FF: The Wolf and not The Beauty (part 4)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Itulah masalahnya. Small forward adalah posisi yang penting. Jika kita tidak menemukannya sebelum olimpiade, kita terancam tidak bisa mengikuti pertandingan”

Mata Kai membulat lebar setelah mendengar pernyataan Kyungsoo yang sangat mengejutkan. Ia menatap Kyungsoo lekat dengan kening berkerut.

“Kenapa?”

Kyungsoo menarik napas panjang, “Kai-ssi, aku masih normal dan aku bukanlah gay”

“Jadi itu masalahnya? Kau mau menjauhiku karena gosip murahan itu?”

Kyungsoo mengangguk, “jadi aku mohon jauhi aku”serunya kemudian bergegas pergi. Namun, baru satu langkah ia melangkahkan kaki, tangan panjang Kai sudah lebih dulu menahan lengan Kyungsoo. Tubuhnya yang jauh lebih besar dengan mudah membuat Kyungsoo tertarik kembali ke belakang.

“Aku tidak akan menjauhimu, oke? Sekalipun karena gosip murahan itu” Kai menatap mata Kyungsoo lekat-lekat untuk sesaat, memberikan penekanan pada kalimatnya dan mencoba menyadarkan Kyungsoo bahwa dia tidak akan pernah pergi dari sisinya.

Namja tinggi itu berbalik, dan melangkahkan kakinya menuju kelasnya sendiri. Meninggalkan Kyungsoo yang benar-benar terperangah hebat setelah mendengar pernyataan Kai. Sedangkan dibalik sebuah pilar yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Luhan mengerutkan keningnya rapat-raoat. Baru menyetujui tentang desas-desus yang beredar bahwa Kai memang menyukai Kyungsoo.

“Jadi dia benar-benar seorang gay?”

***___***

 

Hari penyeleksian tiba. Di sudut gedung olahraga, Kai, Baekhyun, Chanyeol dan Tao sama-sama gugup hingga tidak bisa duduk diam. Mereka terus melompat-lompat, berjongkok, berjalan mondar-mandir dan melakukan hal apapun yang bisa membuat mereka tenang sambil menunggu giliran.

“Kita sudah berjanji akan masuk ke dalam tim inti bersama-sama kan?”tanya Tao dengan nada panik. Baekhyun mengangguk. “Bagaimana jika aku tidak terpilih?”

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Tao. Kau semakin membuat kami panik”sahut Chanyeol

“Sudahlah Tao. Aku yakin kita semua akan masuk ke dalam tim inti”hibur Kai tersenyum sekilas lalu memutuskan untuk duduk. Mencoba bersikap tenang walaupun jantungnya terus saja berdegup dengan sangat kencang, berkeringat dingin juga gelisah tak karuan. Setidaknya dia harus menjadi orang yang terlihat tenang diantara teman-temannya yang gugup.

“Hey…kaliaaaan!!!” Hingga tiba-tiba tubuh mungil Suho terlihat memasuki gedung olahraga. Dengan senyuman lebar dan eyesmile yang selalu mengiringinya setiap saat, ia menghampiri keempat teman dekatnya. “Kenapa wajah kalian seperti itu? Apa audisinya sudah selesai?”tanyanya bingung

“Kami bahkan belum dipanggil, Suho”jawab Tao malas

“Lalu kalian kenapa?”

“Apa kau tidak tau bahwa kami sedang gugup, huh?”rutuk Baekhyun kesal lalu membuang pandangan kearah lain.

Suho mengangguk-angguk mengerti, “Aaah jadi kalian gugup?”

“Tentu saja. Kami khawatir jika salah satu diantara kami tidak bisa masuk tim inti”

Suho menjatuhkan dirinya disamping Chanyeol lalu merangkul pundaknya dengan senyuman hangat, “tenang saja, Dobi. Kalian pasti masuk tim inti”

Chanyeol mencibir. Sebenarnya dia tidak kesal karena Suho memanggilnya Dobi, nama peri rumah yang bermain dalam serial Harry Potter karena mereka memiliki persamaan mata dan telinga. Justru dia terharu, sangat nyaman jika Suho sudah menghiburnya seperti ini. Setidaknya keyakinannya sedikit bertambah.

“Lalu kenapa kau kemari? Bukankah seharusnya kau ada kelas sekarang?”

