FF : Mr.Baekgo’&King Evil part 2

downloadfile-9

Title: Mr. Bego’& King evil part 2

Author:@exowie

Main cast: Exo (Baekhyun,Kai, Chanyeol,Lay), Lee Rian (OC),Luna, Victoria (fx),Park Chorong (A pink)

Genre: Family,comedy,school,life

Length: Chapter

Rate: PG-13

@@@

Dua minggu berlalu semenjak kedatangan Baekhyun di rumahnya, namun nampaknya Rian masih belum bisa menerima kehadirannya. Dia masih saja berlaku kasar dan acuh terhadap Baekhyun. Mungkin karena bayangan yang diharapkan terhadap anak yang tinggal bersamanya itu jauh dari apa yang dia harapkan sebelumnya. Masih segar ingatan di benak Rian ketika pertama kali melihat Baekhyun turun dari mobil tengah malam waktu itu. Dengan kaca mata bening tebal bertengger di mata yang agak melorot ke hidungnya, memakai t-shirt warna merah yang dimasukkan ke dalam celana setengah lututnya, dan jangan lupakan kaos kaki yang ia kenakan yang tingginya hampir selutut. Di tambah tas punggung warna pink dengan gambar strowbery yang ia bawa dengan tampang bodoh andalannya menoleh ke kanan dan kiri seperti orang linglung mencari sesuatu. Dan yang tidak bisa Rian lupakan bagaimana bisa anak sebesar itu kencing di celana yang untungnya saja dia sudah keluar dari mobil. Jika saja dia kencing di dalam mobil sudah bisa dipastikan Rian tidak akan mau naik mobil oemanya lagi.

“Oema! Kenapa hanya dia saja yang oema bantu mengoles selai roti, mana buat Rian?”

“Biasanya kan kamu gak mau kalau oema bantu, kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah besar dan bisa ngelakuinnya sendiri.” Jawab Victoria yang menaruh roti ke atas piring Baekhyun. Baekhyun sepertiya mengerti kalau Rian merasa iri dengannya dan bermaksud baik memberikan sarapan rotinya pada Rian.

“Ini, kalau An-an, mau ambil, punya Baekhyun aja dulu, nanti oema, juga buat lagi, untuk Baekhyun.” Baekhyun menyerahkan roti yang ada dihadapannya pada Rian. Rian tidak menerimanya justru malah membentaknya.

“An-an An-an!! Nama gue Rian seenaknya aja ganti-ganti nama orang.” Jawab Rian ketus dengan gigi gemertak karena merasa sejak kedatangan Baekhyun, dia sudah merebut kasih sayang oemanya. Karena tidak suka dengan sikap anaknya Victoria menegurnya.

“Rian! Kamu gak boleh gitu sayang, Baekhyun kan berniat baik  memberi rotinya buat kamu, kenapa justru kamu membentaknya.”

“Rian gak butuh roti dari dia, makan aja sana sendiri.” Jawab Rian dengan menatap tajam pada Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya menatap Rian dengan tatapan polosnya.

“An-an kenapa marah-marah, nanti…kalau marah-marah, kata orang, cepet tua.” Ujar Baekhyun polos yang langsung bisa membuat darah Rian mendidih dan ingin mencakar-cakar muka Baekhyun waktu itu juga.

“Tau apa lo tentang gue, ngomong aja masih belepotan sendat sana sendat sini sok bilangin gue, urus sana diri lo sendiri.”

“Rian! Sudah kamu gak boleh berkata kasar kayak gitu gak baik!” Victoria sedikit membentak anaknya karena sedari tadi dia trus-trusan berkata kasar pada Baekhyun. Sementara yang dibentak nyarisnya tidak merasa sama sekali, hanya memasang wajah datar yang membuat Victoria hanya bisa menatapnya iba.

“Terserahlah gue gak napsu sarapan.” Ucap Rian dengan mendorong kasar kursi yang didudukinya dan beranjak pergi untuk berangkat sekolah.

“Rian sayang, sarapan dulu.”

Rian tidak menggubris omongan oemanya dan terus saja berjalan keluar. Victoria hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Dengan menghembuskan nafas beratnya dia berkata,

“Sampai kapan kamu bersikap seperti itu nak…,” lalu menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum “maafkan Rian ya Baek,sebenarnya dia anak yang baik.”

“Baekhyun,tahu oema, Baekhyun juga, yang, salah, mungkin roti, dari Baekhyun tidak, enak.” Jawab Baekhyun dengan nada bicaranya yang terbata-bata. Karena sepertiya dia tidak bisa berbicara lancar seperti anak-anak lainnya. Victoria tersenyum dan mengelus kepalanya.

