FF : The Lords of Legend (Chapter 10)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Desclimer : Cerita ini mengandung istilah dari beberapa mitologi kuno. Cerita ini murni fiksi dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Jika masih bingung dengan istilahnya, silakan liat teaser ^^

https://koreadansaya.wordpress.com/2013/05/26/teaser-2/

Yonsei High School, Jongno-gu, School Yard

Luhan terus memperhatikan Ilhoon di sela-sela latihannya. Sesekali menoleh kearah pergelangan tangannya untuk memastikan apakah ada tanda itu disana atau tidak.

Sedangkan Sehun, ia terus mengawasi Ravi yang masih terlihat kesal. Ia khawatir, jika Ravi akan menyerang Luhan tiba-tiba dan mengacaukan latihan.

Saat mereka selesai membahas strategi dan melakukan pemanasan, mereka berhambur ke lapangan. Mulai menggiring bola dan melakukan pertandingan kecil. Luhan ingin ikut bergabung bersama yang lain namun langkahnya terhenti saat lengan Ravi mendorong dadanya dan membuatnya termundur.

Melihat itu, Sehun hanya menghela napas panjang dan akhirnya menghampiri Luhan, “Luhan…”panggilnya membuat namja itu menoleh. “Kau latihan denganku”

Kening Luhan berkerut, “Apa?”

“Ikut aku sekarang”

Sehun menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan Luhan untuk mengikuti langkahnya. Luhan menurut, mengikuti Sehun hingga ke sisi lain yang tidak terpakai.

Mengambil beberapa batu bata yang terjejer tak jauh dari sana – untuk keperluan bangunan yang akan di renovasi – , Sehun menyusunnya teratur ke depan. Setelah itu, mengambil sebuah bola dan melemparkannya pada Luhan.

“Coba latihan menggocek bola melewati jejeran batu bata itu”suruh Sehun menepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan pasir-pasir yang menempel disana

“Bukankah itu adalah latihan dasar? Kau meremehkanku?” Luhan merasa tersinggung

“Aku adalah kapten. Kau harus menuruti perintahku”

“Tapi kau bukan pelatih”balasnya tetap bersikeras

“Kau bisa bertanya pada pelatih atau kepala sekolah sekalipun. Mereka menyerahkan tim ini padaku sepenuhnya. Aku memegang kendali penuh atas tim ini”

Sehun menatap Luhan lurus-lurus, sorot matanya menunjukkan jika ucapannya barusan bukanlah hanya sebuah kebohongan belaka. Sorot matanya terarah tajam pada Luhan dan menandaskan jika dia tidak bisa terbantah.

“Oke. Karena aku hanyalah pemain cadangan dan kau adalah seorang kapten, kau bisa memperlakukanku seperti ini”desis Luhan tajam balas menentang dua manik mata Sehun, sebisa mungkin menahan-nahan kesabarannya menghadapi pria yang tengah berdiri di hadapannya itu.

“Bagus jika kau menyadari posisimu…”seru Sehun datar lalu berbalik, namun baru satu langkah melangkahkan kaki, ia berhenti dan melanjutkan kalimatnya di balik pundak. “Sebaiknya kau latihan dengan baik, karena aku akan mengawasimu”

***___***

Sehun tidak sepenuhnya berniat buruk untuk membiarkan Luhan hanya menggocek bola melewati jejeran batu bata yang tersusun lurus, hanya saja ia pikir kehadirannya di tengah lapangan akan membuat suasana semakin runyam dan amarah Ravi semakin meluap hebat.

Tidak hanya satu orang temannya, namun hampir seluruhnya membenci sosok baru yang mampu mencuri hampir seluruh gadis di sekolah, bahkan mungkin memang seluruhnya. Belum lagi bagaimana semua guru memperlakukan mereka dengan sangat baik, seperti mereka adalah anak-anak Raja yang harus diperlakukan secara spesial. Walaupun hal itu tidak berpengaruh sama sekali untuk Sehun, namun ia juga cukup jengah mendengar komentar negatif teman-temannya saat membicarakan bahkan memaki anak-anak Sigismund itu.

