FF: Heart Breating (Part 5)

heart

Tittle      : Heart breating

Author    : BPI

Cast         : Member exo, and other…

Genre      : Brothership, Sad (maybe), Absurd ^^v

Summary:

 

 

 

Mobil itu melesat cepat, melawan angin. Pengendara menginjak gas tanpa menghiraukan beberapa pengendara lain yang mengumpat kesal karenanya. Wanita pengendara itu langsung melesat ke ruang guru, setelah mendapat kabar kedua anaknya berkelahi di koridor sekolah saat bel pulang berdering.

Sunye menatap ke dua pria yang hanya menunduk saat di nasehati oleh songsaenim, Kai si bungsu dari 2 saudara itu hanya diam saat songsaenim membeberkan kejelekannya di hadapan eommanya.

“Sudahlah songsaenim.. aku baik-baik saja, tak perlu sampai seperti itu” Ucap Sehun merasa tak enak melihat Kai di adili tanpa pembelaan.

“Benar songsaenim, Sehun tidak terluka sama sekali, ini hanya salah paham” Bela Chen yang memang harus menemani adik sepupunya ini untuk memberi kesaksian.

Songsaenim hanya menghela nafas panjang, merasa lelah, harus bagaimana lagi menghadapi murid nya ini.

“Maafkan sikap anak ku, aku akan memberikan pelajaran untuknya nanti” Ucap Sunye tanpa memandang Kai yang memandangnya sedih.

Di dalam Mobil terasa sangat hening. Sunye menatap kedua jagoannya itu dari kaca spion depannya. Menghela nafas, lalu tersenyum.

“Bagaimana kalau kita makan siang di luar?” Tanya Sunye, mencoba memberi aura semangat kepada kedua anaknya.

Luhan dan Kai tetap tak bergerak dari tempatnya. Duduk berjauhan, menepi ke jendela, dan saling melihat keluar jendela.

“Eomma akan menraktir kalian.. kalian mau makan apa?  Bulgogi? Daging sapi?”

“Dadaku sesak aku mau pulang” Jawab Luhan datar tanpa bergerak.

Kai dan Sunye menatap Luhan terkejut.

“Adeul.. apakah kita harus ke rumah sakit?” Tanya Sunye, matanya mencari-cari raut wajah Luhan.

“Anio. Aku hanya butuh istirahat”

Luhan tersenyum, menjawab kekhawatiran eomma nya itu. Lalu menengok ke arah Kai yang memang menatapnya. Mereka bertatap dalam diam, Kai pun menghela nafas, memakai earphone yang ada di lehernya, dan memejamkan mata.

 

(^^)

~ Luhan Prov ~

Jantung ini, arkkhhh…

Sakit sekali rasanya saat jantung ini berdetak, bahkan saat ku menghirup oksigen rasanya paru-paru ku akan pecah. Ku raba-raba meja di sebelah ku, mencari gelas berisi air mineral yang tadi di suguhkan eomma untukku. Dengan susah payah, ku bangunkan badan ini. Ku senderkan pungung di kepala ranjangku.

Kebanyakan air itu tumpah di piyama ku, sebagiannya dapat aku minum. Aku menekan dada kiriku, mencoba menetralkan perasaanku.

“Luhan… eomma ingin bicara dengan mu”

Mendengar suara lembut eomma dari balik pintu. Segera ku hapus peluh yang membasahi wajahku. Dan tersenyum manis membalas senyuman manis dari wajah teduh itu.

“Kau baik-baik saja?”

Lagi-lagi pertanyaan itu yang di lontarkan dari bibir keriting eomma, aku hanya tersenyum mengangguk. Mencoba tak banyak gerak, karena dadaku masih sangat sakit.

“Eomma… mianhae”

“Kenapa kau meminta maaf?”

“Aku tahu Kai pasti sangat kesal dengan ku, eomma… apakah bila eomma menjadi aku, saat melihat adik eomma mendorong seseorang temannya… akankah eomma akan sangat marah dengan adik eomma?”

Ku lihat wajah itu merengut bingung, aku pun sungguh bingung. Dengan diriku ini, sebenarnya apa yang terjadi denganku?

