FF: DARK chapter 1

IMG-20131114-WA0002

Title : Dark

Author:@exowie

Main Cast: Baekhyun,Chanyeol Exo
Support Cast: Tuan&Nyonya Byun, Sanjeong,Bomi, Gina

Genre: Family, life

Length: Chapter

Rate : PG+13

Author note: Semua support cast adalah OC, kalau ada yang nyangka Bomi adalah member A-pink adalah salah besar. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa harus Bomi. Malas mikir mungkin ya hehe. Juga maaf kalau ada kesalahan penulisannya.

***

“Arghh….!”

Pemuda itu terbangun dari tidur malamnya. Dengan mengacak rambut hitamnya ia bangkit dari ranjang dan berjalan pelan menuju kursi yang tepat berada di sampingnya. Melirik ke arah jam bentuk hati kecil yang terletak di atas meja belajarnya. Menarik dan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Jam masih menunjukkan pukul 03.15 pagi. Namun sepertinya ia tak tertarik untuk melanjutkan tidurnya.

“Sampai kapan kau akan terus menghantuiku. Kau marah padaku karena akulah orang pertama yang mengetahui semua itu?”

Desisnya pelan dengan mengangkat satu sudut bibir tipisnya ke atas. Memainkan jari-jari panjang yang ia miliki dengan mengetuk-ngetukkannya ke atas meja hingga sedikit menimbulkan bunyi. Membiarkan pikirannya menerawang jauh dengan kejadian yang tak mungkin pernah ia lupakan seumur hidup.

***Flash back***

“Yeah…akhirnya sampai juga. Kau tahu Baekhyun? Pantatku serasa terbakar dengan perjalanan panjang kita ini.”

“Yah…. Bukan kau saja Park Chanyeol tapi aku juga merasakannya. Bahkan kepalaku sedikit pusing dengan perjalanan yang mengharuskan kita duduk selama 3 jam.” Seru pemuda yang lebih pendek menanggapi celoteh pria bertubuh tinggi menjulang disampingnya itu.

“Sudahlah, yang penting kita sudah sampai di rumah. Dan yang paling penting kita harus menikmati liburan panjang kita kali ini dengan berpetualang agar tak membosankan.”

“Kita masih harus berjalan untuk sampai ke rumah kita masing-masing Yeol. Dan, he…apa yang kau maksud dengan berpetualang?”

“Ya tentu saja berpetualang mencari cinta. Kau mau jadi jomblo seumur hidupmu?”

“Bahasamu sungguh menjijikkan Yeol…!” Baekhyun memutar bola matanya malas mendengar ucapan Chanyeol yang kini tengah tersenyum dengan apa yang ia katakan barusan. Melangkah pergi meninggalkannya yang terus saja memamerkan gigi putih andalannya.

“Hey….! Tunggu aku.” Chanyeol sedikit berlari mengejar Baekhyun yang lebih dulu berjalan di depan. Mensejajarkan langkahnya dan merangkul pundaknya. Berjalan bersama menuju rumah mereka. Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Mereka adalah teman baik, tetangga dekat, berbagi keluh kesah mereka satu sama lain layaknya saudara sendiri. Kemanapun selalu berdua. Bahkan sampai kuliah seperti sekarang.

Meninggalkan halte bus dan sinar mentari yang hangat. Menyisakan hembusan angin sisa dari musim dingin yang sebentar lagi akan digantikan dengan musim panas yang menyengat kulit. Pohon-pohon bersemi berbaris rapi dipinggir jalan. Tak banyak mobil atau motor yang lalu lalang di jalan. Mereka sama-sama menuju tempat di mana orang-orang yang mereka sayangi tinggal, yang telah lama tak mereka jumpai karena tempat kuliah mereka yang jauh dari tempat mereka tinggal.

Sekitar sepuluh menit berjalan sampailah mereka di depan dua rumah yang berjejer samping kanan dan kiri dengan bercat tembok putih bersih. Sama-sama mempunyai halaman yang tak begitu luas namun begitu asri dipandang, karena terdapat beberapa bunga yang ditanam di sana. Senyum dua orang itu mengembang seketika melihatnya. Karena rindu akan halaman rumah mereka telah terbayar hari itu juga.

