FF : Unbelievable

unbelievable-ddangkoplak-storyline

Tittle   : Unbelievable

Author   : Ddangkoplak

Genre   : Romance (maybe)

Rating   : G

Length   : Ficlet

Cast   : Oh Sehun

You as Yoo Anna

Support Cast  : No Minwoo

Jo Kwangmin

Jo Youngmin

Rating   : G

Poster   : cafeposterart.wordpress.com

Brak!

Bunyi keras gebrakan meja sukses membuat semua anak terlonjak kaget. Keadaan kelas yang semula ramai oleh celotehan siswa-siswinya kini berubah senyap, tanpa suara bahkan desahan nafas sekalipun. Semua pandangan mata kini terpusat kearah bangku paling tengah di ruang kelas tersebut, dimana seorang yeoja berseragam putih dan bawahan rok biru tengah duduk di bangkunya. Saling bertatapan dengan seorang namja berkulit pucat dengan seragam  berwarna sama. Hanya celana panjang biru sebagai bawahannya saja yang membedakan.

“Katakan…” ucap namja itu setelah keheningan yang menjedai selama beberapa saat. “Apa masalahmu…” ucapnya datar namun sanggup membuat bulu kuduk merinding. Kedua mata sipitnya memandang tajam kearah yeoja yang kini sedang duduk dihadapannya.

Tanpa mereka semua ketahui, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati yeoja itu. Tak bisa dibantah memang, bahwa terbersit perasaan takut, gelisah, dan juga cemas… Bagaimana tidak? Ia baru saja bermain-main dengan api.

Namun yeoja itu berusaha untuk tampak tenang dengan memasang tampang innocentnya, kendati saat ini jantungnya tengah berpacu dengan kencang.

“Tidak ada…” jawabnya dengan nada yang dibuat agar terdengar se-enteng mungkin.

Iapun balas menatap namja dihadapannya.

“Lalu apa maksudmu dengan ini…” namja itu merogoh saku celananya dan sejurus kemudian ia mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya dengan kasar diatas meja didepannya.

“Kyaaa….” Jerit beberapa murid-yang kebanyakan perempuan- begitu melihat sesuatu yang dikeluarkan namja itu.

Kini diatas meja kayu berwarna putih itu, terdapat tiga ekor anak tikus yang masih kecil-kecil dengan kulitnya yang berwarna merah tanpa sehelai bulupun di tubuh mereka.

“bwahahahaha….” Terdengar gelak tawa dari murid-murid baik yang ada didalam kelas maupun yang kebetulan lewat dan penasaran dengan apa yang terjadi sehingga mereka rela berdesak-desakan mendekati jendela untuk mengintip dari luar. Suasana menyeramkan itu berubah menjadi ramai dan dipenuhi gelak tawa.

“Diam!” bentak namja berkulit pucat itu. Terlihat wajahnya yang memerah- tidak pasti apakah karena ia kelewat malu atau karena benar-benar marah. Dan dalam sekejap, suasana kembali hening seperti sediakala.

Yeoja itu- yang sedang duduk dihadapannya, tadi juga ikut menertawainya dan bahkan setelah keadaan kembali hening, ia masih tersenyum-senyum sendiri. Berusaha menahan tawa yang belum puas dikeluarkannya. Ia kini beralih menatap namja itu.

“Itu hanya tikus mainan, kan?” jawabnya dengan jawaban yang samasekali tidak diharapkan oleh namja itu.

“Dan apa maksudmu menaruhnya di lokerku?” bentak namja itu keras. Semua murid tampak terkejut dan kini menatapi namja itu dengan pandangan ngeri. Begitu pula dengan yeoja itu. Namun ia masih berusaha menyembunyikannya dengan tetap terlihat tenang.

“Ne, memang aku yang menaruhnya di lokermu” ucapnya santai dan langsung membuat kaget seluruh siswa yang menyaksikan mereka. Tak terkecuali namja itu. Ia juga heran, bagaimana bisa yeoja itu mengatakannya dengan enteng seolah-olah itu adalah hal yang sudah biasa dilakukannya untuk sekedar bermain-main.