“Luhannie.. eomma mengerti dirimu, eomma tahu kau tak mau Kai mendapatkan masalah kan? Kau menghentikannya untuk tak berkelahi dengan temannya itu…”

Aku terperangah, apakah itu sebenarnya alasan ku? Bukan itu. Aku melakukan itu hanya ingin melindunginya, melindungi Sehun. Bahkan aku hampir saja memukul Kai, bila tak ada Xiumin dan Lay yang menahan tanganku. Nafasku saja masih memburu saat melihat raut wajah Kai mempertanyakan apakah aku akan memukulnya.

Eomma mengelus rambutku, mengecup nya, lalu pergi meninggalkan kamarku yang sudah gelap gulita. Mungkin dengan tidur malam ini aku dapat berfikir secara jernih, lalu meminta maaf dengan Kai.

 

~ Luhan Prov End~

 

~Author Prov~

Langkah Sunye berhenti saat melihat ruang kerja suaminya itu terbuka. Ia lalu melihat ke dalam dan mendapati Kai yang sedang membelakanginya. Ia lalu mendekati dan membuat Kai terkejut menatapnya.

“Jonginnie… apa yang kau lakukan?”

“Eomma.. aku.. aku sedang mencari sesuatu..” Kai masih terlihat terkejut, ia lalu menaruh berkas yang tadi ia lihat.

“Mencari apa? Kau tahu appa mu akan sangat marah kalau kau memasuki rungannya tanpa ijin?” Tanya Sunye, mengetahui tangan Kai masih bertaut satu sama lain di punggunnya.

“Aku hanya ingin mencari berkas orang yang mendonorkan jantung Luhan hyung” Jawab Kai tanpa memperhatikan wajah terkejut eommanya.

“Kau ini… untuk apa kau mencari orang itu, appa mu sudah mengurusinya”

“Aku hanya ingin tahu” Bela Kai, lalu pergi meninggalkan Sunye yang masih menatapnya ingin tahu.

“Anak itu benar-benar, kenapa bisa mirip sekali dengan appa nya..”

Kai segera mengunci pintu kamarnya. Menghidupkan lampu belajarnya karena memang ia sengaja tak menghidupkan lampun kamarnya. Ia mengambil sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Ia menatap photo itu, photo anak kecil yang sangat manis. Ia bahkan sangat kenal dengan jenis senyum anak itu. Tak salah lagi ia kenal anak ini.

“Siapa kau sebenarnya?” Tanya Kai pada photo yang masih ia tatap dengan mata tajamnya.

(^^)

 

Pria tinggi dengan wajah tampan itu tak menghiraukan beberapa pasang mata yang menatapnya ingin tahu. Sebenarnya sejak dulu ia ingin sekali kemari, tapi karena tak di ijinkan oleh seseorang, membuatnya harus mengurungkan niatnya. Tapi kini ia tak menghiraukan bila orang itu tiba-tiba datang, dan memarahinya. Toh orang itu telah tiada.

Suho membalas beberapa salam dari para yeoja yang menegurnya, ia tersenyum manis seperti biasa. Berbeda dengan kedua saudara sepupu yang ada di sampingnya. Tao yang terlihat sangat malas harus berjalan ke perkampungan seperti ini, dan Kris yang sibuk mencari-cari alamat rumah yang sesuai dengan kertas yang ia pegang saat ini.

Kris mengentikan langkahnya saat menemukan alamat yang ia cari. Lalu berjalan lurus ke arah rumah sederhana itu yang di ikuti Tao dan Suho.

“Oi.. anak Seoul, kalian mencari siapa?” Seorang ahjumma mendekati Tao yang berjalan paling belakang dari mereka bertiga.

“Annyeong ahjumma” Sapa Suho ramah

“Annyeong ahjumma.. aku Kris, dan ini temanku Suho..” Suho membungkuk ramah “Dan ini Tao, adik sepupu ku” Tao pun membungkuk di hadapan ahjumma

Ahjumma itu hanya mengangguk, lalu memperkenalkan dirinya sebagai tetangga dari Oh Saho.

“Apakah Hunnie… maksudku anak Ahjusshi Oh ada?”

Tao memalingkan wajah ingin tertawa mendengar Kris bertanya, ia lalu berbatuk-batuk menyamarkan tertawanya.

“Oh kalian teman Hunnie?”

“Nde” Bohong Suho, membuat Kris melirik nya sekilas

“Sayang sekali… baru saja minggu kemarin ia datang” Ungkap Ahjumma itu mengingat kedatangan Sehun minggu lalu dengan Chen

“Datang dengan siapa?” Tanya Kris ingin tahu.