“Sampai….” Teriak suara nge-bash itu.

“Akhirnya. Ya sudah aku terlalu capek dan juga lapar untuk terus berdiri di sini. Segeralah masuk, orang rumah pasti juga sudah menunggu.” Perintah pria berwajah mungil itu.

Chanyeol hanya menjawab  ucapan Baekhyun dengan anggukan. Tanpa banyak bicara mereka masuk ke halaman rumah masing-masing.

***

“Chanyeol pulang….” teriaknya membuka pintu dengan senyum lebar. Namun senyumnya itu jatuh saat dilihatnya seorang pria tengah duduk di sofa ruang  tamu tepat di samping oemanya.

“Eh…Chanyeol kamu sudah sampai sayang, sini duduk sebentar sama oema. Kenalkan ini te….”

“Aku lapar. Mau kebelakang dulu.” Sahutnya tak menghiraukan oemanya yang menepuk sofa disebelahnya untuk menyarankan ia duduk di situ. Juga ia tak peduli dengan apa yang akan oemanya katakan sehingga memotongnya begitu saja.

“Itu anakmu yang kau ceritakan?” Tanya lelaki yang tengah duduk disampingnya. Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Menatap punggung anaknya yang tak lagi tegak.

Chanyeol duduk di depan meja makan. Tangannya mengepal keras dan mendaratkannya kasar di atas meja kaca itu. Deru nafasnya tak teratur. Jantungnya berdegup begitu kencang seakan dia baru saja berlari. Sampai matanya menangkap sosok yang amat ia kenal muncul dari kamarnya.

“Aigo…cucu nenek yang ganteng sudah kembali.”  Ujar perempuan tua itu.

“Halmoni!” Chanyeol menghambur ke arah neneknya berdiri. Memeluk dan mencium pipinya dengan sayang. Lalu mengajaknya duduk di kursi. Menatapnya lekat dan memberinya senyum.

“Kamu lapar? Cepatlah makan yang banyak. Oemamu sudah masak banyak untukmu.”

“Siapa lagi dia?”  Chanyeol balik bertanya tak menjawab pertanyaan dari neneknya. Senyumnya hilang saat mendengar oemanya disebut.

“Teman oemamu.” Jawabnya singkat.

Chanyeol tersenyum sinis penuh arti mendengar jawaban neneknya. Dia tahu betul apa arti dari kata “teman” yang diucapkan neneknya setelah kepergian appanya dua tahun lalu. Dia bangkit dari kursinya dan menuju pintu belakang untuk keluar dari rumah. Emosinya tak sebagus tadi sebelum berada di rumah. Neneknya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkahnya dengan pandangan mata tuanya.

***

“Go go go….! Anak tampan sudah pulang. Hey sambutlah aku kemana kalian semua ha…? Oema, appa, noona, hyung….”

Teriaknya memanggil seluruh anggota keluarganya. Tanpa Baekhyun ketahui seseorang telah berdiri di balik pintu. Tersenyum dan menggesturkan mulutnya seperti orang mau muntah mendengar ucapan Baekhyun barusan. Lalu muncul dan segera menjitak kepalanya pelan.

“Aow…” Baekhyun membalik badan untuk melihat siapa pelakunya. Dan tentu saja perkiraannya benar.

“YA! Noona apa yang kau lakukan? Kau pikir tidak sakit ha?”

“Kamu sebenarnya namja atau yeoja dipukul begitu saja sudah mengaduh.”

“Kau tak perlu mempertanyakannya lagi. Kau tak bisa melihat betapa gagah dan tampannya orang yang berdiri di hadapanmu ini? Tentu saja aku namja sejati.” Ucapnya sombong.

“Beuh…dulu oema sewaktu mengandung nyidam apa sampai bisa melahirkan anak sepertimu?”

“Eh….kalian ini apa-apaan sih. Baru juga bertemu sudah bertengkar. Ini lagi Bomi, kamu itu sudah nikah kan? Jangan seperti anak kecil lagi, sana ke belakang.” Seorang wanita menghampiri dua orang yang sedang berdebat kecil di depan pintu itu. Senyumnya mengembang melihat anak laki-lakinya berdiri dan tersenyum manis di depannya.