“Kamu memang anak oema yang baik dan polos, makanlah yang banyak biar bisa pinter trus jadi dokter deh.” Victoria bercanda garing, namun namanya juga Baekhyun, segaring apapun lawakan orang yang berbicara padanya tetap saja tertawa.

“Ehm…oema juga harus, makan banyak, a…” Baekhyun membuka mulutnya dan menyuapi Victoria dengan senyum lebarnya.

________________________

“Dia pikir dia siapa, beraninya mengusik kehidupan gue. Dah gitu pakek acara manggil oema gue dengan sebutan oema lagi. Oema juga, anak begok kayak gitu di bilang polos dah gitu perhatian banget lagi ama tu anak, gue jadi gak diperhatiin lagi deh gegara dia. Sebel banget. Mau gantung diri aja deh gue dari pada harus hidup sama dia. Mana keadilan mana?” Rian menyusuri lorong sekolahan dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan keras sambil menggerutu tidak jelas. Sampai-sampai anak lain yang kebetulan berpapasan dengannya harus menyingkir karena tidak mau dimakan hidup-hidup oleh singa yang kini sedang mengamuk.

“CHANYEOL…UDAH BOSEN BERNAFAS LO!!”

Sambil terus berjalan Rian mendengar dan melihat orang yang sudah tidak asing lagi dihidupnya sedang tersungkur dengan tidak indahnya di lantai agak jauh dari tempatnya berdiri. Chanyeol terlihat berlari tunggang langgang menghindari serangan yang akan menimpanya dan berbelok ke arah kiri yang naas baginya, dia harus bertabrakan dengan Kai yang sedang berjalan santai menuju arah yang berlawanan dengan Chanyeol. Karena kecepatan lari Chanyeol, Kai yang ditabrak langsung mental kebelakang begitu juga dengan Chanyeol yang mengakibatkan mereka tersungkur ke lantai dengan tidak elitnya.

“Woy!! Yeol hati-hati dong, jalan pakek kaki mata buat ngeliat!” Seru Kai jengkel.

“SINI LO MAU LARI KEMANA LO, BERANI-BERANINYA AMA GUE, LO PIKIR GAK SAKIT JATUH.” Luna terus mengejar Chanyeol yang dikarenakan tadi saat Luna berjalan tiba-tiba saja Chanyeol sengaja menaruh kaki jenjangnya di depan kaki Luna, dan membuatnya jatuh tersungkur ke depan. Karena Chanyeol yang masih terduduk di lantai gegara acara tabrakan tadi, Luna dengan mudah mengejarnya. Dan sesudah sampai di hadapan Chanyeol, Luna tanpa ampun menghajarnya dengan membabi buta. Kai, bukannya menolong sohibnya malah dengan kejam membantu Luna menganiaya Chanyeol.

“Rasain ni tabokan dari gue yang dijamin rasanya gak akan luntur selama seminggu.” Ucap Luna penuh semangat dengan terus memukul pundak Chanyeol.

“Aduh Lun udah Lun ampun sakit ni, iya deh maaf lain kali enggak bakalan deh. Kai, aduh… tolongin woy kenapa lo juga ikutan, sahabat macam apa lo.” Seru Chanyeol sembari menghindari pukulan dan tendangan yang diberikan untuknya.

“Sahabat macam nano-nano! ada manis, asam, asin, rame deh pokoknya. Siapa suruh lo nabrak gue ampek jatuh, malu-maluin muka gue yang ganteng ini aja.”

“Ch…! dari dulu juga elu ngomong kayak gitu tapi gak ada kapoknya juga. Makan ni makan…sakit bodo amatan.” Giliran Luna yang berucap dengan tidak memperdulikan ucapan ampun Chanyeol.

“Apa lagi…ini!?” Rian hanya bisa memutar bola matanya malas melihat kejadian di depannya dan segera bergegas menuju ke kelas tanpa memperdulikan mereka yang masih asyik dengan kegiatan penyiksaan itu. Melewati mereka seolah-olah tak mengenalnya.