Padahal jika di pikir-pikir, mereka tidak seburuk yang dipikirkan. Walaupun memang terlihat aneh, tapi berada di kelas yang sama dengan empat orang anggota Sigismund membuatnya sedikit banyak mengetahui karakter mereka.

Chen yang terlihat seperti hobbit dan selalu tertawa jika bertemu dengan Chanyeol. Chanyeol yang terlihat gagah karena wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi namun ternyata adalah seseorang yang idiot dan hyper aktif. Kai yang begitu berkharisma dan dewasa juga Luhan yang memang mempunyai kekuatan untuk melelehkan hati gadis-gadis.

Namun diantara mereka, kesan lebih dalam justru dirasakan Sehun pada Lay. Mereka memang tidak berada di kelas yang sama dan sangat jarang bertemu. Tapi, setelah kejadian kemarin, dia jadi mengetahui bagaimana sifatnya.

Dia adalah anak yang baik, polos dan tentunya pelupa. Bahkan dia pernah menolongnya saat D.O menabraknya dengan keras di koridor dulu. Yang Sehun tau, Lay selalu bersikap sopan pada siapapun walaupun ia tau para murid laki-laki sangat membencinya. Dan yang lebih membuat Sehun terenyuh adalah saat mendengar fakta jika para anak-anak Sigismund itu tidak mempunyai ibu.

Bagaimana mereka bisa bersama-sama mengalamai kejadian buruk? Sehun sangat mengerti karena dia dan keluarga Sigismund itu memiliki kemiripan. Sama-sama terlihat bahagia namun sebenarnya menyimpan luka. Dia menganggap seperti itu karena dia tidak mengetahui kenyataan jika para dewa itu, tidak dilahirkan lewat rahim seorang ibu.

“Sehunie!” Ilhoon berlari menghampiri Sehun yang hanya duduk diam di pinggir lapangan sambil memperhatikan Luhan. “Kau tidak ikut latihan?”

“Tidak”jawab Sehun pendek tanpa menoleh

“Kenapa?” pertanyaan Ilhoon seketika terjawab saat matanya mengikuti arah pandangan Sehun. Ia mengajukan pertanyaan yang lain. “Bukankah itu latihan dasar? Kenapa kau menyuruhnya melakukannya?”

“Tidak apa-apa. Sebaiknya kau kembali latihan”

“Tapi—“

“Sudahlah. Aku hanya tidak ingin ada pertengkaran”

Dan Ilhoon mengerti apa maksud Sehun sebenarnya. Tidak bertanya lagi karena ia melihat ekspresi Sehun sedang tidak bahagia saat ini, akhirnya Ilhoon hanya mengangguk singkat lalu beranjak kembali ke sisi tengah lapangan. Saat berpapasan dengan Luhan, ia berhenti sejenak. Sedikit kasihan dengan pria itu karena harus terkena imbas dari amarah Ravi. Ia mengangkat kedua tangannya sambil mengepal, “hwaiting!” ujarnya kemudian menepuk pundak Luhan lalu berlalu pergi.

Dan detik itu juga, mata Luhan benar-benar terbelalak lebar. Benar-benar terperangah dengan apa yang dilihatnya tadi. Ia tidak salah lihat dan sangat yakin jika matanya masih mampu melihat sesuatu dengan jelas.

Di balik pergelangan tangan Ilhoon tidak ada tanda apapun! Di keduanya!

Kepala Luhan memutar mengikuti langkah-langkah Ilhoon yang kembali ke tengah lapangan tanpa sadar. Saat kakinya ingin berlari untuk mengejarnya, suara Sehun sudah lebih dulu membuyarkan lamunannya.

