FF: DARK chapter 2

IMG-20131114-WA0002

Title: Dark

Author:@exowie

Main cast: Baekhyun,Chanyeol (exo)

Support cast: Tuan&Nyonya Byun,Bomi, Sanjeong,Gina

Genre: Family,Life

Rate: PG-17

Length: Chapter

N/T: Ada kenaikan rating. Sebenarnya sih gak ada adegan yang sronoh, cuma author pengen naikin aja muehehehe.

Sinar mentari mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur. Burung berkicau bersahut-sahutan di pohon dan ranting yang besar, sesekali terbang dari dahan satu ke dahan lainnya. Bau khas dari rerumputan hijau berembun di pagi hari menjadikan pikiran segar jika menghirupnya. Karena belum tercemar polusi dari asap kendaraan yang lalu lalang. Ayam tak begitu banyak lagi yang berkokok karena kini sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Meskipun masih pagi, jika sudah mulai memasuki musim panas matahari jadi sedikit lebih awal dan terang bersinar dari pada musim dingin.

Baekhyun, pria bertubuh mungil itu tahu matahari sudah melakukan tugasnya untuk menyinari semesta ini. Tapi tak ada sedikitpun niat darinya untuk bangkit dari ranjang. Toh ini adalah hari libur dan hey… bukannya ini masih terlalu pagi bagi  seorang namja untuk bangun di hari liburnya. Maka dari itu ia mempererat pelukan yang ia beri pada guling yang berada disampingnya. Baekhyun sepertinya menyadari adanya perubahan ukuran dari guling yang tengah ia peluk sekarang. Dia merasa ukuranya jauh lebih lebar dan besar dari biasanya. Terasa juga benda itu bisa bernapas layaknya mahluk hidup.  Sesekali menghirup udara sedikit lama dan membuangnya dengan berat.

Memutuskan untuk membuka mata kecilnya dengan enggan karena mengantuk, Baekhyun menemukan sosok tinggi yang tak asing baginya tengah tidur mengkurap disamping kanannya. Yang tak lain adalah yang kini sedang ia peluk.

“Chanyeol.” Kembali ia menutup matanya setelah ia tahu yang kini berada disampingnya bukanlah guling melainkan sahabat jangkungnya. Baekhyun hampir memasuki alam sadarnya kalau saja otaknya tak bekerja cepat menangkap apa yang tadi ia ucapkan.

“HA…! CHANYEOL !” Baekhyun langsung membuka matanya kembali, sedikit melotot karena tak percaya dengan apa yang dia lihat. Bangkit untuk sekedar duduk, tanpa ampun dan belas kasihan, ia menendang tubuh jangkung itu dengan ke dua kakinya. Membuat tubuh Chanyeol terjatuh dari ranjang dan mendarat di lantai dengan sempurna. Chanyeol langsung bangun dari mimpi tidurnya karena kaget dan merasakan sedikit sakit dari sekujur tubuhnya.

Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari siapa gerangan yang membuatnya tersungkur dan terbangun.  Terlihatlah pria yang duduk di ranjang dengan menatapnya heran. Chanyeol menurunkan kepalanya yang tadi terangkat sedikit dan mendesah pelan.

“Mengapa kau menendang ku Baekhyun-ah…kau pikir tak sakit ?”

“Ngapain kamu di sini, sejak kapan kau di sini, dan ya! bagaimana kau bisa masuk ke  rumahku dan tidur di kamarku ?!”

Baekhyun tak mengindahkan pertanyaan yang Chanyeol berikan padanya. Justru ia bertanya balik tanpa merasa bersalah sehabis menendang sahabatnya itu. Chanyeol tahu pertanyaan itu akan muncul dari mulut orang yang berada di sampingnya. Bangkit dan duduk dengan bersila dilantai dari posisi tidunya. Chanyeol memutar pantatnya hingga kini ia berhadapan langsung dengan sang empu kamar. Menggelengkan kepalanya seperti orang jengkel.

“Bisakah kau bertanya dengan cara yang lebih baik dan terhormat Baek?”

“Tidak! Karena kau sudah menyelinap diam-diam tanpa ijinku.”

“Kau berlebihan. Kau seperti seorang yeoja yang telah aku renggut masa depannya.”

“Ya! Bicara apa kau,” Dengus Baekhyun geli mendengar ucapan Chanyeol. “dan kau belum jawab pertanyaan ku.” Tambahnya.

“Sejak kemarin malam.”

“Kenapa aku tak mengetahuinya.”

“Jangan salahkan aku. Kau saja yang tidurnya seperti orang mati.”

“Trus kenapa kau tidur di sini dan bagaimana kau bisa masuk.” Cerca Baekhyun seakan belum puas dengan jawaban yang ia dengar. Chanyeol hanya menghembuskan nafas seakan malas untuk menjawabnya.