“Kakak sepupunya… Chen.. nama kakak sepupunya Chen”

Seketika mata Kris, Suho dan Tao terbelalak lebar. Mereka saling menatap heran, membuat ahjumma itu jadi heran juga.

“Kalian kenapa terlihat terkejut?”

“Anio..” Suho tersenyum ramah, mencoba menghilangkan raut wajah terkejutnya.

“Sebenarnya siapa nama asli Hunnie?”

Kris menatap Tao tak percaya, sepertinya adik sepupunya itu sudah sangat gemas dengan nama aneh itu.

“Oh.. bukankah kalian temannya? Mana mungkin kalian tak tahu?” Selidik Ahjumma menatap mereka satu persatu.

“Bukan begitu ahjumma, kami… “ Kris menatap Suho meminta bantuan, teman jenius nya itu pun mengangkat bahu, tanda menyerah.

“Oh Sehun… mana mungkin kami tak tahu namanya” Canda Tao yang langsung membuat Kris menatapnya tak percaya.

“Maafkan aku.. hanya saja belakangan ini banyak sekali orang yang mencarinya, seorang detektif, pengacara keluarga Kim dan sekarang kalian..” Celetuk ahjumma itu menjelaskan, tampak kekhawatiran dari raut wajah tuanya

“Jadi namanya Oh Sehun?” Tanya Kris tak percaya

“Nde”

Setelah lama berbincang-bincang dengan ahjumma itu. Mereka pun pamit untuk kembali ke Seoul karena harus menjalani Ujian Akhir semester esok hari. Kris masih saja tak percaya bahwa orang yang selama ini ia cari sudah di depan mata. Masalah nya saat ini adalah bagaimana caranya ia memberitahu ke anak ahjusshi Oh. Mendengar cerita dari ahjumma itu, ia dapat menyimpulkan bahwa ahjusshi Oh sudah membohongi Sehun mengenai pekerjaan nya di Seoul. Bila ia memberitahu hal yang sebenarnya pasti Sehun akan sangat kecewa dengan appanya itu.

Suho membungkukan diri setelah mobil Kris berhenti di depan apartementa nya, setelah berterimakasih dengan sahabatnya itu Kris menginjak gas dalam menuju rumah Tao.

“Bagaimana kau bisa mengatakan nama Sehun saat itu?” Tanya Kris melirik adik sepupunya itu yang sudah terlihat sangat lelah.

“Tentu saja.. dari awal aku sudah bilang kan.. instingku ini sangat bagus” Tao menepuk-nepuk dadanya bangga.

Kris memutar bola matanya malas melihat kenarsisan Tao.

“Setelah ini, apakah gege akan memberi tahu Sehun?” Tanya Tao ingin tahu.

“Sebaiknya nanti saja, aku akan fokus pada ujian dan turnamen dulu” Jawab Kris, menghentikan mobilnya tepat di depan rumah khas China bercat merah. Rumah Tao.

 

(^^)

 

Setelah bel tanda ujian selesai Kai langsung mengumpulkan kertas jawabannya. Ia sterlihat bersemangat, bukan karena ini adalah hari terakhir ujian, melainkan ada sesuatu hal yang harus ia kerjakan. Ia langsung melesat ke parkiran di mana motornya berada. Sebenarnya Sunye tak mengijinkan Kai, anak bungsunya itu membawa motor ke sekolah. Karena  anaknya itu akan pulang dengan berbagai luka, karena balapan yang sering ia lakukan.

Semenjak Luhan kritis, semenjak itu pula Kai selalu mendengarkan kata-kata eommanya. Tapi kini setelah berbagai konflik yang terjadi anatara dia dan Luhan membuatnya melupakan semuanya. Menjadi orang baik dan buruk sama saja di matat hyung nya itu.

Motor besar itu berhenti di parkiran rumah sakit bertuliskan Inha Hospital. Kai langsung melesat ke tempat yang memang sudah ia janjikan.

“Berkas atas nama Kim Jongup?” Tanya suster itu, Kai mengangguk semangat.

“Benarkah appa mu menyuruh mu?  appamu sudah mengambil berkas ini sebelumnya” Tanya suster itu lagi, mengurungkah tangan nya memberikan berkas yang ada di tangannya.