Suho menepuk keningnya, baru teringat tujuannya menemui teman-temannya untuk memberitahu sesuatu yang sangat penting. Ia berdiri dihadapan Kai, kali ini dengan ekspresi serius.

“Kai, kau tau?”serunya menahan napas. “Luhan terpilih menjadi kapten sepak bola!”

“APA?!!” Kai tidak terlibat dalam seruan bersamaan itu. Justru Chanyeol, Baekhyun dan Tao-lah yang tersentak sangat hebat saat mendengar ucapan Suho.

“Kau serius?!”tanya Tao tidak percaya

Suho mengangguk mantap, “juga Xiumin, Chen, dan Lay yang terpilih menjadi tim ini klub itu. Aku kesini untuk memberitahu kalian bahwa kalian harus berusaha untuk masuk ke dalam tim initi. Jika tidak…”

“Suho”potong Kai ikut berdiri dan menepuk sebelah pundak Suho. Suho menoleh, “tidak perlu kau beritahu kami juga akan berusaha dengan keras. Basket adalah impian kami”

Hingga baru beberapa saat menyelesaikan ucapan yang menenangkan, pelatih memanggil nama Kai untuk diaudisi. Semuanya menoleh, menatap Kai dengan tatapan harap-harap cemas seperti Kai akan masuk ke dalam medan perang.

Kai tersenyum, “aku akan terpilih sebagai Shooting Guard”

***___***

 

Angin musim gugur berhembus menusuk tulang saat pria tinggi itu berdiri di ujung koridor dengan sepasang matanya yang tajam. Seperti sebuah pisau yang baru terasah menatap ke depan fokus dengan sasaran.

Disana, di tengah-tengah lapangan dan di tengah-tengah keramaian. Satu sosok menjadi fokus tatapannya. Menguncinya dalam sepasang manik mata tajam dan penuh kebencian. Sambil menunggu hingga saatnya tiba. Sambil menunggu hingga kebenaran terungkap dan dia mengetahui siapa sebenarnya dirinya.

Dia…seorang diri selama ini merubah jati dirinya. Bebaur dengan orang-orang dan menjadi sesama walaupun sebenarnya berbeda. Membunuh jati dirinya dan berubah menjadi orang lain. Menjadi pemain drama hebat sambil menunggu seseorang yang sama datang dan mengerti dirinya.

Dia…menatap sosok itu semakin tajam dengan kilat merah di matanya. Seperti mempunyai sesuatu mengganjal yang ingin segera dibongkar namun belum saatnya. Hingga akhirnya bibir tipisnya menggaungkan sebuah nama. Sebuah nama dari satu sosok yang terus saja di tatapnya.

“Luhan…”

***___***

 

Detik-detik menegangkan itu hampir saja membuat jantung Tao melompat keluar. Audisi berakhir. Penilaian berakhir. Dan sekarang adalah saatnya nama orang-orang terpilih disebutkan.

Suho, sosok siswa yang sangat taat dengan pelajaran dan sekolahnya bahkan memilih untuk meninggalkan kelasnya dan lebih memilih untuk duduk dibangku-bangku tribun sambil menunggu keputusan pelatih. Ia sangat tau jika teman-temannya menyukai basket dan dia ingin ada disana saat mereka terpilih atau tidak terpilih.

“Baiklah, aku akan mengumumkan lima pemain yang tepilih untuk masuk ke dalam tim inti”seru pelatih dengan suara bass-nya.

Chanyeol menahan napas, tanpa sadar menggenggam tangan Kai dengan kedua matanya yang terpejam rapat-rapat. Diantara mereka berempat, lemparannya adalah yang paling buruk membuatnya sangat pesimis bisa masuk ke dalam tim inti.

Kai menoleh, tersenyum geli saat melihat wajah Chanyeol yang sudah memucat dan genggamannya yang bergetar.

“Park Chanyeol…”

Chanyeol membuka matanya dan menatap Kai bingung, “apa?”

Kai tersenyum semakin geli. “Bukan aku. Namamu dipanggil oleh pelatih”

“Chanyeol, kau terpilih!”sorak Baekhyun melompat dan merangkul pundak Chanyeol. “Kau terpilih!”

“Bodoh, apa lagi yang kau tunggu? Cepat maju!”