“Si ‘Somplak’ kemaren datang lagi ke rumahku. Aku malas melihat wajahnya. Berada satu rumah dengannya membuat ku gerah. Hingga sampai hampir tengah malam aku hanya duduk di teras. Aku melihat appamu baru saja pulang kerja. Jadi aku masuk rumah bersamanya. Aku pikir tidur di sini membuatku membaik. Ternyata salah besar. Justru badan ku remuk karena tendangan seseorang.

Chanyeol menjawabnya dengan panjang lebar. Berharap Baekhyun tak bertanya lagi padanya. Namun dugaanya salah. Meski ia tahu Baekhyun mengerti kalimat terakhir yang ia ucapkan itu ditujukan untuk dia. Terlihat dari ekspresi sewotnya ketika mendengar kalimat itu meluncur dari mulutnya. Namun tak berapa lama Baekhyun mengerutkan dahinya pertanda bingung akan jawaban yang ia beri.

“Somplak ? Siapa yang kau maksud ?” Dan benar saja, Baekhyun masih saja bertanya. Membuat Chanyeol menggaruk kepala dan beranjak  berdiri menghampiri temannya yang duduk di ranjang.

“Sampai kapan kau terus bertanya, kau tak bosan ? Siapa lagi yang aku maksud kalau bukan teman oema itu. Dan aku harap sekarang aku bisa melanjutkan tidur tertunda ku.” Chanyeol menyeret paksa tangan Baekhyun hingga membuat dia jatuh dari ranjang. Sepertinya ia balas dendam dengan perlakuan yang ia peroleh barusan. Dia sengaja menggunakan tenaganya yang sudah pasti lebih kuat dari pada Baekhyun untuk membuatnya terjerembab ke lantai dengan posisi menungging seperti sekarang. Chanyeol menyeringai puas melihat Baekhyun seperti itu. Kini tak ada lagi yang bisa mengganggu tidurnya. Dengan segera ia berbaring, menelentangkan tangan dan kakinya hingga memenuhi ranjang.

“PARK CHANYEOL…!”

Sudah bisa dipastikan, itu adalah suara Baekhyun yang murka karena merasa tertindas di ruang kamarnya sendiri. Membalik badan dan menatap geram pria yang kini tengah meletakkan jari telunjuknya di depan mulut seolah menyuruhnya diam.

“Jika mau tidur lagi, tidur saja tak usah teriak seperti itu.” Ucapnya dengan mata terpejam.

Baekhyun tak habis pikir, dengan mahluk apa dia sekarang berinteraksi. Jika manusia, bagaimana bisa dia berujar santai menyuruhnya untuk tidur yang jelas-jelas ranjangnya ia tempati sendiri tanpa mau bergeser. Baekhyun hanya terdiam melihat manusia di depannya. Percuma melawannya dengan kepala mendidih seperti sekarang. Dia harus berpikir jernih untuk bisa membalasnya. Hingga ia memutuskan keluar kamar dan berpikir optimis bisa membalas perlakuan Chanyeol.

“Lihat saja kau akan ku balas.”  Ucap Baekhyun sembari menutup pintu. Chanyeol hanya tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan Baekhyun.

“Aku tunggu Baek….” ucapnya singkat lalu mencoba untuk kembali mengarungi mimpi yang sempat ia tinggal.

***

Baekhyun yang terusir dari kamarnya tak tahu harus melakukan apa di pagi itu. Ia  berjalan tanpa tujuan hingga menjumpai oemanya tengah menyibukkan diri dengan kue-kue kering di depannya. Menatanya rapi dan hati-hati dengan memindahkan kue yang semula berada di plastik besar ke toples plastik kecil di tangannya. Baekhyun tersenyum melihatnya. Ia tahu benar kalau oemanya sangat gemar membuat kue-kue kering. Sampai-sampai noona-nya pernah mengomeli oemanya karena kue yang di buat terlalu banyak dan belum di makan sampai habis sudah membuat lagi yang baru. Hingga ia mengancam oemanya akan membuang  semua peralatan untuk membuat kuenya jika masih saja terus-terusan membuat kue di ambang batas normal untuk di konsumsi sendiri.

“Oema sedang apa?”

“Eh tumben sudah bangun.”

“Ini semua gara-gara appa. Kenapa dia membiarkan teroris masuk rumah.” Jawab Baekhyun dengan memajukan bibir tipisnya ke depan. Oemanya hanya terkekeh mendengarnya. Dia tahu siapa yang ia sebut dengan ‘teroris’ itu. Karena kemaren malam ia menunggu suaminya pulang dan membukakan pintu.

Baekhyun hanya memperhatikan oemanya yang sibuk di depannya. Sampai akhirnya tangannya gatal ingin mengambil kue kering di depannya. Ia hampir saja sukses mendaratkan jemari panjangnya ke kue yang berada ditoples kecil itu, namun ia tarik kembali saat punggung tangannya dipukul oemanya.