“Kau mau tahu alasanku menaruhnya di lokermu?” tanya yeoja itu dengan nada yang menantang. Kini, yeoja itu balas menatapnya dengan tatapan tak kalah tajam darinya.

“Karena… Aku…Membencimu…Oh…Sehun” ucapnya dengan sangat pelan dan penuh penekanan pada setiap kata. Terlihat jelas kemarahan yang terpancar dari kedua buah matanya yang sedang menatap tajam ke arah namja itu. Spontan, seluruh murid terbelalak dengan pernyataannya. Murid-murid laki-laki menganga tak percaya sedangkan murid-murid perempuan menutup mulut mereka. Semua dengan keadaan yang sama. Mata terbelalak lebar.

Begitu juga dengan Oh Sehun, namja itu. Ia benar-benar terkejut akan kata-kata yang terlontar dari mulut yeoja itu.

“Kau tahu? Kau adalah makhluk paling menjijikkan yang pernah kulihat ada di dunia ini.” Desisnya pelan dan semakin menambah keterkejutan dalam diri setiap orang, terlebih lagi Oh Sehun.

“Kau, dengan segala kelebihan dan hartamu yang melimpah. Membuatmu populer dan sangat disukai oleh yeoja-yeoja disekolahan ini. Kau tahu? Mereka semua sangat mengharapkanmu, berharap setidaknya mendapatkan secuil saja perhatian darimu. Mereka menyukaimu, mengagung-agungkanmu, bahkan tak sedikit yang mengorbankan harga diri mereka, waktu mereka, dan juga uang mereka untuk dapat menunjukkan perasaan cinta mereka kepadamu. Tapi apa balasanmu? Kau selalu bertindak angkuh, sombong, dan tidak pernah peduli. Tak tahukah kau seberapa besar pengorbanan mereka untukmu? Meskipun kau tidak bisa membalas perasaan mereka, tapi paling tidak kau bisa menghargai usaha mereka atau menolak secara baik-baik. Tapi kau malah mempermalukan mereka. Kau! Kau benar-benar menjijikkan!” bentak yeoja itu dengan telunjuknya yang mengacung kearah Oh Sehun.

Kini semua siswa hanya bisa melongo memandanginya. Begitu juga Oh Sehun. Keheningan menyelimuti ruang kelas tersebut lantaran tak seorangpun yang dapat mengeluarkan kata-kata.

“Kurasa kau tidak lupa dengan kejadian kemarin, kan?” lanjut yeoja itu.

“Saat seorang yeoja kelas satu memberikan kue tart buatannya padamu? Dan kurasa kau masih bisa mengingat jelas, reaksi apa yang kau berikan padanya? Kau… Melempar kue tart itu ke lantai begitu saja…”

“Tak tahukah kau bahwa anak itu, yang hanya bisa menatapi kue buatannya hancur dengan air mata berlinang, telah mengorbankan waktu belajarnya, waktu istirahatnya, waktu bekerjanya, hanya untuk membuatkan sebuah kue tart untukmu? Hah? Apa kau tahu?” yeoja itu semakin meninggikan nadanya.

“Karena itulah, aku melakukan ini semua. Makhluk sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki disini. Kau tahu?”

Terlihat badan Oh Sehun yang bergetar. Kedua tangannya terkepal erat dengan buku-buku jarinya yang memutih. Jelas terlihat kemarahan yang terpancar dari kedua matanya yang sedang memberikan death glare pada yeoja itu.

Grep

Kedua tangan kekar namja itu meremas kuat bahu si yeoja, membuat pemiliknya sedikit meringis. Bukan, bukan karena sakit, melainkan karena jarak wajah mereka berdua yang terlampau dekat, membuat keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Pandangan mereka masih terkunci satu sama lain.

“Kau” desisnya dengan remasan tangannya yang semakin kuat dan untuk kali ini mampu membuat yeoja itu merasa kesakitan…

Hening cukup lama. Oh Sehun nampak tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

Tanpa ada yang menduga samasekali, namja itu malah melepaskan cengkramannya pada bahu yeoja itu. Ia berbalik dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan yeoja itu serta puluhan murid yang sedaritadi menyaksikan mereka dalam kebingungan karena tingkah anehnya…

“Anna…!” pekik seseorang ketika keadaan kembali seperti sediakala.