“Ya ya tahu yang anak mami baru datang.” Bomi langsung berjalan meninggalkan dua orang yang kini menatapnya tengah mengerucutkan bibirnya ke depan. Namun Baekhyun tak memperdulikan itu semua dan malah merengek manja pada oemanya. Karena dia sudah terbiasa akan hal itu. Di mana selalu saja ada adegan perang kecil bila mereka bersama.

“Oema….! Baekhyun kangen….”

“Aigo…anak oema. Pasti capek dan lapar. Sana cepat susul noona mu ke ruang makan.” Ucap nyonya Byun sembari membalas pelukan Baekhyun dan mengambil tas yang sedari tadi membebani punggung anaknya itu.

Sampai di ruang makan sudah terhidang begitu banyak masakan yang membangkitkan napsu makan bagi yang melihatnya. Juga  terlihat tiga orang sudah duduk dengan rapi di depan meja.  Baekhyun segera saja menjatuhkan diri ke kursi.

“Baekhyun-ah kau sudah datang.” Sapa lelaki yang duduk di sebelah kanan kakaknya yang merupakan suami dari saudara perempuannya itu.

“Ya! Sanjeong hyung hari ini kau tak bekerja? Lalu kenapa kau tak menyambutku?” Jawab Baekhyun namun lebih ke pertanyaan.

“Ch…memang kau siapa datang harus ada acara penyambutan segala. Kau tak melihat apa yang ada di depanmu sekarang. Dan kau harus tahu aku juga ikut membantu memasak ini semua.” Bukannya Sanjeong yang menjawab justru Bomi lah yang angkat bicara.

“Ya itu kan tugas noona sebagai anak yeoja untuk membantu oema gi mana sih.”

“Sudah-sudah ini mau makan atau ribut. Baekhyun, bagaimana kuliah kamu semua baik kan?”  Lerai laki-laki yang duduk di kanan Baekhyun.

“Oh tentu saja appa, semua berjalan mulus kau tak perlu khawatir. Percayakan saja pada anak dari keluarga Byun yang paling tampan ini.” Jawabnya membanggakan  diri.

“Ya ampun…dari dulu penyakit narsismu memang tak pernah hilang ya. Dan hey…kau jangan pernah cari muka di depan appa. Kau sudah punya oema Byun Baekhyun!” Ujar Bomi jengkel.

“Ya! Hyung bagaimana bisa kau bisa bertahan hidup dengan orang segalak itu.” Baekhyun tak menggubris celoteh Bomi, malah melemparkan pertanyaan pada kakak iparnya.

“Terpaksa Baekhyun-ah.” Dan jawaban dari Sanjeong itu, berhasil membuat Sanjeong mendapat pukulan di pundak dari istrinya. Pasalnya kini semua orang menertawai Bomi yang sedang  diolok oleh suaminya sendiri.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat begitu jelas pemandangan yang begitu hangat di ruang makan itu. Dia tersenyum ketir dan membalikkan badan ingin melangkah pergi. Jika saja kalau tak ada yang menepuk pundaknya dari belakang, pasti dia sudah keluar dari ruangan itu.

“Kenapa kau hanya berdiri di sini saja. Apa karena oema ku tak mengundangmu?” Tanyanya.

“Chanyeol-ah ayo sini makan sama-sama.” Nyonya Byun teriak dari kursinya.

“Ah…tidak, tidak usah aku sudah kenyang.” Jawab Chanyeol sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Baekhyun hanya tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Karena dia sudah dari kecil tahu akan sifat Chanyeol yang tak pandai berbohong. Dan Baekhyun sepertinya juga tahu ada yang disembunyikannya. Namun Baekhyun tak ingin mempertanyakannya saat itu.

“Duduk atau aku akan menonjokmu.” Desis Baekhyun. Lalu mengajaknya berjalan. Chanyeol hanya pasrah ketika lengannya di tarik paksa oleh Baekhyun dan di dudukkannya di samping kiri oemanya.

“Makanlah yang banyak.” Ucap tuan Byun yang hanya di jawab anggukan dan senyum dari Chanyeol.