“Ya! Kenapa oema memukul ku?”

“Kamu jangan sembarangan ambil, ini oema mau kasih ke Gina ajhuma. Dan lagi kau belum mencuci muka bahkan sikat gigi saja belum. Sana pergi ke kamar mandi dulu.”

Baekhyun hanya menatap oemanya datar. Tak berniat membantah ucapannya. Karena dia tahu semua yang diucapkan oemanya tak ada yang salah. Tentang Gina oema Chanyeol, ia juga sudah paham. Oemanya menganggap Gina sudah layaknya saudara kandung sendiri. Di mana ia punya makanan pasti ia akan membaginya dengan Gina. Begitu juga sebaliknya.

“Ngapain kamu masih di situ?”

Nyonya Byun menyadari anaknya masih saja betah duduk di depannya. Kembali ia menegur Baekhyun agar cepat mencuci mukanya. Dengan malas Baekhyun beranjak dari kursi. Menyeret langkah kakinya seperti orang tak bersemangat.

“Iya…ya…pergi ni….” Ucapnya tak kalah lesu. Ia merutuki Chanyeol yang masih seenaknya tidur di kamarnya. Jika saja ia tak mengganggu tidurnya, sudah pasti dia lah orang yang kini masih tergulai di ranjang kamarnya itu. Nyonya Byun hanya geleng-geleng kepala melihat anaknya seperti orang yang baru putus pacar. Tak ada niat untuk hidup.

Sehabis melakukan perintah dari oemanya, Baekhyun dilanda rasa bingung dan bosan lagi. Tak ada kegiatan yang ingin ia lakukan. Menjatuhkan diri di sofa dan menyalakan televisi bukan hal yang buruk sepertinya. Hingga ia melaksanakan apa yang ada dalam fikirannya.

Beberapa kali mengubah chanel tv, ia sepertinya belum menemukan acara yang ia anggap tepat untuk ia tonton. Dan akhirnya pilihan jatuh pada acara pariwisata dan kuliner. Bagai mendapat sinar dari kegelapan, Baekhyun menyunggingkan senyum cerianya. Diotaknya kini sudah terisi hal yang ia anggap menarik untuk mengisi harinya saat itu. Senyumnya bertambah lebar dimana kala itu terlihat dua orang tengah berdiri di depan pintu kamar mereka. Nampak seorang wanita sedang membenahi dasi suaminya yang belum rapi.

Tanpa basa-basi Baekhyun menghampiri mereka berdua, dan menyenderkan badannya ke tembok setelah ia sampai di depan orang yang tak lain adalah noona dan hyungnya.

“Hyung mau berangkat kerja?”

“Gak mau ngrampok.” Baekhyun tak menggubris jawaban Bomi.

“Hyung mau naik mobil?”

“Bukan, tapi naik odong-odong.” Baekhyun pura-pura gak denger.

“Hyung. Boleh tidak hari ini…aja aku minjam mobil hyung. Aku pengen pergi ni.”

“Loh! Udah tau orang mau berangkat kerja naik mobil, kenapa masih mau kamu pinjam itu mobil.”

Baekhyun sudah tidak bisa tahan dengan jawaban yang ia dengar dari Bomi kakaknya.

“Ya! Noona, sejak kapan kau berubah jadi hyung ku. Aku dari tadi melemparkan pertanyaan pada hyung bukan noona. Kenapa jadi noona semua yang menjawab.” Baekhyun menatap Bomi sembari menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah kakak iparnya. Seolah mengharap pengertian dari Bomi untuk membiarkan suaminya bicara. Karena sedari tadi ia melihat hyung-nya itu hanya mengangkat mulut namun belum sempat bicara sudah dipotong oleh istrinya. Seketika itu Bomi diam tak menjawab.

“Memang kau mau pergi ke mana?” Tanya Sanjeong yang kini berhasil mengeluarkan suaranya.

“Aku berniat mengajak Chanyeol untuk pergi ke pantai hari ini. Aku juga ingin bersepeda di sana. Jadi karena itu aku gak mau naik motor, kan bawa sepeda. Kalau gak bawa dari rumah di sana nyewanya pasti mahal. Lumayan bosan ni liburan di rumah trus.” Baekhyun menjawab pertanyaan simple itu dengan jawaban yang panjang. Membuat orang di depannya memandang cengo ke arahnya.

“Oh…ya udah bawa aja. Ini kuncinya.” Sanjeong menyerahkan kunci mobil pada Baekhyun, yang langsung di sambutnya dengan antusias dan senyum lebar. Bomi hanya memandang suaminya tak percaya.

“Lho kok di kasih trus oppa naik apa?”

“Biarin aja aku bisa naik bus hari ini.” Jawab Sanjeong tersenyum ke istrinya dan mengelus kepalanya pelan.