Seorang namja berkulit agak gelap nampak mendekatinya, diikuti dua orang namja lain dibelakangnya.

“Ya! Apa benar kau yang menaruh tikus mainan itu?” tanya Minwoo, teman sekelas yeoja yang ternyata bernama Anna itu. Yoo Anna hanya mengangguk enteng. Hal itu membuat Minwoo dan kedua teman yang mengekorinya membelalakkan mata.

“Apa kau sudah gila? Kau…Kau tahu siapa dia, kan? Bagaimana jika terjadi hal-hal yang tid…”

“Oh come on!” potong Anna sebelum Minwoo menyelesaikan ocehannya. “Aku sedang malas berdebat…” ujarnya seraya melanjutkan aktivitas membaca bukunya yang sempat tertunda karena masalah dengan Oh Sehun.

“Anna…” erang Minwoo. Yeoja itu mendongakkan kepalanya dan menatap Minwoo malas. “Apalagi?” tanyanya.

“Kau tahu siapa dia kan? Dia itu putra ketua yayasan di sekolah ini. Dia memegang peranan penting…” ujar Minwoo.

“Aku tahu…”Anna membuka-buka lembaran bukunya.

“Aku melakukannya karena memang ingin…” Seketika, ketiga temannya itu menaikkan alis mereka.

“Harus ada yang berani menggertaknya sekali-sekali. Selama ini kita hanya diam dan itu membuatnya berfikir kalau kita takut padanya. Makanya ia jadi berbuat semena-mena…” jelas Anna.

“Tapi bagaimana jika…”

“Mereka mengeluarkanku?” potong Anna lagi. Yeoja itu kini menurunkan buku itu dari pandangannya dan menghadap ketiga temannya.

“Coba saja. Aku yakin mereka akan menyesal telah menyia-nyiakan salah satu siswa dengan pengalaman olimpiade di tingkat internasional sepertiku” ucapnya tenang. Ketiga temannya hanya bisa mengangguk pasrah…

***

Siang yang terik. Matahari bersinar terang dengan cahayanya yang mampu membakar kulit. Seorang yeoja bersama dua namja teman sekelasnya tampak asyik memperebutkan sebuah bola basket. Sesekali, mereka yang berhasil menangkap bola akan melemparkannya kedalam ring.

Namun hal tersebut tidak berlangsung lama lantaran seorang namja tinggi berambut hitam cepak berlarian menghampiri mereka.

“Anna-ya… Anna-ya” teriaknya. Cucuran keringat nampak membasahi sekujur tubuhnya yang terbalut seragam sekolah.

“Kwangmin-ah? Wae gurae?” tanya yeoja yang merasa namanya dipanggil itu. Namja bernama Kwangmin itu berhenti tepat dihadapan mereka. Ia mengatur nafas sejenak dengan badan membungkuk dan kedua tangan bertumpu pada lututnya.

“Sehun… sunbae” ucapnya masih dengan nafas yang tersengal. Anna mengernyit begitu mendengar nama itu.

“Mwo? Orang itu? Kenapa lagi dia?”

“Ia mencarimu dikelas tadi tapi kau tidak ada. Dan seseorang mengatakan kalau kau ada di sini” ujar Kwangmin.

“Mwo? Mencariku?” ulang Anna sedikit terkejut. Kwangmin mengangguk.

“Sekarang ia dan teman-temannya sedang menuju kemari…” lanjut Kwangmin.

Kedua teman Anna- Minwoo dan Youngmin spontan membelalakkan mata begitu mendengar pemberitahuan Kwangmin.

“Anna-ya. Eottokhae?” tanya Youngmin cemas.

“Sepertinya mereka akan membuat perhitungan” sambung Minwoo.

Anna menarik nafas panjang.

“Akhirnya tiba saatnya… Oh Sehun” batin Anna.

“Anna-ya… Kami akan membantumu” celetuk Minwoo. Anna yang terkejut dengan kata-kata temannya itu menggeleng kuat.