Kai hanya menghela nafas mencoba bersabar. Ia lalu mengangguk layaknya anak manis yang patuh ke pada orang tua.

“Baiklah… ini dia berkas pendonor jantung Kim Luhan” Suster itu akhirnya memberikan berkas itu ke tangan Kai, yang langsung di sambut dengan ucapan terimakasih dari bibir Kai.

Kai lalu menaruh berkas itu ke dalam tasnya, tangannya berhenti saat handphone yang ada di saku celananya bergetar. Dengan susah payah ia merogoh, dan mendapatkan handphone nya.

“Yeoboseyo?”

“Kai.. kau dimana?” Tanya orang di seberang sana dengan nafas memburu.

“Aku ? ” Tanya Kai dengan alis berkerut “Ada apa hyung?”

“Luhan hyung… Ia.. pingsan tiba-tiba saat kami latihan sepak bola, aku bingung harus melakukan apa?”

Kai seketika membeku mendengar penjelasan Baekhyun, tanpa menghiraukan suara Baekhyun yang masik menelfon nya Kai berlari menuju parkiran. Memakai helmnya tergesa gesa, dan menekan gas kencang, melawan angin. Di dalam hati, ia mengumpat kesal. Kenapa hyung nya itu susah untuk di beritahu, bukankah ia sudah menyuruhnya untuk tak bermain bola.

 

(^^)

 

Pria putih itu selalu di tegur oleh pelatih karena kurangnya konsentrasi saat bermain. Sehun hanya mengangguk saat pelatih memanggilnya dan memberi tahu apa yang harus ia lakukan. Kris yang melihat hanya menatapnya sendu, setelah mengetahui siapa Sehun, sikap pria kebaratan itu berubah menjadi hangat. Mungkin dengan cara itu ia dapat menebus kesalahannya saat ini.

Pelatih menyuruh semuanya beristirahat, ia berdiri di tengah-tengah murid yang sedang mengatur nafas, beberapa dari mereka pun meminum air mineralnya hingga habis.

“Turnamen sudah di depan mata, ku harap kalian harus dapat fokus… terutama kau Sehun, kau masuk dalam tim inti, kau harus selalu fokus..” Omel Pelatih, yang hanya di jawab anggukan oleh Sehun.

“Dan kau Kris? Mana Kai ? bukankah sudah ku bilang ia bisa menggantikan Siwon yang cidera?”

Pertanyaan pelatih membuat semuanya menatap Kris tak percaya, mereka tak tahu kalau Kai dapat bermain apalagi masuk dalam tim inti menggantikan Choi Siwon sebagai center.

“Aku sudah menawarkannya, akan tetapi ia menolak… bukankah sudah di gantikan dengan Sehun?” Bela Kris menatap pelatihnya itu tak percaya, mereka berdua sudah membicara kan ini sebelumnya.

“Aku tak mau tahu, aku hanya ingin Kai yang menjadi center.. dan kalian… kalian harus membantu kapten kalian untuk membujuk Kai.. hanya dia yang ku andalkan dapat menggangikan Siwon ” Perintah pelatih tanpa ada yang dapat membantahnya.

Kris hanya mendesah kesal, lalu menatap Tao yang menatapnya tajam. Tao tak percaya Kris menyembunyikan permasalah ini darinya. Mungkin bila Kris memberitahu alasan mengapa Kai harus kembali, ia akan sangat mudah membawa Kai kembali ke club basket.

-_-

“Gwenchana?”

“aku baik-baik saja hyung”

Dusta Sehun pada Chanyeol, kini mereka berjalan menuju gerbang. Setelah latihan yang menegangkan tadi. Chanyeol baru bisa menegur Sehun yang dari tadi ia perhatikan diam saja.

“Benarkah? Ku lihat kau tidak berkonsentrasi selama latihan” tanya Chanyeol masih mencoba mensejajarkan jalannya dengan jalan Sehun

“Sudah ku bilang hyung, aku tak terlalu suka basket”

“hmmm.. ne, tapi kau tak dapat keluar, turnamen kita seminggu lagi.. dan juga.. aishhh aku tak percaya Kris hyung dapat menyembunyikan hal Kai dari kita” Ucap Chanyeol kesal mengingat perkataan perlatih.