“Aduh hyung…hyung memang hyung idaman deh.” Ujar Baekhyun ceria. Dan dengan tidak tahu malunya dia berjoged di depan dua orang yang sedang memandangnya keheranan. Yang jogednya bila di lihat seperti  belatung tengah dijemur di bawah sinar matahari. Tanpa memerlukan waktu lama Bomi segera mengelus perutnya, di iringi dengan gumaman pelan.

“Uri adeul yang pintar, nanti jangan sampai kau meniru apa yang sedang oema dan appa lihat sekarang ya.” Dan pernyataan Bomi itu mendapat anggukkan dari Sanjeong suaminya  yang menandakan kesetujuannya dengan apa yang ia dengar barusan.

***

Mungkin hari ini adalah hari terberat Baekhyun. Ia sudah mendapat ijin untuk memakai mobil hyung-nya. Kemana ia pergi pun sudah mantap ada di pikirannya. Yang menjadi masalahnya, sedari tadi ia membangunkan Chanyeol tak ada sedikitpun respon darinya untuk bangun. Ia sudah mencoba menggoyang-goyangkan tubuhnya supaya bangun, nihil Chanyeol tak bergerak sedikitpun. Berteriak tepat di telinganya, musibah besar bagi Baekhyun, karena ia mendapat tamparan tepat di mukanya. Namun tetap sama tak bangun juga. Karena Chanyeol menampar masih dalam keadaan mata tertutup.

Baekhyun hampir frustasi. Ingin sekali menyiram Chanyeol dengan satu ember air. Namun itu bukan ide yang bagus. Karena mau tidak mau sepreinya juga akan ikut basah. Senyuman tipis nan berarti kini nampak di wajahnya. Menatap manusia di depannya dengan seringaian jahil.

“Tunggu saja Park Chanyeol.”

Baekhyun keluar dari kamar. Tak berapa lama ia kembali membawa benda ditangannya seperti raket bulu tangkis. Diarahkannya benda itu ke telapak kaki Chanyeol dengan menekan tombol on.   Dan benar saja Chanyeol langsung berjingkat bangun, karena merasa tubuhnya seperti dialiri tenaga listrik. Baekhyun tertawa puas melihat muka sahabatnya yang baru bangun tidur terlihat seperti orang bodoh dan kaget.

“Baekhyun, kau ingin membunuhku?” Tanyanya dengan tampang yang masih terlihat shock. Baekhyun tak menjawab karena masih saja sibuk terpingkal-pingkal di lantai kamarnya.

***

Persiapan hampir sempurna. Hanya tinggal mengikat kuat dua sepeda gunung yang diletakkan di bagasi belakang mobil. Keduanya siap untuk memanjakan mata dan pikiran mereka.

“Yup! Selesei.”

“Kau yakin sudah mengikatnya dengan kuat Yeol?” Tanya Baekhyun ragu.

“Tenang saja, kau bisa percaya padaku kan?”

Baekhyun hanya menjawab dengan anggukkan.

“Berangkat…,” seru Baekhyun semangat. “Kau jadi penumpang yang baik saja cukup Yeol.”

“Yes!” Chanyeol girang bukan kepalang mendengar ucapan Baekhyun. Sampai-sampai ia menaikkan kepalan tangannya ke atas.

“Duduk di jok depan sebelah kiri.”

Chanyeol bengong. Mencoba mencerna ucapan orang yang kini siap membuka pintu mobil bagian kanan depan. Bukankah yang Baekhyun sebut jok kiri depan itu adalah jok untuk mengemudi ? Itulah pertanyaan yang kini ada di dalam benak Chanyeol.

“Ya Baekhyun-ah, kau salah bicara kan? Harusnya aku duduk di kan—.”

“Tidak kok!” Jawab Baekhyun cepat sembari melempar kunci ke arah Chanyeol. Kini Chanyeol mengerti maksud Baekhyun.

“Yah…kenapa harus aku yang nyetir.”

“Karena kau sahabat ku.”

“Apa hubungannya?”

“Tidak ada.”

“……”

Hening tak ada lagi yang bicara. Yang tersisa hanya rasa dongkol di hati Chanyeol. Mengapa harus juga Baekhyun membuat kalimat yang sebenarnya sangat simple menjadi ribet. Hanya dengan mengatakan ‘kau yang menyetir saja’ sudah cukup bukan?  Tapi itulah tujuan Baekhyun, membuat Chanyeol enek dan jengkel. Dan nyatanya berhasil.

***

Mobil BMW putih itu menjadi salah satu dari sekian banyaknya kendaraan yang memadati jalan utama kota. Berbaur dengan pengendara lain yang sedang berkonsentrasi memperhatikan jalanan di depan. Suara klakson mobil dan motor bersahut-sahutan memekikkan telinga. Polusi udara di hari yang hampir menjadi siang itu tak dapat dihindari.

