin menyamar kalau-kalau mereka berpapasan dengan tuan Byun, Chanyeol maupun Baekhyun memakai kaca mata hitam. Rambut depan yang biasa mereka biarkan menutupi dahi, mereka sisir sedikit kebelakang menggunakan gel rambut. Celana jins yang tak begitu ketat dengan atasan kaos biasa dibalut jaket kulit membuat mereka jadi pusat perhatian setiap melangkahkan kaki.

“Ada yang salah dengan kita?”

“Mana aku tahu.” Jawab Baekhyun sambil menatap kesekeliling pada orang-orang yang khususnya wanita tengah memandangnya. Tak jarang ia mendapat tatapan dan kedipan genit dari mereka hingga membuatnya salah tingkah dan pura-pura tak melihat.

“Kau yakin tadi yang kau lihat adalah mobil appa mu Baek? Kita sudah berkeliling di sini tapi tak terlihat juga di mana appa mu berada.”

“Tadi aku lihat mobil sedan hitam masuk ke sini.”

Chanyeol langsung mendahului langkah Baekhyun dan mencegatnya dari depan.

“Jadi kamu hanya melihat sedan hitam?”

“Iya.”

“Jadi kamu sendiri tidak yakin kalau itu mobil appa mu.”

“Iya.” Baekhyun hanya pasrah saat tangan panjang Chanyeol memukul kepalanya.

“Di dunia ini sedan warna hitam bukan punya appa mu doang kali Con, aku kira tadi kau benar-benar tahu dan yakin itu appa mu. Sudah! Kita keluar dari sini sekarang.” Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan menyeretnya keluar. Baekhyun hanya menurut tapi pandangannya tetap menyebar ke seluruh sudut tempat itu. Sedikit lega mendapati appa-nya tak ada di tempat itu. Tapi meskipun yang dibilang Chanyeol ada benarnya juga bahwa mobil hitam bukan hanya milik appa-nya, entah mengapa Baekhyun tetap merasa bahwa itu adalah appa-nya.

“Kalian ternyata suka datang ke sini juga?”

Chanyeol dan Baekhyun berhenti mendapati seorang perempuan menghadang jalan mereka untuk keluar. Saling berpandangan dan sejurus kemudian kembali menatap wanita di depannya.

“Masih ingat aku kan Chanyeol, Baekhyun.”

Tanya wanita itu sembari menunjuk Chanyeol dan Baekhyun dengan gelas yang ia pegang. Sekali lagi mereka berdua berpandangan dan sedikit berpikir tentang wanita yang sudah tahu nama mereka duluan.

“Pantai.” Tambah wanita itu lagi.

Otak mereka berdua langsung saja bekerja dengan baik ketika wanita yang berpakaian minim mengekspos bagian perut dan pahanya itu menyebut kata pantai.

“Ow…, !!” Ujar mereka berdua serempak. “Iya kita ingat.”

Jieun, wanita itu tersenyum melihat dua orang di depannya ini mengingatnya.

“Kalian belum menjawab pertanyaanku, kalian suka datang ke sini? Tapi aku tak pernah melihat kalian. Oh ya kita duduk di sana saja dari pada berdiri di sini.” Jieun berjalan menghampiri meja yang sebenarnya masih ada orangnya. Namun ketika melihat Jieun berdiri dihadapan mereka, tanpa perintah  dan aba-aba orang yang tengah duduk itu langsung mengosongkan meja itu.

Chanyeol dan Baekhyun saling melirik. Berpikir keras mengapa Jieun begitu terlihat berkuasa di tempat itu.

“Kalian kenapa masih berdiri di sana saja!” Teriak Jieun yang mendapati Baekhyun dan Chanyeol tak beranjak dari tempatnya. Jieun yang sudah duduk berdiri kembali menghampiri mereka. Merangkul  pinggang mereka berdua layaknya orang yang sudah akrab. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Chanyeol maupun Baekhyun risih.

“Aduh gak usah noona, kita mau pulang.”

“Ini masih terlalu sore, nanti saja pulangnya.” Jieun menimpali pernyataan Baekhyun dan terus menggiring mereka berdua untuk duduk.

Chanyeol yang merasa sulit lepas dari Jieun menggunakan caranya untuk bisa bebas dari wanita itu.

“Uok… ,” Chanyeol pura-pura muntah. “Ya! Baekhyun-ah aku pusing banget, sepertinya aku terlalu banyak minum dan ingin muntah. Antarkan aku ke depan untuk menghirup udara segar. Kalau ke toilet aku tak bisa memuntahkannya. U, uok….” Chanyeol terus memperdalam aktingnya.