__________________________

Kelas XII.B yang kini sedang
mendapatkan pelajaran IPA di jam kedua mata pelajaran mereka, dengan dihiasi beragam tingkah murid yang memperhatikan guru yang sedari tadi berkoar di depan kelas menerangkan pelajarannya. Ada yang memperhatikan dengan seksama, menguap karena ngantuk, ngupil karena bosan, melamun, galau karena baru putus pacar, perut keroncongan karena lapar, diam namun belum tentu mendengarkan. Chanyeol dan Luna yang tumben anteng-anteng saja mendengarkan gurunya menerangkan di depan, tanpa ada niat untuk saling berdebat.  Mungkin karena sudah bosan, lelah  atau mungkin karena tadi Chanyeol sudah berbaik hati meminjami bulpen Luna yang habis. Jadi untuk sementara mereka berdua dalam status aman. Sementara Kai, yang asik melamun ria dengan dunianya sendiri, entah apa yang dia lamunkan hanya dia sendiri yang tahu.

Kalau Rian termasuk dalam golongan perut keroncongan karena lapar. Karena tadi pagi dia gak sarapan sama sekali gegara dongkol sama si Baekhyun. Jadilah dia sekarang memandangi bukunya yang terdapat gambar bentuk bumi dengan seksama. Bukan, bukan karena dia memperhatikan pelajaran itu. Justru dia hanya melihat gambar bentuk bumi itu yang ajaib baginya karena kelaparan, gambar bumi bulat itu berubah menjadi gambar donat yang menggiurkan. Dia terus saja melihat gambar itu tanpa berkedib sambil mengelus perut yang terus berbunyi itu.

“Jadi…dari contoh yang saya sebutkan tadi bisa disimpulkan bahwa…,” guru mata pelajaran IPA itu berhenti sejenak melihat seorang murid yang terus menunduk kebawah dan melanjutkan “bentuk bumi itu seperti…LEE RIAN!?”

“Donat! eh…!!” Refleks Rian membungkam  mulutnya karena kaget dan keceplosan bicara apa yang kini sedang ia pikirkan.

“Bwahahahahaha….” terdengar gelak tawa membahana di ruangan itu. Yang tadinya ngantuk, ngupil, galau, melamun seketika itu juga sadar dan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol dari Rian. Tak terkecuali tiga manusia yang duduk di samping dan belakangnya. Justru ketiganya yang tertawa paling keras dan lebar sampai memukul-mukul meja dan memegangi perutnya.

“Semuanya DIAM!” Bentak sang guru karena kelas menjadi ramai tak terkendali. Lalu berjalan menghampiri Rian yang diam seribu bahasa karena takut melihat gurunya murka.

“Bisa kamu jelaskan dengan jawaban yang kamu jawab mengenai bentuk bumi?” Tanya sang guru menahan sabarnya. Sebenarnya Rian tidak mengerti sebelumnya mengapa dia dipanggil guru dan pertanyaan apa yang guru itu ajukan padanya. Mengingat dia tadi hanya kaget dan refleks mengucapkan kata ‘donat’. Namun dengan pernyataan dari gurunya bisa ditangkap sedikit bahwa tadi sang guru bertanya bentuk bumi itu apa. Dengan otak sedangnya sebisa mungkin dia ngeles dan memberi jawaban.

“I…itu pak, anu, bumi itu kan bulat, donat sendiripun juga bulat jadi apa salahnya saya menjawab donat, kan sama-sama bulatnya pak.”

“Bwahahahahaha anjir lawak bener sih tu anak.” Ucap salah satu murid laki-laki yang duduk di depan. Gelak tawa tak dapat dihindari lagi mendengar jawaban asal dari Rian. Kelas sekali lagi menjadi gaduh dan berisik. Sang guru sepertinya sudah tidak bisa sabar lagi menghadapinya.

“Tidak adakah perumpamaan yang lebih cocok dari itu. Saya tidak suka melihat murid saya tidak memperhatikan apa yang saya jelaskan. Lari keliling lapangan 20 kali atau berdiri di depan kelas sampai pelajaran saya selesei.”

“Pilihan duduk  ada gak pak?” Tanya Rian polos yang membuat seisi kelas tertawa kejer sedangkan guru  Rian kini mukanya seperti warna tomat busuk saking emosinya.

“KLUAR DAN LARI LAPANGAN 20 KALI, JONGIN AWASI DIA SELAMA BERLARI, JANGAN SAMPAI DIA BERLARI KURANG DARI 20 KALI.” Bentak sang guru dengan emosi membara. Kai yang kebetulan ditunjuk guru untuk mengawasi Rian dengan senang hati segera bangkit dari kursinya.

“Siap pak! Tugas akan dilaksanakan dengan baik.” Ujar Kai semangat, sementara Rian sudah ngacir ke luar lapangan untuk berlari karena takut di telan hidup-hidup. Chanyeol dan Luna sudah lemas tak punya tenaga karena kebanyakan tertawa.

“Haduh…somplak bener sih Lun temen lo itu hahaha…” Chanyeol berucap sambil menahan tawanya.