Chanyeol masih menatap linglung teman-temannya bahkan saat Tao sudah mendorong tubuhnya ke depan.

“Kai….aku….” Chanyeol menunjuk dirinya sendiri

Kai mengangguk, “kau terpilih”

Dan detik itu juga senyuman lebar langsung terlukis di wajah Chanyeol. Matanya yang bulat semakin membulat lebar, setengah berlari maju ke depan menghampiri pelatih.

“Pelatih, benarkah?! Aku?! Aku terpilih?!”tanya Chanyeol benar-benar tidak percaya

“Park Chanyeol, posisimu adalah Power Forward”tegas pelatih membuat Chanyeol lagi-lagi tersenyum lebar. Ia melompat senang, tidak menyangka bahwa ia terpilih menjadi tim inti sedangkan lemparannya belum sebagus lemparan Kai ataupun Baekhyun.

“Aku terpilih! Kai! Aku terpilih!”sorak Chanyeol menepuk-nepuk dadanya bangga

Kai, Baekhyun dan Tao tersenyum bersamaan, menunjukkan ibu jari mereka pada Cahnyeol karena merasakan hal yang sama. Mereka bangga.

“Dan yang kedua…” Pelatih membalik lembar catatannya. “Huang Zi Tao?”

“Yee?”

“Kau adalah center”

Mata Tao terbelalak lebar, “C-center? Aku?”

“Yah, posisimu adalah center”

“Wohooooo!!”

“Aku tidak kaget jika posisinya adalah center. Dia memang cocok karena tubuhnya yang tinggi dan besar”bisik Baekhyun yang dibalas dengan anggukan Kai.

“Small Forward di tempati oleh Yook Sungjae”

Ucapan pelatih seketika membuat Baekhyun menghela napas panjang. Banyak sekali murid-murid yang menjadi saingannya. Rasanya sangat sulit untuk terpilih, mengingat kemampuannya juga masih belum sempurna.

“Byun Baekhyun, kau menjadi Point Guard”

Chanyeol dan Tao yang sudah berdiri didepan, bertepuk tangan saat mendengar nama Baekhyun disebut. Tapi, sepertinya Baekhyun tidak menyadari jika namanya disebut. Ia masih saja berdiri dengan kepala menunduk dan merasa kecewa pada diri sendiri.

Kai menoleh, menyenggol bahu sahabatnya itu dengan bahunya sendiri. Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap Kai lemas.

“Apa?”

“Point Guard”

“Ha?”

“Kau adalah Point Guard”

“APA?!!”

“Byun Baekhyun”panggil pelatih lagi membuat Baekhyun langsung menoleh kedepan

“Yee?”

“Kau tidak mau menjadi Point Guard?”

“T-tentu saja aku mau! AKU MAU!”

“Wohooo, kau benar-benar menjadi Point Guard, Baekhyun”seru Tao menyambut Baekhyun

“Aku tidak menyangka aku benar-benar di pilih. Aku menjadi Point Guard! Posisi impianku!”

Chanyeol tersenyum lebar lalu merangkul pundak sahabatnya itu, “Selamat Byun Baek!”

“Dan yang terakhir…Shooting Guard sekaligus kapten akan ditempati oleh…”

Kai memejamkan kedua matanya sambil menahan napas. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Sangat berharap namun mencoba tidak banyak berharap.

“Kim Kai…”

Dan setelah pelatih menyatakan sebuah nama dari mulutnya. Kai membuka matanya perlahan, detik itu juga langsung mendapat pelukan dari Chanyeol, Baekhyun dan Tao yang langsung menyerbunya.

“Kai! Kau adalah kapten!”sorak Cahnyeol sambil mengacak rambut teman sebangkunya itu

Kai masih saja berada dalam kebingungannya. Menatap pelatih sambil menunjuka dirinya sendiri dengan tatapan tak percaya. Pelatih itu mengangguk.

“Aku? Benarkah?”

“DAARK KAAAAAAAIII!!! Kau adalah kapten!” Berlari dari tempat duduknya menghampiri Kai, Suho berteriak histeris dan ikut berpelukan bersama teman-temannya yang lain. Saling merangkul membentuk lingkaran dan melompat-lompat senang. “Kalian semua berhasil!”