“Maaf…”

Luhan menoleh dengan kening berkerut karena tidak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Sehun dan disisi lain, ia sangat ingin menghampiri Ilhoon untuk memastikannya sekali lagi.

“Sebenarnya aku tidak bermaksud—“

“Bisakah aku pulang lebih awal?”potong Luhan tidak sabar dan tidak mempunyai niat untuk mendengarkan ucapan Sehun

Kini kening Sehun yang berkerut bingung, “kenapa?”

“Aku baru ingat jika aku mempunyai urusan penting. Bisakah?”

“Ten…”

“Terima kasih” Luhan menepuk pundak Sehun bahkan sebelum membiarkannya menyelesaikan ucapannya. Ia segera berlari ke ruang ganti hanya untuk mengambil tas ransel lalu menuju parkiran. Melempar tas ranselnya dan langsung melompat masuk ke dalam mobilnya tanpa membuka pintunya terlebih dahulu. Ia harus segera pulang dan memberitahukan hal penting ini pada dewa lain.

***___***

Sangji Ritzvil Caelum Apartemen, Gangnam-gu, Seoul

“Lay, cepat pesan bulgogi di seluruh restoran yang ada di kota ini. Aku ingin makan bulgogi”seru Kris yang tidak bisa melupakan rasa bulgogi buatan Taeyeon kemarin.

“Aku juga menginginkan kimchi pedas itu….”rengek Kai uring-uringan

“Cih, bukankah kemarin kalian bilang tidak menyukainya, huh?”

“Cepat Lay. Aku ingin bulgogi!”perintah Kris mengabaikan cibiran Lay

“Aku sudah mencoba bulgogi di restoran yang ada didekat sekolah, tapi rasanya tidak seenak yang kemarin”sahut Suho

“Lay, bukankah kau mengenal ibu Sehun? Minta saja padanya untuk membuatkan bulgogi pada kita. Kali ini harus lebih banyak…” Xiumin mencetuskan ide

“Apa?! Aku tidak mau!”balas Lay. “Jika kalian mau, kalian saja yang memintanya”

Baekhyun merengek sambil mengguncang lengan Lay, “Lay, please….”

“Lay, I want too…” Chanyeol ikut melompat duduk disamping Lay dan mengguncang lengannya seperti yang dilakukan Baekhyun

“Hey! Lepaskan!”

“Laaay…”

“Aku punya kabar buruk!” Tiba-tiba Luhan menerobos masuk membuat semua dewa tersentak dan langsung menoleh padanya dengan tatapan bingung. Wajahnya terlihat pucat juga napasnya yang tersengal.

“Apa yang terjadi padamu?”tanya Xiumin bingung

“Aku sudah melihatnya tadi. Ilhoon…hhhh…hhh…Ilhoon bukanlah dewa Ares!”

“APA?!!”

“Dia tidak memiliki tanda di pergelangan tangannya! Dia tidak memiliki tanda itu!”

“B-bagaimana bisa?” Jongdae tergagap tak percaya. “Jadi selama ini kita hanya salah sangka?”

“Lalu jika bukan dia, mengapa tanda kita bergetar saat berada di taman sungai Han? Disana tidak ada siapapun kecuali Ilhoon!”kata Kai pindah posisi ke samping Luhan

“Aku tidak tau. Tapi tandaku juga terus bergetar saat latihan bola tadi”

“Jadi maksudmu, dewa Ares bukan Ilhoon tapi salah seorang yang berada di lapangan itu?”

“Dan berarti saat kalian berada di Sungai Han, ada murid lain yang juga berada disana” Lay menyahuti ucapan Kai

Duduk seorang diri di bagian pojok, D.O tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sejak awal, dia memang tidak begitu yakin dengan hasil yang ia dapat saat berada di Sungai Han. Dia tidak yakin jika sosok Ilhoon adalah dewa Ares yang mereka cari.