***

Selesei makan Chanyeol dan juga Baekhyun memutuskan duduk di teras depan. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa kulit mereka. Suara mobil dan juga motor yang lewat menjadi latar dari dua orang yang duduk itu tanpa berniat membuka suara. Lama mereka terdiam hingga membuat Baekhyun risih dan tak bisa membendung keinginannya untuk bertanya.

“Kenapa diam. Kau bertengkar dengan oemamu?”

“Tidak!”

“Lalu?”

Chanyeol tak menjawab, hanya melirik ke arah kanan  yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Baekhyun tahu hal itu dan hanya menghembuskan nafas pelan dan menyandarkan punggungnya ke sandaran belakang kursi.

“Ceritalah…jika itu bisa sedikit mengangkat beban yang kau rasakan. ” Ucapnya.

Beberapa detik berlalu, namun tak juga Chanyeol mengeluarkan suaranya. Dia  terlihat sedikit berpikir untuk memulai pembicaraannya di mulai dari mana. Ketika saja dia menemukan kata yang tepat, suara dari belakang rumah terdengar mendahuluinya untuk angkat bicara.

“Baekhyun. Bisakah kau bantu oema membeli tepung terigu dan telur. Oema mau membuat kue kering. Tapi aku rasa bahannya tak cukup.”

“YA! Oema, bukankah kau punya anak yeoja? Bukankah seorang yeoja lebih pantas membelinya dari pada aku namja?” Bantah Baekhyun karena tak mau menerima permintaan oemanya.

“Ya! Baekhyun. Kau harus mau. Karena aku akan pusing bila terkena matahari lama sedikit saja.” Jawab Bomi yang tiba-tiba saja muncul dari belakang oemanya.

“Hah…? Apa aku gak salah denger? Noona sejak kapan kau manja seperti ini. Kau tak boleh seperti itu mentang-mentang lebih tua dari ku.” Sungut Baekhyun tak terima.

“Aku tak manja. Keponakanmu saja yang mau di manja.”

“Keponakan? Keponakan apa?” Baekhyun tak mengerti dengan ucapan Bomi. Sampai akhirnya oemanya angkat bicara.

“Dia hamil.”

“HA…? Hamil?” Tak hanya Baekhyun yang kaget dan terkejut tapi Chanyeol juga sama halnya. Mereka tak percaya dengan apa yang baru mereka dengar. Tanpa sadar mereka beranjak dari kursi dan mengerubungi Bomi yang berdiri dan tengah mengelus pelan perutnya yang sudah agak maju ke depan.

“Benarkah?”

“Benar, dan kalian harus tau bahwa itu sekarang adalah senjata andalannya untuk lari dari tugasnya.” Jawab Sanjeong yang baru saja datang dari dalam ikut mengobrol.

“Wah…hyung selamat ya.” Ucap Chanyeol senang.

“Kenapa kalian tak memberi tahu ku? Kalian semua jahat. Sudah berapa bulan kalian menyembunyikannya dariku.” Dengus Baekhyun kesal.

“Ini semua permintaan noona mu. Dia ingin memberi kejutan untukmu Baek.”

“Kejutan apa. Tetap saja kalian jahat.” Jawab Baekhyun menanggapi oemanya.

“Sudah jangan kayak anak kecil. Aku tak mau memberi tahumu di telfon karena aku tak kan mendapatkan pelukan dari dongsaeng ku tersayang. Beda dengan sekarang yang pasti dia akan  memelukku.” Sahut Bomi dengan senyum dan merentangkan kedua tangannya ke depan. Baekhyun mengerti dan langsung menghambur memeluk kakak yang ia sayangi itu.

“Dasar egois,” katanya. “Selamat ya noona, tapi kau belum menjawab pertanyaan ku.” Sungut Baekhyun sembari melepas pelukannya.

“Ya, sudah lima bulan berjalan sekarang.” Jawab Bomi yang terus mendapat pelototan mata langsung dari Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berdua tak menyangka sudah selama itu.

“Wah…sudah sebesar itukah. Tapi tak begitu terlihat.” Heran Chanyeol, Baekhyun hanya mengangguk  tanda menyetujui perkataan pria jangkung itu.