Chanyeol, pria jangkung itu melirik iri ke sebelah kanan matanya. Baekhyun dengan sengaja mengundur jok tempat duduknya ke belakang, bertujuan untuk meluruskan kaki yang ia taruh di atas  tempat yang sejajar dengan setir mobil. Hingga kakinya dapat terlihat keseluruhan oleh Chanyeol yang berada di samping. Melipat tangannya ke belakang bertujuan untuk menjadikannya sebagai bantal. Memakai earphone di telinga untuk mendengar musik yang mengalir dari handphone-nya. Dan memejamkan mata tertidur pulas tanpa menghiraukan Chanyeol yang berceloteh.

Tiba-tiba saja ide jahat bersarang di otak Chanyeol. Ia melirik ke kiri kaca spion mobil. Kemudian berganti melihat sahabatnya yang tengah tidur itu memakai sabuk pengaman atau tidak.

“Aman.” Katanya singkat.

Chanyeol menginjak pedal gas itu dalam. Membiarkan mobil itu melaju dengan sangat kencang. Membelah jalan seolah itu adalah miliknya. Setelah benar-benar yakin tak ada mobil di samping dan belakangnya, ia mengerem mendadak mobil itu hingga suara bannya berdenyit. Baekhyun yang tak tahu situasi itu hampir saja menjungkir ke depan dengan jidat terbentur papan yang ia gunakan sebagai penumpu kaki sebelumnya. Kalau saja ia tak memakai sabuk pengaman.

“Tolong…! Kecelakaan…!”

Langsung saja Baekhyun terbangun dan teriak. Nafasnya terengah-engah, jantungnya seolah ingin keluar dari dalam tubuhnya karena berdetak begitu cepat. Menyadari tak ada kecelakaan seperti yang ia katakan, Baekhyun menoleh ke arah orang yang tengah getar-getar untuk menahan tawanya yang mau meledak. Dia berkacak pinggang seolah ingin mengajak Chanyeol duel. Namun hanya di balas dengan cengiran khas pria di depannya.

Hampir satu setengah jam berada di dalam mobil. Bosan sudah pasti menyerang. Tapi semua itu terbayar ketika nampak dari jauh gelombang air menerpa bibir pantai. Daun-daun kelapa menari-nari indah diterpa angin. Laut membentang begitu luas di hiasi birunya langit kala itu. Panas tak menjadi halangan buat mereka berseru-seruan di pantai. Pasir putih yang menambah eloknya ciptaan Tuhan itu, membuat orang tergiur untuk menapakkan kaki diatasnya.

Tak terkecuali Baekhyun dan Chanyeol.  Sesampai mereka di tempat parkiran mobil, mereka berdua  saling berlomba untuk mencapai pantai duluan. Tak menghiraukan kenyataan bahwa mereka sudah menjadi pria dewasa bukan lagi anak SD. Apa perduli mereka, yang ingin mereka rasakan hanyalah menikmati semua yang ada di depannya.

Chanyeol sengaja membawa bola voli untuk dimainkan di pinggir pantai seperti sekarang. Namun sial bolanya tak bisa ia tangkis ketika mendapat serangan dari Baekhyun, dan alhasil jatuh ke pinggir laut. Ia mencoba mengambil kembali bola itu, namun seseorang menendang pantatnya hingga ia terjebur ke air dan basah kuyup. Di lihatnya Baekhyun tertawa terbahak-bahak karena tendangannya berhasil menjatuhkan Chanyeol. Chanyeol pun tak tinggal diam, segera ia berlari menyeret Baekhyun dan menceburkannya ke dalam air. Jadilah mereka berdua sama-sama basah. Namun permainan tak berhenti sampai di situ. Setelah sama-sama basah, bukannya menyudahi tapi malah saling serang dengan air. Tak heran jika terlihat mereka seperti orang yang sedang musuhan. Tapi nyatanya tidak. Mereka justru tertawa riang dengan semua itu.

Dua jam lebih mereka habiskan di pinggir pantai. Baekhyun memutuskan untuk mengisi perutnya dengan sesuatu karena lapar. Tibalah mereka pada tempat orang-orang menjajakan dagangan mereka. Kebanyakan dari yang mereka jual adalah makanan dan souvenir.

“Tu kan, gara-gara kamu ni aku juga jadi basah.” Ujar Baekhyun.

“Ya, bukannya kamu dulu yang mulai. Sudahlah bukannya kita bawa baju ganti ? Mending kita ke sana.” Chanyeol menunjuk kedai es krim yang tak jauh dari mereka berdiri. Baekhyun hanya menurut dan mengekor di belakang Chanyeol.

Sampai di tempat mereka berdua di sambut oleh perempuan yang umurnya sebaya dengan oema mereka.

“Hallo, selamat datang. Mau beli yang rasa apa?”

“Strowberry.”

“Pisang.”

Keduanya menjawab bersamaan, namun beda pendapat. Lirikan sinis terjadi tak dapat dihindari.

“Gak, yang rasa strowberry aja.”

“Gak, yang rasa pisang aja.”