Bukan apa-apa, hanya saja namja itu tidak menunjukkan ciri-ciri apapun sebagai dewa Ares. Hatinya justru yakin pada orang lain, pada namja bertubuh tinggi kurus yang menjadi teman sebangkunya. Seseorang yang ia perhatikan saat bermain bola di tengah cuaca yang sangat dingin waktu itu.

***___***

Yonsei High School, Jongno-gu, Seoul, South Korea

Jam istirahat, Luhan, Kai, Chen dan Chanyeol sengaja tidak meninggalkan kelas karena Ilhoon masih berada di dalamnya. Dia hanya duduk di kursinya sambil memakan bekal yang dibawanya bersama Sehun.

Karena masih penasaran dengan yang dilihat Luhan kemarin, akhirnya mereka berempat tetap tinggal untuk memperhatikan Ilhoon.

“Bulgogi lagi?”seru Ilhoon nyaris tertawa saat melihat isi bekal Sehun. Suaranya yang lumayan nyaring, mampu membuat keempat dewa tertarik dan langsung melirik kearah Sehun. Sedangkan Luhan dan Kai yang duduk dibelakangnya, harus memanjangkan leher mereka untuk mengintip apa benar Sehun membawa makanan yang menjadi makanan favorit mereka sekarang.

Bulgogi. Kata itu menjadi kata yang sakral bagi mereka sekarang. Terlebih lagi karena mereka sudah mengetahui bagaimana rasanya bulgogi buatan ibu Sehun.

Sehun menghembuskan napas panjang, “ini yang terakhir…”

“Kenapa kau sangat lesu begitu?”

“Aku rasa aku tidak akan memakan daging untuk beberapa bulan ke depan”

“Pwahahaa…dulu kau selalu berharap agar kau bisa makan daging setiap hari karena benci pada telur”

“Sekarang justru sebaliknya. Aku sangat merindukan telur goreng”

“Bodoh”cibir Ilhoon geleng-geleng kepala. “Tapi ada benarnya juga, jika kau terus makan daging, tubuhmu akan semakin bertambah tinggi”

“Kalau begitu, kau saja yang makan bekalku” Sehun mendorong kotak bekalnya kearah Ilhoon membuat keempat dewa seketika terbelalak lebar.

‘Sial, kau bisa memberikannya untukku’rutuk Chen dalam hati

‘aku ingin bulgogi itu’gumam Chanyeol hanya bisa menatap sambil meneguk liurnya

“Sehun! Park Sehun!”

Lay tiba-tiba muncul dan langsung menjatuhkan diri di kursi yang ada didepan Sehun dan Ilhoon. Di belakangnya terlihat D.O yang juga menyusul. Ia bergabung dengan Chen dan Chanyeol.

“Whooa! Bulgogi!” Mata Lay seketika berbinar melihat isi bekal makanan berwarna hitam itu.

“Kau mau?”tanya Sehun membuat Ilhoon seketika menoleh kearahnya

“Bukankah kau memberikannya untukku?”bisiknya

“Kau sudah membawa bekalmu, kan? Biarkan bekalku untuknya”

“untukku? Benarkah?!” suara Lay mendahului Ilhoon yang hampir membuka mulutnya

Sehun mengangguk, lalu menarik bekal makannya kembali dan menyodorkan pada Lay.

“Makanlah. Bukankah kau menyukainya?”

“Park Sehun kau yang terbaik!”

Sehun tersenyum singkat, kemudian menoleh pada Ilhoon yang kini memakan bekalnya sendiri dengan wajah cemberut.

“Kau bisa ke rumahku dan meminta ibuku untuk membuatkan bulgogi untukmu” tepuknya di pundak Ilhoon.

Sedangkan dewa yang lain, melihat jika bekal makanan itu sudah jatuh ke tangan Lay. Mereka bergerak-gerak gelisah, berusaha member isyarat pada Lay agar ia pindah posisi dan membaginya pada mereka. Namun Lay justru terlalu asik menyantap bulgoginya sehingga ia tidak memeprhatikan sekitar.