“Karena noonamu badannya terlalu kecil dan kurus jadi tidak begitu terlihat. Dan, ya! Ini jadi kamu mau bantu oema atau tidak?” Bentak nyonya Byun tak sabar.

“Ya ya mau…mau gi mana lagi kalau sudah begini. Kenapa yang hamil harus dia, kenapa bukan aku saja.” Tanpa di suruh Chanyeol dan Bomi dengan senang hati menjitak kepala Baekhyun karena perkataannya. Sementara Baekhyun hanya tertawa tak jelas bukannya marah.

“Ini uangnya, jangan lama-lama.” Ucap nyonya Byun dan langsung pergi setelah menyerahkan uangnya.

“Wah…kalau begitu, hyung sebentar lagi akan jadi ajhusi.” Cletuk Chanyeol.

“Dan noona akan jadi ajhuma.” Tambah Baekhyun.

“YA! APA YANG KALIAN KATAKAN! KITA MASIH SANGAT MUDA. ” Teriak Sanjeong dan Bomi bersamaan. Dan semakin geram karena mereka langsung kabur dari amukan pasangan suami istri itu hingga tak bisa setidaknya menjewer telinganya.

***

“Yang mana tepung terigu ya Yeol.”

“Yang putih itu mungkin.” Jawab Chanyeol asal.

“Ini semua warnanya putih Yeol, kalau saja ada yang merah, kuning,  hijau dan hanya ada satu tepung berwarna putih, pasti aku sudah mengambilnya tanpa bertanya padamu.”

Sampai di mini market, kedua orang itu hanya membolak balik tepung-tepung yang ada dihadapan mereka. Memastikan mana tepung yang mereka cari. Hingga sepuluh menit berlalu mereka menyerah, dan ide untuk bertanya pada penjaga mini market baru muncul di benak mereka setelah itu.

“Kita bodoh ya Baek, kenapa gak terpikir sejak tadi.”

“Aku nggak kok Yeol,  buat kamu aja semua. Trima kasih.”

Chanyeol hanya mencibir mendengarnya. Padahal ide bertanya itu dia yang usulkan meskipun telat. Mereka berjalan bersama, saling mengolok, mencela dan sebagainya. Tapi tak pernah sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka masukkan dalam hati. Mereka tahu semua itu hanya bercanda. Dari dulu sampai sekarang. Bahkan mereka berharap sampai akhir persahabatan itu akan tetap seperti itu.

“Ya Chanyeol, bukankah kau tadi ingin bicara sesuatu padaku?”

Chanyeol berhenti sebentar, menggigit bibir bawahnya. Lalu berjalan kembali meninggalkan Baekhyun yang bingung akan sikapnya. Belum lama ia berjalan,  tanpa sengaja ia mendengar suara para ibu-ibu sedang berkumpul di teras depan membicarakan keluarganya.  Langkahnya terhenti dan mendengar apa yang mereka katakan.

“Sudah pada tahu kan, kalau Gina sekarang membawa lelaki baru ke rumahnya.”

“Sudah bukan rahasia umum lagi lah itu.” Sahut wanita satunya.

“Kira-kira yang sekarang masih punya istri gak ya?” Sahut wanita lain.

Baekhyun hanya bisa memandang muka Chanyeol dari samping. Meskipun begitu dia tahu muka sahabatnya kini menunjukkan raut wajah sedih. Dan kini Baekhyun tahu apa yang dipikirkan sahabatnya dari tadi. Yang ingin Chanyeol bagi dengannya namun tak tahu harus bagaimana mengucapkannya.

“Gak tahu malu benar ya. Apa dia gak kasihan sama anaknya.” Terdengar lagi mereka melanjutkan obrolannya.

“Eh denger-denger ni ya mereka dulu itu belum menikah tapi sudah tinggal serumah sampai punya anak sebesar itu lagi.”

“Wah kasihan anaknya ya, ganteng-ganteng gitu ternyata anak haram.”

Chanyeol lebih menundukkan wajahnya. Tak ingin air bening itu terjatuh  mengalir di pipinya. Tapi sekuat apapun dia menahannya, air mata itu jauh lebih kuat dari pertahanannya. Baekhyun geram akan hal itu. Ditinggalkannya sahabatnya itu mematung di tempat, sementara ia masuk menghampiri orang-orang yang telah melukai hati sahabatnya dengan mulut mereka.