***___***

 

Bel pulang berbunyi, menghentikan pelajaran matematika yang sangat membosankan dikelas Luhan. Memasukkan semua peralatannya ke dalam tas ranselnya, ia merutuk kesal pada Lay.

“Kai juga terpilih sebagai kapten basket. Menyebalkan sekali”

“Kenapa menyebalkan?”tanya Lay datar

“Tentu saja menyebalkan! Aku pikir gosip itu akan menjatuhkannya, tapi ternyata dia masih saja mampu berada diposisi yang sama denganku”

Lay menoleh sekilas, “kau iri?”

“Apa? Aku iri? Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu tunjukkan jika kau lebih baik darinya”

“Aku memang lebih baik”tandas Luhan menutup resleting tasnya.

“Dia hanyalah namja aneh yang menyukai seorang laki-laki, Luhan. Dia tidak normal”ujar Lay lalu berdiri

“memang benar. Karena itu aku adalah yang lebih baik”balas Luhan lalu menoleh ke balakang, kearah Xiumin dan Chen. “Kita latihan”

Chen tersentak, “apa? Bukankah jadwal kita latihan adalah besok?”

“Tidak. Hari ini kita latihan”

Chen berkilah, “Tapi, aku sudah mempunyai janji kencan”

“Apa aku peduli? Aku bilang hari ini kita latihan!”tutup Luhan tidak terbantah. “Ayo Lay” Kemudian merangkul pundak Lay dan berjalan meninggalkan kelas.

Sedangkan disudut ruangan, Kyungsoo memilih untuk menunggu teman-temannya mengosongkan kelas. Tujuannya hanya satu, menghindari cemoohan murahan itu lagi.

Setelah kelas kosong, barulah ia beranjak dari kursinya dan berjalan pelan meninggalkan kelas. Namun, saat hampir mencapai pintu kelas, seketika ia termundur ke belakang saat visual Kai tiba-tina muncul didepannya.

Namja tinggi itu bersandar pada pintu, tersenyum lebar sambil menunjukkan sesuatu pada Kyungsoo.

“Aku terpilih menjadi kapten”serunya santai seperti biasa.

Kyungsoo memaksa dirinya untuk tersenyum, “selamat” lalu melangkah meninggalkan Kai.

“Hanya itu?”kejar Kai, menjajarkan langkahnya dan Kyungsoo

Kyungsoo menarik napas panjang, menatap Kai kesal. “Kai-ssi, sungguh! Aku bukan gay!”ketusnya disertai penekanan

“Aku tidak bilang jika kau adalah gay”

“Tapi mereka mengatakannya!”balas Kyungsoo cepat. “Aku berterima kasih padamu karena waktu itu kau sudah menyelamatkanku. Tapi, bisakah sekarang kau menjauhiku? Semua orang menganggapku aneh dan semakin aneh setelah aku mengenalmu! Sungguh, aku bukan seorang gay!”

Tatapan mata Kai menajam, “bukankah sudah ku bilang aku tidak bisa menjauhimu?”

“Kenapa? Kenapa kau tidak bisa?”

“Karena aku tidak bisa!”bentak Kai membuat Kyungsoo mengerjap

“ Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Aku akan tetap berada disampingmu!”tandas Kai lalu berjalan meninggalkan Kyungsoo.

Berjalan dengan langkah-langkah panjang dan geram. Rasanya sangat kesal namun tidak bisa menjauh. Kyungsoo seperti mempunyai daya magnet yang bisa menarik dirinya untuk tetap dekat.

“Kai!”

Tiba-tiba seseorang menarik lengan Kai dan mendorong tubuhnya ke sebuah dinding. Kai tersentak.

“Kenapa kau seperti ini?”tanya gadis itu menangis

Kening Kai berkerut, “apa maksudmu? Dan siapa kau?”

“Aku menyukaimu. Sejak dulu. Kenapa kau justru menyukai Kyungsoo? Kenapa?”

“T-tunggu, kau hanya salah paham. Aku…”

“Kai, aku benar-benar menyukaimu” Dan tanpa disangka-sangka, gadis itu memeluk Kai dan menangis di dadanya. Membuat Kai mencoba melepaskan diri namun tibak bisa karena punggungnya sudah menyentuh dinding. Dia menemukan jalan buntu. “Aku benar-benar menyukai. Aku mohon jangan begini”isak gadis itu

Kai melunak, biar bagaimanapun tetap tidak bisa mengelak dengan tangisan seorang gadis. Tidak membalas pelukan itu namun hanya menghusap rambutnya. Tidak menyadari jika perbuatannya itu justru akan menjadi bumerang untuk dirinya.