“Tau tu, bukannya itu temen lo, emang ya temen lo tu gak ada yang beres semua hahaha….” Jawab Luna kejam dan sadis, seolah dia adalah anak yang beres dan baik-baik.
Beralih sejenak ke lapangan. Rian dengan gontai berusaha berlari mengerjakan hukumannya. Dengan menahan malu karena kebetulan kelas lain sedang jam olah raga di lapangan dan dengan semangat 45 terus saja meledek Rian yang sudah lemas berlari padahal baru beberapa putaran saja. Dalam hatinya dia trus merutuk kesal.

“Enam….”

“Eh kampret lo ye! Gue udah 7 kali putaran kenapa masih lo hitung enam aja.” Protes Rian.

“Gue bakal itung satu putaran penuh kalau larinya cepet, lah ini lo lari aja kayak siput merayap, jadi bukan salah gue kalau gue itung setengah, udah jangan banyak protes gue itung mulai satu lagi mau lo!?” Jawab Kai santai.

“Enak aja mau dapat tonj….”

“Satu….” Ucap Kai dengan tangannya yang ia lipat ke depan dada memotong omongan Rian. Rian hanya bisa melotot tajam ke Kai tanpa bisa melakukan apapun selain berlari lagi. Tanpa Rian ketahui Kai menyunggingkan senyum tulus melihat Rian yang tengah berlari dan menolehkan kepala ke arah kelasnya. Dimana terlihat dari jendela dua anak manusia yang sedang saling pukul dengan penggaris entah apa yang mereka ributkan di pojok kanan kelas itu. Dengan senyum yang mulai pudar dia berucap lirih.

“Terima kasih, tanpa adanya kalian mungkin orang tak kan bisa melihat senyumku lagi, bahkan diriku sendiri.”
_________________________

“Uhuk-uhuk.”

“Ian nyatai aja dong makannya, kayak gak makan seminggu aja lu.” Luna memukul pelan punggung Rian yang kini sedang terbatuk-batuk karena tersedak makanan. Dia melampiaskan bentuk kekesalannya dengan cara memamah biak makanan yang ia pesan di kantin dengan brutal. Tak memperdulikan ocehan Luna yang sedari tadi menyuruhnya untuk berhenti makan dengan cara membabi buta seperti itu.

Rian terus merutuk kesal dalam hatinya.”Ini semua gara-gara manusia bodoh itu, kalau saja dia tidak hadir dalam kehidupan gue pasti ini semua gak kan terjadi.” Ucapnya dalam hati karena jengkel tadi dia sudah jadi bahan tertawaan teman sekelasnya dan mendapat hukuman. Dia terus menyalahkan Baekhyun yang tidak tahu apa-apa. Sementara orang yang kini sedang dimaki-maki Rian dalam hati, sedang hidup damai di dapur membantu Victoria memasak.

“Itu namanya garam sayang bukan gula. Gula ada di sebelah botol kecap itu.”

“Ow…hehe. Baekhyun, tidak tahu, oema, maaf.” Ucapnya sambil menaruh kembali garam yang tadinya dia kira gula.

“O ya kamu bisa bantu oema memotong sayur ini, kalau bisa potongin ya oema bikin bumbunya dulu.”

Baekhyun tidak langsung menjawabnya. Dia nampak sedikit berpikir dan menatap sayur kol yang harus dia potong. Karena tidak mau mengecewakan oemanya dia mengangguk ragu dan menjawab,

“Bisa.”

Victoria hanya tersenyum memandang wajah bingung Baekhyun. Dia mengerti sebenarnya kalau Baekhyun tidak bisa.

“Kalau tidak yakin tidak usah, biar oema saja yang memotongnya nanti, kamu duduk saja.”

“Bisa, bisa, Baekhyun bisa.” Jawab Baekhyun mantap dan langsung mengambil pisau untuk memotong sayur kol itu.

Setelah sekitar hampir satu jam bergulat di dapur, masakan pun jadi. Baekhyun terlihat senang karena bisa membantu Victoria memasak walaupun tak seberapa membantu juga. Sehabis membasuh muka, Baekhyun menuju halaman depan untuk sekedar duduk di teras. Dilihatnya anak-anak yang tengah bersepeda di jalan depan rumahnya tertawa riang. Sebenarnya dia ingin menjadi salah satu dari mereka. Tapi dia sadar, dia tidak bisa bersama mereka, dia berbeda dari mereka. Yang dia bisa hanya melihatnya.

Victoria yang saat itu hendak pergi bekerja melihat Baekhyun yang sedang menatap lurus kedepan tanpa ekspresi, segera saja ia menghampiri dan mengusap lembut kepalanya.