“Psst, Lay…pssst” Chen berdesis pelan memanggil nama Lay, tapi Lay tetap tidak mendengarnya. “Lay…psst…La..a..ay”nadanya merendah di akhir kalimat saat teman sebangkunya tiba-tiba berdiri dan menghampiri Sehun.

“Park Sehun…”panggil Chanyeol membuat Sehun menoleh bingung. “Aku Lok…maksudku Chanyeol…”

“Aku tau namamu. Ada apa?”

“Sebenarnya…aku…”

“Ya?”

“Sebenarnya…” mata Chanyeol bergerak-gerak, berkali-kali melirik kearah Lay untuk memastikan jika daging yang dimakannya belum habis. “Sebenarnya, aku sangat menyukai bulgogi buatan ibumu. Dan aku ingin memakannya lagi…”

“Apa?! Lagi?!” Ilhoon tersentak kaget. Ia menoleh kearah Chanyeol lalu pada Sehun dengan mata terbelalak. “Dia pernah memakannya sebelumnya?!”

“Kemarin Lay ke rumahku dan ibuku membawakan bulgogi untuknya dan saudaranya”jelas Sehun semakin membuat Ilhoon terkejut

“Ke rumahmu?!”

“Park Sehun…aku ingin memakannya lagi…”ulang Chanyeol memasang wajah sedih karena Lay juga tidak menyadari dan mungkin tidak perduli. Ia tetap memakan bulgoginya tanpa mau berbagi.

“Daging di rumahku sudah habis dan…kau tau? Aku bukan orang kaya seperti kalian yang dengan mudah bisa membeli daging. Maksudku…aku harus bekerja dulu jadi…”

“jadi aku tidak boleh memakannya lagi?”lirih Chanyeol

“Hey, Park Sehun. Aku Chen. Aku juga menyukai bulgogi buatan ibumu”

Sehun semakin bingung saat Chen juga ikut berdiri dan mengatakan jika ia juga menyukai bulgogi buatan ibunya. Sejujurnya, ia tidak terlalu peduli karena ia tidak mengenal keduanya. Ia hanya mengenal Lay dan dia satu-satunya yang meninggalkan kesan baik padanya. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua-duanya memohon dengan wajah melemas.

“Aku akan bilang pada ibuku tapi aku tidak bisa berjanji”seru Sehun mencoba menghibur

“Sehun, bekalmu sudah habis. Bulgoginya sangat enak. Terima kasih. Kau mau soda? Aku akan membelikannya untukmu” seru Lay mendorong bekal makanan Sehun yang kini kosong lalu membersihkan mulutnya dengan tangan

“Lay, kenapa kau habiskan?!”

“Oe? Aku tidak tau jika kau mau memakannya, Loki”balas Lay datar

“Park Sehun, sebaiknya kita keluar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu”

Ilhoon menutup bekalnya, menarik lengan Sehun dan menyeretnya keluar meninggalkan orang-orang Sigismund itu.

“Lay, kau mau aku membakarmu, huh?!”seru Chanyeol kesal

“Lay, apa kau melupakan kami?! Bukankah kau tau kami juga sangat menyukainya?!”timpal Kai tak kalah kesal

Meninggalkan pertengkaran itu, saat D.O memperhatikan Sehun dan Ilhoon hingga hilang di pintu kelas. Ia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Matanya sempat tertuju pada sebuah kain berwarna putih yang sedikit terlihat di dalam lengan blazer namja itu.

‘Kenapa dia selalu memakan hand band?’