Bersembunyi di sisi dinding lain, seseorang mengabadikan moment itu dalam sebuah foto. Tersenyum menyeringai lalu seperti sudah mendapatkan sebuah kemenangan.

“Kali ini habislah kau, Kim Kai”

***___***

Chen terus saja merutuk tak karuan saat Luhan belum juga datang ke lapangan sepak bola. Bukankah tadi dia memaksa untuk latihan sehingga ia terpaksa membatalkan jadwal kencannya? Tapi sekarang ia justru belum juga kembali dari kepergiannya yang ia bilang hanya ingin membeli minuman dingin.

“Lay, coba hubungi dia. Apa dia tidak tau kita sudah kedinginan disini? Harusnya kita latihan di dalam saja, bukan di lapangan terbuka seperti ini”rutuknya

“Tidak diangkat”balas Lay singkat

“Xiumin, coba kau yang menghubunginya” kali ini ia memerintah Xiumin

“Untuk apa? Dia sudah datang” Xiumin menunjuk kedepan, kearah Luhan yang sedang tertawa terbahak-bahak seorang diri.

“Hey, kau darimana saja? Kami menunggumu!”cetus Chen

“Aku? Mencari kemenangan”

Salah satu alis Chen terangkat tinggi, “ha?”

“Lihat ini” Luhan memperlihatkan layar ponselnya kepada Chen.

“Luhan, kau benar-benar mau mengeluarkan Kai dari tim, huh?”

“Tentu saja. Sudah ku bilang dia tidak boleh sejajar denganku”

“Ck, kau benar-benar sangat licik”decak Chen geleng-geleng kepala

Luhan tersenyum lebar sambil memainkan dua alisnya pada Chen, “ayo latihan”

***___***

Namja tinggi itu seperti tidak menghiraukan angin malam yang berhembus menusuk tubuhnya. Seperti sedang mati rasa bahkan ia hanya memakai sleeveless hitam dan celana jins dilapangan terbuka seperti itu.

Memainkan bola basketnya dan melatih lemparannya karena olimpiade akan dilaksanakan pada akhir bulan sebelum musim dingin, ia terus saja berlatih keras. Posisi kapten memaksanya untuk membawa timnya menuju kemenangan nanti.

Hingga saat ia benar-benar merasa lelah, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar. Menjatuhkan diri pada sebuah bangku kayu dan meneguk air mineralnya. Tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi sore saat seorang gadis memeluknya dan menangis.

Kai memang sangat terkenal di sekolahnya. Namun, selama ini dia tidak pernah mendapat pengakuan langsung dari seorang gadis. Biasanya dia hanya mendapatkan surat. Berbeda dengan Luhan yang justru lebih banyak mendapatkan pengakuan secara langsung daripada sebuah surat.

“Apa aku benar-benar sudah berubah?”gumamnya seorang diri. “Apa aku terlihat seperti seorang gay?”

Kai menelan ludah. Sama sekali tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Entah mengapa, dia tidak bisa berada jauh dari Kyungsoo. Hatinya terus saja menuntutnya untuk berada dalam jarak yang dekat dengan namja itu walaupun dia sudah ditolak sebanyak dua kali.

Tapi, tangisan gadis itu juga menyadarkannya bahwa dia sudah berubah dimata orang-orang. Dia berbeda.

“Aiiissh, ada apa denganku? Kenapa aku menjadi seperti ini?”rutuk Kai mengacak rambutnya kesal.

***___***

Pagi itu, Kai berangkat ke sekolah dengan penampilan acak. Tidak serapi biasanya karena semalam dia memang kurang tidur. Terus saja memikirkan sebuah masalah yang ia sendiri tidak tau apa masalahnya.

“Kai! Kai!!”

Hingga tiba-tiba Tao berlari kearah Kai dengan wajah panik.

“Ada apa, Tao?”

“Sungjae!”

“Sungjae? Kenapa dia?”

“Dia kecelakaan dan mengalami patah kaki”

Mata Kai seketika melebar, “APA?!!”