Sehun hanya mengangguk saja saat Chanyeol menceritakan perasaanya mengenai prilaku Kris. Langkah mereka berhenti saat melihat Luhan yang di temani Kai, Xiumin dan Lay keluar dari UKS, sedangkan Chen, Kyungsoo dan Baekhyun menunggu di luar.

“Gwencahana?” Tanya Chen, menatap wajah kakak kelasnya itu yang hanya diam.

“Sebaiknya hyung ke rumah sakit” Saran Baekhyun, wajahnya masih menampilkan kekhawatiran.

“Tidak usah” jawab Luhan singkat

Lay dan Xiumin hanya mengangguk pasrah mendengar ke egoisan Luhan. Mereka mengerti kenapa temannya ini tak mau di bawa ke rumah sakit, ia tak mau eommanya khawatir.

“Bagaimana keadaan mu hyung?” Tanya Chanyeol, menghampiri teman-temannya yang kini sedang mengerubungi Luhan. Di belakangnya Sehun menatap Luhan takut.

“Aku baik-baik saja… sudah lah.. sungguh aku baik-baik saja” Luhan menatap satu-persatu mata yang menatapnya kasihan, dan langsung berpaling dari tatapan Sehun

“Kajja Jonginnie.. eomma akan mengkhawatirkan kita kalau kita pulang malam” Luhan langsung menarik lengan Kai yang sedari tadi diam saja di belakang adiknya itu.

“Chakkaman!” Lengan Kai di tahan oleh Chanyeol “Kai ah~ kembalilah ke club basket.. kau tahu,  kau di suruh pelatih menggantikan Choi Siwon” Ungkap Chanyeol tetap tak percaya

“Mwo? Choi Siwon? Maksudmu menjadi center?” Tanya Xiumin tak percaya. Ia lalu menatap Kai yang hanya datar saja mendengar berita mengejutkan itu.

“Aigo.. kau harus menerimanya, aku yakin Kris tak akan berani lagi dengan mu kalau kau menjadi center” Saran Lay, menepuk pundak Kai.

“Kai?” Tanya Luhan , mencoba menyadarkan adiknya yang hanya diam.

“Aku tak mau” Jawab Kai singkat membuat yang lain hanya memandangnya heran.

Kai lalu membawa Luhan pergi dari teman-temannya. Luhan yang berjalan dibelakang  punggungnya hanya tersenyum miris. Apakah ini semua karenanya? Kai yang tak mau kembali ke basket, padahal dengan kembalinya ke club basket, mungkin ia dapat mengubah fikiran berbagai songsaenim dan teman-temannya tentang dirinya yang nakal.  Luhan tahu bagaimana hebat adiknya itu bermain basket, dengan mudah memasuki bola. Ia dapat mudah membawa sekolah nya mendapatkan juara di turnamen tahun ini.

(^^)

Sehun menghempaskan tubuhnya di kasur empuk kamar. Setelah membersihkan diri, ia enggan untuk melakukan apapun. Fikirannya melayang-layang dengan apa yang terjadi tadi siang. Tiba-tiba saja Luhan berbicara begitu kasar dengan nya. Apa salahnya? Apakah karena Kai keluar dari tim basket, atau karena kejadian seminggu yang lalu di koridor sekolah.

‘Bisakah kau menjauhi ku? Kau sangat menggangu!’ Perkataan Luhan ini membuat Sehun seketika membeku. Dengan mata dingin dan wajah datar, Luhan membuatnya harus terdiam cukup lama di pintu lapangan indoor basket. Setelah meninggalkan Sehun, Luhan tiba-tiba saja pingsan saat ia berlatih sepak bola. Membuat Sehun merengutkan dahi, bingung.

Tapi kenapa ia begitu memikirkan pria itu. Tatapan teduhnya lah yang membuat Sehun benar-benar ingin mendekatinya, setidaknya menjadi akrab saja sudah membuatnya  bahagia. Luhan memang baik terhadapnya, sama seperti yang lain. Hanya saja kebaikan Luhan menurut nya berbeda. Dari cara Luhan menatapnya, memperlakukannya, membuat dia mengingat seseorang.

“Appa..” Bisik Sehun saat melihat sketsa photo appanya yang begitu besar di kamarnya.

Chen memang sengaja membuatkan sketsa photo Ahjusshi Oh, di kamar Sehun. Mungkin itu akan berguna di saat Sehun merindukan appanya.