***___***

“Sehunie, kau berteman akrab dengan anggota Sigismund itu?”tanya Ilhoon saat mereka sudah berada di luar ruang kelas

“Tidak. Aku hanya mengenal Lay”

“Tapi kemarin kau juga terlihat akrab dengan Luhan”

“Luhan? Tidak. Kami tidak akrab”elak Sehun

“Sehunie, bukankah kau tau teman-teman kita sangat mem—“

“membenci mereka? Aku tau”potong Sehun dengan wajah malas. “Ilhoon dengar, aku tidak perduli dengan apa pikiran kalian tentang keluarga itu. Yang jelas aku tidak akrab sama sekali dengan mereka. Aku hanya mengenal Lay karena kemarin lusa, dia lupa jalan pulang jadi aku menolongnya. Hanya itu”

“Tapi, kau tau kan jika Ravi—“

Sehun memotong kembali, “aku tidak perduli dengannya”tandasnya. “Aku tidak perduli jika dia atau kalian memusuhi mereka atau tidak. Aku berhak berteman dengan siapapun dan menentukan jika aku tidak ingin mempunyai musuh. Aku tidak akan terpengaruh”jelas Sehun membuat Ilhoon benar-benar terkejut atas ucapannya.”Ilhoon, mereka tidak pernah berbuat jahat padamu. Jika kau ingin membenci mereka, sebaiknya kau pikirkan lagi…”putus Sehun akhirnya lalu kembali ke dalam kelas

***___***

Sehun memutuskan untuk bermain bola di lapangan sebelum pulang ke rumah. Suasana hatinya sedang buruk karena sepanjang pelajaran terakhir tadi, Ilhoon tidak berbicara dengannya sama sekali. Sepertinya dia sedang marah.

Bahkan saat waktu pulang, Ilhoon tidak seperti biasa yang akan menunggu Sehun di parkiran lalu pulang bersama. Kali ini, dia langsung menghilang saat bel pulang berbunyi.

Sehun menendang bolanya kuat-kuat menuju gawang, lalu menghembuskan napas panjang. Ilhoon adalah sahabat terbaiknya, tapi kata hatinya juga tidak ingin membenci keluarga Sigismund itu.

***___***

“Aku sudah tidak tahan lagi! Aku ingin makan bulgogi dan kimchi itu! Aku sudah mencoba semua bulgogi tapi tidak ada yang seenak kemarin. Aku ingin bulgogi!” Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil

“Aku membencimu, Lay”kata Luhan masih sangat kesal dengan kejadian tadi siang

“Hey, bukankah aku sudah minta maaf? Aku tidak tau jika kalian juga ingin memakannya” Lay berkilah

Tao menggembungkan pipinya lalu menghela napas panjang, ”aku juga ingin bulgogi”

“Luhan, bukankah kau tau dimana rumah Sehun? Antarkan aku kesana”suruh Chanyeol membuat kening Luhan seketika berkerut

“Ha? Kau mau apa?”

“Aku mau meminta ibunya memasakkan bulgogi untukku”

“Benar juga. Kita sudah mencoba semua bulgogi tapi tetap tidak ada yang mampu mengalahkan bulgogi buatan ibu Sehun. Kita kesana saja dan memintanya untuk membuatkannya lagi” Suho menyetujui ide Chanyeol. Ia yang biasanya bersikap dewasa kini bisa disejajarkan dengan Baekhyun dan Chanyeol yang terlihat seperti anak kecil.

“Minta padanya membuatkan yang banyak untuk persediaan kita”tambah Kris

“Benar juga. Lagipula aku juga sangat merindukan omoni”kata Lay

Kita kesana sekarang!” Luhan langsung bersemangat dan meraih kunci mobilnya.

***___***

Sehun’s house, Gangnam-gu, Seoul, South Korea.

Wanita tua itu sibuk merapikan bunga-bunganya di hari yang mulai senja seorang diri. Membersihkan rumput-rumput yang ikut tumbuh di pot tanaman hiasnya. Itulah rutinitasnya setiap hari, menjual bunga dan duduk disana sepanjang hari.