“Tidak hanya itu…kau juga dipanggil pelatih sekarang!”

***___***

Hari bahkan baru saja dimulai saat Kai mendapat peringatan keras dari pelatih atas dirinya yang tertangkap sedang memeluk seorang gadis di belakang sekolah. Kai dianggap sudah melanggar peraturan yang menyatakan bahwa sepasang kekasih tidak boleh bermesraan di dalam area sekolah.

Mengelakpun percuma karena pelatih benar-benar tidak mau mendengar semua penjelasan Kai. Selain karena kesal, pelatih juga tidak habis pikir dengan kecelakaan yang dialami Sungjae sepulang dari sekolah. Dia ditabrak pleh seseorang dan mengalami patah tulang dibagian kaki. Belum berselang sehari, tapi mereka sudah kehilangan small forward bahkan sebelum mereka mengadakan latihan yang pertama.

“Aku tidak akan memecatmu dari posisi kapten, Kai. Asal kau bisa mengatur tim-mu dan cari pengganti Sungjae”ketus pelatih sangat putus asa

“Pelatih, semua itu hanya salah paham. Sungguh. Gadis itu yang tiba-tiba memelukku dan menangis. Aku bahkan tidak membalas pelukannya. Itu karena gambar diambil dari sisi samping sehingga aku terlihat memeluknya juga tapi sebenarnya tidak”jelas Kai bersikeras. “Dan masalah Sungjae, kita bisa mengambil satu orang dari murid-murid yang mengikuti audisi kemarin”

“Aku memilih kalian karena kalian yang terbaik. Diantara mereka, hanya Sungjae yang mempunyai kemampuan untuk menjadi small forward. Sebaiknya kau cari orang lain”

“Tapi, bagaimana caranya?”

“Pikirkanlah, Kai. Aku sudah cukup sakit kepala karena kepala sekolah sudah mengetahui foto itu”

Kai keluar dari ruangan pelatih sambil membuang napas keras. Masalah datang bertubi-tubi padanya dan pada timnya. Olimpiade akan dilaksanakan pada akhir bulan dan ia harus cepat menemukan seorang small forward.

“Bagaimana?”tanya Chanyeol memutuskan untuk menunggu Kai dan meninggalkan kelas bersama Baekhyun.

Kai hanya menjawabnya dengan desahan panjang dan kepala yang tertunduk. Bersandar pada dinding dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.

“Kita harus menemukan pengganti Sungjae secepatnya, Yeol”

“Apa tidak ada rekomendasi dari pelatih?”

Kai menggeleng, “murid-murid yang diseleksi kemarin tidak ada yang sebagus Sungjae. Kita harus mencari orang lain”

“Apa?!! Tapi mencari small forward sangat sulit. Kita harus menemukan seseorang yang ahli dalam tekhnik juga jago mencetak angka”

“Itulah masalahnya. Small forward adalah posisi yang penting. Jika kita tidak menemukannya sebelum olimpiade, kita terancam tidak bisa mengikuti pertandingan”

Mata Chanyeol melebar, “Apa pelatih sekejam itu?”

“Aku rasa aku tau seseorang yang bisa menggantikan posisi Sungjae”seru Baekhyun membuat Chanyeol dan Kai langsung menoleh kearahnya. Baekhyun membalas tatapan dua sahabatnya itu dengan senyum penuh arti. “Kris Wu…”

“Baekhyun kau bercanda?”decak Kai kesal

“Aku tidak bercanda Kai. Tanya saja pada Chanyeol, kami berdua pernah melihatnya bermain basket di gedung olahraga. Permainannya sangat hebat dan dia lebih terlihat seperti seseorang yang professional daripada kita”

Chanyeol mengangguk menyetujui, “aku memang pernah melihatnya tapi sepertinya akan sulit mengajaknya untuk masuk kedalam tim“ujar Chanyeol sanksi. Yaah, siapa juga yang mau mendekati namja es abadi itu.

“Memang sulit. Tapi dia adalah satu-satunya pilihan terakhir”

Kai ingin sekali menonjok seseorang sekarang. Dia benar-benar menemukan jalan buntu. Rasanya mustahil jika Kris mau mengisis posisi small forward. Terlebih lagi mereka berdua tidak saling kenal.