“Kamu sedang apa?”

“Ha…? E…tidak ada hehe. Oema mau, berangkat bekerja, sekarang?”

“Ya. Kamu kalau lapar makan saja dulu. Tidak usah menunggu Rian.”

“Tidak, aku, akan menunggu, An-an pulang, Baekhyun, tidak akan, makan, kalau Rian, belum pulang.” Jawab Baekhyun dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Victoria hanya tersenyum melihatnya seperti itu. Bagaimana mana bisa Rian yang tidak pernah bersikap ramah terhadapnya, mau-maunya Baekhyun dekat dengan putrinya itu. Bukannya tidak senang justru Victoria merasa kasihan jika melihat Baekhyun dibentaki trus oleh Rian.

“Ya sudah jika itu maumu, oema berangkat kerja dulu ya.”

“Ehm! Hati-hati oema…!” Baekhyun melambaikan tangan pada Victorya dan dibalas dengan anggukkan dan lambaian tangan juga.

_________________________

“Panas banget sih hari ini gila aja keringat gue ngalir kayak air gini.” Keluh Rian yang baru saja pulang sekolah dan meletakkan sepedanya di garasi. Segera dia membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah dan berteriak “Rian pulang.” Meskipun agak lemah. Dan terkejut saat itu juga karena setelah ia membuka pintu suara cempreng sudah menyambutnya dengan berdiri di depan pintu dan senyum muka bodohnya.

“An-an sudah pulang?”

“He! YA! Ngapain lo di situ, pengen gue mati jantungan karena kaget, minggir!!”

“An-an kaget? Tapi…aku, tidak bermaksud, mengageti.” Ucap Baekhyun dengan terus mengikuti Rian  dengan berjalan di belakangnya. Rian berhenti mendadak sehingga Baekhyun harus menabrak punggung Rian. Lalu Rian menoleh kearah Baekhyun dengan tatapan tajam mematikannya.
“Gue kaget karena liat muka bodoh lo itu,” trus berjalan kembali, belum beberapa langkah dia memutar tubuhnya lagi. “DAN JANGAN IKUTI GUE LAGI!” Ucapnya ketus dengan menunjuk muka Baekhyun dengan telunjuknya. Saat itu juga Baekhyun berhenti berjalan di belakang Rian dan hanya memandang Rian memasuki kamarnya.

Rian segera keluar kamar setelah mengganti baju seragamnya dengan pakaian biasa. Masih didapatinya Baekhyun yang terus berdiri di tempatnya tadi tanpa beranjak sedikitpun. Rian hanya menatapnya malas dan langsung berjalan ke dapur tanpa menolehnya.

“An-an mau makan?” Tanya Baekhyun yang lagi-lagi mengekor Rian dari belakang.

“Gak! Mau tidur.”

“Kalau tidur, kenapa ke dapur, kan tidur, itu…di kamar.”

Darah Rian mendidih, tanduk di kepalanya keluar lagi, ingin rasanya menyundang Baekhyun sampai hilang ditelan bumi.

“Aduh…lo itu goblok atau dungu sih, YA IYALAH GUE MAU MAKAN MASIH TANYA LAGI!”

“Kan tadi, An-an bilang, mau tidur.” Baekhyun berkata kembali. Rian garuk-garuk tembok karena tidak tahu lagi harus ngomong apa pada orang di depannya. Dari pada buang-buang tenaga buat ngebentakin Baekhyun, dia memutuskan untuk melanjutkan berjalan ke dapur.

Sampai di dapur Rian langsung membuka kulkas dan memutar bola matanya malas melihat isi kulkas. Ya, semenjak kehadiran Baekhyun, kulkas penuh berisi dengan makanan yang berbau rasa strowbery. Dari susu sampai biskuit semua rasa strowbery. Tidak lupa buahnya juga terpampang indah disana. Jadi tidak heran kalau tas dan sebagian bajunya bergambar strowbery. Dikarenakan Baekhyun adalah strowbery maniak.

“Harusnya gue gak membukanya.” Umpat Rian, lalu mengambil mangkok, sumpit untuk makan. Di lihatnya beberapa makanan terhidang di atas meja. Rian melihat ada yang sedikit berbeda, tapi tidak tahu ada dimana letak perbedaannya. Tanpa memperdulikan itu semua dia langsung mengambil sup dari mangkok besar ke mangkoknya. Baekhyun yang duduk di depannya hanya tersenyum melihat Rian.