Joegiyo…”

Taeyeon menoleh saat mendengar suara bass seseorang. Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan sudah berdiri di depan kiosnya. Matanya bulat dan mempunyai senyuman yang manis.

“Mau membeli bunga?”

“Tidak” geleng namja bertelinga lebar itu

Kening Taeyeon berkerut, “Lalu?”

“Bertemu denganmu…”

“Ha?”

Omoniii….!”

Taeyeon terkejut bukan main saat Lay muncul dan beberapa orang yang keluar dari jejeran mobil mewah yang kini sudah terparkir di depan kios bunganya. “I-ni…ada apa?”

Omoni, hai…”sapa Lay tersenyum lebar

“Lay-yaa, a-ada apa?”

Omoni, mereka semua adalah saudaraku. Mereka ingin berkenalan denganmu”seru Lay berpindah posisi ke samping Taeyeon

Taeyeon mengerjap bingung, “B-benarkah?”

Omoni, masih mengingatku?”tanya Luhan menunjuk dirinya sendiri

Senyum Taeyeon seketika merekah, “aaah, si tampan Luhan…”

Omoni, aku adalah Chanyeol. Aku sangat menyukai bulgogi buatanmu. Bisakah kau membuatnya lagi?”

Mwo?”

“Omoni, aku juga menyukainya. Aku mohon.. masakkan untuk kami lagi”rengek Kris

Omoni, sebenarnya kami semua kesini ingin memintamu untuk membuatkan bulgogi. Kami sangat menyukainya”jelas Lay tersenyum lebar

“Benarkah?” Lay mengangguk. “Tapi…daging di rumah ini sudah tidak ada lagi dan aku…”

“Jangan khawatir. Kami akan membelikan daging yang banyak untukmu”potong Luhan bisa menebak pikiran Taeyeon

Omoni, aku mohoooon” Baekhyun mengatupkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah selemas mungkin

Omoni, kami sangat lapar”tambah Xiumin

“Hhhh…baiklah. Haruskah kita pergi ke supermarket untuk membeli daging?” Akhirnya Taeyeon menyerah dengan rengekkan sebelas namja itu.

“Omoni, kau benar-benar mau memasak untuk kami? Thankyou…thankyou…thankyou…”seru Kai senang. Ia menggenggam kedua tangan Taeyeon dan melompat-lompat

“Kalian—?“

“Oe? Park Sehun?”ujar Lay saat melihat Sehun muncul di pintu kios.

“Kalian sedang apa di kios ibuku?”tanyanya bingung melihat kumpulan Sigismund berada di rumahnya. Kemudian harus berhimpitan untuk menghampiri ibunya karena kios kecil itu benar-benar dipenuh sesak oleh orang-orang berambut warna-warni.

“Kami ingin makan bulgogi”jawab Tao tersenyum lebar

“ha?”

“Sekarang, kami ingin membeli daging bersama omoni”tambah Suho

“APA?!!”

TBC

58 thoughts on “FF : The Lords of Legend (Chapter 10)

  1. endahsekar berkata:

    Author-nim aku nyesellllll baanget baru baca ff EXO sekereeennnn ini … walaupun aku EXO-L entah kenapa aku ngga pernah punya niat buat baca ff EXO -_- tapi setelah maksain buat baca ff ini aku malah ketagihannn sama ff EXO buatan author :))

  2. Oh Yuugi berkata:

    Hahaa… chapter kali ini spesial bulgogi…wkwk
    Jadi pengen bikin indomie yg rasa bulgogi deh…wkwkwk
    Duuh,, bulgogi Taeyeon hebat bgt sampe2 semua Dewa dibikin ketagihan apalagi Kris sampe ikutan merengek..wkwkwk
    Semoga chapter depan udah terkuak kalo Sehun adalah si Dewa Ares… hee
    Aku ijin teleportasi ya ke next chapt, annyeong!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s