“Justru kalian lah orang-orang yang haram itu. Membicarakan orang tanpa benar-benar mengetahuinya. Kalian sungguh menjijikkan.” Baekhyun sudah tak bisa menahan dirinya untuk tak memaki orang-orang di depannya. Dia sudah lupa caranya bersopan santun pada orang yang lebih tua demi membela sahabatnya. Meninggalkan orang-orang itu ternganga akan kekurang ajarannya. Tak memperdulikan mereka akan mengatainya anak yang tak berpendidikan atau apapun yang lebih hina.

Dia berhenti tepat di depan Chanyeol berdiri. Menyeretnya pergi dari tempat itu. Merasa sakit juga karena melihat sahabatnya yang biasanya tertawa lebar dengan deretan giginya kini justru meneteskan air mata.

Sampai di depan rumah mereka, Chanyeol berhenti mendadak hingga Baekhyun pun menghentikan langkahnya. Mengerutkan alisnya dan menatap Chanyeol heran.

“Kau tak perlu melakukan itu untukku. Bukankah yang mereka bilang tak salah semua?”

“Kau anggap aku apa? Seorang sahabat tak kan pernah bisa melihat sahabatnya dicela seperti itu. Aku akan selalu membelamu”

“Tapi kau juga akan ikut di benci mereka.”

“Apa peduli ku, bukan mereka yang mengasih aku makan dan membesarkanku atau membiayai biaya kuliahku.” Jawab Baekhyun mantap.  Membuat seketika itu juga Chanyeol mengangkat wajah dan menatap Baekhyun. Dapat di lihat Chanyeol menahan air mata yang ingin keluar mati-matian.

“Trima kasih Baek. Tapi apakah aku sahabat yang baik jika sekarang aku merasa sangat iri padamu. Yang memiliki keluarga yang utuh dan hangat.”

“Tentu saja kau tetap sahabatku. Sampai kapanpun.  Keluarga ku keluargamu juga. Bukankah dari dulu seperti itu?”

Chanyeol tak bisa lagi menahan air matanya. Tak perduli jika setelah ini Baekhyun akan mengoloknya sebagai pria cengeng. Karena saat ini hanya itulah yang ia ingin lakukan. Menumpahkan semua yang menyesakkan dadanya dengan air mata.

“Jangan sungkan untuk meminjam bahuku, karena kelak jika aku yang berada di posisimu sekarang, aku yang akan ganti meminjam bahumu.” Ucap Baekhyun dengan menepuk bahu Chanyeol. Chanyeol mengangguk sebagai jawaban karena tak bisa lagi untuk sekedar membuka mulutnya. Dia merasa sungguh beruntung memiliki sahabat seperti Baekhyun.

***

Sejak pulang dari rumah Baekhyun, Chanyeol hanya mengurung dirinya di kamar. Tak ingin keluar karena sengaja ingin menghindar bertatap muka dengan teman oemanya. Dia sangat membenci orang itu tanpa sebab yang jelas. Hingga dia bisa mendengar pintu kamarnya di buka oleh seseorang yang ia yakini adalah oemanya. Karena saat itu dia sedang duduk membelakangi pintu. Dapat ia rasakan kalau orang itu tengah duduk di belakangnya.

“Kamu tak mau keluar makan Chan?” Tanya wanita itu.

“Dia yang ke berapa selama aku tak di rumah?” Chanyeol balik bertanya.

“Maksudmu?”

“Oema tahu apa yang aku maksud, jadi tak usah membuang waktu untuk pura-pura tak mengerti.”

“Dia benar-benar ingin menjaga oema dan juga kamu Chan. Dia sungguh-sungguh.”

“Benarkah? Tapi aku tak perlu dia menjagagu, bahkan menjaga oema. Karena aku bisa menjaga diriku dan juga oema.” Jawab Chanyeol tanpa membalik badan menghadap oemanya.

“Tapi kamu masih butuh keperluan untuk kuliah Chan dan itu tak sedikit biayanya. Ngertiin oema juga dong….”