Baekhyun menepuk sebelah pundak Kai lalu bergumam, “Cobalah dulu, kapten”

***___***

Dan Kai benar-benar melakukannya!

Saat jam istirahat, memberanikan diri untuk menemui Kris di kelasnya. Melihat Kai yang tiba-tiba muncul, Suho dan Tao hampir saja menghampiri namja tinggi itu namun seketika mengurungkan niat saat Kai justru berbelok kearah meja Kris. Keduanya saling pandang bingung, saling mengeluarkan ekspresi bertanya kenapa Kai tiba-tiba menghampiri Kris.

“Hai…”sapa Kai menjatuhkan diri di kursi yang ada didepan Kris

Kris menoleh, tetap dengan ekspresinya yang terlihat tidak bersahabat sama sekali.

“Aku ingin bicara denganmu”

“aku tidak mengenalmu”ketus Kris dingin

“Aku tau”balas Kai menahan kesabaran atas tingkah angkuh Kris. “Tapi, aku perlu bicara denganmu”

“Soal apa?”

“Temanku memberitahuku bahwa kau bermain basket dengan cukup baik. Timku sedang kekurangan seorang pemain. Aku harap kau—“

“Aku tidak mau”potong Kris menatap tajam manik mata Kai bahkan sebelum ia menyelesaikan ucapannya

“apa?”

“Aku tidak mau bergabung dengan tim-mu”

“Hey, kau tidak mau membantuku?”

“Aku bahkan tidak mengenalmu, untuk apa aku membantumu?”

“Kau benar-benar…”

“Kai!”

Tao datang tepat waktu sebelum akhirnya pukulan Kai hampir saja melayang dan mengenai wajah Kris. Menahan tubuh sahabatnya itu dari belakang dan menyeretnya untuk mundur. Meninggalkan Kris dengan sikapnya yang tetap tenang seperti tidak pernah terjadi apapun.

Membawa Kai keluar kelas, Tao mencoba menenangkan sahabatnya itu dibantu oleh Suho.

“Kau mau membuat keributan di kelasku dan benar-benar dipecat sebagai kapten, huh?”

“Apa dia selalu bersikap seperti itu? Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku! Aku benar-benar ingin memukul wajahnya tadi”

Suho menjatuhkan diri disamping Kai dan menatapnya penuh selidik, “apa tadi kau berniat mengajaknya untuk masuk ke dalam tim?”

“Baekhyun dan Chanyeol yang menyuruhku”elak Kai

“Itu namanya kau sedang memancing di air keruh. Kau tidak akan mendapatkan apapun”

“Aku hanya mencobanya, Suho. Pelatih menumpahkan semua tanggung jawab padaku”

“Apa  benar-benar tidak ada orang lain?”

“Jika ada aku tidak akan sepusing ini”

***___***

 Dua hari berlalu semenjak pencarian seseorang yang bisa menggantikan Sungjae yang masih dirawat di rumah sakit. Mereka belum juga mendapatkan siapapun. Pelatih benar, tidak ada yang sebagus Sungjae dalam hal tekhnik dan mencetak angka.

Berjalan dengan langkah-langkah gontai menuju kelasnya, bersama dengan Chanyeol dan Baekhyun yang pagi itu memutuskan untuk pergi bersama, ketiganya hanya bisa terdiam. Menghabiskan hari-hari dengan tidak semangat seperti biasanya.

Hingga akhirnya, sesuatu berhasil mengalihkan perhatian mereka. Juga perhatian Luhan dan Chen yang kebetulan masih berada di koridor utama. Tiba-tiba saja para murid perempuan berlari ke depan, kearah gerbang utama dengan keributan seperti sedang melihat seorang idol.

“Oe? Ada apa?”tanya Baekhyun bingung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang

“Apa mereka mau pulang?”sahut Chanyeol bodoh

“Oe?” Baekhyun tersentak. “Siapa namja berambut merah itu?!!”

“D-dia bahkan menaiki sebuah mobil sport!

Kai ikut menoleh ke belakang, mencari-cari sosok yang sedang dibicarakan dua sahabatnya dibalik kerumunan murid-murid perempuan. Matanya seketika melebar. Beberapa detik kemudian disusul dengan senyuman menyeringainya.

“Kita sudah mendapatkan small forward”

 

 

 

TBC

 

57 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s