“Aniyo. Ini masalahku dengannya. Aku harus menyelesaikannya sendiri.” Tolak Anna. Dapat ia lihat, raut kecemasan Nampak di wajah ketiga temannya itu

“Apa kau gila? Dia laki-laki dan juga…”

“Aku bisa menyelesaikannya. Aku tak ingin melibatkan kalian yang tidak melakukan apa-apa” potong Anna. Yeoja itu meluruskan pandangannya kearah koridor lantai satu sekolah dan kali ini matanya dapat menangkap jelas tiga sosok yang ditunggunya muncul.

“Sudahlah. Lebih baik kalian menyingkir” perintah Anna. Ketiga temannya itu tidak berdaya dan hanya mengangguk menuruti kata-katanya. Minwoo menepuk bahunya pelan.

“Kami tak akan membiarkan namja itu melukaimu” ucap Minwoo menenangkan. Anna membalasnya dengan senyuman. “Gomawo”

Kini ketiga temannya itu melangkah ke pinggir lapangan untuk menyaksikan entah kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka tidak tahu…

Sosok yang ditunggu-tunggu itu kini mendekat. Oh Sehun, namja bertubuh tinggi atletis dengan kulitnya yang sepucat salju, diikuti kedua teman dekatnya, Kim Jongin yang berkulit gelap dan Park Chanyeol yang tubuhnya menjulang.

Anna menghela nafas panjang, menenangkan pikirannya. Meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja meski hatinya ragu.

Namja itu, Oh Sehun, kini telah sampai dihadapan Anna dengan ekspresi datar yang selalu ia tunjukkan seperti biasa. Kedua mata sipitnya memandang tepat pada kedua bola mata Anna. Dan gadis itupun balas menatapnya dengan berani.

“Jadi kau disini… Aku sempat mencarimu di kelas tap…”

“Tidak usah basa-basi. Katakan apa yang kau inginkan…” potong Anna datar. Namja itu membelalakkan matanya terkejut dengan nada berani yang dikeluarkan yeoja dihadapannya ini.

Oh Sehun nampak menghela nafas sejenak. Anna masih menatapnya, mencoba menerka-nerka hal apa yang akan diterimanya sebagai ‘hadiah’ dari seorang putra ketua yayasan di sekolahnya. Yeoja itu tetap berusaha memperlihatkan sikap tenangnya kendati saat ini perasaan gelisah mengerubunginya. Ia tetap berusaha untuk terlihat berani dihadapan namja yang sangat dibencinya.

Beratus-ratus pasang mata juga turut menyaksikan mereka, menanti ‘hadiah kecil’ pemberian Oh Sehun kepada Yoo Anna. Terlihat bahkan dari lantai terataspun, semua siswa merapatkan diri mereka ketepian agar dapat melihat keduanya dengan jelas.

Anna masih menunggunya. Ia telah bersiap untuk ‘hadiah’  yang akan diterimanya. Ya, ia akan menghadapinya.

Masih dengan tatapannya yang tak kunjung lepas memandang Anna, namja itu merogoh saku bagian dalam jas sekolahnya dan mengeluarkan sesuatu…

Bunga Mawar.

Hening mendadak. Bahkan suara anak-anak di lantai atas yang sedari tadi menyoraki mereka tak lagi terdengar saat namja itu, Oh Sehun menyerahkan serangkai mawar merah kehadapan Anna. Pria itu kini berlutut dihadapannya.

“Yoo Anna-ssi. Saranghaeyo. Would you be my girlfriend?”

-End-

Comment needed….. Gomawo ^^

25 thoughts on “FF : Unbelievable

  1. UriMaknae berkata:

    aciatt ciattt mau dong sehun kek gitu di sekolah gue -_- *ngapainsehunkesekolahgw-__-

    ih keren, sama denger lagu nya secret garden apink tambah keren jadinya thor

    next thor

  2. rani berkata:

    whawhaaaaaaaaha
    gak nyangka bgt trnyata bakal nembak kukira bakal ada perang
    keren thor!!!!!!!
    harus ada sequel nie ff soalnya gantung
    sequel sequel sequel sequel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s