“Bagaimana bisa aku merasakan appa masih hidup, tapi dalam raga yang berbeda… apa karena aku sangat merindukanmu? Aku jadi berhalusinasi seperti ini?” Tanya Sehun, yang seharusnya di jawab oleh dirinya sendiri.

“Tatapan teduhnya, cara ia bicara… semangatnya bermain sepak bola.. mirip sekali dengan appa , tapi kini.. tiba-tiba saja ia memintaku jauh darinya, sungguh.. aku tak bisa..”

Sehun menatap sendu sketsa itu, lalu menutup mata. Mencoba beristirahat, karena besok ia harus berlatih seharian untuk turnamen.

 

 

Chen mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Sehun, menyuruhnya untuk makan malam. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya. Bagaimana Sehun dapat merasakan Luhan, yang baru saja ia kenal beberapa bulan, sama seperti appanya. Bagaimana dengan Chen yang selama membantunya. Hati Chen sangat ikhlas membantu Sehun, tapi setidaknya pria itu dapat menghargainya. Langkah Chen pun menjauh dari kamar Sehun. Mencoba menetralisir perasaannya.

-_-

 

Tangan Kai segera memasukkan berkas yang ada di tas nya asal, ia lalu mendongakkan kepala saat Luhan menyembulkan kepalanya di pintu. Luhan sedikit kikuk memasuki kamar Kai yang memang sangat minim penerangan. Kai selalu mematikan lampunya bila sudah malam.

“Apakah aku mengganggumu?” Tanya Luhan, menatap Kai yang tadi terburu-buru memasuki berkas ke dalam tas nya.

“Anio.. hyung ada apa kemari?” Bohong Kai, mencoba mengalihkan perhatian.

“Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu…” Luhan lalu duduk di sebuah sofa yang memang ada di sudut kamar Kai yang di penuhi dengan berbagai memo-memo dari berbagai artikel yang di baca Kai.

Hoby Kai adalah membaca, ia sangat suka mencari sesuatu yang ia tak ketahui, lalu ia tulis di memo dan di tempelnya di dinding kamarnya.

“Eomma bilang kau sering membaca artikel mengenai transplantasi jantung, bisakah kau memberi tahuku mengapa jantung baru yang ku miliki ini berdetak sangat cepat bila aku tak melakukan sesuai dengan keinginanya?”

Kai mengerutkan keningnya, ia tak percaya Luhan akan menceritakan mengenai hal ini padanya. Anti bagi Luhan untuk menceritakan kesusahannya pada siapa pun, eomma sekalipun.

“Apakah kau merasa sesak karenanya?”

“Nde… sangat sesak…”

Kai menatap wajah hyung nya yang terlihat sangat frustasi itu kasihan. Memang benar yang ia takutkan selama ini. Inilah yang membuat Luhan berubah, lalu apa yang harus ia lakukan. Satu-satunya cara adalah mengikuti permintaan si jantung bila Luhan ingin tetap.

“Hyung.. kau harus pasrah..”

“Maksudmu?” Luhan menatap Kai yang menatap lurus ke depan.

“Kau harus mengikuti permintaan jantung itu, apapun yang ia suruh padamu.. kau harus pasrah”

“Andwae, aku tak mau tubuhku di kendalikan oleh jantung ini” Teriak Luhan frustasi

“Hyung… cobalah dengarkan aku, kau harus melakukan nya.. kalau tidak..” Kai menatap mata Luhan yang juga menatapnya

“Kalau tidak apa yang akan terjadi?”

“Sudah cukup Kim Jongin”

Seorang pria bertubuh tegap tinggi menatap Kai tajam, Kai dan Luhan seketika terkesiap melihat appanya kini di hadapan mereka. Jongup Lalu menghampiri kedua anak nya yang duduk di pinggir kasur Kai, dan menatap mereka berdua dingin.

“Sudahlah Luhan.. kau jangan memikirkan sesuatu hal yang tak penting, kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah…”

Luhan lalu berdiri, sedikit kesal karena kedatangan appanya membuatnya harus menekan penasarannya mengenai jantungnya ini.

Setelah Luhan pergi dari kamar Kai, Jongup menadah kan tangannya, meminta sesuatu yang membuat Kai menatapnya bingung.

“Appa, bukankah aku yang seharusnya meminta oleh-oleh?” Canda Kai, menatap appanya yang masih mengadahkan tangannya.