“Ngapa liatin gue, baru sadar gue cantik ?” Narsis Rian kambuh sembari memakan supnya.

“Hehe An-an cantik, kok. Itu, tadi Baekhyun yang bantu oema, masak sup itu, enak kan?”

JEDER….!!

“Buuffhh…. ” Sontak Rian menyemburkan sup yang ada dimulutnya. Bukan karena tidak enak, tapi karena merasa gengsi saja memakan masakan musuh lahir batinnya.

“Jadi ini yang gue rasa ada yang tidak beres,” Batinnya dalam hati “harusnya gue udah dari tadi sadar, bagaimana mungkin oema yang bekerja sebagai koki lestoran terkenal memotong sayur segini ancurnya.” Rian melihat lagi sup yang di dalamnya terdapat berbagai macam sayur dengan irisan yang besar dan kecilnya tidak sama.

“An-an kenapa? An-an sakit?” Baekhyun menghampiri Rian yang masih setia bengong dengan mulut melongo. Dan menyentuh keningnya karena Baekhyun kira dia sakit. Rian langsung menepis tangannya dan berdiri.

“Jangan sentuh gue!”

Ting tong….

Terdengar bel pintu berbunyi. Mereka berdua refleks menoleh ke arah pintu ruang tamu.

“Buka pintunya gi, gue mau ke toilet.”

Baekhyun langsung menuruti perintah Rian dan menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Saat pintu di buka,

“SURPRISE….!! lho-lho!! sejak kapan Rian jadi laki begini.” Nampak seorang perempuan berambut panjang dan berponi depan rata  itu bingung.

“Sejak lo bodohnya gak ketulungan lagi.” Jawab lelaki di sebelahnya.

“Ye…bodoh-bodoh gini lo juga mau ama gue.”

“Terpaksa dan kasihan juga ama lo, takut jadi perawan tua gegara gak ada laki yang mau.”

“Ih…gak kebalik tu bukannya dulu seorang Chang Yixing yang mengejar Park Chorong. Marah ni gue, pulang aja ah.” Chorong manyun dan pura-pura ngambek.

“Iye iye, gitu aja ngambek. Habisnya lo dungu aja dipelihara lama-lama. Mana mungkin cewek bisa berubah jadi cowok, lu pikir ni negeri sihir.”

“Habisnya kan ini rumah cuma Rian dan oemanya yang nempatin, la ini ada cowok. Siapa dia…? Eh gue tau gue tau,” Chorong heboh sendiri ” Ni anak pasti yang dulu Rian bilang ke kita anak teman oemanya yang mau tinggal disini itu, ya kan?”  Chorong terus saja nerocos tanpa henti dan bertanya pada Baekhyun. Baekhyun yang sedari tadi membeku karena sehabis membuka pintu mendapati orang yang sebelumnya belum pernah dia lihat adu mulut di depannya langsung kaget mendengar pertanyaan dari Chorong.

“Ha….?” Ucapnya

“Iya kamu kan orangnya?” Tanya Chorong lagi.

“Apa?” Ucap Baekhyun lagi karena bingung. Chorong sudah bete melihat muka linglung Baekhyun. Karena tidak mengerti juga dengan apa yang dia tanyakan. Langsung saja Lay mengambil alih untuk bertanya.

“Kamu tinggal di sini kan?”

“Iya.” Baekhyun mengangguk.

“Nama kamu siapa?” Tanya Lay ramah dan tersenyum.

“Nama, saya, Baek….”

“GOK…! Suara dari belakang Baekhyun memutus ucapanya. Sontak ketiga orang itu menoleh ke dalam rumah. Rian dengan tangan di depan dada menghampiri tiga orang yang berdiri di pintu.

“Iya nama lu tu Baekgo’!” Rian mengulangi kalimatnya dan menatap Baekhyun. Merasa namanya disebut tidak benar Baekhyun langsung menggeleng dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka.

“Bukan, bukan, nama, saya Baek…”

“Gok…” Rian menyahut sekali lagi.

“Bukan, tapi Baek…”

“Gok!”

“Baek…”

“Gok!”

Terlihat adu mulut antara Baekhyun dan Rian.  Chorong dan Lay hanya bisa menolehkan kepala ke kanan dan kiri mengikuti sumber suara. Chorong yang kakinya sudah mulai pegal karena lama berdiri sudah tidak sabar lagi menunggu keduanya berhenti berdebat.

“Inikah cara kalian menyambut tamu yang baru datang?” Katanya.

Rian dan Baekhyun langsung terdiam dan menatap mereka berdua. Rian dengan termehe-mehenya langsung menyuruh mereka masuk.