“Aku bisa bekerja sambil kuliah, jadi oema tak perlu membiayai ku.”

“Chan tapi…oema tak mau melih….”

“Keluar!”

“Chan tapi….”

“Keluar!” Ulang Chanyeol dingin.

“Oema tetap akan bersamanya.”

“Aku bilang keluar oema…aku lelah ingin istirahat.” Ucap Chanyeol memohon, dan ia bisa mendengar suara handphone oemanya berbunyi sebentar. Mungkin ada pesan masuk atau apalah ia tak peduli.

“Yah. Oema keluar semalat malam Chan.”

Chanyeol tak menjawab. Ia hanya bisa mendengar helaan nafas panjang dari oemanya. Suara pintu itu tertutup menandakan hanya ada dirinya saja di ruangan itu. Dihempaskannya tubuhnya kasar ke atas ranjang, seolah dengan begitu beban pikirannya hilang bersama mata yang lamban laun tertutup untuk menuju mimpi. Menyambut esok pagi di temani sinar mentari yang hangat.

***

Baekhyun tengah asik bermain game online di HP-nya. Dia sengaja tak menemani Chanyeol. Membiarkannya sendiri sekarang mungkin adalah pilihan yang baik. Tak menyadari appanya datang dan juga tengah asik dengan HP yang ia bawa. Duduk di depannya dengan terus berkutat dengan layar hp yang ia genggam. Hingga batrai HP Baekhyun habis barulah ia sadar hal itu.

“Appa sejak kapan duduk di situ?”

“Sejak kamu teriak-teriak gak jelas tadi appa sudah ada di sini.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar HP. Baekhyun langsung memposisikan  tubuhnya yang tadi tiduran di sofa menjadi duduk menghadap appanya.

“Appa! Appa tahu Gina ajhuma di rumahnya ada teman laki-lakinya?”

“Tidak usah mengurusi urusan orang.”

“Aku tak bermaksud mengurusi, tapi aku berharap temannya yang ini akan serius dengannya. Karena aku merasa kasihan dengan Chanyeol yang selalu dapat getahnya.”

“Appa gak tahu menahu tentang itu. Appa kebelakang dulu.” Jawabnya sembari menaruh HP-nya di atas meja. Baekhyun jengkel dengan jawaban yang diberikan appanya. Tapi saat melihat ada HP di depannya tanpa basa basi lagi ia langsung menyambarnya untuk melanjutkan permainan game-nya.

Tapi belum lama memakainya bermain, sudah ada nomer tak di kenal memanggil masuk. Baekhyun ingin mengangkatnya tapi sebelum menggeser tanda hijau ke samping, panggilannya sudah di tutup. Baekhyun hanya mendengus kesal akan itu.

“Iseng banget sih, awas saja nanti kalau telpon lagi.” Ucapnya.

Belum juga mulut Baekhyun kering, sudah ada lagi orang menelpon. Tapi kini ada nama yang tercantum di layar handphone itu. Baekhyun hanya mengerutkan dahi tak habis pikir karena ada-ada saja orang di dunia ini yang hanya bernama ‘C’. Tanpa banyak berpikir dia langsung mengangkat telpon itu. Tapi belum sempat ia menyapa orang di sebrang sana, ia melihat appanya sudah datang. Langsung saja ia menyerahkannya kepada pemiliknya. Baekhyun jengkel karena gara-gara itu ia tak bisa bermain lagi.

“Ya appa! Jangan di bawa pergi aku mau main.”

Appanya tak menggubris rengekannya. Dia berjalan ke luar rumah untuk mengangkat telpon itu. Baekhyun sungguh-sungguh jengkel dengan orang yang menelpon appanya. Karena sudah membuat permainannya berhenti begitu saja. Namun tanpa ia ketahui di balik itu semua, permainan itu belum berhenti, karena permainan sesungguhnya belum di mulai. Yang akan membuat libur panjangnya tak akan pernah ia lupakan  seumur hidup. Yang akan terus membekas dan tak bisa hilang dari hati dan pikirannya. Karena permainan itu adalah permainan hidup.

*TBC*

2 thoughts on “FF: DARK chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s