“Jangan bercanda Kim Jongin, dr. Park memberitahuku kalau kau meminta berkas mengenai pendonor jantung Luhan bukan? Dan sekarang dimana berkas itu”

Kai menatap tak percaya appanya itu, bagaimana pria tua itu mengetahuinya. Kai mencoba bersikap biasa, ia menggeleng polos.

“Yak Kim Jongin berikan padaku kalau tidak kau tahu kan apa yang akan ku lakukan?” Ancam Jongup yang membuat Kai harus mengeluarkan berkas dari dalam tas nya. Ia bahkan belum membacanya.

“Anak baik… aku tak akan menjual motor butut mu itu, tapi mungkin amma mu yang akan menjual nya kalau kau masih mengikuti balapan liar”  Jelas Jongup dengan nada senang, setelah mengacak rambut hitam Kai, ia meninggalkan anak bungsungnya itu yang mengerucutkan bibirnya.

Setelah pintu kamar Kai di tutup, pria berkulit gelap itu segera menguncinya. Ia terkikik pelan dan mengumpat kesal ke appanya itu. Ia memang tak bodoh untuk memberi berkas berharga itu begitu saja. Dan bodohnya appanya itu tak mengecek apakah isi berkas itu lengkap atau tidak.

Sebelum Luhan masuk untung saja ia menaruh asal biodata pendonor, dan tak menaruhnya bersama berkas yang lain di ampolp coklat. Dengan terburu-buru ia menghidupkan lampu belajarnya, dan membaca biodata diri pendonor.

“Oh Saho?”

“Supir Keluarga Wu..”

“Wu Yi Fan… KRIS?????”

 

TBC

15 thoughts on “FF: Heart Breating (Part 5)

  1. Jonginyeol berkata:

    aaah lanjut dong thor sekarang atau besok /maksa/ :3 gregetan nih ah/? jongiinn ayo ikut basketnya biar juara trs ga di olok2in mulu ;_; luhan juga jgn keras kepala ><

  2. rani berkata:

    wahahaha makin seru aja
    pas luhan sakit rasanya aku juga ikut sakit #lebay
    tambah keren aja nie ff
    penasaran lanjutkan thor jangan lama2 yaw
    keep writing!!!

  3. Tiikaa berkata:

    Kyaaaaaa,,,,

    Makin seruuuuu

    Omo itu kris cs udh tau klau hunie itu sehun,, trus ntar apa yg akan kris lakuin sma sehun?
    Itu knapa luhan tiba2 minta sehun buat jauhin diaa…??
    Ksih sehun nyaaa

    Trus itu,, kai kok kaget bnget wktu tau klau pndonornya itu supirnya kluarganya kris??

    Huaaaaa
    Smkin penasaran akunya thor,,,
    Next chapter aku tunggu ya🙂🙂

  4. kaina berkata:

    aq suka banget sama cerita’a…
    maaf gak da komen di chapter sblm’a…
    klo bisa jgn lma2 donk update’a..
    aq nunggu’a smpe lumutan.
    hehehehe….

    palli…palli ya di post next chapter’a..#^_^#

  5. kaina berkata:

    aq suka banget sama cerita’a…
    maaf gak da komen di chapter sblm’a…
    klo bisa jgn lma2 donk update’a..
    aq nunggu’a smpe lumutan.
    hehehehe….

    palli…palli ya di post next chapter’a..#^_^#….

  6. YooXi berkata:

    kekeke~ cerita’y makin seru aja nie🙂
    Kai sekarang jdi protect ama Luhan🙂
    *maaf bru bsa komen di chap ni*🙂
    Next Chap ditunggu~🙂

  7. cicil berkata:

    Aku baca dari kemaren tapi baru komen sekarang, maaf ya😦

    aku sukaaaa aaaaa sama ceritanya, menarik, feel juga dapet. dan baru nyadar kalau author yang nulis early marriage dan ini sama hehe. tulisannya bagus aku ngenalin cara nulis author jadi ngerasa ada yang sama terus pas di cek eh ternyata beneran sama wkwk.

    itu Luhan kasian amat thor -__-

    lanjut

  8. cikara berkata:

    Seru seru,luhan kasian amat harus sesak kalau tidak menuruti jantung barunya itu,dan kai daebak untung berkas yang di kasih ke appa nya berkas yang salah heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s