“Tumben kalian kesini, ada apa?” Tanya Rian sambil meletakkan tiga gelas jus jeruk di atas meja.

“Kebetulan hari ini kita berdua sedang tidak ada kerja. Kemaren-kemaren sih sibuk banget , pulang tengah malam trus. Memang kenapa kalau kita kesini, gak suka?!” Jawab Lay lalu meneguk jusnya sampai tinggal setengah gelas. Baekhyun yang duduk  disamping Lay memperhatikan Lay meminum jusnya tanpa dia sadari kini lidahnya menjilat bibirnya sendiri karena ingin.

“Ya enggaklah, justru gue seneng pakek banget.”

“An-an, minum, buat Baekhyun, mana?”

“Lo pikir lo siapa! Ambil aja sana sendiri. Emang gue pembantu lo apa!” Rian menjawabnya dengan ketus.

“An-an?” Chorong bingung.

“Iya! Tau tu oeni, dasar anak begok nyebut nama Rian aja gak bisa,” Rian menatap Baekhyun “ngapain juga lo masih ngejogrok di situ, sana pergi ambil.” Baekhyun bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang.

“Sepertinya selalu ada balasan disetiap apa yang kita lakukan ya Ian,” Lay tersenyum sekilas dan Rian mengerti maksud dari perkataannya. “Tapi gue cuman mau ngingetin ke lo, cobalah bersikap baik padanya. Dia sepertinya anak yang baik dan gak sampai ngerepotin lo kan.”

“Anak baik? Gak ngrepotin? Anak kayak gitu dibilang baik dan gak ngrepotin? Oppa gak tahu dia sih. Dia udah buat hari-hari gue suram dengan tingkahnya. Dia juga udah ngerebut kasih sayang oema. Gue benci dia banget…!”

“Dulu lo bilang bukannya lo seneng ada yang tinggal di rumah ini, karena setidaknya lo punya teman saat oema lo kerja?”

“Itu maksudnya udah beda lagi oeni…dulu gue pikir anaknya bukan anak tulalit kayak dia. Kalau aja sebelumnya oema bilang keadaannya seperti itu, pasti sudah gue tolak mentah-mentah.”

“Memang apa yang membuat oema lo mau mengurus dia di sini.”

“Sampai sekarang oema tidak mau menceritakannya sama gue.” Rian menjawab pertanyaan Chorong dengan hembusan nafas.

“Lo hanya terlalu merasa saja Ian. Dia sebenarnya tidak pernah membuat hidup lo suram ataupun merebut oema lo. Tapi karena lo yang tidak menyukainyalah yang membuat semua yang terjadi di hidup lo seolah-olah dialah penyebabnya. Itu semua kembali dari diri lo sendiri. Dan gue yakin ada sesuatu yang membuat oema lo mau dia tinggal di sini.”

“Oppa membelanya?”

“Tidak! Gue gak membela dia ataupun lo. Karena di sini tidak ada yang harus di bela.”

“Bisa kita tidak membicarakan dia saat ini, gue benar-benar malas membahasnya.” Rian menyenderkan kepalanya ke belakang, sementara Lay dan Chorong hanya saling melempar pandangan.
_________________________

Diam. Itulah yang kini sedang Rian lakukan. Sejak kepulangan Lay dan Chorong sore tadi, dia sama sekali tidak ingin melakukan apapun. Sampai malam pun tiba dia hanya duduk dan bersandar di sofa, televisi ia biarkan menyala tanpa berniat menontonnya. Dia memperhatikan Baekhyun yang sedang asik dengan dunianya sendiri. Duduk di lantai dan dengan serius melenggok-lenggokkan tangannya di atas buku gambar. Entah apa yang dia lakukan Rian tidak tahu dan tidak mau tahu.

Suara erangan mobil, mengembalikan pikiran Rian yang entah dari tadi pergi  melayang kemana.

“Oema…pulang….” Baekhyun menutup bukunya dan berlari membuka pintu.

“Malam anak oema yang cakep, coba apa yang oema bawa.” Victoria mengangkat tangannya dan terlihat dua kotak cake yang terbungkus rapi. Seketika mata Baekhyun berbinar mendapati cake yang salah satunya berasa stroebery kesukaannya.

“Wuah…kue strowbery, Baekhyun suka, oema, boleh aku, makan itu?”

“Boleh dong…ini kan memang oema beli buat kamu.”

“Ye…Baekhyun boleh, makan kue strowbery.” Baekhyun girang bukan kepalang sembari lonjak-lonjak seperti anak kecil. Victoria hanya tersenyum saja melihat itu.