Di dalam hati Baekhyun ingin sekali tertawa keras-keras mendengar ucapan Chanyeol. “Minum apa! Minum angin mungkin. Jadinya mabok angin.” Ucap Baekhyun dalam hati.

“Benarkah? Kamu juga sih dibilangin dari tadi gak mau dengar. Jangan minum banyak-banyak ngrepotin aja.” Baekhyun mengikuti alur cerita yang dibuat Chanyeol dan merangkul pundaknya karena kini Chanyeol sedang berpura-pura lemas dan sempoyongan. “Noona kita keluar dulu, kapan-kapan saja kita ngobrol kalau kita ke sini lagi.” Baekhyun langsung mengambil langkah seribu setelah pamit.

“Tapi tadi… ”

“Jieun!”

Ucapan Jieun terpotong kala ada seorang lelaki memanggilnya.

“Ada yang nyari tu.” Ucap laki-laki itu dan kembali berjalan ke belakang.

Jieun mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kaki kanannya keras. Menuju tempat orang yang mencarinya.

@@@

Sudah pukul sembilan malam. Baekhyun menyuruh Chanyeol untuk pulang saja. Karena mau kemana lagi. Malam semakin larut dan ia tak tahu ke mana appa-nya pergi.

Dalam perjalanan pulang tak banyak yang mereka bicarakan. Hanya topik tentang Jieun dan obrolan ringan lainnya. Baekhyun masih saja memikirkan appa-nya. Tak bisa mengimbangi obrolan yang diberikan Chanyeol.

Sampai di depan rumah Baekhyun, Chanyeol menghentikan mobilnya. Terlihat mobil tuan Byun sudah terparkir di garasi.

“Appa sudah pulang.”

“Tu kan. Kau hanya terlalu berpikir yang tidak-tidak. Appa mu tak mungkin macam-macam. Aku yakin tadi yang kau lihat bukanlah mobil appa mu.”

Baekhyun sungguh lega. Mungkin memang benar, tadi dia memang salah lihat. Dia mengangguk mantap ke arah Chanyeol. Wajah yang tadi sedikit muram kini berseri kembali dan bersemangat.

“Kau benar Yeol. Aku masuk dulu.” Baekhyun menepuk pundak Chanyeol dan turun dari mobil. Chanyeol tersenyum dan ikut merasa lega. Lalu menancap gas untuk pulang.

Membuka pintu rumah, Baekhyun melihat empat orang tengah asyik bercanda gurau di ruang tamu dengan suguhan makanan kecil yang terletak di atas meja. Mendengar suara pintu terbuka, mereka yang duduk langsung menatap Baekhyun yang baru masuk.

“Baekhyun-ah kau sudah pulang.” Sapa Sanjeong.

“Kau dari mana saja, jam segini baru pulang.” Tambah Bomi yang masih asyik dengan makanan di tangannya.

“Kau sudah makan Baek? Tadi oema menyisakan lauk untukmu.” Nyonya Byun tak ktinggalan ikut angkat suara.

“Atau kalau tidak, kau bisa makan ubi bakar ini. Tadi appa membelinya sewaktu pulang.”

Baekhyun secara bergantian melihat orang yang melemparkan pertanyaan padanya.  Pandangannya jatuh pada orang yang terakhir mengeluarkan suara. Tanpa sadar ia menghampiri orang itu yang tak lain adalah appa-nya.

“Appa…  ”

Baekhyun langsung memeluk erat  tuan Byun. Merasa bersalah karena sudah mencurigainya. Dan lebih bodohnya, ia sampai membuntuti appa-nya. Mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba tentu membuat tuan Byun sedikit kaget. Tak heran tiga orang lainnya juga merasakan hal yang sama saat melihat itu.

“Ada apa denganmu Baek?” Tanya tuan Byun heran.

“Jangan tanya aku dulu. Karena saat ini aku hanya ingin memeluk appa.” Jawab Baekhyun dan semakin mengencangkan pelukannya pada appa-nya.

Meskipun bingung, tuan Byun tidak bertanya lagi. Ia juga membalas pelukan itu dan mengelus rambut Baekhyun sayang.

#TBC#

4 thoughts on “FF: DARK chapter 3

  1. indahtentiana berkata:

    aaaa , aku masih bingun sbenernya appanya baekhyun tu selingkuh apa engga sih ?!
    lucu deh yang waktu baekhyun ngoceh gak jelas ,
    keep writing eonni ^^)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s