Dan sekali lagi mereka berkata di waktu yang sama. Jika tadi hanya melirik sinis, kini bisa dilihat sinar leser muncul dari mata. Sampai sang penjual bingung dan memberi mereka saran.

“Bagaimana kalau kalian beli dua porsi dengan rasa yang kalian sukai?”

Mereka berdua bertatapan dan tersenyum menyadari sikap kekanakan mereka. Lalu mengangguk serempak ke arah penjual es krim itu malu.

***

Puas menjelajahi pantai dan sekalian mandi di pemandian umum, Chanyeol dan Baekhyun menuju parkiran untuk mengambil sepeda. Ya, tempat wisata itu juga menyediakan tempat untuk bersepeda bagi para pengunjungnya. Di sana juga ada jasa penyewaan sepeda bagi yang tak membawa sepeda dari rumah. Namun harga sewanya sedikit mahal.

“Sayang ya kita tak membawa pacar kita ke sini.” Suara bash pria jangkung terdengar. Membuat Baekhyun mencibir.

“Memang kau punya pacar Yeol?”

“Enggak! he…he….” jawab Chanyeol dengan senyum yang bikin perut Baekhyun enek.

“Sudah sadar gak punya kenapa masih mengkhayal.”

“Apa salahnya mengkhayal?”

“Terserah deh.” Jawab Baekhyun tak mau memperpanjang ucapan.

Mereka berdua bersepeda beriringan menikmati pemandangan laut yang sudah hampir sore. Menghirup udara segar yang disuguhkan dari pepohonan di area itu. Tak menyadari seorang perempuan berlari  kecil dengan kepala memutar kebelakang hingga tak melihat dua orang yang bersepeda di depannya. Sama-sama lengah, akhirnya sepeda Chanyeol menabrak perempuan itu. Mereka bertiga sama-sama kaget. Chanyeol diikuti Baekhyun turun dari sepeda menghampiri perempuan yang terduduk di jalan yang kira-kira tujuh tahun lebih tua dari mereka.

“Noona tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol panik.

“Jieun kau tak apa?” Tanya suara  wanita dari belakang yang diyakini Baekhyun juga Chanyeol sebagai teman perempuan itu.

“Maaf teman saya tak sengaja menabrak teman noona.” Giliran Baekhyun yang angkat bicara pada orang yang baru saja memanggil temannya dengan Jieun.

Sementara Jieun, perempuan yang jadi korban hanya memandang Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian. Tak ada yang bisa mengartikan ekspresi dari wajah yang ia pasang. Lama dilihat seperti itu membuat Baekhyun dan Chanyeol canggung.

“Ekhm…noona tak apa kan?” Chanyeol sekali lagi bertanya untuk mencairkan suasana yang beku.

“Oh ! Sepertinya kakiku terkilir.” Jawabnya.

“Benarkah? Yang mana?” Chanyeol kembali bertanya, dan perempuan itu menunjuk pergelangan kaki sebelah kanannya.

“Bisakah kau bantu aku sebentar untuk mengurutnya?”

Merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab Chanyeol segera mengurut pelan kaki Jieun.

“Dan sepertinya pergelangan kaki sebelah kiri ku juga terkilir, bisa kau juga membantu mengurutnya?” Jieun kembali berujar yang ditujukan pada Baekhyun yang masih berdiri.

“Oh tentu.” Jawab Baekhyun singkat.

“Ehm…aku rasa lututku juga nyeri bisa kalian berdua membantu ku juga?” Tanya Jieun penuh harap pada dua pria di depannya. Sama-sama tak tega, Baekhyun dan Chanyeol menurut saja. Hingga…

“Bisakah kalian mengurut bagian yang lebih tinggi dari itu?”

Baekhyun dan Chanyeol tak mengerti apa yang diucapkan perempuan di depannya. Sampai pada Jieun mengangkat keatas sarung pantai yang ia kenakan hingga memperlihatkan paha putihnya yang mulus. Barulah mereka paham.

Menelan ludahnya dengan susah payah, Chanyeol dan Baekhyun saling tatap. “Tolong seret aku dari tempat ini.” Itulah arti dari pandangan mata mereka jika bibir yang berbicara.

“Bisa….?” Ulang Jieun lagi.

“Ha ??” Mereka berdua serempak berucap.

Karena tak ada respon dari pertanyaannya, Jieun memegang tangan mereka berdua, mengarahkannya pada apa yang ia maksud dari ucapannya. Chanyeol,Baekhyun menegang seketika. Keringat dingin kluar dari pelipis masing-masing. Badan mereka terasa panas dari dalam.

“Siapapun tolong aku.”

Itulah doa yang mereka panjatkan dari dalam hati. Dan untuk hari ini, Baekhyun harus sangat berterima kasih pada Bomi.