“Ya sudah cepat bawa masuk gi, dan eits…jangan lupa sebelum makan harus cuci…”

“Tangan!” Sahut Baekhyun cepat.
Victoria masuk kedalam rumah dan melihat Rian beranjak dari duduknya menuju kamar. Segera dia berjalan dan menyusul Rian.

“Rian sayang, oema juga membelikan cake coklat kesukaan kamu, kamu tidak mau memakannya?”

“Rian sudah kenyang.” Jawabnya, lalu menutup pintu kamarnya pelan. Victoria menghembuskan nafas pelan dan ikut masuk ke dalam kamar putrinya. Dilihatnya Rian yang berbaring membelakanginya. Victoria berjalan menghampiri dan duduk disamping ranjang Rian.

“Kamu masih marah sama oema?”

“Tidak!”

“Trus kok jutek.”

Rian tidak menjawab omongan oemanya. Justru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Oema tahu kamu tidak nyaman dengan kehadiran Baekhyun di sini. Maafkan oema. Hanya itu yang bisa oema lakukan.” Suara Victoria mulai bergetar. Rian tahu oemanya menahan tangisnya. Maka dia segera berbalik terbaring menghadap oemanya.

“Dari dulu oema selalu mengatakan hal itu tanpa memberi tahu alasan sebenarnya mengapa anak teman oema harus tinggal di sini?”

“Sebenarnya…dia bukan anak teman oema.” Victoria menjelaskan sembari menunduk. Rian terkejut dan menatap oemanya lekat-lekat.

“Lalu ngapain dia tinggal di sini, oema bilang dia anak teman oema kan?”

“Maaf oema membohongimu. Oema sendiri sebelumnya juga tidak mengenalnya. Tapi oema harus menebus kesalahan oema padanya.”

“Kesalahan apa?!” Rian semakin bingung dengan apa yang diucapkan oemanya.

“Oema…oema…sudah membunuh oemanya Baekhyun.”

“APA…!!” Rian langsung duduk dari tidurnya. Bisa dilihat kini muka oemanya seperti orang ketakutan dan di pipinya mengalir air dari matanya. Lalu Victoria melanjutkan ucapannya tanpa memandang mata Rian.

“Ya! Oema sudah membunuhnya. Dua bulan lalu saat oema pulang dari lestoran tengah malam, karena capek dan mengantuk, oema  tidak sengaja menabrak orang ditengah jalan hingga kehilangan banyak darah. Oema sempat membawanya ke rumah sakit tapi nyawanya sudah tidak bisa diselamatkan. Oema menemukan dompet yang berisi alamatnya. Seketika itu juga oema mendatangi alamat itu. Sampai di sana oema tidak menemukan siapa-siapa kecuali Baekhyun.”

“Lalu Baekhyun saat itu tinggal di mana setelah oemanya meninggal.”

“Oema menitipkannya di penampungan anak. Karena oema belum sanggup untuk membawanya ke sini. Sampai oema siap dan kamu mengijinkan barulah oema bawa dia pulang ke sini. Sampai sekarang oema masih dihantui perasaan bersalah itu. Maka dari itu Rian mau kan membantu oema?”

Victoria menatap lekat manik mata coklat putrinya. Berharap Rian bisa mengerti keadaannya. Ya, dia memang sangat merasa bersalah. Jika saja keluarga Baekhyun menuntutnya sudah pasti kini ia mendekam di penjara. Namun kenyataan berkata lain, sehingga Victoria masih bisa menghirup udara bebas. Dan ia ingin menebus kesalahan yang ia buat dengan menjadi pengganti oema Baekhyun yang baik.

________________________

Pukul 12 malam lebih. Namun mata Rian masih saja enggan untuk terpejam. Dia masih mengingat-ingat apa yang tadi dia bicarakan dengan oemanya. Dia masih belum bisa percaya bahwa kenyataan itu yang akan membuat seumur hidupnya harus bersama dengan Baekhyun. Orang yang tidak tahu karena alasan apa sangat dibencinya. Rian menghembuskan nafas beratnya dan melirik foto appanya yang terlatak tepat di atas meja samping ranjangnya.

“Appa!? Inikah arti mimpi Rian dahulu? Rian bukanlah anak yang seperti appa harapkan. Jika benar ini semua arti dari mimpi itu, maaf…Rian tidak sanggup appa….” air mata itu menetes tepat disaat Rian menutup matanya dan terlelap dalam tidurnya. Membiarkan pikirannya larut terbawa mimpi indah dalam tidurnya. Menyambut esok hari dengan sisa senyum yang ia punya.

*TBC*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s