“BAEKHYUN-AH HP MU BERBUNYI.” Chanyeol tak bisa mengontrol suaranya karena sedang gugup saat itu. Dan punya alasan lepas dari tangan Jieun untuk menunjuk HP Baekhyun.

“Oh ya. Aku angkat dulu.” Begitu juga Baekhyun, ia bisa melepas tangannya untuk mengangkat telpon.

“Ya noona. APA? NOONA SUDAH MAU MELAHIRKAN. SEKARANG DALAM PERJALANAN KE RUMAH SAKIT.” Baekhyun sengaja sedikit berteriak supaya yang lain mendengar.

“………”

“OH IYA IYA AKU SEGERA PULANG.”

“?????….”

Sudah dipastikan, Bomi yang berada di sebrang telepon sana sedang melotot ke arah HP-nya. Bagaimana bisa ia menyuruh Baekhyun membelikannya makanan saat ia pulang nanti malah menjawab melenceng dari perkataannya.

“Chanyeol ayo cepat pulang. Bomi noona mau melahirkan.”

“????….”

Chanyeol tak merespon. Mukanya terlihat bingung dan ada banyak pertanyaan dari sana. Baekhyun sungguh gemas di buat olehnya. Segera ia menyeret paksa Chanyeol untuk berdiri dan menaiki sepeda.

“Maaf noona kami permisi dulu ada urusan lain.” Baekhyun membungkuk sekaligus pamit. Segera menyambar sepeda dan mengayuhnya secepat kilat.

Jieun, hanya bisa memandang punggung mereka yang semakin jauh. Tersenyum tipis dan berdiri.

“Kalau saja tamu ku seperti mereka. Sudah pasti aku….”

“Akan jatuh miskin.” Jawab teman Jieun memotong omongannya.

***

Berasa lari dikejar singa lapar, nafas dua pria itu terengah-engah berebut mengambil oksigen sebanyak mungkin. Menyenderkan sepeda yang baru mereka kayuh sembarangan di badan pohon. Keringat sebesar biji jagung keluar dari tubuh akibat terlalu cepatnya mereka mengayuh sepeda. Merasa aman jauh dari tempat tadi, mereka berdua menjatuhkan diri di bawah pohon besar yang terdapat bangku di bawahnya. Chanyeol masih saja memandang Baekhyun bingung.

“Baekhyun-ah, Bomi noona beneran melahirkan?”

Baekhyun hanya menatap malas ke pria disampingnya. Tak menyangka mempunyai sahabat yang begitu bodoh.

“Menurutmu? Jika kau mau di suruh meraba tubuh gadis itu kembali saja.”

“Jadi kau berbohong?” Masih saja Chanyeol bersi keras bertanya.

“Ya iyalah….” Baekhyun menjawab diiringi tangan yang menjitak kepala Chanyeol.

“Ow…. Tapi gila ya, ada juga orang seperti itu.” Chanyeol paham maksud Baekhyun dan mulai berbicara lagi.

“Iya. Cantik sih cantik tapi sepertinya dia bukan perempuan bener deh.”

Chanyeol hanya mengangguk membenarkan perkataan Baekhyun. Memandang jauh ke depan yang memperlihatkan laut luas membentang lepas. Seulas senyum terlukis di bibirnya.

“Ada saja yang kita alami hari ini. Aku sedikit bisa melupakan Somplak yang hari-hari ini membuat otak ku kram.”

“Apakah namanya benar Somplak?”

“Tentu saja bukan. Aku sampai sekarang tak tahu namanya siapa, dan tak berniat untuk tahu.”

“Apakah dia bukan orang baik? Kenapa kau begitu membencinya.”

“Aku tak tahu Baek. Sebenarnya tak ada alasan aku untuk membencinya. Aku hanya merasa kelak ia akan memisahkanku dengan oema.”

“Itu hanya perasaanmu saja Yeol. Lama kelamaan kau akan menyukainya dan menerima kehadirannya di tengah hidupmu.”

“Tak akan!”

Baekhyun kaget mendengar jawaban Chanyeol. Tak ada raut bercanda di wajahnya. Ia yakin Chanyeol serius mengucapkan itu. Baekhyun terus menatap Chanyeol yang tak pernah mengalihkan pandangannya yang lurus kedepan. Sedikit ngeri dengan raut muka yang ditunjukkan Chanyeol yang biasa periang itu. Baekhyun benar-benar tahu sekarang betapa Chanyeol membenci teman oemanya.

“Mau mencari makanan pengganjal perut?” Baekhyun bertanya sembari merangkul pundak Chanyeol. Berharap bisa mengembalikan mood Chanyeol yang sempat hilang.

” Tentu! Aku yang traktir.” Jawab Chanyeol menolehkan kepalanya dan tersenyum ke Baekhyun.

***

Baekhyun baru saja datang dari dapur, duduk di sofa dibelakang appanya yang tengah mondar-mandir di depan televisi. Acara TV yang menayangkan aneka satwa itu dibiarkan menyala begitu saja tanpa ada niat menontonnya. Karena tuan Byun sedang berada dalam dunianya sendiri. Ia tak menyadari putranya memperhatikan tingkahnya seperti cacing kepanasan saat ini, bahkan kehadirannya pun ia tak tahu.

Baekhyun hanya memandang appanya heran, tak berniat menegur atau bertanya. Karena mulutnya penuh dengan makanan yang ia bawa dari dapur.

“Bodoh! Bagaimana bisa dia hamil!”

Baekhyun yang mendengar dan melihat acara TV kala itu langsung menautkan alisnya. Menunggu makanan di mulutnya meluncur ke perut baru ia menjawab.

“Ya! Appa, apa salahnya orang hutan hamil. Mereka juga punya hak untuk berkembang biak supaya tak punah. Agar cucu ku kelak juga masih bisa melihatnya langsung. Bukan hanya dari gambar.”

Tuan Byun sedikit terkejut mendapati ada orang lain selain dia di ruangan itu.

“Lho Baekhyun kau di situ? He..he..he, ya gak salah sih mereka berkembang biak. Cuma…cuma…appa tak suka melihatnya. Appa ingin mereka punah saja.” Jawab tuan Byun kikuk.

“Appa! Appa tak boleh seperti itu. Justru mereka itu sangat dilindungi pemerintah. Bagaimana bisa appa membencinya.”

“Benarkah? Oh…begitu. Ya sudah jika kamu suka tonton saja. Appa pergi saja.” Tuan Byun terlihat bodoh dengan jawabannya. Tak ingin berlama-lama di situ, ia segera berjalan menuju teras depan. Baekhyun hanya mencibir dengan ayahnya yang tak menyukai orang hutan barusan.

“Ngapain kamu moncong-moncongin bibir seperti itu!” Suara dari depan menghampiri Baekhyun duduk.

“Itu tu noona, masak appa berharap orang hutan punah dari bumi ini.” Baekhyun mengadu pada Bomi, masih tak rela jika  appa-nya ingin orang hutan punah.

“Gak penting banget sih kamu orang hutan aja dibahas, ambilin aku air putih gi. Haus banget ni aku.”

“Enak bener ya ni anak datang-datang main nyuruh. Ogah!” Jawab Baekhyun hilang hormat.

“Eh ingat adik yang baik itu, harus mau di suruh sama orang yang lebih tua. Buruan gi.”

“Lagi-lagi pakai alasan yang muda dan yang tua. OEMA…BUATIN AKU ADIK DONG…!!”
Bomi hanya tersenyum melihat muka jengkel adiknya. Terlihat lebih lucu seperti sekarang yang tengah menghentak-hentakkan kakinya menuju dapur. Baginya tak ada yang lebih menarik selain mengerjai adik satu-satunya itu.

“Ya, ya, tahu yang tua lebih berkuasa yang muda tertindas aja. Hukum itu memang tak pernah berubah dari dulu. Kenapa aku dulu tak jadi yang lebih awal lahir ya. Atau kalau enggak kini aku punya adik. Pasti bukan hanya aku yang tertindas.”

Baekhyun terus menggerutu menuju dapur untuk mengambil air putih. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara getaran HP. Tentu bukan miliknya, karena HP-nya berada di saku celananya. Matanya terus mencari sumber suara. Hingga ia menemukan HP appanya tergeletak di atas meja kecil sebelah vas bunga.

Benar saja ada panggilan masuk. Namun terlalu lama panggilan masuk itu tak terjawab sampai terputus secara otomatis. Baekhyun tak jadi mengambilnya. Memutuskan untuk kembali ke tujuan utamanya. Belum sempat membalikkan badan sudah ada getar pertanda ada pesan masuk. Baekhyun bukanlah orang yang suka mencampuri urusan  orang lain yang tak menyangkut dirinya. Merasa itu bukanlah miliknya, ia tak ingin membuka pesan itu. Namun nalurinya hari itu berkata lain.

Baekhyun mengulurkan tangan untuk meraih ponsel appanya. Dengan satu geseran ponsel itu terbuka. Menampilkan isi pesan yang baru masuk.

“Tenanglah, kau tak perlu khawatir. Karena dia akan menjaganya.”

Itulah yang diucapkan bibir Baekhyun saat membaca pesan itu. Ia tak mengerti apa maksudnya. Apakah masalah pekerjaan? Atau ada masalah luar kerjaan? Baekhyun hanya mengedikkan bahu pertanda tak tahu akan pertanyaan yang muncul dibenaknya. Meskipun isi pesan yang baru ia baca tak ada yang istimewa, entah mengapa ia tertarik untuk mencatat nomer sang pengirim ke ponselnya. Karena sang pengirim itu adalah orang yang tempo hari lalu mengganggu permainan game online-nya.

 

*TBC*

5 thoughts on “FF: DARK chapter 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s